Minggu, 11 Desember 2016

Sinopsis Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 8 Part 1

PS : All images credit and content copyright :MBC

Bok Joo kaget dengan Si Ho yang langsung merampas ponselnya, Si Ho dengan nada melotot meluapkan marahnya karena Bok Joo terus menghubungi Joon Hyung dan bertemu dengannya, padahal menyukai orang lain.
“Kenapa kau terus mengganggu Joon Hyung?” ucap  Si Ho melotot marah, Bok Joo binggung dianggap menganggu.
“Aku yang meninggalkan jurnal dietmu...di tempat latihanmu.” Ucap SI Ho, Bok Joo kaget itu artinya Si Ho sengaja menaruhnya.
“Ya, akulah yang melakukannya.Kenapa?” ucap Si Ho merasa tak bersalah, Bok Joo binggung kenapa Si Ho bisa melakukan itu padanya.
“Aku kesal dan marah karenakau dekat dengan Joon Hyung.Aku sudah mengatakan padamu kalau aku  ingin kembali bersama dengannya.Apa kau tidak tahu kalau itu adalah peringatan?Kapanpun aku ingin bersama dengannya, tapi kau selalu bersamanya.Kau bilang kau menyukai orang lain.Apa kau senang berkencan dengan siapapun?” ucap Si Ho menuduhnya.

“ Hei, dengar... Aku tidak seperti itu....Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk berkencan dengan Joon Hyung!Selain itu, dia juga tidakmenganggapku menarik.Kenapa dia harus menyukaikupadahal dia sangat populer?”kata Bok Joo dengan nada tinggi melawanya.
“Kalau begitu...apa itu hanya kesalah pahamanku?” ucap Si Ho, Bok Joo membenarkan dan merasa kalau seharusnya meminta maaf karena berpikir seperti itu.
“ Tidak, aku tidak mau meminta maaf.Joon Hyung melukai perasaanku karenamu.” Ucap Si Ho
Bok Joo menegaskan kalau itu dikarenakan oleh Si Ho sendiri bukan karena dirinya, lalu mengejek Si Ho yang terlihat sangat agresif jadi bisa mengerti alasan Joon Hyung tak menyukainya. tidak ingin kembali bersamanya dengan mengumpat kalau Si Ho memang  bermuka dua. Si Ho merasa tak tahu apapun tentang hubunganya dengan Joon Hyung.
“Yah.. Kau benar. Aku tidak tahu... Aku juga tidak tertarik. Jadi  Biarkan aku pergi. Aku tidak ingin bicara denganmu dan akan tidur di tempat lain.” Tegas Bok Joo
“Itu adalah hal yang serius diantara kami dan Itulah kenapa Joon Hyung merasa terluka.” Ucap Si Ho menahan Bok Joo keluar, Bok Joo tak peduli menyuruh Si Ho melepaskan tanganya.
“Hei... Beraninya kau meremehkan hubungan kami?” ucap Si Ho marah
“Akulah yang seharusnya marah. Lepaskan aku!” kata Bok Joo lalu hanya mengoyankan lenganya membuat Si Ho jatuh tersungkur. Si Ho pun hanya bisa menangis setelah Bok Joo keluar dari kamar. 



Sun Ok masih merajuk dengan hanya diam saja ditempat tidurnya, Nan Hee memcoba mejelaskan kalau ia tidak sedang mencoba mengucilkan dan juga baru tahu beberapa hari lalu. Bok Joo datang meminta agar membiarkan tidur di kamar temanya, Nan Hee binggung kenapa Bok Joo tak tidur dikamarnya saja.
“Aku tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang.Ketika ada kamar yang kosong,aku akan meminta pada penjaga asrama...untuk mengganti kamarku.Sampai saat itu, biarkan aku tinggal disini.” Ucap Bok Joo, Nan Hee menduga Bok Joo  bertengkar dengan Si Ho bahkan meninjunya
“Dialah yang pertama menyerangku.” Kata Bok Joo, lalu mengeluh pada Sun Ok yang tak menyapanya ketika datang, Sun Ok memilih sibuk untuk memainkan ponselnya dan mengacuhkan Bok Joo.
“Apa kau masih marah? Ya, salahkan saja semuanya padaku.” Ucap Bok Joo juga kesal, Nan Hee menenangkan temanya ingin tahu kenapa bisa bertengkar dengan Si Ho. Bok Joo enggan untuk membicarakanya.
Joon Hyung terlihat gelisah menatap ponselnya dan ingin menelp Bok Jo, merasa kalau semua adalah kesalahanya. 


[Episode 8, Angin yang Bertiup]

Nan Hee dan Bok Joo akhirnya berbaring bersama, Nan Hee tak percaya kalau semua yang terjadi dikarenakan oleh ulah Si Ho,  Sun Ok diam-daim di tempat tidur samping mendengarnya dua temanya mengobrol. Bok Joo terlihat sangat marah karena Si Ho ternyata sangat ahli dalam membuat orang membenci dirinya sendiri.
“Dia bahkan tidak merasa bersalah ketika menceritakannya padaku.” Ucap Bok Joo, Nan Hee merasa Si Ho benar-benar burung dan ingin memberikan pelajaranya, Bok Joo langsung menarik temanya untuk kembali tertidur.
“Aku pikir dia berbeda dari pesenam lainnya, tapi dia hanya berpura-pura. Aku tahu dia tidak akan bisa berteman dengan kita. Lagipula, dia seorang pesenam.” Ucap Nan Hee meluapkan amarahnya.
“Apa yang kukatakan padamu? Aku bilang kalau ada sesuatu yang tidak menyenangkan tentang dia.” Kata Bok Joo lalu mengangkat telpnya yang berdering. 


Joon Hyung duduk diatas tempat tidur atap mengucapkan permintaan maafnya pada Bok Joo,  dan berjanjiakan membelikan daging panggang kesukaanya. Ternyata ia hanya berlatih menurutnya itu cara yang tak benar,  lalu dengan cara yang sombong meminta maaf dan akan membelikan daging. Bok Joo akhirnya datang dan Joon Hyung terlihat gugup.
“Kenapa kau meneleponku jam segini? Bagaimana jika penjaga asrama menangkap kita?” kata Bok Joo, Joon Hyung beralasan kalau telp mereka tadi terputus
“Apa sesuatu terjadi?” tanya Joon Hyung melihat wajah Bok Joo yang kesal, Bok Joo meminta agar Joon Hyung membiarkan sendiri  karena tidak ingin menimbulkan kesalah pahaman lagi.

“Apa... Si Ho memberitahumu?” ucap Joon Hyung merasa pasti sudah memberitahunya. Bok Joo merasa tidak berani bicara padanya sekarang. Karena terlalu menyeramkan.
“Aku benar-benar minta maaf tentang apa yang sudah terjadi.” Kata Joon Hyung merasa bersalah
“Yah.. Kau memang harus minta maaf. Ini semua karena kau. Sejak aku bertengkar dengan Si Ho, aku selalu merasa marah dan stress.” Ucap Bok Joo marah, Joon Hyung kembali meminta maaf.

“Ah.. Kenapa dia menyukaimu?” keluh Bok Joo, Joon Hyung dengan bangga kalau dirinya itu menarik di berbagai hal. Bok Joo kesal karena Joo Hyung malah semakin membuatnya marah. 
Joon Hyung melihat penjaga kampus ke bagian atap dan langsung menarik Bok Joo agar berbaring. Penjaga kampus tak bisa melihat kedunya karena tertutup oleh tiang. Bok Joo panik bertanya apakah penjaga sudah pergi, Joon Hyung pikir sudah.
“Jika kita ketahuan seperti ini, orang-orang akan salah paham pada kita. Mantan pacarmu mungkin akan menghajarku, Lebih berhat-hatilah.” Ucap Bok Joo yang tanpa sadar berada di pelukan Joon Hyung.
“Apa kau takut padanya?” ejek Joon Hyung
“Kenapa aku harus takut pada gadis kurus itu? Aku adalah Peri Angkat Besi Kim Bok Joo.” Ucap Bok Joo, Joon Hyung mengaku kalau saat ini menyenangkan, Bok Joo heran kenapa Joon Hyung malah merasa seperti itu karena merasa dingin dan akan pergi.
Joon Hyung menahanya agar bisa sebentar saja berbaring,  lalu menujuk ke atas kalau banyak bintang di langit. Bok Joo pikir itu satelit, lalu mengaku sangat dingin jadi ingin masuk ke dalam. Joon Hyung tetap menahanya agar bisa lebih lama lagi dengan memeluknya.  Bok Joo mengaku hanya memakai syal saja. Joon Hyun mengejek kalau yang dimaksud itu adalah lehernya.
Bok Joo melihat Joon Hyung memakai jaket yang tebal. Joon Hyung pun mengodanya kalau Bok Joo berada dipelukanya dengan membuka lebar jaketnya. Bok Joo menolak lalu melihat batang hidung Joon Hyung yang lebih tinggi membuatnya sangat iri karena setiap memakai kacamata membuat kacmatanya terus merosot.
Joon Hyung melihat kalau Bok Jo ternyata tidak terlalu jelek bahkan cantik. Bok Joo pikir kalau Joon Hyung sedang mengodanya, karena selama ini Tidak ada seorangpun kecuali ayahnya yang pernah mengatakan itu. Joon Hyung tetap mengatakan kalau Bok Joo itu  tidak jelek


Pelatih Choi minum sendirian di dalam ruangan latihan sambil menyanyi-nyai dengan keras, menurutnya  Ketika putus dengan seseorang, dunia rasanya sudah berakhir karena begitulah cinta. Tiba-tiba Pelatih Yoon datang bertanya kenapa rekan kerjanya itu tidak pulang ke rumah?
“Profesor Yoon. Kenapa kau ada datang keruang latihan pada larut malam?” tanya Pelatih Choi kaget dan panik
“Setelah rapat, aku makan malam dengan profesor yang lain. Aku kesini untuk mengambil mobilku.” Kata Pelatih Yoon, Pelatih Choi pun memilih ingin pamit pergi. 
“Kau tidak akan percaya... bagaimana Profesor Choi memamerkan timnya... yang memenangkan semua medali emas.” Cerita pelatih Yoon,  Pelatih Choi tahu pasti pelatih Yoon merasa bosan dan ingin pergi, Pelatih Yoon mengajak untuk pergi bersama, Pelatih Choi menolaknya dan buru-buru pergi.  Pelatih Yoon melihat ada dua kaleng bir yang diminum oleh rekan kerjanya. 

Tim angkat besi mulai pemanasan dengan berlari mengeliling kampus, Pelatih Yoon memberitahu Untuk mempersiapkan kompetisi bulan depan maka akan mulai latihan dengan tingkat kesulitan tertinggi dan menyuruh mereka untuk mulai masuk ruang latihan. Semua terlihat masih terengah-engah masuk ke dalam ruangan. Pelatih Yoo memanggil Pelatih Choi sebelum masuk ruangan.
“Pelatih Choi... Jangan minum sendirian mulai sekarang. Jika itu jadi kebiasaan, maka kau akan ketergantungan alkohol.” Kata pelatih Yoon
“Aku sangat lelah. Jadi  ingin tidur di rumah setelah dua botol bir.” Ucap Pelatih Choi
“Ayo kita minum bersama. Apa kau ada janji malam ini?” kata Pelatih Yoon, Pelatih Choi kaget mendengarnya.
“Apa kau tidak mau minum dengan pria yang perutnya buncit? Aku ingin mentraktirmu.” Ucap Pelatih Yoon melihat reaksinya, Pelatih Choi mengaku tak akan menolaknya dengan senyuman bahagia. 

Pelatih Sung menemui Si Ho memberikan sebotol air minum sebagai hadianya, dan mengatakan sudah mengirim video kompetisi di Moskow ke emailnya jadi meminta agar menontonya  dengan serius karena akan sangat membantunya untuk kompetisi. Si Ho mengucapkan terimakasih.
Sementara di tempat lain, Juniornya merasa kalau pelatih Sung itu  sangat licik karena Setelah kompetisi, memperlakukan Si Ho jauh berbeda dengan sebelumnya bahkan  perhatiannya terhadap Si Ho sudah kembali. Mereka juga menyangkan padahal Soo Bin  murid kesukaannyaakhir-akhir ini. Soo Bin yakin  tidak akan bertahan lama.
“Meskipun kau mengelem mangkuk yang pecah, itu akan segera pecah lagi.” Kata Soo Bin dengan sinis, sementara Si Ho keluar ruangan membuang air minum pemberian dari pelatihnya ke tong sampah karena tahu pelatihnya itu bermuka dua. 

Si Ho keluar dari tempat latihan bertanya-tanya kenapa ibunya  tidak mengangkat telepon lalu melihat adiknya Si Eon sudah ada di kampusnya. Si Eon langsung menangisa memeluk kakaknya, memberitahu kalau  Ibu dan Ayah akan bercerai. Si Ho kaget mendengarnya.
“Mereka terus bertengkar, bahkan Ayah sudah tidak pulang ke rumah lagi. Sepertinya mereka benar-benar akan bercerai kali ini.”ucap Si Eon menangis, Si Ho memeluk adiknya menenangkan kalau semua pasti akan baik-baik saja karena akan mengurus in jadi Jangan menangis.

Si Ho akhirnya menemui ibunya yang sedang berkerja. Ibunya tak percaya kalau Si Eon sudah memberitahu padahal  menyuruhnya untuk tidak memberitahu anak sulungnya. Si Ho dengan nada marah bertanya kapan ibunya akan memberitahu kalau Si Eun tak memberitahukanya. 
“Apa Setelah Ibu menandatangani surat perceraian Atau ketika Ayah dan Ibu sudah bertemu orang lain dan akan menikah lagi? Apa Ibu akan merahasiakan ini dariku selamanya?” teriak Si Ho marah
“Jangan meninggikan suaramu, karena Orang-orang akan mengenalimu.” Ucap Ibu Si Ho panik
“Itu tidak penting sekarang. Aku dengar Ibu menjual rumah kita, dan Ayah sudah lama terlilit hutang.” Kata Si Ho, Ibunya meminta anaknya tak perlu mengkhawatirkan masalah itu  dan juga tentang perceraian mereka karena lebih baik Fokus saja pada latihannya.

“Bagaimana bisa aku tidak khawatir? Kalian orangtuaku... Aku akan berhenti dari dunia senam dan akan bekerja dan mencari uang saja.” Kata Si Ho membuat keputusan
“Siapa bilang kau bisa melakukan itu? Siapa bilang kau bisa berhenti dari senam? Apa kau pikir hidupmu ini hanya milikmu? Itu Salah. Hidupmu adalah bagian dari hidupku juga. Orang-orang menuduhku dan mengatakan aku mengeksploitasi putriku. Aku selalu bertengkar dengan ayahmu setiap hari... dan disalahkan oleh Si Eon. Apa yang akan kau lakukan dengan itu?” ucap Ibu Si Ho juga ikut emosi
“Itulah yang paling membebaniku. Pada Kenyataan kalau hidupku juga adalah hidup Ibu. Kenapa Ibu sangat serakah atas hidupku? Ibu seharusnya menjalani hidup dengan lebih baik. Kenapa Ibu harus memiliki aku dan membuatku melewati ini semua?” kata Si Ho meluapkan amarahnya, Ibu Si Ho langsung menampar anaknya, Si Ho pun memilih untuk pergi. Ibu Si Ho merasa bersalah karena memukul anaknya. 


Nyonya Lee mengeluh Joon Hyung yang datang ke rumah  malam-malam dan meminta memasak kari. Joon Hyung merengek karena  tiba-tiba merindukan kari buatan Ibunya, Nyonya Lee pun memberikan sepiring nasi dengan Kari. Joon Hyung mengaku tidak akan bisa menikah dengan siapapun karena tidak ada yang bisa membuat kari seenak buatan Ibunya.
“Ini adalah trik ibumu dan Aku juga korban.” Kata Tuan Jung mengejek, istrinya lalu menyuruh suaminya  menikah dengan seorang koki saja dan kenapa memilih dengan seorang farmasi
“Hei. aku salah bicara, kan?” bisik Tuan Jung, Joon Hyung pikir seperti itu lalu memberitahu kalau Nyonya Lee datang.
“Ah, kau sangat menyebalkan. Kenapa kau duduk di kursiku?” keluh Nyonya Lee akhirnya harus berusaha payah masuk kursi sampingnya dengan tubuh gemuknya, Tuan Jung merayunya kalau  hanya bercanda lalu bertanya dimana kari untuknya,
“Perutmu sudah obesitas.” Ucap Nyonya Lee, Tuan Jung membalas kalau perut istirnya yang sudah obesitas,  Nyonya Lee menegaskankaalu berhak memakan makanan yang dibuatnya lalu mengajak Joon Hyung untuk terus makan. Joon Hyung hanya diam mendengar keduanya sering saling mengejek. 

Joon Hyung sempat melihat gedung angkat besi sebelum menemui psikiater, memberitahu akan langsung pada hasilnya kalau  ia mengacaukannya. Dokternya panik bertanya apa yang terjadi. Joon Hyung menceritakan ketika mencoba mengontrol pikirannya dengan bernapas, maka ia akan baik-baik saja.
“Aku butuh uang ganti rugi untuk biaya konselingku.” Ucap Joon Hyung menyodorkan tanganya, Sang Dokter merasa tak bisa melakukan itu karena harus bertahan hidup.
“Dengar. Aku akan membelikanmu makanan, jadi Jangan katakan pada siapapun tentang ini. Kenapa kita tidak... memikirkan ini sebagai latihan pemanasan, dan pelan-pelan menyelesaikannya? Aku yakin kita bisa menemukan solusi yang bagus.” Ucap Dokter menenangkanya.
“Jika kita tidak bisa memecahkannya tahun ini, maka aku akan hancur. Aku sudah semakin tua.” Kata Joon Hyung
“Itu benar. Kau harus bisa berhasil saat usiamu sekarang. Don’t worry Be Happy” kata Dokter. Joon Hyung tersenyum mendengarnya.
Dokter lalu membahas ternyata ibu kandung Joon Hyung,  dan bertanya apakah tidak ingin mencarinya. Joon Hyung menjawab tidak mau. Dokter heran karena Joon Hyung itu  pasti penasaran. Joon Hyung pikir pasti punya alasan sendirikarena memutuskan hubungan dengannya, selain itu  merasa bersala pada bibi dan pamannya.
“Apa  Kau pikir itu akan membuatmu  mengkhianati mereka?” ucap Dokter
“Bibiku membesarkanku dengan sepenuh hatinya.” Kata Joon Hyung, Dokter pun bisa mengerti maksud dari Joon Hyung.

“Tapi aku harap... kau akan menghadapi masalah itu. Maksudku, dendammu pada ibu kandungmu, dan perasaanmu yang rumit pada keluarga pamanmu. Seperti rasa terima kasih, rasa bersalah, atau kelelahan karena berpura-pura tidak mengetahui yang sebenarnya. Perasaan-perasaan itu harus bisa tersalurkan setidaknya sekali. Hanya dengan itu kau akan benar-benar bebas dari trauma yang kau miliki.”jelas Dokter, Joon Hyung mengangguk mengerti. 


Bok Joo duduk diatas tempat tidur temanya memikirkan kalau  harus menghubungi Dr. Jung. Nan Hee datang dengan Sun Ok terus mencoba tak marah lagi dengan memberikan sosis, tapi Suk Ok menolaknya ketik melihat Bok Joo duduk diatas tempat tidurnya menyuruhnya untuk segera pindah. Bok Joo pun pindah ke atas tempat tidur Nan Hee.
“Sun Ok. Bisakah kau berhenti ? Aku mohon..  Aku tahu kau terluka, tapi kami tidak melakukan itu dengan sengaja.” Kata Bok Joo
“Kau tidak bermaksud melukai perasaanku, tapi aku yang terlalu berlebihan.” Ucap Sun Ok berbaring diatas tempat tidurnya, Bok Joo mengatakan bukan itu maksudnya.
“Ini semua karena aku berpikiran pendek. Aku minta maaf karena tidak bisa jadi teman yang pengertian, dan tidak memiliki kepribadian yang bisa memuaskan kalian.” Kata Sun Ok sengaja menyindir.

“Hei. Apa kau akan terus bicara begitu?” ucap Bok Joo marah, Nan Hee panik meminta mereka agar tidak meninggikan suaranya karena takut keduanya mungkin akan mulai bertengkar.
“Dia terus berkata sinis.Aku juga kecewa padamu.” Teriak Bok Joo, Sun Ok tak pecaya kalau Bok Joo sekarang malah marah padanya.
“Aku sudah cukup sedih. Apa kau benar-benar harus melakukan ini?” teriak Bok Joo
“Kenapa kau marah pada orang lain karena kesalahanmu sendiri? Apa Kau pikir ini menyenangkan untukku?” teriak Sun Ok tak mau kalah.
Bok Joo berteriak meminta agar menghentikanya, Sun Ok mengaku sudah berusaha tapi tak bisa, terdengar teriakan dari luar yang mengeluh berisk dan menyuruh bertengkar diluar saja. Nan Hee pikir mereka mau  penjaga asrama ketiganya keluar dari asrama. 


Ketiganya akhirnya pergi ke atap, Sun Ok merasa  mereka tak pernah berpikir tentang perasaannya, karena  setelah datang ke Seoul... dan mulai bersekolah, menganggap keduanya seperti saudara Tapi ternyata hanya berhalusinasi.
“Jangan berlebihan hanya karena satu kejadian. Kita semua merasakan hal yang sama. Bok Joo hanya memberitahuku karena aku melihat SMSnya jadi tidak punya pilihan.” Ucap Nan Hee
“Kau harusnya memberitahuku ketika dia ketahuan oleh Pelatih Choi. Kau berpura-pura tidak tahu apapun, dan mengatakan kalau kita harus menunggu karena ini pasti sulit untuk Bok Joo. Kau membuatku terdengar seperti teman yang buruk.” Ucap Sun Ok menyalahkan temanya.
“Itu bukan kesalahan Nan Hee. Aku memintanya untuk merahasiakannya.” Kata Bok Joo membela
“Jadi kenapa kau merahasiakan ini sejak awal?” Ucap Sun Ok, Bok Joo pikir dirinya  tap mau merahasiakannya karena hal ini juga sulit untuknya.

 “Aku sangat ingin memberitahu kalian tentang ini. Tapi bagaimana caranya? Aku tahu melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Kalian adalah temanku, tapi aku tahu kalian akan membencinya. Bagaimana caranya memberitahu kalian? Ini memalukan.” Jelas Bok Joo
“Kenapa memalukan? Kita adalah teman. Jika kau memberitahu kami, kami  akan mengerti. Itulah gunanya teman. Apa hanya itu arti kami untukmu?” kata Sun Ok, Nan Hee setuju dengan temanya.
“Maafkan aku. Aku pikir kalian akan kecewa dan berpikir aku menyedihkan.” Ucap Bok Joo sambilm menangis, Sun Ok melihat Bok Joo yang menangis merasa kalau ia yang harus meminta maaf karena pasti sangat sulit untuknya.
Ketiganya pun berpelukan, Bok Joo berjanji  tidak akan merahasiakan apapun dari mereka lagi. Sun Ok meminta Bok Joo jangan menangis karena merasa menjadi buruk, lalu mengakui kalau orang tuanya menjalankan sebuah motel bukan minimarket. Bok Joo pikir tak ada yang salah dan tak perlu disembunyikan.
“Kalian tidak akan tahu... bagaimana rasanya menyiapkan minuman dan handuk basah untuk pelanggan saat seusia kita.” Ucap Sun Ok sambil menangis
“Aku juga tidak lebih baik. Aku tidak pernah berciuman dengan siapapun.” Akui Nan Hee, Keduanya kembali berpelukan kalau itu bukan masalah karena bisa mencium seseorang nanti. Bok Joo meminta maaf pada temanya, Sun Ok dan Nan Hee meminta Bok Jo jangan memeluknya terlalu keras karena membuatnya jadi kesulitan bernafas. 



Ketiganya makan bersama, Bok Joo meminta Sun Ok agar pelan-pelan karena Pencernaannya bisa terganggu lagi. Nan Hee mengakusudah pernah mengalami radang usus,  tapi tidak pernah terkena gangguan pencernaan dan ketiganya kembali mengatakan “keren” dengan gayanya. Bok Joo merasa bahagia dengan mengatakan kata itu dengan teman-temanya. Nan Hee pun memesan 3 nasi untuk membuat nasi goreng.
“Hei, akhir pekan dimulai dari besok. Haruskah kita merayakannya hari ini?” ucap Nan Hee dengan penuh semangat mengajak temanya minum.
“Hei.. Apa yang akan kau lakukan pada kami kali ini? Selian itu Bok Joo ada latihan khusus.” Kata Sun Ok, Nan Hee sadar kalau Bok Joo   tidak akan bisa mendapat hari libur untuk beberapa waktu ke depan.
“Pelatih Choi dan Profesor Yoon  juga tidak mendapat libur, jadi aku harus melakukan yang terbaik.” Kata Bok Joo
“Kalau begita bagaimana kalau kita pergi ke tempat karaoke? Aku tahu kalau kau merasa super stress karena Si Ho.” Ucap Nan Hee
Sun Ok mengingat tentang Si Ho karena sudah mendengar sebelumnya, tapi ingin memberi rubah licik itu pelajaran. Bok Joo pikir Sun Ok tidak perlu menumpahkan darah kotor itu di tangannya, karena lebik baik mereka makan dan juga pergi ke tempat karaoke karena ia yang akan membayarnya. Keduanya pun menjerit bahagia. 

Pelatih Choi memakain lipstik dan juga bedaknya didepan gedung, Pelatih Yoon datang bertanya apakah mereka harus makan atau minum. Pelatih Choi pikir tidak akan punya cukup tempat untuk minuman jika mereka makan malam dulu. Pelatih Yoon mengejek memangnya berencana minum berapa banyak. Keduanya pun berjalan meninggalkan gedung tim angkat besi.
“Aku akan jujur padamu, Aku ini sangat ringan dibandingkan denganmu.” Kata pelatih Yoon
“Tidak, jangan katakan itu. Aku tidak cepat mabuk hanya karena mencoba tetap waspada.” Ucap Pelatih Choi, pelatih Yoon merasa kalau rekanya itu akan minum sepuasnya.
Pelatih Choi mengelak, lalu terdengar suara ponsel Pelatih Yoon yang berdering. Istri Pelatih Yoon menelp, pelatih Yoon terlihat kaget dengan sedikit memarahi kalau melarang tidak boleh menyetir saat malam karena bukan seorang pengemudi yang berpengalaman lalu mengatakan akan segera datang dan Jangan menangis.
“Apa itu Istrimu?”tanya Pelatih Choi mencoba untuk tak terlihat kecewa.
“ Ya. Dia baru saja kecelakaan. Maafkan aku. Sepertinya aku harus langsung pergi menemuinya.” Kata pelatih Yoon dan berjanji akan mentarktirnya nantu.
“Jangan khawatir. Kau harus segera pergi.” Ucap pelatih Choi menutupi rasa kecewanya, pelatih Yoon pun bergegas pergi.
“Apa aku hanya menyukai sifatnya Atau aku masih memiliki perasaan padanya?” ucap Pelatih Choi merasa binggung dengan dirinya. 


Sementara Bok Joo dan kawan-kawan bersenang-senang dengan menyanyi dalam karaoke. Ketiganya akhirnya kelelahan dan duduk didalam ruang karaoke. Bok Joo mengeluh pada Nan Hee yang terus menari dengan gerakan yang salah. Nan Hee membela diri kalau itu adalah ciri khasnya. Bok Joo tak ingin memperdulikanya.
“Ngomong-ngomong... aku terkesan dengan tarian Bok Joo.” Ucap Sun Ok, Bok Joo tersenyum bahagia mendengarnya.
“Hei.. teman-teman. Sepertinya waktu kita hanya 2 menit lagi.” Kata Sun Ok, semua pun terlihat panik dan seperti bergegas pergi.

Tapi Bok Joo hanya melonggokan kepala di depan pintu memanggil Bibi pemilik tempat karaoke memohon agar  memberikan bonus tambahan waktu karena sudah hampir habis. Si bibi mengaku sudah memberikan tambahan waktu 10 menit. Bok Joo merayunya kalau sering datang ke tempat itu.
“Ahh..  Tunggu sebentar. Apa yang kau lakukan pada kulitmu? Kulitmu bersinar. Sesaat, kukira usia kita sama.” Ucap Bok Joo memuji
“Baiklah. Aku akan memberikan tambahan waktu 15 menit. Apa Kalian puas?”kata Bibi.
Bok Joo pun memuji si bibi memang keren, si bibi mengucapkan salam pada ayahnya dengan mengeluh kalau tidak pernah membayar ayam sisa. Bok Joo pun berjanjia akan memberitahu ayahnya, lalu mereka pun semua bersenang-senang dengan menyanyikan “fantasic baby – big bang”
Sementara di ruangan depan terlihat Si Ho yang duduk sendirian dengan lagu yang diputar dan menangis dengan kekacauan yang dialaminya sekarang. Teringat dengan perkataan ibunya “Siapa bilang kau bisa keluar dari senam indah? Apa kau pikir hidupmu hanya milikmu? Itu Salah. Hidupmu adalah bagian dari hidupku, juga. Aku sudah bertengkar dengan ayahmu setiap hari.. dan Si Eon selalu menyalahkanku. Apa yang akan kau lakukan dengan itu?” 

Dae Hoo sedang minum sendirian lalu melihat Pelatih Choi yang datang sendirian, lalu bertanya kenapa datang sendirian. Pelatih Choi dengan sinis berpikir apakah tidak boleh sendirian dan harus selalu bersama orang lain, lalu melihat Dae Ho sudah sudah minum 1 sampai 2 botol dan memesan semangkuk sup dan sebotol soju.
“Kau terlihat sedikit berbeda hari ini.” Ucap Dae Hoo menatap wajah pelatih Choi.
“Make up-mu berantakan... Sepertinya kencanmu gagal. benar, kan?” kata Dae Hoo mengejek, Pelatih Choi menahan amarahnya karena Dae Ho tak membawakan pesananya.
“Aku baru menaruhnya di oven dan harus memanaskannya dulu.” Ucap Dae Hoo akhirnya mengambil  semangkuk sup dan Soju lalu kembali duduk.
Pelatih Choi mengeluh Dae Hoo yang duduk didepanya, Dae Hoo menegaksan kalau itu tadi kursinya dan menurutnya tak masalah karena bukan duduk di pangkuan Pelatih Choi.  Lalu mengaku kalau merasa kasihan pada pelatih Choi yang minum sendirian jadi ingin menemaninnya.
“Apa kau biasanya seberisik itu?” ucap Pelatih Choi sinis, Dae Hoo mengeluh kalau Pelatih Choi itu selalu tak mau mengalah dan menyuruhnya agar Jangan minum terlalu banyak.
“Aku biasanya minum sampai tidak kuat lagi” kata Pelatih Choi, Dae Hoo pun tak peduli dan keduanya minum berbotol-botol soju. 
Dae Hoo sedang minum sendirian lalu melihat Pelatih Choi yang datang sendirian, lalu bertanya kenapa datang sendirian. Pelatih Choi dengan sinis berpikir apakah tidak boleh sendirian dan harus selalu bersama orang lain, lalu melihat Dae Ho sudah sudah minum 1 sampai 2 botol dan memesan semangkuk sup dan sebotol soju.
“Kau terlihat sedikit berbeda hari ini.” Ucap Dae Hoo menatap wajah pelatih Choi.
“Make up-mu berantakan... Sepertinya kencanmu gagal. benar, kan?” kata Dae Hoo mengejek, Pelatih Choi menahan amarahnya karena Dae Ho tak membawakan pesananya.
“Aku baru menaruhnya di oven dan harus memanaskannya dulu.” Ucap Dae Hoo akhirnya mengambil  semangkuk sup dan Soju lalu kembali duduk.
Pelatih Choi mengeluh Dae Hoo yang dudu didepanya, Dae Hoo menegaksan kalau itu tadi kursinya dan menurutnya tak masalah karena bukan duduk di pangkuan Pelatih Choi.  Lalu mengaku kalau merasa kasihan pada pelatih Choi yang minum sendirian jadi ingin menemaninnya.
“Apa kau biasanya seberisik itu?” ucap Pelatih Choi sinis, Dae Hoo mengeluh kalau Pelatih Choi itu selalu tak mau mengalah dan menyuruhnya agar Jangan minum terlalu banyak.

“Aku biasanya minum sampai tidak kuat lagi” kata Pelatih Choi, Dae Hoo pun tak peduli dan keduanya minum berbotol-botol soju. 

“Aku benar-benar minta maaf, Sunbaenim.” Ucap Pelatih Choi, Tuan Kim pikir tak mengkhawatirkan itu.
“Kau bisa tinggal di tempatku ketika kau mabukAku membuat sup tauge untuk obat mabukmu..” Kata Tuan Kim menyuruhnya untuk duduk. Pelatih Choi menolak karena tak mau membebaninya.
“Hei... Aku bangun pagi untuk membuatkanmu sup ini.” Kata Tuan Kim dan menyuruhnya duduk.
Dae Hoo keluar kamar sambil menguap lebar dan kaget melihat Pelatih Choi ada didepanya. Keduanya tampak gugup. Tuan Kim meminta mereka duduk karena sudah membuatkan sup untuk mereka. 
Keduanya terlihat gugup duduk didepan meja, Pelatih Choi akhirnya memberanikan diri bertanya Apa sudah membuat kesalahan tadi malam. Dae Hoo pikir kenapa Pelatih Choi harus bertanya tentang hal itu. Pelatih Choi panik karena berpikir kalau terjadi sesuatu diluar kendalinya.
“Aku juga pingsan saat sedang minum bersamamu, jadi...” kata Dae Hoo tak ingin membahasnya dengan mengeuh kalau sup yang dibuat kakaknya itu rasanya seperti soju. Pelatih Choi terlihat bisa bernafas lega dan makan dengan lahap.
Sementara Dae Ho menerawang dengan mengingat kejadian semalam, keduanya sudah minum banyak lalu bermain batu, gunting keras dan beberapa kali Dae Hoo kena pukulan karena kalah, Tapi diakhir seperti memberikan ciumanya. Dae Hoo mengingat semuanya bisa tersenyum bahagia.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar