PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 30 Maret 2017

Sinopsis Radiant Office Episode 5 Part 1

PS : All images credit and content copyright : MBC
Woo Jin pikir tiga pegawai kontrak diterima kerja... karena hasil wawancara mereka bagus. Manager HRD memberitahu Karyawan sementara untuk penjualan dan pemasaran diseleksi oleh General Manager Park. Woo Jin pikir pekerja sementara dan calon yang akan mengisi posisi tetap. Manager HRD membenarkan.
“Jadi maksudmu...mereka diterima lewat koneksi? Bukankah kita harusnya punya prinsip proses perekrutan? Mereka setidaknya harus memenuhi persyaratan minimum.” Protes Woo Jin, Manager HRD mengaku tak tahu mengenai hal itu
“Jika kau mau mendiskusikan soal ini, bicarakan saja dengan General Manager Park.” Kata Manager HRD berjalan pergi, Woo Jin menahanya.
“Tahun lalu saja, ada kritikan dalam proses perekrutan. Bukannya kita harus lebih berhati-hati lagi untuk perekrutan tahun ini?” kata Woo Jin
“Kau bicara seolah tahun ini juga ada penyimpangan perekrutan.” Balas manager HRD
“Kita tidak bisa mempekerjakan pekerja yang kompeten kalau proses perekrutannya tidak adil. Kita tidak bisa mengangkat moral para pekerja kalau ada koneksi terlibat dalam perekrutan.” Tegas Woo Jin
Si Manager berbisik mengatakan kalau tugas  Manager Park pasti susah. Woo Jin mengatakan kalau ia masih bisa dengar suaranya. Si Manager Pun hanya diam saja. 


Woo Jin melihat profil dari tiga pegawai kontrak pada timnya,  Manager Park masuk ruangan dengan nada marah bertanya apakah Woo Jin punya bukti. Ia mengeluh kesal kalau banyak orang menuduhnya semua belakangan ini, padahal menahan diri selama ini.
“Apa kau mengkritikku karena hal itu?” kata Manager Park, Woo Jin berpura-pura tak tahu dan bertanya "Ada apa ini?"
“Kau menuduhku dan melaporkanku ke Tim HRD. Menurutmu kenapa lagi? Bukankah tidak masuk akal mempertanyakan hal itu?” ucap  Manager Park marah
“Do Ki Taek saja tidak diwawancarai. Bukannya wajar mempertanyakan kenapa kau menerima pelamar kerja ini?” balas Woo Jin
“Sudah kubilang aku mempekerjakan mereka berdasarkan diri mereka apa adanya. Manager Seo.. Bukan begini caranya berperilaku dalam masyarakat. Aku berkata begini karena aku menganggapmu sebagai adik dan rekan.” Kata Manager Park mencoba membuat Woo Jin tenang.

“Aku bukan adik atau rekanmu. Anggap aku sebagai manager juga.” Tegas Woo Jin, Manager Park pun setuju dengan menyindir memanggilnya Manager Seo.
“Biar kuberitahu kau sekali lagi.. Penilaianku dan pemahamanku akan seseorang mungkin berbeda darimu. Namun, kau menuduhku menerima kandidat dengan cara yang tidak adil seperti lewat koneksi pribadi. Aku ini orang yang berpendirian.” Tegas Manager Park membela diri.
Woo Jin mengerti jadi menyuruh agar memimpin Pimpinlah timnya berdasarkan keyakinannya dan ia juga akan memimpin timnya berdasarkan keyakinannya sendiri. Ia menegaskan tidak bisa terima cara mereka direkrut jadi tidak akan bekerja dengan mereka lagi.
“Apa Kau tidak menerima mereka? Bagaimana kalau aku membuatmu menerimanya?” kata Manager Park, Woo Jin pun setuju. 


Manager Park sudah membawa ketiganya dalam ruangan dan mengajak agar mereka bisa diwawacnara lagi merasa masih kesal karena dituduh seperti itu.  Ketiganya hanya bisa tertunduk diam, Manager Park pun bertanya pda Eun Ho Won, Apa pekerjaan orang tuanya. Ho Won binggung, Manager Park pikir akan menganti pekerjaanya. 
“Dengar baik-baik... Apa setiap anggota keluargamu ada hubungan dengan perusahaan atau apapun itu?”kata Manager Park, Ho Won mengelengkan kepala.
“Baik, apa kau pernah membelikanku apapun seperti coklat, misalnya?” kata Manager Park, Ho Won mengaku tidak pernah.

