Rabu, 07 Desember 2016

Sinopsis Goblin Episode 2 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN

Wang Yeo sedang asik menonton drama dari depan lukisan, Kim Shin tiba-tiba datang menghalangi bertanya apakan ia sibuk. Wang Yeo tetapmentap layar mengataakn akalu sibuk. Kim Shin tak peduli memerintahkan agar Wang Yeo mengikutinya tapi jangan terlalu dekat.
“Pastikan hal itu benar-benar penting, kalau tidak... mati kau.” Kata Wang Yeo
“Itu sebabnya aku mencoba memeriksanya. Takdirku.” Ucap Kim Shin lalu mengajak pergi dan membuka pintu lalu berpindah ke seperti sebuah ladang

Wang Yeo bingung apa maksud ucapan Kim Shin, lalu keluar dari rumah dan melihat ada di halaman depan. Kim Shin melihat Wang Yeo belum mengikutinya. Wang Yeo mondar mandir didepan rumah kebinggungan karena tak melihat Kim Shin. Semantara Kim Shin akhirnya kembali masuk melalui pintu dan sampai kembali ke dalam rumah. Wang Yeo binggung kenapa Kim Shin bisa keluar dari dalam rumah karena sebelumnya melihat sudah keluar rumah.

Kim Shin rasa Wang Yeo juga pasti aneh melihatnya,  bahkan orang ini juga melakukan sesuatu yang bahkan membuat Malaikat Kematian juga merasa aneh. Wang Yeo langsung penasaran siapa yang melakukan itu, dan apa maksudnya.
“Lakukan lagi dan Mendekatlah.” Ucap Wang Yeo tiba-tiba berbicara dibelakang kuping Kim Shin, Kim Shin benar-benar kaget dengan memegang telinganya.
“Aku tidak bisa tinggal diam. Kau mau kemana?” kata Wang Yeo semakin penasaran
“Aku ini Goblin, kau tahu! Jadi Enyahlah sana dan Jauh-jauh dariku.” Ucap Kim Shin terlihat tak mau berdekatan dengan Wang Yeo
“Hei.. Jangan meninggalkan aku di sini seperti ini!” ucap Wang Yeo lalu berpikir apa yang tak bisa dilakukanya. 

Tiba-tiba Yoo Duk Hwa datang memanggil Wang Yeo dengan sebutan Tuan Penyewa, Wang Yeo kaget melihat Duk Hwa yang datang. Duk Hwa bertanya kenapa Wang Yeo ada diluar dengan Cuacanya dingin sekali dan ingin tahu keberadan Kim Shin. Wang Yeo memberitahu kalau Kim Shin ada di dalam. Duk Hwa menahan Wang Yeo sebelum masuk.
“Sebenarnya, aku kemari untuk bertemu denganmu.” Kata Duk Hwa lalu tiba-tiba mendekat seperti ingin menyentuhnya,  Wang Yeo menghindarinya menyuruh Duk Hwa menghentikanya.
“Oh, rupanya kau tidak suka disentuh. Ini Tidak terlalu penting, tapi Aku hanya ingin tahu apakah semuanya baik-baik saja. Apakah rumahnya mendadak terasa sangat lembab Atau segala sesuatu di luar menjadi begitu bercahaya secara tiba-tiba?” kata Duk Hwa, Wang Yeo binggung

“Sebenarnya, aku hanya ingin pamanmu itu lekas pergi.” Ucap Wang Yeo sinis, Duk Hwa membenarkan karena mengingkan Kim Shin juga  lekas pergi ke luar negeri.
“Aku tidak mengerti kenapa orang sukses seperti dia bersikukuh tinggal di Korea. Bukankah kau merasa begitu?” kata Duk Hwa merasa sependapat, Wang Yeo mengatakan tidak seperti itu.
“Oke, bukan begitu rupanya. Aku akan sering mengunjungimu. Tapi Bagaimana sebaiknya aku memanggilmu?Rasanya, kurang pantas memanggilmu "Tuan Penyewa".” Kata Duk Hwa  dan berpikir memanggilnya paman terlalu berlebihan.


“Ijinkan aku meminta tolong padamu. Kumohon, bantu aku. Jika ada seorang pria tua datang dan bertanya siapa dirimu, bisakah kau mengatakan padanya kalau kau datang hanya sekedari mampir? Dia bisa membunuhku kalau dia tahu aku menyewakan sebuah kamar di sini.” Ucap Duk Hwa
Wang Yeo bertanya siapa pria tua yang dimaksud, Duk Hwa mengatakan kalau itu adalah kakeknya dan bersumpah akan berada di pihak Wang Yeo  sampai akhir dengan mengangkat tanganya. Wang Yeo merasakan tiba-tiba kepala bagian belakangnya sakit lalu masuk ke dalam rumah.

Eun Tak memegang gagang pintu menyakinkan kalau membuka pintu ini maka akan ada dikanada seperti sebelumnya, tapi ketika membuka pintu ternyata kamar mandi biasa dan mulutnya langsung melonggo binggung. Seorang wanita melihat Eun Tak berpikir ingin menggunakan wastafelnya, Eun Tak mengelengkan kepalanya dan masih terlihat binggung.
“Apa kau siswa Tahun akhir SMU?” tanya si  wanita menebak, Eun Tak binggung si wanita itu bisa mengetahuinya.
“Anak muda dengan mata memerah tanda kelelahan serta mengenakan seragam kebanyakan seperti itu.” Ucap si wanita, Eun Tak pun menutupi matanya karena orang bisa melihatnya.
“Kau tinggal dimana?” tanya si wanita, Eun Tak mengatakan berada didekat sini. Si wanita itu pikir bagus dengan memberikan sepastik bayam karena  mendapatkannya dari seorang pria.
Eun Tak binggung  mendengar Seorang pria memberikannya bayam. Si wanita menyuruh Eun Tak agar pulang dan makan bersama keluarganya. 

Eun Tak pun pulang dengan membawa seplastik bayam, Bibinya melihat Eun Tak pulang dengan sinis mengeluh pulang telat. Eun Tak mengaku kalau langsung pulang dari sekolah. Si bibi terlihat kesal mendengar Eun Tak yang berani menjawabnya. Anak pertama bibi mengeluh lapar. Bibinya juga merasa lapar lalu memarahi anaknya yang  selalu malas-malasan saat di rumah.
“Cepat masak makan malam! Semua orang kepalaran.” Teriak Bibi pada keponakanya, Eun Tak mengerti dengan nada kesal lalu melihat ke kulkas tak ada bahan makanan. Teringat kembali si wanita yang ditemuinya di dalam toilet dengan memberikan bayam dan berpesan agar Pulang lalu  makanlah bersama keluarganya.                                         
Eun Tak akhirnya membuat kimbap dengan isi telur dan bayam, tiba-tiba anak kedua bibi keluar dari kamar membawa majalah Quebec yang dibawa Eun Tak dari hotel, memberitahu ibunya kalau Eun Tak mencoba melarikan diri dan sudah mencarinya di internet kalau kota itu ada di Kanada. Bibinya ingin melihat majalah yang dibawa anaknya. Eun Tak melihat mengikutinya. 

“Aku sudah tahu dia pasti akan melakukan ini. Kau berencana kabur ke luar negeri dengan uang asuransi itu. Kau bilang, kau tidak punya rekening bank!” ucap bibinya marah.
“Kembalikan padaku. Itu hanya suvenir.” Ucap Eun Tak ingin mengambilnya, Si bibi malah memukulnya tak percaya kalau itu dianggap souvenir.
“Memangnya kau pernah kemari sampai mendapatkan suvenirnya? Kau pasti akan melakukannya. Beginikah caramu membayar kebaikan kami?” ucap Bibi marah memukul Eun Tak
Anak bibi kedua melihat Eun Tak yang sudah membuat kimbap dan ingin memotongnya, tapi yang terjadi adalah jarinya teriris, lalu menjerit kesakitan. Kakaknya datang melihat kimbap yang lezat akan memakanya tapi akhirnya tersedak. Si bibi mengeluh dua anaknya yang berbisik didapur, Eun Tak menahan amarahnya memilih untuk mengambil satu gulangan kimbap dan pergi. Bibinya berteriak karena Eun Tak malah pergi meninggalkan rumah. 


Eun Tak makan kimbap di dekat tangga sambil menangis karena nasibnya seperti dineraka berada dirumah bibinya. Sementara Kim Shin dengan berbaring di kamarnya terlihat gelisah memikrkan Eun Tak yang bisa memanggilny dan mengikuti melewati pintu itu, tapi tidak bisa melihat pedang itu.
“Siapa kau sebenarnya?” ucap Kim Shin, lalu teringat saat Eun Tak berbicara didepan batu nisan. “Saya akan menjadi mempelai Anda setelah 200 tahun berlalu.” Lalu pernyataan “Aku mencintaimu.” Dengan senyumanya.
“Jika dia bersungguh-sungguh dengan perkataannya, maka ini jadi terasa aneh. Keingintahuan selalu menang melawan gengsi. Aku terlalu penasaran, jadi akan bertanya langsung padanya.” Kata Kim Shin bangun dari tempat tidurnya. 

Eun Tak seperti berjalan berputar-putar disekeliling rumahnya, saat itu didekat rumahnya melihat Kim Shin seperti sudah menungunya. Kim Shin mengeluh kalau mereka baru saja bertemu  dan kenapa memanggilnya lagi tengah malam begini padahla sangat sibuk dan sedang melakukan sesuatu. Eun Tak merasa tidak memanggilnya.
“Kau memanggilku.” Ucap Kim Shin menyakinkan, Tapi Eun Tak yakin kalau tak memanggilnya dan tidak melakukannya.
“Lalu Kau memikirkanku atau tidak?” kata Kim Shin berusaha mencari alasan, Eun Tak mengingat-ngingatnya.
“Sudah kuduga, pasti benar. Kau memikirkan tentangku, kan?Karena kau terus memikirkan aku, membuat aku terus saja terpanggil meski sedang sibuk.” Ucap Kim Shin mengeluh kalau sangat melelahkan.
“Apa Kau merasa terpanggil saat aku memikirkanmu?” ucap Eun Tak bingung, Kim Shin mengaku tak yakin dengan hal itu.
“Tapi, aku memang sangat sensitif. Jadi, jangan sembarang memikirkan aku.” Perintah Kim Shin, Eun Tak mengangguk mengerti dan meminta maaf.

Kim Shin melihat raut wajah Eun Tak lalu bertanya apa yang sedang dipikirkan, Eun Tak mengatakan "Kanada begitu indah. Aku senang berada di sana. Aku merasa bahagia meski sebentar." Dengan memikirkan hal itu, kemudian teringat akan Kim Shin.
"Dia mengenakan pakaian mahal. Dia bahkan memakai jam tangan yang lebih mahal lagi. Hotel itu nampaknya memang miliknya. Dia memiliki banyak hal...tapi kenapa dia terlihat sedih?" Itulah yang kupikirkan.” Cerita Eun Tak
“Tapi, Kenapa kau berkeliaran seperti itu tengah malam begini?” tanya Kim Shin, Eun Tak mengoda Kim Shin yang penasaran, Kim Shin mengaku tak ingin tahu juga.
“Aku menunggu Bibiku tertidur. Dia sangat sulit bangun kalau sudah ketiduran. Aku akan pulang ke rumah setelah dia tidur, kemudian berangkat sekolah sebelum dia bangun. Dan Dia pergi tidur tengah malam.” Jelas Eun Tak
“Apa Kau berencana berkeliaran mencurigakan begitu sampai lewat pukul dua belas malam?” tanya Kim Shin


Keduanya akhirnya berjalan-jalan bersama, Eun Tak merasa makanan bisa tercerna dengan baik karena  berjalan dengan Kim Shin, Kim Shin mengetahuinya karena Eun Taksudah mengatakannya padanya dan  pasti makan malam sangat banyak.
“Aku tidak ingin kau salah paham.” Ucap Eun Tak, Kim Shin mengingatkan Eun Tak  sudah tiga kali mengatakannya.
“Kau juga tidak harus menemaniku.” Kata Eun Tak, Kim Shin juga ingat Eun Tak sudah berkata seperti itu tiga kali.
Seorang teman berada didekat mobil mengirimkan pesan pada grup. “”Aku baru saja melihat Ji Eun Tak dengan "Sugar Daddy"[sebutan untuk pria dewasa yang menjadi sponsor--transaksi seksual dan material--dengan anak remaja] Pria itu setidaknya berusia 30 tahunan.”
Teman yang lainya merasa Eun Tak sudah gila, lalu minta Foto mereka dan menunjukannya, Teman Eun Tak ingin mengambil foto saat Eun Tak tepat lewat didepanya, tapi saat itu pintu mobil didepanya terbuka membuatnya terjatuh. Ketika akan marah dan melihat orang yang ada didalamnya kosong, Teman Eun Tak langsung berlari ketakutan. 

Eun Tak berjalan ke pelataran toko dan melihat sebuah restoran denagn pengumuman(Membutuhkan Pekerja Paruh Waktu) saat masuk, seorang wanita cantik  terlihat mempesona di depanya, seperti membuat semua iri dengan kecantikanya. Si wanita yang bernama Kim Sun atau Sunny bertanya apakah mau dibungkus.
“Saya bukan pembeli. Tapi Saya melihat pengumuman di depan kalau di sini membutuhkan pegawai.Apakah pemiliknya ada di sini?” ucap Eun Tak, Kim Sun mengatakan kalau ia pemiliknya.
“Apa Kau murid SMU?” tanya Kim Sun, Eun Tak membenarkan merasa tak percaya kalau Kim Sun itu pemiliknya karena berpikir kalau tadi seperti pelanggan yang begitu cantik.
“Ya. Para pembeli selalu cantik,tapi sudah lama sekali aku tidak melihatnya pembeli seperti itu” ucap Kim Sun memperlihatkan restoran yang kosong.

“Silahkan tanyakan apa pun yang Anda inginkan. Dan Juga,saya akan menerima apa pun persyaratan dari Anda.Saya tidak memiliki tempat tujuan lain.Saat masih berusia 9 tahun,saya kehilangan keluarga saya dan harus menyokong diri sendiri. Saya tidak memiliki kerabat” ucap Eun Tak mencoba untuk memperkenalkan diri.
“Lobak...” kata Kim Sun yang membuat Eun Tak binggung. Kim Sun memberitahu kalau lobak yang mereka miliki sangat aneh.
“Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali pembeli meminta lobak pada kami.” Kata Kim Sun menawarkan snack yang dimakannya, Eun Tak pun menerimanya lalu memakanya.
“Apa kau miskin?” ucap Kim Sun blak-blakan, Eun Tak kaget dan akhirnya menjawab “yah seperti itulah”

Kim Sun menanyakan sekolah Eun Tak apakah ia dikeluarkan dari sekolah, Eun Tak menjawab masih sekolah dan ada di tahun terakhir SMU. Kim Sun melihat Eun Tak itu beruntung karena masih muda lalu bertanya apakah punya rencana ke depan. Eun Tak menjawab tidak. Kim Sun pun memutuskan kalau ini hari pertama bekerja.
Eun Tak melotot tak percaya dan langsung mengucapkan terimakasih dengan berjanji  akan melakukan yang terbaik. Kim Sun mengerti dan menyuruh Eun Tak untuk segera berkerja.  Eun Tak memastikan kalau akan bekerja keras meski tanpa diperintah dan yakin kalau ayam yang dimaksud adalah ayam ini. Kim Sun tahu tapi tidak ingat terakhir kali pembeli memesan ayam.

Eun Tak melihat Pin nama di tempat kerja barunya dengan bangga, lalu mulai memikirkan Kim Shin dengan bertanya apa yang sedang dilakukanya, saat membalikan badan ternyata Kim Shin tak datang walaupun sudah memikirkanya. Eun Tak pun menyalakan batang korek api lalu meniupnya.
“Aku akhirnya mendapatkan pekerjaan dan bosku sangat cantik...” ucap Eun Tak yakin Kim Shin datang, Kim Shin akan mengigit daging steaknya hanya bisa terdiam.
“Apa Kau sedang makan steak mahal ?Lalu kenapa kau tidak mau memberiku uang 5,000,000 won?” keluh Eun Tak
“Bagaimana kalau kau membuat janji bertemu melalui telepon?Kita harus lebih manusiawi.” Kata Kim Shin kesal seperti menganggu saat makan.
“Aku baik-baik saja menggunakan cara seperti ini.” Ucap Eun Tak, Kim Shin menegaskan kalau ia yang  tidak baik-baik saja dam Eun Tak bahkan pernah mempertimbangkan situasinya.
Eun Tak menyalahkan Kim Shin  tidak datang saat memikirkanya, padahal  tidak keberatan bertemu dengan Kim Shin kapan saja, demi masa depan  mereka, lalu kembali menyatakan “Aku mencintaimu.” Kim Shin memilih untuk pergi dengan makan steaknya, Eun Tak pun bisa mencium bau steak yang dibawa oleh Kim Shin. 

Wang Yeo sedang duduk binggung melihat Kim Shin datang dengan cepat berlalu didepanya. Ia pun akan bersiap-siap tidur, tiba-tiba dikagetkan dengan Kim Shin datang ke kamarnya. Kim Shin memperlihatkan gaya pakainya dan menanyakan pedapat Wang Yeo kalau Pakaian ini lebih baik. Wang Yeo tak mengerti.
“Dibandingkan yang sebelumnya.” Ucap Kim Shin, Wang Yeo binggung seperti tak sadar kalau Kim Shin itu sudah berganti pakaian.
“Apakah buku ini cocok dengan pakaian yang aku kenakan?Kurasa, dia akan terus memanggilku.Aku ingin terlihat pintar dan sempurna setiap kali dia memanggilku.” Ucap Kim Shin memperlihatkan dua buku ditanganya, Wang Yeo penasaran siapa yang dimaksud. Kim Shin meminta agar Wang Yeo fokus saja.
“Pikirkan pakaan yang akan kupakai saat pergi keluar.” Perintah Kim Shin, Wang Yeo langsung memberikan dua jempol kalau penampilanya  terlihat baik dan memukau.

“Kalau begitu, ini pasti buruk sekali.” Ucap Kim Shin kembali keluar kamar dan membawa dua CD bertanya apakah Linkin Park atau CD ini
“Aku ingin tampak seperti orang yang mendengarkan segala jenis musik, mulai dari klasik sampai pop.” Kata Kim Shin
Wang Yeo  memberitahu kalau Anak muda belakangan ini, mendengarkan musik melalui ponselnya. Kim Shin kembali membawa dua buah lukisan besar ingin tahu mana yang lebih baik,   Wang Yeo berteriak marah menyuruh Kim Shin keluar dari kamarnya. Kim Shin mengaku kalau mengoleksi jenis lukisan post-modern sampai impresionis.

Kim Shin kembali ke kamar Wang Yeo membuka selimut yang menutupi tubuh temanya, matanya kaget melihat cara tidur Wang Yeo dengan tangan tertelungkup didada seperti orang yang sudah meninggal.  Wang Yeo kesal karena menurutnya cara tidur paling nyaman buatnya.
“Jangan melakukannya. Memangnya kau tidur di peti mati? Apa Kau mau kutambahkan bunga sekalian?” ucap Kim Shin ingin menarik tanganya.
“Biarkan aku tidur! Aku akan membunuhmu.” Teriak Wang Yeo tak bisa lagi menahan amarahnya. 

Esok harinya, Wan Yeo terbagun dengan selimut bunga-bunga. Kim Shin sudah ada di dapur melihat Wang Yeo datang bertanya apa yang sedang dilakukanya. Wang Yeo  mengatakan kalau Cuciannya sudah kering. Kim Shin mengejek agar Wang Yeo Bersenang-senanglah.
“Celana dalam Goblin sangat kuat.... Begitu elastis dan kuat.” Ucap Wang Yeo sambilm menyanyi menarik-narik celana dalam Kim Shin, Kim Shin berteriak agar menghentikanya.
“Memangnya ini lagumu? Bukan, kan?” Entah kenapa aku begitu menyukai lagunya. “Celana dalam Goblin kotor... berbau dan kotor...” ucap Wang Yeo sengaja menyanyikan lagi dengan menutup hidungnya.

Kim Shin terlihat marah karena sudah memperingatkanya. Wang Yeo heran kenapa Kim Shin perlu memakai celana dalam, lalu berdiri mendekati Kim Shin didepan pintu bertanya-tanya  Kenapa mereka membuat nyanyian seperti itu. Kim Shin dengan mata mendelik kalau bukan seperti itu.
“Apa yang sudah kau lakukan pada mereka sampai membuat lagu tentang celana dalam milikmu? Apakah kau... sungguh jantan?” ejek Wang Yeo
“Kubilang, hentikan!” teriak Kim Shin marah 


Berita Di TV disiarakan “ Angin topan yang tidak terprediksi terjadi di Seongbuk-dong, menimbulkan ketidaknyamanan pada masyarakat.” Duk Hwa masuk kamar Kim Shin menanyakan keadaannya, dengan memberitahu kalau  Angin topan baru saja terjadi di Seongbuk-dong. Kim Shin seperti tak berdaya hanya berbaring di tempat tidurnya, Duk Hwa binggung melihat Kim Shin seperti itu. Kim Shin memanggil Duk Hwa
“Ya, katakan. Apakah terjadi sesuatu yang buruk?” kata Duk Hwa penasaan
“Sebelum aku menceritakan yang terjadi padamu, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu dulu. Tentang rahasia keluargamu, dan juga takdir tragis-ku. Jangan terlalu kaget. Aku sebenarnya...” kata  Kim Shin langsun disela oleh Duk Hwa
“ Goblin? Atau yang lain?” kata Duk Hwa, Kim Shin kaget mendengarnya bertanya sejak kapan Duk Hwa  mengetahuinya
“Sejak umur 8 tahun. Aku sudah curiga sejak aku berusia 6 tahun. Setiap kali mabuk, kau selalu membuat emas dan barang mewah lain untukku. Apa Kau lupa?” ucap Duk Hwa 
Flash Back
Kim Shin yang mabuk terlihat memegang pedang, didepanya sudah ada tumpukan emas. Duk Hwa melihatnya lalu bertanya apakah ia boleh memiliki satu batang saja. Kim Shin mengatakan Tidak boleh. Duk Hwa hanya bisa mendengus kesal.

“Sejak saat itu, aku tahu kau tidak mungkin benar-benar pamanku. Bahkan sekarang.... Kau selalu seperti ini. Mana mungkin aku tidak menyadarinya? Kau harus berhati-hati. Kau mungkin akan membuat kesalahan di luar rumah nanti.” Ucap Duk Hwa melihat Kim Shin yang duduk melayang diudara.
“Kau bilang... kalau kau tahu bahwa aku Goblin sejak usiamu 6 tahun? Meskipun begitu, apa kau tetap bicara kasar padaku?” ucap  Kim Shin, Duk Hwa membenarkan tapi akhirnya mengubah jawaban jadi tidak dan petir pun terlihat dari jendela kamar. 
Berita kembali disiarkan “Topan hari ini hanya melanda satu wilayah. Pemirsa pasti terkejut. Badan meteorologi hanya memprediksikan hujan lebat di sebagian wilayah Seoul dan Gyeonggi. Jalanan akan menjadi licin, maka lalu lintas pun akan terganggu."
Reporter Lee pun memberikan laporanya “Bahkan hujan yang lebih deras turun di seluruh area Seongbuk-dong dan masyarakat pun kebingunan.Demi meminimalisir kemacetan lalu lintas yang diakibatkan olehnya,polisi menyarankan masyarakat untuk menggunakan transportasi umum.”
Kim Sun melihat keluar jendela kalau hujan turun dengan deras tapi menurutnya itu bagus. Eun Tak sedang mengelap meja bertanya apa bagusnya dengan turun hujan, karena mereka jadi tidak punya pembeli.
“Sekalipun tidak hujan, kita memang tidak punya pembeli. Bagaimanapun juga, kita tidak akan memiliki pembeli. Jadi, lebih baik hujan saja.” Ucap Kim Sun, Eun Tak mengaku tidak punya payung.
“Aku punya banyak. Kau bisa memakai satu. Aku terlalu malas untuk membawanya pulang Dan, pastikan tidak perlu membawanya kembali kemari.” Kata Kim Sun, Eun Tak melihat ada banyak payung tak percaya boleh membawanya dan bisa mendapatkan sebuah payung.
“Apa ini pertama kali kau melihat payung?” ejek Kim Sun, Eun Tak mengucapkan terimakasih,
“Aku juga berharap mendapatkan sebuah payung untuk pelindungkehidupanku” ungkap Kim Sun berharap banyak. 

Kim Sun kembali makan snacknya tapi seperti sudah tak renyah, Eun Tak ingin membuatkan yang baru. Kim Sun  menolak karena sudah hafal rasanya jadi terlalu malas untuk makan sesuatu. Eun Tak bertanya apakah Kim Sun akan pergi.
“Dialog itu seharusnya diucapkan bos, Nona Pekerja Paruh Waktu. Saat aku tidak ada, santai saja dan tidak perlu bekerja.” Kata Kim Sun melepaskan celemeknya.
“Mana boleh seorang pegawai bersantai hanya karena bosnya tidak ada? Aku justru harus bekerja lebih keras saat tidak diawasi.” Pikir Eun Tak
“Kalau kau seperti itu, maka bos tidak akan tahu kau sudah bekerja keras. Jadi Bersantailah saja.” Pesan Kim Sun, Eun Tak memuji Kim Sun memang  sangat keren.

Kim Sun pergi ke peramal dan terlihat binggung melihat foto yang ada didekatnya. Si peramal memberitahu kalau mereka tiga bersaudara dan ia yang bungsu, lalu bertanya apa yang ingin diketahui Kim Sun sekarang. Kim Sun pikir sebagai peramal seharusnya mencoba menebaknya. Peramal pikir  Segala sesuatu tidak berjalan lancar.
“Aku tidak akan datang kemari kalau semuanya baik-baik saja. Aku pasti akan sibuk menghitung uang.” Kata Eun Tak dengan menopang dua tangan didagunya.,
“Astaga. Kau tidak memiliki keberuntungan, baik dengan suami maupun anak-anak. Kau memiliki keserakahan akan wisata dan makanan lezat...” kata Peramal

“Aku tahu. Aku ditakdirkan untuk memiliki semua kegilaan itu. Aku bahkan serakah soal kehidupan. Aku semestinya berhenti menjadi serakah, kan?” kata Kim Sun
“Kau dilahirkan dengan takdir kesepian. Kau sebatang kara tanpa kerabat.” Ucap peramal, Kim Sun binggung siperamal bisa mengetahuinya.
“Kehidupanmu layaknya perahu layar di lautan.” Ucap siperamal, Kim Sun berharap ada di perahu itu bersama seorang pria tampan.
“Aku melihat adanya seorang pria dalam kehidupanmu. Seorang pria bertopi, Topi koboi hitam.” Ucap si peramal. Kim Sun berharap  pria bertopi itu berwajah tampan.


Wang Yeo membawa sebuah topi hitam dan akan berjalan keluar, Kim Shin melihatnya bertanya kemana Wang Yeo akan pergi. Wang Yeo  memberitahu kalau akan pergi ke tempat laundry, dengan memperlihatkan label di topinya kalau hanya bisa di dry clean. 
“Aku selalu teringat ide luar biasa di balik topi itu. Kau kelihatan lucu memakainya saat mencabut nyawa.” Ucap Kim Shin
"Jangan mencari kematian. Kematian yang akan menemukanmu." Itu ide di balik topi ini. Orang mati mengenaliku hanya saat aku menggunakannya. Topi ini menyembunyikanku dari para manusia.” Kata Wang Yeo bangga
“Aku senang kau tidak tampak di mata manusia. Wajahmu juga tidak terlalu tampan. Hati-hati.” Kata Kim Shin mengejek, Wang Yeo memilih untuk tak membalasnya lalu pergi. 

Kim Shin duduk di dengan memegang buku, seperti sudah siap-siap apabila nanti akan di panggil oleh Eun Tak nanti. Sementara Eun Tak sedang sibuk memasukan daun maple pada selembar plastik, temanya berpikir akan melaminating nanti. Eun Tak mengeluh Temanya itu hidup di abad berapa, menurutnya Ini sudah cukup bagus.
“Coba Lihat siapa yang sedang bicara? Siapa yang melaminasi daun di jaman seperti ini?”balas temanya.
“Orang yang akan menerimanya juga kuno, jadi tidak masalah.” Balas Eun Tak, temannya makin penasaran siapa yang dimaksud dan berpikir Eun tak sudah punya kekasih.
“Hei. Aku tidak punya kekasih. Dia membantuku mendapat pekerjaan. Jadi, aku berterima kasih padanya.” Kata Eun Tak
“Bagaimana kalau saat menerima itu dia menjadi salah paham?” kata temanya
“Dia selalu mengingkari keberadaanku, jadi dia tidak akan salah paham.” Ucap Eun Tak 

Eun Tak kembali meniup api untuk memanggil Kim Shin, lalu membalikan badan dan ingin memberikan hadiah, tapi matanya melotot kaget melihat sosok yang tak ingin dilihatnya. Wang Yeo datang sebagai malaikat kematian, Eun tak panik berpura-pura kalau syalnya tertinggal dan akan pergi.
“Itulah yang kupikirkan. Kau bisa melihatku. 10 tahun lalu, kau bisa melihatku. Sekarang pun seperti itu.” Ucap Wang Yeo, Eun Tak berpura-pura tak melihat akan pergi ke tempat kerjanya dan berharap agar Kim Sun tidak mengunci pintunya.
“Kau tidak akan bisa menipuku. Aku tahu kau bisa melihatku. Dan, tidak ada seorangpun yang melindungimu saat ini, di sini.” Ucap Wang Yeo mengikuti kemana Eun Tak akan pergi.
“Aku tahu kalau kau sudah tahu.” Kata Eun Tak berani menatapnya.
“Kau sudah pindah. Jadi, aku mencarimu kemana-mana selama 10 tahun. Akhirnya, aku menemukanmu.”ucap Wang Yeo
“Kalau begitu, kau semestinya tidak perlu susah payah mencariku. Dalam kehidupan ini, kita menyebutnya "stalking ".  Apa Kau tahu? Aku akan mengajukan tuntutan padamu. Kau bahkan tidak memiliki namaku dalam daftarmu.” Kata Eun Tak berani melawan
“Kau salah satu roh yang hilang. Sulit sekali mengumpulkan dokumen-dokumennya selama 19 tahun ini.” Jelas Wang Yeo
Eun Tak pun bertanya apa yang akan terjadi padanya sekarang, apakah ia akan mati. Lalu memberitahu kalau baru berusia 19 tahun. Wang Yeo memberitahu aklau Orang bahkan bisa mati di usia 9 atau 10 tahun. Itulah kematian yang tidak mengenal batasan usia, lalu memberitahu siapa yang ada bersama  Eun Tak saat ini. 


Eun Tak melihat Kim Shin yang ada didekatnya, lalu berlari menutupi mata dengan tangan tanganya meminta agar tak menatapnya, karena Wang Yeo itu Malaikat Kematian bahkan tidak boleh berkontak mata dengannya. Kim Shin menurunkan tanganya. mengatakan tak perlu karena mereka sudah pernah bertemu.
“Kau pasti sedang bekerja.” Ucap Kim Shin menyapa teman satu rumahnya.
“Ya, tapi aku tidak mengerti apa yang sedang kau lakukan.” Kata Wang Yeo dingin
“Aku ikut campur dalam kehidupan dan kematian seorang manusia.” Balas Kim Shin, Wang Yeo sudah tahu dan merasa kalau Kim Shin sudah melakukan kesalahan besar.
“Gadis ini semestinya sudah mati 19 tahun lalu.” Kata Wang Yeo, saat itu bunyi petir kembali terdengar. Wang Yeo kembali menyebutkan kalimat yang sama dan kembali suara petir terdengar, Eun Tak terlihat binggung.
“Apakah aku terlihat seperti ingin mendengarkan sebuah penjelasan?” kata Kim Shin
“Bukankah kau diajari untuk memperhatikan saat Goblin bicara serius? Berhati-hatilah. Mungkin saja muncul keinginan dalam diriku untuk bermain dengan kehidupan dan kematianmu.”Gumam Kim Shin memberitahu dalam hatinya, Eun Tak yang ketakutan mengajak Kim Shin pergi saja karena dengan begitu memiliki jalan keluar. Tangan Eun Tak kembali ditarik agar tetap dekat dengan Kim Shin.
Kim Shin mengatakan tetap saja disini karena Wang Yeo tidak akan bisa membawanya. Eun Tak memberitahu kalau Wang Yeo sudah mencarinya  selama 10 tahun terakhir.Kim Shin mengatakan Tidak akan terjadi apa pun meskipun Wang Yeo mencarinya selama 100 tahun karena  Tidak ada Malaikat Kematian yang dapat membawa gadis yang ingin menikahi Goblin yang terlebih, yang tidak ada dalam daftar kematiannya. Wang Yeo bisa menyimpulkanya.
“Ya, benar. Aku.... Aku mempelai wanita Goblin yang terkenal. Apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa Kau tetap akan membawaku?” ucap Eun Tak dengan nada penuh amarah.
“Aku jadi terlihat seperti pria jahat di sini. Bagaimanapun juga, aku harus membereskan segalanya dulu. Kita bicara dan bertemu lagi nanti. Mungkin, kita akan saling berjumpa lagi seperti ini, atau bahkan membuat kesepakatan di lain waktu.” Kata Wang Yeo lalu berjalan pergi dengan menutupi wajahnya mengunakan topinya, Eun Tak yang ketakutan memegang erat lengan Kim Shin.
Bersambung ke part 3


FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar