Senin, 05 Desember 2016

Sinopsis Night Light Episode 3 Part 1

PS : All images credit and content copyright :MBC

Moo Jin Tower
Gun Woo melihat papan nama ayahnya, Park Moo Il terlihat sangat serius memikirkanya. Sementara di dalam ruangan, Se Jin dan Penulis Kim sedang melihat foto Gun Woo. Se Jin mengenali  “Park Gun Woo...Ketua Special Project Moojin Grup. Putra tunggal Park Moo Il”
“Demi membebaskan ayah-nya yang dikurung, dia bertarung seorang diri.” Ucap Se Jin yang mengetahui Tuan Park sedang ditahan oleh polisi. Foto Tuan Park Moo Il terlihat di layar.
“Park Moo Il, Ketua Moojin Grup. Konstruksi, kimia, penggilingan baja dan lain-lain. Perkembangan usahanya bermula dari industri berat. Saat ini menguasai bidang komunikasi, elektronik beserta sirkulasinya.” Ucap Se Jin dan Tuan park sedang berbicara dengan beberapa orang di dalam ruang kejaksaan.
“Presiden finansial grup wilayah domestik. Melalui pertimbangan khusus, ditahan dengan status tersangka penyimpangan dana dan korupsi. Dalam waktu dekat ini kemungkinan besar akan divonis bersalah.” Ucap Se Jin

Gambar Tuan Park Moo Sam terlihat, Se Jin hanya diam saja. Penulis Kim binggung tiba-tiba berhenti masih dan berfikir kalau hafalanya itu urang lancar. Se Jin melanjutkan, Itu adalah Direktur  Woojin Properti, Park Moo Sam. Adik paling bungsu Park Moo Il
“Untuk mendapatkan kekuasaan dalam mengendalikan grup ini, maka melakuan suap sana sini.Betul, 'kan? Daftar nama personalia sebanyak 270 orang yang kau berikan padaku. wajah, pengalaman beserta item tambahan semuanya sudah kuhafal dengan baik.” ucap Se Jin percaya diri.
“Kalau begitu, selanjutnya Myeongsang Grup.” Kata Penulis Kim
“Lalu Kapan aku akan mulai kerja?Sudah seminggu aku masuk kerja. Tapi aku cuma disuruh menghafal hal-halseperti ini.Sama sekali tidak ada kesempatan bicara dengan Yi Kyung, cuma sempat kasih salam sekilas saja. Kapan sih sebenarnya aku baru bisa resmi bekerja?” kata Se Jin heran
“Se Jin , ini pekerjaanmu. Jika selesai yang bagian finansial, coba kuasai bagian perubahan profil. Jika berhasil kau kuasai, selanjutnya adalah menghafal keluarga dan kerabat dari orang-orang yang kau hafalkan tadi.” Jelas penulis Kim
Se Jin merasa dirinya bisa gila seperti ini, penulis Kim mengatakan kalau ini 14 hari. Se Jin binggung maksudnya.  Penulis Kim kalau itu Rekor milik Yi Kyung, dengan menceritakan  Setahun yang lalu Yi Kyung juga belajar dengan cara yang sama seperti Se Jin. Se Jin tak percaya Yi Kyung bisa  Menghafal semuanya dalam waktu 2 minggu.
“Dan hafalnya hanya pada malam harisaja, lalu siangnya harus bekerja. Panutanmu begitu hebat. Kau juga harus semangat, mengerti?” kata penulis Kim
“Tapi, kenapa nama Direktur Seo tidak ada di dalam daftar tersebut. Yang aku benar-benar penasaran adalah dia” kata Se Jin
“Mau kuberitahu pun tidak bisa. Walaupun aku sudah ikut beliau selama 20 tahun, tapi sampai sekarang aku masih belum memahami dia” kata Penulisk Kim



Se Jin sedang melakukan latihan menembak,  dengan tatapan seperti burung elang yang ingin membunuh musuh. Sebelumnya Se Jin harus berlutut di depan Ma Ri untuk meminta maaf dan tak ingin dituntut. Lalu Yi Kyung datang menyuruhnya berlutut.
Flash Back
“Apa salahku? Berjuang mati-matian demi mempertahankan hidup. Lalu Punya hak apa orang seperti dia memandang rendah diriku? Apa Miskin itu dosa?” kata Se Jin tak terima. 
“Miskin adalah dosa. Tidak peduli semerdu apapun itu terdengar di kuping, hanyalah untuk menipu diri sendiri. Dunia tidak akan bisa dibohongi.” Tegas Yi Kyung dingin
“Apa Kau benar sanggup mengubahku menjadi baru? Menjadi seperti dirimu?” kata Se Jin, Yi Kyung tersenyum dan menyelesaikan latihan menembaknya. 

Sung Mook datang mendekat memberitahu  Dalam waktu dekat ini akan ada rapat Grup Presiden perusahaan dari Moojin Grup. Jika semuanya berjalan lancar, ada kemungkinan akan merugikan pihak Park Gun Woo yang bersikeras ingin menarik proyek Dubai tersebut. Yi Kyung pikir itu sudah  Sesuai dengan keinginannya.
“Ketua Park yang sedang berada dalam tahanan jika benar dijatuhi hukuman, kepemilikan grup tersebut pada akhirnya akan jatuh ke tangan Park Moo Sam.” Kata Yi Kyung
“Direktur Park adalah orang yang sewaktu-waktu bisa memberontak.” Pikir Sung Mook mengikutinya.
“Justru orang yang seperti itu yang gampang dimanipulasi. Karena itulah dia kutarik ke pihakku.” Jelas Yi Kyung
“Kalau begitu Anda akan berdiam diri menyaksikan Park Gun Woo-ssi didepak begitu saja?” tanya Sung Mook
“Aku sangat memahami orang itu. Dia adalah orang yang berprinsip tidak sudi diajak kompromi dan tidak memiliki pendukung. Menggunakan kesempatan ini untuk mendepaknya mungkin akan lebih baik. Bagi dirinya sendiri dan Juga bagi karirku.” Kata Yi Kyung menghalalkan segala cara. 

Hee Jung memberikan beberapa berkas di atas meja, Gun Woo melihat adik ayahnya itu benar-benar bekerja keras dan bertanya-tanya Sejak kapan dia berhasil mengumpulkan begitu banyak orang. Hee Jung memberitahu  Kemarin Dewan Direksi dari kantor pusat pergi bertemu muka dengan ketua Park
“Aku sudah dengar kabarnya. Para direktur sepakat dulu semua untuk menggiring opini dan memperkeruh suasana, kemudian mengayunkan golok dan menebas menggunakanjumlah suara yang diberikan oleh.Grup Presiden perusahaan, Begitu,'kan?” ucap Gun Woo sudah tahu cara kerja di perusahaan ayahnya.
Gun Woo tahu pasti pamanya mengatakan “Hyung Nim, para Direktur sudah bersikap seperti itu, Gun Woo tidak bisa dibiarkan bertindak seenaknya lagi.” Hee Jung merasa Sekarang bukan saatnya untuk bercanda karena Gun Woo mengikuti cara bicara pamanya.
“Tidak masalah jika aku dianggap tidak kompeten. Tapi... aku tidak sudi dibilang anak yang durhaka.” Kata Gun Woo menatap ke arah jendela ruanganya.
Ponsel Gun Woo berdering dari Baeksong Grup, Nam Jong Gyoo. Gun Woo pun menyapa sekertaris yang  sudah ama tidak berjumpa, bahkan sungguh tersanjung menelpnya lebih dulu. Tuan Nam meminta agar bisa dan sebentar ke Seongbuk-dong karena  Tetua ingin mengajaknya minum teh bersama.
“Walaupun aku tahu kau sibuk sekali. tapi seharusnya ini bermanfaat bagimu, Ketua Tim Park” kata Tuan Nam, Gun Woo langsung setuju.
Tuan Nam memberitahu Ketua Jang kalau Gun Woo akan datang sore nanti. Sebuah foto pria pada saat jaman perang terlihat diatas meja. Tuan Jang Tae Joon terlihat sibuk menuliskan sesuatu dengan tintanya. 


