PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Tampilkan postingan dengan label Familiar Wife. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Familiar Wife. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2018

Review Familiar WIfe, Ji Sung Punya Istri Dua.

Nonton dulu Video Reviewnya baru baca yah, hihihi...




Kalian yang sudah menikah selama lima tahun, merasa jenuh dengan pasangan dan akhirnya mulai terjadi pertengkaran dalam rumah tangga. 
Dan disitu bermula ada permasalahan dan itu kalau kalian memang bisa melewati semua masalah maka pernikahan mereka baik-baik saja tapi kalau tak bisa melewatinya maka akan terjadi penyesalan dan bisa saja bercerai. T_T 
Nonton drama ini diawal yang bilang kalau mirip Go Back Couple, tapi  berbeda dari pesan yang disampikan di drama Familiar Wife. Kalian kalau nonton akan ada pesan Ji Sung bagimana caranya kalian menghadapi pernikahan lima tahun dengan dua anak.
Intinya seorang Pria yang sudah menikah akan mencoba membahagiakan istriya dan istrinya pun harus bisa membuat suaminya bahagia. Kalian yang sedang jenuh dengan kesibukan rumah tangga dan kerjaan, harus nonton drama ini banyak  manfaatnya.
Oh Yah.. Nonton drama ini tuh bikin iri sama Ahjussi dan Noona... Ji Sung udah umur 41 sementara Han Ji Min udah 36 tahun, tapi wajahnya kaya masih 20an. Bahkan mereka yang meranin sendiri pas jaman sekolah sama kuliah. Hihihi.. Masih cocok banget. ^_^

Ayoo di tonton, Ratingnya cukup tinggi untuk drama yang tayang Di TV Kabel...

Cek My You Tube Channel "Review Drama Korea"

Cek My Wattpad... Liverpool 

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Sabtu, 04 Agustus 2018

Sinopsis Familiar Wife Episode 2 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN

Joo Hyuk berlari sambil menelp pelangganya agar bisa menjawab telpnya. Akhirnya Pelanggan mengangkat, Joo Hyuk mengaku aklau menelepon karena tidak dapat membuat salinan ID kemarin jadi membutuhkan salinannya sekarang, sesegera mungkin.
“Aku akan pergi ke tempat kamu sekarang. Dimana kau?” tanya Joo Hyuk dan berteriak kaget kalau sedang briefing di pertemuan pagi.

Tuan Cha melihat semua tim audit mengeluarkan barang-barang dari laci, timnya pun terlihat gugup. Tuan Cha pikir tim audit datang dua bulan yang lalu, jadi Kenapa mereka kembali lagi, dan berpikir kalau tim audit bertambah besar.
“Tidakkah kau pikir dirimu terlalu banyak bekerja?” komentar Tuan Cha. Ketua Tim audit mengaku tidak menyukainya juga.
“Aku minta maaf... Bertindak seperti inspektur kerajaan rahasia hanya menyenangkan. Kami sadar kami harus melakukannya. Kali ini, kami melakukan pemeriksaan khusus karena informasi pribadi telah bocor dari cabang ini.” Ucap Ketua Tim audit.
“Ya ampun.... Kami tidak amatir... “ kata Tuan Cha. Saat itu anggota Tim melihat sudah menemukannya.
“Kami memang melakukan kesalahan itu. Bahkan monyet jatuh dari kebebasan kadang-kadang.” Ucap Tuan Cha melihat kartunya ada di meja orang lain.
“kau harus mendidik orang tentang cara menyimpan kartu keamanan.” Komentar Ketua Tim.
Jong Hoo akhirnya menelp Jong Hyuk yang belum datang juga,  Joo Hyuk sambil berlari meminta agar mengulur waktu dan akan memberi tahu detailnya nanti. Jong Hoo terlihat binggung, Jong Hyuk meminta agar mengulur waktu.
“Pastikan mereka tidak memeriksa dokumen pinjaman. Jadi Ulur waktu sampai aku tiba di sana. Mengerti? Kau harus Ulur waktu seolah-olah hidup mu tergantung padanya. Aku percaya kau.” Kata Joo Hyuk lalu menutup telp.
“Masalah apa yang dia sebabkan sekarang?” ucap Jong Hoo ikut khawatir. 

Joo Hyuk masuk ke sebuah gedung, lalu melihat customernya berada dalam ruangan sedang melakukan presentasi. Ia mencoba melambaikan tangan agar pelangganya bisa melihat tapi si wanita tetap sibuk menjelaskan pada semua peserta didik.
“Maaf, tapi kapan rapatnya berakhir?” tanya Joo Hyuk pada pegawai yang lewat.
“Ini baru dimulai, jadi akan memakan waktu sekitar satu jam.” Kata pegawai. Joo Hyuk  kaget karena harus menunggu satu jam dan memikirkan yang akan dilakukan.
Akhirnya Joo Hyuk masuk ruangan membagi-bagikan minuman pada semua anggota rapat, Si wanita terlihat binggung. Joo Hyuk akhirnya berada didepan si wanita meminta ID Cardnya. Si wanita hanya bisa menatapnya.
Semua akhirnya menyelesaikan bagian tukar uang, lalu Ketua Tim akan memeriksa arus kas dan dokumen pinjaman, jadi meminta agar membuka  brankasnya. Jong Hoo langsung menahanya merasa kalau tim aduit yang terlihat sangat akrab.
“Bukankah kau dari SMA Shinyongsan? Angkatan ke-53?” ucap Jong Hoo
“Tidak. aku lulus dari SMA bahasa asing.” Kata Ketua Tim audit.
“SMA Shinwon? Ahh... SMA Dongsan, kan?” ucap Jong Hoo mencari cara menahannya.
“Tidak, kita jelas bukan berasal dari kelompok usia yang sama. aku lahir pada tahun 1974, dan aku masuk sekolah setahun lebih awal.” Kata Ketua Tim
“Kau terlihat jauh lebih muda dari usiamu.” Komentar Jong Hoo, Tuan Byun pun meminta maaf atas sikap anak buahnya. 


Jong Hoo mengikuti Tuan Byun yang akan membuka brangkasnya, lalu membisikkan ditelinganya. Tuan Byun kaget dan mengeluh karena harus hari ini. Jong Hooo juga kebingungan yang harus dilakukan. Tuan Byun pikir kalau Ini adalah masalah hidup atau mati untuk cabang mereka.
“Kita harus mengulur waktu tidak peduli apapun itu” kata Tuan Byun lalu mengambil kunci brangkas.
Jong Hoo terlihat gugup, Tuan Byun tiba-tiba berpura-pura terjatuh dan Jong Hoo langsung menendang kunci agar kekolong meja. Semua langsung bergegas membantu Tuan Byun bangun, memastikan baik-baik saja agar tak cedera serius.
“Aku baik-baik saja, teman-teman... Ke mana kuncinya?” ucap Tuan Byun. Jong Ho pura-pura panik karena menghilang.
“Astaga, seharusnya ada di sekitar sini. Tidak seperti itu bisa berjalan. Kalian , cobalah menemukannya.” Kata Tuan Byun.
Joong Ho mencari dibawah meja, tapi tanganya tak bisa menyentuh dengan wajah kesusahan. Tuan Byun pun meminta agar mereka mencari penggaris dan meminta Ketua Tim audit menunggu. Jong Hoo tetap belum bisa menemukan kunci.
Hwan dengan polos melihat kunci yang tergeletak di lantai memberikan pada Tuan Byun. Jong Hoo hanya bisa melonggo, Tuan Byun pun tak bisa menutupinya kalau mereka akan membukanya. Jong Hoo pun duduk lemas tak bisa menahanya. 


Joo Hyuk bergegas sampai ke dalam kantorna dengan taksi, ditanganys sudah membawa fotocopy ID Card. Tapi Ketua Tim audit sudah menjabat tangan Tuan Byun, wajah semua terlihat kecewa. Tangan Joo Hyuk pun lemas menjatuhkan fotocopy ID Card.  
“Ini Waktu yang buruk, bukankah begitu? Bagaimana kau bisa menimbulkan masalah seperti itu pada hari audit? Bagaimana kau akan bertanggung jawab untuk ini? Apakah kau tahu berapa banyak poin penalti yang kami dapatkan karena mu?” ucap Tuan Byun memarahin Joo Hyuk.
“Aku harus mengatakan, ini adalah masalah yang cukup serius. Ketua Tim Cha harus pergi ke markas besar hari ini. Dia mendapat panggilan segera” tegas Tuan Byun
“Aku minta maaf. Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa.” Kata Joo Hyuk.
“Tidak, jangan menyesal dan Jangan minta maaf pada ku. kamu harus meminta maaf kepada istri mu. kau jelas tidak mendapatkan promosi saat ini. Jika nama kamu ada di daftar, maka aku akan pastikan untuk menghalangi para atasan dengan semua yang ku miliki. Aku pikir itu akan adil. Apakah aku salah?” sindir Tuan Byun. Joo Hyuk pikir itu benar.
“Hentikan itu... Kirim permintaan maaf tertulis. Dan kau tidak perlu melakukan kontak mata dengan ku hari ini.” Ucap Tuan Byun.
Joo Hyuk melirik pada Tuan Cha, tapi Tuan Cha tak bisa membantu dan memilih untuk pergi. 


Nyonya Jang duduk di ruang istirahat merasa Gula darahnya telah mencapai titik dasar, karena panik di pagi hari jadi lelah. Hyang Sook mengaku bahkan tidak punya waktu untuk memakai make-up dengan benar. Hye Jung pun harus berlari keluar pintu di tengah sarapan.
“Aku akan sangat berterima kasih jika kita tidak pernah berurusan dengan audit internal.” Kata Nyonya Jang
“Ngomong-ngomong, tidakkah kamu merasa kasihan pada Tuan Cha? Dia jarang membuat kesalahan. Kenapa hari ini dari semua hari...” kata Hyang Sook sedih
“Itu yang aku katakan. Dia membuat kesalahan kecil di sana-sini, tapi tidak pernah ada kesalahan serius seperti ini.” Kata Nyonya Jang
“Apakah itu memengaruhi keputusan tentang promosi? Dia cukup berpengalaman untuk menjadi manajer tim.” Ucap Hyang Sook
“Itu pasti akan. Pendapat yang lebih tinggi paling penting, kau  pasti tahu.” Ucap Hye Jung
“Tentu saja itu akan terpengaruh. Dia berdiri di jalur yang salah. Dia harus memilih Tuan Byun daripada Tuan Cha. Kau wanita membuat pilihan yang tepat. Aku jelas tidak akan pernah memberikan ulasan kinerja buruk.” Ucap Nyonya Jang. Keduanya hanya tersenyum merasa sangat beruntung.
“Ngomong-ngomong, dari mana kau mendapatkan anting-anting itu? Itu sangat cantik.” Ucap Nyonya Jang melihat anting yang dipakai Hyang Joo.
Akhirnya Hyang Joo melepaskan antingnya agar Nyonya Jang bisa mencobanya.  Nyonya Jang pikir akan memberikan uang untuk anting yang dicobanya. Hye Jung memuji, akhirnya Hyang Joo memperbolehkan Nyonya Jang untuk mengambil antingnya saja tanpa harus membayar. 


Joo Hyuk melihat dari atap seperti ingin melompat. Jong Hoo menahanya, Joo Hyuk merasa seharusnya mati saja. Jong Hoo mengejek  kalau Joo Hyuk tidak akan mati jika kamu melompat dari gedung hanya tiga lantai dan hanya akan berakhir dengan cedera.
“Aku pasti benar-benar gila. aku pecundang seperti itu. Konsol game yang bodoh itu membuatku kehilangan akal sehat. Aku pasti kehilangan akal untuk sementara waktu. Aku telah tertekan dan membutuhkan sesuatu untuk mengangkat semangat ku... Aku benar-benar gila.” Ungkap Joo Hyuk kesal
“Hei, tidak apa-apa... Kita semua membuat kesalahan, dan sebagian dari kita dipromosikan lebih lambat dari yang lain. Kau tak perlu khawatir Ketika aku menjadi manajer tim,  aku akan membiarkannya ketika kamu terlambat bekerja dan memberi mu banyak manfaat.” Ucap Jong Ho memberikan semangat. Joo Hyuk mengumpat marah
“Apakah kau benar-benar berpikir bahwa itu akan membuat ku merasa lebih baik? Haruskah aku berhenti? Apakah harus Kirim surat pengunduran diri ku?” ucap Joo Hyuk mencengkram baju temanya.
“Apakah kau memiliki tanah? Lalu apakah kau memiliki gedung?” tanya Jong Hoo. Joo Hyuk mengelengkan kepala.
“Apakah kau memiliki simpanan emas atau uang tunai di suatu tempat?” kata Jong Hoo
“Sudahlah... aku merasa menyedihkan. Hei, ini bukan sesuatu yang bisa kau buang hanya karena kau mau. Nasib keluarga kamu tergantung padanya. Cobalah untuk melihat sisi baiknya. Setelah semua, kau membeli konsol game yang luar biasa melalui ini.” Ucap Jong Hoo
“Aku sebenarnya akan menangis. Ada begitu banyak bangunan, namun tidak satupun dari mereka adalah milik ku.” Keluh Joo Hyuk menatap gedung didepanya.
“Itu karena pemiliknya tumpang tindih. Satu orang memiliki selusin dari mereka.” Kata Jong Hoo.
 “Hidup ini tidak adil!” teriak Joo Hyuk di pinggir atap, Jong Hoo juga ikut berteriak “Ya, nikmati kekayaan di antara kalian sendiri!”
“kau tahu, aku juga menginginkan kehidupan yang nyaman dan luar biasa!” teriak Joo Hyuk. Jong Hoo juga mengharapkan yang sama.
“Biarkan kami hidup!” teriak Joo Hyuk sambil mengumpat. Jong Hoo melihat kalau Joo Hyuk merasa lebih baik dan mengajak turun sekarang. 



Hujan turun dengan deras, Woo Jin perlahan keluar dari kamar akan mengambil pampers, lalu melihat ada PS dibalik popok milik anaknya, wajahnya terlihat sangat marah. Joo Hyuk pulang ke rumah tak melihat istrinya ada dikamar, lalu mencoba melihat PS-nya tak ada di balik pampers.
Woo Jin sedang ada di kamar mandi dengan PS yang ada didalam bathtub. Joo Hyuk berteriak marah melihat PSnya yang terendam. Woo Jin marah karena sudah meminta agar Joo Hyuk  berhenti menggunakan uang untuk game.
“Mengapa kau membelinya ketika kau tidak bisa menggunakannya?” ucap Woo Jin dengan nada tinggi.
“Aku menggunakan konsol game usang yang rusak.” Kata Joo Hyuk
“Kenapa kau tidak berhenti bermain game sialan itu? Gaji kamu tidak besar, untuk bisa membayar biaya pengasuhan anak, membayar hutang, dan biaya hidup orang tua kita. Lalu Apa kau ingin menikmati hobimu?” ucap Woo Jin marah
“Hentikan itu.... Jangan memotongku...” kata Joo Hyuk akhirnya berani bicara dengan nada tinggi membuat Woo Jin terdiam.
“Bisakah tidak memotong ku... aku belum selesai bicara, mengerti? Kenapa kamu selalu memotong ku? Aku belum selesai berbicara, jadi katakan hal-hal setelah kamu mendengarkan ku dulu. Aku suamimu, Apa kau tahu itu?” tegas Joo Hyuk
“Apakah aku menghabiskan biaya hidup? Apakah aku meminta mu untuk uang? Yah... Benar, aku menabung sedikit gaji ku dan menyisihkannya untuk membeli konsol game... Itu bukan dalam hitungan hari atau bulan. Aku berinvestasi untuk diri ku sendiri selama bertahun-tahun. Apa kau pikir itu dosa sebesar itu?”ungkap Joo Hyuk mengeluarkan semua unek-uneknya.
“Jadi kau tidak mengerti sama sekali, kan?” kata Woo Jin marah
“Apa yang harus aku mengerti? Kenapa aku yang harus selalu mengerti? Apakah kau tahu bagaimana perasaan ku? Aku lelah bekerja juga, Aku ingin beristirahat dengan tenang di rumah. Aku ingin mendapatkan kekuatan untuk menghadapi hari esok.” teriak Joo Hyuk. Woo Jin hanya terdiam melihatnya.

“Tapi apa yang aku dapatkan? aku lebih lelah di rumah daripada di tempat kerja. Istri ku lebih sulit ditangani daripada pelanggan ku, sialan.Apa kau pikir cuma kau yang menderita? Aku menderita tinggal bersama mu, tidak bisakah kau merasakannya?” teriak Joo Hyuk akhirnya memilih untuk keluar dari rumah. 

Joo Hyuk melihat sepatu yan digunakan ternyata berbeda karena terburu-buru keluar dari rumah. Didepan restoran Sang Sik pun tutup, lalu berusaha Sang Sik seperti menceritakan masalahnya. Sang Sik  tak percaya kalau akan seburuk itu, menurutnya Bahkan anjing tidak terkena flu di musim panas.
“Tidak, aku di sini hanya untuk mengambil semangkuk udon.” Ucap Joo Hyuk lalu menutup telpnya.
Ia menelp Jong Hoo, tapi istrinya yang mengangkat mengatakan Jong Hoo pergi membeli bahan untuk makanan bayi. Joo Hyuk melihat nama Hye Won tapi enggan untuk menelpnya. Akhirnya berpikir menelp seserong berpikir kalau sudah kembali ke Seoul.
“Dia mungkin ingin minum setelah melalui hal semacam itu.” Kata Joo Hyuk mencoba menelp Tuan Han.
“Tuan Han , dimana kamu?” tanya Joo Hyuk, Tuan Han mengatakan ada di rumah dan bertanya kenapa menelpnya di malam hari.
“Yah, aku pikir kamu mungkin merasa sedih dan semacamnya, jadi aku ingin membelikanmu minuman.” Kata Joo Hyuk
“Aku tahu kau bahkan tidak pandai minum. Datanglah ke rumahku dulu.” Kata Tuan Han. Joo Hyuk tak percaya Tuan Han bisa datang.
Joo Hyuk datang ke rumah Tuan Han dengan kantung plastik. Tuan Han membuak pintu melihat Joo Hyuk cepat sekali berpikir kalau memang sudah ada diluar. Joo Hyuk berpikir kalau Tuan Han  ingin beristirahat sendiri dan telat untuk datang ke rumahnya. Tuan Han mengajak Joo Hyuk masuk ke rumahnya.
“Aku membeli bir dan minum camilan jika kau tidak memilikinya.” Kata Joo Hyuk menaruh di rumah.
“Apa maksudmu? Aku punya begitu banyak minum camilan hari ini.” Kata Tuan Han.
“Apakah ada orang lain di rumah?” tanya Joo Hyuk, Tuan Han memberitahu kalau ibunya datang membawa ku lauk pauk dan akan segera pergi. Joo Hyuk menganguk mengerti lalu tersadar kalau sebelumnya datang ke rumah duka ibu Tuan Han.
Ibu Tuan Han baru saja dari toilet melihat sosok pria yang datang kerumah anaknya, Tuan Han mengatakan kalau Joo Hyuk adalah mantan koleganya di tempat kerja dan pernah  bercerita tentang dia beberapa kali.
“Oh, Dia, orang yang menikah begitu dia bergabung dengan perusahaan?” ucap Ibu Han, Joo Hyuk seperti tak percaya melihat Ibu Han ada didepanya.
Teringat saat Tuan Han mengatakan kalau Saat Ibunya dalam perjalanan pulang ke rumah setelah  memberikan lauk,tertabrak sepeda motor.  Ibu Han melihat Joo Hyuk itu beruntuk meminta agar mengajarkan bakatnya mendapatkan istri untuk anaknya.
“Dia harus menikah, tapi dia masih lajang. Aku merasa sedikit cemas.” Kata Ibu Han. Joo Hyuk yang masih binggung menganguk mengerti. 


“Tidak mungkin. Dia memakamkan ibunya, jadi bagaimana dia bisa...Apakah aku benar-benar sudah gila? Apakah aku kehilangan diri karena stres berat? Ini bukan satu-satunya hal yang aneh.” Gumam Joo Hyuk berjalan dengan wajah kebingungan.
Ia yakin Mimpi yang jelas dengan melihat Joo Eun, lalu datang ke rumah duka Tuan Han, dan melihat bekas luka ditanganya. Jong Hoo mengatakan kalau Joo Hyuk memiliki bekas luka itu sejak bergabung dengan perusahaan.

“Tidak mungkin. Apakah itu bukan mimpi?” kata Joo Hyuk masih kebingungan.
Ia mengingat saat itu Jong Hoo memberitahu kalau Ibu Tuan Han meninggal, lalu melihat tanggal di ponselnya Rabu, 29 Agustus 2018. Saat  bangun, Joo Hyuk kaget kalau ada di hari Rabu bukan Jumat dan teringat sebelumnya masuk ke dalam tol yang membuatnya bisa berjalan mundur.
“Itu ada di sana.... Gerbang tol itu.” Ucap Joo Hyuk yakin dengan melihat semua perubahan dirinya. 


Joo Hyuk mengemudikan mobilnya dan mengingat kalau sudah melewati papan reklame ini, tapi tak melihat ada pintu tol di depanya. Akhirnya Joo Hyuk memilih jalan yang berbeda, berbelok ke sebelah kiri dengan papan reklame yang bertuliskan  (Hidupmu juga bisa berubah. Dapatkan awal yang baru.)
“Oke bagus. Jika tidak akan muncul lagi, maka aku hanya akan mengatakan bahwa aku gila dan langsung menuju ke rumah sakit.” Ucap Joo Hyuk akhirnya berbelok ke arah kiri.
Joo Hyuk bisa melihat pintu tol didepanya, lalu membayar uang 50 sen. Pintu pun terbuka, dan mobil Joo Hyuk berjalan dengan cepat pindah ke dimensi yang berbeda. 

Joo Hyuk membuka matanya dan sudah ada dikamarnya, matanya tak percaya kalau kembali ke kamarnya saat kuliah. Ia masih tak percaya benar-benar kembali ke apartemen lama dan bukan hanya mimpi. Terdengar terikan Joo Eun untuk membuka pintu.
“Aku akan mendobrak pintu jika kamu tidak membukanya pada saat aku menghitung sampai tiga!” teriak Joo Eun. Joo Hyuk akhirnya membuka pintu kamarnya.
“Coba Lihat tempat ini. Apakah ini kandang babi atau apa?” keluh Joo Eun, Joo Hyuk tersenyum melihat wajah adiknya.
“Aku tidak bolos sekolah. Ini hari jadi sekolahku.” Kata Joo Eun meminta Joo Hyuk mengambil kotak lauk.
“Senang bertemu denganmu, Joo Eun. aku serius” ucap Joo Hyuk dengan senyuman.
“Aku yakin kamu senang melihat lauk ini, bukan aku. Astaga, aku ingin tidur hari ini, tapi Ibu terus memukul punggungku dan mengantarkan lauk ini untukmu....aku...” kata Joo Eun mengeluh yang langsung disela oleh kakaknya.
“kau adalah seorang senior di sekolah menengah Dan tiket mu hanya untuk ruang berdiri. Jadi Aku akan mengingatnya saat aku memakannya. Terima kasih.” Kata Joo Hyuk mengingat yang dikatakan adiknya.
“Bagaimana bisa sebuah rumah seperti ini? Ini sangat kacau” keluh Joo Eun. Joo Hyuk merasa kalau tidak kacau setiap hari.
“Itu karena kami menonton pertandingan Piala Dunia kemarin.” Kata Joo Hyuk dengans senyuman.
“Ya, aku akan bertaruh. Seseorang seharusnya tidak hidup di kandang babi setiap hari” kata Joo Eun kesal
“Hei... Adikku tahu kau bangun juga. Bangun.” Kata Joo Hyuk membangukan Sang Sik lebih dulu.
“Halo. aku telah mendengar banyak tentang mu.” Ucap Sang Sik. Joo Eun menyuruh Sang Sik memakaian sebelum merusak penglihatannya lagi.
Joo Hyuk sudah tahu kalau adiknya akan membuka lemari dan langsung menutupnya. 


Joo Hyuk keluar dari rumah memanggil bibi yang akan menyiram air. Si Bibi pun menahan diri untuk menyiram air. Joo Hyuk memberitahu kalau anak lewat, Si Bibi mengaku hampir melakukan sesuatu yang mengerikan. Joo Hyuk mengaku sudah mengetahuinya.
Joo Hyuk tersenyum bahagia menghindari kesialanya, lalu bisa melompat dari tempat koran. Dua pelayan mengeluh melihat pasangan yang menikah menurutnya sangat tak adil karena dua orang keren menikah dan hidup bahagia.
“Mereka akan bercerai nanti. Jadi jangan khawatir tentang itu, dan fokuslah belajar.” Kata Joo Hyuk yang membuat dua pelajar tersenyum. 

Joo Hyuk tersenyum bahagia karena Hye Won akan datang sekarang dan mulai menghintung mundur.  Hye Woon memanggil Joo Hyuk dengan senyuman. Joo Hyuk tersenyum bahagia melihatnya Hye Won ada didepanya.
“kau memiliki kelas selama periode pertama. Kamu terlambat.” Ucap Hye Won. Joo Hyk tahu kalau Hye Won akan berlatih.
“Ya, bagaimana kamu tahu? Aku memiliki latihan ansambel.” Kata Hye Won. Joo Hyuk bergumam agar Hye Won segera mengatakanya.
“Hei, Joo Hyuk-Sunbae... Apakah kau memiliki waktu luang malam ini? Seorang pemain cello mengadakan resital solo, dan aku punya dua tiket.” Ucap Hye Won.
“Aku punya banyak waktu... Ayo pergi bersama. aku akan datang.” Kata Joo Hyuk penuh semangat.
“Aku akan menemuimu di pintu masuk jam 8 malam. Jangan terlambat.” Kata Hye Won. Joo Hyuk mengatakan tidak akan terlambat dan bisa menghindari kurir motor. 


Joo Hyuk meminta temanya agar menggantikan hanya untuk malam ini akan membalasnya nanti. Temanya setuju dan bertanya apa ada sesuatu yang terjadi. Joo Hyuk menganguk dengan senyuman,  karena itu Sesuatu yang penting yang bergantung pada nasibnya. 

Joo Hyuk tersenyum bahagia berjalan ke halte bus, lalu tatapanya mengarah pada anak SMA yang mengunakan earphone. Ia melihat sosok Seo Woo Jin yang masih terlihat muda.
“kau adalah orang yang ceria saat itu. Jadi mengapa wajah ceriamu terasa begitu asing bagiku?” gumam Joo Hyuk lalu melihat Woo Jin yang memakai rok pendek. 

Akhirnya bus datang, Joo Hyuk melihat Woo Jin yang berdiri di tempat yang sama, lalu mengeluh kalau istrinya itu bodoh.  Si pria pun berakhir memegang bokong Woo Jin  dan Woo Jin langsung memarahi si pria. Woo Jin berusaha tak tahu menahu.
“Hei, aku tidak menyentuh bokongmu. Ini karena busnya bergerak.” Ucap Woo Jin. Si pria tetap mengelak.
“Apakah kau ingin dimarahi? Apakah ada yang melihatku menyentuh bokongnya?” kata si pria. Woo Jin mencoba mencari siapa yang melihatnya.
Joo Hyuk menahan diri agar jangan melakukan apapun. Si pria mengumpat kalau Woo Jin adalah  penggali emas yang memulai sesuatu tanpa alasan dan mencuri uang orang. Woo Jin mengelak kalau bukan seperti itu, Saat itu Joo Hyuk ingin bicara tapi ada penumpang yang lebih dulu bicara.
“Aku melihatmu! Pria itu memang bokong siswa itu.” Teriak si wanita. Akhirnya semua percaya kalau si pria melakukanya. 

Polisi akhirnya membawa si pelaku ke dalam mobil polisi untuk mencari tahu kebenaran setelah melakukan penyelidikan. Joo Hyuk melihat Woo Jin hanya terdiam lalu mengucapkan selamat tinggal agar memiliki kehidupan yang menyenangkan. Woo Jin sempat menatap tapi setelah itu langsung masuk ke dalam mobil polisi dengan ibu sebagai saksi.
Semua penumpang kembali masuk ke dalam bus, Joo Hyuk tersadar kalau sudah terlambar akhirnya berlari masuk ke dalam taksi yang berhenti. Ia meminta pada pria yang akan masuk karena nasib nya tergantung pada pertemuan jadi benar-benar tidak bisa melewatkannya. 

Joo Hyuk berjalan masuk ke  dalam gedung, mencari sosok Hye Won tapi tak melihatnya. Hye Won memanggil Joo Hyuk dengan dress kuning. Joo Hyuk tersenyum bahagia melihat Hye Won yang sangat cantik. Keduanya pun duduk di dalam theater menonton pertunjukan.
Joo Hyuk terlihat gelisah di tempat duduk karena disamping Hye Won, lalu tak sengaja menyentuh bagian tangan Hye Won, wajahnya terlihat gugup. Akhirnya Hye Won berbisik agar Joo Hyuk fokus pada musiknya. Joo Hyuk pun mencoba agar duduk tenang. 

Keduanya berjalan ditaman, Hye Won mengaku kalau pertunjukan tadi sangat bagus, bahkan pergi ke resital solo dan makan makanan lezat. Joo Hyuk hanya terdiam tapi tak bisa menutupi wajah bahagianya. Hye Won bertanya apakah Joo Hyuk tahu pria seperti apa yang paling dibencinya. Joo Hyuk ingin tahu seperti apa.
“Pria yang menggunakan uang untuk memikat wanita. Mereka mengendarai convertible yang mahal, membawa perempuan ke restoran mewah, membeli barang-barang desainer sebagai hadiah, dll. Aku suka pria yang menghargai ketulusan ku. Dan...kau adalah tipe pria seperti itu.” Kata  Hye Won lalu berani mencium Joo Hyuk lebih dulu. Keduanya saling menatap akhirnya Joo Hyuk mencium Hye Won. 


Joo Hyuk  terbangun dari tidurnya, lalu melihat sosok wanita yang ada disampingnya. Wajahnya panik ingin tahu yang ada disampingnya, apakah Hye Won atau Woo Jin tapi tanganya bergetar karena tak berani menyentuhnya. Saat itu Hye Won memperlihatkan wajah yang tertidur disamping Joo Hyuk.
“Itu Hye Won... Ini benar-benar terjadi. Istriku benar-benar berubah.” Jerit Joo Hyuk bahagia melihat wajah cantik Hye Won di dalam kamarnya.
Sementara Woo Jin yang sudah dewasa berlari menyeberangi sungai Han, wajahnya terlihat sangat berseri dan cantik. Tempatnya di gantikan oleh Hye Won yang menjadi istri Joo Hyuk.
Bersambung ke episode 3


Sinopsis Familiar Wife Episode 2 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Joo Hyuk masih terlihat binggung dan melihat di kalender, bulan Juni tahun 2006,wajahnya masih terlihat binggung. Lalu ia keluar dari rumah karena terlambat dan akhirnya terkena siraman air, si bibi menjerit panik.  
“Kau seharusnya bilang akan lewat.” Keluh bibi. Joo Hyuk bergumam kalau kejadian sama Persis...
“Persis seperti hari itu.” Gumam Joo Hyuk masih mengingatnya
“Matahari bagus, jadi akan cepat kering.” Kata Si bibi. Joo Hyuk masih mengira kalau dirinya sedang bermimpi.
“Tapi ini terlihat begitu nyata.” Gumam Joo Hyuk masih kebingungan.
“Apakah kau tidak pergi? Tidakah kau terlambat?” ucap Si Bibi menyadarkan lamunan Joo Hyuk 

Joo Hyuk turun dari bus tak sengaja tersandung tempat koran, Dua pelajar mengeluh pasangan artis yang menikah dan hidup bahagia, menurutnya itu tidak adil.
“Aku tidak tahu apakah ini mimpi atau kenyataan. Bagaimanapun, ini tahun 2006. Pada hari itu 12 tahun yang lalu. Jika seperti ini, maka aku akan segera bertemu...” gumam Joo Hyuk lalu melihat sosok Hye Won sedang membawa cello.
“Itu Hye Won dari 10 tahun yang lalu. Dia adalah cinta pertamaku dari surga...dengan senyum cerah seperti bunga.” Gumam Joo Hyuk.
Hye Won memanggil Joo Hyuk karena mengetahui akan masuk kelas selama periode pertama dan pasti terlambat. Joo Hyuk hanya terdiam,Hye Won mengaku sedang dalam perjalanan ke ruang latihan. Joo Hyuk mengangguk mengerti
“ Joo Hyuk-Sunbae, apakah kau senggang malam ini? Seorang pemain cello akan menampilkan resital solo, dan aku punya dua tiket.” Kata Hye Won
“Iya... Aku senggang.”ucap Joo Hyuk dengan gugup
“Aku akan menemuimu di pintu masuk jam 8 malam. Jangan terlambat.” Kata Hye Won lalu melangkah pergi.
“Benar, Hye Won. Jadi kau meminta untuk pergi karena suatu alasan... Kau juga...Kau juga...” gumam Joo Hyuk lalu ditabrak oleh motor kurir makanan. 


Joo Hyuk terbangun dari tidurnya, terjatuh dari tempat tidurnya. Woo Jin membereskan tas anaknya heran melihat Joo Hyuk hanya diam, padahal sudah terlambat masuk kantor. Joo Hyuk masih bingung bertanya sekarang hari apa.
“Tidak. Tahun berapa sekarang?” ucap Joo Hyuk masih bingung. Woo Jin heran Joo Hyuk menanyakan hal itu.
“Sekarang hari rabu 29 Agustus 2018.” Kata Woo Jin, Joo Hyuk kaget karena berpikir kalau hari Jumat
Ini hari Rabu. Mengapa kau berbicara omong kosong lagi? Apakah kau bermimpi?” keluh Woo Jin
“Benar... Itu hanya mimpi... Ya, itu mimpi. Apa lagi yang bisa terjadi?” gumam Joo Hyuk lalu bertanya bagaimana caranya pulang kemarin.
“Apa maksudmu? kau berjalan pulang. Aku sudah bilang. kamu harus berhenti minum begitu banyak. Itu mungkin benar-benar membunuhmu.” Kata Woo Jin lalu keluar kamar.
Joo Hyuk bertanya mau kemana istrinya, Woo Jin mengatakan akan mengajukan asuransi jiwa. Lalu akan mengantarkan anak-anak dan langsung menuju kantor jadi tak peduli Joo Hyuk akan pergi kerja atau tidak.
“Ini sangat aneh, aku ingat mengemudi di mobil, tapi aku tidak ingat yang lainnya. Apakah karena aku terlalu banyak minum akhir-akhir ini? Tunggu sebentar.... Rasanya terlalu nyata untuk menjadi mimpi... Apakah karena terlalu banyak yang terjadi kemarin?” gumam Joo Hyuk kebingungan dan terlihat ada sebuah goresan ditanganya. 


[Episode 2 - Life is a maze full of choices]
Joo Hyuk akhirnya berangkat pergi ke kantor. Jong Hoomembeli sandwich pada bibi dalam truk untuk Joo Hyuk juga.  Ia pikir seorang pria yang makan sarapan di rumah hanyalah mitos adn sangat ingin makan masakan ibunya
“Ayah ku sangat beruntung bisa makan masakannya setiap hari.” Keluh Jong Hoo
“Hei, Jong Hoo.. Pernahkah kau bermimpi yang terasa begitu nyata?  Mimpi yang begitu hidup sehingga terasa begitu nyata.” Ucap Joo Hyuk yang masih kebingungan.
“Tentu saja aku punya. Suatu waktu dalam mimpiku, aku berpacaran dengan Han Hyo Joo. Tapi itu sangat jelas... Setelah setiap aku melihat Han Hyo Joo di TV, dia tampak sangat akrab, seperti mantan pacar. Dan adegan ciumannya membuatku sangat marah sehingga aku tidak bisa menontonnya. Itu sangat aneh.” Cerita Jong Hoo
“Tidak, bukan seperti itu.” Kata Joo Hyuk. Jong Hoo pikir itu bukan masalah yang besar.
“Itu hanya karena kau begitu stres akhir-akhir ini. Dan karena kau begitu stres, ingin memainkan beberapa permainan setelah bekerja? Aku sudah menyiapkannya.
“GameStation ku rusak. Jadi aku mempostingnya untuk mendapatkan yang baru, tapi belum terjual juga.” Cerita Joo Hyuk, Jong Ho memuji kalau itu usaha yang bagus.
“Aku berharap aku bisa membeli yang baru.” Kata Jong Hoo iri dengan temanya.

Joo Hyuk tiba-tiba tersadar dengan luka ditanganya, karenatidak pernah mengalami ini sebelumnya. Jong Hoo heran dengan Joo Hyuk padahal sudah memilikinya sejak mulai bekerja. Joo Hyuk malah tak mungkin kalau  tidak tahu tentang bekas luka di tubuhnya sendiri.
“Siapa lagi yang tahu, kalau bukan kau? kau sangat aneh hari ini. Bukankah seharusnya kau pergi ke dokter? Mereka mengatakan tanda awal Alzheimer adalah penyakit yang lagi trend.” Kata Jong Hoo. Joo Hyuk masih saja terdiam kebingungan. 

Dua orang pegawai wanita melihat Joo Hyuk dan Jong Hoo baru datang, sambil menyapa bertanya apakah mereka ingin minum kopi. Jong Hoo seperti tahu trik pegawai wanita lalu berpura-pura menerima telp dan bergegas pergi. Joo Hyuk yang menahanya pun tak bisa menahanya.
"Tentu, aku akan membeli... Wah.. Dompet ku terasa sempit.” Kata Joo Hyuk mengeluarkan kartunya menyuruh dua pekerja untuk membelinya.
"Terima kasih, Asisten Manager.. Ngomong-ngomong, apakah cuma untuk kami berdua aja? Bagaimana dengan yang lain?” kata pegawai wanita,
‘Tentu, aku yakin itu tidak akan banyak biaya. Beli beberapa untuk semua orang Tapi Maaf, apa mereka menerima kartu debit di sana ?” ucap Joo Hyuk. Keduanya pun menganguk, Joo Hyuk pun tak bisa berkata apa-apa lagi. 


Dua pekerja kembali memberitahu kalau Joo Hyuk membeli kopi untuk semua orang dengan membaagikan semua es americanos. Semua mengucapkan terimakasih, Jong Hoo pun ikut tersenyum bahagia. Hwan mengaku suka dengan minuman dingin jadi meminta Joo Hyuk membelikan di waktu berikutnya.
“Itulah mengapa kau harus berhati-hati terhadap kopi gratis. Jika mereka memintamu untuk membelikan mereka kopi,maka uang belanja mu untuk minggu ini akan hilang dalam sekejap.” Ucap Jong Hoo, saat itu Tuan Cha baru saja masuk kantor.
“Selamat pagi semuanya Apa ini? Apakah ini "Coffee Time"? Baguslah.... aku juga ingin. Cepat beri dia satu.” Kata Tuan Cha. Dua pegawai binggung karena lupa membelikannya.
“Tidak apa-apa, aku hanya akan minum kopi instan di ruang istirahat. Dokter ku bilang untuk menghindari makanan manis sehingga arteri ku tidak akan tersumbat tapi satu cangkir kopi manis tidak akan membunuhku seketika.” Kata Tuan Cha menyindir.
Semua terdiam akhirnya, Joo Hyuk maju mendekati Tuan Chan memberikan kopi yang belum diminum.  Tuan Cha menolak karena Joo Hyuk yang membelikanya. Joo Hyuk beralasan tidak bisa tidur nyenyak di malam hari jika minum kopi.
“Yang ini milikmu. Aku sungguh..” kata Joo Hyuk, Tuan Cha pun dengan senang hati menerimanya.
“kau adalah satu-satunya yang memperhatikan ku, Ass Manager Cha... Terima kasih.” Kata Tuan Cha langsung menghabiskan setengah gelas kopi.
“Es Americano adalah yang terbaik untuk hari yang panas. Di sini, aku punya kuis untuk kalian. Jam berapa di India? Kalian tidak tahu, kan?< Saat ini, jam 4 pagi di India. Atau, seperti yang kita katakan di Korea, "Indonesia"!” kata Tuan Cha berusaha melucu.
Semua orang berusaha untuk tertawa sambil tepuk tangan, begitu juga Joo Hyuk dan Jong Hoo. Jong Joo  mengeluh Tuan Cha itu jadi pemarah, tapi Tuan Chan akan berurusan dengan kemarahannya selama seminggu jika bukan karenanya. Joo Hyuk yang kesal menendang kaki temanya lalu melangkah pergi.



Joo Hyuk masuk ke dalam ruang penyimpanan, kotak berangkas besar dibuka satu persatu lalu melihat memasukan semua uang sambil memikirkan kalau hanya akan makan kimbab selama seminggu. Ia pikir Akan sangat menyenangkan jika semua uang itu adalah uangnya.
“Haruskah aku mengambil semua ini dan kabur? Haruskah?” kata Joo Hyuk
Ia lalu menerima balas dari forum “Mencari sebuah GameStation!” kalau ada yang menjual GameStation terbaru seharga 400 dolar, keadaanya mulus no minus. Wajah Joo Hyuk langsung sumringah dan bergegas menutup semua pintu untuk segera keluar. 

Joo Hyuk kembali duduk merasa  tuhan memberkati karena sudah membeli kopi hari ini, lalu menyuruh Jong Hoo agar melihat ponselnya. Jong Hoo melonggo kaget melihatnya, Joo Hyuk senang karena tak perlu membayar kontan.
"Hei, cepat hubungi mereka, sebelum orang lain mengalahkan mu untuk itu.” Kata Jong Hoo, Joo Hyuk pun bergegas mengetik di ponselnya dengan tenang.
“Ya, aku akan membelinya dari mu.” Tulis Joo Hyuk. Si pemilik ingin tahu apakah Joo Hyuk Bisa bertemu hari ini?
“Ya, dimana dan kapan?” tanya Joo Hyuk, Si pemilik meminta agar bertemu di pintu Exit 1 dari Yeouido Station sekitar jam 6 sore.
“Mereka ingin bertemu jam 6. Apakah kamu pikir aku akan bisa keluar saat itu?” tanya Joo Hyuk ragu.
“Cukup beri tahu mereka jawaban “ya” untuk saat ini. Kau harus mengatakan ya tidak peduli apa” ucap Jong Hoo
Joo Hyuk pun memutuskan untuk bertemu jam 6 sore. Keduanya terlihat bahagia karena berhasil membeli games. Saat itu Tuan Byun sudah ada didepan counter menyindir keduanya tidak akan bekerja, dengan memperingatkaa agar Berhenti bermain-main selama jam kerja.
“Kami hanya memeriksa nomor kami untuk mata uang yang dipertukarkan.” Kata Jong Hoo lalu menjauh dari meja Joo Hyuk. 


Woo Jin bertemu pelangan Nyonya Soo Mi menyapa dengan ramah yang akan perawatan wajah hari ini. Nyonya Soo Mi mengatakan ingin pijat bahu hari ini, karena masih lelah dari perjalanan ke Bali minggu lalu. Woo Jn terlihat senang  kalau pelangganya pergi ke Bali.
“Aku tahu kamu mempunyai kesehatan yang luar biasa. Tolong ganti baju. aku akan segera kembali setelah siap-siap.” Kata Woo Jin
“Dan Juga, berikan aku satu cangkir air hangat.” Ucap Nyonya Soo Mi, Woo Jin menganguk mengerti lalu keluar dari ruangan. 

Woo Jin masuk ruangan membantu Nyonya Soo Mi  minum air hangat tapi pelannganya seperti merasakan panas dan mulai mengomel. Woo Jin meminta maaf karena merasa sudah mencampurnya jadi akan mengambilkan yang lain.
“Itu baik-baik saja. Aku tidak menginginkannya. Nyalakan AC.” Kata Nyonya Soo Mi.  Woo Jin pun dengan menahan amarah menyalakan AC.
“Kami akan mulai dengan pijat penuh. Wahh, kau memiliki kulit yang bagus... Bali pasti menyenangkan, aku belum pernah ke Bali.” Ucap Woo Jin lalu tiba-tiba terbatuk dan meminta maaf pada pelangganya.
“kau tahu bahwa kau harus merawat kulit kecokelatan dengan lebih baik, kan? Perawatan "sun care line" klinik kami juga bagus. Kami menggunakan produk dari Perancis. Ini baik untuk regenerasi kulit, dan...” ucap Woo Jin yang lain dihentikan oleh Nyonya Soo Min
“kau membuatnya terlalu jelas bahwa kamu berpromosi. Apakah bos mu menginstruksikan mu untuk melakukan ini?” komentar Nyonya Soo Mi, Woo Jin mengaku tidak
 “Apakah kamu mendapatkan semacam komisi jika kamu menjualnya kepada ku? Aku akan mempertimbangkannya. Berikan aku contoh saat aku keluar... Yahhh... Benar juga... aku yakin sulit untuk memenuhi kebutuhan hanya dengan gaji mu. Aku yakin kau harus menjual sesuatu, apakah itu mungkin kosmetik atau hati nurani mu. ACnya kurang dingin sedikit lagi. Sangat panas.” Komentar Nyonya Soo Mi.
Woo Jin pun menahan diri dengan kembali menyalakan AC,  lalu melihat ada pemilik rumah yang nelp. Lalu pamit untuk keluar dari ruangan. Ia meminta maaf pada pemiik terlihat kebingungan.


Jong Hoo dan Joo Hyuk  melayani pelanggan bank yang mengajukan pinjaman pribadi premium.. Joo Hyuk membaca formulir dan juga tanda terimakarena menahan pajak dan bukti pekerjaan, lalu meminta ID cardnya. Si wanita mencarinya di dalam dompetnya. 
“Sudah berapa lama kau hamil?” tanya Joo Hyuk dengan wajah sumringah.
“Sudah sekitar lima bulan.” Jawab si wanita, Joo Hyuk mengaku punya dua anak juga dan mengucapkan selamat.
“Tapi Kenapa tidak di sini?” kata Si wanita kebingungan. Joo Hyuk pun ikut panik karena tidak membawa kartu Idnya.
“Aku mengeluarkannya ketika membereskan barang-barang dan lupa membawanya. Apa yang harus aku lakukan? aku benar-benar harus menyelesaikannya hari ini. Haruskah aku pulang dan kembali? Ini mungkin  akan kembali lewat jam 6 sore. Jika kau menunggu ku sedikit, aku akan kembali secepat mungkin.” Kata Si wanita
“Kau bilang Jam 6 sore?” ucap Joo Hyuk teringat dengan janjinya akan bertemu di  Exit 1 dari Yeouido Station sekitar jam 6 sore.
“Aku akan melanjutkan dengan pinjaman untuk saat ini. Jadi Bawalah padaku besok. kau adalah pelanggan reguler lama dari bank kami.” Ucap Joo Hyuk. Si wanita bertanya apakah Joo Hyuk melakukan itu.
“Pada prinsipnya tidak diperbolehkan, tapi aku harus melakukannya untukmu karena rumahmu jauh dari sini.” Bisik Joo Hyuk
“Terima kasih. Maka aku akan membawanya besok pasti.” Kata si wanita. Joo Hyuk pun tersenyum bahagia bisa menyelesaikan masalah. 


Joo Hyuk bergegas mencari Tuan Cha dalam ruangan, tapi tak ada. Ia lalu bertanya padah Hyang Sook, di mana manajer cabang. Hyang Sook mengatakan Tuan Cha keluar untuk berkunjung ke markas beberapa waktu yang lalu dan akan segera kembali.
Akhirnya Joo Hyuk kembal ke ruangan mencoba masuk ke website karyawan lalu membuka “Buku Darurat” dengan password, setelah itu mengklik “Persetujuan Pinjaman” dan terlihat tanda tangan Tuan Cha keluar. Wajah Joo Hyuk tersenyum bahagia melihatnya. 

Joo Hyuk menemui Tuan Byun dengan wajah sedih mengaku memiliki urusan keluarga, meminta izin untuk pulang kerja lebih awal. Tuan Byun mengejek Joo Hyuk punya 10 saudara atau sesuatu. Jong Hoo seperti gugup mendengarnya.
“Mengapa kamu memiliki begitu banyak urusan?” keluh Tuan Byun.
“Ini cukup serius. Aku ingin menghapus nama ku dari daftar keluarga juga, Tapi kurasa aku tidak bisa.” Ucap Joo Hyuk.
Tuan Byun akhirnya mempersilahkan Joo Hyuk pergi, wajah Jong Hoo pun ikut tersenyum melihatnya. Joo Hyuk bisik bertanya pakah ia bisa sampai di Stasiun Yeouido dalam 30 menit. Jong Hoo pikir Joo Hyuk punya cukup waktu jika cepat-cepat sekarang. Joo Hyuk berjalan dengan wajah sedih padahal hatinya sangat bahagia. 


Woo Jin berjalan ke sebuah apartemen, wajahnya sedih melihat ibunya yang kena marah seorang bibi yang sudah memberitahu untuk membersihkannya. Ibu Woo Jin mengatakan akan segera melakukannya.
“Jadi kapan kau akan melakukannya? Apa Setelah aku meninggal?” teriak si bibi. Akhirnya Woo Jin mendekati ibunya.
“Aku senang kamu ada di sini... Coba Lihatlah semua barang ini. Apakah ini tempat pembuangan atau rumah? Aku menabrak salah satu sampah itu dalam perjalananku kemarin. Coba Lihatlah memar ini di jari kakiku.” teriak si bibi sambil mengeluh bau.
“Aku minta maaf.... Aku sangat menyesal.” Ucap Woo Jin tak bisa berkata-kata.
“Lupakan permintaan maafnya. Dia menumpuk ini di depan rumah orang lain. Apa maksudnya kekacauan ini? Tidak bisakah dia menjadi gila dengan cara yang layak?” teriak si bibi marah dan berjalan pergi. 

Woo Jin mengeluh pada ibunya meminta agar membuang semua barang-barang yang ada diluar rumah. Ibu Woo Jin langsung melarang dengan wajah ketakutan, karena menurutnya masih bisa digunakan. Woo Jin menghela nafas melihat sikap ibunya yang suka menumpuk barang.
“Di negara ini, semua orang hanya berpikir membuang barang bukannya berhemat.” Kata Ibu Woo Jin
“Untuk apa kau menggunakannya? kau menumpuknya karena tidak punya tempat untuk menggunakannya. Apakah ini rumah bagi orang?” kata Woo Jin
“Tentu saja. Apa kau pikir ini adalah rumah untuk babi dan anjing?” ucap Ibu Woo Jin masuk rumah. Woo Jin merengek pada ibunya agar mau membuangnya.
“Minumlah secangkir air sebelum kamu pergi... Atau haruskah aku membuatkan multi-grain shake?” kata Ibu Woo Jin mencari di dalam lemari es.
Woo Jin menatap seluruh ruangan seperti terasa sempit. Ibu Woo Jin kebingungan karena tak menemukan lalu memanggil suaminya. Woo Jin kaget karena ayahnya sudah lama meninggal, lalu memanggil ibunya. Ibu Woo Jin menatap anaknya pun terlihat binggung
“Kapan kau datang? Kenapa aku membuka kulkas? Apakah aku mencari sesuatu?” ucap Ibu Woo Jin. Woo Jin menatap ibunya dengan wajah sedih karena lupa.
Woo Jin berjalan dengan wajah sedih teringat kembali yang dikatakan dokter “Dia semakin memburuk. Dia terus keluar di malam hari juga. Bukankah seharusnya kau berpikir untuk mengirimnya ke panti jompo demi ibumu, bukankah begitu?”


Joo Hyuk berlari keluar dari stasiun mencari orang yang akan janjian, lalu seorang pria datang memastikan nomor telp Joo Hyuk lebih dulu. Joo Hyuk terlihat bersemangat. Si pria meminta maaf karean harus pergi ke kamar kecil. Joo Hyuk mengakubaru saja tiba juga.
“Kau bisa periksa kondisinya dulu.” Kata Si pria. Joo Hyuk pun meminta izin untuk bisa mengeluarkan ini. Si pria pun memperbolehkanya.
“Astaga, ini benar-benar mulus no minus... Kelihatannya baru.” Komentar Joo Hyuk melihat PS ditanganya.
“Ini memang baru. Aku tertangkap oleh istri ku pada hari aku membelinya. Dia bilang akan menyingkirkanku jika aku tidak segera menyingkirkannya.” Cerita si pria dengan wajah sedih, Joo Hyuk mengaku sangat mengerti.
“kau tahu sangat sulit untuk mendapatkan model ini. Aku bahkan menyewa pekerja paruh waktu untuk mengantre hanya untuk membeli orang ini. Tapi istriku menyuruhku memilih antara dia dan ini seperti permainan bertahan hidup. kau lihat, aku tidak bisa mempertaruhkan hidup ku.” Cerita Si pria sedih
“Aku mengerti... Jangan khawatir aku akan membelinya.” Kata Joo Hyuk memberikan uangnya dalam amplop. Si pria menghitungnya lalu mengucapkan terimakasih. 



Sang Sik mengosok kartu undian tapi kembali gagal. Joo Eun berlari-lari ditempat mengeluh Tingkah laku Sang Sik yang  memuakkan setiap kali melihatnya. Menurutnya semua yang dilakukan Sang Sik tidak berguna, jdai menurutnya itu adalah pemborosan uang.
“Donasi uang mu sebagai gantinya agar kau dan keluarga mu diberkati.” Komentar Joo Eun
“Tingkah lakumu tidak berbeda. Bekerja paruh waktu, belajar, atau keluar untuk berlari. Lakukan satu hal sekaligus. Bagaimana kau bisa belajar sambil melakukan itu?” ejek Sang Sik
“Itu bukan urusanmu... apakah aku belajar atau melakukan roll ke depan sambil berlari. Aku sedih karena tidak bisa bekerja banyak hari ini. Apakah kau akan bertanggung jawab jika berat badan ku bertambah lagi?” keluh  Joo Eun.
“Kau bilang Tanggung jawab? Bagaimana kau bisa mengatakan hal yang mengerikan tanpa berkedip mata mu?” keluh Sang Sik. Joo Eun pun meminta maaf.
“Aku merinding mendengar ucapan ku sendiri juga. Maaf.” Kata Joo Eun lalu melihat Woo Jin datang dengan wajah lesu. 

Joo Eun bertanya kenapa kakak iparnya datang disiang hari. Woo Jin mengaku ada pekerjaan disekitar sini dan memutuskan untuk mampir, lalu menyapa Sang Sik. Sang Sik mengaku baik dengan senyuman lebar. Joo Eun mengejek Sang Sik  melakukan hal yang terlalu baik, jadi itulah masalahnya.
“Dia datang ke sini untuk menghabiskan waktu setiap hari.” Komentar Joo Eun. Sang Sik pun memilih untuk pamit pergi
“Aku akan membiarkan kalian bicara. Sudah saatnya aku harus membuka toko ku.” Ucap Sang Sik melangkah pergi.
“Bukankah ini melelahkan? Untuk melakukan pekerjaan paruh waktu sambil mempersiapkan ujian?” kata Woo Jin
“Memang melelahkan, tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku tidak bisa meminta uang kepada orang tua ku ketika sudah berumur 30 tahun. Selain itu, orang tuaku pasti hampir tidak cukup untuk mempertahankan hidup.” Cerita Joo Eun. Woo Jin pun hanya bisa terdiam.
“Ngomong-ngomong, ini sangat sulit untuk melihat Joo Hyuk hari ini. Apakah dia sibuk?” tanya Joo Eun. Woo Jin mengangguk. Joo Eun lalu menawarkan untuk kopi.
“Ahh... Kau tidak suka kopi... Haruskah kita pergi minum?” kata Joo Eun
“Aku tidak akan punya waktu untuk itu hari ini. Ngomong-ngomong, bukankah kau bilang temanmu bekerja di rumah sakit untuk orang tua? Berapa biayanya dalam sebulan untuk tinggal di sana?” tanya Woo Jin
“Aku tidak yakin. Dari apa yang aku dengar, tapi aku pikir itu sekitar 1.200 dolar. Mengapa?” tanya Joo Eun
“Seseorang ingin tahu Tapi Apakah rumah sakit lain akan semahal itu?” ucap Woo Jin
“Sebagian besar harganya sama. Itu sebabnya anak-anak biasanya membagi biaya. kau perlu memiliki uang untuk menjadi baik kepada orang tua mu. Begitulah cara dunia gila ini berjalan.” Keluh Joo Eun. Woo Jin terdiam karena sebagai anak tunggal.
“ Ngomong-ngomong, Woo Jin-Eonni Apakah kau tidak dandan? kau terlihat terlalu kuyu. Bagaimana bisa kau menemukan pacar seperti itu? Mereka mengatakan setiap wanita yang sudah menikah memiliki pacar akhir-akhir ini.” Kata Joo Eun mengoda. Woo Jin hanya terdiam memegang wajahnya.
“Aku hanya bercanda, tapi kau tidak tertawa. Aku sudah selesai belajar untuk hari ini.” Kata Joo Eun membereskan bukunya. Woo Jin tetap terdiam. 


Joo Hyuk memeluk PS barunya, lalu melihat jendela rumahnya kalau lampu sudah menyala.  Akhirnya Ia mencari kantung plastik berkas di tempat sampah dan memasuka Psnya. Woo Jin sedang memandikan anaknya. Joo Hyuk berjalan menutupi PSnya dan bergegas masuk ke dress room.
Ia mencari tempat untuk menyembunyikan Psnya, lalu melihat tumpukan pampers. Joo Hyuk mengeluarkan semua pampers dan menaruh PS dibagian dalam agar tak terlihat. Woo Jin memanggil Joo Hyuk agar memegang anak kedua. Jo Hyuk pun bergegas pergi menghampiri istrinya. 

Joo Hyuk berbaring di tempat tidur melihat istrinya sudah tidur lalu berusaha turun, tapi Woo Jin membuka mematanya memanggil suaminya. Joo Hyuk menyahut berpura-pura kembali tidur. Woo Jin ingin bicara tapi terlihat ragu menyuruh suaminya untuk tidur saja
Beberapa saat kemudian, Joo Hyuk berusaha agar bangun, Woo Jin kembali ingin bicara, akhirnya Joo Hyuk menatap istrinya yang sedang tertidur. Woo Jin membahas Joo Hyuk bilang akan dipromosikan segera.
“Apakah kau yakin bahwa akan dipromosikan sebagai Manager Tim  segera?” kata Woo Jin. Joo Hyuk terlihat binggung.
“Jawab Ya atau tidak?” ucap Woo Jin. Joo Hyuk mengaku tidak bisa 100 persen yakin.
“Ngomong-ngomong, aku belum mengunjungi ibumu dalam waktu yang lama. Benarkan? Dia baik-baik saja, kan? Dia sering memasak kimchi hijau mustard. Tapi Kenapa dia tidak memasaknya belakangan ini?”kata Joo Hyuk
“Jika kau ingin memakannya, kau bisa memasaknya sendiri.” Keluh Woo Jin kesal membalikan badanya.
“Apakah aku minum terlalu banyak?” ucap Joo Hyuk kebingungan lalu bangun dari tidurnya. 


Joo Hyuk pergi kebalik gantungan baju, mulai memaikan gamesnya, wajahnya terlihat bahagia karena Grafisnya tidak bisa dipercaya. Ia memegang PSnya merasa kalau perlahan-lahan akan saling mengenal satu sama lain dan menghentikanya permainanya.
“Mari kita akhiri di sini... Bukan karena aku malu... Tapi Tidak ada salahnya berhati-hati. Mari kita bertemu seperti ini lain kali... mengerti?” ucap Joo Hyuk dengan wajah bahagia memainkan gamesnya. 

Joo Hyuk terbangun dengan deringan ponselnya. Hwan menelp kalau sekarang adalah keadaan darurat, karena Tim audit datang. Joo Hyuk kaget karena Mereka datang bulan lalu dan Kenapa mereka datang lagi?.
“Aku tidak tahu. Pokoknya, kau harus cepat kesini.” Ucap Hwan menutup telpnya.
“Apakah mereka menganggapnya menyenangkan? Kenapa mereka datang sepanjang waktu?” keluh Joo Hyuk kembali tertidur.
Ia lalu teringat saat bertemu dengan pelanggan yang menanyakan ID Cardnya tapi memprosesnya juga dan meminta datang besok. Ia langsung bergegas keluar dari kamar karena tidak melampirkan salinan ID Card.
Bersambung ke part 2

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09