Saat itu di luar, Yong Jae mendengar pembicaraan dari dalam ruangan, lalu mendekati Ji Na merasa ada Hal mencurigakan yang tidak biasa. Ji Na menoleh menyuruh Yong Jae pergi saja karena nafasnya yang bau.
“Ji Na, kau tidak merasakannya? Aku merasakan aura aneh dari ruangan itu. GM Seo sepertinya sangat marah. Dia bilang ada masalah dalam proses perekrutan. Firasatku tidak enak.” Ungkap Yong Jae lalu mengeser bangkunya. 

Ho Won mengerti kalau mereka dipanggil,  karena dicurigai masuk dengan koneksi. Manager Park mengatakan bukan seperti itu tapi Woo Jin yang mencurigainya.  Woo Jin membenarkan kaalu curiga pada tiga orang perkerja kontrak mereka yang diterima oleh Manager Park
“Ini bukan seperti yang Anda kira. Aku saja pertama kali bertemu GM Park disini.” Kata Ho Won , Manager Park pun bisa membela diri mendengarnya.
“Ada alasanku mencurigaimu. Aku sedang memastikan apa perkiraanku benar atau tidak. Di antara begitu banyak kandidat, aku tidak yakin alasan kenapa kau mempekerjakan mereka. Sulit menerima kenyataan kalau kau mempekerjakan orang tanpa diwawancarai dulu.” Tegas Woo Jin
“GM Seo, itu hanya karena...” ucap Ki Taek ingin bicara.
“Aku tidak menanyakan alasan pribadi.” Sela Woo Jin

Ho Won akhirnya bicara kalau ia tidak punya cukup uang untuk menyuap siapa pun bahkan Keluarganya juga tidak kenal dengan orang perusahaan dan menurutnya mereka semua dipekerjakan berdasarkan standar selain CV saja. Manager Park setuju dengan ucapan Ho Won, menurutnya mereka itu memiliki sifatapa adanya.
“Apa yang kau harapkan jika kau terus menekan mereka? Yang ada mereka malah jadi sedih dan sengsara.” Kata Manager Park membela
“Apa kalian tahu kalau kalian memenuhi syarat untuk posisi tetap setelah tiga bulan? Tawaran posisi tetap itu takkan berlaku lagi dan GM Park, ingat itu.” Ucap Woo Jin
“Ini tidak adil. Apa yang bisa kami lakukan untuk mengubah pendapat Anda?” tanya Ho Won
“Aku sudah terlanjur mencurigai kalian.Ini saja aku sudah mencoba mengatasinya.” Ungkap Woo Jin

“Aku sudah tahu kalau nanti ada penerimaan posisi tetap setelah habis masa kontrak. Kami semua senang setelah dengar kabar itu. Bukankah Anda harus memberikan kami waktu untuk membuktikan jika kami layak diterima di posisi tetap? Sisa waktu kontrak kami masih banyak.” Ungkap Ho Won semua pun membenarkanya.
“Biar kuberitahu kau lagi. Aku mempekerjakan mereka hanya berdasarkan diri mereka apa adanya. Coba kau Lihat, Kang Ho itu cerdas. Ki Taek Kepribadian dia baik dan Dia seperti rumput liar. Terkadang, kau butuh juga orang seperti dia. Dia orang yang gigih.”kata Manager Park meminta mereka segera mengatakanya.
“Ya. Tolong berikan kami kesempatan, GM Seo.” Pinta Ho Won.
“ Kompetisi harus adil, dan prosesnya harus transparan. Tidak adil namanya jika memberikan kesempatan kepada orang yang tidak bisa menjamin hal itu.” Kata Woo Jin
“Tapi...,jika Anda curiga terhadap kami.., bukankah ini keputusan GM Park untuk membuktikan kalau Anda salah?” ucap Ho Won, Manager Park kaget ditunjuk oleh Ho Won. Woo Jin bertanya apakah itu maksdnyak kalau membuktikan dirinya bersalah. 


Manager Park bertemu dengan Dokter Seo membahas tentang mempekerjakan karyawan sementara yang diminta waktu itu, ia mengaku resah karena hal itu dengan menceritakan ada Manager muda yang menuduh kalau ia menerima mereka dengan cara yang tidak adil.
“Kau bilang, Menerima mereka secara tidak adil? Ini Menarik juga. Apa Orang yang kau maksud itu, Seo Woo Jin?” ucap Dokter Seo, Manager Park membenarkanya.
“Aku juga tidak yakin kenapa dia diterima perusahaan. Tidak ada orang kantor yang kenal dengan dia sebelumnya. Dia orang yang tak mau dengar masukan dari orang lain. Dan ...akhir tahun ini..., tim pemasaran dan penjualan mungkin akan digabungkan. itu.” Ucap Manager Park sambil mengeluh. Dokter Seo pikir akan mengurusnya nanti. 
“Dia itu orangnya cukup teliti dan Sulit sekali bekerja sama dengannya.” Keluh Manager park
“Jika kau meributkan masalah kecil seperti ini...,pasti di kemudian hari akan lebih parah. Mereka juga merekomendasikanmu pada kami karena kau dapat dipercaya dan kompeten. Tapi kau datang padaku mengadu karena kau tidak bisa menangani masalah kecil seperti ini. Aku jadi kecewa.” Ungkap Dokter Seo
Manager Park bersusah menyangkalnya, dan hanya mengatakan saja. Dokter Seo melihat Manager Park terlihat khawatir, lalu membeirtahu kalau Manager Park punya integritas dan rekam jejaknya bagus dan memastikan kalau tidak pernah melakukan pelanggaran, Manager Park menyakinkan kalau tak pernah melakukanya.
“Dasar orang sombong. Apa kau pamer karena kau lebih berkuasa dariku?” gumam Manager Park kesal
“Jadi bagaimana...tiga karyawan itu bisa menyesuaikan diri, 'kan?” kata Dokter Seo, Manager Park mengangguk.
Di luar cafe, seseorang mengambil foto Dokter Seo Dan Manager Park yang sedang mengobrol 


Ki Taek sudah menunggu di tangga darurat bertanya pada Ji Na alasan memanggilnya.  Ji Na membahas kalau Woo Jin mempertanyakan cara proses perekrutnya dan ingin tahu apakah mantan pacarnya itu tidak diwawancara. Ki Taek pikir wajar kalau Woo Jin  bertanya begitu.
“Tidak ikut wawancara artinya sama saja tak mengikuti proses perekrutan. Jadi Wajar saja dia mencurigaiku.” Kata Ki taek
“Jadi kenapa kau tidak... Maksudku, bukannya GM Park yang mempekerjakanmu? Dia harusnya bisa menjelaskannya pada GM Seo.” Ucap Ji Na heran
“Dia sudah menjelaskannya, tapi GM Seo tidak percaya padanya.” Jelas Ki Taek
“Jadi, apa yang akan kaulakukan? Apa kau akan menjelaskan padanya, kalau kau tidak jadi ikut wawancara karena aku?” ucap Ji Na
Ki Taek heran melihat Ji Na terlihat panik,  Ji Na balik bertanya kenaoa Ki Taek itu selalu merasa santai soal ini lalu keluar lebih dulu. 

[Tim Pemasaran]
Suasana terlihat gelisah, Ki Taek akhirnya berdiri memberitahu Ho Won  harus menjelaskannya pada Woo Jin, Ji Na bertanya apa yang akan dibicarakanya. Woo Jin meminta maaf karena merasa yang bertanggung jawab mengenai masalah ini.
Ho Won binggung yang akan dilakukan Ki Taek,  Ki Taek hanya bisa meminta maaf lalu akan masuk ruangan, tapi Ji Na lebih dulu membuka pintu dengan memberitahu Woo Jin kalau rapat di percepat. 

Ki Taek dan Ji Na duduk bersebelahan, Ji Na mengirimkan pesan ancaman “Awas saja kalau Kau jelaskan yang sebenarnya padanya.”. Manager Park mulai mengeluh dengan rapat yang mereka adakan menurutnya kenapa ada orang yang berbelanja online? Padahal toko kita sudah banyak di seluruh negeri ini.
“Kita harus mengosongkan toko untuk produk baru. Belanja online itu solusi terbaik buat mengurangi persediaan kita.” Kata Woo Jin
“Apa belanja online menjamin produk kita akan terjual habis?” ejek Manager Park
“Karena itu, kita harus memasarkannya dulu.” Kata Woo Jin, Manager Park mengejek Woo Jin agar Jangan sok tahu
Keduanya berdebat dengan pendapat masing-masing, Yong Jae pikir Harusnya ada aturan kalau rapat cuma berlangsung di bawah 20 menit. Sementara Jae Min berpikir yang memutuskan semuanya dan lebih baik rapat berdua saja. 
Lalu  yang lainya sibuk sendirian, Suk Kyung mengambar, begitu juga Jae Min sementara Yong Jae membuat tingkat persen kecocokan.  Manager Park yang marah membuka jendela ruangan, saat itu angin berhembus sangat kencang.Semua lembaran kertas pun berterbangan.