Yi Kyung memegang foto [1988, Olympiade Seoul] dengan tiga orang yang ada didalam fotonya, teringat kembali saat datang menemui ayahnya di jepang.
Flash Back
Tuan Seo bertanya keberadaan “mereka” Yi Kyung mengatakan kalau Sampai sekarang belum ada kesempatan bertemu. Tuan Seo menyuruh anaknya agar menyerah karena pasti tidak akan sanggup bertarun melawan mereka.

Tak dan Se Jin masuk ke dalam ruangan. Yi Kyung buru-buru menyimpan fotonya. Tak menanyakan perintah yang akan diberikan Yi Kyung. Sementara Se Jin melihat Yi Kyung mengajak bercanda kalau hampir lupa seperti apa wajahny. Yi Kyung seperti tak memperdulikanya.
“Persiapan bagaimana?” tanya Yi Kyung
“Rencananya akan berangkat sekarang.” Ucap Tak
“Kau  Bawa serta Se Jin juga !” perintah Yi Kyung, Tak kaget karena Se Jin masih belum mengerti apa-apa. Se Jin pun bertanya ingin mengenai urusan apa. 
“Kalau sudah tahu urusan itu, apa kau akan menolak untuk ikut? Bukankah kau minta supaya diberikan pekerjaan yang masuk akal?” kata Yi Kyung, Se Jin mengangguk mengerti dengan wajah sumringah mengucapkan terimakasih.
“Aku akan melakukannya dengan baik dan tidak akan mengecewakan harapanmu.” Kata Se Jin penuh semangat.
“Kau bilang  Harapan?” ucap Yi Kyung sinis lalu mengajak Sung Mook agar mereka juga mulai bergerak. Se Jin terlihat kebingungan.

Taek terlihat menahan rasa kesalnya sebelum masuk ke dalam mobil, lalu memberitahu Se Jin kalau hanya ada tiga prinsip, yang Pertama, patuh pada perintah Presdir Kedua, tidak melakukan hal diluar perintah. Dan yang terakhir..
“Tidak peduli yang pertama atau yang kedua, tidak boleh bertanya alasannya. Sek Kim  sudah memberitahu.” Ucap Se Jin
“Kalau sudah tahu, patuhi perintah yang diberikan! Jangan bertanya terus!” tegas Tak. Se Jin kesal karena Tak mengunakan bahasa banmal padanya menurutnya usia mereka tak terlalu jauh. 

Dengan truk tertutup, Tak pergi ke wilayah pertokoan. Se Jin melihat  Suasananya sangat menyenangkan dan bertanya untuk apa mereka datang ke tempat ini. Tak menyuruh Se Jin menungu dimobil. Se Jin mengerti karena tak akan bertanya lagi. Tak pergi bagian belakang mobil, menekan nomor pin lalu masuk ke dalam toko dengan membawa sebuah tas besar.
Se Jin melihat semua yang dilakukan Tak, saat keluar Tak dengan seseorang ia pura-pura memejamkan matanya dan sedikit mengintip. Akhirnya Tak pun kembali ke dalam mobil, dan menaruh amplop dibawah dashboard dan tak lupa menguncinya. Se Jin menyuruh agar Abaikan saja  dirinya karena tidak akan bertanya barang apa itu. Mereka pun kembali berhenti disebuah tempat kali ini Se Jin ikut turun dan berada dibelakang truk bersama dengan Tak.

“Wah... Seharian cuma duduk di dalam mobil rasanya sungguh tidak nyaman. Dari Cheongdam-dong, terus ke Insa-dong... Sama sekali tidak ada perubahan.  Selanjutnya kemana? Apakah ke Pulau Jeju?” ucap Se Jin mengodanya.
Tak hanya diam lalu membuka pintu truk mengambil satu tak dan kembali masuk ke sebuah toko. Se Jin yang penasaran menekan pin yang sempat dilihatnya, ketika membuka isi truk adalah banyak tas hitam dalam tumpukan yang besar. Ketika membukanya isinya penuh dengan lembaran uang 50ribu won.


Tak datang melihat Se Jin yang membuka pintu langsung panik dan buru-buru menutup pintu truk, lalu mengumpat Se Jin itu adalah orang yang cuma memperhatikan kepala tapi mengabaikan ekor.
“Siapa yang menyuruhmu sembarangan membuka pintu ? Jika terlihat orang lain bagaimana?” ucap Tak kesal, Se Jin ingin tahu berapa jumlah uangnya.
“Entah! Kau tanya saja sendiri!” kata Tak juga hanya melakukan perintah tanpa banyak bertanya.
“Membagi uang seperti orang membagi-bagikan susu saja. Presdir... Bisnis apa sebenarnya dia?” ucap Se Jin penasaran. 

Yi Kyung sudah bertemu dengan Ketua Son diruanganya. Ketua Son sedang duduk sambil menerima telp, lalu berbicara pada Yi Kyung  kalau berkerja dari pintu ke pintu merebut semua pelanggannya dan bertanya apakah melakukan suap dengan menggunakan uang tunai.
“Tolong jangan salah paham, ini Bukan merebut pelanggan, tapi membantumu merapikan hutangmu yang bersifat ganas.” Kata Sung Mook membela. Ketua Son mengumpat Sung Mook yang terlalu banyak bicara.
“Saat kau bergabung dengan Asosiasi, aku sudah melihat ambisimu. Dengan cara perlahan-lahan sedikit demi sedikit semuanya dirampas. Jadi Seperti begitu?” kata Ketua Son sinis
“Dulu ayah ku pernah berkata, Ketua Son Ee Seong adalah Orang yang dulu dijuluki Macan Osaka... Jadilah kawannya jangan lawannya. Walaupun dulu pernah ada salah paham,tapi Ketua, Anda dan saya akan bisa jadi mitra yang sangat baik. Jabatan Direktur keuangan Asosiasi... Kursi kosong milik Son Gi Tae, biar aku yang ambil alih.” Kata Yi Kyung memberikan tawaran, Ketua Son tertawa mendengarnya.
“Seharusnya kau bertindak setelah mengobservasi situasi yang sebenarnya. Tahukah kau Direktur bagian keuangan Asosiasi adalah jabatan yang bertindak sebagai apa?” ucap Ketua Son meremehkan.
“Tentu saja tahu. Memproses transaksi rahasia Ketua termasuk juga petinggi-petinggi Asosiasi. Bekerja jadi suruhan bagi seseorang yang begitu penting dan memiliki kuasa. Orang tersebut sudah pasti membutuhkan orang suruhan sepertiku juga.” Jelas Yi Kyung


Jang Tae Joon diruangan masih mencoba menuliskan dengan tulisan tinta, tapi melakukan kesalahan dan membuang lembaran kertas. Tuan Nam Jong Gyu, memberitahu kalau tamunya sudah tiba. Gun Woo datang ke rumah Tuan Jang dengan melakukan proses pengecekan lebih dulu seperti masuk ke sebuah rumah presiden.
“Tinta yang digerus sangat halus, akan membuat tulisan terlihat indah. Hari ini sungguh bukan hari yang cocok untuk menulis. Tolong disimpan.” Ucap Ketua Jang seperti menyambut Gun Woo yang datang menemuinya lalu sengaja mempelihatkan foto saat perang diatas meja. 
“Lama tidak berjumpa.” Kata Ketua Jang, Gun Woo pun meminta maaf karena lama tidak datang mengunjunginya.

“Bagaimana Moo Il bagaimana? Apakah Baik-baik saja?” kata Ketua Jang, Gun Woo menjawab Kondisi kesehatannya baik-baik saja.
“Dengan kondisi fisik seperti itu mendekam di penjara bukanlah masalah baginya. Dulu pada saat perang Vietnam, ayahmu menerobos hutan rimba dengan gagah. Waktu itu yang ada hanyalah darah yang mendidih dan dipenuhi dengan keberanian.”cerita Ketua Jang
“Gun Woo... Moojin Grup... Jangan sampai kau lepaskan. Ayahmu sedang menghadapi masalah hukum sehingga tidak bisa melarikan diri. Dan Juga tidak mungkin mendapat grasi dengan alasan sakit.” Kata Ketua Jang, Saat itu Ketua Park sedang ada di ruang rawat penjara. 

“Satu-satunya cara yang paling ampuh adalah... Kau harus menjadi Tuan dari Moojin Grup. Pamanmu tidak memiliki nyali untuk itu. Moo Sam berniat menggerakkan orang-orang dan mendepakmu dari sana, 'kan? Jadi Izinkan aku untuk membantumu. Dan Karena itu, kau juga harus membantuku.” Kata Ketua Jang, Gun Woo hanya diam saja

Gun Woo keluar dari ruangan, Tuan Nam sudah menunggunya memberitahu kaalu ketua Nam  memiliki harapan yang tinggi atas Gun Woo, karena  Beliau menginginkan Republik Korea yang baru dan dipimpin oleh kaum muda.
“Beliau ingin terus bisa bermain selancar es. Seperti itu yang kudengar. Jika ingin menambah kecepatan berselancar dan menerjang angin, maka anjing penarik selancar es tua harus diganti. Jika ingin melecutkan cambuk, sepertinya jauh lebih cocok anjing muda sepertiku.” Kata Gun Woo sudah mengetahuinya.
“Perbudakan yang berlebihan akan menyebabkan penurunan penglihatan. Kau jangan membuat Ketua kehilangan haluan. Bantulah beliau menemukan arah mata angin yang benar.” Pesan Gun Woo
“Ini hadiah pemberian beliau. Ini akan jadi senjata ampuh yang akan menyelesaikan situasi yang kau hadapi sekarang, Park Gun Woo” ucap Tuan Nam memberikan sebuah amplop.
“Ayahku telah menarik kereta salju Ketua Nam seumur hidupnya. Aku tidak berniat untuk mewarisinya. Kalian silakan cari anjing penarik kereta salju yang lain.” Tegas Gun Woo lalu pergi meninggalkanya. 

Ketua Jang melihat Tuan Nam masih memegang amplop besar saat masuk keruangan, menurutnya Ternyata sesuai dengan dugaan, karena pulang dengan tangan kosong. Sekertarisnya membenarkan.  Ketua Nam merasa Gun WooDia itu sama keras kepalanya seperti ayahnya.
“Jika dia berhasil kujadikan anak buahku, sudah pasti bisa kumanfaatkan untuk jangka waktu yang panjang.” Kata Ketua Jang
“Ini kita selesaikan sesuai dengan rencana awal kita.” Ucap Tuan Nam 

Yi Kyung baru keluar dari ruangan, Gi Tae dan Direktur lainya baru saja akan masuk ke ruangan dan mereka berpapasan. Gi Tae terlihat sangat marah melihat Yi Kyung yang berani datang bahkan masih punya muka dan  nyalinya. sungguh besar sekali.
“Jujur saja, bukankah dunia keuangan berada di bawah pengaturanmu?” ucap Ketua lainya.
“Cepat juga kalian datangnya. Aku sudah melaporkan masalah ini pada Ketua” kata Yi Kyung, Keduanya terlihat panik masalah apa maksudnya.
Yi Kyung memilih untuk pamit pergi, Gi Tae yang penasaran berteriak memanggil Yi Kyung, tapi Yi Kyung pergi begitu saja. 

“Jang Tae Joon... Park Moo Il... Sekarang hanya tinggal beberapa langkah lagi.Tidak usah mengkhawatirkan diriku. Ke depannya masih banyak hal lagi  yang harus dikhawatirkan. Aku sudah siap.” Kata Yi Kyung penuh rasa dendam didalam lift. Sung Mook mengatakan kalau sudah siap.

Se Jin duduk diam mobil sendiri, tiba-tiba seorang datang mengetuk jendela. Pria dengan wajah beberapa anak buahnya menelp bisa melihat ada  surat-surat berharga lainnya dan hanya ada seorang wanita. Gi Tae yang ada diruangan memerintahkan agar membereskanya.
“Seo Yi Kyeong yang tidak tahu diri... Dia harus diberi sedikit pelajaran” ucap Gi Tae penuh dendam, anak buahya pun mengerti.
Saat itu juga si preman mengetuk jendela menyuruh Se Jin agar keluar dari mobil. Se Jin yang ketakutan memilih untuk mengunci pintu, tapi pria lainya mencoba masuk melalui pintu kemudi. Se Jin dengan cepat bisa menguncinya dengan wajah ketakutan menelp Yi Kyung. Yi Kyung baru saja kembali bertanya ada apa Se Jin menelpnya.
“Aku juga tidak tahu apa yang terjadi.” Ucap Se Jin ketakutan, Yi Kyung menanyakan keberadan Tak sekarang. Se Jin kebinggungan apa yang harus dilaukanya.
Para preman akhirnya memecahkan kaca jendela mobil berusaha menarik Se Jin, Ponsel Se Jin pun terjatuh. Yi Kyung tak bisa berbicara pada Se Jin menyuruh Sung Mook agar menelp Tak dan merasa kalau Son Gi Tae sedang melawan mereka. Se Jin menginjak gas pada mobilnya dan mobil pun bergerak, para preman terlihat ketakutan. 

Tak akhirnya keluar dan tak melihat ada truk yang dibawanya jadi akan mencoba mencarinya. Se Jin dengan wajah ketakutan membawa mobil ke jalan besar dan sempat berhenti di tengah jalan, tiba-tiba mobil preman datang berada disampingnya menyuruh agar berhenti saja karena mobilnya sudah tak bisa menyala lagi.
Se Jin berusaha untuk terus menyalakanya dan kembali mengemudikan truknya, mobil lain datang seperti sengaja membuatnya terdesak dengan berada ditengah-tengah. Se Jin kebingungan lalu melihat gedung polisi didepanya dan langsung menerobos masuk.
Para Preman melihat mobil Se Jin tak bisa berbuat apa-apa, Se Jin tersenyum bahagia karena bisa menjauh dari preman. Seorang polisi langsung menghampiri Se Jin dengan wajah curiga membawa mobil box tanpa ada tulisan. Se Jin berusaha menghalangi dengan mengaku ingin pergi ke kamar mandi jadi langsung masuk begitu saja. 

Se Jin sudah tertunduk diam di ruangan, wajahnya terlihat ketakutan., Yi Kyung keluar dengan sebuah amplop tebal menyuruhnya duduk. Se Jin meminta maaf karena penasaran jadi sempat melihatnya, dan juga diminta agar  menunggu di mobil  tapi tidak melakukannya sesuai dengan perintahnya. Yi Kyung menyuruh Se Jin duduk dengan memperingatkan untuk tak mengulang kedua kalinya. Se Jin pun akhirnya duduk.
“Berhubung kau sudah tahu salah, aku akan bicara secara singkat. Jadi Uang ganti rugi. Sebenarnya aku ingin memberikan pada saat mempekerjakanmu. Sekarang berubah jadi uang pensiun.”kata Yi Kyung
“Tapi di dalam truk begitu banyak uang tunai. Mana boleh sampai jatuh ke tangan orang lain?” ucap Se Jin membela diri karena sudah berusaha menghalangi preman ingin mengambil uangnya.
“Aku tidak pernah memintamu untuk melindunginya dengan taruhan nyawamu.” Kata Yi Kyung dingin, Se Jin tak percaya Yi Kyung bisa bicara seperti itu.
“Jika kau bekerja di bawahku, kejadian yang terjadi pada hari ini kemungkinan akan ada kejadian yang lebih berbahaya lagi yang akan terjadi. Kali ini kau cukup beruntung. Tapi Lain kali akankah kau seberuntung ini?” ucap Yi Kyung
“Bukan begitu, aku sudah berusaha sekuat tenaga.” Kata Se Jin
“Kau bilang Sekuat tenaga? Siapa yang menyuruhmu begitu sok pintar? Perusahaan itu bagaikan sebuah mesin raksasa. Poros yang berada di dalam harus berputar sesuai dengan perintahku dan Onderdil yang tidak tahu diri tidak perlu digunakan.” Tegas Yi Kyung beranjak dari tempat duduknya.
“Aku hanya berpikir, jika itu adalah Presdir apa yang akan dilakukannya? Walaupun aku tidak tahu uang ini akan dipergunakan pada bisnis yang seperti apa, Tapi bukankah uang yang ada di dalam truk itu penting sekali? Sekalipun sangat berbahaya, Presdir juga tidak akan membiarkan barang miliknya dirampas orang lain. Karena itulah aku menggertakkan gigiku dan bertahan Supaya tidak dirampas orang.” Ucap Se Jin 


“Demi uang yang tidak seberapa ini mempertaruhkan nyawa... Ini yang diajarkan oleh kakekmu padaku?” kata Tuan Seo, Yi Kyung pun dengan berani mengancam dengan pistolnya saat berusaha kembali mengambil uang ayahnya.
Flash Back
“Jangan harap! Ini... jauh lebih berharga dari nyawaku. Tuhan yang bisa dilihat secara kasat mata adalah uang.” Ucap Yi Kyung
Tuan Seo memberitahu kalau “Koin ini... Adalah tuhanmu dan juga nyawamu. Yang kau hilangkan di jalan bukanlah uang ini, melainkan kesadaranmu. Sebuah koin yang nilainya kecil juga merupakan wujud tuhan.” 

Yi Kyung masih menatap Se Jin yang menahan rasa sedihnya, lalu mengambil uang koin yang disimpanya dan memperlihatkan pada Se Jin diatas meja ia berkata  Tidak peduli seberapa besar nilai uang, maka ada saatnya tidak bisa disandingkan dengan sehelai kertas.
“Ada kemungkinan untuk mempertaruhkan nyawa demi sebuah koin. Nilai dari uang... ditentukan oleh diri sendiri. Ini... Tidak akan pernah dirampas, uang 1 Won yang jauh lebih berharga dibandingkan dengan nyawaku.” Ucap Yi Kyung memperlihatkan uang 1 won yang disimpanya.
“Ini adalah uang kontrak.” Kata Yi Kyung, Se Jin tersenyum bahagia mendengarnya karena tak jadi dipecat.
“Tapi, aku menyisakan sebuah PR untukmu. Jangan menggunakan uang ini untuk membayar uang sewa rumah. Tidak boleh dideposito-kan, juga tidak boleh digunakan untuk membeli saham. Gunakan pada hal yang menurutmu paling tidak berarti. Bahkan Satu sen pun tidak boleh kau simpan. Hamburkan semuanya.” Perintah Yi Kyung, Se Jin melonggo kaget mendengarnya.
“Kau ingin tahu uang itu apa? Jadi Ini adalah PR mu.” Kata Yi Kyung. 

Se Jin sudah ada dirumah dengan melihat kembali uangnya dengan menatap ke kamar bibinya, tapi akhirnya mengelengkan kepala karena teringat dengan pesan Yi Kyung agar Jangan menggunakan uang ini  untuk membayar uang sewa rumah.
Ia melihat kembali foto-foto yang harus diingat dan melihat foto Gun Woo, lalu membaca kembali file profile dalam berkasnya. 

Berkas yang diberikan dari Ketua Jang sudah ada diatas meja, Gun Woo menyuruh dua petingginya agar segera pulang. Salah satu Direktur merasa kalau ini kesempatan yang diberikan Tuhan kepada mereka karena  kalau tidak untuk apa mereka datang larut malam mencarinya.
“Itulah... Bukankah tahun ini putramu akan menikah? Orang yang harus mempersiapkan pernikahan putranya, kenapa bisa datang ke sini di jam-jam seperti ini?” sindir Gun Woo, Direktur hanya diam saja.
“Sudah kubilang, kita bisa mengandalkan ini dan menangkap Park Moo Sam” kata Direktur Lain menyakikan.
“Apakah Ini informasi yang diberikan oleh Nam Joong Gyo Baeksong Grup? Demi Ayah orang-orang yang berusaha menarikku ke dalam api... Ini tidak ada bedanya menyuruhkumembunuh diri dengan minum racun.” Tegas Gun Woo, Direktur meminta agar Gun Woo bisa lihat dulu isinya, 
“Tidak perlu. Baik itu rasa sayang atau benci, dia itu tetap adik dari ayahku. Perbuatan terhadap keluarga yang seperti ini tidak sanggup kulakukan.” Ucap Gun Woo
Saat itu Moo Sam melihat ada beberapa direktur yang keluar tatapan langsung sinis berpikiran buruk terhadap Gun Woo. 

Se Jin berdiri di penyebrangan jalan, melihat kembali isi dari amplopnya dengan lembaran uang yang banyak. Ia mengingat kembali pesan dari Yi Kyung “Tidak boleh dideposito-kan, juga tidak boleh digunakan untuk membeli saham. Gunakan pada hal yang menurutmu paling tidak berarti. Satu sen pun tidak boleh kau simpan. Hamburkan semuanya.”
Wajah Se Jin binggung, apa maksudnya itu. Seorang kakek menyeberang jalan dengan menarik gerobak sampah kardus. Se Jin yang memiliki rasa simpati membantunya dengan mendorong gerobak, lalu tersenyum seperti sudah menemukan jawaban dari PR yang diberikan Yi  Kyung. 

Se Jin mengembalikan uang yang diberikan Yi Kyung merasa sudah paham apa maksudnya karena Yi Kyung sedang mengujinya bahwa  Seberapa pentingnya uang itu bahkan Satu sen pun tidak boleh digunakan dengan sembarangan.
“Anda sengaja memberiku PR ini karena kau ingin membuatku memahami semua ini,' kan? Dan juga memperlihatkan uang 1 Won itu. Dalam perjalanan ke sini aku melihat seorang kakek yang mengumpulkan sampah kertas. Bekerja keras seharian pun tidak akan sanggup mengumpulkan uang sebanyak 10 ribu Won. Tapi bagiku, memiliki uang satu sen ini... Apa nilai dari uang yang sebenarnya?” ucap Se Jin, Yi Kyung sinis merasa Se Jin sedang omong kosong. 
“Aku memberimu PR matematika tapi kau kerjakan itu sebagai PR bahasa. Apa Kau ini sedang ngarang novel?” ejek Yi Kyung, Se Jin melonggo binggung karena ternyata dugaanya salah.
“Aku tidak begitu bisa memahami kau menyuruhkumenghamburkan uang sesuka hati.” Kata Se Jin bingung, Yi Kyung menyuruh Se Jin agar membawa uang dan mengikutinya.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar