PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.
Tampilkan postingan dengan label Her Private Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Her Private Life. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 Juli 2019
Rabu, 19 Juni 2019
Sabtu, 01 Juni 2019
Sinopsis Her Private Life Episode 16 Part 2
PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku
meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang
mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe.
Duk Mi
bertemu dengan Da In memberitahu Beberapa orang menunjukkan ruang pameran
terlalu gelap dan sulit untuk melihat karya seni jadi sedang berpikir untuk menerapkan pencahayaan
ekstra. Da In merasa Jika lebih terang,
gelembungnya menghilang terlalu cepat.
“Aku akan
menyesuaikan sudut pencahayaan dan kembali.” ucap Da In, Duk Mi menganguk
mengerti.
“Jika kau
butuh perubahan, kau harus beri tahu aku secepatnya. Sebelum aku pergi.” ucap
Da In, Duk Mi kaget Da In mau pergi.
“Aku akan
kembali ke New York. Ada tujuan untuk datang ke Korea, tapi... “ ucap Da In
terhenti, Duk Mi seperti merasa bersalah.
“Untuk
mengatasi keterpurukanku. Aku suka ruang kerjaku, dan mendapat banyak teman
baru, tapi sejak aku mulai di New York, disini terasa tidak nyaman.” Ucap Da in
“Aku
mengerti apa yang kau maksud.” Kata Duk Mi, Da In pikir mereak akan bertemu
nanti di New York Dengan Ryan juga. Duk Mi menganguk setuju.
Ryan
masuk ruangan merasa namanya yang disebut, Duk Mi memberitahu kalau Da In akan
kembali ke New York. Ryan pikir kalau itu Kabar bagus. Da In mengeluh bertanya
apakah Ryan itu bersikap sarkastik atau serius. Ryan pikir Da In membuat
keputusan yang benar.
“Untuk
bekerja sebagai desainer, New York jauh lebih baik daripada di sini...
Hati-hati, dan hubungi aku.” Kata Ryan mengulurkan tanganya.
“Apa ini?
Kau tidak pernah berjabat tangan.” Kata Da In tak percaya. Ryan melirik pada
Duk Mi
“Aku
ingin mengucapkan terima kasih dan meminta maaf pada kalian berdua.” Ucap Da In
lalu melihat ada cat yang tertinggal ditangan Ryan.
“Apa ini?
Ryan, Apa sudah mulai melukis lagi?
Orang-orang di New York terus menanyakanmu. Mereka ingin tahu kapan pelukis jenius
Ryan Gold, akan kembali.” ucap Da In penuh semangat.
“Belum.
Aku belum berencana kembali.” ucap Ryan menutupi tanganya, Da In ingin tahu
alasannya.
“Karena
aku belum mau... Jadi kau Jangan menyebarkan rumor.” Tegas Ryan.
“Aku akan
menantikan, kau kembali sebagai seniman.”kata Da In, Duk Mi menatap Ryan
seperti sangat berharap banyak.
Ryan
sedang sibuk diruangan melihat Duk Mi datang ke ruanganya. Duk Mi membawakan es
mint. Ryan mengaku sebenarnya ingin itu Duk Mi melihat Ryan pasti lelah lalu
dengan tatapan serius bertanya apakah tidak ingin kembali sebagai seniman.
“Aku sudah
kembali. Aku melukis, artinya aku seorang seniman.” Kata Ryan.
“Itu
benar... Tapi, seniman Ryan Gold, lahir, dibesarkan, dan diakui di New York.Dan
bukankah lebih baik bekerja di sana daripada di sini?”ucap Duk Mi
“Apa kau
ingin aku kembali ke New York?” ejek Ryan. Duk Mi mengaku bukan seperti itu.
“Tapi,
aku hanya khawatir kau tidak kembali gara-gra aku.” Jelas Duk Mi
“ Aku
tidak akan menyangkal. Tapi, bukan itu alasannya. Karyaku belum cukup baik untuk
mengatasi hiatus tiga tahun. Melakukan comeback akan menjadi kebalikan dari
keputusanku untuk pensiun.” Ucap Ryan
“Jadi,
jika aku gagal mengesankan semua orang dengan karya seniku, aku harus berurusan
dengan banyak komentar jahat.” Jelas Ryan. Duk Mi akhirnya memberikan semangat.
Ryan pun dengan senang hati menerimanya.
Da In dan
Eun Gi minum bersama, Da In memebritahu kalau sebenarnya minum bersama
sebelum kembali ke New York. Eun Gi
kaget bertanya apakah Da In akan pergi untuk selamanya. Eun Gi mengaku datang
untuk berpamitan.
“Terima
kasih sudah menjadi temanku meskipun hanya untuk waktu yang singkat. Bisakah
kau setidaknya sedikit sedih?” keluh Da In melihat sikap Eun Gi
“Kenapa
aku harus sedih? Kita punya ponsel. Hubungi aku jika kau membutuhkan teman.”
Ucap Eun Gi santai
“Bagaimana
kalau kau tinggal di New York dan membuka dojo di sana?” saran Da In
“Bukankah
lebih cepat bagimu untuk membuka akademi seni di Korea?” balas Eun Gi
“Aku
sebenarnya punya rahasia untuk dikatakan. Aku benar-benar buruk dalam melukis.”
Bisik Da In.
Eun Gi
tak percaya karena Da In itu seorang
seniman jadi itu artinya tidak akan dapat membuka akademi seni. Da In pikir
Jika Eun Gi memiliki anak di kemudian hari, maka akan jadi bibi yang sangat
keren yang tinggal di Amerika.
“Bibi
yang tinggal di Amerika? Baguslah punya bibi yang tinggal di Amerika. Selamat
tinggal, teman senimanku.” Kata Eun Gi, Da In pun berharap Eun gi Tetap sehat,
Keduanya kembali bersulang untuk minum.
Duk Mi
kembali ke rumah bertanya apakah Ryan tidak perlu melukis. Ryan mengeku tidak
ingin merepotkan jadi tidak akan melukis hari ini dan hanya akan
bersenang-senang dengan Duk Mi. Duk Mi menganguk setuju.
“Kau
Tunggu sebentar, Ayo makan sesudah aku ganti baju.” Kata Ryan. Duk Mi berjalan
masuk ke ruang lukis Ryan.
“Lukisanmu
jadi lebih hangat dan lebih bagus, Peluksi Ryan Gold” komentar Duk Mi
Ryan
memanggil Duk Mi karena tak melihatnya, Duk Mi berlari keluar ruangan. Ryan
bertanya apa yang ingin dimakan, Duk Mi mengatakan ingin makan Pasta buatan
Yoon Jae.
Joo Hyuk
sedang rekaman dalam studio, PD berkomentar kalau suaranya sudah bagus tapi
menurutnya lebih baik coba sekali lagi. Joo Hyuk menganguk mengerti, wajahnya
terlihat penuh semangat. Seung Min dan Sun Joo masuk studio.
“Dia
adalah manajer Joo Hyuk.” Ucap Seung Min, Sun Joo mengaku sebagai Aku manajer
fanpage-nya.
“Tolong
bimbing dia dengan baik.” Kata Sun Joo memberikan makanan. Seung Min mengajak
Sun Joo segera pergi. Sun Joo terus memohon agar menjaga Joo Hyuk. Seung Min
menarik Sun Joo agar keluar studio.
[UJIAN
CHOIKANG JUDO]
Eun Gi
berdiri didepan dengan para orang tua yang menonton begitu juga Sun Joo serta
Seung Min. Geon Woo akan melakukan Ujian naik tingkat, Eun Gi meminta mereka
Istirahat ditempat, Perhatian dan Beri salam. Geon Woo dkk bisa mengikuti perintah Eun Gi.
“Geon Woo
bilang dia tidak dalam kondisi terbaiknya.” Bisik Sun Joo, Seung Min pikir
kalau anaknya terlihat baik-baik saja sambil
tersenyum mengambil gambar dengan camera.
“Pertama,
kita akan mulai dari jatuh kebelakang. Selanjutnya, jatuh ke depan. Selanjutnya,
jatuh ke samping.” Ucap Eun Gi, Sun Joo melihat anaknya sangat menggemaskan.
“Bukankah
dia sangat menggemaskan?” kata Sun Joo lalu tersadar kalau Seung Min sedang
merekamnya.
“Aku
sedang merekam apa yang terlihat menggemaskan bagiku.” Ucap Seung Min. Sun Joo
menyuruh agar segera rekam Geon Woo.
“Sekarang,
giliran Kang Geon Woo... Silakan maju... Siapa namaku?” ucap Eun Gi
“Nam Eun
Gi! Direktur!!!” kata Geon Woo dengan lancar. Eun Gi memujinya. Geon Woo pun
senang berhasil mengatakan dengan benar. Eun Gi memberikan sabuk kuning, Geon
Woo langsung jatuh bahagia menerimanya.
Duk Mi
bertanya pada Yoo Sub apakah sudah menyelesaikan kontrak asuransi untuk pameran
Mono Art Gallery Tuan Ahn. Yoo Sub mengaku sudah kalau Duk Mi hanya perlu
memperbaiki tanggal pengiriman. Duk Mi akhirnya berbicara di telp dengan bahasa
ingris yang fasih.
“Halo,
ini Sung Duk Mi dari Cheum Art Gallery. Aku ingin membuat susunan untuk
mengirim lukisan Mr. Ahn.” Ucap Duk Mi lalu terlihat kaget dan mengucapkan Terima
kasih.
Yoo Sub
dkk pergi ke cafe, Hyo Jin membahas kalau Duk Mi perlu pergi ke Amerika. Sun
Joo kaget kalau Duk Mi akan pergi ke Amerika. Kyung Ah memberitahu aklau Belum
diputuskan, tapi Duk Mi mendapat permintaan dari Mono Art Gallery.
“Mereka
bertanya apa dia bisa berpartisipasi dalam kurasi pameran Tuan Ahn karena
dialah yang bertanggung jawab. Entah itu atau mereka meminta apa dia bisa
merekomendasikan siapa pun.” Jelas Yoo Sub
“Aku akan
pergi jika kebutuhan mereka bukan seseorang yang lima tahun atau lebih dari
pengalaman kerja.”kata Kyung Ah. Yoo Sub malah mengucap syukur.
“Nona Sung
akan pergi, kan?” kata Hyo Jin. Kyung Ah pikir Jika Duk Mi pergi, maka harus
berada di sana setidaknya selama 6 hingga 12 bulan.
“Tidak
mungkin dia pergi tanpa Direktur.. Kau tidak berpikir dia akan pergi, kan?”
ucap Kyung Ah
“Tapi dia
mencintai pekerjaannya.” Kata Duk Mi. Kyung Ah dan Yoo Sub pikir Duk Mi tak
akan pergi dan ingin tahu pendapat Sun Joo.
“Apa kau
ingin bertaruh 5.000 won?” ucap Sun Joo. Hyo Jin yakin Duk Mi akan pergi. Yoo
Sub dan Kyung Ah yakin tidakakan pergi.
“Menurutku
dia akan memutuskan untuk pergi dan kemudian berubah pikiran.”ucap Sun Joo.
Kyung Ah mengeluh kalau itu curang.
“Dia akan
pergi.” kata Joo Hyuk memberikan uanganya, semua hanya bisa melonggo. Joo Hyuk
pikir dirinya memang harus pergi. Sun Joo menyuruh pegawainya untuk pergi.
Ryan
kesal Duk Mi yang tidak memberitahu kalau mereka meminta kau ke New York. Duk
Mi malah bertanya balik apakah Ryan mungkin ada hubungannya dengan itu. Ryan
menceritakan baru tahu hari ini Galeri
Seni Mono menginginkan Duk Mi sebagai kurator mereka.
“Apa Kau
sudah memikirkannya?” tanya Ryan, Duk Mi mengaku sudah. Ryan bertanya apakah Duk Mi sudah
memutuskanya. Duk Mi mengaku sudah.
“Jadi,
kau akan pergi” kata Ryan, Duk Mi membenarkan. Ryan pikir Duk Mi membuat keputusan yang benar.
“Ini
adalah peluang besar bagimu. Apa itu berarti kita akan berada dalam hubungan
jarak jauh sekarang?” kata Ryan
“Ini
Sedikit romantis... Tapi aku akan pergi denganmu. Ayo Ikut denganku, Ryan
Gold. Aku menganalisis karya senimu
sebelum hiatusmu serta trend seni saat ini yang beredar di New York. Karya
senimu cukup baik untuk kembali dari masa hiatusmu.” Kata Duk Mi menyakinkan.
“Sebenarnya,
orang mungkin lebih terkejut daripada awalnya. Aku meminta kau untuk
mempercayaiku Percayalah pada insting dan seleraku sebagai kurator.” Jelas Duk
Mi
“Aku
percaya padamu aku percaya kau sebagai kurator juga. Jika aku sampai di New
York, maka aku akan jadi pria pengangguran. Bagaimana aku hidup?” kata Ryan
“Aku akan
membayar kebutuhan kita berdua.” Ucap Duk Mi penuh semangat, Ryan tak percaya
mendengarnya.
“Asal
tahu saja, aku harus makan steak setiap hari. Apa kau bisa?”goda Ryan. Duk Mi
pikir tak masalah karean dengar daging lebih murah di AS.
“Aku tahu
banyak restoran lezat tapi terjangkau di New York.” Ucap Ryan.
Duk Mi
dan Ryan akhirnya bertemu Ayah dan Ibu Duk Mi. Ibu Duk Mi emngaku selalu merasa
tidak enak karena tidak mengizinkan anaknya belajar di luar negeri, tapi
akhirnya Duk Mi pergi. Ia berpesan agar Duk Mi untuk jaga kesehatan. Duk Mi
menganguk mengerti.
“Jadi,
dengan Direktur... “ kata Ibu Duk Mi, lalu disela oleh Ryan agar memanggil nama
Yoon Jae.
“Yah, aku
lega kau ikut dengannya... Tolong jaga Duk Mi.” Kata Ibu Duk Mi. Ryan menganguk
berjanji akan sering menelepon juga.
“Apa kau
akan berpamitan kepada ibunya juga?” tanya Ibu Duk Mi, Ryan membenarkan kalau
akan bertemu dengannya hari ini.
“Dia
pasti sedih karena dia baru saja mendapatkanmu kembali. Kau tidak perlu sering
menelepon kami, tapi telepon dia lebih sering.” Kata Ibu Duk Mi yang
pengertian.
“Aku akan
sering menghubungi kalian berdua.” Ucap Ryan berjanji.
Duk Mi
bertemu dengan Ibu Yoon Jae dan juga Shi An. Ibu Yoon Jae mengaku senang karena
Shi An bisa melukis lag dan berutang
semuanya pada Duk Mi lalu mengucapkan terima kasih. Shi An merengek meinta
ibunya tetap tinggal karena Ryan dan Duk Mi pergi.
“Lihat
siapa yang memutuskan untuk jadi bayi lagi.” Ejek Ibu Yoon Jae pada anaknya.
“Apa kau
kembali ke tempat suamimu?” tanya Duk Mi, Ibu Yoon Jae membenarkan.
“Kedua
putraku berada di jalur yang benar jadi aku harus kembali. Bekerja sebagai
sukarelawan yang mengajar bahasa Kore untuk anak-anak Korea yang diadopsi di
luar negeri adalah bagaimana aku bertemu Yoon Jae lagi. Aku menganggapnya
sebagai tanda untuk bekerja lebih keras.” Jelas Ibu Yoon Jae.
“Shi An
tampaknya sangat kesal.” Komentar Duk Mi. Ibu Yoon Jae mengaku Sebenarnya, itu
bukan karena mereka tapi tapi dari
penggemar tertentu.
“Ya,
siapa namanya? Shi An is... Shi An is My Life... Dia akan hiatus fanpage-nya.”
Ucap Shi An sedih
“Itu
hanya istirahat, jadi aku akan...maksudku Aku yakin dia akan kembali sebagai
penggemarmu suatu hari nanti.” jelas Duk Mi. Ryan hanya bisa menahan tawanya.
Shi An
masih saja cemberut, Ryan memanggil adiknya, tapi Shi An tak menyahut. Ryan
kembali memanggil adiknya, Shi An menatap kakaknya. Ryan menegaskan kalau
mereka akan kembali, Shi An menganguk mengerti dengan senyuman.
Ryan
berbicara dengan pegawai yang mungkin sudah tahu, Kyung Ah memohon berharap
mereka akan tetap tinggal saja. Duk Mi menolaknya lalu berjanji tidak akan
pergi lama. Ryan malah bertanya siapa yang mengatakan hal itu.
“Ini
bukan perpisahan selamanya, mari buat perpisahan singkat. Kalian semua
melakukan pekerjaan dengan baik. Terima kasih.” Ucap Ryan
“Sesudah
kau kembali sebagai seniman, kau bisa mengadakan pameran di sini. Apa yang
membuatmu kesal?” ucap Hyo Jin
“Hyo Jin,
anehnya kau tampak bersemangat. Bagaimanapun, sekarang saatnya memperkenalkan
kalian dengan direktur baru. Aku khawatir tidak bisa menghentikan ini.” Ucap
Ryan.
“Hai, apa
kabar, semuanya? Aku direktur baru, Eom So Hye.. Kejutan.” Kata Nyonya Eom
masuk ruangan. Hyo Jin bahagia memanggil ibunya.
Duk Mi
bertemu dengan Sun Joo di cafe, Sun Joo merasa tak bisa hidup tanpa temanya.
Duk Mi berjanji akan meneleponya setiap
hari. Sun Joo pikir itu tak cukup saat
kita menghabiskan 360 hari setahun bersama. Eun Gi dengan sangat memberitahu
kalau Duk Mi akan kembali, dan waktu berlalu.
“Kau
brengsek tidak bisa mengerti karena kau sudah menghabiska waktu dengannya, tapi
tidak denganku. Satu-satunya waktu kami menghabiskan waktu adalah saat
melahirkan.” Kata Sun Joo
“Sebenarnya,
kau tidak ingat itu... Apa Aku menyelinap menyamar sebagai suamimu?”kata Duk Mi
.
Sun Joo
memohon pada Ryan agar menjaga Duk Mi, Ryan berjanji akan melakukanya. Sun Joo
memberitahu kalau Duk Mi paling suka pria tampan. Duk Mi berteriak marah. Eun
Gi pikir Sun Joo tidak cukup mabuk. Sun Jo memberitahu Eun Gi suka pria yang cantik juga.
“Dia
tergila-gila pada pria yang manis.” Ucap Sun Joo, Duk Mi mengeluh dan panik
mendengar ocehan temanya.
“Baiklah.
Tampan, cantik, dan manis... Aku akan mencoba jadi semua itu.” Kata Ryan dengan
wajah bahagia.
“Aku
ingat kau pemalu saat masih kecil.” Ejek Eun Gi, Ryan seperti tak percaya. Sun
Joo hanya meminta agar Eun Gi diajari untuk latih Eun Gi kencan.
Ryan
mengantar Duk Mi pulang ke rumah, Duk Mi kembali memanggilnya Direktur. Ryan
memberitahu kalau sekarang sudah tak menjadi Direktur. Duk Mi mengejek untuk memanggilnya Singa.
Ryan mengeluh kalau namanya bukan Lion, tapi Ryan.
“Kau bisa
pilih... Singa, Ryan, atau Yoon Jae... Aku harus memanggilmu apa?” ucap Duk M
“Apa kau
akan memanggilku dengan nama yang aku pilih?” kata Ryan, Duk Mi menganguk
menyuruh agar memilihnya.
“Jika itu
masalahnya, aku ingin kau mendengarkanku dengan cermat. Kau pernah bilang
kepadaku bahwa karya seniku sudah membaik. Aku tidak tahu, ada begitu banyak
hal yang ingin aku lukis. Suara nafas, aroma angin, matahari yang hangat, dan
juga... kasih sayang wanita yang kucintai.” Ucap Ryan tiba-tiba menaruh cincin
ditangan Duk Mi.
“Aku tahu
kau terkejut dan ini terlalu mendadak, tapi, putuskanlah hari ini. Sepertinya
inilah saat yang tepat. Aku mengatakannya karena aku tidak mau menunggu.” Ucap
Ryan tiba-tiba berlutut didepan Duk Mi.
“Sung Duk
Mi, lebih dari siapa pun di dunia ini, Aku ingin... melukis kebahagiaan
bersamamu. Maukah kau menikah denganku?” ucap Ryan
“Karena
aku fan-girl, aku akan menjawab dalam bahasaku... Ya... Aku akan jadi yang
terbaik dan terpenting... Maukah kau jadi... cintaku yang hebat juga?” ucap Duk
Mi
“Selama-lamanya.”
Kata Ryan, Duk Mi terlihat bahagai dengan mata terharu. Ryan pun memasangkan
cincin untuk Duk Mi lalu memeluknya.
Dalam
sebuah toko CD, Fans menganti meminta album Cha Shi An dus, Di rak lain terlihat album [MUSIK INDIE- Kami, BINTANG LAINNYA] seperti
Joo Hyuk sudah bisa mengeluarkan albumnya.
Geon Woo sudah siap bersekolah.
“Geon
Woo, jangan berkelahi dengan teman-temanmu. Jika ada sesuatu yang tidak kau
ketahui, tanyakan pada gurumu. Geon Woo, hwating.” Ucap Sun Joo. Geon Woo
menganguk mengerti lalu pamit pada ayah dan ibunya setelah itu masuk sekolah.
“Kita
punya waktu luang!” jerit Sun Joo bahagia lalu pergi bersama dengan suaminya.
[1
TAHUN KEMUDIAN]
Nyonya
Eom terlihat gugup menunggu didepan penjara, Saat pintu terbuka seorang pria
keluar. Nyonya Eom berlari memanggil suaminya, lalu mereka saling berpelukan.
Nyonya Eom mengaku sangat merindukannya.
“Apa kau
benar-benar sudah keluar?” kata Nyonya Eom seperti tak percaya. Ayah Hyo Jin
membenarkan.
“Aku
merindukanmu seperti orang gila... Moo San. Kenapa berat badanmu bertambah? Ya
ampun. Wajahmu sangat bengkak. Apa makanan di sana cocok untukmu?” kata Nyonya
Eom lalu meminta sesuatu pada Sek Kim.
Sek Kim
membawakan tahu dan Nyonya Eom menyuapi suaminya makan tahu sebagai makanan
diet karena menurutnya Pria harus terlihat tampa jadi harus menjaga
penampilannya sampai mati.
Hyo Jin
terlihat kesal melihat sesuatu, lalu memanggil Yang Eun Ha merasa kalau pegawai
magang itu belum pernah membuat kopi, Eun Ha membenarkan. Hyo Jin akhirnya
mencontohkan cara membuat kopi yang benar.
“Apa Hyo
Jin membuat kopi? Itulah yang disebut, "individu yang berbakat". Moo
San harusnya datang untuk melihat ini... Ya ampun. Luar biasa.” Puji Nyonya Eom
melihat anaknya.
Nyonya
Eom mengumpulkan semua pegawai memberitahu kalau alasan tiba-tiba meminta rapat seperti ini karena
ada seseorang yang ingin diperkenalkan.
“Tentu
saja, selama ini, aku mengurus semua pekerjaan di sini tanpa masalah, tapi beban
kerja sudah meningkat. Jadi Sulit untuk menangani sendiri. Moo San mungkin
kesal karena aku sangat sibuk dengan pekerjaan. Jadi, aku pikir sudah waktunya
untuk merekrut wakil direktur baru.” Ucap Nyonya Eom lalu meminta seseorang
masuk.
Duk Mi
berjalan masuk dengan style rambut yang berbeda. Duk Mi menyapa sebagai wakil direktur Cheum
Gallery. Yoo Sub dan Kyung Ah kaget melihat Duk Mi yang datang. Duk Mi
menanyakan kabar teman-teman di galerynya.
“Kau
terlihat sama bahagia saat kita bertemu... Ayo Kemari... Kalian semua harus
meluangkan waktu untuk saling sapa.”ucap Nyonya Eom lalu melangkah pergi.
“Aku dengar
kau menjadi kurator utama Sung Kur... Bukan, kau lebih pantas dipanggil, Wakil
Direktur Sung.. “ ucap Kyung Ah bangga
“Yoo Sub
bagaimana denganmu? Apa kau kurator sekarang?” tanya Duk Mi, Yoo Sub
membenarkan lalu mengaku suah berkencan dengan Kyung Ah.
“Ini
sangat mengesalkan. Kenapa semua orang di galeri ini menjadi pasangan?” keluh
Hyo Jin kesal. Kyung Ah bertanya apakah Ryan akan datang juga.
Di rumah
Ibu Duk
Mi sibuk membaca berita dalam bahasa inggris "Seniman jenius, Ryan Gold
sudah kembali sebagai insplendor. Sesudah empat tahun ketidakhadiran..."
Tuan Sung tak mengerti bertanya apa artinya.
“Artinya
menantu kita, Ryan sudah kembali... Aku bilang untuk belajar bahasa Inggris
denganku.” Keluh Ibu Duk Mi, tiba-tiba Duk Mi datang memangil ibunya. Ibu Duk
Mi kaget langsung memeluk ibunya.
Duk Mi
duduk di meja makan banyak makanan, lalu bertanya-tanya apakah ini hari ulang
tahunya. Ibu Duk Mi pikir kalau putrinya akhirnya kembali. jadi harus
mengadakan pesta. Nyonya Nam mengucapkan selamat pada Duk Mi yang sudah
diangkat sebagia wakil direktur.
“Aku menantikan
kolaborasimu kedepannya.” Ucap Nyonya Nam. Duk Mi mengaku juga menantikannya.
“Ayah.
Apa kau menangis?”goda Eun Gi, Tuan Sung menyangkal menyuruh mereka makan saja.
“Omong-omong,
kapan menantuku datang?” tanya Ibu Duk Mi, Duk Mi memberitahu kalau Yoon Jae
sibuk dengan pameran sampai awal tahun depan jadi dia tidak akan bisa datang.
“Itu berarti
dia sudah berhasil kembali, jadi tidak perlu merasa kesal.” Ucap Nyonya Nam
“Aku
tidak merasa kesal. Aku menetapkan tanggal untuk pernikahanmu.” Kata Ibu DukMi.
“Pernikahan?.
Aku pikir Eun Gi akan mengadakan pernikahan duluan.” Kata Duk Mi, Semua kaget
mendengarnya, Eun Gi binggung karena merasa tidak mengencani siapa pun.
“Kau sepertinya
sering berbicara dengan Choi Da In di telepon belakangan ini.” Ejek Duk Mi, Eun
Gi pikir tak seperti itu
“Rasanya
mereka cukup dekat.” Goda Du Mi. Eun Gi mengaku Bukan dia tapi Ada orang lain.
Duk Mi tak percaya mendengarnya.
“Kau
bahkan tidak tahu apa-apa. Makan saja.” Ucap Eun Gi kesal. Duk Mi yakin Eun Gi
Dpasti menyembunyikan sesuatu ingin tahu siapa orangnya karena tahu semua orang
yang Eun Gi kenal.
Eun Gi
mengantar Duk Mi sampai rumah, dikejutka dengan Sun Joo sudah menunggu di sofa
menyambut temanya. Duk Mi tak percaya Sun Joo datang lalu menyapa di perut Sun
Joo “Apa kau lebih manis dari Geon Woo?” Sun Joo terlihat senang karena hamil
lagi.
“Aku
pikir kau tidak punya rencana untuk anak kedua.” Komenta Duk Mi. Sun Joo
mengaku Entah bagaimana terjadi. Duk Mi mengucapkan selamat.
“Benar.
Hari ini penampilan pertama hari Shi An dan Joo Hyuk sejak mereka merilis album
proyek mereka... Maukah kau pergi denganku?” ucap Sun Joo. Duk Mi setuju akan
pergi.
“Apa
kalian berdua kembali ke ngefan-girll lagi?”keluh Eun Gi, Sun Joo memberitahu
kalau mereka tak boleh kaget saat melihat Joo Hyuk.
“Dia
menganggap dirinya sebagai selebriti sekarang.” Kata Sun Joo. Duk Mi pikir
kalau Joo Hyuk memang bisa menjadi selebriti kapan saja.
“Tapi Bukan
itu yang penting sekarang.. Eun Gi punya seorang wanita.” Kata Duk Mi, Eun Gi
menyangkal Sun Joo pikir kalau itu Da In, Eun Gi menegaskan bukan dia tapi Orang
lain. Sun Joo mengoda Eun Gi yang sekarang sudah dewasa.
Hyo Jin
dan Eun Gi menyapa didepan camera, dengan slogan "Hidup Judo"! Hyo Jin memberitahu kalau Hari ini mereka akan belajar soal "lemparan
judo Tai-otoshi". Mereka meminta agar klik subcribe dan juga like.
“Nam Eun
Gi, kapan lemparan judo Tai-otoshi digunakan?” kata Hyo Jin seperti sedang
wawancara
“Yah,
digunakan saat kau dan lawan saling bergulat. Saat kau ingin melakukan lemparan
bahu, tapi saat kaki depan lawan menghalangimu, mungkin tulang ekormu terluka karena
lutut lawan.”jelas Eun Gi ingin memperagkan pada Hyo Jin.
“Ini
Terlalu pendek... Kau mungkin tidak akan terluka jika kaki lawan pendek...”
kata Eun Gi, Hyo Jin marah langsung menendangnya. Eun Gi mengeluh kesakitan.
“Tidak
mudah menghasilkan uang, kau tahu. Bisakah kita menghasilkan uang dengan ini?”keluh
Eun Gi.
Hyo Jin
pikir Eun Gi pandai makan, Eun Gi tak peduli mengajak untuk melakukan lemparan
bahu. Hyo Jin pikir acara Mukbang adalah tren belakangan ini jadi akan
membantunya. Eun Gi menyuruh Eun Gi
Berhenti bicara omong kosong lalu mengendong Hyo Jin seperti karung
beras.
Duk Mi
melihat dengan wajah bahagai papan nama diatas meja. Kyung Ah masuk ruangan
memberitahu sudah waktunya untuk rapat. Saat itu Duk Mi mengangkat telp, Ryan
mengelu kalau Duk mi tidak terdengar
senang mendengar suaranya sama sekali.
“Bahkan
belum seminggu sejak aku datang ke sini.” Kata Duk Mi, Ryan merasa seolah-olah sudah sekitar tujuh tahun.
“Apa
semua persiapan pameran berjalan baik?” tanya Duk Mi , Ryan mengaku baru saja
selesai rapat, jadi menelepon karena merindukan
Uk Mi
“Bagaimana
Cheum Gallery? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Ryan
“Semuanya
persis sama termasuk Direktur Eom” ucap Duk Mi. Ryan bertanya Apa tempat itu
juga sama. Duk Mi bertanya baik tempat apa.
“Tempat
kita mengambil foto saat berpura-pura berkencan” kata Ryan. Duk Mi keluar
gallery melihat kalau Semuanya sama juga kecuali satu hal.
“Kecuali
satu hal? Apa itu?” tanya Ryan, Duk M menjawab tak ada Singanya.
Ryan
tiba-tiba memeluk Duk Mi dari belakang, Duk Mi kaget melihat Rayn datang
menanyakan tentang bagaimana dengan pameran. Ryan mengaku datang segera sesudah rapat berakhir karena
merindukan Duk Mi seperti orang gila.
“Sudah
kubilang aku akan pergi begitu semuanya selesai.” Ucap Duk Mi, Ryan mengaku Duk
Mi yang membuatnya menjadi seperti ini.
“Sejujurnya,
aku juga kesulitan karena merindukanmu.” Kata Duk Mi, Ryan menarik Duk Mi dalam dekapanya merasa Inilah
yang harus dilakukan penggemar lalu memberikan kecupan.
“Kau
penggemar yang menang banyak... Apa kau menginginkanku?” goda Duk Mi, Ryan
menganguk. Akhirnya mereka pun berciuman melepaskan rasa rindunya. Duk Mi
menatap Ryan dengan penuh rasa cinta begitu juga sebaliknya.
[Apa kau penggemar? Aku harap kau jadi
penggemar yang sukses, KITA
SEMUA ADALAH KESUKAAN SESEORANG.]
THE END
PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta
follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin
semangat nulisnya. Kamsahamnida.
Sinopsis Her Private Life Episode 16 Part 1
PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku
meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang
mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe.
Duk Soo
terlihat sedang mengambar di jalan, bersama dengan Duk Mi dan juga Yoon Jae.
Eun Gi berteriak memangil ibu Duk Mi mengadu kalau Duk Mi sedang coret-coret
lagi. Duk Mi dengan tatapan sinis memberitahu kalau ini Bukan coret-coret.
“Aku
sedang menggambar.” Tegas Duk Mi. Eun Gi mengejek kalau baginya terlihat
coret-coret.
“Aku
hanya lihat kau sedang coret-coret.” Ejek Eun Gi, Duk Mi marah langsung memukul
Eun Gi. Eun Gi memanggil ibunya.
“Duk Mi.
Sudah dibilang jangan memukul Eun Gi...”kata Ibu Duk Mi lalu melonggo melihat
semua jalanan dan tembok penuh dengan gambar.
“Sudah dibilang
kau akan dapat masalah jika coret-coret lagi.” Ucap Ibu Duk Mi mengomel. Duk Mi
mengeluh kalau ini bukan coret-coret
“Duk Mi.
Kau akan jadi apa...Saat tumbuh dewasa?” tanya Ibu Duk Mi. Duk Mi menjawab Seniman
yang menggambar lukisan.
“Aku akan
menggantung lukisanku di galeri besar.” Kata Duk Mi bangga, Yoon Jae diam-diam
mendengar ucapan Duk Mi
Mereka
akhirnya bermain air bersama untuk membersihkan tembok dan jalan yang sudah
digambar. Duk Mi, Duk Soo, Eun Gi dan Yoon Jae terlihat bahagia bermain air
bersama. Ibu Duk Mi pun terlihat bahagia merawat empat anak.
Ryan
sibuk mengambar menatap Duk Mi yang masih tertidur disampingnya, Duk Mi
akhirnya membuka mata, Ryan bertanya apakah mimpinya indah. Duk Mi mengaku
mimpinya sangat manis karena itu adalah ingatannya Namun, sedikit menyedihkan juga.
“Aku
bermain dengan Yoon Jae, Eun Gi, dan Duk Soo... Kau bangun lebih awal... Sedang
apa?” tanya Duk Mi
“Aku
Sedang menggambar... Menggambarmu sedang tidur.” Kata Ryan. Duk Mi bertanya Apa
ia terlihat cantik
“Kau
seorang wanita dari luar dunia ini, sulit untuk mengekspresikan melalui
gambar.” Ucap Ryan
“ Dalam
mimpiku, aku menggambar dengan Yoon Jae. Kami menggunakan kapur dan menggambar
begitu banyak di sana-sini. Tapi, Eun Gi bilang aku coret-coret, dan bilang dia
akan beri tahu Ibu. Jadi, aku katakan padanya... Aku akan menjadi seorang
seniman nanti dan lukisanku akan digantung di galeri.” Cerita Duk Mi
“Meskipun
aku gagal jadi seorang seniman, setidaknya aku jadi orang yang menggantung
lukisan di galeri. “ ucap Duk Mi bangga
“Hari
ini, kita tidak pergi ke pameran dan melihat karya seni secara langsung. Apa
yang kita lihat adalah sebuah konsep mengenai apa yang kurator anggap sebagai
seni. Sederhananya, seorang seniman sejati bukanlah penulis, tapi kurator. Semuanya
tergantung pada pilihan kurator.” Jelas Ryan.
“Slavoj
Zizek? Aku sangat setuju dengannya.” Kata Duk Mi, Ryan pikir Seorang kurator juga seorang seniman bahkan
bisa menggambar lagi. Berkat Korator Sung Duk Mi.
“Ruang
pameran adalah kanvasku. Namun,... Sekarang, wajahmu seperti kanvasku...
Bisakah aku menggambarnya?” ucap Duk Mi mengoda menatap Ryan.
“Dengan
apa?” tanya Ryan. Duk Mi pikir
Tiba-tiba merasa sangat kreatif
lalu memikirkan cara menggambar dan akan memulainya. Ryan mendorong Duk Mi
lebih dulu diatas tempat tidur dan langsung menciumnya.
Duk Mi
mengajak pegawainya agar menggambar di kanvas mereka, Kyung Ah binggung, Duk Mi menjelaskan kalau mereka akan melihat
lukisan milik Tuan Nho Seok. Semua mengerti dan terlihat sangat bersemangat.
Yoo Sub memasang foto profile orang-orang yang bergabung dalam pameran.
[SHI AN, - AKU HARAP, AKU JADI BAGIAN DARI
IMPIANMU] Kyung Ah memastikan semua walkie talkie berjalan dengan baik dibagian
receptionist. Hyo Jin memasang poster acara gallery dibagian depan, Yoo Sub
terlihat bangga melihatnya.
Hyo Jin
seperti tak peduli karena ia hanya peduli dengan souvenir yang dibuatnya. Yoo
Sub pun memastikan proyector pada ruang gallery yang sudah dipasang lukisan
agar tidak terlalu gelap.
Hyo Jin
memasang poster "The Room, The Life", Pameran ulang tahun kelima
Cheum Gallery, dengan wajah bahagia mereka
akhirnya mengadakan pameran. Kyung Ah ingi tahu perasaan Hyo Jin karena ini
pameran pertamanya.
“Aku
senang.. Rasanya aku bertemu dengan seseorang dari imajinasiku. Ini Benar-benar
sulit, tapi aku semangat.” Kata Hyo Jin
“Apa kau
yakin bukan karena kau bertemu dengan Cha Shi An?” goda Yoo Sub, Hyo Jin tak
bisa menutupi karena sudah Ketahuan.
“Omong-omong,
Direktur Bagaimana kau menemukan judul pameran?” Kyung Ah. Ryan menjawab Dari kamar seseorang.
“Bagaimana
ruangan itu terlihat?” tanya Yoo Sub, Ryan menjawab Ruangan itu penuh dengan sesuatu yang ceria,
menyenangkan, dan bahagia sambi menatap Duk Mi
“Isi
kamarmu dengan sesuatu yang kau sukai agar kau bisa hidup lebih bahagia.” Ucap
Duk Mi yang terlihat masih sama ada foto Shi An dan juga Ryan.
Semua
pengunjung sudah menunggu di pintu masuk gallery, para fans Shi An pun sudah
datang pertama dan berharap lebih baik jika cepat buka. Di dalam ruangan, Shi
An dengan bertemu dengan wartawan yang mengambil gambarnya.
Duk Mi
dan Ryan melihat dengan wajah tegang, Shi An pun melayani permintaan wartawan
untuk melambaikan tanganya ke kamera. Hyo Jin dengan ibunya melihat sosok Shi
An. Nyonya Eom melihat Shi An seperti
sangat takjub.
“Hyo
Jin... Apa patung di sana bagian dari pameran?” ucap Nyonya Eom. Hyo Jin bangga
karena Shi An memang terlihat sangat sempurna.
“Dia
sangat tampan.” Ucap Nyonya Eom lalu meminta Sek Kim memberikan ponselnya lalu
mengambil foto Ryan.
“Hyo
Jin... Bukankah kau yang desainnya?” ucap Nyonya Eom melihat Shi An mengangkat
souvenir yang dibuat oleh Hyo Jin.
“Ibu...
Aku bisa mati sekarang tanpa penyesalan.” Kata Hyo Jin tak percaya melihatnya.
“Tidak,
tidak. Hyo Jin, kau tidak boleh mati. Jangan katakan sesuatu yang mengerikan.
Hyo Jin, aku sangat bangga padamu.” Ucap Nyonya Eom. Duk Mi dan Ryan terlihat
sedikit tegang memulai pameran.
Duk Mi
dan Ryan menatap lukisan yang di perlihatkan dalam gallery saat penjunjung
akhirnya masuk. Lukisan penari ballet dengan caption [AKU MEMAKAI SEPATU POINTEKU PADAHAL AKU
SUNGGUH BENCI BALET]
“Seni
mungkin hebat, tapi tidak bisa lebih besar dari manusia yang hidup. Terlepas
dari betapa tidak signifikannya aku terlihat, Aku masih lebih besar dari
lukisan yang digantung di dinding itu. Karena aku adalah makhluk hidup, dan
akan terus hidup.” ucap Duk Mi, Ryan menatap Duk Mi saat duduk menatap lukisan.
Duk Mi
melihat foto koleksi Tuan Nho, teringat saat pergi ke rumah memberitahu Ryan
kalau Mata ini bukan mata perpisahan yang kesedihan atau mata seseorang menunggu
kematian.
“Dia melihat
seseorang yang dia cintai. Dia ingin meninggalkan ini untuk orang itu. Dia
melihat orang ini, dan matanya menyapa orang itu. "Halo aku disin Aku akan
selalu melihatmu seperti ini"
Akhirnya
Ryan menuliskan caption dari foto tersebut”HALO” Keduanya melihat video
gelembung yang dibuat oleh Da In untuk mengambarkan lukisan Lee Sol. 9 lukisan
Lee Sol dibuat layaknya sebuah cerita tentang seorang anak kecil
“Gelembung,
Kuda goyang, kincir ria, dan naik kapal Viking. Itu semua adalah sesuatu yang
disukai anak-anak. Sepertinya aku tahu apa yang dipikirkan sang seniman saat
dia menggambar lukisan-lukisan ini.” Ucap Duk Mi mengingat pertemuan Ryan
dengan ibunya.
“Kami
berdua tersenyum... Kami terlihat sangat bahagia.” Ucap Ryan dan gambar Lee Sol
dengan caption [ISI KAMARMU DENGAN SESUATU YANG KAU SUKAI, AGAR
KAU BISA HIDUP LEBIH BAHAGIA]
Shi An
melihat gambar ibunya lalu mengucapkan
Selamat atas pameran pertamanya. Ibu Shi An mengucapkan terimakasih lalu
mengucapakan selamat juga pada Yoon Jae. Ryan pun membalas dengan memanggil
ibunya Pelukis Lee Sol.
“Terima
kasih sudah mengizinkan kami memamerkan karya menakjubkanmu.” Kata Ryan. Ibu
Duk Mi pun mengucapkan terimakasih pada Duk Mi yang akhirnya ikut bergabung.
“Apa kalian
ingin aku mengambil foto? Mari kita ambil foto.” Ucap Duk Mi, Ryan memuji kalau
Duk Mi adalah fotografer hebat. Akhirnya Duk Mi mengambil foto mereka bertiga
beberapa kali, Shi An seperti sangat manja pada ibunya bersandar dibahunya.
Sun Joo
gugup melihat Shi An dan ibunya datang ke cafe, bertanya ingin memesan. Duk Mi
ingin memesan tapi Sun Joo sudah tahu pasti pesanannya Es Americano dan latte dengan susu kental tanpa
espresso. Shi An heran Ryan yang tak minum kopi.
“Aku
tidak bisa minum kopi karena mirip seseorang.” Kata Ryan melirik ibunya. Ibu
Shi An pun memutuskan akan pesan yang sama dengan Ryan.
“Cha Shi
An, mau pesan apa?” tanya Sun Joo mencoba agar tenang tapi terasa canggug.
“Aku akan
pesan yang sama dengan Sung Nuna. Es Americano yang enak.” Kata Shi An.
“Dua
latte dengan susu kental tanpa espresso, satu Es Americano, dan satu Es
Americano yang enak. Aku akan bawa secepatnya.” Ucap Sun Joo mengoda. Ryan
hanya menatap heran karena akan membuat minuman khusus untuk Shi An.
“Ibu, aku
tidak tahu kau tidak bisa minum kopi.” Komentar Shi An. Ibunya hanya bisa
tersenyum.
Joo Hyuk
menatap sinis pada Sun Joo karena pikir
ia adalah favorit tapi seperti dikalahkan oleh Shi An. Sun Joo memberitahu
kalau Sekali menjadi fan-girl, maka akan selalu jadi fan-girl. Ia mengaku kalau
Joo Hyuk mungkin favoritnya, tapi Shi An ada di level yang berbeda.
“Dia
pasti tidak terlalu tertarik.” Komentar Joo Hyun. Sun Joo mengaku Shi An adalah
yang pertama. Shi An tiba-tiba mendekat, Sun Joo berusaha tenang.
“Musik
apa ini? Aku belum pernah mendengarnya sebelumnya.” Tanya Shi An. Sun Joo pikir
kalau lagunya pasti bagus.
“Ada band
bernama Paid, dan dia penyanyi utama dan gitaris band itu... Joo Hyuk... Mereka
akan segera membuat album.”kata Sun Joo bangga memperkenalkan Joo Hyuk.
“Paid?
Ini Sangat bagus. Aku akan menantikan albummu.” Kata Shi An.
“Ketika
album ini dirilis, aku akan memberikannya kepadamu sebagai hadiah secara
pribadi.” Ucap Sun Joo.
Shi An
menganguk lalu tersenyum kembali ke bangkunya, Sun Joo benar-benar terlihat tak
percaya berbicara dengan Shi An meminta Joo Hyuk mencubitnya. Joo Hyuk pun
mencubit Shi An dengan keras.
Duk Mi
dan keluarga naik mobil Eun Gi pergi ke kuil, Ibu Shi An ikut juga lalu bertemu
dengan ibu Duk Mi lebih dulu. Ayah Duk Mi mengajak semua masuk lebih dulu agar
mereka berdua bisa bicara. Ibu Shi An memperkenalkan dirinya sebagai ibu Yoon
Jae.
“Sesudah
mendengar kau akan berada di sini, aku terjaga sepanjang malam memikirkan apa
yang harus kukatakan kepadamu.” Kata ibu Shi An.
“Pikiranku
terus kosong kecuali untuk meminta maaf.” Kata ibu Duk Mi tertunduk
“Yoon Jae
menceritakan semuanya. Bahkan jika singkat,aku berterima kasih kau telah
menjaganya.” Ucap Ibu Shi An. Ibu Duk Mi mengangguk mengerti.
Mereka
masuk kuil melihat nama Duk Soo, semua ingin berdoa untuk Duk Soo. Duk Mi
akhirnya melihat tempat adiknya disemayamkan, Ibu Duk Mi memberitahu saat Duk
Mi masih kecil pernah membawanya bersama
Eun Gi, dan Duk Soo datang berkunjung.
“Sesudah
menemui seorang biksu Duk Soo tidak bisa menahan tawanya. Dia terus berteriak,
"Botak" Kau bisa bayangkan betapa memalukannya itu. Itu sebabnya aku
membawanya ke sini sehingga dia bisa tertawa dalam hidupnya.”cerita Ibu Duk Mi
“Kalau
begitu aku yang akan membuatmu tertawa.” Kata Duk Mi berjanji pada ibunya.
Setelah
semua berdoa, Ibu Duk Mi memberikan sesuatu pada Ibu Shi An yaitu memberikan
foto saat Yoon Jae masih umur 7 tahun. Ibu Shi An mengaku hanya dengan melihat
foto anaknya bisa tahu kalau ibu Duk Mi betapa baik dan murah hati pada
putranya.
“Wajahnya
terlihat bahagia.” Kata Ibu Shi An. Ibu Duk Mi merasa beruntungnya, karena Yoon
Jae akur dengan Duk Mi dan Eun Gi dan juga makan dengan baik.
Ibu Yoon
Jae melihat surat yang ditulis oleh anaknya
[HEO YOON JAE, 7 TAHUN. AKU RINDU
IBU. AJUMMA, TERIMA KASIH, DEOK MI, EUN GI, KITA AKAN MAIN LAGI LAIN WAKTU]
“Sesudah
Duk Soo meninggal, aku tidak dalam kondisi pikiran yang benar. Ketika akhirnya
berhasil menenangkan diri, ternyata Yoon Jae sudah diadopsi.”kata ibu Duk Mi
merasa bersalah.
“Kau
kembali untuknya ke panti asuhan tempat dia berada.” Kata ibu Shi An.
“Andai
saja aku tiba di sana lebih cepat. Ada banyak hal yang aku sesali. Kepada kau
dan Yoon Jae... Bahkan aku malu berada di hadapanmu. Aku orang yang paling malu
di hadapan Yoon Jae, Kau mengalami kecelakaan dan Kau tidak menelantarkannya.”
Ungkap Ibu Duk Mi
“Aku
punya putra lagi dengan nama Shi An. Sesudah kehilangan Yoon Jae, seorang pria
membantuku mencarinya. Dia adalah ayah Shi An. Kau akan penasaran bagaimana
orang bisa memulai keluarga lagi sesudah kehilangan putranya.” Kata Ibu Shi An.
“Anak itu
bisa dengan mudah tak mengerti dan benci. Namun, Yoon Jae bilang ini. Seorang
janda adalah seorang istri yang kehilangan suaminya. Seorang duda adalah suami
yang kehilangan istrinya. Anak yatim adalah anak yang kehilangan orang tuanya.”
Ucap Ibu Shi An.
“ Namun,
dia membaca di suatu tempat bahwa rasa sakit itu sangat hebat bagi orang tua yang
kehilangan anak-anak mereka, oleh karena itu tidak ada yang bisa menyebutkan
nama. Aku membuat pilihanku sehingga bisa mengatasi dan melanjutkan hidupku,
dan dia bilang tidak ada yang akan menyalahkan aku.” Jelas Ibu Shi An.
“Dia
bilang kepadaku untuk jangan menyesal. Meskipun aku tidak tahu malu, aku akan
menjalani hidupku dengan berpikir bahwa dia memaafkanku. Hal yang sama berlaku
untukmu. Kau seharusnya tidak hidup dalam rasa sakitatau penyesalan lagi.” Kata
ibu Shi An.
Duk Mi
membuka pintu bersama dengan Ryan melihat ibu mereka sedang berbicara dengan
wajah serius, lalu memilih untuk menutup kembali pintunya. Ryan penasaran apa
yang mereka bicaranya. Duk Mi pikir ibunya bertanya soal ulang tahun Ryan.
Keduanya akhirnya pergi.
“Ayah,
apa yang ada di tanganmu?” tanya Duk Mi melihat ayahnya berdiri sendirian. Tuan
Sung memperlihatkan sebuah batu ditanganya.
“Cantik..
Apa kau menemukannya di sini?” tanya Duk Mi, Tuan Sung membenarkan yaitu pada
hari membawa Duk Soo dibawa ke kuil. Duk Mi tak percaya mendengarnya.
“Ibumu
masih menangis di dalam. Ayah melangkah keluar terlebih dahulu dan melihat batu
ini. Ayah sedang tak sadar saat mengambil ini. Tapi rasanya hangat seperti
tangan Duk Soo. Itu sebabnya Ayah meremasnya dengan erat seperti Ayah memegang
tangan Duk Soo dan membawanya pulang.” Cerita Ayah Duk Mi
“Apa itu
sebabnya Ayah mengumpulkannya?” tanya Ryan pun terlihat penasaran.
“Sesudah
hari itu, aku bepergian di seluruh negeri seperti orang gilauntuk mengumpulkan
batu.” Cerita Ayah Duk Mi
“Untuk
memberi Duk Soo beberapa teman?” kata Duk Mi, Ayah Duk Mi pikir seperti itu.
“Bisakah
aku memegang tangan Duk Soo juga?” ucap Duk Mi, Ayahnya memberikan batu
ditanganya. Duk Mi pun merasa batu itu sangat hangat.
Dibawah
pohon, Eun Gi duduk dengan ibunya berpikir akan hidup bersama sesudah menerima tabunganku. Nyonya Nam tak percaya
seperti anaknya sedang dirasuki sesuatu sesudah menolak selama ini. Eun Gi
mengajak ibunya untuk hidup bersama sampai ia menikah.
“Sampai
kau menikah? Antara kau dan Ibu, pernikahan Ibu akan terjadi lebih cepat.” Kata
Nyonya Nam yakin
“Apa Kau
punya pria?” tanya Eun Gi tak percaya, Nyonya Nam mengaku sudah berdoa meminta suami hari ini.
“Apa kau
meminta suami?” ucap Eun Gi tak habis pikir. Nyonya Nam merasa tak minta banyak.
“Seseorang
yang baik, bersuara lembut, menghargai, setampan Jung Woo Sung yang memiliki
gedung. Itulah yang aku doakan.” Kata Nyonya Nam bangga.
“Aku
pikir gara-gara aku Ibuku tak menikah, tapi karena punya standar tinggi.”
Komentar Eun Gi
“Kenapa
menikah dengan seseorang yang tidak pantas?” keluh Nyonya Nam, Eun Gi setuju
kalau ia akan hidup dengan ayah tiri yang memiliki gedung.
“Fokus saja
pada pernikahanmu sendiri.. Apa tidak ada orang yang kau suka?” ucap Nyonya
Nam, Eun Gi mengaku ada
“Senang
melihat kalian menikmati waktu bersama.” Komentar Ayah Duk Mi melihat Eun Gi
dan Nyonya Nam, mereka lalu berjalan pulang bersama.
Duk Mi
dan Ryan melakukan kencan, disebuah dinding Duk Mi menunjuk akan membaca sebuah
kalimat. "Petualangan Kakak Raja
Singa". Ryan tak percaya kalau itu menyangkut dirinya, lalu berpikir akan
membaca... dan menunjuk ke arah Duk Mi
“Apa
Orang ini? Apa Kau ingin membaca ini? Apa kau menginginkannya?” kata Duk Mi
mengejek. Ryan pun tertawa lalu keduanya berjalan ke arah yang lain.
“Jalan
kereta api dan Shi An is My Life.” Ucap Ryan memegang tangan Duk Mi menyusuri
jalan kereta.
“Sekarang,
panggil aku "Ryan is My Life".” Kata Duk Mi, Ryan pikir lebih baik"Heo is My Life"./
“Bagaimana
dengan "Jae is My Life"?” kata Duk Mi mengoda. Ryan pun tersenyum.
“Di
sinilah aku belajar seni sewaktu SMA.” Ucap Duk Mi memperlihatkan kelas lukis
“Apa kau
mempelajari jenis seni yang berbeda?” tanya Ryan. Duk Mi membenarkan kalau mungkin bisa menggambar wajah Davide di
Michelangelo jauh lebih baik daripada Ryan.
“Apa Kau
ingin menggambarku?” ucap Ryan, Duk Mi mengeluh mendengarnya dengan tatapan
sinis. Ryan meminta maaf dan bergegas pergi karena ketakutan.
Mereka
akhirnya pergi ke peralatan lukis, Duk Mi bertanya kenapa Ryan membeli banyak
tinta merah. Ryan mengaku kalau akan mengambar Duk M dan terlihat paling cantik
dengan warna merah. Duk Mi tersenyum lalu bertanya apakah Ryan akan terus
menggambar di rumah.
“Aku berpikir
untuk membuat ruang kerja, tapi aku akan memanfaatkan waktu senggangku, jadi,
aku lebih suka rumahku.” Kata Ryan. Duk Mi seperti tak percaya melakukan Di
waktu senggang.
“Apa
rumahku berbau tidak sedap?” komentar Ryan, Duk Mi pikir terlihat bagus dengan warna biru juga dan Kuning
juga.
“Tentu
saja begitu.” Ucap Ryan mengoda, Duk Mi mengeluh kalau itu artinya Tidak ada warna
yang tidak cocok dengannya.
“Bukankah
kau bilang ada sesuatu yang penting pada jam 5 sore?” tanya Ryan mengalihkan
pembicaraan. Duk Mi bertanya Apa Ryan ingin pergi dengannya.
Duk Mi
membawa Ryan ke warnet. Ryan bingung kenapa Duk Mi membawanya kesini. Duk Mi memberitahu aklau Untuk beli tiket ke
konser Shi An. Ryan pikir Shi An bilang
akan memberimu tiket gratis ke konsernya.
“Aku Shi
An is my life, Maka, aku harus menonton
dari lantai dua. Aku ingin tiket lantai berdiri, dalam baris lima.” Jelas Duk
Mi lalu menarik Ryan duduk didepan komputer.
“Perhatikan
baik-baik.. Apa kau lihat tombol ini yang tertulis, "Jadwal untuk dijual"?
Tepat pukul 17:00, akan berubah jadi "pesan tiket". Maka, kau perlu
memilih tanggal dan waktu yang kau inginkan dan tekan tombol "pesan
tiket". “ jelas Duk Mi penuh semangat
“Sesudah
itu, pilih tempat duduk yang terdekat apa pun yang terjadi, di mana saja dalam
baris lima, dan tekan "selesai pilih tempat duduk".” Kata Duk Mi,
Ryan pikir Kedengarannya mudah.
“Ini
memang Mudah. Sampai kau melihat tulisan "Tempat duduk sudah
dipesan".” Jelas Duk Mi, Ryan terlihat binggung.
“Tidak
bisakah Sun Joo datang saja melakukan ini?”kata Ryan, Duk Mi mengeleng lalu
melihat waktunya tinggal Tiga menit lagi.
“Tiket
akan dibuka untuk dijual tepat jam 5 sore.” Kata Duk Mi melemaskan jari siap
menekan keyboard.
Ryan
melihat tangan Duk Mi yang cepat diatas
keyboard. Duk Mi berusaha memilih tempat yang dingikan untuk menonton
tapi hasilnya [TEMPAT DUDUK SUDAH DIPESAN] Ryan memanggil Duk Mi, Duk Mi pikir
kalau Ryan itu pasti tak berhasil Duk Mi.
Ryan
melihat sesuatu di layar [INFORMASI
PEMESANAN, LANTAI 1, TIKET BERDIRI] lalu memastikan pada Duk Mi apakah memang
berhasil . Duk Mi melonggo tak percaya lalu tersenyum bahagia. Ryan dengan
bangga kalau bisa melakukan apa saja...
“Pacarku
punya tangan Dewa!.. Kerja bagus...” puji Duk Mi mencubit pipi Ryan dengan
wajah bahagia.
Duk Mi
membaca buku di kamar sendirian, lalu memanggil Ryan dan melihat sedang asik
melukis diruanganya. Akhirnya Duk Mi pergi ke meja kerja Ryan
“Sebagai
seorang seniman, Ryan Gold... Karena kota kelahirannya New York. Aku akan mempelajari
trend seni New York terlebih dahulu.” Ucap Duk Mi mencari sesuatu di internet.
Ryan baru
selesai melukis menatap dengan wajah bahagia dengan style lukisan dirinya, lalu
melihat Duk Mi tertidur diatas meja. Ia melihat catatan [MONO ART GALLERY, RIAN GALLERY, LORETTA
GALLERY] lalu membangukan Duk Mi agar tidur dikamar.
Duk Mi
menganguk, Ryan akhirnya mengendong Duk Mi untuk ke kamar tidur. Duk Mi sudah
tertidur pulas, Ryan hanya menatapnya seperti sangat bahagia ada didekat Duk
Mi.
**
Bersambung
ke part 2
PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta
follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin
semangat nulisnya. Kamsahamnida.















































