Semua panik mencoba agar mengambil gambar mereka, sementara kertas yang di tulis Yong Jae menutupi wajah Managar Park. Manager Park. Jae Min melihat itu permainan uji kecocokan antara dua orang. Yong Jae panik menyuruh Jae Min agar diam saja.
Tuan Heo melihat hasilnya dua persen, semua bertanya-tanya kecocokan antara siapa. Woo Jin dan Manager Park berpikir kalau itu mereka berdua, Manager Park merasa kalau itu pasti tidak setinggi 2% lalu menyuruh mereka mulai rapat sendiri saja dan keluar dari ruangan. 


Woo Jin memberitahu Produsen bantal untuk saluran home shopping akan disediakan oleh perusahaan Modern Goods, Ji Na kaget menanyakan dengan perusahaan Fine Goods. Woo Jin mengatakan kalau Perusahaan Modern Goods menawarkan harga yang lebih rendah.
“Tapi perusahaan itu tidak akan mau membuat penawaran dengan kita. Perusahaan kita pernah bermasalah dengannya. Sulit buat membuat kesepakatan dengan mereka.” Ucap Suk Kyung khawatir
“Ya. Produk bantal mereka memiliki kualitas yang bagus. Banyak perusahaan sedang mengantri membuat kontrak dengan mereka. Mustahil membuat kontrak dengan mereka sekarang.” Kata Ji Na
“Bukannya ini karena kau tidak mau mengusahakannya?” sindir Woo Jin, J Na mengaku kalau bukan seperti itu.
“  Aku sepertinya tidak bisa diam dengan tidak menjelaskannya.”balas Ki Taek

Ji Na langsung mengusulkan agar karyawan sementara yang membuat kontrak dengan Modern Goods. Maka hal itu bisa menjadi cara terbaik menguji kemampuan mereka. Woo Jin terlihat marah karena Ji Na ingin membiarkan pegawai sementara menangani kontrak untuk produk bantal.
“Ya. Lagipula kita selalu membutuhkan tempat tidur, sofa, dan bantal untuk promosi toko kita. Jika kita bisa mendapatkan pasokan yang stabil dari Modern Goods..., perusahaan kita pasti akan terbantu. Kita bisa mendapatkan kontrak utama untuk saluran home shopping..., dan kemudian kita bisa...” kata Ji Na dan disela oleh Tuan Heo.
“Bukankah terlalu sulit bagi mereka menangani tugas ini?” kata Tuan Ho
“Bukannya tes masuk kerja juga sangat sulit belakangan ini? Mungkin cara ini bisa dijadikan tes bagi mereka.” Kata Woo Jin, ketiganya hanya bisa tertunduk diam.

Ho Won pikir karena kedua seniornya mengatakan  sangat sulit membuat kontrak dengan mereka. Wo Jin pikir kalau bkan tes namanya kalau tidak sulit dan memberikan tugas pada ketiganya untuk menangani kontrak dengan Modern Goods dan berharap berhasil karena akan menjadi tes kerja mereka.  Saat itu Yong Jae bermain kecocokan kembali lalu menjerit tak percaya kalau Ho Won dan GM Seo sangat cocok, 99%. 
Ketiga berdiri didepan Ji Na, Ho Won binggung karena Ji Na  saja tidak sanggup menangani tugas ini, Apalagi mereka. Ji Na menegaskan kalau  mereka tidak akan menugaskan kalau tugas ini mudah dan menurutnya mereka bisa menghapus kecurigaan Woo Jin serta membuktikan kemampuan mereka dengan cara ini.
“Bukankah ini kesempatan yang baik? Tunjukkan pada kami kemampuan kalian.” Ucap Ji Na
“Apa Anda harus seperti ini?” kata Ki Taek, Ji Na balik bertanya apakah Ki Taek harus seperti itu dan menyuruhnya pergi. 

Ketiganya pergi ke pabrik bantal dengan wajah gugup, Ho Won tak mengira situasinya jadi seperti ini. Kang Ho pikir Mungkin ini ada baiknya juga, karena Woo Jin bilang kalau takkan curiga lagi soal perekrutan kalau berhasil menangani tugas ini.
Ho Won pikir itu kalau memang berhasil, tapi mereka tahu kalau  Perusahaan ini sulit dibujuk. Ki Taek pikir meminta maaf tidak ada gunanya menangisi susu yang tumpah, lebih baik menangani tugas karena  Situasi krisis bisa menciptakan peluang berjalan masuk
“Tapi kenapa Ki Taek Hyung terus minta maaf?” tanya Kang Ho  binggung
“Sepertinya karena dia tidak ikut wawancara kerja.” Pikir Ho Woon. 

Salah satu pria menyapa ketiganya, Ki Taek pun memberitau kalau datang  unuk memesan bantal. Si pria terlihat senang karena hampir tidak mengenali wajah mereka dan bertanya Apa ini pertama kalinya ingin bermitra dengan perusahaan mereka.
Ki Taek membenarkan lalu bertanya apakah pria tua itu Presdir perusahaan ini. Pria itu membenarkan dan mengajak agar melihat katalognya dulu saja. Ketiganya pun mengikutinya, tapi beberapa saat kemudian si presdir langsung mendorong ketiganya keluar.
“Kalian harusnya tadi bilang kalau dari Hauline! Dulu, waktu aku mulai buka usahaku ini..., aku mengirim produk ke Hauline. Apa kalian tahu mereka mempermalukanku seperti apa?” teriak Si pria itu, Ki Taek mengaku tak mengetahuinya Karena hal itu terjadi sebelum mereka diterima kerja.
“Jika kami tidak dapat kontrak dengan Anda, kami bisa dalam masalah. Tolong pertimbangkan lagi.” Ucap Ki Taek, Presdir tak peduli memilih untuk masuk. 

Ki Taek pasrah mengeluh kalau mereka takkan berhasil. Ho Won yakin Ini pasti alasannya kenapa mereka bilang sulit mendapatkan kontrak dengan perusahaan ini. Kang Ho pun bertanya pada Ki Taek apakah mereka  harus menyerah seperti ini. Ki Taek pikir mereka  tidak boleh menyerah jadi mengajak untuk pakai fisik saja.
Beberapa pekerja sedang memasukan kardus pesenan ke dalam truk, Ki Taek dan Kang Ho mencoba membantu. Si presdir keluar menegaskan aklau ia tetap bermitra dengan mereka. Ki Taek dengan ramah mengatakan  hanya ingin membantu saja.
“Kami tidak akan bermitra dengan kalian dan sudah punya banyak pegawai disini. Keputusanku takkan berubah.” Kata si presdir melotot
“Kami masih muda dan kuat. Izinkan kami membantu memuat barangnya.” Ucap Ki Taek memaksa.
Si presdir terus memarahi, Ho Won hanya menatap wajah Presdir seperti melihat sesuatu. 

Mereka pun selesai membereskan semuanya, Presdir keluar dari gedung. K Taek merasa kalau   Ketulusan memang selalu berhasil dengan meminta agar presdir bisa memberitahu lagi kalau membutuhkan bantuan.
“Sudahlah... lupakan saja... Jika hal ini akan mengubah keputusanku, daritadi aku pasti sudah berubah pikiran.” Ucap Presdir memberikan amplop. Ki Taek binggung
“Pergilah dan makanlah pakai uang itu. Aku tak suka berutang budi pada kalian.” Kata si presdir, ketiga hanya bisa menghela nafas ternyata usaha mereka gagal. 

Tuan Heo memperlihatkan foto Dokter Seo pada Woo Jin diruanganya, Woo Jin binggung siapa orang itu Tuan Heo mengatakan Dokter Seo,orang yang sering ditemui Manager Park, bukan subkontraktor jadi tidak tahu siapa dia.
“Aku tidak menyangka kau suka menyelidiki seperti ini.” Komentar Woo Jin
“Aigoo. Ada banyak orang mengawasinya selain aku. Tapi, Manager Seo. Ada orang yang ingin bertemu denganmu. Apa Kau bisa meluangkan waktu buat bertemu dengannya?” ucap Tuan Heo 

Woo Jin menunggu disebuah ruangan, seorang pelayan datang memberitahu kalau Ketua sebentar lagi datang. Ketua Seo datang dengan meminta maaf karena sudah membuatnya menunggu. Woo Jin pun memperkenalkan nama sebagai manager tim pemasaran, Keduanya pun duduk bersama.
“Heo Goo Dong sudah cerita banyak soalmu padaku. Aku mewarisi perusahaan ini dari ayahku. Ketika aku terlibat untuk memajukan perusahaan ini..., ada seorang pekerja baru yang dipekerjakan di pabrik. Manajer Heo orangnya.” Cerita Ketua Seo
“Kudengar Anda tidak mengelola perusahaan lagi. Boleh saya bertanya kenapa Anda ingin menemui saya?” kata Woo Jin
“Mengelola perusahaan sama halnya dengan membesarkan anak. Rasanya perusahaan itu seperti milikku karena aku membesarkannya ketika perusahaan itu masih kecil..., tapi ketika perusahaan mulai besar..., maka perusahaan itu tidak lagi milikku. Perusahaan ini milik karyawan dan konsumen yang membeli produk kita.” Jelas Ketua Seo 

Woo Jin mengemudikan mobilnya sambil mengingat ucapan saat bertemu dengan Ketua Seo.
Flash Back
“Saya tidak punya niat...memenangkan hati atasan saya. Menurut saya, Hauline perusahaan bagus dimana pimpinannya, tidak menyalahgunakan kekuasaannya. Saya hanya berharap Hauline bisa. menjadi tempat kerja dimana kerja keras saya diakui... dan usaha rekan-rekan saya dihargai.” Kata Woo Jin
“Itulah yang ingin kulakukan dan kuminta padamu. Aku yakin Goo Dong akan membantumu.” Kata Ketua Seo
“Bukankah Anda ini mencoba memanfaatkan saya?” komentar Woo Jin
“Kau sepertinya bukan orang yang mudah dimanfaatkan. Menurutku kau bukan orang seperti itu.” Balas Ketua Seo. 

Woo Jin makan bersama dengan Tuan Heo, berkomentar rekan kerjanay itu punya sponsor yang sangat kuat rupanya. Tuan Heo pikir kalau Ketua Seo sebagai sponsornya maka tidak akan lama-lama jadi manajer Woo Jin ingin tahu alasan Tuan Heo yang mengatur pertemuan dengan Ketua
“Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya, menerima amplop gajimu dan menghitung setiap tagihan. Kau tidak akan tahu betapa senangnya dan leganya, ada amplop di dalam sakumu.” Cerita Tuan Heo
“Belakangan ini, gaji diberikan lewat rekening. Jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya.” Balas Woo Jin
“Aku sering memikirkan masa lalu saat menerima amplop gaji. Dulu, perusahaan sudah seperti rumahku, dan rekan kerjaku sudah seperti keluarga” kata Tuan Heo, Woo Jin ingin Tuan Heo mengatakan yang sejujurnya saja.
“Aku ingin membuat perusahaan ini seperti dulu lagi. Manager Seo... Kau selama ini melarikan diri seperti pengecut. Jika kau tidak suka perusahaannya, maka berhentilah. Kau tidak pernah melakukan pekerjaan kotor. Bukankah karena itu kau melamar ke perusahaan kami?” ucap Tuan Heo sedikit menyindir, Woo Jin ingin menjelaskan tapi disela.
“Sudah waktunya berubah sekarang. Jika kau tidak suka, maka perbaiki. Hentikan hal yang tidak baik. Buatlah perusahaan menjadi tempat yang bisa kau banggakan dan tempat dimana kau bisa bekerja keras. Kata siapa kau takkan bisa menjadi CEO?” kata Tuan Heo, Woo Jin terlihat tak begitu percaya diri
“Ketika rumahmu berantakan..., maka kau harus membersihkannya. Hauline. Marilah kita membersihkannya.” Kata Tuan Heo. 


Woo Jin pergi ke atap menatap langit sambil menerawang mengingat dengan ucapan Tuan Heo “Aku ingin Hauline menjadi perusahaan yang dulu lagi. Bukankah kau selama ini melarikan diri seperti pengecut?”
“Ini bukan melarikan diri. Jika kau tidak tahan panasnya api kompor, tentu saja kau harus keluar dari dapur. Lagipula aku tak punya tempat tujuan walau aku ingin melarikan diri lagi.” Ungkap Woo Jin. 

Ho Won pergi ke minimarket lalu bertanya pada mantan bosnya apakah percaya padanya. Si Manager pikir pasti karena  sudah lama mengenalnya.Tapi Ho Won merasa kalau bosnya itu  tidak mempercayainya saat berkerja dulu di minimarketnya.
Manager membela diri kalau itu tak mungkin karena sering membiarkan Ho Won berjaga sendirian dan satu alasanya kalau itu percaya dan telah membuktikan kehandalannya. Ho Won seperti tak begitu percaya,
“Coba kau pikir... Tugas kerjamu dulu disini berurusan dengan uang tunai dan semua produk di sini. Apa menurutmu aku akan mempercayakan mini market ini pada orang yang tidak bisa kupercaya?”kata si manager memberikan belanjaan seharga 7ribu won dengan memberikan minuman gratis.
Ho Won pun mengucapkan terimakasih dan mengatakan akan hutang, Managernya melonggo. Ho Won pikir managernya itu percaya jadi boleh berhutang dan pasti akan membayarnya. 

Ho Won memberikan minuman pada dua rekan kerjanya, Kang Ho pikir Presdir tadi pasti sangat membenci Hauline karena tidak percaya bahkan tidak kasihan sedikit pun sama setelah mereka membantunya. Ki taek ememinta maaf menurutnya ini semua salahnya.
“Ini bukan salahmu. Aku tak tahu dengan Kang Ho..., tapi menurutku GM Seo juga curiga terhadapku. Ini jauh lebih sulit daripada masuk ke perusahaan.” Ungkap Ho Won, Kang Ho pun binggung dengan nasib mereka besok.
“Kita beritahu GM Heo dulu, habis itubesok ke Modern Goods lagi. Aku juga nanti akan cari cara.” Kata Ki Taek, Ho Won  juga setuju  dengan menyakikan mereka harus bisa begitu juga Kang Ho
“Baiklah. Kita pasti bisa jika tetap semangat. Snack Keripik itu tak ada gunanya. Kita butuh makanan sungguhan. Ayo kita cari makan.” Ucap Ki Taek pergi mencari makanan.
Ho Won melihat dompet Ki Taek yang jatuh, lalu dikagetkan dengan melihat foto Ji Na ada dalam dompet, Kang Ho melihat mata Ho Won yang berubah, Ho Won berpura-pura tak ada apa-apa. Saat itu Ki Taek baru sadar kalau dompetnya tertinggal saat akan membayar, lalu akhirnya kembali mengambil dompetnya. Ho Won pun berpura-pura tak terjadi apapun.


Ho Won berjalan pulang berbicara sendiri kalau Ki Taek sebelumnya mengatakan sudah punya pacar lalu menduga pacarnya adalah Ji Na menurutnya Hidupnya Ki Taek sama sialnya seperti hidupnya. Tapi ia pikir berbeda karena Ki Taek itu Setidaknya pernah pacaran.
Ho Won berdiri didepan patung dengan baju kemeja putih, lalu mengingat dengan Dokter Seo seperti sedang melambaikan tangan padanya. Lalu mengingat kalau harus mentraktir dr. Seo makan dan berpikir harus menghubunginya, tapi menurutnya  Dokter Seo mungkin tidak sungguh-sungguh ingin minta traktiran saat itu, 


Hyo Ri baru bangun bingung melihat Ho Won pagi-pagi sudah membuat kimbap berpikir kalau ada kerja sampingan atau  mau menjualnya di depan stasiun kereta sambil berangkat kerja. Ho Won menyuruh teman satu kamarnya agar tak banyak bicara sambil terus membuat kimbap walaupun matanya mengantuk. 

Ho Won dan Kang Ho bertemu sebelum masuk gedung,  Kang Ho bertanya apa yang dibawanya. Ho Won mengatakan membawa Bekal makan siang, karean mungkin bisa tergerak hatinya dengan membuatkan kimbap dan bertatanya balik pada Kang Ho.
“Aku bawa salah satu minuman keras ayahku. Ayahku koleksi minuman keras mahal, jadi dia takkan sadar kalau aku ambil satu.” Ucap Kang Ho
“Wah, aku sungguh berharap kalau  Presdir menyadari tulusnya hati kita ini. Tapi, kapan Ki Taek Oppa sampai di sini?” tanya Ho Won
Saat itu Ki Taek keluar dari gedung membawa kain pel dan juga ember, Ho Won melonggo tak percaya, Ki Taek mengatakan sudah sampai lebi hdulu  dan mengepel seluruh tempat serta Presdir sebentar lagi datang. Jadi pasti senang melihat perusahaannya bersih. Ho Won membeirtahu kalau  membuatkan makan siang dan Kang Ho juga bawa minuman keras. Ki Taek pun memberikan semangat agar berhasil. 

Presdir mendorong ketiganya menyuruh mereka membawa pulang karena sudah mengatakan takkan bermitra dengan mereka. Ki Taek memohon agar mereka bisa memberikan kesempatan karean situasi mereka sedang sulit.
“Itulah yang kurasakan saat aku pergi ke Hauline. Sekarang, aku bahkan tidak butuh mereka lagi. Aku sibuk menangani banyak pesanan dari tempat lain, jadi aku tak bisa bermitra dengan kalian.” Ucap Presdir sakit hati
“Pak, sekali ini saja. Tolong kali ini saja. Kami sungguh...” ucap Ki Taek, saat itu tak sengaja si Presdir yang kesel menjauhkan semua kimbap yang dibawa Ho Won.
“Bersihkan ini semua, dan pergi dari sini!” perintah Presdir akan berjalan pergi, Ho Won hanya menatap lalu menarik baju Presdir sebelum pergi, tapi yang terjadia malah membuat semua kancing baju si Presdir terjatuh. 

Ketiganya duduk dengan wajah sedih, Ki Taek mendengar kaalu Kata orang, selalu ada jalan keluar walaupun sesulit apapun situasinya. Kang Ho  yakin Pasti ada jalan keluar. Ho Won meminta maaf karena tidak bisa menahan diri karena  presdir terus mengingatkan pada ayahnya.
“Tak perlu minta maaf. Memang dari awal ini tugas yang berat.” Kata Ki Taek
“Aku juga tadi lihat, memang pesanan dia banyak sekali.” Ungkap Kang Ho
“Baiklah. Jadi apa rencana B kita?”ucap Ki Taek
“Cari perusahaan lain yang bisa mengerjakan pesanan kita dengan harga yang sama.” Ucap Ho Won
Ki Taek lalu memuji kimbap buatan Ho Won itu enak, Ho Won malu-malu kalau sebelumnya pernah berkerja di toko kimbap.  Ki Taek pikir kalau mereka membuat buka toko kimbap dengan nama “Eun Jang Do Kimbab.” Lalu memotong kimbap-nya pakai pisau perak. Ketiganya terlihat berusaha untuk bahagia. 

Suk Kyung menyudahi pekerjaan lalu meminta Yong Jae agar  memperbarui laporan penjualan sebelum pulang hari ini dan mempersilahkan Kang Ho dan Min Jae, pulang sekarang. Yong Jae pun tak bisa menolak dengan melihat semua timnya pulang lebih dulu.
“Eun Ho Won. Apa Kerjaanmu lancar?” tanya Ji Na, Ho Won mengaku  sedang mengusahakannya.
“Buktikan sendiri dengan kemampuanmu. Jangan cari alasan tak penting.” Pesan Ji Na. Yong Jae datang ke meja Ji Na.
“Asisten Ha, kapan kau akan memperkenalkanku pada temanmu?” kata Yong Jae, Ji Na kesal karena Yong Jae  tak bisa bersaba karena temanya itu lagi sibuk belakangan ini.
“Aku baru menyadari kalau kalian mungkin tidak... punya waktu pacaran karena selalu kerja lembur. Asisten Ha, apa kau tidak punya pacar?” ucap Tuan Heo ikut berkomentar, Ho Won melirik pada Ji Na dan Ki Taek

“Tentu saja dia punya. Dia sudah lama pacaran.” Ucap Yong Jae, Ji Na langsung menyindir Yong Jae yang tak punya kerjaan karena terus datang ke timnya.
“Kapan aku dapat undangan pernikahanmu? Kau bilang pacarmu sudah lulus ujian PNS tahun lalu. Bukankah kalian akan segera menikah? Banyak orang bilang kalau kau sebentar lagi akan menikah.” Ucap Yong Jae, Ki Taek meliriknya
“Apa kau bilang Pacarmu PNS? Baguslah. Padahal aku tadinya ingin menjodohkanmu dengan keponakanku kalau masih lajang..., tapi ternyata kau sudah punya pacar.” Ucap Tuan Heo
Ho Won merasa tak enak melihat wajah Ki Taek akhirnya bertanya pada Tuan Heo yang belum pulang.  Tuan Heo mengaku akan pulang dan Ji Na pun mengajak mereka semua pulang karena Woo Jin sudah pulang.
Bersambung ke part 2


Tidak ada komentar:

Posting Komentar