Selasa, 13 Desember 2016

Sinopsis The Man Living In Our House Episode 15 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Bibi Kim melihat Na Ri turun dari mobil bertanya kemana saja mereka karena tak ada yang mengawasi tempat ini, Na Ri binggung melihat ayahnya yang datang begitu juga Duk Bong dan Nan Gil. Bibi Kim  memberitahu kalau Tuan Hong sampai membeku karena menunggu sepanjang hari.
Nan Gil terddiam mengingat ucapan Duk Bong sebelumnya “ Aku dengar kalau ayah Na Ri adalah seorang penipu yang menculiknya demi tanah.” Lalu menatap wajah Tuan Hong seperti bisa melihat wajah liciknya. Na Ri akhirnya mendekati ayahnya bertanya berapa lama sudah menunggu, Tuan Hong mengaku baru saja sampai, Bibi Kim meminta agar Na Ri harus menyapa orang tuanya. Na Ri pun membungkuk setelah tak bertemu dengan ayahnya, lalu mengajak agar masuk ke dalam rumah.
“Tidak apa-apa. Mungkin sudah waktunya aku mati. Aku terus melihat pangsit Hong dalam mimpiku. Jadi Aku datang untuk melihatnya. Tempat ini berubah secara drastis setiap tahunnya.” Kata Tuan Hong
“Dia sudah tidak tahan dengan udara dingin di rumah perawatan, bahkan mendapat radang dingin.” Kata Bibi Kim meyakinkan, Nan Gil pun mendekati keduanya menyapa dan mengajak agar masuk. 

“Hei, Ko Nan Gil. Kalau kau terus menutup tokonya, maka kau akan kehilangan pelanggan. Apa kau membuat pangsitnya berdasarkan pesanan?” kata Tuan Hong marah, Bibi Kim menenangkanya, kalau bisnisnya berjalan dengan baik  bahkan masuk televisi.
“Tidak perlu memarahinya.”kata Bibi Kim membela. Nan Gil pun meminta mereka masuk ke dalam restoran dan ia akan membawakan barang-barang,
“Apa kau meminta untuk diam?” ucap Tuan Hong sinis, Na Ri meminta ayahnya tak bicara seperti itu. Akhirnya ketiganya pun masuk kedalam restoran. di samping mobil Duk Bong melirik sinis karena mengetahui ayah Na Ri yang tak bertangung jawab.
“Kalau kau memang akan pergi, jadilah lebih masuk akal. Jangan bersikap seperti kau adalah menantunya. Kau sudah mendengar apa yang orang itu lakukan kepada Na Ri.” Ucap Duk Bong kesal menghadang Nan Gil sebelum masuk rumah.
“Dia tetap ayahnya.” Pikir Nan Gil tak ingin membuat Na Ri kecewa, Duk Bong hanya menghela nafas, Duk Shim yang melihatnya langsung segera masuk ke dalam mobil. 


Ayah Na Ri melihat kesekeliling rumah yang tak pernah didatangi, sementara Na Ri dan Nan Gil sibuk di dapur mempersiapkan makanan. Tuan Hong melihat foto istrinya yang masih di pasang dalam ruangan, lalu meraba fotonya dengan wajah sedih.
“Astaga.. Kau membuatku menangis... Seharusnya kau sudah  bersikap baik kepadanya.” Sindir Bibi Kim yang melihatnya.
“Diam... Anak-anak bisa mendengarmu.” Kata Tuan Hong, Nan Gil melihat dari dapur seperti sudah mengetahui tujuan Tuan Hong datang ke rumah.

Ibu Duk Shim sedang dirumah sakit terlihat senang saat melihat ponselnya karena anaknya yang menelp. Duk Shim mengeluh ibunya yang tak mau memberitahu nomor telepon ayah. Ibu Duk Shim terlihat gugup dan berpura-pura memberitahu kalau keadaan Ketua Kwon sudah merasa lebih baik.
“Ayah Na Ri datang.” Kata Duk Shim, Ibu Duk Shim pun kembali berpura-pura mengucapkan terimakasih.
“Mereka mengatakan kalau itu sudah 20 tahun. Itu konyol. Aku tidak ingin hidup seperti itu. Jadi Berikan aku nomornya.” Tegas Duk Shim, Ibu Duk Shim pun segera menutup telp mengucapkan selamat tinggal pada temanya. 

Ibu Duk Shim memberitahu kalau Duk Shim ingin tahu bagaimana keadaan ayahnya. Ketua Kwon rasa istrinya sudah tahu pasti tak akan mempercayainya. Ibu Duk Shim sedikit kaget, lalu memberitahu Duk Shim mengatakan kalau ayah Na Ri kembali ke Pangsit Hong. Ketu Kwon tak bisa mendengar dengan jelas, Ibu Duk Shim kembali menyebut “Ayah Hong Na Ri”
Ketua Kwon meminta istrinya segera mengurus untuk keluar dari rumah sakit, istrinya kaget harus sekarang juga menurutnya itu terlalu awal karena Duk Bong mengancam akan menuntutnya. Ketua Kwon meminta agar menghubungi Sek Kim agar menelp pengacara perusahaan. Istrinya pun tak bisa menolak hanya bisa mengangguk untuk melakukan perintahnya. 

Nan Gil membereskan pakaian dilemari ke dalam kardus, sementara Na Ri membereskan make up di meja rias. Nan Gil menyarankan Na Ri harus tetap berada di samping ayahnya. Na Ri binggung apa yang bisa mereka bicarakan, dengan mengeluh kalau mereka bisa berpikir untuk datang ke rumah ini.
“Bagaimana kalau sampai mereka meminta untuk tinggal di kamar ini?” kata Na Ri sedih
“Aku akan mengusir mereka kembali ke Seoul.” Kata Nan Gil, Na Ri pikir tak perlu.
“Kalau terlalu berat untuk melihat barang-barang milik Ibu, pergilah. Aku akan melakukannya.Jangan menyentuhnya. Kita sudah memulainya, jadi aku akan menyelesaikannya..” Ucap Nan Gil mendekatinya.
“Tapi  Apa kau tahu betapa anehnya keadaan ini? Kita membersihkan kamar Ibu... dan khawatir tentang di mana akan menempatkan ayah. Seolah-olah kita sudah menikah selama 10 tahun. Itu aneh.” Ucap Na Ri lalu keluar dari kamar, Nan Gil hanya diam saja. 

Na Ri keluar kamar melihat ayahnya sedang duduk dengan bibi Kim lalu mengucapkan Terima kasih sudah membantu ayah sampai ke rumah, Bibi Kim merendah kalau hanya melakukan sebisanya, Na Ri pikir bibi Kim boleh pergi, Nan Gil datang dibelakang menyela kalau akan mengantar bibi Kim pulang. Tuan Hong dan Bibi Kim saling berpandangan, tapi akhirnya Tuan Hong menyuruh Bibi Kim agar pulang. Bibi Kim pun hanya bisa cemberut.
“Hei, apa kau tinggal di sini?” kata Tuan Hong ketus pada Nan Gil.
“Tidak, ada ruangan di samping restoran.” Ucap Nan Gil, Tuan Hong mengerti seperti tak bisa berkata-kata lagi. 

Duk Bong melihat berkas ditanganya mengetahui kalau Ketua Kwon  bersikeras mengikuti cetak biru lalu mengeluh kalau ayahnya memang benar-benar  begitu sombong. Soon Rye mendengar kalau Ketua Kwon baru saja memanggil pengacara perusahaan.
“Apa dia akan dikeluarkan dan Apa yang dia rencanakan sekarang?” ucap Duk Bong, Soon Rye tak ingin menjawab ingin pamit pergi.
“Aku mendengar kalau ayah Na Ri datang ke Pangsit Hong. Nona Kwon, apa kau mengenal Hong Sung Kyu?” tanya Duk Bong. Keduanya sama-sama menjawab “tidak”
“Aku tahu kau akan mengatakan itu... Kau sangat mudah ditebak.” EjSoon Rye segera bergegas pergi.

Na Ri melihat ayahnya dari bagian tangan dan seluruh tubuhnya, lalu menyuruhnya agar istirahat kalau memang  lelah, Tuan Hong mengaku tidak lelah sama sekali. Na Ri melihat ayahnya yang membawa kopor yang besar dan bertanya apakah memiliki pakaian yang lainya, Tuan Hong pikir tak ada salah dengan pakaian satu-satunya yang dipakainya ini.
“Hei. Apa pedagang tahu... kesukaan ibu masih datang pada waktu yang sama? Itu berita lama, kan?” kata Tuan Hong seperti ingin memulai pembicara.
“Kenapa kau meninggalkan Ibu dan aku?” tanya Na Ri, Tuan Hong mengaku kalau tidak punya alasan.
“Nenek Oh Rye mengatakan kepadaku... kau dan Ibu... mulai menjauh setelah kau membawaku melakukan perjalanan. Lalu Ke mana kita pergi saat itu?” tanya Na Ri, Tuan Hong terlihat gugup dan menjawab Ke rumah orang tua ibunya.
“Ahh.. Jadi seperti itu,  Aku tidak ingat apa-apa lagi... kecuali sudah melihat pesawat. Itu adalah penerbangan pertamaku.” Kata Na Ri, Tuan Hong tak percaya anaknya masih mengingatnya,

Bibi Kim dan Nan Gil berad dalam mobil. Nan Gil mulai membicarakan akalu Bibi Kim yang mengunjungi restoran tahun lalu.  Bibi Kim mengaku terkejut saat membaca agenda milik ayah Na Ri dan bertanya bagaimana Nan Gil bisa mengetahuinya.
“Seseorang mengambil gambar dan aku melihatmu ada di dalamnya.” Jelas Nan Gil yang mengetahui dari foto yang diambil Duk Shim
“Ayah Na Ri penasaran, jadi aku sering berkunjung.” Kata Bibi Kim, Nan Gil ingin tahu sejak kapan. Bibi Kim terlihat binggung. Nan Gil bertanya apakah itu setelah ibu Na Ri meninggal.
“Sebenarnya Aku tidak akan mengatakan ini, tapi ayah Na Ri benar-benar marah. Dia hanya tidak mengatakannya dengan keras. Da Da terus mengatakan padaku bahwa Ko Nan Gil mengambil tanah dan restoran Na Ri. Karena itulah kenapa aku memberitahu ayah Na Ri,  Kemudian dia mengatakan kalau harus melihatnya secara langsun dan mulai berkemas.Dia ingin mendapatkan kembali tanah itu dan mengusirmu dari Pangsit Hong.” Cerita Bibi Kim 


Na Ri membaca direstoran melihat Nan Gil baru datang ternyata cukup lama mengantarnya. Nan Gil menanyakan keberadaan Tuan Hong. Na ri mengatakan kalau ayahnya sedang tidur. Nan Gil pun menanyakan apa yang dilakukan Na Ri sendirian direstoran.
“Aku mencoba untuk menjernihkan kepalaku dari semua kekacauan ini.” Kata Na Ri, Nan Gil pun menopang dagunya meminta agar Na Ri menceritakan yang ada dipikiranya sekarang.
“Haruskah aku menerima ayah? Haruskah aku merawat dia selamanya? Aku pikir itu tidak adil. Ibu pasti terlalu baik untuk mengusir dia. Lalu Keluarga itu tentang apa?” kata Na Ri binggung
“Otakmu yang malang menderita karena kau.” Komentar Nan Gil
“ Ada lagi... Aku menyuruhnya untuk hidup bebas, tapi aku tidak ingin Nan Gil pergi. Mungkin seharusnya kami tidak melakukan perjalanan. Hal-hal seperti itu.” Ucap Na Ri, Nan Gil mengulurkan tanganya, Na Ri pun mengengamnya dengan erat.
“Aku akan mengajarimu cara membuat pangsit. Kalau kau fokus pada sesuatu, maka kau akan melupakan semuanya.” Ucap Nan Gil, Na Ri pun pergi mengikuti Nan Gil. 

Keduanya sudah ada didapur, mengiling kulit dumpling. Nan Gil memberitahu kalau hanya perlu menekan di atasnya secara merata. Na Ri berusaha untuk membuat kulit menjadi bulat tapi yang dibuat berbentuk lonjong. Nan Gil mengeluh Na Ri yang membuat  semua ukurannya berbeda dan meminta agar ukurannya sama.
“Berhenti menjadi begitu serius. Apa kau akan mempekerjakanku?”kata Na Ri kesal karena tak berhasil membuat bentuk bulat.
“Suasana hatimu berubah karena kau berpikir terlalu banyak.” Goda Nan Gil dengan mengoleskan tepung di hidung Na Ri
“Ayah tidak bisa tinggal di rumah sepanjang waktu. Mungkin dia harus belajar bagaimana cara membuat pangsit.” Kata Na Ri, Nan Gil langsung menolaknya.
Na Ri membalas Nan Gil dengan mengoleskan tepung di pipinya, Nan Gil pun mengangkat tanganya seperti harimau ingin melumuri wajah Na Ri dengan tepung, Na Ri meminta agar Nan Gil tak melakukanya. Keduanya terlihat semakin mendekat dan saling menatap. Akhirnya Nan Gil menurunkan tanganya dengan menghapus tepung diwajah Na Ri dengan bajunya. 

Semua sibuk membersihkan meja dan restoran, Tuan Hong datang seperti seorang bos melihat sekeliling. Nan Gil sedang ada didapur memberikan hormat pada ayah mertuanya.  Tuan Hong merasa kalau bentuk restoranya itu sama seperti yang sudah dibangunnya dulu.
Yoon Kyu yang mendengarnya, ngedumel kalau itu bohong karena ia dan Nan Gil merenovasinya dan bertanya-tanya ada berapa pemilik restoran sekarang. Akhirnya ia memanggil Tuan Hong dengan panggilan Tuan Pemilik Asli
“Kau pasti sedang mengenang masa lalu. Apa kau ingin mencoba membuat beberapa pangsit? Bagaimana kalau mengaduk adonan? Kami sedang melakukannya sekarang.” Ucap Yong Kyu menawarkannya.
“Kau bilang Mengaduk adonan? Kau pasti bisa lihat sendiri, Aku memiliki penglihatan yang buruk, jadi tidak melakukan hal semacam itu.” Tegas Tuan Hong, lalu mengarahkan pada Nan Gil seperti seorang bos memanggil Nan Gil dengan jari telunjuknya. 

Nan Gil pun mendekat dengan wajah tertunduk, Tuan Hong mendorongnya merasa kalau Nan Gil sengaja selalu menghindarinya. Nan Gil pikir tidak menghindarinya karena sedang  melakukan pekerjaannya. Tuan Hong memarahinya karena Nan Gil yang terus membantahnya. Nan Gil pun hanya bisa tertunduk.
“Kenapa putriku tinggal di sini tanpa pekerjaan Dan kenapa kau tinggal di sini? Apa kau tidak memiliki uang dan rumah? Jadi Ke mana perginya semua uang yang diperoleh dari restoran? Apa kau benar-benar memberikannya kepada putriku?” kata Tuan Hong dengan nada tinggi.
“ Mari kita bahas ini setelah aku menyelesaikan pekerjaanku.” Ucap Nan Gil tenang.
“Kau bilang Kerja? Apa Kau benar-benar menyebut membuat pangsit sebagai pekerjaan? Pada kenyaanya bahwa orang yang membuat mataku seperti sekarang ini... hidup di restoran benar-benar membuatku gila! Rumah ini adalah miliki Na Ri dan tanahku dan Restoran ini juga milikku.” Kata Tuan Hong sombong, Na Ri tiba-tiba datang memangggil ayahnya. 

Nan Gil pun mendekat dengan wajah tertunduk, Tuan Hong mendorongnya merasa kalau Nan Gil sengaja selalu menghindarinya. Nan Gil pikir tidak menghindarinya karena sedang  melakukan pekerjaannya. Tuan Hong memarahinya karena Nan Gil yang terus membantahnya. Nan Gil pun hanya bisa tertunduk.
“Kenapa putriku tinggal di sini tanpa pekerjaan Dan kenapa kau tinggal di sini? Apa kau tidak memiliki uang dan rumah? Jadi Ke mana perginya semua uang yang diperoleh dari restoran? Apa kau benar-benar memberikannya kepada putriku?” kata Tuan Hong dengan nada tinggi.
“ Mari kita bahas ini setelah aku menyelesaikan pekerjaanku.” Ucap Nan Gil tenang.
“Kau bilang Kerja? Apa Kau benar-benar menyebut membuat pangsit sebagai pekerjaan? Pada kenyaanya bahwa orang yang membuat mataku seperti sekarang ini... hidup di restoran benar-benar membuatku gila! Rumah ini adalah miliki Na Ri dan tanahku dan Restoran ini juga milikku.” Kata Tuan Hong sombong, Na Ri tiba-tiba datang memangggil ayahnya. 

Semua berkumpul diruangan Duk Bong, Tuan Kwon mengeluh melihat Soon Rye yang selalu berpakaian aneh. Duk Bong tak ingin membahasnya bertanya tujuan ayahnya datang  bersama dengan pengacara perusahaan. Tuan Kwon mengataka kalau anaknya terus menolak proyek pengembangan, maka memberikan pilihan selain untuk melaporkan ayah Na Ri. Pengacara memberikan berkas yang sudah dibawanya.
“Apa Seorang pria sibuk sepertimu memiliki waktu untuk melakukan itu?Undang-undang pembatasan hubungan kewajiban klaim selama 20 tahun sudah berakhir.”sindir Duk Bong
“Dia mengeluarkan laporan kematian palsu untuk menyembunyikan identitasnya. Memalsukan dokumen resmi melanggar...Pasal 225 UU Pidana dan kejahatan serius yang diancam dengan hukuman 10 tahun penjara.” Jelas pengacara.
“Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan dengan muncul di sini, Tapi Dia benar-benar penipu” kata Tuan Kwon, Sementara ayah Na Ri sibuk membersihkan kamar mendiang istrinya. 

Tuan Kwon memberitahu kalau  Masalah hanya akan merusak hubungannya dengan Na Ri jadi lebih baik Membangun resort dan mencoba mengurangi ukuran taman. Duk Bong menyindir ayahnya Jangan bertindak seperti peduli tentang dirinya.
“Kenapa kau tidak khawatir tentang dirimu sendiri saja?”balas Duk Bong
“Berapa lama lagi aku harus menahan diri dengan dendammu? Memangnya itu kesalahanku sampai pernikahanmu dibatalkan? Pada akhirnya, kau yang sudah memilihku!” ucap Tuan Kwon dengan nada tinggi.
“Aku tidak memihak padamu saat ini.” Tegas Duk Bong
“Kupikir...aku harus pergi menemui Hong Na Ri.” Ucap Ketua Kwon seperti sengaja ingin mengancam anaknya
“Ketua Kwon, jangan berani-berani mendekati Na Ri. Kalau kau melakukannya, aku jamin akan jadi gila. Aku sudah tidak peduli dengan taman. Apa lagi yang kau inginkan?” kata Duk Bong, Ketua Kwon berteriak memanggil Song Rye.  Duk Bong heran kenapa ayahnya memanggil Soon Rye. 

Tuan Hong yang membereskan kamar melhat foto istrinya, seperti sedih melihatya. Sementara Na Ri sibuk memilih pakaian pria yang sedang digantung, Nan Gil melihat dari kejauhan dengan senyuman, lalu mengingat ucapan Na Ri sebelumnya “Seolah-olah kita sudah menikah selama 10 tahun. Itu aneh.” Na Ri akhirnya selesai berbelanja sambil mengeluh ayahnya yang  membawa tas besar tanpa sehelai pakaian.
“Kau sudah lihat pakaian ayahku, kan? Dia pasti memakai pakaian yang sama selama 20 tahun.” Ucap Na Ri, Nan Gil tertawa mendengarnya. Na Ri heran kenapa Nan Gil tertawa.
“Saat kau menyebutkan ayahmu, itu mengingatkanku tentang hal itu. Seolah-olah kita sudah menikah selama 10 tahun.” Ucap Nan Gil
“Aku menarik ucapanku. Tidak ada periode kencan yang sia-sia untuk mengatakan cinta.” Kata Na Ri, Nan Gil hanya bisa mengerutkan dahinya.


Keduanya pun duduk dicafe, Nan Gil meminta agar Na Ri berhenti menyuruh ayahnya membuat pangsit.Na Ri  binggung kenapa tak boleh melakukanya. Nan Gil memberitahu kalau Tuan Hong tidak pernah membuat pangsit sebelumnyaNa Ri heran bagaimana Nan Gil bisa mengetahuinya.
“Ibumu mengatakannya kepadaku. Saat masih anak-anak, aku suka pergi ke pasar, jadi ibu akan selalu membawaku bersamanya. Pangsit yang aku dapatkan di pasar rasanya sama seperti yang ada di Pangsit Hong. Jadi Ayahmu membeli pangsit dari pasar untuk dijual di Pangsit Hong tanpa diketahui oleh ibumu.” Cerita Nan Gil, Na Ri merasa itu  sejarah dari Pangsit Hong yang memalukan.

“Kurasa kau dulu menyukai pasar dan tempat-tempat ramai. Bagaimana kalau...” ucap Na Ri disela oleh Nan Gil kalau sebelumnya Na Ri tidak suka dengan kata perumpamaan.
“Bagaimana kalau kau bertemu denganku saat aku bersama ibu?” tanya Na Ri
“Aku berlatih untuk situasi seperti itu untuk berjaga-jaga... Aku akan mengatakan.. Halo, Na Ri. Senang bertemu denganmu. Namaku Nan Gil.” Ucap Nan Gil dengan wajah serius, Na Ri bisa bersyukur karena mereka  tidak pernah bertemu sebelumnya.
“Kesan pertamamu dari aku juga tidak terlalu baik.” Kata Nan Gil rendah diri, Na Ri pikir itu tak benar.
Ia mengingat saat pertama kali bertemu di tempat pemakanan ibunya, Nan Ril meneriakinya kalau ada ular. Na Ri pun menjerit ketakutan, Nan Gil tersenyum mengatakan kalau hanya mengatakan untuk berhati-hati dengan ular. Na Ri terlihat kesal karena Nan Gil itu baru saja mengodanya, Nan Gil melambaikan tangan mengemdikan sepedanya dan akan menemui dengan Na Ri lagi. Na Ri membalas dengan berteriak kalau ada babi hutan, tapi Nan Gil seperti tak peduli.
“Itu adalah lelucon yang biasa ibuku gunakan untuk mempermainkan aku. Aku heran kenapa kau bisa memainkan lelucon yang sama. Aku pikir "Mungkin ibuku mengirimmu untuk menghiburku." Aku tidak pernah berpikir kau akan menjadi ayah tiriku.” Kata Na Ri lalu melihat pasangan didepan mereka yang duduk berdekatan sambil melihat di dalam ponselnya.

“Mari kita ganti topiknya... Ini adalah video yang aku lihat di rumah saat ponselku mati. Apa kau ingin melihatnya?” kata Na Ri
Nan Gil pun ingin melihatnya lalu bergeser duduk disamping Na Ri, keduanya melihat video anjing lucu yang berlari-lari, tiba-tiba saling menatap dan terlihat gugup dan berusaha untuk tetap tenang. Tiba-tiba ponsel Na Ri terlihat nama “Teman di dekat rumah” wajah Nan Gil langsung cemberut, Na Ri serba salah ingin mengangkat telpnya. 

Tuan Kwon berada didepan restoran Hong, lalu menyuruh Song Rye segara turun menemuinya. Tuan Hong keluar menyapa pembeli dengan gaya bosnya, bertanya apakah mengetahui tentang Pangsit Hong dari televisi. Tiga pelajar mengaku kalau hanya mampir setelah mengunjungi Museum Robot. Tuan Hong pun terlihat senang mendengar nama Museum Robot.
“Kalau begitu kurasa kau akan datang setiap kali kau mengunjungi museum.” Ucap Tuan Hong bangga.
“Dia akan mengusir semua pelanggan kita. Apa yang dia lakukan?” keluh Yong Kyu yang melihatnya. 
Soon Rye menyapa Tuan Hong Sung Kyu. Tuan Hong dengan matanya yang kabur memastikan kalau yang datang itu Soon Rye. Soon Rye pikir Tuan Hong pasti mengenal Ketua Kwon, Tuan Hong terlihat kaget. 

Ditempat lain
Tuan Hong bertemu dengan Tuan Kwon didalam mobil, Sopir dan Soon Rye menunggu diluar. Tuan Hong bertanya keadaan Tuan Kwon sekarang, Tuan Kwon tak ingin banyak berbasa basi dan diamlah. Ia beranggapan bahwa Tuan Hong akan datang kepadanya kalau masih hidup.
“Aku yakin kau pikir bisa mengklaim tanah ini karena ibu Na Ri sudah meninggal.” Tuan Kwon, Tuan Hong mengelak kalau ia  harus... kembali ke rumah setidaknya satu kali sebelum mati.
“Beraninya kau membantahku! Sekarang Dengarkan saja... Mulai saat ini, lakukan seperti yang aku katakan.” Tegas Tuan Kwon
“Kau bisa lihat...penglihatanku burukdan aku memiliki energi untuk mematuhi perintahmu.” Ucap Tuan Hong, Tuan Kwon pikir itu kabar yang baik.

“Karena kau tidak memiliki semangat, maka kau bisa menyerahkan dirimu.” Kata Tuan Hong, Tuan Kwon kaget mendengarnya.
“Kenapa Ko Nan Gil mengklaim tanah ini sebagai miliknya? Ini semua karena kau dalam pelarian! Jadi Serahkan dirimu, jalani hukuman dan pulihkan namamu.” Perintah Tuan Kwon 
Tuan Hong tak percaya Masuk penjara dalam udara dingin dan pada usia ini, Tuan Kwon memberitahu kalau putrnya akan ingin bertemu dengan Tuan Hong karena berkata kalau  menyukai putrinya, jadi  menawarkan diri untuk menjadi pengacara Na Ri.
“Aku hanya tidak tahan. Jadi Bekerja samalah dengan penyelidikan dan jalani hukumanmu. Setelah itu, pindahkan properti itu atas namamu.” Tegas Tuan Hong 


Nan Gil dan Na Ri bertemu dengan Duk Bong diruanganya, Duk Bong melihat berkas dan mengeluh kalau  tidak tahu bagaimana akhirnya menjadi pengacara, lalu memberitahu kalau dokumen yang dilihatnya mengatakan kalau Tuan Hong sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Na Ri kaget Duk Bong bisa mengetahuinya.
“Memalsukan dokumen resmi akan menjadikanmu masuk penjara. Apa yang ayahmu lakukan? Orang normal tidak bisa melakukan ini.” Keluh Duk Bong
“Dia belum pernah melihatnya selama 20 tahun. Jadi Bagaimana dia bisa tahu?” kata Nan Gil membela
“Tepat sekali. Kenapa dia tiba-tiba muncul setelah 20 tahun?” kata Duk Bong curiga.
“Dia mengatakan kalau melihat restoran dalam mimpinya dan melewati musim dingin berat baginya.” Kata Na Ri. Duk Bong mengejek Na Ri yang  memahami sesuatu yang begitu konyol dengan menyindir sebagai putri yang baik.
Na Ri yang binggung menanyakan apa yang harus dilakukan, apakah Memintanya untuk menyerahkan diri. Duk Bong yakin orang seperti Tuan Hong tidak mudah menyerahkan diri, lalu mengatakan kalau akan berpikir tentang hal ini lalu meminta Nan Gil agar menyelesaikan masalah ini sekarang.
“Aku tidak akan membangun resort di tanah Na Ri, jadi ganti sertifikatnya menjadi atas namanya. Dan aku akan berhenti menjadi pengacaranya.” Tegas Duk Bong, Nan Gil dan Na Ri saling berpandangan. 


Tuan Hong berjalan pulang dengan menutup rapat jaketnya, Yong Kyu melihat dari kejauhan merasa kalau Tuan Hong  akan menimbulkan masalah. Lalu tiba-tiba Tuan Hong datang mendekatinya,  bertanya kemana perginya putrinya dan si kurang ajar itu. Yong Kyu mengatakan kalau  Nan Gil tidak memberitahu kemana akan pergi.
Tuan Hong menyuruh agar menelp, Yong Kyu bertanya apakah itu yang dimaksud Nan Gil, Tuan Hong malah menyuruh agar memanggilnya taksi. Yong Kyu tak bisa menolak dan meminta agar Duk Shim mengantikan perkerjaanya sebentar, lalu sedikit menjauh untuk menelp. Tuan Hong mendekat lalu meminta Yong Kyu uang untuk naik taksi, Yong Kyu hanya bisa melonggo.
“Kenapa dia bisa begitu tidak tahu malu?” keluh Yong Kyu yang berdiri bersama Duk Shim saat Tuan Hong akhirnya pergi dengan naik taksi. 

Soon Rye memang surat (Pemindahan kepemilikan) dan Na Ri serta Nan Gil memberikan capnya. Ponsel Na Ri berdering,  Na Ri menerima telp dari polisi dengan bertanya apakah ia  putr idari  Hong Sung Kyu dan lalu memberikan ponselnya pada Tuan Hong agar bisa berbicara.
“Na Ri.... Aku tidak ingin selamanya lari, jadi akan menyerahkan diriku. Mereka mengatakan ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan namaku kembali.” Kata Tuan Hong yang sudah ada dikantor polisi. Na Ri kaget karena ayahnya tiba-tiba memutuskan pergi ke kantor polisi
“Aku dengar kalau akan lebih mudah bagiku... Kalau aku punya pengacara.” Ucap Tuan Hong, Na Ri menutup ponselnya

“Ayahku menyerahkan diri dan membutuhkan pengacara.” Kata Na Ri, semua kaget mendengarnya, tapi Soon Rye terlihat diam dan tenang. Duk Bong pun melirik pada Soon Rye pasti ada sesuatu dibaliknya.
“Ayo kita pergi dan cari tahu apa yang terjadi. Kita tidak akan bisa melakukannya setelah penyelidikan dimulai. Aku akan pergi hari ini.” Ucap Duk Bong
“Kami akan pergi bersamamu. Kau berkata kalau sudah berhenti dari bidang hukum.” Ucap Nan Gil, Duk Bong dengan nada penuh amarah mengatakan akan pergi sendiri. 


Nan Gil dan Na Ri masuk ke dalam rumah, Na Ri dengan wajah sedih selama ini  bertanya-tanya kenapa memiliki begitu banyak kekurangan padahal ibunya adalah seorang malaikat tapi ternyata semua karena gen dari ayah. Bahkan Suasanya hatinya mudah berubah, mudah merasa tertekan, dan ceroboh dalam membuat keputusan.
“Apa kau sedang merenungkan dirimu sendiri?” ejek Nan Gil, Na Ri pikir sedang menyalahkan gennya.
“Hei...  Kau tidak bisa mengatakan itu di depan seseorang yang tidak memiliki orang tua.alau dipikirkan secara positif. Sebenarnya aku merasa lega sekarang.” Balas Nan Gil
 “Apa Karena ayahku, yang sudah mengganggumu di sini sudah menghilang?” sindir Na Ri
“Setidaknya dia bisa melakukan ini untuk mendapatkan namanya kembali. Haruskah dia tinggal dengan cara bersembunyi selamanya?” kata Nan Gil, Na Ri pikir ayahnya bisa mendiskusikannya terlebih dahulu bahkan bisa mengganti pakaiannya.
“Aku juga tidak mengerti kenapa dia pergi dengan begitu tiba-tiba, tapi jangan khawatir. Percayalah pada Duk Bong. Kau memiliki teman yang bermanfaat.” Kata Nan Gil menenangkanya. 

Polisi memberikan berkas pada Duk Bong yang sudah mereka miliki, Duk Bong duduk melihatnya, Tuan Hong langsung menatapnya melihatnya lalu berkomentar kalau Duk Bong itu ternyata tampan dan berharap mejadi menantunya. Duk Bong merasa risih memundurkan tempat dudknya.
“Kau bisa lihat, Penglihatanku tidak terlalu baik. Aku terluka” ucap Tuan Hong, Duk Bong mengaku sudah mengetahuinya.
“Apa putra...kau adalah putra Ketua Kwon?” tanya Tuan Hong, Duk Bong pun curiga mendengarnya kalau Tuan Hong bertemu dengan ayahnya, Tuan Hong mengelak kalau tak bertemu.
“Kau tidak bisa berbohong kepadaku.” Tegas Duk Bong sebagai pengacaranya.
“Aku tidak berbohong. Tapi Aku bertemu dia sebentar saat melewati Pangsit Hong.” Ungkap Tuan Hong,

“Memalsukan dokumen resmi adalah tindak pidana. Kau harus waspada dan menjawab jujur.” Tegas Duk Bong
Tuan Hong malah sibuk bertanya berapa lama Duk Bong  sudah mengenal putrinya. Duk Bong mulai membahas kalau Tuan Hong itu kabur bersama Na Ri saat masih kecil dan menegakskan kalau bisa dianggap bersalah karena menculik anaknya sendiri. Tuan Hong memberitahu kalau Ketua Kwon  yang memberika tiket dan membuatnya melakukan itu.
Duk Bong kaget mendengar kenyataan yang sebenarnya, Tuan Hong memberitahu kalau Tuan Kwo itu menyiksa keluarga mereka untuk merebut  tanah itu dan merasa tak pecaya kalau sampai sekarang ternyata Tuan Kwon tetap tak bisa  memilikinya.


Duk Bong terdiam dalam mobilnya, mengingat kejadian sebelumnya.
Flash Back
Duk Bong bertemu dengan Nyonya Shim bersama Soon Rye dirumahnya. Nyonya Shim mengatakan tidak akan menjual tanah ini lalu dengan ramah kalau selama ini tak pernah bertemu dengan Duk Bong sebelumnya, Duk Bong mengatakan selama ini belajar di luar negeri.
“Sepertinya kau sebaya dengan usia putra dan putriku. Kalian bisa menjadi teman.” Ucap Nyonya Shim masih ramah.
“Kalau kau ingin menyesuaikan harganya...” kata Duk Bong tetap berusaha mengambil tanah. Nyonya Shim menyelanya.
“Ini benar-benar bukan tentang uang dan Aku tidak akan menjualnya.” Kata Nyonya Shim
Duk Bong mengingat kejadian tersebut tak percaya kalau ayahnya itu selama ini telah menyiksa keluarga Hong dengan melakukan segala cara demi mendapatkan tanah yang sudah berikan ayahnya.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar