Selasa, 20 Desember 2016

Sinopsis Hwarang Episode 1 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
“Sekitar 1.500 tahun yang lalu, Selama tahun ke-12 Raja Jinheung, Silla adalah yang terkecil dan terlemah.. Dari Tiga Kerajaan. Raja Muda Jinheung merasa hidupnya dalam bahaya... Karena ketidakstabilan di otoritas kedaulatan-Nya. Ia hidup dalam persembunyian. Queen Ji menadi, ratu bupati , Mengumpulkan pria yang indah untuk membuat mereka masa depan Silla, sebagai memberdayakan takhta.” 

Seorang pria dengan ilalang disekelilinnya di pinggir danau, Moo Young mengaku kalau dirinya sibuk karena hari ini adalah hari pajak jadi meminta agar pergi saja. Tiga pria didepanya, memberitahu kalau Sebuah kota tidak dapat memiliki dua kepala. Moo Young sambil mengaruk-garuk lehernya mengatakan kalau pria itu yang menjadi kepalanya.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya si pria aga panik
“ Aku hanya gugup. Ayahku akan membunuhku jika aku mendapat masalah lagi. Lalu Apakah yang tidak sempurna, Akubtidak perlu memukulmu, dan Kau bisa.. menjadi  Kepala atau memimpin, atau apa pun. Maka pergilah.”kata Moo Myung untuk segera pergi.
“Ibumu mengatakan tidak untuk namamu ketika dia meninggalkan kau. Jadi lebih baik kau hidup seperti orang mati maka hentikan membuatku  jengkel!” ucap si pria.
Moo Myung mengeluh kalau tak bisa membuat dirinya jadi santai sejenak saja, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, temanya panik melihat Moo Myung mengambil sebuah dadu yang disimpanya, dan akan memutuskan apa yang harus dilakukan dengan itu.
Akhirnya Moo Myung melempar dadunya dan terlihat bagian atas adlah "Memukul hidung." Menurutnya Ini adalah hari keberuntungan ketiganya. Teman si pria menyuruh menyerang lebih dulu. Sementara Moo Myung memikirka akan memukulnya, saat itu tiba-tiba merasakan pandanganya buram dan kepalanya pening seperti terlalu lama diatas sinar matahari.
Si pria mencoba melawanya, tapi Moo Myung lebih dulu jatuh pingsan. Si pria dan teman-temanya terlihat bahagia karena merasa sudah bisa mengalahkan Moo Myung, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah belakang.
“Jangan menyentuhnya, itu akan membuatmu mendapatkan balasanya” teriak Mak Moon dengan gaya kuda-kuda siap melawan membela Moo Myung. 



 Tapi pada akhirnya yang terjadi, Mak Moon kena injakan dan pukulan dari tiga pria dengan wajah terluka. Terlihat tangan Moo Myung sedikit bergerak dan tiba-tiba sudah berdiri tegak menyuruh mereka berhenti. Ketiganya kaget melihat Moo Myung bisa tersadar lebih cepat. Mak Moon mengadu kalau ketiganya memukulinya terus menerus.
Moo Myung memastikan lebih dulu keadaan temanya, Mak Moon meminta agar temanya jangan membunuhnya. Ketiganya panik kalau Moo Myung bisa saja membunuhnya, Moo Myung mengejek kalau kalau semua pasti kaget lalu menyuruhnya untuk lari.  Semua tetap diam seperti kebinggungan.
“Aku... Mengatakan, "Lari!"” kata Moo Myung, akhirnya ketiganya pun lari dan Mak Moon serta Moo Myung langsung mengejarnya. 
Kejar-kejaran di hutan pun terjadi, Mak Myung mengejar ketiganya lebih dulu dan tak sempat untuk menyebarang jembatan kayu. Tiga orang pria itu sengaja menjatuhkan jembatan dan mengejek Mak Myung agar menyebarang saja dan mendekati mereka. Akhirnya Moo Myung tak bisa menyeberang memilih untuk membalikan badannya.
“Tapi apa julukannya lagi?” bisik salah satu pria diseberang jalan.
“Dia adalah “The Dog-Bird.” Mereka mengatakan dia seperti anjing... Dan seperti burung.” Jelas si pria
Saat itu Moo Myung yang sudah berbalik arah, berlari layaknya anjing dan terbang menyebrangi sungai layaknya seorang burung. Ketiganya melonggo kaget melihat Moo Myung yang bisa mendekati mereka tanpa mengunakan jembatan. 

Sebuah baju ratu digantung dalam ruangan, Seorang wanita baru saja selesai mandi dan dibantu beberapa pelayan untuk menghias diri, penjepit rambut disematkan pada rambutnya yang terurai panjang. Pakaian kerajaan pun dipakai olehnya, dia adalah Ratu Ji So, ibu dari Raja Jinheung
Pria dengan pakaian kotor duduk dalam penjara, sekali memukul nyamuk di lehernya dan ingin memakanya, tapi saat itu seseorang masuk ke dalam ruangan sel tahanya. Si pria mengatakan kalau Wi Hwa Kong harus menjaga rasa hormatnya. Hwa Kong mengangguk mengerti. 

Ratu Ji menemui Hwa Kong dengan tak percaya kalau seorang  teman dekat raja sebelumnya yang dikurung di tempat seperti ini. Hwa Kong merasa kalau raja terakhir dan juga ia tidak berakhir pada catatan yang baik, lalu menceritakan pernah bertemu dengan dengan salah satu selirnya.
“Itu sebabnya orang-orang menuduhku melakukan kesalahan.” Kata Hwa Kong
“Kau tidak harus puas dengan Kerajaan Sacred ini.”ucap Ratu Ji (Kerajaan Sacred berarti negara suci. Hal ini mengacu pada Silla.), Hwa Kong tertawa mendengarnya.
“Ini adalah negara di mana seorang ibu menendang keluar anaknya sendiri. Ini adalah tempat di mana seorang ibu menghabiskan 10 tahun... Sebagai bupati dan masih tidak bisa menyerah keserakahan Tentu saja, aku tidak senang dengan itu..” Ungkap Hwa Kong menyindirnya.
Ratu Ki pun meminta agar Hwa Kong memberitahu apa yang ada dipikiranya sekarang, Hwa Kong mendengar bahwa Yang Mulia itu Sangat cerah dan cerdas Namun,  menurutnya itu hanya rumor lalu menguap dan merasa sangat lelah.
“Kenapa kau terus mengatakan hal yang sama berulang? Jadi Apa yang kau ingin?” kata Hwa Kong
“Aku berencana untuk mengumpulkan sekelompok pengawal kerajaan... Yang akan melindungi Raja dengan kehidupan mereka.” Ucap Ratu Ji, Hwa Kong tertawa mendengarnya lalu berkomentar kalau itu adalah ide yang baik
“Para pejabat telah diambil semua tentara diluar kerjaannya. Jadi Siapa yang mau berdiri untuk Raja? Apakah Yang Mulia mendapatkannya dari Baekje Atau mungkin Goguryeo?” kata Hwa Kong tertawa
“Aku berencana untuk merekrut anak-anak pejabat dan ingin kau melatih mereka. Bukannya ayah dan keluarga mereka, tapi Aku ingin mereka menjadi loyal Kepada Raja dan Takut pada kerajaan” tegas Ratu Ji
Hwa Kong malah seperti tak yakin kalau Ratu Ji bisa mempercayakan melakukan itu. Ratu Ji bertanya apakah Hwa Kong tak ingin dirinya mundur karena apabila berhasil melakukanya maka  dengan senang hati akan menyerahkan tahta. Hwa Kong hanya tersenyum mendengarnya. 


Moo Myung dan Mak Moon duduk dibawah pohon, Mak Moon merasa kalau sudah mengatakan sebelumnya kalau mereka itu seharusnya tinggal di ibukota. Moo Myung mengejek kalau Mak Moon bisa tertawa setelah menerima pukulan.
“Selama aku bisa sampai ke ibukota, aku dapat menggunakan ini untuk menemukannya.” Ucap Mak Moon tertawa.
“Itulah sebabnya kita harus pergi ke perbatasan besok, Tidak peduli apapun itu.  Kau Jangan lari lagi.” Kata Moo Myung kesal memukul temanya.  “Jika orang-orang seperti kita pergi perbatasan, Mereka akan menembak panah dan melemparkan tombak pada kita. Lalu Leher kita akan dipotong” kata Mak Moon ketakutan. Moo Myung pun menyuruh temanya berhenti saja berbicara tentang ibukota.
“Itu adalah rumahku, Tempat itu adalah di mana ayah, ibu dan adikku tinggal bersama. Aku akan menggunakan ini untuk menemukan ayahku Dan mendapatkan identitasku kembali.” Ucap Mak Moon dengen menunjukan kalung dengan berujung runcing seperti tanduk dilehernya.
“Yahh.. memang.. kalung itu yang akan membantumu menemukan mereka.” Ejek Moo Myung.
Mak Moon dengan kesal mengatakan kalau itu salah satu petunjuknyad an temanya itu tak mengerti apapun, lalu memastikan kalau Mok Myung benar-benar akan membantunya. Moo Myung merasa akan memakan waktu setidaknya 100 hari bagi temanya untuk masuk ke dalam dan Juga, akan pergi ke mana pun yang dinginkan jika itu pergi ke ibu kota.
“Kita semua manusia... Mengapa mereka melarang kelas bawah dari masuk?” ucap Moo Myung melihat ibu kota dari atas bukit. Mak Moon mengejek temanya itu memang “Dog-Bird.” Merasa heran karena tak ada yang ditakutinya.
“Hanya mereka yang memiliki sesuatu terlalu banyak yang merasa ketakutan. Jika kau tidak memiliki apa-apa, kau tidak dapat memiliki rasa takut.” Ucap Moo Myung lalu teringat dengan pajak dan bergegas pergi. 


Keduanya berjalan kembali kerumah dengan mengintip lebih dulu dan Mak Myung merasa kalau mereka datang belum lalu duduk didepan pintu rumah mengambil air kalau tak ada orang.
Tiba-tiba sebuah panah menacap tepat didepan wajah Moo Myung, seorang pria bernama Woo Reuk sudah melepaskan panahnya merasa Sulit untuk memprediksi di mana akan menemukan Moo Myung mati. Moo Myung menjerit panik karena hampir membunuhnya.
“Aku bilang. Hal ini nasibmu... Jadi Matilah di sini dalam damai.” Kata Woo Reuk sudah siap melepaskan panahanya, Mak Moon meminta agar tenang tapi Woo Reuk semakin mendekat siap untuk melepaskan panahnya.
“Apakah kau pernah bertanya-tanya mengapa ibumu meninggalkanmu di sini? Tidak ada satu yang akan menyambutmu di dunia ini. Jadi Itulah mengapa Anda tidak memiliki nama.” Ucap Won Reok.
“Kau telah mengatakan bahwa selama 10 tahun.” Teriak Moo Myung panik meminta agar Won Reok tak bercanda.
Won Reok kembali melepaskan panahnya dengan tepat berada disamping wajah Moo Myung. Mak Moon yang melihatnya benar-benar ketakutan. Moo Myung meminta agar Won Reok menghentikanya,  Woo Reok menegaskan jika tidak memiliki cukup untuk membayar pajak, maka Tetangganya akan dipukuli untuk itu.
Moo Myung tapi dan memiliki alasan, Woo Reok merasa kalau itu yang selalu menjadi alasanya, dan ingin melepaskan panahnya. Moo Myung berusaha menghindar dan sedikit melayang tapi ujung dari panahnya malah mengenai kepalanya dan akhirnya jatuh pingsan. 


Pengawal ratu memberitahu kalau ada surat dari Pa Oh, yaitu itu mereka akan melewati gerbang timur pada sekitar 02:00. Ratu Ji terlihat marah karena mereka  mencoba untuk datang tanpa izin. Pengawal mengatakan kalau akan mengawalnya dengan tenang.
Dua buah kuda siap memasuki pintu perbatasan, Sam Maek Jong dan Pa Oh dengan wajah ditutup kain segera masuk ke pintu perbatasan. Si pengawal dan salah seorang yang lainya pun sudah menunggu didepan pintu. Setelah memberikan hormat, Maek Jong pun pergi bersam dengan Pa Oh.

“Apakah itu Yang Mulia? Aku tidak pernah bermimpi bertemu dia seperti ini. Aku kagum pada bagaimana bermartabat dia.” Ungkap si pria bangga, Pengawal yang mendengarnya langsung menarik pedang dan si pria pun jatuh dari kuda dan meninggal seketika. 


Malam Hari
Moo Myung menaiki dinding pembatas dengan tali dan Mak Moon berjalan dibawah. Saat Moo Myung berhasil naik sampai ke atas, Mak Moon tersenyum bahagia melihatnya. Moo Myung mencoba mengatur nafasnya setelah memanjat dinding yang tinggi, lalu dikagetkan dengan sesuatu didepanya.
Ia melihat bagian kepala manusia yang digantung, seperti peringatan pada orang-orang yang berani melewati perbatasan akan memiliki nasib yang sama yaitu dipenggal lehernya. Mak Moon yang ada dibawah bertanya apakah terjadi sesuatu, Moo Myung dengan wajah ketakutan mengatakan kalau tak ada.
Akhirnya Mak Moon menaiki tali dengan memastikan kalau hanya ini satu-satunya jalan menuju ke ibu kita dan merasa kalau Moo Myung itu melakua dengan sengaja karena caranya sangat berat dengan menaiki dingin pembatas yang tinggi. Moo Myung menyuruh diam saja dan lebih baik  memanjat lebih cepat.

Mak Mook akhirnya sampai diatas, Moo Myung meminta agar temanya bisa mengambil nafas dalam-dalam lebih dulu. Dan Mak Moon langsung menjerit kaget melihat banyak kepala yang tergantung. Moo Myung langsung menutup mulutnya, menyuruh tak menjerit karena nanti ada orang yang bisa mendengarnya.
“Bagaimana jika kita menjadi seperti mereka?” ungkap Mak Moon panik, Moo Myung meminta agar Mak Moon diam
“Moon.. Apakah keinginanmu untuk melihat adik Anda? Apakah kau tidak ingin melihatnya?” kata Moo Myung, Mak Moon mengangguk dengan melirik ketakutan kalau nasibnya nanti sama dengan kepala yang digantung
Moo Myung pun meminta agar jangan takut dan  akan terus berjalan. Mak Moon mengaku tak takut dan baik-baik saja, lalu berusaha melewati tiang yang digantung mayat kepala dengan menutup mata dan bergidik ketakutan. 

Keduaya melewati sebuah rumah dan mengambil beberapa pakaian yang dijemur dan langsung mengantinya, setelah itu pergi ke pasar dengan penampilan yang berbeda. Moo Myung melihat gaya pakaian Mak Mook sekarang seperti dari ibukota. Mak Mook dengan bangga kalau mereka itu pasti sangat beruntung. Keduanya seperti merasa aneh ditempat yang berbeda dengan tempat tinggal mereka dengan banyak wanita dan pendagang dengan pakaian rapi.
“Aku tidak tahu tempat seperti ternyata memang ada, Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” ucap Mak Moon binggung.
“Kita harus menemukan keluargamu dengan kalung itu.” Kata Mo Myung tiba-tiba mendengar suara perut yang sangat keras.
Moo Myung sampai menutup telinganya merasa sangat malu mendengarnya lalu memilih untuk pergi, Mak Moon tertawa dengan berpura-pura kalau temanya itu yang lapar dan bergegas pergi. 

Di sebuah tempat
Ada banyak orang yang berkumpul dan A Ro dengan wajah serius mengatakan Satu orang tidak bisa mati begitu mudah. Seorang pria pun bertanya dengan wajah panik apa yang akan terjadi selanjutnya. A Ro mengatakan Wanita yang hampir tidak selamat, Memutuskan untuk menarik tahi lalat di bawah matanya.
“Dia mengambar tahi lalat dan Tidak ada yang bisa mengenalinya.” Kata A Ro, diam-diam Maek Jong yang ada didekatnya mendengar cerita A Ro. Beberapa orang merasa itu kalau tak mungkin.

“Jangan meragukanku jika kau tidak pernah melakukannya. Jika kau melihat... tahi lalatnya sebesar ujung jari ini,Maka wajah seseorang bisa saja berubah.” Ucap A Ro dengan wajah yakin, pria lain pun bertanya apakah wanita itu berhasil membunuh pria itu.
“Larut malam, wanita itu...membaringkan kepala pria itu di kakinya... dan mengatakan ini sambil menatapnya.” Kata A Ro berjalan mendekati seorang pria berakting seperti wanita yang dicerita.
 "Kenapa kau dan aku bertemu? Kenapa kau hanya menyakitiku?" Apakah aku mencintaimu? Kau berada didalam diriku." Ucap A Ro membuat semua ketakutan. Maek Jong yang mendengarnya terlihat hanya tersenyum mengejek. 

Maek Jong terlihat duduk dengan menutup matanya, sebuah hembusan kipas menyadarkanya. Pa Oh yang ada didepanya mengejeknya kalau Maek Jong itu tertidur. Maek Jong seperti tak menyadarinya, lalu melihat dibelakangnya sudah sepi dan menghentikan seorang wanita yang berjalan didepanya.
“Dimana wanita yang menceritakan sebuah cerita sebelumnya? Dimana aku bisa menemukannya?” kata Maek Jong penasaran. 

Mak Moon dan Moo Myung pergi ke tempat judi dengan banyak orang-orang yang berkerumun, keduanya terlihat aneh karena belum pernah masuk ke tempat dengan keramaian.  Akhirnya Mak Moon mendekati seorang pria dengan bertanya apakah ia bisa menemukan seseorang dengan kalung yang dipakainya.
“Itu tidak terlihat seperti barang yang umum. Jika kamu pergi ke Dayiseo atau Okta, maka seseorang mungkin mengetahui sesuatu.” Ucap Si pria. Mak Moon seperti tak mengerti dimana tempat itu.
“Kau bukan berasal dari sini, kan? Jadi Kau berasal darimana?” kata si pria yang sedang duduk didepan meja judi dengan pisaunya, Mak Moon mengaku kalau ia berasal dari ibu kota sementara Moo Myung diam-diam mengamati dari balik topi capingnya. 

Si pria terlihat tak memperdulikan lagi, lalu kembali melakukan judi dengan meminta yang Lebih tinggi dan akan mempertaruhkan semuanya. Akhirnya dadu pun dikocok hasilnya si pria bisa menang. Pria yang didepanya mengak kalau akan mempertaruhkan semua keberuntungannya jadi meminta agar memberikan kesempatan sekali lagi.
“Apa yang akan kau pertaruhkan kali ini? Bagaimana dengan lehermu?” ucap si pria menunjuk ke lehernya dengan pisau,
“Beberapa orang meminta leher didalam ibukota dan Leher anak itu juga bisa.” Kata Si pria dengan menunjuk si anak yang memegang lengan ayahnya. 
Moo Myung dibalik topinya berkata kalau  akan bermain untuk taruhan itu. Si pria bertanya apakah Moo Myung memiliki uang,  Moo Myung mengatakan kalau yang diinginkan leher, jadi ia akan memberikan lehernya sebagai taruhan. Mak Moon langsung menarik si anak agar menjauh dari pria brengsek.
“Kau hanya melakukan satu permainan.  Apakah kau yakin?” ucap Moo Myung menantang.
“Baiklah. Jika kau menang, Aku akan memberikan semua yang di kumpulkan hari ini kepadamu.” Kata si pria, Moo Myung menolak.
“Jika aku menang, berikan juga lehermu padaku.” Ucap Moo Myung tak takut. 

Keduanya pun saling duduk berhadapan, dan dadu pun mulai dikocok. Moo Myung dengan dadu segilima milikinya bertaruh Lebih tinggi. Si pria menancapkan pisaunya dengan menakuti Moo Myung itu benar-benar ingin mati dan apakah itu memang keinginannya. Saat akan membuka dadu, Moo Myung menahanya.
“Apakah kau tahu? Anjing penakut menggonggong dalam waktu yang lama. Haruskah kita buka saja bukannya menggonggong?” kata Moo Myung, Si pria ingin tahu siapa sebenarnya dibalik topi itu dengan menahan dadu sebelum terbuka.
“Aku... “Dog-bird”” kata Moo Myung, si pria bisa melihat wajah Moo Myung dari balik topi, ternyata seekor anjing kampung dari luar dan bertanya bagaimana carnya masuk kedalam ibukota.
Mak Moon terlihat panik dan mengalihkan dengan berteriak agar segera membuka dadunya, dengan mengingatkan kalau bertaruh untuk leher mereka. Si pria terlihat ketakutan dengan menatap Moo Myung akan melepaskanya jika pergi sekarang juga.
Moo Myung langsung menolaknya dengan senyuman mengejek, karena lebih baik mati atau hidup dan kenapa harus menghentikanya,  saat mereka tidak tahu siapa yang akan menang.
“Apakah kau mengatakan bahwa menggunakan semacam tipuan? Jika kau sangat sombong, mari kita buka!” kata Moo Myung yang sebelumnya sudah melihat cara bermain pria tersebut.
Semua orang pun yang mendengarnya langsung berkomentar kalau pria itu bermain curang, akhirnya si pria dengan marah langsung membalikan mejanya, dan langsung terjadi kegaduhan. Mak Moon dan Moo Myung bergegas pergi untuk kabur, Si pria tak bisa tinggal diam menyuruh anak buahnya segera menangkap keduanya. 


Mak Moon dan Moo Myung berlari menghindari dari kejaran pria dan anak buahnya, lalu Moo Myung menyuruh Mak Moon agar berlari ke arah yang berbeda, dan meminta agar menemui  dipenginapan yang dekat dengan gerbang istana. Mak Moon mengangguk mengerti dan Moo Myung sengaja agar semua orang mengejarnya.
Ia berlari ke lorong pasar dengan terus berlari dan mencoba bersembunyi, anak buah si pria kehilangan jejak Moo Myung dalam pasar, lalu melaporkan kalau Moo Myung menghilang seperti hantu. Si pria terlihat marah dengan mencengkram baju anak buahnya memerintahkan agar menemukanya bagaimanapun caranya. 

Di sebuah cafe zaman silla. 
Beberapa wanita sibuk menyenduh beberapa tanaman dengan menaruh gelas dibawahnya untuk mengambil sarinya, seperti kopi tetes dizaman sekarang. Seorang pria, Pi Joo Ki berteriak meminta  Teh Krisan dan omija untuk meja tiga. Beberapa pelayan wanita pun mulai menyediakanya.
Saat itu Joo Ki melihat Hwa Kong duduk dimeja bawah seperti memanggilnya dengan satu jarinya. Joo Ki heran ada apa dengan pelanggannya itu, berpikir tangannya sedang kesemutan. Hwa Kong kembali memperlihatkan jarinya agar mendekat.
“Apakah aku harus pergi kepadanya saat dia melakukan itu?” ucap Joo Ki binggung. 

Akhirnya Joo Ki menemui Hwa Kong bertanya apakah bisa dibantu untuk pelangganya, Hwa Kong bertanya apakah tempat teh ini miliknya. Joon Ki membenarkan dan bertanya balik kenapa menanyakan hal itu. Hwa Kong mengaku kalau  melihat toko lain didepan dengan getaran yang sama.
“Itu adalah klien kami. Kami banyak melakukan bisnis dengan mereka. Toko umum disebelah kanan itu adalah  toko utama kami. Ini adalah sebuah merek dagang.” Jelas Joo Ki
“Kau tidak terlihat begitu kompeten, tapi kau membangun bisnis dengan baik. Kau cukup berbakat.” Ungkap Hwa Kong
“Apakah ini sebuah pujian atau umpatan?” ucap Joo Ki binggung dan tiba-tiba Hwa Kong menarik kerah bajunya.
“Aku sedang mencari sesuatu yang spesial.” Bisik Hwa Kong, Joo Ki mengeti maksudnya dengan senyumanya.
“Jadi Tipe wanita seperti apa yang anda sukai?” tanya Joo Ki, Hwa Kong mengatakan bukan wanita tapi pria
“Apakah kau tahu setiap pria yang muda dan tampan?” tanya Hwa Kong dengan wajah serius. 


Joo Ki membawa Hwa Kong masuk ke sebuah ruangan berbeda memberitahu kalau  Tempat ini mengikuti semua trend yang terbaru, bernama Dayiseo dan Siapapun yang bahkan sedikit terkenal... pada akhirnya akan berhenti ditempat itu, Beberapa sepatu dan barang-barang antik ada didalamnya.
Beberapa wanita pun mencoba untuk jepitan rambut, Hwa Kong bingung melihat sebuah dari lubang cermin dan bertanya bagaimana memikirkan hal ini, dan apa nama benda tersebut karena melihatnya keadaan didalam hanya dengan kaca saja. Joo Ki menjelaskan itu penutup yang dibuat dari telur, jadi bisa menyebutnya "Eggscope". Hwa Kong terlihat masih bingung dan kembali melihat dibagian dalam. 

Beberapa guci besar berjejer dengan rapi. A Ro berdiri dengan wajah melas.  Si pria bertanya apakah A Ro ingin pembayaran kembali.  A Ro menjelaskan karena situasinya  sangat buruk sekali jadi meminta agar membayarnya hari ini. Si pria pun memberikan kepingan uang pada A Ro sebagai bayaranya.
“Apa Ini... adalah pembayaran untuk 3 bulan?”Ucap  A Ro melihat bayarannya.
“Kau mengambil banyak untuk sementara ini... dan kapanpun kau meminumnya atau menjualnya.” Kata Si pria
“Aku tidak begitu, kau mungkin akan bertanya pada kantor pengawasan pasar.” Ucap A Ro membela diri.
Si pria pun tak peduli menurutnya Hanya karena memanggilnya "Nona", bukan berarti dari a keluarga bangsawan. Bahkan jika ayahnya adalah golongan bangsawan  yang paling tinggi, Tapi ibunya adalah seorang petani, jadi strata mereka itu sama saja dan mengumpatnya sebagai pencuri.
A Ro tak terima menegaskan kalau pria itu yang memintanya dan langsung mengambil sebuah guci dan meminumnya. Si pria panik memanggilnya ingin menyelamatkan gucinya, A Ro terus meminum yang ada didalam guci. Si pria memberitahu kalau harga minuman itu sangat maha. A Ro menendang si pria karena mengangunya saat minum.
“Aku akan mengambil pembayaranku...dalam perutku mulai sekarang.Satu guci alkohol perhari.Jumlahnya akan menjadi 3 guci.” Ucap A Ro seperti langsung mabuk setelah menengak habis yang ada dalam guci
FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar