Kamis, 15 Desember 2016

Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 9 Part 1

Sim Chung mengatakan akan kembali ke tempat asalnya sebelum terlambat, Joon Jae mengingatkan Sim Chung yang meminta agar memberitahu kalau akan mulai berencana menyukainya, lalu menegaskan sekarang ia  sudah berencana melakukanya.
“Jadi... janganlah pergi.” Kata Joon Jae memohon, Sim Chung tak percaya Joon Jae meminta agar jangan pergi.
“Kau jangan pergi dan Kita pulang saja, ke rumah.” Kata Joon Jae menarik tanganya untuk pergi, tapi ia merasakan tiba-tiba terasa sakit.

Sim Chung panik melihatnya dan Joon Jae terjatuh tak sadarkan diri, Sim Ching memanggil Joon Jae terus menerus. Sementara Joon Jae seperti masuk ke dalam arah bawah sadarnya seperti masuk ke dalam sebuah ruangan cermin.
Ia terdiam melihat sosok pria yang ada didepanya, Dam Ryung datang berdiri menemui Joon Jae, keduanya saling menatap seperti tak percaya kalau wajah mereka memang sangat mirip seperti sebuah renkarnasi. 


Sim Chung berteriak meminta tolong pada orang yang ada disekitar, beberapa orang pun mengerubunginya dan salah seorang menelp ambulance kalau ada orang yang tak sadarkan diri di pinggir sungai.
Sementara Joon Jae dan Dam Ryung masih saling menatap,  lalu keduanya sama-sama bertanya siapa kau, Dam Ryung menyebut namanya lebih dulu.  Joon Jae terus menatapnya. Dam Ryung mengatakan kalau memang dia dan  wanita itu bersatu lag maka ingatlah perkataan ini lagi setelah terbangun dari mimpinya.
“Semua kejadian terulangsendiri.Nasib yang terjadi di sini juga sedang terjadi di dunia sana, nasib buruk sepertiyang sudah diduga.Lindungilah wanita itu...dari orang yang berbahaya.” Ucap Dam Ryung 

Petugas pun datang melihat Joon Jae tiba-tiba membuka matanya, Joon Jae seperti tersadar dengan tertidur sejenak. Petugas memastikan kalau Joon Jae bisa menatapnya dengan jelas,  Sim Chung panik menanyakan kedaaanya, Joon Jae mengatan kalau ia baik-baik saja dan mencoba untuk berdiri, Sim Chung menatap Joon Jae langsung memeluknya dengan erat, Joon Jae seperti tak enak karena banyak orang disekeliling, tapi akhirnya memeluknya dengan erat. 

Keduanya pun berada di pinggir jalan, Sim Chung yang masih khawatir memastikan kalau Joon Jae baik-baik saja. Joon Jae pun mengingat kalau sebelumnya Sim Chung mengatakan kalau ia juga merasa kesakitan.  Sim Chung mengatakan kalau ia sekarang tidak sakit lagi. Joon Jae memegang bahu Sim Chung agar menatapnya.
“Kau bertanya "Kapan kau akan menyukaiku? Kau sudah berencana atau belum?"  Apa kau mengatakan hal itu untuk membuat lari dariku?” ucap Joon Jae merasa Sim Chung itu benar-benar  menakutkan.
“Jika kau pergi, kau pergi kemana? Siapa yang akan kau temui? Apa pada Si PNS itu?” kata Joon Jae kesal
“Jung Hoon sudah pergi sekarang.” Ucap Sim Chung sedih, Joon Jae bertanya kemana ia pergi.  Sim Chung menjawab kalau Jung Hoon pergi Ke tempat yang jauh.
“Apa kau juga berencanapergi menemui dia ke tempat yang jauh?Kenapa? Jika kau pergi menyusul dia, apa dia yang membuatkanmu ramyun?” kata Joon Jae dengan nada cemburu
“Bukan Jung Hoon yangmembuatkanku ramyeon saat itu.” Kata Sim Chung menatapnya, Joon Jae seperti salah menduga ternyata bukan pria itu yang membuatnya dan ia ingin tahu siapa pria yang dimaksud.  Sim Chung menjawab  tidak bisa memberitahunya, Joon Jae seperti hilang akal dan mengajak agar Sim Chung mengikutinya saja. 


Ia mengajak Sim Chung pergi ke mesin boneka,  dengan menunjuk kalau ada banyak boneka didalamnya dan meminta agar memilih salah satunya. Sim Chung memilih boneka yang berwarna merah muda. Joon Jae pun menyuruh Sim Chung untuk  mengambil itu karena sudah memilihnya dengan memasukan koin.
Sim Chung memainkan tombol berusaha mengambilnya, jaring pun mengangkatnya tapi ketika ingin mengeluarkan malah terjatuh.  Ia mengeluh kesal padahal Padahal hampir bisa keluar. Joon Jae pikir Sim Chung bisa melihat kalau boneka itu hampi keluar tapi pada kenyaatanyan  bonekanya tidak keluar.
“Biasanya hidup itu adalah soal mencari tahu, dan bertanya-tanya apakah suatuupaya akan berhasil atau tidak.Tapi kau di sini menyerah. Boneka Merah muda yang kau pilih itu, maka kautak bisa mengubah hal yang sudah terjadi.” Jelas Joon Jae kembali memasukan koin agar Sim Chung mencoba lagi. Tapi Sim Chung kembali gagal
“Sepertinya ini tidak akan berhasil.” Ucap Sim Chung terlihat pasrah
“ Apa Kau mau menyerah seperti itu lagi?Kalau kau sudah menetapkan keputusanmu, kau tidak boleh menyerah sampai halitu menjadi milikmu. Entah itu boneka merah muda atau apapun itu.” Jelas Joon Jae kembali memasukan koin agar Sim Chung kembali mencobanya 

Setumpuk uang koin ada diatas mesin, Sim Chung terus mencoba agar mendapatkan boneka yang dinginkanya. Joon Jae terlihat lelah menunggu mencoba menyela, tapi Sim Chung menyuruhnya agar menunggu saja karena hampir saja bisa mengambilnya.
“Dari yang kulihat, pasti ada yang aneh dengan mesinnya. Sepertinya mereka sengaja melonggarkan cengkramannya itu, jadi Kita pulang saja.” Kata Joon Jae mencoba mengelabuhinya
“Apa  Berarti, kita menyerah?” kata Sim Chung dengan wajah polosnya.
“Tidak. Ini bukan menyerah, Tapi ini hanya berhenti sementara.” Kata Joon Jae, Sim Chung berpikir akan mencoba Sampai waktu berikutnya.
“Tentu saja. Kau sudah pintar sekarang,  Pokoknya, yang penting sekarang kau tidak boleh menyerah atas keputusan yang kau pilih. Jadi Kau boleh menyerah atau tidak boleh?” ucap Joon Jae sedikit mengelus rambut Sim Chung, Sim Chung menjawab kalau ia tak boleh menyerah. Joon Jae pun mengajak untuk makan bungepang. 

Joon Jae baru pulang kerumah, Nam Doo langsung memarahinya karena sudah memperingatinya agar tak pergi dan akhirnya sesuatu yang serius terjadi. Joon Jae mengatakan kalau ia baik-baik saja. Nam Doo bertanya siapa orang itu tersebut apakah melihat wajahnya.
Joon Jae mengingat wajah si Dae Young dengan korek api, lalu mengingat saat seseorang mengaku polisi datang kerumahnya lalu pria yang ada pakaian jaman joseon, Ia pun merasa tak yakin. Nam Doo bertanya apakah ada  seseorang yang terlintas di pikiranya. Joon Jae hanya terdiam menatap TV.
Nam Doo pikir ada banyak musuh dari mereka, Joon Jae melihat siaran berita di TV lalu memberitahu kalau orang yang dilihat sama dengan yang ada TV. Nam Doo menunjuk buronan Dae Young yang sedang dicari-cari polisi. Sim Chung berkomentar kalau kemarin pria itu mengunakan topinya.

“Sim Chung apakah kau mengingat orang tersebut? Dia orang yang datang mengunakan jas hujan polisi dan datang ke rumah saat hujan turun sebelumnya” kata Joon Jae
“Dia mengunkan jas hujan polisi dan mengunakan topi hitam” kata Sim Chung
“Apa kau melihat pria itu juga setelah hari itu?” tanya Joon Jae, Sim Chung mengatakan pernah bertemu saat menyebarkan brosur sebelumnya.

Nam Doo yang mendengarnya merasa semua tubuhnya serasa merinding, lalu menyimpulkan kalau borunan tersebut seperti mengincar Sim Chung, dan bertanya-tanya alasanya. Joon Jae langsung memarahin Sim Chung karena tak memberitahu yang terjadi, dengan mengumpatnya bodoh. Nam Doo membela kalau Sim Chung pasti tak mengetahuinya dan kenapa Joon Jae harus memarahinya. Joon Jae memilih untuk menaiki tangga rumahnya. 

Nam Doo memasang perampian, lalu menyuruh Joon Jae masuk ke dalam karena dibalkon pasti sangat dingin. Joon Jae pun duduk disamping Nam Doo dengan wajah frustasi, tak percaya kalau Dae Young harus mengincar Sim Chung. Nam Doo pikir Dae Young mengincar Nam Doo karena sebelumnya menelp dan seperti ingin membunuhnya.
“Sesuatu yang serius pasti akan terjadi padamu” ucap Nam Doo mengingat kalau ia yang menyelamatkanya.
“Itulah.... mengapa buronan itu mengikuti Sim Chung....” kata Joon Jae lalu mengingat dengan pesan Dam Ryung kalau ada orang jahat jadi meminta agar melindungi Sim Chung.
“Hyung... Jangan salah paham soal ini. Aku tadi bermimpi. Di dalam mimpi itu, aku tinggal di zaman Joseon Dan aku memakai gelang itu.” Ucap Joon Jae, Nam Doo binggung apakah yang dimaksud adalah  gelang Kim Dam Ryung itu.
“Ah, jadi dalam mimpi, kau itu Kim Dam Ryung?” ucap Nam Doo, Joon Jae membenarkan.
“Ah... itu  Mungkin saja. Setelah menontonfilm The Admiral: Roaring Currents..., maka aku bermimpi jadi Laksamana Yi di mimpi itu.” Ucap Nam Do tak percaya
“Aish, bukan mimpi tak masuk akal seperti itu maksudku.” Kata Joon Jae kesal, Nam Doo merasa kalau mimpinya temanya itu yang tak masuk akal menurutnya tak mungkin Joon Jae menjadi Kim Dam Ryung dan seakan-akan melihat kembali kehidupan masa lalunya.
“ Aku bukan melihat kehidupan masa laluku, tapi aku... merasa aku melihat dua alam semesta yang berbeda. Aku ada di alam semesta lain.” Kata Joon Jae merasa aneh
“ Kau ini bicara omong kosong.Ini pasti karena aku selalu bicara padamu tentang gelang itu..., dan Si Ah memberitahumu soal kapal karam itu. Karena itulah kau mengalami mimpi tak masuk akal ini. Kenyataan yang mengatur mimpimu. Kau pernah belajar... ilmu saraf Lalu bagaiman bisa  kau tidak menyadarinya?” kata Nam Doo yakin, Joon Jae mulai percaya dan merasa kalau  belakangan ini tidak fokus.
“Itu memang wajar... bermimpi aneh sebelum proyek-proyek besarmu. Ini pasti pertanda bahwa Proyek Ahn Jin Joo akan berhasil.” Kata Nam Do penuh semangat. 


Jin Joo sedang asyik menelp dikamarnya, membahas tentang Seo Yuna. dan Elizabeth punya masalah  dengan berkata kaalu anak-anak seperti selalu menonjol dalam hal yang tidak baik. Yu Na yang ingin masuk ke tim renang pun tak diperbolehkan oleh para ibu-ibu yang dianggap sosialita menurutnya kalau anak-anak seperti itu ikut bergabung, pasti anak mereka  yang menderita nanti.
Tuan Cha masuk kamar melihat istrinya yang masih menelp, Akhirnya Jin Joo pun menyudahi telpnya.  Tuan Cha mengeluh pada istrinya yang sudah teleponan selama 1,5 jamtapi belum membahas rinciannya juga. Jin Joo malah bertanya pada suaminya apakah  sudah bicara dengan Ketua Heo.
“Aku sudah mengundangnya makan malam, tapi dia sibuk dan tak bisa mengatur jadwalnya.” Kata Tuan Cha
“Astaga, aku sudah menyediakan makanan pendamping baginya karena dia menyukainya.  Apa ini semacam makan habis itu tak tahu balas budi? Kenapa mereka itu sebenarnya?” keluh Jin Joo
“Dia tidak mudah dipengaruhi. Jika ada nilai investasi yang bagus, dia akan melakukannya sendirian dan tidak akan memberikannya pada kami.” Jelas Tuan Cha
“Karena itulah kita berusaha sekeras ini agar mereka bisa memberikannya pada kita, bukankah begitu? Ini sangat sulit menyisihkan dana rahasia itu. Aku sangat berhati-hati agar tidak ketahuan oleh audit eksternal atau Layanan Pajak Nasional.” Jelas Jin Joo
“Tentu saja. Jika kita anggap ini uang gelap, maka aku merasa dirugikan. Aku sudah sangat bekerja keras buat uang itu!” ucap Tuan Cha, Jin Joo pun meminta agar memperjuangkanya.
“Kau sudah bekerja sangat keras. Kita sudah menginvestasikan uang ini dengan sangat bai dan kita tidak akan membiarkan usahamu terbuang sia-sia.” Ucap Jin Joo, Tuan Cha pun meminta agar istrinya juga bisa berjuang untuk malam ini, Jin Joo langsung mendengus kesal karena suaminya berpikiran yang lain. 


Bel rumah dibunyikan, pelayan menanyakan dari interkom siapa yang datang. Seorang pria memberitahu kalau ia tukang pos Seoul  bertanya apakah Ny. Kang Seo Hee ada di dalam, karena mendapatkan  surat dari pengadilan, jadi dia sendiri yang harus mengambilnya. Seo Hee melihat dari interkom langsung panik melihat sosok yang dikenalinya.
“Beraninya kau datang ke sini. Apa Kau sudah gila?” ucap Seo Hee melotot marah menemui Dae Young didepan rumahnya.
“Aku juga tak mau kesini. Tapi aku kedinginan, lapar, dan tak punya uang.” Kata Dae Young, Seo Hee pun memberikan amplop tebal berisi uang, Dae Young melihat sejenak dan langsung memasukan kedalam jaket.
“Heo Joon Jae bukan target yang mudah. Dia selalu saja berhasilkabur dari pengawasanku.” Kata Dae Young melaporkan
“Ketua Heo sedang berusaha mengatur jadwal pertemua dengan pengacaranya untuk mengesahkan wasiatnya. Bisakah kau perhatikan tindakanmu itu, dan jangan seenaknya datang kemari? Apa yang akan kita lakukan kalau Ketua Heo menemui Joon Jae dan memberikan semua kekayaannya padanya?” ucap Seo Hee lalu menyuruh Dae Young cepat pergi karena ada yang datang. 

Chi Hyun turun dari mobil melihat petugas pos yang memberikan amplop pada ibunya lalu pergi, merasa tak percaya kalau mereka mengantar kiriman malam-malam begini. Seo Hee mengaku bingung, menurutnya tukang pos itu  pasti lupa mengirimnya karena mungkin sibuk musim akhir tahun ini lalu mengajaknya segera masuk ke dalam ruamh.
“Apa mungkin Ibu tahu Joon Jae ada dimana?” kata Chi Hyun sengaja memancingnya, Seo Hee mengaku kalau ia tak mungkin mengetahuinya.
“Aku tak sengaja bertemu dia secara kebetulan.” Ucap Chi Hyun, Seo Hee sempat kaget dan berusaha tenang dengan bertanya apakah sudah memberitahu ayahnya tentang hal ini.
“Tentu saja tidak. Hanya Ibu yang kuberitahu sekarang ini.” Kata Chin Hyun, Seo Hee memuji anaknya karena menurutnya Tuan Heo itu  sedang tertekan akhir-akhir ini jadi lebih baik  tidak mengatakan  untuk sementara waktu ini.

Chi Hyun merasa curiga kalau ibunya itu sebenarnya sudah mengetahuinya, tentang Dimana tempat tinggal Joon Jae dan bagaimana keadaannya. Seo Hee tetap menyangkal kalau ia tak tahu sama sekali.  Chu Hyun heran pda ibunya kenapa tidak menanyakan tentang Joon Jae padanya, apakah tidak merasa penasaran.
“Ayahmu dan ak memiliki bekas luka besar yang diakibatkan oleh Joon Jae. Bukankah aneh kalau aku mencari tahu yang bahkan ayahmu sendiri tak mau tahu?” kata Seo Hee
“Ibu, bagaimana kalau Ayah tidak bisa menunjukkan perasaannya karena kita berdua?” uca Chi Hyun khawatir

“Aku juga menyesal karena hubungan mereka renggang. Tapi, aku tidak yakin kalau  ingin Joon Jae kembali. Bukannya kau lebih suka yang sekarang? Apa Kau pikir kita akan terus seperti ini kalau Joon Jae kembali?” ucap Seo Hee terdengar serakah, Chi Hyun ingin berkata tapi ibunya lebih dulu menyela.
“Apa Kau pikir  bisa menyimpan apa yang kaumiliki sekarang ini?” ucap Seo Hee, Chi Hyun menegaskan kalau ia  hanya ingin melindungi Ibunya, Seo Hee muji anaknya yang terbaik.
“Namun selain itu... Tugas akulah untuk melindungi kita.” Kata Seo Hee lalu mengajak anaknya masuk. Chi Hyun hanya terdiam seperti merasa kasihan pada Joon Jae. 

Chi Hyun didalam mobil sibuk menelp dan menandai nomor yang sudah ditelpnya, sementara  Joon Jae dkk melihat rekaman  CCTV di toko terdekat dan hanya terlihat punggungnya, menurutnya Dae Young tahu  tempat mana saja yang tak terekam CCTV, Karena itulah polisi belum bisa menangkapnya sejauh ini.
Ponsel Joon Jae berdering, saat mengangatkanya sempat tak ada sahutan lalu ia melihat nomor yang tertera di ponselnya bertanya siaap yang menelpnya.Seorang bertanya apakah mengenal Kepala Seksi Nam Seong Joon, Joon Jae bertanya siapa yang menelpnya.
Chi Hyun yang menelp dalam mobil menebak kalau itu nomor telp Joon Jae, dan Joon Jae bisa tahu kalau yang menelp Chi Hyun lalu menanyakan darimana mendapatkan nomor telpnya. Chi Hyun menjelaskan kalau Bukan itu yang terpenting sekarang, karena Kepala Seksi Nam terluka parah dan nomor Joon Jae adalah  nomor terakhir yang menghubungi ponselnya sebelum kecelakaan.

Joon Jae keluar dari kamar sudah berganti pakaian lalu menanyakan keberadaan Sim Chung, Nam Doo mengatakan kalau sedang keluar. Joon Jae ingin tahu kemana perginya, Nam Doo pun juga tak tahu.  Joon Jar memarahi keduanya yang membiarkannya pergi begitu saja, karena mungkin saja si buronan itu tiba-tiba muncul
“Bahkan Hanya dia orang yang memegang ponsel Kepala Seksi Nam.” Kata Joon Jae kesal, Nam Do heran melihat Joon Jae jadi marah padanya.
Joon Jae berusaha menelp Sim Chung tapi tak di angkat, akhirnya melihat aplikasi GPS dengan melihat keberadan Sim Chung melalui ponselnya, dengan bertanya-tanya kenapa Sim Chung sering pergi ke tempat itu. 

Sim Chung kembali bertemu si bibi yang lebih mementingkan gaya pakaianya. Si bibi membahas tentang pria yang disukai Sim Chung akhirnya mengatakan kalau memiliki rencana menyukainua, menurutnya hari ini adalah hari pertamanya, lalu merasa iri karena hidup Sim Chung begitu enak.
“Satu-satunya hari dalam kehidupan cintamu... Tentu saja, kau dapat pria satu lagi saat kau mulai berkencan pria lain.” Kata Si Bibi, Sim Chung tak percaya mendengarnya.
“Apa yang kau lakukan dari sekarang sangat penting jika kau ingin dia menyukaimu.” Ucap Si Bibi
“Coba katakanlah  Bagaimana caranya membuat dia menyukaiku? Agar dia takkan mengubah keputusannya lagi.” Kata Sim Chung yang polos

“Hei.. Dengar. Ada tiga tahapan berbeda dalam cinta.. Tahap pertama cinta yang romantis, yang kedua cinta panas, yang ketiga "Cinta kotor."  “Cinta kotor” hanya bisa diilakukan sama yang ahlinya saja. Kalau aku, memilih cinta kotor; tetapi kalau kau, kau harus pilih cinta romantis.” Jelas Si bibi
“Bagaimana caranya melakukan cinta Romantis?” tanya Sim Chung penasaran
“SeJujur, cinta seperti itu butuh keberanian yang kuat. Seperti Minum teh, makan, pergi ke bioskop, mengantarmu pulang,mengirim SMS, beli stiker chat, memandang bintang-bintang, merencanakan sesuatu untukmu , dengan sok jual mahal, dan menyatakan perasaannya padamu. Tapi semua itu... sebenarnya mengarah ke cinta kotor.” Jelas Si bibi
Sim Chung ingin tahu tentang Cinta kotor yang dimaksudnya, Si Bibi mengatakan kalau Sim Chung belum siap mengetahuinya,  menurutnya Jika Sim Chung pergi begitu saja, maka ini bisa jadi terakhir kalinya setelah melihat sesuatu yang buruk dan ia hanya cinta dalam sekali tembakan. Sim Chung dengan polos kalau  bisa menyebabkan kematian. Si Bibi pikir menurutnya pasangan itu memang mati karena  sangat menyukainya setengah mati.

“Coba kau Lihat itu, mereka muda sekali. Dia menembak hati seseorang.” Ucap si bibi melihat pasangan muda yang saling mengoda satu sama lain
“Apa Kau sudah buat nama panggilan buat masing-masing? BBukan namamu, tapi nama panggilan yang bisa kalian pakai.” Kata Si Bibi, Sim Chung mengaku tidak memilikinya.
“Kekasih pertamaku memanggilku  "mong mong".  Tapi itu semuaberakhir setelah melawan anjing, Jadi Jangan pakai nama nama hewan, Pasti hasilnya tidak bagus.” Kata si bibi, Sim Chung berpikir meminta panggilan “putri duyung”
“Kau bilang Putri duyung ? Kau membutuhkan sesuatu yang ada di dunia ini.” Kata si bibi, Sim Chung binggung apakah memang  Tak ada putri duyung di dunia ini. Si bibi heran denan Sim Chung mengatakan hal itu seperti dari uang angkas

Joon Jae datang dengan mobilnya memarahi Sim Chung yang tidak mengangkat telpnya, Sim Chung memperkenalkan Joon Jae kalau si bibi itu temannya. Joon Jae seperti merasa jijik melihat tangan yang kotor dan hanya menyentuhnya sedikit lalu menarik Sim Chung untuk pergi.
“Hei, waktu kau dulu disini, apa kau bersama pengemis itu?” bisik Joon Jae, Si bibi mengatakan kalau ia bisa mendengar semuanya, Joon Jae akhirnya meminta maaf dan mengajak Sim Chung segera pergi.
“Aku bukan pengemis! Aku tunawisma! Aku ini orang jalanan!”teriak si bibi, beberapa orang yang lewat menaruh beberapa koin di dalam gelas kosong. Si bibi makin berteriak kesal kalau dirinya itu bukan pengemis. 

Joon Jae menemui Sek Nam yang tak sadarkan diri, Istrinya memanggil suaminya memberitahu kalau Joon Jae sudah datang, anak yang lebih di rawatnya dibanding anaknya sendiri. Sek Nam tetap saja diam, Istrinya berkata kalau Suaminya selalu berkata "Joon Jae kita, Joon Jae kita." Jadi memintanya agar segera bangun.
“Paman biasanya tidak minum sambil menyetir. Apa Blackbox-nya sudah diperiksa?” ucap Joon Jae penasaran
“Tidak ada riwayat panggilan hari itu. Semuanya sudah rusak.” Kata Istrinya merasa kalau ada orang yang yakin dengan pikiranya, Joon Jae seperti bisa membayankan kalau Dae Young sengaja menghapus semua filenya sebelum turun. 

Dokter melihat hasil CPR kalau Tuan Heo terkena katarak traumatis dengan ada luka kecil dibagian matanya, lalu bertanya apakah matanya pernah terbentur atau tertusuk sebelumnya. Tuan Heo pikir tak pernah tapi Belakangan ini matanya terasa agak sakit dan mengira kalau disebabkan karena penuaan.
“Sementara ini, aku akan meresepkan  obat anti peradangan dan antibiotik. Jadi Minumlah obatmu. Jika semakin parah, nanti akan timbul komplikasi. Karena tidak adanya urat darah  di bagian kornea mata dan jika lebih parah, tidak ada cara lain selain transplantasi. Kau Jangan hanya mencari uang, tapi juga jagalah kesehatanmu.” Pesan Dokter lalu mengajak Tuan Heo agar makan malam bersama, Tuan Heo menolak karena harus bertemu dengan seseorang dan mungkin lain kali. 


Sim Chung duduk sendirian diruang tunggu, seseorang datang duduk disampingnya, lalu menyebut kalau ia adalah Keluarga Heo Joon Jae. Chi Hyun tersenyum mendengarnya karena hanya Sim Chung yang memanggilnya “keluarga Joon Jae.” Lalu bertanya apakah datang bersama dengan Joon Jae.
“Aku sudah bilang waktu itu, kalau aku tidak akan putus dengan Heo Joon Jae.” Ucap Sim Chung sinis karena memikirkan seperti yang terjadi di drama, Chi Hyun tersenyum kalau sudah paham tentang hal itu.
“Tapi kalian berdua pasti sangat dekat. Apa kalian akan menikah?” kata Chi Hyung, Sim Chung mengatakan kalau unuk saat ini mereka masih berencana.
“Apa yang direncanakan?” tanya Chi Hyun penasaan, Sim Chung menjawab  Banyak hal.
“Tapi keluarga itu saling mirip satu sama lain, hangat dan manis. Lalu ada apa dengan kau dan Heo Joon Jae?” kata Sim Chung melihat hubungan keduanya terasa dingin 


Saat itu Tuan Heo datang melihat anaknya, dan bertanya siapa wanita itu, Sim Chung yang mendengar Chi Hyun memanggilnya ayah dan bertanya Apa Tuan Heo itu keluarga Heo Joon Jae juga. Tuan Heo kaget bertanya apakah Sim Chung mengela anaknya, Chi Hyun ingin menjelaskan tapi Joon Jae lebih dulu keluar dari ruangan Sek Nam. Tuan Heo kaget melihat anaknya yang selama ini menghilang ada didepanya begitu juga Joon Jae. 

Keduanya duduk bersama di ruang tunggu, saling menatap tanpa banyak berkata-kata. Tuan Heo mengingat kenangan manisnya dengan sang anak saat masih kecil.
Flash Back
Joon Jae meminta agar ayahnya membelikan susu pisang setelah mandi sauna, Tuan Heo  mengatakan kalau Joon Jae harus menggosok punggung Ayahnya dengan benar dan pasti akan membelikanya, serta  tidak boleh melakukannya sembarangan seperti kemarin. Joon Jae merengek pada ayahnya kalau ingin meminta dibelikan. Tuan Heo pun langsung setuju, Joon Jae terlihat bahagia dan sama-sama masuk ke dalam pemandiang umum. 

Joon Jae terdiam menatap ayahnya teringat dengan kenangan bersama dengan ayahnya.
Flash Back
Joon Jae berbaring dikamarnya sambil menangis, Tuan Heo menaiki tangga bertanya pada Seo Hee keberadaan Joon Jae apakah tidak ikut. Seo Hee berbohong kalau Joon Jae sudah tidur lebih awal jadi lebih baik pergi bertiga saja dan membelikan makanan nanti untuk makan malam. Joon Jae dengan suara pelan memanggil ayahnya dari kamar.
Tuan Heo pun mengerti lalu bertanya apa yang ingin Chi Hyun makan hari ini. Chi Hyun mengatakan ingin makan steak dengan wajah bahagia, Tuan Heo pun setuju dan bersama dengan Seo Hee pergi makan dengan keluarga barunya.  Joon Jae menangis dengan memanggil ayahnya kalau ia sedang sakit sekarang. 

Tuan Heo melihat wajah Joon Jae dengan luka lebam lalu bertanya ada apa dengan wajahnya, kenapa bisa terluka. Joon Jae menyindir ayahnya yang sekarang ingin tahu tentang keadaaan dirinya. Tuan Heo menyalahkan Joon Jae yang pergi dari rumah dan menderita seperti ini.
“Aku tidak pergi dari rumah tapi aku pergi dari sisi Ayah. Selain itu aku tidak menderita. Kalau dibandingkan dengan berada di rumah, aka keadaanku yang sekarang jauh lebih baik Dan juga menyenangkan.” Ucap Joon Jae
“Memangnya apa yang telah kuperbuat? Apakah aku Selalu lebih baik pada Chi Hyeon dibandingkan kau? Apa Seorang anak bahkan tidak tahu  apa isi hati ayahnya? Apa kau sungguh berpikir kalau aku lebih menyukai Chi Hyun dibandingkan kau? Kau itu anakku, itu sebabnya aku....” ucap Tuan Heo disela oleh Joon Jae
“Kau itu menyerah Pada ibu dan diriku. Dan juga di waktu kita bersama-sama.. kau menyingkirkan semua itu. Tanpa menoleh ke belakang. Karena kau sudah menyerah dan lebih memilih yang lain..., maka janganlah masih memperjuangkan apa yang sudah kausingkirkan, dan lupakan itu semua.” Ucap Joon Jae
“ Kau akan tahu sendirinya selama menjalani hidup. Hidup tidak berjalan seperti yang kau inginkan. Aku sekarang sudah menu dan sekarang waktunya memperbaiki semuanya. Jadi, kau harus kembali ke rumah.” Ucap Tuan Heo mencoba untuk merendahkan suaranya.
“Tidak... Lagipula, aku takkan menerima apapun. Baik itu uang atau cara hidup yang kau jalani Atau cara menyingkirkan semua orangdan apa pun itu. Aku tidak ingin menerima apa pun dari Ayah, tidak ingin terlibat, tidak ingin bertemu denganmu.” Tegas Joon Jae,
Tuan Heo terlihat marah, Joon Jae berpesan dengan wajah tulus agar ayahnya bisa menjagalah kesehatannya, lalu beranjak pergi. Tuan Heo mencoba berdiri tapi tiba-tiba kepalanya terasa sakit dan pandanganya kabur, Joon Jae  berhenti melangkah tapi tak menoleh dan kembali berjalan pergi.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar