PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Tampilkan postingan dengan label While You Were Sleeping. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label While You Were Sleeping. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 November 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 32

PS : All images credit and content copyright : SBS

Berita di TV “Pukul 17.00 kemarin, di parkiran kantor Hangang, Lee Yoo Bum,. yang sedang disidang untuk kasus di Mogok-dong membunuh pria bernama Choi Dam Dong yang menjadi saksi di persidangan.”
Nyonya Yoon sibuk menyiapkan sarapan untuk anaknya, Hong Joo terbangun dari tidurnya dan masih bermimpi menuliskan dalam selembar note.
“Lee Yoo Bum yang menyangkal semua tuntutan telah mengakui kejahatannya setelah ditangkap. Dia dituntut atas manipulasi kasus pembunuhan berantai cairan infus, membunuh Ha Joo Won, pelaku asli kasus pembunuhan cairan infus, dan percobaan pembunuhan Reporter Nam Hong Joo.”
Nyonya Yoon kembali menyiapkan menu makanan, kali ini dengan bahan mie. Hong Joo terbangun dengan wajah bahagia dan menuliskan kembali dalam notenya.
“Penyelidikan jaksa akan segera mendapat kemajuan Kejaksaan menambahkan tuntutan pembunuhan untuk tabrak lari. Dalam kasus manipulasi pembunuhan cairan infus, dia akan menerima hukuman tambahan atas pemalsuan bukti, percobaan pembunuhan, serta pembunuhan tidak berencana.”
Nyonya Yoon menyiapkan sendok dan juga sumpit untuk makan, Hong Joo turun dari tempat tidurnya menempelkan lembaran note ketiga. 


Jae Chan dan adiknya sarapan bersama. Nyonya Yoon yang kesal bertanya kalau Si brengsek Yoo Bum akan diperiksa hari ini. Jae Chan menjawab  Penyelidikan telah selesai, tapi Yoo Bm bilang ada yang ingin dikatakan. Nyonya Yoon pikir Yoo Bum seharusnya diam karena Tidak ada yang perlu dikatakan.
“Bagaimana dengan Woo Tak? Apa Dia tidak sarapan sekarang?” tanya Seung Won seperti kehilangan.
“Sepertinya begitu, Dia tidak menjawab teleponku. Haruskah kita membawakan makanan untuknya?” pikir Hong Joo lalu melihat Jae Chan seperti tak nyaman dengan tanganya yang terus bergetar. 

Note pertama di kamar Hong Joo "Jangan takut. Aku akan bersamamu setiap hari sampai akhir" Hong Joo berjalan bersama ke halte bertanya pada Jae Chan Apa tangannya masih gemetar, Jae Chan membenarka kalau dokter bilang tak ada masalah jadi tak tahu kenapa bisa seperti ini.
“Aku tahu. Dulu tanganku sering gemetar.” Ucap Hong Joo. Jae Cahn pun bertanya harus melakukan apa pada tanganya.
“Itu butuh sedikit waktu... Tapi kau bisa melaluinya. Aku akan membantumu.” Ucap Hong Joo sengaja memasukan jarinya pada sela jari tangan Jae Chan. Jae Chan seperti tak percaya kalau Hong Joo yang melakukanya.
“Jadi, jangan takut. Aku akan selalu ada untukmu. Setiap hari, sampai akhir.” Kata Hong Joo
“Seharusnya aku yang mengucapkan kata-kata itu. Kau...” keluh Jae Chan.
“Itulah yang kau ucapkan.” Ucap Hong Joo. Jae Chan makin binggung bertanya kapan mengatakan.
“Aku tidak tahu kapan... Kurasa satu tahun lagi.” Kata Hong Joo. Jae Chan bertanya apakah mendengarnya di mimpinya. Hong Joo membenarkan.
“Kau bilang juga, ingin mengucapkan sesuatu kepada dirimu sendiri.” Ucap Hong Joo. Jae Chan ingin tahu apa yang diucapkan. 


Di ruang interogasi
Yoo Bum melihat Jae Chan merasa kalaau  Ini mengembalikan kenangan. Karena sekarang Jae Chan  jaksa yang menyelidikinya dan ia sebagai terdakwa. Jae Chan pikir membenarkan. Yoo Bum meminta agar Jangan ketik apapun karena sudah mengakui semua kejahatannya. Jae Chan pun meminta rekan kerjanya tak mengetik.
“Aku tahu yang kau pikirkan... Aku tahu yang semua orang pikirkan, bahwa Lee Yoo Bum akhirnya menerima akibat dari perbuatannya. Kini keadilan mengalir dengan benar seperti sungai.” Ucap Yoo Bum bisa mengetahui semua jaksa ada di ruang kontrol.
“Dia menyerahkan segalanya dan menjadi jahat.” Keluh Jaksa Son. Jaksa Park juga heran karena Yoo Bum seharusnya memohon ampun.
“Jangan bodoh... Kelak kau bisa berada di posisiku saat ini.” Kata Yoo Bum. Jae Chan binggung apa maksud ucapanya.
“Puncak masalahnya adalah kasus pembunuhan berantai cairan infus. Aku, seorang jaksa, membiarkan Ha Joo Won lolos, dan keliru menyimpulkan bahwa Myung Yi Suk yang bersalah.” Ucap Yoo Bum. Jae Chan membenarkan begitu jaksa yang lainya.
“Kalian semua mengurus sekitar 200 kasus per bulan dan beberapa ribu kasus per tahun. Pa Kau pikir kalian mengurus setiap kasus dengan cara yang benar? Sulit mendapatkan nilai sempurna bahkan pada tes diktemu. Di antara semua kasus yang bisa menghancurkan hidup seseorang, di antara ribuan kasus itu, Apa kau yakin tidak pernah membuat kesalahan satu pun?” ucap Yoo Bum. 


“Ayolah. Jujurlah kepada dirimu sendiri... Beberapa kasusmu pasti bermasalah... Hei, Jaksa Lee... Kau tidak melakukan autopsi dan membuat pernyataan palsu... Lalu kau, Jaksa Shin... Kau salah mendakwa dan membuat Kang Dae Hee lolos.” Ucap Yoo Bum. Jaksa Lee dan Hee Mi pun hanya bisa diam saja.
“Ada cukup banyak kasus yang aku tahu. Jadi Sampai kapan kalian akan bertahan? Kalian berdiri disana hanya karena beruntung kesalahan kalian tidak diketahui. Alasanku disini karena sialnya, kesalahan penilaianku diketahui. Kurasa aku tidak beruntung.” Ungkap Yoo Bum.
“Tidak.... Tapi itu karena Kau jahat. Saat menyelidiki kasus cairan infus, maka kau menargetkan Myung Yi Suk dan menyesuaikan teka-tekinya. Kau bahkan memalsukan bukti untuk menyelesaikan teka-tekinya, tapi kau tahu selama ini bahwa kau salah. Karena itu, kau begitu marah kepada kami.” Ucap Jae Chan.
Ia mengingat saat Yoo Bum memarahinya sambil berteriak “Lalu kenapa kau menyelidiki setelah memutuskan hasilnya? Kau seharusnya menyelidiki untuk mencari tahu hasilnya!”
“Mungkin saat melakukannya kepada kami, kau teringat perbuatanmu. Karena itu, kau marah... Kau tidak marah kepada kami. Tapi kau marah kepada dirimu sendiri... Benarkan?” ucap Jae Chan bisa mengetahui Yoo Bum yang selalu mencuci tangan setelah bersidang.
“Tidak.” Kata Yoo Bum menyangkal. Tapi Jae Chan yakin kalau Yoo Bum membenci dirinya sendiri. Yoo Bum tetap menyangkalnya.
“Kau mengira kesalahanmu akan hilang jika menyalahkan orang lain. Kau ketakutan. Kau terus bersembunyi dan menutupi fakta lalu merasa makin bersalah setiap harinya. Kau berada disini bukan karena jawabanmu salah, tapi karena kau memaksakan jawaban salah itu menjadi benar.” Tegas Jae Chan terus berbicara walaupun Yoo Bum menyuruhnya diam.
“Kau bahkan harus membunuh Ha Joo Won dan Penyidik Choi untuk mendukungnya. Kau terus memaksakan jawaban salah menjadi benar. Karena itu, kau berada disini. Kau bukan tidak beruntung tapi Kau jahat.” Kata Jae Chan. Yoo Bum hanya tertawa dengan senyuman dendamnya. 

Ruang sidang
“Terdakwa, Lee Yoo Bum, seharusnya mencari kebenaran sebagai jaksa, bukan ketenaran dan uang Hasilnya, pelakunya lolos dan banyak kematian terjadi. Terdakwa pernah menjadi jaksa yang mendakwa orang dan menghukum mereka yang melakukan kejahatan. Tapi terdakwa meneruskan jalannya meski mengetahui bahwa perbuatannya salah.” Ucap Jae Chan
“Saat itulah, dia membunuh dan melukai banyak orang. Saya berharap di negara ini, para pelindung hukum akan bertanggung jawab saat menegakkan hukum. Kepada banyak orang tidak bersalah yang tewas karena terdakwa, dengan ini saya meminta maaf sebagai seorang jaksa.” Ucap Jae Chan menatap Dae Goo yang duduk dibangku penonton.
“Saya menuntut pendakwaannya.. Tolong jatuhi terdakwa dengan hukuman seumur hidup.” Kata Jae Chan.
Jaksa Lee melihat bangku kosong disamping Hong Joo merasa kalau  Penyidik Choi harus melihat ini.


Jae Chan terbangun dengan bertelanjang dada dan mendengar suara Hong yang bertanya apakah masih membaca buku-buku ini. Lalu tersadar kalau Hong Joo menyuruhnya bangun karena sudah pukul 11.00. Hong Joo sudah duduk didepan rak buku.
“Ini Berdebu sekali!.. Kau tidak membacanya selama bertahun-tahun dan juga takkan membacanya dalam tiga tahun ke depan.” Ucap Hong Joo
“Ada apa dengan buku-buku itu dan tiga tahun ke depan?” tanya Jae Chan yang membalut tubuhnya dengan selimut.
“Aku ingin memberikan semua ini kepada Woo Tak, karena dia mendaftar sekolah hukum.” Kata Hong Joo.
“Benarkah? Dia tidak pernah bilang. Kapan dia bilang begitu?” tanya Jae Chan. Hong Joo mengatakan kalau Woo Tak mengatakan itu di mimpiknya.
“Dia harus belajar bertahun-tahun tanpa pemasukan. Jadi, bantulah dia menghemat uang buku.” Kata Hong Joo. Jae Chan menganguk setuju. Hong Joo meminta agar Jae Chan mengeluarkan kopernya. Jae Chan sambil melompat dengan selimut yang menutupi tubuhnya. 

Woo Tak duduk diatas tempat tidurnya, sengaja membiarkan rambutnya memanjang dan tidak mencukur. Terdengar bunyi suara bel rumahnya, lalu bertanya siapa yang datang. Hong Joo memberitahu kalau ia yang datang, Woo Tak panik melihat Hong Joo dan Jae Chan datang ke rumahnya.
“Ada apa kau kemari?” tanya Woo Tak. Hong Joo mengatakan  membawakan hadiah.
“Tunggu sebentar... Aku akan keluar sebentar lagi.” Ucap Woo Tak panik karena rumahnya yang berantakan.
Hong Joo membuka tirai sambil mengeluh kalau Woo Tak sama seperti Jae Chan saat tidak bekerja. Woo Tak dengan bangga kalau menganggapnya itu pujian. Jae Chan terlihat sinis mendengarnya. Woo Tak bertanya apa yang dibawa Hong Joo.
“Aku bermimpi tentang setahun kemudian. Kau akan kuliah hukum.” Kata Hong Joo. Woo Tak kaget kalau diusia sekarang seperti tak percaya.
“Ya, di usiamu ini, kau mengikuti kuliah bersama para gadis muda.” Kata Hong Joo. Jae Chan mengaku kalau sangat iri. Hong Joo pun langsung memberikan ciuman keras pada pacarnya.
“Ini Tidak mungkin. Kau bilang Aku? Kuliah hukum?” ucap Woo Tak. Jae Chan pikir itu masuk akal.
“Saat kulihat kau membela Do Hak Young waktu itu, kau lebih mengetahui hukum daripada aku. Kau unggul dalam bidang hukum di akademi kepolisian.” Kata Jae Chan
“Bukan hanya hebat, tapi aku yang terbaik.” Kata Woo Tak bangga. Jae Chan seperti kesal karena Woo Tak tak bisa dipuji.
“Ibuku membuatkan makanan ini untukmu dan akan mengurus makananmu selama kau kuliah hukum.” Kata Hong Joo. Woo Tak pikir mereka  tidak perlu melakukan ini.
“Semua orang melakukan ini untukmu. Jadi, bersihkan kamar dan bercukur! Apa Kau memberi makan Robin? Dia pasti lapar!” ucap Jae Chan dan langsung bersikap imut menyapa Robin untuk mengaja berjalan-jalan.
“Bawaan kalian sungguh banyak. Bagaimana membawanya tanpa mobil?” ucap Woo Tak. Hong Joo mengaku kalau mereka  punya mobil. Woo Tak kaget mereka yang punya mobil. 


Jaksa Lee menelp pacarnya di dalam bus dengan seseorang yang tertidur bersandar disampingnya. Ia memberitahu  dalam perjalanan dengan bus, karena Jae Chan ingin meminjam mobilnya. Pacarnya seperti bertanya kenapa Jae Chan meminjamnya, Jaksa Lee mengatakan tak tahu tapi Jae Chan ingin membawa sesuatu.
“Bus ini lebih baik daripada mobil itu. Sampai nanti.” Ungkap Jaksa Lee berusaha tersenyum tapi setelah menutup telp kesal dengan rekannya yang terus tidur di pindahnya. 

Dalam note yang ditulisan Hong Joo, lembaran pertama "Jangan takut. Aku akan bersamamu setiap hari sampai akhir" dan lembaran kedua "Itu Woo Tak". Hong Joo meminta kunci karena akan menyetirnya. Jae Chan pun memberikan kunci mobil ditanganya.
“Tanganku tidak gemetar lagi... Itu Woo Tak.” Ucap Hong Joo melihatnya. Jae Chan binggung
“Sudah kubilang aku bisa membantu tanganmu, jadi Kau saja yang mengemudi.” Ucap Hong Joo berjalan masuk ke mobil di bangku penumpang.
“Apa Kau membantuku? Kapan?” tanya Jae Chan bingung Hong Joo menjawab kalau itu Sekarang. Jae Chan dibuat binggung.
Rumah Woo Tak terlihat sangat bersih, setelah membersihakn badanya ia mengambil buku "Pengantar Hukum Pidana" seperti sudah mulai belajar tentang hukum dengan nyaman. 


Note lembaran ketiga "Ucapkan terima kasih kepada kakakku" Seung Won masuk ke dalam minimarket memnceritakan pada Dae Goo kalau Kakak baru saja memberitahunya bahwak Lee Yoo Bum dihukum seperti permintaan kakaknya yaitu Penjara seumur hidup. Dae Goo langsung lemas dan menangis haru.
“Apa yang harus kukatakan? Itu bukanlah hal baik.” Ucap  Seung Won.
“Sampaikan terima kasihku pada kakakmu.” Kata Dae Goo. Seung Won menganguk mengerti lalu ponselnya berdering.
Ia berbicara pada So Yoon dan meminta maaf karena akan menelepon. Dae Goo heran kenapa So Yoon meneleponnya. Seung Won memberitahu kalau  mereka berpacaran. Dae Goo tak percaya. Seung Won memperlihatkan foto mereka berdua di ponselnya.
“Kau mengeditnya... Kenapa So Yoon mau denganmu?” ucap Dae Goo. Seung Won menegaskan kalau tak mengeditnya.
“Apa Kau pikir aku pria mesum, Mengedit wajahnya?” keluh Seung Won.
“Baiklah. Anggap saja kalian berdua berpacaran jadi keluarlah, Aku harus mengatur barang.” Kata Dae Goo masih tetap tak percaya. Seung Won kesal karena Dae Goo masih tetap tak percaya. 


Di kamar Hong Joo, masih ada 3 lembar note "Jangan takut. Aku akan bersamamu setiap hari sampai akhir" dan 1 tahun berlalu lembaran pun sudah menghilang, seperti Hong Joo tak pernah bermimpi lagi. Jae Chan sudah ada diruang makan.
“Jika kedua pengantin adalah rekan kerja,... bagaimana memberikan uang dalam amplopnya?” tanya Jae Chan. Nyonya bertanya apakah ini pernikahan teman Jae Chan hari ini.
“Aku bingung. Aku tidak tahu bagaimana memberikannya.” Ucap Jae Cahn.
“Apa Kau harus memberikan dobel Atau kau harus memisahkannya menjadi dua?” kata Seung Won.
“Bukankah harus secara terpisah? Kau harus memberikan dobel.” Kata Nyonya Yoon.
“Berikan saja kepada yang paling dekat denganmu. Kau pembawa acara disana. Tapi apa Kau harus menyumbang juga?” kata Hong Joo.
Jae Chan mulai memikirkanya apakah tidak perlu menyumbang. Hong Joo pikir tempat laundry sudah buka karena pakaian untuk pernikahan ada disana. Jae Chan sibuk mencari sesuatu di laci. Nyonya Yoon memberitahu Hong Joo kalau akan mengambil pakaian anaknya setelah mengantar makanan pada Woo Tak.
“Ibu, sebentar... Apa ini? Tertulis Jaksanya aku dan polisinya Woo Tak?” ucap Woo Tak menemukan sebuah buku. Nyonya Yoon terlihat binggng menjelaskanya.
“Apa yang Ibu andalkan dari kami?” kata Jae Chan. Seung Won melihat kalau ini  Tampak seperti nilai dan nilai kakaknya lebih rendah.
“Benarkah? Tampaknya dia menilai kami.” Kata Jae Chan. Hong Joo hanya bisa tersenyum
“Dulu aku membuat skor itu jadi Buang saja. Sekarang Ibu terlambat. Ibu harus pergi jadi Makanlah tanpa ibu.” Ucap Nyonya Yoon bergegas pergi.  Jae Chan memperlihatkan gaya imut mengejar Nyonya Yoon agar menjawab pertanyaan dulu. 


Woo Tak membuat japchae lalu menyuapi Nyonya Yoon agar mencicipinya. Nyonya Yoon memuji kalau Rasanya lezat sekali, sambil memasukan kotak makan memberitahu Jika menguasai japchae, itu artinya Woo Tak sudah menguasai masakan Korea. Woo Tak pikir Membuat japchae itu mudah./
“Tidak... Japchae takkan dimakan di acara spesial jika mudah dibuat. Jadi Letnan Han, kau tidak perlu belajar memasak lagi.” Ucap Nyonya Yoon lalu berpikir kalau  harus berhenti memanggilnya Letnan Han karena bukan seorang polisi lagi.
“Apa Kau sudah memutuskan jalan kariermu? Lalu Aku sebaiknya memanggilmu apa? Hakim Han? Jaksa Han? Pengacara Han?” ucap Nyonya Yoon.
“Pengacara Han. Aku lebih cocok membela orang daripada menghakimi orang.” Kata Woo Tak tersenyum bahagia. Nyonya Yoon pun bahagia karena panggilan Pengacara Han Sangat melekat.


Nyonya Yoon keluar dari laundry dan hampir tertabrak motor, Dae Goo menyelamatkanya dan di dalam taksi bapakn yang ditolong oleh Jae Chan melihatnya, seperti mengetahui sesuatu. Nyonya Han pun mengucapkan Terima kasih banyak.
Jaksa Park panik karena akan terlambat di pernikahan, lalu bertanyta-tanya Dimana sopirnya. Si Bapak bertanya apa yang dilakukan Jaksa Park didepan mobilnya. Jaksa Park mengaku tidak sengaja menabrak mobil nya. Si Bapak meminta Jaksa Park Pergi saja karena Bumpernya mengalangi jalan.
“Jika Anda merasa bersalah, maka lakukanlah hal yang sama jika seseorang menabrak mobil Anda.” Kata Si ayah yang pernah ditolong oleh Jae Chan. Tuan Park pun mengucapkan terimakasih. Si adik yang pernah di tolong Hong Joo pun melihat dari kejauhan.
Hyang Mi keluar dari toko bunga, sambil menelp memberitahu sudah mendapatkan buketnya dan ingin tahu Siapa yang mengumpulkan uangnya. Tiba-tiba Buket bungnya, hampir hancur terjepit pintu, tapi si wanita bisa menahan pintunya. Hyang Mi langsung mengucap Terima kasih kaena nyaris terkena masalah.
So Yoon melihat dari kejauhan dengan senyuman, seperti merasakan yang akan terjadi. Jae Chan dan Hong Joo pun datang ke tempat pernikahan yang sudah disiapkan. 


Dae Goo mengeluh kalau harus datang ke acara penikahan sambil melepaskan dasinya. Seung Won mengatakan kalau Dae Goo harus datang sebagai rekan terdekat kakaknya dan ada seseorang yang ingin ditunjukkan. Dae Goo ingin tahu siapa tanpa sengaja dasinya jatuh.
“Apa Ini dasimu?” ucap So Yoon dengan gaya cantiknya mengambil dasi Dae Goo yang terjatuh. Dae Goo kaget kalau di depanya ada Park So Yoon
“Apa Kau sangat merindukanku?” ucap So Yoon merangkul lengan Seung Won. Seung Won mengaku sangat merindukannya.
“Apa Kalian benar-benar berpacaran?” kata Dae Goo masih tak percaya
“Apa Kau pikir kami membohongimu? Apa Kau masih mengira foto ini di edit?” kata So Yoon memperlihatkan ponselnya. Dae Goo mengaku sudah bisa percaya.

Hong Joo melihat So Yoon,benar-benar datang untuk bermain piano di pernikahan ini. So Yoon mengaku ada yang memintanya dan punya alasan lain. Hong Joo bertanya tentang flush yang ada  di kamar mandi asrama karena membutuhkan tekanan air yang lebih kuat.
“Ahh.. Kotoran itu. Bukankah jelas bahwa itu bukan kotoranku?” keluh Soo Yoon.
“Entahlah. Itu masih tampak seperti kotoranmu.” Kata Hong Joo. Soo Yoon menegaskan kalau Itu bukan kotoranna.
“Itu kotoranmu! Ibumu mencoba melindungimu.” Ejek Hong Joo. Jae Chan dan adiknya memilih untuk pergi saja membiarkan keduanya adu mulut. 

Seung Won ingin tah Bagaimana kedua pengantin merahasiakan hubungan di kantor. Jae Chan pikir tak perlu diceritakan karena keduanya kepergok secara menggelikan.
Flash Back
Jaksa Lee menginterogasi tersangka yang  melebih-lebihkan biaya pembelian dan konstruksi sampai 1,1 miliar dolar, bahakn ada pengelapan dan penyimpangan. Si pria meminta agar tidak melebih-lebihkannya dan biaya aslinya.
Saat itu jaksa Lee keluar dari meja berjalan sambil memakai lipgloss, lalu kembali bicara. Semua yang ada  dalam ruangan kaget karena bibir Jaksa Lee yang merah merona. Jaksa Son dalam ruang kontrol kaget lalu mengaku kalau itu lipstik miliknya yang tertukar. Jae Chan dan Hee Mi pun kaget ternyata keduanya punya hubungan. 

Jae Chan sebagai pembawa acara memanggil Pengantin Perempuan untuk masuk, So Yoon pun mengiringi dengan permainan pianonya. Jaksa Lee sudah menunggu di altar, Jaksa Son pun masuk dengan gaun bersama dengan ayah dan anaknya yang melempar bunga. Jae Chan dan Hong Joo kaget karena ternyata Chan Ho adalah anak dari Jaksa Son.
“Apa Anak itu putramu Jaksa Son? Kini dia tampak lebih sehat. Syukurlah.” Kata Hong Joo bahagia. Semua tamu memuji Jaksa Son yang terlihat cantik.
“Kedua pengantin, silakan berciuman.” Kata Jae Chan. Jaksa Lee hanya mengecup Jaksa Son dengan cepat.
Semua mengeluh melihatnya, Jaksa Park berkomentar kalau ciumannya begitu kaku meminta agar menciumnya seperti pasangan di pernikahan! Jaksa Son pikir kalau Anaknya melihat. Chan Woo langsung menutup matanya. Jaksa Lee mengucapkan terimakasih dengan memutar tubuh Jaksa Son memberikan ciumanya. Semua pun terlihat bahagia melihatnya.

Fotographer meminta agar Pengantin Perempuan melempar buketnya dan Siapapun yang menerimanya maka tolong berdiri di belakangnya. Jaksa Son pun memberikan kode agar Hee Mi yang menangkap lemparan bunganya. Hee Mi sudah siap menangkapnya.
Tapi bunga terlempar ke arah Jae Chan dan langsung tertangkap oleh Ja Chan. Semua berkomentar kalau Jaksa Jung harus menikah. Hee Mi terlihat kesal karena berpikir kalau Jae Chan itu sengaja, Jae Chan mengaku tidak dan meminta agar mengulang lagi.
Jaksa Son pun mengulangnya dengan memastikan kalau Hee Mi siap menangkapnya. Tapi lemparan bunga malah jatuh tepat ditangan Hong Joo, Hee Mi tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya Jae Chan dan Hong Joo foto dengan buket bunga. 

Foto keduanya terlihat dalam bingkai foto, Hong Joo tertidur dan langsung bangun dengan mata melotot. Jae Chan muncul dari sampingnya bertanya apakah Hong Joo bermimpi buruk lagi. Hong Joo membenarkan.  Jae Chan menenangkan kalau Tidak apa-apa dan Semua sudah berakhir.
“Jangan takut. Aku disini bersamamu. Setiap hari sampai akhir. Aku akan disini.” Ucap Jae Chan lalu teringat kembali kalau itu ucapan yang sama dengan yang dikatakan Hong Joo.
Flash Back
“Jadi, jangan takut. Aku akan berada di sisimu.</i> Setiap hari sampai akhir.”  Kata  Hong Joo

Jae Chan pikir benar ucapan Hong Joo setahun yang lalu. Hong Joo mengaku kalau memimpikan kejadian ini setahun yang lalu. Jae Chan mengaku Dulu dalam kondisi buruk dengan Menyalahkan diriku atas masalah Woo Tak dan Penyidik Choi.
“Apa Ada yang harus kau katakan kepada dirimu?” ucap Hong Joo
“Kau bilang Kepada diriku?!! Entahlah. Ah..  Tapi Kukatakan kepada diriku...” kata Jae Chan mengingat kejadian sebelumnya.
Saat itu Jae Chan menarik adiknya ke taman, Seung Won berkata “Akan kuselidiki dengan benar. Percayalah kepadaku. Kau Tenang saja. Ini yang seharusnya diucapkan jaksa. Ini yang seharusnya diucapkan oleh kakakku.” Seung Won sebelumnya sangat marah pada kakaknya bisa tersenyum bahagia di penikahan Jaksa Son.
“Masalah akan berlalu.” Hee Mi yang melakukan kesalahan hanya bisa menangis sendirian, tapi dengan bantuan Jae Chan bisa menangkap si pelaku dan bisa tersenyum karena kerja kerasnya di kejaksaan. 

“Ini mungkin tampak seperti hal besar” Soo Hyun menolak pemintaa Yoo Bum karena  apabila Ayahnya keluar dari penjara maka Waktu terburuknya akan dimulai lagi. Soo Hyun pun bisa bahagia dengan mimpinya.
“Saat masalah berlalu, semua bukan apa-apa” Jaksa Son memutusan untuk  melakukan autopsi dan alasannya itu karena Sebagai orang tua. Nyonya Son pun bisa bahagia dengan melihat anaknya yang sudah sembuh dan bisa menikah dengan Jaksa Lee. 

“Kau takkan mempercayainya, tapi kau akan membicarakannya seperti lelucon. Jadi, suruh aku agar tidak terlalu mengkhawatirkan semuanya. Aku akan membuat keputusan sulit dan itu akan sulit bagiku.  Setelah setahun, pagi seperti ini juga akan datang.” Ucap Jae Chan.
Flash Back
“Pagi seperti hari ini akan datang. Percayalah pada hari-hari itu dan bertahanlah. Kau memintaku meyakinkanmu bahwa semua keputusanmu benar. Bagaimana? Apa Itu membuatmu nyaman?” tanya Hong Joo. Jae Chan langsung menjawab dengan ciuman.

Keduanya pun berciuman di kamar seperti yang dilakukan setahun lalu, foto kebersaman keduanya dengan Seung Won ada diatas lemari. Dan tergantung foto keduanya saat penikahan.
“Katakan. Apa semua keputusanmu benar?” ucap Hong Joo. Jae Chan menganguk.
“Keputusan apa yang sama sekali tidak kau sesali?” kata Hong Joo. Jae Chan memikirkanya  lal berpikir kalau Halte bus. Hong Joo bingung apa maksudnya.

Flash Back
Saat pertama pindah,  Jae Chan sudah menghentikan taksi melihat Hong Joo duduk di halte bus, seperti menduga kalau ia adalah orang yang menolongnya 13 tahun lalu, tapi ia berpikir kalau Seharusnya laki-laki akhirnya meminta maaf pada sopir taksi kalau harus naik bus. Ia pun dengan sengaja duduk mendekati Hong Joo, walaupun Hong Joo berusaha menghindar.
THE END

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Sinopsis While You Were Sleeping Episode 31

PS : All images credit and content copyright : SBS
Tuan Choi memangggil Jaksa Jung yang duduk di meja jaksa, keduanya pun mendekat. Tuan Choi berbisik kalau mereka harus minta larangan perjalanan untuk Pengacara Lee. Jae Chan binggung kenapa Tuan Choi membahas Larangan perjalanan
“Aku kemari memakai mobil Pengacara Lee.” Cerita Tuan Choi mengingat saat akan masuk melihat ada koper dibagian belakang.
“Aku melihat koper di jok belakangnya. Setelah persidangan ini dia mungkin akan kabur ke luar negeri.” Jelas Tuan Choi khawatir, terlihat Yoo Bum sibuk berbicara dengan Tuan Ko.
“Bukankah butuh beberapa hari untuk mendapat persetujuan larangan?” kata Jae Chan pada Jaksa Lee.
“Kita bisa mendapatkannya hari ini jika mendesak.” Kata Jaksa Lee lalu menghampiri Hee Mi dan Jaksa Son akan kembali ke ruang sidang.
Jaksa Lee dengan nada berbisik kalau mereka harus minta larangan perjalanan untuk Pengacara Lee. Yoo Bum melihat para jaksa berbicara terlihat sedikit gugup. 


Woo Tak membacakan sumpah dengan mengangkat satu tanganya.  "Saya bersumpah akan menerangkan dengan sebenarnya dan tiada lain daripada yang sebenarnya. Jika terbukti berbohong, maka saya bersedia dihukum atas sumpah palsu." Hakim pun meminta jaksa mulai bertanya pada saksi.
“Saksi, Anda yang pertama tiba di atap Firma Hukum Hae Kwang pada malam kejadian, 'kan? Tolong jelaskan kejadian saat Anda tiba?” kata Jae Chan.
“Baik... Saat saya tiba disana, terdakwa, Lee Yoo Beom, sedang terisak saat membawa Nam Hong Joo. Saya melihat dua payung terbuka dari kejauhan.” Jawab Woo Tak dengan mengingat kejadian diatap.
“Apa ada orang lain di atap?” tanya Jae Chan. Woo Tak mengatakan Tak ada.
“Foto berikut adalah bukti Nomor 1 dan 2. Pada gagang payung di foto terdapat sidik jari keduanya. Ini Fakta bahwa dia membawa dua payung ini ke atap menunjukkan niatnya untuk kembali bersama terdakwa, Lee Yoo Bum. Lee Yoo Bum membunuh Ha Joo Won yang tidak berniat membunuh. Ini juga bertentangan dengan pernyataan pertahanan dirinya.” Jelas Jae Chan.
“Tolong bersikeras bahwa payung itu ditemukan di lantai pertama, bukan atap. Katakan bahwa payung itu mungkin berbeda dengan yang saksi lihat.” Bisik Yoo Bum pada Tuan Ko. Jae Chan pun hanya menatapnya.
“Saksi yang bersama kita hari ini adalah polisi yang pertama tiba di TKP dan melihat situasinya. Payung yang dia lihat di atap dan yang dari lantai pertama bisa diidentifikasi sama oleh saksi. Saksi, tolong gambarkan payung itu.” Ucap Jae Chan.
“Payung pertama sangat panjang. Payung kedua pendek dan bisa dilipat.” Jawab Woo Tak
“Apa warnanya?” tanya Jae Chan. Woo Tak terlihat panik mengingat kembali saat berbicara dengan Hong Joo. 

Flash Back
“Bagaimana kau akan bersaksi? Apa Kau akan menyembunyikan bahwa dirimu buta warna? Jika mereka tahu kau berbohong, maka kau akan dihukum atas sumpah palsu.” Ucap Hong Joo panik
“Aku takkan dihukum.” Kata Woo Tak yakin.
“Apa Kau akan mengatakan bahwa dirimu buta warna? Maka kau terpaksa harus mundur sebagai polisi.” Kata Hong Joo. 

Jae Chan kembali bertanya kenapa Woo Tak tak bisa mengatakan warna payung itu. Woo Tak terdiam, Jae Chan pun bertanya  Apa warna payung itu. Woo Tak dengan terbata-bata mengatakan kurang bisa membedakan warna.
Semua kaget mendengarnya, Seung Won dan Dae Goo kaget kalau seorang Polisi yang buta warna. Jae Chan sangat shock. Hong Joo dan Tuan Oh tak habis pikir dengan yang dilakukan Woo Tak karena mengaku di persidangan. Tuan Ko senang karena menurutnya Permainan berakhir.
“Ya, saya seorang polisi... Menjadi buta warna berarti saya tidak memenuhi syarat untuk ini. Begitu kesaksian saya berakhir, maka saya akan menyerahkan surat pengunduran diri.” Kata Woo Tak. Semua langsung kaget dengan keputusan Woo Tak. Hong Joomenjatuhkan lembaran kertas dari tanganya yang bergetar
“Dia bilang Mengundurkan diri untuk bersaksi?” ucap Doo Hyun kaget dan yang lainya pun tak percaya akalu Woo Tak  Berani sebagai polisi melakukan ini.
“Lanjutkan interogasinya, Jaksa Jung.” Ucap Woo Tak terlihat tenang.  Jae Chan melihat tanganya bergetar tak bisa mengambil kertas akhirnya mengunkaan tangan kananya.
“Saksi, tolong gambarkan payung yang Anda lihat malam itu?” ucap Jae Chan.
“Yang Mulia, bahkan orang biasa takkan ingat payung yang dia lihat di malam hari dalam beberapa detik. Selain itu, saksi buta warna.” Kata Tuan Ko berdiri dari tempat duduknya.
“Saya bukan tak bisa melihat, tapi saya melihatnya secara berbeda. Bukan mengenali warna secara berbeda dari orang biasa, tapi saya mengenali cahaya dan warna lebih baik daripada orang biasa. Jadi, kemampuan melihat saya saat malam lebih baik dari mereka.” Ucap Woo Tak
“Yang Mulia, kita harus mendengarkan pernyataan saksi. Itu masih bisa dinilai.” Kata Jae Chan. Hakim pun meminta Jae Chan agar melanjutkan.
“Saksi, payung apa yang Anda lihat malam itu?” tanya Jae Chan melanjutkan.
“Payung panjang yang saya lihat malam itu bergagang kayu. Gagangnya melengkung seperti tongkat. Lalu Payung lipatnya bergagang silinder. Ada dua lingkaran pada gagangnya. Payung panjang memiliki warna yang sama dengan dasi Terdakwa dan Payung lipat. memiliki warna yang sama dengan bagian depan jubah And Tapi lebih terang.” Ucap Woo Tak.
Foto payung yang ditemukan pun terlihat dilayar, Semua tak percaya kalau yang dikatakan Woo Tak memang benar.  Jae Chan pun bertanya Apa payung dalam foto sama dengan yang dilihat malam itu. Woo Tak menjawab kalau itu memang sama. 
[BAGIAN 16. SELAMAT TINGGAL, KAWAN]
“Kita akan mengakhiri pemeriksaan saksi dan akan kembali pada 25 Juli pukul 11.00 untuk sidang terakhir.”ucap Hakim menutup sidang.
Jae Chan bingung melihat tanganya yang terus bergetar, Jaksa Lee khawatir dengan Woo Tak apakah  baik-baik saja, karena baru kehilangan Pekerjaan akbibat pernyataannya. Jae Chan yang masih binggung menerima pesan dari Woo Tak lewat ponselnya.
“Jangan canggung. Aku baik-baik saja. Mari terus berteman.” Tulis Woo Tak. Tapi Jae Chan seperti masih merasa khawatir. 

Di meja seberang.
Tuan Ko pikir Yoo Bum sudah tahu kalau sebaiknya mengumpulkan bukti dan alasan bahwa perbuatannya tidak disengaja. Yoo Bum bingung karena Tuan Ko mengatakan Tidak disengaja dan tak akan menyatakan dirinya yang tidak bersalah.
“Kurasa kita tidak perlu melanjutkan pernyataan pertahanan diri.  Bukankah lebih baik mengurangi hukuman beberapa tahun? Pengacara Seo akan bergabung di sidang berikutnya menggantikanku.” Ucap Tuan Ko berjalan pergi. Yoo Bum mengejarnya tapi seniornya hanya pergi begitu saja, wajahnya pun terlihat makin marah. 

Hong Joo yang menangis dalam ruang sidang mencari Woo Tak, tapi Woo Tak sedang berbicara dengan Tuan Oh. Tuan Oh mengumpat marah dengan Woo Tak yang sudah gila, karena sudah bilang tutup mulutnya dan seharusnya bilang tidak melihat apa-apa malam itu
“Kau tak bisa menarik ucapanmu di persidangan.” Ucap Tuan Oh khawatir. Woo Tak mengaku kalau sudah mengetahuinya.
“Orang tuamu bekerja keras berternak babi dan sapi agar kau masuk akademi polisi! Putra tunggal dalam tiga generasi!” kata Tuan Oh sedih.
“Aku bukan putra tunggal dalam tiga generasi, Senior. Orang tuaku juga tidak tinggal di desa. Mereka sudah lama bercerai dan menikah lagi. Meskipun aku berhenti, mereka akan berkata, "ohh.. Kau berhenti?" Itu saja.” Akui Woo Tak. Tuan Oh kaget mendengarnya ternyata Woo Tak hidup sendirian.
“Lencana ini...tidak pernah...cocok bagiku. Lencana ini selalu berat... Ini Sulit... Tapi...aku ingin menanggung bebannya. Aku menikmatinya. Bekerja denganmu... adalah kenangan yang menyenangkan bagiku. Aku merasa sudah cukup dan tidak seharusnya meminta lebih. Terima kasih banyak, Senior Kyung.” Ucap Woo Tak sambil menangis dan memberikan hormat.
“Dasar Anak nakal.... Kau pasti sangat menderita.” Kata Tuan Oh akhirnya memeluk Woo Tak dan sama-sama menangis. 



Yoo Bum mencuci tanganya dengan cepat dan menatap dirinya di cermin dengan menyakinkan Semua akan baik-baik saja, Tidak akan masalah Ini belum berakhir.  Ia mengeluarkan dari sakut jaketnya, tapi malah membuatnya terjatuh sebuah paspor dan tiket keberangkatan.
Di ruang kejaksaan
Jaksa Son sibuk menelp  memberitahu nama Lee Yoo Bum, karena Ada laporan mungkin akan kabur ke luar negeri hari ini jadi tolong segera keluarkan larangan perjalanannya. Hee Mi pun sibuk mengetik dari layar dengan sangat serius. 

Jaksa Lee melihat pesan dari ponselnya <"Larangan perjalanan Lee Yoo Beom disetujui" lalu memuji pacarnya yang memang sempurna dalam segala hal. Jae Chan kaget bertanya apakah Jaksa Lee sedang berkencan dengan seseorang. Jaksa Lee hanya menjawab kalau ini waktu terbaik, lalu saat itu Tuan Choi datang menghampiri.
“Larangan perjalanan Lee Yoo Bum telah disetujui.” Ucap Jaksa Lee. Tuan Choi pun bisa mengucap syukur.
“Terima kasih untuk hari ini. Anda akan datang di sidang berikutnya, 'kan?” kata Jaksa Lee.
“Sidang berikutnya adalah sidang terakhir, 'kan? Siapa yang membacakan tuntutan?” tanya Tuan Choi
“Kenapa? Apa Kau takkan datang jika aku melakukannya dan akan datang jika Jaksa Jung yang melakukannya? Begitukah?” ucap Jaksa Lee. Tuan Choi membenarkan.
“Ya, silakan datang. Kau harus datang, karena Jaksa Jung yang akan melakukannya.” Kata Jaksa Lee mengejenya.
“Aku takkan melewatkan sidang terakhir.”ucap Tuan Choi sambil menjabat tangan Jaksa Lee. Jaksa Lee mengeluh kalau Tuan Choi mengecewakankny.
“Penampilanmu bagus hari ini, Jaksa Jung.” Ungkap Tuan Choi memuji sambil menjabat tangan lalu berjalan meninggalkan keduanya 


Tuan Choi baru keluar dan Yoo Bum datang mendekatinya. Yoo um terlihat sangat marah menyindir kalau  Perkataan Tuan Choi  hari ini mengesankan. Kalau Seluruh tanggung jawab dan penghargaan adalah untuk jaksa. Ia pikir Saat menyelidiki kasus pembunuhan berantai cairan infus, tidak mengharapkan hadiah.
“Aku yakin Myung Yi Suk adalah pelaku sesungguhnya. Aku ingin menangkapnya bagaimanapun juga alasanya.. Itu saja.” Ucap Yoo Bum. Tuan Choi mengaku kalau sudah tahu.
“Lalu kenapa kau melakukan ini kepadaku? Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Kenapa semua orang dengan kejam...” teriak Yoo Bum marah besar.
“20 November 1983. Itu hari lahirmu, Pengacara Lee. Benarkan?” kata Tuan Choi.
“Ya... hari itu  bahkantidak diingat orang tuaku, tapi kau merayakannya denganku setiap tahun. Apa Kau merayakannya denganku untuk mengkhianatiku seperti ini?” ucap Yoo Bum marah.
“Itu hari yang sama dengan hari lahir adikku. Usiamu dan hari lahirmu. Jadi, kau istimewa bagiku. Itu sebabnya aku melakukan ini. Larangan perjalanan untukmu sudah diberlakukan jadi Kau tidak perlu pergi ke bandara sekarang.” Ucap Tuan Choi
Yoo Bum tak percaya kalau Tuan Choi sudah mengetahui rencananya.  TUan Choi memegang pundak Yoo Bum meminta agar  berhentilah melarikan diri karena sudah cukup. Yoo Bum melepaskan tangan Tuan Choi terlihat sangat marah.
“Kau hanya akan terluka dan menderita.” Ucap Tuan Choi seperti melihat adiknya didepan wajahnya.
“ Jadi,... berhentilah keras kepala. Berhenti menyakiti orang lain. Ikutlah dengan kakak, Guk Hyun.” Kata Tuan Choi membayangkan dirinya bertemu dengan adiknya lagi saat masih muda. 



Jae Chan seperti merasakan sesuatu lalu memberikan tumpukan berkas yang berat pada Jaksa Lee kalau akan menemui Penyidik Choi. Jaksa Lee kaget Jae Chan akan Sekarang. Jae Chan melepaskan jubahnya dan di pasangkan pada Jaksa Lee.
“Maaf, aku akan segera kembali.. Aku takkan lama.” Ucap Jae Chan bergegas pergi. Jaksa Lee pun hanya bisa berteriak
Jae Chan keluar melihat Tuan Choi sedang menahan Yoo Bum pergi, TUan Choi menyakinakn Yoo Bum kalau hanya akan terluka. dan menderita jadi Tolong hentikan dan Jangan marah. Tapi Yoo Bum memilih untuk bergegas pergi. Saat itu Tuan Choi melihat ke arah langit ada selembar daun maple di bawa oleh angin

“Dedaunan masih terlalu dini untuk menjadi merah.” Ucap Tuan Choi menatap kearah langit. Jae Chan hanya melihat dari kejauhan.
“Sepertinya aku pernah melihat ini...Ini hampir waktunya..” kata Tuan Choi melihat Selembar daun ditangan.
“Aku tahu musim gugur tiba karena dirimu... Kupikir aku masih punya banyak waktu.” Gumam Tuan Choi lalu tanpa sadar ada sebuah mobil yang datang dari  belakang.
Jae Chan panik melihat Tuan Choi  hanya diam saja, lalu melayang dan jatuh tertabrak, setelah itu berlari menghampirinya. Tuan Choi bisa melihat Jae Chan yang berlari menghampirinya. Semua oran yang ada di sekitar kejaksaan pun kaget karena Tuan Choi tiba-tiba di tabrak.

Jae Chan panik melihat Tuan Choi dan meminta agar segera memanggil ambulance. Seseorang pun menelp kalau melihat kecelakaan mobil dan ada yang menabraknya.. Yoo Bum dibawa keluar oleh pihak kejaksaan, wajahnya terlihat tanpa rasa bersalah sudah menabrak Tuan Choi.
“Jaksa Jung... Ada yang ingin... Ada yang ingin kukatakan kepadamu.” Kata Tuan Choi dengan mengeluarkan banyak darah. Jae Chan meminta agar Tuan Choi jangan bicara karena Ambulans sebentar lagi tiba.
“Tidak apa-apa. Dulu sekali, 13 tahun yang lalu, aku melihat ini dalam mimpiku.. Dalam mimpiku, kau mengatakan sesuatu kepadaku.” Cerita Tuan Choi seperti merasakan saat itu berbaring di rumah sakit, saat masih muda
“Penyidik Choi.. Jika Anda bermimpi tentang ini, jangan menemuiku. Jika tidak menemuiku, Anda takkan meninggal. Jadi, jangan datang kepadaku.” Kata Jae Chan.
“Kau tidak mengatakannya seperti itu... jadi Katakan... Katakan lagi.. Cepat.. Waktuku tidak banyak.” Ucap Tuan Choi
“Penyidik Choi... Jika aku bertemu dengan Anda lagi...” ucap Jae Chan sambil menangis. 


Flash Back
Saat pertama kali bertemu, Jae Chan menerima jabatan tangan Tuan Choi  sebagai penyidiknya, bernam Choi Dam Dong. Jung Jae Chan seperti acuh dengan Tuan Choi yang ada didepannya.
“Bodoh sekali aku tidak mengenalimu. Bagimu, aku menjengkelkan dan ceroboh.”
Jae Chan menyuruh Tuan Choi agar bisa meminta dokter membawakan rekam medis. Tuan Choi mengeluh kalau harus lembur lagi.

“Anda selalu lembur karena kasusku menumpuk.”
Lalu Tuan Choi meminta agar Penyidik Choi untuk pergi ke TKP kasus Park Joon Mo. Tuan Choi melonggo binggung lalu bergegas menahan Jae Chan agar tak pergi sendirian diatap karena berbahaya. Lalu ia pun menahan Jae Chan agar tak pergi ke penampungan sampah karena memakai sepatu baru.
“Sepatu barumu rusak karena aku. Anda menderita karena diriku.”

“Tapi... Meskipun begitu... Jika Anda masih bisa mempercayai orang sepertiku, datanglah kepadaku.” Ucap Jae Chan sambil menangis mengingat kenangan dengan Jaksa Lee.
Flash Back
“Bagaimana jika aku tidak bisa mendakwa kasus ini?” tanya Jae Chan saat makan bersama.  
“Kau akan mendapat masalah, Masyarakat akan membencimu.” Ucap Tuan Choi
“Aku akan banyak bertanya dan belajar dari Anda. Aku... akan sangat menghormatimu.” Jae Chan mengingat saat bertemu dengan ayah dari korban pembunuhan kalau akan menghukum pelaku. 

Tuan Choi membenarkan kalau itu yang dikatakan Jae Chan, karena itu sebabnya polisi cepat mendatanginya dan sengaja datang ke dalam kejaksaan karena mengetahui apa yang akan terjadi dan itu adalah Ini pilihannya, jadi meminta Jae Chan Jangan menyalahkan dirinya. Jae Chan terus menangis berharapa agar Tuan Choi bisa bertahan.
 “ Kau boleh, Salahkan dirimu sesaat dan Ingatlah selama mungkin. Kau mengingatnya, 'kan? Itu... Itu baru putra dari atasanku.” Ucap Tuan Choi akhirnya tanganya pun lemas.
“Pak... Jangan pergi.. Kumohon jangan pergi.” Jerit Jae Chan menjerit histeris karena di tinggalkan oleh Tuan Choi. 

Flash Back
Tuan Choi terbangun dari tidurnya, setelah bermimpi panjang dan mendengar temanya yang sedang membaca sebuah puisi "Meskipun hidup memberimu cobaan, jangan sedih atau marah. Hatimu hidup di masa depan. Masa kini dirimu sedih. Semuanya hanya sesaat. Apa yang telah berlalu dan berlalu sekarang... akan dikenang di masa depan."
“Ini Puisi yang indah.”ungkap temanya dan dikagetkan oleh Tuan Choi yang sudah tersadar dan langsung duduk.
“Aku lapar.” Kata Tuan Choi. Temanya pun dengan penuh semangat keluar ruangan karena akan segera membawakan sesuatu.
“Hei.. Kau takkan melakukan hal bodoh, 'kan?” kata temanya khawatir.
“Aku takkan kemana-mana dan takkan melakukan hal bodoh. Akhir hidupku bukan sekarang. Ada yang harus kutemui di masa depan.” Kata Tuan Choi yakin menatap ke arah jendela. 

Rumah duka, di bagian depan layar tertulis "Mendiang: Choi Dam Dong" para jaksa pun memberikan penghormatan terahir pada Tuan Choi dan keluar yang menungunya. Lalu dibagian depan meja, mereka menuliskan nam dan pemberitahuan "Kami tidak menerima uang duka atas permintaan mendiang"
Hyang Mi datang dengan sekertaris lainya, hanya bisa menangis kepergian Tuan Choi. Dibagian belakang ada tumpukan amplop surat dalam tas tertulis dibagian depan. "Kepada Jung Jae Chan, 217-16, Banghak-dong, Eunpyeong-gu, Seoul"

Hong Joo membantu di ruang makan lalu melihat Jae Chan yang pergi, kejadian sama seperti saat 13 tahun lalu. Di rumah duka, Jae Chan melihat Hong Joo yang pergi dan mengikutinya, kali ini Hong Joo yang mengikuti Jae Chan.
Jae Chan melihat sebuah bola baseball di lantai dan menemukan Hong Joo. Hong Joo pun bisa menemukan Jae Chan karena melihat sepatu diruangan yang sama.Saat masih remaja Hong Joo menangis sendirian, dan ketika dewasa Jae Chan menangsi sendirian.
Keduanya duduk berdampingan dan saat masih remaja,Jae Chan memeluk Hong Joo yang menangis dan kali ini Hong Joo yang memeluk Jae Chan agar menangis dipelukanya. Jae Chan menangis histeris karena kehilangan orang yang paling disayanginya untuk kedua kalinya.
Bersambung ke episode 32

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09