PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Tampilkan postingan dengan label I Wanna Hear Your Song. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label I Wanna Hear Your Song. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 September 2019

Sinopsis I Wanna Hear Your Song Episode 32

PS : All images credit and content copyright : KBS
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 


Yi Yung berbicara di telp dengan Soo Young memberitahu akan pulang lebih awal besok dan akan menelepon Bibi. Ia pun meminta Soo Young agar menyampaikan pesan pada pamanya.  Jang Yoon bertanya Ada apa dengan Yi Young.
“Paman dan bibiku bertengkar. Bibi bertanya kepada Paman kenapa dia memperkenalkanku pada timpani, bukan instrumen cantik lainnya.” Cerita Yi Young
“Aku juga penasaran. Kenapa kau memilih timpani? Tidak banyak orang bisa memainkan instrumen itu.”tanya Jang Yoon heran.
“Pada awalnya, aku mulai dengan drum kecil. Aku pergi melihat serunai dan drumben bersama pamanku. Dan aku terpesona olehnya. Suara drum terdengar seolah-olah berasal dari dunia lain. Lalu Bagaimana denganmu?” tanya Yi Young
“Piano? Ibuku memainkan piano. Aku mendengarkan dia bermain piano bahkan di dalam rahimnya.” Cerita Jang Yoon
“Astaga. Lalu orang tuamu yang mana yang tuli nada? Ayah atau ibumu?” tanya Yi Young mengejek.
“Itu... Aku tidak tahu. Aku tidak pernah mendengar mereka bernyanyi. Mungkin ayahku.” Kata Jang Yoon
“Ayahmu? Menurutku juga begitu... Baiklah... Aku bisa membantumu memperbaikinya jika kamu mau. Aku membuka Klinik Yi Young untuk Tuli Nada... Selama 10 menit...Astaga, ini murah. Harganya 10 dolar.” Ucap Yi Young penuh semangat.
Jang Yoon seolah tak peduli, Yi Young mengeluh agar Jang Yoon bisa mengulangi setelah ia menyanyi dan mulai dengan lagu yang dinyanyikan saat dirumah sakit dengan sumpit sebaga mic-nya. Jang Yoon hanya menatapnya saat Yi Young menyanyi dengan merdu.
Yi Young menyuruh Jang Yoon agar mulai menyanyi, Jang Yoon menyanyi masih dengan nada yang sumbang. Yi Young  kebingungan karena Jang Yoon benar-benar tak tahu nada lalu mulai mengajarkan agar menstabilkan nadanya.
“Kau harus Nyanyikan seperti lagu anak-anak... Cobalah.” Ucap Yi Young, Jang Yoon mulai mencoba dan Yi Young memujinya. Yi Young berhasil membuat Jang Yoon bisa menyanyi lalu meminta agar memberi 10 dolar.



Jang Yoon duduk diam dalam tenda, sementara Yi Young tertidur pulas tapi tiba-tiba mengigau berkata “Tolong ampuni aku... Tolong ampuni aku.” Lalu membuka matanya. Jang Yoon panik melihat Yi Young bertanya apakah bermimpi buruk. Yi Young membenarkan.
“Aku mengalami mimpi buruk yang sama selama setahun. Aku tidak akan sering mengalaminya karena kau akan berada di sisiku.” Ucap Yi Young menatap Jang Yoon yang ada disampingnya.
“Aku akan di sini, jadi, jangan khawatir dan tidurlah.” Kata Jang Yoon, Yi Young menganguk mengerti.
“Bolehkah aku memegang tanganmu selagi aku tidur? Hanya tanganmu.” Ucap Yi Young memohon. Jang Yoon pun akhirnya memegang tangan Yi Young.
“Ini Hangat.” Kata Yi Young dengan senyuman bahagia, keduanya hanya bisa saling menatap dengan wajah bahagia.
“Perjumpaan pertama kita tidak menyenangkan. Jadi, kuharap kita tidak akan putus dan tetap bersama untuk waktu yang lama. Sampai kita saling merasa bosan.” Kata Yi Young
“Tidurlah dan jangan bermimpi buruk.” Ucap Jang Yoon yang terus memegang tangan Yi Young. 


Jang Yoon menatap Yi Young seperti merasa bersalah,  mengingat tentang kejadian masa lalunya dengan Yi Young.
Flash Back
Jang Yoon sangat marah menyangka Yi Young itu berbohong meminta agar mengatakan yang sebenarnya. Yi Young dengan ketakutan mengaku  tidak tahu karena tidak ingat.
“Kumohon... Kumohon, ampuni aku... Tolong ampuni aku.” Ucap Yi Young ketakutan.
Saat di rumah sakit, Yi Young terlihat sangat tertekan, jatuh saat hujan deras dirumah dan Jang Yoon dengan tatapan sinis bertanya apakah  ingat siapa yang dibunuh. Yi Young terlihat merasa sangat tertekan. 

Yi Young sempat menginap di rumah Jang Yoon, lalu mengajaknya   berkencan karena merasa menyukainya dengan wajah sumringah. Tapi Jang Yoon malah menatap sinis Yi Young karena menduga Yi Young mungkin pembunuh Ian.
“Kau mungkin tidak ingat, tapi adikku mencintaimu.” Ucap Jang Yoon sinis.

Saat di luar gedung latihan, Jang Yoon marah besar dan Yi Young mengaku tidak tahu apa-apa dan tidak ingat. Jang Yoon mengingatkan kalau  Seorang pria mati, bahkan Semua tulangnya hancur, dan organnya pecah. Yi Young berteriak histeris meminta Jang Yoon menghentikanya.
“Cobalah mengingat meski kau tidak mau.” Tegas Jang Yoon memaksa.
Yi Young tinggal di rumah Jang Yoon, lalu menegaskan akan berusaha dan akan bertanggung jawab. Karena Ia pikir dirinya yang membunuh adik Jang Yoon. Jang Yoon panik melihat Yi Young terluka dan dibawa kerumah sakit.
Sebelumnya Yi Young mengatakan kalau Jang Yoon pasti tidak peduli dengan dirinya, bahkan tidak akan mengganggnya meski menghilang.
“Semua yang terjadi di antara kita adalah kebohongan.” Ucap Yi Young, Jang Yoon menatap Yi Young yang sudah tertidur pulas dengan terus mengenggam tanganya. 



Soo Young berbicara ditelp seperti sangat serius, Yi Young masuk kamar  tapi percaya karena Soo Young sebagai Kejutan yang menyenangkan dan bertanya kapan datang. Soo Young mengaku  Baru saja karena sudah menyelesaikan sif paginya.
“Kau tampak bahagia. Apakah menyenangkan berkemah?” tanya Soo Young mengoda. Yi Young menganguk dengan wajah tersipu malu karen menurutnya pergi bertamsya selalu menyenangkan.
“Yi Young. Sejujurnya, ada sesuatu yang belum bisa kukatakan kepadamu.” Kata Soo Young. Yi Young bingung bertanya apa itu.
“Apa Kau ingat buku harian ini? Ini ada di tasmu pada hari kecelakaan itu.” Ucap Soo Young
“Kau bilang sudah membuangnya.” Kata Yi Young melihat buku agendanya, Soo Young mengaku sudah menyimpannya.
“Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya? Ini bukan masalah besar. Ada alasan kau tidak bisa memberitahuku, kan?” ucap Yi Young yakin
“Sebenarnya, aku sudah lama mengenal Yoon sebelum kecelakaan itu. Aku tidak bisa memberitahumu dan Aku merasa kau tidak perlu tahu. Adiknya meninggal karena kecelakaan itu. Aku berusaha menyembunyikannya darimu karena aku tahu kau akan menderita.” Cerita Soo Young
“Aku benar-benar bingung sekarang. Apa Kau menyembunyikannya dariku karena tahu aku akan menderita?” kata Yi Young lalu melihat ada sebuah foto dalam agendanya.
“Kenapa ada foto Yoon di sana?” tanya Yi Young bingung karena menyimpan foto Jang Yoon.




Flash Back
Yi Young melihat hasil foto milik Ian dan memuji kalau beberapa foto tampak bagus. Ia lalu tiba-tiba melihat foto Jang Do Hoon, Ian binggung karena Yi Young bisa mengenal kakaknya. Yi Young kaget kalau Do Hoon itu adalah kakak Ian.
“Dia asisten profesor, dan aku menyukainya.” Akui Yi Young, Ian terlihat kecewa mendengar Yi Young menyukai kakaknya.
“Itu Cinta bertepuk sebelah tangan. Dia tiba-tiba menghilang, jadi, aku penasaran tentang dia. Jadi Di mana dia sekarang?” tanya Yi Young penasaran.
“Dia tidak ada di sini. Dia belajar di Amerika.” Kata Ian, Yi Young tak percaya mendengarnya. Ian pikir itu bagus untuk kakaknya pergi kesana.
“Ini spesial. Bisakah kau memberiku foto ini?” ucap Yi Young, Ian menganguk setuju. Yi Young terlihat bahagia mengucapkan Terima kasih lalu menuliskan nama "Jang Do Hoon" dengan wajah bahagia.



Yi Young melihat foto dengan tulisan "Jang Do Hoon" seperti ingatan kembali karena tentang selama ini sudah menyukainya dan menunggunya kembali dari Amerika. Soo Young memberitahu kalau Jang Yoon akan pergi ke Amerika hari ini.
Yi Young kaget mendengarnya lalu bergegas pergi. Soo Young pun mengejar Yi Young tapi ahirnya membiarkanya. 

Ki Sang sudah membawa koper memberitahu akan menyimpan barang-barang Yi Young dan juga akan mempertahankan rumahnya, tapi  Jika ingin menyingkirkannya, bisa memberitahunya. Jang Yoon pikir Ki Sang bisa mengurusnya.
“Bagaimana dengan Yi Young? Bukankah seharusnya kamu berpamitan? Aku tidak akan bisa mengurus itu.” Kata Ki Sang
“Aku tahu. Ayo pergi.” kata Jang Yoon lalu menuruni tangga dengan kopernya dibantu oleh Ki Sang. 
Saat itu Yi Young berlari dari gang kecil langsung mengedor pintu rumah Jang Yoon dan menekan bel, tapi tak terdengar sahutan. Ia melihat ada sebuah surat yang terselip lalu melihat namanya dibagian depan "Kepada Yi Young" Ia pun langsung membacanya
“Maaf meninggalkanmu dengan sepucuk surat. Aku tidak berani mengatakan ini secara langsung. Aku berniat memberitahumu kemarin, tapi tidak bisa.”
“Tidak.. Aku memikirkan apa yang telah terjadi. Sudah lama aku menyiksamu. Aku memaksamu mengingat hal-hal yang tidak penting. Aku membuatmu mengalami hal-hal yang tidak penting Semua waktu yang kita lalui bersama menyakitkan. Aku benar-benar minta maaf.”
Jang Yoon masuk mobil dan pergi, Yi Young berlari memanggil Jang Yoon tapi mobil yang dikemudikan Ki Sang sudah berjalan dengan cepat. Yi Young hanya bisa menangis melihat Jang Yoon yang pergi meninggalkanya untuk kedua kalinya.
“Kuharap kamu akan menghabiskan sisa hidupmu dengan bahagia. Jika kau bisa melakukan itu, aku bisa bertahan di mana pun aku berada.” 



Flash Back
Jang Yoon menuliskan dipapan "Ujian Pendahuluan Pemasaran" lalu memberitahu kalau Waktu kalian hingga pukul 12.00 dan Setelah selesai, agar meninggalkan kertas ujian di meja  lalu pergilah tanpa mengganggu siapa pun.
Yi Young yang tadinya tak peduli dengan ujian melihat Jang Yoon langsung terkesima dan wajahnya terlihat sangat sumringah.
“Dia asisten profesor, dan aku menyukainya.” Ucap Yi Young saat melihat foto Jang Yoon. Ia tak percaya kalau Yi Young menyukai kakaknya.
“Cinta bertepuk sebelah tangan.” Ucap Yi Young dan sempat bertanya pada Jang Yoon siapa nama aslinya. Lalu Jang Yoon menjawab namanya “Jang Do Hoon." Yi Young hanya bisa terus menangis dengan kepergian Do Hoon. 

"Satu tahun kemudian"
Gedung Ian Center sudah berdiri dengan tegang, banyak orang yang berjalan masuk. Yi Young dengan senyuman sumringah menyapa semua orang yang lewat, lalu menyapa Nona Yang mengucapkan selamat karena sudah menjadi Manajer Yang. Nona Yang mengucapkan Terima kasih.

Yi Young terdiam melihat poster bertuliskan  "Resital Piano Kepulangan Jang Yoon" dan itu artinya Jang Yoon datang tanpa mengubah nama aslinya, wajah Yi Young terlihat kecewa. Sementara Di ruangan papan nama bertuliskan "Dirut, Yoon Mi Rae"
“Kulitmu kecokelatan.” Komentar Nyonya Yoon dan Joo Wan terlihat lebih segara duduk dimeja dengan senyuman.
“Belakangan ini aku sering berada di luar.” Komentar Joo Wan.
“Sebenarnya aku memintamu datang karena ingin meminta bantuan. Aku juga ingin bertemu denganmu karena sudah lama.” Ucap Nyonya Yoon. Joo Wan bertanya Bantuan apa.
“Aku ingin tahu apa kamu bisa tampil sebagai tamu di konser perayaan tahun pertama orkestra simfoni kami. Mungkin akan ada halangan, tapi aku bisa meyakinkan dewan. Bagaimana menurutmu?” kata Nyonya Yoon.
“Maafkan aku... Tapi aku konduktor di orkestra lain.” Ucap Joo Wan, Nyonya Yoon kaget mendengarnya.
“Kau seharusnya memberitahuku... Orkestra yang mana?” tanya Nyonya Yoon.
“Itu orkestra remaja di Chuncheon. Aku membentuk orkestra kecil untuk murid yang tidak mampu belajar di akademi sepulang sekolah. Itu orkestra pemuda.” Cerita Joo Wan dengan bangga
“Apa Kau mengajar anak-anak?” tanya Nyonya Yoon tak percaya, Joo Wan mengaku ada tujuan yang sebenarnya datang untuk membuat proposal.
“Orkestramu seharusnya bekerja sama dengan orkestra kami. Para anggota bisa mengunjungi orkestra kami dan mengajari anak-anak dua kali setahun. Dan setiap kali kau mengganti instrumen, maka kau harus menyumbangkan yang lama untuk para murid kami.” Jelas Joo Wan.
“Jika itu proposalmu, maka aku bersedia menerimanya.” Kata Nyonya Yoon penuh senyuman. Joo Wan pun mengucapkan Terima kasih.



Joo Wan berdiri didepan ruang latihan, saat itu Eun Joo baru datang. Keduanya saling bertatapan akhirnya saling memberikan senyuman. Eun Joo pun masuk ruang latihan terlihat yakin duduk dibangku depan. Seo Joo berdiri dengan Jenny menatap sinis saat melihat Eun Joo masuk.
“Kenapa Eun Joo tampil sebagai tamu padahal dia berhenti dari orkestra?” keluh Seo Joo
“Nona Yoon memintanya tampil untuk kita. Dia meminta Eun Joo untuk tampil di konser hari jadi nanti.” ucap Yi Young. Jenny pikir Eun Joo itu sangat setia.
“Setia apanya? Dia mungkin datang demi uang.” Keluh Seo Joo sinis lalu berjalan pergi. Yi young hanya bisa terdiam melihat tingkah Seo Joo. 

Jenny pun bertanya pada Yi Young apakah sudah lihat papan buletin, kalau Jang Yoon melakukan resital. Yi Young mengaku sudah melihatnya. Jenny bertanya apakah Jang Yoon tidak menelepon. Jang Yoon mengeleng dengan wajah kecewa. Jenny pun langsung mengumpat kesal. 

Yi Young memasak ramyun dengan memasukan telur lebih dulu, wajahnya terlihat penuh rasa kecewa. Tiba-tiba seseorang berkomentar kalau Yi Young  harus menambahkan telur saat mie nya hampir matang. Yi Young menatap kaget karena Jang Yoon ada disampingnya.
“Kau tidak tahu banyak tentang kehidupan. Lalu apa Kau suka makan kimchi dengan ramyeon? Aku akan mentraktirmu kimchi tumis hari ini.” Ucap Jang Yoon dengan wajah bahagia. Yi Young hanya diam saja. 

Yi Young makan sendiri, saat itu Jang Yon datang membawa nasi goreng dengan ham, keju, dan kimchi tumis. Yi Young dengan sinis berkata agar  Jangan bicara padanya dan pindah ke tempat duduk lain. Jang Yoon mengikutinya duduk didepan Yi Young.
“Aku sudah lama menunggu di sini karena aku tidak tahu kapan kau akan datang.” Kata Jang Yoon.
“Kenapa kau menungguku? Apa Kau tidak punya ponsel?” kata Yi Young kesal.
“Kau mengganti nomor teleponmu. Apa Kau sengaja menggantinya karena tidak mau menemuiku?” ucap Jang Yoon
“Apa Kau tidak bisa menelepon hanya karena tidak punya nomorku? Tapi sekali lagi, kau bahkan membuang nomor teleponmu dan melarikan diri.” Sindir Yi Young marah.
“Itu karena aku berpikir aku tidak akan bisa pergi jika aku bicara denganmu sebelum aku pergi.” kata Jang Yoon.
“Apa Kau bercanda? Kau masih menganggapku lelucon, kan? Apa Kau pikir aku akan terharu jika kau tiba-tiba muncul seperti ini? Apa Kau berharap aku menangis? Tidak... Kau pergi tanpa berpamitan, dan kamu tidak pernah menelepon selama setahun penuh. Kenapa kau ada di sini?” ucap Yi Young sinis.
“Aku datang untuk menemuimu.” Kata Jang Yoon, Yi Young mengingatkan kalau Jang Yoon melarikan dirisetelah meninggalkan surat permintaan maaf. Jang Yoon langsung meminta maaf dan menahan Yi Young agar tak pergi.
“Kau sangat egois... Apa Kau pergi sesukamu dan tiba-tiba muncul untuk menemuiku? Apa Kau pikir semua akan baik-baik saja jika kamu minta maaf?” ucap Yi Young kesal akhirnya keluar dari minimarket. 


Yi Young melihat Jang Yoon ikut keluar menyuruh agar Jangan mengikutinya karena itu sangat menyebalkan. Jang Yoon mengaku tidak mencoba membuatnya kesal tapi memang jalan itu mengarah pada rumahnya. Yi Young tak percaya mendengarnya.
“Ki Sang mempertahankan rumah itu... Dan aku kembali.” jelas Jang Yoon. Yi Young ingin tahu kapan.
“Siang ini... Kudengar kamu lolos audisi. Apa kau sudah menjadi anggota tetap?” tanya Jang Yoon.
“Ya, aku satu-satunya pemain timpani orkestra kami. Kenapa kau bertanya?” keluh Yi Young.
“Karena aku bangga padamu. Setelah aku kembali, Apa kau mau bekerja paruh waktu?” tanya Jang Yoon, Yi Young bingung  Pekerjaan paruh waktu apa.
“Ajari aku cara menyanyi... Aku akan membayarmu 10 dolar per 10 menit. Kau akan dibayar di muka tiap pekan, dan pembatalkan kesepakatan harus didiskusikan dahulu... Bagaimana?” kata Jang Yoon mengoda.
“Baiklah, terserah... Aku akan mengajarimu.” Ucap Yi Young dengan kesal melihat Jang Yoon karena terus saja tersenyum.
“Hei... Jang Do Hoon... Apa Kau ingat apa yang kau tulis di surat itu sebelum pergi? "Aku memaksamu mengingat hal-hal yang tidak penting." Kau menulis banyak omong kosong.” Keluh Yi Young
“Benarkah? Anggap saja aku melakukannya.” Kata Jang Yoon sudah tak bisa tersenyum lagi.
“Kau salah soal semua itu... Aku ingin mengingat semuanya, tapi aku merasa frustrasi karena tidak bisa. Itu memang sulit, tapi aku sangat suka bisa mengingat semuanya. Akhirnya aku merasa bebas. Lalu kenapa kamu bersikap berlebihan dan berasumsi bodoh bahwa aku menderita dan sengsara?” kata Yi Young dengan berkaca-kaca
“Maafkan aku.” Ucap Jang Yoon dengan senyuman seperti bercanda. Yi Young menyuruh Jang Yoon agar  Jangan tersenyum karena itu menyebalkan.
“Baiklah, aku tidak akan tersenyum.” Kata Jang Yoon, Yi Young menegaksan kalau akan memberikan peringatan.
“Jika kau terlibat dalam hidupku dan tiba-tiba menghilang lagi, maka aku berjanji akan membunuhmu, mengerti?” ucap Yi Young, Jang Yoon menganguk mengerti.
“Aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia dan menghancurkanmu, ya?” tegas Yi Young. Jang Yoon mengerti.
“Aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku datang karena merindukanmu. Aku sungguh minta maaf karena tiba-tiba menghilang tanpa berpamitan. Aku merasa telah banyak menyulitkanmu dan membuatmu menderita. Dan aku tidak bisa memaafkan diriku karena itu.” Ungkap Jang Yoon.
“Tapi aku menyesalinya begitu aku pergi. Aku sangat merindukanmu. Tapi Aku harus menahan diri untuk kembali kepadamu Dan itu sangat sulit. Kukira aku hampir mati karena mencoba menahan diri.” Kata Jang Yoon.
“Aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku tidak akan pergi meski kau menyuruhku meninggalkanmu. Aku akan tetap di sisimu. Mengerti?” ucap Jang Yoon menyakinkan.
Yi Young hanya memalingkan wajahnya dengan wajah cemberut, Jang Yoon meminta agar mereka bisa berpengangan tangan. Yi Young menolak dengan menarik tanganya, tapi Jang Yoon tak menyerah menarik tangan Yi Young dan mengenggamnya.
“Ini menyenangkan. Sudah lama sekali.” ucap Jang Yoon bahagia memegang tangan Yi Young. Keduanya akhirnya menatap dengan wajah bahagia.
“Ian... Sudah lama, kan? Apa Kau masih sering tersenyum di atas sana? Apa kamu masih sulit berbohong? Apa Kamu masih sering kesal? Apa Kau baik-baik saja di atas sana?” gumam Yi Young menatap ke arah langit dengan senyuman. 





Yi Young berlatih timpani diruangan, lalu melihat ke arah jendela disamping ruang latihanya. Jang Yoon sedang berlatih piano tanpa sadar Yi Young menatapnya.
“Orang yang memberiku tempat yang indah ini adalah dirimu, bukan orang lain. Dunia ini penuh penderitaan, tapi penuh dengan orang yang mengatasinya. Aku mempelajari rahasia ini darimu, Ian.” Gumam Yi Young 

Pagi hari, Jang Yoon membuka pintu kaget melihat Yi Young yang sudah menunggu dengan wajah bahagia. Yi Young melambaikan tangan lalu mengulurkan tanganya. Jang Yoon pun mendekat dan langsung mengenggamnya.
Keduanya seperti mengingat pertemuan mereka didepan minimarket saat Jang Yoon menawarkan payung. Jang Yoon pun menemani Yi Young didalam gudang, saat terjadi kejadian buruk satu tahun yang lalu. Yi Young menemani Jang Yoon di rumah sakit bahkan memasaknya.
Mereka pun kencan di toko buku dan Yi Young berani untuk mencium Jang Yoon lebih dulu ditaman. Sekarang Yi Young dan Jang Yoon bisa tersenyum bahagia akan pergi bersama, seperti semua direncanakan oleh Ian yang ada diatas sana.
“Terima kasih. Aku mungkin akan mengingatmu untuk waktu yang sangat lama.” Gumam Yi Young. Keduanya pun berjalan bersama dengan wajah bahagia menuruni tangga.
THE END

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Sinopsis I Wanna Hear Your Song Episode 31

PS : All images credit and content copyright : KBS

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Yi Young terbangun dan kaget melihat Profesor Kang datang dengan tangan sudah lehernya. Tuan Kang langsung menariknya merasa pasti membangunkan dan meminta maaf, lalu bertanya keberadaan bibinya. Yi Young menjawab kalau sedang keluar sebentar.

Sementara di rumah, Jang Yoon melihat rekaman black box mobil Tuan Kang sambil memalingkan wajah karena tak tega melihat adiknya yang ditabrak dengan sengata. Di rumah sakit, Tuan Kang masih bersikap senang melihat Yi Young.
“Aku senang kau tampak lebih baik dari dugaanku. Saat kau mengalami kecelakaan, aku sangat terkejut. Aku sungguh mengira kau akan tewas. Tapi tahukah kau? Kenapa kau kabur begitu melihatku hari itu?” ucap Tuan Kang ingin tahu.
“Aku memanggilmu karena ingin bicara denganmu. Apa aku melakukan kesalahan?” kata Tuan Kang. Yi Young mengaku Tidak.
“Lalu kenapa kau kabur seperti itu?” tanya Tuan Kang, Yi Young ingat kalau Tuan Kang Kemarin,datang ke kamarnya dan mengambil CD. Tuan Kang melihat Yi Young membuka mata langsung menyuruhnya diam.
“Yoon Young Gil meninggalkan CD itu untukku.” Kata Yi Young, Tuan Kang mencoba percaya
“Kenapa Anda mengambil CD itu?” tanya Yi Young, Tuan Kang mengaku penasaran.
“Kau kabur karena tidak mau aku mencari tahu tentang CD. Aku bisa memahamimu. Tidakkah kau penasaran? "Apa itu? Kenapa dia kabur dariku? Kenapa pria yang sudah tewas itu meninggalkan CD itu hanya untukmu saja?" Kau terkait dengan pembunuhan baru-baru ini, bukan? Apa kau menerima hal lain selain CD?”ucap Tuan Kang penasaran.
“Kenapa Anda ingin tahu? Boleh aku tanya satu hal lagi?” kata Yi Young, Tuan Kang terlihat gugup dan bertanya apa itu.
“Hari itu, setahun lalu, Anda ada di lokasi kecelakaan tempat Kim Ian tewas, kan?” ucap Yi Young
“Apa maksudmu? Kau bicara omong kosong setelah kepalamu terluka.” Kata Tuan Kang
“Tidak. Anda pasti ada di lokasi kejadian hari itu. Aku tidak bisa melihat pria itu dengan jelas karena gelap dan hujan. Tapi pria itu sudah pasti adalah Anda.” Kata Yi Young yakin



Flash Back
Ian menyuruh Yi Young segera pergi setelah tak sengaja menusuk pisau diperutnya dan saat itu Yi Young bisa melihat dari kilatan petir kalau Tuan Kang dudukdi bangku penumpang.
“Sekarang aku ingat semuanya. Anda pikir Yoon Young Gil menyembunyikan bukti di kafe itu, bukan? Anda pikir aku sudah mendapatkan bukti itu. Bukankah Anda di sini untuk mencari itu?” ucap Yi Young yakin
“Bukti apanya? Apa CD itu? Maaf harus memberitahumu, tapi tidak ada apa-apa di dalamnya. Apa Kau tahu?” ejek Tuan Kang
“Lalu kenapa Anda di sini? Kita juga tidak begitu akrab.” Sindir Yi Young, Tangan Tuan Kang langsung mengarah pundak Yi Young seperti akan siap mencekiknya.
“Jangan menjebak orang tidak bersalah dengan mengklaim kamu mendapatkan kembali ingatanmu.” Ucap Tuan Kang hampir mencekik Yi Young. Yi Young pun seperti tak takut terus menatapnya. 


Saat itu Bibi Hong datang kaget melihat Tuan Kang ada diruangan keponakanya. Yi Young mengaku kala Tuan Kang adalah direktur orkestra. Tuan Kang pun berpura-pura sedang memegang pundak Yi Young lalu melepaskannya.
“Begitu rupanya. Anda direkturnya... Terima kasih sudah menjenguknya di rumah sakit... Hei.. Di mana sopan santunmu? Kau harus memberinya minum.” Ucap Bibi Hong
“Tidak... Tidak apa-apa. Aku harus pergi sekarang... Pokoknya, jaga dirimu. Sampai jumpa.” Kata Tuan Kang lalu bergegas pergi. 



Tuan Kang mengumpat marah, masuk parkiran lalu sebuah mobil mengarahkan lampu jauh padanya. Ia makin kesal dan tiba-tiba mobil langsung berusaha menabrakanya, tubuhnya jatuh dan terlungkup di jalan. Mobil berhenti tepat didepan Tuan Kang, Tuan Kang akan bangun sambil mengumpat tapi mobil kembali melaju.
“Jangan bunuh aku!” teriak Tuan Kang ketakutan dan akhirnya Jang Yoon turun dari mobilnya.
“Itu kau? Apa masalahmu?” teriak Tuan Kang, Jang Yoon mengeluh Tuan Kang berisik sekali.
“Kau tampak takut.” Ejek Jang Yoon, Tuan Kang tak percaya kalau Jang Yoon mencoba membunuhnya.
“Ini percobaan pembunuhan, Brengsek.” Teriak Tuan Kang, Jang Yoon pun menantang agar melaporkan saja.
“Apa Kau pikir aku tidak akan melakukannya? Kau luar biasa. Aku mengetahui bahwa kau membunuh adikku. Kau menghancurkannya. Aku ingin melakukan hal yang sama seperti perbuatanmu terhadap adikku. Tapi Aku berusaha tidak melakukannya.” Ucap Jang Yoon.
“Kau tahu kenapa? Karena aku tidak sepertimu.” Tegas Jang Yoon menyindir.
“Hei, untuk apa aku membunuh adikmu? Siapa yang memberitahumu? Apa Nam Joo Wan mengatakan itu? Hei, kau sungguh percaya perkataan pembunuh itu? Jika kau ingin menuduhku membunuh, bawakan aku buktinya, Brengsek.” Kata Tuan Kang
“Bukti? Apa Kau pikir aku tidak memilikinya? Ada di sini. Rekaman kamera dasbor saat kamu menabrak adikku dengan mobilmu. Haruskah kutunjukkan ini padamu?” ucap Jang Yoon memperlihatkan ponselnya.
“Itu konyol.. Berhenti bicara omong kosong, Brengsek! Tidak mungkin ada bukti.” Kata Tuan Kang
“Kau Salah. Yoon Young Gil menyimpan Ada di dalam tasnya. Apa Kau ingat amplop uang yang kau berikan kepada Yoon Young Gil? Buktinya ada di dalam amplop yang berisi tanggal kematian adikku. Itu Ada di dalam amplop.” Kata Jang Yoon.
“Apa Kau masih tidak memercayaiku?” ucap Jang Yoon, Tuan Kang menegaskan tidak percaya padanya. Jang Yoon pikir Tuan Kang pasti bohong.
“Berikan kepadaku. Biarkan aku menontonnya... Biarkan aku menontonnya sekali.” ucap Tuan Kang ingin mengambil ponsel Jang Yoon. Jang Yoon langsung mendorongnya membuat Tuan Kang terjatuh.
“Dan pulpen yang kau cari. Aku melihat isi pulpen itu. Kau menggelapkan uang dari universitas. Mulai dari dana penelitian sampai uang jasa kebersihan. Kau menggelapkan cukup banyak uang.” Ucap Tuan Kang
“Lalu kenapa? Apa? Dengar... Aku tidak mencuri darimu!” teriak Tuan Kang akhirnya berdiri setelah hidungnya merasa kesakitan.
“Kau takut terekspos karena penggelapan dana. Itukah alasanmu membunuh Ian? Aku hanya kasihan pada adikku yang dibunuh oleh manusia hina sepertimu.” Ejek Jang Yoon.
“Aku tidak melakukannya... Bukan aku! Dasar Brengsek.. Cepat Berikan kepadaku!” teriak Tuan Kang lalu mengambil ponsel dan masuk ke dalam mobil. 


Tuan Kang melihat rekaman dari ponsel Jang Yoon, dan terlihat ia yang turun dari mobil sambil mendorong Ian yang sudah terluka dan hujan deras.
Flash Back
“Apa hakmu? Dasar Brengsek. Kau mau mati, ya? Berikan kepadaku!” teriak Tuan Kang pada Ian merampas pulpen dan langsung menabraknya.
Tuan Kang mengumpat kesal dan memukul tanganya diatas stir karena ternyata ada bukti kalau pelaku yang menabrak Ian. 


Yi Young datang menemui Jang Yoon yang masih menunggu. Jang Yoon bertanya apakah Jang Yoon sudah menonton berita. Yi Young mengaku sudah saat malam hari dan menceritakan kalau  Maestro Nam mengunjunginya hari ini.
“Tapi aku tidak bisa bertemu dengannya. Kurasa dia datang tepat sebelum ditahan.” Ucap Yi Young
“Sebelum ditahan, dia menyerahkan tas yang disembunyikan Yoon Young Gil padaku.” Cerita Jang Yoon. Yi Young bingung tas apa itu.
“Setelah Yoon Young Gil tewas, Nam Joo Wan pergi mengambilnya. Dan aku melihat itu. Lalu di dalam tas itu, aku menemukan rekaman video momen terakhir Ian. Ada di dalam amplop berisi uang dengan tanggal kematian Ian.”ungkap Jang Yoon.
“Di dalam amplop uang? Ini tidak masuk akal. Jadi Bisakah kamu melihat wajah pembunuhnya?” kata Yi Young. Jang Yoon mengangguk.
“Itu Profesor Kang, kan?” kata Yi Young. Jang Yoon membenarkan.  Yi Young menceritakan Tadi Profesor Kang mengunjunginya.
“Aku tidur dan membuka mataku. Dia sedang menatapku. Mata kami bertemu, dan tiba-tiba, aku ingat siapa yang ada di kursi belakang mobil tempat Yoon Young Gil turun. Itu Profesor Kang.” Cerita Yi Young
“Apa Kau melihat bagaimana Ian tewas?” ucap Yi Young, Jang Yoon mengangguk.
“Ian menyelamatkanku hari itu. Dia mengeluarkan pisau yang tertancap di perutnya. Dia memberikannya kepadaku dan menyuruhku kabur. Dia menyuruhku menelepon polisi.” Cerita Yi Young.



Flash Back
Ian berteriak agar Yi Young sadar dan dengarkanya, lalu memberikan pisau padanya agar Yi Young lari menuju cahaya yang mungkin terlihat di jalanan. Setelah itu Jika Yi Young melihat seseorang, segera hubungi polisi.
“Dan aku tidak tahu bagaimana perasaanmu, tapi aku sangat menyukaimu.” Ungkap Ian.
“Aku tidak bisa memaafkan Profesor Kang. Aku sudah mengajukan pengaduan. Aku menyerahkan semua buktinya.” Ungkap Jang Yoon. Yi Young menganguk mengerti.
“Apa Kau akan baik-baik saja?” tanya Jang Yoon, Yi Young binggung apa maksud ucapanya itu
“Begitu penyelidikan dimulai, mereka akan mengungkap bahwa kau menikam Ian. Semua orang akan menyadari hal itu. Kau mungkin akan diinterogasi.” Jelas Jang Yoon.
“Aku baik-baik saja. Sebenarnya aku senang bisa mengatakan yang sebenarnya. Jangan mengkhawatirkan itu.” Ungkap Yi Young. 



Tuan Kang berjalan ke halte bus dan melihat beberapa pramugari, wajahnya terlihat sangat terkesima dengan wanita cantik. Saat itu Detektif memanggil nama Kang Myeong Suk, Tuan Kang kaget melihat ada polisi.
“Kau mau ke bandara? Kau mau ke luar negeri?” sindir Polisi, Tuan Kang mengelak dan langsung kabur.
Detektif berteriak agar mengejar Tuan Kang, Tuan Kang mencari jalan untuk kabur tapi didepanya sudah ada polisi lainya, akhirnya Polisi pun bisa menangkap Tuan Kang. Tuan Kang berteriak agar melepaskan dan merasa masih punya jabatan dan tak ada berani menangkapnya. 

Di papan mengumuman terlihat selembaran "Pemberitahuan, penampilan hari jadi ke-20, Telah ditunda sementara" Nona Wang melihatnya mengeluh kalau keadaanya Kacau sekali, padahal Semua orang bersiap menghadiri audisi.
“Kau pasti menerima banyak telepon dari tempat lain.” Komentar Nona Wang pada Han Suk
“Seharusnya aku yang terakhir pergi.”ucap Han Suk, Nona Wang pikir Han Suk cukup setia. Jenny tiba-tiba pamit.
“Apa Yi Young sudah pulang? Aku merasa bersalah karena tidak berkunjung.” Ucap Nona Wang
“Dia tahu yang sedang terjadi di sini. Jangan mengkhawatirkannya.” Kata Jenny. 



Yi Young duduk di ruang interogasi, sudah ada Tuan Kang didepanya dengan tangan di borgol. Polisi memberitahu kalau Tuan Kang  Kang membuat beberapa klaim, jadi sengaja memanggil Yi Young  untuk pemeriksaan silang. Yi Young bisa mengerti.
“Tanggal 19 Agustus tahun lalu, kau ada di TKP kecelakaan Kim Ian?” tanya Polisi. Yi Young membenarkan.
“Apakah kau menikamnya?” tanya Polisi, Yi Young membenarkan. Tuan Kang pikir sudah benar yang dikatakan.
“Dia memang menikamnya!” teriak Tuan Kang, Polisi meminta agar Yi Young yang terjadi dan alasan menikamnya.
“Apa ini terjadi setelah kalian berdua kabur dari gudang tempat Yoon Young Gil mengurungmu?” tanya Polisi. Yi Young membenarkan.
“Saat berlari, sepatuku terlepas. Ian pergi mengambilnya. Pada saat itu, sebuah mobil mendekatiku. Ian melihat mobil itu.” Ungkap Yi Youngteringat Ian yang berusaha menyelamatkanya,
“Dia memegangku, dan kami berguling di tanah. Setelah itu, aku sadar bahwa pisau yang kupegang ada di tubuhnya.” Ungkap Yi Young bisa melihat pisau yang menusuk ke tubuh Ian dan langsung meminta maaf.
“Dia berbohong... Jangan bohong! Kamu sengaja menikamnya!” teriak Tuan Kang.
“Untuk apa aku sengaja menikamnya? Jika itu disengaja, aku akan menikamnya di gudang.” Kata Yi Young. Tuan Kang yakin kalau Yi Young itu  salah.
“Kami membuka ikatan dengan pisau yang diberikan konduktor. Aku melihatnya dengan mataku sendiri. Di kursi belakang mobil yang mendekatiku, aku melihatnya. Aku yakin.” Ucap Yi Young yakin.
“Hei, Apa kau mendengar perkataanmu? Bagaimana kamu bisa melihatku di kursi belakang? Malam itu hujan deras, dan gelap!”teriak Tuan Kang
“Sepertinya kau ingat dengan jelas cuaca dan situasi malam itu.” Sindir Yi Young.
Tuan Kang terdiam, Polisi pun meminta temanya agar membawa Pak Kang keluar. Tuan Kang tak terima karena memaksanya pergi dan marah karena melakukan pemeriksaan silang padahal Yi Young berbohong. Ia berteriak agar Yi Young katakan yang sebenarnya.
“Kau tergelincir karena hujan! Kau menikamnya!” teriak Tuan Kang, Yi Young pun hanya bisa diam saja.
“Aku sudah memberikan pernyataanku. Aku melihatnya di kursi belakang.” Ucap Yi Young
“Pak Nam juga mengatakan hal yang sama... Apa Hanya itu yang kau lihat?” tanya Polisi. Yi Young menganguk.
“Jika kau berkata jujur, maka kau akan dituntut atas kelalaian. Karena keluarga korban tidak mengajukan pengaduan terhadapmu, maka kau boleh pergi hari ini.” Ucap Polisi. Yi Young menganguk mengerti. 




Jang Yoon menunggu dengan gelisah lalu melihat Yi Young keluar lalu berkomentar Pasti melelahkan telah diinterogasi, tepat setelah meninggalkan rumah sakit. Yi Young mengaku baik-baik saja tapi hanya merasa sedih dan kosong.
“Apa kata Profesor Kang?” tanya Jang Yoon penasaran. Yi Young menceritakan Tuan Kang mengklaim tidak membunuhnya.
“Dia bilang Ian tewas karena aku menikamnya..” Ungkap Yi Young
“Dia mampu mengatakan sesuatu yang jauh lebih buruk Jangan biarkan hal itu mengganggumu.” Pintah Jang Yoon. Yi Young menganguk mengerti.
“Kau akan mengunjungi Nam Joo Wan, kan? Ayo. Aku akan mengantarmu ke sana.” Kata Jang Yoon.
“Apa Kau tidak ikut denganku?” kata Yi Young, Jang Yoon mengaku ada janji.

Yi Young melihat Joo Wan yang memakai baju tahanan, lalu berpikir kalau Joo Wan akan menolak bertemu dengannya. Joo Wan pikir tak ada alasan menolak Yi Young karena Tidak ada yang bisa dilakukan di sini selain diselidiki.
“Hari ini, aku ke kantor polisi dan membuat pernyataan tentang kejadian hari itu. Profesor Kang terus bersikeras bahwa itu bukan dia.” Cerita Yi Young
“Dia bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk.” Kata Joo Wan sudah tahu watak Tuan Kang
“Kau mempekerjakanku sebagai asisten pribadimu dan mempertahankanku di sisimu karena kau mengkhawatirkanku, kan? Jika dipikir-pikir, aku direkrut tidak lama setelah Yoon Young Gil dibebaskan.” Ucap Yi Young

“Jadi, kau khawatir Profesor Kang mungkin akan memintanya melakukan sesuatu padaku. Itu sebabnya kau mempertahankanku di sisimu.” Komentar Yi Young yakin.
“Tidak... Aku hanya butuh asisten. Aku memang mengawasimu, dan aku tidak punya niat baik di baliknya. Semua yang Yoon katakan benar. Kau tidak perlu membuatku tampak seperti orang baik karena memang benar aku orang jahat.” Akui Joo Wan.
“Aku pura-pura tidak mengetahui kematian Ian. Sebagai gantinya, aku dibayar dan mendapatkan posisi tetap. Seperti itulah aku. Itulah yang kulakukan.” Kata Joo Wan merasa sikapnya juga salah.
“Tidak semuanya salahmu. Profesor Kang yang memulainya.” Kata Yi Young
“Dia dan aku sama saja. Kami berusaha menutupi kebenaran. Jadi, bagaimana kami bisa berbeda?” kata Joo Wan.
“Menurutku kau berbeda. Karena aku tahu kau menyesalinya.” Ucap Yi Young, Joo Wan hanya bisa terdiam karena masih ada orang yang mempercayainya. 



Nona Yoon pergi menemui Tuan Jang memberikan USB, dengan membahas  kalau Yayasan Budaya Shinyoung digunakan untuk mencuci uang Grup Shinyoung. Ia pun memberitahu Dana luar negeri datang dalam bentuk investasi dan meninggalkan yayasan setelah diperbanyak.
“Dan beberapa dana disamarkan menjadi dana bantuan budaya dan didistribusikan ke banyak orang. Kurang lebih sama dengan suap. Dan Profesor Kang sangat terlibat untuk kasus semacam ini. Ini menyimpan semua transaksi yang dilakukan.” Ucap Nyonya Yoon.
“Aku yakin Grup Shinyoung akan berusaha menenangkanmu. Kenapa kau membawa itu kepadaku? Kau akan dibayar mahal jika pura-pura tidak tahu dan dipenjara beberapa bulan.” Kata Tuan Jang. Nyonya Yoon terlihat gugup.
“Aku sudah berpikir keras tentang semua hal yang terjadi di sini. Aku hanya ingin bermusik. Tapi aku menyadari bahwa putramu akhirnya sekarat karena aku menutup mata dan berpartisipasi dalam hal ini. Aku merasa sangat menyesal soal itu.” Kata Nyonya Yoon.
“Anda belum lama di sini, tapi aku tetap ingin berterima kasih. Aku akan pergi sekarang.” Kata Nyonya Yoon seperti mau bertanggung jawab.
“Bisakah kau membantuku? Aku akan membangun yayasan atas nama mendiang putraku untuk memulai bisnis budaya. Bagaimana jika kamu membayar perbuatanmu dengan bekerja di sana?” kata Tuan Jang. Nyonya Yoon kaget mendengarnya.
“Aku butuh orkestra baru... Aku akan sangat bersyukur jika menerima bantuanmu.” Kata Tuan Jang. Nyonya Yoon berkaca-kaca mendengarnya. 


Ki Sang mengintip dari depan pintu dan saat itu Soo Young keluar ruangan melihat Ki Sang langsung menegaskan kalau sudah selesai hari ini. Ki Sang mengaku sudah tahu. Soo Young kesal memberitahu kalau sudah memperingati sebelumnya.
“Aku akan membunuhmu jika kamu muncul lagi. Aku seorang dokter. Aku bekerja dengan pisau bedah. Jadi Minggir.” Ucap Soo Young sinis.
“Ayolah... Kenapa kau bilang begitu? Itu menakutkan. Lagi pula, kamu seorang psikiater.” Kata Ki Sang.
Soo Young tak peduli menyuruh Ki Sang Minggir. Ki Sang meminta agar Soo Young agar Jangan bersikap seperti ini dan memaafkan atas segalanya. Ia meminta maaf berpura-pura menjadi orang lain di kencan buta mereka, lalu berpura-pura menjadi pasien.
“Dan aku berbohong kepadamu sebanyak lima kali. Maaf atas semua itu. Kau bisa memukuliku semaumu. Aku pantas mendapatkannya. Apa yang harus kulakukan agar kamu memaafkanku?” ucap  Tuan Kang melihat Soo Young masih cemberut.
“Bagaimana kau mengenal Jang Yoon? Jangan coba mengubah topik lagi.” Tanya Soo Young penasaran. Ki Sang terlihat bingung.
“Aku hanya pria yang dia kenal.” Kata Ki Sang, Soo Young ingin tahu apakah mereka dekat.
“Kami bukan teman, kami bukan saudara, dan kami juga bukan rekan bisnis. Jadi Ada di tengah.” Jelas Ki Sang. Soo Young tak mengerti maksudnya dan tak percaya.
“Apa yang harus kulakukan? Aku akan melakukan apa pun untuk menghiburmu. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik.” Kata Ki Sang.
“Bagaimana jika kau menyanyi? Berdiri di sana dan bernyanyilah untukku. Aku akan mempertimbangkan untuk memaafkanmu.” Kata Soo Young
Ki Sang bertanya lagu apa yang harus dinyanyikan,  Soo Young piir Apa saja boleh dan menyuruh agar berdiri saja. Ki Sang pun berdiri di lorong, Soo Young menyuruh Ki Sang harus menyanyikan seluruh lagunya. Ki Sang mulai menyanyi.
Beberapa perawat dan pasien melihat Ki Sang menyanyi sambil menari merekam dengan ponselnya. Soo Young melihatnya tak percaya dan bisa sedikit tersenyum, tapi juga merasa sangat malu. Ki Sang tetap saja menyanyi dengan penuh percaya diri agar Soo Young bisa memaafkanya. 



Sementara Jang Yoon bertemu dengan Bibi Hong dicafe. Bibi Hong mengaku meminta maaf karen pasti mengejutkannya dengan tiba-tiba menelepon. Jang Yoon mengakuTidak apa-apa. Bibi Hong sadar kala sudah bersikap sangat kejam kepadanya.
“Aku menuduhmu sebagai tersangka pembunuhan, aku bahkan memukulmu dan melarangmu datang ke rumah sakit. Aku sungguh minta maaf atas semua itu.” Ucap Bibi Hong
“Tidak apa-apa. Aku mengerti.” Kata Jang Yoon, Bibi Hong mengaku  baru-baru ini melihat berita
“Aku juga membaca artikel, dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada putriku. Dan akhirnya aku bisa mengetahui apa yang terjadi. Omong-omong, aku lega kasus ini terpecahkan. Terima kasih banyak karena tidak menuntut Yi Young.” ungkap Bibi Hong
“Dan tolong beri tahu orang tuamu bahwa kami sangat menyesal, Yi Young menikam mendiang adikmu. Dan tolong sampaikan terima kasihku kepada mereka. Aku berjanji akan mengunjungi adikmu untuk meminta maaf. Aku akan pergi dengan Yi Young.” kata Bibi Hong merasa bersalah.
“Anda tidak perlu merasa sangat bersalah. Sebenarnya Yi Young banyak membantuku.” Kata Jang Yoon.
“Tapi tetap saja, orang tuamu tidak akan merasa seperti itu. Aku yakin mereka merasa sangat sedih dengan apa yang terjadi. Setelah akhirnya kau menghadapi semua masalah, kudoakan kau bahagia di dunia.” Kata bibi Hong
“Kudoakan yang terbaik untuk kariermu, dan kuharap kamu bertemu seseorang yang baik dan jatuh cinta.” Ucap Bibi Hong dengan tulus. Jang Yoon pun menganguk mengerti. Bibi Hong pun pamit pergi lebih dulu. 



Jang Yoon terdiam di pinggir taman sambil menopang tangan dipembatas, teringat kembali yang dikatakan Bibi Hong “ Aku hanya ingin Yi Young bertemu pria biasa yang akan menyayanginya tanpa kisah sedih seperti itu.”
Lalu ucapan Soo Young marah saat dirumah sakit “Sejak dia bertemu denganmu, aku jarang melihatnya terenyum bahagia. Dia selalu sangat tertekan.” Jang Yoon hanya bisa diam saja. 

Yi Young makan dengan bibi dan pamanya, membahas kalau akan segera kembali ke rumahnya, karena yakin tidak akan terjadi apa-apa lagi, selain itu harus bersiap untuk audisi di musim gugur. Bibi Hong tak percaya Yi Young akan memainkan timpani lagi
“Astaga, berhentilah memainkan benda itu. Jantung bibi berdebar setiap kali bibi mendengar kata "orkestra".” Kata Bibi Hong dengan nada tinggi
“Astaga... Biarkan saja dia... Hanya itu yang dia lakukan. Apa yang akan dia lakukan jika berhenti?” kata Paman membela
“Dia bisa bekerja di toko bunga. Kau bisa bekerja dengan bibi dan menikah nanti.” kata Bibi Hong
“Astaga, ini abad ke-21... Tapi kau bicara seolah-olah hidup di abad ke-19. Itu hidupnya. Biarkan dia melakukan yang dia inginkan.” Kata Paman
Yi Young hanya bisa terdiam melihat paman dan bibinya adu mulut, saat itu pesan masuk ke dalam ponselnya. Jang Yoon mengirimkan pesan “Sudah lama tidak bertemu. Mari bersenang-senang. Keluarlah.” Bibi Hong terus menyalahan semua itu salah suaminya.
“Aku tidak pernah suka melihatnya bermain drum.” Keluh Bibi Hong
“Kenapa kau menyuruh seorang gadis bermain drum? Itu disebut timpani. Kamu bodoh sekali” kata Paman.
“Astaga, aku kenyang. Terima kasih atas makanannya.” Kata Yi Young bergegas pergi. 



Yi Young melihat Jang Yoon sudah menunggu dengan mobil, wajahnya tersenyum dan kaget bertanya Apa mereka akan pergi ke suatu tempat. Jang Yoon mengatakan akan memberi semua daging yang diinginkan hari ini. Yi Young tak percaya mendengarnya.
“Jika sikapmu berbeda, artinya kau sakit. Apa Kau baik-baik saja?” ucap Yi Young memeriksa dahinya.
“Masuklah.” Kata Jang Yoon, Yi Young pun setuju lalu bergegas masuk mobil dengan wajah bahagia. 

Eun Joo pergi menemui Joo Wan di penjara, Nenek Joo Wan ikut melihat cucunya menanyakan kesehatan dan juga apakah sudah makan. Joo Wan mengaku sudah makan  dan makan banyak di sini jadi meminta neneknya Jangan khawatir.
“Baiklah... Dalam hidup, ada saat-saat di mana kau berada dalam keadaan sulit. Tapi bukan berarti hidupmu berakhir... Nenek masih di sini bersamamu. Bahkan selama kau di penjara, kau harus melakukan yang terbaik untuk menjalani hidupmu. Mengerti?” pesan Nenek. Joo Wan menganguk mengerti.
“Sekarang, kalian berdua bisa bicara... Nenek akan menunggu di luar.” Kata Nenek Joo Wan lalu bergegas keluar. 

“Kau pantas mendapatkannya. Seragamnya juga cocok untukmu.” Ucap Eun Joo menyindir.
“Aku yakin,  aku orang terakhir yang ingin kamu temui. Terima kasih sudah membawa nenekku kemari.” Kata Joo Wan
“Aku tidak butuh terima kasihmu. Aku sudah mengatakan hal-hal kejam kepadamu. Aku mencurigaimu telah membunuh Kim Ian. Dan aku meminta Pak Jang memecatmu dari orkestra.” Kata Eun Joo
“Aku bisa memahaminya. Kau melakukan itu karena membenciku.” Kata Joo Wan santai
“Kau tidak bisa memahamiku. Kau tidak tahu apa pun. Bukan karena aku membencimu. Aku melakukannya karena aku menyukaimu. Jadi Pastikan kamu menepati janjimu kepadaku.” ucap Eun Joo. Joo Wan bingung janji apa.
“Kau bilang ingin menyapaku dengan senyuman jika kita bertemu lagi.” Ucap Eun Joo. Joo Wan menganguk setuju. 


Yi Young melihat tempat camping   dan berkomentar kalau Tempat ini sangat indah lalu bertanya apakah pernah berkemah. Jang Yoon mengaku Beberapa kali saat bersekolah dan bertanya balik pada Yi Young, Yi Young mengaku Ini kali pertamanya.
“Aku sangat bersemangat! Aromanya sedap. Yang ini sudah matang. Cobalah... Aku harus menyuapimu ini... Buka mulutmu.” Ucap Yi Young mengambil daging dan menyuapi Jang Yoon.
Jang Yoon pun membuka mulutnya, Yi Young tahu kalau itu masih panas. Jang Yoon membalas Yi Young dengan menyuapinya dengan mengodanya lebih dulu. Yi Young mulai makan dan memuji kalau sangat enak dan berpikir Setelah menghabiskan semua daging maka  akan memanggang yang berikutnya.
“Biar aku saja.” Kata Jang Yoon, Tapi Yi Young tetap ingin membantu memanggangnya. Jang Yoon tetap mau ia yang melakukanya.
“Kau baru saja marah?” keluh Yi Young, Jang Yoon mengelak lalu dengan nada rendah kalau akan memanggangnya.
“kau bilang "Biar aku saja, ya"? Kedengarannya sangat sopan.” Ejek Yi Young, Jang Yoon menyuruh Yi Young makan saja dan ia yang memanggangnya. 


Yi Young menyalakan kembang api lalu memberian pada Jang Yoon agar memegangnya juga. Ia dengan wajah bahagia membuat bentuk bintang, lalu hati Atau akan menulis, "Yoon bodoh." Jang Yoon hanya bisa tersenyum melihat Yi Young terlihat bahagia.
“Ini menyenangkan. Ini seru... Senangnya. Lihat ini... Cantik sekali.” ucap Yi Young, Jang Yoon masih saja terus menatapnya tapi seperti menyimpan sesuatu dari senyumanya.
Bersambung ke episode 32

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09