Sabtu, 17 Desember 2016

Sinopsis Goblin Episode 5 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN

Kim Shin membaca buku ditaman dengan bagian-bagian yang suadh ditandai oleh Eun Tak. Terdengar teriakan yang memanggilnya, Eun Tak berada diseberang jalan melambaikan tangan dengan wajah bahagia. Ketika lampu hijau menyala Eun Tak melangkah dengan menginjak kaki pada zebra cross, dengan wajah bahagia melompati hanya dibagian warna orange saja.
"Massa-nya tidak proporsional dengan volumenya. Seorang gadis yang semungil violet..Seorang gadis yang bergerak-gerak seperti sehelai kelopak bunga.. menarikku ke arahnya dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari dirinya. Saat itu, seperti apel  Newton dalam teori gravitasi Newton), aku bergerak ke arahnya tanpa bisa berhenti sampai aku jatuh ke pelukannya dengan hati berdebar. Dengan hati berdebar." Gumam Kim Shin dengan senyuman bahagia menatap Eun Tak 

Eun Tak berlari ke arah Kim Shin melihat daun maple berguguran menduga  Kim Shin yang membuat karpet merah dengan memujinya sangat keren. Kim Shin hanya diam menatapnya, Eun Tak pun memanggil seperti berusaha menyadarkan dari lamunannya.
"Hatiku terus berdegup..antara langit dan bumi." Gumam Kim Shin, Eun Tak bertanya apakah Kim Shin marah padanya.
"Itu adalah cinta pertamaku." Gumam Kim Shin terus menatap Eun Tak 

Keduanya sudah ada didalam mobil, Kim Shin hanya diam saja. Akhirnya Eun Tak menunjuk ke arah depan kalau akan jalan pulang saja, jadi bisa menurunkannya di pinggir jalan karena tahu daerah sekitar hotel. Kim Shin tak melarang hanya menyetujuinya, lalu menghentikan mobil di pinggir jalan. Eun Tak turun terlihat kesal dengan sikap acuh Kim Shin yang benar-benar menurunkan di pinggir jalan.

Kim Shin kembali ke kamarnya, teringat kembali senyuman bahagia Eun Tak ketika melangkah zebra cross yang berwarna orange. Lalu teringat kembali ketika pedang menusuk ke bagian dadanya, tiba-tiba merasakan kesakitan seperti tertusuk pedang.
“Hanya sang pengantin Goblinlah.. yang bisa menarik pedangnya. Ketika dia menariknya, kau akan jadi debu dan akan berada dalam kedamaian abadi.”

Eun Tak memberjalan pulang sambil mendengarkan musik dan bergumam dalam hati. “Hidup ini ada perpaduan dari berbagai genre. Apa genremu hari ini? Apakah komedi romantis? Sebuah fantasi aneh yang indah Atau sebuah melodrama?”
Tiba-tiba ia merasakan bunyi suara yang menyaring ditelinganya dan melihat seperti seorang yang melihat dari pandanganya, tiba-tiba melihat sosok wanita yang dari jauh sampai akhirnya berada didepanya. Eun Tak mengeluh meminta jangan melakukan itu, lebih baik bicara  seperti orang normal saja karena membutanya takut.
“Maaf kalau aku membuatmu takut. Aku perlu bantuan dan Aku benar-benar minta maaf.. tapi bisakah kau datang ke rumah tempatku tinggal dan mengisi lemari es-nya?” kata si wanita, Eun Tak binggung
“Ya. Aku belum lama mati dan ibuku terlalu sibuk dengan pemakaman jadi dia tidak bisa datang. Dia akan sangat sedih kalau melihat.. kulkasku yang kosong. Tolong aku.” Ucap si Hantu wanita pada Eun Tak
“Aku.. tidak punya uang.” Kata Eun Tak, Si wanita ikut sedih karena tidak berpikir sejauh itu.
“Ahh.. Aku tahu apa yang harus dilakukan.” Ucap Eun Tak dengan senyuman bahagia seperti menerima ide cemerlang. 


Eun Tak mengeluarkan semua isi makanan dalam tasnya dan memasukan kedalam lemari es kecil, sebelum keluar kamar melihat tempat tidur yang berantakan dan juga buku-buku yang dibiarkan begitu saja. Akhirnya Eun Tak membereskan tempat tidur dan menyusun buku dengan pot tanaman didepanya.
Si hantu wanita melihat Eun Tak yang membantunya pun mengucapkan terimakasih, saat itu di tempat Wang Yeo terdengar bunyi seperti tanda kalau saatnya membawa arwah yang baru saja meninggal. 

Ibunya akhirnya datang ke kamar anaknya, dengan tangisnya memegang bantal yang biasa dipakai anaknya tidur, lalu berjalan ke meja tempat biasa anaknya belajar dan ia pun membuka kulkas, tangisnya pun tumpah melihat isi kulkas yang penuh dengan makanan. Si anak yang sudah meninggalkan duduk di tempat tidur sambil menangis melihat ibunya yang sedih atas kepergiaan dirinya. 

Si wanita terlihat hanya diam saja ketika diberikan teh, Wang Yeo memberitahu kalau tehnya nanti akan dingin dan mengatakan kalau wanita itu sudah melakukan yang terbaik dengan hidupnya. Jadi meminta agar menjaga diri ketika dalam perjalanan menuju akhirat. 

Kim Sun mondar mandir dijembatan tiba-tiba melihat sosok orang yang selama ini sudah di tunggunya, Wang Yeo sudah ada dijembatan, Kim Sun kaget berpikir kalau Sebuah kebetulan tapi menurutnya tidak seperti itu. Ia lalu bertanya kenapa Wang Yeo tak menelpnya padahal ia menunggu karena Wang Yeo bilang mau menelpon.
“Aku akan menelponmu. Sekarang juga.” Kata Wang Yeo beranjak pergi, Kim Sun bertanya mau pergi kemana apakah ingin cari telepon umum
“Aku mau pulang. Di rumah ada telepon jadi Aku akan meneleponmu.” Kata Wang Yeo terdengar polos, Kim Sun merasa Wang Yeo itu sedang bercanda padanya.
“Kita baru saja bertemu.” Kata Kim Sun, Wang Yeo pun mengucapkan senang bertemu denganya lagi, Kim Shu mengeluh kalau kedaanya ini membuat gila.
“Bagaimana kalau minum kopi saja daripada menelepon? Ada banyak kafe di mana-mana dan aku juga sedang tidak sibuk.”usul Kim Sun 


Wang Yeo minum bergelas-gelas kopi dengan wajah tertunduk, Kim Sun hanya menatap dongkol, lalu bertanya apakah mereka hanya ingin minum kopi saja, lalu memperlihatkan kalau Matahari sudah terbenam. Wang Yeo berkomentar kalau waktu siang tidak terlalu singkat?
“Kau duduk seperti itu selama satu jam. Bukankah seharusnya kita saling menyapa dan menanyakan kabar satu sama lain? Bukankah kita harusnya mengobrol?” ucap Kim Sun
“Halo. Bagaimana kabarmu?” kata Wang Yeo kaku, Kim Sun dengan menahan rasa kesal menjawabnya kalau ia baik-baik saja dan bertanya balik.
“Bagaimana dengan cincinku? Apa Kau masih belum punya ponsel?” tanya Kim Sun, Wang Yeo berkata kalau ia baik-baik saja, begitu juga cincinya, serta tidak punya ponsel.
“Jujur saja denganku. Kau tidak ingat namaku, kan?” kata Kim Sun, Wang Yeo menyebut namanya adalah Sun Hee. Kim Sun menjerit kesal kalau namanya Sunny bukan Sun Hee tapi akhirnya tertawa dengan senyumanya
“Dasar.. Kau ini lucu sekali. Kau bertingkah seperti ini sengaja, kan?”ucap Kim Sun, Wang Yeo hanya menatapnya, Kim Sun heran melihat Wang Yeo yang terus menatapnya.
“Aku tidak bisa menahan diri melihat senyumanmu.” Ungkap Wang Yeo blak-blakan.
Kim Sun pikir dirinya itu belum tahu nama Wang Yeo, sementara Wang Yeo yang tak ingat masa lalunya kebinggunga menjawabnya. 


Dua pria duduk didepan meja, Wang Yeo memegang bir dan Kim Shin memegang telur. Keduanya pun saling bertukar, Wang Yeo bisa mendinginkan bir dan Kim Shin bisa membuat telur rebus, lalu saling bersulang dengan tatapan lurus dengan wajah sedih.
“Dia bertanya siapa namaku. Tapi aku tidak ingat siapa namaku. Dia bahkan bertanya apa kabarku. Dia bertanya soal hidupku padahal aku ini hidup saja tidak.” Kata Wang Yeo binggung

Sementara Kim Shin melamun mengingat saat Eun Tak yang berjalan kearahnya dengan senyuman dan kembali bergumam.
“Senyumnya.. memantulkan cahaya matahari di saat-saat yang paling terik. Mengingatkan saat-saat ketika hidupku direnggut. Aku sudah memutuskan. Aku akan menghilang... sebelum aku merasa ingin hidup lebih lama. Sebelum aku menjadi lebih bahagia dari sekarang. Ini adalah keputusan.. yang harus kubuat untukmu. Aku harus mengakhiri hidupku.” Gumam Kim Shin 


Wang Yeo tiba-tiba berkomentar kalau ia  bisa dengar suara hati Goblin, Kim Shin kaget mendengarnya. Wang Yeo pun bertanya apakah Kim Shin akan memilih untuk mati. Kim Shin membenarkan dan waktunya Sebelum salju pertama tahun ini.

Duk Hwa melihat tagihan hotel sampai 1,5juta won, matanya melotot melihat kertas ditanganya. Eun Tak baru pulang akan masuk hotel, Duk Hwa langsung mendekatinya dengan kesal menduga kalau Eun Tak ingin baru saja minum, Eun Tak mengelengkan kepala, tapi Duk Hwa yakin Eun Tak itu baru saja minum.
“Kulkasnya kosong. Kau makan semua cokelat, kacang bahkan dendengnya Aku tak masalah dan mengerti.  Tapi kenapa kau membuang semua botolnya? Apa kau pikir kalau kau membuang botolnya, maka aku tidak akan tahu?” kata Duk Hwa marah
“Aku punya alasan. Ketua Yu bilang aku harus minta padamu apa saja yang kubutuhkan. Aku minta maaf, tapi bisakah kau membayarkannya untukku? Aku tidak punya uang.” Kata Eun Tak, Duk Hwa mengatakan tak punya uang juga lalu memberikan kertas tagihan agar Eun Tak membayarnya. 

Eun Tak menyalakan semua lilin dikamarnya, lalu terdengar suara bel berkali-kali, dengan wajah kesal membuka pintu memberitahu Duk Hwa kalau ia akan membayarnya. Tapi ternyata bukan Eun Tak tapi Kim Shin yang datang. Kim Shin berdiri didepan pintu mengataka akan masuk
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kim Shin melihat banyak lilin yang dihidupkan Eun tak
“Apa Duk Hwa mengatakan semua padamu? Mengenai... membuatku diomeli oleh Duk Hwa” kata Eun Tak, Kim Shin mengataka kalau Duk Hwa  tidak berhak mengomel pada siapapun.
“Aku mengosongkan kulkas. Jadi Bisakah kau membayarkannya untukku? Akan kukembalikan uangnya kalau aku sudah dapat gaji dari kerja paruh waktuku. Bisakah kau melakukannya untukku?” ucap Eun Tak memohon, Kim Shin hanya diam menatapnya.
“Sejujurnya, yang minum birnya itu kan kau. Sisanya sudah kugunakan untuk kebaikan. Kalau kau terus mengabaikanku,  maka aku akan meniup semua lilinnya. Aku akan membuatmu keluar masuk dari kamar ini sepanjang hari.” Ucap Eun Tak mengancam,
“Kau seharusnya tidak membuat permohonan lagi, karena Tidak ada gunanya. Aku akan berada di sisimu mulai sekarang.” Ucap Kim Shin dan mengajaknya pulang.
Eun Tak binggung pulang kerumah siapa yang dimaksud, Kim Shin mengatakan kalau kerumahnya, karena Eun Tak adalah pengantinnya Goblin. Eun Tak pun bertanya menatap Kim Shin apakah ia mencintainya. Kim Shin menatap Eun Tak kalau ia akan mencintai Eun Tak kalau memang harus melakukanya. .
“Aku mencintaimu....” ungkap Kim Shin mengaku perasaanya, saat itu juga terlihat diluar jendela hujan yang deras.

“Apa kau segitu bencinya padaku? Seberapa besar kebencianmu... sampai kau terlihat sesedih ini? Di luar hujan deras” ucap Eun Tak terlihat ikut menangis
“Tapi Lupakan saja. Kalaupun kau membenciku dan aku membuatmu sedih, maka aku akan tetap tinggal denganmu. Aku tidak berhak untuk pilih-pilih sekarang. Aku hanya harus mencabut pedangnya, kan?” kata Eun Tak, Kim Shin membenarkan. Kalau Hanya itu yang harus dilakukan dan akan memulai mengemas barang-barangnya. 


Keduanya pun ada didalam mobil, Eun Tak memberanikan dirinya bertanya siapa nama Goblin, dengan alasan kalau bertanya bukan karena penasaran atau apa dan mengetahui kalau hubungan mereka  ada di antara pernikahan dan tinggal serumah.
“Aku tahu ini membingungkan. Aku seharusnya adalah pengantin Goblin. Aku harus tahu siapa nama suamiku. Apa kita.. Ah.. sepertinya aku belum boleh menyebut kata "kita" “ kata Eun Tak, Mobil berhenti di lampu merah dengan hujan yang masih turun deras
“Kau dan aku sudah memulainya.. sejak kau lahir dulu. Kadang, aku adalah Yu Jung Shin dan  kadang aku adalah Yu Ji Shin Sekarang, aku Yu Shin Jae. Tapi Nama asliku adalah.. Kim Shin.” Kata Kim Shin, Eun Tak menatap tak percaya lalu memberitahu kalau lampu sudah berubah hijau jadi harus kembali jalan. 


Eun Tak turun dari mobil dikagetkan dengan Wang Yeo yang keluard ari rumah, Wang Yeo mengangkat plastik memberitahu kalau Hari ini adalah hari membuang sampah. Eun Tak mengungkapkan kalau selalu melihat sisi diri Wang Yeo yang lain setiap kali bertemu lalu  meminta Memberikan padanya saja karena ia yang akan mengerjakanya.
“Dia kenapa? Kenapa dia jadi baik padaku?”bisik Wang Yeo heran pada Kim Shin
“Dia akan tinggal di sini mulai hari ini..” Kata Kim Shin,

Wang Yeo kaget mendengarnya lalu teringat kembal dengan suara hati Kim Shin sebelumnya “Aku harus mengakhiri hidupku Itu adalah pilihan yang harus kubuat untukmu.” Lalu dengan senyuman bahagia langsung melempar plastik sampah pada truk sampah yang berjalan lalu mendekati Eun Tak mengatakan kalau akan mendukukung apapun yang dilakukanya di masa depan lalu mengajaknya masuk. 


Dua pria terlihat bodoh menatap kunci pintu di depanya, Kim Shin pikir angkanya pasti empat digit.  Wang Yeo tahu kalau Biasanya mereka menekan tanda bintang di akhir. Eun Tak binggung karena tidak ada diantara keduanya yang tahu password rumahnya.
“Kami tidak perlu menekan itu kalau mau masuk.” Kata Kim Shin
“Ini mengingatkanku akan sesuatu. Rasanya seperti mau masuk ke dalam.. sebuah rumah hantu di taman bermain. Menakutkan tapi membuat penasaran. Kau tidak akan tahu apa yang menunggumu di dalam sana dan bertanya-tanya apa kau bisa keluar dalam keadaan hidup.” Ucap Eun Tak lalu tersadar kalau keduanya sudah tak ada disampingnya, Kim Shin membuka pintu menyuruh Eun Tak segera masuk. 

Duk Hwa yang mabuk binggung melihat Eun Tak lalu berdiri bertanya kenapa Eun Tak ada dirumah Kim Shin dan sejak kapan, Wang Yeo memberitahu kalau Kim Shin akan tinggal di rumah mulai sekarang. Eun Tak pun membungkuk mennyapa dengan memohon bantuanya.
“Beri dia password pintunya.”  Kata Kim Shin
“Paswordnya 1004 (bisa juga berarti malaikat.) Tapi Kenapa dia di sini? Bagaimana denganku?” kata Duk Hwa binggung, Kim Shin menyuruh Duk Hwa minum anti mabuknya agar menyadarkan dirinya. 

Mereka pun masuk kesebuah ruangan yang masih berantakan, Kim Shinm menyebut kamar Ini adalah tempat yang cocok dengan kursi gaya baroque. Wang Yeo mengejek kalau itu seperti  studio foto, lalu menyuruh agar Sebaiknya cat saja kamarnya dengan warna  pastel supaya Eun Tak merasa tenang.
“Kamar ini bukan tempat penitipan anak. Kita bisa memasang lukisan romantis dari abad ke-19 sekalian dengan tungku api pemanas.” Kata Kim Shin
“Wah.. Aku seperti sedang mendekorasi rumah kayu, Kita akan menempel wallpaper....” ucap Wang Yeo
Kim Shin menegaskan kalau ini bukan rumah model dan Eun Tak adalah tamunya, Wang Yeo tak mau kalah kalau ini rumah miliknya. Eun Tak akhirnya berkomentar kalau ini adalah kamar yang akan ditempatinya, keduanya pun berhenti berdebap.

“Aku tidak masalah dengan apapun. Aku akan meletakkan wallpaper romantis dari abad ke-19 di sebelah sini.. dan meletakkan tungku api pemanas dengan warna pastel di sebelah sini. Itu baru adil. Jadi Haruskah aku tidur di sofa di ruang tamu hari ini? Dan kalau itu membuat kalian tidak nyaman, maka aku juga tidak masalah kalau harus tidur di luar. Aku tidak berhak untuk pilih-pilih soal tempat tidurku.” Ucap Eun Tak melihat belum ada ranjang.
Wang Yeo mengeluh seharusnya Kim Shin membawakan sebuah ranjang, Kim Shin mengatakan kalau Eun Tak bisa tidur dikamanya, Wang Yeo melotot berpikir kalau mereka akan tidur berdua. Kim Shin mengatakan bukan seperti itu, Eun Tak pun bertanya dimana Kim Shin akan tidur. 

Kim Shin sudah membawa bantal dan siap untuk tidur dikamar Wang Yeo,  lalu berkata kalau akan tidur di ranjang, jadi jangan khawatir dan Wang Yeo bisa tidur dengan nyenyak di sofa. Wang Yeo terlihat kesal menegaskan kalau itu tak terjadi tak ingin Kim Shin menodai ranjangnya.
“Aku tahu dan  sudah kubilang jangan cemas. “ kata Kim Shin, Wang Yeo memberitahu kalauAda sofa di luar sana.
“Aku mana bisa tidur di sana. Dia pasti akan mondar-mandir di sana nanti.” Kata Kim Shin, Wang Yeo menyuruh Kim Shin tidur di hotel saja.
 “Aku tidak bisa tidur di hotel sementara dia sendirian.” Kata Kim Shin, Wang Yeo berjalan keluar kamar, Kim Shin bertanya mau kemana
“Aku akan membuat "jiwa yang hilang" tidur di atas hamparan  bunga.” Ucap Wang Yeo dengan nada penuh dendam
Kim Shin sudah ada didepan pintu ketika Wang Yeo membukanya, dengan mengeluh Wang Yeo harus bertindak sekejam ini, lalu mengatakan aka memilih untuk tidur disofa. Wang Yeo memperingatkan Kim Shin untuk jangan bicara padanya, Kim Shin meminta agar Wang Yeo bersikap baik pada Eun tak. 

Eun Tak masuk kamar Kim Shin, lalu duduk disofa yang menurutnya sangat nyaman, lalu mengikuti gaya duduk Goblin. Wajahnya tersenyum bahagia dan tak sengaja melihat sebuah buku dan mengingat kalau ini itu buku yang diberikanya.
“Aku sudah bilang padanya untuk membaca, bukan menyimpannya.” Keluh Kim Shin lalu melihat judul bukunya  (Bintang-bintang yang Membawa Pergi Semua Kesedihanmu)
Ia melihat daun mapel yang diberikan teringat saat memberikan ditepi laut, senyumanya bahagia karena Kim Shin masih menyimpannya. Lalu melihat buku yang terlihat kuno, menurutnya Kim Shin pasti merasa sangat menyayangi buku itu, dengan penasara ingin membacanya, tapi seperti baru menyadari kalau dirinya tidak bisa membaca karakter Cina.

Flash Back
Kim Shin menuliskan bukunya dengan tinta dengan akasara cina, masih mengunakan pakaian baja untuk perang.
“Perang tidak berhenti meski di tanah yang asing ini.Pedang-pedang dan anak panah mengizinkan mereka mencuri tanah dan makanan, untuk tetap hidup. Penguasa di sini dan di Goryeo semua sama saja.”
“Cucu dari anak kecil yang kubawa dari Goryeo, dan cucu dari cucunya, dan cucunya lagi semua sudah dikubur.” Kim Shin seperti mengingat senyuman si wajah anak kecil yang diajaknya naik kapal sudah di makamkan berjejer dibukit.
“Di atas kursi di sudut sebuah ruang kecil, aku menghabiskan siang dan malamku. Keinginanku bukan sebuah wasiat sebelum aku mati. Wahai Dewa, keinginanku adalah permintaan untuk sebuah kematian Aku menganggap kehidupan ini sebagai sebuah penghargaan, tapi pada akhirnya, ini hanyalah hukuman. Aku tidak pernah lupa.. tentang kematian siapapun. Itu sebabnya.. aku ingin mengakhiri hidup ini Bagaimanapun, dewa sudah tuli pada suara tangisanku.”
Kim Shin terlihat putus asa mencoba menusuk pedang ke dalam tubuhnya dengan menuliskan surat ditengah-tengah lilin. 

Kim Shin berbaring di sofa dalam kamar Wang Yeo lalu bertanya apakah pernah melihat dewa, Wang Yeo yang sudah menutup semua tubuhnya dengan selimut akhirnya membuka kembali,  Kim Shin bertanya apakah Wang Yeo melihat Yang Maha Kuasa sekarang
“Kubilang jangan bicara padaku. Bagaimana bisa "seonggok" malaikat maut sepertiku, bisa melihat Yang Maha Kuasa?” kata Wang Yeo
“Aku pernah melihat-Nya.” ucap Kim Shin, Wang Yeo kaget dan bertanya bentuknya, Kim Shin mengingat dengan pedanganya dan sebuah kupu-kupu hinggap pada pedangnya.
“Yah... seperti itu...  Dia adalah kupu-kupu.” Ungkap Kim Shin, Wang Yeo menghela nafas mendengarnya.

“Bahkan seekor kupu-kupu yang lewat bisa melindungimu dari rasa sakit.” Keluh Wang Yeo
“Kalau dia mengizinkanku melihat wajahnya, setidaknya aku tidak akan bisa marah padanya.” Ungkap Kim Shin , Wang Yeo pun membenarkanya.
“Kalau Yang Maha Kuasa hanya memberi cobaan yang sanggup kau atasi, sepertinya dia berharap terlalu tinggi padaku.” Ucap Kim Shin
Wang Yeo dengan wajah sedih bertanya apakah keadaannya terlalu berat. Kim Shin mengejek kalau tidak akan menangis di pelukannya jadi tak perlu cemas. Wang Yeo mengungkapkan kalau  sangat melihatnya sepanjang waktu, tapi mereka tidak diberi kesempatan melihatnya bahkan sekalipun.


Eun Tak bangun dengan bunyi alarm ponselnya, saat membuka mata seperti tersadar sekarang ada dirumah Goblin.  Lalu bertanya-tanya “Apa yang akan mereka lakukan soal sarapan? Aku penasaran apa mereka punya stok makanan.” Tapi melihat kamar Goblin masih terasa kosong walaupun punya semuanya.
Kim Shin sibuk masak steak dan Wang Yeo asyik membuat salah. Eun Tak datang berkomentar kalau  penasaran bagaimana kehidupan sehari-hari para pria dan Sudah lama sejak terakhir kali ada orang yang masak untuknya. Kim Shin mengatakan kalau makanan ini bukan untuknya. 

Kim Shin selesai makan dan pergi ke dapur dengan memberitahu akan mencari uang sendiri, jadi mulai besok akan mengurus makanannya sendiri, serta mencuci pakaiannya sendiri.  Wang Yeo mengatakan kalau ia yang bisa melakukanya.
“Biasanya, orang yang tinggal di rumah besar punya pembantu, jangan...” kaya Kim Shin terhenti melihat keduanya yang sedang beradu kekuatan dengan melayangkan pisau didepan mereka. Keduanya mencoba saling menghindar dan saling menyerang.
“Ternyata itu sebabnya... kalian tidak bisa punya pembantu.” Keluh Eun Taek gelng-geleng kepala melihatnya.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar