Jumat, 30 Desember 2016

Sinopsis Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 13 Part 1

PS : All images credit and content copyright :MBC
Bok Joo kembali ke kamar dengan senyuman bahagia, pesan ke dalam ponselnya masuk. Joon Hyung menuliskan “Apa kau sampai dengan selamat?”. Bok Joo membalas “Yah.. Bagaimana denganmu?” Keduanya sama-sama tersenyum saling membalas pesan seperti orang yang benar-benar saling jatuh cinta.
“Kau pasti capek, tidurlah” tulis Joon Hyung, Bok Joo pikir Joon Hyun juga harus tidur karena besok ada latihan
“Kau yang tidur duluan” balas Joon Hyung, Bok Joo menyuruh Joon Hyung saja yang tidur lebih dulu. Keduanya saling menyuruh siapa yang harus tidur lebih dulu.
“Ini akan memakan waktu semalaman. Aku akan tidur sekarang kalau begitu” kata Joon Hyung.
Bok Joo pun akhirnya membaringkan tubuhnya, Joon Hyung malah kembali mengirimkan pesan “Apa kau sudah tidur?” Bok Joo dengan senyumanya menyuruh Joon Hyung agar menghentikanya “Aku tidak bisa tidur karena dirimu” lalu tertidur dengan senyuman bahagai. 

[Episode 13, Sekitar cinta, dan itu menjadi kecemburuan]

Tim angkat besi sedang olahraga lari mengelilingi lapangan, Tim renang pun datang bergabung. Joon Hyung melihat Bok Joo yang berlari dibagian belakang langsung mendekatinya mencari kesempatan untuk memeluknya, Bok Joo tersenyum dan mendorongnya agar tak terlihat oleh yang lainya., Joon Hyung pun berlari mh engejar timnya yang sudah berlari didepan.
Bok Joo dan Nan Hee mengosok gigi setelah sarapan. Nan Hee melihat Bok Joo yang terus tersenyum berpikir kalau  menemukan sepotong daging besardidalam sup tulang iganya karena menurutnya isinya hanya kaldu. Bok Joo pikir supnya sedap.
“Kenapa kau sangat optimis hari ini? Kau biasanya selalu bilang akan jadi ketua tingkat dan menambahkan banyak daging. Apa terjadi sesuatu yang bagus?” kata Nan Hee curiga, Bok Joo mengelak
“Tidak, jelas terjadi sesuatu yang bagus” kata Nan Hee yakin dan mendengar bunyi ponsel Bok Joo.
Bok Joo membaca pesan dari Joon Hyung “Datanglah ke rumah kodok sekarang” Nan Hee ingin tahu siapa yang mengirim pesan. Bok Joo buru-buru menyembunyikan ponselnya mengaku hanya pesan spam saja. 

Bok Joo mulai berdandan dengan mengunakan lipstik pemberian ayahnya dan juga jepitan rambut. Sebelum pergi sempat melihat Si Ho yang masih tertidur lalu berjalan keluar dari kamar. Sesampai di kolam melihat dari kejauhan Joon Hyung mencoba melempar koin pada kolam.
“Kenapa kau memanggilku keluar pagi-pagi begini?”tanya Bok Joo mendekati Joon Hyung
“Aku melempar koin untukmu, buatlah permintaan” kata Joon Hyung, Bok Joo memejamkan matanya ingin membuat permohonan.Joon Hyung tiba-tiba memberikan kecupan di pipi Bok Joo.
“Hei, kau menyuruhku membuat permintaan untuk melakukan ini, benarkan? Bagaimana kau bisa menjadi licik begitu?” kata Bok Joo kesal
“Kau juga tidak lebih baik. Apa kau tidak ingat kau sendiri yang melemparkan dirimu padaku?” kata Joon Hyung mengingatkan kejadian semalam.
Bok Joo menyangkal karena yang lebih dulu menciumnya adalah Joon Hyung. Joon Hyung mengakuinya tapi Bok Joo yang memegang wajahnya bahkan menjadi liar seperti seseorang yang sedang kelaparan. Bok Joo tak ingin beradu mulut lagi memilih untuk menganggap dirinya yang melemparkan diri pada Joon Hyung.

“Ngomong-ngomong, bukankah itu pita rambut... Yang kau pakai waktu kau menemui kakakku?”  kata Joon Hyung, Bok Joo membenarkan.
“Hyung bilang itu cantik Atau dia bilang itu sangat cocok untukmu?” ucap Joon Hyung dengan nada cemburu, Bok Joo berkata tak seperti itu.
“Jangan bohong padaku! Aku tahu dia bilang begitu! Jangan dipakai lagi, pakai yang lain saja” ucap Joon Hyung
Bok Joo mengatakan tak punya lagi dan merasa kalau jepitanya itu sangat cantik. Joon Hyung mengatakan kalau itu jelek dan menyuruh agar melepaskanya, Bok Joo menolak karena hanya itu yang dimilikinya. Joon Hyung pun menarik paksa sampai akhirnya terlepas dengan rambut yang ikut tertarik.
Wajah Joon Hyung merasa bersalah melakukanya, lalu meminta maaf dan mengajak untuk pergi saja. Bok Joo menolak saat akan digandeng tanganya karena kasar dan tak makai krem. Joon Hyung tak peduli menurutnya bisa dianggap seperti sedang melakukan akupuntur. 


Si Ho terbangun dari tidurnya dengan tubuh penuh keringat, ketika ingin mengambil minumnya malah terjatuh. Tubuhnya terlihat lemas dan berusaha untuk mengambil ponselnya yang terjatuh.
Bok Joo heran melihat Joon Hyung pergi ke Mall dan berhenti dibagian aksesoris. Joon Hyung menyuruh untuk memilihnya karena akan membelikanya dan jangan memakain pita selain yang dibelikanya. Bok Joo mengoda kalau Joon Hyung sangat pencemburu
“Tentu saja, bagaimana aku tidak cemburu? Aku melihatmu menangis karena hyung” kata Joon Hyung
“Kau seharusnya tidak mengingat kejadian itu Itukan masa lalu. Sekarang Dengar, karena kita sudah membicarakannya. Aku benci pria yang cemburu karena hal-hal kecil Dan sok jual mahal hanya karena mereka sedang berkencan. Aku tidak tahan, itu sangat kekanak-kanakan/ Jadi jangan harap aku baik-baik saja dengan itu” tegas Bok Joo
Joon Hyung hanya diam saja lalu bertanya mau memilih pitanya atau tidak, Bok Joo mencari pita yang bagus untuknya.  Joon Hyung melihat ada pita dengan bentuk babi, dengan mengejek kalau Bok Joo ada dipita tersebut. Bok Joo memilih pita yang ukuran besar, lalu bentuk strawberry. Joon Hyung pikir itu bagus walaupun tak bisa melihatnya karena bentuknya yang terlalu kecil. 

Akhirnya Bok Joo pulang ke kamarnya dengan senyuman bahagia, tapi dikejutkan dengan Si Ho yang sudah tergeletak tak sadarkan diri dilantai kamar. Wajah Bok Joo panik berusaha menyadarkanya, tapi Si Ho tetap tak bergeming. Bok Joo berteriak memanggil ketua asrama.
Si Ho dibawa kedalam mobil ambulance dengan ketua asrama yang menemaninya. Bok Joo dan Nan Hee mengantarnya sampai depan asmara dengan wajah panik, asmara wanita pun heboh melihatnya. Nan Hee pikir kelihatannya sakit parah. 

Joon Hyung sedang berlatih di ruangan, tiba-tiba Tae Kwon datang dengan nafas terengah-engah memanggilnya. Joon Hyung meminta temanya agar tenang berpikir kalau Ki Suk memanggil untuk rapat. Tae Kwon memberitahu kalau ini mengenai Si Ho.
“Song Si Ho minum pil dan berusaha bunuh diri dan Kim Bok Joo menemukannya pingsan. Ambulan baru saja membawanya ke rumah sakit” kata Tae Kwon, Joon Hyung langsung bergegas turun dari treadmill.

Joon Hyung sudah sampai di bagian UGD rumah sakit dan melihat Si Ho masih terbaring. Dokte akhirnya datang mendekatinya bertanya apakah ia walinya, Joon Hyung binggung tapi akhirnya membenarkan kalau ia walinya.
“Kami akan membersihkan perutnya, Hasil tes darahnya menunjukkan kalau dia tidak banyak meminum obatnya Aku rasa dia tidak berusaha melakukan bunuh diri. Tapi, dia sangat lemah, Dia kekurangan nutrisi dengan level enzim lever yang tinggi dan punya masalah menelan serta menderita bulimia dan anorexia” jelas Dokter yang akan kembali memeriksa kondisinya.
Saat itu ibu dan adik Bok Joo datang, mereka terlihat sedih meminta agar Si Ho bisa cepat sadar. Joon Hyung memilih untuk menyingkir membiarkan keluarga Si Ho yang menemaninya, walaupun terlihat masih shock. Si Ho sedikit membuka mata melihat ibu dan adiknya yang datang menjenguknya. 

Bok Joo datang menemui Joon Hyung, lalu bertanya kedaaan Song Si Ho. Joon Hyung memberitahu sudah melihat Si Ho sadar dan Dokter bilang kondisinya tidak kritis. Bok Joo bisa lega mendengarnya. Joon Hyung pikir Bok minum obat karena susah tidur dan juga menderita gangguan pola makan jadi harus tinggal di rumah sakit karena kondisinya lemah. Bok Jo bisa mengerti dan terlihat sedih
“Apa kau baik-baik saja? Kau pasti tadi terkejut ‘kan?” kata Joon Hyung
“Itu tidak penting, tapi Aku bersalah. Waktu aku bilang Song Si Ho tidak sehat, Seharusnya aku melakukan sesuatu. Aku melihatnya minum di malam hari” kata Bok Joo sedih
“Kau tidak tahu ini akan terjadi, Jangan menyalahkan dirimu sendiri” ucap Joon Hyung menenangkanya.
“Tetap saja, aku ini kan teman sekamarnya dan sudah seharusnya memeriksanya waktu dia tidak bangun-bangun juga. Aku terlalu bersemangat setelah menerima sms darimu. Aku bodoh sekali.” Kata Bok Joo memukul kepalanya, Joon Hyun menghentikanya lalu memeluknya agar bisa menenangkanya. 

Joon Hyung kembali ke kamarnya dan memeriksa ponselnya, lalu melihat ada sebuah telp dari Si Ho, lalu tersadar saat pergi ke mall dengan Bok Joo tak sadar dengan ponselnya yang bergetar, wajahnya seperti merasa bersalah. Sementara disebuah bar terlihat pelatih Yoon sedang mengantar Tuan Kim yang terlihat mabuk.
“Tuan Kim.. Kau sudah berjanji kan?cKau berjanji untuk mempertimbangkan... Untuk mempekerjakan kembali... Pelatih Choi, benarkan?” kata Pelatih Yoon, Tuan Kim mengerti dan meminta tak perlu khawatir.
Akhirnya Tuan Kim pun masuk ke dalam taksi dengan pelatih Yoon yang membayar taksinya. Pelatih Yon melihat uangnya tak cukup untuk naik taksi dan terpaksa harus pulang dengan berjalan kaki, sambil berteriak memanggil pelatih Choi kalau akan memastikan diterima kembali. 

Joon Hyung terlihat gugup datang ke rumah sakit dan melihat papan nama didepan ruangan Song Si Ho, lalu masuk ke dalam terlihat pasien lainya sedang membaca komik. Si Ho sudah duduk di atas tempat tidur melihat Joon Hyung yang datang.
“Kenapa kau sendirian?” tanya Joon Hyung mengaruk kepala karena canggung.
“Adikku di sekolah dan ibuku sedang bekerja” ucap Si Ho, Joon Hyung pikir sebaiknya  Si Ho berbaring
“Setelah tidur nyenyak, aku merasa sepenuhnya baik-baik saja dan seperti tidak terjadi apa-apa” kata Si Ho, pasien yang disamping Si Ho seperti tergangu dengan menutupi wajahnya mengunakan selimut. Si Ho pun mengajak untuk keluar saja. 

Keduanya berjalan ditaman, Joon Hyung mengajaknya duduk dibangku taman dengan bertanya apakah tidak kedinginan. Si Ho menutupi tubuhnya dengan jaket merasa baik-baik saja. Joon Hyung dengan gugup meminta maaf atas Panggilan telponnya yang kemarin karena tak tau kalau Si Ho itu sakit dan seharusnya menjawabnya
“Tidak apa-apa, itu karena aku tidak pandai menjaga diriku sendiri” kata Si Ho merasa memang salah dirinya. Joon Hyung merasa tetap tak enak hati.
“Joon Hyung... Aku merasa sangat aneh sekarang ini Apa yang terjadi sehari kemarin dan Semua yang terjadi sebelum hari ini rasanya sudah terjadi lama sekali. Mungkin itu karena aku hampir mati.” Ungkap Si Ho

“Seperti yang kau tahu, Kita tumbuh hanya melalui olahraga. Hidup sepertinya berakhir kalau kita tidak terus berkompetisi. Itu sebabnya aku terus bergantung padanya tanpa mau menerimanya. Aku tahu akan terpuruk dan berjuang sambil berpegangan pada ujung jurang. Sekarang, Aku bisa merelakan semuanya dan melatih diriku tanpa banyak stress” kata Si Ho. Joon Hyung bisa tersenyum mendengarnya.
“Aku tahu itu mustahil, Tapi aku bersikeras untuk kembali bersama. Aku benar-benar minta maaf.” Kata Si Ho
“Sekarang kita seri, Kita masing-masing punya kesalahan untuk minta maaf” ucap Joon Hyung.
Si Ho mengulurkan tanganya mengajak mereka untuk mulai berteman, lalu berkata kalau sebaiknya menghormatinya karena ia lebih tua. Joon Hyung tersenyum lalu bertanya kapan akan keluar dari rumah sakit. Si Ho pikir  Besok atau lusa karena Dokter bilang kondisinya membaik, Tapi secara mental  belum baik jadi mungkin harus menemui psikiater. Joon Hyung menceritakan ada psikiater yang pernah ditemuinya dan sangat luar biasa dan menyarakan untuk mengenalkanya, Si Ho pun dengan senang hati menerimanya. 


Joon Hyung pun mengantar Si Ho kembali ke kamarnya dan ponselnya berdering, Bok Joo menelp menanyakan keberadaanya. Joon Hyung sedikit tak enak hati, lalu mengatakan sedang ada dirumah sakit karena mendapat izin dari pelatih jadi datang berkunjung. Bok Joo bisa mengerti lalu bertanya keadaan Si Ho.
“Aku rasa dia baik-baik saja, Dia menjadi sangat tenang” kata Joon Hyung
“Aku senang mendengarnya Aku berpikir untuk mengunjunginya, kenapa kau tidak menungguku?” ucap Bok Joo
“Aku pikir kau sedang latihan, Apa kau mau datang sekarang?” ucap Joon Hyung, Bok Joo pun memutuskan akan datang juga. Joon Hyung menutup telp dan akan menunggunya. Sementara Bok Joo terlihat kesal dengan Joon Hyung.
“Kenapa dia tidak memberitahuku sebelumnya? Aku seharusnya datang bersamanya” kata Bok Joo ngedumel sendiri. 

Pelatih Yoon kaget bertemu dengan Tuan Kim,  karena menyewa pelatih baru padahal kemarin mengatakanakan mempertimbangkannya, serta mengadakan rapat komite dengan menyakinkan anggota komite yang lain, Tuan Kim mengaku memang itu tujuanya.
“Tapi pimpinan memberitahuku seperti itu,  jadi apa yang bisa aku lakukan?” kata Tuan Kim tak bisa berbuat apa-apa.
“Aku berusaha membantu pelatih Choi mendapatkan pekerjaannya kembali... Karena dia yang lebih tahu keadaan siswa, Selain itu  dia telah menjadi pelatih yang baikAku tahu dia akan terus membimbing mereka dengan baik.” Kata Pelatih Yoon
“Keputusan sudah dibuat dan Kepalaku juga sakit, mari kita hentikan membicarakan tentang ini!” ucap Tuan Kim tak ingin membahasnya.
Pelatih Yoon terlihat marah besar,  dan menurutnya kalau memang Tuan Kim mengambil keputusan yang tidak adil seperti itu maka ia juga akan berhenti dan melakukan sesukanya. Tuan Kim panik melihat Pelatih Yoon yang pergi meninggalkan ruangan. 

Bok Joo seperti gugup akan masuk ke dalam ruangan dan sempat mengetuk pintu. Terdengar suara Si Ho yang menyuruh masuk.  Bok Joo berjalan masuk dan melihat Joon Hyung yang sedang membantu Si Ho memakaikan jaket. Si Ho menyambut Bok Joo mengatakan baru saja berada di luar sebentar dan ia merasa kedinginan. Bok Joo bisa mengerti walaupun seperti timbul rasa cemburu.
“Apa kau merasa lebih baik?” tanya Bok Joo, Si Ho mengaku hampir mati tapi senang karena bertemu dengan teman sekamar seperti Bok Joo. Joon Hyung pun menarik kursi agar Bok Joo duduk disampingnya. Bok Joo duduk lalu memberikan sebuket bunga untuk Si Ho.
“Aku rasa kau mungkin harus berhati-hati dengan apa yang kau makan sekarang, jadi aku pikir ini cocok denganmu karena kau begitu feminin” kata Bok Joo, Si Ho pun mengucapkan terimakasih.

“Kau ‘kan alergi pada serbuk sari, apa bunga ini tak masalah?” kata Joon Hyung sedikit panik, Si Ho mengaku hidungnya memang sedikit gatal tapi tak masalah. Bok Joo merasa bersalah memberikan hadiah yang salah lebih baik membawanya kembali saja
Joon Hyung pikir tak perlu dengan menaruh bunga didekat jendela saja. Si Ho merasa karena terlalu banyak bicara kepalanya sedikit pusing jadi harus berbaring. Bok Joo pun ingin menekan tombol membantu menurunkan tempat tidur. Joon Hyung mengambil remote karena ingin melakukanya. Bok Joo melirik cemburu karena Joon Hyung kembali memberikan perhatianya bahkan sampai menarik selimut untuk Si Ho. 

Keduanya pulang bersama, Joon Hyung heran dengan Bok Joo yang lebih banyak diam dan Tidak seperti yang biasanya. Bok Joo tak menyangka kalau selama ini dirinya itu selalu harus banyak bicara setiap saat. Joon Hyung tahu kalu Bok Joo itu tidak biasanya jadi pendiam hari ini
“Lebih aneh lagi kalau ada kuda di area sini”kata Bok Joo berusaha melucu,
“Itu lelucon yang mengerikan, itu tidak lucu sama sekali... Ah.. Berkat ayahku, aku hebat dengan lelucon yang tidak berguna... Bagaimana kalau kita bertanding lelucon?” kata Joon Hyung mencoba mengubah mood Bok Joo memegang pundaknya. 
“Hentikan, jangan berbicara denganku” ucap Bok Joo ketus tak ingin disentuh. Joon Hyung heran dengan Bok Joo yang terlihat marah lalu bisa mengetahui sebabnya adalah Sudah lama lewat waktunya makan cemilan lau meminta maaf dan mengajaknya untuk segera makan. Bok Joo mengaku kalau tak lapar. 


Joon Hyung melewati warung tenda dan mengajakanya untuk makan Eomuk saja, Saat itu ponsel Joon Hyung berdering dan menyebut nama Si Ho, Bok Joo yang mendengarnya kembali sinis. Si Ho menanyakan tentang Psikiater yang direkomendasikanya. Joon Hyung mengatakan kalaubukan dari rumah sakit besar tapi punya klinik kecil dan kakaknya yang mengenalnya.
Ia pun memberikan kode agar sedikit menjauh untuk berbicara, Bok Joo yang tak nafsu makan mulai makan sambil mengomel kalau keduanya baru saja bertemu dan sekarang banyak bicara di telp, menurutnya Joon Hyung lebih baik kembali saja ke rumah sakit.
Bok Joo terus melirik sinis dengan terus makan eomuk, melihat Joon Hyung masih berbicara di telp. Joon Hyung memberitahu kliniknya tak jauh dari kampus dan meminta agar memberitahunya kalau memang ingin bertemu.  Ia kembali ke warun tenda melihat Bok Joo yang makan dengan cepat, menyuruhnya agar perlahan saja dengan mengejek tadi mengatakan tak lapar dengan mengejeknya babi. Bok Joo melirik sinis.
Joon Hyung menarik kata-katanya dengan memangginya “gendut saja” Bok Joo makin kesal memilih untuk pergi meninggalkanya. Joon Hyung pun buru-buru membayarnya dan bertapa kagetnya harus membayar 160ribu won. 

Joon Hyung memeluk Bok Joo dari belakang setelah mengejarnya, Bok Joo  memukul tanganya dengan bergegas pergi. Joon Hyung heran dengan Bok Joo karena tidak biasanya marah hanya karena hal seperti itu, Bok Joo meminta agar meninggalkanya sendiri.
“Baiklah, aku akan menjaga mulutku mulai dari sekarang. Tolong maafkan aku sekarang” ucap Joon Hyung mencoba mengenggam tangan Bok Joo, tapi Bok Joo dengan kekuatan menghempasnya sampai membuat tangan Joon Hyung terluka.
“Aku menyuruhmu membiarkan ku sendiri, kenapa kau terus mengangguku?” ucap Bok Joo kesal seperti tak ingin mempedulikanya.
Joon Hyung mencoba merengek kalau jarinya itu berdarah. Bok Joo berusaha untuk tak peduli, menyuruhnya agar tak cengeng karena cuma tergores sedikit saja, Joon Hyung tak terima karena Luka sekecil itu bahkan sangat perih dan meminta agar memberitahu alasan Bok Joo marah,  merasa kalau bukan karena memanggilnya babi
“Aku tidak marah” kata Bok Joo mengelak, Joon Hyung tahu Bok Jo benar-benar marah,
“Kenapa kau terus bilang begitu? Kau membuat aku marah, kau aneh sekaliPergilah! Aku harus latihan” teriak Bok Joo kesal berjalan lebih dulu. 

“Dia jelas-jelas marah padaku, apa sebenarnya masalahnya?” kata Joon Hyung melihat Bok Joo yang pergi meninggalkanya.
“Kalau dia mau tahu penyebabnya, maka dia harus menyadari kesalahannya”ucap Bok Joo mengomel sendiri.
“Bok Joo, aku tidak menyangka kau seperti itu, dasar kau” teriak Joon Hyun kesal
“Bersikaplah yang sopan... Apa yang dilakukannya dengan mantan pacarnya di depanku? Apa dia benar-benar harus mengingatkanku kalau dulu mereka pernah berkencan? Aku tidak mau kelihatan kekanak-kanakan, jadi tidak bisa memberitahunya kenapa aku marah” ungkap Bok Joo. 

Bok Joo masuk ruang latihan terlihat suasana tegang, Sang Chul tidak percaya Profesor Yoon juga berhenti lalu berpikir mereka harus berhenti dari tim angkat besi. Min Young yakin kalau Pelatih Yoon tidak sepenuhnya berhenti dan hanya mengatakan saat sedang marah, Bok Joo kaget bertanya apa yang terjadi pada pelatih Yoon.
“Aku rasa dia berusaha membantu supaya pelatih Choi kembali lagi Tapi pihak kampus malah menyewa pelatih baru tanpa memberitahunya, Jadi dia bilang dia mau berhenti dan keluar” kata Nan Hee menjelaskanya.
“Semuanya, ayo kita pergi saja, kenapa kita harus ada di sini? Bahkan Profesor kita tidak perduli” ucap Eun Young, Sang Chul setuju menurutnya Pelatih Yoon hanya peduli pada pelatih Choi yang menghabiskan dana operasi tim dibandingkan mereka. 

“Itu bukan kesalahan pelatih Choi tapi semua adalah salahku. Pelatih Choi menggunakan dana operasi kita... Untuk membantuku.. Maafkan aku” kata Woon Gi akhirnya mengakunya, semua terlihat kaget mendengarnya.
“Ini semua adalah kesalahanku Aku seharusnya memberitahu semua orang secepatnya waktu mereka menyalahkannya, Aku tidak bisa melakukannya karena dia melarangku” akui Woon Gi.
Semua pun duduk diam, Bok Joo pun merasa kalau dugannya benar  bahwa pelatih Choi  tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Lalu bertanya apa yang harus mereka lakukan, apakah  akan membiarkan begitu saja pelatih Choi  dan Profesor Yoon meninggalkan mereka.
“Tidakkah kita seharusnya meminta pihak kampus Untuk mempertimbangkan situasinya dan memaafkan Profesor Yoon?” kata Bk Joo
“Tapi, apakah mereka akan mendengarkan kita?” ucap Eun Young merasa tak mungkin
“Kita harus membuat mereka mendengarkan kita” ucap Bok Joo. 

Tim angkat besi sudah membawa papan dan juga berteriak melakukan protes “Tim angkat besi menginginkan  Pelatih Choi Seong Eun kembali. Tolong mengerti situasi kami”  Mereka ingin agar pelatih mereka bisa kembali.
Beberapa orang yang lewat seperti tak peduli. Bok Joo merasa kalau  Cuacanya lebih dingin dari yang diperkirakan dan seharusnya tidak menyarankan melakukan ini diluar. Nan Hee mengingatkan Bok Joo kalau sebelumnya menyarankan untuk melakukan demo di luar agar menunjukkan betapa menginginkan pelatih kembali, Bok Joo membenarkan.
Tim Junior mengaku bisa menahan dinginnya, tapi merasa kelaparan sekarang, Woon Gi tahu mereka tidak bisa melewatkan makan. Mereka pun mulai mengkhayal dengan mencium rebusan pasta kacang kedelai dan Rebusan kepiting.  Bok Joo pun merasakan kalau dimakan dengan nasi panas pasti enak. Woon Gi menyuruh mereka menghentikanya karena akan bertambah lapar kalau membicarakannya seperti itu

Tuan Kim melihat papan bertuliskan(Kami menginginkan pelatih kami kembali!)(Kenapa tim angkat besi ada?) (Haruskah kami bubar?) dan bertanya pada asistentnya apa yang sedang mereka lakukan dengan nada meremehkan. 
“Anggota tim angkat besi menginginkan pelatih Choi kembali. Mereka sepertinya menahan lapar.” Kata Assitenya. Tuan Kim tak percaya mereka bisa melakukan itu lalu masuk ke dalam ruangan tak peduli menurutnya Baik profesor maupun siswanya hanya membuat masalah besar saja. 

Joon Hyung duduk di ruangan kakaknya terlihat kesal membaca note yang ditulis Bok Joo untuk kakaknya saat berulang tahun. Jae Yi melihat Joon Hyung yang punya banyak waktu luang menurutnya latihan musim dingin tidak terlalu sulit. Joon Hyung mengaku datang  saat istirahat makan malam dan harus datang untuk minum kopi buatan kakaknya.
“Bagaimana denganmu? Apa hyung berkencan dengan seseorang? Karena Hyung jarang datang ke kampusku untuk menemui Dokter Go sekarang ini” kata Joon Hyung heran
“Yah.. Aku punya banyak pikiran sekarang” akui Jae Yi setelah reuni kemarin membuat hubungan rengang.
“Kenapa? Apa Dokter Go mengatakan padamu dia tidak lagi bisa menungguuntuk menyukaimu? Apa dia bilang ingin mengakhiri semuanya?” kata Joon Hyung menebak, Jae Yi memuji adiknya itu memang hebat.
“Aku bisa tahu itu, Pria dan wanita tidak pernah bisa berteman, Kau punya...Masalah besar . Bagaimana kau tidak tahu hal yang bahkan bisa aku ketahui?” komentar Joon Hyung

Jae Yi membahas yang lainya bertanya apakh semuanya berjalan baik dengan Bok Joo. Joon Hyung tersipu malu mengaku kalau nasibnya itu tak seperti kakaknya itu. Jae Yi tak percaya Joon Hyung berani mengakui perasaannya lalu mengucapkan selamat. Joon Hyung mengaku tetap saja terasa berat menjalani hubungannya.
“Kenapa para gadis... Tidak memberitahu para pria kenapa mereka marah.. Dan mengharapkan para pria mengetahuinya? Apa mereka suka kuis?” kata Joon Hyung kesal
“Itulah pesonanya orang berpacaran, memangnya Kenapa? Apa Bok Joo marah padamu?” kata Jae Yi, Joon Hyung membenarkan.
“Aku tidak tahu sebabnya dan merasa seperti di jalan yang kusut” ungkap Joon Hyung kebinggungan. Jae Yi meminta agar adiknya itu memikirknya dengan baik-baik  karena apabila terus memikirkannya, nanti akan mengetahuinya.
Ia berkomentar kalau adiknya sedang dalam hubungan berkencan jadi  keadaanya itu pasti jauh lebih baik daripadanya. Joon Hyung dengan bangga mengatakan kalau tentu saja pasti lebih baik dari kakaknya itu, walaupun wajahnya seperti memikirkan sebab Bok Joo marah padanya.
Bersambung ke part 2
FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar