Sabtu, 31 Desember 2016

Sinopsis Goblin Episode 9 Part 3

PS : All images credit and content copyright : TVN
Kim Sun melihat cincin di jarinya, bertanya-tanya kebencian dan dosa seperti apa,  serta Keinginan apa yang terkandung dalam cincin itu. Wang Yeo melihat dari luar dengan topinya jadi tak bisa terlihat lalu masuk ke dalam restoran. Kim Sun mengambil ponselnya sambil mengeluh karena Kim Woo Bin tak bisa dihubungi.
“Maaf. Aku tak bermaksuduntuk membuatmu berada dalam masalah.” Ucap Wang Yeo
“Kenapa dia selalu membuatku menghubunginya lebih dulu?” keluh Kim Sun, Wang Yeo panik kalau Kim Sin akan menghubunginya sekarang juga.

Kim Sun menuliskan pesan “Apa  Kau sibuk?” Wang Yeo menjawab sibuk dengan mencoba membuka password ponselnya. Kim Sun menuliskan “Sekarang, kau lagi apa?” Wang Yeo menjawab sedang berusaha membuka ponselnya agar bisa mematikanya karena takut nanti berdering.
Sampai akhirnya Ponsel Wang Yeo agar mencoba membukanya 1 menit lagi karena terus membuka dengan garis yang salah. Kim Sung menuliskan “Kenapa kau tidak balas lagi?” Wang Yeo menjawab kalau alasanya  Pertama menyesal sudah menghapus ingatanya dan yang kedua.
Wang Yeo teringat saat membuka lukisan yang dimiliki Kim Shin dengan air mata yang mengalir, lalu bertanya-tanya siapa wanita itu karena membuat hatinya merasa tercabik. Ia mengaku kalau  sudah mulai menyukai orang lain jadi meminta maaf pada Kim Sun dan merasa bingung dengan dirinya sendiri.


Tiba-tiba terdengar bunyi suara pesan masuk, Wang Yeo memberitahu Kim Sun kalau mendapatkan pesan yang masuk.  Tapi ternyata pesan dari Kim Sun masuk kedalam ponsel Wang Yeo bertuliskan “Aku merindukanmu.” Akhirnya Wang Yeo menjawab kalau sangat merindukanya juga.
Sementara Kim Sun malah ketakutan karena mendengar suara tapi tak ada pesan yang masuk, lalu merasakan tubuhnya merinding ketakutan lalu menyanyikan lagu pujian. Wang Yeo malah tersenyum melihatnya. Kim Sun akhirnya berani menantang para hantu yang menganggunya, tapi setelha itu kembali menyanyi. Wang Yeo tersenyum bahagia melihatnya. 


Kim Shin melihat Eun Tak keluar tanpa membawa barang-barangnya karena akan ikut pulang denganya. Eun Tak mengatakan akan pergi berkerja karena musim natal jadi upahnya cukup banyak, serta tidak dipecat karena kejadian kemarin.
“Setelah kita menyelesaikan masalah , maka kita harus pulang ke rumah dan merayakannya dengan makan daging, Lalu Sampai kapan kau disini?” kata Kim Shin
“Sampai Februari saat semua salju di tempat ski meleleh jadi Kau pulang saja sekarang.” Kata Eun Tak pergi meninggalkanya.
Kim Shin melotot kaget karena harus menunggu Eun Tak pulang sampai bulan february,  akhirnya ia menelp Ketua Yu agar memecat seseorang dengan menggunakan koneksinya, dengan mengancam akan melelehkan semua salju yang ada ditempat ski. 

Kim Shin dan Eun Tak akhirnya pulang dengan semua barang-barangnya, Wang Yeo menyambutnya didepan pintu. Eun Tak meminta maaf karena sudah membuat Wang Yeo khawatir. Wang Yeo mengaku sedikit khawatir tapi lebih mengkhawatirkan Kim Shin.
“Orang yang menemukanmu lebih dulu itu si Duk Hwa Dan aku yang membawamu pulang.” Kata Kim Shin bangga
“Ini pertama kalinya aku seakan-akan pulang ke rumah, jadi aneh rasanya. Tempat ini rasanya sudah seperti rumahku sekarang.” Ucap Eun Tak tersenyum bahagia.
Wang Yeo melihat Eun Tak kembali aneh dan berpikir agar  menceritakan kisah sedihnya. Kim Shi mengaku taku saat akan mengajaknya pulang, lalu akan melepaskan jaketnya. Wang Yeo menyuruh jangan melepaskan  karena harus ikut dengannya. Eun Tak menghalanginya bertanya mau dibawa kemana “pamanku” ,  Wang Yeo kaget karena Eun Tak mengakui kalau pamanya itu hanya untuknya.
Kim Shin tersenyum bahagia dalam hatinya bergumam kalau Eun Tak memanggilnya “pamanku” Wang Yeo mengumpat Kim Shin itu Norak karena sudah bisa mendengarnya. Eun Tak dibuat binggung, Kim Shin tak ingin Eun Tak tahu kalau Wang Yeo bisa mendengar suara hatinya mengajaknya untuk segera pergi. 

Wang Yeo memberitahu Eun Tak kalau Kim Shin menyukai panggilanya, lalu berteriak agar Kim Shin ikut dengannya tanpa membawa boneika si “Tuan Soba”. Keduanya ada dikedai Teh dan Kim Shin duduk dengan gugup bertanya mau diserhakan pada siapa pernyataan alasannya, dan berpikir akan menyerahkan langsung.
“Hal-hal seperti ini tidak langsung diterima di atas sana. Dewa-dewa itu mungkin menciptakan pekerjaan kit karena mereka tak mau membaca semua laporan.” Kata Wang Yeo, Kim Shin pikir lebih baik  tulisan tangannya sama
“Kubilang kalau itu kutulis pakai tangan kiri. Jadi kaudiam dan tulis saja!” kata Wang Yeo, Kim Shin tiba-tiba berkomentar kalau Si pemilik restoran ayam itu cantik, Wang Yeo kaget mendengarnya.
“Apa Kau bertemu dengannya? Kau tidak bicara hal yang tak ada gunanya, 'kan?” kata Wang Yeo panik, Kim Shin mengaku tak mengatakan apapun, tapi... Wang Yeo berpikir Kim Shin memberitahu Kim Sun kalau ia adalah malaikat pencabut nyawa
“Kau juga bilang ke Eun Tak! Kalau aku akan menghilang setelah pedangku ditarik.” Ucap Kim Shin seperti sengajak ingin membalasnya, Wang Yeo makin panik karena Kim Shin tega mengatakan hal itu. 

Tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam kedai yang hanya bisa dimasuki malaikat dan Goblin. Keduanya melonggo melihat manusia yang tak bisa dilihat dengan mata manusia. Si pria yang terlihat menahan buang air kecil meminat izin agar menggunakan kamar kecilnya.
Keduanya binggung karena pria itu adalah manusia, dan juga tidak mati. Kim Shin tahu kalau manusia tak boleh masuk. Si pria yang sudah tak tahan memohon, akhirnya Wang Yeo pun menunjuk ke arah toilet miliknya.  Kim Shin merasa pintu apapun bisa dibuka kalau manusia sedang putus asa dan Wang Yeo  masih belum percaya setelah melihatnya.
“Kau saja percaya pada dewa yang tak terlihat, kenapa kau tidak percaya manusia yang kelihatan bentuk dan rupanya? Itulah namanya kegigihan manusia. Kekuatan untuk mengubah nasib mereka sendiri.” Ucap Kim Shin
“Bagaimana bisa kedai teh bagi makhluk abadi diinjak oleh manusia? Bagaimana aku bisa menulis laporan penjelasan atas kasus ini!” kata Wang Yeo bingung
Kim Shin ingin pergi tapi Wang Yeo kembali menyuruh duduk, serta mulai menulis karena semua ini salahnya. Kim Shin pikir lebih Baik Duk Hwa saja yang menuliskan saat sampai rumah. 

Kim Sun mencoba untuk mewawancarai pelamar yang akan kerja di restoranya, tapi tak ada yang cocok. Lembaran kertas untuk mencari pekerja paruh waktu ditaruh diatas meja, Eun Tak kembali datang dengan senyuman, Kim Sun berkaca-kaca melihat Eun tak datang kembali.
“Namaku Ji Eun Tak. Umur sembilan tahun, orang tuaku meninggal dan Kalau ada pertanyaan, jangan sungkan bertanya. Aku bisa memenuhi semua syarat disini.” Ucap Eun Tak
“Apa Kau sudah ada janji hari ini?” tanya Kim Sun, Eun Tak mengelengkan kepala
“Kalau begitu ini hari pertamamu. Bekerjalah.” Kata Kim Sun, Eun Tak tersenyum bahagia menerimanya lalu bertanya kenapa restoranya pindah  ke tempat yang lebih bagus
“Hidup itu cuma punya sedikit penjelasan. Aku menyewakan apartemenku, Tapi Darimana kau tahu tempat ini? Padahal Kau saja tidak menghubungiku?” ucap Kim Sun heran,  Eun Tak mengaku tahu sendiri dengan melirik pada hantu yang memberitahukanya 

Eun Tak keluar dari restoran untuk membuang sampah, terlihat dua anak yang meminta anak kecil uang 10ribu Won, Tapi si anak kecil tak memiliki. Keduanya mengejek si anak kecil itu tuna wisma dan menyuruhnya agar mencari uang. Si anak kecil berani dengan melawan seperti pahlawan dengan mengeluarkan “Bom angin” 
Keduanya makin mengejek, menurutnya karena itu ibunya menelantarkannya, disebabkan banyak nonton film kartun. Eun Tak berteriak memarahi keduanya yang pengecut karena berani mengangguk anak kecil. Keduanya pun kabur meninggalkan anak kecil itu. Eun Tak menghampiri dengan memastikan kedaaanya.
“Suatu hari, kau pasti bisa menggunakan kekuatan-kekuatan super itu. Kau tinggal dimana? Apa dekat dari sini?” tanya Eun Tak mengelus kepala Sia anak kecil, tapi Si Anak kecil memilih untuk pergi. 

Eun tak mondar mandir dengan gelisah karena  Pengumumannya pasti sudah keluar lalu akhirnya menenangkan diri untuk melihat hasilnya pada laptopnya, wajahnya terlihat shock hasilnya lulus masuk ke jurusan komunikasi. Ia berguling-guling diatas tempat tidur dengan bahagia dan harus mencetak formulir biaya kuliah sekarang.
Beberapa saat kemudian, Eun Tak berdiri didepan kamar dengan mengingat pesan dari pihak kampus kalau ada orang yang sudah membayarnya. Sementara Kim Shin sibuk dengan menyemprotkan prafum didalam kamarnya.
“Dia memintaku memberitahukan namanyapadamu, kalau-kalau kau menghubungiku. Namanya Kim Shin.” Eun Tak tersenyum sendiri lalu masuk kedalam kamar dengan berpura-pura marah kalau Kim Shin yang membayar uang kuliahnya. Kim Shin berpura-pura kalau sudah mereka merahasiakannya.
“Tapi mereka bilang kau menyuruh mereka memberitahukan namamu.” Ucap Eun Tak, Kim Shin mengaku pihak kampus yang terus menanyani namanya jadi tak punya pilihan.
“Mereka selalu menanyai nama mahasiswanya tapi kau selalu memberitahukan mereka namamu.” Ucap Eun Tak

“Aku penasaran apa kau bakal suka hadiah ini untuk hadiah masuk kuliah.” Ucap Kim Shin memberikan sebuah tas yang sudah di isi parfum
Eun Tak langsung tersenyum bahagia menerimanya,  Kim Shin bisa mengetahuianya lalu mengucapakan selamat. Eun Tak memeluk tas yang sangat dirindukanya dan memeriksa isi tasnya. Kim Shin emmberitahu aung  5 juta won-nya sudah tak ada karena sudah ia pakai bayar uang kuliah. Eun Tak tak percaya mendengarnya 
Kim Shin malah berpikir Eun Tak itu tersentuh menegaskan hanya  meminjamkannya padanya. Eun Tak heran karena awalnya memberikannya tapi sekarang malah meminjamkanya dengan mengeluh kalau seseorang berubah secepat itu. Kim Shin menegakan kalau hanya Eun Tak sebagai manusia dirumah ini.
“Cicilannya 5200 won per bulan selama 80 tahun. Jangan pernah lupa bayar satu bulan pun” kata Kim Shin, Eun Tak tak pecaya selama 80 tahun.
“Ya. Kau tidak boleh mencicil lebih cepat dari jangka waktu itu.” Ucap Kim Shin, Eun Tak malah binggung mendengarnya, tapi akhirnya berpikir kalau memang itu sudah keinginan Kim Shin maka akan mematuhinya dan mengajaknya untuk kencan dengan tas yang dimilikinya. 


Eun Tak pergi ke kedai es krim dengan mengumpat Kim Shin itu bodoh karena malah membawa hasil ujianya saat pergi ke tempat ski, apabila membawa tas itu saja maka pasti langsung ikut pulang bersamanya. Kim Shin tak percaya padahal sudah memiliki rencana seperti itu.
“Apa Malaikat Pencabut Nyawa Ahjussi yang melarangmu?” kata Eun Tak, Kim Shin membenarkanya.
“Sudah kuduga. Kau harusnya berterima kasih padanya. Dia sudah menyelamatkan hidupmu. Kalau tidak, aku pasti sudah menarik pedangmu itu.” Ucap Eun Tak mengambil es milik Kim Shin
Kim Shin melarang Eun Tak mengambil es krim miliknya, Eun Tak mengatakan es krimnya sudah habis dan ingi meminta satu sendok saja, tapi terus menerus mengambil milik kekasihnya. Kim Shin hanya bisa tersenyum melihatnya.
“Apa ada rasa cinta disini?” tanya Eun Tak mengoda dengan memperlihatkan tasnya. Kim Shin menyuruh mencari saja karena  sudah mencoba memasukkannya.

Sek Kim memberikan  daftar hadiah yang disukai olehwanita muda seperti dimintanya. Ketua Yun binggung apa maksudnya "BTS". Sek Kim langsung menarikan lagu BTS. Ketua Yun pikir anggota Boy band itu memang mengguncang hati para wanita.
“Apa ini " EXO"? Apa ini merek alkohol?” kata Ketua Yun tak mengerti. Sek Kim pun menjelaskan kalau yang dimaksud adalah anggota boy band menarikan lagu “Growl” milik EXO.
Ketua Yun tertawa melihatnya measa Menjadi sekretaris pasti melelahkan, lalu memilih pilihan nomor 3 sebagai hadiahnya yaitu kamera digital. Sek Kim ingin menjelaskan, Ketua Yun memberitahu kalau sudah mengetahuinya. 

Duk Hwa sibuk dengan kamera melakukan sefie, Dengan pesan dari ketua Yu sebagai hadiah untuk Eun Tak “Ji Eun Tak... Selamat Semoga, dengan kamera inikau bisa mengenang momen-momenmu.Dari Yu Shin Woo.” Tiba-tiba Duk Hwa dikagetkan oleh Eun Tak yang terlihat dilayar.
“Kapan dan kenapa kaupulang lagi kesini?” tanya Duk Hwa, Eun tak heran melihat Duk Hwa kaget berpikir kalau sedang berbuat kesalahan
“Aku kaget karenawajah tampanku ini.” Kata Duk Hwa bangga memperlihatkan hasil foto selfienya.
“Kenapa kau punya kamera,bukannya kau tak punya uang?” tanya Eun Tak heran, Duk Hwa mengatakan kalau itu miliknya, Eun Tak bingung kenapa itu bisa jadi miliknya.
“Ini hadiah dari kakekku Dan fotoku adalahhadiah dariku.” Ucap Duk Hwa, Eun Tak melihat kartu dari kakek merasa terharu membacanya lalu mengulurkan tanga meminta agar memberikannya
Duk Hwa mengaku kalau hadiah satu-satunya yang pernah diterimanya hanya sebuah bangunan meminta agar bisa meminjamnya 10 menit saja, Eun Tak tetap memintanya, Duk Hwa menurunkan jadi 5 menit, Eun Tak tetap menolaknya akhirnya mereka pun kejar-kejaran didalam rumah. 

Kim Shin melihat keduanya kejar-kejaran merasa kalau ada anak-anak di rumah maka susananya jauh lebih hidup, lalu bertanya apakah mendapat lagi kartu daftar namanya. Wang Yeo pikir sudah mengatakan kalau mendapatkan lagi tapi tetap penasaran dan bertanya apa yang akan dilakukan Kim Shin sekarang.
“Apa kau ingat... Pria yang menerobos masuk ke ruangan tehmu itu?” kata Kim Shin, Wang Yeo pikir tak mungkin melupakanya
“Keputusasaan seorang manusiabisa membuka pintu apapun.Mungkin satu pintu yang terbuka sedemikian rupa itu bisa jadi variabel dalam rencana dewa. Aku berencana untuk memulai pencarian pintu Dengan putus asa. Pintu apa yang harus kubuka untuk mengubah rencana dewa itu? Mungkin butuh 100 tahun, 10 bulan, aku tak tahu tapi untuk saat ini aku sudah memutuskan untuk tinggal di sisinya. Dan kemudian... Aku mungkin bisa membuka pintu itu.” Ungkap Kim Shin

“Kuharap pintu yang akan kau buka itu bukan pintu kamarku.” Kata Wang Yeo
Kim Shin bertanya-tanyab kenapa dewa  terlibat dalam pintu toilet dan itu begitu penting. Wang Yeo mengaku kalau sebelumnya sudah tersentuh dengan perkataan Kim Shin tapi malah sekarang membuatnya kesal. Duk Hwa memanggil dua pamanya untuk mengajak foto, Kim Shin mendorong Wang Yeo agar menjauh karena ingin foto berdua dengan Eun Tak. Wang Yeo menolak tetap ingin ikut difoto, akhirnya ketiganya foto bersama dengan senyuman bahagia. 


Wang Yeo mengatakan kalau memiliki pertanyaan dan akan pindah dari tempat duduknya kalau Eun Tak menjawabnya. Eun Tak mengeluh apa lagi sekarang. Beberapa saat kemudian, Wang Yeo terlihat kebingungan berjalan dengan Kim Sun dengan mengingat saran dari Eun Tak “Menyetir mundur dengan sangat cepat, Memecahkan soal matematika dengan pensil, Tersenyum saat berbicara. Jangan sampai dia dekat jalan yang banyak mobil.”
Kim Sun binggung melihat Wang Yeo malah berjalan didepanya, seperti menghalanginya. Wang Yeo merasa berbahaya jadi meminta agar Kim Sun tak terlalu ke pinggir jalan. Kim Sun heran melihat tingkah Wang Yeo yang aneh dan bisa mengetahui ada yang ingin dikatakan.
“Aku tak punya agama.” Kata Wang Yeo, Kim Sun binggung Wang Yeo mengejeknya sudah pandai bicara. 

Teringat kembali saat terakhir kali Kim Sun bertanya apakah Wang Yeo memiliki agama,  dan merasa kalau selama ini tak bisa dihubungi memikirkan hal itu. Wang Yeo mengaku tak sempat memberitahukanya dengan senyuman lebar mengikuti tips dari Eun Tak, Kim Sun malah curiga melihat Wang Yeo yang terus tersenyum berpikir kalau ada yang aneh dengan riasannya.
“Bukannya menurutmu aku ini imut?” kata Wang Yeo percaya diri, Kim Sung mengatakan tidak.
“Lalu Kenapa kau tidak menjumpaiku waktu hari Natal! Kau pasti imut kalau datang hari itu. Jadi kau selama ini melakukan apa saja? Kau pasti tidak mungkin berada di gereja.” Kata Kim Sun penasaran
“Natal itu sedikit... ya kau tahulah. Karena Natal itu  hari lahirnya seseorang. Jadi serba salah aku menentangnya. Tapi, aku sudah bilang aku tidak punya agama. Lalu Apa kau sungguh tidak menganggapku aku ini imut?” ungkap Wang Yeo
Kim Sun melihat tingkah Wang Yeo merasa merinding karena merasakan deja vu dan mengingat kalau situasia ini pernah terjadi sebelumnya dan masih jelas dalam ingatannya 

Eun Tak pikir Kim Shin tidak perlu berjalan bersamanya, Kim Shin mengejek kenapa baru bilang padahal sudah sampai didepan restoran tempatnya berkerja. Eun Tak melihat ada si Malaikat Pencabut Nyawa dan memberitahu kalau Sebagian besar untung restora berasal dari dompetnya orang itu bukan orang seperti Kim Shin
“Memang berapa harga ayam gorengnya? Aku bisa membeli seluruh ayam di restoran itu.” Kata Kim Shin kesa
“Eh... kau itu takut darah ayam. Aku baca semuanya tentang goblin.” Kata Eun Tak
“Aku tidak takut, hanya jaga jarak saja dari darah itu.” Kata Kim Shin, Eun Tak mengingat kalau itu alasanya mencarikan kerja untuknya pada restoran ayam agar bisa jauh denganya.  Kim Shin mengaku kalau itu dulu
“Aku sudah tahu sekarang, jadi kau bisa pergi sekarang. Aku akan tinggal di sini selama 1.000 tahun ke depan..., jadi jangan datang cari aku. Dasar Pengecut.” Komentar Eun Tak, Kim Shin tak terima dianggap pengecut.
“Tak pernah ada orang yang bilang begitu padaku dan kau yang pertama. Dulu, semua orang bersorak-sorak padaku.. berteriak "Manse!"” ucap Kim Shin dianggap seperti raja. Eun Tak seperti tak peduli, Kim Shin memilih untuk masuk ke dalam restoran. 

Didalam restoran
Kim Shin dan Kim Sun saling menatap sinis seperti penuh rasa dendam, Eun Tak dan Wang Yeo saling berpandanganya dengan wajah binggung dan keduanya seperti tak tahu dengan keadaanya.  Kim Sun berbisik pada Eun Eun Tak dengan suara lantang “Apa dia pria yang selalu menyusahkanmu?”  Eun Tak mengataka kalau keduanya bisa mendengarnyakanya.
“ Dia bicara “Apa Kau tidak kenal suaraku? Biasanya suaraku tidak mudah dilupakan. Itu, panggilan telepon waktu darinya kan?” balas Kim Shin  berbisik pada Wang Yeo, Wang Yeo menyuruh Kim Shin diam karena bisa semua bisa medengarnya suara yang lantang.
“Kita bertemu lagi rupanya. Aku tak menyangka kalian berdua berteman. Dia datang ke restoran lama mencarimu waktu itu.” Ucap Kim Sun, Eun Tak bisa mengerti.
“Seberapa banyak yang kau katakan padanya?” bisik Eun Tak, Kim Shin mengaku tak banyak. Kim Sun membenarkan.

“Aku belum menyelidiki pria ini saat itu.” Ucap Kim Sun bertanya umurnya dengan lebih dulu meminta maaf. Kim Shin pikir tak perlu meminta maaf kalau memang ingin bertanya.
“Kau dengan liciknya menghindari pertanyaanku rupanya.” Ucap Kim Sun sinis
“Aku memang langsung menolak menjawab pertanyaanmu.” Balas Kim Shin
Wang Yeo kebinggungan karena keduanya mulai adu mulut, Kim Sun merasa ucapan Kim Shi terlalu kasar.  Kim Shin pikir itu karena dirinya lebih tua dari penampilanya dan seorang pria yang cukup rumit. Eun Tak pikir kalau mereka selesai bicara lebih baik pergi saja karena nanti banyak pelanggan akan segera datang.
Kim Shin menolak karena belum makan. Wang Yep pikir Kim Shin sudah selesai makan dan menyuruhnya untuk segara pulang  karena temanya itu semuanya jadi canggung. Eun tak menyuruh keduanya pulang, keduanya menolak tak ingin meninggalkan restoran. 


Akhirnya Eun Tak sibuk melayani pelanggan yang datang dan Wang Yeo berusaha untuk memecahkan pelajaran matematika dengan kacamatanya. Kim Shin bingung apa yang dilakkanya. Wang Yeo mengejek Kim Shin itu tak tahu menahu tentang masalah wanita. Kim Shin merasa wang yeo  tidak tahu jawabannya. Wang Yeo menyuruh Kim Shin lebih baik minum bir saja.
“Permisi, Kim Sun... Bisa tambah dua bir lagi?” kata Wang Yeo mengangkat dua tangan dengan senyumanya. Kim Sun kaget mendengar namanya di panggil. Kim Shin pun ikut kaget. Akhirnya Kim Sun mendekat meminta agar bisa bicara sebentar. Kim Shin menatap keluar jendela. 

Kim Sun bertanya apa maksudnya tadi, memanggil nama Kim Sun bukan Sunny. Wang Yeo pikir tak ada yang salah. Kim Sun merasa belum pernah memberitahukan namanya.  Wang Yeo terdiam mengingat saat terakhir kalau merasakan dadanya kesakitan berusaha menhilangkan ingatan Kim Sun.
“Darimana kau tahu namaku? Kenapa kau bisa tahu?” tanya Kim Sun curiga.
“Aku tadi memanggilmu Kim Sunny.” Kata Wang Yeo mencoba mengalihkan dengan ingin mengambilkan mantel karena pasti diluar dingin.
Kim Sun  menarik tanganya karena belum selesai bicara. Wang Yeo terdiam seperti merasakan sesuatu, dijari Kim Sun mengunakan cincin yang diberikan Wang Yeo padanya. Wang Yeo melihat tangan Kim Sun yang menyentuh tanganya. 

Seperti ingatan Wang Yeo sedikit terbuka melihat seorang wanita yang tak bernyawa dengan cincin yang sama dengan tertusuk dibagian dada, Ketika membuka gambar milik Kim Shin air matanya langsung mengalir. Lalu Raja yang marah pada Ratu dengan menemukan sebuah cincin yang membuatnya seperti terbakar cemburu.
“Ada yang tidak beres.Sepertinya... ini bermula darimu.” Gumam Wang Yeo melihat gambar milik Kim Shin
Ratu melihat dari jendela tandunya, seperti kaget melihat seseorang yang datang. Kim Shin melihat dari kejauhan tangan Wang Yeo yang tersentuh oleh tangan Kim Sun. Gambaran ratu sedang berlatih berjalan kembali terlihat dan raja pun mengintip melihatnya dengan senyuman bahagia. Wang Yeo seperti melihat sosok ratu di depanya. Kim Sun bertanya apa apa.
“Sebenarnya... kenapa” kata Wang Yeo terlihat binggung, Kim Shin terus melihatnya seperti bisa menduga sesuatu. Jari Kim Sun masih memegang erat tangan Wang Yeo tanpa terlepas. 
bersambung ke  Episode 10

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar