Rabu, 28 Desember 2016

Sinopsis Hwarang Episode 3 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS

Moo Myung mendorong pintu dan mencari seseorang didalamnya, Maek Jong sudah siap dengan pedang dan penuh wajah agar tak dikenali wajahnya, lalu berkata Ada pintu yang tidak pernah seharusnya terbuka dan ia pikir Moo Myung sedang berdiri di depan pintu itu sekarang.
“Apakah kau berpikir orang yang tidak  memiliki jalan dan orang itu tidak dapat masuk? Apa kau berpikir orang yang tidak untuk memiliki pintu... Adalah orang-orangyang tidak dapat membukanya? Aku tidak seperti itu. Aku pikir itu semua sampah. Jadi berhenti menggonggong dan keluar dari sini! ” kata Moo Myung menantang, Maek Jong pun siap dengan pedangnya berpindah tempat.
“Kalau kau pergi sekarang, maka Aku akan menyelamatkan hidup mu.” Kata Maek Jong memberikan pilihan, Moo Myung menolaknya.
“Aku pasti akan...membunuhmu disini.” Kata Moo Myung mendorong pada pintu denganya dan siap membunuh Moo Myung. Tapi malah A Ro yang ada didepanya,

A Ro terlihat ketakutan melihat pedang yang ada didepanya.  Moo Myung pun bertanya siapa wanita itu, Maek Jong melihat celah mengumpat kesal pada A Ro yang bodoh. A Ro dengan berbata-bata mengatakan kalau bukan siapa-siapa.
Maek Jong pun akhirnya berani menyerang dari belakang, Moo Myung pun memeluk A Ro untuk menyelamatnya dan menjauhnya dari pedang. Dua laki-laki pun berkelahi dengan pedangnya, saat itu Maek Jang berhasil melukai bagian lengan Moo Myung dan akhirnya memilih kabur, tapi disadari gelang yang biasa dipakainya terlepas. Moo Myung mengumpat kesal dengan luka ditanganya. 


Sementara A Ro yang berhasil kabur berusaha untuk bangun tapi kakinya masih lemas setelah melihat kejadian disebelumnya. Ia mengunakan cara mengoles air liur dengan hidungya agar kakinya bisa berdiri. Saat itu gerobak yang tadinya menutupi badannya malah pergi.
Moo Myung keluar mencari sosok Maek Jang yang sangat misterius, A Ro panik dan buru-buru menyembunyikan wajahnya dari dengan menundukan kepalanya. Ia mengumpat kesal dengan keduanya yang berkelahi di siang bolong, teringat kembali saat Moo Myung menyelamatkanya dari serangan pedang.
“Dia tidak terlihat seperti seorang pembunuh.” Ungkap A Ro, lalu teringat dengan buku agendanya dan ternyata masih ada didalam tasnya dan tersimpan dengan aman dan merasa kalau pasti Pi Joo Ki pasti sudah menunggunya. 


Pa Oh kaget mengetahui Maek Jong kehilangan gelangnya, padahal gelang itu menandakan bahwa ia adalah Raja. Maek Jong terlihat santai karena kalau orang-orang bilang dirinya bukan raja jika tidak memilikinya, jadi tidak akan mengganggu mereka. Pa Oh merasa dirinya pantas mati dengan keadaan ini.
“Aku tidak melindungimu dengan baik. Aku pantas mati.” Ucap Pa Oh sedih
“Kalau kau mati, apa yang akan terjadi denganku? Jika ibu tidak akan menyatakan bahwa Akulah Raja, maka Tidak akan ada satupun orang yang tahu kalau aku raja” kata Maek Jong,  Pa Oh tak percaya kalau Maek Jong berani melakukannya karena sudah  menakutinya. Maek Jong hanya tertawa. 

Saat itu terdengar dua pria yang sedang mengobrol, membahas tentang alasan mengapa Raja tidak menunjukkan wajahnya, karena yang ia dengan Raja itu adalah seorang kasim dan orang terbodoh di dunia, jadi pantas saja ratu melakukan segalanya.
“Yang aku takutkan jika orang bodoh itu akan muncul nanti  dan mencoba untuk bertindak seperti Raja.” Ungkap si pria, Maek Jong dan Pa Oh mendengar keduanya bicara. Pria  pun setuju.
“Beginilah dunia dan kau Jangan melakukan apapun” perintah Maek Jong melihat Pa Oh yang siap berdiri memberikan pelajaran.
“Aku berharap, aku adalah seorang kasim dan orang bodoh.” Ungkap Maek Jong.

Ia terdiam dan teringat perkataan ibunya “Aku yang akan memutuskan kapan kau akan diperkenalkan kepada dunia. Sampai saat itu, hidup lah dalam persembunyian.” Sementara Moo Myung menyindirnya kalau Bersembunyi kebiasaannya. “Apa kau takut menunjukkan wajahmu?”
Moo Myung mengingat semuanya, merasa membenarkan kalau Bersembunyi tidak bisa menjadi kebiasaan.


Joo Ki melihat Hwa Kong duduk termenung diatas patung kudang, menurutnya Sejak pergi keluar pagi ini terlihat melamun, lalu berpikir marah karena  harus memastikan  orang tidak mencuri dari kedai ini. Ia mengingatkan kalau Hwa Kong tinggal dengan gratis menurutnya tak boleh bersikap seperti ini.
“Tutup mulutmu. Aku harus berkonsentrasi.” Kata Hwa Kong, Joo Ki heran konsentasi semacam apa.
“Lalu, Apa kau tidak tertarik dengan hal yang baik ini dan Dia sedang dalam perjalanan sekarang.” Kata Joo Ki, Hwa Kong bertanya siapa yang dimaksud dalam perjalanan. Joo Ki dengan bangga mengatakan kalau  akhirnya kabar baik datang, yaitu Rincian pribadi dari Pria muda. 

A Ro langsung meminum segelas air sampai habis menghilangkan dahanya, Hwa Kong bertanya apakah memang A Ro yang mencari tahu dengan melihat sangat kehausan.  A Ro mengak kalau Terjadi sesuatu yang membuat kakinya lemas, lalu memberikan dua tumpukan buku diatas meja.
“Ini adalah... catatan semua rincian pria muda.” Kata A Ro
“Lalu, apa kau bilang ... segala sesuatu tentang pria muda di buku ini?”ucap Hwa Kong tak percaya, A Ro langsung memukul tangan Hwa Kong saat ingin menyentuhnya. Hwa Kong binggung.
“Ada sedikit masalah kalau membaca ini. Aku mencatatnya dengan sangat cepat, jadi hanya aku yang bisa membacanya.” Kata A Ro, Hwa Kong hanya melihat dengan cepat berkomentar kalau itu entah seperti  gambar atau tulisan.
“Aku bahkan bisa menulis lebih baik dengan kakiku.” Ejek Hwa Kong melihat tulisan A Ro yang sangat jelek.
“Tulisan tanganku biasanya saingan dari kaligrafer, tapi ini terjadi karena aku harus menulis sambil bersembunyi. Jadi Bagaimana kalau... ada biaya tambahan untuk penjelasannya. Apa kau ingin aku untuk melakukannya?” kata A Ro
Hwa Kong ingin memulainya, tapi Joo Ki seperti tak ingin membayarnya. A Ro pikir mereka bingung saat ini, tetapi jika mendengar penjelasannya maka akan merasa seolah-olah ada percikan api di ruangan gelap tanpa sinar cahaya. Keduanya binggung apa maksud dari “percikan api” 

A Ro sudah berdiri depan papan dengan tongkat seperti guru , lalu bertanya bagaimana cara harus menentukan tingkat pengetahuan keduanya. Joo Ki mengejek kalau Hwa Kong tidak tahu apa-apa. Hwa Kong tak terima berharap kalau bisa memukulnya nanti.
“Ada tiga prinsip kekuatan di kerajaan Silla.Aku akan jelaskan ketiganya.Untuk membuatnya sederhana, ada orang-orang ratu, orang yang menentang ratu, dan netral yaitu Tidak memihak siapa siapa”ungkap A Ro dengan dua bagian mentri yang tidak saling akur dan menatap sinis.
“Sejak aturan Perdara mentri Park, keluarga Kim, Suk, dan Park .. bergantian menaiki tahta. Itu adalah bagaimana negara ini diperintah. tidak salah jika menyebut beberapa bangsawan, memiliki daya yang cukup sebanding dengan Ratu.” Kata A Ro, Hwa Kong mengaku kalau bisa mengetahuinya.
“Sekarang, Kau harus fokus. Aku akan menjelaskannya. Yang Pertama, pihak netral.Jika kita memilih orang yang paling indah di Silla,9 dari 10 orang akan mengatakan nama ini. pesonanya tidak hanya bagi perempuan, tapi laki-laki juga.” Jelas A Ro
Seorang pria muda yang terlihat sangat cantik, bernama Yeo Wool. Ia berjalan dan banyak di gilai para pria dan wanita. A Ro memberitahu kalau Yeo Wool diberikan kekuasaan tapi tak tertarik dan terus bergerak seperti angin. Hwa Kong tak mengerti maksudnya “seperti angin”
“Ibunya adalah adik dari mantan raja.Dia adalah Bangsawan.Tapi, dia tidak tahu ...siapa ayahnya di antara semua bangsawan itu” ungkap A Ro lalu mendekati wajah Hwa Kong melakukan seperti yang biasa Yeo Wool lakukanan pada setiap bangsawan.
“ Kau harus menjadi ayahku. Bolehkah aku memanggilmu ayah ” ucap Yeo Wool. Hwa Kong sedikit ketakutan mendengarnya.
A Ro menceritakan setiap Yeo Wool  melakukan itu, maka Seluruh bangsawan ibukota terkejut. Hwa Kong mengangguk mengerti. A Ro  pun akan memberitahu sesuatu yang sangat penting dengan membahas tentang  kuda merajalela, merasa kalau pria yang akan dibahasnya memang seperti kuda. tapi sebelumnya tidak pernah terikat.Ban Ryu dan So Ho terlihat sedang bertanding bola sepak. 


“Mereka memiliki kekuasaan dan bisa mendapatkan apa pun yang mereka minta.Mereka juga berbakat dalam segala hal.Di antara mereka punya dua keahlian.” Cerita A Ro dengan wajah Ban Ryu lebih dulu ingin dijelaskanya.
“Ban Ryu... Dia adalah anak angkat dari Park Young Shil dan anak biologis dari Tuan Ho. Kau bisa mengatakan bahwa dia lahir dengan dua sendok perak.” Kata A Ro, saat itu tiba-tiba Hwa Kong mengeluarkan kentutnya, lalu meminta maaf.
“Dia tampan dan berpengetahuan. Tapi, sedikit dingin. Wanita selalu lebih tertarik pada pria yang dingin.Dia sering tersinggung dengan mereka semua. Dia rekan berhati dingin dan tidak tertarik pada wanita..” Cerita A Ro yang tahu Ban Ryu setiap datang dikerubingi oleh wanita yang ingin mendekatinya.
Soo Ho sedang bermain bola berteriak kesal ada orang menendang kakinya dan terlihat Ban Ryu sebagai lawanya dengan kostum berwana biru. Ban Ryu sengaja berpura-pura kalau dipikir Soo Ho itu bola yang harus ditendangnya.

“Jika Ban Ryu menggunakan otaknya, maka yang satu ini menggunakan fisiknya.” Ucap A Ro, Soo Ho sengaja mendorong Ban Ryu dan mendudukinya ditanah.
“Soo Ho.. Dia adalah putra dari Tuan Kim Seub yang berada di sisi Ratu. Dia tinggi dan tampan. Tidak ada yang dapat membandingkannya .untuk keberaniannya dan kekuatannya di ibukota. Tapi ...” kata A Ro terdiam, Hwa Kong ingin tahu apa maksudnya.
“Dia terkenal dengan kegenitannya. Ada dua jenis perempuan di ibukota. Mereka yang tahu siapa Soo Ho, dan orang-orang yang dibuang oleh Soo Ho.” Jelas A Ro, Soo Ho selalu berjalan dan berusaha mengoda wanita, bahkan bisa menciumnya, saat itu datang seorang wanita yang selalu menamparnya dan beberapa kali kena tamparan dari wanita yang kena tipu dayanya.
“Karena ayah mereka dengan reputasi yang tinggi, maka mereka ingin membentuk kelompok dan memulai perkelahian. Dan Sama seperti ayah mereka” cerita A Ro lalu berpindah ke laki-laki lainya. 


A Ro melihat Ada juga seorang pria yang menyadari lingkungannya setelah melihat wajahnya di cermin. Seorang pria sibuk dengan cerminya, yaitu Han Sung. A Ro memberitahu pria itu ingin tahu tentang banyak hal dan sering tersenyum dan Saudara laki-lakinya yang lebih tua selalu mengawasinya. Sementara kakaknya bernama Dan Se, melihat tingkah adiknya hanya melirik sinis.
Hwa Kong ingin mengajukan pertanyaan, kalau sebelumnya mengatakan Han Sung dan Dan Sae adalah saudara tapi kenapa keduanya berada di sisi yang berbeda. Joo Ki pikir memang keduanya berasal dari tingkatan yang berbeda jadi berada di sisi yang berbeda. Hwa Kong tak mengerti maksud dari tingkatan yang berbeda
“Mereka memiliki ayah yang sama, tapi ibu dari Dan Sae digunakan untuk menjadi seorang budak. Mereka terikat dengan darah, tetapi berada di tingkatan yang berbeda..” Jelas A Ro.
“Salah satunya merupakan bangsawan sementara yang satunya lagi setengah bangsawan” ungkap Joo Ki terdengar seperti sok tahu. 

Ban Ryu memanggil So Ho yang terlihat kesal menepuk pundaknya mengatakan kalau Seperti yang dijanjikan, yang kalah akan membayar alkohol di Okta selama dua minggu. Soo Ho terlihat kesal dengan tingkah Ban Ryu bahkan bisa dikalahkan begitu saja.
“Mengapa aku selalu kalah darinya? Aku bisa mengalahkannya dalam ilmu pedang dan menunggang kuda. Mengapa aku selalu kalah dalam sepak bola? Dan Juga, Aku yang paling marah ketika kita kalah dalam sepakbola.” Teriak Soo Ho geram sendiri pada dirinya,
Temanya menunjuk merasa kalau itu salah satu alasanya, Soo Ho pun melihat Ban Ryu yang banyak dikerubungi oleh para gisaeng dengan mengelap wajah yang penuh dengan keringat. Soo Ho merasakan kepalanya terasa sakit, sementara temanya merasa perkelahian pedang di pegunungan dengan Soo Ho, menurutnya tak ada gunanya walaupun menang 10 kali. 


“Dengan itu, Kau akan tahu sebagian besar laki-laki muda yang terkenal di ibukota. Tapi Ada satu orang yang belum aku selidiki.” Ungkap A Ro mengingat saat Maek Jong mendekatinya dengan mengodanya kalau semua orang terlalu sibuk jadi Tidak ada yang akan mengingatny kalau berada di tempat iniBahkan tidak akan ada yang melihat mati juga.
A Ro seperti ingin melupakan saja dan merasa kalau mereka tidak harus tahu tentang pria yang menurutnya sangat menyeramnya dan menyudahi kalau hanya itu saja pria yang berhasil diselidikinya, jadi apabila ada pertanyaan silahkan memberitahukanya dan sibuk membereskan buku diatas meja.

Ia juga mengatakan kalau akan ada biaya tambahan untuk itu jadi akan kembali lagi nanti untuk mendapatkan Sisa gajinya dan bergegas perg Hwa Kong merasa kalau A Ro itu seperti seorang gadis pintar dengan utang. Joo Ki bertanya apakah ingin tahu siapa A Ro, Hwa Kong heran dengan pertanyaanya. Joo Ki menjelaskan maksudnya itu ingin mengetahui tentang ayah A Ro. Hwa Kong pun bertanya siapa ayah A Ro.
“Dia adalah putri dari Tuan Ahn Ji Gong. Dia adalah keturunan campuran antara ... Bangsawan Ahn Ji Gong dan seorang pelayan.” Jelas Joo Ki, Hwa Kong seperti baru mengetahui kalau A Ro anak dari Tuan Ahn, karena terlihat sangat akrab dilihat sebelumnya. 


A Ro kembali pulang dengan wajah bahagia, lalu dikejutkan dengan melihat sosok orang yang dikenalnya dan bergegas bersembunyi dengan bertanya-tanya kenapa pria itu ada didepan rumahnya, lalu melihat kembali Moo Myung yang berdiri menatap ke dalam rumahnya.
“Apa dia mengikutiku? Apa ia mencoba untuk menyakitiku?” ungkap A Ro panik lalu mengintip kembali dan tak melihat Moo Myung didepan rumahnya.
Tiba-tiba Moo Myung sudah berada dibelakang A Ro dengan tatapan sinis merasa kalau sengaja mengikutiya. A Ro yang terlihat masih kaget menyangkalnya, Moo Myung tak percaya dengan A Ro yang ada didepan rumah, A Ro terlihat benar-benar ketakutan. Moo Myung berteriak marah meminta agar A Ro menjawab pertanyaan. A Ro akhirnya menjawab kalau tinggal dirumah itu dan mengatakan yang sebenyanya.
Moo Myung terdiam dan teringat sebelumnya, mendengar suara wanita yang datang memberitahu sebagai anak dari pemilik rumah, yaitu anak dari Tuan Ahn Ji. Ia menatap A Ro seperti tak percaya kalau A Ro adalah anak dari Tuan Ahn Ji. 
A Ro melihat sabuk dan bajunya, lalu berjongkok memeriksa bagian bawah celana yang dipakai oleh Moo Myung karena mengenalinnya, Moo Myung sampai terjatuh bertanya apa yang sedang dilakukan A Ro pada dirinya.
“Aku yang membuat jahitan ini, Aku membuat ini untuk kakakku. Mengapa kau memakai ini? Dan Kau siapa? Dari mana kau mendapatkan pakaian ini?” ucap A Ro penasaran, Tuan Ahn melihat keduanya lalu A Ro pun menatap ayahnya seperti meminta pertolongan.

Moo Myung dan Tuan Ahn bertemu disebuah ruangan,  Tuan Ahn memberitahu Jika mereka menemukan seorang petani di ibukota,maka orang yang menyembunyikan petani itupun juga akan dihukum dan merasa Moo Myung itu pasti sudah mengetahuinya.
“Jangan khawatir. Setelah aku pergi, maka kita tidak akan pernah bertemu lagi.” Kata Moo Myung
“Jika ada yang bertanya namamu, Kau Bilang namamu Sun Woo.Aku ingin Ah Ro untuk berpikir ... bahwa kau benar-benar kakaknya.” Ucap Tuan Ahn, Moo Myung binggung maksud ucapan ayah temanya.
“Tinggallah di sini sebagai anakku dan juga  dan  sebagai kakaknya.” Kata Tuan Ahn, Moo Myung pikir Tuan Ahn sudah gila,  dan juga kenapa ia harus menjadi anak dan kakak dari A Ro
“Kau masih perlu pengobatan dan akan sering kehilangan kesadaranmu Ini akan sulit bagimu karena kau cedera parah. Aku yakin kau akan pingsan lagi sebelum matahari terbenam jika kau pergi sekarang. Apa begitu caramu ingin mati? Kau harus mendapatkan yang lebih baik, Jadi  Tinggal lah di sini sampai kau merasa lebih baik. Ini bukan kehendak ku. Tapi ini kehendak Sun Woo.” Kata Tuan Ahn menyakinkanya, Moo Myung menatap wajah ayah temanya terlihat tak percaya. 

A Ro mengikuti ayahnya yang keluar dari kamar mengetahui Moo Myung itu adalah pasien sebelumnya, lalu memastikan kalau bukan rentenir dan bertanya kenapa mengenakan pakaian yang dibuatnya. Tuan Ahn hanya menatap anaknya lalu mengelus kepala anaknya.
Mereka pun pindah ke bagian pembuataan obat, A Ro merasa yakin kalau itu tak mungkin karena pernah sudah menemukan kakaknya terakhir kali, tapi ternyata salah menduga. Ia menceritakan sudah melihat Moo Myung dipasar menurutnya pria itu  orang yang sangat berbahaya.

“Lelaki itu... adalah kakakmu. Dia memiliki kalung ini” kata Tuan Ahn menyakinkan dengan memberikan sebuah kalung, A Ro pun melihatnya dengan seperti bulan sabit dan ketika bisa disatukan.
“Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Tapi, Seorang ayah selalu bisa mengenali anak-anaknya.” Ungkap Tuan Ahn menyakinkan kalau itu memang kakak dari A Ro yang selama ini mereka cari. 


A Ro keluar dari rumah menatap Moo Myung, begitu juga Moo Myung yang menatap A Ro sebagai adik dari teman kesayanganya.
Flash Back
Keduanya berjalan pergi ke ibu kota, Moo Myung bertanya apakah adiknya juga tinggi. Mak Moon memperlihatkan kalau tingginya itu selututnya menurutnya adiknya begitu kecil dan cantik. Tapi menurutnya sang adik itu  sudah besar sekarang jadi mengira-ngira tingginya mungkin sudah sepinggangnya, atau mungkin sepundaknya.
“Apa kau sangat menyukai adikmu?” ejek Moo Myung, Mak Moon mengaku sangat ingin melihat adiknya dan berharap  bisa melihatnya sebelum mati.

Moo Myung terlihat sedih karena temanya itu tak bisa melakukan dan sudah lebih dulu mati sebelum melihat adiknya. A Ro mencoba memeriksa bagian kakinya dan terlihat tidak memiliki bekas luka karena tergelincir dan jatuh di sungai bahkan tidak memiliki bekas luka apa pun di kakinya. Moo Myung langsung menarik kakinya.
A Ro menarik bagian kerah baju dan mengetahui dibagian pundak kakaknya  menyentuh sarang lebah dan hampir meninggal karena sengatan lebah, bahkan tak melihat ada bekas lukanya. Moo Myung membela diri mana mungkin bekas sengatan lebah itu masih ada, A Ro pun bertanya tentang bekas luka lainya.
“Jika kau punya bekas luka yang besar, maka bekas luka lama itu nyaris tak akan terlihat.” Ungkap Moo Myung
“ Matamu, hidung, dan mulut ... Tidak ada sama sepertiku” kata A Ro tak percaya kalau Moo Myung itu kakaknya. Moo Myung ingin menyentuh pipi A Ro tapi A Ro memilih untuk menghindar.
“Kau benar... Kita sama-sekali tidak terlihat sama...” kata Moo Myung, A Ro menangis dan buru-buru menghapus air matanya tak percaya kalau sampai bisa menangis seperti ini.
“Kita bahkan tidak tahu jika kau yang asli atau palsu. Mungkin kau tidak tahu, tapi seseorang datang sebelum dan mengatakan kalau dia adalah saudaraku dan Hanya karena kau memiliki kalung itu, Aku tidak akan percaya bahwa kau adalah kakakku.. Itulah mengapa...” ucap A Ro dengan terisak.
Moo Myung menarik A Ro seperti dalam pelukanya, lalu melihat dibagian pundaknya kalau masih memiliki bekas luka. A Ro langsung menarik bajunya merasa kalau Setiap anak memiliki bekas luka seperti itu jadi memperingatkan agar Jangan bertindak seperti saundara kandungnya. Moo Myung menyakinkan kalau memag A Ro ingin tahu tentang masa kecilnya, maka bisa bertanya padanya.
“Aku bisa mengingat hal-hal  yang mungkin tidak kau ingat.” Kata Moo Myung yang selalu mendengar cerita Mak Moon tentang adiknya setiap hari. 


A Ro duduk sendirian didepan rumah, teringat kembali saat pertemuan dengan Moo Myung yang mengeluarkan pedangnya bertanya siapa dirinya, seperti tak saling mengenal. Dan menyelamatkanya dari pedang dari tangan Maek Jong. Moo Myung juga bisa mengetahui ada luka dibagian pundak belakangnya.
“Apa memang manusia kasar seperti dia adalah kakakku? Tapi Dia terlihat tidak asing dan Sesuatu yang tidak asing darinya.” Kata A Ro sambil mengoyangkan kakinya dan tak sengaja sepatunya terlempar.
Teringat kembali saat dipasar sepatunya yang terlempar lalu diselamatkan oleh Moo Myung dan dengan setengah mabuk memuji Moo Myung yang terlihat tampan dimatanya. Lalu menjerit tak percaya kalau merasa semuanya itu tak benar. 

Moo Myung duduk sendirian dalam kamarnya ditanganya mengunakan gelang yang ditemukanya saat berkelahi dengan seorang pria yang menutupi wajahnya, lalu berusaha mengigitnya seperti memastikan kalau yang dipakainya adalah emas asli. Tiba-tiba ia melihat Mak Moon disampingnya.
“Apa kau merasa tak nyaman? Aku berbicara tentang tidur di kamar ku” kata Mak Moon, Moo Myung membenarkanya.
“Adikku cantik, kan? Dia gadis yang baik. Sepertinya kau tidak tahu sama sekali.” Ungkap Mak Moon bangga, Moo Myung melihat adik temanya itu sangat aneh karena sering menangis tapi mengakui kala memang cantik seperti yang dikatakan.
“Kau berjanji untuk melindunginya.” Kata Mak Moon, Moo Myung pun bertanya apa yang harus dilakukanya. Mak Moon meminta agar tetap menjadi dirinya sendiri.
“Aku melihatmu sekarang, tapi kenapa aku sangat merindukanmu?” ungkap Moo Myung, Mak Moon memberikan senyumanya. Saat itu Moo Myung seperti tertidur pulas dengan duduk dikamar Mak Moon, seperti temanya itu sengaja mendatangi temanya dalam mimpi. 

A Ro sibuk didapur dengan mempersiapkan sarapan 3 buah ayam dengan membuat samgiteyang, lalu menyakinkan diri kalau Moo Myung itu tak akan mengenalinya saat ada dipasar. Ketiganya makan bersama, Moo Myung makan dengan lahap seperti tak makan setahun, sementara Tuan Ahn dan A Ro seperti kehilangan nafus makannya.
“Sudah sangat lama, terakhir kali kita punya nasi putih. Ini Sangat lezat, benarkan, Ayah?”kata A Ro, Tuan Ahn seperti merasa tak enak badan dan memilih untuk kembali ke kamarnya. Akhirnya hanya mereka berdua dan A Ro terus menatap ke arah Moo Myung yang makan dengan lahap.
“Berhenti melihatku dan makan.” Kata Moo Myung bisa merasakanya, A Ro mengelak kalau tak melihatnya.
“Aku ingin tahu apa kau tahu kalau aku ini punya kepribadian yang menjengkelkan dan juga ceroboh.” Ungkap A Ro
“Kau mabuk siang hari, dan kebiasaan mabukmu cukup ekstrim.” Kata Moo Myung blak-blakan masih mengingatnya, A Ro melotot kaget ternyata Moo Myung masih menginganya.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar