PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 14 Agustus 2019

Sinopsis I Wanna Hear Your Song Episode 8

PS : All images credit and content copyright : KBS
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Yi Young masih terlihat gugup membuatnya tak nyaman untuk makan, Joo Wan heran Yi Young tidak bisa makan dan berpikir kalau tidak suka makanannya. Yi Young mengaku Bukan begitu dan menurutnya kalau sangat lezat. Jang Yoon datang mengisi minuman digelas yang kosong.
“Sudah lama aku tidak makan hidangan lezat begini.” Ucap Yi Young merasa tak enak pada Jang Yoon.
“Kita harus sering makan malam berdua.” Ucap Joo Wan. Yi Young terlihat gugup dan Jang Yoon pun pergi.
“Dia pasti mengomelimu tadi.” Komentar Joo Wan. Yi Young langsung tersedak mendengarnya.
“Selama latihan. Aku mendengar semuanya saat Nona Yoon memarahimu. Jangan biarkan hal itu mengganggumu. Dia kesal kepadaku, tapi Dia sengaja melakukan itu. Dia tidak marah kepadamu.” Ucap Joo Wan menenangkanya. Yi Young menganguk mengerti.
“Omong-omong, benarkah kalian saling menidurkan?” kata Joo Wan. Yi Young makin kaget mendengarnya. Jang Yoon terlihat menatap kearah keduanya.
“Tidak, bukan begitu... Pekerjaan paruh waktu sederhana seperti menelepon pagi hari. Dia membantuku tidur malam dengan meneleponku. Aku menderita insomnia, jadi, entah bagaimana, akhirnya dia membantuku.” Akui Yi Young
“Kau bilang "Insomnia"? Tadi kau bilang tidurmu nyenyak. Kau sudah lama menderita insomnia, kan? Apa Kau masih insomnia?” ucap Joo Wan. Yi Young mengaku memang seperti itu.
“Aku harus belajar cara membantumu tidur mulai sekarang.” Ucap Joo Wan. Yi Young kembali terkejut mendengarnya.
“Kenapa kau sangat terkejut? Pastikan kamu menghabiskan semuanya.” Ucap Joo Wan. Yi Young pun menganguk mengerti lalu melihat Jang Yoon sedang duduk di meja bar. 



Eun Joo menerim pesan dari forum yang dikirimkan Yoo Da, terlihat foto Yi Young dan Joo Wan makan malam berdua direstoran. "'Berita Panas Hari Ini, Pasangan Resmi Makan Bersama, Pasangan resmi Shinyoung Philharmonic menikmati hidangan lengkap.”
Eun Joo dengan wajah kesal mencoba menelp Joo Wan tapi ponselnya tak aktif, akhirnya ia melihat foto Joo Wan dan melihat wajah Jang Yoon sedang menatap cemburu pada keduanya. 

Jang Yoon baru saja akan menutup pintu restoran, Eun Joo pun menyapa Jang Yoon ternyata berkerja di restoran. Jang Yoon mengeluh karena kedatangan banyak tamu hari ini dan pasti Eun Joo juga melihatnya. Eun Joo bertanya kenapa tangan Jang Yoon terluka.
“Ini Karena tidak sengaja.” Ucap Jang Yoon sambil membereskan kursi diluar.
“Ini Menarik. Kau tidak bertanya kenapa aku menunggu di luar sini. Apa Kau tidak penasaran?”ucap Eun Joo
“Apa aku harus penasaran?” komentar Jang Yoon. Eun Joo pikir tak perlu juga dan akan berjalan pulang.
“Kita pernah bertemu, kan? Sebelum kita bertemu sebagai rekan kerja.” Ucap Eun Joo memancing
“Entahlah. Aku tidak mengingatmu.” Ucap Jang Yoon. Eun Joo merasa pernah melihatnya.
“Entah kenapa kau terlihat familier.” Kata Eun Joo, Jang Yoon pikir itu bukan urusanya.
“Aku yakin pernah melihatmu di suatu tempat. Tapi Di mana aku pernah melihatmu?” ucap Eun Joo ingin mengoda dengan mengelus pipi Jang Yoon.
“Aku tidak menginginkan perhatianmu. Aku benci saat orang tertarik kepadaku.” ucap Jang Yoon menahan tangan Eun Joo lalu berjalan pergi. Eun Joo pun masih bertanya-tanya Di mana pernah melihat Jang Yoon


Yi Young berjalan ke minimarket kesal sendiri melihat forum berita tentang dirinya. Ia lalu melonggo ke arah minimarket, tak ada Jang Yoon seperti biasa, akhirnya ia duduk sendiri sambil minum bir.  Tiba-tiba Jang Yoon melonggokan wajahnya.
“Apa Kau menungguku? Seharusnya kau meneleponku jika sangat merindukanku.” Goda Jang Yoon. Yi Young kaget melihatnya.
“Aku tidak merindukanmu. Tapi Kapan kau tiba di sini? Aku tidak melihatmu masuk.” Ucap Yi Young. Jang Yoon mengaku baru saja.
“Kau memang menungguku.” Ejek Jang Yoon. Yi Young menyangkalnya. Jang Yoon pikir Yi Young belum boleh minum karena kakinya masih sakit.
“Ini bukan alkohol. Dan Ini bukan cedera parah. Lagi pula, sudah tidak sakit lagi.” Ucap Yi Young. Jang Yoon menganguk mengerti.
“Syukurlah... Aku khawatir.” Ucap Jang Yoon, Yi Young binggung memastikan apakah ini tentang dirinya.
“Tentu saja... Aku tertarik padamu.” Akui Jang Yoon, Yi Young makin gugup bertanya apakah Jang Yoon sudah lihat forum internet itu. Jang Yoon mengaku sudah.
“Aku tidak memperdulikan orang lain, tapi aku mengatakan ini karena tidak ingin kau salah paham. Acara Makan yang kusantap dengan konduktor tadi. Itu sungguh hanya pesta penyambutan. Selama latihan tadi, Nona Yoon memarahiku, Karena itu dia mentraktirku makan.” Cerita Yi Young. Jang Yoon menganguk mengerti
“Mengenai foto yang Yu Da unggah di forum tempo hari, aku hanya membantunya memilih hadiah.” Cerita Yi Young
“Astaga, siapa itu Yoo Da?” keluh Jang Yoon sambil makan ramyun.
“Entah bagaimana dia memotret foto seperti itu atau kenapa dia menyebarkan rumor jahat seperti itu. Tidak seperti yang diyakini orang-orang, Mastro Nam dan aku bukan pasangan. Aku tidak mau kamu salah paham.” Jelas Yi Young.
“Aku bertanya untuk berjaga-jaga. Apa kau pikir aku menyukaimu?” ucap Jang Yoon. Yi Young melonggo kaget mendengarnya.
“Tertarik pada seseorang dan menyukai seseorang agak berbeda.” Tegas Jang Yoon
“Apa yang kau... Kenapa kau tertarik padaku jika tidak menyukaiku?” ucap Yi Young seperti sedang dipermainkan.
“Setelah aku terus tertarik kepadamu, mungkin aku bisa menyukaimu.” Jelas Jang Yoon.
Yi Young marah berpikir Jang Yoon sedang bicara omong kosong dan mempermainkannya, lalu memberikan uang untuk bayaran yang kurang. Ia menegaskan tidak ingin mendengar Jang Yoon bernyanyi lagi Jadi, jangan meneleponnya lagi.



Yi Young berbaring ditempat tidurnya, dengan menutup semua wajahnya mengunakan selimut. Ia terlihat masih kesal mengingat yang dikatakan Jang Yoon “Apa kau pikir aku menyukaimu? Tertarik pada seseorang dan menyukai seseorang agak berbeda.”
“Kenapa dia membuatku bingung?” keluh Yi Young lalu melihat Jang Yoon yang menelpnya dan langsun merejectnya. Tapi bel rumahnya terus berbunyi.
“Ini Sulit dipercaya. Kenapa dia sangat tidak sopan?” keluh Yi Young kesal sambil menutup telinganya. 

Akhirnya Yi Young membuka pintu rumahnya, Jang Yoon berkomentar Yi Young yang belum tidur. Yi Young pikir sekarang sudah larut malam dan apa yang ingin dilakukan Jang Yoon sekarang padahal sudah melarangnya menelepon.
“Karena itu aku datang. Jadi Boleh aku masuk dan menyanyi?”ucap Jang Yoon mengoda. Yi Young terlihat kaget.
“Apa Kau tidak ingat? Kamu membutuhkan persetujuanku untuk mengakhiri kontrak. Aku ingin terus melakukan pekerjaan ini.” Ucap Jang Yoon. Yi Young tak percaya dengan yang dilakukan Jang Yoon.
“Keluarlah jika kau tidak tidur. Aku ingin berbincang denganmu.”kata Jang Yoon. Yi Young binggun apa yang ingin dibicarakan denganya.
“Tentang apa?” tanya Yi Young kesal. Jang Yoon menjawab Apa saja Selama itu tentang Yi Young. 

Akhirnya Yi Young berganti pakaian mengikuti Jang Yoon ke sebuah tempat, Jang Yoon pun dengan bangga memperlihatkan tempatnya. Yi Young mengeluh kalau Jang Yoon bilang akan membawa ke tempat yang menakjubkan.
“Aku sudah berharap banyak. Tapi Tempat apa ini?” keluh Yi Young. Jang Yoon pikir tak ada salahnya tempat tinggal mereka.
“Selama itu indah, tidak masalah.” Kata Jang Yoon. Yi Young menatap pemandangan malam hari dari atas.
“Yah... Memang indah... Harus kuakui itu... Lalu Kau bilang ingin tahu tentangku. Aku yatim piatu jadi Aku sebatang kara. Kami dalam perjalanan pulang dari arboretum.” Cerita Yi Young
Flash Back
Terlihat sebuah mobil terguling dijalan, petugas ambulance mengeluarkan ayah dan ibu Yi Young yang tak sadarkan diri. Petugas lain melihat Yi Young masih kecil duduk dibangku belakang lalu memberitahu kalau anak kecil. Yi Young setengah sadar memanggil ibunya. 

“Ayahku bekerja lembur selama beberapa hari dan tertidur saat mengemudi. Ini yang dikatakan pamanku kepadaku. Sejujurnya, aku sama sekali tidak ingat hal itu. Tapi menurut sepupuku, aku mengalami shock berat. Aku trauma.” Cerita Yi Young
“Selama sekitar satu tahun, aku menderita afasia. Aku tidak bisa bicara atau tidur dengan tenang di malam hari. Sampai seperti sekarang. Llau Seperti apa kau saat masih kecil?  Aku sudah cerita soal diriku, jadi, kau harus melakukan hal yang sama.” Kata Yi Young.
Jang Yoon bingung menanyakan tentang dirinya, lalu mengaku dirinya itu  pintar, menjadi ketua kelas selama sembilan tahun dan pandai bermain piano, bahkan kapten tim sepak bola sekolah. Ia dengan bangga kalau dirinya sangat tampan saat masih sekolah.
“Kau mungkin menyadarinya, tapi keluargaku sangat kaya.” Ungkap Jang Yoon.
“Kau sangat arogan. Kau pasti tidak punya teman, kan?” kata Yi Young. Jang Yoon membenarkan.
Yi Young tak percaya mendengarnya dan hampir terjatuh saat menuruni tangga, Jang Yoon memegang tangan Yi Young menyuruh agar berhati-hati. Keduanya tiba-tiba saling menatap dan terlihat gugup, Yi Young menatap bibir Jang Yoon.
“Bolehkah aku menciummu?” ucap Yi Young. Jang Yoon hanya terdiam dan terlihat gugup.
“Tunggu. Maksudku...Ini Sangat membingungkan, kan? Hatiku sering terluka belakangan ini. Aku tiba-tiba berpikir mungkin kau dan aku mengalami penderitaan yang sama.” Ungkap Yi Young gugup. Jang Yoon hanya diam saja.
“Maaf aku tidak bisa membuat alasan yang lebih baik. Saat aku membicarakan masa laluku, aku cenderung merasa lemah.” Ucap Yi Young. Jang Yoon tiba-tiba mendekat dan mengecup bibir Yi Young. Yi Young kaget lalu keduanya saling menatap. Akhirnya Yi Young mencium Jang Yoon lebih dalam lagi.


Pagi hari, Yi Young terlihat bahagia dipagi hari mengirimkan pesan pada Jang Yoon “Apa tidurmu nyenyak? Aku sedang berangkat bekerja. Semoga harimu menyenangkan.” Lalu menjerit mengaku sangat malu.  Ia masuk ke dalam toko roti dan melihat senior wanita.
Yi Young mencoba menyapanya tapi seniornya tak mengubrinya, akhirnya Yi Young pun memilih untuk berdiri dibelakang seolah tak kenal. Mereka pun keluar dari toko roti, tiba-tiba seorang pria merampas tas senior wanita. Yi Young berteriak kalau ada pecopet dan langsung mengejarnya.
Senior wanita hanya bisa melonggo melihat Yi Young sangat cepat berlari. Setelah melewati jalan, si pria tertabrak dan terjatuh. Yi Young langsung mencari kesempatan menahan kakinya. Senior wanita datang, Yi Young langsung menyuruh untuk memukulny.
Sang senior akhirnya memukul dengan box kue dan menduduki wajah si pecopet, roti milik senior pun rusak. 

Keduanya keluar dari kantor polisi, Senior wanita menanyakan keadaan Yi Young. Yi Young mengaku baik-baik saja lalu melihat celana seniornya dan berkomentar kalau itu terlihat seperti buang air di celana. Seniornya mengaku sudah tahu dan melihatnya.
“Tapi Kau tampak berantakan.” Komentar Senior pada Yi Young. Yi Young juga seperti itu.
“Mulai sekarang, aku akan bicara santai denganmu.” Ucap Senior. Yi Young pikir Seniornya  sudah bicara santai.
“Jangan membantahku. Kau punya waktu luang, bukan? Ikuti aku.” Seniornya. Yi Young terlihat bingung. 

Yi Young masuk ke dalam ruangan make up melihat seniornya berbicara dengan pemain timpani. Jenny melihat wajah Yi Young kaget berpikir kalau mereka bertengkar. Yi Young mengaku Tadi ada kejadian dan akan menjelaskan nanti.
“Apa dia memukulmu?”tanya Jenny. Yi Young mengaku bukan seperti itu.
“Kau tidak bisa melewati satu hari yang tenang, kan?”keluh Jenny, dan akhirnya Seniornya kembali duduk di meja rias. 

Pria pemain timpani tiba-tiba berjalan mendekati Yi Young  bertanya apakah punya waktu luang tiap hari Rabu dari pukul 18.00 sampai 19.00. Yi Young binggung lalu menganguk kalau punya waktu luang.
“Itu alamat ruang latihanku. Aku hanya akan memberimu setengah harga.” Ucap si pemain timpani memberikan kartu nama lalu keluar dari ruangan. 

Yi Young binggung lalu mendekati senior wanita dan yakin kalau itu karena seniornya membuatnya pria timpani mau memberikan kursus dan ingin tahu apa yang dikatakannya. Senior wanita mengau Tidak ada yang istimewa. Tapi hanya membicarakan hidupnya.
“Hidupnya?” ucap Yi Young binggung, Seniornya menceritakan pria itu memiliki istri di Amerika.
“Dia juniorku di universitas dan pemain obo. Jadi Aku hanya menanyakan kabarnya.” Kata senior wanita. Yi Young makin binggung apa maksudnya.
“Hei... Apa Kalian tidak latihan? Jangan bermalas-malasan.” Ucap Senior lalu keluar dari ruangan. Yi Young masih terlihat binggung. 

Yi Young mengirimkan pesan pada Jang Yoon "Akhirnya aku pulang kerja. Pastikan kau makan malam.” walaupun pesan sebelumnya tak dibalas. Joo Won melongggokan kepalanya bertanya Apa kegiatannya malam ini. Yi Young kaget mengaku Kegiatannya tidak banyak.
“Bagus. Kemasi barang-barangmu dan keluarlah.” Ucap Joo Wan dengan penuh semangat. Yi Young dibuat binggung. 

Di ruang latihan
Seorang anak remaja berlatih biola, Eun Joo dibelakangnya meminta agar menghentikanya lalu berkomentar kalau menghafal lagunya. Remaja itu membenarkan dengan tatapan sinis. Eun Joo tak suka mendengarnya lalu menyuruh agar mengeluarkan permen karetnya.
“Cepat Keluarkan.” Kata Eun Joo mengulurkan tanganya, Akhirnya siremaja mengeluarkan permen karet dengan sengaja meludah.
“Shin Young... Permainanmu sangat buruk.” Komentar Eun Joo. Shin Young terlihat marah.
“Tapi kau mungkin sudah tahu akan lulus tes karena uang keluargamu sangat berpengaruh. Walaupun begitu kau tetap harus tahu faktanya. Alunan Musikmu jelek sekali Dan kau hanya sampah. Karena kau, kandidat miskin yang kompeten akan gagal dalam tes.” Komentar Eun Joo.
“Lalu kenapa? Kau dibayar oleh ibuku, jadi, bagaimana denganmu? Kau sama buruknya denganku. Aku sudah selesai hari ini.” Kata Shin Young lalu membereskan barangnya. 


Di luar ruangan seorang pria memanggil Eun Joo agar keluar, Shin Young keluar dengan sengaja menyenggol bahu Eun Joo, si pria berusaha menyapanya tapi tak digubris dan hanya bisa mengumpat si socah lancang.
“Kau benar-benar keras kepala. Kenapa kau repot-repot berdebat dengan orang seperti dia? Yang harus kau lakukan hanyalah memastikan mereka tidak gagal dalam tes. Bukankah kau sudah tahu itu?”keluh si pria.
“Aku akan pergi.” kata Eun Joo seperti tak ingin berdebat lagi. Si pria mengingatkan Eun Joo sebelum pergi.
“Jika kau gagal menjadi solois,maka kau hanya akan menjadi pengajar. Bukankah begitu? Kau harus mengurusnya dengan lebih baik. Dirut meminta kita memberinya perhatian khusus. Jadi Kau harus bekerja lebih baik.” Pesan si pria. 

Eun Joo duduk termenung dalam taksi, lalu mengumpat marah. Sopir taksi binggung berpikir Eun Joo mengumpat padanya. Eun Joo akhirnya mengubah tujuanya untuk pergi ke Shinyoung College of Music.
Sementara Yi Young dan Joo Wan pergi ke sebuah pesta dengan membawa sebuket bunga. Prof Song menyambut keduanya mengaku senang sekali melihat semua orang.  Joo Wan berkomentar kalau Prof Song terlihat sangat bahagia.
“Orang-orang memuji konser Anda di Jerman.” Puji Joo Wan. Prof Song bergurau kalau itu karena menyuap semua wartawan.
“Begitulah caraku bertahan selama ini.” Kata Prof Song tertawa, Joo Wan tersenyum lalu mengucapkan Terima kasih atas sarannya.
“Lama tidak bertemu, Profesor Song.” Sapa Yi Young memberikan buket bunga. Prof Song mengingat Yi Young.
“Kenapa sulit sekali bertemu denganmu? Kudengar kau menjadi anggota Shinyoung Philharmonic.” Kata Prof Song
“Tidak, aku dipecat.” Kata Yi Young. Prof Song kaget. Joo Wan hanya bisa menutup bibirnya lalu memberitahu kalau hanya dalam satu hari.
“Astaga, aku akan mengikuti audisi lagi.” Ucap Yi Young, Prof Song pun tertawa menyuruh mereka duduk dan akan segera mengeluarkan dagingnya.


Eun Joo berjalan di kampus melihat salah satu mahasisa berlatih sendirian dan menikmati didepan jendela dengan wajah sedikit bahagia dan terhanyut walaupun si mahasiswa terlihat melakukan kesalahan. Ia pun meninggalkan note.
“Beethoven "Symphony number 7", bagian keempat. Gunakan seluruh busur untuk menggesek ke atas. Lemaskan tanganmu saat membelai busur. Gunakan elastisitas pergelangan tanganmu.”
Saat itu Eun Joo melihat ke arah ruangan gedung yang yang masih menyala dan teringat sesuatu.
Flash Back
Eun Joo berada di ruang kelas dan Dosennya memberitahu waktunya sampai pukul 12.00 untuk menyelesaikan tes dan Setelah selesai, letakkan lembar jawaban di meja lalu tinggalkan ruangan dengan tenang.  Lalu saat Joo Wan memperkenalkan  Jang Yoon.
“Terakhir, Jang Yoon, pianis kehormatan yang membuatku terpesona.” Ucap Joo Wan lalu mencoba mengingat dimana pernah melihat Jang Yoon.
“Aku tidak menginginkan perhatianmu. Aku benci saat orang tertarik kepadaku.” ucap Jang Yoon dan Eun Joo teringat saat masih kuliah Jang Yoon sebagai dosen dikampusnya. 


Joo Wan dan Yi Young bermain dengan Prof Song dan anak muridnya. Yi Young mengelu kalau menang tiga permainan berturut-turut dan menurutnya Ini sangat membosankan, Profesor Song mengejek kalau nanti Yi Young bertambah tua.
“Kau Mau tidak mau, tanganmu akan mulai gemetar. Jadi Bagaimana kalau kita bermain lagi? Tapi kali ini, mari bermain Go.” Ucap Prof Song. Semua setuju main yang lain.
“Aku bisa melakukan segalanya.” Kata Yi Young, Prof Song pun memanggil Na Young.
“Bisakah kau ke ruang kerjaku dan mengambil papan Go?” kata Prof Song. Yi Young mengajukan diri agar mengambilnya saja. Prof Song pun tak sabar siapa yang menang.

Jang Yoon baru saja pulang membaca pesan dari  Yi Young yang belum dibalas "Apa tidurmu nyenyak? Aku sedang berangkat bekerja. Akhirnya aku pulang kerja" dan melihat Eun Joo suadh ada didepan rumahnya. Eun Joo seperti sengaja menunggu Jang Yoon.
“Aku bertanya kepada semua kenalanku untuk mencari alamatmu. Ternyata Separuh yang kau tulis di resumemu itu palsu.” Ejek Eun Joo. Jang Yoon memuji Eun Joo memang luar biasa.
“Bagaimana kau bisa bergabung dengan orkestra? Bahkan Kau tinggal sangat dekat dengan Yi Young. Tapi aku tidak menduga kau akan tinggal tepat di bawahnya.” Ucap Eun Joo. Jang Yoon akan masuk akhirnya keluar lagi.
“Jadi Apa maumu?” ucap Jang Yoon. Eun Joo mengaku Akhirnya ingat dimana pernah melihat Jang Yoon.
“Namamu bukan Jang Yoon, bukan? Aku datang karena tidak bisa berhenti penasaran. Jadi Siapa nama aslimu?” ucap Eun Joo. Jang Yoon hanya menatapnya lalu memegang tangan Eun Joo


Yi Young pergi ke ruangan Prof Song dan melihat lorong dibelakng meja kerja berpikir di dalam sana. Ia mencari papan permainan dan tiba-tiba matanya kaget melihat sesuatu yang ada didepanya.  Didepan rumah, Eun Joo menahan rasa sakit ditanganya. Jang Yoon akhirnya melepaskan tanganya. Eun Joo mengeluh Jang Yoon itu sudah gila.
“Jadi Sudah berapa lama? Apa Kau tidak mau memberitahuku? Haruskah kujawab untukmu?” ucap Jang Yoon. Eun Joo mulai mengumpat marah.
“Resital pianomu mengusikku kali pertama aku mendengarnya. Nadanya sangat mirip dengan seseorang yang dahulu kukenal. Apa kau sengaja mendekati Maestro Nam? Apa kau memikat hatinya agar bisa bergabung di orkestra?” ucap Eun Joo. Jang Yoon pikir tak ada yang salah.
 “Jadi Katakan kepadaku. Apa tujuanmu sebenarnya? Kenapa kau meniru seseorang yang sudah meninggal?” kata Eun Joo. Jang Yoon ingin tahu apa yang dinginkan Eun Joo sekarang. 
Yi Young terdiam melihat poster didepanya  "Orkestra Philharmonic Asia dan Kim Ian Piano Chopin Chopin" lalu teringat yang dengan foto di rumah Jang Yoon yang pecah dan bertanya nama adiknya. Jang Yoon menyebut namanya KIM IAN.
“Sedang apa? Apa Kau belum menemukannya?” ucap Joo Wan memanggil Yi Young. Yi Young menatap Joo Wan. Akhirnya Joo Wan pun masuk ruangan lalu terdiam melihat poster didepanya. 


Jang Yon mengulang ucapan Eun Joo "Seseorang yang sudah meninggal" dan ingin tahu Siapa itu. Eun Joo ketakutan berjalan mundur. Jang Yoon berjalan mendekati Eun Joo menginjak kertas partitur yang terjatuh.
“Maestro Nam, apa kau mengenalnya?” tanya Yi Young pada Joo Wan. Joo Wan hanya diam saja menatap poster didepanya.

Jang Yoon terus mendesak Eun Joo ingin tahu siapa dan Kenapa sangat tertarik kepadanya. Eun Joo terlihat ketakutan, Jang Yoon ingin tahu apa yang membuat Eun Joo cemas dan takut. Eun Joo hanya bisa terdiam dan benar-benar panik.
“Bolehkah aku menyelidikinya?” ucap Jang Yoon seperti mengancam.
“Aku bisa memberi tahu semua orang bahwa kau memakai nama palsu.” Kata Eun Joo
“Silakan saja jika bisa, Tapi Bisakah kau melakukannya?” ejek Jang Yoon menantang.
Yi Young pun memanggil Joo Wan yang hanya diam saja, lalu memberitahu kalau Pria ini adalah Kim Ian dan bertanya apakah tidak mengenalnya. Joo Wan hanya diam saja menatap poster  "Orkestra Philharmonic Asia   dan Kim Ian Piano Chopin Chopin"


Flash Back
Di tengah hujan deras, Ian terluka dibagian kepala terlihat tanganya yang memakain cincin. Seorang pria dengan jaket, topi dan masker datang menatap Ian yang tak sadarkan diri. Ian hanya dibiarkan begitu saja, Si pria akhirnya membuka masker dan terlhat wajah Joo Wan.
Bersambung ke episode 9

Cek My Wattpad... Stalking 


      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Sinopsis I Wanna Hear Your Song Episode 7

PS : All images credit and content copyright : KBS

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Yi Young mengingat suara yang ada dalam pikiranya “Ayo naik kereta gantung  besok pagi, Yi Young.” dan membuat figura ditanganya pun terjatuh. Jang Yoon melihat foto adiknya yang terjatuh berantakan. Yi Young ingin tahu Siapa yang membunuh adik Jang Yoon.
“Seseorang yang dia cintai.” Ucap Jang Yoon. Yi Young bertanya nama adik Jang Yoon.
“Ian.. Kim Ian.. Apa kau mengenalnya?” tanya Jang Yoon. Yi Young mengaku tak kenal dan belum pernah mendengar nama itu dan akan berjalan pergi dengan wajah gugup.
“Jangan bergerak.” Ucap Jang Yoon tapi kaki Yi Young sudah mengenai sepihan kaca.
“Tidak, aku baik-baik saja.” Kata Yi Young, Jang Yoon meliha luka di kaki Yi Young lalu memarahinya karena sudah menyuruh agar jangan bergerak. 

Yi Young duduk di kursi sementara Jang Yoon memasang perban pada kaki Yi Young. Yi Young menatap Jang Yoon terlihat sangat perhatian lalu bergumamm “Dia dibunuh oleh seseorang yang dia cintai? Kurasa dia tidak bercanda. Apa maksud perkataannya?”
“Ada apa?” ucap Jang Yoon yang merasakan Yi Young terus menatapnya. Yi Young mengaku bukan apa-apa.
“Coba Berdirilah. Apa Kau bisa berjalan?” kata Jang Yoon selesai memasang perban. Yi Young berdiri mengaku bisa berjalan.
“Lagi pula, ini tidak terlalu sakit.” Ucap Yi Young lalu mencoba tertawa.
“Kau tidak khawatir sama sekali. Bagaimana kau bisa tertawa?” sindir Jang Yoon. Yi Young akhirnya hanya bisa terdiam.

Yi Young menuangkap kopi sambl berkomentar kalau Jang Yoon ternyata bisa memasak atau mengemudi walaupun tangannya terluka. Jang Yoon sudah ada diblakon dengan teropong lalu bertanya apakah Yi Youn pernah melihat gerhana bulan.
“Gerhana bulan? Ya, di TV beberapa kali.” Ucap Yi Young bangga. Jang Yoon menyimpulkan Yi Young tidak pernah melihat gerhana bulan sungguhan lalu mencoba untuk melihatnya.
“Ada bayangan di atas bulan... Aku belum pernah melihat ini dari dekat... Wahh... Mengagumkan... Bagian yang gelap itu bayangan Bumi, kan?” ucap Yi Young takjub melihat ada di teropong.
“Ya. Namanya gerhana bulan sebagian. Separuh bulan akan tertutup.” Jelas Jang Yoon
“Apa Kau sering ke sini untuk melihat bulan?” tanya Yi Young, Jang Yoon mengaku hanya sesekali saja.
“Adikku menyukainya.” Ucap Jang Yoon. Yi Young duduk didepan Jang Yoong, teringat saat bertanya Siapa yang membunuhnya, lalu Jang Yoon menjawab “Seseorang yang dia cintai.”
“Omong-omong...Aku merasa ada yang mengganjal sejak tadi. Mengenai adikmu, bisa ceritakan apa yang terjadi? Tapi Jika merasa tidak nyaman, tidak perlu dijawab.” Ucap Yi Young
“Kecelakaan mobil... Lebih tepatnya, itu yang dikatakan ayahku.” Ucap Jang Yoon. Yi Young mengerti.
“Pacarnya yang mengemudi, kan.  Lalu Apa yang terjadi pada pacarnya itu?” tanya Yi Young
“Dia masih hidup dan sehat.” Ucap Jang Yoon seperti mencoba menahan emosinya. Yi Young pikir bisa bersyukur karena ada yang selamat. “Sejujurnya, aku mengalami kecelakaan musim panas lalu.” Ucap Yi Young berdiri dibalkon.
“Kecelakaan apa?” tanya Jang Yoon memancing. Yi Young mengaku menurut sepupunya ditaksi tapi sebenarnya ia tak ingat sama sekali.
“Aku kehilangan ingatan selama tiga bulan sebelum dan sesudah kecelakaan. Ada istilah yang keren untuk itu?Apa "Amnesia disosiatif"?” ucap Yi Young
Jang Yoon masih mengingat saat bertemu dengan Yi Young bertanya “Apa kau ingat siapa yang kau bunuh?” lalu berkomentar seperti tak percaya kalau Yi Young kehilangan ingatan selama tiga bulan. Yi Young pikir memang itu faktanya.
“Kukira hal seperti itu hanya terjadi di film. Aku baru tahu itu memang bisa terjadi.” Ucap Yi Young kembali duduk.
“Apa Kau tidak ingin tahu tentang ingatanmu yang hilang? Apa kau tidak penasaran?” kata Jang Yoon.
“Entahlah. Aku tidak tahu. Aku merasa ingin tahu Tapi aku juga takut. Terkadang aku bermimpi buruk dan khawatir apa itu ingatanku atau bukan.... Ahh.. Sudahi saja obrolan ini. Suasananya jadi murung.” Ucap Yi Young. Jang Yoon mengajak masuk ke dalam saja. 




Yi Young bingung karena Jang Yoon mengajak duet piano dan artinya mau bermain piano dengannya. Jang Yon membenarkan ingin main piano bersama dengan Yi Young. Yi Young binggung menurutnya Jang Yoon tak mungkin bisa bermain piano dengan tangannya yang cedera.
“Sudah lama aku tidak bermain piano. Tapi Aku memainkannya selama tiga tahun saat aku masih kecil dan Hanya itu saja.” Ucap Yi Young mencoba duduk didepan piona dan Jang Yoon sibuk mencari partitur.
“Kau bilang adikmu pianis sepertimu, kan? Kalian pasti sering bermain bersama saat masih kecil.” Ucap Yi Young.
“Tidak sering, tapi terkadang. Kami tinggal terpisah, jadi, kami hanya bisa bertemu saat libur. Saat bertemu, biasanya kami menginap di sini.” Ucap Jang Yoon lalu memilih lagu “Debussy”
“Itu tanganku saat aku masih kecil. Kurasa itu musim panas kelas enam. Adikku sering menangis saat bermain piano di malam hari. Dia takut, Karena itu aku menggambarnya.” Ucap Jang Yoon saat melihat Yi Young melihat ada gambar tangan diatas penutup piano.
“Coba Letakkan tanganmu di sini.. "Lihat? Bukankah rasanya kamu berpegangan tangan denganku? Jadi, jangan takut. Kau dan aku ada bersama di sini." Ucap Jang Yoon menaruh tangan Yi Young diatas  gambar tangan. Air mata Yi Young tiba-tiba mengalir. 
“Maafkan aku... Ada apa denganku? Ahh... Kurasa aku tidak waras... Tadi... Mungkin karena kau menceritakan tentang adikmu, tapi aku....” Ucap Yi Young terlihat gugup menghapus air matanya.
“Kita harus kembali. Sudah larut malam. Setelah menjadi asisten Maestro Nam, aku jadi lumayan sibuk. Aku harus datang lebih awal dan...” kata Yi Young akan bergegas pergi.
“Kenapa? Kenapa kau terus melarikan diri? Kenapa kau terus menghindariku saat aku ingin tahu lebih banyak? Karena kau terus melarikan diri, aku tidak tahu harus bagaimana.” Ucap Jang Yoon seperti menyindir.
“Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu. Aku ingin tahu sebanyak mungkin. Aku ingin tahu semua yang tidak diketahui orang lain. Kuharap kau tahu itu.” Tegas Jang Yoon lalu mengajak Yi Young pulang. 

Yi Young duduk dibangku penumpang dan Jang Yoon yang mengemudikan mobil dengan satu tanganya. Ia menatap Jang Yoon sambil mengingat yang dikatakan oleh kakak Ian “Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu. Aku ingin tahu sebanyak mungkin.”
“Kenapa? Apa Ada yang ingin kamu katakan?”tanya Jang Yoon merasakan kembali Yi Young menatapnya.
“Tentang yang tadi kamu katakan.” Kata Yi Young, Jang Yoon bertanya yanga mana. Yi Young tak ingin membahasnya lagi. 

Yi Young pulang ke rumah mengingat kembali kejadian dirumah ternyata pria itu Adiknya Jang Yoon dan saat menanyakan namanya yaitu Kim Ian.
“Kenapa dia terlihat sangat familier? Tapi Kenapa marga mereka berbeda?” ucap Yi Young binggung.
Sementara Jang Yoon mengingat yang dikatakan Yi Young "Amnesia disosiatif" Aku tidak ingat. Aku kehilangan ingatan tiga bulan sebelum dan sesudah kecelakaan. Jadi Aku tidak tahu dan tidak ingat apa pun.”
Tapi ia tak percaya kalau Yi Young kehilangan ingatan selama tiga bulan. Yi Young pun menegaskan kalau itu faktanya. Jang Yoon terlihat sangat marah, sementara Yi Young mengingat saat Jang Yoon memasang perban seperti memberikan perhatian lebih.
“He.. Berhentilah memikirkan dia. Hentikan... Sadarlah, Yi Young.” ucap Yi Young merasakan jantungnya mulai berdebar lalu membanting tubuhnya di tempat tidur.
Jang Yoon menelp seseorang memberitahu kalau itu sesuai dengan dugaanya kalau Yi Young tidak ingat apa pun tentang kecelakaan itu., bahkan tidak ingat siapa Ian dan tidak ingat Ian sudah meninggal. Ia a pun melihat Catatan medisnya juga membuktikan hal itu jadi harus cari cara lain.


Nyonya Yoon memakai baju sambil berbicara kalau ada rapat dengan Dirut pukul 11.00 dan makan siang dengan asosiasi pendukung pukul 12.00. Lalu Sampel poster konser inaugurasi akan siap pukul 16.00. Ia masang anting keluar dari ruangan melihat pemain timpani sudah menunggu.
“Omong-omong, jangan lupa bahwa Konduktor Song akan kembali dari Jerman hari ini. Ada pertemuan di rumahnya besok pukul 19.00 untuk merayakan kepulangannya. Maestro Nam juga akan hadir.” Kata Nyonya Nam
Si pemain timpani seperti baru saja menghabiskan malam bersama, dan akhirnya memberikan ciuman dipipi lalu pamit pergi.
“Kau harus pergi tanpaku. Aku akan ke salon mendampingi Dirut.Sampai jumpa di acara makan siang.” Ucap Nyonya Yoon berbicara di telp Saat itu Sek Yan menelp, Nyonya Yoon langsung melotot tajam. 

Yi Young akan masuk ruang latihan tapi semua anggota keluar dari ruangan dan bertanya-tanya Kenapa semua orang pergi lalu melihat Jenny keluar dengan wajah cemberut dan menanyakan apa yang terjadi. Jenny memberitahu kalau mereka diminta untuk pergi.
“Kami berlatih di luar hari ini.” Ucap Jenny. Yi Young kaget mendengarnya.
“Maestro Nam yang merencanakannya.” Kata Jenny. Yi Young tak percaya dengan cuaca yang panas mereka harus main diluar. 

Semua berkumpul diatas panggung, diluar ruangan. Beberapa pemain mengeluh kalau ini menyebalkan dan khawatir dengan instrumen mereka. Yang bisa rusak dan mulai mengumpat pada Joo Wan. Eun Joo datang langsung membela Joo Wan.
“Orang tidak penting selalu menyalahkan orang lain.” Sindir Eun Joo, Pemain dibelakangnya mengeluh kesal.
“Fokuslah bekerja lebih baik daripada membuang waktumu mengejek konduktor. Toh, permainan kalian sangat buruk.”ucap Eun Joo.
Sebelum terjadi adu mulut, Joo Wan akhirnya datang menyapa semua anggotanya dengan senyuman ceria. Ia berpikir kalau cuacanya bagus hari ini, semua menyetujuinya tapi mengangkat tangan mereka diatas kepala karena silau. Joo Wan pikir langit sekarang sangat biru.
"Apa konduktornya sudah gila? Kenapa dia meminta kita keluar?" Kalian menjelek-jelekkanku, kan?” ucap Joo Wan. Semua membenarkan.
“Tidak ada alasan khusus. Kita dikelilingi tanah dan pohon. Langit di atas kita, dan anginnya sejuk. Dan kebetulan kita akan berlatih "1001 Nights" Kita beruntung menjadi musisi. Kalian setuju, kan?” ucap Joo Wan. Semua setuju.
“Akan lebih baik jika gelap, tapi karena tidak bisa seperti itu, mari bermain sambil membayangkan kita berada di istana di Arab. "Scheherazade" oleh Rimsky-Korsakov, bagian kedua.” Ucap Joo Wan


Nona Yoon masuk ruang latihan dan kosong, wajahnya sangat marah. Sek Yang masuk mencoba agar menenangkan tapi Nona Yoon sudah keluar ruangan dengan penuh amarah.
Sementara Yi Young sibuk merekam latihan di ponselnya, wajahnya terlihat tersenyum, Nona Yoon pun bertanya Di mana para anggota orkestra. Sek Yang dengan terbata-bata menjawab kalau Mereka di luar di tempat kosong.

Saat itu Yi Young masih tersenyum merekam tanpa sadar Nona Yoon sduah ada disampingnya. Sek Yang berdiri agar jauh dengan wajah ketakutan. Nona Yoon akhirnya bicara meminta agar Yi Young mendengarnya saat merekam.
“Kau Jangan menatapku.” Ucap Nona Yoon sinis. Yi Young mengerti dengan serius merekam latihan.
“Apa Kau tahu berapa anggaran tahunan orkestra kita?” ucap Nona Yoon. Yi Young mengaku tak tahu.
“Apa Kau tahu bagaimana aku harus merendahkan diriku agar bisa menerima anggaran itu tiap tahun? Pasti kau tahu ini karena kamu juga musisi. Jika instrumennya rusak, menurutmu siapa yang harus mengganti rugi semuanya?” ucap Nyonya Yoon tak bisa menahan emosi.
“Jika para musisi meminta bayaran ekstra, menurutmu siapa yang harus membayar itu?” kata Nyonya Yoon. Yi Young ingin menjelaskan tapi Nyonya Yoon lebih dulu bicara.
“Apa kau kesal karena aku membentakmu?” ucap Nyonya Yoon. Yi Young tertunduk mengaku bukan seperti itu.
“Jika kamu pernah menjadi musisi, seharusnya kau cukup pintar untuk mencegahnya melakukan sesuatu seperti ini. Itu yang kuharapkan saat memutuskan untuk mempekerjakanmu.” Tegas Nyonya Yoon
“Kau dibayar dari anggaran berharga itu agar kau bisa menghentikan Maestro Nam melakukan hal gila. Apa Kau mengerti?” ucap Nyonya Yoon melotot tajam. Yi Young akhirnya hanya bisa meminta maaf.
“Bisakah kamu berhenti minta maaf? Aku benci saat orang meminta maaf. Jangan lakukan apa pun yang akan membuatmu minta maaf. Ini nomor teleponku. Kirimkan video yang baru saja kau ambil. Aku akan mengirimnya ke asosiasi pendukung.” Ucap Nyonya Yoon lalu bergegas pergi.
Yi Young menerima kartu nama hanya bisa terdiam, sementara Joo Wan sedari tadi bisa melihat Yi Young kena amrah Nyonya Yoon, dan akhirnya latihan mereka berakhir. Beberapa penonton didepa mereka langsung berdiri dan memberikan tepuk tangan.
Semua pemain tak percaya ternyata pemainan mereka di tonton dan diberikan tepuk tangan walaupun hanya sedikit. Yi Young yang tadinya bersedih akhirnya memberikan tepuk tangan dan wajahnya kembali ceria. Joo Won pun memuji merkea sudah berkerja dengan baik. 


Soo Young mengendap-ngendap keluar dari toko bunga, Tuan Hong bertanya kemana Soo Young akan pergi. Soo Young meminta agar ayahnya jangan berisik, lalu memberitahu kalaumau ke rumah sakit. Tuan Hong pikir anaknya itu libur hari ini.
“Astaga, Ayah... Bisa pelankan suara Ayah? Ibu akan mendengar suara Ayah. Jika Ibu mencariku, pura-puralah Ayah tidak melihatku. Mengerti?” pesan Soo Young akan keluar toko dan kaget melihat ibunya sudah ada didepan pintu.
“Kau pasti sudah gila... Apa Kau mau namamu dari akta keluarga?” ucap Nyonya Hong menatap sinis.
Soo Young membalikan badan akan masuk rumah tapi bergegas keluar dari rumah, tapi Nyonya Hong lebih sigap memukul pungung anaknya dengan sapi. Soo Young pun terjatuh mengaduh kesakitan. Tuan Hong yang melihat merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. 

Soo Young merasa risih dengan pakain dan rok yang pendek lalu melepaskan heelsnya sambil mengeluh karena pria itu yang tak datang. Terlihat seorang pria dengan setelan training masuk restoran dengan wajah lusuh. Soo Young mencoba untuk memalingkan wajah tak berharap pria itu adalah teman kencannya.
“Apa kau Nona Hong Soo Young? Aku Choi Ki Sang.” Ucap Ki Sang memperkenalkan diri lalu duduk. Soo Young hanya bisa melonggo.
“Aku keluar di menit terakhir, jadi, aku tidak memakai pakaian terbaikku hari ini. Maafkan aku.” Ucap Ki Sang
“Aku tidak peduli dengan pakaianmu. Tapi Aku datang untuk menemui pria bernama Lee Kyung Soo. Dia pengacara bernama Lee Kyung Soo.” Kata Soo Young
“Lee Kyung Soo tidak bisa datang hari ini.” Ucap Ki Sang. Soo Young marah karena Young Soo yang tak hadir. Ki Sang mengaku kalau Young Soo sedang ada urusan.
“Apa?!! Kenapa Dia tidak bisa meneleponku untuk mengatakannya sendiri? Lalu siapa kau? Ah... Tunggu, tidak. Aku tidak perlu tahi dan Aku mengerti.” Ucap Soo Young mencoba menahan emosi karena ternyata kencan butanya ditolak.
“Omong-omong, apa kamu lapar?” tanya Ki Sang. Soo Young kesal menanyakan hal itu karena pasti lapar dan sekarang sudah lewat jam makan.
“Kalau begitu, ayo keluar bersama.” Ucap Ki Sang, Soo Young melonggo binggung dan panik karena Ki Sang melihat pakaian yang mini.
“Aku mengendarai motorku ke sini. Kurasa kamu tidak bisa naik motor. Biar kupanggilkan taksi.” Kata Ki Sang. Soo Young panik ingin mengejar Ki Sang tapi karena sepatunya yang tinggi malah membuatnya jatuh.
Semua tamu menatap Soo Young terjatuh dan Ki Sang  hanya menatapnya lalu menanyakan keadaanya. Soo Young mengeluh karena ini sangat memalukan. 


Yi Young sedang membereskan bangku setelah pemain berlatih lalu melihat senior wanita seperti sedang mencari-cari sesuatu. Dengan ramah bertanya pada Seniornya apakah sedang mencari sesuatu. Seniornya menjawab Peniupnya jatuh
“Aku tidak bisa menemukannya.. Tapi Aku akan mencarinya sendiri. Silakan pergi.” ucap Senior. “
“Aku bisa membantumu.” Kata Yi Young. Seniornya menolak karena akan mencarinya sendiri.
“Akan lebih cepat jika kita berdua mencarinya. Aku akan membantumu.” Ucap Yi Young akhirnya mencari dibangku.
Ia menemukan peniup yang terjadi diselipan bangkuk, lalu memberikan pada seniornya. Seniornya malah menatap sinis karena sudah mengatakan akan menemukannya. Ia menegaskan tidak suka orang lain menyentuh penipunya  Yi Young hanya bisa tertunduk sedih.
“Kau pemain instrumen, tapi kenapa sebodoh ini? Ahh. Tunggu, tidak. Kau tidak memainkan instrumen lagi.” Sindir seniornya. Yi Young pun hanya bisa  meminta maaf dengan wajah sedih.
“Kau mungkin tidak mau mendengar ini. Tapi Aku mencapai sejauh ini dengan bakat dan kerja kerasku, Sama dengan sebagian besar dari kami di sini. Kuharap kau punya kesempatan yang sama, Yi Young.” ucap seniornya.  Yi Young pun tak bisa berkata apa-apa. 

Yi Young masuk ke ruang latihan memastikan semua bangku dan alat masi kembali ke tempat semula. Ia lalu menatap timpani yang selama ini membuat dirinya ingin gabung di orkestra tapi tak bisa tercapai impainya.
Ia mengingat yang dikatakan Seniornya “Kamu mungkin tidak mau mendengar ini. Aku mencapai sejauh ini dengan bakat dan kerja kerasku. Kuharap kamu punya kesempatan yang sama, Yi Young.” Akhirnya ia mencoba bermain sendiri tanpa pemukul.
“Aku juga bekerja keras. Sangat keras hingga membuat air mata menetes. Sudah 15 tahun sejak usiaku 12 tahun. Di hari yang hujan dan bersalj Dan bahkan saat sakit. Aku berlatih 365 hari setahun tanpa membolos sehari pun. Hari Minggu, liburan, uang, dan otot biseps. Aku mencurahkan segalanya untuk instrumen ini.” Gumam Yi Young lalu mencium bau timpani yang sudah lama tak dijamahnya. 

Yi Young kembali ke ruangan make up bertemu dengan senior timpani lalu meminta agar bisa bicara. Seniornya terlihat tak percaya dan yang lainya seperti tawa mengejek. Akhirnya Yi Young dipersilahkan akan biacara apa padanya.
“Jika kau bisa memberikan kursus timpani, aku ingin belajar darimu.” Ucap Yi Youn memberanikan diri.
“Kursus? Apa Kau ingin belajar dariku?” ucap Seniornya. Semua yang mendenganya makin tawa mengejek. Yi Young membenarkan.
“Maaf, tapi aku tidak bisa memberikan kursus lagi.” Kata seniornya lalu bergegas pergi. Yi Young menahan tangan seniornya.
“Tolong jangan menolaknya. Satu kali saja... Aku mohon. Satu jam sepekan juga tidak apa-apa.” Kata Yi Young memohon.
“Maaf, tapi aku benar-benar tidak punya waktu. Semoga harimu menyenangkan.” Ucap Si pria menghempaskan tanganya Yi Young lalu pergi. 

Eun Joo melihat dari kejauhan akhirnya mendekati Yi Young memberitahu kalau yang dikatakan seniornya itu tak bohong karena pria itu  cukup populer jadi tidak bermaksud mempermalukan Yi Young dan memang tidak punya waktu.
“Dia menyebalkan, tapi tidak jahat.” Ucap Eun Joo, Yi Young hanya bisa diam saja dengan wajah kecewa. 

Yi Young masuk ruangan dengan wajah kecewa.  Joo Wan masuk ruangan mengambil segelas kopi. Yi Young bertanya apakah Joo Wan  sudah selesai rapat. Joo Wan mengaku hampir tidak bisa kabur dan Jika lebih lama lima menit, maka akan mundur dari pekerjaannya.
“Lalu Apa yang kau suka?” tanya Joo Wan. Yi Young terlihat binggung tiba-tiba Joo Wan menanyakan hal itu.
“Kita akan mengadakan pesta penyambutanmu hari ini. Jadi Ambil barang-barangmu.” Ucap Joo Wan lalu keluar dari ruangan. Yi Young benar-benar dibuat bingung. 

Joo Wan masuk ke restoan berkomenatr kalau dugaanya benar walaupun awalnya tidak yakin apa memang ini restorannya. Jang Yoon kaget melihat Joo Wan datang dengan Yi Young ke restoran tempatnya berkerja. Yi Young pun kaget ternyata Jang Yoon menjadi pelayan.
“Itu hanya sebentar, tapi kau ingat. Terima kasih.” Ucap Jang Yoon menuangkan mininum.
“Kami pernah bertemu. Dan Kau yang menemukan ponselku, bukan?” kata Joo Wan. Jang Yoon membenarkan.
“Ini pesta penyambutan untuk Yi Young. Dia menjadi asistenku selagi kau tidak ada.” Ucap Joo Wan. Jang Yoon mengaku sudah dengar.
“Selamat.” Ucap Jang Yoon, Yi Young pikir Jang Yoon  tidak perlu memberikan selamat dengan wajah malu.
“Bagaimana tanganmu? Apa sudah bisa digerakkan?” tanya Joo Wan. Jang Yoon mengaku sudah hampir sembuh.
“Apa Tidurmu nyenyak semalam?” tanya Jang Yoon pada Yi Young. Yi Young terlihat binggung.
“Kau kesulitan karena tidak bisa tidur belakangan ini. Aku sangat khawatir.”ucap Jang Yoon.
“Yi Young, Apa kau masih belum bisa tidur?” ucap Joo Wan. Yi Young menyangkal kalau Tidurnya nyenyak.
“Itu tidak benar. Kamu bahkan memintaku menyanyikan lagu untukmu.” Ucap Jang Yoon. Joo Wan binggung apa maksudnya lagu.
“Ya, lagu. Dia bilang  bisa tidur setelah mendengarkan lagu-lagu. Dia memohon agar aku menidurkannya. Jadi Kita saling menidurkan.” Ucap Jang Yoon.
“Berhenti.” Kata Yi Young panik dan akhirnya meminta izin untuk ke toilet lalu memberi kode Jang Yoon untuk mengikutinya. 


Jang Yoon berjalan mencari Yi Young di toilet dan kaget Yi Young tiba-tiba menarinya dan mendorongnya didepan loker. Yi Young kesal karena Jang Yoon itu sudah gila dengan katakan di depan Maestro Nam kalau mereka saling  menidurkan.
“Itu benar. Jangan terlalu kesal.” Ucap Jang Yoon santai. Yi Young menegaskan kalau mereka tak seperti itu.
“Tolong jaga perkataanmu kepadanya.” Tegas Yi Young. Jang Yoon pikir untuk apa seperti itu. Yi Young tak percaya Jang Yoon berkata seperti itu.
“Kau yang harus berhati-hati... Yang seperti ini,  sebabnya orang lain bilang kau tidur dengan konduktor. Kau mau orang bergosip... Tapi Benarkah kau tidur dengannya?” ucap Jang Yoon menuduh. Yi Young melonggo mendengarnya.
“Apa Kau merasa difitnah?” ejek Jang Yoon. Yi Young membenarkan kalau merasa difitnah.
“ Sebenarnya Apa masalahmu denganku?” keluh Yi Young kesal. Jang Yoon langsung menarik Yi Young dan posisi mereka sekarang berbalik. 


“Aku tidak akan senang. Wanita yang kusukai datang ke sini untuk makan dengan pria lain. Dengan konduktor yang digosipkan tidur denganmu.” Ucap Jang Yoon
“Bukan begitu. Ini hanya makan setelah bekerja. Dia bilang ini pesta penyambutan.” Jelas Yi Young
“Apa Kau percaya itu? Apa kau senaif atau sebodoh itu? Aku tidak akan mengganggu kalian,  tapi panggil aku jika butuh sesuatu.” Ucap Jang Yoon marah lalu melangkah pergi. Yi Young terlihat serba salah.
Bersambung ke episode 8

Cek My Wattpad... Stalking 


      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09