Jumat, 16 Desember 2016

Sinopsis Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 9 Part 2

PS : All images credit and content copyright : MBC

Bok Joo tertunduk di meja restoran dengan rambut yang dikuncir, Tuan Kim mengeluh anaknya yang menyebabkan banyak masalah akhir-akhir ini dan membuatkan sup touge untuk anaknya. Bok Joo tetap saja tertunduk, Tuan Kim memarahi anaknya yang pergi keluar untuk minum padahla di restoran mereka punya banyak alkohol bahkan pergi dengan seorang pria.
“Maafkan aku, Ayah. Itu tidak akan terjadi lagi.” Kata Bok Joo merengek pada ayahnya.
“Makanlah pelan-pelan. Aku sedang memanaskan daging babi rebus.” Ucap Tuan Kim, Bok Joo pikir  masih terlalu pagi untuk daging babi rebus. Tuan Kim melirik sinis
“Yahh.. Tentu. Memakan daging babi rebus pagi-pagi akan membantuku menaikkan berat badan. Tuan Kim pun pergi ke dapur untuk masak. 

Dae Hoo yang sedari tadi ada didekat keduanya pun mendekati keponakan yang sedang makan, lalu berbicara kalau sebenarnya... menyukainya sebagai calon suami masa depannya. Bok Joo binggung, Dae Hoo mengatakan kalau itu Untuk memperbaiki keturunan keluarga mereka jadi  membutuhkan pria tampan seperti Joon Hyung,
“Lupakan. Tidak akan ada yang terjadi antara aku dan dia. Dia sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat.” Kata Bok Joo
“Kau bilang  "Dia sudah melihat... sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat?" ucap Dae Hoo dengan tatapan nakal, Bok Joo kesal melihat pikiran pamanya itu pasti yang aneh-aneh.
“Itu tidak seperti yang kau pikirkan.” Tegas Bok Joo, Dae Hoo mengaku bisa mengerti karena mereka hidup di abad 21.
“Sesuatu bisa terjadi ketika pria dewasa dan wanita dewasa minum bersama. Kalian berdua anak muda yang kuat. Aku bukan orang yang kuno. Jadi Akui sajalah.” Kata Dae Hoo mengodanya, Bok Joo menegaskan kembali kalau mereka hanya minum bersama.
“Baiklah. Sepertinya kau terlalu malu. Oke, kalau begitu. Aku akan memberitahumu duluan. Aku kehilangan keperjakaanku ketika...” ucap Dae Hoo dan langsung terdengar teriakan histeris dari Bok Joo memanggil ayahnya, dengan mengadu pamanya itu cabul. Tuan Kim datang memukul sang adik dengan saringan. 


Joon Hyung makan sup yang dibuatkan oleh  bibinya bersama dengan Jae Yi. Nyonya Lee bertanya jam berapa Joon Hyung sampai ke rumah, Joon Hyung mengaku  Tepat setelah Ibunya pergi tidur. Nyonya Lee merasa Joon Hyung itu pasti minum banyak karena bisa mencium bau alkohol dari pakaiannya.
“Apa kau tidak tahu aku tumbuh di lingkungan sini? Jadi Teruslah seperti ini, dan semua orang akan mengatakan kalau anakku selalu pulang larut.”kata Nyonya Lee, Joon Hyung langsung merengek meminta maaf pada ibunya.
“Aigoo. Kau sangat licik. Lalu Kapan kau akan kembali ke sekolah?” tanya Nyonya Lee, Joon Hyung menjawab setelah makan.
“Ayahmu terus mengatakan kalau dia merasa lesu akhir-akhir ini. Jadi Aku akan pergi untuk membeli susu untuknya. Ah, seorang anak perempuan pasti akan sempurna untuk hal-hal seperti ini.”ucap Nyonya Lee mengeluh dengan melirik pada Jae Yi
“Bagaimana denganmu, Jae Yi? Apa kau punya rencana keluar ?” kata Nyonya Lee
“Ya. Ah Young mau membeli speaker, dan ingin aku melihatnya. Tapi aku bisa membatalkannya.” Pikir Jae Yi, Nyonya Lee mendengar nama Ah Young merasa anaknya harus pergi dan membantu bisa pergi ke pasar sendirian. Joon Hyung menatap sinis pada kakaknya karena seperti memberikan perhatian lebih pada Ah Young begitu juga ibunya. 


Pelatih Choi buru-buru masuk ke dalam kantor polisi, Woon Gi dan istrinya sudah duduk didepan polisi yang menginterviewnya. Pelatih Choi kaget melihat Woon Gi ada di dalam  langsung bertanya kenapa memukul seorang supir taksi, Istri Woon Gi  berdiri dari tempat duduknya dan Pelatih Choi melihat anak yang digendongnya seperti sudah mengetahui kalau itu anak dari Woon Gi. 

Mereka pun bicara berdua di lorong, Pelatih Choi mengeluh Woon Gi yang  tidak memberitahu lebih awal. Woon Gi meminta maaf karena  Setelah memikirkannya baik-baik, mereka mendaftarkan pernikahan dan melahirkan anak mereka dan hanya tidak bisa memberitahunya, Pelatih Choi pikir pilihan Woon Gi benar kalau ia jadi dia  juga tidak akan bisa mengatakan itu.
“Dasar Anak nakal... Kau memiliki istri dan seorang anak. Kenapa kau memukul seseorang? Apa yang kau pikirkan?” ucap Pelatih Choi
“Dia mengumpat istriku, jadi ku tidak bisa menahannya.” Jelas Woon Gi
“Sepertinya dia berpikir kalau mendapatkan durian runtuh sekarang. Untuk saat ini, ayo kita menyelesaikannya dengan uang yang aku dapatkan.” Kata Pelatih Choi
Tidak, Pelatih. Aku akan mencari jalan lain dan...” kata Woon Gi menolak.

Pelatih Choi pikir tak mungkin Woon Gi bisa menghasilkan 3 juta won, apakah ia memiliki uang sebanyak itu, karena tahu istrinya saja harus berkerja karena  tidak bisa membiayai pusat perawatan setelah melahirkan untuknya. Woon Gi berjanji pasti akan mengembalikan uang itu. Pelatih Choi mengejek kalau memang Woon Gi harus mengembalikanya.
“Apa kau sudah menamai bayinya?” tanya Pelatih Choi, Woon Gi mengatakan kalau namanya Soon Ri karena ingin anak mereka hidup dengan nyaman.Pelatih Choi memuji kalau itu nama yang bagus.
“Hei, ayahnya Soon Ri. Jika kau merahasiakan sesuatu dariku lagi, maka aku akan membunuhmu.”ancam Pelatih Choi, Woon Gi menganguk mengerti dengan senyuman.
Pelatih Choi keluar dari kantor polisi sambil menelp kakaknya, meminta agar uang yang dipinjamnya dulu untuk dikembalikan bulan ini. 


Jae Yi dan Ah Young pergi ke bagian toko spearker, Jae Yi pikir kalau  menaruhnya di ruang kesehatan, maka speaker Bluetooth akan lebih baik dan lebih nyaman. Ah Young pikir jenisnya ada banyak jadi tidak tahu yang mana yang harus dipilih. Jae Yi menunjuk sebuah speaker didepanya karena itu lebih baik yang dilihat sebelumnya, Ah Young pun memilihnya dan mereka menunggu petugas untuk mengambil barangnya.
“Ada banyak sekali spekarenya. Karena kau merekomendasikan itu, maka kau juga harus memasangkannya. Gratis.” Ucap Ah Young mengodanya.
“Sekarang aku tahu kenapa orang-orang tertipu tanpa menyadarinya.” Keluh Jae Yi, Ah Young pun berjanji akan membalasnya dengan membelikan makana yang paling mahal. Jae Yi hanya tersenyum
“Oh, ngomong-ngomong, apa kau tahu seseorang yang bernama Kim Bok Joo... di tim angkat besi sekolahmu?” kata Jae Yi, Ah Young tahu Bok Joo adalah kartu as di timnya dan tubuhnya yang paling tinggi.
“Aku pernah menyebutkan seorang pasien yang bertanya tentang Messi padaku. Kau ingat?” kata Jae Yi, Ah Young mengingat karena Jae Yi mengaku  pertanyaan itu sangat membekas di ingatannya.
“Pasien itu adalah murid yang baru saja kutanyakan barusan.” Akui Jae Yi, Ah Young tak percaya mendengarnya dan bertanya kenapa  seorang atlet angkat besi pergi ke klinik berat badan
“Dia mengatakan padaku kalau dia seorang pemain cello. Tapi aku tidak sengaja bertemu dengannya di sekolah. Itulah saat aku menemukan kalau dia seorang atlet angkat besi di sekolahmu.” Cerita Jae Yi
Ah Young merasa kalau itu sangat aneh. Jae Yi memberitahu kalau Joon Hyung bilang karena Bok Joo sedang menyukai seseorang dan ternyata Bok Joo satu sekolah dasar dengan adiknya. Ah Young merasa  Dunia ini sempit sekali. Jae Yi penasaran siapa sebenarnya pria yang disukai oleh Bok Joo, Ah Young sedikit mengerutkan dahi seperti merasa tahu kalau Bok Joo menyukai Jae Yi.


“Dia memiliki jadwal yang tetap, jadi tidak bertemu banyak pria. Apa dia menyukai Joon Hyung? Joon Hyung memang populer di sekolah. Dia sangat populer di antara para murid baru, terutama gadis-gadis.” Cerita Ah Young menduga-duga, Jae Yi merasa tak begitu yakin.
“Mereka sepertinya cukup dekat, bahkan minum bersama sampai larut tadi malam.” Cerita Jae Yi, Ah Young tak percaya mendengarnya menurutnya kalau pria itu adalah Joon Hyung.
“Kenapa aku merasa sangat bersemangat? Aku harap mereka bisa bersama.” Ungkap Ah Young


Keduanya pun keluar dari gedung, Ah Young mengucapakan terimakasih pada temanya, ia pun akan mentraktirmu apapun karena sudah menyita banyak waktu, Jae Yi mengatakan kalau bayaran sangat tinggi perjam jadi ingin makanan yang mahal.
Bok Joo lewat didepan mereka, Ah Young langsung memanggilnya. Bok Joo tak bisa menghindar langsung menyapanya. Ah Young dengan blak-blakan mengaku  sudah dengar  tentang apa yang terjadi dengan mengejaknya kaalu menyebabkan masalah besar dan pasti menyenangkan. Bok Joo tak enak hati memilih untuk pamit pergi saja.
“Kau masih memiliki waktu. Ayo kita makan bersama dan Hubungi Joon Hyung, juga.” Kata Ah Young, Bok Joo langsung menolak
“Kau harus bergabung dengan kami. Aku ingin mentraktirmu makan.” Kata Ah Young, Jae Yi pun mengajak Bok Joo agar ikut bersama, Bok Joo seperti tak enak hati untuk menolaknya. 

Jae Yi dan Ah Young seperti sangat dekat melihat menu yang akan mereka pesan Steak, sup dan salad untuk Bok Joo. Tapi Jae Yi teringat kalau Bok Joo sedang tak menjalani program diet, Bok Joo melihat keduanya tampak dengan terlihat iri.
Joon Hyung datang melihat kakaknya yang sudah duduk dan ketika sampai di dekat meja kaget melihat Bok Joo dengan tatapan sedih sudah ada bersama mereka dan bertanya kenapa mereka makan bersama
“Jae Yi membantuku memasang sound system.  Kami bertemu Bok Joo saat akan pergi makan. Aku tidak tahu kalau kalian berdua satu SD.” Kata Jae Yi, Joon Hyung pikir itu bukan
“Ternyata Bok Joo-lah... yang bertanya tentang Messi pada Jae Yi. Aku sangat terkejut dan tidak menyangka.” Ungkap Ah Young, Joon Hyung melirik Bok Joo yang tertunduk malu.
Akhirnya mereka pun makan bersama dengan Bok Joo hanya tertunduk diam, Ah Young mengaku ingin bertanya sesuatu yang membuatnya penasaran, apakah Bok Joo menyukai seseorang di sekolah mereka, Bok Joo terlihat binggung. Jae Yi langsung menghentikanya agar tak mengusik privasinya. Ah Young sadar kalau ia terlalu  berlebihan.
“Lalu Sejak kapan kau dekat dengan Joon Hyung? Aku sudah bekerja di sekolah selama setahun, tapi sama sekali tidak menyangka.” Kata Jae Yi, Bok Joo mengaku  baru bertemu lagi akhir-akhir ini dan Joon Hyung banyak berubah.
“Sepertinya kau terkejut. Dia dulu sangat kecil, tapi sekarang dia tinggi dan sudah dewasa. Hatiku mungkin akan berdebar jika aku jadi kau. Ngomong-ngomong, kalian berdua terlihat cocok bersama. Apa karena mereka berdua tinggi?” ucap Ah Young, Jae Yi menangapinya kalau mungkin seperti itu.
“Ayolah, Dr. Go. Kau berlebihan. Apa kau sadar terdengar  sangat tidak natural?” keluh Joon Hyung, Ah Young merasa tak berlebihan tapi mereka berdua memang cocok.
“Ayo kita berhenti bicara dan makan, karena Makanannya jadi dingin.” Kata Jae Yi
Ah Young merasa kalau Jae Yi sebenarnya menyuruh diam dan makan saja. Jae Yi pun memberikan potongan daging steak lebih dulu pada Ah Young, seperti seorang pacar yang memberikan perhatian. Bok Joo terlihat makin sedih, tapi Jae Yi juga memberikan sepotong iga juga untuk Bok Joo, tapi Bok Joo berusaha menolaknya.
Jae Yi memaksanya, Bok Joo pun akhirnya menerimanya. Jae Yi kembali memberikan pasta pada piring Ah Young melayani dengan penuh perhatian. Bok Joo hanya bisa menahan kesedihan, Joon Hyung menatap sinis kakaknya yang tak mengerti perasaan Bok Joo dan berusaha menyuapi Bok Joo agar tak merasa sedih.

Keduanya pun selesai makan,  dan mengucapkan terimakasih pada Ah Young yang sudah mentraktirnya. Ah Young pikir karena Jae Yi sudah membantu jadi akan mengantarnya dan bertanya apakah ingin ikut mobilnya karena  bisa mengantarkan mereka lebih dulu.
Joon Hyung langsung menolak karena bisa berjalan kaki. Ah Young mengerti dengan mengoda kalau mereka akan terlihat cocok berjalan bersama dan pamit pergi, keduanya dokter itu pun pergi meninggalkan restoran dengan mobilnya.
“Asumsi Dr. Go salah, benarkan?” ucap Joon Hyung, Bok Joo pikir itu tak penting dan tak masalah untuknya berjalan pergi. 

“Kalau dipikir-pikir, itu lebih baik. Makan siang yang kita makan hari ini. Aku merasa tidak nyaman tentang perpisahan kita terakhir kali. Dan Sekarang, aku merasa segalanya membaik. Yang perlu kulakukan sekarang adalah berkonsentrasi pada kompetisiku.” Kata Bok Joo dengan nada lemas.
“Bisakah kau bersiap untuk kompetisimu Ketika terdengar lemah begini?” kata Joon Hyung, Bok Joo juga binggung karena merasa sangat lesu dan kosong
“Ngomong-ngomong, Dr. Go dan Dr. Jung terlihat cocok bersama. Mereka terlihat dekat.” Komentar Bok Joo
“Itu karena mereka teman sewaktu sekolah medis.” Ucap Joon Hyung tak ingin membuat Bok Joo sedih
“Mereka berada di level yang sama. Dr. Go cantik.  Dia memiliki kepribadian yang baik, dan seorang dokter.” Komentar Bok Joo, Joon Hyng melihat Bok Joo juga baik dan sehat.
“Apa itu seharusnya membuatku merasa lebih baik? Kau benar-benar buruk.” Keluh Bok Joo kesal 

Joon Hyung menawarkan Bok Joo untuk makan sesuatu, Bok Joo makin kesal karena sebelumnya mereka baru makan bersama, dan ia tidak makan setiap saat. Joon Hyung pun mengajak Bok Joo menonton film Atau pergi ke klub. Bok Joo terlihat tak terlalu senang, Joon Hyung mengusulkan   jalan-jalan ke pantai
“Apa Kau bisa menyetir dan memiliki mobil?” ucap Bok Joo terlihat sedikit bersemangat.
“Aku punya mobil tapi bukan milikku. Perjalanan ke pantai tidak akan lama.” Kata Joon Hyung, Bok Joo pikir tak mungkin karena jaraknya terlalu jauh. Joon Hyung tak menyerah dengan mengajak untuk melakukan suit kalau kalah maka Bok Joo harus ikut pantai. Bok Joo pun kembali kalah karena dan harus mengikuti saran Joon Hyung.

Joon Hyung mengemudikan mobil dan berhenti dipinggir jalan tempat Bok Joo yang menunggunya, lalu mengejek dari jendela kalau temanya itu terlihat sangat agresif. Bok Joo masuk dan melihat ini mobil milik Jae Yi, Joon Hyung mengaku mobil ini miliknya juga.
“Aku sudah mengemudikannya secara diam-diam selama bertahun-tahun. Aku punya kunci cadangannya. Aku yakin Hyung tahu kalau aku yang memakainya.” Ucap Joon Hyung
“Bisakah kau mengemudi dengan baik?” tanya Bok Joo tak yakin, Joon Hyung menyakinkan karena dirinya adalah pengemudi terbaik dan membantu Bok Joo masak sabuk pengaman, tapi baru saja menginjak gas malah membuat mobilnya mundur. Tapi Joon Hyung bisa dengan tenang memasukan gigi dan melanjukan mobilnya. 

Keduanya pun sampai di jalan yang mengarah ke pantai, Joon Hyung dengan bangga menanyakan pedapat Bok Joo kalau ia memang mengemudi dengan baik. Bok Joo berkomentar Joon Hyung  mengemudi seperti seorang pemula dan merasa mual dan sempurna membuatnya  tetap sadar.
“Ini semua adalah strategi. Sulit berpura-pura seperti aku ini bukan pengemudi yang baik.” Kata Joon Hyung
“Tapi, senang rasanya bisa keluar.” Ucap Bok Joo, Joon Hyung pikir Bok Joo merasa senang karena sudah mendengarkan usulanya.
“Apa kau menyesal... berbohong pada Hyung tentang angkat besi?” tanya Joon Hyung, Bok Joo pikir tidak
“Meskipun aku bisa memutar waktu, maka aku tetap akan berbohong.” Akui Bok Joo, Joon Hyung heran merasa Bok Joo  tidak bangga dengan angkat besinya, menurutnya tak ada yang salah  dengan wanita yang melakukan olahraga angkat besi
“ Tentu saja aku sangat bangga pada diriku sendiri sebagai soerang atlet angkat besi profesional. Wanita yang melakukan angkat besi... mungkin memang membuat orang terkesan, tapi itu tidak benar-benar indah.” Kata Bok Joo, Joon Hyung menanyakan perbedaanya.
“Ini perbedaannya. Seorang atlet angkat besi wanita senior yang memiliki kekasih, biasanya tidak mengundang kekasih mereka ke kompetisi. Kami mengangkat bongkahan besi. Saat itu, urat-urat kami pasti menonjol, wajah kami jadi merah, dagu kami jadi berlipat-lipat, dan lemak perut kami terlihat dari balik ikat pinggang. Itu sangat jelek.” Jelas Bok Joo.
“Kami bilang kalau penampilan bukanlah segalanya. Berdedikasi untuk mencapai mimpi kami adalah yang lebih penting. Tapi, itu bukanlah sesuatu yang ingin kami tunjukkan pada pria yang kami sukai. Jadi dalam beberapa hal, memilih untuk jadi seorang atlet angkat besi... bisa jadi berarti kami harus menyerah untuk hidup seperti seorang wanita dalam beberapa hal. Itulah yang selama ini kupikirkan.” Ungkap Bok Joo
Joon Hyung merasa semua  benar-benar omong kosong menurutnya Bok Joo hanya perlu bertemu dengan seorang pria yang bahkan bisa menyukai sisi yang seperti itu. Bok Joo pikir  Memang lebih mudah bicara daripada melakukannya, karena sangat sulit mencari pria yang seperti itu. Joon Hyung menyakin kalau itu ada dan ingin memberikan contoh, dengan menyebutkan kalau itu dirinya
Tapi Bok Joo tiba-tiba berteriak karena melihat burung camar yang bergerombol dan sangat indah dan menyuruh Joon Hyung melihatnya, Joon Hyung mengeluh halau harus melihat lurus ke depan terlihat kecewa karena tak bisa mengatakanya, lalu bertanya apa yang dipilih burung camar atau dirinya, Bok Joo memilih burung camar dan Joon Hyung kembali bertanya dan Bok Joo tetap pada pilihanya burung camar. 

Bok Joo berlari dipantai dengan berteriak memanggil burung camar, Joon Hyung menyuruh berhenti bertingkah memalukan seperti orang tidak pernah ke pantai. Bok Joo mengatakan sedang merasa stress, tapi berada  dipantai benar-benar membuat pikirannya segar dan akan pergi dengan kekasihnya nanti.
“Rasanya akan sangat dramatis bermain permainan konyol lalu menuliskan nama masing-masing di pasir.” Kata Bok Joo membayangkanya, Joon Hyung mengejek kalau Bok Joo sudah terlalu tua melakukan hal itu
Bok Joo langsung cemberut, Joon Hyung pun mendorong Bok Jo dan mengajak untuk main “tangkap aku” seperti yang bisa dilakukan pasangan saat di pantai. Keduanya terlihat bahagia berlari-lari dan bermain air di pinggir pantai. 

Joon Hyung kelelahan membaringnya lebih dulu tubuhnya dipasir, Bok Joo mengikutinya karena butuh sandaran jadi meminta agar Joon Hyung memberikan lenganya dan tidur diatasnya, Joon Hyung pikir karena Bok Jo biasa mengangkat beban berat dengan mengejek kalau kepalanya terasa berat. Bok Joo langsung memukulnya.
“Aku sebenarnya merasakan kematian.” Keluh Joon Hyung mengaku kalau hanya bercanda dan tak perlu dianggap serius
“Kau tahu aku bisa jadi sekompetitif itu, Kau sebenarnya pelari yang cukup baik.” Balas Bok Joo
“Aku berlari untuk menyelamatkan diriku sendiri.” Kata Joon Hyung, Bok Joo pun menoyor kepala Joon Hyung akhirnya Joon Hyung pun berbaring menatap langit. 

“Aku sudah menunjukanmu segala macam hal dan memberitahumu segalanya tentangku, tapi yang aku tahu tentangmu hanyalah traumamu. Aku tidak tahu apapun lagi.” Kata Bok Joo akhirnya duduk
“Kalau begitu aku juga akan memberitahumu sesuatu. Ketika kita masih di sekolah dasar...” kata Joon Hyung
Flash Back
Joon Hyung diam-diam menaruh sebungkus coklat pada selipan buku lalu kembali ke tempat duduknya dengan senyuman. Bok Joo baru kembali membuka buku dan kaget melihat ada coklat, lalu berteriak siapa yang memiliki coklat itu. Teman-temanya tak ada yang menyahut
“Aku akan memakannya kalau ini bukan milik siapapun!”teriak Bok Joo, temanya pun menyuruh Bok Joo makan saja, Joon Hyung melihat Bok Joo yang makan coklat dengan lahap, kembali tersenyum sumringah. 

“Seseorang dulu menaruh cokelat dan perman di mejamu, kan? Dan Itu adalah aku.” Kata Joon Hyun, Bok Joo tak percaya mendengarnya  lalu berpikir kalau dulu Joon Hyung menyukainya.
“ Astaga, kau berlebihan lagi. Kau sudah menyelamatkan hidupku, apa kau tahu. Jadi Aku ingin berterima kasih padamu. Aku juga berpikir kalau kau keren. Kau pasti tahu betapa kecilnya aku dulu. Tapi kau bisa berbaur dengan  anak-anak lainnya dengan baik, dan kau selalu pemberani serta kuat.” Cerita Joon Hyung
“Itu bukan sesuatu yang spesial bahkan bukan rahasia besar.” Kata Bok Joo, Joon Hyung bertanya apakah Bok Joo ingin  tahu sesuatu yang lebih besar. Bok Joo menganguk.
“Ah, aku pikir itu rahasia yang benar-benar besar. Ini tentang Hyung... Dia bukan kakak kandungku dan sebenarnya sepupuku. Orang yang kusebut orangtuaku sekarang sebenarnya adalah paman dan bibiku. Ketika ibuku menikah lagi, dia meninggalkanku dengan paman dan bibiku. Lalu dia pindah ke Kanada.” Cerita Joon Hyung
Bok Joo benar-benar shock mendengar dengan mata berkaca-kaca kalau itu alasan Joon Hyung pindah sekolah, secara tiba-tiba. Joon Hyung merasa menyesal bahkan tidak bisa mengucapkan salam perpisahan padanya dan melihat tatapan Bok Joo yang sedih melihatnya.
“Hei.. Jangan memandangku kasihan seperti itu. Ini tidak terlalu buruk. Paman dan bibiku selalu berbuat baik padaku, dan Hyung tidak bisa bersikap lebih manis lagi dari ini padaku. Kau bisa lihat, kepribadianku banyak berubah. Aku tidak akan berubah seperti ini kalau tidak memiliki masa kecil yang bahagia.” Ucap Joon Hyung
“Kau pasti tahu, Semua orang... menyimpan beberapa luka yang menyakitkan jauh di dalam hati mereka. Jika mereka bisa meneruskan hidup mereka, itu bagus. Tapi meskipun mereka tidak bisa, mereka masih tetap hidup. Mereka jadi kebal terhadap rasa sakit seiring berjalannya waktu. Kau juga akan baik-baik saja.” Kata Joon Hyung menyakinkan, Bok Joo membenarkan,  dan merasa sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.

Joon Hyung mengetahui Bok Joo ada pertandingan 2 minggu lagi,  jadi menyuruh untuk mengatasi apa yang ada di depannya dulu, setelah itu menunggunya,  karena Waktu akan mengurus segalanya. Keduanya pun memandang pantai dengan langit senja bersama-sama.
“Satu hal baik yang didapat dari menyukai seseorang... adalah aku bisa memutuskan bagaimana untuk mengakhirinya. Perasaanku sudah berada di luar kendaliku, tapi aku memutuskan untuk berdamai dengan hatiku mulai hari ini. Kau sudah melakukan hal yang bagus, hatiku. Kau benar-benar... penuh semangat.” Gumam Bok Joo 

 [7 hari sebelum turnamen]
Bok Joo berlatih dengan ditemani oleh dua temanya, melakukan gerakan untuk punggungnya.  Nan Hee menyakinkan kalau medali emas akan jatuh pada temanya. Bok Joo pun makan dengan lahap agar bisa menambah berat badanya.
 [6 hari sebelum turnamen]
Bok Jo terus makan untuk menambah berat badanya, di  5 hari sebelum turnamen. Pelatih Choi melihat berat Bok Joo merasa kalau  Akan lebih bagus jika bisa menambah lebih dari ini. Pelatih Yoon memujinya dan meminta agar Bok Joo bisa berkerja lebih keras lagi.
 [4 hari sebelum turnamen]
Bok Joo berlatih mengangkat besi dan juga di hari berikutnya terus berlatih sampai malam hari. Bok Joo pun pulang kerumah dengan melahap semua sup ayam yang dibuat ayahnya dan juga kerang,
[1 hari sebelum turnamen]
Pelatih Choi melihat berat Bok Joo tersenyum bahagia karena anak didiknya berhasil menaikan beratnya. Pelatih Yoon pun sudah yakin sebelumnya kalau Bok Joo pasti bisa melakukanya,dan berpesan agar harus menjaga kondisinya, dengan berteriak bahagia karena ia benar-benar memiliki insting yang bagus.

Bok Joo akan bersiap-siap pergi, Si Ho akan keluar kamar bertanya apakah turnamennya hari ini. Bok Joo membenarkan. Si Ho sambil memakai sepatunya mendoakan semoga beruntung dan serius mengatakannya. Bok Joo hanya diam saja lalu mengambil salah satu kaosnya tapi ketika akan memasukan ke dalam tas malah menumpahkan minuma diatasnya, Bok Joo panik karena harus mengunakan kaos itu untuk bertanding. 

Bok Joo yang panik melempar koin dan berdoa, Joon Hyung seperti mencari Bok Joo dan tahu kalau pasti sedang ada didepan kolam,  bertanya apakah sudah siap. Bok Joo mengaku belum karena merasa buruk seperti  akan melakukan hal yang buruk hari ini.
“Aku bahkan menumpahkan minuman proteinku di kaos keberuntunganku pagi ini. Aku terus mendapatkan perasaan tidak enak. Bagaimana jika aku membuat kesalahan?” ucap Bok Joo panik , Joon Hyung memegang pipi Bok Joo agar bisa menatapnya.
“Hei Bok Joo.. Kartu as tim angkat besi Haneol. Kau tidak akan membuat kesalahan. Kau sudah berlatih dengan keras, dan kau juga orang yang kuat. Tidak semua orang bisa jadi kartu as” kata Joon Hyung menyakinan dan menyuruh untuk naik bus dan akan datang menyemangatinya. Bok Joo pergi walaupun terlihat masih khawatir. 

Ah Young heran karena melihat speaker yang dibelinya tak menyala lalu berpikir kalau tertipu. Jae Yi pikir barangnya itu baik-baik saja dan melihat tombol saklar yang belum dinyalaka, akhirnya suara musik pun terdengar. Ah Young terlihat malu karena kesalahanya tidak menekan tombol.
“Apa kau mau makan bersamaku?” ucap Ah Young, Jae Yi menolak karena  harus pergi ke klinik baru Dr. Kang dan bertanya apakah temanya itu akan pergi.
“Tidak, aku shift malam hari ini. Dokter yang lain harus bekerja di pertandingan angkat besi hari ini. Bok Joo juga akan bertanding. Pertandingan itu di Stadium Olympic. Bukankah klinik Dr. Kang ada di dekat situ?” ucap Ah Young, Jae Yi pikir memang seperti itu. 

Spanduk bertuliskan  [Kejuaran Nasional Angkat Besi 2016] Woon Gi pun masuk ke atas panggung dan mulai bersiap mengangkat besinya, dengan posisinya yang benar mulai mengangkat besi setingginya, ketika juri mengangkat bendera putih tandanya berhasil.
Pelatih dan semua anggota tim menjerit bahagia, Woon Gi pun berlari dengan berpelukan bersama semua tim. Bok Joo berada diruang tunggu terlihat panik, Pelatih Choi datang memberitahu kalau ini sudah saatna dan memberikan semangat, pelatih Yoon pun meminta agar Bok Joo bisa tenang  dan lakukanlah seperti biasanya.
“Kontestan selanjutnya adalah... Kim Bok Joo dari Universitas Olahraga Haneol. Ini adalah percobaan ketiga dan terakhirnya dalam kategori  Clean and Jerk” terdengar dari pengeras suara.
“Yah..  Benar, Bok Joo. Semuanya tergantung dari percobaan kali ini. Jangan gugup,  Kau kuat. Kau pasti bisa melakukannya. Jangan meragukan dirimu sendiri. Fokuslah pada barbelnya sekarang.”gumam Bok Joo.

Jae Yi masuk ruangan dengan membawa sebuket bunga untuk menyemangati Bok Joo, lalu duduk dibangku penonton. Bok Joo siap mengangkat besinya dan kaget melihat Jae Yi duduk di bangku penonton. Jae Yi dengan senyuman memberikan semangat, tapi Bok Joo seperti kehilangan konsentrasi.
Pelatih Choi panik melihat Bok Joo hanya diam saja dan menyuruh segera mengangkatnya, Bok Joo terlihat berkaca-kaca akhirnya berusaha untuk mengangkatnya, Jae Yi terlihat tegang menunggu hasilnya, Bok Joo berhasil mengangkat besi dengan mata berkaca-kaca. Jae Yi langsung memberikan dua jempolnya dan teman satu timnya pun bersorak bahagia.
Joon Hyung baru datang kebinggungan mendengar suara jeritan bahagia, lalu kaget melihat kakaknya ada diruangan pertandingan dan Bok Joo diatas panggung terlihat sedih dan langsung kembali ke belakang panggung. 
bersambung ke episode 10 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar