Jumat, 23 Desember 2016

Sinopsis Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 12 Part 1

PS : All images credit and content copyright :MBC
Bok Joo dengan wajah ketakutan bertanya siapa yang ada didepan kulkas dan betapa kagetnya melihat Si Ho duduk dengan memakan semua roti. Bok Joo binggung dengan yang dilakukan Si Ho tengah malam seperti tak sadarkan diri, lalu berjalan  kembali ke kamarnya.
Akhirnya Bok Joo mengikuti Si Ho sampai ke kamar dan Si Ho langsung kembali tertidur dengan menutupi semua wajahnya. Bok Joo dengan wajah khawatir menanyakan keadaanya dan bertanya apakah mengenali siapa dirinya, Si Ho semakin menarik selimutnya dan Bok Joo melihat kaki  SI Ho yang pucat dan juga kotor karena tak mengunakan sandal keluar dari kamar. 

[Episode 12, Daftar Keinginannya]

Bok Joo masuk kamar dengan gugup lalu duduk diatas tempat tidurnya, Si Ho sedang bersiap untuk mandi melihat Bok Joo yang kembali berpikir kalau akan ikut kembali latihan.  Bok Joo mengaku kalau hanya mampir, lalu mencoba untuk bertanya apakah tidak ingat bertemu dengannya tadi malam.
“Kau melihatku di depan kulkas di ruang santai.”ucap Bok Joo, Si Ho seperti tak ingat dan berpura-pura mengingatnya,
“Kau pasti terkejut. Aku punya kebiasaan berjalaan setengah tertidur.” Ungkap Si Ho, Bok Joo terlihat khawatir berpikir kalau Si Ho itu sakit atau mengalami gejala sesuatu, Si Ho tak mengerti maksudnya.
“Aku hanya mendengar kalau ada kejadian di asrama. Beberapa orang bilang mereka melihat hantu.” Ungkap Bok Joo
“Apa hubungannya itu denganku? Kau terlalu banyak ingin tahu. Padahal Kau mempunyai masalahmu sendiri.” Komentar Si Ho sinis lalu bergegas pergi ke kamar mandi.

Di kamar mandi 
Si Ho terdiam menatap cermin seperti bisa membayangkan dirinya yang tengah tertidur tanpa sadar berjalan lalu masuk ke dalam toilet dan membuat gaduh karena memperlihatkan kakinya didepan pintu. Lalu mencari keyword dalam ponselnya[Efek samping dari obat tidur]
Ia akhirnya menelp dokter untuk menanyakan penjelasan lebih dalam ternyata Obat tidur bisa memberi efek samping seperti mengantuk, dan pusing pada awalnya. Bahkan bisa jadi berdelusi, cacat memori, dan tidur sambil berjalan di kemudian hari.
“Aku menyarankanmu untuk berhenti mengkonsumsi obat tidur. Datanglah ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan secepatnya.” Ucap Dokter, Si Ho terdiam karena kondisinya sekarang seperti ketergantungan dengan obat tidur. 

Tae Kwon melihat Bok Joo yang baru menuruni tangga langsung menjabat tanganya karena senang melihatnya kembali, Joon Hyung menahan amarah karena tangan Bok Joo di pegang oleh temanya. Tae Kwo mengaku kalau Bok Joo itu seperti lem karena tak ada dirinya jadi dua temanya tertekan dan merasa kasihan.
“Hei... Ini masih terlalu pagi untuk membuat keributan.” Ucap Joon Hyung langsung melepaskan tangan Tae Kwon lalu bertanya apakah Bok Joo akan pergi. Bok Joo mengangguk.
Bok Joo ingin membahas sesuatu tapi lalu melirik pada Tae Kwon, sepertinya Tae Kwon tak mengerti. Joon Hyung akhirnya meminta agar temanya itu meninggalkan mereka berdua. Tae Kown mengerti tapi menurtnya mereka itu tidak sedang berkencan, tapi kenapa malah seperti memiliki rahasia. Joon Hyung menyuruhnya segera pergi, Tae Kwon pun berpesan pada keduanya untuk jangan bertengkar dan bergegas pergi. 

Bok Joo bertanya pada Joon Hyung apakah sudah bertemu Song Si Ho akhir-akhir ini. Joon Hyung heran kenapa Bok Joo malah menanyakan hal itu. Bok Joo merasa Si Ho terlihat tidak baik,  dan ingin menceriktakan kejadian tadi malam, tapi teringat dengan ucapan Si Ho “Kau terlalu banyak ingin tahu. Kau punya masalahmu sendiri.”
Joon Hyung akhirnya menyadarkan lamunan Bok Joo, Bok Joo puntak ingin membahasnya meras kalau tak terlalu penasaran lagi memina agar jangan memikirkan hal itu dan ingin pami pergi.  Joon Hyung bertanya apa Bok Joo merasa tidak kehilangan sesuatu.

“Tidak ada kecuali kewarasanku.” Ungkap Bok Joo, Joon Hyung pun akhirnya menunjuk kearah lain dengan memutar tubuh Bok Joo dan dengan cepat menaruh kembali dompet dalam tas Bok Joo. Bok Joo hrdan dengan tingkah temanya itu.
“Kau tidak bekerja hari ini, kan? Apa yang kau lakukan?” tanya Joon Hyung, Bok Joo tahu memang tak berkerja dan kenapa Joon Hyung harus membahasnya. Joon Hyung dengan percaya diri kalau  mereka bisa pergi bersama.
“Kau bilang ingin mencari pengalaman.” Kata Joo Hyung, Bok Joo menyuruh Joon Hyung Berhenti bicara omong kosong dan ingin tahu pengalaman apa yang dimaksudnya itu.
“Kau berjanji akan melakukannya selama sebulan dan Kau tidak bisa mengubah pikiranmu sekarang, Nona.”ucap Joon Hyung menganggap Bok Joo seperti Nona kaya, Bok Joo mengejek Joon Hyung benar-benar sudah gila. Joon Hyung menyuruh Bok Joo diam saja.

“Aku tak ada jadwal setiap malam mulai hari ini, setelah pagi hari, jadi pikirkan apa yang ingin kau lakukan. Aku akan menghubungimu.” Kata Joon Hyung dan langsung memegang wajah Bok Joo
Bok Joo panik karena Joon Hyung sebelumnya memegang wajahnya dan langsung menciumnya, Joon Hyung mengingatkan kalau akan menghubunginya nanti lalu pamit pergi. Bok Joo menjerit kesal karena Joon Hyung itu benar-benar mengejutkanya. 


Pelatih Yoon memberitahu semua anak didiknya kalau mulai hari mereka diperbolehkan untuk menghabiskan malam di luar kampus mulai hari ini dan Sebagai tim angkat besi, ketika pulang ke rumah, ada sesuatu... yang harus diingat untuk dilakukan, lalu bertanya pada Woon Gi.
“Makanlah dengan baik.” Kata Woon Gi menjawabnya, Pelatih Yoon membenarkan.
“Kalian sudah lama tidak pulang ke rumah Pulanglah dan makan masakan orangtua kalian sebanyak yang kalian bisa.Mereka yang diharuskan menurunkan berat badan diperbolehkan untuk makan. Ini karena ketika kalian kembali, kalian harus memperkuat otot kalian. Ini bukan permintaan. Ini perintah. Jadi Pulanglah dan makan!” ucap Pelatih Yoon penuh semangat. 

Sementara di tim senam berbeda, Pelatih Sung meminta semua anak didiknya harus sampai kelaparan dan akan dapat masalah besar jika berat badan mereka bertambah. Menurutnya bukan  Hanya karena memiliki libur tiga hari itu tidak berarti bisa makan selama 1,5 hari dan kelaparan 1,5 hari. Soo Bin dkk terlihat sedih mendengarnya, Si Ho yang ada dengan gurunya terlihat pucat.
“Kalian mungkin berpikir sebaliknya, tapi timbangan selalu mengatakan kebenarannya.” Kata Pelatih Sung, Semua pun mengangguk mengerti.

Di tim renang, semua berbaris dengan Joon Hyung dan Tae Kwon berada dibelakang.
“Aku akan melihat hasil latihan rutin kalian pada hari kalian kembali kesini.Ini adalah libur spesial sebelum kalian memulai latihan musim dingin yang sulit, jadi istirahatlah. Serta Menjauhlah dari masalah, oke?” kata Pelatih, Semua berteriak mengerti dan pelatih pun menyuruh merka bubar.
Joon Hyung terlihat bergegas pergi, Tae Kwon bertanya apa yang akan dilakuan temanya, Joon Hyung mengatakan kalau sudah punya rencana dan dan pamit pergi. Tae Kwon menahan dengan menarik celananya, tapi Joon Hyung mengunakan dua lapis celana membiarkan temanya mengambilnya, Tae Kwon berteriak kesal karena ditinggalkan begitu saja. 


Bok Joo menghitung uang yang diterimanya terlihat bahagia karena  sudah menghasilkan 200 ribu won menurutnya Selalu ada timbal balik dari pekerjaan berat dan uangnya itu adalah bau dari kerja keras. Ia menyisihkan beberapa lembar uang untuk membelikan hadiah pada ayahnya dan sisanya membayar les piano.
Pesan Joon Hyung masuk ke ponselnya “Di depan Ayam Bok dalam 30 menit.” Bok Joo mengeluh kalau Joon Hyung itu bersikeras agar ia ingin mendapat pengalamaan, tapi akhirnya pergi ke meja riasnya dengan melihat penampilanya sebelum bertemu dengan Joon Hyung. 

Ayahnya masuk ke kamar bertanya apakah melihat Dae Ho, karena masih ada direstoran beberapa menit yang lalu. Bok Joo mengelengkan kepala, Tuan Kim mengumpat merasa kalau adiknya itu agak mencurigakan akhir-akhir ini, lalu menduga pergi ke Taman Balapan lagi seperti terakhir kali. Bok Joo pikir itu tak mungkin.
“Setelah Ayah memarahinya, dia menanda tanganikontrak untuk tidak pergi ke sana lagi. Dia tidak mungkin ada di sana lagi, kan?” ucap Bok Joo yakin lalu ayahnya terlihat sedikit pucat dan mengeluarkan banyak keringat, lalu menanyakan keadaanya.

“Aku baik-baik saja dan baru selesai membersihkan bunga es di kulkas.” Kata Tuan Kim
“Apa Ayah pergi ke rumah sakit kemarin? Dialisis sudah tidak efektif lagi. Bagaimana jika begitu kasusnya? Tapi Ayah tidak terlihat baik.” Kata Bok Joo khawatir
“Aku baik-baik saja. Aku mengenal tubuhku lebih baik dari orang lain. Jangan khawatirkan aku. Bisakah kau menghubungi pamanmu?” ucap Tuan Kim, Bok Joo mengangguk mengerti dengan bertanya-tanya kemana sebenarnya pamannya itu. 


Ponsel Dae Ho terlihat berdering ada dalam helm, seorang wanita datang. Dae Ho dengan sigap langsung menyapanya tamu salon dengan menyarankan agar bisa mewarnai rambutnya. Si pelanggan pun memutuskan untuk mewarnai rambutnya. Dae Ho pun memberikan kode pada kakak Pelatih Choi karena menerima pelanggan dengan menerima bayaran yang cukup mahal.
Sementara pelatih Choi hanya terdiam melihat tingkah Dae Ho yang membantunya, Kakaknya berkomentar kalau selama ini berpikir adiknya itu  hanya jago berolahraga tapi ternyata memiliki bakat dalam berkencan. Pelatih Choi menegaskan kalau mereka  tidak sedang berkencan.
Dae Ho tak ingin membuat kulit tangan pelatih Choi rusak dan akhirnya membantu pelanggan yang sedang mencuci rambut, Pelatih Choi hanya bisa menatap pasrah dengan yang dilakukan paman Bok Joo tersebut. 

Joon Hyun sudah menunggu didepan restoran, Bok Joo keluar rumah merasa heran kenapa harus bertemu di depan rumahnya.  Joon Hyung pikir Tidak ada yang salah dengan bertemu dengan kekasihnya di depan rumahnya. Bok Joo heran Joon Hyung mengatakan hal itu.
“Apa kau khawatir kalau ayah dan pamanmu mengetahuinya?” goda Joon Hyung
“Kenapa aku harus khawatir? Mereka tahu kalau kau hanya temanku.” Kata Bok Joo, lalu melihat ayahnya keluar rumah dan langsung memiting kepala Joon Hyung dengan menunduk segera bergegas pergi dari rumah.

