Jumat, 02 Desember 2016

Sinopsis Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 5 Part 1

PS : All images credit and content copyright :MBC
Joon Hyung baru masuk klinik kakaknya dan melihat sosok yang dikenalnya keluar dari ruang ganti. Bok Joo melihat penampilan dicermin dengan tersenyum sendirian, lalu terdengar suara panggilanya “Gendut, apa yang kau lakukan disini?” Bok Joo kaget dan melihat di cermin sudah ada sosok Joon Hyung berdiri dibelakangnya. 
“Kenapa kau... terlihat seperti itu?” ucap Joon Hyung binggung, Jae Yi keluar dari ruangan menyapa adiknya
“Ada apa datang kesini tanpa menghubungiku?” tanya Jae Yi, Joon Hyung menyapa sang kakak. Bok Joo melonggo mendengar Joon Hyung memanggilnya “Hyung” berarti kakaknya. 
“Aku hanya sedang ada di sekitar sini dan mampir untuk makan bersamamu.” Kata Joon Hyung membawa bungkus makananya.
“Apa kalian saling mengenal?” tanya Jae Yi,  Joon Hyung mengaku kalau satu.... Bok Joo langsung menyela kalau mereka satu sekolah dasar.
“Wah... Joon Hyung, sudah lama kita tidak bertemu.Aku tidak percaya kita bisa bertemu lagi. Kita sudah tidak bertemu selama 10 tahun, kan? Ternyata Kau masih mengenaliku.” Ucap Bok Joo berpura-pura baru bertemu pertama kali Joon Hyung binggung melihat sikap Bok Joo.
“dunia ini memang sempit. Dia pemain cello... yang aku ceritakan sebelumnya. Namanya Bok Joo.” Kata Jae Yi memperkenalkan pada adiknya, Joon Hyung melonggo kaget karena kakaknya mengenal Bok Joo sebagai Seorang pemain cello
“Apa Jurusanmu adalah bermain cello?Kau memang berbakat dalam hal musik sejak SD dan juga penyanyi yang hebat.” Ungkap Joon Hyung sengaja melebih-lebihkan.
Jae Yi tak percaya mendengarnya, menurutnya keduanya pasti sangat dekatsampai ingat hal sedetail itu. Joon Hyung mengaku sangat dekat dengan memeluk erat Bok Joo,  dengan mengaku Senang bisa bertemu lagi, dengan saling berjabat tanganya. Jae Yi merasa kalau ada suatu hubungan yang kuat diantara mereka karena ternyata  satu sekolah dasar dengan adiknya. 
“Bagaimana kau bisa memainkan cello dengan hebat?” ucap Joon Hyung sengaja mengangkat tanganya keatas seperti atlet angka besi.
“Dia juga sangat kuat.” Cerita Jae Yi yang pertama kali melihat Bok Joo mengangkat meja.
“Seorang pemain cello... yang sekuat atlet angkat besi.” Kata Joon Hyun, Jae Yi mengaku suka musik klasik. Joon Hyun dan Bok Joo saling berjabat tangan, Bok Joo seperti gugup takut kalau rahasianya dibongkar.

Bok Joo keluar dari klinik merasa kalau semua itu hanya mimpi,   menurutnya Beberapa hal tidak mungkim terjadi. Ia melihat keduanyaitu bahkan tidak mirip jadi semua ini tidak masuk akal!
“Hei.... Pemain cello Kim Bok Joo.... Tunggu aku... Sepertinya kita memiliki tujuan yang sama.” Teriak Joon Hyung dari lantai atas, Bok Joo memilih untuk pergi lebih dulu. 

[Episode 5, Aku bahagia karena aku wanita]

Keduanya berjalan masuk ke dalam kampus, Joon Hyung sengaja bertanya apakah Bok Joo itu seorang pemain cello.Bok Joo hanya diam saja, Joon Hyun tahu kalau tangan Bok Joo  lebih cocok  sebagai pemain cello daripada pemain violin atau flut menurutnya Bok Joo benar-benar mengerti apa yang paling cocok untuknya.
“Berhenti bertingkah seperti kau tahu semuanya.” Teriak Bok Joo
“Hei, apa kau marah padaku?Apa kau menyebutku seperti ituketika aku membantu merahasiakan penyamaranmu?Bagaimana bisa kau menyebutku seperti itu?” ucap Joon Hyung yang berada diatas angin sekarang.
“Apa dia benar-benar kakakmu?”tanya Bok Joo masih tak percaya, Joon Hyung membenarkan kalau mereka itu bersaudara.

“Sejak kapan kau datang kesana? Jika kau datang kesana hanya untuk menurunkan berat badan, maka kau tidak akan berbohong dengan mengatakan kau seorang pemain cello. Itu berarti kau memiliki motif yang kuat. Apa kau... jatuh cinta pada kakakku? Apa itu alasan kenapa kau pergi ke sana?” kata Joon Hyung menebaknya 
“Tidak mungkin.” Ucap Bok Joo menyangkalnya.  Joon Hyung mengejek Bok Joo ternyata sangat kreatif.
“Kalaupun aku jatuh cinta padanya, maka aku tidak akan pergi kesana dan menghabiskan banyak uang untuk mendaftar.”ucap Bok Joo membela diri
“Lalu kenapa kau pergi kesana dengan membayar uang sebanyak itu? Apakah kau  Atlet angkat besi Bok Joo? Wah... Kau sudah dewasa, Gendut. Kau berani berbuat sejauh itu untuk seorang pria. Apa kau tidak akan kena masalah jika atlet angkat besi lainnya tahu? Seorang atlet angkat besi jatuh cinta... dengan seorang dokter di klinik berat badan.” Ucap Joon Hyung dengan nada khawatir.
“Kau akan merahasiakannya, kan?” kata Bok Joo dengan wajah melas, Joon Hyung pikir itu sudah pasti,
“Mengumumkannya tidak akan memberiku keuntungan, Tapi Apa Kau pikir aku akan tetap diam? Tidak perlu bagiku untuk merahasiakannya. Aku akan memutuskan...tergantung dengan sikapmu.”kata Joon Hyung

Bok Joo mengangkat  kepalan tanganya, Joon Hyun bertanya apakah Bok Joo marah padanya.  Bok Joo mengaku tidak tapi hanya suaranya memang keras dan terdengar marah. Jooon Hyung merasa Bok Joo memarang marah, Bok Joo mengaku tidak marah tapi hanya kesal. Joon Hyun pirk lebih baik memikirkannya dan pergi mengayuh sepedanya, Bok Joo kesal menyakinan Joon Hyung kalau tak marah karena takut rahasianya terbongkar.
“Aku tidak percaya ini. Kenapa dia jatuh cinta dengan kakakku dari sekian banyak orang?” ucap Joon Hyung mengelengkan kepala tak percaya sambil mengayuh sepedanya. Sementara Bok Joo masuk kamar dengan wajah melas.
“Kenapa dia kakaknya Joon Hyung?” jerit Bok Joo kesal dan melampiaskan amarahnya diatas tempat tidurnya 

Bok Joo dkk makan di kantin,  Nan Hee senang melihat steak ikan mereka sangat besar. Bok Joo langsung duduk begitu saja di kursi. Nan Hee panik meminta Bok Joo agar bisa Perhatikan caranya duduk. Bok Joo mnegaku kalau baik-baik saja. Nan Hee tahu kalau temanya menutupinya jadi meminta agar berhati-hati.
“Bukankah dia harusnya membawa bantal?” ucap Nan Hee merasa khawatir pada Bok Joo, Sun Ok merasaitu akan membuatnya terlalu kelihatan.
“Oke, kau dibebaskan dari makan banyak...untuk beberapa waktu. Pertemanan kita sangat keren.” Kata Nan Hee dan Sun Ok setuju dengan itu, Bok Joo seperti tak enak hati harus berbohong pada kedua temanya. 

Joon Hyung tiba-tiba duduk disamping Bok Joo dengan menyapanya Sangat senang bisa bertemu dengannya dengan bertanya apakah tidurnya nyenyak, Nan Hee dan Sun Ok melongo melihat Bok Joo yang disapa oleh Joon Hyung. Bok Joo memilih untuk pamit pergi karena merasa sudah selsai. Joon Hyun menariknya agar duduk karena baru mulai makan.
“Ayolah, kita berteman.Kenapa kau seperti ini?” ucap Joon Hyun menarik Bok Joo agar duduk dan menyuruh Tae Kwon untuk duduk bersama, Tae Kwon ikut duduk walaupun dengan canggung bersama dua teman Bok Joo.
“Kenapa tanganku terasa lemah hari ini? Hei.. Gendut, lakukan itu untukku.” Kata Joon Hyung yang berpura-pura tak bisa memotong steak ikanya. Semua melonggo binggung. 
“Potongkan itu untukku, Jangan terlalu kecil.” Pinta Joon Hyung, Bok Joo dengan wajah dongkol memotong penuh amarah 
“Maaf, tapi bisakah kau mengambilkan aku air, juga? Airnya setengah dingin dan setengah panas.” Kata Joon Hyung menyuruh Bok Joo
Tae Kwon panik karena temanya tidak melakukannya sendiri dan akan mengambilnya. Bok Joo pikir tak perlu karena akan mengambilkan untuk Joon Hyung, Dua teman Bok Joo melihat tingkah temanya merasakan ada sesuatu. Joon Hyun meminum air yang dibawakan Bok Joo merasa Airnya terasa lebih manis hari ini. Bok Joo mencoba untuk tersenyum walaupun dalam hatinya terasa dongkol. 


Bok Joo dkk akhirnya keluar dari kantin, Nan Hee bertanya   Ada apa antara Bok Joo dan Joon Hyung. Bok Joo tak mengerti maksud pertanyaan temannya. Nan Hee juga binggung kenapa Bok Joo sangat penurut padanya padahal membencinya.
“Kau bahkan tidak akan mengambilkan air untuk kami. Ada sesuatu yang aneh.”kata Sun Ok yakin.
“Ini bukan masalah besar. Aku sadar kalau dia tidak terlalu buruk. Dia memang sedikit kekanak-kanakkan, tapi aku harus mengabaikannya karena kami teman.”kata Bok Joo menutupinya.
“Kau harusnya melakukan itu sejak dulu.Apa yang membuatmu berbuah pikiran...tiba-tiba?” ucap Nan Hee
“Aku tahu. Apa kau yakin tidak ada sesuatu yang terjadi diantara kalian berdua?” kata Sun Ok berusaha memancing,
“Ini bukan karena aku menyukainya atau karena dia tahu rahasiaku. Kalian terlalu sensitif.” Ucap Bok Joo 


Ketiganya duduk ditaman menikmati sinar matahari sore, Nan Hee merasa kalau kulitnya yang indah harus rusak  lagi besok lusa. Sun Ok mengeluh dengan Nan Hee menganggap kulitnya itu indah,  karena tidak mau bersaing. Semantara Bok Joo sibuk melihat pesan di ponselnya. 
“Aku harus pergi. Aku harus ke rumah sakit.” Ucap Bok Joo,  Keduanya mengerti dan mempersilahkan Bok Joo pergi. 
“Jika ada yang menanyakanmu, kami akan membuat cerita bohong.” Kata Sun Ok, Bok Joo mengucapkan terimakasih. 
“Dia terlihat tidak nyaman, Sulit melihatnya seperti itu.” Komentar Nan He melihat bokong Bok Joo saat berjalan, tapi Bok Joo terlihat santai karena bukan Bokongnya yang sakit. 

Joon Hyung kembali berlatih renang, pelatih memberitahu waktunya  21,27 detik, menyuruh agar lebih menundukan kepalanya dan jangan menekanya, Joon Hyung merasa kelelahan tetap terus berlatih dengan atlet yang lainnya.
“Jika aku pergi ke asraman, Ki Suk pasti akan tahu.” Kata Joon Hyun keluar dari gedung kolam renang lalu melihat Bok Joo yang berlari keluar dari kampus.
“Aku bisa lihat kemana dia akan pergi... Oke. Kim Bok Joo. Aku memilihmu.” Ucap Joon Hyung tersenyum bahagia. 

Bok Joo sudah ada di klinik, Jae Yi melihat Bok Joo sudah menjaga berat badannya tapi masih belum berkurang, Bok Joo terdiam, Jae Yi tahu kalau  Tidak mudah untuk menurunkan berat badan dengan cara yang sehat, Bok Joo mengangguk kepala dengan mencoba tersenyum. 
“Tapi aku sering melakukan sit-up.” Akui Bok Joo, Jae Yi memujinya itu bagus dan berpesan Jangan terlalu berlebihan dan jadi serakah.
“Ngomong-ngomong, sepertinya kau belum berubah sejak kau masih kecil.” Kata Jae Yi, Bok Joo kaget berpikir Jae Yi mengetahuinya saat masih kecil.
“Joon Hyung langsung mengenalimu. Tapi Dia banyak berubah, kan?” ucap Jae Yi, Bok Joo membenarkan karena tidak mengenalinya awalnya.
“Pasti. Dia jadi lebih tinggi, dan kepribadiannya berubah. Dia sedikit pemalu waktu kecil.” Ucap Jae Yi
“Itu benar.... Dia sangat licik sekarang dan terus menggangguku. Aku harap bisa memukulnya.” Ungkap Bok Joo kecepolosan karena seperti sudah mengenalnya lebih lama. 
“Kau hanya melihatnya beberapa menit. Bagaimana bisa kau tahu itu semua? Tapi Itu hebatKata Jae Yi
“Walaupun Hanya beberapa menit, tapi dia memang sangat berbeda dari sebelumnya.” Kata Bok Joo mencari alasan.
Jae Yi membenarkan kalau adiknya  banyak berubah bahkan jadi lebih tampan. Bok Joo pikir tak seperti itu,  Jae Yi binggung karena Semua orang bilang adiknya itu lebih tampan darinya, Bok Joo merasa kalau Jae Yi  jutaan kali lebih tampan dari Joon Hyung, Jae Yi tersipu malu mendengar pujianya, lalu tertawa bahagia dengan melihat wajahnya dicermin. Bok Joo mengakui Jae Yi lebih tampan dibanding adiknya, Jae Yi tak berhenti tertawa lalu mengajak mereka mulai perawatannya. 


Jae Yi keluar menayakan pada perawatnya apakah punya pasien lagi. Perawatnya mengatakan Nn. Joo Hye Jeong mengubah janjinya jadi besok. Jae Yi mengerti dan menyelesaikan sekarang.  Joon Hyung datang menyapa kakaknya, Joon Hyung heran karena adiknya jadi sering  datang akhir-akhir ini.
“Jadi Apakah Kau tidak senang melihatku? Haruskah aku pergi?” kata Joon Hyung mengoda kakaknya, Joon Hyung mengaku senang bertemu dengan adiknya.
“Kau masih berhutang makan malam padaku yang tidak membelikannya untukku waktu itu.” Kata Joon Hyung melirik kebagian dalam klinik seperti mencari  seseorang.
“Astaga. Seperti yang seseorang bilang, kau licik.” Ejek Joon Hyung
“Siapa? Siapa yang bilang aku licik? Siapa orangnya” teriak Joon Hyung marah, 

Bok Joo baru saja keluar setelah berganti baju, Joon Hyung langsung menyapanya dengan mengaku kalau tak tahu Bok Joo sedang ada di klinik kakaknya. Bok Joo membalas sapaanya dengan wajah sedikit panik. Joon Hyung mengatakan akan makan malam dengan kakaknya jadi mengajak Bok Joo untuk ikut juga,
“Kau tidak melewatkan makan hanya untuk menurunkan berat badan, kan?” ucap Joon Hyung dengan sengaja, Jae Yi pin mengajak Bok Joo untuk  ikut malam bersama makan bersama. Bok Joo menolak dengan alasan  ada janji.
“Benarkah? Kalau begitu kita makan berdua saja. Aku harus mengobrol dengan kakakku. Aku punya banyak sekali hal yang ingin kuceritakan padanya.” Kata Joon Hyung memeluk sang kakaknya.
“Kapan kita akan makan?” ucap Bok Joo mendekati Joon Hyung terpaksa ikut pergi, Jae Yi terlihat binggung dengan sikap Bok Joo. 

Mereka makan di restoran all u can eat, Joon Hyung sengaja mengambil makanan yang biasa di makan oleh Bok Joo agar membuatnya ngiler, Bok Joo melirik sinis dengan Joon Hyung yang terus mengodanya. Jae Yi sedang mengambil makanan lain, lalu seorang anak kecil ingin mengambil pasta.
Jae Yi melihat kaki si anak yang tak sampai membuat mengambilkanya, Bok Joo tersenyum bahagia melihat sikap Jae Yi yang berbanding terbalik dengan adiknya.
“Ini adalah konjac yang dibumbui. Makanan memiliki banyak serat, tapi rendah kalori. Jangan khawatir dan makanlah.” Ucap Jae Yi membawakan sepiring sayuran. Bok Joo mengucapkan terimakasih. 

“Wah.. Kau pria yang sangat manis, Hyung. Inilah kenapa kau sangat populer di antara wanita.” Komentar Joon Hyung melihat kakaknya, Bok Joo terbatuk-batuk karena tersedak. Joon Hyung pun berpura-pura khawatir menyuruhnya agar bisa berhati-hati.
“Aku merasa buruk karena kau hanya makan sayuran untuk menurunkan berat badanmu... Untuk mengangkat besi... Tidak, barbel... Maksudku untuk mengangkat cello, kau harus lebih kuat.” Kata Joon Hyung sengaja  salah menyebutkan, Bok Joo melirik sinis dan mengucapkan terimakasih atas perhatianya.
“Sulitkan diet sambil belajar musik?” tanya Jae Yi, Bok Joo mengaku  tidak terlalu sulit.
“Tentu. Beberapa orang diberkati dengan kekuatan. Coba Lihat tangannya. Ah. Dengan tangan seperti ini, kau akan jadi atlet yang hebat.” Komentar Joon Hyung sengaja mengangkat lengan Bok Joo.
Ia bahkan memperagakan tangan Bok Joo yang bisa Mengangkat 130kg. Bok Joo menyangkalnya kalau  tidak suka olahraga. Jae Yi pikir kenapa tak suka karena sebelumnya Bok Joo itu menyukai sepak bola. Lebih spesifiknya, Messi. Joon Hyung bingung apa maksudnya Messi.
“Dia... bertanya padaku apakah aku suka Messi ketika dia pertama datang ke klinikku. Dia sepertinya fans berat Messi.” Cerita Jae Yi, Bok Joo seperti malu sendiri.
Joon Hyung terdiam teringat saat bertemu dengan Nan Hee menanyakan dengan gaya genitnya “Apa kau menyukai Messi?” Bok Joo akhirnya mengaku kalau ia penggemar berat Messi. Jae Yi pun mulai membahas saat mencetak gol kemarin,dengan membuat tendangan bebas dan mencetak gol. Lalu ponselnya berdering, Jae Yi pun pamit keluar untuk mengangkat ponselnya. 


“Apa kau dan temanmu bertanya tentang Messi pada semua orang Apa Messi tahu tentang fakta mengerikan ini?” keluh Joon Hyung, Bok Joo meminta Joon Hyung tak perlu membahasnya.
“Berapa lama kau akan melakukan ini?”kata Bok Joo tanya Joon Hyung tak mengerti melakukan apa maksudnya.
“Hentikan... Kau tahu maksudku. Jika aku bisa...” ucap Bok Joo marah ingin menyiram air, saat itu Jae Yi datang.

Bok Joo langsung bersikap ramah dengan menyuruh Joon Hyung minum karena bisa terkena gangguan pencernaan. Jae Yi meminta maaf karena temanya menelp dan kembali membahas tentang gol yang dilakukan Messi, lalu bertanya apakah adiknya kemarin melihatnya. Joon Hyung dengan kesal menjawab tidak melihat karena  menonton acara angkat besi semalam. Bok Joo melirik sinis.
“Kenapa kau menonton angkat besi?” keluh Jae Yi
“Dalam pertandingan tadi malam, mereka mengangakat besi seperti ini.”cerita Joon Hyung memperagakan gayanya lalu Jae Yi tertawa melihatnya lalu mengajak mereka kembali makan. 


Ketiganya keluar dari restoran, Jae Yi mengajak keduanya masuk karena  akan mengantar mereka berdua. Bok Joo langsung menarik Joon Hyung yang akan masuk mobil. Bok Joo menolak pulang bersama karena ada yang ingin dibicarakan oleh Joon Hyung.
“Membicarakan apa? Kita sudah mengobrol dari tadi.” Ucap Joon Hyung binggung
“Ini sudah 10 tahun. Kita harus mengobrol tentang banyak hal. Ayo kita mengobrol” ajak Bok Joo
“Itu benar. Kalian harus menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Kau masih punya waktu sampai pengabsenan. Aku akan pergi, kalau begitu. Sampai jumpa di klinik.” Ucap Jae Yi masuk mobil,
“Hyung. Aku harus pergi denganmu. Bawa aku bersamamu. Hyung.” jeritJoon Hyung panik meminta tolong pada kakaknya karena mungkin kena pukulan lagi oleh Bok Joo. Jae Yi pun pergi dengan mobilnya, 

Bok Joo memperingatkan Joon Hyung  lebih baik diam dan mengikutinya, serta Jangan sampai menimbulkan keributan. Joon Hyung bingung Bok Joo merendahkan suaranya karena itu menyeramkan. Keduanya berada di sebuah tempat dengan banyak kayu dan Bok Joo sempat menyalakan api unggun.
“Kenapa kita disini?” tanya Joon Hyung ketakutan, Bok Joo memanggil Joon Hyung dengan nada rendah seperti penuh dendam.
“Jangan merendahkan suaramu, Kau menakutiku.Kau tidak akan... membunuhku... dan menguburku, kan?” kata Joon Hyung ketakutan melihat lirikan mata Bok Joo yang menyeramkan.
“Ayo kita buat perjanjian.” Kata Bok Joo, Joon Hyung selalu binggung perjanjian apa maksudnya.
“Aku selalu panik...  karena kau mungkin mengatakan sesuatu pada seseorang. Aku tidak bisa hidup seperti ini, semua akan segera membunuhku. Aku akan mengabulkan permintaanmu, dan kita akan menyelesaikannya dalam satu hari.” Jelas Bok Joo
Joon Hyung binggung menanyakan tentang permintaanya,  Bok Joo pikir Joon Hyung harus memutuskan itu lalu mendekatkan wajahnya berpikir Joon Hyung ingin memukulnya. Joon Hyung kaget lalu mendorong kepala Bok Joo meminta agar memberikan peringatan dulu jika mendekatkan wajahnya, selain itu dirinya juga seorang preman yang suka memukul.
“Apa yang kau inginkan kalau begitu? Apakah Uang?” kata Bok Joo menawarkanya, Joon Hyung tertawa mendengarnya.
“Berapa banyak uang yang akan kau berikan padaku?” tanya Joon Hyung
“Aku sedang tidak punya banyak uang sekarang, tapi aku akan mencoba mendapat lebih banyak lagi. Berapa banyak yang dibutuhkan untuk membuatmu tetap diam?” ucap Bok Joo
“Aku tidak tahu, tapi  Aku cukup menikmati mengetahui kelemahanmu. Untuk saat ini, aku juga tidak terlalu butuh uang.Tapi jika aku memukulmu, tanganku hanya akan jadi bengkak.” Kata Joon Hyung sudah menyiapkan kepalan tanganya.
Bok Joo pun ingin tahu kesimpulannya, Joon Hyung pikir mereka  pikirkan ini dengan hati-hati, karena hanya punya satu kesempatan, jadi tidak bisa menyia-nyiakannya. Lalu mengajaknya pergi karena  akan terlambat untuk pengabsenan malam. Bok Joo cemberut karena masih harus menundanya. 


Joon Hyung masuk asrama berbicara sendiri, tak percaya Bok Joo ternyata mengajukan Perjanjian,lalu bertanya-tanya Bagaimana bisa menyarankan itu menurutnya teman SDnya itu agak sedikit gila. Tae Kwon melihat temanya masuk  bertanya apakah tak melihat Ki Suk, Joon Hyung mengelengka kepala.
“Kenapa? Apa dia bilang dia akan membunuhku?” tanya Joon Hyun, Tae Kwon membenarkan.
“Dan juga... Dia bilang akan membuatmu mengangkat sekarung beras. Itulah yang paling semua orang benci di acara olahraga sekolah Tidak ada yang mau melakukannya, jadi si brengsek itu menuliskan namamu. Dan itu yang kau dapat karena tidak muncul.” Kata Tae Kwon memberitahu temanya.
“Kau harusnya menghentikannya, idiot.” Ucap Joon Hyung kesak pada temanya.
“Bagaimana bisa aku harus menghentikannya? Aku tidak punya kekuatan atau apapun itu. Bagaimana aku bisa menghentikan si brengsek itu?” kata Tae Kwon meminta agar temanya bisa menerima saja.

“Itu tidak akan terlihat keren, tapi kau lakukan saja dan selesaikan.” Pinta Tae Kwon
Joon Hyung tak peduli karena akan menghilang pada saat itu, Tae Kwon khawatir Joon Hyung akan menghadapi konsekuensinya. Joon Hyung pikir  si sosiopath itu tidak akan jadi baik padanya setelah melakukan itu, jadi lebih baik terus diomeli dan dihukum nanti. Ia memperingatakan Tae Kwon kalau lebih baik menutup mulut karena ia akan melarikan diri.
“Aku tidak bisa melakukan apapun lagi. Lakukanlah sesukamu.” Kata Tae Kwon tak peduli. Joon Hyung menanyakan apa yang akan dilakukan temanya itu.
“Aku sudah dapat tugas lain. Cheer...” kata Tae  Kwon tak bisa menyebutkanya, Joon Hyung binggung apa maksudnya meminta agar Bicara yang jelas!
“Cheerleading. Cheerleading, sialan... Aku akan jadi cheerleader.” Jerit Tae Kwon, Joon Hyung bisa tertawa mendengarnya. 


Joon Hyung sedang melatih ototnya di dekat kolam renang,  Ki Suk mendekatinya membahas juniornya itu menyelinap keluar lagi kemarin, merasa kalau akan menganggap jalan bebek waktu itu sebagai bagian dari latihan. Joon Hyung mengaku kalau Ada sesuatu yang terjadi di rumah.
“Benar... Aku harus menahan diri dari  memberikanmu hukuman seperti itu Air kolamnya akan segera dingin sekarang jadi Bersihkan saja kolamnya, “ kata Ki Suk sambil mengumpat. Joon Hyung hanya bisa mengumpat kesal kembali menerima hukuman. 

Tae Kwon menanyakan keadaan temanya karena  tidak akan bisa menangani  Ki Suk jika kalah. Joon Hyung tak mau memikirkan karena membuatnya kepalanya sakit jadi lebih baik mengkhawatirkan itu nanti dan menanyakan dengan latihan cheerleader temanya. Tae Kwon pikir berjalan baik.
“Aku harus memilih warna untuk seragamku. Haruskah aku memilih silver atau ungu?” kata Tae Kwon binggung.
“Kau sepertinya menikmatinya.” Ejek Joon Hyung,
“Apa yang kau bicarakan? Aku benar-benar menikmatinya. Aku tidak pernah sefokus ini selama hidupku.” Ungkap Tae Kwon

Si Ho seperti sudah menunggu lalu menyapa keduanya, Joon Hyung kaget melihat Si Ho sudah ada didepannya. Si Ho bertanya apakah latihan dengan baik dan sengaja  menunggunya untuk makan pizza bersama, karena tahu menyukai pizza yang dibakar dan sudah menemukan tempat yang bagus. Joon Hyung melihat keduanya memilih untuk segera pamit pergi. Joon Hyung berteriak memanggil temanya.
“Kenapa kau seperti ini, benar-benar tak bisa dipercaya?” ucap Joon Hyung kesal
“Aku ingin mencoba melakukan sebisaku. Jadi kau harus terbiasa” kata Si Ho
“Sebuah hubungan tidak seperti olahraga. Kerja keras tidak menjamin kesuksesan.” Tegas Joon Hyung
“Aku masih ingin mencoba sebisaku dan melihat apakah ini akan jadi berbeda. Aku hanya bisa menyerah ketika tahu kalau ini benar-benar tidak akan mungkin. Aku baik-baik saja ketika di Taereung, tapi melihatmu membuatku sadar... kalau aku tidak bisa menyerah. Kau satu-satunya yang bisa jadi tempatku bersandar sekarang.” Ungkap Si Ho
“Berlajarlah berdiri dengan kedua kakimu sendiri. Semua orang menjalani hidup mereka masing-masing. Kau tidak bisa mengharapkan seseorang... menyelesaikan masalahmu. Aku tidak mau makan pizza denganmu.” Tegas Joon Hyung berjalan pergi. 

 Flash Back
Si Ho mengejar Joon Hyung dengan handuk karena rambutnya masih basah, Joon Hyung terlihat penuh semangat dengan rambut yang masih basah. Si Ho menasehati agar mengeringkan rambutnya karena  bisa terkena flu.
“Aku terburu-buru karena seseorang..” Ucap Joon Hyung mengodanya dengan memeluk Si Ho
“Ayo kita makan pizza,  Aku ingin melihatmu makan.” Kata Si Ho
“Lalu aku akan melihat kau yang melihatku makan.” Goda Joon Hyung lalu memberikan kecupan di bibirnya lalu berlari pergi. Si Ho mengejarnya keduanya terlihat bahagia.
Si Ho menatap jalan yang sama dengan sebelumnya, tapi kali ini Joon Hyung pergi berjalan meninggalkan begitu saja.  Ia mengatakan akan menerima hukumannya dan akan melakukan apapun yang Joon Hyung pikir pantas untuknya jika itu artinya mereka  bisa kembali bersama.

Semua atlet angka besi berkumpul. Pelatiah Yoon memberitahu kalau  acara olahraga sekolah akan terjadi besok, semua mengatakan sudah mengetahuinya.  Pelatih Yoon bertanya untuk slogan tim angkat besi.
“"Tim Terbaik dengan Kerja Tim Terbaik." Teriak semuanya.
“Ayo kita buktikan kekuatan kerja tim  dan tunjukkan pada semua orang kalau acara olahraga ini adalah milik kita.” Ucap Pelatih Yoon, Semua dengan penuh semangat pun setuju. 
“Professor... Kenapa acara olahraga ini jadi milik kita?” tanya Ye Bin polos. Pelatih Yoon memuji kalau itu pertanyaan bagus.

“Kalian yang masih baru mungkin belum tahu. Sejak acara olahraga pertama, tim angkat besi kita selalu memenangkan juara pertama karena kekuatan, ketahanan, dan ketekunan kita. Ini semua dimulai pada tahun 1991.... ketika aku masih anak baru...” ucap Pelatih Yoon kembali ingin memberikan curhatnya.
“Profesor.... Kau bilang ada rapat sore ini.” Kata pelatih Choi menyela. Pelatih Yoon mengingatny dan akan menceritakannya lain kali lalu menyuruh mereka semua untuk bubar

Tim senior berkumpul, Salah seorang wanita mendengar percakapan antara Profesor Yoon dan Pelatih Choi kalau Woon Gi akan mengganti kelas beratnya. Teman lainya bingung kenapa Woon Gi  tiba-tiba melakukan itu. Si wanita yakin kala itu sangat jelas bahwa sebuah strategi.
“Woon Gi sangat kuat, jika dia bisa  menaikkan berat badannya, maka dia pasti bisa memenangkan kelas berat itu juga. Dan juga, kalian berdua ada di  kelas berat yang sama sekarang.” Kata si wanita
“Kalau begitu aku akan bersyukur. Jadi dia tidak sedang berlatih untuk pertandingan semi-profesional?” ucap temanya, Si  wanita mengatakan tidak. Salah satu teman lainya merasa bersalah telah menuduhnya. Sang Chul hanya diam saja mendengar pembicaran tentang Woon Gi. 

Woon Gi duduk didepan pintu jurusan dengan memandangi foto anaknya yang baru lahir dengan senyuman, Sang Chul keluar ruangan. Waoon Gi buru-buru menyembunyikan ponselnya. Sang Chul memberikan sebotol minuman dan pamit pergi, tapi akhirnya berhenti sejenak.
“Hei...  Kenapa kau menaikkan kelas beratmu tepat sebelum kelulusan? Apa kau merasa sebertanggung-jawab itu sebagai ketua tim?” ucap Sang Chul merasa tak enak hati.
“Aku hanya ingin melakukannya dan ingin menguji batasku.” Kata Woon Gi.
“Kau bilang  Batasmu? Terserahlah. Tapi Itu akan merusak kesehatanmu. Belajarlah mendahulukan dirimu sendiri. Jangan terlalu memikirkan kami dan Pikirkanlah dirimu sendiri.” Pesan Sang Chul lalu pamit pergi. 

Tae Kwon dan Joon Hyung sedang melatih otot mereka. Tae Kwo seperti sudah tak kuat dan mengaja temanya  menyelesaikan latihan ini dan main game selama satu jam. Joon Hyung menolaknya, aTae Hwon merayunya kalau jari juga butuh latihan. Joon Hyung tetap melakukan otot lenganya.
“Kalau tidak, aku akan memberitahu Ki Suk kalau kau tidak akan muncul besok.” Kata Tae Kwon mengancam. Joon Hyun menyuruh lalukan semaunya dengan mengumpat. 
Tae Kwon terus merengek tapi Joon Hyung tetap tak mau. Ia pun duduk disamping sambil ngedumel sendiri kalau seharusnya jadi temannya tapi  tidak pernah bekerja sama.
Joon Hyung melihat ponselnya berdering lalu melihat pesan dari Si Ho “Apa kau makan dengan baik? Aku sedang latihan sekarang.” Ia langsung memaksakan diri menarik alatnya untuk melampiaskan amarahnya sampai akhirnya tanganya cedea. Tae Kwon panik melihat temanya yang menjerit kesakitan.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar