PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 13 Desember 2019

Sinopsis Love With The Flaws Episode 12

PS : All images credit and content copyright : MBC

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Hyun Soo masuk ke ruangannya sambil memegang lenganya berpikir akan menuntutnya. Tapi ia pikir tak perlu karena Ini salahnya. Kang Woo tiba-tiba masuk ke ruanganya, Hyun Soo menatap temanya memberitahu hendak meneleponnya tapi lengannya sakit. Kang Woo langsung menatap sinis.
“Aku bisa menjelaskan... Hei, tenanglah.” Kata Hyun Soo panik meminta Kang Woo agar tenang. Kang Woo mulai berjalan mendekat
“Tidak! Jangan ikuti aku!” ucap Hyun Soo berlari kencang dan menutup pintu karena melihat Kang Woo sangat menakutkan. Tiba-tiba pintu disampingnya didobrak.
“Hei... Apa Kau tahu berapa harga pintu ini?” teriak Hyun Soo panik. Kang Woo tak peduli langsung mencengkram baju Hyun Soo.
“Aku hanya mencoba membantu. Aku tidak mengira ada kemungkinan kecil kamu...” ucap Hyun Soo ketakutan.
“Jadi, Apa Seo Yeon berusaha membantu dengan berpura-pura memacariku karena dia pikir kita berpacaran? Apa Dia tidak menyukaiku?” kata Kang Woo marah. Hyun Soo pikir itu mungkin. Kang Woo langsung tertawa seperti kehilangan pikiranya. 
“Hei... Apa Kau baik-baik saja?” ucap Hyun Soo khawatir. Kang Woo sambil tertawa kalau ini membuatnya gila.
“Hei, aku bilang kepadanya kau tidak berkaitan dengan ini, tapi dia tidak memercayaiku.” Jelas Hyun Soo.
“Jangan beri tahu dia. Kita merencanakan ini bersama. Aku tahu semuanya dari awal.” Ucap Kang Woo mengancam.
“Kenapa tidak boleh? Kubilang kepadanya kamu tidak ada hubungannya...“ kata Hyun Soo bingung
“Jangan beri tahu dia. Jika dia tahu,maka aku tidak akan pernah menemuimu lagi. Mengerti?” ancam Kang Woo. Hyun Soo menganguk mengerti. Kang Woo pun melangkah pergi.
“Kenapa aku memikirkan kebohongan sebodoh itu?” ucap Hyun Soo heran lalu tersadar dengan pintunya yang rusak. 

 Kang Woo menatap boneka rumput pemberian Seo Yeon lalu berkomentar kalau Seo Yeon Beraninya mengasihaninya. Ia teringat dengan pembicaraan Seo Yeon.
“Apa Kau merasa kasihan kepadaku, jadi, berpura-pura mengencaniku?” ucap Kang Woo. Seo Yeon membenarkan kalau Kang Woo  tampak serendah itu baginya.
“Tidak, aku bisa lebih rendah... Akan kutunjukkan kepadamu aku bisa serendah apa lagi... Seo Yeon.” Ucap Kang Woo seperti menyakinkan dirinya. 


Di atap gedung, Mi Kyung pun akhirnya memastikan kalau Hyun Soo dan Kang Woo mengarang kebohongan itu karena takut mereka akan mengincar uang keduanya.  Seo Yeon pun mulai menyadari sekali lagi bahwa pria tampanmemang sesuai penampilannya.
“Astaga, mereka pikir mereka siapa? Mereka tidak hanya menipu kita. Mereka menipu semua wanita dan komunitas LGBT negara ini. Haruskah kita unggah ceritanya di internet?” ucap Mi Kyung marah
“Tunggu, apa artinya Pak Lee tidak ada kaitannya dengan ini?” tanya Mi Kyung. Seo Yeon pikir mereka baru tahu dia seperti itu.
“Jadi, aku benar... Dia jelas menyukaimu...” ucap Mi Kyung lalu panik melihat Seo Yeon akan menaiki pagar pembatas.
“Hei! Apa yang kau lakukan?” teriak Mi Kyung menahan Seo Yeon agar tak melompat. Seo yeon meminta agar melepaskanya.
“Aku akan menggila akibat kemarahan dari lubuk hatiku.” Ucap Seo Yeon marah .
“Hei, jangan. Lupakan saja. Mereka seperti kotoran. Anggap saja kita menginjak kotoran. Itu hanya kotoran!” ucap Mi Kyung. Seo Yoen pun meminta agar melepaskanya. 



Di ruangan guru, Wakepsek berkomentar kalau Sulit dipercaya mereka semua begitu lesu sebagai guru dan tidak punya energi. Semua hanya diam saja, Mi Hyuk tersenyum, Min Kyung menatap Mi Hyuk seperti merasa bersalah menuduh sesuatu.
“Kalian semua bekerja seadanya dan berpikir, "Mungkin bukan aku." Kau sedang apa, Pak Oh? Apa Pikirmu aku tidak akan sadar kamu sedang memainkan ponselmu? Aku bisa melihat semuanya!” ucap Wakepsek terus mengomel.
“Baik, jadi, ujian tengah semester akan segera dilaksanakan” kata Wakepsek lalu kaget melihat Kang Woo yang datang.
“Ada apa kemari pukul sebegini?” tanya Wakepsek. Kang Woo mengaku  butuh bantuan.
“Kalau begitu, aku akan cari asisten. Hei, Ketua.” Kata Wakepsek memanggil si guru.
“Kau tidak perlu mempekerjakan orang lain.Aku bisa tahu siapa yang senggang.” Ucap Kang Woo. Seo Yeon langsung menutupi wajahnya Wakepsek ingin tahu siapa.
“Di sana... Kau tidak perlu membuat tes untuk pendidikan jasmani, kan?” ucap Kang Woo menunjuk Seo Yeon. Seo Yeon hanya menghela nafas panjang. 


Seo Yeon mengeluh mengikuti Kang Woo ingin tahu apa yang terjadi. Kang Woo menegaksan kalau inilah dirinya dan Seo Yeon pasti sudah mengenalnya. Seo Yeon terlihat bingung. Kang Woo membenarkan kalau mengajak Seo Yeon  berkencan.
 “Aku berpura-pura mengencani Hyun Soo untuk membalas dendam atas perbuatanmu dahulu. Jika aku mengajakmu berkencan,maka kau akan menolakku.” Jelas Kang Woo. Seo Yeon membenarkan.  
“Untuk apa aku memacarimu? Aku bukan orang yang kau sukai.” Kata Kang Woo.
“Karena itu aku berbohong. Lalu kenapa?!! Sulit dipercaya. Tapi kau memergokiku lebih cepat dari dugaanku. Jadi, karena kini kau memergokiku, kuputuskan untuk merundungmu di tempat terbuka.” Ucap Kang Woo. Seo Yeon hanya bisa melonggo.
“Kulihat kau adalah seorang guru kontrak... Kau bisa menyetir, kan? Periksa ban dan ganti oli mesinnya.” Ucap Kang Woo melempar kunci mobilnya. Seo Yeon berteriak marah.
“Apa Kau tidak mau? Kalau begitu, lupakanlah. Akan kutulis pengumuman perekrutan untuk guru olahraga baru.” Ucap Kang Woo lalu menulis di komputernya.
“Baiklah... "SMA Shinhwa sedang mencari guru olahraga baru. Jika kamu orang yang bisa melakukan semua permintaan bosmu, silakan..." ucap Kang Woo dan Seo Yeon langsung menyetujuinya.
“Sopan santun.” Kata Kang Woo. Seo Yeon pun setuju dengan memanggilnya “Pak”
“Ban dan oli mesin. Aku mengerti, Pak.”kata Seo Yeon dengan sopan. Kang Woo menyuruh Seo Yeon untuk menyelesaikan dalam satu jam.
“Aku harus pergi ke suatu tempat dengan mobil itu.” Ucap Kang Woo. Seo Yeon tak percaya kalau Kang Woo berharap ia menjadi sopirnya juga.
Kang Woo sudah siap untuk mengertik dikomputernya, Seo Yeon pun langsung menyetujuinya dan  akan melakukannya,  lalu keluar dari ruangan. Kang Woo memegang perutnya lalu mengeluh karena bertingkah lagi lalu mengumpat kesal pada Seo Yeon. 




Dokter Kim heran Kang Woo yang ingin bertemu di luar. Kang Woo mengaku harus terlihat sangat sibuk di sini, tapi tidak ada orang lain yang bisa ditemui. Dokter Kim bingung, Kang Woo melirk ke arah luar, dan Seo Yeon sedang duduk di dalam mobilnya.
“Apa Kau melihatnya?” ucap Kang Woo. Dokter Kim pun memastikan kalau wanita itu yang selama ini diceritakan Kang Woo.
“Apa dia menjelek-jelekkanku di depanku? Astaga, dia seperti preman.” Komentar Seo Yeon melihat keduanya yang ada didalam cafe menatapnya.
“Lalu perasaan untuk wanita itu... “ tanya Dokter Kim penasaran.
“Perbedaan antara perasaan suka dan kebencian seperti kertas tipis. Aku sudah merobek kertas itu.” Tegas Kang Woo. Dokter Kim seperti menahan amarahnya.
“Sepertinya masih ada banyak kertas tersisa.” Ucap Dokter Kim. Kang Woo bingung dan tiba-tiba Dokter Kim menyetuh bagian telinganya.
“Coba kulihat telingamu... Aku ingin tahu apa ada sesuatu di sana.” Kata Dokter Kim. Kang Woo binggung tiba-tiba telinganya di sentuh. 


Kang Woo kembali ke sekolah melihat Min Hyuk ada diruanganya, lalu berkomentar kalau sepupunya ada di ruangannya tanpa menyembunyikan dirinya dan ingin tahu alasanya. Min Hyuk ingin tahu alasan Kang Woo bersikap kejam kepada Bu Joo
“Kukira kalian berdua berteman... Bukankah begitu?” ucap Min Hyuk. Kang Woo menyuruh Min Hyuk Urus saja urusannya.
“Dia guru yang hebat.” Ucap Min Hyuk. Kang Woo mengeluh kalau tidak peduli. Min Hyuk tiba-tiba memanggil Kang Woo “Hyung”
"Hyung"? Kau tidak mau ada yang tahu bahwa kita sepupu. Bagaimana jika ada yang dengar? Kau mungkin harus pergi, Pak Lee. Bukankah aneh jika Pak Dirut dekat dengan dokter sekolah?” sindir Kang Woo.
“Urus urusanmu sendiri. Tidak masalah jika aku menindas atau bersikap kejam kepadanya. Ini rahasia di antara kami.” Kata Kang Woo. Min Hyuk tak bisa berkata-kata. 


Min Hyuk masuk ruangan dan melihat Seo Yeon duduk sambil makan wafernya. Seo Yeon meminta maaf karena makan tanpa minta izin. Min Hyuk tersenyum mengelurkan coklat lainya dan memperbolehkan Seo Yeon datang kapan saja.
“Pak Lee... Jika seseorang berbuat baik, mereka seharusnya diberkati, bukan? Menurutmu kenapa aku sebaliknya?” ucap Seo Yeon sedih
“Apa Kau baik-baik saja? Ada apa antara kau dan Pak Dirut?” tanya Min Hyuk penasaran.
“Sesuatu yang bertakdir buruk. Seperti permen karet yang tersangkut di rambut. Sangat rumit hingga satu-satunya cara mengangkatnya adalah dengan memotong rambut. Itulah yang terjadi antara kami. Terima kasih untuk camilannya.” Kata Seo Yeon lalu melangkah pergi.


Min Hyuk menatap sedih Seo Yeon lalu mengangkat telp dari neneknya. Nenek Han ingin tahu Apa Kang Woo baik-baik saja, karena berharap setidaknya dia punya setengah kemahirannya. Min Hyuk menjawab kalau Kang Woo baik-baik saja.
“Jaga dia baik-baik.. Kita harus segera berkumpul. Selamat tinggal.” Ucap Nenek Han
“Kenapa Ibu selalu tidak senang dengan Kang Woo?” keluh Nyonya Oh. Nenek han menegaskan harus punya pandangan objektif.
“Apa lagi yang dimiliki Kang Woo kecuali ketampanannya? Dia tidak punya pekerjaan atau kepribadian yang baik.” Ejek Nenek Han.
“Dahulu Min Hyuk seorang dokter, tapi sekarang, dia bekerja di bawah Kang Woo.” Balas Nyonya Oh
“Sekali dokter, tetap dokter... Omong kosong apa yang kau ucapkan? Jika dia mau, ibu bisa membangun rumah sakit sekarang juga hanya untuknya.” Kata Nyonya Oh
“Ibu, itu ide bagus. Min Hyuk selalu menjadi anak baik. Dia baik, pintar, dan rendah hati. Kang Hee dan Kang Woo itu anakku, tapi mereka terlalu tidak ramah.” Kata Tuan Lee. Nyonya Oh mengeluh dengan sikap suaminya.
“Sudah terlambat. Kita harus pergi. Kita akan terlambat.” Kata Tuan Lee bergegas pergi.
“Kau mau ke mana?” teriak Kang Hee tiba datang. Tuan Lee kaget anaknya pulang ke rumah.
“Tidakkah Ayah tahu ada janji makan malam dengan Whole Foods dari Inggris? Apa Ayah akan meninggalkan mereka?” ucap Kang Hee marah. Nenek Han bingung.
“Ibu kira kau tidak sibuk hari ini.” Ucap Nenek Han. Nyonya Han juga berpikir yang sama.
“Kamu memutuskan untuk ke spa bersama kami karena kamu senggang, bukan?” ucap Nyonya Oh
“Ya. Karena itulah... Terserah. Aku bukan boneka. Kau yang mengerjakan semuanya, jadi, kenapa ayah harus ke sana?” kata Tuan Lee kesal
“Lihatlah mata itu, Ibu.” Kata Kang Hee mengadu. Akhirnya Tuan Kang pun setuju akan pergi dengan wajah kesal. 



Di dalam mobil, Nyonya Oh pikir Kang Hee tidak perlu mengantar mereka. Kang Hee pikir ini sekalian lewat jadi akan mengirim Pak Kim ke sana untuk menjemput mereka berdua. Nyonya Oh menyuruh suaminya agar memesan risotto saffron karena ini sangat enak.
“Terserah... Tidak ada yang enak saat makan malam bisnis.” Kata Tuan Lee kesal
“Ibu, haruskah kita pergi ke restoran itu untuk makan malam nanti?” ucap Nyonya Oh. Nenek Han bertanya Di mana
“Restoran tempat Kang Woo melakukan kencan butanya.” Kata Nyonya Oh.  Kang Hee baru tahu Kang Woo pergi kencan buta
“Entah kenapa, dia menyetujuinya. Tapi dia pasti tidak menyukainya. Kencan butanya gagal. Tapi yang penting, dia setuju melakukannya.” Ucap Nyonya Oh
“Biarkan saja dia. Dia pasti punya rencana sendiri. Dia tidak sembarangan.” Saran Kang Hee.
“Ada apa? Dia memberitahumu sesuatu?” tanya Nyonya Oh penasaran. Kang Hee mencoba mengalihkan kalau sudah berada di tempat tujuan dengan wajah gugup. 


Seo Joon tertawa melihat hasil yang diperoleh Joo Hee dalam soal latihan. Joo Hee menatap sinis lalu membuka lembaran buku Seo Joon ternyata semuanya salah juga. Seo Joon mengaku kalau itu semua atau tidak sama sekali. Saat itu Won Seok keluar kamar.
“Halo, aku tidak tahu kamu di rumah.” Sapa Joo Hee bahagia melihat Won Seok
“Won Seok, Kakak mau berangkat sekarang? Makanlah. Kakak suka ubi.” Kata Seo Joon. Won Seok mulai memakan ubi.
“Ini Enak, bukan? Orang tua Ho Dol punya kebun ubi jalar.” Ucap Seo Joon. Won Seok bingung siapa itu.
“Tutorku. Kalian pernah bertemu.” Kata Seo Joon. Won Seok bingung karena membahas tutor privat tapi tak ada siapapun.
“Kami istirahat sejenak... Dia di kamar mandi.” Kata Seo Joon. Jooo Hee terus menatap Won Seok yang terlihat sangat tampan. 

Ho Dol baru saja keluar dari kamar mandi, Won Seok sengaja menunggu di lorong lalu berkomentar kalau Ho Dol pasti mengenalinya. Ho Dol panik lalu menyangkalnya. Won Seok tak percaya sambil berjalan memastikan kalau Ho Dol pasti mengingatnya. Ho Dol mengaku tak tahu.
“Jadi, kau hanya penasaran hari itu.” Ucap Won Seok. Ho Dol menyangkal kalau sungguh mengumpulkan keberanian.
“Jadi, kau ingat.” Kata Won Seok. Ho Dol panik lalu berjanji tidak akan bilang siapa pun.
“Aku tidak akan memberi tahu keluargamu. Aku akan berpura-pura tidak tahu, jadi, biarkan aku terus mengajari mereka.” Ucap Ho Dol. Won Seok melonggo bingung.
“Aku bukan tipe yang suka membocorkan rahasia orang lain. Aku berjanji akan merahasiakan ini. Sepengetahuanku, kita belum pernah bertemu di bar...Tidak pernah.” Kata Ho Dol lalu bergegas pergi dengan wajah ketakutan.
“Apa yang dia katakan? Merahasiakan apa?” ucap Won Seok bingung karena keluarganya sudah tahu.


Seo Yeon melihat foto dengan Kang Woo terlihat sangat sedih, Won Seok melihatnya lalu duduk disamping adiknya sambil bertanya apa yan harus dilakukan, apakah Seo Yeon mau kalau ia menghajarnya habis-habisan. Seo Yeon pikir Kang Woo bahkan tidak layak dihajar.
“Aku bodoh karena ditipu.” Kata Seo Yeon kesal. Won Seok pikir kalau adiknya itu hanya pacar palsu jadi itu pasti tidak ada masalah.
“Benar... Jangan cemaskan aku dan pergilah bekerja.”kata Seo Yeon. Won Seok pun pamit pergi. Seo Yeon lalu menghapus foto saat berdua dengan Kang Woo. 


Jang Mi melihat dengan teropongnya dari depan rumah, lalu bertanya-tanya kenaapa Seo Yeon murung sekali. Ia pun berpikir kalau pasti karena Kang Woo lalu menatap foto Kang Woo yang sudah ditempelnya lalu menegaskan tidak pernah menyukainya sejak awal.
Saat itu ponselnya berdering, si bibi bertanya Jang Mi dimana karena ibunya datang. Jang Mi panik langsung bergegas pergi.

Jang Mi masuk rumah tergesah-gesah lalu melihat ibunya sedang memilih pakaian. Ia lalu menyapa ibunya, sang ibu menatap pakaian anaknya lalu memberikan sebuah baju yang terlihat dengan model tua, lalu memberitahu  Usianya 47 tahun.
“Dia menceraikan istri ketiganya tiga bulan lalu karena perbedaan yang tidak bisa dikompromi. Dia punya 30 juta dolar. Waktu kita tidak banyak. Pakai ini dan keluarlah.” Ucap ibunya. Jang Mi tak bisa menolaknya. 

Seorang pria berkomentar kalau Baek Hyo Jung terkenal jahat karena punya 15 anak di luar nikah. Jang Mi hanya diam saja.  Si pria berkomenta anak Tuan Baek Mereka punya ibu yang berbeda dan Jang Mi anak selingkuhan kelimanya dan kebetulan seorang putri.
“Setidaknya kau harus menikahi pria kaya dan menguntungkan keluargamu. Bukankah begitu?” ucap Si pria terus menyindir Jang Mi. Jang Mi hanya terdiam.
“Ibumu memberikan ini kepadaku. Apa Kau mau naik?” ucap si pria memberikan kunci kamar hotel. 

Ibu Jang Mi menarik rambut Jang Mi dikamar mandi, terlihat sangat marah karena berani menolak dan seharusnya mengikutinya ke atas. Ia pikir itu tak sulit untuk tidur dengan pria itu lalu mengumpat marah sambil terus memukulnya, tiba-tiba Kang Hee datang menahan tangan ibu Jang Mi.
“Apa suamimu berselingkuh dengannya?” ucap Kang Hee. Ibu Jang Mi marah bertanya siapa wanita yang berani menahan tanganya.
“Minggir. Dia putriku.” Ucap Ibu Jang Mi. Kang Hee pikir itu bahkan lebih buruk.
“Teganya kau memukuli anakmu sendiri.”ucap Kang Hee marah. Ibu Jang Mi pun tak bisa berkata-kata menyuruh anaknya akan bicara lagi.
“Dia agak pendek... Kau pasti bisa mengatasinya. Seharusnya kau balas memukulnya.” Ucap Kang Hee. Jang Mi tak banyak bicara hanya bisa pamit dan langsung pergi. 


Jang M berjalan dengan rambut yang berantakan dan banyak orang yang menatap heran.  Ia pun akhirnya duduk di taman sambil memijat kakinya yang pegal karena sepatu heelnya. Tiba-tiba seseroang datang memberikanya sandal.
“Kamu menarik perhatianku dari tadi. Pergelangan kakimu pasti sakit sekali. Kau bisa memakai ini. Kubeli ini seharga tiga dolar, jadi, tidak apa-apa.” Ucap Seo Yeon. Jang Mi melonggo tak percaya Seo Yeon membantunya. 

Seo Yeon menghampiri Mi Kyung yang menunggunya. Mi Kyung mengeluh Seo Yeon itu belum belajar untuk tidak terlalu penasaran dari kesalahan masa lalunya. Seo Yeon hanya bisa tersenyum. Mi Kyung pikir wanita tadi tampak tidak asing. Seo Yeon pikir tak seperti itu
“Omong-omong, aku tidak melihat wanita yang dahulu ada di sini.” Ucap Mi Kyung. Seo Yeon bertanya Siapa
“Orang dengan nama paling jahat?” kata Mi Kyung. Seo Yeon menebak yang dimaksud Baek Jang Mi
“Kurasa dia sudah menemukan tempat berlindung.” Kata Seo Yeon. Mi Kyung pikir itu bagus lalu mereka kembai lari.
“Kita harus minum karena baru berolahraga. Mari makan sesuatu yang lezat.” Ucap Mi Kyung. Seo Yeon setuju mereka akan pergi ke restoran. 

Kang Woo sibuk membuat pola bajunya, Hyun Soo datang berkomentar sudah mendugnya kalau Orang bilang perpisahan adalah tenaga penggerak kerja keras dan memujinya. Kang Woo terlihat masih marah mengeluarkan guntingnya.
Hyun Soo ketakutan akhirnya pamit pergi lalu mengeluh Kang Woo itu bisa jadi amat pemarah. Ia lalu teringat sesuatu bertanya-tanya kenapa Kim Mi Kyung pendiam sekali belakangan ini sambl melihat ponselnya dan ragu kalau Mi Kyung akan membiarkan begitu saja. 

Seo Yeon dan Mi Kyung berjalan melewati penjual boneka rumput. Seo Yeon menatap sedih teringat saat ingin menukarnya lain kali. Tapi Kang Woo melarangnya dengan berkata “Jangan sentuh Pak Kentang tanpa izin.” Seo Yeon tak percaya kalau Kang Woo sudah memberikan nama.
“Apa Pak Kentang baik-baik saja? Dia tidak akan kejam ke Pak Kentang karena membenciku, kan?” ucap Seo Yeon sedih melihat tanaman yang diberikan pada Kang Woo.
“Ada apa? Kamu mau? Mau kubelikan satu?” tanya Mi Kyung. Seo Yeon tersadar lalu menolaknya.
“Benar juga. Apa Kau sudah menelepon Hyun Soo?” tanya Seo Yeon. Mi Kyung mengaku belum dan untuk apa menelpnya.
“Seseorang seperti dia hanya pantas didiamkan. Dia bukan manusia. Mana bisa aku bicara dengannya?” ucap Mi Kyung lalu berjalan pergi dengan Seo Yeon. 


Kang Woo melihat gambar wajah Seo Yeon yang selama ini tak bisa digambar lalu melihat foto saat bersama Seo Yeon dan mencoba menghapusnya. Akhirnya ia kembali olahraga dan teringat yang dikatakan Seo Yeon.
“Meskipun itu taruhan, aku merasa bersalah atas ucapan kejamku kepadamu. Karena itulah kali ini, aku ingin membantumu. Tapi kamu berbohong lagi?” ucap Seo Yeon marah
“Apa Kau pikir aku serendah itu?”tanya Kang Woo. Seo Yeon membenarkan menurutnya Kang Woo terlihat serendah itu di matanya.
“Tidak peduli betapa pun aku berubah, tidak masalah bagimu. Itu saja, kan?” Kata Kang Woo menatap wajahnya dicermin. 


Kang Woo melihat ponselnya bergetar lalu menghela nafas mengangkatnya, Wakepsek bertanya apakah Kang Woo tidak bekerja lagi hari ini. Kang Woo menjawab tidak. Wakepsek bingung untuk bicara lalu mengingatkan kalau ini tentang hidangan yang disebutkan tempo hari.
“Yang akan Anda traktir. Kami menjadwalkannya hari ini.” Kata Wakepsek.
“Apa aku harus ke sana?” tanya Kang Woo. Wakepsek pikir Kang Woo yang menyarankannya jadi aneh kalau...
“Baiklah... Kirimkan alamatnya.” Kata Kang Woo seperti ingin menutup telpnya. Wakepsek bingung karena Kang Woo yang menawarkan untuk mentraktir dan bukan ia yang minta ditraktir.
“Bagaimana caraku menyesuaikan dengan kemauannya? Dia serius?” ucap Wakepsek bingung dengan sikap Kang Woo yang berubah-ubah.
Kang Woo mendengar semuanya lalu mengatakan “Halo” Keduanya panik karena ternyata ponsel mereka masih tersambung dan langsung membuangnya dan buru-buru mematikan dengan wajah panik. 


Kang Woo kesal dan teringat kalau Seo Yeon juga akan hadir. Mi Kyung memastikan Seo Yeon Jangan membuat keributan karena Ia tidak ada dan Jika membunuh Kang Woo setelah berusaha tidak melakukannya, maka harus segera menghubunginya.
“Aku tahu tempat yang pas untuk mengubur mayat.” Kata Mi Kyung. Seo Yeon mengeluh mendengarnya.
“Kenapa makan bersamanya hari ini?” keluh Seo Yeon kesal. Mi Kyung pikr kalau ia tidak pergi ke rumah orang tuanya.
“Ini upacara peringatan kematian ayahmu. Kamu harus hadir. Jangan khawatir. Sampaikan salamku kepada ibumu.” Ucap Seo Yeon.
“Sebenarnya, dia sangat bersyukur. Ibuku berterima kasih kepadamu karena daging mahal itu.”kata Mi Kyung
“Ayah suka daging. Masaklah yang banyak untuknya. Sampai jumpa.” Kata Seo Yeon lalu melangkah pergi.
“Kenapa aku tidak bisa tenang? Aku merasa dia akan mabuk dan mendapat masalah hari ini. Haruskah kuminta seseorang untuk menjaganya?” ucap Mi Kyun khawatir.
Saat itu Min Hyuk lewat,  Mi Kyung pun langsung memanggilnya., Mi Hyuk menatap binggung tapi Mi Kyung dengan jarinya meminta rekan kerjanya itu mendekat. 


Seo Yeon menunggu didepan restoran, Kang Woo datang dengan mobilnya lalu melempar kunci mobil pada Seo Yeon kalau harus menyetir setelah makan jadi memperingatkan agar angan minum. Seo Yeon pikir Kang Woo bisa menelepon layanan sopir pengganti.
“Aku yang memutuskan.” Ucap Kang Woo sinis. Seo Yeon mengumpat kesal lalu masuk ke dalam restoran. 

Kang Woo duduk disamping Wakepsek dan para guru mencoba untuk makan, Seo Yeon duduk di meja yang berbeda dengan Min Hyuk. Kang Woo menatap sinis melihat keduanya seperti sangat dekat. Seo Yeon pun masih menatapnya.
“Seo Yeon, Apa kau mau minum?” ucap Min Hyuk akan menuangkan soju. Seo Yeon menolak Tidak hari ini.
“Begini saja. Biar kutuangkan minuman.” Kata Seo Yeon. Min Hyuk pun tak minum karena berkendara
“Pak Lee, kau pria yang sangat baik.” Ucap Seo Yeon, Min Hyuk terpana mendengar pujian Seo Yeon sampai menjatuhkan soju yang ada didekatnya.
Seo Yeon langsung mengambil tissue mengeluh kalau sojunya sayang karena tumpah, lalu mencicipi ditanganya yang terkena soju lalu merasakan kalau itu manis. Akhirnya ia tak peduli dengan larangan Kang Woo langsung meminum soju dan bir tanpa henti. 


Akhirnya Seo Yeon pun mabuk dan duduk di taman depan restoran mengajak bicara bunga yang ada di depanya. “Kamu cantik. Siapa namamu? Aku Joo Seo Yeon.” Saat itu Kang Woo datang memarahi Seo Yeon yang mabuk.
“Sudah kubilang jangan minum.” Ucap Kang Woo. Seo Yeon mengumpat marah merasa tak peduli dan menyuruhnya pergi.
“Apa-apaan kamu? Itu kotor!” kata Kang Woo panik melihat Seo yeon melemparnya tanah.
“Belajarlah dan jangan muncul di depanku..  Pergilah.” Ucap Seo Yeon.

Kang Woo melihat tangan Seo Yeon yang kotor langsung mengelap dengan sapu tanganya sambil mengejek Seo Yeon itu anak-anak karena bermain dengan tanah. Seo Yeon langsung menarik tanganya mengeluh kalau  sangat menjijikkan.
“Pulanglah sekarang.” Kata Kang Woo membantu Seo Yeon berdiri. Seo Yeon langsung melepaskan tangan Kang Woo.
“Sudah kuduga. Orang tidak berubah semudah itu... Kukira kau sudah berubah. Tapi kau belum berubah sama sekali.” ucap Seo Yeon marah
“Apa kamu buta? Bukankah ini sudah jelas? Aku benar-benar berubah!” teriak Kang Woo marah
“Tidak. Kau orang jahat sama seperti dahulu dan sekarang. Kau berbohong tentang perasaanmu.” Ucap Seo Yeon marah
“Hei, yang terjadi 15 tahun lalu...” ucap Kang Woo. Seo Yeon masih tak percaya kalau Kang Woo itu bisa tetap sama
“Aku berubah. Sungguh! Apa Kau tahu betapa keras usahaku untuk berubah?” ucap Kang Woo
“Ya. Kamu melakukannya. Seolah-olah perubahan 180 derajat saja tidak cukup, kau melakukan perubahan 360 derajat.” Kata Seo Yeon
“Ya, aku melakukan 360... Itu artinya aku sama. Kau tahu, tidak?” ucap Kang Woo
“Kau belum berubah sedikit pun. Aku tidak suka apa pun darimu. Tidak ada. Kau pria yang tidak pernah berubah. Kau tidak pernah berubah.” Tegas Seo Yeon
“Lantas, aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan agar kau menyukaiku?” tanya Kang Woo. Seo Yeon terlihat marah menunjuk ke arah Kang Woo dan saat itu tubuhnya langsung jatuh pingsan.
“Apa yang bisa kulakukan untuk memiliki hatimu?” ucap Kang Woo sedih dengan Seo Yeon sudah ada dipelukanya. 




Tiba-tiba Min Hyuk datang menarik Seo Yeon dipelukanya. Kang Woo bingung dengan yang dilakukan oleh sepupunya. Min Hyuk mengatakan akan mengantar Bu Joo ke rumahnya. Kang Woo tak percaya dengan sikap sepupunya.
“Kamu yang merundung dia. Apa yang kau lakukan sekarang?Apa Kau tidak tahu kenapa dia mabuk berat?” ucap Mi Hyuk marah
“Kubilang itu bukan urusanmu.” Kata Kang Woo. Min Hyuk tak peduli menegaskan kalau akan menjadikan itu urusannya.  Kang Woo hanya diam saja. 

Min Hyuk akhirnya membaringkan Seo Yeon di dalam mobilnya, Kang Woo menahan pintu mobil Min Hyuk sambil berkata “Apa yang kau lakukan? Kau pikir kau siapa? Tunggu, apa kau menyukai...” lalu terdiam. Min Hyuk menyuruh Kang Woo agar menanyakan saja.
“Kau tahu aku tidak bisa berbohong. Tanyakan kepadaku alasanku melakukan ini.” Ucap Min Hyuk. Kang Woo terdiam saja.
Bersambung ke episode 13

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09