PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 24 Mei 2018

Ini Alasan Korean Drama Addicted Off Sementara

Annyonghaseo.... Korean Drama Addicted... *Update dari ruang tunggu ICVCU Harapan Kita*
Mungkin udah banyak yang tahu dari FB dan update-an Insta Story, alasan blog gue ini kosong tanpa isi, selama hampir 3 minggu. Yang nanya mengenai,  bokap, masih ada di ruang ICVCU karena infeksi paru-parunya yang lagi ditangani, intinya bokap sudah sadar tapi masih dalam keadaan kritis.
So karena gue ga akan bisa konsentrasi nulis Sinopsis di rumah sakit, jadi untuk saat ini gue mungkin akan menceritakan sesuatu hal yang memang bisa di share di blog gue yah ... ^_^.... 
Bisa cerita lucu, sedih, tegang layaknya menonton drama rumah sakit tapi gue melihat dalam kehidupan nyata atau tips untuk pasien dan juga keluarga pasien yang gue alamin di rumah sakit.
Oh Yah.. Bocoran dikit, Gue menemukan cinta loh di rumah sakit ini, jadi kayanya nanti akan gue mulai cerita dulu tentang CINTA itu dulu yah.. Terus ikutin update-an cerita di blog aku yah.

Kamsahamnida.... Sarangheo.... Saranghada.... *Finger Heart* 
PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 29 April 2018

Sinopsis Suits Episode 2 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Yeon Woo tak tahu siapa sebenarnya Tuan Chae, tapi akhirnya duduk diruangan. Geun Sik memegang bola golf bertanya apakah tidak tahu siapa dirinya. Yeon Woo mengelengkan kepela. Geun Sik pikir kalau  Kang Seok sudah  memberitahu, Yeon Woo mengaku belum diberitahu.
“Apa Kau sudah bilang halo, ke ikan masku?” ucap Geun Sik. Yeon Woo binggung tapi akhirnya menyapa ikan mas di aquarium dengan wajah canggung.
“Kudengar kau jenius... Semua orang di sini jenius... Apa Kau juga lulus dalam setahun?” ucap Geun Sik. Yeon Woo binggung dan gugup.
“Itu sebabnya sejak perusahaan kita didirikan, ada pepatah populer yang berbunyi, "Aku tidak bisa menang  jika hanya kompeten. Lawan juga tidak hanya kompeten."” Jelas Geun Sik. 

Saat itu seorang pria masuk ruangan karena Geun Sik mencarinya, Geun Sik ingin tahu Di mana laporan litigasi  Samil Group. Pria itu mengaku berada di luar kota akhir  pekan lalu karena harus menghadiri  pernikahan temannya jadi lupa mengerjakanya. Geun Sik menganguk mengerti.
“Aku akan menyelesaikannya besok pagi.” Ucap si pria. Geun Sik pikir  tidak perlu.
“Kau dipecat.. Kau tidak perlu datang besok.” Ucap Geun Sik. Si pria shock mendengarnya.
“Tapi ini... Anda... Anda tidak bisa...memecatku seperti ini.” Ucap Si pria. Geun Sik mengeluh si pria yang terlalu cerewet.
“Aku bisa memecatmu  seperti ini. Aku bisa memecatmu  dengan banyak cara... Jadi, pergi...” kata Geun Sik. Si pria akhirnya keluar ruangan. Yeon Woo pun hanya terdiam. 

Geun Sik mengaku sebagai  mentor pembimbing  Kang dan Ham rekan masa percobaan jadi itu artinya akan menunggu saat  Yeon Woo membuat kesalahan, bahkan saat membuat kesalahan terkecil, maka ia akan menangkap dengan intuisi  dan kegigihan dan akhirnya kau akan meledak  menjadi bencana.
"Aku tidak bisa menang  jika hanya kompeten.” Ucap Geun Sik dan Yeon Woo tahu kelanjutanya “Lawan juga tidak hanya kompeten."
“Benar. Lawan juga tidak hanya kompeten. Begitulah caraku bisa memecatmu. Dan Berikan bola itu pada Kang Seok  dan katakan padanya bahwa dia seharusnya tidak perlu  membuang waktu dengan membuat ancaman. Dadu telah digulirkan, dan kami sudah berperang.” Ucap Geun Sik. 

Di ruangan, Kang Seok membaca artikel ["Joseong Group Mengambil Alih Perusahaan Taejin"] Yeon Woo datang memberikan bola Golf, kalau Geun Sik memberitahu jangan membuang waktu membuat ancaman. Kang Seok sudah tahu kalau Geun Sik bilang “dadu telah digulirkan  dan kami sudah berperang.
“Itu mottonya. Dia telah seperti itu sejak masih kuliah. Jangan pedulikan dia. Bagaimana kasus pro bono?” ucap Kang Seok. Yeon Wook melihat artikel yang ada diTablet Kang Seok.
“Kenapa si Brengsek itu ada di foto ini? Dialah orang yang menjebakku dengan kantong narkoba.” Ucap Yeon Woo melihat si pria.
“Apa Maksudmu, orang yang menjebakmu  dengan narkoba adalah putra dari Presiden Park Joseong Group?” kata Kang Seok. Yeon Woo baru tahu kalau pria itu anak dari Joseong Group
“Menarik... Kudengar dia sering pergi ke klub.” Ucap Kang Seok.
“Dia menyukai klub  dan yang lebih dia sukai dari alkohol...” ucap Yeon Woo dan Kang Seok tahu maksudnya itu Narkoba.
“Omong-omong, kau bisa berakting?” tanya Kang Seok. Yeon Woo terlihat gugup. 



Di sebuah ruangan, dua wanita menemani anak Tuan Park yang sudah sedikit mabuk. Saat itu ponselnya berdering, Yeon Woo mengatakan hal yang sama karena anak Tuan park yang bisa mengangkat telpnya jadi artinya belum ditangkap. Anak Tuan Park tak tahu siapa yang menelpnya.
“Aku seseorang yang ingin mengajarimu  bagaimana menakutkannya manusia.” Ucap Yeon Woo.  Anak Tuan Park tak mengubrisnya memilih untuk menutup telpnya.
Saat itu Kang Seok masuk ruangan, dua wanita ketakutan dan langsung bergegas pergi. Anak Tuan Park meminta wanita itu tak pergi dan bertanya pada Kang Seok yang tiba-tiba masuk ruangan.
Yeon Woo berada di sebuah ruang sauna, memastikan pria yang ditemuinya itu Presiden Park Myeong Hwan  dari Joseong Group, dan juga menggugat Pengacara Choi  yang saat ini bekerja di Kang dan Ham dengan memperlihatkan surat gugutan. Tuan Park dengan nada sinis bertanya siapa yang berani menemuinya. 

Di ruang bar Karaoke.
“Pengacara Choi Kang Seok bekerja di Kang dan Ham... Ada saksi yang melihat kau menyalahgunakan  jenis narkoba baru tanggal 7 April. Tapi di sini, kau melakukannya lagi. Pokoknya, orang itu melaporkanmu ke polisi.” Ucap Kang Seok. Anak Tuan Park terlihat binggung.
Saat itu beberapa polisi datang dan langsung mencari target operasi, anak Tuan Park sedikit tersadar. Kang Seok memberikan berkas meminta anak Tuan Park memberikan tanda tangan maka  akan membela atas nama perusahaan.
Anak Tuan Park ketakutan langsung memberikan tanda tangan, polisi mencoba membuka semua pintu ruangan. Saat itu juga Kang Seok langsung mengunci pintu maenahan agar polisi tak masuk. 