Keduanya pun berjalan, Joon Hyung mengaku merasa Senang bisa santai seperti ini bahkan juga memilik Bok Joo yang ada disisinya, Bok Joo tak menangapi lalu Joon Hyung bertanya apa yang akan dilakukan hari ini, karena bebas seharian ini, jadi bertanggung jawab. Bok Joo heran dengan maksud ucapanya, Joon Hyung pun teringat dengan daftar keingian yang ditulis Bok Joo.
“Bagaimana dengan taman bermain? Sudah lama sejak terakhir kali aku kesana.” Kata Joon Hyung tersenyum bangga, Bok Joo memikirkanya lalu berkomentar
“Berapa usiamu? Itu sangat kekanak-kanakan.” Ucap Bok Joo menolak, Joon Hyung heran dan tetap ingin mengajak Bok Joo pergi karena Disana tidak akan terlalu ramai karena ini hari biasa

Keduanya sampai di halte bus, Joon Hyung pun melihat  kalau Ada bis yang bisa langsung menuju kesana jadi tidak punya alasan untuk tidak pergi. Bok Joo pun jual mahal memikirkanya tapi akhirnya setuju, Joon Hyung pun tersenyum mendengarnya.
“Aku hampir lupa. Aku akan bertemu dengan temanku nanti.” Kata Bok Joo, Joon Hyung bertanya yang dimaksud adalah teman kampusnya.
“Mereka ingin bersenang-senang bersama sebelum pulang ke rumah.” Kata Bok Joo merasa menyesal
“ Apa kau harus bertemu mereka hari ini padahal sudah bicara dengan mereka sepanjang malam? Tidak bisakah kau membatalkannya?” rengek Joon Hyung, Bok Joo mengatakan tak bisa melakuan karena temanya pasti akan marah.
Joon Hyung tetap merengek tetap pergi ke taman hiburan bersama, karena sudah tidak sabar.

Joon Hyung terlihat menahan amarah melihat dari kejauhan Bok Joo mengajak dua temanya ikut pergi, keduanya terliha senang karena Sudah lama tidak kesana dan Ini pertama kalinya bagi pergi kesana pada hari biasa, karena tidak harus mengantri.
Setelah mereka berkumpul, Joon Hyung mengajak semuanya segera masuk sebelum ketiganya lebih banyak bicara. Nan Hee menahanya, Joon Hyung bertanya Apa masih ada yang akan bergabung bersama mereka. Terdengar suara khas dari Tae Kwon yang memanggil Joon Hyung.
Nan Hee dengan bangga kalau yang menghubunginya, karena menurutnya Semakin banyak semakin ramai. Tae Kwon mengaku kalau berlari secepat mungkin untuk sampai taman hiburan dan mengomel pada Joon Hyung, sebagai pengkhianat karena tidak memberitahu sebelumnya. Joon Hyung tak ingin membahasnya berjalan masuk lebih dulu ke taman hiburan. 

Mereka pergi ke sebuah toko bando dengan bagian lucu diatasnya, Tae Kwon mencoba dengan mata kodoknya, Joon Hyung mengejek kalau terlihat kekanak-kanakan. Tae Kwon pikir tak ada yang salah karena Semua orang memakai di taman hiburan, lalu memilih sebuah bando dengan tanduk devil.
“Tidak, aku benci hal seperti itu.” Kata Joon Hyung melepaskanya, akhirnya Tae Kwon pun mencobanya,  Bok Joo melihat bando yang dipakai oleh Tae Kwon menurutnya cocok denganya sebagai malaikat.
“Ayo kita pakai itu supaya terlihat seperti pasagan.” Kata Bok Joo, Tae Kwon pun memanggilnya “sayang”. Joon Hyung langsung mengambil dari kepala Temanya, Tae Kwon kesal karena sebelumnya Joon Hyun menolaknya.
“Tidak boleh, yang ini milikku, oke? Ini milikku. Ini benar-benar milikku.” Tegas Joon Hyung berkali-kali, semuanya binggung melihat tingkah Joon Hyung.
“Itu bagus untukmu karena kau memang terlihat seperti setan.” Ungkap Bok Joo melihat Joon Hyung yang memakainya. 

Keempatnya pun main ke arena “Pirate Ship” dan terlihat Bok Joo tak kenal takut mengangkat tanganya tinggi-tinggi, sementara yang lainya terlihat sudah mulai ketakutana. Setelah selesai, Nan Hee berkomentar Kursi yang paling belakang di Pirate Ship adalah yang paling mendebarkan.
“Kita harus naik yang mana selanjutnya? Aku ingin naik Mad Swing.” Kata Bok Joo, Nan Hee tak suka dan ingin main kuda-kudan saja.  Lalu mengambil foto yang bagus.
“Aku ikut. Korsel adalah yang terbaik untuk berfoto.” Ucap Sun Ok bergitu juga Tae Kwon.
Joon Hyung langsung memilih untuk naik Mad Swing dengan Bok Joo, Tae Kwon heran karena Joon Hyung itu takut dengan ketinggianya, Joon Hyung menyuruh temanya menutup mulut dan mengajak mereka berpisah dan akan bertemu 30 menit kemudian ditempat yang sama. Ia pun langsung menarik Bok Joo untuk segera pergi. 

Permainan wahana Mad Swing dengan tubuh diputar sebanyak 360 derajat. Joon Hyung terlihat tegang saat duduk diatas wahana, Bok Joo menanyakan keadaan Joon Hyung yang terlihat pucat dan berpikir kalau naik wahan itu karena dirinya. Joon Hyung menyangkal kalau memang menyukai wahana itu.
Alat pengaman pun mulai di pasang dengan benar, permainan mulai diputar dan langsung berbalik 360 derajat. Joon Hyung berteriak tak percaya Bok Joo terlihat senang menaiki wahana ekstrem seperti ini. Setelah permainan hampir selesai Joon Hyung terlihat hampir pingsan, Bok Joo melihatnya memastikan kalau Joon Hyung tidak akan pingsan. 

Joon Hyung berjalan dibagian counter makanan merasa kalau  Bok Joo seperti kelinci yang bertenaga, padahal merasa mual sekarang. Lalu memikirkan makanan yang akan dibelinya, lalu teringat [Daftar Keinginan Bok Joo: Berbagi minuman dengan kekasihku] dengan senyumanya menurut waktu yang tepat dengan memesan churos dan cola dengan dua buah sedotan.
Bok Joo senang melihat Churros lalu bertanya kenapa hanya memblei satu minuman saja. Joon Hyung beralasan kalau  hanya ingin satu tegukan. Bok Joo pun minum dari sedotan dan tiba-tiba Joon Hyung mendekat dan langsung minum dari sedotan didepanya. Keduanya saling menatap, Bok Joo menjerit kesal dengan yang dilakukan Bok Joo.
“Apa hatimu berdebar? Wajahmu terlihat seperti itu.” Goda Joon Hyung, Bok Joo mengumpat Joon Hyung memang sudah gila.
“Hei! Itu sangat tiba-tiba dan hanya terkejut. Aku tidak mau, jadi Kau minum saja semuanya.” Kata Bok Joo kesal.
“Baiklah, maaf. Kau bisa meminum semuanya. Aku tidak akan meminumnya.” Ucap Joon Hyung
Bok Joo menerima telp Nan Hee, Nan Hee bertanya keberadaan Bok Joo menyuruhnya agar pergi ke pusat taman hiburan karena Akan ada kembang api.  Bok Joo mengerti lalu bergegas mengajak Joon Hyun agar menonton kembang api. 


Si Ho ingin kembali tertidur tapi seperti tak bisa melakuanya, lalu mengambil pil obat tidur yang biasa dilakukanya, tapi teringat dengan pesan dokter “Aku merekomendasikanmu untuk menghentikan konsumsi obat tidurnya dulu. Silahkan datang ke rumah sakit dan mendapatkan pemeriksaan secepatnya.” Akhirnya ia membuang obat tidurnya dan mencoba untuk tidur dengan penutup matanya. 

Bok Joo pun berlari dan melihat acara kembang apinya dimulai, lalu terlihat bahagia karena warna warni kembang api yang sangat indah. Joon Hyung menatapnya dan mengengam tangan Bok Joo, dan menaruhnya dalam jaketnya. Bok Joo melonggo binggung melihatnya.
“Disini dingin. Gunakan apapun yang bisa kau gunakan.” Kata Joon Hyung, Bok Joo hanya terdiam tak bisa berkata-kata, Joon Hyung menatapnya.
“Kenapa? Apa hatimu berdebar lagi? Hatimu berdebar, benarkan? Apa kau membutuhkan pompa jantung sebentar lagi? Aku tidak akan menghentikanmu kalau kau ingin merasakannya, tapi keselamatanmu adalah prioritasku. Aku sangat khawatir padamu saat ini.” Ucap Joon Hyung mengoda.
“Kau... Kau sudah gila! Kau terus membicarakan itu sepanjang hari. Menjauh dariku! Aku tidak tahan bersamamu karena kau sangat menyebalkan.” Kata Bok Joo menarik tanganya dan bergegas pergi  untuk mencari teman-temanya.
Joon Hyun melihat Bok Joo merasa  kalaua erlalu terang-terangan padanya dan sudah merasa tidak nyaman, padahal berpikir dengan melakukan hal yang ada di daftar keinginannya adalah strategi yang bagus.

Bok Joo akhirnya bisa menemukan teman-temanya yang sedang mengambil gambar saat kembang api terlihat dilangit. Nan Hee bertanya darimana saja Bok Joo, mereka pun mengambil gambar saat kembang api terlihat di langit, Joon Hyung diam-diam mengambil gambar Bok Joo yang ada disampingnya.
Joon Hyung melihat tangan Bok Joo yang ada disaku jaketnya dan memberanikan diri dengan memasukan kedalam jaket dan mengenggamnya, Bok Joo terdiam seperti merasakan sesuatu yang berbeda. Keduanya saling menatap dengan kembang api yang terus terlihat dilangit.
“Hatiku yang gila. Ada apa denganmu hari ini? Tolong kembalilah seperti semula, oke?” gumam Bok Joo, tapi tatapanya tak bisa dialihkan pada Joon Hyung. 

Bok Joo mulai berlatih piano dan terlihat sangat mahir tapi ternyata hanya suara instrument dari CD yang diputar. Gurunya pun datang memulai latihan, Bok Joo memulai memainkan dengan nada semaunya, gurunye membertahu kalau Bok Jooo terlalu cepat dan harus mengikuti iramanya lalu menyuruh mencobanya lagi.
Bok Joo berusaha agar bisa mengikuti iramanya, tapi tetap saja tak enak didengar karena terlalu cepat memainkanya, Gurunya meminta agar Bok Joo melakukan agar lebih halus, Bok Joo meminta maaf karena terbiasa melakukan segala sesuatu dengan seluruh kekuatannya, Gurunya menyuruh Bok Joo untuk mengulangi 10 kali sampai melakukan dengan benar. Bok Joo menghela nafas karena tak sesuatu dengan yang diperkirakanya.


Nan Hee menelp Bok Joo memberitahu kalau sudah kembali ke sekolah setelah liburan, Tapi Sun Ok belum kembali juga menurutnya temanya itu tidak bisa meninggalkan rumahnya karena suatu alasan.
Bok Joo menemui ayahnya yang sedang masak ayam didapur, Tuan Kim memastikan kalau Bok Joo akan pergi ke tempatnya Sun Ok. Bok  Joo pikir harus pergi menemuinya, karena Ponselnya juga mati jadi mengkhawatirnya. Tuan Kim tanpa banyak tanya memberikan uangnya untuk tiket bus.
Bok Joo melihat ayahnya terlihat tak sehat mematsikan kalau akan melakukan cuci darah hari ini, lalu bertanya apakah pamanya keluar lagi. Tuan Kim membenarkan menurutnya adiknya itu berbohong kalau akan datang ke pesta ulang tahun teman anaknya, lalu menyuruh Bok Joo segera pergi saja. Bok Joo pun meminta agar ayahnya pergi naik taksi, Tuan Kim mengangguk mengerti. 

[Cheonji Motel]
Sun Ok sedang berlari didepan cermin seolah-olah sedang berusaha mengangkat besi seperti yang dilakukan Bok Joo sebelumnya. Bok Jo melihat Sun Ok berada diujung lorong, Sun Ok kaget melihat Bok Joo yang datang, Bok Joo tak percaya kalau rumah Sun Ok cukup jauh dan sangat sulit menemukannya.
“Kenapa kau pergi sejauh ini?” tanya Sun Ok kaget, seorang tamu pun datang, Sun Ok meminta Bok Joo menunggu dan melayani tamu yang datang apakah ingin mengunakan satu hari atau hanya setengah hari. Bok Joo terlihat sedih melihat temanya yang harus terpaksa berkerja di motel. 

Sun Ok pun mengajak disebuah kamar yang memang khusus untuknya dan menawarkan yoghurt karena hanya itu minuman satu-satunya yang ada dimotelnya. Keduanya pun duduk dibawah, Sun Ok tahu kalau Bok Joo pasti khawatir dan bertanya apakah Nan Hee yang menelpnya, Bok Joo mengangukan kepalanya lalu bertanya apa yang terjadi pada temanya.
“Orangtuaku ingin aku keluar dari sekolah. Mereka pikir aku tidak akan pernah berhasil masuk tim nasional, dan aku tidak akan mendapatkan banyakuang dalam tim semi-profesional. Aku bahkan mungkin tidak akan bisa masuk ke sana. Mereka ingin aku untuk bekerja disini dan tidak menghamburkan biaya sekolahnya. “ jelas Sun Ok
“Mereka kekurangan uang dari ini, Orangtuaku bahkan melakukan pengecetan ruangan sebagai pekerjaan paruh-waktu mereka. Aku juga punya seorang adik. Jadi Aku tidak tahu harus menjawab  apa pada orangtuaku.” Cerita Sun Ok, Bok Joo terdiam dengan wajah sedih mendengarnya.

Sun Ok pikir memang benar kalau ia tak memiliki bakat  dalam angkat besi. Bok Joo pikir tak sepert itu karena Sun Ok saat masih SMA, memenangkan juara dalam turnamen antar provinsi. Sun Ok mengatakan kalau itu kerja keras bukan dari bakatnya dan memberitahu kalau julukanya saat SMA adalah “Hantu Angkat Besi.”
“Itu karena aku tidak pernah meninggalkan tempat latihan seperti hantu dalam cerita-cerita. Waktu itu, aku tetap di sana bukan karena aku menyukai angkat besi, tapi karena aku benci berada di rumah. Aku tidak ingin berada di meja resepsionis di motel kami. Angkat besi hanya satu-satunya alasan aku bisa melarikan diri dari sini. Tapi seiring berjalannya waktu, aku benar-benar mulai menyukai angkat besi. Itu adalah olahraga yang jujur.” Ungkap Sun Ok
“Aku iri padamu, Bok Joo. Kau memiliki bakat, dan seorang ayah yang mendukungmu dengan sepenuh hati. Aku akan sangat bersyukur jika orangtuaku tidak akan begitu menentangnya.” Kata Sun Ok sedih , Bok Joo seperti tak bisa berkata-kata. 


Terdengar suara ibu Sun Ok yang menyuruh untuk membawa sampahnya keluar dn Jangan meninggalkannya tergeletak di luar kamar. Bok Joo dan Sun Ok langsung berdiri saat Ibu Sun Ok masuk ke dalam kamar, Sun Ok pun memperkenalkan temanya pada Ibunya, tapi Ibu Sun Ok seperti tak menyukainya.
“Apa yang membawamu sampai sejauh ini?” tanya Ibu Sun Ok sinis dan bertanya apakah Sun Ok sudah memberikan adiknya makan malam, Sun Ok mengatakan belum dan merasa kalau adiknya bisa makan ramyun.
“Kenapa kau harus membiarkannya makan ramyun kalau kita punya makanan disini? Pergilah dan siapkan makan malam untuknya. Jangan lupa untuk menggantungkan cuciannya juga.” Kata Ibu Sun Ok, akhirnya Bok Joo pun memilih untuk pamit pergi saja
Sun Ok menahan agar bisa makan dan menginap saja lalu kembali esok, Bok Joo menolak karena ayahnya pasti khawatir.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar