Senin, 23 Oktober 2017

Sinopsis The Package Episode 4 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Ma Roo berjongkok melihat So So yang menangis sambil berjongkok di dalam gereja.
“Aku perlu tahu, Apa dia tersenyum atau menangis. Aku harus melihatnya sebelum aku pergi.” Ungkap PM
Flash Back
“Aku harus segera menemukannya. Aku tidak punya waktu. “ ungkap PM menyakinkan Direktur lalu bergumam kalau akan lebih baik jika tidak mengingatnya
Di saat SMA, PM melawan beberapa pria dan terlihat sangat berani sampai akhirnya polisi datang dan membawanya kantor polisi.

“Aku memiliki seseorang di sisiku, tidak peduli apa yang terjadi.” Gumam PM lalu melihat seorang wanita masuk, ia mengatakan kalau bukan wanita itu.
Si wanita khawatir melihat PM melihat keadaanya lebih dulu, lalu So So datang. PM menganggap So So sebagai Juru selamat dan pahlawan, bahkan Pilar hidupku. So So melihat adiknya terlihat sangat marah karena sudah memperingatakan agar jangan berkelahi.
“Sudah ku katakan, mereka memulainya lebih dulu!” ucap Adik So So. So So pikir adiknya tidak merasa menyesal.
“Ahjushi, aku butuh pistolmu.. Cepat Berikan padaku!” ucap So So sudah tak tahan lagi. Adiknya menarik kakaknya agar tak melakukanya.
“Kau tidak merasa buruk atas apa yang kau lakukan!” teriak So So marah. Adiknya mengaku kalau ia sekarang  merasa buruk!

“Dia adalah pilar hidupku dan juga kuat. Aku hanya bisa mengandalkannya.” Gumam adik So So  
Ketiganya keluar dari kantor polisi, Adik So So meminta pada kakaknya agar Jangan beritahu Ibu dan Ayah. So So hanya melirik sinis.
“Noona-ku.. Bahkan ketika aku berbohong tentang perjalanan sekolah untuk pergi berlibur dengan pacarku...”
So So mengantar keduanya ke halte bus, Adiknya meminta jangan bilang pada Ibu dan Ayah. Pacar adiknya juga meminta agar tak memberitahu orang tuaku juga. So So hanya bisa menendang kaki adiknya karena kesal.

“Bahkan saat dia membuat rapor bohongan.”
So So sibuk didepan komputer menganti nilai jadi A dan Adikknya tetap meminta agar jangan bilang pada Ibu dan Ayah. So So pergi ke sebuah bengkel mobil dengan bagian depan yang hampir lepas.
“Dan saat aku mengalami kecelakaan dengan mobil Ayahku.”
Adiknya kembali mengulangi perkataan untuk tak memberitahu ayah dan ibunya. So So menahan kesal melihat tingkah adiknya. 

“Dia setia Dan dia juga keras kepala.”
So So memberitahu kedua orang tuanya ingin pergi keluar negeri. Adiknya seperti baru bangun melihat kakaknya yang bersikukuh ingin pergi keluar negeri. Ibunya tahu anaknya hanya ingin pergi dengan pacarnya yang berengksek. Ayahnya terlihat sangat marah.
“Alasannya sempurna. Dia dalah Ratu atas penalaran. Apa itu ungkapan yang tepat?” gumam adik So So 

Keduanya pergi ke tempat bermain air dan adiknya mengambil foto dengan sang kakak. Keduanya benar-benar terlihat sangat akrab. Adiknya bertanya apakah pria itu yang ditakdirkan untuk bersama kakaknya. So So mengatakan tidak.
“Bukan itu? Kupikir peramal keberuntungan memberitahumu tentang takdirmu.” Kata Adik So So 
“Takdir itu tidak ada di dunia ini. Takdir adalah apa yang aku pilih untuk masa depanku. Aku berangkat besok.” Ucap So So. Adiknya kaget mendengarnya.
“Jika dia tidak mengatakan itu..” gumam Adik So So. So So mengikuti ucapan adiknya agar tidak memberi tahu Ibu dan Ayah.
“Jika aku tidak mendengarnya...”

Direktur melihat adiknya sangat frustasi dan Seharusnya memberi tahu keluarganya tapi malah merahasiakannya. Adik So So mengaku aklau percaya pada kakaknya. Direktu pikir itulah alasan adik So So bisa jatuh, dengan mengibaratkan  Yesus mati karena ditusuk dari belakang oleh muridnya Meski, dia kembali hidup.
“Tapi dia masih Noona-ku. Noona-ku tidak akan pernah menjadi hal buruk bagiku.”ungkap adik So So yang sangat menyayangi kakaknya. 

[Episode 4- Semuanya akan berhasil, selama Kau tidak mengacaukannya lagi.]

Ma Roo telihat gugup akan menepuk So So atau tidak, sampai akhirnya So So berhenti menangis mengangkat wajahnya. Ma Ro memberitahu aklau a sudah datang dan bertanya apakah sudah selesai menangis. So So menatap Ma Roo dengan wajah sedikit kaget lalu bertanya  Kapan datang ke tempat itu.  Ma Roo mengaku kalau Sebelum So So mulai menangis.
“Situasi dan perasaan ini... Aku lega. Aku tidak sendiri. Aku merasa ada seseorang yang memegangku. Tapi... Aku sangat malu.” Gumam So So membayangkan dirinya yang akan terjatu dari tebing. 

Posisi badan So So ada dibawah dan kakinya di pegang oleh Ma Roo, melihat Ma Roo menatap bagian bawah dalam bajunya menyuruh agar pergi saja, Ma Roo memalingkan wajah mengatakn akan pergi. Tapi So So yang tak bisa melakukan apapun meminta agar jangan pergi.
“Oke, Tidak akan.”kata Ma Roo tetap memang kaki So So agar tak terjatuh.
“Aku menyuruhmu pergi.” Kata So So yang serba salah dengan posisinya.  

“Jangan tinggal di sini, tapi jangan pergi juga.” Gumam So So lalu akan pergi dan ingin memegang Ma Roo untuk membantunya.
Tapi Ma Roo malah menghindari tubuhnya agar So So tak menyentuhnya. So So yang terlalu lama berjongkok akhirnya terjatuh. Ma Roo panik menanyakan keadaan So So yang terjatuh.
“Aku minta maaf. Aku memiliki respon yang bagus. Aku seorang atlet.” Ucap Ma Roo.
“Jika kau memiliki respon yang bagus, bukankah kau harusnya menangkapku? Kau menghindariku sehingga bisa menyelamatkan diri.” Keluh So So kesal dan berdiri sendiri. Ma Roo meminta maaf.
“Aku akan menangkapmu lain kali.” Kata Ma Roo ikut berjalan mengikuti So So
“Tidak apa-apa. Aku tidak mempercayai pria.” Kata tegas So So
“Kenapa kau tidak mempercayai pria?” tanya Ma Roo
“Pria bukan orang yang bisa kau percaya.” Jawab So So.
“Temanku menceritakan sesuatu yang lain.” Ucap So So 

Flash Back
Ma Roo minum bersama temanya, Si Maknae memberitahu  Ada dua jenis wanita di dunia ini yaitu Wanita yang seharusnya tidak dipercayai, dan wanita yang tidak dapat dipercayai. Menurutnya Wanita tidak bisa dipercaya.
So So ingin tahu alasanya. Ma Roo mengatakan Tidak tahu, menurutnya temanya itu Mungkin tidak mengerti wanita. So So mengejelaskan Wanita tidak mempercayai pria karena mereka mengenalnya dengan baik.
“Kita sebagai pria tidak saling percaya karena tidak mengenalmu, tapi kau mengenal pria” kata Ma Roo

“Itulah sebabnya hubungan itu tragis, Sama seperti Romeo dan Juliet.” Kata So So
“Bukankah itu sebuah tragedi karena mereka meninggal?” ucap Ma Roo
“Akan lebih tragis jika mereka hidup. Juliet berusia 14 tahun dan Romeo berusia 17 tahun. Coba Bayangkan jika mereka menikah. Apa yang orang-orang tahu? Dan di atas itu semua, orang tua mereka tidak akur. Mereka mungkin lebih bahagia karena keduanya meninggal.” Ucap So So
“Tidak benar mengatakan bahwa mereka bahagia ketika meninggal. Dan Kau seharusnya tidak mengatakannya di kaki malaikat.” Ucap Ma Roo menunjuk ke bagian atas gereja. So So kaget dan terdiam. 


Flash Back
So So pergi ke peramal tarot memberitahu kalau  Hasilnya  sama lagi dan Pasti itu takdirnya yaitu akan bertemu dengan cinta abadi di kaki malaikat. So So binggung apa maksud Di kaki malaikat. So So ingin mencoba pergi ke peramal lain hasilnya sama.
“Cinta sejatimu ada di kaki malaikat. Kau akhirnya akan menemui cinta abadimu di kaki malaikat.” Ucap semua peramal yang didatanginya.
“Aku datang karena  ingin tahu dimana letak kaki malaikat itu.” Tanya So So datang ke peramal pertamanya.
“Kau bilang Malaikat? Kami tidak menyembah malaikat. Dan Aku tidak tahu.” Ucap si peramal. 

Ma Roo memberitahu kaki malaikat itu ada dibagian atas gereja, yaituSanto Michael sang Malaikat Agung dan agak jauh juga. So So terus melihat ke arah atas dan seperti berharap cinta sejatinya akan datang.
“Jika kita naik ke sana, kita akan ada di kaki malaikat.” Kata Ma Roo. So So sempat melamun sampai Ma Roo memanggilnya.
“Bisakah kita naik ke sana?” tanya Ma Roo. So So menjawab tak bisa. Ma Roo bertanya apakah terlarang.
“Mereka menutupnya demi keamanan dan pelestarian budaya. Dan juga tidak berencana untuk membukanya di masa depan.” Kata So So 
“Itu buruk, padahal Aku ingin melihatnya. Oh.. Yah.. Aku harus kembali ke Korea besok, karena Ada pekerjaan di kantor. Apa aku bisa menukar tiket pesawatku?” ucap Ma Roo
“Mungkin saja , tapi kau tidak bisa mendapatkan pengembalian uang untuk perjalanan.” Jelas So So
“Tidak masalah. Ini salahku untuk pergi saat aku tidak memilikinya. Bagaimanapun, malam ini adalah malam terakhirku di Perancis.” Ungkap M Roo
So So bertanya Ma Roo ingin segelas anggur. Ma Roo binggung dimana mendapatkanya karena semua Bar ditutup. So So mengatakan kalau  ada yang menjual anggur di hotel. Ma Roo kaget mendengar kalau itu di hotel dan hanya berdua saja.
“Apa ada... orang lain di sekitar sini?” kata So So lalu berjalan lebih dulu. Ma Roo pun mengikutinya. 


So So pergi ke sebuah tempat bernama Hotel dalam sebuah gang, lalu menyuruh Ma Roo menunggu diluar saja karena akan membelikan anggurnya. Ma Roo gugup didepan hotel karena So So mengajak minum anggur di hotel.
Dalam khayalanya, keduanya minum anggur dalam hotel dengan So So yang mengunakan pakaian sebelumnya. Ma Roo terlihat ketakutan melihat So So setelah minum mengeluarkan cambuknya. 

So So keluar dari hotel memberikan sebotol anggur,  Ma Roo menyadarkan diri kalau ini Tidak mungkin terjadi dan tidak benar. So So pikir tak masalah karena melakukan ini kadang-kadang ketika memiliki seseorang yang dekat dengannya. Ma Roo seperti tak yakin, So So berusaha menyakinnya.
“Jangan merasa terbebani.” Kata So So. Ma Roo pikir mana mungkin tak bisa seperti itu. So So ingin tahu alasan Ma Roo merasa terbebani.
“Ada Pria, wanita, hotel, malam, alkohol. Ini adalah lima sempurna. Apa yang akan terjadi setelah itu?” kata Ma Roo yang berpikiran liar.
“Hei.. Apa yang kau katakan? Ikut aku cepat! Di mana-mana sudah tutup, jadi ini satu-satunya tempat untuk mendapatkan anggur. Apa kau orang sesat yang hanya memikirkan hal itu? kata So So kesal berjalan lebih dulu. Ma Roo pun akhirnya mengikutinya.

Direktur dan adik So So minum bersama, seperti keduanya mulai akrab. Direktur pikir adiknya tahu kalau So So memiliki kepribadian yang kuat yitu Gadis yang mencuri uang dan kartu orang tuanya untuk melarikan diri dari rumah jadi mana mungkin akan kembali ke rumah.
“Aku yang mencurinya dan Noona tidak tahu soal itu. Noona tidak tahu kalau ada kartu dan uang di sana.” Akui Adik So So. Direktur kaget. 

Flash Back
So So akan pergi dengan pacarnya dan sudah ada dibandara. Adiknya  menaruh tas di koper kakaknya, lalu memeluk So So meminta agar menjaga diri. Setelah berkata pada kakak iparnya sebelum pergi.
“Adikmu yang lebih muda ini biasa mengatakan "Jika kau membuat Noona-ku menangis, Kau akan mati."” Ucap Adiknya.
“Tidak akan. Jangan khawatir.” Kata si kakak ipar dan terlihat wajah itu adalah pria yang memberikan alamat So So setelah Adik So So keluar dari penjara. Keduanya pun berpelukan.
“Tapi kau harus khawatir. Jika kau membuatnya menangis, maka Aku benar-benar akan membunuhmu.” Ancam adik SoSo. Kakak iparnya terlihat terkejut.
“Kalian harus menjaga diri” ucap adik ipar So So. Akhirnya So So pamit dengan pacarnya untuk pergi ke Prancis tanpa memberitahu orang tuanya lebih dulu. 

Adik So So yang kesal langsung menghabiskan satu gelas anggur. Direktur mengeluh meminta adik So So bisa mengHargai minumanya, karena minuman Anggur Perancis mahal harganya.
“Jika dia pergi seperti itu, seharusnya dia hidup bahagia. Aku mendapat telepon darinya. Dia menangis tanpa mengatakan apapun, jadi aku berteriak padanya. Aku menyuruhnya berhenti menangis, dan akan membunuhnya jika dia menangis. Aku tidak tahu itu akan menjadi panggilan telepon terakhir kami.” Cerita Adik So So
“Hei, Kau seharusnya datang ke Perancis untuk mencarinya saat itu.” Ucap Direktur. Adik So So mengatakan kalau tidak bisa.

Flash Back
“Hei.. Kenapa kau menangis? Kukatakan padanya bahwa aku akan membunuhnya jika kau menangis! Kenapa kau menangis?” teriak Adik So So sedang wamil pulang naik bus dengan pacarnya. So So hanya menangis dengan pemandangan menara Eiffel.
“Itu karena bajingan itu kan? Dimana dia? Dimana bajingan itu?” teriak Adik So So sangat marah sambil memukul bangku bagian depanya.
Direktur pikir itu keputusan bagus karena tidak mencoba kabur. Adik So So So mengaku pernah mencobanya, dengan melompat ke dinding unit militer, tapi tertangkap. Direktur hanya terdiam karena adik So So memang berani.

“Kalau aku tahu Bae Young Goo meninggalkan Noona-ku setelah mendapatkan posisi di Korea. Aku tidak bisa diam.” ucap Adik So So marah
“Dengarkan aku... Ada banyak orang dalam situasi serupa di negara ini. Itu sebabnya film Perancis... Benar-benar membosankan.” Ucap Direktur.
“Omong-omong... dimana Noona-ku?” tanya Adik So So ingin bertemu dengan kakaknya.
“Aku akan memberikan beberapa saran sebagai sosok kakak laki-laki. Ini adalah hal terpenting yang harus Kau lakukan sebagai keluarga, yaitu Kau harus menunggunya... Tunggu dia diam-diam, tanpa sepatah kata pun. Karena Kenapa? Keluargamu akan kembali pada akhirnya... Kecuali istriku... Dia masih belum kembali.” Ucap Direktur akhirnya curhat dengan masalah menyuruh adik So So kembali minum saja. 


So So berjalan sambil minum winer dari botol menceritakan pada umumnya orang biasa menangis saat tinggal di luar negeri dan Hal itu biasa terjadi karena merindukan teman dan keluarganya. Ma Roo ingat kalau So So mengatakan tidak punya keluarga.
“Itulah sebabnya. Aku lebih merindukan mereka. Lalu Ma Roo, kenapa kau datang sendiri?” tanya So So
“Ya begitulah. Kenapa kau membeli cambuk itu?” tanya Ma Roo
“Kenapa kau membawa lingerie wanita?” balas So So
“Siapa orang yang mengejarmu?” tanya Ma Roo kembali
“Kenapa kau selfie dengan ekspresi itu?” balas So So
“Apa kau berimigrasi ke Perancis?” tanya Ma Roo
So So bertanya alasan Ma Roo yang ingin pulang mendadak,  Ma Roo membalas kapan So So kembali ke Korea, Keduanya saling bertanya tanpa mau ada yang menjawab. So So menyuruh Ma Roo minum saja anggurnya.

Kyung Jae sudah menyiapkan anggur dan juga gelas, lalu memeluk So Ran dari belakang, So Ran menoleh kebelakang, Kyung Jae kaget untuk kedua kalinya karena So Ran kembali mengunakan masker hitam.
“So Ran, kita ada di Perancis. Mari kita lebih romantis.” Keluh Kyung Jae. So Ran setuju dan meminta agar menciumnya lebh dulu. Kyung Jae mendekat tapi lebih dulu membuka masker wajah pacarnya. So Ran mengomel karena maskernya padahal akan kering dan seharunya Kyung Jae bisa menunggu.
“Kudengar matahari terbit indah di sini. Mari kita lihat besok pagi.” Kata So Ran menunjuk ke arah geraja yang ada di jendela kamar.
“Tapi dia menyuruh kita untuk tetap bersama.” Kata Kyung Jae. So Ran pikir kalau mereka hanya sebentar.
“Hei, bagaimana kalau kau tersesat? Kau tidak bisa berbahasa Inggris.” Kata Kyung Jae
“Aku bisa berbicara bahasa Inggris sehari-hari.” Kata So Ran.
Kyung Jae buru-buru menghabiskan wine dalam gelas, langsung setuju akan pergi dan menurutnya kalau ingin melihat matahari terbit, harus tidur lebih awal dan langsung mengendong So Ran untuk dibawa ke tempat tidur.
“Ini Sama seperti pecinta Perancis...” bisik Kyung Jae mengoda. So Ran bingung lalu mengaku kalau harus buang air besar dan meminta agar diturunkan.
“Aku tidak pergi selama tiga hari disini, jadi Aku harus pergi saat aku bisa.” Kata So Ran bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Kyung Jae terlihat menahan kesal duduk di pinggir tempat tidur akhirnya membuka pintu kamar mandi.
“Hei, Kau terlalu lelah tadi malam, dan Kau harus buang air besar malam ini. Bagaimana kau bisa seperti itu setelah kita sampai sejauh ini? Apa sulit menahannya?” teriak Kyung Jae marah. So Ran meminta agar Kyung Jae mengambilkan ponselnya karena bosan. Kyung Jae langsung mengambilkan ponsel So Ran, tanpa menolaknya.
“Hei, aku tidak akan melihat matahari terbit!” teriak Kyung Jae. So Ran malah heran melihat Kyung Jae yang kesal padahal seharusnya bisa menghiburnya.
“Tidak tahulah... Aku tidak ingin melawan kotoran.” Ucap Kyung Jae kesal. So Ran mengeluh karena Kyung Jae membuatnya jadi tak bisa fokus. 


Pagi Hari
Semua mengambil foto diatas jembatan dengan latar belakang gereja. So So memberitah kalau  Ini adalah salah satu tempat di mana bisa melihat keindahan Mont Saint-Michel dan karena panoramanya. Yeon Jung terlihat seperti fotographer mengambil foto Hyun, sementara So Ran terlihat kesal melihat Kyung Jae yang sibuk dengan ponselnya.
“Air pasang datang dua kali sehari di dekat Wihara. Ada penumpukan pasir. Jadi konservasi lingkungan membangun tempat ini.” Jelas So So mengajak akan menuju wihara setelah selesai memotret.

Bus kembali berjalan So So menjelaskan Sejarah Mont Saint-Michel kembali terjadi 1.300 tahun dan satu-satunya tempat yang tidak terpengaruh oleh tentara Inggris. Ma Roo terus berdiri didekat So So mendengarkan dengan wajah serius.
“Selama Perang Seratus Tahun antara Perancis dan Inggris. Itulah kenapa ini adalah tempat suci bagi orang Perancis Dan juga harga diri mereka.” Ucap So So akhirnya mereka semua pun turun 

“Wow, alangkah baiknya memanggang daging di sini.” Ungkap Tuan Oh kembali. Istrinya kembali berkata agar suaminya berhenti mengatakan itu.
“Hampir semua turis Korea hanya datang ke sini selama sehari. Tapi kita akan di sini selama dua hari.” Kata So So. Tuan Oh pikir tempat kali ini besar.
“Tidak. Ini kecil, tapi sangat indah. Kita akan melihat-lihat dengan berkelompok hari ini, dan bebas untuk besok. Dan Apa kalian melihat patung perunggu di atas gereja?” ucap So So. Beberapa orang tak bisa melihatnya.
“Patung yang sulit dilihat adalah Saint Michael the Archangel. Uskup mengatakan bahwa dia diperintahkan untuk membangun wihara ini dalam mimpinya. Pertamanya, dia tidak mendengarkan karena itu hanya mimpi. Tapi itu muncul lagi, dan ketiga kalinya dia memimpikannya.” Jelas So So
“Dia mengernyitkan dahinya karena tidak mau mendengarkan. Dan jari itu ditepis, lalu membangunkannya dari mimpinya. Legenda yang sama diceritakan di Italia pada abad keempat...” kata So So
“Ada banyak legenda seperti itu” ungkap Hyun. Yeon Jung mengatakan kalau ada banyak di seluruh dunia.
“Saat itulah mereka mulai membangun wihara. Produk terindah dari wahyu Tuhan dan kepercayaan manusia Yaitu Mont Saint-Michel. Jadi Ayo kita masuk ke dalam.” Ucap So So 




So So berjalan disamping Ma Roo, So Ran melihat keduanya kembali membahas dengan Kyung Jae kalau Ada sesuatu di antara keduanya. Kyung Jae yang sibuk dengan ponselnya bertanya apa maksud ucapanya. So Ran yakin kalau pasti ada dan bisa mencium keduanya memiliki sesuatu.
“Hei, Kau baunya lebih buruk... Kau malah buang kotoran.” Keluh Kyung Jae. So Ran ingin marah tapi saat itu ponsel Kyung Jae kembali berdering. Kyung Jae langsung mengangkatnya dan mengatakan kalau sedang ada di Perancis. 

Ma Roo menanyakan tentang tiket pulangnya, So So memberitahu sudah bilang ke perusahaan kalau Ma Roo akan kembali hari ini jadi akan mengirim mobil pukul 1 siang, dan Ma Roo bisa pergi setelah makan siang.
“Aku akan memeriksa  apa lagi yang masih tertinggal. Tapi, Apa sangat mendesak dan kau harus pergi sekarang?” ucap So So.
“Itu karena kerjaan.” Kata Ma Roo singkat So So membahas tentang Sisa perjalanannya.
“Aku tahu, tidak dapat dikembalikan.” Kata Ma Roo sudah menjadi konsekuensinya.
“Bukan itu. Jangan merasa buruk kalau kehilangan sisanya. Jika kau melakukannya, maka itu akan menjadi penjaramu.” Ucap So So. Ma Roo binggung apakah ia akan dipenjara.
“Tidak... Orang cenderung terjebak di tempat yang belum mereka kunjungi. Kudengar itu terjadi pada orang-orang yang pulang ke rumah setelah di tengah jalan.” Kata So So. 


Direktur dan adik So So tertidur di sofa setelah banyak minum. Direktu mengeluh mendengar suara ponselnya di pagi hari dan menyebut nama So So. Adik So So langsung terbangun mendengar nama kakaknya dan sengaja menguping.
“Aku sudah cek bursa tiket, jadi jangan lupa kirim mobil jam 1 siang.” Ucap So So
“Aku mengerti. Apa kau mengatakan kepadanya bahwa tiketnya tidak dapat dikembalikan?” kata Direktur. So So mengatakan itu sudah pasti.
“Dia setuju untuk membayar biaya proses tiket dan penyewaan mobil. Aku akan memulai tur sekarang.” Ucap So So lalu menutup telpnya.
Direktur pun menaruh ponselnya setelah berbicara dengan So So, Adik So So bertanya pada Direktur keberadaan kakaknya lagi. Direktu masih setengah sadar memberitahu So So ada di Mont Saint-Michel dan Ada masalah di sana. Adik So So akhirnya diam-diam kabur dari kantor, Direktur seperti tak sadar kalau adik So So yang pergi. 

“Apa dia layak mendapatkan ini? Dia meninggalkan keluarganya dan melarikan diri. Dia sama buruknya dengan bajingan itu.” Gumam Adik So So berlari untuk pergi bertemu dengan kakaknya.
Flash Back
Di ruang pertunjukan, Keluarga Yoon sudah siap menonton lalu seorang keluar dan berdiri diatas panggung. Adik So So kaget ternyata itu kakak iparnya yang meninggalkan kakaknya, sedang menyanyi diatas panggung. Ia langsung berlari ke panggung memberikan pukulan pada mantan kakak iparnya.
“Dimana Noona-ku? Dimana kau meninggalkannya? Aku bilang  akan membunuhmu.” Teriak Adik So So marah. Dua orang pengawal datang menarik Adik So So untuk menjauh di kakak iparnya.
“Jika Tuhan membiarkanku membunuh dua orang Aku akan membunuh bajingan itu dua kali.” Gumam Adik So So lalu berhenti karena kebinggungun cara bisa ke Mont Saint-Michel. 

“Saat aku memandu turis, Aku telah mendengar ini berulang kali. Perancis bisa hidup berkat nenek moyang mereka. Perancis menghasilkan banyak uang, hanya dari aset budaya mereka. Namun, Perancis beruntung memiliki keturunan mereka daripada nenek moyangnya.”

“Upaya keturunan untuk melindungi dan melestarikan semuanya, Menciptakan Perancis yang ada sekarang ini. Dengan pembangunan kembali dan rekonstruksi. Mereka mencegah sejarah mereka hancur.”
So So menjelaskan dengan lancar dan  banyak peninggalan sejarah yang terawat, dijadikan objek wisata sejarah. 
“Sebuah bisnis kesehatan dimulai pada era Napoleon. Dan pada waktu itu, seorang koki wanita menemukan telur dadar. Ini menjadi sangat terkenal, dan menetapkannya sebagai keahliannya. Kita akan makan siang di sini. Haruskah kita melihat-lihat sekarang?” ucap So So mengajak mereka untuk masuk lebih dulu. Tuan Oh mengeluh apakah memang bagus tempatnya, sang istri meminta Tuan Oh tak banyak komentar.

“Sekarang ini adalah masakan terkenal di dunia. Namun mereka masih menggunakan metode yang mereka gunakan 128 tahun yang lalu Dan mereka membuatnya sendiri.” Jelas So So membawa mereka ke bagian dapur terbuka.
Ada beberapa pekerja yang bertugas mengaduk adonan omellete, lalu yang lainya memangang omellet dalam tungku seperti dibakar dan masih mengunakan metode lama. 

Mereka berjalan menanjak, Tuan Oh yang tak sabar menyuruh istrinya agar cepat. Nyonya Han seperti kelelahan, Ma Roo menjaganya agar Nyonya Han tak terjatuh. So So memberitahu kalau mereka sudah sampai dirumah Bertrand du Guesclin.
“Ini adalah rumah dinas militer. Dan itu terlihat sama seperti pada Abad Pertengahan. Istri Bertrand du Guesclin adalah seorang peramal. Sebelum suaminya pergi berperang, Dia membacakan keberuntungannya untuk meramalkan hasilnya.” Jelas So So dengan gambaran yang ada drumah Bertrand. 

“Ada film yang menjadi hits di Korea. Pernahkah kalian menonton "Mad Max"?” tanya So So. Hyun mengatakan sudah pernah menonton. Yeon Jung ingin tahu dengan siapa. Hyun menyuruh Yeon Jung agar memikirkan urusanya sendiri saja.
“Kau melihat ini di filmkan, Ini adalah sabuk kesucian. Selama Perang Salib, saat tentara pergi berperang. Mereka meletakkan benda ini pada istri mereka. Itu untuk mencegahnya agar istrinya tidak menipu mereka. Tapi mereka mengatakan bahwa para istri memanggil tukang kunci untuk membukanya.” Jelas So So pada sebuah benda seperti gembok bentuk celana.
“Bisakah orang melakukan rutinitas mereka dengan menggunakan itu?”tanya Ma Roo
“Aku tidak yakin. Aku belum mencobanya. Sekarang kalian bisa Ambil beberapa gambar, dan temui aku di pintu masuk dalam 10 menit.” Ucap So So.
Yeon Jung masih sibuk ingin tahu Hyun pergi menonton dengan siapa. Hyun mengatakan kalau Yeon Jung tidak perlu tahu.

Mereka semua sudah keluar, Tuan Oh mengeluh pada So So karena Ma Roo yang belum keluar karena mereka harus bergegas ke tempat berikutnya. Istrinya pikir belum 10 menit. So Ran terlihat kesal melihat Kyung Jae yang selalu sibuk dengan ponselnya.
“Ini Sudah waktunya, jadi dia akan segera keluar.” Ucap So So akhirnya datang karena melihat Ma Roo yang belum keluar. Tuan Oh mulai mengumpat kesal karena Ma Roo selalu saja telat datang.
“Apa kalian ingin mendengar cerita lucu? Ini adalah cerita legendaris di sekitar sini.” Ucap So So. Saat itu Ma Roo sedang didepan sabuk kesucian.
“Lima tahun yang lalu, seorang turis ingin mencoba sabuk kesucian.” Cerita So So. Semua kaget dan
“Dia pastilah orang yang penasaran. Kau tahu pasti ada orang yang ingin mencobanya semua karena penasaran.” Ucap So So. Ma Roo melihat tak ada orang disekeliling, akhirnya mencoba sabuk kesucian dan mengambil foto selfie.
“Tapi kau tidak boleh memakainya, Tidak ada kuncinya. Polisi, walikota, dan menteri datang dan membuat keributan. Tapi dia harus menahannya selama lima jam sampai tukang kunci datang.” Kata So So. Ma Roo ingin melepaskanya, tapi tak bisa terbuka dan mengumpat kesal.
“Mereka mencoba menyembunyikannya dengan membodohi sejarah Mont Saint-Michel. Tapi dia kabur.”cerita So So
Tuan Oh memastikan kalau bukan orang Korea. So So mengaku kalau bukan, Tuan Oh pikir Itu memalukan dan akan merusak reputasi mereka.  So So mengatakan akan menuju ke tujuan berikutnya. Tuan Oh melihat Ma Roo yang belum datang juga kembali mengomel Ma Roo yang terlambat setiap saat. So So pikir akan masuk memanggilnya jadi meminta mereka menunggu.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Minggu, 22 Oktober 2017

Sinopsis The Package Episode 3 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS

Kyung Jae dan So Ran menunggu di dalam gereja, melihat Tuan Oh hanya diam saja didepan buku permohonan. So Ran tak tahan meminta agar Tuan Oh bisa lebih cepat. Tuan Oh tetap diam saja didepan buku seperti banyak menuliskan permohonan.  Akhirnya Kyung Jae mengajak agar menunggu di bangku gereja saja.
“Astaga, apa dia sedang menulis sebuah novel?” keluh So Ran. Kyung Jae ingin tahu apa yang akan ditulis So Ran nanti.
“Aku akan meminta kenaikan gaji.” Ucap So Ran. Kyung Jae pikir So Ran harus menuliskannya di papan buletin perusahaan.
“Aku akan mendapat masalah jika aku melakukan itu. Lalu Apa yang akan kau tulis?” tanya So Ran
“Aku? Aku akan meminta investasi. Lalu aku bisa merentangkan sayapku dan terbang.” Kata Kyung Jae.
“Jika kau terus berharap, maka Kau mungkin hanya menjadi burung.”ejek So Ran

“Aku akan tahu dalam dua sampai tiga hari. Aku pergi ke perguruan tinggi yang sama dengan investor Dia juga senior SMA-ku.” Kata Kyung Jae.
“Seniormu itu. Apa dia bisa dipercaya?” ucap So Ran ragu. Kyung Jae pikir itu sudah pasti karena mereka seperti saudara.
“Dia bilang akan bertanggung jawab atas segalanya. Jangan khawatir.” Kata Kyung Jae. 

Flash Back
So Ran duduk bersama dengan Ketua Tim di sebuah cafe. Ketua Tim bertanya apakan So Ran ingin memimpin keseluruhan proyek setelah perpanjangan kontrak. So Ran kaget karena tiba-tiba di minta tapi menurutnya itu Tidak mungkin.
“Apa kau ingat apa yang ku katakan tentang desainmu saat sampai di sini?” ucap Ketua Tim
“Ya, Kau bilang mereka tidak berperasaan.” Kata So Ran
“Jika kau tetap di bidang ini, maka Kau melakukan kebiasaanmu. Tapi aku suka kau tidak melakukannya.” Komentar Ketua Tim.
“Tapi bagaimana jika aku melakukan semuanya sendiri dan merusaknya?” kata So Ran ragu.
“Aku akan bertanggung jawab untuk itu, Jadi Jangan khawatir.” Kata Ketua Tim.
“Lalu, haruskah aku membuat draft konsep ini dulu?” ucap So Ran bersemangat.
Ketua Tim melihat permintaan liburan So Ran dan ingin tahu apakah akan pergi ke suatu tempat. So Ran menjawab kalau akan pergi ke Prancis,  Ketua Tim tahu SO ran akan berlibur dan ingin tahu akan pergi dengan siapa. So Ran hanya diam saja. 
So Ran menatap Kyung Jae yang pergi berlibur bersamanya, lalu berharap kalau semuanya bisa berjalan dan berhasil. Setelah itu melihat Tuan Oh yang masih berdiri. Ia mengeluh Tuan Oh sangat lama seperti sedang menulis novel panjang.

So So membawa Ma Roo ke pemakaman menjelaskan Adik Vincent adalah Theodore van Gogh dan keduanya sering saling menulis. Dengan Sang Kakak yang menulis bahwa sangat lelah dan membutuhkan kekuatan lalu adik laki-lakinya menghibur dan mengatakan bahwa kakaknya sedang melakukan pekerjaan dengan baik.
“Van Gogh hanya bisa menjual satu lukisan saat dia masih hidup. Dia adalah pelukis yang malang, tapi saudaranya percaya padanya sampai akhir.” Ucap So So
“Apa dia benar-benar mempercayainya, atau dia hanya memberinya keberanian?” tanya Ma Roo.
“Aku tidak yakin, tapi aku pikir dia benar-benar percaya padanya. Dia mungkin benar-benar percaya pada keahliannya Atau mungkin dia terus percaya karena dia sudah mulai.” Kata So So. Ma Roo terdiam mengingat kembali saat kejadian di kantor. 

Flash Back
Ma Roo bertanya pada Nona Oh apakah  bisa mempercayai sampai akhir. Nona Oh mengatakan aklau akan percaya pada Ma Roo sampai akhir.

“Tidak ada yang akan percaya padamu sampai akhir.” Kata Ma Roo. Soo So pikir kalau itu mungkin saja. Ma Roo seperti masih belum percaya.
“Aku punya seseorang.” Ungkap So So. Ma Roo mengaku iri mendengaanya.
“Ini adalah beban untuk hidup dengan kepercayaan orang lain di pundakku. Jadi Haruskah kita menulis keinginan kita di buku catatan di gereja?” ucap So So
“Apa keinginan kita benar-benar akan menjadi kenyataan?” tanya Ma Roo seperti tak yakin.
“Gereja itu katanya sangat diberkati.” Ucap So So berjalan bersama Ma Roo keluar dari pemakaman. Nyonya Han pun ikut berjalan perlahan keluar dari pemakaman. 


Flash Back
Nyonya Han pikir banyak orang yang bertanya-tanya “Kemana mereka pergi?” dan mereka akan pergi ke suatu tempat yang bagus, tapi ingin tahu dimana tempat itu.  Bus mulai meyusuri jalan keluar dari desa dan matahari sudah terbenam.
“Dimana... apa semua orang pergi? Kita bahkan tidak tahu ke mana kita akan pergi dalam kehidupa. Jadi bagaimana kita tahu ke mana kita pergi setelah mati? Kita semua hidup tanpa mengetahui apapun. Dan mati tanpa mengetahui apapun.” Gumam Nyonya Han menatap keluar jendela dengan semua anggota tur tertidur karena lelah. 

“Mont Saint-Michel adalah Situs Warisan Dunia UNESCO pertama di Perancis. Ini terlihat seperti sebuah kastil, tapi itu adalah sebuah biara. Jemaahnya di abad pertengahan menyebutnya sebagai tempat para malaikat. Dan Victor Hugo, yang menulis Les Misérables, Menyatakannya sebagai piramida samudra, seperti yang ada di Mesir.” Jelas So So memperlihatakan seperti sebuah geraja yang berbentuk menara ketika melewati dengan bus. 

So So memberikan masing-masing kunci kamar,  lalu memberitahu kalau  tempat Biara itu terlihat dekat, tapi jaraknya adalah satu jam lagi, jadi meminta agar tetap di hotel.
“Setelah makan malam, lebih baik istirahat dan berkumpul di sini jam 8 pagi.” Jelas So So
“Apa kita makan makanan Perancis untuk makan malam?” tanya Tuan Oh. So So mengatakan tidak.
“Karena kami datang jauh-jauh, maka kita akan makan makanan Italia hari ini.” Ucap So So. Tuan Oh mengeluh kalau itu sama saja.
“Apa ada restoran Korea?” tanya Tuan Oh. So So menjawab tidak. Tuan Oh bertanya apakah tak ada Disekitar sini.
“Hentikan. Dia bilang tidak ada.” Kata Nyonya Han mencoba untuk menenangkan suaminya.
“Orang perlu makan nasi... Kami terus makan makanan hambar.” Keluh Tuan Oh, Nyonya Han mendorong suaminya untuk segera masuk kamar sambil bertanya jam berapa mereka akan makan malam. 


Semua berkumpul untuk makan malam direstoran, Tuan Oh mengeluarkan nasi dan juga ramyun diatas meja lalu meminta pelayan agar memberikan air panas. Tapi si pelayan tak mengubrisnya, Tuan Oh marah karena Seorang pelanggan memanggilnya.
“Kau tidak bisa melakukan itu.” Kata So So.
“Lalu aku harus memanggilnya pelayan? Hei.. Pelayan.” Kata Tuan Oh dengan nada sedikit tinggi.
“Kau tidak seharusnya memanggilnya. Jika kau memilih dan meletakkan menumu dibawah kursi maka mereka akan datang ke sini sendiri. Dan saat kau masuk, maka Kau harus duduk di tempat mereka mengarahkanmu.” Jelas So So
“Aku bisa duduk dimana saja yang aku mau! Pelanggannya adalah raja.” Kata Tuan Oh keras kepaal
“Itu Di antara persepsi yang tidak boleh kau miliki di Perancis dan kalimat "Pelanggan adalah raja" adalah salah satunya. Dan Ini bukan lelucon, yaitu Perancis membunuh raja mereka.” Kata So So
“Lalu Siapa yang membunuh raja?” tanya Tuan Oh. So So menjawab yaitu Masyarakat.
“Mereka semua pengkhianat!” keluh Tuan Oh dan kembali meminta ari panas pada So So.
“Kau tidak bisa makan di restoran.” Kata So So. Tuan Oh bertanyaSiapa yang mengatakan itu. So So pikir itu berhubungan dengan sopan santun?
“Sejak kapan ramen adalah makanan yang tidak berperasaan?” keluh Tuan Oh  


“Aku telah melihat banyak orang Korea makan ramen di sarapan hotel dan restoran terkenal. Tapi mereka tidak menyukainya. Pelanggan mereka yang lainya mungkin tidak menyukai bau ramen. Dan itu juga tidak menghormati restoran itu.” Kata So So
“Kau benar. Hal ini mirip dengan jika pelanggan datang ke restoranku Dan memesan mie kacang hitam.” Keluh Nyonya Han. Tuan Oh pun seperti mulai merasakananya.
“Kau seharusnya sudah memberi tahuku sebelumnya... Jadi Baiklah, ini akan menjadi yang terakhir kalinya.” Kata Tuan Oh tetap meminta agar bisa memakan ramyun.
Nyonya Han kembali meminta agar suaminya berhenti saja. Tuan Oh bersikukuh kalau butuh kuah sup untuk makan makanan dan meminta air panas. So Ran kembali mengeluh Tuan Oh itu terlalu berisik dan terus melakukan ini. Tuan Oh tak peduli tetap meminta air panas untuk ramyun dan berjanji kalau ini yang terakhir.


Flash Back
“Sepanjang hidupku, aku khawatir dengan apa yang dipikirkan suamiku. Dan khawatir dengan apa yang dipikirkan orang lain karena suamiku.” Cerita Nyonya Han.
“Kau pasti berpikir "Semua pasangan lainnya hidup dengan bahagia, Lalu kenapa aku tidak? Ini Tidak akan membaik, jadi aku akan mati saja." Jadi Itukah yang kau rasakan?”kata Dokter.
“Kau bisa menjadi peramal.” Ungkap Nyonya Han tersenyum mendengarnya.
Nyonya Han duduk di bangku kamar menatap ke arah pemandangan diluar jendela, Tuan Oh sudah ada ditempat tidur berpikir sang istri juga akan tidur. Nyonya Han mengerti. Tuan Oh meminta istrinya agar cepat tidur.

“Haruskah kita menjual restoran kita?” kata Tuan Oh.
“Kita hanya akan mendapatkan 50 sampai 60 juta dari uang jaminan kita. Bisakah kita pensiun?” ungkap Nyonya Han.
“Kita bisa menjual semuanya dan bersenang-senang dan Bagus juga untuk berkeliling.” Ucap Tuan Oh. Nyonya Han menyuruh suaminya agar tidur saja.
“Bukannya itu baik?” kata Tuan Oh. Nyonya Han tak membahasnya,  menyuruh tidur saja. Tuan Oh pikir istrinya tak suka.
“Aku menyuruhmu tidur.” Kata Nyonya Han menatap keluar jendela dengan sedikit bibir yang tersenyum. 

Ma Roo ada dikamar, saat melihat ponselnya berdering wajahnya terlihat sangat malas. Nona Oh menelp, bertanya apakah Ma Roo sudah tiba di Mont Saint-Michel. Ma Roo membenarkan. Nona Oh pikir Ma Roo benar-benar gila.
“Apa yang ingin kau katakan?” ucap Ma Roo seperti tak ingin berlama-lama bicara.
“Kembalilah bekerja, lalu tangani arsipnya, dan minta maaflah.” Ucap Nona Oh seperti membujuk Ma Roo.
“Aku tidak melakukan kesalahan. Jadi Tidak bisakah kau ada di sisiku?” kata Ma Roo dengan nada penuh amarah.
“Berada sisimu tidak akan menyelesaikan apapun. Kau lalai dengan absen tanpa pemberitahuan. Jadi Tangani filenya, kembali bekerja, dan minta maaflah. Kau pasti tahu seberapa menakutkan perusahaan itu.” Kata Nona Oh
“Jadi  Itukah sebabnya kau tidak datang? Apa kau takut?” ucap Ma Roo  menyindiri. Nona Oh meminta Ma Roo agar Jangan bicara seperti itu.
“Kau bilang akan mempercayaiku sampai akhir.” Kata Ma Roo
“Apa aku salah karena tidak berlibur denganmu?” tanya Nona Oh, Ma Roo membenarkan.
“Apa aku mengkhianatimu?” tanya Nona Oh. Ma Roo pikir itu sudah pasti.
“Apa kau bodoh? Lalu Apa ada yang berada sisimu di tempat ini? Akulah satu-satunya yang bisa melindungimu. Kenapa kau tidak menyadarinya? Jadi Hentikan dan kembalilah saja.” Kata Nona Oh

Ma Roo bertanya Kembali kemana, apakah Kepada Nona Oh Atau untuk perusahaan, Nona Oh mengatakan kalau Keduanya, lalu memuji Ma Roo  adalah orang pemberani.
“Kau perlu keberanian untuk mengubah dunia, tapi kau juga perlu keberanian untuk mempertahankannya. Mari kita lebih bijaksana, oke? Mari selesaikan masalah ini dan pergi berlibur akhir tahun. Saat Natal nanti. Aku akan menunggu. Cepatlah kembali.” Ucap Nona Oh, Ma Roo hanya diam saja.
“Dapatkah kau menjawabku, Ma Roo?” kata Nona Oh. Ma Roo mengerti dan akan memeriksa apa ada penerbangan untuk besok. Nona Oh mengucapkan terimakasih dan akan menutup telpnya dan mengaku masih mencintainya. 


Flash Back
Ma Roo memberitahu kalau mencetaknya karena curiga menurutnya Perusahaan ini melakukan hal yang aneh. Nona Oh memperlihatkan berkas yang dibawa Ma Roo. Ma Roo pikir Nona Oh tahu obat yang disumbangkan ke Afrika.
“Aku memeriksanya lagi karena nomor inventarisnya tidak aktif. Ini bukan obat biasa, tapi obat baru yang masih dalam pengembangan.  Dan Bagaimana mereka bisa menyumbangkan obat yang masih dalam pengembangan?” kata Ma Roo benar-benar heran.
“Bagaimana kau menemukan ini?” tanya Nona Oh panik.
“Aku masuk server dengan ID Kepala.” Kata Ma Ro. Nona Oh heran kenapa Ma Roo menggunakan ID nya
“Dia meminta kepala untuk melakukan sesuatu dan dia menyerahkannya padaku. Bahkan Dia memberiku ID dan kata sandinya.” Jelas Ma Roo.
Nona Oh pikir bisa gila memikirkan hal ini dan minta Ma Roo agar Pura-pura saja tidak tahu. Ma Ro pikir tak mungkin bisa melakukan itu, karena Ini adalah pengujian farmasi. Nona Oh pikir Ma Roo tidak bisa melakukan ini dan mungkin satu-satunya orang yang terluka.
“Akulah yang memimpin proyek sumbangan obat.” Kata Ma Roo. Nona Oh menegaskan Ma Roo yang tak tahu.
“Jika aku tahu, Aku akan menjadi orang jahat. Dan jika aku tidak tahu, itu akan membuat Aku adalah orang yang menyedihkan dan jahat. Aku perlu memberi tahu kepala dan mendengar dari pihak perusahaan.” Kata Ma Roo. 




Nona Oh berjalan mendekati Kepala Yoon yang sedang merokok. Kepala Yoon ingin tahu Dimana file aslinya. Nona Oh berkomentar kalau berpikir Kepala Yoon  sudah berhenti merokok. Kepala Yoon mengaku kalau memulainya lagi karena Nona Oh.
“Oh aku, apa yang aku lakukan?” ucap Nona Oh merasa tak bersalah. Kepala Yoon bertanya apakah Nona Oh sudah menelp Ma Roo.
“Ya, dia akan kembali besok.” Kata Nona Oh. Kepala Yoon ingin tahu dimama Ma Roo menaruh file itu?
“Aku yakin dia menghapusnya dan Itu tidak ada di komputernya.” Kata Nona Oh.
“Deputi Oh, Kau adalah ace dari perusahaan ini. Jadi Perhatikan di sisi mana seharusnya kau berada. Perusahaan bertahan lebih lama dari manusia. Kita perlu menemukan file itu dan menutup mulut Ma Roo. “kata Kepala Yoon
“Jika kita menemukan file dan tetap diam.. Apakah Ma Roo akan baik-baik saja?” kata Nona Oh khawatir.
“Dia sudah melakukan terlalu banyak kesalahan. Jadi Dia tidak bisa diselamatkan.” Kata Tuan Oh. 


Ma Roo berbaring ditempat tidurnya yang berantakan lalu melihat sebuah buku dan teringat kalau itu buku yang diberikan So So saat ada diatas bus. Ketika baru membuka plastiknya, bel pintu kamarnya berbunyi. Kalau So So yang datang.
“Kau tidak tidur, kan?” ucap So So. Ma Roo mengatakan tidak dan mengajak masuk untuk membuatkan kopi, So So menolak karena  Pemandu tidak masuk ke kamar para turis dan matanya melihat Ma Roo memegang buku harian.
“Jika kau tidak lelah, Apa kau ingin pergi ke Mont Saint-Michel?” ucap So So
“Apa Sekarang juga dan cuma berdua saja?” ucap Ma Roo kaget. So So membenarkan, Ma Roo ingin tahu alasan mereka pergi kesana.

“Sungguh menyenangkan di malam hari karena tidak ada orang. Jika kau tidak lelah, Apa kau ingin pergi ke Mont Saint-Michel?” kata So So
Ma Roo terdiam mengingat sebelumnya, So So menagih 30 euro tambahan untuk wisata malam. Akhirnya ia memutuskan untuk tak pergi. So So sedikit terkejut dan menyurh Ma Roo agar beristirahatlah. Ma Roo duduk di atas kasur membuka buku harian, ternyata ada tulisan So So dihalaman paling depan.
“Terima kasih dan maaf untuk hari ini. Aku akan menggantinya dengan tur malam gratis Mont Saint-Michel. Kau bisa melihat keberanian yang indah yang diberikan oleh kepercayaan.”
Ma Roo terdiam karena ternyata So So mengajak pergi sebagai ucapan terimakasih. 


So So berjalan sendirian menaiki tangga dan Ma Roo tak lama melewati jalan yang sama. So So sudah sampai di depan geraja biara, pikiran kembali ke masa lalu.
Flash Back
So So berbicara pada orang tuanya kalau akan belajar di luar negeri. Ibunyap pikir So So sudah gila menurutnya anaknya itu bukan  untuk belajar di luar negeri tapi kabur dengan pria. So So menjelaskan  bisa mendapatkan gelar PhD dan akan kembali menjadi profesor.
“Kenapa ada orang di bidangmuu yang mendapatkan gelar PhD mereka di Perancis?” ucap ayahnya.
“Apa itu ide si brengsek? Apa dia meyakinkanmu? Beritahu dia untuk datang kesini!” kata ibunya marah
“Kenapa kau terus memanggilnya brengsek? Jika dia memanggilmu seorang gadis, Apa kau akan bahagia?” keluh So So pada ibunya. Ibunya pikir anaknya sudah gila dan ingin dipukul dan segera mencari tongkat.
“So So, umurmu 31 tahun.” Kata Ayahnya. So So tahu maka dari itu menurutnya sudah dewasa sekarang.
“Kau masih muda.” Ucap ayahnya. So So heran karena neneknya juga bilang kalau ayahnya itu masih muda juga dan ingin tahu siapa yang dewasa di dunia ini.  Ayahnya tak tahan meminta istrinya agar membawakan tongkat juga.
“Lakukan apa yang kau inginkan! Aku pergi tidak peduli apapun.” Kata So So. Ayahnya berteriak. So So mengeluh kalau ia tak tuli.
“Jika kalian cemas, Aku bisa menikah lebih dulu.” Ucap So So. Tuan Yoon kaget merasakan tiba-tiba kepalanya terasa sakit
 “Berhenti berpura-pura, kau belum dewasa.” Keluh So So melihat tingkah ayahnya yang berpura-pura sakit
“Apa pria itu lebih penting dari keluargamu?” tanya ibunya. So So mengatakan kalau pria itu juga keluarganya. 



So So akhirnya masuk ke dalam gereja, Ma Roo berjalan menaiki tangga dan sempat melihat dibagian puncak gereja. So So berjalan di memasuki bagian kursi-kursi gereja.
Flash Back
“Jika aku berpikir, "Sebaiknya aku mati..." Aku hanya bisa memikirkan kesalahanku. "Kenapa aku melakukan itu? Seharusnya tidak." Aku menyesali kenyataan bahwa menyesali hal itu.” Ucap Nyonya Oh pada Dokter
So So berjalan masuk gereja, seperti melihat bayangan dirinya saat menikah dan dipasangkan cincin oleh pria yang dicintainya. 

Flash Back
So So membantu ibunya menjemur pakaian, Ibunya berpesan agar  Jangan meletakkan semua pria.di telepon, karena Itu adalah hal terburuk yang bisa di lakukan sebagai wanita. So So membantu ayahnya melipat pakaian yang sudah kering.
“Putriku, jangan lari karena kami tidak akan mengirimmu ke luar negeri untuk belajar.” Ucap Tuan Oh.

So So bisa melihat bayangan dirinya yang sebelumnya dipasangan cincin dan mereka menikah dalam gereja, lalu memeluknya dengan erat. Akhirnya ia hanya bisa menangis sambil berjongkok dalam gereja. 
Flash Back
Di ruang praktek
Nyonya Oh mengatakan tidak akan menangis lagi karena  Menangis tidak akan mengubah apapun. Dokter setuju karena menurutnya Hidup ini terlalu singkat, bahkan jika mereka tertawa untuk semua itu.
“Bagaimana kita hidup itu penting, tapi bagaimana kita mati itu penting juga. Rumah sakit bilang kau punya waktu tujuh sampai delapan bulan untuk tetap tinggal kan?” kata Dokter
“Mungkin lama. Tapi bisa singkat juga... dan Mungkin lima sampai enam bulan. Kanker ini sudah menyebar, sehingga tidak bisa beroperasi.” Kata Nyonya Oh
“Apa kau sudah memberi tahu suamimu?” tanya Dokter. Nyonya Oh mengaku suaminta < tidak tahu apa-apa.
Nyonya Han menatap suaminya yang sudah tertidur,saat di rumah sakit berpikir tidak ingin memberitahu suaminya. Dokter menegaskan kalau Nyonya Han itu harus melakukanya.  Nyonya Han merasa tidak mau diganggu.
“Dia akan memberitahuku tentang apa yang harus dilakukan. Dan Aku tidak akan bisa hidup seperti yang kuinginkan. Jadi nanti aku juga tidak bisa mati seperti yang aku inginkan.” Ucap Nyonya Han yang selalu menuruti perintah suaminya.  Dokter pikir Nyonya Han masih perlu memberitahunya.
“Kita tidak hanya melalui kematian saja. “ kata Dokter.
“Orang itu... akan marah karena aku akan mati. Dia akan bertanya kenapa aku pergi dan kena kanker. Dia marah saat tidak menyukai sesuatu... Astaga, jika aku akan meninggal, Aku mungkin juga meninggal lebih awal.” Keluh Nyonya Han.

Saat itu alarm ponsel Nyonya Han berbunyi, Nyonya Han buru-buru mematikan agar suaminya tak terbangun dan segera meminum obatnya.
Flash Back
“Kau bisa berbicara denganku dengan nyaman.” Saran Dokter. Nyonya Han pun mengerti melakukannya.
“Maksudku, Kau harus jujur.” Kata Dokter. Nyonya Han pikir selama  ini sudah jujur lalu tertunduk menahan tangis sambil menatap permen ditanganya.
Nyonha Han perlahan membuka dompet untuk mengambil permen, saat itu Tuan Oh ternyata tak tertidur, matanya berkaca-kaca seperti menahan rasa sedih dan mengetahui semuanya. 



Flash Back
So Ran meminta agar Tuan Oh lebih cepat untuk menuliskan keinginanya, Tuan Oh terlihat masih belum bisa menuliskan keinginanya.
Di rumah sakit, Nyonya Han mengaku ingin hidup, bahkan sangat ingin hidup yaitu Hidup indah, untuk waktu yang lama, Tanpa sakit.
Saat Digereja, Tuan Oh menuliskan harapan [Sayang, jangan sakit, dan hiduplah lebih lama.] terlihat air mata yang jatuh.  Nyonya Han berbicara pada dokter ingin hidup lebih lama dan meminta mereka untuk menyelamatkankan.
“Tapi dokter bilang dia tidak bisa... Aku sangat takut... Aku tidak bisa memberi tahu siapa pun. Aku terlalu takut.” Ungkap Nyonya Han.
Tuan Oh telihat kesal sendiri kembali mengomel istrinya malah makan permen bukan tidur, karena Giginya akan membusuk. Nyonya Han hanya terdiam. Tuan Oh mengeluh istrinya selalu membuat kebisingan di malam hari.

Ma Roo datang melihat So So  yang menangis sendirian di dalam gereja.
Flash Back
Nyonya Han juga menangis sendirian ditaman, Tuan Oh datang memberitahu kalau ini bisnia dan tadi bukan pelanggan kasar pertama mereka. Nyonya Han berusaha menahan tangisnya.
“Kenapa kau menangis karena orang-orang mabuk itu? Aku sudah bilang jangan menangis!” kata Tuan Oh. Nyonya Han tetap saja menangis. Tiba-tiba Tuan Oh berteriak kalau ada ular, Nyonya Han langsung panik dan berlari merangkul Tuan Oh sambil bertanya dimana ularnya
“Jangan menangis jika kau menangis di malam hari, seekor ular akan keluar. Ayo...Cepatlah.” ucap Tuan Oh kembali masuk restoran. Nyonya Han bisa sedikit tersenyum mendengarnya. 

Nyonya Han tersenyum mengingat kalau menyukai bagian itu tentang suaminya “Saat aku menangis, dia mengatakan "Jangan menangis. Jika kau menangis di malam hari, seekor ular akan keluar."
Ma Roo berjongkok melihat So So yang menangis sendirian dalam geraja.
Bersambung ke episode 4

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09