Kamis, 08 Desember 2016

Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 7 Part 2

PS : All images credit and content copyright : SBS
Sim Chung melihat Jin Soo dengan tatapan sinis dan juga Elizabeth yang memiliki raut wajah yang sama dengan sang ibu, lalu mengajak agar Yoon Na keluar menghadapinya. Jin Soo tiba-tiba terpana melihat saat Sim Chung keluar dengan tiupan angin yang mengibaskan rambutnya.
Rambut itu, berantakan sekali. Tapi sangat elegan sekali. Dimana itu? Dimana dia menata rambutnya seperti itu?” Gumam Jin Soo benar-benar terpana melihatnya, keduanya pun bertemu di depan taman bermain
Ibu! Aku bilang si Unni itu yang memarahiku.”kata Elizabeth menyadarkan ibunya yang melamun. Jin Soo pun sadar kalau datang ingin membela anaknya.
Apa kau orang yang memarahi anakku?” ucap Jin Soo akhirnya melihat pakaian dari atas kebawah yang dipakai oleh Sim Chung karena terlihat elegant.

Kenapa bisa begitu? Pakaiannya itu tidak cocok sekali. Ibarat sup dan nasi yang disajikan terpisah, tapi... entah kenapa mereka cocok sekali setelah dipakai olehnya. Kenapa bisa begitu? Siapa yang menciptakan style itu? “ Gumam Jin Soo penasaran
Itu karena dia mengganggunya.” Kata Sim Chung menantang, Jin Soo meremehkan Sim Chung bertanya dia siapa apakah ia ibu atau guru sekolahnya lalu melihat ke arah kakinya.
Sejak kapan Chanel dan Dior berkolaborasi? Kenapa aku tak pernah berpikiran seperti itu?” gumam Jin Soo benar-benar terpana melihat gaya busana yang berbeda.
Elizabeth kembali menyadarkan ibunya, Sim Chung mengaku sebagai teman dari Yoon Na, dan mulai sekarang tidak akan membiarkan anaknya itu mengganggunya lagi, lalu melirik sinis dengan mengingatkan pada Elizabeth kalau sudah berjanji. Elizabeth terlihat ketakutan. Sim Chung pun mengajak Yoon Na pergi dengan membawakan tasnya.
Tunggu... Aku... penasaran dan ingin bertanya satu hal. Kau langganan dokter kulit mana? Kau janga bing "Aku tidak langganan," "Aku memang lahir dengan kulit seperti ini," "Aku bahkan jarang merawat kulitku" Jangan coba-coba kau jawab omong kosong itu.” Ucap Jin Soo, Sim Chung mengingat saat ada laut memakai masker laut diwajah bersama dengan teman-temanya.
Jawab aku, kau perawatan dimana?” tanya Jin Soo penasaran
Bukan di Seoul Tapi sangat jauh dari sini.” Kata Sim Chung lalu bergegas pergi. Jin Soo sudah menduganya,penasaran ingin tahu negara mana yang didatanginya


Sim Chung melihat Jin Soo dengan tatapan sinis dan juga Elizabeth yang memiliki raut wajah yang sama dengan sang ibu, lalu mengajak agar Yoon Na keluar menghadapinya. Jin Soo tiba-tiba terpana melihat saat Sim Chung keluar dengan tiupan angin yang mengibaskan rambutnya.
Rambut itu, berantakan sekali. Tapi sangat elegan sekali. Dimana itu? Dimana dia menata rambutnya seperti itu?” Gumam Jin Soo benar-benar terpana melihatnya, keduanya pun bertemu di depan taman bermain
Ibu! Aku bilang si Unni itu yang memarahiku.”kata Elizabeth menyadarkan ibunya yang melamun. Jin Soo pun sadar kalau datang ingin membela anaknya.
Apa kau orang yang memarahi anakku?” ucap Jin Soo akhirnya melihat pakaian dari atas kebawah yang dipakai oleh Sim Chung karena terlihat elegant.
Kenapa bisa begitu? Pakaiannya itu tidak cocok sekali. Ibarat sup dan nasi yang disajikan terpisah, tapi... entah kenapa mereka cocok sekali setelah dipakai olehnya. Kenapa bisa begitu? Siapa yang menciptakan style itu? “ Gumam Jin Soo penasaran
Itu karena dia mengganggunya.” Kata Sim Chung menantang, Jin Soo meremehkan Sim Chung bertanya dia siapa apakah ia ibu atau guru sekolahnya lalu melihat ke arah kakinya.
Sejak kapan Chanel dan Dior berkolaborasi? Kenapa aku tak pernah berpikiran seperti itu?” gumam Jin Soo benar-benar terpana melihat gaya busana yang berbeda.
Elizabeth kembali menyadarkan ibunya, Sim Chung mengaku sebagai teman dari Yoon Na, dan mulai sekarang tidak akan membiarkan anaknya itu mengganggunya lagi, lalu melirik sinis dengan mengingatkan pada Elizabeth kalau sudah berjanji. Elizabeth terlihat ketakutan. Sim Chung pun mengajak Yoon Na pergi dengan membawakan tasnya.
Tunggu... Aku... penasaran dan ingin bertanya satu hal. Kau langganan dokter kulit mana? Kau janga bing "Aku tidak langganan," "Aku memang lahir dengan kulit seperti ini," "Aku bahkan jarang merawat kulitku" Jangan coba-coba kau jawab omong kosong itu.” Ucap Jin Soo, Sim Chung mengingat saat ada laut memakai masker laut diwajah bersama dengan teman-temanya.
Jawab aku, kau perawatan dimana?” tanya Jin Soo penasaran
Bukan di Seoul Tapi sangat jauh dari sini.” Kata Sim Chung lalu bergegas pergi. Jin Soo sudah menduganya,penasaran ingin tahu negara mana yang didatanginya.

Ketiganya akhirnya kembali bersama, Joon Jae mengumpat kesal dengan kejadian hari ini dan menyuruhnya  cari tahu yang lain, Nam Do mengeluh Joon Jae selalu seperti itu lalu menyerahkan kunci mobil karena ingin datang ke suatu tempat jadi mereka pulang lebih dulu.
Kau mau kemana?” tanya Joon Jae. Nam Do mengatakan Joon Jae tak perlu tahu.
Kau bahkan tidak punya tempat tujuan...” ucap Joon Jae dan Nam Do pun memilih pergi.
Saat itu Nyonya Mo baru pulang dari pasar melihat sosok Joon Jae akan masuk mobil dan mengejarnya, tapi Joon Jae tak melihat kebelakang langsung melajukan mobilnya. Nyonya Mo menangis sedih tak bisa bertemu dengan anaknya. 

Didalam mobil
Joon Jae bertanya pada Tae Hoo kenapa kau mau bekerja seperti ini? Ta Ho pikir Cuma hal ini yang bisa dikuasainya. Joon Jae pikir Tae Hoo  bisa menggunakan bakat itu di tempat lain dan merasa iri padanya. Tae Ho mendengar komentar Joon Jae yang terkesan dingin.
“Lalu 'kau' sendiri kenapa?” kata Tae Ho, Joon Jae membenarkan kalau harusnya memanggil Hyung.
Hyung, apa yang telah terjadi padamu sampai memulai pekerjaan ini?” kata Tae Ho penasaran
Jadi, orang perlu bertemu orang yang tepat.” Kata Joon Jae. 

Tahun 2006
Joon Jae melihat salah seorang sedang makan mie ramen, seperti air liurnya tak tahan, tapi ia menguatkan hati dengan menuliskan di layar komputernya [Aku mencari ibuku. Kami berpisah semenjak aku umur 10 tahun. Namanya Mo Yoo Ran. Tanggal lahirnya...]
Akhirnya Joon Jae makan burger dengan nikmat dan seseorang memberikanya minuman, Nam Do dengan pakaian jas yang rapih mengatakan bisa melakukan setelah interior kantor sudah selesai. Joon Jae bertanya untuk menyakinkan apakah  bisa menemukan ibunya.
Kampung halaman ibumu di Cheongbuk... Jaecheon, kan? Dia putri dari juragan tanah yang sangat kaya rupanya.  Tapi setelah orangtuanya meninggal, dia tak sengaja menandatangani kontrak dengan rentenir. Dia kehilangan harta kekayaannya. Setelah itu... tidak ada kerabatnya yang menghubunginya.” Cerita Nam Do menyakinkan.
Benar, tapi kau tahu itu darimana?” ucap Joon Jae kaget
“Kau tanya Aku tahu darimana? Ini memang pekerjaanku.” Ucap Nam Doo, Joon Jae memastikankan kalau Nam Do akan menemukan ibunya.
Tapi..., pada kenyataannya bahwa dia tidak memberitakan ada dimana dan dia tidak punya tempat tinggal yang tetap, dan sepertinya dia tidak menikah lagi. Sangat sulit menemukan ibumu menggunakan cara yang biasa.  Nantinya, kau pasti harus bayar seorang ahli tapi biayanya...” ucap Nam Doo terhenti
Joon Jae membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal,  dan bertanya apakah uang itu cukup. Nam Do tersenyum menerima uangnya. 


Tentu saja orang itu membawa lari uangnya.
Joon Jae menunggu dan terus menunggu ditempat pertama kali bertemu, saat itu Nam Doo keluar dengarn seorang wanita memastikan kalau akan menemukanya. Joon Jae langsung keluar dari persembunyianya dan berteriak pada si wanita kalau Nam Do penipu dan jangan memberikan uangnya, Nam Doo panik menutup mulut Joon Jae.
Akhirnya Joon Jae makan udon diwarung tenda dan Nam Do meminum segelas soju lalu bertanya Sudah berapa hari ada ditempat itu. Joon Jae memberitahu 15 hari.  Joon Jae langsung mengajak Nam Do agar berkerja denganya karena suka orang-orang yang agresif.  
Jika kau keliaran seperti itu mencari ibumu, kakimu malah yang sakit.  Kau harus punya uang buat mencari ibumu. Terus terang..., kalau kau menemukan ibumu tapi, nanti apa yang akan kau lakukan karena kau tidak punya uang?” ucap Nam Do menyakinkan.
Kapan uangmu cukup kalau merampas uang anak muda sepertiku?Kau harusnya merampas uang dari orang kaya. Jika mau menipu seseorang, kau harus meluangkan waktu dan biaya. Jika kau mempertimbangkan efisiensi biaya...,bukankah lebih menguntungkan mencuri dari orang-orang kaya, dan memakai cara yang sama? Ada begitu banyak orang yang tidak mau melapor. “ ucap Joon Jae, Nam Do tersenyum bahagia mendengarnya 


Joon Jae ingat kalau membantu Nam Do Hanya sampai menemukan ibunya punya uang yang cukup buat beli rumah. Tae Ho melihat Joon Jae sudah memiliki uang banyak untuk membelikan rumah untuk ibunya. Joon Jae tahu tapi ia sampai sekarang belum menemukan ibunya dan yakin kalau Nam Doo  juga bekerja keras menemukan ibunya.
Tapi dia tidak bisa menemukan di mana keberadaan ibuku. “ ucap Joon Jae
Nyonya Mo duduk sedih di trotoar karena tak bisa bertemu dengan Joon Jae padahal jarak mereka sangat dekat, Nam Do seperti tak sadar kalau yang sempat berpapasan dengannya ibu dari Joon Jae. 

Nam Do sibuk menemui temanya sebagai dokter, merengek agar bisa melihatnya yaitu Ini hasil x-ray pada orang yang sama tapi Pihak RS bilang hasilnya tertukar dengan pasien lain. Dokter hanya melihat sekilas kalau itu foto dari orang yang sama. Nam Doo terkejut tak percaya.
Kau hanya bias melihat tulang dan frakturnya. Coba Lihat ini. Lebar tibia (tulang kering) dan fibulanya (tulang betis) dan bentuk pelebarannya sama persis. Yang ini patah tulang dan yang ini dalam tahap penyembuhan.”jelas Dokter lalu melihat sesuatu, Nam Doo bertanya dengan wajah panik
Tulangnya saling melekat, tapi masih ada *edema (pembengkakan jaringan karena kandungan cairan bertambah) Biasanya, pembengkakan harusnya menghilang dulu, barulah tulangnya saling melekat, tapi kasus orang ini, tulangnya malah sudah melekat duluan.” Jelas Dokter
Apa hal itu bisa terjadi? Berapa lama waktu yang diperlukan agar tulangnya tetap melekat, dan pembengkakannya sembuh?” tanya Nam Doo penasaran
Ini pada dasarnya kasus per kasus, tapi walaupun begitu agar saling melekat seutuhnya, butuh sekitar 12-16 minggu. Hei, bahkan tekanan pada tulang, maksimum 3-4 minggu dengan pemasangan gips.” Jelas Dokter
Nam Do bertanya bagaimana dengan seminggu apakah akan berubah seperti ini. Dokter pikir tak masuk akal lalu menyuruh Nam Do segera pergi karena sangat sibuk. 


Si Ah kaget mendengarnyar merasa sangat menakutkan dan berpikir kalau Sim Chung itu memang zombie. Nam Do yakin bukan, Si Ah melihat Sim Chung yang hilang ingatan saja atau agak bodoh, tapi pasti ada yang aneh. Nam Doo juga berpikir seperti itu tapi  tidak bias memahami apa itu. Ponsel Si Ah berdering.
Hallo.. Apa Kau sudah tahu siapa  pemilik barang peninggalan itu? Jadi Siapa pemiliknya?” ucap Si Ah penasaran dan menyebut nama  Kim Dam Ryung. Nam Do mendengar nama tersebut seperti tak asing karena pernah melihat di gelang berwarna hijau.
Oppa, aku harus masuk lagi ke dalam. Sepertinya kami sudah menemukan pemilik peninggalan dari kapal karam itu.” Kata Si Ah bergegas pergi.
Tunggu.. Apa Nama pemiliknya Dam Ryung?” ucap Nam Do, Si Ah membenarkan. 
Dia dulunya pejabat kota di  Heupgok Hyun di Provinsi Gangwon. Kenapa?” kata Si Ah, Nam Do tak membahasnya dan menyuruh Si Ah kembali berkerja saja.
Awasi Joon Jae dan wanita itu. Pastikan mereka tidak macam-macam, ya?” perintah Si Ah sebelum kembali ke lab, Nam Doo pun mengingat nama Dam Ryung. 

Sim Chung melihat air sungai Han dan tak tahan ingin melompat saat itu tanganya ditarik oleh seseorang, bertanya kenapa harus menariknya. Yoo Jung Hoon heran kenapa Sim Chung malah bertanya, karena tahu kalau pasti akan terjun ke dalam sungai. Sim Chung berusaha menjelaskan bukan itu maksudnya.
Jangan coba-coba membodohiku. Kau saja melepas... sepatumu. Berdirilah, orang-orang seperti ini...” ucap Jung Hoon lalu keduanya terlihat terkejut seperti saling mengenal. Sim Chung pun menutup mulutnya tak percaya. 

Jung Hoon mengajak Sim Chung pergi ke kantornya dengan memberikan segelas teh barley, Keduanya saling menatap seperti mereka bisa berbicara dengan bahasa ikan. Jung Hoon menahanya, karena sudah lama tinggal di Seoul jadi hampir tidak ingat cara bicara disana menurutnya Bahasa korea lebih nyaman. Sim Chung bisa mengetahuinya.
Hei. Siapa sangka... aku akan bertemu dengan putri duyung di tengah-tengah Seoul? Kukira cuma aku satu-satunya putri duyung di Seoul. Aku juga kaget.” Ungkap Sim Chung, Jung Hoon bertanya apa yang akan dilakukan tadi.
Aku lapar. Aku tidak punya uang dan sekarang waktunya makan, jadi aku mau ke sana buat makan.” Cerita Sim Chung
“Apa Kau tidak punya uang?” kata Jung Hoon tak percaya lalu mengeluh Sim Chung itu masih seperti dulu. Sim Chim dibuat binggung

“Apa Kau sungguh tidak tahu ini? Ini air mata dan ini senilai dengan uang.” Kata Jung Hoon memperlihatkan kantung plastik yang berisi mutiara, Sim Chung binggung kenapa bisa dikatakan uang.
Kalau kau tidak tahu, ingat saja itu. Air mata ini senilai dengan uang. Dan saat kau mulai menangis... maka lakukan saja dan kumpulkan semuanya. Ini sangat membantumu.” Ucap Jung Hae memperilhatkan cara menampung mutiara dengan menaruh plastik di wajahnya.
Sim Chung menyesal sudah menangis beberapa kali seharusnya sudah mengumpulkannya. Jung Hoon menjelaskan Semakin besar air matanya, semakin mahal. Jadi, daripada menangis air mata kecil lebih baik tahan saja, dan menangislah air mata sebesar mungkin dengan Tersedu-sedu. Sim Chung mengangguk mengerti

Air mata yang kecil kisaran harganya 20-30rb won per butir Dan air mata besar 40-50rb won per butir. Yang paling mahal itu mutiara yang ada warna merah jambunya.” Jelas Jung Hoon
“Kau bilang  Mutiara warna merah muda? Apa itu Yang keluar kalau kita menangis bahagia?” kata Sim Chung, Jung Hoon membenarkan.
Tapi selama kau tinggal di sini, moment bahagia yang bisa membuatmu menangis jarang terjadi. Aku pernah menangis seperti itu hanya sekali.” Kata Jung Hoon sedih
Berarti aku harus banyak menangis dan memberikan semua air mataku pada Heo Joon Jae.”ucap Sim Chung tersenyum bahagia. 


Jung Hoon bingung siapa yang dimaksud Joon Jae, Saat itu Joon Jae sedang membaca buku didalam kamarnya, Sim Chung memberitahu kalau Joon Jae adalah orang yang baik, giat bekerja. dibandingkan pegawai negeri demi kepentingan negara. Jadi sangat menyukainya karena Joon Jae adalah  orang yang keren.
Tunggu, Apa kau tidak datang ke sini untuk melihat cahaya? Dan Kau datang ke sini karena pria yang kau sukai?” ucap Jung Hoon tak percaya ternyata Sim Chin benar-benar tak tahu apapun. 
“Jadi Sudah berapa lama sejak kau tiba di sini?” tanya Jung Hoon, Sim Chung mengatakan satu bulan.

Orang yang kau sukai itu, sebelah pihak atau kedua belah pihak? Maksudku, apa kau saja yang menyukainya atau kalian saling menyukai? ” kata Jung Hoon, Sim Chung pikir untuk sekarang hanya ia  yang menyukainya.
Kau ini benar-benar tidak tahu apa-apa! Kau harusnya berpikir dulu sebelum datang ke sini! Ah, inilah sebabnya aku tinggal di sini bicara dengan ikan yang ada disungai. Aku menyuruh mereka memberitahu putri duyung. "Jangan pernah mengikuti manusia kesini." Apa Kau tidak pernah dengar kata itu?” ucap Jung Hoon, Sim Chung mengatakan kalau ia tak pernah mendenganya. 
Jung Hoon mengumpat kesal, berpikir para ikan itu  dipancing nelayan atau lupa mengatakannya. Sim Chung ingin tahu kenapa ia tak boleh tidak boleh mengikuti manusia ke daratan. Jung Hoon meminta agar Sim Chung mendengarnya, kalau ia memiliki punya batas waktu.
Saat putri duyung meninggalkan lautan, jantungnya mulai mengeras.  Meskipun kakimu tidak mengeras, tapi jantungmu punya batas waktu.  Hanya ada satu cara agar kau bisa terus bernapas... dan menjaga jantungmu berdetak di daratan.  Kau bisa bernapas bila orang yang kau cintai, mencintaimu juga. Itulah satu-satunya cara agar jantungmu bisa terus berdetak.
Sim Chung pergi meninggalkan lautan berhari-hari menuju Seoul, lalu sampai di Seoul sendirian mencari Joon Jae. Sebelumnya Joon Jae dengan memegang tanganya memohon agar Sim Chung bisa kembali sadar. Jung Hoon pikir saat ini belum terlalu terlambat, jadi menyuruhnya agar kembali saja ke laut.
Jadi kenapa kau datang ke sini tanpa berpikir panjang? Setelah kau meninggalkan laut seharusnya pasti ada motifnya kau kemari. Orang itu mengatakan sesuatu padamu, kan?” kata Jung Hoon
Dia memberitahuku agar datang ke Seoul.” Ucap Sim Chung, Jung Hoon ingin tahu apakah pria itu mengajak berkencan atau menikah.
Dia mengajakku pergi ke restoran special dan juga mengajakku melihat kembang api.” Ucap Sim Chung

Jung Hoon tak percaya Sim Chung itu murahan sekali, bisa langsung cinta begitu hanya karena restoran spesial dan kembang api. Lalu bertanya apakah mereka  pernah bermesraan selama satu bulan. Sim Chung mengelengkan kepala. Jung Hoon bisa tahu dengan melihat penampilanya, langsung tahu Sim Chung itu takkan punya kemajuan menyarankan untuk membantunya, Sim Chung bertanya bagaimana caranya.
Semua pria itu... merupakan  bagian dari wujud kecemburuan. Jika kau tidak tahu, ingat saja ini. Kecemburuan... adalah cara tercepat untuk mencintai. Sepertinya kita harus membuatmu menjadi cantik. Jadi Haruskah kita cari uang buat belanja?” kata Jung Hoon. 


Keduanya menonton drama master Sun dengan adegan yang membuat menangis, Jung Hoon menyuruh agar Sim Chung bisa menahan tangisanya, keduanya sudah menyiapkan kantung untuk menampung semua mutiara yang jatuh. Saat adegan benar-benar mengharukan, keduanya menangis sangat keras agar mendapatkan mutiara yang besar.
Sim Chung dan Jung Hoon selesai berbelanja dan menuruni tangga untuk masuk rumah. Joon Jae membuka pintu melihat Sim Chung dengan pakaian yang terlihat mewah, lalu melihat seorang pria disampingnya dan bertanya siapa. Jung Hoon memperkenalkan dirinya dan mengaku sudah banyak dengar tentangnya meminta bantuanya. Joon Jae binggung bantuan apa yang dimaksud.
Sayangku... Katanya dia tinggal di rumah ini untuk sementara waktu dan rumah ini penuh dengan pria, jadi aku sedikit khawatir. Tapi karena aku sudah melihatmu..., aku jadi merasa tenang.” Ucap Jung Hoon sengaja membuat Joon Jae cemburu.
“Apa Kau tenang? Sepertinya aku tidak punya malu seperti yang kau kira.” Ejek Joon Jae.
Sayang, bagaimana kalau mengikat rambutmu besok? Lehermu bagus.” Kata Jung Hoon, Sim Chung sengaja memamerkan lehernya yang jenjang,
Joon Jae seperti tak tahan melihatnya langsung menarik Sim Chung masuk ke rumah, Sim Chung menyuruh Jung Hoon agar pergi lebih dulu, Jung Hoon tak ingin karena ingin melihat Sim Chung masuk. Keduanya saling adu mulut siapa yang harus masuk lebih dulu. Joon Jae kesal menyuruh Sim Chung masuk karena Jung Hoon sudah menyuruhnya masuk lebih dulu.
Jung Hoon menahan pintu sebelum tertutup karena  hanya ingin melihat wajahnya sekali lagi, dengan matanya merasa baru saja memotretnya dan . pasti akan melihatnya waktu saat merindkukanya malam ini. Sim Chung pun ikut melakukanya, Joon Jae tak tahan langsung menutup pintu. Jung Hoon yang melihatnya bisa tersenyum karena rencananya sukses. 


Tuan Heo meliha keadaan Sek Nam yang tak sadarkan diri dengan penyanggah leher dan juga alat bantu oksigen, Ia tahu kalau Sek Nam itu bukan tipe pria yang mabuk sambil menyetir. Istrinya juga tidak mengerti karena Sejak hari itu ketika putra keduanya  berkunjung pulang dari masa wamilnya mereka memutuskan untuk makan bersama.
Tapi, kenapa? Kenapa dia mabuk dan menyetir sampai kesana? Sepertinya kecelakaan ini disengaja.” Kata istri Sek Nam yakin
Bagaimana bisa? Polisi menyatakan kalau dia mengemudi di bawah pengaruh alkohol. Keadaan makin sulit kalau kau berpikiran seperti itu.” Ucap Seo Hee sengaja membuat agar tak curiga. Tuan Heo hanya diam saja. 

Joon Jae tertidur dikagetkan dengan sosok yang mendekat dan ingin memegangnya, secara refleks langsung menendang dan menyalakan lampu kamarnya. Nam Do berteriak kesakitan dan memberitahu kalau ia yang datang. Joon Jae bertanya apa yang dilakukan padanya. Nam Do meminta agar Joon Jae memberikan ia bisa  melihat gelangnya Sekali saja. Joon Jae mengeluh Nam Doo bersikap seperti ini lagi.
Aku hanya ingin memastikan sesuatu.” Kata Nam Do, Joon Jae ingin tahu memastikan apa maksudnya. Nam Do tak memberitahu.
“Apa Kau tidak mau bicara sejujurnya?” ucap Joon Jae dengan nada kesal
Begini, Si Ah saat ini meneliti artefak dari kapal karam. Artefak itu milik seseorang bernama Dam Ryung. Ini Menarik kan? Ada kemungkinan bahwa mereka adalah dua orang yang berbeda dengan nama yang sama. Namun, jika memang itu orang yang sama maka nilainya bisa lebih dari 6 M won! Jadi Biarkan aku melihatnya!” kata Nam Do merengek
Hyung..., Apa kau tahu kenapa aku menyimpan gelang itu? Aku mau mengembalikannya pada Sim Chung waktu dia pergi nanti. Jika aku mengembalikan padanya sekarang..., maka orang-orang sepertimu pasti tidak akan merelakan gelang itu.” Jelas Joon Jae,
Nam Doo heran dengan Joon Jae itu  aneh sekali belakangan ini seperti secara tiba-tiba berubah jadi orang yang berperikemanusiaan. Joon Jae menyuruh Nam Do keluar dari kamarnya, Nam Doo mengeluh melihat Joon Jae itu sangat menakutkan.
Joon Jae mengingat mimpinya dengan seorang pria mengunakan gelang berteriak memanggil nama Se Hwa, lalu melirik ke arah pintu atap kamar atas merasa Kejadian aneh terus terjadi setelah bertemu si bodoh Sim Chung. 


Pagi hari
Sim Chung keluar dari kamar dengan pakaian yang rapih dan juga rok mini, Nam Doo yang melihatnya tak percaya karena Sim Chung sudah bisa dandan bahkan berpakaian yang terlihat cantik, Tae Ho melonggo melihat Sim Chung benar-benar cantik.  Nam Do pun bisa melihat Tae Ho sampai tak bisa berkata-kata melihatnya.
Joon Jae tiba-tiba datang melepaskan ikat rambut yang memperlihatkan lehe Sim Chung, mengaku kalau sekarang Ini musim dingin. Nam Doo pun memperlihatkan kalau Sim Chung mengunakan rok mini. Joon Jae menyuruh Sim Chung agar menganti pakaianya. Sim Chung menanyakan alasanya karnea pakaian ini juga Joon Jae yang membelikanya.
Kau pikir aku membelinya agar dikenakan di luar? Aku membelinya biar kau gantung itu di lemari.” Kata Joon Jae, Nam Do pikir itu tak masuk akal.

Tentu saja masuk akal! Tidak semua pakaian dibuat biar dipakai. Ada juga yang dibuat biar digantung di lemari! Jadi Ganti pakaianmu, dan pakai celana. Serta jangan ikat rambutmu.” Perintah Joon Jae.
Hei, kenapa kau yang mengatur rambut dan pakaiannya? Memangnya kau gurunya?” keluh Nam Do membela Sim Chung
Aku pemilik rumah ini. Hyung, kau juga ganti. pakaianmu! Memangnya kau itu Rudolph ? Kalian semua harus turuti kata-kataku. Kalau tidak suka, keluar saja dari sini.” Kata Joon Hae, Sim Chung kembali ke kamar dengan wajah cemberut. 


Keempatnya sarapan bersama, Nam Do memuji Sim Chung yang bisa mengunakan sumpit dengan benar sekarang, Sim Chung pun mengubah cara makannya seperti wanita yang malu-malu saat makan, Nam Do pun bertanya mau kemana hari ini karena akan mengantarnya, Sim Chung menjawab kalau ada janji nanti.
Bukannya kau itu harus bersih-bersih rumah, agar kau bisa tinggal disini?” ucap Joon Jae mengingatkanya.
Tentu saja, aku bisa bersih-bersih. Aku pernah melihat Tae Oh melakukannya.” Kata Sim Chung
“Ruangan ini cukup berdebu belakangan ini karena kita tidak membuka jendela untuk sirkulasi udara. Bersihkan semuanya sampai tidak ada debu.” Perintah Joon Jae, Tae Ho dengan senang hati akan melakukanya demi Sim Chung.
Ini rumahku. Terserah aku siapa yang mau kusuruh. Dan Juga ada kipas di gudang berdebu.” Kata Joon Jae, Nam Do pikir mereka  juga tidak akan menggunakannya sampai musim panas mendatang.
Karena itulah kita harus membersihkannya sekarang.” Ucap Joon Jae, Nam Doo merasa Joon Jae seperti ibu tiri dan menyuruh Sim Chung pergi saja.
Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi sebelum kau membersihkan semuanya.” Tegas Joon Jae

Ketiganya sudah ada diparkiran, Joon Jae teringat sesuatu kalau ia meninggalkan ponselnya dan akan kembali ke rumahnya. Sim Chung sedang membersihkan kaca dekat kolam renang, matanya terus menatap dan ingin mencelupkan kakinya, tapi berusaha ditahan. Tapi akhirnya Sim Chung masuk ke dalam kolam renang merasa sangat menyegarkan untuknya.                                                     
Flash Back
Jung Hoon bertanya  apakah Sim Chung tahu kenapa putri duyung berada di ambang kepunahan, itu karena mereka tidak berubah. Selama ini manusia yang berubah tapi mereka tidak berubah seperti orang bodoh. Karena itula mereka selalu dikhianati. Sim Chung binggung kenapa manusia bisa berubah
Ya. Wanita yang kucintai juga berubah.  Meskipun dia berkata dia akan mencintaiku selamanya. Setelah dia tahu siapa diriku, maka dia meninggalkanku. Begitu saja. Awalnya, aku menyesal datang ke daratan dan ini Sulit, tapi itulah kenyataan.” Jelas Jung Hoon. 

Sim Chung membuka matanya, saat itu Joon Jae kembali ke rumah untuk mengambil Ponselnya. Sim Chung teringat pesan Jung Hoon Tidak ada manusia di bumi yang bisa menerima kita apa adanya. Orang yang kau cintai pun sama saja. Jadi, sadarlah kau itu...dan jangan sampai ketahuan.
Joon Jae berhenti melangkah dan melihat sesuatu di dalam kolam renanganya, Sim Chung panik melihat Joon Jae ternyata kembali datang dan bisa melihat kalau dirinya adalah seorang putri duyung karena sedang ada di air. 

Epilog
Joon Jae yang sudah masuk kembali membuka pintu memanggil Jung Hoon , ingin bertanya apakah pekerjaanya. Jung Hoon memberitahu kalau ia seorang pegawai negeri dan pasti tahu kalau gaji mereka tak besar tapi  masa pekerjaan mereka tetap dan dapat pensiun.
Sebenarnya, itu pekerjaan untuk memberikan dukungan bagi seseorang.” Ucap Jung Hoon, Joon Jae sudah tahu
“Lalu  Boleh aku bertanya? Heo Joon Jae-ssi, apa pekerjaanmu?” kata Jung Hoon, Joon Jae terdiam karena selama ini perkerjaanya hanya menipu orang-orang kaya dan mengambil uangnya.
Kalau sulit dijawab, maka tidak perlu menjawabnya. Pokoknya, aku titip Sim Chung padamu.” Ucap Jung Hoon
Kau tidak perlu memintaku begitu. Aku akan memastikannya... Ah. Maksudku, kami  akan mengatasinya.” Kata Joon Jae tak ingin salah paham
Kau pasti berpikir waktu... dan kesempatan itu selalu ada untukmu, kan? Tapi nyatanya tidak.” Pesan Jung Hoon, Joon Jae terlihat kesal merasa kalau Jung Hoon itu bertingkah sok keren dengan perkataanya. Diatas tempat tidurnya, Joon Jae mencari key word [Kiat-kiat Menjadi PNS]
Bersambung ke episode 8

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar