Selasa, 23 Mei 2017

Sinopsis Queen Of Mystery Episode 13 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS 

Seorang wanita berdiri keluar dari kamar ganti menanyakan penampilannya. Jaksa Kim pikir yang sebelumnya lebih cantik. Si wanita memberitahu kalau baju itu harganya lebih dari 2.000 dolar menurutnya Seorang jaksa tidak akan mampu membelinya.
Jaksa Kim berjalan memutar lalu melihat harga bajunya  “1.500 dolar” lalu berpikir kalalu baju yang dipakai sebenarnya terlihat bagus. Si wanita melihat kalau baju ini memiliki desain yang bagus untuk seharga itu dan seleranya jadi bisa sering memakainya serta sangat simpel lalu berganti ke kamar pas. 

Si pegawai lalu mulai berkomentar Jaksa Kim memilih gaun yang sangat cantik jadi akan memberikan payung gratis dengan menjelaskan Ini terbuat dari bahan yang sama dengan gaun jadi pelanggan pasti akan menyukainya, serta Harga ecerannya lebih dari 100 dollar.
“Gaun itu harganya lebih dari 1.000 dan payung Ini cukup berkelas juga.” Komentar Jaksa Kim
“Tentu saja. Ini hadiah gratis yang sangat cantik. Tidak ada yang membuat payung dengan bahan yang sama dengan gaunnya.” Kata Pegawai.Jaksa Kim pun memikirkan sesuatu. 

Adik Jaksa Kim pulang lalu melihat meja makan ada banyak makanan dan  kelihatannya enak. Seol Ok menyuruh adik iparnya agar mencuci tangan lebih dulu. Sang adik pun menanyakan lilin diatas meja sambil makan semuanya.
“Ini hari ulang tahun pernikahanku.” Ucap Seol Ok. Si adik ipar yakin kalau makanan itu bukan dibuat oleh kakak iparnya.
“Mengapa? Apa rasanya aneh?” tanya Seol Ok. Adik ipar mengaku kalau rasanya enak sekali.
“Bukan kau yang memasak ini, 'kan? Ini sangat enak.” Ucap adik iparnya terus makan memenuhi mulutnya

Seol Ok mengeluh sang adik ipar yang  sangat berantakan ketika makan maka dari itu sebabnya dicampakkan pria. Saat itu ponsel Seol Ok menerima pesan dari suaminya.
“Maaf aku tidak bisa pulang pada hari ulang tahun pernikahan kita. Ini tidak seberapa dibandingkan apa yang telah kau lakukan padaku. Aku akan memberikan hadiah untukmu. Itu akan sampai besok.”
Seol Ok tersenyum bahagia menerima pesan dari suaminya yang ternyata tak melupakanya, lalu bertanya-tanya kapan suaminya itu  punya waktu untuk membeli hadiah.  Akhirnya ia duduk dengan wajah bahagi bersama adik ipar melayani makan agar mencoba semuanya. 

Jaksa Jung berbicara dengan Tuan Han mengatakan kalau Ji Won memang pintar Tapi tidak tahu bagaimana cara dunia ini bekerja. Ia pun mengaku kalau  bukan pengacara yang lebih baik dari Ji Won Tapi tahu politik, menurutnya Tuan Han membutuhkan seseorang sepertinya. Tuan Han tak ingin banyak bicara dan ingin ke intinya saja.
“Percayakan Firma Hukum Ha dan Jung padaku untuk sementara waktu. Kau ingin putramu menjadi Ketua MA Dan juga, Wan Seung bersikap kekanakan... Dia melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Maka Akan susah mengurusnya. Aku akan mengambil kasus itu. Kita tidak bisa meninggalkannya dalam bahaya.” Kata Jaksa Jung
Ji Won melihat dari kejauhan rekan kerjanya yang bicara dengan Jaksa Jung. Jaksa Jung pun mengajak Tuan Han agar minum teh bersama di ruangannya. 

Ji Won terlihat gelisah diruangnya lalu menanyakan apakah keduanya  masih di ruangan. Sekertarisnya memberitahu kalau baru saja keluar. Ji Won pun bertanya-tanya mereka yang minum teh selama satu jam dan berpiki kalau sampai mengambil semuanya. Jaksa Jung tiba-tiba masuk dengan tawa bahagia.
“Dimana sopan santunmu? Kau harusnya mengetuk dulu.” Ucap Ji Won kesal
“Kau tahu sopan santun juga. Aku senang melihatmu kesal.” Komentar Jaksa Jung
“Aku tidak tahu apa yang kau lakukan Tapi itu tidak akan berjalan sesuai rencanamu Kau tahu Tn. Ha akan...berubah pikiran... saat situasi berubah.” Tegas Ji Won
Jaksa Jung menegaskan kalau Terserah apa yang katakan Ji Won karena  tidak akan terpengaruh lalu berjalan pergi. Ponsel Ji Won berdering, wajahnya tersenyum bahagia menerima telp dari Tuan Jang. 

Seol Ok memasukan baju untuk suaminya lalu keluar kamar menyapa ibu mertuanya. Nyonya Park melihat Seol Ok akan pergi lagi. Seol Ok mengatakan akan mengantar celana dalam Ho Cheol. Nyonya Park mengeluh Seol Ok yang belum mengantarnya padahal Seharusnya mengantar pagi hari.
“Aku menunggu sampai waktu makan siang dan ingin membawa makanan enak.” Kata Seol Ok.
“Baiklah... Dia lembur semalaman. Kau harus mengurusnya.” Kata Nyonya Park dan menyuruhnya pergi saja. 

Saat itu terdengar bunyi suara bel rumah, Nyonya Park pun bertanya-tanya siapa yang datang. Seol Ok pun menyalakan bagian interkom ternyata itu petugas pengiriman. Nyonya Park langsung menuduh  Seol Ok yang membeli sesuatu. Seol  Ok mengaku tak membeli apapun.
Akhirnya si petugas membawakan kotak dan meminta tanda tangan,  Seo Ok binggung karena itu untuknya dan ingin tahu Siapa yang mengirimnya. Nyonya Park langsung menuduh Seol Ok yang membeli sesuatu dan lupa lagi. Si petugas memberitahu Kim Ho Cheol yang mengirimnya.

Seol Ok langsung tersenyum mendengarnya dan Nyonya Park langsung mengambilkan kotak dan dibawanya masuk ke dalam rumah. Seol Ok mengikuti dari belakang. Nyonya Park langsung membuka isi kotak dan tak percaya anaknya itu bisa tahu kalau tidak punya payung.
“Ibu... Aku pikir itu untukku.” Kata Seol Ok. Nyonya Park sinis mendengarnya.
“Dia membelinya untukku karena payungku hilang.” Kata Nyonya Park ketus. Seol Ok pikir Ada kartu ucapan di sana.
Nyonya Park melihat sebuah kartu dan membaca  "Seol-Ok, aku mencintaimu" wajahnya langsung cemberut dan mengeluh kalau itu sebabnya mengapa anak laki-laki hanya baik pada menantunya saja, bahkan tidak peduli jika mati karena kepanasan.
“Ibu, aku akan membelikannya untukmu.” Kata Seol Ok. Nyonya Park menolak dengan wajah kesal memilih masuk ke dalam kamar.
Seol Ok membuka payung terlihat senang menurutnya  bukan payung biasa dan Merek produk ternama, jadi Pasti harganya mahal dan suaminya bisa menyempatkan waktu pergi keluar untuk membelinya. Ia pun mengucapkan terimakash pada suaminya. 

Seol Ok pergi menemui suaminya dengan payun didepan ruang kemanana. Lalu petugas setelah menelp memberitahu Seol Ok kalau Jaksa Kim tidak ada kantor sekarang. Seol Ok pun merasa bersalah karena seharusnya menelepon sebelum datang dan menitipkan baju pada suaminya.
Akhirnya Seol Ok berjalan keluar dari kantor kejaksaan dan menyeberang jalan, tanpa disadari suaminya berada dibelakangnya, sedang duduk dicafe bersama dengan seorang wanita. 

Seol Ok dengan bangga memakai payung ingin memamerkan pada temanya. Kyung Mi malah makin menyindir apakah hanya itu saja hadiah dari suami temanya yang dibicarakan ditelpon selama satu jam. Seol Ok dengan bangga kalau itu payung yang cantik untuknya.
“Cantik tapi Bukankah dia sangat jahat?” komentar Kyung Mi
“Kenapa kau sangat negatif padanya? Bagiku dia sangat baik.” Kata Seol Ok membela. Kyung Mi sudah tahu temanya pasti akan membela suaminya.
“Kau terlalu berpikiran negatif” komentar Seol Ok. Kyung Mi menegaskan bukan dirinya tapi Dunia yang berpikiran negatif pada Jaksa Km
“Semua pria itu berbeda. Tidak semua pria itu jahat. Dia pria yang mencintai satu wanita setelah dia lulus ujian walau banyak wanita yang berbaris padanya. Itulah Oppa-ku.” Kata Seol Ok membela.
“Baiklah.. Jalanilah hidup sesuai kemauanmu.” Ungkap Kyung Mi tak ingin berdebat dengan temanya. 

Ho Soon membaca koran lalu melihat koran dengan wajah Seol Ok di dalamnya, wajahnya panik berpikir kakak iparnya sudah gila karena nanti ibunya mungkin bisa mengetahuinya. Nyonya Park datang melihat Ho Soon yang menyembunyikan sesuatu.
“Apa yang kau sembunyikan?” tanya Nyonya Park, Ho Soon mengelengkan kepala menyembunyikan di balik badanya.
“Jangan bersikeras.” Kata Nyonya Park merampas dari tangan anaknya. Ho Soon pun pasrah mencoba menyakinkan ibunya kalau itu tidak benar. Nyonya Park kaget melihat Seol Ok di dalam koran.
“Dia telah menipuku dan menyelidik bersama polisi selama ini. Ini tentang Pembunuh berantai?” ucap Nyonya Park marah
“Dia hanya memberi beberapa saran saja.” Kata Ho Soon menenangkan temanya.
“Dia ada di tempat makan siang, 'kan?” ucap Ibu mertuanya ingin pergi. Ho Soon pikir Seol Ok akan akan segera pulang.
“Ya ampun. Tidak bisa dipercaya. Bagaimana dia bisa tidak takut?” kata Seol Ok geram. Ho Soon menahan ibunya agar tak pergi dan di rumah saja.

Nyonya Park menolak karena sudah sangat marah ingin tetap menemui mertuanya. Ho Soon terus menahanya dan tetap tenang. Saat itu Seol Ok baru saja pulang melihat ibu dan Ho Soon ada didepan rumah. Ho Soon memberi kode kalau kakak iparnya sudah mati. Seol Ok tak tahu menahu berusaha untuk santai dan yakin ibu mertuanya akan baik-baik.
“Ibu, Gyung Mi membuat kepiting asin favoritmu. Kau akan makan semangkuk nasi dengan ini.” Ucap Seol Ok memperlihatkan kotak makanan yang dibawanya.

“Kau tidak tahu apa-apa...Apa ini?” kata Nyonya Park. Seol Ok membaca judul artikel [Seorang profiler sipil membantu menangkap kriminal] dan kaget ada foto dirinya. 


Wan Seung ingin tahu hasilnya. Petugas Na memberitahu kalau  sedang melakukannya. Wan Seung pikir mereka menggunakan program komputer dan meminta agar lebih cepat. Joon Oh memberitahu Komputer tidak bisa membedakan perbedaan kecil Jadi seseorang harus memeriksanya untuk terakhir kali.
“Komputer ke manusia. Penting untuk mengeceknya, 1 dari 9.” Kata Joon Oh. Petugas Na memperbaiki kalau sebenarnya  2 dari 8.
“Hei, kau harus tahu dulu sebelum bicara.” Ejek Wan Seung. Lalu Petugas Na mencari tahu sidik jari siapa yang paling cocok.
“Benar. Ini sidik jari yang sama.” Kata Petugas Na menemukan sidik jari yang sama.
“Aku menemukan catatan transaksi pada tanggal 13 Mei jam 2 siang. Mereka melihat tersangka membelinya.” Kata Joon Oh
“Aku tahu itu salah satu dari wanita itu. Aku bertanya-tanya mengapa dia mencampurkan pestisida ke minumannya.” Kata Wan Seung heran. 

Seol Ok mencoba menjelaskanya. Nyonya Park pikir sudah pernah bilang kalau tidak akan mau melihat menantunya lagi jika melakukan penyelidikan atau berhubungan dengan polisi. Ho Soon membela kakak iparnya kalau ini karena tesisnya.
“Aku tidak peduli apa itu karena tesisnya dan apa alasannya.” Kata Nyonya Park
“Aku tidak akan melakukan ini lagi. Aku bersungguh-sungguh.” Ucap Seol Ok menyakinkan. Tapi Nyonya Park tak  peduli menyuruh Seol Ok agar mengemasi barang-barangnya dan pergi. Seol Ok berusaha agar bisa merayu ibunya. 

Wan Seung dan Joon Oh pergi dengan mobil dan masuk ke sebuah lingkungan rumah. Wan Seung memastikan kalau itu memang alamat yang dituju. Joon Oh yakin yaitu 104 Baebang-ro. Wan Seung memberitahu kalau itu alamat Seol Ok. Joon Oh kaget mengetahuinya.
“Aku minta maaf ibu... Tidak ada lagi yang bisa kukatakan padamu.Tolong, jangan marah.” Kata Seol Ok. Nyonya Park tak peduli menyuruh Seol Ok segera pergi saja.
“Ibu, kau perlu bicara denganku.” Kata Seol Ok. Nyonya Park menyuruh Seol Ok agar mengemasi barangmu.
Saat itu Seol Ok berada didepan rumah, melihat Wan Seung dan Joon Oh lalu menyuruh keduanya menyingkir karena keadaanya sedang tak baik. Keduanya pun bersembunyi dibalik dinding. Seol Ok mengajak ibunya segera masuk ke dalam saja.
“Tidak ada lagi yang bisa kukatakan padamu. Aku harus masuk untuk berkemas. Ayo masuk.” Kata Seol Ok. Nyonya Park terus menyuruh Seol Ok untuk segera pergi. Ho Soon pun mengajak ibunya untuk segera masuk saja.
“ayo masuk dan bicara... Kau harus tenang dan Jangan terlalu keras padanya.” Kata Ho Soon mengajak ibunya. Seol Ok langsung menyuruh keduanya segara pergi saja.
“Apa yang terjadi adalah...Silahkan pilih. Kau akan bilang kalau kau mengenalku atau tidak?” ucap Wan Seung 
Seol Ok merasa Wan Seung itu gila dan ingin tahu alasan datang. Wan Seung tak peduli dan langsung memanggil Nyonya Park yang ada didepan rumah. Seol Ok panik langsung bersembunyi dibalik dinding dan pasti akan mati.
“Astaga, apa yang membawamu ke sini, Detektif Ha?” ucap Nyonya Park. Seol Ok heran ibu mertuanya bisa mengenalnya.
“Kami datang karena kasus pestisida.” Kata Wan Seung. Nyonya Park pikir  sudah memberitahumu semua yang diketahuinya kemarin.
“Kau harus ikut ke kantor polisi bersama kami.” Ucap Wan Seung. Nyonya Park kaget dan binggung kenapa harus ke kantor polisi.
“Nyonya  Park... Kau tidak perlu mengatakan apapun lagi. Kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.” Kata Wan Seung 
Seol Ok langsung keluar dari persembunyianya, bertanya  Apa yang sedang terjadi dan merasa kalau Wan Seung sudah gila menuduh seperti itu. Joon Oh memberitahu kalau sudah menemukan sidik jari dan Wan Seung menjelaskan Ini percobaan pembunuhan jadi ikut bersama mereka. Nyonya Park sedikit lemas mengetahui kalau dirinya dianggap pembunuh. 



Di dalam sel tahanan
Hoo Soon mengatakan kalau ibuny membeli sebotol pestisida di apotek dan Ada yang melihatnya bahkan Sidik jarinya juga ada di botol. Nyonya Park mengaku kalau memang membelinya Tapi bukan ia pelakunya tak ada ada alasan untuk meracuni Manajernya.
“Lalu kenapa kau membelinya?” tanya Ho Soon. Nyonya Park mengatakan Ada hama di pot bunganya.
Flash Back
Nyonya Park membawa botol Pestisida dan menyiramkan pada tanamanan bunga.
Ia pun menjelaskan kalau Tidak ada yang peduli tentang itu makanya melakukannya. Ho Soon heran dengan ibunya karena tidak melakukan apapun di rumah tapi Kenapa sangat sibuk di pusat senior. 


Seol Ok berjalan dilorong menanyakan Apa yang akan terjadi pada Ibu mertuanya. Wan Seung menjelaskan kalau Banyak orang yang melihat Nyonya Park bertengkar dengan Manajernya. Seol Ok tahu kalau Nyonya Park itu bukan tipe orang yang menyimpan dendam jadi yakin bukan dia.
“Tapi aku harus menginterogasinya. Korbannya dirawat di rumah sakit.” Kata Wa Seung
“Kau harus menangkap pelakunya sebenarnya.” Ucap Seol Ok khawatir
“Ibu mertuamu mungkin pelakunya.” Kata Seol Ok yakin. Wan Seung pikir Tapi harus memastikannya dulu.

Seol Ok datang menemui ibu mertuanya, Nyonya Park menyuruh Seol Ok menyuruh Seol Ok untuk pergi saja. Ho Soon menasehati ibunya kalau  tidak ada waktu untuk bersikap seperti itu.
“Aku tidak akan membiarkan dia membantu mereka bahkan jika aku hidup di penjara.” Kata Ibu Ho Soon
“Haruskah aku memanggil Oppa?” kata Ho Soon. Ibunya mengumpat anaknya sudah gila melakukan itu.
“Kita tidak bisa merusak karirnya. Apa yang akan terjadi jika orang mendengar Ibunya dipenjara?” kata Nyonya Park
“Ibu belum dipenjara dan Ibu bilang tidak melakukannya. ” ucap Ho Soon. 
Nyonya Park merasa tak ada yang akan mempercayainya jadi meminta agar merahasiakan dari kakaknya. Ho Soon pikir tak mungkin karena mereka  tinggal serumah. Nyonya Park pikir lebih baik pada anaknya kalau  pergi jalan-jalan dengan temannya. 

Seol Ok duduk dengan wajah tertunduk. Ho Soon datang menemui kakak iparnya. Seol Ok merasa binggung yang harus mereka lakukan sekarang, karena Nyonya Park tidak akan mengucapkan sepatah katapun padanya. Ho Soon pikir itu tidak akan bertahan lama.
“Aku akan membujuknya dan bicara dengannya.” Kata Ho Soon
“Mereka memiliki bukti. Dia tidak bisa menyangkalnya jadi Kita harus menangkap pelaku yang sebenarnya.” Ucap Seol Ok lalu mengajak Ho Soon pergi.
Ho Soon binggung kemana mereka akan pergi. Seol Ok mengatakan kalau  mereka untuk menangkap siapa yang melakukannya dan mengunkan yang telah dipelajari oleh Ho Soon dan menangkapnya.

Nyonya Kim mengaku Nn. Park tidak melakukannya dan Manajer melakukannya sendiri, karena suka mencari perhatian. Menurutnya Bibi Ko adalah orang mengerikan yang menginginkan semua orang untuk memusatkan perhatian padanya.
“Dia takut karena dia memakai uang iuran kami untuk berbelanja.Jadi dia hanya minum sedikit supaya tidak mati.” Ucap Nyonya Kim
“Dia menutupi dada atasnya dengan tangan. Artinya dia sangat cemas. Itu bohong.”bisik Ho Soon.
“Apa benar dia menyakiti dirinya sendiri?” tanya Seol Ok. Nyonya Kim yakin sekali 

Bibi Song  merasa Tidak ada yang akan melakukan hal begitu, tapi menurutnya Lee sering meminum minuman Manajer dan mereka sering bertengkar. Ia menyakinkan kalau tidak mengatakan Nn. Lee yang melakukannya.
“Lalu, apa Nn. Lee yang memasukkan pestisida itu?” tanya Seol Ok
“Aku tidak bilang begitu. Bagaimanapun... Yang meracuninya bukan aku.” Kata Bibi Song menyakinkan. Ho Soon memberitahu Seol Ok yang dikatakan bibi Song itu Jujur.

Bibi Lee pikir kalau Nn. Kim menyuruh Nn. Song untuk melakukannya. Ia tahu kalau Nn. Song tidak membayar iurannya dan manajer memarahinya Lalu Nn. Kim yang membayarnya. Dan Setelah itu Nn. Song pura-pura sangat setia dan  itu sangat mengganggunya.
“Ia selalu mengatakan "Ya, tentu saja, tentu saja." Ya ampun. Dia seperti pembantu saja.” Ucap Nona Lee. Ho Soon menilai dari gerak gerik kalau Nona Lee itu jujur.
“Itu bisa saja terjadi padamu.” Ucap Seol Ok. Bibi Lee menganguk mengerti.
“Bagaimana jika aku yang kena?” ucap bibi Lee khawatir
“Jadi kau yang meminum ginseng merahnya.” Kata Seol Ok. Bibi Lee tak percaya untuk apa meminumnya sambil mengangguk. 
“Dia mengangguk. Tindakan dan kata-katanya tidak sesuai. Bohong.” Kata Ho Soon. 



Nyonya Park pikir Nn. Kim yang melakukannya karena ingin menjadi Ketua. Ia menceritakan Bibi Ko bilang Nyonya Kim akan mencalonkan diri sebagai Ketua dan dia yang lebih dulu menginginkannya.
“Mereka sering berdebat ketika bertemu. Saat menantu manajer ketahuan selingkuh, Nn. Kim memberitahu semua orang tentang hal itu. Manajer ingin menuntut dia karena memfitnahnya. Dia memintaku untuk berbicara dengan Ho Cheol.” Katanya Nyonya Park. Ho Soon menilai ibunya jujur.
“Mengapa Ibu berkelahi dengan manajer?” tanya Ho Soon setelah menerima bisikan dari Seol Ok.
“Kami tidak bertengkar. Selama seminar ada perbedaan pendapat.” Kata Nyonya Park gugup. Ho Soon bisa tahu kalau yang dikatakan ibunya itu bohong. 

Keduanya pun keluar dari sel penjara. Ho Soon heran dengan ibunya karena berbohong. Seol Ok tahu Nyonya Park berbohong karena dirinya, ia tahu ibu mertuanya pergi ke pusat dan bilang itu pergi seminar, lalu tidak bisa mengaku kalau mereka main kartu.
“Bagaimana dengan temannya yang lain?” tanya Ho Soon.
“Mereka pasti punya alasan atau mereka adalah kaki tangan.”ucap Seol Ok 

Restoran Makan Siang Dong Ho
Kyung Mi memasakan lauk untuk kotak makan siang. Ketua Bae yang melihatnya memuji kalau Kyung Mi mengemas kotak makannya dengan seni. Kyung Mi memberitahu kalau mengambil jurusan seni jadi bukan masalah untuknya. Tuan Bae membantu Kyung Mi memindahkan kotak makanan.
“kau Tinggalkan. Aku bisa mengaturnya. Aku merasa tidak enak sekarang.” Ucap Kyung Mi
“Tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang telah kita lalui.” Komentar Kyung Mi lalu tiba-tiba memuji cantik. Kyung Mi sempat terdiam.
“Makanannya.” Kata Ketua Bae menyangkal. Saat itu Seol Ok melihat keduanya sedang saling memuji dan memilih untuk duduk bersama dengan Joon Oh dan Wan seung.

Seol Ok menanyakan hasil laporannya. Wan Seung dengan sinis menjawab kalau Polisi akan mengurusnya dan kasus ini bukan pekerjaan untuk profiler sipil. Joon Oh memberitahu kalau Dari lima botol yangdi temukan.. Seol Ok memotong kalau yang membeli botol-botol itu supaya mereka tidak bertengkar.
“Kami tahu itu. Kami bertanya kepada mereka, Ahjumma Sipil.” Kata Wan Seung kesal
“Kau bisa pergi jika sibuk.” Balas Seol Ok kesal. Wan Seung menyuruh Seol Ok saja yang pergi karena Indranya mengatakan harus disini.
“Kami menemukan semua sidik jari pemilik botolnya dan sidik jari lain di botol ginseng merah.” Kata Joon Oh
Seol Ok bisa menebak kalau itu pasti Nyonya Lee, Wan Seung kaget karena Seol Ok bisa menebaknya lalu merasa yakin kalau Ini tempat yang beruntung. Seol Ok pun bertanya apakah menemukan sidik jari Nn. Lee pada label biru

“Iya. Apa menurutmu dia yang melakukannya?” kata Joon Oh.
“Inilah yang membuat ibu mertuamu disalahkan. Ditemukan pestisida diminuman ginseng merahnya.” Jelas Wan Seung.
Seol Ok memikirkan sesuatu. Joon Oh tersenyum melihat Seol Ok yang berpikir, menurutnya Jika mukanya begitu berarti akan memecahkannya. Tapi Wan Seung merasa kalau Seol Ok terlihat linglung.
“Aku tahu siapa yang melakukannya.” Kata Seol Ok yakin  Joon Oh dan Wan Seung pun ingin tahu Siapa pelakunya.
“Aku tidak yakin 100 persen.” Ucap Seol Ok.  Wan Seung mengeluh mendengarnya tapi Joon Oh memuji Seol Ok memang  yang terbaik.


Saat itu adik Jaksa Kim datang. Ho Soon bertanya kenapa harus datang. Seol Ok memberikan kotak makan kalau sudah  mengemasi makanan kesukaan ibu mertuanya. Ho Soon pikir Seol Ok itu seharusnya antar sendiri.
“Aku takut dia tidak akan memakannya jika aku melakukannya.”kata Seol Ok. Ho Soon pun mengangguk mengerti.
“Ketika kau di sana, tanyakan padanya tentang sarung tangan. Dia suka menjaga kebersihan jadi tidak akan menyentuh pestisida dengan tangan kosong. Dia pasti memakai sarung tangan.” Kata Seol Ok. Wan Seung menyuruh Joon Oh mencatat yang dikatakan Seol Ok.
“Bagaimana dia memakainya...melepaskannya... Dan di mana dia menaruhnya. Semuanya. Itu harus ditanyakan” kata Seol Ok. Ho Soon mengangguk mengerti. 

Ho Soon pun membuka kotak makan meminta agar ibunya makan dengan lahap dan segera cepat keluar karena kakak iparnya itu  mengkhawatirkan ibunya. Nyonya Park langsung menangis dengan keadaanya sekarang.
“Omong-omong... Apa Ibu pakai sarung tangan ketika menggunakan pestisida?” tanya Ho Soon. Nyonya Park memikirkan tentang Sarung tangan.
“Aku tidak akan menyentuh pestisida dengan tangan kosong.” Kata Nyonya Park 

Ho Soon menelp Seol Ok keluar dari ruangan pertemuan. Seol Ok langsung menanyakan apakah Ibu mertuanya memakan semuanya. Ho Soon memberitahu kalau ibunya tidak selera makan jadi makan sedikit dan membahas tentang Tentang sarung tangan.
“Ya, sarung tangan. Di mana dia menaruhnya? Apa Di pot bunga?” tanya Seol Ok lalu setelah itu selesai bicara dengan Ho Soon.
Seol Ok lalu bertanya dimana mereka menemukan sarung tangannya. Wan Seung pun bertanya balik apakah sarung tangan Ibu mertuanya. Seol Ok membenarkan. Joon Oh memberitahu kalau merek menemukan  Diluar dan didalam pot bunga. Seol Ok menatap kosong ke arah lain.
Wan Seung merasa Seol Ok itu bingung lagi lalu meminta Joon Oh bersiap karena terlihat Seol Ok yang mendapatkannya. Seol Ok membalikan badan mengatakan  Orang yang menaruh pestisida di minumannya dan tahu siapa orangnya. Semua pun terlihat siap menunggu jawaban Seol Ok.
Bersambung episode 14

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted


Sinopsis Queen Of Mystery Episode 13 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Inspektur Woo berlari memberikan perintah agar memindahkan semua orang dan apabila diperlukan mengunakan senjata api. Si pelaku mengemudikan mobil polisi melalui jalan tempat Inspek. Wook berdiri dibelakang Joon Oh dan Seol Ok mengikutinya dengan mobil.
Saat itu terdengar bunyi tembakan peringatan ke udara, Wan Seung kaget mendengarnya dan berlari di tempat yang berbeda dengan Ketua Bae. Suasana mulai tegang, Inspek. Woo pikir akan menghentikan semuanya dan mengangkat pistolnya.
Wan Seung masih terus berlari, Seol Ok ingin keluar mobil. Joon Oh menghentikanya karena pasti akan sangat berbahaya. Inspek Woo mengingat tentang Jin Young yang tiba-tiba tak sadarkan diri. Si pelaku tak takut mengemudikan mobilnya, Wan Seung belari mengambil pistol dari tangan Inspek Woo berpikir kalau akan membuanuh si pelaku lalu melepaskan tembakan di tempat yang melumpuhkan si pelaku.
Tapi si pelaku berusaha untuk kabur dengan mobilnya walaupun bannya sudah di tembak. Wan Seung mengejar berusaha memecahkan kaca mobil, lalu menarik Sipelaku keluar dari mobil dan menangkapnya. Mobil polisi pun datang, si pelaku seperti sudah tak berakal sehat hanya tertawa lepas.
Polisi lain pun membantu Wan Seung menangkap si pelaku. Joon Oh dan Seol Ok pun pergi melihat korban. Inspek. Woo hanya menatap si pelaku yang dibawa oleh polisi ke dalam mobil. 
“Kita menangkapnya. Ini sudah berakhir dan Kasus Jin Young sudah selesai.” Ucap Ketua Bae datang paling belakang. Seol Ok dan Joon Oh pun mengikuti ke dalam ambulance dengan korban dan mereka pun semua pergi.

“Coba kau Lihat? Sudah aku bilang, kita harus melakukan ini bersama-sama. Jangan melakukan ini sendirian. Kita lakukan bersama, benarkan?” ucap Ketua Bae.
“Apa kau pikir ini sudah berakhir? Apa ini benar-benar berakhir?” ucap Inspek Woo dengan tatapan kosong.
Ini belum berakhir, Tidak ada akhir untuk pekerjaan ini. Ada jutaan orang brengsek yang harus kita tangkap.” Tegas Woo Seung
Ketua Bae pun mengajak agar mereka bisa hidup dengan semangat srta tetap makan tiga kali sehari tidak peduli apapun lalu mengajaknya pergi. Wan Seung memberitahu kalau dilakukan Inspek Woo itu bukan gayanya tapi menurutnya rekan kerjanya itu ternyata orang yang berbakat.
“Aku menarik kembali perkataanku tentang profiler palsu.” Akui Wan Seung. Inspek Woo pun tak menanggapinya dan berjalan dengan Ketua Bae. Wan Seung mengeluh dengan rekan kerjanya itu  masih saja menyebalkan dan tidak menyukainya, lalu bertanya pada polisi lain yang ingin pergi ke Kantor Polisi Seodong.

Inspek Woo pergi ke pemakaman berdiri di depan nama “Kopral Lee Jin Young” lalu mengucapkan selama tinggal pada Jin Young dan meminta maaf karena lama menangkapnya. Setelah itu memberikan hormat dan pergi meninggalkan pemakaman.
Sementara Ketua Bae dkk minum bersama dalam rangka perayaan keberhasilan mereka menangkap pembunuh. Ketua Bae pun bertanya sebenarnya tim apa merek karena mereka menangkap pencuri dan pembunuh berantai.
“Kita adalah Unit Khusus.” Ucap Wan Seung  bangga dan mengajak mereka bersulang.
“Kalian bertiga biasanya selalu depresi. Apa yang terjadi hari ini?” ejek si bibi
“Bibi , kami menangkap orang yang sangat jahat hari ini. Seorang pria jahat yang bahkan tidak bisa kau bayangkan.” Kata Wan Seung bangga
“Aigoo. Kalian idiot. Sudah wajar bagi kalian untuk menangkap orang jahat. Kenapa sangat bangga?” ejek si bibi. Wan Seung pun mengoda si bibi akan menangkapnya nanti. 

Mereka akhirnya keluar dari restoran setengah mabuk, Ketua Bae ingin menelp supir penganti. Joon Oh mengatakan akan mengantarkanya. Ketua Bae merasa beruntung punya Joon Oh karena Wan Seung yang  tidak pernah memperlakukan seperti atasannya tapi Joon Oh itu sangat hormat padanya.
“Kau... sangat pandai merayu orang.” Ucap Wan Seung kesal. Ketua Bae menyuruh Wan Seung untuk diam saja dan mengajak Joon Oh untuk segera pergi.
“Kau Jadilah komisaris polisi kalau begitu.” Ejek Wan Seung marah. 

Joon Oh mengemudikan mobilnya lalu berpikir kalau Wan Seung itu  punya rumah dan mengeluh kalau rekan kerjanya terus menginap dirumahnya. Wan Seung pikir Joon Oh tahu alasannya. Joon Oh kesal Wan Seung yang selalu mengodaya lalu meminta agar menghentikanya.
“Aku lelah....Bangunkan aku kalau sampai.” Kata Wan Seung menurunkan kursi mobilnya ingin tidur. Joon Oh hanya bisa mengeluh dan membiarkan Wan Seung tidur. 

Seol Ok duduk diruang tengah pagi hari dengan wajah bahagia karena  menangkap pembunuhnya. Ia pun berpikir akan melakukan pekerjaan rumah tangga hari ini. Ia melihat tak ada baju kotor, lalu melihat banyak cucian piring yang menumpuk lalu mulai mencucinya.
Setelah selesai membersihkan rumah dengan vacum cleaner dan menjemur semua selimut dengan cahaya matahari yang cukup terik. 

Sementara Joon Oh tertidur dengan pulas, saat bangun binggung dengan tempat tidurnya karena semalam ingin tidur di rumah Joon Oh.  Lalu dikagetkan dengan melihat calon tunanganya ada didepan matanya sedang memasak didapur.
“Kenapa aku disini? Mengapa kau di sini?” tanya Wan Seung heran. Ji Won tahu kalau Wan Seung pasti tak mengingatnya. Wan Seung bertanya-tanya apa yang harus di ingatnya.
 Flash Back
Joon Oh mengemudikan mobil dan mendengar ponsel Wan Seung terus saja berdering, dan melihat nama “Jung Ji Won” lalu mengeluh dengan nada dering dan mengangkannya.
“Bukankah ini ponsel Ha Wan Seung?” ucap Ji Won heran mendengar bukan suara Wan Seung.
“Ya, ini ponsel hidung anjing, maksudku... ponsel Detektif Ha Wan Seung.” Kata Joon Oh melirik pada Wan Seung yang tertidur pulas. 

Wan Seung pun mengerti kalau Joon Oh yang meninggalkan pada Ji Won saat tertidur pulas setelah minum banyak. Ji Won pun heran karena Wan Seung malah tidur dirumah orang lain. Wan Seung dengan sinis kalau itu bukan urusanya lalu mengumpat kesal pada rekan kerjanya. 

Joon Oh tidur dengan wajah bahagia karena bangun tanpa ada Wan Seung dirumahnya, lalu ingin mencari sesuatu di dalam kulkas. Kulkas pintarnya memberitahu kalau Sistem notifikasi makanan sudah aktif dan memberitahu Kerang, kadaluarsa tanggal 18 Mei.
Ia pun akan makan dengan cepat kerang sebelum kadaluarsa, lalu berpikir untuk membuat apa akhirnya ia meminta agar di tunjukan  resep pasta kacang rebus dan Cara memasak. Saat membaca resep di layar kulkas, telpnya masuk. 

Wan Seung mulai mengeluh dengan Joon Oh yang meninggalkan ada seorang wanita melirik pada Ji Won sedang masak. Joon Oh pun menjelaskan kalau Ji Won itu tahu rumahnya jadi sengaja mengantarnya pulang, lalu berkomentar kalau rumah Joon Oh memang bagus dan kenapa harus menginap di rumahnya.
“Aku tidak bisa tidur karena kau mendengkur seperti anjing.” Keluh Joon Oh. Wan Seung kesal mendengar Joon Oh malah menemuinya dengan Ji Won.
“Sampai ketemu di kantor polisi. Aku akan menghancurkanmu.” Ancam Wan Seung 

Ji Won selesai masak merasa pasti punya bakat memasak dan menurutnya itu menyenangkan. Lalu bertanya apakah ingin memasak untuknya. Wan Seung dengan ketuas mengatakantidak tertarik pada seseorang yang pandai memasak dan ingin tahu alasan datang ke rumahnya.
“Bukankah kau di sini karena suruhan ayahku?” ucap Wan Seung sinis
“Dia bilang kau harus pulang kerumah sekarang.” Kata Ji Won
“Jika dia mengembalikanku ke tim-ku” balas Wan Seung lalu meminta aga meningalkan kuncinya dan pergi. Tanpa sadar dibawah kursi ada alat penyadap.
“Seo Hyun Soo sudah meninggal. Kau harus melupakannya. Apa Kau pikir... Jang Do Jang yang membunuhnya?” ucap Ji Won. Wan Seung terdiam mendengarnya.
Ji Won pikir dirinya tak salah karena itu salah satu alasan Wan Seung terobsesi dengan Do Jang dan memberitahu kaalu sekarang sudah 17 tahun lamanya dan juga tidak ada aktivitas sama sekali, menurutnya tak mungkin Hyun Soo itu bisa hidup tanpa menggunakan ATM, Bank, ponsel atau rumah sakit di Korea.
“Aku akan menunjukkan padamu kalau dia sudah mati.” Kata Ji Won yakin
“Hyun Soo... Dia masih hidup...” ucap Wan Seung yakin. 
Ji Won mengeluarkan ponselnya lalu meminta seseorang agar  menangani Jang Do Jang serta menemukan nya tidak peduli apapun. Bahkan Dapatkan semua informasi tentang Jang Do Jang. Ia ingin tahu keberadan Do Jang dan informasi yang dibutuhkannya.
Jaksa Jung mendengar suara percakapan yang sengaja disadap dari rumah Wan Seung lalu bertanya-tanya siapa Jang Do Jang. Lalu ia pun menelp seseorang agar mencari seseorang untuknya. 

Nyonya Park baru saja akan masuk ke sebuah rumah, tapi tiba-tiba salah satu temanya merasakan lehernya kesakitan dan kejang lalu jatuh pingsan. Teman lain datang melihat sosok ibu terjatuh di teras, Nyonya Park yang panik meminta temanya agar memanggil ambulance. 

Kyung Mi masak oseng tahu dengan bentuk yang cantik, lalu melihat ke arah Seol Ok yang ikut masak lalu memberitahu agar Jangan buat bubur tahu tapi lebih baik membuat saja mapo tahu. Seol Ok berdalih dengan tahunya sangat lembek. Kyung Mi memberitahu kalau tahu itu lembut. Saat itu Wan Seung masuk restoran.
“Kau seharusnya menangkap pembunuh. Mengapa kau..” ucap Seol Ok da langsung disela oleh Wan Seung melihat masakanya.
“Apa ada yang sakit? Mengapa buat bubur?” ejek Wan Seung. Seol Ok memilih balik bertanya kenapa datang ke restoran temanya.
“Aku datang untuk bekerja. Itu kantor tim kita.” Ucap Wan Seung lalu masuk lebih dulu.
Joon Oh masuk menyapa Seol Ok dengan senyumanya, Seol Ok pun menyapa Joon Oh dengan menawarkan sarapan pagi. Joon Oh menolak lalu memberikan semangat dan masuk ke ruangan bawah tanah.
Saat itu ketua Bae masuk melihat Kyung Mi yang masak langsung merasa khawatir dan mengantikanya, menurutnya pengorengan itu dan akan menyakiti pergelangan tangannya. Kyung Mi pikir kalau bisa melakukan itu. Ketua Bae melarang mengambil alih kalau akan memasaknya, Seol Ok melihat Ketua Bae yang memberikan perhatian pada temanya. 


Joon Oh dan Wan Seung duduk di ruang bawah tanah sambil menonton CCTV saat kejadian teman Nyonya Park yang jatuh kejang-kejang. Wan Seung tahu kalau tempa itu  Pusat senior dan akan ke sana sekarang, tapi menurutnya Joon Oh juga harus melihat itu.
“Kopral Park tidak bisa karena patroli.” Ucap Joon Oh
“Apa Kau masih belum kembali?” tanya Seol Ok akhirnya datang menemui Joon Oh dan Wan Seung
“Tidak. Aku bilang kepada mereka bahwa ini bukan hanya hubungan masyarakat...jadi perlu bantuanku.” Kata Wan Seung membanggakan diri.
“Kenapa kau mengadakan pertemuan disini?” tanya Seol Ok dengan nada menyindir
Wan Seung mengajak Joon Oh pergi ke TKP karena menurutnya jawabannya selalu ada di TKP. Seol Ok pun bertanya Ada kejadian apa.  Wan Seung menjawab kalau itu bukan urusan Ahjumma dan menyuruh agar Pergi membuat bubur. Seol Ok kesal karena masakannya itu bukan bubur.

“Bukankah kau pekerja paruh waktu disini? Aku belum pernah melihatmu bekerja.” Ejek Wan Seung. Seol Ok membela diri kalau ia berkerja.
“Kapan itu? Aku rasa kau memang tidak pernah bekerja.” Balas Wan Seung.
“Ada wanita yang muntah setelah minum di pusat senior.” Ucap Joon Oh memberitahu. Wan Seung memperingati.
“Tapi Mengapa seseorang memasukkan pestisida ke dalam minumannya?” kata Wan Seung heran. Seol Ok pun bertanya dimana tepatnya Pusat senior
“Itu di Baebang Peace.” Kata Joon Oh. Seol Ok kaget mengetahui Ibu mertuanya sering pergi kesana. Joon Oh mengajak untuk pergi bersama.
“Aku sibuk. Aku harus pulang karena ini hari ulang tahun pernikahanku.” Kata Seol Ok mencari alasan.
“Ooh begitu...Kau dan Ho Cheol... melakukannya dengan baik. Itulah kenapa kau memakai baju polkadot.” Ejek Wan Sung.
“Jangan begitu pada suamiku.” Ucap Seol Ok  membela. Wan Seung merasa tak ada salah karena itu bukan bukan suaminya. 


Joon Oh berjalan masuk ke TKP sambil berharap  ingin cepat menjadi orang dewasa, dengan Kerja lembur maka bisa menjadi orang yang berpengalaman dan bijak. Wan Seung dengan mengejek kalau Joon Oh tak perlu khawatir karena akan membantunya cepat menua.
“Akhir-akhir ini, aku cepat menua gara-garamu.” Keluh Joon Oh dan Wan Seung yang masuk ke TKP lebih dulu. Salah seorang petugas sedang memeriksa bagian taman.
“Petugas Na... Kau sampai di sini dengan cepat.” Ucap Joon Oh menyapa bagian forensik. 

Keempat Ahjumma termasuk Nyonya Park duduk dengan wajah tegang. Joon Oh dan Wan Seung duduk di depan mereka, lalu Wan Seung  bertanya Siapa nama Ahjumma di rumah sakit itu. Joon Oh berbisik memberitahu namanya adalah Ko Mal Sook.
“Ya, dia manajer pusat senior ini.” Kata Nyonya Park. Wan Seung mengucap syukur karena kesehatan bibi Ko baik-baik saja. Semua pun mengucap syukur bersama.
“Tapi kenapa dia masih di rumah sakit?” tanya salah satu bibi. Joon Oh mengatakan kalau bibi Ko akan segera pulang.
“Hei, Apa kau tahu? Kita sepertinya pernah melihat dia.” Ucap Nyonya Park menunjuk ke arah wajah Wan Seung.

“Ingatanmu payah. Kita 'kan menontonnya bersama. Kau bilang "Aku akan menangkapmu." Apa kau tidak ingat?” kata si bibi menahan tawa.
Joon Oh dan yang lainya pun ikut tertawa. Wan Seung memarahi Joon Oh yang masih bisa tertawa pada saat seperti ini dan menyuruhnya agar bisa berKonsentrasi. Joon Oh pun meminta maaf sambil menahan tawa.
“Nyonya Kim, ingatanmu sangat bagus. Bagaimana kau bisa tahu dengan melihatnya sekali?” ucap Bibi lainya.
“Tidak sekali. Dia sering muncul di berita.” Kata bibi lainya. Wan Seung membenarkan sudah muncul di berita utama.


Petugas Na mengambil gambar bukti sebuah sarung tangan, Wan Seung membuka kulkas dan melihat Ada lima botol yang sama dengan Ko Mal Sook, Song Mi Soon, Park Gyung Sook. Petugas Na memberitahu kalau  Mereka bertengkar sebelumnya karena minuman ini.
Joon Oh heran petugas Na bisa mengetahuinya.  Petugas Na berbisik kalau  Tempat ini lebih rumit dari yang di duga dan Ini sudah kejadian ketiga kalinya.
Flash Back
Bibi Ko membuka kulkas lalu berteriak marah bertanya Siapa dari mereka yang minum teh ginseng merahnya. 
Joon Oh melihat nama di botol  Kim Hye Ran, ginseng merah, cuka telur, jelai, plum. Nyonya Park memberitahu kalau menantunya  sudah membuat botol-botol  dengan nama-nama. Bibi Kim mengaku tidak bisa minum apapun dengan botol murah jadi tidak meminum apapun dari sana.
“Ginseng merah, Ko Mal Sook. Apa ini punya manajer?” tanya Wan Seung mengambil salah satu botol
“Ya benar. Itu teh ginseng merahnya yang berharga” kata Nyonya Park. Nona Kim heran karena menurutnya Itu bahkan bukan ginseng liar tapi kenapa ginseng merah sangat berharga baginya.
“Bagaimana dengan ekstrak ginseng liar yang kuberikan padamu?” tanya Nyonya Kim pada temanya. Si bibi mengaku merasa bersemangat saat bangun di pagi hari.
“Jadi, manajer muntah... setelah minum ini?” tanya Wan Seung. Nyonya Park tak tak tahu apa yang diminum tapi hanya melihat Bibi Ko yang sudah muntah saja.

Bibi lain yang bersama Nyonya Park juga melihatnya. Wan Seung binggung jadi siapa yang mengatakan kalau bibi Ko minum. Nyonya Kim mengangkat tangan kalau ia yang melihat bersama bibi yang duduk didepanya, walaupun terlihat gugup. 

Joon Oh dan Wan Seung duduk di ruangan sambil berpikir. Joon Oh mengetahui Nn. Park berkelahi dengan Bibi Ko ketika kalah bermain kartu. Saat itu mereka main Go Spot bersama, Nyonya Park bisa menemukan kartu yang disembunyikan bibi Ko untuk berbuat curang.
Sementara Nyonya Kim memberikan sogokan pada Nyonya Park dengan makanan agar mau mendukungnya. Nyonya Park dengan sinis ingin menolaknya, tapi Nyonya Kim melayani rekanya agar mau mendudungnya. Nyonya Park pun makan roti dan makanan yang dibawakan oleh temanya bahkan meminta agar menari. Nyonya Kim pun langsung menari didepan temanya. 

“Dia bertengkar dengan korban untuk menjadi Ketua berikutnya.” Ucap Joon Oh cerita tentang para Ahjumma.
Sementara Bibi Ko meminta dukungan juga pada Nyonya Park agar memilihnya dengan menyuapinya mochi. Nyonya Kim tak mau kalah dengan memberikan roti pada Nyonya Park.
“Nn. Song bertengkar dengannya karena uang iuran.” Kata Joon Oh
Bibi Ko memarahi Nyonya Soo yang belum membayar uang iuran. Nyonya Kim pikir itu tidak banyak, lalu mengeluarkan uang dari dompetnya kalau akan membayarnya. Nyonya Song seperti tak enak hati. 
“Jadi Nn. Kim membayarnya maka Dia terlihat diintimidasi oleh Nn. Kim.” Ucap Wan Seung
Nyonya Song yang sudah di bayarkan iuran akhirnya melayani Nyonya Kim bahkan mengipasinya yang kepanasan. Sementara Joon On tahu kalau Nyonya Lee tertangkap sedang minum ginseng merah manajer.
Nyonya Lee membuka kulkas dan dengan sengaja meminum ginseng dari botol. Bibi Ko memergokinya dan langsung berteriak marah. Nyonya Lee membela diri kalau tak ada yang salah kalau ingin minum sedikit.
“Jika kau pikir lagi, mereka semua bertengkar dengan korban. Menurutmu siapa pelakunya di antara keempat itu?” kata Wan Seung
“Aku pikir bukan salah satu dari mereka yang mencampurkan pestisida ke dalam minumannya. Aku pikir itu orang luar.” Kata Joon Oh 
“Benar. Petugas Na bilang itu sudah terjadi beberapa kali.” Kata Wan Seung lalu meminta agar Joon Oh berKonsentrasi.
Keduanya berjalan menuruni tangga merasa kalau Ini kasus yang bisa diatasi Ahjumma. Joon Oh pikir kalau meminta bantuannya Wan Seung memikirkan untuk meminta bantuan Seol Ok lalu teringat kalau ahjumma yang sibuk karena ulang tahun pernikahannya.
“Kalau begitu kita harus melakukan ini. Jika dia benar-benar ingin bergabung dengan kita itu boleh saja... Ahh.. Maksudku, dia sering menyusahkan kita. Tapi aku merasa tidak enak karena dia sangat suka menyelidiki.” Ungkap Wan Seung
“Baik. Dia akan segera kesini jika aku menelponnya.” Kata Joon Oh bergegas pergi dengan penuh semangat. 

Seol Ok menjepit ponsel dengan pundaknya sambil memindahkan kotak makan, sambil berkata kalau tentang kasus pusat senior dengan menolak kalau sedang sibuk di tempat makan siang dan meminta minta maaf.
“Kita tidak sibuk kali ini saja dan memang selalu sibuk.” Sindir Kyung Mi mendengar temanya bicara di telp
“Aku sangat penasaran.” Ungkap Seol Ok. Kyung Mi ingin tahu alasan Seo Ok tidak pergi.
“Ini kasus di Baebang Peace dan Ibuku sering kesana.” Jelas Seok Ok. Kyung Mi berkomentar kalau itu kabar buruk.
“Itu bukan tempat yang aman buatmu.” Kata Kyung Mi dan Seol Ok merasa  sangat penasaran dengan wajah sedih. 

Wan Seung ingin tahu apa yang dikatakan Seol Ok apakah tidak mau datang. Joon Oh heran dengan Seol Ok  padahal sudah memberinya kesempatan besar dan Sepertinya dia sangat sibuk di tempat kerja. Wan Seung kesal mendengarnya.
“Hei, jangan pernah membahas kasus ini dengan Ahjumma itu.” Kata Wan Seung marah. Joon Oh binggung kenapa tak boleh.
“Tidak boleh.  Jangan mengucapkan sepatah katapun padanya. mengerti?” kata Wan Seung. Joon Oh pun menanyakan alasan Wan Seung yang terlihat sangat marah
“Aku tidak marah. Memangnya dia siapa? Kau mempermalukanku karena menelponnya”kata Wan Seung menyangkal lalu berjalan pergi. Joon Oh mengeluh dengan Wan Seung yang sangat jahat

Tuan Kim menerima telp bertanya siapa yang menelpnya. Jaksa Jung terlihat bahagia akhirnya bisa berbicara dengan tuan Kim karena lebih sulit didapat daripada VIP di Blue House. Tuan Kim pun menanyakan alasan Jaksa Jung mencarinya.
“Aku menelepon pakai ponsel tak terdaftar, tapi kau tahu siapa aku. Kau memang sesuatu.” Kata Tuan Kim
“Aku juga tahu...mengapa kau meneleponku.” Kata Tuan Kim
“Kau tahu kalau aku memiliki sedikit masalah.” Ungkap Jaksa Jung
“Kau mengalami masalah karena wanita dan minuman keras.” Kata Tuan Kim
“Itulah sebabnya aku tidak bisa mengkhianati orang. Aku terlalu banyak kekurangan. Mari kita sering bicara seperti ini.” Ucap Jaksa Jung lalu menutup telpnya. 

Seol Ok binggung mengetahui Suaminya yang akan terlambat, Jaksa Kim pikir tidak bisa pulang jadi jangan menunggunya. Seol Ok pun menanyakan baju ganti. Jaksa Kim pun meminta agar Seol Ok mengantar  Kemeja, celana dalam, dan kaus kaki.
Seol Ok sedih melihat kalender tertulis tanda “Ulang tahun pernikahan” lalu membahas dengan bertanya apakah suaminya itu tidak melupakan sesuatu. Jaksa Kim pikir juga butuh dasi.  Seol Ok Pun mengangguk mengerti dengan wajah sedih kalau akan meninggalkannya di ruang petugas keamanan.


“Tapi... Hari ini... “ kata Seol Ok mencoba kembali membahasnya.
“Aku sibuk sekarang. Apa yang baru saja kau katakan?” kata Jaksa Kim memotong. Akhirnya Seol Ok memilih untuk tak membahasnya dan meminta maaf karena mengganggunya yang sedang berkerja.
“Aku akan pulang besok.” Kata Jaksa Kim setelah menutup telp berusaha mengingat-ingat.
Ia berpikir kalau hari ini adalah hari ulang tahun istrinya, tapi teringat kalau Kemarin sudah merayakannya, tapi akhirnya mengingat kalau hari ini adalah Ulang tahun pernikahan.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted