PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 23 Februari 2020

Sinopsis Hi Bye Mama Episode 1 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

 
Saat itu seseorang masuk ke dalam ruangan, seperti seorang artis yang elegan. Tapi saat mendekat pada para hantu langsung jatuh terjungkal, semua bertanya-tanya apakah Dia tak apa-apa. Si wanita dengan tubuh tambun terlihat marah mengeluh karena ada yang membuat lantai ini bersih hingga licin
“Manusia tak tinggal di sini. Mereka juga jarang kemari.” Komentar Nenek Jung lau berkomentar kalau sepertinya lantainya pecah!
“Astaga, kau seharusnya hati-hati. Kenapa ceroboh sekali?” ejek Nyonya Jung. Semua orang pun hanya tertawa mengejek.
“Semuanya sudah berkumpul.Apa Dia orangnya? Karena bunuh diri, dia takkan membusuk.” Ucap Peramal.
“Apa Kau pikir kita akan membusuk? Apakah Pak Choe sudah memberikan salam terakhir dan pergi ke atas?” tanya Nyonya Seo
“Omong kosong.. Cepat Keluar!” kata Peramal kesal. Semua bingung melihat Tuan Cheo keluar dari persembunyian dengan wajah sedih.
“Katamu mau pergi setelah pamit dengan keluargamu!” kata Tuan Jang heran. 



Flash Back
Acara peringatan kematian Tuan Cheo, tertulis “RITUAL LELUHUR UNTUK CHOE SEMOGA BERISTIRAHAT TENANG.”  Semua keluarga berkumpul dan makan setelah melakukan perhormatan.
“Dia sudah menampakkan diri dan Dia sudah berpamitan.” Cerita peramal, Tuan Cheo pun berubah jadi kupu-kupu dan masuk ke dalam rumah.
“Anak-anak, ini aku ayah kalian. Ayah akan pergi sekarang. Hiduplah dengan baik. Hidupku bahagia karena adanya kalian. Terima kasih. Menantuku tersayang, aku akan merindukan masakanmu Berandal. Bersikap baiklah dengan istrimu.”
“Menantu keduaku, terima kasih juga atas kerja kerasmu. Aku menyaya...”
Tapi saat itu sang anak langsung mematikan kupu kupu dan meminta agar segera mengambil tisu basah sambil mengeluh kalau serangga ini bisa masuk. 

Nenek Jung tak percaya kalau berandal itu membunuh ayahnya dua kali. Tuan Cheo yang sedang memilih untuk masuk ke tempat abunya. Peramal itu mengeluh Tuan Cheo yang menangis padahal ia sudah membuat laporan bahwa Tuan Cheo akan pergi ke atas!
“Aku yang seharusnya menangis! Kalian juga sama! Walaupun kalian arwah, maka kalian harus menepati janji! Hanya areaku saja yang performanya nol persen!” teriak Peramal kesal. Saat itu Yu Ri baru pulang mencoba mengendap-ngendap masuk ke tempat abu.
“Kenapa nol persen? Tak masuk akal! Hei... Mau kabur ke mana kau?” ucap Peramal langsung menangkap Yu Ri.
“Aku tak kabur. Aku baru pulang... Apakah ada mata di belakang kepalanya?” kata Yu Ri heran. Peramal makin marah ingin makin mengeratkan tanganya. 

“Baiklah, aku tidak akan kabur. Lepaskan aku lebih dahulu. Kita bicara usai kau lepaskan... Lepaskan aku!” ucap Yu Ri. Si peramal melepaskannya tapi Yu Ri malah kabur ke dalam tempat abunya.
“Apa kau mau main-main rupanya?” kata si peramal mengeluarkan kemerincinganya.
Semua meminta agar tak melakukanya dan tetap tenang, Peramal menyuruh mereka agar tak berisik dan langsung memunyikan kemerincinganya. Yu Ri akhirnya keluar sambil mengumpat kesal.
“Performamu nol persen bukan salah kami! Ini semua karena aturan siklus reinkarnasi. Ini semua karena kebijakan aneh yang kalian buat! Kau tak tahu kehidupan di zaman kami.” Ucap Yu Ri membela diri.
“Ya! Yu-ri benar! Zaman sekarang sudah berubah!” kata Nyonya Seo setuju. Semua pu menyetujuinya.
“Karena kalian tidak mau reinkarnasi, populasi dunia semakin berkurang! Sedangkan populasi arwah terus meningkat! Ini penuh sesak! Apa Kalian masih bilang kebijakannya aneh?” kata Peramal
“Seharusnya dari pertama jangan beri kita pilihan! Seperti zaman dahulu, kirim malaikat pencabut nyawa saja! Katamu arwah juga punya hak! Katamu kita bisa memilih mau reinkarnasi atau tidak. Sekarang, saat tidak ada yang mau pergi, Apa kau memaksa kami pergi?” ucap Yu Ri kesal
“Dewa sama saja dengan manusia. Saat atasan diganti, aturan juga berubah. Kebijakan selalu berubah.” Ucap Nenek Jung. Semua pun setuju.
“Kalian akan menerima hukuman! Jangan sembarangan berbicara! Semua ada maksudnya. Para atasan...” kata peramal
“Omong kosong. Jujur saja, tak ada yang ingin pergi ke atas. Dia menangis setiap hari karena anaknya bangkrut.” Ucap Yu Ri menujuk pada Nyonya Sung 

“Dia sangat khawatir karena anaknya kembali mengidap kanker. Kita tidak bisa pergi sekarang. Kau tahu itu!” kata Yu Ri pada Nenek Jung.
Semua terlihat sedih akhirnya Nenek Jung pun menyuruh mereka bubar dan masuk ketempat abu masing-masing. Yu Ri pun mengeluh kalau si peramal itu selalu membuat mereka sedih.
“Lantas kenapa kau tak pergi? Suamimu sudah menikah lagi, apa yang perlu dikhawatirkan? Kau ingin terus disamping anakmu, 'kan?” kata si peramal
“Memangnya tidak boleh? Dia anakku! Kenapa tidak boleh?”  ” ucap Yu Ri marah masuk ke dalam tempat abu
“Wanita sialan... Hanya bisa besar mulut!Aku sudah bilang berapa kali, kau tak boleh terus di samping anakmu. Kau harus naik dengan tenang!” teriak Si wanita tapi saat itu terdengar suara dengkuran dari dalam.
“Baiklah. Aku mengerti, bagaimana bisa meninggalkan anak sendiri? Kasihan sekali mereka.” Ucap si peramal akhirnya meninggalkan tempat Cha Yu Ri. 



Di rumah, Seo Woo duduk sendirian sambil menonton acara kartun. Yu Ri keluar dari tempat abunya menyapa semua hantu “Selamat pagi, semuanya” dengan wajah bahagia. Nenek Jung yakin Yu Ri pasti senang karena hari ini peringatan kematiannya.
“Kau akan menyantap makanan enak.” Kata Nyonya Sung. Yu Ri membenarkan dan berharap perutnya nanti tak sakit.
“Apa itu hari ini? Aku iri sekali. Aku masih harus menunggu enam bulan!” ucap Young Sim.
“Tidak semuanya akan menyenangkan.” Kata Nenek Jung melihat Yu Ri pergi. 


Di rumah, Kang Hwa sudah memakai bajunya akan bersiap-siap kerja lalu melihat kalendernya “HARI ULANG TAHUN SEO-WOO” wajahnya terlihat tak peduli dan langsung berjalan pergi. Di sebuah mobil, Keluara Yu Ri berangkat dengan wajah dingin.
Di dalam kuil, Biksu mulai berdoa dan semua keluarga Yu Ri berdiri memberikan hormat. Sementara Yu Ri sibu makan dengan semua persembahan yang diberikanya padanya.
“Ini Sangat pas jika minum alkohol sekarang... Tolong tuangkan alkohol.” Ucap Yu Ri. Peramal yang melihatnya mengeluh dengan tingkah Yu Ri.
Nyonya Jeon hanya menatap diam melihat papan nama “RITUAL LELUHUR UNTUK CHA SEMOGA BERISTIRAHAT TENANG” Setelah makan banyak Yu Ri pun bergulingan dilantai karena kelelahan. Nyonya Jeon dan anaknya mulai membereskan meja.
“Kenapa kau pergi dengan terburu-buru? Kasihan sekali anakku.” Ungkap Tuan Cha menatap foto anaknya.
“Ayah jangan berbicara seperti itu.” Ungkap adik Yu Ri, Cha Yeon Ji.
“Kasihan apanya? Masih banyak yang harus ditangisi. Dia wafat sebelum orang tuanya. Kita lebih menderita.Berhenti menangis. Ayo, pulang.” Kata Nyonya Jeon dingin lalu pergi. 
Yu Ri melihat sikap ibunya langsung mengikuti ibunya, lalu berkomentar suah mengetahui lalu meminta maaf. Ia pun memohon pada ibunya agar jangan galak kepada Ayah... Tapi saat itu Nyonya Jeon yang terlihat tegar ternyata menangis sendiri dalam toilet. 

Nyonya Jeon akhirnya keluar dari toilet setelah menangis dan mencuci muka. Yeon Ji melihat ibunya baru saja mencuci muka. Nyonya Jeon mengaku kalau sangat mengantuk dan tidak boleh tertidur, harus menemani ayah Yu Ri akan  menyetir.
“Apakah dia senang melihat suaminya menikah lagi?” kata Yeon Ji
“ Yu-ri wanita yang hebat. Dia tak akan sedih. Justru ikut bahagia.” Ucap Tuan Cha
“Benar juga... Ibu seharusnya lebih ramah kepada Kang-hwa.” Kata Yeon Ji
“Berisik! Dia bukan keluarga kita lagi. Hidupnya sudah bahagia. Untuk apa kemari?” kata Nyonya Jeon sinis. Yeon Ji hanya diam saja. Tuan Cha mengajak mereka segera pergi. 

Di kantor, Kang Hwa tetap menangani pasien memberitahu Penyebab sulit bernapas bisa karena debu jadi harus menggunakan masker. Tapi Selebihnya, semua baik-baik saja. Saat makan siang, Kang Hwa tertawa bahagia dengan teman-temanya.
“Keduanya sudah dibius, tapi istrinya sadar lebih dahulu. Tanpa sadar, suaminya menyebut nama selingkuhannya... "Mi-jin." Lalu Apa kata istrinya usai mendengar itu? "Pisau bedah." Kata Kang Hwa seperti terlihat bahagia. 

Min Jung menunggu mobil jemputan yang membawa Seo Woo. Seo Woo pun pulang dengan ibunya. Yu Ri melihat anaknya langsung berlari akan menghampirinya, tapi tiba-tiba tubuhnya seperti ditarik dan langsung tergantung di pohon dengan hantu lainya.
“Apa? Ada apa lagi?” ucap Yu Ri heran. Si peramal membebaskan dua hantu lain dan tak membiarkan Seo Woo pergi.
“Katanya kau kasihan denganku! Kenapa begini?” keluh Yu Ri. Si peramal mengeluh Yu Ri yang tak mendengarkannya.
“Sudah kubilang, jangan berada dekat anak kecil!” tegas si peramal. Yu Ri menegaskan kalau  Bukan sembarang anak, tapi Dia anaknya.
“Anakmu atau bukan, kau tak boleh di dekatnya!” tegas Si peramal. Yu Ri mengeluh kalau peramal yang akan terus begini
“Lepas. Cepat lepaskan aku!” teriak Yu Ri kesal. Si peramal heran Yu Ri yang marah
“Apa? Apa ucapanku yang salah? Kau merasa kuat dengan lonceng itu? Kau tidak berarti tanpa lonceng itu.” Ucap Yu Ri marah. Peramal menyuruh Yu Ri diam.
“Tidak! Itu tidak benar! Astaga! Kau tidak pernah mendengarkanku! Ini Sungguh menjengkelkan!” kata Peramal marah lalu tersadar banyak orang yang melihatnya.
Mereka berpikir peramal itu sudah gila karena berbicara sendiri. Yu Ri pun terjatuh karena loncengnya mengarah kebawah. 


“Astaga. Malang sekali... Ada arwah jahat yang terus menempel di keluarga kalian.” Kata peramal pada Min Jung dan anaknya.  Yu Ri panik berpikir si peramal sudah gila.
“Jimat ini bisa menangkal arwah jahat... Hanya 200.000 won, bisa kredit.” Kata peramal.
“Apa Kau memanfaatkanku untuk mendapatkan uang? Awas saja kau berikan!” ucap Yu Ri marah
“Halo. Kau Seo...” ucap peramal menatap Seo Woo lalu terdiam. Min Jung mengatakan tidak perlu itu lalu berjalan pergi.  Yu Ri pun mengikuti anaknya dengan wajah penuh amarah. 

Di ruang istirahat, Kang Hwa masuk ruangan melihat juniornya heran karena ada disana padahal sudah meminta jaga malam ini. Juniornya pikir Kang Hwa belum melihat jadwal karena sudah diganti menjadi dirinya. Kang Woo seperti tak melihatnya.
“Kau bisa pergi.” ucap Kang Hwa. Si Juniornya seperti tak enak hati. Kang Hwa menyuruhnya agar pergi saja.
“Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran. Sebelum aku menendangmu dari sini.” Ucap Kang Hwa. Si Juniornya pun pamit pergi. 

Kang Hwa berbaring di tempat tidur dengan buku yang menutup wajahnya. Geun Sang masuk dengan wajah kesal menyuruh Kang Hwa Pulanglah karena Anaknya menunggu. Tapi saat itu ada peringatan dari pengera suara kalau Ada pasien kejang di kamar ICU.Kang Hwa pun langsung bergegas pergi. 

Di depan rumah tenda sudah ada kue ulang tahun,  Min Jung mendekati anaknya memberitahu kalau Ayah Seo Woo tidak bisa pulang jadi mereka makan kuenya lebih dulu. Seo Woo mengelengkan kepalanya, lengkap dengan topi di kepalanya.
“Kalau begitu, kita tunggu Ayah?” ucap Mi Jung. Seo Woo menganguk. Yu Ri pun menatap wajah sang anak dengan wajah sedih. 

Seo Woo akhirnya tertidur, saat itu Yu Ri menatap sang anak dan Kang Hwa pun pulang lalu duduk disamping sang anak dan hanya diam saja, lalu keluar dari kamar. Yu Ri menatap sedih sang anak dengan sikap dingin anaknya
 “Ayah bilang selamat ulang-tahun. Selamat ulang tahun, Seo-woo tersayang.” Ucap Yu Ri yang tak bisa menyentuh anaknya. 

Pagi hari, Yu Ri tertidur di lantai lalu merasakan ada seseorang yang lewat. Ia langsung mengumpat orang itu lagi, lalu keluar dari ruangan. Seo Woo terbangun seperti merasakan sesuatu. Yu Ri akhirnya menyuruh hantu itu cepat keluar sekarang Atau akan menghajarnya.
“Aku akan memukulmu dua kali. Apa Kau tidak akan keluar? Keluar! Cepat keluar!” teriak Yu Ri marah menyuruh agar keluar.Hantu pria pun keluar.
“Aku tahu akan begini... Kau sembunyi saat melihatku. Aku sudah bilang, jangan kemari lagi!” ucap Yu Ri marah
“Bukan begitu... Kenapa kau tega mengusir arwah setempat dari rumahnya? Lalu Aku harus ke mana?” kata Si Hantu pria.
“Ini bukan rumahmu, tapi rumah anakku! Pergilah ke tempat abumu!” ucap Yu Ri
“Tapi... aku tak tahu ada di mana. Aku kehilangan tempat abuku.”kata si pria. Yu Ri kaget merasa kasihan dan tak percaya.
“Tetap saja tak bisa. Itu masalahmu. Energi anak kecil sangat lemah. Kau bisa mengisap energinya.” Kata Yu Ri
“Kalau begitu, kau juga tak boleh di sini. Kau bukan manusia! Menurutku, kau lebih bermasalah dariku. Sebentar lagi, kau bisa merasukinya. Dia bisa melihat kita.” Kata si hantu pria
“Dasar gila! Aku membiarkanmu karena kasihan! Kau tak berhak bicara begitu!” teriak Yu Ri kesal mengusir si hantu.
“Omong kosong macam apa yang dia katakan?” keluh Yu Ri lalu menyap Seo Woo yang  baru bangun.
Seo Woo berjalan ke arahnya, tapi saat berhadapan dengan Yu Ri langsung berjalan menjauh agar tak menghalanginya dan berjalan ke ruang TV. Yu Ri kaget kalau Seo Woo bisa mengetahui keberadanya. Kang Hwa terbangun melihat Seo Woo baru bangun dan mengajak untuk minum lebih dulu. 



Yu Ri langsung pergi ke tempat peramal menceritakan kalauSeo-woo bisa melihatnya dan Ini pasti karena dirinya.Peramal memberitahu kalau Energi anak kecil sangat lemah. Yu Ri menceritakan kalau terus mengikutinya sejak Seo Woo lahir.
“Ini semua karena aku. Tapi Kenapa kau tak memberitahuku?”ucap Yu Ri marah.
“Aku juga baru tahu. Aku sudah mengingatkanmu jangan dekat anak kecil.” Kata Si peramal
“Aku penyebab semua ini.. Karena aku arwah. Semuanya salahku.” Ucap Yu Ri merasa bersalah
“Kau selalu mengikutinya karena kau ibunya.” Ucap peramal. Yu Ri pun kebingungan dengan yang akan dilakukan. 

“Jika sudah merasakan dan melihatmu, arwah-arwah akan mendekatinya. Karena masih kecil, dia belum bisa membedakan arwah dan manusia. Itu mungkin berbahaya baginya.”
Saat itu Seo Woo bermain sendirian lalu melihat seorang anak memanggilnya, si hantu anak kecil mengajak bermain. Seo Woo yang masih kecil pun mengejarnya. Yu Ri datang dengan wajah kebingungan.
Sementara didalam sekolah, terjadi kegaduhan karena tak melhat Seo Woo. Pemilik sekolah pun tak menemukan di ruangan atas. Semua guru terus mencari Seo Woo, Yu Ri pun ikut mencari anaknya ke ruangan lainya.
“Dia tadi sedang asyik main sendiri. Aneh sekali.” ucap sang guru. Pemilik pikir mereka mencari lagi dan setelah itu baru menelp polisi.
Yu Ri mencari anaknya dan melihat hantu anak kecil yang berlari , saat itu ia bisa menembus ke dalam kulkas dan melihat Seo Woo sudah ada didalam. Seo Woo sudah tak sadarkan diri. Yu Ri memanggil guru tapi tak ada yang mendengarnya.
Yu Ri mengingat ucapan si Peramal “Karena masih kecil, dia belum bisa membedakan arwah dan manusia. Itu mungkin berbahaya baginya.” Lalu terus memanggil Seo-woo, saat itu Seo Woo seperti mendengar dengan kakinya mendorong pintu kulkas.
Seorang guru sedang lewat melihatnya dan langsung bergegas masuk dapur, lalu berteriak memanggil guru kalau bisa menemukan Seo Woo. Seo Woo langsung dibawa ke ambulance dengan kondisi tak sadarkan diri. 


Di rumah sakit
Kang Hwa dan Min Jung datang dengan wajah panik. Seo Woo terbaring di ranjang. Yu Ri masih di dalam ruangan, Seo-woo pingsan dengan wajah panik memberitau suaminya. Kang Hwa memeriksa keadanan Seo Woo yang masih membiru.
“Kenapa Seo-woo bisa masuk kulkas sendirian?” tanya Kang Hwa marah Yu Ri terlihat ingin memberitahu.
“Anak-anak bahkan tak tahu dapur di mana, aku tak tahu bagaimana dia bisa masuk ke sana.” Kata Perawat
“Maafkan aku. Ini karena aku... Maafkan Ibu.” Ucap Yu Ri merasa bersalah lalu menangis. 

Peramal mulai berdoa dan teringat dengan yang dikatakan Yu Ri kalau akan pergi ke atas.
Flash Back
Yu Ri pikir akan pergi bahkan enyah entah kemana dan akan menghilang, lalu memastikan Apakah Seo-woo akan baik-baik saja dan apakah Takkan melihat arwah lagi. Peramal mengaku tidak tahu.
“Aku akan pergi ke atas dan memohon. Aku tak perlu reinkarnasi. Aku bersedia musnah. Aku hanya... Awalnya aku ingin pergi usai melihatnya berjalan. Aku ingin melihatnya berjalan.” Cerita Yu Ri menangis. 

Bayi terlihat dengan nama “ORANG TUA: CHA YU-RI, CHO GANG-HWA” dalam sebuah box. Yu Ri menatap dengan wajah bahagia. Ia menemani Seo Woo yang main sendiri dengan Kang Hwa yang terlihat kelelahan mengurus anak. Yu Ri akhirnya melihat sang anak yang mulai berjalan
“Melihat dia, berbicara, berlari, dan makan. Aku tahu aku harus pergi. Tapi, aku ingin melihatnya lebih lama. Sedikit lebih lama lagi.” 

Yu Ri berjalan dalam kerumunan lalu melihat pasangan ibu dan akan yang saling merangkul dengan wajah bahagia. Sementara Yu Ri yang sudah menjadi arwah tak bisa melakukan hal yang sama, bahkan salju pun menembus tanganya.
“Kenapa? Kenapa tidak bisa? Kenapa aku saja yang tidak bisa? Kenapa tidak bisa? Aku hanya ingin melihat saja. Kenapa tak boleh? Memangnya kau siapa? Kenapa melarangku?” teriak Yu Ri marah sambil menangis.
Saat itu terjadi petir yang sangat besar, tempat abu Yu Ri pun berembun. Tiba-tiba salju berjatuhan seperti rintikan es ke bumi. Peramal yang sedan berdoa pun bingung, lalu alat berdoanya terlihat lepas begitu saja.
Di dalam mobil Kang Hwa mengemudikan mobil bingung karena banyak es yang jatuh. Nyonya Jeon pun membuka tirai jendela kamarnya, Hyun Jung di rumah pun bingung melihat suasana langit yang mengerikan dengan hujan es.
“Katamu aku boleh menetap! Katamu boleh di sini! Kenapa? Kenapa tak boleh? Apakah karena kau adalah Dewa, jadi, bisa seenaknya? Bagaimana bisa kau Dewa! Sialan!” teriak Yu Ri marah 


Pagi hari
Tuan Cha keluar dari toko sambil mengelu kalau bisa cukup makan sujebi di akhir pekan. Nyonya Jeon pun membalas kalau membuat sujebi  itu tak mudah karena Di rumah tidak ada kentang, sudah waktunya berbelanja.
Saat itu Seo Woo dan Min Jung berjalan berpapasan, Nyonya Jeon tak mengubrisnya. Tuan Cha menatap cucunya yang tak bisa didekatinya. Nyony Jeon memanggil suaminya agar cepat jalan. Tuan Jeon mengaku jalan di belakangnya. 

Yeon Ji keluar kamar mengeluh lapar lalu melihat ayahnya hanya duduk diam dengan wajah sedih dan bertanya pada ibunya ada apa dengan ayahnya. Nyonya Jeon hanya menjawab kalau Tuan Cha sedih, Hatinya sangat sedih.
“Benar, aku tidak bisa... Aku tidak tahu  kenapa kau tak sedih, tapi aku tidak bisa! Aku ingin bertemu anak dan cucuku. Aku tak bisa mengendalikan hatiku!” teriak Tuan Cha marah
“Apa Ayah melihat Seo-woo?” kata Yeon Ji lalu menyuruh mereka  lebih baik pindah karena setidaknya takkan berpapasan.
“Kau juga masuk kamar. Berisik sekali.” ucap Nyonya  Jeon kesal. Yeon Ji pun akhirnya masuk kamar.
Saat itu salju mulai turun kembali, Yu Ri berdiri menatap suami dan istri nya seperti keluarga bahagia mengandeng tangan Seo Woo. Mereka menikmati hujan salju. Yu Ri seperti tak sadar kalau salju sudah menembus tubuhnya.
Kang Hwa melihat Yu Ri berdiri didepanya, terlihat kaget dan mengingat kenangan buruknya. Yu Ri yang sedang hamil tertabrak lalu dibawa ke rumah sakit, tapi hanya anak mereka yang bisa selamat. Kang Hwa pun menangis histeris memanggil Yu Ri.
Yu Ri hanya bisa menatap Kang Hwa dan Kang Hwa hanya bisa terdiam melihat Yu Ri yang ada didepanya dan sangat mirip dengan ibunya Seo Woo yang sudah meninggal.
Bersambung ke episode 2


Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Sinopsis Hi Bye Mama Episode 1 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
 
[TAHUN 2006, GANG-HWA DAN YU-RI, USIA 24]
Di sebuah gedung, Jo Kang Hwa berteriak mengejar seorang menegaskan kalau takkan pergi sambil mengumpat kesal. Kye Geun Sang sudah dengan kostumnya sengaja mengambil tas Kang Hwa, Kang Hwa mengeluh temanya menonton bola padahal Besok ujian dimulai.
“Kau sudah gila... Kau terlihat seperti lalat sekarang.” Ejek Kang Hwa melihat kaca mata temanya yang sangat lebar.
“Hei! Hyun-jung akan membawa kenalannya, dia benar-benar cantik! Kang-hwa, kita mati-matian masuk universitas.Aap Kau akan belajar saja? Tidak berpacaran?” ucap Geun Sang kesal
“Tidak butuh.. Aku masuk kuliah bukan untuk pacaran. Anak kedokteran tak boleh malas. Coba pikirkan orang tuamu.” Ucap Kang Hwa mengambil tasnya.
“Hei! Aku sudah bilang jangan mengungkit orang tuaku!” ucap Geun Sang marah dan berlari membawa tas Kang Hwa. Kang Hwa mengejarnya sambil mengumpat. 

Di sebuah cafe, sudah banyak orang dengan atribut menonton. Cha Yu Ri kaget temanya akan membawa Mahasiswa kedokteran lalu mengeluh Hyun Jung tak bilang dan memilih untuk pergi. Hyun Jung menahaanya dan menegaskan hanya menonton bola bersama, bukan berpacaran.
“Aku tidak nyaman menonton bersama laki-laki.” Kata Yu Ri. Hyun Jung mengerti dan menyuruh duduk saja.


Saat itu Geun Sang pun menarik temanya masuk cafe yang sudah ramai. Kang Hwa menegaskan kalau akan duduk 30 menit saja. Geun Sang mengeluh kalau tak menyuruhnya pacaran tapi Hanya menonton bola bersama!
“Terserah, cepatlah” ucap Kang Hwa. Geun Sang mengeluh pada Kang Hwa yang membuat mereka terlambat.
“Hanya sepak bola saja yang kau pikirkan! Astaga!” keluh Kang Hwa dan saat itu Geun Sang melihat Hyun Jung.
Keduanya pun saling berpelukan karena berkencan. Di layar akan terjadi gol dan Kim Dong-jin. Geun Sang memberitahu kalau membawa teman. Saat itu Kang Hwa sedikit menjauh karena tak begitu tertarik. Yu Ri berdiri dengan bando terlihat sangat cantik.
“Kita saling mengenal dan jatuh cinta dalam tiga detik.  Saat keadaan tak dapat diprediksi, cinta datang menghampiri kita.” Gumam Kang Hwa yang terus bertatapan dengan Yu Ri penuh cinta. 

-HARI PERTAMA PACARAN-
Kang Hwa keluar dari gedung dengan berteriak bahagia memanggil Yu Ri. Keduanya bertemu dan langsung memberikan ciuman, Yu Ri bertanya apakah kelas Kang Hwa sudah selesai. Kang Hwa menganguk dan keduanya mulai berkencan.
Mereka makan bersama lalu waktu pun berlalu mereka memikirkan perayaan 100 hari jadi mereka.
[BAGAIMANA MERAYAKAN PACARAN YANG KE-100 HARI?]
Mereka pergi ke taman bermain, Kang Hwa seperti merasa ketakutan tapi Yu Ri menyadarkan agar bisa bertahan. Tapi setelah naik ke permainan extrem, Kang Hwa langsung muntah. 

“GANG-HWA! AKU MEMBERI TAHU ORANG TUAKU. BAHWA AKU AKAN MENGINAP DI RUMAH HYUN-JUNG!”
Keduanya setelah makan bersama pergi ke tempat penginapan, Kang Hwa terlihat gugup. Yu Ri ingin masuk lebih dulu tapi terlihat malu. Akhirnya Yu Ri pun menarik Kang Hwa masuk ke dalam motel.
[HARI JADI DUA TAHUN PACARAN DIAKHIRI DENGAN KONFLIK]
Kang Hwa datang ke rumah Yu Ri membawa buket bunga sambil berlutut meminta maaf. Yu Ri mengeluh ingin tahu Kenapa minta maaf. Kang Hwa kebingungan. Yu Ri kesal langsung memukulnya dengan buket bunga.
[TIDAK TERASA SUDAH TIGA TAHUN PACARAN]
Mereka bermain ke pantai bersama, keduanya seperti sangat bahagia dengan hubungan mereka selama 3 tahun.  Kucing yang melihat mereka seperti kesepian karena keduanya memang pasangan yang sangat mesra.
“Waktu bertahun-tahun yang kita lewati terasa seperti sekejap. Setelah bersama selama itu, kami yakin takdir tak akan berubah.” 

[TAHUN 2010 KANG-HWA DAN YU-RI, USIA 28]
Cafe sudah banyak pengunjung untuk menonton Piala Dunia 2010 yang diadakan di Afrika Selatan. Kang Hwa berlari masuk cafe dengan nafas terengah-engah meminta maaf padhal sudah mau berangkat, tapi pasiennya...
“Astaga, kenapa IGD seperti itu? Kenapa selalu begitu saat shiftku akan berakhir? Aneh sekali, ya? Biar kutuangkan...” ucap Kang Hwa tapi Yu Ri yang kesal menuangkan soju sendiri.
“Baiklah, aku bisa menuangnya sendiri. Sudah. Mari bersulang...” kata Kang Hwa tapi Yu Ri sudah minum lebih dulu.  Akhirnya Kang Woo pun akan meminum sendiri.
“Aku tak tahan lagi.” Kata Yu Ri kesal melihat baju lengan tangan Kang Hwa yang kotor.
“Tidak, Yu-ri. Aku bersalah. Ini salahku... Yu-ri, ayolah. Aku...” ucap Kang Woo panik tak ingin putus.
“Kita.. menikah saja.” Teriak Yu Ri tapi suara tak terdengar karena Park Ji Sung membuat gol dan terdengar keriuhan di dalam cafe.
“Apa? Apa katamu?” tanya Kang Hwa bingung. Yu Ri berteriak “Aku mau hidup denganmu!”
“Nikahi aku, Jo Kang-hwa!” teriak Yu Ri. Semua berteriak mengelu-elukan  nama Park Ji-sung. Sementara Kang Hwa dan Yu Ri saling tersenyum bahagia.
PIALA DUNIA AFRIKA SELATAN KOREA SELATAN MELAWAN YUNANI, sebagai saksi kalau mereka akhirnya memutuskan menikah. 


Mereka pun foto dengan gaun pengantin ditaruh didepan pintu. Kang Hwa dengan setelan jas pengantin menyanyi dengan lirik “Aku juga sangat mencintai dia, Melebihi cinta dia kepadaku, Selamanya. Aku akan membuatmu bahagia.
“Jika kita berdua, Hidup bersama” ucap Kang Hwa menyanyi dengan merdu lalu memberikan pada Yu Ri supaya ikut bernyanyi. Yu Ri menolak tapi akhirnya ikut juga menyanyi.
“Aku mencintai dia, Melebihi cinta dia kepadaku, Selamanya. Aku akan membuatmu bahagia. Jika kita berdua Hidup bersama Aku mencintai dia Melebihi cinta dia kepadaku” ucap Yu Ri menyanyi dengan senyuman bahagia.
Keduanya pun berjalan di altar menyapa semua tamu dengan wajah bahagia. Yu Ri terlihat sangat senang berjalan dismping Kang Hwa.
“Kami percaya kebersamaan kami selama 13 tahun bagaikan gelas yang tak mudah pecah.”

[SAAT INI, TAHUN 2019 GANG-HWA DAN YU-RI, USIA 37]
Foto seorang anak perempuan terlihat di dinding, Seorang anak duduk sedang bermain lalu melihat air tumpah dengan colokan yang ada didekatnya.
“Seo-woo, ayo makan... Ibu sudah selesai membuat sarapan.” Ucap seorang wanita. Tapi Jo Seo Woo berjalan menuju colokan, suara Yu Ri terdengar meminta agar anaknya tak mendekat karena bisa tersetrum. 
“Seo-woo, jangan sentuh itu! Ibu akan marah! Bahaya! Seo-woo, jangan! Jo Seo-woo!” teriak Yu Ri panik akan menyelamatkan anaknya tapi seseorang datang menyelamatkanya.
“Dilarang menyentuh ini. Berbahaya... Ibu marah!  Ayo Kemari.” Kata Oh Min Jung mengambil colokan. Yu Ri pun hanya bisa jatuh lemas karena tak bisa menyentuh anaknya.
“Namun, hidup tidak berjalan seperti yang kita inginkan, dan tak ada yang bisa memprediksi perpisahaan kita.” Gumam Yu Ri dengan foto di ruang tengah bukan dirinya tapi Min Jung dengan anak dan suaminya. 


[EPISODE 1 - HIDUP PENUH KEJUTAN YANG TAK DISANGKA]
Min Jung dan Seo Woo akhirnya keluar rumah, sementara Yu Ri berjalan mengikuti dari belakang mengeluh Kenapa ada air di sana, karena Bahaya dan Jika terlambat sedetik saja...
“Anak-anak selalu bermasalah saat lepas dari pengawasan... Hei! Apa Kau mendengarkanku?”teriak Yu Ri saat itu Min Jung berhenti tepat didepan Yu Ri. Min Jung mengibaskan sesuatu didepanya lalu berjalan pergi.
“Dia tak bisa melihatku, 'kan? Tapi Kenapa sikapnya sebaliknya?” kata Yu Ri heran.
Saat itu seseorang disampingnya berjalan seperti bisa menatapnya, seperti sesama hantu yang bisa melihatnya. Yu Ri pun berlari mengejar Seo Woo yang  terlihat bahagia hari ini lalu memujinya anak yang baik.
“Aku adalah arwah... Arwah yang tak terlihat oleh manusiaAda sesuatu yang tak diketahui manusia saat mereka masih hidup.” 

“Salah satunya, bukan hanya manusia yang hidup di dunia ini. Walau tak terlihat, sebenarnya dunia ini tempat bagi banyak kehidupan. Termasuk para arwah.”
Seseorang berjalan dengan cepat lalu membuang botol sembarangan dan saat itu beberapa semut mulai mendekat karena mencium bau manis. Kang Hwa datang langsung mengambil botol yang tergeletak ditanah lalu melihat Geun Sang.
“Geun-sang.. Bukankah kau sembelit? Minum ini” teriak Kang Hwa melempar botol. Geun Sang pun mengucapkan terima kasih.
“Kenapa tega dengan temanmu? Dasar berandal.” Keluh Geun Sang kesal lalu membuang botol ke tempat sampa.

Semua ibu-ibu berkumpul di tempat penjemputan para anak-anak TK. Yu Ri pun berjongkok didepan anaknya, masih merasa khawatir karena hampir saja celaka hari ini. Ia pun memuji Seo Woo yang cantik sekali. Seo Wo seperti tak bisa melihat ibunya.
“Ayo, cium ibu.” Ucap Yu Ri tapi Seo Woo tak mendekat. Saat itu tatapan Seo Woo hanya ke arah matahari. Yu Ri pun menutupi dengan tanganya tapi tak bisa menutupi silaunya matahari. 

Akhirnya jemputan pun datang, Seo Woo dkk masuk ke dalam mobil. Saat itu Hyun Jung sempat melihat Seo Woo dengan Min Jung tapi tak mengubrisnya. Tiga orang ibu pun akan berangkat sekarang lalu memanggil Min Jung.
“Apakah kau sibuk? Ikutlah minum kopi hari ini.” Ucap ibu pertama. Ibu kedua pun meminta agar jangan tolak  dan bergabunglah serta bisa mengobrol bersama.
“Aku tak suka pergi dengan banyak orang.” Kata Min Jung lalu berjalan pergi. 

“Tak tahu sopan santun... Dasar Oh Man Jung” ucap si ibu pertama kesal. M Keduanya bingung kalau namanya bukan itu. Yu Ri pun mengikuti tiga ibu-ibu itu.
“Itu julukan... Karena anaknya tidak menyukai dia, makanya disebut Oh Man-Jung. Anaknya baru berusia lima tahun, tapi sudah les seni, Inggris, balet. Seharian sibuk dengan banyak les.” Kata Si ibu pertama
“Apa Itu sebabnya Oh Man Jung?” ungkap Si ibu pertama. Ibu Ketiga membenarkan.
“Dia begitu karena bukan anak kandungnya. Ayahnya Seo-woo menikah lagi karena istri pertamanya wafat. Dia kesulitan merawat anak, makanya diberikan banyak les.” Kata Ibu pertama
“Jadi, ibu kandungnya sudah wafat... Pantas saja, anak itu...” kata Si ibu kedua.
“Sangat murung? Apa Kalian juga merasa? Jika diperhatikan, anak itu sangat murung dan aneh.” Kata si ibu kedua ikut membahasnya. 


Hyun Jung langsung menyapa ibu-ibu dengan wajah sinis. Ketiga ibu-ibu kaget melihat Hyun Jung yang menghadang mereka. Hyun Jung memperingatkan kalau wajar merasa penasaran dengan anak orang lain tapi ia meminta tolong agar menjaga omongannya. Ketiganya ingin membela diri.
“Kita juga akan mati pada waktunya... Kudengar kau akan pergi ke Bali. Bukankah gunung berapi belum meletus di Bali?”ucap Hyun Jung marah.
Ketiga ibu pun heran dengan sikap Hyun Jung yang tiba-tiba marah 

Di sebuah restoran  MISAENG, Yu Ri duduk didepan Hyun Jung bercerita kalau anaknya bukan pemurung. Ia mengeluh kalau para wanita itu hanya melihat apa yang ingin mereka percaya. Ia pikir mana ada anak kecil yang murung.
“Mereka harus mati agar sadar. Jika mereka punya banyak waktu, lihat saja wajah anakku lagi. Apa Mereka pikir bisa hidup selamanya? Jangan-jangan mereka menggosipkan toko kita juga?” ucap Yu Ri.
“Jika mereka mau, silakan! Aku tidak peduli.” Teriak  Hyun Jung. Yu Ri kaget berpikir temanya bisa mendengar ucapanya.
“Mereka pikir aku takut kelaparan? Hina saja sesuka kalian. Dasar Sialan! Aku ingin menghancurkan mereka! Aku akan mengupas semuanya dengan tanganku! Kuhancurkan berkeping-keping!” ucap Hyun Jung kesal mengumpas bawang dengan tanganya.
Di dalam restoran banyak foto yang ditempel, foto mereka berempat seperti double date. Lalu foto Kang Hwa dan juga Yu Ri bertuliskan “JO KANG-HWA BODOH!” 

Papan nama diatas meja “ DOKTER BEDAH TORAKS, JO KANG-HWA” Kan Hwa duduk setelah memeriksa pasien memberitahu Hasil EKG sudah keluar dan pasienya itu  mengidap aritmia jantung. Ia memberitahu kalau Operasinya sangat sederhana jadi tidak perlu khawatir.
“Apakah kau yang akan membedahku?” tanya si pasien. Kang Hwa menjawab bukan dirinya.
“Kau akan ditangani dokter yang lebih hebat dariku. Jangan khawatir.” Kata Kang Hwa. Pasien pun menganguk mengerti lalu keluar ruangan.
“Pasien yang baru saja keluar akan ditangani oleh Dokter Jang.”ucap Kang Hwa menelp perawat. 

Di luar ruangan terjadi keributan, seorang pasien mengaku sakit dan minta diobati. Para perawat meminta pasien agar datang Kembali setelah sadar karena pasien sedang mabuk. Pasien tetap bersikukuh kalau sedang sakit.  Kang Hwa pun diam-diam keluar dari ruangan menghindarinya.
“Hei.. Kau Pergi ke sana.”panggil Kang Hwa pada seorang petugas. Si pria mengaku harus ke ruang komputer.
“Kau Lewat sana saja. Berandal.. Cepat.”kata Kang Hwa. Si petugas akhirnya berjalan pergi dan langsung membantu perawat untuk menyingkirkan si perawat.  Kang Hwa pun bisa tersenyum. 

“Dokter Jo, Dokter Jang mencarimu.” Ucap seorang perawat  memanggil Kang Hwa dilorong
“Bagaimana cara bicaranya? Apakah dia bilang, "Di mana Dokter Cho?" Atau berteriak, "Di mana Cho Gang-hwa?" Apakah cara bicaranya sambil memaki?” tanya Kang Hwa.
“Sepertinya yang kedua.” Ucap Perawat. Kang Hwa mengerti lalu mengucapkan terima kasih.

Di ruangan terlihat papan nama ”NEUROPSIKIATRI, GYE GEUN-SANG” Seorang pasien datang berkonsultasi. Geun Sang memberitahu hasilnya adalah  Gangguan bipolar normal, dengan tingkat depresi rendah lalu bertanya Di mana membeli jam tangan itu. Si pria bingung.
“Kau tak mengidap OCD atau bulimia.. Tapi Bolehkah aku memegangnya?”kata Geun Sang. Si pria heran dokternya yang terkesima dengan jam tanganya. 

Si pasien pun keluar dengan gagah dan kacamata hitamnya, semua pasien yang menunggu sampai  melonggo melihatnya. Geun Sang pun berkata “Silakan datang lagi.” Dengan senyuman bahagia. Kang Hwa yang mendengarnya mengeluh Geun Sang meminta datang lagi.
“Jangan konyol. Itu tak pantas kau katakan di rumah sakit.” Keluh Kang Hwa memarahinya.
“Apa Kau lihat?” tanya Geun Sang. Kang Hwa bingung ada apa dengan pria itu. Geun Sang pikir kalau Kang Hwa yang tidak pernah lihat atlet
“Dia lebih mirip pesohor, bukan atlet bisbol.” Ucap Kang Hwa. Geun Sang mengeluh dengan temanya.
“Bukan! Jam tangannya! Apa Kau lihat jam tangannya? Jam tangan edisi terbatas.Aku menunggu setahun untuk membelinya, tapi gagal! Kenapa dia bisa mendapatkan jam itu? Apa Mungkin karena dia pesohor?”ucap Geun Sang kesal
“Kau juga pesohor di rumah sakit ini... Kau terkenal... Ayo. Masuk.” Ejek Kang Hwa. Geun Sang mengeluh dengan sikap Kang Hwa. 

“Ya, memang benar. Coba Lihat gayanya dengan busana itu? Menjadi pesohor bukan sekadar wajah yang rupawan. Wajah dan proporsi tubuh juga penting. Aku terkenal karena itu.” Kata Geun Sang bangga.
“Maksudku, bukan seperti itu... Kau terkenal karena kegilaanmu.” Ucap Kang Hwa sibuk dengan berdiri didepan komputer.  Geun Sang tak percaya dianggao "Gila"
“Ya, gila... Cukup. Bantu aku membuat surat rujukan... Dokter Jang mencariku.” Kata Kang Hwa.
“Astaga. Dasar gila... Mau sampai kapan kau begini? Jujur sajadan lakukan pengobatan untuk itu.” Kata Geun Sang saat itu pintu ruangan terbuka. 

Geun Sang menyapa Dokter Jang yang terlihat marah bertanya Apa kabar. Dokter Jang menjawab kabarnya buruk.  Dokter Jang melihat Kang Hwa memberitahu alau sudah tiga hari mencarinya tapi Kenapa tidak menemuinya.
“Bukan begitu... Aku harus mengurus banyak pasien, jadi... Sebagai dokter, aku tak bisa abaikan pasien. Pasien yang utama...” ucap Kang Hwa memberikan alasan.
“Omong kosong! Jika mengutamakan pasien, kenapa hanya menerima pasien rawat jalan? Dokter lainnya bekerja siang dan malam di kamar operasi! Apakah kau tak merasa kasihan?” ucap Dokter Jang marah
“Kau tak akan lolos. Bulan depan, kau harus mulai operasi. Jika tidak mau melakukan operasi, kenapa masuk ke rumah sakit ini? Buka praktik sendiri!” tegas Dokter Jang marah 

“Aku tak mungkin buka praktik sendiri. Ini Pasti gagal. Tak masuk akal. Kenapa menyarankan itu?” ucap Kang Hwa. Dokter Jang tak percaya dengan perkataan Kang Hwa
“Lagi pula, bukan karena tak mau. Aku selalu memberi surat rujukan. Tolong mengerti. Bagaimana jika tanganku gemetar saat operasi? Itu bahaya. Bisa terjadi masalah. Kita semua bisa dipecat.” Ucap Kang Hwa membela diri
“Benar, Dokter Jang. Kami tadi sedang membahasnya.” Ucap Geun Sang. Dokter Jang menyuruh semua diam dan memberikan lembaran kertas padanya. 

“Bawa kemari... Berikan hasilnya.” Ucap Dokter Jang. Akhirnya Geun Sang mengeprint hasilnya dari kompter.
"Kesulitan berkonsentrasi karena hidup tidak teratur dan insomnia. Gejala tremor tangan dan gangguan bipolar. Tampak lesu dan tertekan di pagi hari, tapi suasana hatinya membaik setelah pukul 18.00." ucap Dokter Jang membaca hasil laporan.
“Aku juga lesu dan depresi ketika berangkat kerja, dan senang saat pulang kerja.” Ucap Dokter Jang kesal. Geun Sang mengaku begitu juga.
"Saat minum merasakan kebahagiaan ekstrem, keesokan harinya merasakan sakit kepala." Sakit kenapa?” tanya Dokter Jang. Geun Sang menjawab Pengar.
“Apa Kau sebut ini hasil pemeriksaan? Ini hasil pemeriksaan teman! Dasar...” teriak Dokter Jang marah. Kang Hwa pun mengumpat marah
 “Aku tak salah. Jangan menghinaku. Ini salahmu.” Balas Geun Hwa. Kang Hwa mengeluh otak temanya pun tumpul. 


Kang Hwa akhirnya pulang menyapa perawat dan melihat lorong “KAMAR OPERASI, UNIT RAWAT INTENSIF” seperti ia masih trauma dan enggan masuk ke ruangan itu.
Di dalam mobil, Kang Hwa menyanyai dengan lirik “Aku bahagia.. Aku sangat bahagia, Hari yang kunantikan telah tiba, Sungguh hari yang menyenangkan, Luruskan pundakmu ke belakang, Dan busungkan dadamu, Kenakan busana santai, Temui teman baikmu”
Hyun Jung menyebrang jalan melihat Kang Hwa menyanyi dalam mobil, lalu berkomentar dari depan kalau Kang Hwa sudah gila. Kang Hwa tak peduli langsung mengemudikan mobilnya. 

Di rumah Seo Woo sedang menonton TV sendiri, Kang Hwa pulang ke rumah Yu Ri pun ikut menyambutnya. Min Jung memanggil Seo-woo kalau ayahnya sudah pulang lalu berkomentar kalau Kang Hwa itu pulang lebih awaha.
“Seo-woo, Apa senang hari ini?” tanya Kang Hwa. Yu Ri menjawab Tidak sama sekali.
“Dia sibuk sekolah, les seni, les balet. Dia Tak bisa bersenang-senang.” Ucap Yu Ri
“Apa Tidak ada masalah?” tanya Kang Hwa. Min Jung menjawab tak ada. Yu Ri tak percaya kalau Min Jung menjawab "Tidak ada"

“Seo-woo hampir saja terluka! Seo-woo hampir tersengat listrik dan menyusulku!” ucap Yu Ri kesal
Keduanya seperti tak mengubrisnya. Yu Ri pun menghampiri anaknya mengajak Seo-woo untuk menari juga.

Min Jung menaruk makanan diatas meja, Kang Hwa pun mulai makan malam dengan sang anak. Seo Woo makan dengan lahap di kursi makanya, Yu Ri menatap keduanya seperti terlihat bahagia walaupun berbeda dimensi. 

Flash Back
Kang Hwa makan sambil membaca buku, dengan menu yang sangat sederhana. Yu Ri terus menatap Kang Hwa seperti sangat terkesima dengan sang suami. Kang Hwa tersadar meihat Yu Ri yang terus menatapnya.
“Apa suamimu sangat tampan hingga kau tak bisa berpaling? Apa Terlalu sempurna seperti patung?” ucap Kang Hwa mengejek.
“Jangan konyol. Aku memandangmu karena takkan melihatmu lagi.” Kata Yu Ri
“Kau mau ke mana meninggalkanku?” tanya Kang Hwa. Yu Ri menegaskan Jika anak mereka lahir, maka takkan sempat melihat Kang Hwa.
“Aku sibuk memandang dia, Kau juga harus memandangnya, Pasti sulit melihatku nanti.” Ucap Yu Ri.
“Mari pandangi wajahmu.” Kata Kang Hwa langsung memegang wajah Yu Ri.
“Berhenti! Jangan begitu.” Jerit Yu Ri dengan wajah yang dipegang oleh Kang Hwa. Suasana mereka terlihat bahagia saat Yu Ri sedang hamil. 

Tapi Kang Hwa terlihat berbeda, melihat sang anak llalu berkomentar kalau tak suka jika menumpahkan makanan. Seo Woo hanya diam saja.  Yu Ri hanya diam saja. Min Jung membela Seo Woo  agar suaminya tak bersikap seperti itu karena Seo Woo masih kecil.
“Jika tumpah, pungut dan makan. Seo-woo, kau sudah lima tahun Harus bisa makan sendiri.” Ucap Kang Hwa memarahinya. 

“Astaga. Dia baru lima tahun! Bagaimana bisa makan sendiri? Kang-hwa masih menggunakan popok saat usia lima tahun. Omong kosong.. Aku akan memberi tahu Seo-woo saat dia sudah besar.” Ucap Yu Ri kesal berjalan keluar rumah.
Yu Ri tiba-tiba terdiam melihat ibu dan anak yang sudah remaja memabhas makan siang disekolah. Sang anak menjawab Babi goreng tepung. Ibunya pun akan membuatkan sup daging untuk makan malam. Sang anak pun terlihat bahagia.
Yu Ri hanya menatapnya seperti iri karena tak mungkin bisa seperti itu. Ia lalu bergegas melihat sebuah bus lalu menaiki dan duduk dibangku bus tepat disamping pintu keluar. 

GEDUNG JASA PEMAKAMAN DAHEUIN
Beberapa orang membawa foto dan juga tempat abu bertuliskan MENDIANG KANG SANG-BONG. Petugas menyalakan TV dan berita pun disiarankan.
“Pemakaman mendiang atlet bisbol, Kang Bin, yang ditemukan wafat di rumahnya beberapa hari lalu, dimulai hari ini. Dari hasil penyelidikan polisi, mendiang mengakhiri hidupnya karena rumor kecurangan skor dan skandal homoseksual. Tim yang merekrut Kang Bin...”

Di bagian tempat abu ada Jung Gwi Sun, lalu disampingnya tempat Cha Yu Ri. Saat itu terdengar suara tangisan, Kang Bin terlihat menangis menyesalinya, lalu kaget melihat beberapa orang sudah berkumpul didepanya, lalu bertanya siapa mereka.
“Kenapa dia kaget? Apa karena kita hantu?” tanya Nyonya Jung heran. Kang Bin masih bingung siapa para orang-orang yang ada didepanya.
“Malaikat pencabut nyawa! Jika masih baru, kau seharusnya memberi kami kesan yang baik. Kenapa malah menangis! Berisik sekali!” ucap Nyonya Jung mengejar Kang Bin yang ketakutan.
“Ini kali pertama dia mati. Bisa dianggap masih bayi.” Kata Nyonya Sung Mi Ja.
“Mana ada arwah yang mati dua kali?” keluh Nyonya Jung. Kang Bin akan pergi tapi anak remaja menghadangnya.
“Bukankah kau Kang Bin?” ucap Jang Young Sim, Seo Bong Yeon baru sadar kalau memang itu Atlet bisbol Kang Bin.
“Astaga! Benar! Memang dia! Kudengar kau baru wafat. Ternyata di sini.” Ucap Nyonya Seo bahagia. Nyonya Jung tak mengenal Kang Bin bertanya apakah mereka mengenalnya.
“Masa tak tahu? Dia atlet! Kau hebat mencuri base! Aku punya permintaan.” Ucap Tuan Jang Dae Chun. Kang Bin berlari kabur.
“Semua, keluar! Dia pemain bisbol terbaik!” teriak Tuan Jang. Akhirnya semua hantu pun keluar mengerubungi Kang Bin.
“Dia pesohor, Dia sama persis di TV, Dia tampan.” Komentar para hantu melihat Kang Bin.


Kang Bin berusaha kabur, semua pun mengejarnya akhirnya Kang Bin terjatuh. Tuan Jang pun mencoba membantu membangunkanya. Nyonya Sung mengaku baru kali ini melihat atlet secara langsung. Jadi senang bisa melihatnya dan semua hantu pun menyapa Kang Bin.
“Penyakitnya terlalu berat untuk seorang atlet.” Kata Young Sim. Nenek Jung ingin tahu Penyakit apa?
“Terlalu percaya diri.” Kata Young Sim lalu melihat nama di dalam tempat abu “Kang Sang Bong.
“Apa Kang Bin bukan nama asli? Nama aslinya Kang Sang-Bong.” Kata Young Sim
“Kang Bin itu nama palsu... Kau bukan Won Bin, Hyun Bin, atau Kim Woo-bin. Coba Lihat dia. Ada pesohor di lingkungan kita.” Ucap Nenek Jung
“Kenapa kau bisa wafat? Kau masih muda.” Tanya Nyonya Seo. Tuan Kwang Man Seok menjawab itu Bunuh diri dan mendengarnya di berita.
“Apa Kau bunuh diri? Enyahlah! Bermain saja dengannya.” Kata Tuan Sim Geum Jae marah pada mendorong Kang Bin pada Park Hye Jin.
“Halo, aku juga bunuh diri.” Sapa Hye Jin. Kang Bin terlihat masih ketakutan.
 Bersambung ke part 2

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09