Yeon Woo akhirnya menyambungkan ponselnya dengan Kang Seok yang ada dibar, Kang Seoo mengaku Pengacara Choi,  dan akan bertanggung jawab membela anaknya di pengadilan. Tuan Park malah menyindir Kang Seok yang  mencoba  memanfaatkan ananya untuk mengancam.
“Tapi yang perlu kulakukan adalah memanggil beberapa polisi dan jaksa...” ucap Tuan Park licik
“Dia ketahuan bertingkah hari ini, dan ada cukup bukti  untuk membuktikan dia bersalah, jadi tidak ada koneksi Anda  yang bisa. menghentikan dia masuk penjara. Selain itu, Anda masih bisa mengajukan  gugatan padaku seperti yang disarankan Jaksa Chae.” Ucap Kang Seok. Tuan Park tak mengerti maksudnya.
“Jika Anda menarik gugatan itu, maka aku akan membela putra Anda di pengadilan.” Ucap Kang Seok memberikan tawaran.
“Siapa pun bisa membela  putraku di pengadilan.” Kata Tuan Park yakin. Kang Seok mengejek kalau mendengar kata “Siapa pun”
“Aku satu-satunya  yang ada di TKP bersamanya. Apa Anda tidak keberatan dengan itu?” kata Kang Seok
“Pengacara Choi selalu berhasil  mencapai kesepakatan, entah itu dengan membuat  kesepakatan atau membuat ancaman.” Kata Yeon Woo menyakinkan
“Seperti yang dia katakan,  aku menawarkan kesepakatan sekarang. Tapi, Anda menganggapnya sebagai ancaman dan menggiring konflik.” Komentar Kang Seok
Kang Seok pikir akan merobek kontrak yang sudah ditanda tangani oleh anak tuan Park lalu membuka pintunya. Anak Tuan Park panik lalu berbicara pada anaknya kalau sungguh akan mati dan apakah ayahnya tidak akan menyelamatkan putranya atau malah akan membunuhkunyajadi meminta agar menolongnya.
Tuan Park akhirnya menahan amarah dan langsung merobek surat gugutan. Yeon Woo memberitahu Presiden Park memutuskan  untuk menerima tawaran Kang Seok. Akhirnya Polisi mengetuk pintu meminta agar membukanya, Kang Seok pun membuka dengan santai dan membiarkan anak Tuan Park dibawa keluar. 


Anak Tuan Park dibawa oleh dua polisi ke dalam mobil, di pakiran terlihat Tuan Park melihat anaknya dari dalam mobil. Kang Seok pun melihat Tuan Park yang menatap dari jauh. Yeon Woo pun menemui Kang Seok sambil mengumpat pada anak Tuan Park yang memang bajingan.
“Kita harus membuatnya  menjalani hukuman maksimal.” Ucap Yeon Woo
“Tidak... Jika Presiden Park membayar banyak orang  dan menggunakan semua koneksinya, aka dia akan mengeluarkannya. Kau tidak bisa menangkap orang seperti itu kecuali dia tertangkap basah.” Kata Kang Seok
“Bukankah Anda berpikir,  aku aktor yang hebat hari ini?” ucap Yeon Woo ingin melakukan high five dengan kepalan tangan. Tapi Kang Seok tak mengubrisnya dan memilih pergi. 


Yeon Woo pulang ke rumah, kaget melihat Se Hee sudah duduk sambil menangis lalu bersadar pada Yeon Woo sambil mengomel karena tidak mengangkat  teleponnya. Akhirnya keduanya masuk rumah yang sudah berantakan, Yeon Woo tak percaya kalau preman itu mencoba menyakiti Se Hee.
“Ini tidak benar... Mari laporkan polisi.” Ucap Se Hee. Yeon Woo pikir tidak bisa melakukan itu.
“Jika kita melapornya,  Cheol Soon juga akan ditangkap.” Kata Yeon Woo. Se Hee kaget karena ternyata Yeon Woo sudah mengetahuinya dan ingin tahu apa yang terjadi.
“Tenanglah. Kita bicara nanti.” ucap Yeon Woo melepaskan jaketnya. Se Hee melihat ID Card yang terjatuh  [Kang dan Ham, Pengacara Go Yeon Woo]
“Kurasa tidak aman bagi kita  berada di sini untuk sementara waktu. Kau harus...” ucap Yeon Woo langsung disela oleh Se He.
“Yeon Woo... Apa ini? Jadi Begitu rupanya.  Kau menjadi seorang pengacara... Aku tidak tahu... Kau pasti sangat sibuk.... Aku minta maaf  tidak cepat tanggap.” Ucap Se Hee dengan nada sinis.
“Se Hee, bukan begitu... Tapi aku tidak begitu yakin.” Ucap Yeon Woo mencoba menjelaskan.
“Tentang Oppa dan kau. Aku merasa seperti berada  dalam kegelapan. Apa begitu?” ucap Se Hee dengan wajah sedih. Yeon Woo pun hanya bisa terdiam tanpa bisa membela diri. 


Da Ham masuk lobby, Geun Sik dengan senyuman bahagia bertanya  Apa rencananya mulai sekarang. Dan Ham mengaku penasaran mengapa k Geun Sik bertanya tentang rencananya. Geun Sik pikir Da Ham telah  melihat gugatan tersebut, kalau Kang Seok yang akan meninggalkan perusahaan.
“Apa Pak Choi akan keluar?” tanya Geun Sik pura-pura tak tahu. Da Ham mengerti yang dimaksud karena Joseong Group. Geun Sik membenarkan.

“Mereka menarik gugatannya.” Ucap Da Ham. Geun Sik kaget merasa kalau itu tak mungkin dan bertanya kapan itu terjadi lalu ingin menelp Tuan Park
“Dia mungkin tidak akan mengangkatnya. Mengenai memorandum yang dia teken  ketika menarik gugatan, dia bilang tidak akan menghubungi  pengacara Kang dan Ham nantinya. Dan kurasa, terkhusus untuk  seseorang bernama Chae...” ucap Da Ham dan Geun Sik langsung bergegas pergi. Da Ham dengan sinis menunjuk kalau yang dimaksud adalah Geun Sik. 


Gina membawakan berkas menaruh diatas meja Yeon Woo memberitahu kalau itu manual protokol internal  Kang dan Ham jadi harus mendapatkan informasi jika tidak ingin  Pak Chae menginjaknya. Ia merasa  kalau sikanya agak keras, memberikan  bantuan khusus, tapi Yeon Woo seperti tak medengarkan sampai akhirnya Gina memanggil. Yeon Woo pun tersadar.
“Kau bilang meminta bantuan  padaku kemarin.” Ucap Gina. Yeon Woo bingggung malah bertanya kapan, lalu teringat kalau kemarin datang ke ruangan Gina. 

Yeon Woo pun melihat forum yang dibuatnya. Gina mengerti kalau Yeon Wooharus meningkatkan jumlah pengunjung, jadi mengingikan agar membantu  menemukan orang untuk mengikuti forumnya.  Yeon Woo membenarkan.
“Sepertinya kau sangat genius, Pak Go... Kau jenius dalam hal  membuat orang marah.” Sindir Gina, Yeon Woo hanya bisa melonggo.
“Apa Kau pikir kami lelucon? Menurutmu Kang dan Ham adalah tempat di mana kami menciptakan selebriti media sosial?” keluh Gina dengan nada tinggi. Yeon Woo heran melihat Gina yang terlihat kesal dan memanggil dengan nama belakan.
“Astaga, kau baru saja  memanggilku Gina? Aku tidak percaya ini. Kau pasti berpikir aku lelucon... Luar biasa.” Ucap Gina marah. Yeon Woo menahan Gina agar tak pergi. 
Gina makin kesal mendengar Yeon Woo memanggilnya dengan nama belakang. Akhirnya Yeon Woo dengan sopan memanggil “Nona Kim”. Keduanya duduk bersama Yeon Woo memperlihatkan sebuah gambar kalau korbannya, Bu Kim Mi Sook,  dan putrinya, Hee Soo,  dan bertuliskan "Terima kasih, Pak Pengacara."
“Aku sungguh ingin membantu mereka dan menerima rasa terima kasih mereka. Tapi, aku belum menjadi  pengacara sungguhan, dan tidak ada yang bisa  kulakukan di sini. Aku bisa mati frustrasi.” Akui Yeon Woo. Saat itu Kang Seok datang melihat keduanya.

“Jika kau bisa mati karena frustrasi,  tidak akan banyak orang yang hidup. Kau menemukan dadu  lalu melemparkannya. Lalu, mengapa berdiri di sini? Kau harus bergerak maju  sesuai dadu.” Ucap Kang Seok melihat layar komputer.
Ia melihat forum yang dibuat Yeon Woo [Mencari Korban Pelecehan Seksual dan Pemecatan Geumjeong] dan langsung mengirimkan pada Ryu Hyun Jin, Park Inbee, Kim Yuna, Yeon Woo kaget seperti tak berpikir yang dilakukan atasanya. Kang Seok pikir Yeon Woo sudah melihat foto di ruang kerjanya.
“Anda seharusnya bisa membantuku sebelumnya.” Keluh Yeon Woo
“Kita tidak punya waktu dan  perlu meningkatkan jumlah kunjungan dan mulai trending malam ini.” Ucap Kang Seok berhasil mengirimkan email.
Yeon Woo dan Gi Na hanya bisa terdiam, Kang Seok menegurnya menyuruh mereka agar Mulai bekerja, keduanya pun bergegas duduk kembali. Gina akhirnya meminta maaf karena sudah marah sebelumnya. Yeon Won pun ingin tahu apakah akan membantunya sekarang. Gina menganguk.
“Aku juga memiliki beberapa kenalan. Aku bisa membagikan ini  di media sosialku. Itu akan menyebar lebih cepat.” Ucap Gina mengambil mouse. 


Beberapa saat kemudian, Tulisan Yeon Woon tentang [Kelompok Korban Pelecehan Seksual  dan Pemecatan Geumjeong, baru ada 3 Pengunjung, lalu lama kelamaan meningkat,  sampai ke 56 Pengunjung, bahkan 113 Pengunjung, mereka pun terlihat bahagia.
“Aku seharusnya meminta  bantuanmu sebelumnya. Mengapa aku begitu bodoh tidak melakukan ini lebih cepat?” keluh Yeon Woo
“Ini bukan kebodohanmu... Ini karena aku jenius.” Ungkap Gina bangga. 

Esok paginya, Yeon Woo mendapatkan Petisi untuk menutup situs web, padahal butuh waktu semalaman  untuk menjadikannya situs web nomor satu. Dan Nam menjelasnkan Perusahaan besar seperti itu  tidak akan membiarkan Yeon Woo berjalan dengan baik
“Mereka tidak akan tinggal diam dan membiarkanmu merusak citra mereka.” Jelas Dan Ham, saat itu Yeon Woo baru datang pun bertanya  Apa yang terjadi.
“Aku merilis semua berita  yang kau berikan padaku ke surat kabar harian,  TV, dan jaringan berita kabel. Itu menjadi artikel  teratas di setiap situs web.” Ucap Da Ham. Kang Seok melihat judul berita  ["Kontroversi Pelecehan Seksual Geumjeong Digitech"]
“Apa semuanya berjalan lancar sesuai rencana kita?” tanya Yeon Woo ragu.
“Ikut aku. Kita bisa memeriksa  dan melihat apa semuanya berjalan  dengan lancar.” Kata Kang Seok. 

Yeon Woo terdiam saat akan melangkah menaiki tangga  Pengadilan Tinggi Seoul. Kang Seok memangilnya agar segera mengikutinya. Dalam ruang sidang, Seorang pengacara mengadu pada hakim. argumen penggugat,  yang tidak beralasan, telah merusak harga diri kliennya dan perusahaan.
“Ini pengadilan kasus perdata. Aku tidak berurusan  dengan kasus-kasus pengadilan. “ kata Hakim. Pengacara ingin menyela tapi hakim lebih dulu bicara.
“Tapi bukan berarti apa yang Anda lakukan itu benar. Kasus ini belum diputuskan. Tapi, Anda telah menyimpulkan dan menggunakan media  untuk keuntungan pihak sendiri. Ini dapat mempengaruhi  citra buruk Anda.” Tegur hakim pada Kang Seok
“Saya tahu itu.. Namun, tolong lihat data  yang dikirimkan oleh terdakwa kepada kami.” Ucap Kang Seok memberikan berkas dan ternyata isinya kosong.
“Seperti yang Anda lihat,  tidak ada apa-apa. Kami tidak punya cara untuk menemukan  korban lain, saksi kunci, atau saksi mata. Itu satu-satunya pilihan kami.” Ucap Kang Seok membela diri
“Omong kosong.. Itu tidak pernah terjadi, jadi...” kata Pengacara
“Dan bukan kami yang mengeluarkan artikel terlebih dulu. Itu karena menyebar dengan sangat cepat. Kami menunda rilisan berita  untuk menghentikan siapa pun yang berasumsi.” Ungkap Kang Seok.
“Jadi, apa yang Anda inginkan?” tanya Hakim
“Daftar karyawan wanita yang dipecat atau mengundurkan diri  ketika korban sedang bekerja di sana.” Ucap Kang Seok. 



Yeon Woo yang ada  diruang sidang sebelumnya berkomentar kalau KanG Seok memiliki aturan untuk tidak terikat secara emosional dengan klien dengan menolak untuk mencapai kesepakatan  melindungi Kim Mi Sook. Kang Seok pikir Jika tidak bisa menemukan bukti, saksi, atau korban  dengan kasus serupa, maka kasusnya akan berakhir menghilang.
“Dan tentu saja, itu yang mereka inginkan.” Jelas Kang Seok
“Jadi, Anda menggunakan media  untuk menghentikan kasus itu agar tidak menghilang.” Kata Yeon Woo
“Media pasti berpihak pada gugatan karena mereka merasa lebih banyak  beban daripada pengadilan. Inilah langkah bergerak maju  sesuai dengan skakmat. Namun dalam kasus pelecehan seksual,  kita mungkin akan menghadapi serangan balik. Kita akan berpura-pura menyerah  untuk maju dan mendapatkan daftar. Jika ada korban lain...” ucap Kang Seok
“Dia akan melanggarnya dan orang-orang akan semakin marah.” Uap Yeon Woo
“Seorang pengacara hanya membela. Dia tidak melindungi  atau mendukung seseorang. Jika kau merasa tersentuh, maka kau bisa menempatkan klienmu  ke dalam jebakan. Semuanya bisa menjadi  makin sulit mulai sekarang. Menurutmu bagaimana selanjutnya? Sekarang giliran mereka  untuk melempar dadu.” Jelas Kang Seok. 


Akhirnya tumpukan berkas ada dalam ruangan, Da Ham pikir kalau semua bukan hanya daftar yang dipecat dan pensiun. Tapi catatan personil  dari seluruh karyawan, slip gaji, dan bahkan rencana liburan. Yeon Woo tahu kalau pihak mereka mencoba  membuang waktu,
“Apa mereka boleh melakukan ini?” ucap Yeon Woo tak terima.
“Mereka sudah melempar dadu. Jadi mereka harus memindahkan  setidaknya satu kotak. Kau bilang bisa menghafal semuanya. Ini tidak akan lama. Itulah hal terbaik yang bisa kau lakukan. Jadi, bagus, kan?” ucap Kang Seok
“Kurasa begitu cara Anda berpikir.” Kata Yeon Woo
“ Yang bisa mereka lakukan adalah membanjiri kita dengan kertas.” Keluh Kang Seok lalu bergegas pergi. Da Ham pun hanya bisa memberikan semangat pada Kang Seok. 


Se Hee menerima telp dari Cheol Soon mengatakan kalau melihat sesuatu di rumah dalam firma hukum.  Se Hee seperti berusaha mengelak. Cheol Soon memohon pada Se Hee kalau  tidak menemukannya, maka akan mati.
“Apa Yeon Woo di Kang dan Ham? Benarkan?” ucap Cheol Soon memastikan. Se Hee hanya bisa diam saja.
Cheil Soon sudah babak belur memberitahu dua preman kalau yang dikatakan memang benar, dan tidak tahu mengapa Yeon Woo merangkak kesana tapi menurutnya temanya itu bersembunyi  di Kang dan Ham.

Yeon Woo duduk memeriksa semua berkas, Gina melihatnya dan langsung duduk membantu tanpa bicara. Akhirnay keduanya pulang bersama , Gi Na pamit untuk pulang lebih dulu. Yeon Woo mengucapkan  Terima kasih untuk  kemarin dan hari ini. Gi Na pikir Tidak perlu dibahas.
“Omong-omong, sepertinya itu sudah rusak. Bukankah kau harus memperbaikinya?” ucap  Gina melihat jam tangan yang dipakai Yeon Woo
“Kau melihatnya,Ada cerita dibaliknya. Omong-omong, apa kau tertarik padaku seperti yang lain?” ucap Yeon Woo. Gi Na bertanya apa maksudnya.
“ Kurasa... Kau tidak menyukaiku  sejak pertama kali kita bertemu. Jika ada orang yang membencimu  tanpa alasan,orang bilang, setengah dari mereka pasti tertarik padamu  sebanyak mereka membencimu.” Jelas Yeon Woo
“Rekan-rekan lain mungkin  merasa seperti itu. Maaf memberitahumu ini, tapi aku punya alasan jelas.” Ucap Gi Na, saat itu juga Se Hee melihat keduanya sedang berbicara dan terlihat akrab, lalu mengeluarkan ponselnya. 


Esok pagi, Gina melihat bangku Yeon Woo kosong dan melihat sebuah surat "Alasan pemecatan, Absen tanpa cuti, Baek Eun Young." Yeon Woo sudah ada di sebuah apartement, dan memanggil Baek Eun Young, saat melihat seorang wanita akan masuk rumah. Si wanita hanya diam saja akan membuka pintu.
“Kau Baek Eun Young, kan? Kau dulu bekerja  di Geumjeong Digitech. Aku meneleponmu sebelumnya.  Aku dari Kang dan Ham...Aku tidak berusaha mengganggumu, Pertama...” ucap Yeon Woo
“Jika aku bersaksi,aku akan berakhir menjadi orang jahat, kan?” kata Nyonya Baek
“Tidak. Itu tidak akan terjadi. Aku berjanji bahwa kau  akan dikompensasi atas kerugian. Kami, tidak, aku... Aku tahu kau khawatir  karena tertutup padaku. Tapi tolong, ketahuilah bahwa aku mengerti apa yang kau rasakan.” Ucap Yeon Woo menyakinya Nyonya Baek. 

Da Ham dan Kang Seok sudah menunggu didepan ruangan, Yeon Woo datang langsung diberi pertanyaan apakah Nyonya Baek ingin bersaki atau tidak. Yeon Woo menjawab tidak. Da Ham tak percaya kalau hanya itu saja.
“Tidak. Jadi aku bilang padanya, "Bagaimana rasanya jika putrimu  mengalami hal yang sama sepertimu? Dia juga punya seorang putri. Bukankah kita harus membuat negara ini. sebagai tempat yang lebih baik di mana wanita dan anak-anak bisa bahagia? Jadi..."” ucap Yeon Woo
“ Terlalu panjang... Dia akan menceramahimu.” Komentar Da Ham tak sabar.
“Jadi, Apa Dia bersaksi atau tidak?” tanya Kang Seok penasaran. Yeon Woo membenarkan kalau Nyonya Baek akan bersaksi. Dan akan segera datang. Kang Seok terlihat senang meminta agar mereka meminta Pihak Tuan Jung datang dan akan melihat bagaimana  reaksi mereka.

Suasana terasa tegang di ruangan, Nyonya Baek lalu melihat Tuan Jung dan pengacaranya datang lalu mengeluh pada Yeon Woo yang bilang mengerti perasaannya. Yeon Woo ingin menjelaskan tapi Pengacara Tuan Jung sudah lebih dulu berbicara.
“Baek Eun Young, kau bekerja  selama enam bulan dari Maret hingga September 2016. Sepertinya kau tidak pernah bekerja  di perusahaan lain. Ahh... Tidak... Dari Juni hingga Agustus 2012, dan dari Mei 2013 hingga Juni 2014, kau bekerja di Sunshine, Shuttle, dan Chohon. Ini adalah bar,  yang kita sebut "kafe ruang". “ ucap Pengacara Tuan Jung
“Apa yang akan mereka lakukan  dengan kasus ini?” ucap Kang Seok
“Pemilik Chohon... menggugatnya karena penipuan dan pemerasan. Dia langsung didakwa.” Kata Pengacara Tuan Jung mengancam,
“Itu karena dia tidak membayar gajiku...”kata Nyonya Baek membela diri.
“Tidak... Kau meminjam uang lebih banyak  darinya sebelum itu. Kau bahkan mengancam  untuk melaporkannya ke polisi atas pemerkosaan  jika dia tidak memberimu uang. Apakah Departemen Kehakiman percaya akan kesaksiannya?” balas Pengacara Tuan Jung.
Nyonya Baek terlihat malu memilih untuk keluar ruangan, Yeon Woon pun mengejar Nyonya Baek. Sementara Pengacara Tuan Jung mengejek dengan kasus Pro bono.
“Kang Seok... Kau tidak biasanya seperti ini... Kenapa kau mengambil kasus  seperti ini?” sindir Pengacara Tuan Jung. Kang Seok hanya bisa terdiam, saat itu Nyonya Kang menatap dari luar ruangan. 


Yeon Woo mengejar Nyonya Baek sampai keluar gedung dan berusaha menahanya agar bisa mendengar penjelasanya. Nyonya Baek pikir Tidak ada yang ingin didengar lagi. Yeon Woo pikir seharusnya memberitahu jika hal semacam itu..
“Kau Bilang "Hal semacam itu"? Apa Kau bilang ini semua salahku?” ucap Nyonya Baek marah
“Tidak, maksudku...” kata  Yeon Woo dan Nyonya Baek memutuskan tidak akan bersaksi.

Akhirnya Yeon Woo kembali ke kantor lalu masuk lift tanpa sadara ada dua preman mengikutinya, pesan dari Se Hee masuk “Oppa sudah tahu. Mereka mungkin pergi ke sana.” Yeon Woo pun mengingat wajah dua pria yang sebelumnya berada didepan rumah.
Yeon Woo akhirnya bergegas keluar dari lift, berjalan melalui lorong. Dua pria terus mengikutinya. Yeon Woo terlihat panik dan melihat Kang Seok sudah menunggu, lalu menahan tangan Yeon Woo karena dengan bertanya siapa Yeon Woo sebenarnya karena ada dua preman yang mengikuti.
Bersambung ke episode 3

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Sinopsis Suits Episode 2 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Kang Seok akan masuk ruangan, Da Ham menunjuk ke arah ruangan. Kang Seok melihat seorang pria berdiri didepan pintu ruanganya, lalu seperti memberikan kode pada Da Ham ingin tahu maksudnya. Da Ham seperti tak bisa mengerti maksudnya.
Akhirnya Kang Seok pergi ke ruangan Nyonya Kang dengan wajah kesal karena Promosiny ditarik kembali.  Nyonya Kang mengaku Atidak tahu apa yang Presiden Park dengar, tapi mengajukan gugatan dan Geun Sik pergi untuk menenangkannya.
“Jika dia menyelesaikan ini, maka kau berlututlah dan terima dia nanti.” kata Nyonya Kang. Kang Seok setuju dengan perintah atasanya.
“Lalu, tidak ada masalah  dengan promosiku. Ini tidak seperti bisnis  kita bangkrut hanya karena kehilangan klien  yang buruk.” Kata Kang Sek
“Apa Kau pikir kita tidak  akan melakukannya? Ada jutaan firma hukum dan pengacara  yang merupakan mantan jaksa. Korporasi kini membentuk  tim hukum mereka sendiri. Inilah situasi industri. Dan jika kau kehilangan klien  terbesar kita, bagaimana aku bisa mempromosikanmu  sebagai mitra seniorku? Menurutmu, apa yang akan  dipikirkan rekan lain?” ucap Nyonya Kang
“Apa rekan lain menganggap itu  penting bagimu, Bu Kang?” kata Kang Seok
“Tidak, yang lebih penting dari itu  adalah Kang dan Ham. Jika kau seorang mitra senior,  bukan hanya kau yang dipecat. Seluruh firma hukum kita  akan didakwa.” Balas Nyonya Kang.
“Kenapa kau harus membuat kebohongan itu? Kesalahan sederhana  bisa menjerat kita ke tanah, dan retakan kecil bisa  menghancurkan seluruh bangunan. Apa Kau sudah lupa bagaimana kita bisa sampai sejauh ini?” keluh Nyonya Kang
“Aku tidak akan membiarkan  kebohongan atau angkat kaki dari sekarang.” Kata Kang Seok yakin
“Jika kau membuatku terjerat dengan situasi seperti ini lagi, maka aku akan membuatmu berdiri  di depan hakim.” tegas Nyonya Kang


[#Suit2 - Jika kau memiliki kesempatan melempar dadu,  lemparlah tanpa ragu. Saat kau melempar, kau akan maju,  setidaknya satu kotak.]
Yeon Woo kaget karena tiba-tiba dipecat,  tak percaya karena Kang Seol bisa memecatnya di hari pertama kerja dan berpikir kalau ini  semacam tes. Kang Seok mengaku bukan tapi sekarangs dang berdiri di ujung pisau.
“Dan jika ada yang tahu  bahwa kau tidak berkualifikasi,  bahkan bukan  seorang pengacara, maka pisau itu akan menembus  perutku.” Ungkap Kang Seok
“Ini Selalu sama dan Selalu seperti ini. Kalian semua sama saja.” Ungkap Yeon Woo yang benar-benar kecewa.
“Masalahnya bukan aku.  Tapi kau... Syukurlah kau menyadarinya  sekarang.” Kata Kang Seok sinis
“Tapi tetap saja, Aku sedikit berharap. Aku berpikir, Anda akan berbeda. Aku pikir akan ada kesempatan yang datang padaku.” Ungkap Yeon Woo
“Tidak, kau hanya bermimpi, dan aku membuat kesalahan kecil.  Itu saja. Jadi...” kata Kang Seok yang langsung disela oleh Yeon Woo.
“Aku tidak tahu apa pisau itu, tapi tolong pertimbangkan kembali. Aku akan pastikan pisau itu tidak  menikam Anda karena aku. Aku akan membuktikan  bahwa itu bukan kesalahan...” ucap Yeon Woo dan Kang Seok un menyela
“Tidak... Kupikir kau akan menjadi  senjata nantinya. Tapi sekarang aku  berada di ujung pisau,dipikiranku hanya kau yang akan menjadi kelemahan bagiku. Ini kesalahan.” Tegas Kang Seok.
“Apa Anda berada di ujung pisau? Lalu bagaimana denganku? Aku berdiri di tepi tebing.  Jika Anda mendorongku, itu sama saja menyuruhku  harus diam dan mati.” Ucap Yeon Woo
Kang Seok bertanya apakah Yeon Woon mau memegangknya dan jatuh bersama. Yeon Woo mengaku punya banyak cara untuk itu, dengan menyindir Kang Seok yang orang seperti apa dirinya. 

Flash Back
Kang Seok berkata kalimat yang sama pada Nyonya Kang, apakah sudah lupa dengan dirinya. Nyonya Kang mengaku tak mungkin lupa tapi sedikit meragukan yang bisa dilakukan saat ini. Kang Seok meminta agar Nyonya Kang bisa menyetujui promosinya seperti yang direncanakan.
“Jika tidak, aku akan segera pergi bekerja  untuk Kim dan Jo atau Taeyang. Dan tentu saja, aku akan mengambil  semua berkas klienku.” Ucap Kang Seok sedikit mengancam.
“Ayo kita lihat... Taeyang agak jauh dari sini, tapi Kim dan Jo berjarak  sekitar lima menit jika berjalan kaki... Tapi Lupakan tentang Kim dan Jo.. Kau akan dibombardir  dengan panggilan telepon dari polisi, jaksa... dan komite disiplin  dari asosiasi pengacara. bahkan sebelum kau  menyeberang dijalan sana.” Ucap Nyonya Kang menyadarkan pilihan Kang Seok. 

“Lupakan pencemaran nama baik  dan pemerasan. Kau akan dikenakan denda karena membeli narkoba. Apa Kau baik-baik saja?” balas Kang Seok
“Kita akan melihat apa aku baik-baik saja  ketika kita berada di pengadilan. Tapi sebelum itu, Andalah orang yang  Melindungiku di depan para detektif itu  dan membuatku sampai ke titik ini dengan memberiku pekerjaan. Pada akhirnya...” kata Yeon Woo.
Flash Back
“Pada akhirnya, kau ada berada di sana bersamaku, karena bersekongkol  atas apa yang kulakukan. Tidak peduli dimana  aku akan berakhir, pengadilan atau komite disiplin, maka kau akan berdiri di sana  di sebelahku.” Tegas Kang Seok
“Kau pasti sangat marah  sampai menyalahkan diri sendiri, jadi kau ingin menyeretku bersamamu?” ungkap Nyonya Kang. 

Yeon Woo pikir kenapa itu tak mungkin,  Kang Seok pikir Yeon Woo mungkin akan berakhir di atas batu. Yeon Woo mengaku sangat terbiasa  duduk di atas batu Dan jika mereka jatuh bersama, itu tidak masalah.

Flash Back
Kang Seok mengaku Itu tidak masalah dengan menyindir Nyonya Kang yang lupa mereka bisa berjalan sejauh ini, Nyonya Kang hanya bisa tersenyum. Kang Seok pikir Nyonya Kang tak mungkin lupa, kalau menyuruh agar  mereka bisa hidup bersama.
“Apa Kau memerasku?” kata Nyonya Kang. 
Yeon Woo mengaku tidak memeras, tapi putus asa karena kesempatan ini. Saat itu juga Kang Seok mengingat yang dikatakan Nyonya Kang setelah beragumentasi dengan ucapan yang sama dengan Yeon Woo.

“Baiklah. Aku akan  menyetujui promosimu. Tapi, jangan berpikir bahwa  aku mengalah karena gertakanmu.” Ucap Nyonya Kang
“ Anggap saja kita membuat kesepakatan  atau ancaman, apa pun itu. Kau memaksaku untuk mengambil langkah terburuk tanpa membuat konflik.” Ucap Kang Seok lalu memutuskan kalau Yeon Woo lulus.

“Namun, kau memiliki enam bulan  masa pelatihan. Kau harus menjalani  hari seperti ini selama 48 jam dan pastikan memenuhi syarat  untuk mengikuti ujian. Jangan khawatir tentang uang.” Kata Kang Seok. Yeon Woo terlihat kaget.
“Mengapa? Apa Tidak bisa kau lakukan itu? Lalu, apa kau berencana  melanjutkan permainan tipuan ini di bawah namaku?” ucap Kang Seok. Yeon Woo mengaku akan melakukanya.

Flash Back
Kang Seok pun menyetujui dan bertanya apa syarat yang diinginkan Nyonya Kang. Nyonya Kang tak percaya kalau Kang Seok tahu kalau dirinya itu punya syarat. Kang Seok mengaku kalau sudah tahu tentang sifat Nyonya Kang.
“Aku akan dianggap keterlaluan karena meminta terlalu banyak tanpa syarat. Pertama, kasus Presiden Park... Selesaikan kasus itu  dan pastikan tidak membuat kekacauan. Lalu Kedua, Alih-alih Presiden Park,  bawa Parlemen Cho sebagai salah satu klien kita dalam minggu ini.” Kata Nyonya Kang
“Tidak masalah. Apa Itu saja?” tanya Kang Seok merasa syarat yang tak terlalu berat.
“Tidak, satu lagi... Ini kasus pro bono [Kasus Layanan Publik]” ucap Nyonya Kang. Kang Seok mengeluh merasa tak perlu mengambilnya.
“Terima semua atau tidak. Jika kau tidak mau, sampai jumpa di pengadilan.” Ucap Nyonya Kang. Kang Seok mengeluh Nyonya Kang yang memberikan pilihan berat untuknya.
“Kasus-kasus pro bono sangat penting  bagi citra firma hukum kita.” Kata Nyonya Kang
“Itu sebabnya aku membuatnya... Maksudku, aku mengambil beasiswa.” Ucap Kang Seok.
“Tidak, ini lebih penting dari itu. Ini untuk menumbuhkan karakter  seorang pengacara. Dan terutama bagi  seorang pengacara yang terlalu bangga, berpikir bahwa  dia bisa membaca pikiran orang, dan tidak bisa membaca  apa yang sebenarnya diinginkan klien.” Komentar Nyonya Kag
“Siapa bilang aku tidak bisa  membacanya? Hanya saja dia menghalangi  pekerjaanku.” Keluh Kang Seok. Nyonya Kang meminta agar Kang Seok bisa membuktikan sendiri dengan memperlihatkan berkas ditanganya.



Kang Seok memberikan berkas pada Yeon Woo sebagai kasus pertamanya. Yeon Woo hanya bisa melonggo lalu bertanya apa maksudnya, Kang Seoo menjelaskan kalau itu kasus Pro bono, Pelecehan seksual di tempat kerja,  ditambah pemecatan yang tidak adil.
“Apa Kau tahu apa itu pro bono?” tanya Kang Seok. Yeon Woo menjawab Menyumbangkan bakat seseorang  demi kepentingan publik.
“Di sebuah firma hukum,  dia membela kasus kepentingan umum.” Ucap Yeon Woo. Kang Seok kembali memuji Yeon Woo.
“Rahasiakan bahwa aku  memberimu kasus ini Jangan pernah ketahuan  oleh Bu Kang. Dan... kenapa pakaianmu itu?” keluh Kang Seok. Yeon Woo pikir tak ada salah dengan stelan jasnya.
“Setelan jas layaknya  baju baja bagi seorang pengacara. Itu menunjukkan tekad mereka. Ketika seorang tentara  pergi berperang...” kata Kang Seok dan langsung disela oleh Yeon Woo
“Ketika seorang tentara pergi berperang,  yang terpenting bukan baju bajanya. Tapi pedangnya.” Kata Yeon Woo menunjuk ke otak yang dimilikinya.
“Yang terpenting,persidangan adalah pertempuran...di mana kedua belah pihak berakhir dengan kehilangan darah. Jadi, seharusnya di awal  tidak perlu ada pertarungan. Aturan nomor satu. Jika memungkinkan, cobalah  untuk tidak membawa perkara ke pengadilan.” Kata Kang Seok
Yeon Woo mengingat kalau  Jangan bawa perkara  ke pengadilan. Kang Seok mengeluarkan kartu agar Yeon Woo membeli stelan jas sendiri, dan membeli apapun yang dibutuhkan. Yeon Woo pun dengan canggung menerima kartu kredit dan memastikan tidak akan membiarkan  kesalahan apa pun. Kang Seok bertanya pada Da Ham , siapa yang bertanggung jawab  atas orientasi pendatang baru. 



Seorang wanita sibuk didalam ruangan, Yeon Woo masuk ruangan memperkenalkan dirinya.  Kim Gina memperkenalkan dirinya, lalu hanya bisa melonggo karena Yeon Woo yang membuat bajunya terkena cipratan air, lalu mengaku sebagai seorang paralegal. Yeon Woo bingggung Gina mengaku sebagai Paralegal.
“Itu berarti...Anda sekretarisku?” ucap Yeon Woo polos. Gina dengan sinis mengejek Yeon Woo yang tuli atau bodoh.
“Aku baru saja bilang bahwa jabatanku paralegal” tegas Gina lalu keluar dari ruangan. Yeon Woo pun tak banyak berkata. 

Keduanya menaiki lift, Yeon Woo menatap Gina yang berdiri disampingnya. Gina memperingatakan kalau sudut pandang Yeon Woo sungguh   tidak tepat dengan mengejek kalau pikirany  itu cukup vulgar  karena berpikir semua wanita yang bukan pengacara,  tentu saja akan menjadi sekretaris. Dan juga cukup jahat  karena berpikir semua sekretaris akan memiliki semacam hubungan  asmara dengan pengacara.
“Bukan begitu... Kurasa ada sesuatu di bajumu.” Komentar Yeon Woo
“Rekan baru cenderung  memiliki kesalahpahaman. Tapi, tempat ini mirip  seperti tentara. Katakanlah kau baru  saja ditugaskan sebagai letnan kedua. Dan itu membuatku menjadi petugas  non-komisioner yang telah melalui segala macam selama tiga tahun.” Sindir Gina
“Sepertinya semua orang membicarakan perang.” Keluh Yeon Woo
“Tentu saja. Tempat ini  adalah medan perang. Kau sudah wamil, kan? Apa Kau sebagai advokat hakim?” sindir Gina.
“Aku dibebaskan.” Ucap Yeon Woo. Gina heran ingin tahu alasan Yeon Woo dibebastugaskan.
“Soal itu,ada banyak hal  yang terjadi padaku. Jangan bilang Anda memiliki  pemikiran yang bias tentang pria yang  tidak masuk tentara..” Ungkap Yeon Woo


Da Ham memberikan secangkir kopi dengan menatap Kang Seok seperti ingin membahas sesuatu. Kang Seok meminta agar jangan tanya karena  Da Ham pasti sudah mendengar semuanya. Da Ham mengaku hanya ingin  bertanya alasannya.
“Tidak hanya lulusan  universitas bergengsi, dia bahkan tidak memiliki lisensi  dalam hukum. Hanya ada satu jawaban atas apa yang terjadi saat ini. Apa dia putra rahasiamu?” ucap Da Ham seperti ingin bergosip.
“Sudah berapa lama  kau bekerja denganku?” tanya Kang Seok dengan helaan nafas.
“14 tahun, termasuk tahun-tahun  kau bekerja sebagai jaksa.” Ucap Da Ham. Kang Seok heran dengan begitu Da Ham belum mengetahui jawabanya
“Aku bilang begini karena  mengenalmu lebih baik dari siapapun. Kau telah bersama  ribuan wanita...” ucap Da Ham langsung disela oleh Kang Seok kalau sedang sibuk dan menyuruh keluar saja.
“Jadi, dia pasti putramu.” Kata Da Ham. Kang Seok mengertakan giginya. Dan Ham tersenyum mengaku kalau hanya  bercanda.
“Tapi, sepertinya langkah ini  beresiko. Omong-omong, Kenapa kau sungguh  mempekerjakannya?” kata Da Ham yang membuat Kang Seok tak bisa menahan amarah dengan tingkah sekretarisnya. 

Gina mengajak Yeon Woo kesebuah ruangan sebagai ruangan untuk rekan tahun  pertama bekerja dan saat membalikan badan tak sengaja menjatuhkan kopinya. Yeon Woo bisa menghindar dengan cepat. Gina langsung menyindir perhatian Yeon Woo yang  selalu teralihkan meminta agar  fokus.
“Tadi itu karena kecerobohanku, kan?” ucap Yeon Woo. Gina ingin tahu Apa Ada alasan lain.
“Ya, mungkin... Anda sengaja melakukannya.” Kata Yeon Woo. Gina mengaku tak peduli dan berjalan menunjukan meja untuk Yeon Woo. 

“Basement 1 dan 2  adalah ruang referensi. Lantai 3, 4, dan 5  untuk karyawan. Lantai 6 dan 7... Apa Kau tidak menulisnya?” kata Gina heran melihat Yeon Woo malah sibuk melihat meja kerjanya. Yeon Woo tersadara menatap Gina.
“Kenapa kau tidak mengambil memo?” keluh Gina karena Yeon Woo tak berusaha mencatat penjelasanya.
“Lantai 6 dan 7 untuk rekan. Lantai 8 untuk mitra senior. Lantai 9 ruang pertemuan.  Lantai 10 untuk klien VIP. Lantai 11 dan 12 memiliki ruang tunggu VVIP.  Apa Aku benar?” kata Yeon Woo yang bisa mengingat dengan cepat. Gina hanya bisa melonggo mendengarnya. 

Kang Seok menelp seseorang, mengetahui kalau Joseong Group bahkan  tidak memiliki tim hukum jadi ingin tahu Bagaimana bisa Presiden Park menggugat mereka ketika Tuan Park belum bertemu pengacara. Akhirnya ia menemui Geun Sik diruanganya.
“Geun Sik, kudengar kau pergi bermain golf dengan Presiden Park.” Ucap Kang Seok sambil memegang bola golf.
“Peramal yang tidak kompeten  bisa merusak kehidupan seseorang. Dan seorang idiot  bisa menghancurkan keluarganya. Kau membuat kekacauan  dengan terlalu percaya diri tentang dirimu.” Kata Geun Sik. Kang Seok langsung melempar bolanya, Geun Sik bisa menangkapnya.
“Kita berhasil menghindari peluru,tapi aku tidak yakin,  apa yang akan terjadi pada lisensimu.” Ucap Geun Sik
“Fakta bahwa dia bicara tentang jaksa dan dakwaan disaat belum menyewa pengacara, itu berarti seseorang  dari firma kita membocorkan informasi  ke Presiden Park. Seseorang yang tahu faktanya dan memiliki dendam padaku. Aku ingin tahu siapa dia.” Kata Kang Seok menatap Geun Sik.
“Apa Kau menuduhku membocorkan informasi?” ucap Geun Sik mengelak
“Kebocoran informasi adalah hal  yang paling dibenci perusahaan kita. Dan orang yang membocorkan  Informasi mencintai perusahaan kita  lebih dari hidupnya sendiri. Jadi, di pihak siapa aku  harus berada? Perusahaan kita atau pria itu?” kata Kang Seok.
“Memang benar kau berbohong.  Aku hanya...  Apa Kau punya bukti?” kata Geun Sik langsung menantang.
“Katakanlah aku menemukan bukti  dan membuktikan kau bersalah. Apa kau bisa menangani  kekecewaan Bu Kang? Tidak perlu berterima  kasih padaku. "Lupakan musuhmu, Tapi jangan pernah melupakan  sikap baik." Kau sebaiknya tidak melupakan apa yang telah kulakukan.” Ucap Kang Seok memberikan nasehat.
“Jika begitu... Aku akan melupakan segala perbuatanmu padaku.” Kata Kang Seok sengaja mengambar bola golf dan langsung memasukan ke dalam aqurium. Kang Seok mengumpat kesal dengan sikap Kang Seokmengganggu keluarganya. 

Cheol Soo berusaha kabur dari kejaran dua pria, bahkan sampai menyebrangi sungai. Yeon Woo sedang mengayuh sepedanya menyeberangi jembatan, melihat ponselnya Cheol Soo menelp, tapi memilih untuk mengabaikanya. Sementara Kang Seok bertemu dengan seorang wanita di atas jembatan.
“Presiden Park tidak punya banyak pendukung. Mungkin  karena dia akan segera diberhentikan.” Ucap si wanita. Kang Seok seperti tak percaya mendengarnya.
“Tapi dia memiliki seorang putra. yang suka minum  dan memakai narkoba. Putranya mengalami masalah  berkali-kali, dan Presiden Park harus menggunakan semua koneksinya untuk menyelamatkan dia  dari penjara sebanyak tiga kali. Biasanya, dia berpesta  setiap malam di klub.” Kata Si wanita
“Dan sudah jelas, apa yang akan dia lakukan di sana. Bagaimana dengan Parlemen Cho?” tanya Kang Seok
“Kurasa dia tidak akan  menjadi masalah besar. Dia anggota tertua  dari Gereja Shillak. Dan mimpinya menjadi Pemimpin Tetua di sana.” Ucap wanita. Kang Seok binggung tentang Pemimpin Tetua dari Gereja Shillak.
“Itu gereja yang sangat besar, dan Pemimpin Tetua lebih kuat daripada  anggota kongres atau menteri. Gereja yang kudatangi  masih ditahan izinnya karena kami tidak bisa mengumpulkan 5.000 dolar sebulan.” Ungkap Si wanita.
“Apa Kau pergi ke gereja?” ejek Kang Seok. Si wanita mengeluh kalau itu seperti dianggap tidak cocok  dengan karakternya. Kang Seok mengatakan kalau itu cocok lalu berjalan pergi. 


Kang Seok pergi ke gereja menemui  Tuan Cho, Tuan Cho kaget karena Kang Seok itu pergi ke gerejanya juga. Kang Seok merasa  akan mulai  menghadiri gereja jika Parlemen Cho menjadi  Pemimpin Tetua. Tuan Cho kaget dan ingin tahu siapa yang memberitahu
“Omong-omong, apa yang membawamu kemari?” tanya Tuan Cho
“Ketika aku berpikir bagaimana caraku bisa... membantu bisnis gerejamu, aku menemukan kartu  yang sangat bagus. Ketua Dewan Jung  dari Rumah Sakit Yurim juga menginginkan  posisi Pemimpin Tetua.” Ucap Kang Seok memperlihatkan USB yang diterima oleh wanita itu.
“Ini laporan keuangan rumah sakit  dan yayasannya. Orang yang tahu cara  membaca buku besar akan sadar bahwa ini  telah dikacaukan. dalam waktu lama.” Jelas Kang Seok memperlihatkan tabnya.
“Apa kau selalu  menjalankan bisnis seperti ini Atau ini semacam sebuah trik?” keluh Tuan Cho. Kang Seok mengaku bukan trik tapi sihir
“Bagaimanapun, sepertinya sebuah kartu  tidak akan melakukan banyak hal untuk menggoyahkan  permainan hari ini.” Kata Tuan Cho. Kang Seok pikir kalau itu tak seru.
“Begitu dia melihat kartu kita,maka dia akan gulung tikar dan keluar dari permainan. Anda hanya perlu sedikit tersenyum.” Kata Kang Seok.
Saat itu beberapa orang berkumpul, Tuan Jung melihat ponselnya lalu menatap Tuan Cho dan Tuan Cho hanya memberikan senyumanya. Tuan Jung pun langsung bergegas pergi. Akhirnya Tuan Cho menelp seseoang agar meminta Kang dan Ham menjadi penasehat hukum mereka dan mengurus sekarang. 



Yeon Woo pergi ke sebuah restoran dan menemui wanita yang sedang mencuci piring dengan bertanya Apa wanita itu Kim Mi Sook. Mi Sook hanya terdiam. Yeon Woo memberitahu kalau ia dari Firma Hukum Kang dan Ham. Min Sook melihat Yeon Woo itu anak magang. Yeon Woo sempat binggung menjelaskan.
“Ya, aku rekan masa percobaan. Aku tahu kau tertutup,  tapi tolong beri tahu semuanya.” Ucap Yeon Woo pada Min Sook
“Jika kuberitahu, Apa kau bisa  menyelesaikan masalah?” ucap Min Sook. Yeon Woo seperti tak yakin bisa Menyelesaikan masalah
“Mendengar dengan kesungguhan, Kau tahu, pendengaranku  sangat bagus. Aku juga cukup pintar.” Kata Yeon Woo. Min Sook seperti tak peduli. Yeon Woo akhirnya mengambil sarung tangan untuk cuci piring.
“Lebih baik ada daripada tidak sama sekali. Mari selesaikan ini  dengan cepat dan bicara. Ini sama pentingnya bagiku. seperti dirimu.” Ungkap Yeon Woo. Min Sook pun hanya bisa menatap seperti tak menyangka sikap Yeon Woo. 


Keduanya berjalan bersama, Min Sook menceritakn Presiden mewawancarainya untuk posisi sekretaris Lalu, menyuruh untuk segera mulai bekerja. Yeon Woo bertanya apakah maksudnya Itu Presdir Yoo Chang Jung dari Geumjeong Digitech. Min Sook membenarkan.
“Setelah seminggu, dia mulai melakukan pembicaraan yang membuatku tidak nyaman. Aku tidak tahan lagi,  sehingga mengajukan keluhan. Suatu hari, mereka bilang  aku akan dipindahkan dan membuatku duduk  menghadap ke dinding.” Cerita Min Sook
“Mereka tidak memberiku pekerjaan apa pun, jadi kurasa lebih berguna jika  membersihkan kamar mandi. Lalu Mereka segera memecatku, dengan alasan aku absen tanpa cuti.” ucap Min Sook
“Bagaimana dengan karyawan lain? Apa Tidak ada yang membantumu?” tanya Min Sook
“Tidak. Seolah-olah mereka  ikut campur. Semua orang bilang, "Dia dipecat karena suatu alasan. Dia mencoba merayunya dari awal. Dia penggali emas." Aku tidak mau mendengar itu lagi,  jadi aku menyerah menuntut mereka.” Ungkap Min Sook
“Tapi Apa kau tahu, yang dikatakan Hee Soo padaku?” ucap Min Sook. Yeon Woo memastikan kalau Hee Soo yang dimaksud adalah anaknya.
“Dia bilang "Bu, dunia telah berubah. Wanita bisa percaya diri  dan bebas sekarang." Cerita Min Sook. 


Di rumah Cheol Soon sudah berantakan. Salah satu pria merasa kalau mereka tak perlu mencarinya lagi, menurutnya orang itu  pergi ke MIA agar bisa memiliki semuanya sendiri jadi tak mungkin akan  menyembunyikannya di rumah, lalu mencari ponsel di saku Cheol Soon
“Siapa Se Hee? Apa Dia pacarmu?” tanya preman. Cheol Soon panik dengan badanya yang terluka berusaha mengambil  ponselnya.
“Tidak, tidak... Dia tidak ada hubungannya denganku.” Ucap Cheol Soon, tapi si pria malah menendang Cheol Soon.
“Tapi wajahmu bicara sebaliknya.” Kata Si pria. Cheol Soon terbaring lemah melihat kartu joker dan juga nama “Kang dan Ham”

Yeon Woo datang ke rumah sakit menatap nenek Cho yang tertidur lalu berbaring sambil memeluknya. Nenek Cho tahu kalau itu cucunya yang datang, Yeon Woo mengatakan akan tidur disamping neneknya malam ini. Nenek Cho menyuruh Yeon Woo tidur di rumah, karena bisa tinggal sendirian dirumah sakit dan mengaku kalau tempatnya sangat nyaman.
“Nenek bisa tetap di sini  tanpa khawatir apa pun. Aku mendapat pekerjaan  yang sangat bagus.” Ucap Yeon Woo. Nenek Cho hanya diam saja.
“Apa Nenek sudah tidur?” ucap Yeon Woo. Nenek Cho menyahut meras Mungkin karena terlalu sunyi jadi selalu tertidur lalu bertanya apa yang ingin dikatakan Yeon Woo.
“Aku mendapat pekerjaan  di perusahaan yang sangat besar.” Ucap Yeon Woo
“Syukurlah... Kerja bagus. Nenek tahu kau akan berhasil.” Kata Nenek Cho dengan seperti sangat lelah dan mulai tertidur.
“Apa Nenek tidak bertanya apa pekerjaanku? Maafkan aku, Nek. Ketika aku menjadi  pengacara sungguhan, maka aku akan memberitahu Nenek  semuanya.” Bisik Yeon Woo berbaring disamping neneknya. 



Yeon Woo membeli roti bakar depan kantor, tapi saat itu datang Kang Seok yang langsung menyambar roti dan memakanya, Yeon Woo kaget langsung mengejar ikut berjalan masuk kantor. Kang Seok langsung bertanya Bagaimana dengan kasus pro bono.
“Apa Maksudmu, Kim Mi Sook? Dia tampak seperti orang baik. Dia...” ucap Yeon Woo yang langsung disela oleh Kang Seok.
“Kau bilang Orang baik? Bagaimana kalau dia orang jahat?  Apa Tidak akan kau bela?”sindir Kang Seok.
“Setelah mendengar ceritanya...” kata Yeon Woo kembali disela oleh Kang Seok.
“Cerita atau tidak,  jangan lihat orangnya. Lihat kasusnya saja. Saat kau berempati pada klien,  maka kau telah membuat kesalahan. Kesalahan menyebabkan  kasus menjadi kalah. Aturan nomor dua... Hanya pikirkan kemenangan.” Ucap Kang Seok
“Bukankah lebih baik berempati  pada klien dan juga menang? Anda bilang bisa membaca orang.” Komentar Yeon Woo.
“Membaca orang berguna untuk membaca keinginannya  dan menemukan kelemahan mereka.” Tegas Kang Seok. 


Keduanya masuk ke dalam gedung, beberapa orang menyapa Kang Seok. Yeo Woon heran Kang Seok yang tidak menjawab sapaan orang-orang. Kang Seok tak membahasnya,ingin tahu Jika yang dikatakan klien mereka benar, lalu bagaimana dengan pelaku.
“Ini bukan pertama kali baginya. Tapi tidak ada orang lain di perusahaan  yang dirugikan dengan cara sama.” Ucap Yeon Woo
“Tentu saja tidak. Jika mereka tetap di perusahaan,  berarti mereka telah menerimanya. Jika tidak...” kata Kang Seok
“Mereka mungkin dipecat  atau berhenti. Kalau begitu, aku akan meminta terdakwa  untuk berhenti atau pensiun. Tapi itu kelemahan mereka. Mereka tidak akan bertekuk lutut.” Kata Yeon Woo
“Mencapai kesepakatan seperti  melempar dadu dan pindah berdasarkan nomor  yang tertera di sana. Kau harus melemparnya sehingga bisa berpindah setidaknya satu kotak.” Ucap Kang Seok
“Tepat sekali. Tapi jika kita tidak bisa mendapatkan daftarnya, tidak akan ada  yang kalah.” Kata Yeon Woo
“Kau bilang Tidak ada yang kalah? Lalu, kau harus mulai dengan menemukan dadumu.” Ucap Kang Seok 


Yeon Woo mengetik pada forum [Mencari korban pelecehan seksual atau pemecatan tidak adil di Geumjeong Digitech] tapi beberapa jam kemudian belum ada pengunjung. Akhirnya ia pergi menemui Gina dalam ruangan mengaku butuh bantuan.
“Apa Anda punya waktu selepas bekerja?” tanya Yeon Woo
“Kau bilang "Selepas bekerja"? Aku tidak percaya  kau barusan bilang begitu... Pak Go... Semua orang di perusahaan ini  bekerja sangat keras bahkan nyaris tidak bisa  meninggalkan tempat ini dan Hanya rekan yang bisa pulang. Jadi Bagaimana bisa seorang rekan  berpikir untuk pulang ke rumah?” ucap Gina Sinis. Yeon Woo seperti baru mengetahuinya.
“Omong-omong, Apa Anda selalu marah?” tanya Yeon Woo. Gina terlihat binggung menjelaskan.
“Sudah Lupakan. Pak Chae mencarimu.” Kata Gina. Yeon Woo menganguk mengerti.
“Kau bilang "Chae"? Bukan Choi?” kata Yeon Woo memastikan. Gina membenarkan dengan wajah menahan kesal. Yeon Woo pun bergegas meninggalkan ruangan.
Bersambung ke part 2

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09