Jumat, 16 Desember 2016

Sinopsis Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 9 Part 1

PS : All images credit and content copyright :MBC

Jae Yi turun dari mobil dan langsung memanggil Bok Joo. Bok  Joo pun kaget melihat Jae Yi yang datang melihat dengan pakaian kampusnya. Jae Yi tersenyum ternyata memang benar Bok Joo yang dilihatnya, dan tak salah orang lalu bertanya kenapa ada dikampus HaNeol. Bok Joo terlihat binggung. Joon Hyung melihat keadaan yang gawat akhirnya datang membantu.
“Hei... Bok Joo! Kau harusnya menghubungiku kalau kau akan datang kesini. Dia bilang  ingin lihat sekolahku sebelum pergi ke luar negeri, jadi aku menyuruhnya untuk datang.” Ucap Joon Hyung dan panik saat melihat dibagian belakang jaket Bok Joo tertulis (Tim Angkat Besi Universitas Olahraga Haneol) Jae Yi seperti sudah bisa mengetahuinya.
“Hyung. Biar aku jelaskan.” Kata Joon Hyung, Bok Joo ingin mengaku yang Sebenarnya. Joon Hyung makin panik meminta agar jangan mengatakan pada kakaknya.
“Aku seorang mahasiswi di sini, di tim angkat besi. Aku berbohong tentang jurusan cello dan juga tentang... akan pergi sekolah di luar negeri. Maafkan aku, Dr. Jung.” Ucap Bok Joo sambil menangis lalu pergi, Jae Yi dan Joon Hyung pun saling bertatapan. 

Keduanya duduk ditangga lapangan, terlihat masih shock. Joon Hyung mengaku   terkejut ketika pertama kali bertemu dengan Bok Joo di klinik kakaknya, tapi menurutnya tak ada yang bisa dilakukanya, karena Bok Joo memohon untuk merahasiakannya. Jae Yi pikir seharusnya Joon Hyung memberi  petunjuk tentang itu, karena ia tidak tahu apapun.
“Aku bilang, kalau aku tidak bisa melakukannya.Dia sangat putus asa saat itu.” Ucap Joon Hyung,
“Lalu Apa alasannya? Kenapa dia... berbohong untuk datang ke klinikku? Dia seorang atlet angkat besi.” tanya Jae Yi, Joon Hyung kebinggungan karena alasan Bok Joo itu menyukai kakaknya.
“Mungkin dia ingin menurunkan berat badannya. Sepertinya akhir-akhir ini dia menyukai seseorang. Bok Joo juga seorang wanita.” Kata Joon Hyung, Jae Yi pikir itu masuk akal.
“Pokoknya, Bok Joo juga mengalami waktu sulit sendirian. Timnya mengetahui tentang hal itu. Profesor dan pelatihnya sangat marah, dan ayahnya juga marah. Semuanya kacau.” Cerita Joon Hyung.
Jae Yi tak percaya mendengarnya, merasa ikut bersalah juga dan bertanya apa yang harus dilakukanya. Joon Hyung pikir kakaknya itu juga tidak tahu apapun, menurutnya itu salah Bok Joo yang berbohong sebelumnya. Jae Yi tetap saja merasa bersalah karena membuat berat badannya turun, padahal Bok Joo  seorang atlet yang membutuhkan kekuatan,  Joon Hyung pikir tak perlu membahasnya lagi karena semua sudah selesai sekarang.
“Dia berbohong padamu dengan mengatakan kalau dia akan belajar di luar negeri karena dia pikir tidak akan bisa pergi ke klinikmu lagi. Jangan pikirkan dia.” Ucap Joon Hyung.,
“Lalu Siapa pria yang disukainya?” tanya Jae Yi penasaran, Jae Yi menatap kakaknya lalu memandang lurus ke depan.
“Hyung...” ucap Joon Hyung yang sempat membuat Jae Yi binggung, Joon Hyung melanjutkan kalau ia mengeluh pada kakaknya yang lapar. Seperti Jae Yi tak menyadari kalau yang dimaksud memang dirinya. 


Bok Joo berjalan sendirian sambil mengomel sendiri karena Jae Yi yang tiba-tiba datang ke kampusnya lalu menyakinkan kalau semua sudah selesai sekarang,  dan Jae Yi pasti berpikir kalau ia seorang pembohong besar.
“Ini seharusnya tidak terjadi. Ini yang terburuk. Apa yang harus kulakukan?” ucap Bok Joo Kebinggungan.
“Dalam rangka membuat kebohongan jadi kenyataan, maka kau membutuhkan tujuh kebohongan. Sementara sebuah kebohongan membuatkebohongan yang lain, dan kebohongan itu menutupi kebohongan lainnya lagi, aku sudah menjadi mesin pembuat kebohongan.Aku malu pada diriku sendiri.” Gumam Bok Joo kebinggungan. 
[Episode 9, Keuntungan Cinta Tak Berbalas]

Joon Hyung pergi ke kolam tempat Bok Joo biasa sedang gelisah, tapi tak menemukanya dan berteriak memanggilnya, ia terlihat kesal karena Bok Joo tak mengangkat telp darinya. Bok Joo sedang melampiskan rasa kecewa pada dirinya dengan berkeliling lapangan menarik  ban bekas di belakangnya, dua temanya hanya melihat di pinggir lapangan merasa binggung 
“Apa dia makan ginseng atau sejenisnya?” tanya Nan Hee melihat Bok Joo seperti mengeluarkan semua tenaganya, Sun Ok juga tak tahu. 
“Bagaimana kalau dia berpapasan dengan dokter itu padahal kita sudah bekerja keras?” pikir Sun Ok menduga-duga sesuatu.
“Tidak mungkin. Joon Hyung membawanya keluar dengan aman, kan? Itu yang dikatakan temannya.” Kata Nan Hee yakin.
“Aku tahu. Lalu apa yang membuat manusia super itu bertenaga seperti itu? Tadi dia sudah melukai punggungnya, kan?” kata Sun Ok, Nan Hee melihat Bok Joo yang berhenti menyuruh Sun Ok agar menghentikan temanya, tapi Sun Ok merasatidak bisa mengatasinya karena seperti banteng gila sekarang. Bok Joo kembali berlari sambil berteriak marah, dua temanya pun menyuruh Bok Joo agar berhenti saja. 

Si Ho kembali berlatih membuat putaran dengan pitanya. Pelatih Sung berkomentar Si Ho kehilangan keseimbangan serta Pergerakan semuanya terlambat karena  hanya memperhatikan perputaranmu saja. Menurutnya ini  tidak akan berhasil, jadi Lebih baik bermain aman dan hanya melakukan empat putaran. Si Ho menolak karena  akan mencobanya lagi.
Pelatih Sung pun membiarkan menyuruh Si Ho terus berlatih sekarang, dan mereka akan mengurusnya nanti jika tidak bisa melakukannya dengan beranjak pergi. Soo Bin tiba-tiba membuat putaran dengan sempurna, Dua temanya menjerit memuji dengan memanggil pelatih agar melihatnya.
“Hei... Kenapa kau tidak berlatih gaya sendiri saja?” ucap Pelatih Sung dengan sedikit mengoda memukul kepalanya, Soo Bing melirik sinis kalau  hanya ingin mencobanya untuk melihat seberapa sulit itu. Si Ho hanya bisa diam dengan kembali berlatih. 

Si Ho baru saja selesai berlatih dan merasakan kaki kananya terasa sakit lalu adiknya menelpnya. Keduanya bertemu di cafe, Si Ho bertanya apakah Ayah pergi dari rumah dengan membawa barang-barangnya juga. Si Eon membenarkan dan ayahnya bilang kalau akan ada di Ulsan karena menemukan sebuah pekerjaan disana.
“Ibu sudah pergi bekerja bahkan tanpa memandang Ayah sekalipun. Orang-orang terus mendatangi rumah untuk melihat-lihat apakah mereka jadi membelinya. Apa yang sudah kau lakukan untuk kami?” ucap Si Eon dengan nada kesal pada kakaknya, Si Ho hanya bisa menahan kesedihan.
“Aku menyuruhmu untuk menghentikan ini agar tidak tejadi apapun alasannya. Kau harusnya menghentikannya.” Kata Si Eon, Si Ho mengatakan sudah berbicara tapi ibunya...
“Jika kau bicara sekali padanya, apa kau pikir Ibu akan berhenti? Kau seharusnya mengancamnya memohonnya untuk berhenti, atau melakukan apapun yang kau bisa. Ini semua terjadi pada kita karena senam-mu. Jadi Jangan mencariku.” Ucap Si Eon lalu pergi meninggalkanya, Si Ho memanggil adiknya, tapi Si Eon yang kecewa meninggalkan sang kakak.

Bok Joo masuk terus berlari dengan bannya sambil berteriak, sementara dua temanya sibuk makan sosis di pinggir lapangan, Nan Hee merasa Tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya, karena Bok Joo memang sudah tidak waras. Sun Ok juga tidak tahu lagi dan yakin Bok Joo akan kelelahan sebelum hari ini usai dan masih penasaran apa yang terjadi pada temanya itu dan ingin tahu alasannya.
“Aku juga tidak tahu. Dia pasti merasa tidak puas akan sesuatu. Aku lelah melihatnya bertingkah seperti ini.” Ucap Nan Hee lalu melihat Bok Joo sudah mulai kelelahan dan berhenti.
Keduanya pun langsung berlari menghampiri Bok Joo, melepaskan ikatan untuk menarik ban dan juga mencoba memapahnya agar bisa berdiri, Bok Joo terlihat benar-benar kelelahan seperti baru saja selesai memberikan hukuman untuk dirinya yang sudah berbohong. 

Tim renang memulai dengan olahraga pagi mengelilingi lapangan, Tae Kwon bertanya apakah Joon Hyung tidak akan memberitahunya. Joon Hyung merasa itu bukan urusan Tae Kwon, bahkan  Mengetahuinya tidak akan ada untungnya. Jadi  meminta agar menjauhlah.
“Kenapa kakakmu, yang seorang pria sejati tidak sepertimu, tidak boleh bertemu Bok Joo?” ucap Tae Kwon dengan nada mengejek
“Hei.. Apa? Apa kau sedang mencoba mengejekku?” keluh Joon Hyung kesal, keduanya pun menyesalkan lari berkeliling lapangan.

Tae Kwon masuk ke bagian loker merasa senang karnea akhirnya bisa keluar dari kampus setelah sekian lama, dan mempersiapkan sesuatu yang sangat spesial untuk mereka. Lalu memberikan ancaman kalau Joon Hyung tak memberitahunya, maka tak memberitahu rencannya. Joon Hyung merasa tidak peduli juga.
“Baiklah.. Ini sebuah kencan 3 pasangan. Mereka ratunya Universitas Wanita Sukyoung. Salah satu dari mereka adalah temanku di media sosial. Dia benar-benar cantik, fotogenic seperti selebriti.” Ucap Tae Kwon penuh semangat menanyakan pendapatnya.
“Aku tidak percaya padamu.” Kata Joon Hyung, Tae Kwon mengajak temanya agar pergi bersama karena mungkin kesempatan bagus untuk mereka.
Saat itu Si Ho baru saja menuruni tangga dengan bersikap acuh ketika melihat Joon Hyung, Tae Kwon sempat menyapanya lalu berkomentar kalau Si Ho bersikap dingin seperti Elsa. Joon Hyung sedikit binggung melihat sikap Si Ho tapi membiarkanya. 

Bok Joo kembali berlatih dengan mengangkat besi ditanganya, Pelatih Choi melihat berkomentar agar Bok Joo lebih kuatkan tangan serta  otot perutnya. Bok Joo seperti tak bisa melakukanya, Pelatih Choi melihat Bok Jooterlihat tidak fokus den menyuruh agar Squat lebih cepat.
“Pelatih Choi.,, Kau harus mengirim mereka ke rumah lebih cepat. Ini adalah akhir pekan terakhir sebelum kompetisinya.” Kata Pelatih Yoon keluar dari ruangan melihat Bok Joo dan Woon Gi
“Profesor Yoon, berat badan mereka masih belum cukup juga. Mereka butuh lebih banyak tenaga dan tidak bisa bersantai-santai.” Kata pelatih Choi
“Karena itulah.... Mereka harus makan makanan sehat di rumah.” Ucap Pelatih Yoon, pelatih Choi pun mengerti
“Kalian... Makanlah yang banyak dan jangan pedulikan rasanya. Woon Gi harus menambah 1kg, dan Bok Joo 1,5kg.” Perintah Pelatih Choi, keduanya pun mengangguk mengerti.
“Kalian Pergilah dan cari udara segar.Biarkan keluarga kalian memberi kalian semangat. Serta Istirahatlah dan makan makanan enak. Jika kalian tidak menambah berat badan kalian,maka bersiaplah untuk makan 10 kali sehari, oke?”kata pelatih Yoon, keduanya menjawab mengerti. 

Keduanya pun berjalan pulang setelah latihan, Woon Gi pikir kalau sulit untuk menaikkan berat badannya. Bok Joo mengaku tak masalah karena bukan hanya dia saja  yang merasa sulit. Woon Gi menasehati apabila  lelah makan protein, maka tambahkan telur dan buat roti dengan itu.
“Sang Chul memberitahuku tentang itu, jadi aku mencobanya. Aku suka karena teksturnya.” Kata Woon Gi, Bok Joo mengatakan akan mencobanya lalu bertanya apakah Woon Gi akan langsung pulang.
“Tidak.. Seseorang akan menjemputku.” Kata Woon Gi.
Terlihat tak jauh dari mereka seorang wanita turun dari taksi dengan mengendong seorang bayi, Sopir taksi memarahinya dengan kasar kalau tidak bisa pergi begitu saja setelah mengotori kursinya. Istri Woon Gi pikir tak masalah karena hanya sedikit bubuk susu. Woon Gi yang melihatnya langsung pamit dan berjalan mendekati istrinya. 

Tiga orang wanita datang seperti terkesima dengan wajah Joon Hyung dan hanya menatap kearahnya. Tae Kwon duduk ditengah mulai berbicara kalau mereka tak punya masalah ketika harus berjalan-jalan ke luar negeri Karena jurusan Bahasa Inggris. Tiga wanita lainya merasa tidak seperti itu juga,  melirik pada Joon Hyung hanya tertunduk.
“Apa kau... memang biasanya sependiam ini?” tanya wanita didepanya, Joon Hyung membenarkan dibandingkan dengan Tae Kwon, ketiganya benar-benar mengalihkan pandangan pada Joon Hyung
“Lalu Apakah Kau bertanding di kategori Jarak pendek?” ucap si wanita, Joon Hyung mengangguk karena itulah  tidak banyak bicara. Ketiganya terlihat kagum dan ponsel Joon Hyung berdering melihat nama “Si gendut” langsung bangun dari bangkunya untuk mengangkat telpnya. 

“Wah... Bukankah ini Bok Joo yang sangat-sangat sibuk? Terima kasih banyak karena menghubungiku setelah mengabaikan tiga panggilanku.” Ejek Joon Hyung mengangkatnya, Bok Joo bertanya keberadaan Joon Hyung sekarang apakah sudah ada dirumah.
“Tidak, aku sedang di luar.” Kata Joon Hyung, Bok Joo ingin tahu apakah Jae Yi terkejut kemarin dan apa yang dikatakan kakaknya itu.
“Bagus sekali baru bertanya padaku sekarang. Aku yakin kau sudah gatal ingin bertanya. Apa kau sekarang di sekolah?” ucap Joon Hyung lalu memberikan lambaian tanganya pada Tae Kwon untuk pamit pergi, Tae Kwon panik memanggilnya tapi Joon Hyun sudah lebih dulu keluar dari restoran. 

Joon Hyung melihat Bok Joo yang sedang duduk sendirin di halte bus, diam-diam ia mengendap berjalan  dinding belakang, Bok Joo sedang asyik merobek bagian wajah dengan menghilangkan mata, hidung dan mulut. Joon Hyung tiba-tiba berdiri dan mengangetkan dari dinding kaca, Bok Joo menjerit kaget melihat Joon Hyung datang tidak mengatakan apapun.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuat lubang di wajah seseorang yang tidak bersalah?” ucap Joon Hyung
“Ini karena aku sudah bosan menunggu.” Kata Bok Joo, Joon Hyung akhirnya duduk disampingnya, Bok Joo langsung bertanya apa yang dikatakan Jae Yi.
“Kau bertanya itu terlalu cepat.Apa kau sudah tidak bisa sabar ingin tahu?” keluh Joon Hyung
“Dia pasti berpikir aku sudah gila dan bodoh.” Ucap Bok Joo rendah diri, Joon Hyung mengatakan kalau itu tak benar tapi kakaknya hanya kebingungan.

“Tentu saja dia kebingungan. Dia menemukan kalau pasiennya adalah seorang atlet angkat besi profesional.” Kata Bok Joo
“Dia bertanya kenapa kau berbohong padanya. Aku sudah menjawabnya. Aku bilang mungkin kau sedang menyukai seseorang.” Ucap Joon Hyung, Bok Joo panik kalau Joon Hyung akan memberitahu siapa orangnya.
“Aku juga mengerti situasi. Kenapa kau pikir aku akan memberitahu itu padanya?” keluh Joon Hyung, Bok Joo merasa kalau Jae Yi berpikir dirinya itu menyedihkan. Joon Hyung menegaskan kakaknya tidak seperti itu kalau hanya kebingungan.
“Jika aku tidak mengatakan padanya, aku seorang pemain cello, maka aku tidak akan jadi seorang pembohong gila. Kenapa aku mengatakan kalau bermain cello? Aku bahkan pergi ke konser bersamanya.” Ucap Bok Joo melirik dengan merasa Joon Hyung juga ikut bersalah.

“Hei... Kau waktu itu bahagia karena bisa berkencan dengannya. Apa kau menyalahkanku karena itu sekarang?Kau tidak bisa melakukan itu!” tegas  Joon Hyung
Bok Joo mengaku tidak menyalahkan hanya mengatakan saja lalu berteriak seperti orang gila, Joon Hyung melihatnya berpikir Bok Joo sudah tidak waras. Bok Joo merasa dirinya itu sangat tidak beruntung, ia merasa tidak peduli tentang angkat besi, tapi ingin berubah jadi asap dan menghilang dari dunia ini.

Joon Hyung mengejeknya kalau  Berubah jadi asap sepertinya mustahil. Karena terlalu berat. Bok Joo melirik sinis, Joon Hyung pun hanya bisa meminta maaf karena Bercanda sudah jadi kebiasaannya dan akan berhati bicara. Bok Joo terlihat benar-benar stress dengan keadaanya sekarang, Joon Hyung pun mengajak Bok Joo pergi untuk melepaskan stress. 

Keduanya main arcade dengan memulai main tembak-tembakan, Bok Joo berteriak membabi buta membunuh semua musuh yang ada  dilayar, Joon Hyung yang melihatnya sempat malu karena Bok Joo terus berteriak. Keduanya pindah ke permainan tinju, Joon Hyung pun memberikan contohnya dengan bangga memperlihatkan pukulanya dan hasilnya nilai 9300, karena Tidak ada seorangpun yang bisa memecahkan rekornya selama tiga tahun
Bok Joo pun ikut memukul dengan sekuat tenaga, Joon Hyung hanya bisa melonggo karena nilainya dikalahkan dengan nilai 9900. Keduanya duduk di mesin mainan lainya dengan saling bertanding, Bok Joo kesal karena tak bisa memukul tombol dengan benar, Joon Hyung meminta Bok Joo berhanti-hati karena bisa mematahkan jari-jarinya. Bok Joo yang terlihat kesal melampiaskan dengan memukul tombol dengan keras.
“Ini tidak kembali lagi. Sepertinya ini tersangkut.” Kata Bok Joo, Joon Hyung panik padahal sebelumnya sudah menyuruhnya agar berhati-hati.
“Kenapa ini tidak berhasil?” kata Bok Joo berusaha mengangkatnya, Joon Hyung meminta Bok Joo tak melakukan lalu mengajaknya untuk segera pergi. Si pemilik melihat keduanya langsung berteriak karena merusak permainanya. 

Keduanya pun berlari sampai keluar dari mobil, Joon Hyung mengeluh kalau sangat benci berlari dan selalu berlari ketika bersama Bok Joo menurutnya sebentar lagi pasti akan jadi juara lari. Lalu memarahi Bok Joo kalau seorang atlet  seharusnya lebih bisa mengontrol perasaannya, Bok Joo merasa masih  punya banyak stress yang harus dilepaskan.
“Hei, apa kau tahu kalau adatempat boxing di dekat sini?Apa kau bisa boxing?” ucap Bok Joo
“Bok Joo, haruskah kita pergi minum?” ucap Joon Hyung seperti menghindari pukulan Bok Joo
“Aku punya firasat kalau akan minum banyak jika kita pergi minum sekarang.” Kata Bok Joo 

Si Ho kembali berlatih sendirian dan merasa kaki kananya terasa sakit dan mengambil spray untuk penghilang rasa sakit didalam tasnya. Ponselnya berdering, Ibunya menelp memberitahu kalau Si Eon tidak pulang ke rumah kemari dan juga membawa baju-bajunya.
Akhirnya Si Ho pergi ke sebuah tempat yang terlihat kumuh, beberpa orang sedang berkumpul dengan mikirkan kemana mereka akan tidur. Saat Si Ho lewat mereka memilih untuk tak menganggu dan membiarkanya, Si Ho pun ada didepan pintu kamar dengan sebuah alamat di tanganya dengan mengingat pesan dari teman adiknya “Jangan katakan pada Si Eon kalau aku memberitahumu. Salah satu temannya kabur dari rumah.</i>Dia bilang akan tinggal bersamanya untuk sementara ini.”

Si Ho menarik adiknya sampai ke pinggir jalan, Si Eon kesal dengan melepaskan tangan kakaknya, Si Ho bertanya kenapa adiknya bisa melakukan seperti ini, Si Eon pikir kakaknya tak perlu peduli karena ini adalah hidupnya.
“Apa Maksudmu aku hanya harus diam dan menyaksikan kau menghancurkan hidupmu?” ucap Si Ho marah
“Sejak kapan kau sangat tertarik pada hidupku? Jangan bersikap sok peduli.” Ucap Si Eun
Si Ho menarik adiknya agar ikut saja denganya, lalu menghentikan Taksi dan menyuruhnya masuk lebih dulu. Si Eon langsung menutup pintu taksi dan meminta agar supir taksi segera pergi, Si Ho menjerit memanggil adiknya yang kembali kabur. 

Bok Joo mulai minum, Joon Hyung mengejek melihat cara minum Bok Joo itu seperti Ahjussi, Bok Joo mengumpat Joon Hyung itu Berisik, menurutnya sekarang  tidak punya tenaga untuk peduli pada bagaimana penampilannya dan kembali mengisi gelas sojunya. Joon Hyung mengambil botol dan ingin mengisinya hanya setelah gelas saja.
“Hei., itulah gunanya teman....Seorang teman harus membantuku melepas stress ketika aku merasa ingin menangis dan membiarkan aku minum ketika aku ingin minum,Kenapa ini rasanya sangat lemah hari ini? Ini tidak cukup untuk membuatku mabuk.”.” Ucap Bok Joo kesal lalu menuangkan So Ju pada gelas besar,
Joon Hyun panik dan akhirnya hanya bisa memberikan daun selada agar Bok Joo memakanya, Bok Joo pun meminta bibi agar memberikan botol soju lagi. 

Si Ho tertunduk sedih dengan berjalan ke Universitas Olahraga Haneol. Ki Tae sedang lewat bersama dengan temanya, menyapa Si Ho  bertanya apa yang sedang lakukan sendirian . Si Ho mengatakan tak ada  karena harus pergi ke suatu tempat.
“Aku baru saja selesai latihan dan akan bermain billiard dengan temanku.” Kata Ki Tae
“Bisakah aku bergabung dengan kalian? Aku hanya akan menonton.” Ucap Si Ho, Ki Tae tak percaya Si Ho selama ini menghindarinya meminta untuk bergabung. 

Bok Joo sudah minum berbotol-botol menurutnya ini gila karena terus minu tapi masih sadar bahkan  tidak merasa pusing. Joon Hyung melihat Bok Joo kalau sedikit mabuk. Bok Joo mengatakan kalau ia benar-benar sadar menurutnya tidak mabuk ketika sedang ingin mabuk.
“Aku akan fokus pada latihanku, dan merasa teralihkan oleh sesuatu yang tidak masuk akal. Pria yang aku sukai tidak menyukaiku. Pria yang tidak kusukai juga tidak menyukaiku.” Ucap Bok Joo pada Jae Yi dan Joon Hyung.
“Benar. Hidup memang tidak mudah.” Komentar Joon Hyung menanggapi ucapan Bok Joo.
“Hei, Joon Hyung... Apa kau tahu ketika sesuatu rasanya mulai terasa salah? Yaitu Meja rias.” Kata Bok Joo, Joon Hyung bingung kenapa Bok Joo mengatakan meja rias.
“Ayahku menemukan itu di jalan dan membawanya pulang. Jika dia tidak membawanya ke rumah,maka aku tidak harus jalan melewati persimpangan itu. Jika aku tidak berjalan ke sana, maka aku tidak akan bertemu Dr. Jung. Ahh... tidak... Itu tidak benar.... Itu karena kau!” kata Bok Joo, Joon Hyung binggung karena Bok Joo kembali menyalahkanya.
“Jika kau bukan adiknya, semuanya tidak akan... jadi serumit ini. Kau harus memperbaiki semuanya!” ucap Bok Joo
“Hei, kenapa kau menyalahkan semuanya padaku? Apa aku menyuruhmu untuk jatuh cinta padanya?” keluh Joon Hyung, Bok Joo pun membenarkan. Karena tidak menyuruh untuk menyukainya jadi  Ini semua salahnya.

Joon Hyung mengangguk setuju, Bok Joo bertanya apakah sebenarnya menjadi awal mula semua takdir ini, Joon Hyung menghela nafas karena Bok Joo  akan membicarkan tentang takdir sekarang dan bertanya apa itu. Bok Joo menyebut meja rias dengan perkataan yang sama. Joon Hyung langsung menyahut menyuruhnya pergi karena sudah mabuk.
Bok Joo menolak karena merasa tidak mabuk dan bertanya kapan semuanya menjadi sebuah kesalahn. Joon Hyung mengatakan kalau Semuanya disebabkan oleh meja rias atau kalau tidak karena dirinya, Bok Joo tak percaya kalau Joon Hyung bisa mengetahuinya dan memujinya lumayan pintar.

Joon Hyung menarik Bok Joo dengan kaki diseret menyentuh tahan, Bok Joo seperti sudah tak sadarkan diri. Joon Hyung mengeluh Bok Jo ternyata sangat ekstrim ketika sedang minum karena Mentalnya tidak siap dan sangat lelah. Bok Joo mengatakan kalau Joon Hyung harus bertanggung jawab atas semuanya dan harus memperbaiki semuanya.
Akhirnya ia mendudukan Bok Joo di bangku taman, sebelum muntah dibajunya. Bok Joo benar-benar tertidur tak sadarkan diri lalu mengeluh kedinginan. Joon Hyung melihat ada selembar koran den menutupi badan Bok Joo dengan koran menurutnya akan membantu. 
Ia pun kembali duduk disamping Bok Joo dan tiba-tiba Bok Joo menjatuhkan kepala dipangkuanya, Joon Hyung kaget, Bok Joo terus mengatakan kalaua Joon Hyung harus bertanggung jawab atas semuanya. Joon Hyung mengeluh kalau sudah melakukan lebih dari cukup dan memastikan kalau Bok Joo akhirnya benar-benar tertidur pulas.

Joon Hyung yang tertidur terlihat sedikit menjatuhkan kepalanya dan hampir menyentuh bibir Bok Joo, sampai akhirnya tersadar dengan mata melotot karena hampir saja menciumnya, lalu mencoba untuk membangunkanya tapi Bok Joo masih tertidur. Joon Hyung bertanya-tanya bagaiman harus membawanya, lalu melihat tak jauh dari  taman adan supermarket yang masih buka. 
Joon Hyung akhirnya mendorong Bok Joo dengan mengunakan trolly, menurutnya ibunya akan sangat bangga pada kalau melihat ini. Bok Joo yang mabuk bertanya pada Ahjussi mau kemana mereka  sekarang. Joon Hyung berteriak menyuruh Bok Joo agar sadar.
“Terima kasih karena sudah menghubungi Ayam Bok. Ah.. kau pesan setengah ayam... Ayah, setengah setengah!”teriak Bok Joo seperti sedang berkerja di restoranya.
“Sebenarnya Membutuhkan waktu berapa lama untuk bisa sampai ke tempatmu seperti ini?” keluh Joon Hyung terus mendorong trolly dengan wajah kelelahan
“ Bertanggung jawablah atas semuanya, Jung Joon Hyung...” teriak Bok Joo terus menyalahkan temanya, Joon Hyung pikir kalau Bok Joo sudah sadar, Tapi Bok Joo merasa kalau sedang mabuk kendaraan jadi meminta agar Menyetirlah dengan pelan-pelan.

Tuan Kim mengumpat marah melihat anaknya yang pulang dengan keadaan mabuk, Dae Hoo dengan kelelahan menyerat dan membanting Bok Joo ditempat tidur, Tuan Kim langsung memarahinya karena harus Pelan-pelan.  Dan menyuruh agar mengambil selimut agar kedinginan.
Dae Hoo dengan kesal melempar dengan menutupi wajah Bok Joo, Tuan Kim pun memakaikan selimit anaknya dengan benar, Dae Hoo mengejek kakaknya itu selalu memarahinya, tapi ternyata sangat menyayanginya, Tuan Kim hanya diam lalu bertanya-tanya berapa banyak yang diminum sampai membuatnya tak sadarkan diri.
“Apa kau pikir... dia minum bersama pria itu sendirian Sampai selarut ini?” kata Dae Hoo merasa ada sesuatu, Tuan Kim tak ingin menduga-duga menyuruh adiknya agar diam saja.
“Bertanggung jawablah atas semuanya,Joon Hyung.” Ucap Bok Joo yang mabuk, dua pria langsung menatap binggung dan kaget mendengarnya 

Joon Hyung di lantai bawah ketakutan melihat keduanya seperti ingin menghajarnya, Tuan Kim pun bertanya apakah Joon Hyung tidak melakukan apapun yang harus membuatmu tanggung jawab. Joon Hyung membenarkan karena mereka hanya teman satu sekolah dasar.
“Kami semua tahu itu, tapi kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi diantara pria dan wanita. Seorang teman bisa jadi kekasih, dan seorang kekasih bisa jadi seorang ayah.” Kata Dae Hoo
“Ah, itu tidak akan terjadi. Kami hanya teman dan tidak akan pernah terjadi. Aku bersumpah itu tidak akan terjadi.” Ucap Joon Hyung menyakinkan.
“Kenapa kau harus bersumpah? Apa yang salah dengan Bok Joo-ku? Dia tidak berdandan karena sibuk latihan, tapi kalau kau memperhatikannya dengan seksama, dia memiliki wajah yang cantik.” Teriak Tuan Kim malah memarahi Joon Hyung, Joon Hyung binggung seperti malah menyuruh melakukanya akhirnya Dae Hoo menarik kakaknya.
“Hyung...Kau terdengar seperti seorang psikopat sekarang. Tentukan kau berada di pihak manacdan teguhlah pada pilihanmu.” Bisik Dae Hoo, Tuan Kim mengerti lalu kembali berbicara pada Joon Hyung
“Pokoknya, ini berlaku bukan hanya untuk Bok Joo  tapi untukmu juga. Kau seorang atlet. Tubuhmu adalah asetmu Kau tidak boleh pergi sampai larut malam dan membuat temanmu mabuk. Kau tidak akan bisa jadi atlet hebat kalau begini Apa kau tidak mempunyai mimpi?” ucap Tuan Kim. Joon Hyung hanya bisa meminta maaf  lalu bertanya apakah ia bisa pulang sekarang.

Dae Hoo mengantar Joon Hyung sampai di depan restoran,  meminta agar mengerti ayah Bok Joo yang bersikap keras karena kakaknya sangat protektif pada Bok Joo sebagai putri satu-satunya dan Setelah istrinya meninggal, pasti merasa bersalah pada Bok Joo. Joon Hyung mengerti dan akan pamit pulang, Dae Hoo memanggilnya.
“ Naiklah taksi dengan uang ini. Bok Joo pasti sudah membuatmu lelah.” Kata Dae Hoo, Joon Hyung menolak karena  bisa naik bis.
“Rasanya tidak sopan kalau kau tidak menerima ini. Sebenarnya, aku mengharapkannya.” Kata Dae Hoo, Joon Hyung binggung.
“Aku mengharapkan kalian berdua berkencan. Ayo kita minum bersama lain kali, calon suami masa depan Bok Joo.” Ucap Dae Hoo mengoda, Joon Hyung merasa bukan seperti itu dan harus buru-buru pergi sekarang.

Joon Hyung perlahan-lahan akan masuk rumah tapi saat itu terlihat kakaknya yang keluar rumah, langsung bertanya darimana adiknya, Joon Hyung berbohong  baru dari supermarket. Jae Yi tahu kalau  adiknya itu berbohong. Joon Hyung panik bertanya apakah ibu marah padanya.
“Dia tidak tahu. Aku bilang  padanya kalau kau pulang terlambat, dan kau sudah tidur sekarang.” Kata Jae Yi
“Itu bagus. Aku tidak yakin apakah aku bisa mendengar omelannya sekarang.” Ucap Joon Hyung, Jae Yi pun bertanya darimana saja adiknya itu dan apakah baru pulang minum.
“Aku tidak minum banyak, tapi Bok Joo minum terlalu banyak... padahal dia tidak bisa minum dan pingsan. Jadi aku membawanya pulang ke rumah.” Cerita Joon Hyung seperti ingin membuat kakaknya iba.
“Apa kau minum dengan Bok Joo berdua?” ucap Jae Yi, Joon Hyung membenarkan lalu melihat kakanya harus pergi dan ia akan menyelinap masuk dan tidur. Joon Hyung pun menyuruhnya untuk segera masuk.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar