PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Senin, 01 Juni 2020

Sinopsis Hospital Playlist Episode 12 Part 4

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Dokter Ahn sudah pindah ke rumah, lalu membuka kotak paket dan melihat sandal karet bertuliskan [KEPALA RESIDEN] lalu membaca surat yang ditulis oleh Song Hwa.
“Hadiah pindah rumah dan naik pangkat.Dokter Ahn Chi-hong, saat ini pun kau sudah bekerja cukup baik. Aku selalu mendukungmu. Satu, kurangi rasa gugup berlebih saat operasi. Kini jantungmu harus sekuat baja.
“Dua, fokus kendalikan pendarahan saat operasi tumor otak. Kesuksesan operasi bergantung padanya. Tiga, manfaatkan gambar dan video berpengaruh kuat untuk bahan presentasi konferensi. Wajib berlatih! Salam, Chae Song-hwa.”
Dokter Ahn hanya bisa terdiam teringat saat pertama kali menyatakan perasanya pada Song Hwa. 

Flash Back
Song Hwa tak percaya kalau Dokter Ahn suka padanya. Dokte Ahn membenarkan kalau suka pada Song Hwa dan ingin menyatakan perasaan, tetapi tak temukan waktu yang tepat lalu meminta maaf. Song Hwa tak percaya mendengarnya.
“Jangan... Hei, jangan lakukan itu. Ada apa denganmu?” ucap Song Hwa
“Itu bukan sesuatu yang bisa kukendalikan. Aku tidak bisa memerintah hatiku untuk suka atau berhenti menyukaimu. Kalau begitu, aku permisi. Sampai jumpa.” Kata Dokter Ahn lalu keluar ruangan. 

Dokter Ahn berdiri didepan ruangan terlihat gugup membawa bunga, akhirnya ia memberikana diri masuk ke dalama ruangan Song Hwa dan mengangi bunga didalam vas dengan pemberian darinya.
Song Hwa tersenyum melihat Hong Bo dan Yun Bok menurutnya itu Manis sekali karena dulu juga begitu sambil memijat kakinya. Dokter Ahn hanya bisa tertunduk lalu menatapnya. Song Hwa pu meminta maaf karena merasa tak sopan.  Mata Dokter Ahn tertuju pada sepatu Song Hwa yang sudah usang.


Song Hwa makan jajangmyeon tak percaya kalau Jung won itu Besok juga bekerja dan memujinya kalau ia itu pekerja keras. Jung Won pikir Sejak kapan mereka libur Natal lalu bertanya pada Jung Won Apa tak bertemu “Bidulgi” karena besok natal.
“Bidulgi pergi ke suatu tempat. Aku pun kerja sebentar. Hei... Apa Kau tak bawa oleh-oleh?” tanya Jun Wa pada Ik Jun. Ik Jun mengeleng.
“Suk-hyung, kau bagaimana? Apa Sudah kau putuskan?” tanya Ik Jun. Jung Won bertanya mengenai apa dan Memutuskan apa dengan wajah bingung.
“Kau juga. Kita bicara nanti.” kata Ik Jun dan meminta agar Suk Hyung mengatakan saja.
“Kenapa? Keluarganya ada masalah lagi?” tanya Jun Won penasaran. Song Hwa memberitahu  Ayah Suk-hyung mewasiatkan agar dia mengambil alih perusahaan. Dua temanya menjerit tak percaya.
“Lantas kau akan berhenti jadi dokter? Cepat katakan! Katakanlah, Beruang Berengsek!” rengek Ik Jun mengoyang-goyangkan badan Suk Hyung.
“Kukatakan bila kau melepaskanku... Untuk apa aku bekerja di sana? Aku sudah menolak dan menyerahkannya ke manajer profesional.” Kata Suk Hyung. Jung Won memujinya begitu juga Song Hwa merasa Suk Hyung tak perlu melakukannya.
“Menurutku, tak ada salahnya mencoba jadi presdir di pertengahan akhir hidupmu.” Kata Jun Wan. Ik Jun pikir itu salah
“Salah apanya? Kapan bisa dipanggil "Presdir"? Coba dahulu. Kau bisa kembali bila gagal.” Kata Jun Wan
“Itu buang-buang waktu... Waktuku terlalu berharga. Aku ingin hidup... sambil melakukan apa yang kusuka dan kuinginkan sekarang juga. Itu alasan aku ingin main band. Kalian... kumanfaatkan.” Kata Suk Hyung
Semua sempat terdiam mendengarnya, lalu tertawa mereka pikir Suk Hyung Jangan bercanda dan Omong kosong. Jun Won pikir Suk Hyung itu salah makan jad bisa Tidak masuk akal. Ik Jun pun tak percaya dengan si beruang. Semua pun tertawa melihat sikap Suk Hyung. 



Song Hwa memecahkan telur lalu meminumnya, Ik Jun bertanya kenapa Song Hwa memakan telur mentah. Song Hwa mengaku kalau akan menyanyi sebait dan langsung mencoba pita suara.
Mereka pun menyanyi bergantian, dengan Ik Jun lalu Jun Wan dan akhirnya Song Hwa walaupun masih tetap fals,tapi latihan mereka berjalan dengan sangat baik. 

[ 24 DESEMBER 2019 - PUKUL 11.20]
Jung Won masuk ke dalam ruangan PICU, Dokter Jang menatap Jung Won dengan wajah gugup. Akhirnya Jung Won keluar dan kaget melihat yang datang. Ibu Ji Hyeon meminta anaknya ucapkan salam dan mengatakan "Terima kasih sudah menyelamatkanku, Dokter." Ji Hyeon membungkuk dan langsung berlari memeluk Jung Won.
“Ji-hyeon, perutmu tak sakit lagi? Apa Baik-baik saja?” tanya Jung Won. Ji Hyeon mengaku tidak sakit sama sekali.
“Anak pintar... Hari ini bukan jadwal rawat jalan, kenapa kemari?” tanya Jung Won.
“Hari ini malam Natal. Kau orang yang paling ingin kami temui di Malam Natal.” Ucap Ibu Ji Hyeon. Jung Won terharu mengucapkan Selamat Natal juga pada Ji-hyeon.


Jun Wan memberitahu pasienya Sudah membaik dan meminta agar Datanglah ke IGD kapan pun jika terasa demam atau tidak nyaman. Ia pun pamit dan akan bertemu saat rawat jalan dua pekan lagi karena akan lepas benangnya saat itu. Orang Tua  pasien pun mengucapkan Terima kasih.
“Nak,.. apa yang paling ingin kau lakukan begitu ke luar rumah sakit? Ayah beri apa pun yang kau mau. Kau hampir tiada. Apa pun akan ayah lakukan.”ucap Sang ayah.
“Kimchi-jjigae. Aku mau makan kimchi-jjigae buatan Ibu.” Kata Sang anak dengan senyuman. Mereka tak percaya anaknya hanya meminta itu.
“Ya. Aku mau makan di rumah. Itu yang paling ingin kulakukan.” Kata sang anak. Ibunya pun juga merasakan hal yang sama. 

Ik Jun masuk ke ruangan Tuan Lee yang sedang makan memberitahu kalau Besok bisa pulang. Ik Jun tak percaya mendengarnya. Ik Jun memberitahukalau Rumah sakit sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk Tuan Lee jadi bisa keluar besok.
“Terima kasih... Semua ini berkatmu, Dokter.” Kata Tuan Lee menahan rasa harunya. Ik Jun tersenyum
“Dong-ju... Selamat Natal.” Ucap Ik Jun. Dong Jun masih sibuk bermain, ibunya hanya bisa tersenyum
“Ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan. Selamat Natal.” Ucap Ik Jun mengoda lalu keluar dari ruangan. 

Ik Jun memberikan Pertanyaan dilorong pada juniornya, Apa indikasi transplantasi lever. Hong Do menjawab Gejala gagal lever kronis, gagal lever akut, kanker lever, dan lain-lain. Ik Jun membenarkan, lalu tak percaya kalau  Hong Do itu sudah belajar.
“Ya. Kurasa kau akan bertanya hari ini.” Ucap Hong Do. Ik Jun memujinya  menurutnya Dokter harus banyak belajar.
“Pasien tidak hidup karena keramahtamahan. Aku akan terus beri satu pertanyaan. Jika salah, esoknya kuberi dua.” Kata Ik Jun. Hong Do pun tersenyum bahagia. 

Di ruangan Suk Hyung, seorang suami menangis. Suk Hyung pikir Ini berita baik jadi Kenapa menangis. Sang Suami mengaku merasa bersalah kepada istrinya karena Selama ini dia menderita beban mental, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
“Dokter, bisa tolong kau ulang lagi?”kata sang istri yang sebelumnya frustasi karena kehamilanya.
“Masa kekhawatiran persalinan prematur kini sudah berlalu. Janin pun berkembang baik dengan berat 1,5 kilogram. Sampai saat ini kondisinya stabil. Kemungkinan besar aman sampai masa hamil tua. Kini kau boleh beraktivitas ringan seperti ibu hamil lain, jangan hanya berbaring.” Jelas Suk Hyung.
Si istri hanya bisa menangis haru dan mengucapkan terimakasih. Dokter Chu pun ikut terharu karena tahu perjuangan pasangan ini.  Suk Hyung pikir mereka Ksudah bertahan sampai titik ini.

Jung Won pun ikut menyanyi sambil menabuh drumnya, seperti kembali mengungkap perasanya.
[25 DESEMBER 2019 -PUKUL 18.30]
Jun Wan mencari gunting kuku di ruangannya lalu mencari dilaci Suk Hyung dan tatapan terdiam seperti melihat sesuatu. Akhirnya Ia keluar dari ruangan karena petugas memberitahu kalau Ada paket untuknya. Jung Won merasa tak sedang menunggu paket.
“ Ya... Ternyata paket yang dikembalikan.” Kata Petugas.
Jun Wan duduk terdiam di ruangan melihat kotak yang seharusnya untuk Ik Sun tertulis [RETUR - PENERIMA TAK DIKENAL] Wajahnya kebingungan karena berpikir Ik Sun tak mau menerima hadiahnya, akhirnya ia pun keluar dari ruangan. 

Jung Won sedang memakai jasnya, mendengar suara ketukan pintu. Ia pun bertanya siapa. Dokter Jang menjawab ia yang datang. Akhirnya keduanya pun berdiri berhadapan dalam diam. Akhirnya Jung Won bicara lebih dulu apa apa menemuinya.
“Dokter Ahn. Aku... Dokter, aku... suka padamu.” Ucap Dokter Jang memberanikan diri. Jung Won hanya bisa terdiam.
“Maafkan aku... Kenapa aku menangis? Maafkan aku... Maaf... Aku tahu aku lancang.” Ucap Dokter Jang terus terunduk sambil menangis
“Tak bisakah kau tetap bekerja di rumah sakit, dan jangan menjadi pastor? Kumohon tetap di sampingku, alih-alih di samping Tuhan, Dokter. Mohon maaf... Maaf, Dokter.” Ucap Dokter Jang.
Jung Won yang sedari tadi hanya diam saja, akhirnya mendekati Dokter Jang. Ia mengelus kepala Dokter Jang dan akhirnya menjawab dengan memberikan ciuman pada Dokter Jang. 


Flash Back
Ik Jun bertanya Sejak kapan Dokter Jang suka Jung Won. Dokter Jang pikir sudah jelas. Ik Jun menduga Cinta pandangan... Dokter Jang tersenyum mengaku  Sejak kali pertama mereka bertemu.
“Aku jatuh cinta... pada pandangan pertama.” Kata Dokte Jang. 

Di ruangan, senior memberikan Dokter Jang roti dan susu untuknya. Dokter Jang pun mengucapkan Terima kasih dan mulai makan. Dua dokter pun membahas kalau ada dokter spesialis baru hari ini, mereka tahu kalau  itu dari Pusat Medis Kangwoon
“Dokter spesialis Bedah Anak.”kata Dokter pertama. Dokter kedua  berkomentar Dokter spesialis Bedah Anak yang amat langka itu.
“Konon dia biasa operasi dan mengobati pasien sendirian. Jadi, tak perlu khawatir urusan Bedah Anak. Lain kali pilih operasiku...” ucap si dokter dan senior lagi datang. 
“Perkenalkan, Semuanya! Dokter spesialis Bedah Ana yang resmi bekerja hari ini, Ahn Jung-won.” Ucap Senior.
“Senang bertemu kalian.” Sapa Jung Won. Saat itu Dokter Jang terpesona melihat Jung Won dengan mulut berlepotan krim.
“Dia dokter residen Bedah Umum satu-satunya, Jang Gyeo-ul.” Kata Senior. Jung Won pun mengulurkan tangan.
“Mohon bantuanmu. Aku Ahn Jeong-won.” Kata Jung Won. Dokter Jang pun menjabatnya terlihat gugup.  Jung Won pun menyapa dua senior lainya, sementara Dokter Jang terdiam seperti merasa jantungnya berdegup dengan kencang. 


Ik Jun memberitahu kalau Gyeo-ul ada di IGD sekarang. Dokter Chu yang mendengarnya kaget dan ingin tahu kenapa. Ik Jun memberitahu Sekarang sudah membaik setelah disuntik tapi ia merasa Dokter Jang itu mengalami anafilaksis karena OAINS.
“Wajahnya bengkak 30 menit setelah minum obat menstruasi, lalu sesak napas. Dia pingsan perlahan seperti di film.” Kata Ik Jun
“Astaga! Aku pergi dahulu.” Kata Dokter Chu panik. Ik Jun memberitahu kalau Dokter Jang itu sudah jauh membaik dan Mungkin dia sedang tidur.
"City Hall Subway Station" cocok untuk besok, 'kan?” kata Ik Jun. Suk Hyung membenarkan kalau Lagu Zoo bagus.
“Malam ini aku harus berlatih.” Kata Ik Jun, Saat itu Jung Won hanya terdiam akhirnya berdiri.
“Tolong bereskan punyaku. Aku pergi dahulu.”kata Jung Won lalu bergegas pergi. Ik Jun dan Suk Hyung hanya bisa melonggo bingung. 
Di depan ruangan IGD, Jung Won kebingungan mondar mandir didepan pintu. Saat itu seorang perawat melihat Jung Won berpikir kalua kemari karena Dokter Jang Gyeo-ul, lalu memberitahu kalau sudah jauh membaik dan mengajaknya masuk.
“Tidak perlu. Aku harus pergi karena ada panggilan.” Ucap Jung Won berpura-pura menatap ponselnya. Perawat pun menganguk mengerti
“Tunggu.. Tolong titip... Dokter Jang Gyeo-ul.”kata Jung Won. Perawat menganguk mengerti. 



Song Hwa memberitahu kalau Orang yang lebih bahagia melihat orang lain makan dengan bahagia adalah Jung Won. Jung Won menyangkal seperti itu. Song Hwa menegaskan kalau Jung Won seperti itu dan menyimpulkan kalau keputusannya itu bagus.
“Menetaplah di rumah sakit dan selamatkan lebih banyak nyawa.” Ucap Song Hwa.
“Jangan bilang yang lain dahulu. Ada orang yang ingin kuberi tahu lebih dahulu.” Kata Jung Won dengan senyuman
“Musim dingin tiba. Musim dingin yang kita tunggu tiba.” Kata Song Hwa membuka jendela ruangan. 

Jun Wan membuka laci Jung Won terdiam, wajahnya tersenyum bahagia karena semua peralatan pastor temanya sudah tak ada. Ia pun tahu kalau Jung Won tak ingin lagi menjadi pastor.
Di ruangan, Jung Won menatap Dokter Jang yang baru saja menyataka perasanya, akhirnya ia kembali mencium dengan diluar terlihat salju yang turun makin deras. Keduanya pun berpelukan seperti tanggal 25 desember menjadi hari jadian mereka. 

Suk Hyung baru keluar ruangan membaca pesan dari ponselnya [Dokter Yang, aku Min-ha. Apa malam ini kau ada janji? Jika tidak, mari makan di restoran steik depan rumah sakit. Pukul 19.30. Jangan merasa terpaksa. Kau boleh tidak datang.
[Aku bisa makan dengan teman yang tinggal dekat sini jika kau tak bisa. Meski begitu, kuharap kau datang.]
Suk Hyung membalas [MAAF, MAKANLAH DENGAN TEMAN-TEMANMU, SELAMAT NATAL] Tapi akhirnya menghapusnya dengan menuliskan [MAAF. MAKANLAH DENGAN TEMAN-TEMANMU] Ia terdiam karena melihat nama yang  menelp di ponselnya.
Ia melihat nama YOON SIN-HYE yaitu mantan istrinya dan langsung bergegas keluar rumah sakit sambil mengangkat telpnya.
[THE END – Sampai Jumpa di Season 2 Tahun Depan]

Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Sinopsis Hospital Playlist Episode 12 Part 3

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Song Hwa bersama Dokter Ahn dan Yong Bok keluar dari ruangan. Song Hwa menceritakan pada Dokter Ahn kalau  kaget melihat nama pasien tadi. Dokter Ahn ingin tahu alasanya. Song Hwa menceritakan kalau Namanya sama dengan pasien yang wafat saat residen tahun keempat.
“Apa Dokter ingat semua nama pasien?” tanya Yun Bok tak percaya mendengarnya.
“Itu... Aku terus berada di sisinya sejak masuk IGD, operasi, hingga wafat di Unit Perawatan Intensif. Aku kira dia akan selamat. Jadi, aku selalu berada di sisinya selama sepekan lebih sambil dimaki atasan. Namun, akhirnya dia wafat.” Cerita Song Hwa
“Dia pun menderita pendarahan subaraknoid. Aku amat merasa bersalah kala itu. Aku merasa dia wafat karena aku. Aku berpikir dia mungkin selamat bila aku lebih pintar. Dia begitu anggun. Wajah dan namanya masih jelas... di benakku. Namanya juga Baek Seon-jeong.” Kata Song Hwa.
“Ternyata kau, Dokter Chae... Tak kusangka itu kau... Dokter Chae.” Ucap Yun Bok menangis memeluk Song Hwa.
“Yun-bok... Apa Ada masalah? Kenapa? Kau kenapa?” tanya Song Hwa bingung Yun Bok menangis memeluknya.
“Aku rindu ibuku... Dokter Chae... Aku sangat rindu ibuku.” Ucap Yun Bok. Song Hwa tak percaya mendengarnya.
“Astaga... Kau sudah tumbuh dewasa. Ibumu... pasti bangga melihatmu dari surga. Kenapa menangis? Ibumu bisa sedih... Berhenti menangis.” Ucap Song Hwa menenangkan. 


Dokter Ahn berjalan di lorong dan kaget melihat Pak Kim Hyeon-su berdiri menunggunya. Tuan Kim pun menyapa Dokter Ahn dengan wajah bahagia mengaku sedang menunggunya. Dokter Ahn bingung. Tuan Kim menceritakan  menanyakan nomornya ke rumah sakit, tetapi tidak bisa.
“Lantas aku nekat menunggu di depan sini. Tahun ini aku amat beruntung.” Kata Tuan Kim.
“Sepertinya begitu. Omong-omong, wajahmu tampak begitu cerah. Tak seperti orang yang menjalani operasi otak tiga bulan lalu.” Komentar Dokter Ahn.
“Terima kasih. Dokter... Ini untukmu. Aku tahu para dokter dilarang menerima hadiah. Meski begitu, aku mohon terima ini.” Kata  Tuan Kim. Dokter Ahn melihat kotak berisi pena dan hanya bisa tertawa.
“Ini tidak mahal. Tak sampai 20.000 won. Pekan depan, aku kembali ke kepolisian.” Kata Tuan Kim.
“Astaga. Selamat!” ucap Dokter Ahn ikut senang. Tuan Kim pikir Hanya pekerjaan kantoran dan masih bekerja seperempat hari.
“Walau begitu, kukira aku tak bisa kembali ke kepolisian. Aku bisa kembali bekerja berkatmu. Tolong simpan pulpen ini di antara pulpen-pulpen yang ada di saku dadamu.” Kata Tuan Kim
“Bila kau mengalami kesulitan, lihat pulpen ini dan bersemangatlah. Ingat ada pasien yang selamat berkatmu. Bersemangatlah dan jangan putus asa. Kau pasti sibuk. Aku permisi. Sampai jumpa saat janji temu.” Kata Tuan Kim. Dokter Ahn menganguk akan bertemu saat rawat jalan.


Ik Jun akhirnya keluar dari RUANG OPERASI, Istri Tuan Lee dan akannya menanyakan operasinya apakah Semua lancar. Ik Jun mengangu dan memberitahu Pendarahan pun tak banyak dan Meski baru dapat dipastikan setelah bangun dan tes darah, tetapi tak ada masalah saat operasi.
“Kau Tidak perlu khawatir. Satu hambatan besar sudah teratasi” ucap Ik Jun
“Terima kasih banyak, Dokter. Ini sungguh keajaiban. Seumur hidup aku akan berterima kasih kepada donor yang meninggal. Terima kasih banyak.” Ucap Istri Tuan Lee menangis haru.
“Operasi ayahmu lancar.” Ucap Ik Jun berbicara dengan anak Tuan Lee mengunakan bahasa isyarat.
“Ayahku tidak sakit lagi?” tanya Anak Tuan Lee. Ik Jun menjawab Sekarang sakit sedikit.
“Namun, dia akan membaik sedikit demi sedikit. Tidak perlu khawatir.” Kata Ik Jun. Anak Tuan Lee pun mengucapkan Terima kasih.
“Aku jauh lebih berterima kasih.” Kata Ik Jun dengan senyuman lebar. 


Flash Back
Anak Tuan Lee sibuk bermain, Istri Tuan Lee menangis Dokter meminta Setelah menjalani tes dan setelah hasilnya keluar, agar beri tahu mereka bahwa tidak cocok. Ia terus menangis meminta maaf. Ik Jun melihat anak Tuan Lee lalu menuliskaan pada kertas dan memanggil Dong-ju.
Dong Ju membaca tulisan [PELUK IBUMU ERAT-ERAT!] dan langsung memeluknya. Nyonya Lee pun menenangkan anaknya kalau baik-baik saja. Ik Jun seperti merasa terharu dengan keluarga pasienya. 

Jung Won meminum kopi sambil melamun. Song Hwa terus menatap dengan senyuman. Jung Won mengeluh ada apa dengan senyumannya. Song Hwa tahu Ada yang ingin dikatakan dan Ada yang mengusik hatinya. Jung Won menyangkalnya.
“Aku juga setuju... Aku juga setuju dengan pemikiranmu saat ini.”kata Song Hwa dengan senyuman.
“Kau bisa baca pikiran, ya?” ucap Jung Won tak percaya. Song Hwa menegaskan kalau dijuluki "Setan".
“Menurutku, ada tiga tipe orang di dunia ini. Orang yang paling bahagia saat dia makan enak. Contoh paling mewakili, Lee Ik-jun dan Kim Jun-wan.” ucap Song Hwa.

Di ruangan istirahat dokter, Ik Jun sedang makan mie. Jung Wan yang kelelehan datang langsung menyambar mie diatas meja. Ik Jun mengeluh kalau itu mie miliknya dan mengaku belum makan hari ini jadi menyuruh agar membuat yang baru.
“Kau saja yang buat baru. Aku lelah.” Ucap Jun Wan mengambil sumpit dan langsun memakan mienya.
“Kau pikir aku segar seperti ikan hidup?” teriak Ik Jun kesal. Jun Wan hanya bisa tertawa mendengarnya.  Keduanya pun saling berebutan makan mie instant. 

“Lalu ada orang yang senang makan sendiri. Mungkin sekarang pun Suk-hyung sedang makan mi sendirian sambil menonton”kata Song Hwa.
Di ruangan,  Suk Hyung tertawa sendir menonton New Journey to the West sambil memakan mie instant. Saat itu pintu ruangan diketuk, Suk Hyung terlihat panik. Dokter Chu datang dengan membawa ramyun.
“Rumor kau makan mi terdengar sampai ke residen  yang piket malam di Kantor Medis. Jadi, aku kemari untuk menemanimu makan. Aku boleh makan bersamamu?” kata Dokter Chu.
“Itu... Baiklah.”ucap Suk Hyung setelah berpikir sejenak. Dokter Chu akhirnya masuk menaruh mie meja mengeluarkan minuman lalu menambkan sosis juga.
Suk Hyung hanya terdiam saat mienya dipindah ke meja lain agar bisa makan bersama, Dokter Chu pun mempersilahkan Suk Hyung agar makan kembali. Suk Hyung tersenyum lalu mengeser kursinya. 

“Yang terakhir kau. Orang yang lebih bahagia melihat orang lain makan dengan bahagia.” Ucap Song Hwa.
“Aku tidak begitu.” Ucap Jung Won mengelak tapi Song Hwa tahu kalau Jung Won itu seperti itu.
[3 DESEMBER 2019 - PUKUL 22.22]
Ik Jun melihat jam tanganya kalau sudah pukul 22.00 lebih dan Ik-sun pasti masih di pesawat bahkan tidak sempat meneleponnya. Jun Wan langsung berdiri dengan wajah panik dan langsung bergegas keluar ruangan. Ik Jun bingung apa yang terjadi dengan temanya.

Jun Wan mencoba menelp Ik Sun tapi ponselnya sudah tak aktif lagi. Ia pun hanya bisa tertunduk membaca banyak pesan yang dikirimkan Ik Sun pada ponselnya.
[Aku sungguh tak apa. Jangan memaksakan diri jika sibuk.] [Aku baru berangkat dari rumah. Aku hubungi sesampainya di bandara.] [Aku sudah di bandara. Tak ramai. Proses lapor masuk pasti cepat selesai. ] [Ibu dan Ayah menangis. Aku juga menangis. Lapor masuk selesai. Aku masuk sekarang.]
[Aku ingin dengar suaramu. Kau sedang operasi darurat, ya?] [Waktu berangkat masih sangat lama.] Tak perlu buru-buru telepon aku setelah operasi.] [Lima menit terakhir. Padahal aku ingin dengar suaramu. Sayang sekali.]
[Aku sudah di dalam pesawat. Ponsel harus kumatikan. Kau baik-baik saja, 'kan? Tidak apa kalau sedang operasi. Aku hanya khawatir kau tak baca pesanku karena ada masalah.] [Dah! Ini yang terakhir. Aku telepon saat sampai. Aku mencintaimu, Jun-wan.] 

Jun Wan frustasi saat ada yang mengetuk pintunya menjawab tidak ada siapa-siapa dan Siapa pun jangan masuk. Tapi Dokter Do membuka pintu memberitahu kalau Drainase pasien di bawah 100 per jam jadi merasa tak berdarah lagi, Tanda vital pun stabil.
“Tadinya aku hendak menyampaikan langsung berita baik ini.” Ucap Dokter Do lalu pamit pergi.
“Jae-hak... Ayo kita cari udara segar. Kepalaku sakit sekali.” kata Jun Wan frustasi. 

Di taman, Dokter Do menceritakan ikut CSAT empat kali, ujian profesi enam kali, Total sepuluh tahun. Ia paling percaya diri urusan belajar tapi tidak bakat tes atau praktik karena pengecut, tetapi ahli jika harus duduk dan belajar, serta mengingat seharian.
“Karena itu, aku yakin bisa sukses jika menjadi dokter yang harus banyak belajar. Kupikir aku takkan kalah dari orang lain jika menjadi dokter. Jadi, aku giat belajar dan berhasil menjadi dokter.”cerita Dokter Do
“Namun, ternyata pekerjaan ini bukan hanya mengharuskan belajar, juga harus bisa memutuskan. Setiap hari dan setiap saat adalah keputusan. Operasi pun keputusan dan pilihan. Saat pasien memburuk, harus pasang paru-paru buatan atau bawa dia ke Ruang Operasi?”kata Dokter Do
“Aku sulit membuat keputusan setiap saat. Kekurangan terbesarku adalah kemampuan untuk memutuskan, Dokter. Aku punya banyak pengetahuan, tetapi tak tahu kapan dan bagaimana menerapkannya.”ucap Dokter Do
“Bagaimana ini, Dokter? Nyawa pasien bergantung pada keputusanku. Bagaimana jika keputusanku salah? Ke depannya, aku harus sering mengambil keputusan. Aku tidak percaya diri. Apa yang harus kulakukan di saat itu?” kata Dokter Do
“Tanya saja. Saat kau kewalahan karena harus mengambil banyak keputusan, tanya kepadaku beberapa yang tersulit. Sebisa mungkin akan kujawab jika tidak sibuk.” Kata Jun Wan.
“Omong-omong, Jae-hak. Aku ingin memberi ini kepada pacarku, tetapi dia tak suka hal macam ini. Sebentar lagi Natal. Aku ingin mengirimnya sebagai hadiah Natal. Apa boleh kukirim ini? Apa aku terlalu memaksanya?”kata Jung Wan ragu.
“Tanya saja.. Tanya kepada pacarmu... Kalian saling mencintai, 'kan? Apa Bertepuk sebelah tangan?” tanya Dokter Do. Jun Wan mengelengkan kepala.
“Kalau begitu, tanya. Dia pasti menjawab. Jika diperhatikan, kau payah urusan pacaran... Astaga, kau membuatku geregetan.” Ejek Dokter Do lalu berjalan pergi. Jun Wan menatap sinis. 



Ik Jun membantu U Ju memakai jaket dengan kuping seperti kelinci lalu menasehati anaknya agar menuruti kata Bibi Wang dan Tahan sepuluh hari saja, meski merindukan ayahnya. U Ju bertanya  Sepuluh hari itu berapa hari?
“Sepuluh hari itu lebih banyak daripada sembilan hari, lebih sedikit daripada 11 hari.” Kata Ik Jun tak bisa menjelaskan pada anaknya.
“U-ju, Ayah akan pulang setelah kesepuluh jarimu sudah terlipat semua.” Kata Bibi Wang
“Kau memang hebat, Bi!”puji Ik Jun. Bibi Wang pun memastikan kalau Ik Jun takkan bekerja saja di sana. Ik Jun menganguk.
“Kau harus cukup tidur, juga berbelanja di sana.”pesan Bibi Wang, Ik Jun menganguk kalau akan istirahat sekitar dua atau tiga hari.
“U-ju, buat akrostik dari kata "Ayah". Kemarin belajar di TK, 'kan? Kita mulai. "A". “ kata Ik Jun mengendong ayahnya.
“Ayah.” Ucap  U Ju. Ik Jun pun ingin tahu "Yah". U Ju menjawab “Dadah!”
“Wahh.. Kurasa U-ju harus didaftarkan anggota Mensa! Dia sepandai Shakespeare.” Ucap Ik Jun bangga
“Aku pikir juga begitu kemarin... U-ju, kita coba kata "Bibi", ya?”kata Bibi Wang menyebut "Bi".
U Ju menjawab bibi.. Bibi Wang menyebut “Bi” dan U Ju kembali menjawab “Dadah!” Ik Jun seperti salah tentang anaknya. Bibi Wang pikir  Jemputan TK pasti sudah datang dan meminta agar memberikan salam pada ayahnya. U Ju pun membungkuk memberikan salam.
“Ayah, bawakan banyak cokelat dan kudapan saat pulang.” Bisik U Ju. Ik Jun kegelian mendengarnya lalu membalas kalau akan membawakanya. U Ju pun melambaikan tangan pada ayahnya. 


Jun Wan berbicara di telp pada Ik Sun agar memakainya tiap hari. Ik Sun pun meminta Jun Wan juga, dan memastikan . Alamat sudah ditulis dengan tepat dan Jangan sampai salah kirim. Ia memberitahu kalau Alamat di sini rumit dan Kurir sering salah kirim.
“Sudah kuperiksa tiga kali. Mustahil salah. Lekas tidur. Di sana masih dini hari.” Ucap Jun Wan.
“Baiklah... Dah, Jun-wan. Aku mencintaimu.” Kata Ik Sun. Jun Wan pun membalas dengan senyuman bahagia menutup telpnya. 

Di ruangan, Yun Bok dan Dokter Heo sedang menonton video operasi. Dokter Yong datang, Yun Bok pun menyapa seniornya. Dokter Heo bertanya alasan Dokter Yong datang ke rumah sakit, Dokter Yong mengaku Ada satu hal yang belum kuserahterimakan kepada Dokter Ahn Chi-hong.
“Hari ini Chi-hong pindah rumah. Sudah kubelikan dia hadiah pindahan, tetapi malah lupa.” Kata Dokter Yong lalu sedikit mendekat pada Dokter Heo
“Apa Nanti malam kau senggang?” tanya Dokter Yong. Dokter  Heo bingung  Yun Bok merasa tak enak hati diantara keduanya.
“Aku tahu kau tidak piket.” Ucap Dokter Yong. Dokter Heo mengaku tak ada janji khusus.
“Apa Mau makan malam bersama?” kata Dokter Yong. Yun Bok makin tak enak hati.
Akhirnya Ia berpura-pura mengangkat telp dari Hong Bo yang sakit dan bergegas keluar, tapi ponselnya malah berdering saat keluar ruangan. Ia pun menahan malu memilih untuk segera pergi.
“Hubungi aku saat usai bekerja. Kita bertemu di lobi.” Ucap Dokter Yong. Dokter Heo pun menganguk setuju. 


Song Hwa mengeluarkan kardus diteras sambil mengeluh bertanya sebenarnya ada apa datang kemari dan belum pergi juga. Ik Jun dengan setelan jas melihat ke arah jendela berkomentar Pemandangan di sini bagus.
“Aku juga ingin konsultasi satu hal. Masih tersisa lima jam. Jadi Dengar baik-baik.” Kata Ik Jun
“Aku punya teman. Dia teman lamaku. Tapi Aku kini menyukainya. Rasanya akan canggung bila aku menyatakan cinta. Namun, jika kali ini gagal lagi menyatakan cinta, maka aku takut menyesal selamanya.Jadi Aku harus bagaimana?”kata Ik Jun. Song Hwa terdiam karena tahu orang itu pasti tertuju padanya.
“Tidak perlu buru-buru. Kau bisa jawab saat aku pulang. Aku pergi.” uacp Ik Jun berjalan pergi. Song Hwa hanya bisa terdiam.
***
Bersambung ke part 4

Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09