Kamis, 01 Desember 2016

Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 5 Part 2

PS : All images credit and content copyright : SBS
Sim Chung tak mendengar kembali suara Joon Jae tapi mencium bau yang sedap, saat ke balkon ternyata Joon Jae sedang membakas sosis. Joon Jae menyuruh agar mendekat, Sim Chung hanya diam saja. Joon Jae memberikan sosis yang baru dipanggang agar Sim Chung bisa memakanya.
“Itu masih panas. Tiup dulu.” Kata Joon Jae, Sim Chung mencoba terus meniupnya tanpa henti. 
“Berhenti meniupnya dan makan.” Ucap Joon Jae, Sim Chung pun memakanya. 

Sim Chung terlihat sudah selesai makan, Joon Jae meminta Sim Chung memberikan tanganya dan memberikan sebuah ponsel. Sim Chung bungung, Joon Jae pikir Sim Chung tak mengerti apa itu ponsel lalu menjelaskan menekan angka 1  untuk waktu yang lama, maka suaranya keluar dan memperlihatkan layar ponselnya yang berdering. Sim Chung terpana melihatnya.
“Jangan hanya asal menekannya kapanpun kau mau.Tekan saat kau berubah pikiran, saat kau ingin menceritakan semuanya.Kau hanya boleh menekannya saat itu.” Tegas Joon Jae lalu memberikan sebuah  kartu transportasi umum jadi Shim Chung bisa pergi sekarang. 
“Apa sekarang adalah "sampai waktu berikutnya" kita?” tanya Sim Chung
“Ya, kau berjanji kepadaku kemarin, kan?Apa kau tahu kenapa ada janji-janji?” kata Joon Jae
Sim Chung teringat saat di spanyol Joon Jae mengatakan “Apa yang aku katakan tentang adanya janji?” Sim Chung mengatakan kalau Janji harus ditepati, Joon Jae tersenyum dengan memuji Sim Chung memang benar.  Sim Chung pun menjawab kalau Janji itu ada karena untuk ditetapi. Joon Jae pikir Sim Chung bisa sadar,
“Jadi, kalau kau tidak perlu mengatakan apa-apa lagi kepadaku,ambil dan pergilah.” Kata Joon Jae
“Kalau begitu kau juga membuat janji.” Kata Sim Chung, Joon Jae bingung kenapa ia harus berjanji. 
“Ini "memberi"... dan "menerima".” Ucap Sim Chung, Joon Jae pun bertanya apa yang dinginkan Sim Chung untuk berjanji. 
“Mari kita jadikan turunnya salju pertama kali...sebagai "sampai waktu berikutnya" untuk kita.”kata Sim Chung

“Hei. Kenapa kita perlu "sampai waktu berikutnya"?” kata Joon Jae tak peduli 
“Itu karena aku memiliki sesuatu yang ingin aku beritahukepadamu pada hari salju pertama itu.” Ucap Sim Chung
Joon Jae penasaran ingin Sim Chung mengatakan saja sekarang,  Sim Chung tidak bisa mengatakan itu sekarang menurutnya "sampai waktu berikutnya" untuk mereka dan menunjuk ke sebuah menara yang sangat tinggi terlihat. Joon Jae tahu kalau yang dimaksud itu Namsan. Sim Chung mengajak agar mereka bertemu disana. 
“Aku tidak mau. Apa kau tahu betapa ramainya di sanasaat turun salju? Belum lagi lalu lintas.Aku tidak pergi ke luar pada hari-hari itu.” Ucap Joon Jae menolak
“Tapi ada sesuatu yang harus beritahu kepadamu pada hari itu.Kalau kau berjanji kepadaku, maka aku akan pergi.” Kata Sim Chung, Joon Jae pun setuju dan menyuruhnya segera pergi. 

Sim Chung sempat menatap keatas sebelum pergi tapi Joon Jae seperti tak peduli langsung masuk ke dalam rumahnya. Sim Chung sudah berjalan dan Joon Jae berlari keluar dari rumah mengambil ponselnya dan mengencek SPY GPS milik Sim Chung dan melihat kalau belum pergi juga,
“Aku akan mencari tahu apa kau sebenarnya, ke mana kau akan pergi, dengan siapa kau bertemu, dan kenapa kau di sini.” Ucap Joon Jae kesal menyuruh Sim Chung agar segera berjalan pergi menjauh dari rumahnya.
Sim Chung berjalan melewati sebuah akurium, beberapa ikan berputar-putar ketakutan. Sim Chung menyuruhnya agar tak takut  tidak akan memakannya lalu bertanya bagiamana mereka  semua bisa sampai di sini. Si anak pun menjawabnya, Sim Chung seperti bisa mengerti dan mengaku pernah pergi kesana juga. 
“Airnya di sana bagus, banyak lumba-lumba juga. Apa Kau pikir ini tidak adil? Apa ini Lebih tidak adil dari apa yang sudah aku lalui? Aku melakukan perjalanan jauh itu dengan mataku tertuju pada satu orang. Aku tidak meminta banyak. Aku hanya ingin hidup bersamanya, kami mencintai satu sama lain dan untuk satu sama lain. Jangan menempel terus kepadanya. Aku hanya ingin melakukan itu.” Kata Sim Chung, Bibi pemilik restoran keluar bertanya apakah Sim Chung ingin masuk ke dalam. Sim Chung pun mengucapkan salam perpisahan untuk teman-temanya. 

Nam Doo tak percaya Joon Jae bisa benar-benar mengusirnya Dalam cuaca dingin ini. Joon Jae merasa kalau udaranya bahkan tidak dingin. Tae Oh memberikan berita online dari tabnya [Hari terdingin musim dingin ini... Salju 'tumpah'] Joon Jae mengeluh apa yang di inginkan darinya apakah ia harus merawat Sim Chung selamanya.
“Kau seperti orang yang misterius. Baru kemarin kau melewati batas polisi, kedua lampu menyala,ngebut seperti orang gila. Bahkan saat aku memintamu untuk tidak pergi, kau mengatakan "Chung sendirian!" dan pergi. Tapi hari ini kau menendang gadis malang itu keluar dalam cuaca beku ini!?” kata Nam Doo mengejek
“Aku melakukan itu kemarin karena itu berbahaya!” kata Joon Jae membela diri
“Hei, bukankah dunia luar berbahaya? Bahkan Lebih berbahaya di luar sana!” ucap Nam Doo, Tae Oh yang cemberut kembali memperlihatkan berita  [Angka Kejahatan dengan Kekerasan yang tiba-tiba meningkat saat Liburan.]

“Terserah. Memangnya siapa aku, apakah aku ini walinya?” keluh Joon Jae, Nam Do tahu Joon Jae bukan walinya
“Tapi kami dia adalah malaikat yang memberimu gelang senilai $26.000.000 secara gratis.” Kata Nam Doo, Joon Jae terdiam lalu melihat mata Tae Oh yang menatap sinis lalu memukul kepalanya dan masuk ke kamar.
“Hei, kau yang selalu mengatakan untuk tidak pernah melawan orang-orang yang tidak memiliki apapun. Dia tidak hanya benar-benar bangkrut tapi tidak tahu apa yang terjadi di sekelilingnya!” teriak Nam Do, Joon Jae tetap masuk ke kamarnya. 


Joon Jae melihat GPS yang ada di ponselnya,  lalu bertanya tanya Sim Chung akan pergi ke Gangnam lalu bergegas memakai jaketnya dan pergi. Nam Do melihat temanya pergi bertanya mau kemana. Joon Jae memberitahu akan pergi ke  Gangnam.
“Hei, sekarang bukan waktunya bagimu untuk pergi ke Gangnam. Aku sudah menemukan target yang cukup layak untuk proyek kita berikutnya!” teriak Nam Do, Joon Jae tetap pergi keluar dari rumahnya. 
“Seseorang yang bepergian dengan stiker Harvarddi belakang mobilnya, saat tingkat tertinggi yang dia capai hanya sebuah lembaga keterampilan khusus.” Jelas Nam Do dan sebuah mobil dengan stiker tersebut melaju dijalan.

Jin Joo sedang ada didalam mobil sambil menelp dengan membicarakan kalau mereka para ibu harus bergabung bersama untuk melawan dan kenapa anak-anak mereka harus pergi ke sekolah yang sama seperti anak-anak yang hanya bisa menyewa, menurutnya itu salah satu alasan  lingkungan selalu terlihat lebih lusuh dari hari ke hari.
“Dia sensitif terhadap sistem sekolah dan lingkungannya. Dia menamai anjingnya "Oh Baek (500)" karena biaya perawatan anjingnya adalah 500 ribu Won sebulan dan menjadi sangat pelit saat dihadapkan dengan sumbangan 50 sen.” Jelas Nam Do, Saat itu Jin Joo dan Nyonya Mo baru turun dari mobil.
“Wanita ini membuat penurunan penjualan dari buku rekening suaminya.. untuk mengisi dana gelapnya dan mereka mengatakan dia melihat sekeliling untuk melihat di mana dia harus berinvestasi. Dengan kata lain, dia memegang uang dengan membabi buta, dia tidak akan bisa melaporkan apapun bahkan kalau uangnya hilang. Itulah Makanan kita.” Kata Nam Do penuh semangat memberikan ponselnya pada Tae Oh. 

Jin Joo dan Bibi Mo masuk ke dalam perawatan, seorang pengawai menyapa Nyonya Mo dengan bertanya apakah baru datang pertama kali. Jin Joo kaget karena pembantunya itu dianggap sebagai majikanya dan melihat cara bibi Mo memakai baju dan juga tasnya seperti bergaya seorang nyonya.
“Bibi pegang Oh Baek dan kembalikan tas milikku.” Kata Jin Joo, mereka pun bertukar barang. 
“Halo nyonya!.. Di bagian mana bayi kami merasa sakit?” sapa salah satu pegawai pada Nyonya Mo, Jin Joo makin melirik sinis karena diangap seperti pelayan dari Nyonya Mo. 

Jin Joo memanggil Bibi Mo dengan beberapa tasnya yang terasa berat. Bibi Mo datang, Jin Joo memberitahu akan pergi ke department store nanti dan ingin benar-benar mengisi lemariny dengan barang-barang baru, jadi buang semua pakaian itu. Bibi Mo melihat masih banyak barang-barang yang baru di dalam tas. Jin Joo melirik sinis, Bibi Mo pun mengerti akan membuang semuanya.
“Dan Ahjumma , apa ini saat kau sedang bekerja. Ada... ada dengan pakaianku?” ucap Jin Joo, Bibi Mo binggung dan hanya diam
“Kalau aku bertanya maka jawab aku, jangan membantahku!” kata Jin Joo, Bibi Mo menatap sinis pada majikanya.
“Oh, kenapa kau menatapku dengan merendahkanku seperti itu! Kita tidak perlu banyak bicara. Ahjumma, terima kasih untuk kerja kerasmu. Sekrang Keluar.” Ucap Jin Jo mengusir Bibi Mo 

Bibi Mo dengan bersusah payah membawa semua barang-barang ke tempat sampai pakaian lalu bersandar dengan wajah sedih dengan nasibnya, saat itu mobil yang dinaiki Seo Hee lewat dengan pakaian bulunya.
Jin Joo yang ada dirumah menyapa Seo Hee mengajaknya untuk masuk tapi Seo Hee menolak karena tak akan lama dan memberikan sekotak kue,  untuk mengucapkan terima kasih banyak untuk makan yang saat itu. Jin Joo tak percaya karena kue itu pilihan selera Seo Hee. 
“Suamiku sudah lama aku tidak memiliki nafsu makan sehingga dia tidak bisa makan apapun... tapi sepertinya dia memakan makanan tanpa masalah saat itu. Itu pasti sesuai dengan kesukaannya!” kata Seo Hee, Jin Joo pun bisa bersyukur mendengarnya. 
“Aku akan membuatkannya lagi untukmu kapanpun kau mau!” kata Jin Joo yang menyuruh Bibi Mo untuk memasaknya. 

Jin Joo mengantar Seo Hee sampai ke depan rumah berpesan agar hati-hati dan bisa mampir lain kali. Seo Hee pun mengucapkan Selamat tinggal dan pergi dengan mobilnya. Bibi Mo berjalan pulang dengan wajah lesu, Jin Joo langsung menghampirinya.  Bibi Mo mengerti akan mengemasi tasnya dan keluar.  Jin Joo berpura-pura binggung mau kemana Bibi Mo itu. 
“Kau mengatakan kepadaku untuk keluar.” Kata Bibi Mo kesal
“Kalau kau membuang sampah, maka  kau harus pergi ke luar. Kau tidak bisa membuang sampah di dalam. Jadi aku menyuruhmu untuk keluar. Yang aku maksud adalah Pergi keluar dan buang sampahnya dan kembali.” Jelas Jin Joo. 
“Apa yang kau bicarakan? Saat kau mengatakan tentang bagaimana aku melihat ke atas dan bagaimana aku berpakaian...” ucap Bibi Mo marah
“Tidak, itu adalah... Kalau kau selalu melihat seperti itu, maka aku berpikir bagaimana kalau matamu menjadi lelah. Karena itulah kau harus melihat ke bawah dengan nyaman. Itu yang aku maksud.” Jelas Jin Joo tak ingin kehilangan Bibi Mo lalu melihat pakaian yang dipakai pembantunya.

“Darimana kau mendapatkannya? Dimana kau membelinya? Aku baru saja akan bertanya kepadamu apa ini bagus. Apa Kau terluka saat mendengar itu semua? Seharusnya Aku orang yang akan marah.” Kata Jin Joo
“Selama ini, aku telah bekerja keras...” ucap Bibi Mo, Jin Joo pikir  mereka telah bekerja begitu keras selama ini jadi sangat bersyukur dan berharap kalau Di masa mendatang, tolong bekerjalah dengan lebih keras.
“Ah.. Tidak, aku pikir ada banyak masalah dengan pidatoku. Jadi Aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang, kan? Ah...tidak... aku pasti sudah salah paham dengan apa yang kau katakan. Kalau begitu mulai sekarang, tidak ada kesalahpahaman antara kau dan aku.” Ucap Jin Joo lalu merayu Bibi Mo dengan mengajak pergike Noryangjin nanti Untuk membeli kepiting


Sim Chung pergi bertemu dengan si pengemis kembali dengan mengambil pakaian dari dalam tempat sampah, Si Bibi tak percaya kalau Sim Chung bertemu dengan pria itu tapi dicampakan. Sim Chung mengaku  tidak dicampakan tapi Joon Jae hanya mengatakan untuk pergi. Bibi menjelaskan kalau Itu sama saja dengan dicampakan.
“Tapi kemudian dia mengatakan kepadaku untuk bertemu lagi pada waktu yang sama.” Kata Sim Chung masih yakin Jin Joo tak mencampakanya.
“Bagaimanapun, sepertinya kau harus hidup sebagai tunawisma. Tapi waktunya tidak baik, karenaSekarang udaranya dingin. Sekarang Pergi dan cari kotak kulkas. Semua itu berharga karena sejumlah anak-anak yang berbau busuk.” Ucap si bibi, Sim Chung mengangguk mengerti lalu melihat banyak pekerja yang lalu lalang didepanya.
“Kau iri kepada mereka, kan? Mereka pulang sejak matahari terbenam. Aku juga berharap memiliki rumah. Tapi kemudian, mereka... rumah mereka bukan milik mereka, itu milik bank. Dalam istilah profesional, rumah miskin. Mereka pengemis dengan rumah-rumah.”kata Si Bibi, Sim Chung mengartikan kalau mereka semua itu  pengemis.
“Tentu saja. Mereka adalah pengemis Bank. Coba kali Lihatlah bahu mereka, semuanya membungkuk, Itu karena membayar hutang dari bank.”jelas Bibi
“Itu sebabnya Heo Joon Jae berbicara tentang uang sepanjang waktu.” Ucap Sim Chung mengerti.
“Saat kau melihatnya, maka kita lebih kaya dari mereka. Setidaknya kita tidak memiliki hutang. Satu-satunya hal yang perlu kita khawatirkan adalah tiga hal, yaitu Udara dingin, kehangatan, rasa lapar.” Kata Si bibi
“Tapi, bagaimana kau mendapatkan uang?” tanya Sim Chung yang tak mengerti.
“Haruskah aku... membuatmu menyentuh satu?”ucap Si bibi 


Di sebuah jalan yang ramai, Bibi membawakan sebuah brosur dan memberitahu kalau Sim Chung bisa memberikan kepada orang-orang dengan menjelaskan kaalu udaranya dingin jadi semua orang memasukan tangan ke mantel. Jadi Tujuannya adalah untuk membuat mereka mengeluarkan tangannya.
Si bibi memberikan contoh tapi tak ada satupun yang ingin mengambil brosurnya dan memintanya agar tidak perlu merasa sakit hati apabila tak ada yang menerimanya. Ia juga memberitahu agar bisa memberikan dobel pada setiap orang yang lewat. 
“Kalau kau hanya menyebarnya di jalanan, maka lihat ke arah jam 10.” Ucap Si bibi, Sim Chung bingung. Bibi menunjuk pada arah sebuah mobil dan ia adalah ketua yang sedang mengawasi lalu pamit pergi.
“Apa Kau tidak akan mendapatkan uang?” tanya Sim Chung malah memberikan semuanya.
“Kalau hanya untuk sebuah kotak tertutup untuk menahan dingin dan kerak roti untuk mengisi perut... Aku tidak perlu mendapatkan sesuatu seperti uang.” Kata si bibi
“Aku akan mendapatkan uang! Aku akan mendapatkan dan memberikannya kepada Heo Joon Jae yang sangat mencintai uang!” teriak Sim Chung, Si bibi pun melambaikan tangan lalu pergi. 

Joon Jae baru saja berjalan dengan menatap ponselnya dan dikagetkan dengan melihat Sim Chung ternyata tak jauh darinya lalu bertanya-tanya apa yang sedang dilakukanya. Sim Chung berusaha memberikan brosur agar orang-orang mau menerimanya. 
“Nona.. Apa kau adalah air pasang, surut dan aliran sungai? Kenapa kau hanya terus bolak-balik? Aku tidak akan memberimu uang kalau seperti ini.” Ucap Si pria melihat Sim Chung berkerja tak baik. Joon Jae melihatnya langsung menelp seseorang
“Kau sudah bekerja keras. Kau petugas parkir, kan Aku ingin membuat laporan.” Kata Joon Jae, saat itu sebuah mobil deres mengambil si mobil pria untuk membawanya pergi. Si pria yang sedang minum berlari mengejar mobilnya yang ditarik.
Sim Chung masih berusaha untuk membagikan brosur pada semua orang yang lewat, saat itu beberapa pelajar pria datang menghampiriny meminta beberapa brosur. Sim Chung tersenyum bahagia bisa mendapatkan orang-orang yang mau menerima brosurnya. Mereka pun meminta brosur sauna. 

Semua pelajar mendatangi Joon Jae yang menunggu di depan pohon dengan memberika dua brosur, Joon Jae memberitahu perjanjinya kalau  bayaranya 1000 won bahkan untuk dua brosur apabila ingin mendapatkan 2000 won maka pergi dan meminta lebih banyak lagi.
“Aku mengatakan kalau hanya akan menerima yang berasal dari sauna.” Ucap Joon Jae melihat anak lain memberikan brosur padanya, mereka pun semua pergi dengan bayaran karena sudah mengambilkan brosur dari Sim Chung.
Sim Chung melihat orang yang didepannya makan Bungepang. Tiba-tiba seorang bibi datang melihat Sim Chung sudah bekerja keras pada cuaca dingin lalu memberikan sebungkus bungepang dan juga memberikan syal di lehernya agar tak kedinginan. Sim Chung terlihat bahagia mendapakan Bungepang yang didapatkanya. 

Si bibi mendatangi Joon Jae karena sudah melakukan pekerjaanya, lalu bertanya apakah wanita itu yang akan dinikahi. Joon Jae mengatakan tidak. Si bibi menebak kalau itu pasti cinta pertamanya. Joon Jae menegakan kalau bukan itu. 
“Apa maksudmu tidak? Aku dukung... Berjuanglah!” kata Si bibi yakin Sim Chung adalah cinta pertamanya karena mau melakukan seperti itu.  

Seorang pria mendekati Shim Chung meminta maaf karena mungkin kasar tapi sejak awal tetapi melihat Shim Chung adalah tipenya, lalu meminta izin agar memberikan ponselnya, Sim Chung binggung. Si pria bertanya apakah Sim Chung memiliki ponsel. Sim Chung mengambil ponsel disaku bajunya. Saat itu Joon Jae menelp, Sim Chung mengangkatnya dan terlihat bahagia.
“Aku lupa memberitahu sesuatu kepadamu. Kalau seseorang meminta nomormu, kau tidak boleh memberikannya, Mengerti?” ucap Joon Jae, Sim Chung bingung kenapa tak boleh.
“Apa maksudmu kenapa? Orang-orang itu bisa jadi adalah orang jahat. Kau pandai menggigit, kan Orang-orang semacam itu, kalau mereka berlama-lama di sekitarmu, lebih baik gigit saja mereka.”perintah Joon Jae

Sim Chung melirik sinis lalu memberikan giginya yang siap mengigit, si pria terlihat ketakutan dan pergi. Lalu bertanya keberadaan Joon Jae sekarang, Joon Jae mengaku kalau berad sangat jauh darinya. Saat itu bibi yang membawa trolly berjalan dan terlihat Joon Jae sedang bersembunyi. Sim Chung melihat langsung berlari menghampirinya. Joon Jae berpura-pura baru melihatnya. 
“Tapi Heo Joon Jae, kenapa kau datang? Apa kau datang untuk melihatku?” ucap Sim Chung, Joon Jae mengaku sudah gila kalau melakukan itu karena hanya lewat saja.
“Bukankah kau yang mengikutiku?” balas Joon Jae menuduh, Sim Chung dengan wajah panik menyakinkan kalau tak mengikutinya. Joon Jae seperti tak enak hati membodohinya.
“walaupun jika Seoul besar, itu hanya sebesar telapak tangan. Kalau kau bepergian, kau bisa bertemu dengan orang yang kau kenal. Bhakn bisa bertemu secara kebetulan.” Ucap Joon Jae

“Lalu apa kita juga bisa bertemu secara kebetulan lagi?” tanya Sim Chung
“Aku tidak yakin. Kita harus menunggu dan melihat. Lagi pula, aku akan pergi karena sibuk.” Kata Joon Jae beranjak pergi. 
Sim Chung berteriak memanggil Heo Joon Jae. Joon Jae panik meminta agar Sim Chung tak memanggil namanya sekeras itu. Sim Chung akhirnya membisikan di telinga Joon Jae kalau sedang beusaha mendapatkan uang dan memberikan semuanya kepadanya. Joon Jae melonggo diam mendengarnya dan Sim Chung pun kembali membagikan brosur. 

Chin Hyun memberitahu Tuan Heo kalau kasus 2780 akan dimasuki kantor pengacara. Jadi mereka masih menegosiasikannya. Setelah mengatur kondisinya, maka akan memberitahunya. Tuan Heo merasa senang karena Chin Hyun pasti akan mengurusnya.
“Kau akan pulang, kan?” kata Tuan Heo, Chin Hyun mengaku kalau akan ada janji lebih dulu. 
“Tapi kenapa kau berpakaian begitu dingin? Kau harus Pakai yang lebih hangat.” Ucap Tuan Heo memberikan perhatian.
“Ayah.... Joon Jae... kau merindukannya, kan? Udaranya semakin dingin, aku juga ingin tahu tentang dia dan ingin melihatnya,  menurutku Sudah waktunya dia pulang. Haruskah aku mencoba dan mencari dia?” ucap Chin Hyun ingin membantu. Tuan Heo menolak seperti tak begitu suka membahas tentang Joon Jae.
“Baiklah, yang sebenarnya adalah Aku menyelidiki karena Kepala Dinas Nam memerintahkanku untuk melakukannya. Namun, aku bersyukur karena kau khawatir.” Akui Tuan Heo
“Tidak, tapi ayah... aku pikir akan lebih baik untuk tidak memberitahu ibu bahwa kau sedang mencari Joon Jae.” Ucap Chin Hyun, Tuan Heo menanyakan alasanya, Chin Hyun pikir Hanya untuk berjaga-jaga.

Sim Chung masih beruasha membagikan brosur, seorang pria datang mendekat. Dae Young mengangkat kepalanya dan Sim Chung bisa melihat  dengan berkomentar Dae Young yang memakai topi lagi. Tiba-tiba hujan turun dengan deras, Sim Chung berlari mencari tempat berteduh. Dae Young tak percaya ternyata Sim Chung bisa mengenalinya. 

Chin Hyun pergi dengan mobilnya seperti ke tempat tingal Joon Jae yang didapat dari ponsel ibunya, berita diradio terdengar
“Hujan terus turun, dengan lebat di wilayah pedesaan Seoul, Gyeonggi. Curah hujan ini dipengaruhi oleh udara dingin di atmosfer yang berarti salju akan segera jatuh turun.Ini akan menjadi salju pertama di wilayah Seoul. Kau bisa mengantisipasi adanya kemacetan lalu lintas yang ekstrim selama jam sibuk.”
Joon Jae melihat dari jendela rumahnya sudah mulai diturun salju juga, Sim Chung mengulurkan tanganya memegang salju yang turun didepanya. Si anak kecil bernama Yoona sebelumnya akan masuk tempat lesnya melihat Sim Chung bertanya apa yang dilakukanya. Sim Chung melihat Yonna yang memberikan uang dan mentraktirnya makan.
“Kau tidak menunggu di sini untuk mengambil uang dari anak-anak lagi, kan?” kata Yonna, Sim Chung mengatakan tidak karena  akan mendapatkan uang!
“Tapi, apa ini salju pertama?” tanya Sim Chung, Yonna membenarkan kalau hari i ini adalah pertama kalinya salju pertama.

“Tapi Apa bagusnya dengan salju, itu hanya menutupi jalanan.” Keluh Yonna, Sim Chung mengatakan harus pergi ke Namsan dengan cepat
Yonna bertanya apakah Sim Chung akan bertemu Heo Joon Jae. Sim Chung kaget Yonna bisa mengetahuinya,  Yonna mengingatkan kalau Joon Jae yang mengatakannya, akan bertemu Heo Joon Jae. Sim Chung binggung karena tak banyak orang yang bisa mendengar suara hatinya. 
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan... tapi tetap saja, kalau kau memiliki uang maka naik taksi. Kalau tidak, maka naik bus.” Ucap Yoona, Sim Chung mengucpakn terimakasih dan bergegas pergi. 

Joon Jae keluar rumah melihat salju mulai turun menatap ke menara namsan, dengan mengeluh sangat malas menurutnya semua hal yang menjengkelkan terjadi sejak “boneka itu” muncul dan  melihat GPS Sim Chung berjalan. 
“Kalau kau ingin mengatakan sesuatu ada telepon, ada pesan teks Beritahu orang-orang untuk datang dan pergi, Sebaiknya dia mengatakan sesuatu yang baik.” Ucap Joon Jae dengan memakai jaketnya dan melihat GPS Sim Chung berjalan sangat cepat.

Joon Jae pergi dari rumah dan mobil putih Chin Hyun mengikutinya dari belakang, Sim Chung turun dari bus menatap menara namsan yang ada didekatanya meminta Joon Jae menunggunya lalu berlari agar cepat sampai.
Mobil Joon Jae masuk ke dalam parkiran, Sim Chung menyebarangi jalan dan sempat berhenti menatap menara namsan yang semakin dekat. Tiba-tiba tubuhnya ditabrak dan semua brosurnya bertebrangan, Joon Jae seperti tak mengetahuinya masuk ke dalam pakiran setelah mengambil kartunya.
Chin Hyun keluar dari mobil melihat Sim Chung tergeletak di jalan dengan setengah tersadar. Joon Jae dengan menahan kedinginan sudah sampai di area gembok cinta, bertanya-tanya keberadaan Sim Chung sekarang lalu melihat dari GPS ternyat Sim Chung sudah ada di Namsan. Sim Chung masih tergeletak dengan air mata mengalir pada kedua matanya. 

Sae Wa diikat tangan tak bisa bergerak beberapa anak yang penasaran melemparinya batu. Saat Sae Wa mengangkat wajahnya semua berlari ketakutan. Sae Wa bergumam dalam hati “Tolong aku.” Salah satu anak kecil perempuan berhenti seperti bisa mendengar suara hati Sae Wa.
“Hei,.. Apa yang sedang kau lakukan!? Cepat!” kata kakaknya menyuruh sang adik pergi.
“Kakak, putri duyungnya baru saja berbicara, dia meminta bantuan.” Ucap sang adik
“Hei! Apa maksudmu dia mengatakan sesuatu! Aku tidak mendengar apa-apa, ayo kita pergi!” ucap Si kakak tapi sang adik yakin kalau mendengarnya. 

Yonna sedang ada dirumah berada dibalkon,  ibunya melihat anaknya yang ada dibalkon padahal baru saja mengerjakan pekerjaan rumahnya. Yooan memberikathu kalau dia meminta bantuan. Ibunya binggung siapa yang dimaksud. Yoona mengatakan “unnie” dengan menunjuk ke menara namsan.
“Kau mengatakan apapun supaya tidak belajar, kan. Cepat masuk ke dalam!” kata ibunya, Yonna masih menatap menara namsan karena Sim Chung meminta tolong padanya, 
bersambung ke episode 6

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar