Kamis, 29 Desember 2016

Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 13 Part 1

PS : All images credit and content copyright : SBS
Joon Jae bertanya pada Sim Chung Berapa lama akan memikirkannya. Sim Chung akan menaiki tangga menjawab Sepanjang malam. Joon Jae mengaku tak tahu apa yang akan dipikirkan Sim Chung tapi  tapi apa pun itu meminta agar tak melakukannya.
“Apa artinya ini? Apa maksudnya jangan memikirkan tentang dia? Apa dia marah padaku? Kenapa?”  gumam Sim Chung panik, Joon Jae pun bisa mendengar suara hati Sim Chung
“Sekarang lebih baik kau tenanglah. Mulai sekarang jangan memikirkan apapun. Dan... jangan melakukan apapun.” Kata Joon Jae lalu memberikan ciuman untuk membuktikanya. 

Sim Chung berbaring ditempat tidurnya, terlihat gelisah karena bahagia lalu memanggil Joon Jae yang sudah tertidur lelap. Joon Jae kembali bermimpi melihat perahu dan wajah Tuan Yang yang mirip dengan Dae Young, dengan banyak lentera dilepaskan dilangit.
“Pasti ada alasan kenapa kepala desa melepaskan lentera ke langit di atas laut. Ketika lanteranya dilepaskan di atas laut, Putri duyung pasti akan muncul ke permukaan laut.”
Joon Jae mengingau memanggil nama Sea Hwa, dengan wajah mirip dengan Sim Chung, Ketika membuka mata Sim Chung sudah ada didepanya. Sim Chung menenangkan Joon Jae yang terlihat panik kalau tadi bermimpi. Joon Jae langsung memeluk Sim Chung.
“Apa mimpimu menakutkan?” tanya Sim Chung, Joon Jae mengaku sangat menakutkan.Sim Chung pun ingin tahu ceritanya.
“Aku tahu. Awalnya aku tak punya apapun yang harus  aku takutkan jika kehilangan. Tapi sekarang, itu menakutkan. Sekarang akuakan kehilangan sesuatu...” kata Joon Jae, Sim Chung bertanya siapa orangnya.  Joon Jae binggung menjawabnya., Sim Chung mendengar yang dimaksud adalah Sea Hwa. Joon Jae kaget mendengarnya.

“Aku mendengar semuanya. Kau berkata, "Tidak, Se Hwa." Siapa Se Hwa? Apa dia juga ikan yang menggodamu?”nad kata Sim Chung dengan nada cemburu, Joon Jae mengatakan bukan seperti itu maksudnya.
“Apa dia seorang wanita?” tanya Sim Chung, Jon Jae membenarkan dengan menatap Sim Chung.  Sim Chung mengangguk mengerti lalu bertanya apakah wanita itu cantik. Joon Jae sengaja mengoda haruskan menjawabnya jujur. 
“Kau harus jujur padaku. Kita sudah janji untuk tidak berbohong satu sama lain.” Kata Sim Chung, Joon Jae mengatakan kalau wanita itu sangat cantik.
Sim Chung cemberut, lalu bertanya kalau pendapat tentang dirinya. Joon Jae menjawab Sim Chung itu cantik. Sim Chung kesal  karena Joon Jae harus memutuskan malah mengataka kalau mereka berdua sangat cantik, dan menganggap mereka itu seperti gurita. Joon Jae tak percaya Sim Chung bisa bicara dengan gurita juga.
“Cepat dan jawablah. Aku berbicara menggunakan huruf Gungsuh.” Kata Sim Chung, Joon Jae binggung apa yang dimaksud huruf "Gungsuh"

“Ini adalah huruf Gungsuh. Yang artinya aku serius. Apa kau tak tahu kata ini, Heo Joon Jae? Ini ada di internet. Pokoknya, cepat dan jawablah karena aku berbicara dengan huruf Gungsuh.” Kata Sim Chung tak ingin berlama-lama lagi.
“Yah, tentu saja... Dia adalah kau.” Kata Joon Jae, Sim Chung kembali bergumam berpikir kalau Joon Jae mengatakan hal i hanya untuk membodohinya.
“Bagaimana perasaannya pada Se Hwa? Apa dia nyata? Apa dia tidak menipuku? Apa aku benar- benar lebih cantik daripada Se Hwa? Di mana dia tinggal? Apa pekerjaannya?” gumam Sim Chung
Joon Jae sengaja melihat dengan menatapnya lebih dekat dan memberitahu kalau Sea Hwa itu Sim Chung. Sim Chung pun memujinya “anjing yang manis.” Dan menjelaskan bukan berarti menyukai anjing. Tapi itu sangat menyukai hal ini karena Semua orang di internet menggunakan istilah itu dan menyuruh Joon Jae untuk menghafalnya. 

Joon Jae melihat Sim Chung yang berdiri dari tempat tidurnya, bertanya mau kemana. Sim Chung mengatakan harus naik kekamarnya. Joon Jae menariknya melarang Sim Chung kembali ke kamarnya. Sim Chung merasa Joon Jae sedang mabuk, karena itu perkataannya kalau sedang bicara. Joon Jae menyuruh Sim Chung untuk menganggapnya sedang mabuk dan meminta agar tak pergi dengan menariknya ke atas tempat tidur.
Sim Chung berbisik kalau ia tak akan pergi karena Joon Jae memeluknya dengan sangat erat, Joon Jae memejamkan matanya. Sim Chung menatapnya ingin membahas tentang yang Sebelumnya, itu... Joon Jae membuka matanya bertanya apa yang ingin dikatakanya. Sim Chung terlihat gugup dan Joon Jae memberikan kecupan di bibir Sim Chung.

“Apakah ini yang kau maksud?” kata Joon Jae, Sim Chung tersenyum membenarkan.
“ Mengenai Soal ini, bolehkah aku tak melupakan yang satu ini?” kata Sim Chung
“Tentu saja kau tak boleh melupakannya. Apa Yang akan terjadi jika kau melupakannya?” kata Joon Jae, Sim Chung pun setuju kalau tidak akan melupakanya.
“Ayo kita tidur. Aku harus tidur denganmu seperti ini agar tak bermimpi buruk lagi.” Kata Joon Jae makin memeluk erat Sim Chung
“Heo Joon Jae, ku harap kau akan bermimpi buruk setiap hari. Mimpi buruk... Aku sangat menyukainya.” Gumam Sim Chung, Joon Jae tersenyum bisa mendengar suara hati Sim Chung. 

Sim Chung masih membuka matanya dan melihat Joon Jae yang sudah tertidur lelap, lalu berusaha untuk melepaskan pelukan Joon Jae dan berlari ke balkon. Suara hatinya menjerit bahagia “Heo Joon Jae menyukaiku.” Terus menerus sampai semua lampu di kota Seoul bahkan sampai ke Menara Namsan.
“Bagaimana bisa berdebar-debar begini?! Ini sangat panas. Kenapa aku merasa begitu panas? Ahh... Kekuatanku, aku tidak bisa mengendalikannya!” ungkap Sim Chung yang berusaha melepaskan seluruh bajunya karena terasa panas. 

Nyonya Mo terdiam dikamar dengan meminum soju, Jin Joo datang memamnggilnya agar bisa mengambilkan air madu, matanya langsung terbuka kaget karena melihat pembantunya itu minum soju dalam kamar.
“Aku merasa ingin muntah jika melihat alkohol. Soju dan bahkan kimchi di saat yang bersamaan.” Ungkap Jin Joo, Nyonya Mo pun memberikan secangkir air madu untuk majikanya.,
“Ahjumma, kenapa kau minum? Apa sesuatu terjadi?” kata Jin Joo, Nyonya Mo terdiam menatapnya, Jin Joo dibuat binggung. Nyonya Mo mengaku kalau ia bersyukur karena Sudah lama sekali tak ada yang bertanya jika punya masalah. Jin Joo pun penasaran apa yang terjadi pada pembantunya itu.

“Aku bertemu mantan suamiku hari ini.” Cerita Nyonya Mo, Jin Joo kaget bertanya apakah bertemu Secara kebetulan
“Meskipun begitu, kami saling menatap, tapi dia pura-pura tidak melihatku.” Ungkap Nyonya Mo sedih, Jin Joo pikir kalau mungkin mantan suaminya itu terkejut.
“Aku bisa mengerti jika diaterkejut atau bingung, Tapi dia benar-benar seperti melihat orang asing. Ada hal yang tak bisa di sembuhkan seiring berjalannya waktu. Sudah selama ini, tapi masih saja perasaan ku terasa sakit.” Ungkap Nyonya Mo menatap kosong. 


Jin Joo mengambil dua gelas dan juga Wine, Nyonya Mo binggung karena sebelumnya berkata merasa ingin muntah jika melihat alkohol. Jin Joo pikir tak mungkin kalau tak minum setelah mendengar cerita itu,  dengan mengajaknya minum wine dibanding Soju.
“Aku juga sangat marah hari ini. Wanita yang selalu ku bawakan makanan... Ah... Tidak... setelah minum... Aku mengamuk di depan wanita itu. Karena kelakuanku itu, maka kau tak bisa membayangkan betapa dinginnya dia dan mengangkat bahuku. Aku bahkan berlutut di depannya dan dia pura-pura tidak melihatku.” Cerita Jin Joo, Nyonya Mo tak percaya majikanya itu bahkan sampai berlutut.
“Ya. Aku melakukannya. Tapi jujur, aku tak mengatakan sesuatu yang salah. Wanita itu, mencuri suami sahabat SMAnya agar bisa mengambil posisi sahabatnya. Dia benar-benar berhati busuk, kan? Istri pertama suaminya tidak menerima harta sama sekali, dan dia pergi seolah-olah diusir, Bahkan Tak ada kabar tentangnya. Dia menghilang.” Cerita Jin Joo

Nyonya Mo heran bertanya-tanya Kisah rumah tangga seperti apa itu, Jin Joo pikir Nyonya Mo mungkin tak kenal orang ini dan memberitahu seseorang bernama Heo Il Joong. Nyonya Mo melotot kaget mendengar nama mantan suaminya disebut.
“Dia adalah pemimpin perusahaan real estate. Setidaknyadia punya mungkin 3 atau 4 bangunan besar di Gangnam Itu benar-benar lelucon. Tapi kau tahu apa yang lebih lucu tentang keluarga itu, mereka sedang membangun sebuah kota baru. Tapi kemudian, apa mereka tak membiarkan kami terlibat dengan proyek itu?Kami menawarkan begitu banyak makanan..” Cerita Jin Joo benar-benar kesal
Nyonya Moo bertanya apakah yang diceritakan sebelumnya tentang keluarga itu. Jin Joo membenarkan. Nyonya Mo tak percaya kalau masakannya itu dibawa untuk keluarga mantan suaminya. Jin Joo berkata tak akan tinggal diam karena  akan menyebarkan rumor itu ke seluruh Gangnam. Nyonya Mo berkomentar kalau Dunia ini begitu kecil.


Seo Hee bertemu dengan Pengacara Kim memastikan kalausudah merubah isinya sesuai dengan apa yang dikatakan, Sehingga semuanya akan diwariskan pada Chi Hyun dan dirinya. Pengacara Kim membenarkan, tapi wajahnya terlihat khawatir
“Kita perlu memastikan jumlah minimal warisan atas nama Heo Joon Jae, bisa saja CEO sadar kita sudah mengubah isi warisannya.” Kata pengacara
“Ah Benarkah begitu? Kau hanya perlu melalukan apa yang ku perintahkan. Dan tentang Perwakilan Lee dan Direktur Eksekutif Jeong, Apa Mereka akan menjadi saksi yang benar danSemuanya sudah disepakati dengan benar?” tanya Seo Hee,
“Ya, itu sudah dilakukan. Tapi semuanya akan baik-baik saja?” kata Pengacara Kim terlihat ragu.
Seo Hee menyakikan kalau mereka semua itu  akan melakukannya secara gratis dan hal itu juga berlaku pada pengacaranya. Kaena Jika hal ini berjalan dengan baik, maka pengacara itu mungkin bisa mendirikan firma hukum.

Pengacara Kim memberikan lembaran surat diatas meja dengan saksi didepanya. Tuan Heo seperti tak bisa melihat dengan jelas dan hanya bayangan saja. Pengacara Kim memberitahua mengaturnya seperti yang sudah diperintahkan.
“Surat Perjanjian Wasiat dan Warisan tertanggal 28 Desember 2016,” Pengacara Kim pun memperlihatan surat Wasiat dan warisan atas nama Heo Il Joong dan bertanya apaaka dua orang saksi siap menyaksikanya. Keduanya pun siap menjadi saksi.Pengacara Kim meminta agar Tuan Heo memberikan stempelnya.
Tuan Heo mengaku kalau tak bisa melihat dengan baik, Pengacara Kim dengan sengaja mengarahkan tanganya pada tempat biasa memberiakn stempel. Chi Hyun akan masuk ke dalam ruangan menatap sinis seperti tak percaya kalau ibunya bisa melakukan hal seperti itu. 

Nam Doo melihat ruangan tengah yang banyak berubah, Sim Chung baru selesai mendorong kursi mengaku tidak bisa tidur jadi sedikit mengubahnya. Nam Do heran Sim Chung yang melakukanya sendiri padahal sangat berat. Sim Chung mengaku tak berat sama sekali.
Joon Jae baru saja selesai mandi dan mendengar suara hati Sim Chung “Heo Joon Jae menyukaiku. Heo Joon Jae menyukaiku.”lalu tersenyum bahagia, ketika memilih baju masih terdengar suara yang sama.
“Betapa leganya karena hanya aku yang bisa mendengarnya... Ahh... Sudah cukup sekarang.” Ungkap Joon Jae tak bisa lagi menahan senyuman bahagia memilih bajunya. 

Sim Chung menyapa Joon Jae yang baru keluar kamar,  lalu bertanya jika sewa rumah berakhir kemana akan kita pindah, Joon Jae mengaku belum tahu dan masih memikirkannya. Sim Chung mengaku merasa begitu sehat jadi berpikir lebih baik memindah-mindahkan perabotan lebih awal.Joon Jae binggung karena Sim Chung memindahkan semua barang.
“Siapa yang sudah mengganti baterainya? Ajak dia keluar. Ini sangat membingungkan.” Ungkap Nam Do yang kembali berbaring di sofa.
“Kenapa mengajaknya keluar? Di sini bagus. Kau mau sarapan apa?” tanya Joon Jae, Nam Do menyembut nasi dan Sim Chung menjawab pasta,
Nam Do mengeluh pagi-pagi harusnya makan nasi, Joon Jae melihat mereka tak punya pasta, Sim Chung dengan bersemangat akan pergi dan membelinya. Joon Jae pun memperbolehkanya pergi dan siap untuk membuat saus pastanya. 

Sim Chung melihat Nenek yang sedang menarik gerobak kardus, mencoba menolonganya dengan semua kekuatan yang dimilikinya bisa menarik dengan jalan menanjak sangat cepat. Seorang wanita hamil, terlihat kesusahan membuang sampah, Sim Chung dengan satu tangan bisa memindahkanya.
Sebuah mobil terpakir di pinggir jalan, mobil ambulance tak bisa melewatinya dan meminta agar memanggil bantuanya. Ketika polisi datang dibuat binggung karena mobil itu sudah tak ada. Sim Chung berdiri setelah semua pergi dengan kekuatanya bisa memindahkan mobil.
Nam Doo mengeluh Sim Chung yang belum datang berpikir sedang membuat pasta bukan membelinya lalu menyuruh Tae Oh menelpnya.  Joon Jae kembali mendengar suara hati Sim Chung yang masih mengata “Heo Joon Jae menyukaiku.” Lalu memberitahu kalau sudah datang. Nam Do binggung.
Sim Chung masuk rumah dengan membawa sebungkus pasta,  Nam Doo berpikir mereka berkomunikasi melalui telepati sekarang. Joon Jae hanya bisa tersenyum. 

Mereka berempat pun sarapan bersama, Nam Do mengatakan Lebih baik  menutup kasus Ahn Jin Joo karena kerugiannya yang terlalu besar dan punya pekerjaan baru yang sudah diselidiki. Sim Chung langsung melirik sinis karena pasti tentang penipuan lagi.
“Tidak, kali ini bukan hal yang buruk tapi Dia adalah orang yang lebih busuk lagi. Bahkan Dia adalah seseorang yang mengumpulkan uang dari penipuan suara.” Ungkap Nam Doo, Joon Jae mengatakan kalau tak akan melakukannya.
“Apa Kau tak mau melakukanya?”kata Nam Doo kaget, Joon Jae membenarkan lalu memberikan senyumanya.
“Seperti yang ku harapkan, Heo Joon Jae benar-benar menyukaiku.” Gumam Sim Chung, Joon Jae terlihat makin senang mendengarnya.  Nam Doo terdiam karena Joon Jae bisa berubah karena Sim Chung. 


Joon Jae datang menemui Nam Do di depan kolam renang, Nam Do dengan wajah serius menyuruh Joon Jae agar duduk, lalu berpikir temanya itu Apa  menderita karena berbicara seperti ini. Joon Jae heran kenapa Nam Doo berkata seperti itu.
“Tae Oh menemukan taksi Ma Dae Young sehingga kita akan bertemu dengan Detektif Hong.” Kata Joon Jae.
“Baguslah. Si penipu itu mengungkapkan tempat tinggalnya pada detektif. Apa kau membuat janji untuk bertemu? Apa kalian sudah berteman baik? Kemudian, kau dan dia mungkin akan bersahabat.” Sindir Nam Do, Joon Jae tak mengerti apa maksud perkataanya.
“Benar. Kau... aku tahu kau menyukai Cheong. Tapi sudah berapa lama kau bertemu dengannya?Belum lama, kan? Baru sekitar 3 bulan. Sementara Kau dan aku sudah bersama 10 tahun. Lalu 3 bulan bersama Chung begitu penting tapi 10 tahun bersamaku pasti terasa seperti sampah.” Kata Nam Do geram
“Aku sudah berjanji padanya dan ingin menepati janji itu.” Tegas Joon Jae

“Apa kau tidak berjanji padaku? Kau bilang kitaakan bekerja sama sampai kau menemukan ibumu.Hanya karena janji itu, aku merawat bocah tukangkabur dengan darah di kepalanya bahkan belum kering, Memberi dia makan, membelikan dia baju, memberi dia rumah dan menyekolahkannya!” kata Nam Doo.
Joon Jae mengingatkan kalau Nam Do itu tinggal dirumahnya sekarang, Nam Doo makin penasaran kenapa Joon Jae tak mengatakannya, menurutnya jika Joon Jae melarangnya pergi di cuaca yang bagus maka  akan tetap pergi, bahkan ketika pemanas dikamarnya rusak Joon Jae  tidak memperbaikinya.
“Sekarang, aku lelah dengan ketidakpedulianmu terhadapku.” Ungkap Nam Doo, Joon Jae memilih untuk pergi saja, Nam Do menariknya agar Joon jae kembali duduk.
“Hey. Ada pepatah lama, "Bin-cheon-ji-gyo-bool-ga-mang. Jo-geng-ji-cheo-bool-ha-dang." Kau tak bisa melupakan teman-temanmu saat kau susah. Kau tak boleh mencampakkan istri pertamamu yaitu yang susah bersamamu”kata  Nam Do, Joon Jae menyindir kalau Nam Do bukan istri pertamanya.

“Tidak! Akulah temanmu saat kau benar-benar susah. Sekarang aku mau bertanya sesuatu. Jika Chung dan aku jatuh ke dalam air, siapa yang akan kau selamatkan duluan?” kaa Nam Do, Joon Jae tersenyum menjawab kalau sudah pasti Nam Doo, Nam Do tak percaya mendengarnya.
“Jika aku membiarkan itu, maka aku rasa Chung akan menyelamatkanmu. Aku tak suka itu.” Kata Joon Jae, Nam Doo tak peduli penjelasanya dan ingin bertanya tentang Tae Oh
“Kau mengajaknya padahal dia hidup dengan nyaman di Jepang. Kau terpikat padanya karena dia punya kemampuan internet yang lebih hebat dari yang ada di Korea! Apa yang akan kau lakukan pada Tae Oh yang mengikuti kita ke sini karena kata-katamu yang tak bertanggung jawab itu?!”ucap Nam Doo
Joon Jae melihat ponselnya yang berdiri, Detektif Hong menelp dan Joon Jae pun akan pergi sekarang. Nam Do dibuat binggung karena Joon Jae meninggalkan begitu saja. 

[Reka Ulang Adegan Kriminal]
Beberapa mobil polisi sudah terparkir di pinggir sungai,  Detektif Hong dengan anak buahnya, beserta Joon Jae unyuk melihatnya. Detektif Hong mengetahui Joon Jae yang menemukannya padahal mereka tak bisa menemukannya terekam di black box mobil Dan meminta agar menghubungi kantor pusat.
“Bagaimana kau bisa seperti itu ?” tanya Detektif Hong, Joon Jae menjawab kalau itu adalah bakatnya.
“Ini memang ulah hacker. Bagaimanapun itu, kami  akan tetap memanggil tim ahli kami.” Kata Detektif Hong menahan emosi, Joon Jae pun tak peduli
“Saat ini, kau memang hanya akan mengatakan itu. Apapun alasan Ma Dae Young menuju kesini, kita masih belum tahu itu. Bahkan jika kita menonton rekaman yang ada di black box, semuanya gelap dan dia mengenakan topi sehingga kita tidak bisa mengkonfirmasi siapa itu.” Kata anak buah Detektif Hong

“Ya benar. Kita memang belum bisa memastikan siapa yang ada di rekaman itu. Tapi pasti ada sesuatu, mungkin DNA atau sidik jari.” Kata Joon Jae yakin
Anak Buah Detektif Hong merasa dihina dan meminta izin agar bisa memukulnya, Detektif Hong pun mengaku tak akan menghentikannya. Saat itu tim forensik memberitahu  tak bisa menemukan sidik jarinya dan sudah memeriksa semuanya menurutnya mungkin sudah menghapusnya.
“Bagaimana dengan tanda-tanda kerusakan mobil?” tanya Joon Jae
“Dibagian depan ini menunjukan jejak,  ada goresan sebelum dia kabur.” Kata Petugas. Joon Jae pun bertanya bagian dalam mobil.
“Tak ada kerusakan apapun di dalam mobil.” Kata Petugas, Joon Jae pun bertanya apakah ada jejak darah di dalam mobil. Petugas mengatakan tak ada dan bertanya apakah Joon Jae seorang jaksa.
“Jangan perdulikan dia. Apa ada yang lain yang di temukan?” kata Detektif Hong, Petugas pun memberikan sebuah boneka gurita yang sudah dibungkus plastik sebagai barang bukti.
Detektif Hong tahu kalau itu adalah boneka Gurita yang dijatuhkan Joon Jae sebelumnya, Joon Jae menyuruh agar memeriksa  tempat sampah terdekat kalau Pasti ada yang di buangnya di sana. Detektif Hong memperingatkan Joon Jae agar tak seenaknya memberikan perintah.
“Rumah Sakit.” Kata Joon Jae mengingat kejadian sebelumnya, Detektif Hong binggung rumah sakit apa yang dimaksud.
“Sejak dia meninggalkan taksi itu, aku jadi bertanya-tanya. Dia melarikan diri dari rumah sakit dengan tergesa- gesa jadi dia tak punya waktu yang cukup. Ada wadah besar yang penuh dengan air di dalam ruang operasi.” Ucap Joon Jae mengingat saat masuk ke dalam ruang operasi sendirian.
“Melihat airnya yang hampir penuh,  sepertinya airnya di isi hari itu juga. Jika Ma Dae Young memindahkan wadah air itu, pasti ada sidik jarinya di sana.” Kata Joon Jae. Detektif Hong pikir mungkin bisa menemukanya, tapi menurutnya kenapa Ma Dae Young menampung air itu setelah itu kabur. Joon Jae mengingat mimpinya dengan wajah Dae Young dengan pakaian kerajaan. 


Jin Joo kaget karena Nyonya Moo ingin berhenti dan berpikir melakukan sesuatu yang membuatnya kesal. Nyonya Mo mengatakan tidak seperti itu tapi hanya ingin beristirahat. Jin Joon pun menolaknya karna  Tak mudah menemukanseseorang yang bekerja keras sepertinya.
“Dan pada awalnya, ku pikir kau punya kepribadian yang aneh. Tapi aku bisa menerimanya sekarang.” Kata Jin Joo
“Aku minta maaf. Ini karena alasan pribadi.” Nyonya Moo

Si Ah datang langsung menyinggung kalau Nyonya Mo yang memprotes soal gajinya. Nyonya Mo mengatakan tidak seperti itu. Jin Joo menyuruh adik iparnya pergi saja. Si Ha pikir kalau memang Nyonya Mo sudah memutuskan ingin pergi jadi kakaknya tak perlu membujuknya.
“Ahjumma, jika kau memang mau berhenti setidaknya tunggu sampai kami menemukan penggantimu, Itu aturannya.” Kata Nyonya Mo
“Ya. Aku akan bekerja sampai kau mendapatkan penggantiku. Maafkan aku.” Ucap Nyonya Mo
“Kalau begitu kau masih bekerja, kan? Pergilah ke suatu tempat setelah  aku menyelesaikan pekerjaanku.” Si Ah, Nyonya Mo bertanya kemana, Si Ah mengatakan kan mengirimkan alamatnya jadi bibinya itu tinggal datang saja. 


Nyonya Mo membawa barang belanjan dengan ponsel ditanganya mencari-cari alamat, tiba-tiba sebuah sepeda motor lewat dan langsung menjambret tasnya. Sim Chung yang melihatnya langsung berlari mengejarnya, Nyonya Mo melonggo binggung karena seorang wanita yang berani mengejar pengendara motor.
Sim Chung datang dengan senyumanya memberikan tas milik Nyonya Mo dan membantu membereskan barang belanjaan yang jatuh. Nyonya Mo mengucapkan terimakasih atas bantuanya, Sim Chung pikir tak perlu dan pamit pergi dengan senyumanya. Sementara si penjambret, tanganya sudah diikat pada tiang dengan motor yang tergeletak. 

Si Ah duduk di dalam mobil menatap sinis pada Nyonya Mo kerena menunggu selama 10 menit. Nyonya Mo meminta maaf karena sebelumnya terkena jambret, Si Ah seolah tak peduli dan berjalan lebih dulu menuruni tangga lalu menekan bel rumah.
Nyonya Mo bertanya rumah siapa yang akan didatanginya, Si Ah mengaku rumah pacarnya dan meralat kalau ini rumah pacanya, karena  sejak semua cocok dengan masakan Nyonya Mo jadi tak akan membiarkanya. 

Si Ah dan Nyonya Mo masuk ke dalam rumah Joon Jae, Nyonya Mo tiba-tiba melonggo kaget melihat sosok orang didepanya. Sim Chung berdiri melihat Nyonya Mo yang datang kerumah bersama Si Ah, Nyonya Mo berpkir kalau ini rumahnya.
“Ahh! Apa kau ibu Cha Si Ah?” kata Sim Chung melihat keduanya datang bersama.
“Dia bukan ibuku tapi Dia adalah ahjummoni yang bekerja di rumah kami. Tapi, kenapa kalian saling mengenal?” ucap Si Ah heran
“Sudah kubilang aku bertemu pencopet sebelumnya.  Dia yang menolongku dan mengembalikan tasku.” Cerita Nyonya Mo
“Apa kau juga memukul pencopetnya?” tanya Si Ah kaget, Sim Chung membenarkan dengan sengaja mendekat untuk menakutinya,
Ia membantu Nyonya Mo membawa barang-barang belanjanya, Nyonya Mo merasa tak enak hati dengan cepat mengikutinya sampai ke dapur, sementara Si Ah melirik sinis sambil berjalan ke kamar Joon Jae. 

Si Ah terlihat bahagia karena sudah menduga kalau kamar Joon Jae memang bersih, lalu melihat kebagian atap dengan sinis kalau itu kamar Sim Chung.  Akhirnya ia menaruh sebuah berkas di samping tempat tidur dengan menuliskan sebuah note.
“Joon Jae, ini adalah file yang kau  minta mengenai Kim Dam Ryung. Saat aku melihat berkasnya,  kau dan Kim Dam Ryeong benar-benar mirip.”
Sebelum pergi Si Ah melihat foto diatas meja, Joon Jae yang masih kecil duduk disampings seorang wanita dan berpikir kalau ibunya itu cantik. Si Ah pun akan keluar dari kamar tapi langkahnya terhenti dan mengingat saat masuk kamar Nyonya Mo melihat foto yang sama dan kembali memastikan. Ia menyakinkan kalau ibunya mirip saja tapi bukan Nyonya Mo orangnya. 

Joon Jae naik mobil bersama dengan Detektif Hong membahas kalau mereka punya catatan perawatan  di RS. Kasih sebelum di tutup dan bertanya  Perawatan apa yang Ma Dae Young  dapatkan di sana. Detektif Hong mengatakan  Psikologi, karena  menderita delusi  paranoid dan juga bipolar.
“Dia di rawat di sana sekali atau dua kali  dan juga menebus resep obat. Jika dia tak mengambil obatnya, maka  dia tak bisa  mengontrol emosinya untuk melakukan kejahatan.” Jelas Detektif Hong
“Jadi dia mungkin akan memerlukan obatnya  untuk mengendalikan dirinya sekarang. Jika tidak, bagaimana dia bisa hidup?” pikir Joon Jae, Detektif Hong pikir mungkin saja.
“Mungkin dokter yang menangani Ma Dae Young membantunya, lalu bagaimana dengan asisten dokternya?” Joon Jae

“Mungkin. Tapi dokter mana yang  mau membantu buronan?” pikir anak buah Detektif Hong,
Joon Jae pikir mereka masih harus mencari informasi dari tim medis bagian psikiater. Detektif Hong memutuskan akan memeriksanya dengan menahan amarahnya. Joon Jae pun meminta agar diturunkan dipinggir jalan, mobil sudah akan menepi, Joon Jae menunjuk ke bagian depan jalan lagi. Akhirnya Joon Jae pun turun dari mobil untuk kembali ke rumah.
“Aku kira  mengawal pemimpin tim.  Kenapa kita begitu patuh padanya?” keluh anak buah Detektif Hong
“Ini hanya tipuan. Heo Joon Jae hanya umpan  untuk menangkap Ma Dae Young. Kita hanya memanfaatkannya.” Komentar Detektif Hong tapi anak buahnya tetap merasa kalau bukan seperti itu yang terjadi.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar