PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Tampilkan postingan dengan label Her Private Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Her Private Life. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juni 2019

Sinopsis Her Private Life Episode 16 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini



Duk Mi bertemu dengan Da In memberitahu Beberapa orang menunjukkan ruang pameran terlalu gelap dan sulit untuk melihat karya seni jadi  sedang berpikir untuk menerapkan pencahayaan ekstra. Da In merasa  Jika lebih terang, gelembungnya menghilang terlalu cepat.
“Aku akan menyesuaikan sudut pencahayaan dan kembali.” ucap Da In, Duk Mi menganguk mengerti.
“Jika kau butuh perubahan, kau harus beri tahu aku secepatnya. Sebelum aku pergi.” ucap Da In, Duk Mi kaget Da In mau pergi.
“Aku akan kembali ke New York. Ada tujuan untuk datang ke Korea, tapi... “ ucap Da In terhenti, Duk Mi seperti merasa bersalah.
“Untuk mengatasi keterpurukanku. Aku suka ruang kerjaku, dan mendapat banyak teman baru, tapi sejak aku mulai di New York, disini terasa tidak nyaman.” Ucap Da in
“Aku mengerti apa yang kau maksud.” Kata Duk Mi, Da In pikir mereak akan bertemu nanti di New York Dengan Ryan juga. Duk Mi menganguk setuju. 


Ryan masuk ruangan merasa namanya yang disebut, Duk Mi memberitahu kalau Da In akan kembali ke New York. Ryan pikir kalau itu Kabar bagus. Da In mengeluh bertanya apakah Ryan itu bersikap sarkastik atau serius. Ryan pikir Da In membuat keputusan yang benar.
“Untuk bekerja sebagai desainer, New York jauh lebih baik daripada di sini... Hati-hati, dan hubungi aku.” Kata Ryan mengulurkan tanganya.
“Apa ini? Kau tidak pernah berjabat tangan.” Kata Da In tak percaya. Ryan melirik pada Duk Mi
“Aku ingin mengucapkan terima kasih dan meminta maaf pada kalian berdua.” Ucap Da In lalu melihat ada cat yang tertinggal ditangan Ryan.
“Apa ini? Ryan, Apa  sudah mulai melukis lagi? Orang-orang di New York terus menanyakanmu. Mereka ingin tahu kapan pelukis jenius Ryan Gold, akan kembali.” ucap Da In penuh semangat.
“Belum. Aku belum berencana kembali.” ucap Ryan menutupi tanganya, Da In ingin tahu alasannya.
“Karena aku belum mau... Jadi kau Jangan menyebarkan rumor.” Tegas Ryan.
“Aku akan menantikan, kau kembali sebagai seniman.”kata Da In, Duk Mi menatap Ryan seperti sangat berharap banyak. 

Ryan sedang sibuk diruangan melihat Duk Mi datang ke ruanganya. Duk Mi membawakan es mint. Ryan mengaku sebenarnya ingin itu Duk Mi melihat Ryan pasti lelah lalu dengan tatapan serius bertanya apakah tidak ingin kembali sebagai seniman.
“Aku sudah kembali. Aku melukis, artinya aku seorang seniman.” Kata Ryan.
“Itu benar... Tapi, seniman Ryan Gold, lahir, dibesarkan, dan diakui di New York.Dan bukankah lebih baik bekerja di sana daripada di sini?”ucap Duk Mi
“Apa kau ingin aku kembali ke New York?” ejek Ryan. Duk Mi mengaku bukan seperti itu.
“Tapi, aku hanya khawatir kau tidak kembali gara-gra aku.” Jelas Duk Mi
“ Aku tidak akan menyangkal. Tapi, bukan itu alasannya. Karyaku belum cukup baik untuk mengatasi hiatus tiga tahun. Melakukan comeback akan menjadi kebalikan dari keputusanku untuk pensiun.” Ucap Ryan
“Jadi, jika aku gagal mengesankan semua orang dengan karya seniku, aku harus berurusan dengan banyak komentar jahat.” Jelas Ryan. Duk Mi akhirnya memberikan semangat. Ryan pun dengan senang hati menerimanya. 


Da In dan Eun Gi minum bersama, Da In memebritahu kalau sebenarnya minum bersama sebelum  kembali ke New York. Eun Gi kaget bertanya apakah Da In akan pergi untuk selamanya. Eun Gi mengaku datang untuk berpamitan.
“Terima kasih sudah menjadi temanku meskipun hanya untuk waktu yang singkat. Bisakah kau setidaknya sedikit sedih?” keluh Da In melihat sikap Eun Gi
“Kenapa aku harus sedih? Kita punya ponsel. Hubungi aku jika kau membutuhkan teman.” Ucap Eun Gi santai
“Bagaimana kalau kau tinggal di New York dan membuka dojo di sana?” saran Da In
“Bukankah lebih cepat bagimu untuk membuka akademi seni di Korea?” balas Eun Gi
“Aku sebenarnya punya rahasia untuk dikatakan. Aku benar-benar buruk dalam melukis.” Bisik Da In.
Eun Gi tak percaya karena Da In itu  seorang seniman jadi itu artinya tidak akan dapat membuka akademi seni. Da In pikir Jika Eun Gi memiliki anak di kemudian hari, maka akan jadi bibi yang sangat keren yang tinggal di Amerika.
“Bibi yang tinggal di Amerika? Baguslah punya bibi yang tinggal di Amerika. Selamat tinggal, teman senimanku.” Kata Eun Gi, Da In pun berharap Eun gi Tetap sehat, Keduanya kembali bersulang untuk minum. 


Duk Mi kembali ke rumah bertanya apakah Ryan tidak perlu melukis. Ryan mengeku tidak ingin merepotkan jadi tidak akan melukis hari ini dan hanya akan bersenang-senang dengan Duk Mi. Duk Mi menganguk setuju.
“Kau Tunggu sebentar, Ayo makan sesudah aku ganti baju.” Kata Ryan. Duk Mi berjalan masuk ke ruang lukis Ryan.
“Lukisanmu jadi lebih hangat dan lebih bagus, Peluksi Ryan Gold” komentar Duk Mi
Ryan memanggil Duk Mi karena tak melihatnya, Duk Mi berlari keluar ruangan. Ryan bertanya apa yang ingin dimakan, Duk Mi mengatakan ingin makan Pasta buatan Yoon Jae.

Joo Hyuk sedang rekaman dalam studio, PD berkomentar kalau suaranya sudah bagus tapi menurutnya lebih baik coba sekali lagi. Joo Hyuk menganguk mengerti, wajahnya terlihat penuh semangat. Seung Min dan Sun Joo masuk studio.
“Dia adalah manajer Joo Hyuk.” Ucap Seung Min, Sun Joo mengaku sebagai Aku manajer fanpage-nya.
“Tolong bimbing dia dengan baik.” Kata Sun Joo memberikan makanan. Seung Min mengajak Sun Joo segera pergi. Sun Joo terus memohon agar menjaga Joo Hyuk. Seung Min menarik Sun Joo agar keluar studio. 

[UJIAN CHOIKANG JUDO]
Eun Gi berdiri didepan dengan para orang tua yang menonton begitu juga Sun Joo serta Seung Min. Geon Woo akan melakukan Ujian naik tingkat, Eun Gi meminta mereka Istirahat ditempat, Perhatian dan Beri salam. Geon Woo dkk  bisa mengikuti perintah Eun Gi.
“Geon Woo bilang dia tidak dalam kondisi terbaiknya.” Bisik Sun Joo, Seung Min pikir kalau anaknya  terlihat baik-baik saja sambil tersenyum mengambil gambar dengan camera.
“Pertama, kita akan mulai dari jatuh kebelakang. Selanjutnya, jatuh ke depan. Selanjutnya, jatuh ke samping.” Ucap Eun Gi, Sun Joo melihat anaknya sangat menggemaskan.
“Bukankah dia sangat menggemaskan?” kata Sun Joo lalu tersadar kalau Seung Min sedang merekamnya.
“Aku sedang merekam apa yang terlihat menggemaskan bagiku.” Ucap Seung Min. Sun Joo menyuruh agar segera rekam Geon Woo.
“Sekarang, giliran Kang Geon Woo... Silakan maju... Siapa namaku?” ucap Eun Gi
“Nam Eun Gi! Direktur!!!” kata Geon Woo dengan lancar. Eun Gi memujinya. Geon Woo pun senang berhasil mengatakan dengan benar. Eun Gi memberikan sabuk kuning, Geon Woo langsung jatuh bahagia menerimanya. 


Duk Mi bertanya pada Yoo Sub apakah sudah menyelesaikan kontrak asuransi untuk pameran Mono Art Gallery Tuan Ahn. Yoo Sub mengaku sudah kalau Duk Mi hanya perlu memperbaiki tanggal pengiriman. Duk Mi akhirnya berbicara di telp dengan bahasa ingris yang fasih.
“Halo, ini Sung Duk Mi dari Cheum Art Gallery. Aku ingin membuat susunan untuk mengirim lukisan Mr. Ahn.” Ucap Duk Mi lalu terlihat kaget dan mengucapkan Terima kasih.

Yoo Sub dkk pergi ke cafe, Hyo Jin membahas kalau Duk Mi perlu pergi ke Amerika. Sun Joo kaget kalau Duk Mi akan pergi ke Amerika. Kyung Ah memberitahu aklau Belum diputuskan, tapi Duk Mi mendapat permintaan dari Mono Art Gallery.
“Mereka bertanya apa dia bisa berpartisipasi dalam kurasi pameran Tuan Ahn karena dialah yang bertanggung jawab. Entah itu atau mereka meminta apa dia bisa merekomendasikan siapa pun.” Jelas Yoo Sub
“Aku akan pergi jika kebutuhan mereka bukan seseorang yang lima tahun atau lebih dari pengalaman kerja.”kata Kyung Ah. Yoo Sub malah mengucap syukur.
“Nona Sung akan pergi, kan?” kata Hyo Jin. Kyung Ah pikir Jika Duk Mi pergi, maka harus berada di sana setidaknya selama 6 hingga 12 bulan.
“Tidak mungkin dia pergi tanpa Direktur.. Kau tidak berpikir dia akan pergi, kan?” ucap Kyung Ah
“Tapi dia mencintai pekerjaannya.” Kata Duk Mi. Kyung Ah dan Yoo Sub pikir Duk Mi tak akan pergi dan ingin tahu pendapat Sun Joo.
“Apa kau ingin bertaruh 5.000 won?” ucap Sun Joo. Hyo Jin yakin Duk Mi akan pergi. Yoo Sub dan Kyung Ah yakin tidakakan pergi.
“Menurutku dia akan memutuskan untuk pergi dan kemudian berubah pikiran.”ucap Sun Joo. Kyung Ah mengeluh kalau itu curang.
“Dia akan pergi.” kata Joo Hyuk memberikan uanganya, semua hanya bisa melonggo. Joo Hyuk pikir dirinya memang harus pergi. Sun Joo menyuruh pegawainya untuk pergi. 


Ryan kesal Duk Mi yang tidak memberitahu kalau mereka meminta kau ke New York. Duk Mi malah bertanya balik apakah Ryan mungkin ada hubungannya dengan itu. Ryan menceritakan  baru tahu hari ini Galeri Seni Mono menginginkan Duk Mi sebagai kurator mereka.
“Apa Kau sudah memikirkannya?” tanya Ryan, Duk Mi mengaku sudah.  Ryan bertanya apakah Duk Mi sudah memutuskanya. Duk Mi mengaku sudah.
“Jadi, kau akan pergi” kata Ryan, Duk Mi membenarkan. Ryan pikir Duk Mi  membuat keputusan yang benar.
“Ini adalah peluang besar bagimu. Apa itu berarti kita akan berada dalam hubungan jarak jauh sekarang?” kata Ryan
“Ini Sedikit romantis... Tapi aku akan pergi denganmu. Ayo Ikut denganku, Ryan Gold.  Aku menganalisis karya senimu sebelum hiatusmu serta trend seni saat ini yang beredar di New York. Karya senimu cukup baik untuk kembali dari masa hiatusmu.” Kata Duk Mi menyakinkan.
“Sebenarnya, orang mungkin lebih terkejut daripada awalnya. Aku meminta kau untuk mempercayaiku Percayalah pada insting dan seleraku sebagai kurator.” Jelas Duk Mi
“Aku percaya padamu aku percaya kau sebagai kurator juga. Jika aku sampai di New York, maka aku akan jadi pria pengangguran. Bagaimana aku hidup?” kata Ryan
“Aku akan membayar kebutuhan kita berdua.” Ucap Duk Mi penuh semangat, Ryan tak percaya mendengarnya.
“Asal tahu saja, aku harus makan steak setiap hari. Apa kau bisa?”goda Ryan. Duk Mi pikir tak masalah karean dengar daging lebih murah di AS.
“Aku tahu banyak restoran lezat tapi terjangkau di New York.” Ucap Ryan. 




Duk Mi dan Ryan akhirnya bertemu Ayah dan Ibu Duk Mi. Ibu Duk Mi emngaku selalu merasa tidak enak karena tidak mengizinkan anaknya belajar di luar negeri, tapi akhirnya Duk Mi pergi. Ia berpesan agar Duk Mi untuk jaga kesehatan. Duk Mi menganguk mengerti.
“Jadi, dengan Direktur... “ kata Ibu Duk Mi, lalu disela oleh Ryan agar memanggil nama Yoon Jae.
“Yah, aku lega kau ikut dengannya... Tolong jaga Duk Mi.” Kata Ibu Duk Mi. Ryan menganguk berjanji akan sering menelepon juga.
“Apa kau akan berpamitan kepada ibunya juga?” tanya Ibu Duk Mi, Ryan membenarkan kalau akan bertemu dengannya hari ini.
“Dia pasti sedih karena dia baru saja mendapatkanmu kembali. Kau tidak perlu sering menelepon kami, tapi telepon dia lebih sering.” Kata Ibu Duk Mi yang pengertian.
“Aku akan sering menghubungi kalian berdua.” Ucap Ryan berjanji. 

Duk Mi bertemu dengan Ibu Yoon Jae dan juga Shi An. Ibu Yoon Jae mengaku senang karena Shi An  bisa melukis lag dan berutang semuanya pada Duk Mi lalu mengucapkan terima kasih. Shi An merengek meinta ibunya tetap tinggal karena Ryan dan Duk Mi pergi.
“Lihat siapa yang memutuskan untuk jadi bayi lagi.” Ejek Ibu Yoon Jae pada anaknya.
“Apa kau kembali ke tempat suamimu?” tanya Duk Mi, Ibu Yoon Jae membenarkan.
“Kedua putraku berada di jalur yang benar jadi aku harus kembali. Bekerja sebagai sukarelawan yang mengajar bahasa Kore untuk anak-anak Korea yang diadopsi di luar negeri adalah bagaimana aku bertemu Yoon Jae lagi. Aku menganggapnya sebagai tanda untuk bekerja lebih keras.” Jelas Ibu Yoon Jae.
“Shi An tampaknya sangat kesal.” Komentar Duk Mi. Ibu Yoon Jae mengaku Sebenarnya, itu bukan karena mereka tapi  tapi dari penggemar tertentu.
“Ya, siapa namanya? Shi An is... Shi An is My Life... Dia akan hiatus fanpage-nya.” Ucap Shi An sedih
“Itu hanya istirahat, jadi aku akan...maksudku Aku yakin dia akan kembali sebagai penggemarmu suatu hari nanti.” jelas Duk Mi. Ryan hanya bisa menahan tawanya.
Shi An masih saja cemberut, Ryan memanggil adiknya, tapi Shi An tak menyahut. Ryan kembali memanggil adiknya, Shi An menatap kakaknya. Ryan menegaskan kalau mereka akan kembali, Shi An menganguk mengerti dengan senyuman. 



Ryan berbicara dengan pegawai yang mungkin sudah tahu, Kyung Ah memohon berharap mereka akan tetap tinggal saja. Duk Mi menolaknya lalu berjanji tidak akan pergi lama. Ryan malah bertanya siapa yang mengatakan hal itu.
“Ini bukan perpisahan selamanya, mari buat perpisahan singkat. Kalian semua melakukan pekerjaan dengan baik. Terima kasih.” Ucap Ryan
“Sesudah kau kembali sebagai seniman, kau bisa mengadakan pameran di sini. Apa yang membuatmu kesal?” ucap Hyo Jin
“Hyo Jin, anehnya kau tampak bersemangat. Bagaimanapun, sekarang saatnya memperkenalkan kalian dengan direktur baru. Aku khawatir tidak bisa menghentikan ini.” Ucap Ryan.
“Hai, apa kabar, semuanya? Aku direktur baru, Eom So Hye.. Kejutan.” Kata Nyonya Eom masuk ruangan. Hyo Jin bahagia memanggil ibunya. 


Duk Mi bertemu dengan Sun Joo di cafe, Sun Joo merasa tak bisa hidup tanpa temanya. Duk Mi berjanji  akan meneleponya setiap hari. Sun Joo pikir itu tak cukup  saat kita menghabiskan 360 hari setahun bersama. Eun Gi dengan sangat memberitahu kalau Duk Mi akan kembali, dan waktu berlalu.
“Kau brengsek tidak bisa mengerti karena kau sudah menghabiska waktu dengannya, tapi tidak denganku. Satu-satunya waktu kami menghabiskan waktu adalah saat melahirkan.” Kata Sun Joo
“Sebenarnya, kau tidak ingat itu... Apa Aku menyelinap menyamar sebagai suamimu?”kata Duk Mi .
Sun Joo memohon pada Ryan agar menjaga Duk Mi, Ryan berjanji akan melakukanya. Sun Joo memberitahu kalau Duk Mi paling suka pria tampan. Duk Mi berteriak marah. Eun Gi pikir Sun Joo tidak cukup mabuk. Sun Jo memberitahu Eun Gi  suka pria yang cantik juga.
“Dia tergila-gila pada pria yang manis.” Ucap Sun Joo, Duk Mi mengeluh dan panik mendengar ocehan temanya.
“Baiklah. Tampan, cantik, dan manis... Aku akan mencoba jadi semua itu.” Kata Ryan dengan wajah bahagia.
“Aku ingat kau pemalu saat masih kecil.” Ejek Eun Gi, Ryan seperti tak percaya. Sun Joo hanya meminta agar Eun Gi diajari untuk latih Eun Gi kencan.


Ryan mengantar Duk Mi pulang ke rumah, Duk Mi kembali memanggilnya Direktur. Ryan memberitahu kalau sekarang sudah tak menjadi Direktur.  Duk Mi mengejek untuk memanggilnya Singa. Ryan mengeluh kalau namanya bukan Lion, tapi Ryan.
“Kau bisa pilih... Singa, Ryan, atau Yoon Jae... Aku harus memanggilmu apa?” ucap Duk M
“Apa kau akan memanggilku dengan nama yang aku pilih?” kata Ryan, Duk Mi menganguk menyuruh agar memilihnya.
“Jika itu masalahnya, aku ingin kau mendengarkanku dengan cermat. Kau pernah bilang kepadaku bahwa karya seniku sudah membaik. Aku tidak tahu, ada begitu banyak hal yang ingin aku lukis. Suara nafas, aroma angin, matahari yang hangat, dan juga... kasih sayang wanita yang kucintai.” Ucap Ryan tiba-tiba menaruh cincin ditangan Duk Mi.
“Aku tahu kau terkejut dan ini terlalu mendadak, tapi, putuskanlah hari ini. Sepertinya inilah saat yang tepat. Aku mengatakannya karena aku tidak mau menunggu.” Ucap Ryan tiba-tiba berlutut didepan Duk Mi.
“Sung Duk Mi, lebih dari siapa pun di dunia ini, Aku ingin... melukis kebahagiaan bersamamu. Maukah kau menikah denganku?” ucap Ryan
“Karena aku fan-girl, aku akan menjawab dalam bahasaku... Ya... Aku akan jadi yang terbaik dan terpenting... Maukah kau jadi... cintaku yang hebat juga?” ucap Duk Mi
“Selama-lamanya.” Kata Ryan, Duk Mi terlihat bahagai dengan mata terharu. Ryan pun memasangkan cincin untuk Duk Mi  lalu memeluknya. 


Dalam sebuah toko CD, Fans menganti meminta album Cha Shi An dus,  Di rak lain terlihat album  [MUSIK INDIE- Kami, BINTANG LAINNYA] seperti Joo Hyuk sudah bisa mengeluarkan albumnya.  Geon Woo sudah siap bersekolah.
“Geon Woo, jangan berkelahi dengan teman-temanmu. Jika ada sesuatu yang tidak kau ketahui, tanyakan pada gurumu. Geon Woo, hwating.” Ucap Sun Joo. Geon Woo menganguk mengerti lalu pamit pada ayah dan ibunya setelah itu masuk sekolah.
“Kita punya waktu luang!” jerit Sun Joo bahagia lalu pergi bersama dengan suaminya. 

 [1 TAHUN KEMUDIAN]
Nyonya Eom terlihat gugup menunggu didepan penjara, Saat pintu terbuka seorang pria keluar. Nyonya Eom berlari memanggil suaminya, lalu mereka saling berpelukan. Nyonya Eom mengaku sangat merindukannya.
“Apa kau benar-benar sudah keluar?” kata Nyonya Eom seperti tak percaya. Ayah Hyo Jin membenarkan.
“Aku merindukanmu seperti orang gila... Moo San. Kenapa berat badanmu bertambah? Ya ampun. Wajahmu sangat bengkak. Apa makanan di sana cocok untukmu?” kata Nyonya Eom lalu meminta sesuatu pada Sek Kim.
Sek Kim membawakan tahu dan Nyonya Eom menyuapi suaminya makan tahu sebagai makanan diet karena menurutnya Pria harus terlihat tampa jadi harus menjaga penampilannya sampai mati.

Hyo Jin terlihat kesal melihat sesuatu, lalu memanggil Yang Eun Ha merasa kalau pegawai magang itu belum pernah membuat kopi, Eun Ha membenarkan. Hyo Jin akhirnya mencontohkan cara membuat kopi yang benar.
“Apa Hyo Jin membuat kopi? Itulah yang disebut, "individu yang berbakat". Moo San harusnya datang untuk melihat ini... Ya ampun. Luar biasa.” Puji Nyonya Eom melihat anaknya. 

Nyonya Eom mengumpulkan semua pegawai memberitahu kalau alasan  tiba-tiba meminta rapat seperti ini karena ada seseorang yang ingin diperkenalkan.
“Tentu saja, selama ini, aku mengurus semua pekerjaan di sini tanpa masalah, tapi beban kerja sudah meningkat. Jadi Sulit untuk menangani sendiri. Moo San mungkin kesal karena aku sangat sibuk dengan pekerjaan. Jadi, aku pikir sudah waktunya untuk merekrut wakil direktur baru.” Ucap Nyonya Eom lalu meminta seseorang masuk.
Duk Mi berjalan masuk dengan style rambut yang berbeda.  Duk Mi menyapa sebagai wakil direktur Cheum Gallery. Yoo Sub dan Kyung Ah kaget melihat Duk Mi yang datang. Duk Mi menanyakan kabar teman-teman di galerynya.
“Kau terlihat sama bahagia saat kita bertemu... Ayo Kemari... Kalian semua harus meluangkan waktu untuk saling sapa.”ucap Nyonya Eom lalu melangkah pergi.
“Aku dengar kau menjadi kurator utama Sung Kur... Bukan, kau lebih pantas dipanggil, Wakil Direktur Sung.. “ ucap Kyung Ah bangga
“Yoo Sub bagaimana denganmu? Apa kau kurator sekarang?” tanya Duk Mi, Yoo Sub membenarkan lalu mengaku suah berkencan dengan Kyung Ah.
“Ini sangat mengesalkan. Kenapa semua orang di galeri ini menjadi pasangan?” keluh Hyo Jin kesal. Kyung Ah bertanya apakah Ryan akan datang juga. 


Di rumah
Ibu Duk Mi sibuk membaca berita dalam bahasa inggris "Seniman jenius, Ryan Gold sudah kembali sebagai insplendor. Sesudah empat tahun ketidakhadiran..." Tuan Sung tak mengerti bertanya apa artinya.
“Artinya menantu kita, Ryan sudah kembali... Aku bilang untuk belajar bahasa Inggris denganku.” Keluh Ibu Duk Mi, tiba-tiba Duk Mi datang memangil ibunya. Ibu Duk Mi kaget langsung memeluk ibunya. 

Duk Mi duduk di meja makan banyak makanan, lalu bertanya-tanya apakah ini hari ulang tahunya. Ibu Duk Mi pikir kalau putrinya akhirnya kembali. jadi harus mengadakan pesta. Nyonya Nam mengucapkan selamat pada Duk Mi yang sudah diangkat sebagia wakil direktur.
“Aku menantikan kolaborasimu kedepannya.” Ucap Nyonya Nam. Duk Mi mengaku  juga menantikannya.
“Ayah. Apa kau menangis?”goda Eun Gi, Tuan Sung menyangkal menyuruh mereka makan saja.
“Omong-omong, kapan menantuku datang?” tanya Ibu Duk Mi, Duk Mi memberitahu kalau Yoon Jae sibuk dengan pameran sampai awal tahun depan jadi dia tidak akan bisa datang.
“Itu berarti dia sudah berhasil kembali, jadi tidak perlu merasa kesal.” Ucap Nyonya Nam
“Aku tidak merasa kesal. Aku menetapkan tanggal untuk pernikahanmu.” Kata Ibu DukMi.
“Pernikahan?. Aku pikir Eun Gi akan mengadakan pernikahan duluan.” Kata Duk Mi, Semua kaget mendengarnya, Eun Gi binggung karena merasa  tidak mengencani siapa pun.
“Kau sepertinya sering berbicara dengan Choi Da In di telepon belakangan ini.” Ejek Duk Mi, Eun Gi pikir tak seperti itu
“Rasanya mereka cukup dekat.” Goda Du Mi. Eun Gi mengaku Bukan dia tapi Ada orang lain. Duk Mi tak percaya mendengarnya.
“Kau bahkan tidak tahu apa-apa. Makan saja.” Ucap Eun Gi kesal. Duk Mi yakin Eun Gi Dpasti menyembunyikan sesuatu ingin tahu siapa orangnya karena tahu semua orang yang Eun Gi kenal.


Eun Gi mengantar Duk Mi sampai rumah, dikejutka dengan Sun Joo sudah menunggu di sofa menyambut temanya. Duk Mi tak percaya Sun Joo datang lalu menyapa di perut Sun Joo “Apa kau lebih manis dari Geon Woo?” Sun Joo terlihat senang karena hamil lagi.
“Aku pikir kau tidak punya rencana untuk anak kedua.” Komenta Duk Mi. Sun Joo mengaku Entah bagaimana terjadi. Duk Mi mengucapkan selamat.
“Benar. Hari ini penampilan pertama hari Shi An dan Joo Hyuk sejak mereka merilis album proyek mereka... Maukah kau pergi denganku?” ucap Sun Joo. Duk Mi setuju akan pergi.
“Apa kalian berdua kembali ke ngefan-girll lagi?”keluh Eun Gi, Sun Joo memberitahu kalau mereka tak boleh kaget saat melihat Joo Hyuk.
“Dia menganggap dirinya sebagai selebriti sekarang.” Kata Sun Joo. Duk Mi pikir kalau Joo Hyuk memang bisa menjadi selebriti kapan saja.
“Tapi Bukan itu yang penting sekarang.. Eun Gi punya seorang wanita.” Kata Duk Mi, Eun Gi menyangkal Sun Joo pikir kalau itu Da In, Eun Gi menegaskan bukan dia tapi Orang lain. Sun Joo mengoda Eun Gi yang sekarang sudah dewasa. 


Hyo Jin dan Eun Gi menyapa didepan camera, dengan slogan "Hidup Judo"!  Hyo Jin memberitahu kalau  Hari ini mereka akan belajar soal "lemparan judo Tai-otoshi". Mereka meminta agar klik subcribe dan juga like.
“Nam Eun Gi, kapan lemparan judo Tai-otoshi digunakan?” kata Hyo Jin seperti sedang wawancara
“Yah, digunakan saat kau dan lawan saling bergulat. Saat kau ingin melakukan lemparan bahu, tapi saat kaki depan lawan menghalangimu, mungkin tulang ekormu terluka karena lutut lawan.”jelas Eun Gi ingin memperagkan pada Hyo Jin.
“Ini Terlalu pendek... Kau mungkin tidak akan terluka jika kaki lawan pendek...” kata Eun Gi, Hyo Jin marah langsung menendangnya. Eun Gi mengeluh kesakitan.
“Tidak mudah menghasilkan uang, kau tahu. Bisakah kita menghasilkan uang dengan ini?”keluh Eun Gi.
Hyo Jin pikir Eun Gi pandai makan, Eun Gi tak peduli mengajak untuk melakukan lemparan bahu. Hyo Jin pikir acara Mukbang adalah tren belakangan ini jadi akan membantunya. Eun Gi menyuruh Eun Gi  Berhenti bicara omong kosong lalu mengendong Hyo Jin seperti karung beras. 

Duk Mi melihat dengan wajah bahagai papan nama diatas meja. Kyung Ah masuk ruangan memberitahu sudah waktunya untuk rapat. Saat itu Duk Mi mengangkat telp, Ryan mengelu kalau Duk mi  tidak terdengar senang mendengar suaranya sama sekali.
“Bahkan belum seminggu sejak aku datang ke sini.” Kata Duk Mi, Ryan  merasa seolah-olah sudah sekitar tujuh tahun.
“Apa semua persiapan pameran berjalan baik?” tanya Duk Mi , Ryan mengaku baru saja selesai rapat, jadi  menelepon karena merindukan Uk Mi
“Bagaimana Cheum Gallery? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Ryan
“Semuanya persis sama termasuk Direktur Eom” ucap Duk Mi. Ryan bertanya Apa tempat itu juga sama. Duk Mi bertanya baik tempat apa.
“Tempat kita mengambil foto saat berpura-pura berkencan” kata Ryan. Duk Mi keluar gallery melihat kalau  Semuanya sama  juga kecuali satu hal.
“Kecuali satu hal? Apa itu?” tanya Ryan, Duk M menjawab tak ada Singanya.
Ryan tiba-tiba memeluk Duk Mi dari belakang, Duk Mi kaget melihat Rayn datang menanyakan tentang bagaimana dengan pameran. Ryan mengaku  datang segera sesudah rapat berakhir karena merindukan Duk Mi seperti orang gila.
“Sudah kubilang aku akan pergi begitu semuanya selesai.” Ucap Duk Mi, Ryan mengaku Duk Mi yang membuatnya menjadi seperti ini.
“Sejujurnya, aku juga kesulitan karena merindukanmu.” Kata Duk Mi,  Ryan menarik Duk Mi dalam dekapanya merasa Inilah yang harus dilakukan penggemar lalu memberikan kecupan.
“Kau penggemar yang menang banyak... Apa kau menginginkanku?” goda Duk Mi, Ryan menganguk. Akhirnya mereka pun berciuman melepaskan rasa rindunya. Duk Mi menatap Ryan dengan penuh rasa cinta begitu juga sebaliknya.
[Apa kau penggemar? Aku harap kau jadi penggemar yang sukses, KITA SEMUA ADALAH KESUKAAN SESEORANG.]
THE END



Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Sinopsis Her Private Life Episode 16 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 


Duk Soo terlihat sedang mengambar di jalan, bersama dengan Duk Mi dan juga Yoon Jae. Eun Gi berteriak memangil ibu Duk Mi mengadu kalau Duk Mi sedang coret-coret lagi. Duk Mi dengan tatapan sinis memberitahu kalau ini Bukan coret-coret.
“Aku sedang menggambar.” Tegas Duk Mi. Eun Gi mengejek kalau baginya terlihat coret-coret.
“Aku hanya lihat kau sedang coret-coret.” Ejek Eun Gi, Duk Mi marah langsung memukul Eun Gi.  Eun Gi memanggil ibunya.
“Duk Mi. Sudah dibilang jangan memukul Eun Gi...”kata Ibu Duk Mi lalu melonggo melihat semua jalanan dan tembok penuh dengan gambar.
“Sudah dibilang kau akan dapat masalah jika coret-coret lagi.” Ucap Ibu Duk Mi mengomel. Duk Mi mengeluh kalau ini bukan coret-coret
“Duk Mi. Kau akan jadi apa...Saat tumbuh dewasa?” tanya Ibu Duk Mi. Duk Mi menjawab Seniman yang menggambar lukisan.
“Aku akan menggantung lukisanku di galeri besar.” Kata Duk Mi bangga, Yoon Jae diam-diam mendengar ucapan Duk Mi
Mereka akhirnya bermain air bersama untuk membersihkan tembok dan jalan yang sudah digambar. Duk Mi, Duk Soo, Eun Gi dan Yoon Jae terlihat bahagia bermain air bersama. Ibu Duk Mi pun terlihat bahagia merawat empat anak. 


Ryan sibuk mengambar menatap Duk Mi yang masih tertidur disampingnya, Duk Mi akhirnya membuka mata, Ryan bertanya apakah mimpinya indah. Duk Mi mengaku mimpinya sangat manis karena itu adalah ingatannya  Namun, sedikit menyedihkan juga.
“Aku bermain dengan Yoon Jae, Eun Gi, dan Duk Soo... Kau bangun lebih awal... Sedang apa?” tanya Duk Mi
“Aku Sedang menggambar... Menggambarmu sedang tidur.” Kata Ryan. Duk Mi bertanya Apa ia terlihat cantik
“Kau seorang wanita dari luar dunia ini, sulit untuk mengekspresikan melalui gambar.” Ucap Ryan
“ Dalam mimpiku, aku menggambar dengan Yoon Jae. Kami menggunakan kapur dan menggambar begitu banyak di sana-sini. Tapi, Eun Gi bilang aku coret-coret, dan bilang dia akan beri tahu Ibu. Jadi, aku katakan padanya... Aku akan menjadi seorang seniman nanti dan lukisanku akan digantung di galeri.” Cerita Duk Mi
“Meskipun aku gagal jadi seorang seniman, setidaknya aku jadi orang yang menggantung lukisan di galeri. “ ucap Duk Mi bangga
“Hari ini, kita tidak pergi ke pameran dan melihat karya seni secara langsung. Apa yang kita lihat adalah sebuah konsep mengenai apa yang kurator anggap sebagai seni. Sederhananya, seorang seniman sejati bukanlah penulis, tapi kurator. Semuanya tergantung pada pilihan kurator.” Jelas Ryan.
“Slavoj Zizek? Aku sangat setuju dengannya.” Kata Duk Mi, Ryan pikir  Seorang kurator juga seorang seniman bahkan bisa menggambar lagi. Berkat Korator Sung Duk Mi.
“Ruang pameran adalah kanvasku. Namun,... Sekarang, wajahmu seperti kanvasku... Bisakah aku menggambarnya?” ucap Duk Mi mengoda menatap Ryan.
“Dengan apa?” tanya Ryan. Duk Mi pikir  Tiba-tiba  merasa sangat kreatif lalu memikirkan cara menggambar dan akan memulainya. Ryan mendorong Duk Mi lebih dulu diatas tempat tidur dan langsung menciumnya.

Duk Mi mengajak pegawainya agar menggambar di kanvas mereka, Kyung Ah binggung,  Duk Mi menjelaskan kalau mereka akan melihat lukisan milik Tuan Nho Seok. Semua mengerti dan terlihat sangat bersemangat. Yoo Sub memasang foto profile orang-orang yang bergabung dalam pameran.
 [SHI AN, - AKU HARAP, AKU JADI BAGIAN DARI IMPIANMU] Kyung Ah memastikan semua walkie talkie berjalan dengan baik dibagian receptionist. Hyo Jin memasang poster acara gallery dibagian depan, Yoo Sub terlihat bangga melihatnya.
Hyo Jin seperti tak peduli karena ia hanya peduli dengan souvenir yang dibuatnya. Yoo Sub pun memastikan proyector pada ruang gallery yang sudah dipasang lukisan agar tidak terlalu gelap.


Hyo Jin memasang poster "The Room, The Life", Pameran ulang tahun kelima Cheum Gallery, dengan wajah bahagia mereka  akhirnya mengadakan pameran. Kyung Ah ingi tahu perasaan Hyo Jin karena ini pameran pertamanya.
“Aku senang.. Rasanya aku bertemu dengan seseorang dari imajinasiku. Ini Benar-benar sulit, tapi aku semangat.” Kata Hyo Jin
“Apa kau yakin bukan karena kau bertemu dengan Cha Shi An?” goda Yoo Sub, Hyo Jin tak bisa menutupi karena sudah Ketahuan.
“Omong-omong, Direktur Bagaimana kau menemukan judul pameran?” Kyung Ah. Ryan menjawab  Dari kamar seseorang.
“Bagaimana ruangan itu terlihat?” tanya Yoo Sub, Ryan menjawab  Ruangan itu penuh dengan sesuatu yang ceria, menyenangkan, dan bahagia sambi menatap Duk Mi
“Isi kamarmu dengan sesuatu yang kau sukai agar kau bisa hidup lebih bahagia.” Ucap Duk Mi yang terlihat masih sama ada foto Shi An dan juga Ryan. 


Semua pengunjung sudah menunggu di pintu masuk gallery, para fans Shi An pun sudah datang pertama dan berharap lebih baik jika cepat buka. Di dalam ruangan, Shi An dengan bertemu dengan wartawan yang mengambil gambarnya.
Duk Mi dan Ryan melihat dengan wajah tegang, Shi An pun melayani permintaan wartawan untuk melambaikan tanganya ke kamera. Hyo Jin dengan ibunya melihat sosok Shi An.  Nyonya Eom melihat Shi An seperti sangat takjub.
“Hyo Jin... Apa patung di sana bagian dari pameran?” ucap Nyonya Eom. Hyo Jin bangga karena Shi An memang terlihat sangat sempurna.
“Dia sangat tampan.” Ucap Nyonya Eom lalu meminta Sek Kim memberikan ponselnya lalu mengambil foto Ryan.
“Hyo Jin... Bukankah kau yang desainnya?” ucap Nyonya Eom melihat Shi An mengangkat souvenir yang dibuat oleh Hyo Jin.
“Ibu... Aku bisa mati sekarang tanpa penyesalan.” Kata Hyo Jin tak percaya melihatnya.
“Tidak, tidak. Hyo Jin, kau tidak boleh mati. Jangan katakan sesuatu yang mengerikan. Hyo Jin, aku sangat bangga padamu.” Ucap Nyonya Eom. Duk Mi dan Ryan terlihat sedikit tegang memulai pameran. 


Duk Mi dan Ryan menatap lukisan yang di perlihatkan dalam gallery saat penjunjung akhirnya masuk. Lukisan penari ballet dengan caption  [AKU MEMAKAI SEPATU POINTEKU PADAHAL AKU SUNGGUH BENCI BALET]
“Seni mungkin hebat, tapi tidak bisa lebih besar dari manusia yang hidup. Terlepas dari betapa tidak signifikannya aku terlihat, Aku masih lebih besar dari lukisan yang digantung di dinding itu. Karena aku adalah makhluk hidup, dan akan terus hidup.” ucap Duk Mi, Ryan menatap Duk Mi saat duduk menatap lukisan.  

Duk Mi melihat foto koleksi Tuan Nho, teringat saat pergi ke rumah memberitahu Ryan kalau Mata ini bukan mata perpisahan yang kesedihan atau mata seseorang menunggu kematian.
“Dia melihat seseorang yang dia cintai. Dia ingin meninggalkan ini untuk orang itu. Dia melihat orang ini, dan matanya menyapa orang itu. "Halo aku disin Aku akan selalu melihatmu seperti ini"
Akhirnya Ryan menuliskan caption dari foto tersebut”HALO” Keduanya melihat video gelembung yang dibuat oleh Da In untuk mengambarkan lukisan Lee Sol. 9 lukisan Lee Sol dibuat layaknya sebuah cerita tentang seorang anak kecil
“Gelembung, Kuda goyang, kincir ria, dan naik kapal Viking. Itu semua adalah sesuatu yang disukai anak-anak. Sepertinya aku tahu apa yang dipikirkan sang seniman saat dia menggambar lukisan-lukisan ini.” Ucap Duk Mi mengingat pertemuan Ryan dengan ibunya.
“Kami berdua tersenyum... Kami terlihat sangat bahagia.” Ucap Ryan dan gambar Lee Sol dengan caption   [ISI KAMARMU DENGAN SESUATU YANG KAU SUKAI, AGAR KAU BISA HIDUP LEBIH BAHAGIA]

Shi An melihat gambar ibunya lalu mengucapkan  Selamat atas pameran pertamanya. Ibu Shi An mengucapkan terimakasih lalu mengucapakan selamat juga pada Yoon Jae. Ryan pun membalas dengan memanggil ibunya Pelukis Lee Sol.
“Terima kasih sudah mengizinkan kami memamerkan karya menakjubkanmu.” Kata Ryan. Ibu Duk Mi pun mengucapkan terimakasih pada Duk Mi yang akhirnya ikut bergabung.
“Apa kalian ingin aku mengambil foto? Mari kita ambil foto.” Ucap Duk Mi, Ryan memuji kalau Duk Mi adalah fotografer hebat. Akhirnya Duk Mi mengambil foto mereka bertiga beberapa kali, Shi An seperti sangat manja pada ibunya bersandar dibahunya.

Sun Joo gugup melihat Shi An dan ibunya datang ke cafe, bertanya ingin memesan. Duk Mi ingin memesan tapi Sun Joo sudah tahu pasti pesanannya  Es Americano dan latte dengan susu kental tanpa espresso. Shi An heran Ryan yang tak minum kopi.
“Aku tidak bisa minum kopi karena mirip seseorang.” Kata Ryan melirik ibunya. Ibu Shi An pun memutuskan akan pesan yang sama dengan Ryan.
“Cha Shi An, mau pesan apa?” tanya Sun Joo mencoba agar tenang tapi terasa canggug.
“Aku akan pesan yang sama dengan Sung Nuna. Es Americano yang enak.” Kata Shi An.
“Dua latte dengan susu kental tanpa espresso, satu Es Americano, dan satu Es Americano yang enak. Aku akan bawa secepatnya.” Ucap Sun Joo mengoda. Ryan hanya menatap heran karena akan membuat minuman khusus untuk Shi An.
“Ibu, aku tidak tahu kau tidak bisa minum kopi.” Komentar Shi An. Ibunya hanya bisa tersenyum. 


Joo Hyuk menatap sinis pada Sun Joo karena  pikir ia adalah favorit tapi seperti dikalahkan oleh Shi An. Sun Joo memberitahu kalau Sekali menjadi fan-girl, maka akan selalu jadi fan-girl. Ia mengaku kalau Joo Hyuk mungkin favoritnya, tapi Shi An ada di level yang berbeda.
“Dia pasti tidak terlalu tertarik.” Komentar Joo Hyun. Sun Joo mengaku Shi An adalah yang pertama. Shi An tiba-tiba mendekat, Sun Joo berusaha tenang.
“Musik apa ini? Aku belum pernah mendengarnya sebelumnya.” Tanya Shi An. Sun Joo pikir kalau lagunya pasti bagus.
“Ada band bernama Paid, dan dia penyanyi utama dan gitaris band itu... Joo Hyuk... Mereka akan segera membuat album.”kata Sun Joo bangga memperkenalkan Joo Hyuk.
“Paid? Ini Sangat bagus. Aku akan menantikan albummu.” Kata Shi An.
“Ketika album ini dirilis, aku akan memberikannya kepadamu sebagai hadiah secara pribadi.” Ucap Sun Joo.
Shi An menganguk lalu tersenyum kembali ke bangkunya, Sun Joo benar-benar terlihat tak percaya berbicara dengan Shi An meminta Joo Hyuk mencubitnya. Joo Hyuk pun mencubit Shi An dengan keras. 

Duk Mi dan keluarga naik mobil Eun Gi pergi ke kuil, Ibu Shi An ikut juga lalu bertemu dengan ibu Duk Mi lebih dulu. Ayah Duk Mi mengajak semua masuk lebih dulu agar mereka berdua bisa bicara. Ibu Shi An memperkenalkan dirinya sebagai ibu Yoon Jae.
“Sesudah mendengar kau akan berada di sini, aku terjaga sepanjang malam memikirkan apa yang harus kukatakan kepadamu.” Kata ibu Shi An.
“Pikiranku terus kosong kecuali untuk meminta maaf.” Kata ibu Duk Mi tertunduk
“Yoon Jae menceritakan semuanya. Bahkan jika singkat,aku berterima kasih kau telah menjaganya.” Ucap Ibu Shi An. Ibu Duk Mi mengangguk mengerti. 

Mereka masuk kuil melihat nama Duk Soo, semua ingin berdoa untuk Duk Soo. Duk Mi akhirnya melihat tempat adiknya disemayamkan, Ibu Duk Mi memberitahu saat Duk Mi masih kecil  pernah membawanya bersama Eun Gi, dan Duk Soo datang berkunjung.
“Sesudah menemui seorang biksu Duk Soo tidak bisa menahan tawanya. Dia terus berteriak, "Botak" Kau bisa bayangkan betapa memalukannya itu. Itu sebabnya aku membawanya ke sini sehingga dia bisa tertawa dalam hidupnya.”cerita Ibu Duk Mi
“Kalau begitu aku yang akan membuatmu tertawa.” Kata Duk Mi berjanji pada ibunya. 

Setelah semua berdoa, Ibu Duk Mi memberikan sesuatu pada Ibu Shi An yaitu memberikan foto saat Yoon Jae masih umur 7 tahun. Ibu Shi An mengaku hanya dengan melihat foto anaknya bisa tahu kalau ibu Duk Mi betapa baik dan murah hati pada putranya.
“Wajahnya terlihat bahagia.” Kata Ibu Shi An. Ibu Duk Mi merasa beruntungnya, karena Yoon Jae akur dengan Duk Mi dan Eun Gi dan juga makan dengan baik.
Ibu Yoon Jae melihat surat yang ditulis oleh anaknya   [HEO YOON JAE, 7 TAHUN. AKU RINDU IBU. AJUMMA, TERIMA KASIH, DEOK MI, EUN GI, KITA AKAN MAIN LAGI LAIN WAKTU]
“Sesudah Duk Soo meninggal, aku tidak dalam kondisi pikiran yang benar. Ketika akhirnya berhasil menenangkan diri, ternyata Yoon Jae sudah diadopsi.”kata ibu Duk Mi merasa bersalah.
“Kau kembali untuknya ke panti asuhan tempat dia berada.” Kata ibu Shi An.
“Andai saja aku tiba di sana lebih cepat. Ada banyak hal yang aku sesali. Kepada kau dan Yoon Jae... Bahkan aku malu berada di hadapanmu. Aku orang yang paling malu di hadapan Yoon Jae, Kau mengalami kecelakaan dan Kau tidak menelantarkannya.” Ungkap Ibu Duk Mi
“Aku punya putra lagi dengan nama Shi An. Sesudah kehilangan Yoon Jae, seorang pria membantuku mencarinya. Dia adalah ayah Shi An. Kau akan penasaran bagaimana orang bisa memulai keluarga lagi sesudah kehilangan putranya.” Kata Ibu Shi An.
“Anak itu bisa dengan mudah tak mengerti dan benci. Namun, Yoon Jae bilang ini. Seorang janda adalah seorang istri yang kehilangan suaminya. Seorang duda adalah suami yang kehilangan istrinya. Anak yatim adalah anak yang kehilangan orang tuanya.” Ucap Ibu Shi An.
“ Namun, dia membaca di suatu tempat bahwa rasa sakit itu sangat hebat bagi orang tua yang kehilangan anak-anak mereka, oleh karena itu tidak ada yang bisa menyebutkan nama. Aku membuat pilihanku sehingga bisa mengatasi dan melanjutkan hidupku, dan dia bilang tidak ada yang akan menyalahkan aku.” Jelas Ibu Shi An.
“Dia bilang kepadaku untuk jangan menyesal. Meskipun aku tidak tahu malu, aku akan menjalani hidupku dengan berpikir bahwa dia memaafkanku. Hal yang sama berlaku untukmu. Kau seharusnya tidak hidup dalam rasa sakitatau penyesalan lagi.” Kata ibu Shi An. 



Duk Mi membuka pintu bersama dengan Ryan melihat ibu mereka sedang berbicara dengan wajah serius, lalu memilih untuk menutup kembali pintunya. Ryan penasaran apa yang mereka bicaranya. Duk Mi pikir ibunya bertanya soal ulang tahun Ryan. Keduanya akhirnya pergi.
“Ayah, apa yang ada di tanganmu?” tanya Duk Mi melihat ayahnya berdiri sendirian. Tuan Sung memperlihatkan sebuah batu ditanganya.
“Cantik.. Apa kau menemukannya di sini?” tanya Duk Mi, Tuan Sung membenarkan yaitu pada hari membawa Duk Soo dibawa ke kuil. Duk Mi tak percaya mendengarnya.
“Ibumu masih menangis di dalam. Ayah melangkah keluar terlebih dahulu dan melihat batu ini. Ayah sedang tak sadar saat mengambil ini. Tapi rasanya hangat seperti tangan Duk Soo. Itu sebabnya Ayah meremasnya dengan erat seperti Ayah memegang tangan Duk Soo dan membawanya pulang.” Cerita Ayah Duk Mi
“Apa itu sebabnya Ayah mengumpulkannya?” tanya Ryan pun terlihat penasaran.  
“Sesudah hari itu, aku bepergian di seluruh negeri seperti orang gilauntuk mengumpulkan batu.” Cerita Ayah Duk Mi
“Untuk memberi Duk Soo beberapa teman?” kata Duk Mi, Ayah Duk Mi pikir seperti itu.
“Bisakah aku memegang tangan Duk Soo juga?” ucap Duk Mi, Ayahnya memberikan batu ditanganya. Duk Mi pun merasa batu itu sangat hangat. 


Dibawah pohon, Eun Gi duduk dengan ibunya berpikir akan hidup bersama sesudah  menerima tabunganku. Nyonya Nam tak percaya seperti anaknya sedang dirasuki sesuatu sesudah menolak selama ini. Eun Gi mengajak ibunya untuk hidup bersama sampai ia menikah.
“Sampai kau menikah? Antara kau dan Ibu, pernikahan Ibu akan terjadi lebih cepat.” Kata Nyonya Nam yakin
“Apa Kau punya pria?” tanya Eun Gi tak percaya, Nyonya Nam mengaku  sudah berdoa meminta suami hari ini.
“Apa kau meminta suami?” ucap Eun Gi tak habis pikir. Nyonya Nam merasa  tak minta banyak.
“Seseorang yang baik, bersuara lembut, menghargai, setampan Jung Woo Sung yang memiliki gedung. Itulah yang aku doakan.” Kata Nyonya Nam bangga.
“Aku pikir gara-gara aku Ibuku tak menikah, tapi karena punya standar tinggi.” Komentar Eun Gi
“Kenapa menikah dengan seseorang yang tidak pantas?” keluh Nyonya Nam, Eun Gi setuju kalau ia akan hidup dengan ayah tiri yang memiliki gedung.
“Fokus saja pada pernikahanmu sendiri.. Apa tidak ada orang yang kau suka?” ucap Nyonya Nam, Eun Gi  mengaku ada
“Senang melihat kalian menikmati waktu bersama.” Komentar Ayah Duk Mi melihat Eun Gi dan Nyonya Nam, mereka lalu berjalan pulang bersama. 

Duk Mi dan Ryan melakukan kencan, disebuah dinding Duk Mi menunjuk akan membaca sebuah kalimat.  "Petualangan Kakak Raja Singa". Ryan tak percaya kalau itu menyangkut dirinya, lalu berpikir akan membaca... dan menunjuk ke arah Duk Mi
“Apa Orang ini? Apa Kau ingin membaca ini? Apa kau menginginkannya?” kata Duk Mi mengejek. Ryan pun tertawa lalu keduanya berjalan ke arah yang lain.
“Jalan kereta api dan Shi An is My Life.” Ucap Ryan memegang tangan Duk Mi menyusuri jalan kereta.
“Sekarang, panggil aku "Ryan is My Life".” Kata Duk Mi, Ryan pikir lebih  baik"Heo is My Life"./
“Bagaimana dengan "Jae is My Life"?” kata Duk Mi mengoda. Ryan pun tersenyum.
“Di sinilah aku belajar seni sewaktu SMA.” Ucap Duk Mi memperlihatkan kelas lukis
“Apa kau mempelajari jenis seni yang berbeda?” tanya Ryan. Duk Mi membenarkan kalau  mungkin bisa menggambar wajah Davide di Michelangelo jauh lebih baik daripada Ryan.
“Apa Kau ingin menggambarku?” ucap Ryan, Duk Mi mengeluh mendengarnya dengan tatapan sinis. Ryan meminta maaf dan bergegas pergi karena ketakutan. 



Mereka akhirnya pergi ke peralatan lukis, Duk Mi bertanya kenapa Ryan membeli banyak tinta merah. Ryan mengaku kalau akan mengambar Duk M dan terlihat paling cantik dengan warna merah. Duk Mi tersenyum lalu bertanya apakah Ryan akan terus menggambar di rumah.
“Aku berpikir untuk membuat ruang kerja, tapi aku akan memanfaatkan waktu senggangku, jadi, aku lebih suka rumahku.” Kata Ryan. Duk Mi seperti tak percaya melakukan Di waktu senggang.
“Apa rumahku berbau tidak sedap?” komentar Ryan, Duk Mi pikir  terlihat bagus dengan warna biru juga dan Kuning juga.
“Tentu saja begitu.” Ucap Ryan mengoda, Duk Mi mengeluh kalau itu artinya Tidak ada warna yang tidak cocok dengannya.
“Bukankah kau bilang ada sesuatu yang penting pada jam 5 sore?” tanya Ryan mengalihkan pembicaraan. Duk Mi bertanya Apa Ryan ingin pergi dengannya. 


Duk Mi membawa Ryan ke warnet. Ryan bingung kenapa Duk Mi membawanya kesini.  Duk Mi memberitahu aklau Untuk beli tiket ke konser Shi An. Ryan pikir Shi An bilang  akan memberimu tiket gratis ke konsernya.
“Aku Shi An is my life,  Maka, aku harus menonton dari lantai dua. Aku ingin tiket lantai berdiri, dalam baris lima.” Jelas Duk Mi lalu menarik Ryan duduk didepan komputer.
“Perhatikan baik-baik.. Apa kau lihat tombol ini yang tertulis, "Jadwal untuk dijual"? Tepat pukul 17:00, akan berubah jadi "pesan tiket". Maka, kau perlu memilih tanggal dan waktu yang kau inginkan dan tekan tombol "pesan tiket". “ jelas Duk Mi penuh semangat
“Sesudah itu, pilih tempat duduk yang terdekat apa pun yang terjadi, di mana saja dalam baris lima, dan tekan "selesai pilih tempat duduk".” Kata Duk Mi, Ryan pikir Kedengarannya mudah.
“Ini memang Mudah. Sampai kau melihat tulisan "Tempat duduk sudah dipesan".” Jelas Duk Mi, Ryan terlihat binggung.
“Tidak bisakah Sun Joo datang saja melakukan ini?”kata Ryan, Duk Mi mengeleng lalu melihat waktunya tinggal Tiga menit lagi.
“Tiket akan dibuka untuk dijual tepat jam 5 sore.” Kata Duk Mi melemaskan jari siap menekan keyboard.
Ryan melihat tangan Duk Mi yang cepat diatas  keyboard. Duk Mi berusaha memilih tempat yang dingikan untuk menonton tapi hasilnya [TEMPAT DUDUK SUDAH DIPESAN] Ryan memanggil Duk Mi, Duk Mi pikir kalau Ryan itu pasti tak berhasil Duk Mi.
Ryan melihat sesuatu di layar  [INFORMASI PEMESANAN, LANTAI 1, TIKET BERDIRI] lalu memastikan pada Duk Mi apakah memang berhasil . Duk Mi melonggo tak percaya lalu tersenyum bahagia. Ryan dengan bangga kalau bisa melakukan apa saja...
“Pacarku punya tangan Dewa!.. Kerja bagus...” puji Duk Mi mencubit pipi Ryan dengan wajah bahagia. 

Duk Mi membaca buku di kamar sendirian, lalu memanggil Ryan dan melihat sedang asik melukis diruanganya. Akhirnya Duk Mi pergi ke meja kerja Ryan
“Sebagai seorang seniman, Ryan Gold... Karena kota kelahirannya New York. Aku akan mempelajari trend seni New York terlebih dahulu.” Ucap Duk Mi mencari sesuatu di internet.
Ryan baru selesai melukis menatap dengan wajah bahagia dengan style lukisan dirinya, lalu melihat Duk Mi tertidur diatas meja. Ia melihat catatan  [MONO ART GALLERY, RIAN GALLERY, LORETTA GALLERY] lalu membangukan Duk Mi agar tidur dikamar.
Duk Mi menganguk, Ryan akhirnya mengendong Duk Mi untuk ke kamar tidur. Duk Mi sudah tertidur pulas, Ryan hanya menatapnya seperti sangat bahagia ada didekat Duk Mi.
**
Bersambung ke part 2

Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09