Rabu, 31 Mei 2017

Sinopsis Fight My Way Episode 4 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS

Moo Bin melihat ponselnya yang berdering, telp dari Manager Administrasi. Ae Ra pikir Moo Bin harus  pergi sekarang. Dong Man pun ingin mengajak Ae Ra untuk segera pergi, Moo Bin langsung mengatakan akan makan ramyeon itu. Dong Man langsung marah mendengarnya.
“Kau bertanya kepadaku apakah aku mau makan ramyeonnya.” Kata Moo Bin. Kali ini Dong Man mengumpat pada Ae Ra yang mengatakn hal itu.
“Aku bilang itu untuk menggodanya.” Kata Ae Ra
“Saat aku kembali ke ruang IGD.., aku tidak mau makan apapun. Aku jadi terlalu lapar. Kita bisa makan ramyeon bersama, kan? Ayo kita naik bersama. Aku akan memasakkanmu ramyeon. Aku sangat jago memasak ramyeon.” Kata Moo Bin penuh semangt.
“Aku tidak bisa membiarkan ini. Seharusnya aku beritahu ayahmu. Aku akan bilang kepadanya kalau kau tinggal sendiri.., lalu makan ramyeon dengan pria.Aku akan beritahu dia.” Ucap Dong Man menceri nomor telp Ayah Ae Ra di ponselnya.
“Astaga, ada apa denganmu hari ini? Apa Kau mabuk?” ucap Ae Ra mengambil ponsel dari tangan Dong Man
“Apa  Kau ingin memasakkannya ramyeon?” ucap Dong Man seperti penuh rasa cemburu
“Memangnya kenapa jika aku memasakkannya ramyeon atau makanan 18 piring?” ucap Ae Ra merasa tak ada yang salah.
“Baiklah. Aku mengerti. Mungkin ini terlalu cepat. Itu kelihatan seperti bukan tindakan pria baik hati. Kau berpikir seperti itu juga, kan? Aku pikir kau bisa jadi wanita Jadi Tolong undang aku ke rumahmu nanti. Hari ini, mari beli ramyeon dan makan di sini. Aku yang traktir.” Kata Moo Bin menarik tangan Ae Ra untuk pergi.
Dong Man tiba-tiba menarik tangan Ae Ra seperti tak ingin pergi. Ae Ra pun kesal melihat tingkah keduanya,  Dong Man mengatakan ingin akan  makan ramyeon juga. Moo Bin hanya bisa melonggo mendengarnya. 

Ketiganya pun makan bersama dengan Dong Man duduk sedikit lebih jauh. Ae Ra pun mengucapkan Terima kasih pada Moo Bin yang memberikan sumpit dibandingkan Dong Man yang cuek saja.
“Jika kalian satu sekolahan dulu.., apa kalian berdua dekat?” kata Ae Ra. Keduanya langsung menjawab Tidak sama sekali.
“Aku tidak bisa berteman dengan tiap orang. Apalagi dengan brengsek yang suka ngoceh.” Kata Dong Man menyindir Moo Bin
“Aku tidak berteman dengan cuma sekadar atlet. Guru kami sering menghukumnya.”balas Moo Bin
Saat itu Dong Man seperti merasa tak sanggup makan ramyun, Ae Ra pun bertanya apakah memang Dong Man itu sangat ingin makan ramyeon. Moo Bin mengaku kalau sungguh keluar jalur untuk bertemu dengan Ae Ra hari ini dan mungkin saja bisa dipecat sesampainya di RS nanti. Ae Ra merasa tak enak hati Moo Bin sampai melakukan itu.
“Kita bisa ketemuan lain kali.” Ucap Ae Ra merasa Moo Bin tak perlu sampai seperti ini.
“Aku harus menemuimu. Dari hari pertama aku menemuimu sampai hari ini.., bahkan aku memikirkan tentangmu berkali-kali. Aku memikirkanmu 50 kali sehari. Jika aku tidak melihatmu, maka aku tak bisa melakukan apapun.” Ungkap Moo Bin. Dong Man yang mendengarnya merasa sangat kepanasan.
Ae Ra merasa Moo Bin itu cukup blak-blakkan, Moo Bin pun mengajak untuk bertemu di kencan selanjutnya besok dan sudah merencanakan sepanjang sore yaitu Full-course. Ae Ra tak percaya Moo Bin sampai menyiapkan  Full-course.
“Sekarang aku memikirkan ini, kau suka menarik kejutan.” Kata Ae Ra dan Moo Bin hanya bisa tersenyum bahagia. Tiba-tiba Dong Man menarik kursi Ae Ra agar mendekat.
“Hei, ramyeonmu melar. Berhenti bicara dan makanlah, lalu Pulanglah segera.” Ucap Dong Man
“Kenapa kau menarik kursiku? Kau tidak harus menarik kursiku.” Keluh Ae Ra dan mulai memakan ramyunnya. 


Seol Hee memakan es krim sambil menatap gaun yang ada didalam etalase, saat itu Joo Man berjalan dan Seol Hee langsung menghampirinya. Joo Man terlihat sangat kaget, Seol  Hee heran melihat Joo Man yang kaget apakah tak tau kalau sudah menunggunya.
“Aku memikirkan sesuatu.” Akui Joo Man. Seol Hee bisa mengerti karena  Mungkin ada orang dari tempat kerja mereka.
“Kenapa kau makan es krim setelah banyak makan daging? Bahkan Kau sampai menumpahkannya.” Kata Joo Man membersikan baju Seol Hee.
“Aku lapar, karena sibuk memanggang daging untuk memakannya.” Kata Seol Hee.
“Apa Kau harus pakai seragam? Bukankah ini sulit dibersihkan?” kata Joo Man
“Kita bisa berpakaian biasa jika mau.” Ucap Seol Hee. Joo Man pun ingin tahu alasan Seol Hee yang selalu memakai seragam.

“Bukankah kau ingin terlihat cantik?” kata Joo Man
“Kalau begitu aku akan menggantinya setidaknya 3 kali seminggu. Aku tak mampu membeli pakaian dan  lebih bagus pakai seragam.” Ucap Seol Hee
Joo Man pikir bisa membelikannya pakaian dan kenapa tak memintanya, karena sudah punya penghasilan dan bisa menghabiskannya untuknya. Seol Hee pikir tak mungkin bisa menghabiskannya, karena Joo Man itu mendapatkannya dengan kemampuan dan bekerja sangat keras jadi  tidak bisa menghabiskannya hanya untuk pakaian.
Joo Man melihat gaun di etalase lalu bertanya apakah Seol Hee menginginkanya.  Seol Hee pikir pakaian itu sangat mahal. Joo Man mengatakan akan membelikannya untuknya.  Seol Hee menolak karena itu harganya sangat mahal. Tapi Joo Man menarik Seol Hee untuk masuk toko. 

Seol Hee sudah mengunakan pakaian dan melihat di cermin, lalu merasa kalau warnanya tidak cocok untuknya. Pegawai toko melihat Kulit Seol Hee yang sangat putih jadi sudah pasti gaun itu cocok. Seol Hee mengatakan bukan seperti itu tapi ukurannya.
Pegawai pikir masih bisa disesuikan dibagian belakang, dan kelihatan jadi langsing. Seol Hee pikir kalau gaun itu bukan stylenya. Joo Man mendengar ucapan Seol Hee tahu kalau itu cara agar tak membelikanya, lalu memberitahu pegaai kalau akan membayarnya. Seol Hee tetap ingin menolak tapi Joo Man sudah pergi ke kasir. 
Seol Hee pun membawa tas berisi baju, mengaku tidak menginginkannya tapi Joo Man malah pergi dan membayarnya, lalu bertanya-tanya kemana akan mengunakan pakaian itu. Joo Man menegaskan kalau gaun itu bisa dipakain untuk berkerja.

“Kau bisa Gunakan pink, warna favoritmu, Berperilaku prima dan tepat. Jangan biarkan yang lainnya berjalan di atasmu. Jangan panggang daging!” ucap Joo Man dengan nada tinggi.
“Kenapa kau berteriak?” ucap Seol Hee binggung. Joo Man menegaskan kalau itu agar Seol Hee bisa mengerti.
“Aku tidak ingin gaunnya. Ini bukan style-ku.” Ucap Seol Hee. Joo Man pun bertanya apa stylenya itu. Seol Hee binggung.
“Kau pikir itu Murah, murah, murah... Itu style-mu!!! Aku tahu dengan sangat baik, tapi kau berakhir seperti ini mendukung pria miskin sepertiku selama 6 tahun. Aku sangat bersyukur atas itu. Tapi sekarang, rasanya hampir mencekik.” Kata Joo Man mengeluarkan semua amarahnya.

Seol Hee terlihat kaget melihat Joo Man yang berteriak, Joo Man akhirnya tersadar meminta maaf karena kehilangan akal sehatnya tadi. Sul Hee yang sakit hati memilih untuk membuang tas belanja lalu menghentikan taksi
Di dalam taksi, Seol Hee menangis sendirian lalu melihat agro taksi sudah 8ribu won, lalu meminta supir agar berhenti di stasiun terdekat. Joo Man terlihat kebinggungan di pinggir jalan karena tak mendapatkan taksi, tiba-tiba Yee Jin menghentikan mobilnya melihat Joo Man yang masih ada  didekat restoran.
“Kau tak akan dapat taksi, Naiklah.” Ucap Yee Jin mengajak untuk pergi bersama. Joo Man menolaknya karena tak ingin Seol hee salah paham
“Masuklah sebelum kita menyebabkan macet.” Kata Ye Jin terus membujuk. Joo Man terlihat binggung. 
Ae Ra sudah ada didepan rumah kembali dan meminta agar Moo Bin segera pergi. Moo Bin meminta agar Ae Ra yang pergi lebih dulu. Karena melihatnya pulang dengan aman. Ae Ra pun memutuskan  akan masuk rumah lalu menaiki tangga. Moo Bin berteriak akan menelpnya nanti.
Tiba-tiba Ae Ra berhenti sebelum sampai didepan rumahnya, Dong Man seperti mengerti dan mengandeng tangan Ae Ra untuk naik lebih keatas lagi. Ae Ra binggung kenapa Dong Man itu naik terus. Dong Man mengatakan kaalu tidak ingin Moo Bin tahu tempatya tinggal dan  bisa turun lagi nanti.
“Baiklah, kalau begitu. Pimpin jalannya.” Ucap Ae Ra gugup dan Dong Man berjalan lebih dulu.
Moo Bin masih menunggu, Ae Ra melambaikan tangan agar menyuruh Moo Bin segera pergi. Dong Man yang melihatnya merasa Ae Ra jadi aneh hari ini dan mengejeknya kalau sedang ikut Miss Korea. Ae Ra menyuruh Dong Man lebih baik diam saja. Dong Man pun menarik Ae Ra untuk segera pergi. 

Joo Man sudah berada di dalam mobil lalu melihat Sul Hee yang menelpnya, tapi memilih untuk tak mengangkatnya. Ye Jin melihat tas yang dibawa Joo Man kalau itu kelihatan sepert pakaian wanita. Joo Man sedikit gugup karena tak bisa mengatakan yang sejujurnya. Ye Jin tersipu malu melihat kalau Warnanya pink.
“Pak Kim... Aku sangat suka pink.” Ucap Ye Jin  lalu memperlihatkan jarinya.
“Cantiknya.”komentar Joo Man, Ye Jin makin tersipu malu di puji oleh Joo Man yang cantik. Joo Man menjelaskan kalau Kukunya yang cantik.


Joo Man meminta turun di dekat restoran toppoki. Ye Jin pikir  Joo Man bisa turun di depan rumahnya. Joo Man beralasan ingin makan toppoki, Yee Jin meminta izin agar bisa bergabung, dan bisa telepon supir lain karena merasa lapar.
“Ye Jin,  Lain waktu. Aku akan mengumpulkan seluruh pegawai magang dan mentraktir kalian.” Ucap Joo Man menolak secara halus, Yee Jin pun bisa mengerti.
“Terima kasih tumpangannya.” Ucap Joo Man turun dari mobil.

Ye Jin tiba-tiba turun dari mobil memanggil Joo Man, lalu mengatakan “tidak” Joo Man binggung. Ye Jin menjelaskan Jangan panggil semua intern tapi hanya mentraktirnya saja.
Akhirnya Joo Man pulang dengan sebungkus toppoki sambil berbicara sendiri kenapa hanya Ye Jin. Lalu melihat mesin boneka dan mengambil boneka yang berwarna pink. 


Di atap, Ae Ra akhirnya melihat Moo Bin yang pergi. Dong Man mengumpat marah dengan Ae Ra yang dekat dengan Moo Bin. Ae Ra tak ingin membahasnya tapi ingin tahu alasan Dong Man yang  berhenti membasmi serangga, apakah karena ingin Masuk MMA. Dong Man membenarkan.
“Aku akan ada pada ketinggian dan melihatmu jatuh.” Ucap Dong Man
“Jadi kau akan berhenti dengan bekerja yang menggajimu untuk memukul orang di ring?”ucap Ae Ra dengan nada tak setuju.
“Itu adalah seni aktual dari bertarung.” Kata Dong Man. Ae Ra melarangnya bahkan tak boleh mencobanya. Dong Man heran Ae Ra malah melarangnya.
“Kau belum berpengalaman selama 10 tahun. Kau hanya akan dipukuli.” Ucap Ae Ra
“Aku tidak suka caramu mengatakan itu. Kau bisa jadi penyiar setelah bertahun-tahun... dan apa aku tidak bisa begitu?” ucap Dong Man marah
“Kau menyebutkan MMA dulu dan sekarang..,jadi aku melihatnya dan orang cuma dipukuli di sana. Hidung mereka patah dan kehilangan darah.” Kata Ae Ra khawatir
Dong Man kesal dengan Ae Ra yang berpikiran dirinya akan dipukul dan menyakinkan kalau bisa menang. Ae Ra yakin Dong Man masih akan dipukuli, karena melihat itu semua, kalau Dong man akan mendapat pukulan kalah atau menang, jadi ia tidak bisa membiarkan Dong Man dipukuli.
“Jadi.. Apa maksudmu kau bilang itu karena kau khawatir?” kata Dong Man heran
“Siapa yang bilang aku khawatir? Aku tidak ingin kau dipukuli. Memang kau ingin Baek Hee dipukuli?” kata Ae Ra menutupi rasa khawatirnya.
“Apa?!! Kau membandingkanku dengan anjing?!!”teriak Dong Man marah
“ Bahkan jika anjing peliharaanmu terpukul, maka kau akan marah.”tegas Ae Ra
“Kau beruntung terlahir sebagai wanita. Jika kau pria, aku pasti sudah...” kata Dong Man ingin segera memukulnya. 


Ae Ra pun  memperingatakn Dong Man agar bersiaplah untuk cari pekerjaan besok atau yang akan mencarikannya. Dong Man tiba-tiba menarik Ae Ra kepelukanya, keduanya tiba-tiba merasa gugup. Dong Man bertanya mau kemana dan mengajak untuk bicara lagi.
“Kenapa kau... Ini tidak membuatmu jadi pria kasar Tapi membuatmu jadi bajingan.” Kata Ae Ra langsung mendorong Dong Man agar menjauh.
“Ada apa denganmu? Aku sudah bilang kepadamu, tak ada sentuhan. Jangan sentuh.” Kata Ae Ra menutup badanya.
“Terserah. Aku akan melakukan apa yang kumau. Bermainlah denganku. Jangan pergi ke full-course apalah itu, dengan kunyuk itu.” Kata Dong Man menarik Ae Ra untuk duduk disampingnya
Ae Ra ingin tahu alasan Dong Man yang mengumpat Moo Bin dengan panggilan "Kunyuk itu". Dong Man pikir Moo Bin memang kunyuk jadi tak ada pilihan lain. Ae Ra pun ingin tahu alasan Dong Man ingin bersama mereka. Dong Man mengaku kalau lapar. Ae Ra heran melihat Dong Man yang sangat aneh  dan kau bersikap tidak dewasa bahkan peduli dengan orang yang ditemuinya.
“Lalu apa? Haruskah aku tidak peduli dengan segalanya? Apa kita orang asing?” ucap Dong Man
“Ya, kita orang asing. Sangat asing.” Kata Ae Ra, Dong Man heran mendengar Ae Ra yang mengatakan hal itu. Ae Ra tiba-tiba memegang wajah Dong Man aga menatapnya lebih dekat.
“Dengarkan aku. Kau mungkin tidak paham dengan yang kukatakan.., tapi di dunianya orang dewasa, tingkahmu tadi tidak bisa diterima. Perhatikan sikapmu. Jangan membuat bingung gadis sederhana dari desa. Aku bersumpah aku akan membunuhmu.” Tegas Ae Ra lalu mendorongnya dan berjalan pergi. Dong Man hanya bisa mengumpat kesal melihat sikap Ae Ra. 



Dong Man berbaring di tempat tidur merasa kebingungan lalu duduk dengan memeluk bantal mengeluh Ae Ra yang dulu suka Chewbacca. Ae Ra terlihat juga  tak bisa tidur berpikir Dong Man sedang pubertas atau semacamnya.
“Sial. Kenapa dia terus tambah cantik?”ucap Dong Man mulai merasakan perasaanya.
“Kenapa tangannya sangat besar?” kata Ae Ra yang bisa merasakan perbedaan setiap Dong Man memeluknya. 

Seol Hee mencoba gaun yang dibeli pacarnya. Joo Man melihatnya memuji Seol Hee yang kelihatan sangat cantik dan menceritaka kalau sudah membersihkannya, jadi nodanya hilang. Tapi akhirnya berpikir kalau Seol Hee tidak boleh memakainya. Seol Hee merasa kalau itu terlihat membuatnya lebih pendek.
“Ini terlalu spektakuler. Ini memperlihatkan betapa hebatnya dirimu terlalu banyak.” Ucap Joo Man memuji,
“Benar. Aku terlihat pendek.” Kata Seol Hee ingin membuka gaunya. Joo Man ingin membantu tapi memilih untuk memeluknya dari belakang.
“Sul Hee... Apa Kau mau tidur di lantai bawah lagi?” kata Joo Man merayu. Sul Hee mendorong Joo Man agar melepaskanya.
“Maafkan aku. Kubilang padamu aku minta maaf.” Ucap Joo Man, Sul Hee pun menanyakan Joo Man itu ingin meminta maaf untuk apa.
“Untuk semuanya. Aku minta maaf.” Kata Joo Man. Sul Hee bertanya semua untuk apa.
“Aku minta maaf karena membelikanmu gaun dan karena aku membesarkan suaraku.” Ucap Joo Man
Sul Hee bertanya apa lagi, apakah hanya itu  kesalahannya. Joo Man terlihat sedikit gugup. Sul Hee merasa Joo Man yang  tidak tahu hal yang dilakukan itu salah dan ingin membahasnya. Tapi Joo Man langsung membahas kulit Sul Hee hari ini.
“Apa Kau melakukan sesuatu? Ini Tidak umum, tidak terlihat basah. Kulitmu terbakar. Kau tahu api lebih bagus daripada air, kan?  Terbakar yang terbaik dan Kulitmu terbakar.  Ah.. Apakah "terbakar" sedikit berlebihan?” kata Joo Man seperti sengaja mengalihkan pembicaraan. Sul Hee melihat wajahnya dan Joo Man bisa berbahagia karena bisa membuat Sul Hee tak membahasnya. 




Hye Ran menaiki tangga rumah melihat seorang pria yang sedang mengelas besi, lalu memanggilnya Ahjussi, dengan membahas keamanan tidak bagus di tempat seperti itu, lalu bertanya harga sewa tempat ini dan mengejek kalau dibayar per bulan. Si bibi membuka topinya. Hye Ran kaget ternyata ahjumma.
“Apa Kau mau tinggal di sini? Kau punya uang 10,000 dolar (10jt won) di tubuhmu. Kenapa kau bertanya soal sewa di tempat seperti ini?” ucap Si bibi
“Aku tidak pernah bilang ingin tinggal di tempat seperti ini. Dan siapa Ahjumma bertanya seperti itu?”ucap Hye Ran meremehkan.
“Aku.....pemilik "tempat seperti ini". Aku tidak menyewakan ke wanita cantik. Yaitu Wanita cantik berisik. Yah.. Sudah takdir mereka berisik, dan juga hidup mereka.” Ucap si bibi sambil melepaskan ikatan rambutnya kalau tahu tahu dari pengalaman
 “Takdirku cukup baik dan  Cerai bukan apa-apa pada jaman sekarang dan pada umurku ini.” Ucap Hye Ran bangga.

Si bibi seperti baru tahu Hye Ran itu bercerai, lalu memberitahu kalau Tempatnya itu harus tenang, sehat dan jadi villa yang damai. Hye ran menegaskan kalau dirinya sehat.
Si Bibi menaiki tangga dan melihat Sul Hee dan Joo Man keluar rumah bersama, dengan tatapan dingin memperingatkan kalau tak boleh menginap Sul Hee memberitahu kalau tidur terpisah semalam. Joo Man menarik tangan Sul Hee karena tak perlu memberitahu orang lain, keduanya tiba-tiba kaget melihat Hye Ran sudah ada didepan rumah Dong Man.

“Bukankah kalian temannya Dong Man?”ucap Hye Ran, Sul Hee mengingat Hye Ran pacarnya Dong Man yang dulu.
“Ya. Aku datang mau menemuinya” kata Hye Ran, Sul Hee langsung menahan Hye Ran yang ingin menekan bel dan berteriak memanggil Hye Ran.
Ae Ra akhirnya keluar rumah dengan tatapan sinis melihat Hye Ran yang berani datang. Hye Ran membahas Ae Ra yang mengatakan kalau Dong Man itu menikah setelah meninggalkan kota dan ingin tahu alasan berbohong. Ae Ra pikir itu tak perlu harus memberitahu yang sebenarnya. Sul Hee membisikan sesuatu.
“Aku tidak bisa mendengarkanmu.” Kata Ae Ra lalu mendorong Sul Hee akan menjauh saja karena harus bicara dengan Hye Ran.   Joo Man mengajak pergi saja. Sul Hee tetap ingin mereka tinggal disana.

“Kau menempel kepada Oppa seperti lem.” Kata Hye Ran
“Dong Man tidak segampang yang kau pikirkan. Jika kau kembali setelah membuangnya.., Apa kau pikir dia mau balikan?” ucap Ae Ra. Hye Ran dengan yakin kalau Dong Man akan kembali.
“Jujurlah. Kau berpikir sama.” Ejek Hye Ran. Ae Ra tak bisa menahan amarah kalau bisa memukul wanita
Saat itu Dong Man keluar dari rumah kaget melihat semua berkumpul. Hye Ran memanggil Dong Man dengan panggilan “Oppa” dan nada merengek. Sul Hee mengumpat gaya Hye Ran yang sangat  Menjengkelkan dan mulai lagi. Hye Ran kebali memanggil “Oppa” dengan nada merengek.
“Berhenti panggil dia Oppa.. dengan nada centilmu itu.” Kata Ae Ra kesal.


Flash Back 
Ae Ra dan Dong Man dengan pakaian tentara berjalan bersama sambil makan sate kue beras. Ae Ra merasa kalau itu makanan bau dari kehidupan dan makanan sempurna. Saat itu tiba-tiba Hye Ran sudah berjongkok sambil menangis memanggilnya “Oppa” seperti membutuhkan perhatian.
 “ Oppa... Aku putus dengannya.” Ucap Ae Ra. Dong Man hanya terdiam menatapnya. Ae Ra yang melihatnya mengumpat Hye Ran itu sudah gila. 

Tiga sekawan sedang jalan bersama. Ae Ra menanyakan tentang  kencan buta Dong Man. Joo Man menanyakan apakah wanita itu cantik.  Dong Man menceritakan kalau wanita itu  kelihatan seperti Kim Hyo Jin. Keduanya langsung memuji kalau itu sangat keren.
“Bukan, Bukan Kim Hyo Jin yang itu.” Kata Dong Man. Keduanya tertawa, Joo Man pikir wanita itu pasti lucu.
Tiba-tiba Hye Ran datang memeluk dari belakang dengan rengekan memanggil “Oppa.” Dong Man kaget melihat Hye Ran sudah ada dibelakanya. Ae Ra mengeluh si gila datang lagi. 

Empat sekawan sedang bermain bersama dan Ae Ra harus kalah dengan kena hukuman dipukul bagian punggungnya. Terdengar suara bel rumah. Dong Man pikir pesanan mereka datang tapi ternyata Hye Ran datang dengan merengekan memanggil “Oppa” dan langsung menciumnya.
Ae Ra dkk langsung bersembunyi didapur, membiarkan mereka berciuman dengan wajah melonggo. Ae Ra binggung kenapa mereka bersembunyi. Joo Man balik bertanya apakah mereka akan keluar sekarang. Sul Hee mengumpat Hye Ran itu wanita jalang. Ae Ra memberikan jempol sebagai pujian.
“Hye Ran seperti racun bagi Dong Man.., dan kami tak ingin memberi kan racun.” Gumam Ae Ra dengan melihat Hye Ran yang masih mencium Dong Man. 

Joo Man melihat Seol Hee yang melepaskan rompinya seperti siap berkelahi, Seol Hee merasa kalau Hye Ran itu Menjengkelkan. Hye Ran mengatakan kalau akan pergi hari ini tapi meminta Dong Man untuk mengangkat telpnya.
“Kenapa dia tidak bisa bicara?” keluh Sul Hee. Joo Man yakin temanya itu pasti merasa tertegun dan dipag hari pula.
“Aku akan menemui kalian lagi.” Ucap Hye Ran dengan nada meremehkan pada ketiganya.
“Hei, kau... Dong Man mungkin jadi idiot saat itu.., tapi kau tahu aku sudah mendapatkan dia kembali, dan aku ini keras kepala.” Kata Ae Ra. Sul Hee dan Joo Man pun ikut mendukung juga.
“Eonni, jauhkah hidungmu dari ini.” Kata Hye Ran memperingatinya.
“Aku akan terus memakai hidungku "dalam" ini.., jadi lumpuhkan aku dulu jika kau ingin mendapatkannya. Kau harus menembakku dulu.” Ucap Ae Ra dengan dukungan dari dua temanya.
“Ae Ra. Fighting... Cobalah yang terbaik.” Ucap Hye Ran dengan nada mengejek lalu pamit pergi.


[Kamus Teman]
Ae Ra dan Dong Man berjalan bersama menaiki tangga dan akan masuk rumah, tiba-tiba Ae Ra dengan gaya manisnya mengajak Dong Man untuk makan ramyun bersama di rumahnya.
["Kau mau datang untuk makan ramyeon?" artinya...]
Dong Man pun setuju, keduanya makan ramyun bersama sambil menonton bola. Bahkan Dong Man meminta Ae Ra agar membawakan nasi untuknya. Ae Ra pun mengambilkan nasi untuk Dong Man. Keduanya terlihat senang makan ramyun sambil menonton bola
[Artinya hanya sekadar makan ramyeon.]
Bersambung ke episode 5

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Sinopsis Fight My Way Episode 4 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Pembawa acara memulai pertandingan “RFC Lightweight Pro Fight.” Dan meminta agar memberikan tepuk tangan pada Kim Tak Su. Dong Man yang mendengarnya kaget melihat pria dengan rambut blonde keluar mengunakan jubah dan terlihat sangat bangga.
“Pelatih... Bukankah yang kau lakukan kepadaku ini kejam?” ucap Dong Man penuh amarah.
“Hei... Bukankah kau kejam terhadap dirimu sendiri? Coba Lihatlah, kau harus Lihat dia.Tontonlah bagaimana dia hidup sekarang. Kalian melakukan hal bodoh bersama. Kenapa kau harus menggantungkan kepalamu? Itulah yang kau sebut "kemenangan".” Jelas Pelatih.  Dong Man hanya terdiam. 

Tak Su sudah ada didalam ring setelah diperiksa seluruh badan sebelum bertanding, pembaca acara memberitahu Tak Su yang memiliki Catatan MMA profesional, 23 menang dan 4 kalah, serta MMA Tiger dengan kemampuan spesial dalam taekwondo dan menjadi Petinju kelas ringan kebanggaan Korea.
Akhirnya Tak Su mulai bertanding, Dong Man terdiam melihat kaki taksu yang sama ketika bertanding Taekwondo denganya. Tak Su memberikan tendangan memutar pada leher lawan dan membuat si lawan terjatuh.
“ Kemenangan KO lainnya untuk Kim Tak Su. Sebuah kemenangan KO hanya dengan satu menit pertandingan. Dia memakai keistimewaannya, tendangan roundhouse. Kurasa tak ada orang yang bisa mengalahkannya. Tak Su cukup mengesankan dan begitu kuat.” Ucap si pembawa acara. Tak Su yang bangga langsung naik ke atas ring meminta penonton bersorak itunya.
 “Itu milikmu. Dia dari semua orang, bukanlah orang yang seharusnya menggunakan kemampuan spesialmu.” Ucap Pelatih Hwang pada Dong Man 

Flash Back
[Seleksi TimnasTaekwondo, 2007]
Pelatih Choi  menemui Dong Man mengaku tak ingin membuat ini jadi lebih susah baginya, jadi apabila Dong Man  terlalu lelah saat pertandingan, maka tidak harus bangun. Dong Man hanya diam saja dengan memakai kain ditanganya.
“Kenapa kau membuat hal jadi susah bagi semua orang? Jika kau menyerah.., maka kita semua bisa bahagia.” Ucap pelatih Choi
“Tidak... Tak ada yang akan bahagia... Tak orang ada di keluarga... ingin aku kalah. Aku akan menang medali emas..,membayar utang ayahku dan membuat ibuku hidup lebih baik. Lalu aku akan mengurus pengobatan Dong Hee. Jadi aku takkan kalah.” Tegas Dong Man lalu keluar dari ruangan. 

Pelatih Hwang bertanya pada Dong Man apakah merasa sangat gugup Dong Man terlihat sedikit gugup. Pelatih Hwang menasehati agar Dong Man Jangan gugup karena berlatih keras ia pun meminta agar melangkah dengan ringasn setelah takluk Tak Su dan pergi ke Beijing, pemerintah pun menerbangkan tim nasional dengan pesawat kelas bisnis.
Dong Man terlihat tak percaya mendengarkanya,  Pelatih Hwang pikir Dong Man belum pernah terbang dengan kelas bisnis, yaitu kursinya yang dibisa di baringkan seperti tempat tidur.  Saat itu Tuan Ko datang, pelatih Hwang pun menyapa ayah Dong Man yang jarang datang ke turnamen.
“Kau harus Menang, oke? Apabila Kalah,maka aku akan membunuhmu.” Ancam Tuan Ko.
“Aku takkan kalah.... Anak Ayah tidak akan kalah.” Ucap Dong Man yakin meminta ayahnya agar menonton saja nanti.
“Ko Dong Man akan pergi ke Beijing!” teriak Dong Man bangga dan sangat yakin. 

Tuan Ko memilih untuk mengisap rokok di luar Institusi Taekwondo Nasional. Petandingan Dong Man dan Tak Su pun dimulai, Pelatih Hwang pun memberikan arahan agar Dong Man bisa melakukan dengan baik.
Beberapa kali Dong Man bisa menyerang sampai Tak Su seperti mulai menyerah. Dong Man terus bisa memberikan serangan pada Tak Su, tiba-tiba terdengar suara “Dong Man, kau bisa melakukannya.” Dong Hee duduk dibangku penonton dengan ibunya memberikan semangat serta kursi roda yang ada disampingnya.

Dong Man melamun dan saat itu Tak Su mendapatkan kesempatan memberikan tendanganya. Dong Man pun langsung terjatuh, Pelatih Hwang kaget sambil mengumpat menyuruh Dong Man agar segera bangun. Akhirnya Dong Man kembali bangun sebelum dinyatakan K.O.
Pikiran Dong Man kembali melayang mengingat perkataan seseorang “Kudengar adiknya Dong Man bisa berjalan jika dia bisa dioperasi. Aku sudah membayar tagihan RS yang belum dibayar untuk adiknya Dong Man”
Tak Su kembali memberikan tendangan dan saat itu juga Dong Man langsung terjatuh tak sadarkan diri. Wasit kembali menghitung, Pelatih berteriak menyuruh Dong Man bangun. Dong Hee juga ikut berteriak sambil menangis mengancam kakaknya.

“Oppa! Bangun! Jika kau tidak bangun.., maka aku takkan berjalan untukmu lagi! Aku tak mau bermain denganmu!”teriak Dong Hee pada kakaknya. Dong Man tetap diam saja. Tuan Ko pun melihat anaknya yang tergeletak di arena pertandingan. 

 Flash Back
Pelatih Choi datang ke rumah, Ibu Dong Man memberitahu akan  membayar besok jadi meminta agar memberikan nomor rekeningnya, Pelatih Choi menegaskan Jika mereka akan membiarkan Tak Su memenangkan tempat di timnas maka ayahnya yang kaya akan membayar utang suaminya juga.
Tuan Ko yang mendengarnya langsung mengambil tempat sampah dan menuangkanya tepat diatas kepal Pelatih Choi. Ia tak habis pikir Pelatih Choi itu yang ingin membuat anaknya itu kalah untuk uang dan mengusirnya agar keluar dari rumahnya.
Dong Man duduk dikamarnya, melihat dikalender dengan bertuliskan “Ko Dong Man memimpin ke Beijing!” Sebelum bertanding ayahnya meminta agar Dong Man menang dan akan membunuhnya kalau kalah. Dong Man pun menyakinkan kalau dirinya tak akan kalah.  

Wasit pun memutuskan kalau Tak Su menang dan akan dikirim ke Beijing, Pelatih Hwang terlihat kesal melepaskan jasnya. Sementara Dong Man hanya bisa menangis dan berteriak histeris diarena pertandingan. Sang ayah hanya melihatnya dari kejauhan.  

Beberapa wasit berkumpul merasa kalau mereka harus bicara. Salah satu wasit merasa Ada sesuatu yang aneh padahal Tak Su hanya menyerempetnya tapi malah membuat Dong Man tak bisa bangun. Menurutnya Ini bukan karena Dong tidak bisa bangun tapi karena tidak mau bangun.
 Di ruang Konferensi Pers : Penetapan Kualifikasi Timnas, semua wartawan sudah berkumpul.  Dua orang wartawan saling mengobrol bertanya Apa dia tidak diperbolehkan ikut kompetisi lagi. Wartawan lain pun membenarkan, mereka pun mengeluh dengan anak muda sudah memikirkan uang. 

Tak Su dengan sombong menyuruh Dong Man agar masuk sendiri saja dan mendapatkan bayaran. Pelatih Hwang berteriak marah padaTak Su. Pelatih Choi menahan agar Pelatih Hwang tak memukul.
“Kita ketahuan karena dia terlalu jelas. Aku akan diberi tindakan pendisiplinan juga karena dia.” Ucap Tak Suk
“Hei, Pelatih Choi. Kenapa keparat satu ini brengsek sekali? Apa katamu barusan? Kau kekurangan keterampilan, membayar dengan caramu, dan menyakiti Dong Man. Beraninya kau menyalahkannya?” ucap Pelatih Hwan membela
“Ayah Tak Su akan ikut pemilu tahun depan.., jadi dia tidak ingin Tak Su mendapat perhatian karena ini.” Jelas Pelatih Choi
“Jai Apa Kau ingin Dong Man jadi rompi anti pelurunya?” kata Pelatih Hwang marah
“Hei... Apa Kau tidak mau melakukannya? Dong Man, kau takkan melakukannya?! Kalau begitu kembalikan uangnya. Aku takkan masuk timnas jadi bayarlah tagihan RS adikmu.” Ucap Tak Su mendekati Dong Man yang hanya diam saja. Pelatih Choi akhirnya menarik Tak Su keluar dari ruangan.

“Pelatih... Maafkan aku.” Ucap Dong Man yang sedari tadi diam saja. Pelatih Hwang mengumpat menyuruh Dong Man lebih baik diam saja karena


“Hei. Bagaimana bisa kau membuat pelatihmu jadi terlihat bodoh seperti ini? Bagaimana bisa kau melakukan ini tanpa mendiskusikannya denganku? Apa Aku ini hanya sekadar pelatih bagimu? Begitukah menurutmu?” ucap Pelatih Hwang kesal
“Kau tidak tahu apa yang terjadi dan akan disalahkan untuk hal yang tak kau lakukan. Aku akan pergi sendiri. Kau harus...pergi saja  Jika wajahmu muncul di koran, kau tidak bisa mengajar.” Ucap Dong Man berdiri dari tempat duduknya.
Pelatih Hwang makin kesal dengan tingkah Dong Man, lalu mengajaknya pergi keluar ruangan dan didepan ruangan sudah banyak wartawan yang ingin mengajukan pertanyaan pada Dong Man. 

Dong Man menunggu didepan mobil, mengeluh pada Pelatih Hwang yang belum keluar dan berpikir kalau berencana untuk melihatnya sendirian. Saat itu Tak Su baru keluar dengan pelatih dan assitantnya, beberapa wartawan memujinya yang sangat keren. Pelatih Choi menjauhkan Tak Su dari wartawan dan berjanji akan membuat pengumuman publik.
“Hei... Bukankah kau Ko Dong Man?” ucap Tak Su melihat Dong Man yang berdiri didepan truk. Pelatih Choi seperti kaget melihatnya, sementaa Yang Tae Hee bertanya apakah mengenal pria itu.
“Lama tidak jumpa.” Ucap Dong Man menyapa. Tak Su pun menyapa balik dengan gaya sombongnya.
“Ada perlu apa kau kemari? Kenapa kau di sini?” tanya Tak Su. Dong Man mengaku kalau Seseorang memberiknan sebuah tiket untuk pertandingannya.
“Jadi kenapa kau menonton pertandingan?” tanya Tak Su sinis. Pelatih Choi menenangkan Tak Su kalau Dong Man itu boleh menonton pertandingan.
“Apa kau kemari... untuk menemuiku? Kenapa? Apa Kau butuh uang lagi?” ejek Tak Su
Pelatih Choi memperingatkan Tak Suk kalau banyak orang melihatnya, Tak Su dengan bangga berpikir karena dirinya yang memiliki uang maka Dong Man mau mengambil sisa-sisa, Dong Man membenarkan dengan menahan amarahnya. Tak Su mengejak kalau Kepribadiannya memang takkan pernah berubah dan mengaku kalau setiap kali melihatnya maka merasa jijik.
“Jadi jangan berkeliaran di sekitarku, oke? Jangan datang ke octagon. Jika kau muncul dan bertingkah lagi maka kau akan menyia-nyiakan hidupku lagi.” Ucap Tak Su
“Hyung... Apa kau takut?  Kenapa kau bertele-tele? Dasar Memalukan.” Ejek Dong Man
Tak Suk mengeluh dengan yang Dong Man katakan tadi dengan berani mengejeknya.  Dong Man bertanya apakah Tak Suk itu takut ia akan kembali bertarung. Tak Su mengingatkan Dong Man itu  hanya ace 10 tahun lalu mendorongnya merasa Dong Man ternyata masih punya mulut. Pelatih Choi memberitahu kalau banyak kamera. Tak Suk tak peduli
“Kau harus menghancurkan pengecut ini dengan benar. Ahhh, aku hampir lupa. Apa yang terjadi dengana adikmu? Apa Dia bisa jalan sekarang?” ejek Tak Su lalu berjalan pergi.
“Kim Tak Su!” teriak Dong Man marah. Tak Su marah mendengar namanya yang dipanggil tanpa panggilan “Hyung”.  Dong Man mengeluarkan jurusnya dan memberikan pada Tak Su sampai Tak Su terjatuh.
“Jika kau mau menyalin gerakanku, maka lakukan dengan benar.” Teriak Dong Man marah. Tak Su kaget melihat Dong Man lalu mengumpat kalau sudah gila.
“Jangan takut.. Ini hanya permulaan. Jika kita bertemu di ring, maka kau mati.” Tegas Dong Man lalu berjalan pergi. Tak Su masih terjatuh dan wartawan langsung mendekat untuk mengambil gambar. 



Ae Ra berjalan di depan depan studio foto, tiba-tiba ia terhenti melihat spanduk bertuliskan “Foto ID untuk kru kabin dan penyiar” dengan beberapa pose yang diperlihatkan. Ae Ra terdiam seperti impianya yang belum bisa tercapai sebagai penyiar. 

Beberapa wartawan melihat dibagian truk merasa kaalu  black boxnya bekerja. Pelatih Hwang tak jauh dari pintu masuk binggung melihat banyak orang yang berkumpul di depan truknya, merasa  tidak melakukan kesalahan.
“Permisi. Aku mau pergi dengan trukku.” Ucap Pelatih Hwang mendekati truknya.
“Apa kau pemilik truk sundae ini?” tanya wartawan. Pelatih Hwang mengangguk. Wartawan lain bertanya apa kamera black boxnya masih bekerja.
Pelatih Hwang membenarkan dan bertanya kenapa mereka menanyakanya,  Wartawan meminata agar meminta untuk mengirimkan  rekaman kameranya. Pelatih Hwang binggung apakah terjadi sesuatu. Wartawan memberitahu kalau Kim Tak Su  dikalahkan di depan truknya. Pelatih Hwang kaget mendengarnya lalu mengemudikan mobilnya dan menonton video saat membuat Tak Su terjatuh.

Dong Man berdiri didepan zebra cross, semua orang sedang melihat ponsel dan video tentang Dong Man pun menyebar di internet, postingan berita pun mulai keluar “Kim Tak Su dibuat tak berdaya.”
Telp Dong Man berdering, Dong Man langsung meminta maaf dan berjanji  akan memperbaiki dirinya sendiri. Managernya mulai mengumpat marah, dan berntanya ada di unit mana saat wamil.
“Aku hanya...akan melakukan dengan lebih baik lain kali.” Ucap Dong Man yang berdiri di tengah jalan trotoar. Managernya bertenya dimana keberadaanya sekarang. Dong Man mengingat saat managernya yang memukul bagian dadanya karena mengertakan giginya.
Lalu Tak Su yang memperingatkan agar Jangan datang ke octagon. Ae Ra mengatakan kalau ses orang memang harus melakukan apa yang mereka cintai, lalu mengaku bahagia sekarang dan melakukan sesuatu dengan intens
“Kurasa aku tidak bisa melakukan kerja dengan bagus. Kau selalu bilang kepadaku untuk berhenti jika hanya itu yang bisa kulakukan. Tapi kau tahu.., hanya itu sehebat yang bisa kulakukan karena aku tidak suka pekerjaan itu. Jadi Apa kau tahu? Aku akan berhenti! Aku berhenti kerja! Aku tidak peduli sekarang!” teriak Dong Man sambil menangis lalu menyebrang jalan 

[Ronde 4: Lakukan Saja Itu!]
Dong Man berlari menemui pelatihnya. Pelatih Hang kaget melihat Dong Man yang datang bertanya darimana saja setelah membuat kericuhan. Dong Man memanggil pelatihnya “Hyung”. Pelatihnya langsung memukul kepala Dong Man.
“Aku mau melakukannya... Aku sungguh ingin melakukannya! Aku akan melakukan seni bela diri! Aku akan melakukannya!” teriak Dong Man sudah memutuskanya. Pelatih Hwang kaget merasa kalau Dong Man sedang bercanda.
“Aku tidak peduli apapun. Akan kulakukan saja. Kau bilang kepadaku untuk tidak peduli dan tidak biarkan ini pergi.” Ucap Dong Man yakin
“Kau tidak bilang karena mabuk kan?” kata Pelatih Hwang menyakinkan. Dong Man pun menganguk lalu pelatih Hwang memeluk anak didiknya setuju agar mereka melakukanya. 

Ae Ra melihat foto Idnya dengan senyuman bahagia seperti sudah ingin melamar jadi penyiar. Tiba-tiba sebuah mobil lewat dan memanggilnya. Ae Ra kaget melihta Moo Bin merasa kalau  seperti penguntit. Moo Bin pikir kalau  wanita itu memang suka kejutan seperti ini.
“Wanita tidak suka saat ada pria yang muncul pada saat tidak diharapkan.” Komentar Ae Ra sinis.
“Ini hanya karena aku merindukanmu setiap waktu. Aku punya tiga jam istirahat. Tapi aku sudah memakai sejamnya untuk menunggumu jadi Aku hanya punya dua jam tersisa.” Ucap Moo Bin dan mengajak Ae Ra untuk masuk ke mobilnya. Ae Ra seperti tak menolaknya. 

Di restoran daging panggang, untuk makan malam kantor. Manager Choi pun meminta agar mendengarkan beberapa kata dari para calon pegawai. Seorang pria bernama Kim Chan Ho dari tim penjualan, lalu Jang Ye Jin. Berdiri meminta dukunganya. Seol Hee sibuk membakar daging didepan Joo Man.
“Permisi, Ahjumma. Tolong berikan kami 2 botol soju, 3 botol bir, sayuran, dan tisu basah.” Kata Seol Hee. Manager Choi yang melihatnya mulai berkomentar
“Sun Hee...ternyata sangat cepat memesan” komentar Manager Choi. Sul Hee membenarkan namanya itu Sul Hee bukan Sun Hee.
“Bukankah katamu ortumu...menjual kaki babi di pasar di pelosok sana? Kurasa karena inilah dia pintar memotong daging. Kita harus selalu membawanya saat pesta makan malam tim.” Kata Manager Choi seperti ingin mencari manfaat.
Seol Hee pun menyetujinya, sementara Joo Man yang melihatnya merasa kasihan karena hanya Seol Hee yang memanggang daging. Yee Jin ingin menuangkan soju, Manager Choi langsung menahanya merasa Yee Jin tidak perlu melakukan itu.
“Siapa yang membuat wanita jadi yang menuangkan minuman di jaman sekarang? Harusnya akulah yang menuangkannya.” Ucap Manager Choi
“Tidak perlu, aku yang akan menuangkannya. Biar aku yang menuangkan minumanmu” ucap Joo Man mengambil botol dari tangan Manager Choi.
“Aku tidak begitu bisa minum, jadi tuangkan sedikit saja.” Kata Yee Jin malu-malu. Ae Ra hanya bisa diam saja melihat Joo Man menuangkan minuman untuk wanita lain.
Manager Choi melihat wajah Yee Jin  jadi merah setelah Joo Man menuangkannya minum. Yee Jin pun tersipu malu mendengarnya. 


Di toilet
Joo Man memperingatkan Manager Choi kalau tidak boleh membuat pekerja wanita menuangkan minuman jaman sekarang. Manager Choi mulai membahas kalau Joo Man yang tak memiliki pacar, dan seharusnya sudah menikah. Joo man mengaku kalau harus punya uang dulu.
“Bagaimana menurutmu dengan Jang Ye Jin, calon pegawai baru? Kurasa dia menyukaimu. Jika kau berkencan dengannya, maka kau bisa berhenti sekarang. Keluarganya menjual kaki babi yaitu "Kaki Babi Nenek Park". Keluarganya punya brand itu.” Ucap manager Choi
Joo Man terlihat tak begitu tertarik, keduanya keluar dari toilet dan melihat punggung Ye Jin dan Seol Hee. Manager Choi berkomentar kalau Yang satu kelihatan seperti TV hitam putih dan yang satunya kelihatan seperti TV berwarna. Joo Man yang mendengarnya terlihat kesal saat Manager Choi melepaskan sepatunya, dengan sengaja membuangnya salah satunya. 


Moo Bin mengemudikan mobil dengan Ae Ra yang duduk disampingnya sambil bergumam “Aku tidak suka fakta kalau pangeran berwibawa mengantarku pulang.” Lalu GPS memberitahu kalau mereka sudah sampai tujuan setelah Moo Bin menghentikan mobilnya.
“Harusnya kau mengantarku ke stasiun saja.Kau tidak harus mengantarku sampai ke rumah.” Ucap Ae Ra merasa tak enak hati
“Jadi, Apa rumahmu beneran ada di sini?” kata Moo Bin seperti tak yakin. Ae Ra sedih heran dengan pertanyaan Moo Bin seperti merendahkanya, lalu akhirnya akan pamit pergi.
“Apa Sudah mau pergi? Kita baru saja sampai.” Ucap Moo Bin menahanya. Ae Ra pun bertanya apakah Moo Bin mau makan ramyeon di rumahnya.
Moo Bin kaget seperti itu ajakan orang yang sedang berkencan untuk mengingap. Ae Ra malah mengejak Moo Bin yang kelihatan sangat takut, menurutnya Moo Bin itu lebih suka jjolmyeon, bukan ramyeon. Moo Bin mengaku sangat suka ramyeon dan jjolmyeon. Ae Ra mengerti kalau Moo Bin suka keduanya.
“Apa Kau tahu, kalau ini asik untuk menggodamu, Moo Bin? Kau pasti punya waktu sulit saat di sekolah.” Kata Ae Ra
“Apa maksudmu dengan asik mengggodaku?” ucap Moo Bin, Ae Ra kembali memuji Moo Bin yang terlihat imut.
“Aku tidak imut... Aku tidak mau jadi imut.” Kata Moo Bin lalu sengaja memegang tangan Ae Ra.
Ae Ra pun membiarkanya, tapi saat itu suara GPS terdengar “ Anda sudah keluar jalur.” Seperti memperingatkan keduanya.  Ae Ra hanya bisa mengumpat kesal di dalam hati karena sudah bisa mengerti tanpa diberitahu. 


Joo Man melihat Manager Choi yang mengunakan alas kaki lain dengan berkomentar kalau pencuri sepatu masih aktif jaman sekarang. Manager Choi kesal karen pencuri hanya mencuri sebelah dan berpikir kalau itu orang mesum. Salah seorang pria bertanya Siapa pemilik kendaraan 0824. Ye Jin langsung mengangkat tanganya.
“Apa Anda memanggil layanan supir pengganti?” tanya si pria. Ye Jin pun membenarkan. Manager Choi melihat sebuah mobil sedan merah terparkir didepan mereka.
“Joo Man Sunbaenim..,bukankah kau tinggal di Oksu-dong? Aku akan lewat sana. Haruskah aku memberimu tumpangan?” kata Yee Jin. Manager Choi langsung mendorong Joo Man akan bisa naik mobil saja.
“Tidak, tidak usah. Aku ada rencana setelah ini.” Kata Joo Man, Manager Choi mengeluh Joo Man itu cukup keras kepala.

Ae Ra akhirnya turun dari mobil. Moo Bin merasa lebih baik setelah melihatnya masuk rumah. Ae Ra menunjuk kalau rumahnya ada di lantai dua jadi Moo Bin tak perlu melihatnya.  Moo Bin melihat kalau memang Ae Ra tinggal dilantai dua dan mengartikan kalau baju yang dijemur itu miliknya.
“Bukan. Aku tinggal di sana...” kata Ae Ra malu, Moo Bin lalu melihat dibagian atas dan berpikir Ae Ra suka emas.
“Kenapa pemilik bangunan meletakkannya di situ?” gumam Ae Ra kesal melihat ada patung singa emas di balkon.
“Ae Ra, jangan menyapa penyewa di lantai dua. Aku punya firasat buruk mengenai pria itu.” Ucap Moo Bin. Ae Ra binggung kenapa Moo Bin bisa berpikir ada pria yang tinggal di lingkungan rumahnya. 


Dong Man datang berteriak memanggil Ae Ra dengan wajah bahagia. Ae Ra kaget sambil mengeluh kalau harus datang sekarang. Dong Man yang bahagia langsung memeluk Ae Ra dan berputar-putar. Ae Ra langsung menjauhkan sambil mengomel kalau tidak melakukan hal itu.
“Aku berhenti bekerja. Aku akan melakukan seni bela diri sekarang.” Ucap Dong Man, Ae Ra tak percaya mendengarnya.
“Dengan karir sebagai seniman bela diri ini, aku akan membuat hidup yang baik bagi IBu, Ayah, Dong Hee, Pelatih, dan kau. Aku akan memutar hidup kita.” Kata Dong Man kembali memeluk Ae Ra dengan erat. 

Moo Bin melihat Ae Ra di peluk langsung keluar dari mobil. Ae Ra mengaku kalau Dong Man hanya temanya dan menjaukanya. Dong Man kaget melihat Moo Bin yang datang ke area rumah mereka. Moo Bin kaget berpikir mereka tinggal bersama.
“Dia tinggal di seberang rumahku. Bukan rumah yang sama, tapi Dia tinggal di sebelah. Tapi Omong-omong, apa kalian saling kenal?”ucap Ae Ra binggung.
“Kami alumni sekolah yang sama. Tapi, kenapa kau ada di depan rumah kami?” ucap Dong Man
“Aku mengantar Ae Ra dan juga akan pacaran dengannya secara resmi.” Kata Moo Bin menarik tangan Ae Ra untuk mendekat.
Ae Ra merasa tak nyaman melepaskan tangan Moo Bin karena  tidak perlu sampai seperti itu. Moo Bin memperingatkan Dong Man agar jangan memeluk Ae Ra seperti itu. Ae Ra merasa Moo Bin salah paham dan menjelaskan kalau hubungan dengan Dong Man itu teman baik.
“Ae Ra, pria dan wanita tidak bisa berteman. Itu adalah alasan yang kau buat untuk menjaga temanmu dalam jangkauanmu karena kau tidak ingin kencan dengannya. Aku tidak suka kau berteman dengannya.” Ucap Moo Bin
“Kami tidak hanya teman... Dia dan aku sudah seperti saudara.” Ucap Ae Ra meyakinkan.
“Kita kan... tidak ada hubungan saudara” kata Dong Man, Ae Ra kaget mendengar ucapan Dong Man
“Kami bukan saudara, Aku tidak suka itu juga. Aku tidak ingin kau, mengencaninya baik itu resmi maupun tidak.” Kata Dong Man menatap Ae Ra
“Kau tak pernah ikut campur dengan pacaranku sebelumnya.” Komentar Ae Ra binggung. Dong Man mengaku juga tak mengetahuinya dan dirinya  tidak suka sekarang.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted