Selasa, 25 April 2017

Sinopsis Queen Of Mystery Episode 5 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Seol Ok bertanya pada Tuan Cha Diantara jam 11.32 sampai 1.00 pagi, apa yang dilakukanya. Tuan Cha hanya diam saja. Seol Ok langung mencuriganyanya, bertanya kenapa Tuan Cha dan seperti menyembunyikan sesuatu. Tuan Cha terlihat marah.
“Ahjumma, berhenti.” Ucap Wan Seung langsung menutup mulut Seol Ok.
“Aku sibuk. Apa yang kau mau dari aku?” ucap Tuan Cha sinis
“Cha Yong Chool.. Istrimu sudah mati. Dan kau bilang anda sibuk? Anda bilang ayahmu bukan pembunuhnya. Maka anda harus membersihkan namanya. Tidakkah anda ingin tahu siapa yang membunuh istrimu?” ucap Wan Seung heran
“Apa dia tahu siapa yang membunuh istrinya?” komentar Seol Ok. 

Seorang petugas datang, Wan Seung memberitahu kalau Tuan Cha  perlu ditanyakan sebagai saksi jadi meminta agar dibawa pergi. Tuan Cha pun dibawa dan Seol Ok langsung memberikan jempolnya dan juga pujian kalau Wan Seung itu sangat kharismatik.
“Aku memancarkan kharisma dari ujung kepala sampai kaki.” Komentar Wan Seung lalu menyindir Seol Ok yang tidak pulang
“Ini belum jam 12” kata Seol Ok. Wan Seung makin mengejek Seol Ok itu seperti Cinderella yang ingin pulang jam 12 malam dan menyuruh agar membeli belilah pangsit dan pulang ke rumah.
“Apa Alibi Cha Yong Chool tidak diperiksa? Aku bisa menjelaskan. Jadi Tolong dengarkan aku.” Pinta Seol Ok 

Mereka pun berjalan keluar, Wan Seung bertanya Bagaimana Seol Ok itu bisa tahu waktu terjadinya pembunuhan, karena Hasil otopsi bahkan belum keluar. Seol Ok menceritakan sudah memeriksa catatan panggilan keluarga dan pesan teks.
“Itu ada di ruang bukti. Bagaimana kau bisa melihatnya?” kata Wan Seung, lalu kesal mengingat pasti dari Petugas Hong.
“Tapi...Apa Kau tidak bisa pulang sekarang.” Kata Wan Seung kalau pasti nanti akan di telp.
Seol Ok mengingat lalu berpikir membuat alasan diculik dan menceritakan penculik itu menutup teleponnya, karena tahu tentang rahasia negara. Begitu petugas negara menculiknya maka menutup telepon sehingga bisa menjaga keluarganya tetap aman.
Wan Seung mengeluh mendengarnya menyuruh Seol Ok membuat alasan  sedang berada di ruangan bawah tanah dan tidak ada jaringan. Seol Ok tahu kalau Jaringan ponsel akhir-akhir ini sudah bagus dan Suamiknya mungkin akan menceraikannya jadi meminta aga menyarankan  sesuatu yang membantu. Wan Seung pikir Tidak ada jaringan, terdengar lebih baik  dari pada menjaga rahasia negara.
“Jangan bercerai dan Pulang saja” kata Wan Seung
“Paling tidak aku harus menangkap penjahat itu jika aku bercerai.” Kata Seol Ok. 


Mereka masuk ke sebuah restoran, Wan Seung memesan Sup mabuk lalu menyuruh Seol Ok pulang saja sebelum tempat pangsit ditutup karena tidak mungkin menangkapnya hari ini. Seol Ok melihat kalau Masih ada waktu dan meceritakan akan mengatakan antri panjang ketika membeli pangsitnya dan tak bisa membelinya karena pangsitnya habis. Wan Seung heran mendengar Seol Ok itu harus berbohong.
“Jadilah berani. Katakan padanya untuk  memikirkan urusannya sendiri.” Komentar Wan Seung
“Dia akan menyukainya dan tidak masalah”kata Seol Ok, Wang Seung mengaku tak peduli.
“Kau tidak punya waktu untuk makan. Kita harus pergi menangkap penjahatnya.” Kata Seol Ok
“Bagaimana aku bisa berkerja saat dia tidak berbicara? Cukup sampai disini saja malam ini. Kita akan mengetahui waktu terjadinya kejahatan ketika hasil otopsi keluar.” Kata Wan Seung kesal
“Ini antara jam 11.32 sampai 1.00 pagi.” Ucap Seol Ok, Wan Seung memilih untuk lanjut makan. 

Flash Back
Seol Ok melihat catatan dari telp yang sudah dituliskan  mulai dari 3 panggilan diterima yaitu Nenek, Ibu mertua, Cha Hee Chul dan pada pukul 00.49 Panggilan tak terjawab.
“Aku tahu itu setelah menganalisis... Ponselnya. Mengapa hal aneh ini terjadi.” Cerita Seol Ok pindah tempat duduk disamping Wan Seung. Wan Seung berkomentar kalau Seol Ok itu tidak tahu apa-apa.
“Mengapa kedua orang tua itu...Tiba-tiba pulang dari gereja?” kata Seol Ok, Wan Seung seperti tak peduli meminta kimchi pada bibi pemilik kedai.
“Mengapa Hee Chul pulang Tepat pada hari itu? Pada hari itu, apa yang terjadi dengan keluarga itu. Sekitar jam 8 malam, Hee Chul...” cerita Seol Ok sambil memotong kimchi. 


Flash Back
Pertengkaran Tuan Cha dan istrinya terdengar dari lantai atas, Hee Chul yang baru pulang melihat bayangan dari jendela kamar atas.
“Hee Chul pulang ke rumah Sekitar jam 8 malam. Dia melihat orang tuanya berkelahi.”
Akhirnya Hee Chul yang melihat orang tuanya bertengkar mengirimkan pesan pada temanya untuk main game di rumhanya. Temanya pun menyetujuinya.
Lalu mengirimkan pesan untuk ibunya kalau akan pergi ke rumah Jin Woo dan punya banyak PR, jadi akan tidur disana. Sementara itu Tuan Cha yang terlihat kesal keluar dari rumah lalu mengirimkan pesan pada temanya untuk mengajak minum, temanya pun meminta agar datang saja.
“Saat Hee Chul tidak bisa menelpon Ibunya, lalu Dia menelpon neneknya.”
Hee Chul terlihat gelisah lalu mengirimkan pesan untuk neneknya, memberitahu kalau Ibu tidak mengangkat teleponnya an melihatnya bertengkar dengan Ayah.
Istri Tuan Cha masih ada di Gereja sedang berbicara dengan pendeta, setelah itu memberitahu kalau merasakan ada sesuatu yang terjadi di rumah jadi harus cepat pulang. Tuan Cha pun bergegas akan mengambil mobil.
Nenek Cha memberitahu cucunya kalau mereka akan pulang sekarang jadi jangan dipikirkan.
“Itulah sebabnya pasangan lansia itu kembali ke Seoul. Jam 11.25 malam, Dia menggunakan kartu kreditnya di toko serba ada. Temannya mengatakan... Tn. Cha pergi untuk membeli minum.”
Tuan Cha membeli minuman untuk minum bersama di minimarket lalu ponsel Nyonya Lee berdering telp dari anaknya, tapi tak diangkat olehnya masih terlihat tertidur, di jam 11.32 PM.
“Jam 11.32 malam, Ada riwayat panggilan yang mengatakan bahwa dia mengabaikan panggilan. Itu berarti Ny. Lee masih hidup sampai saat itu.” 


“Pasangan lansia itu berada di dekat rumah mereka, jam 12.53 malam. Mereka mencoba menelponnya berkali-kali, Tapi Ny. Lee tidak mengangkatnya.”
Tuan Cha dan istrinya kembali pulang kerumah, lalu mengirimkan pesan pada menantunya “Myung Hee, kami hampir sampai di rumah. Kami baru saja melewati toko.” Tapi ketika sampai rumah melihat Myung Hee yang sudah terbujur kaku dengan luka dibagian tubuhnya.
Istri Tuan Cha ingin memanggil ambulan, Tuan Cha melarangnya seperti tak ingin anaknya masuk penjara. Seol Ok yakin Tepat jam 1 malam Ibu mertuanya menelepon 911dan menutup teleponnya.

Wan Seung mendengarkan dugaan Seol Ok,  mengartikan kalau saat itulah mereka menemukan mayatnya. Seol Ok yakin Ny. Lee meninggal antara jam 11.32 sampai 1.00 am. Jadi siapa pun yang berada di rumah saat itu adalah pelakunya.
“Hee Chul saat itu sedang main game. Tn. Cha memiliki saksi yang mengatakan dia bersama temannya.” Kata Wan Seung
“Benar, kau menjumpai dia. Kau harusnya lebih tahu. Setiap orang memiliki alibi Kecuali wanita tua itu.” Kata Wan Seung
“Ada seseorang yang alibi nya aneh.” Ucap Seol Ok yakin, Wan Seung bertanya siapa yang dimaksud. 

Sementara di ruangan investigasi, petugas melihat dari pencocokan sidik jadi dan hasilnya Identik. Si petugas Park pun bertanya apakah sudah  mendapat hasilnya. Si petugas wanita memberitahu kalau Mereka identik.
Sementara keduanya keluar dari restoran dan  Wan Seung meminta agar Seol Ok itu berhenti menganggunya, Seol Ok berjanji akan membelikannyamakan nanti dan akan memotong kimchi lobak. Wan Seung pun bertanya alibi siapa yang aneh. Seol Ok bertanya itu dari Cha Yong Chool.
“Apa karena dia pergi beli minum sendiri? Dia kembali jam 11.30” kata Wan Seung
Saat itu ponsel Wan Seung berbunyi, telp dari petugas Park, lalu bertanya sidik jari siapa dan akhirnya menutup telpnya. Seol Ok membalikan badan pura-pura tak mendengarnya. Wang Seung menarik Seol Ok bertanya Seberapa banyak masalah yang telah dibuatnya. Seol Ok bertanya jadi sidik jari siapa.
Wan Seung pikir tak ada alasan untuk memberi tahunya. Seol Ok mengeluh Wan Seung yang cepat marah dan meminta agar memberitahukanya dan bertindak lebih adik. Wan Seung tak peduli memilih untuk pergi meninggalkanya. 

Seol Ok berusaha untuk mendengar dari depan pintu. Petugas Park memberitahu Kelompok pengawasnya satu orang, Jadi mendapat hasilnya dengan cepat. Wan Seung melihat hasil sidik jari.  Petugas Park pun memberikan jam dinding.
“Apa mereka memulai otopsi?” tanya Wan Seung
“Iya. Mereka akan memberitahu kita begitu selesai.” Kata Petugas Park, Wan Seung hanya bisa menghela nafas.
Seol Ok masih ada didepan pintu menunggu dan langsung bertanya apakah Itu sidik jari Tn. Cha. Wan Seung membenarkan dan bertanya Bagaimana Seol Ok tahu jam-nya memiliki sidik jari. Seol Ok pikir hanya mengira itu aneh.
“Temannya mengingat waktu kejadian Karena dia melihat jam dinding. Berarti jam itu memiliki sidik jari Tn. Cha.” Ucap Seol Ok
“Apa kau mengatakan dia memutar jam jadi 11.30 Ketika temannya mabuk dan tertidur?” ucap Wan Seung
“Dia mungkin tahu temannya tidur saat sedang mabuk.” Kata Seol Ok
“Itu masuk akal, Tapi alibi Cha Yong Chool belum dipecahkan.” Wan Seung, Seol Ok pikir Sidik jarinya sudah ditemukan.
“Bagaimana kau bisa yakin dari itu saja? Dan juga, aku pikir dia menggunakan kartu kreditnya pada saat itu.” Komentar Wang Seung
Seol Ok yakin Orang lain mungkin yang telah menggunakannya jadi mereka tidak tahu apa dia yang menggunakannya Wang Seung mengeluh Seol Ok itu sekarang sangat plin-plan dan memberitahu kalau Cha Yong Chool tertangkap dalam CCTV sebuah toko jam 11.25. Seol Ok binggung  kalau Tuan Cha itu benar-benar ada di CCTV itu.
Wan Seung mendengar suara ponsel Seol Ok yang berdering mulai mengeluh menyuruh agar mematikan. Seol Ok pikir kalau melakukan iu maka nanti masalahnya bisa semakin besar.


Wan Seung yang kesal berjalan melihat seorang petugas yang berdiri dengan mata mengantuk. Si petugas mengaku kalau sedang minum cola. Wan Seung memberitahu kalau Interogasi akan berlangsung lama, Jadi sebaiknya minum kopi saja. Si petugas menolak karena sangat sensitif.
“Aku tidak bisa tidur di malam hari jika minum kopi.” Ucap Si pria
“Kau tidak bisa tidur karena tidur di siang hari.” Komentar Wan Seung
Seol Ok mendekati si petugas meminta agar memegang ponselnya dan terlihat nomor rumah yang terus berbunyi, serta meminta agar jangan diangkat telponnya. Wan Seung memberitahu si petugas kalau  akan segera kembali jadi Tetaplah siaga.
Seol Ok mengikuti Wan Seung meminta agar menunjukkan cuplikan CCTV nya. Wan Seung mengeluh Seol Ok yang harus melihatnya, karena ia sudah melihatnya dengan matanya. Seol OK pikir harus melihatnya dengan matanya sendiri. Sementara Si petugas yang meminum soda dengan sedotan sadar kalau sedari tadi minumanya sudah habis. 

Di rumah
Nyonya Park dan juga Ho Soon menonton TV, sementara suami Seol Ok sibuk di ruang kerja menelp tapi telp istrinya yang tak diangkta. Nyonya Park yang melihatnya berpikir kalau Seol Ok itu kecelakaan. Ho Soon pikir tak seperti itu karena menurutnya kakak iparnya saja yang hanya agak aneh.


Seorang wanita Jung Ji Won datang ke sebuah toko gaun lalu menunjuk sebuah gaun. Si pegawai pikir Ji Woon bisa melihat yang lain lebih dulu. Tapi Ji Won tetap ingin memilih langsung gaun yang menarik dimatanya.

Wan Seung mengeluh Ponsel Seol Ok yang sangat berisik karena terus berbunyi. Seol Ok pikir itu punya Wan Seung karena ponselnya sudah dititipkan pada petugas. Wan Seung melihat ponselnya.  Ternyata sebuah pesan [Upacara pertunangan Ha Wan Seung  dan Jung Ji Won] lalu wajahnya dengan kesal menelp seseorang.
“Hei, Apa kau gila? Kau bilang Upacara pertunangan? Kau tidak bisa melakukan ini seenakmu. Jangan lakukan upacara pertunangan ini.” Ucap Wan Seung, Ji Won seperti tak mau tahu langsung menutup telpnya. Wan Seung makin marah Ji Won menutup telpnya lebih dulu.
“Dia baru saja dicampakkan. Bagaimana dia tidak tahu pacarnya tunangan?” komentar Seol Ok melihat sikap Wan Seung

Wan Seung mendekat bermastikan Seol Ok hanya ingin melihat hasil CCTV. Seol Ok memberikan hormat tanda setuju.  Wan Seung menegaskan Jika tidak bisa menangkap pembunuh  setelah ini, maka  Seol Ok itu selesai dan Jangan mengeluh kalau ia bersikap jahat atau pelit. Seol Ok setuju.
“Kau melakukan ini semua sehingga kau dicampakkan. Jadi Aku akan menangkap pembunuhnya malam ini. Semangat.” Ucap Seol Ok memberikan semangat.
“Ini jam 11 malam. Kau memiliki waktu satu jam.” Kata Wan Seung, Seol Ok mengeluh kalau sekarang sedang mempertaruhkan nyawaku di kantor polisi
“Perceraian tidak akan membunuhmu.” Komentar Wan Seung dan mengajak segera melihatnya karena Sekarang tersisa 58 menit. Seol Ok pun setuju. 


Keduanya melihat rekaman CCTV dari toko tempat Tuan Cha membeli minuman. Seol Ok bertanya apakah hanya ini saja CCTV yang dimiliki. Wan Seung merasa kalau Seok Ok ingin mengatakan CCTV-nya dirusak dan menegaskan kalau yang dilihat memang benar Cha Yong Chool.
“Jangan biarkan hal seperti ini terjadi padamu. Ini salahmu bertaruh melawan veteran sepertiku. Jika aku berada di level Petugas Hong, Mungkin itu menarik.” Komentar Wan Seung bangga pada dirinya  Seol Ok berdiri melihat peta dibagian Baebang 2-dong

[Ruang Interogasi]
Petugas yang berjaga tertidur sampai berdiri dan mendengar bunyi ponsel yang terus berdering akhirnya mengangkatnya.  Dan berkata kalau ada di  kantor polisi Seodong dan bertanya siapa yang menelp. Lalu dibuat binggung kalau yang menelp adalah suaminya. Ia pun sadar kalau telp yang diangkat milik Seol Ok bukan miliknya dan buru-buru menutupnya dengan wajah panik.
Seol Ok masih melihat Peta sambil bertanya Apa tokonya tempat yang ditunjuk. Wan Seung mengejek kalau dirinya itu  menyakiti harga diri Seol Ok, menurutnya wanita itu sudah  melakukannya dengan baik bagi ibu rumah tangga.
“Ahjumma.... Apa yang kau lakukan?” ucap Wan Seung melihat Seol Ok hanya diam saja menatap peta.

“Mari kita lihat cuplikan CCTV-nya.” Ajak Seol Ok. Wan Seung heran karena mereka baru saja melihatnya dan Apalagi yang ingin dilihat
“Masih ada lagi, aku yakin itu.” Kata Seol Ok
“Kau memiliki waktu 30 menit dan Aku tidak peduli jika kau melihatnya. Jika terlambat, kau akan keluar. Aku akan membuat alarm jika aku lupa.” Kata Wan Seung siap dengan ponselnya dan baru sadar kalau Seok Ok sudah melesat pergi ke luar ruangan.
Petugas wanita datang memberikan Data yang diminta oleh Wan Seung. Wan Seung melihat Ada pita di atas amplop lalu si wanita terlihat malu dan langsung kabur. Wan Seung heran melihat banyak wanita yang kabur darinya, dan melihat isi amplop Polis asuransi kesehatan milik Lee Myung Hee. 


Paman pemilik toko menerima telp tentang Tiga polisi lalu bertanya Berapa lama dan apakah sudah berangkat sekarang, lalu memberitahu kalau akan siap-siap. Ia pun memberitahu anak buahnya kalau agar memberikan cuplikan CCTV yang diambil Detektif serta Arsipkan hari-hari yang penting. Si pegawai binggung apakah harus sekarang juga.
“Dia akan berangkat  dari kantor sekarang dan akan tiba sekitar 30 menit.” Ucap si paman. 

Seol Ok keluar dari kantor polisi tahu kalau si pria pasti akan meneleponnya duluan dan Mereka akan menyiapkan rekamannya, lalu memikirkan tentang Rute terpendek ke toko yaitu berbelok ke kanan dan harus berlari.
Akhirnya Seol Ok berlari sekuat tenaga,  dengan Melewati restoran daging dan tikungan yang membutuh waktu 15 menit. Lalu berjalan mundur dengan memotong jalan masuk restoran daging dan terus berlari. Ia yakin kalau pergi melewati asrama di persimpangan, masih dua menit lagi jadi bisa sampai di sana dalam waktu 10 menit.

Wan Seung dan Tuan Cha duduk berhadapan di ruang interogasi, Tuan Cha pikir Tidak ada yang perlu dikatakan. Wan Seung mengangguk mengerti. Tuan Cha heran ingin tahu alasan memanggilnya. Wan Seung pikir kalau Tuan Cha sibuk lebih baik pergi saja. Tuan Cha keluar dari ruangan dan kaget melihat temanya yang masuk ruangan interogasi.
“Sebagai gantinya, kami memanggil seseorang  yang memiliki sesuatu untuk dikatakan.” Ucap Wan Seung
“Aku minum dengan temanku sepanjang malam. Dia tidak ada hubungannya dengan kematian istriku.” Kata Tuan Cha mengajak temanya pergi.

“Kita harus bekerja sama. Jika mau membersihkan nama ayahmu, maka Kita harus mendapatkan pembunuh sebenarnya. Itulah yang Myung Hee inginkan.” Ucap Teman Tuan Cha 
Akhirnya teman Tuan Cha duduk di ruangan interogasi, Wan Seung membahas kalau Myung Hee telah membeli tiga polis asuransi jiwa dan bertanya apakah teman Tuan Cha itu sadar. Teman Tuan Cha mengaku tidak tahu itu polis asuransi jiwa.
“Aku baru saja membelinya dari seseorang yang aku kenal.” Kata Sei pria. Wan seung bertanya apakah seseorang yang dimaksud adalah Seseorang wanita. Tuan Cha yang harus melihatnya akhirnya ikut duduk.
“Apa kau khawatir dengan perkataan temanmu? Jadi Keluarlah atau duduk.” Perintah Wan Seung 


Ji Won sudah siap dengan gaun untuk tunanganya,  pegawai itu bertanya Kapan tunangannya akan mencoba bajunya. Ji Won mengaku kalau tunangan tidak akan datang lalu Kurangi ukuran dada hingga dua inci karena tahu pacarnya itu akan kehilangan berat badan.
Ponselnya berdering dari “Nomor tidak diketahui” seseorang mengucapkan  Selamat bertunangan. Ji Won tahu yang menelp adalah Do Jang memberitahu kalau tidak bisa terus meneleponnya. Do Jang pikir tak ada yang bisa dilakukan karena Tidak ada yang peduli.
“Aku akan ke sana untuk menemuimu minggu depan.” Kata Ji Won
“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi tapi Aku ingin bertemu Tn. Ha. Dia sangat sibuk untuk datang saat aku menelepon. Katakan padanya... Dia bisa mengajukan permohonan untuk mengunjungi  narapidana seperti aku secara online.” Kata Do Jang.
Ji Won binging Do Jang yang ingin bertemu CEOnya, saat ingin bicara Do Jang sudah menutup telpnya. Ia pun bertanya-tanya  Bagaimana preman tingkat tiga mengenal CEOnya, menurutnya  Ada sesuatu tentang dia. 

Wan Seung memberitahu julukanya adalah hidung anjing Seodong jadi mencium bau dan Ayah Tuan Cha itu  berbau amis jadi tidak akan pernah bisa menghapus adegan pembunuhan. Tuan Cha dengan nada mengejek ingin tahu alasan memanggil mereka berdua.
“Ini sangat aneh. Kalian berdua juga berbau. Apa itu?” ucap Wan Seung menatap keduanya terlihat gugup. 

Sementara Seol Ok masih sibuk berlari mengingat Pencuri memanjat pipa dan memanjat pipa dan dinding lalu melompat melintasi bangunan,  jadi mereka sulit ditangkap jadi Jika ia melompati atap rumah maka Jarak terpendek sampai toko akan memakan waktu tujuh menit.
“Pasti sangat sulit menjadi pencuri.” Komentar Seol Ok lalu mencoba memanjat dinding, tapi saat itu seorang wanita baru selesai mandi membuka jendela panik melihat Seol Ok memanjat dinding dan berteriak menuduh Seol Ok sebagai pencuri.
Petugas patroli lewat, Si wanita makin berteriak lantang agar menangkap Seol Ok. Seol Ok pun akhirnya memilih untuk kabur dari pada ditangkap oleh petugas. 

Dua belas kurang 20 menit, Wan Seng memberitahu kalau Kapan pun menangkap penyelundup narkoba, maka selalu menemukan wanita menurutnya Pria memang seperti itu, tidak bisa tanpa wanita lalu bertanya apakah dia seperti itu. Teman Tuan Cha mengelengkan kepala.
“Bukan kau. Tapi kakek.” Kata Wan Seung. Teman Tuan Cha yakin kakek Cha bukan orang semacam itu.
“Jadi tidak seperti itu dan Berarti itu uang. Ini hanya tentang wanita atau uang. Itu sebabnya orang membunuh orang lain. Ada yang bilang mereka melakukannya karena marah, Tapi kenapa mereka marah? Ini tentang uang atau wanita. Dia membunuh menantunya. Mungkin dia terdaftar dalam asuransi jiwa. Dan bagaimana jika... Perencana asuransi adalah teman dekatnya. Jika itu seorang wanita, maka Keseluruhan cerita akan berbeda.” Kata Wan Seung
Teman Tuan Cha sedikit panik dan saling berpandangan.  Wan Seung pikir Uang dan wanita adalah tanda yang pasti dengan sedikit mengertak aklau teman Tuan Cha itu tahu segalanya. Teman Tuan Cha mengaku tak mengetahuinya.
“Apa yang kau tolak?  Cha Yong Chool berselingkuh dengan perencana. Kalian berdua bahkan minum bersama. Kau melakukannya, 'kan? Apa kau tahu dia memiliki asuransi jiwa? Ada kemungkinan kau tidak akan tahu. Kau pikir Cha Yong Chool mungkin telah... membunuhnya, 'kan? Itulah mengapa kau datang ke sini.” Kata Wan Seung, Teman Tuan Cha panik dan gugup. 


Seol Ok akhirnya datang sampai ke minimarket,  dan menunjuk kamera CCTV lainya. Si pegawai mengaku belum memindahkan arsipnya jadi Butuh waktu 10 menit lagi. Seol Ok kaget mendengarnya. Polisi yang datang tergopoh-gopoh pun binggung karena tenyata Seol Ok yang mencari rekaman CCTV. 

Ruang interogasi
Tuan Cha mengaku kalau temanya hanya asal bicara dan Jangan memperdulikanya. Teman Tuan Cha memastikan kalau bukan temanya yang membunuh Myung Hee, Tuan Cha malah menyindir dengan bertanya Apa memiliki bukti untuk menuduhnya. Wan Seung pikir mereka lebih baik menunggu dan lihat buktinya akan datang.
Saat itu ponsel Wan Seung berdering,  berpura-pura menerima telp dari  Petugas Lee. Seol Ok meminta Wan Seung agar memberikan waktu  10 menit lagi lalu mengubahnya jadi Lima menit lagi, dan ia sudah naik ke mobil polisi.
Wan Seung menegaskan kalau itu tak mungkin, dan meminta agar Jangan lupa untuk membeli pangsit dalam perjalanan pulang. Lalu mengeluh Seol Ok yang  tidak bisa melakukan apapun dalam waktu 10 menit. Sementar Seol Ok  mengeluh Wan Seung itu sangat pelit.
Saat di persimpangan melihat mobil suaminya wajahnya panik dan menyakinkan kalau suaminya tak akan datang ke kantor polisi. 


Seol Ok masuk ke ruangan dan Wan Seung mengeluh Seol Ok yang terlambat lima menit dan menanyakan cuplikan CCTV-nya. Seol Ok dengan bangga memperlihatkan USB di tanganya dan memasangkan pada laptop. Wan Seung melihat ponselnya Ji Won kembali menelp lalu sedikit menjauh untuk menangkapnya.
“Hei, kenapa kau menutup teleponnya? Apa Kau mencoba gaun pertunangan?!! Apa kau gila? Aku tidak akan mengulanginya lagi. Kau tidak akan pernah memakai gaun itu. Mengerti? Kau tidak bisa melakukan upacara pertunangan.” Tegas Wan Seung lalu kembali duduk dengan tatapan aneh yang diberikan Seol Ok.
“Hidup tidak berjalan sesuai rencanamu, 'kan?” komentar Seol Ok
“Berhenti bicara omong kosong dan mainkan video ini. Mari kita lihat apa yang kau temukan.” Kata Wan Seung
“Kau sangat tidak sabar, selalu berteriak, Berkelahi, dan terluka. Kau harus bersyukur dia mau denganmu sejauh itu. Kau harus membiarkan dia pergi dengan seorang pria.” Komentar Seol Ok 

Mereka pun melihat CCTV bersama, Seol Ok pun mulai menginterogasi  Antara pukul 9 malam sampai 3.30 pagi, Apa mereka berdua terus minum. Tuan Cha mengaku pernah keluar sekali untuk beli alkohol lagi dan mempelihatkan struk pembelian yang dimilikinya.
“Astaga... Kau lebih teliti dari penampilanmu dan menyimpan kuitansi. Apa kau tahu ini akan terjadi?” ucap Seol Ok, Tuan Cha terlihat binggung
“Jadi, apa kau terus minum selama itu? Apa itu menyenangkan? Apa yang pria bicarakan Ketika mereka minum?” tanya Seol Ok. Wan Seung meminta agar Seol Ok Berhenti bertanya tanpa tujuan tapi Seol Ok pikir ini penting.
“Bagaimana denganmu, Tn. Cha?” tanya Seol Ok. Teman Tuan Cha mengaku mereka sedang minum bersama.
“Apa itu menyenangkan? Apa lebih seru daripada bertengkar dengan istrimu?” tanya Seol Ok
Tuan Cha seperti pura-pura tak menegrti, Seol Ok mengaku mendengar dari tetangga kalau Pertengkarannya berakhir sekitar jam 2 sampai 3 pagi. Setelah Ny. Lee dari ruang gawat darurat Tapi semuanya berakhir lebih awal pada hari itu.
“Apa kalian berdua memiliki sesuatu yang khusus untuk dibicarakan?” tanya Seol Ok
“Apa kau benar-benar melakukan itu padanya?” tanya teman Tuan Cha. Tuan Cha pikir istrinya itu pantas mendapatkannya.
“Aku lihat, Ny. Lee pantas dipukuli.” Kata Seol Ok melihat CCTV. Tuan Cha pikir tak hubungannya dengan ini?
“Apa kau minum bir yang dia beli pada hari itu?”tanya Seol Ok, Wan Seung meminta agar  mengajukan  Pertanyaan lain saja jadi mereka tidak punya waktu.
“Aku haus karena berlari jadi Aku benar-benar ingin sekaleng bir dingin.” Komentar Seol Ok sengaja dengan nada menyindir.
“Itu tidak dingin, jadi kami tidak menghabiskannya.” Kata Tuan Cha, Seol Ok pikir Bir yang tidak dingin adalah yang terburuk.
“Tapi kenapa birnya tidak dingin? Tempatmu berjarak tiga menit dari toko. Bukankah itu aneh?” ucap Seol Ok
Wan Seung melihat rekaman CCTV berulang-ulang, sampai akhirnya tersenyum melihat sesuatu kejangalan. Tuan Cha yang masuk dari sisi kiri jalan dan keluar pergi melalui sisi kanan jalan. Seol Ok langsung bertanya kemana Tuan Cha mampir. Tuan Cha hanya diam saja, teman Tuan Cha binggung bertanya seperti apa yang aneh dari hal itu.
“Jika kau datang dari sisi kiri, maka Kau harus pulang ke sisi kiri. Karena sisi kiri adalah bengkel Dan sisi kanan, rumahmu, Tn.Cha.” kata Seol Ok
“Kau bukan psikopat. Jangan gemetar begitu.”sindir Wan Seung
“Aku sempat bingung sebentar karena mabuk.” Akui Tuan Cha
“Satu jam setengah. Itulah waktu yang kau butuhkan... Untuk kembali ke bengkel setelah membeli bir.” Kata Wan Seung memperlihatkan CCTV saat Tuan Cha berjalan kembali ke bengkel.
“Apa jam 11.25 ditambah... Satu jam setengah Bisa jadi jam 11.30?” tanya Seol Ok, Tuan Cha diam menatap tajam Seol Ok

Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

                                                                                                                                                                                  


Rabu, 19 April 2017

Sinopsis Ms Perfect Episode 15 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Jung Hee memastikan kalau Jae Bok sudah mengajukan komplain. Jae Bok pikir tak perlu  mengulur waktu dan Jung Hee tidak bisa menemui anak-anak semaunya sebelum sidang berakhir dan membutuhkan izin untuk menemui mereka Begitu juga ibu mertuanya. Jung Hee seperti tak percaya dengan Jae Bok yang bisa berkata seperti itu.
“Itu yang ingin kukatakan kepadamu.” Kata Jae Bok, Jung Hee pun setuju mengajak mereka untuk ke pengadilan.

“Aku akan mengajukan permintaan formal ke pengadilan untuk menemui anak-anakku” ucap Jung Hee. Jae Bok mengumpat Jung Hee itu egois.
“Apa Kau melakukan segalanya semaumu, dan menginginkan anak-anak juga?” ucap Jae Bok. Jung Hee tak peduli dengan pemikirkan Jae Bok.
“Keadaan akan berubah saat persidangan berakhir.” Kata Jung Hee yakin. Jae Bok menantang kalau itu hanya dalam pikiranya. 


Jung Hee keluar dari kantor bertemu dengan Bong Goo yang baru datang. Bong Goo menyapa dan bertanya tentang  persiapan pengadilannya. Jung Hee mengetahui Bong Go yang menjadi pengacaranya Jae Bok dan mulai mengumpat.
“Aku seorang pengacara.” Tegas Bong Goo tak ingin dipanggil dengan umpatan
“Dasar Bedebah. Aku akan mencari tahu niat mesummu.” Kata Jung Hee
“Aku tidak mesum, tapi Kau mesum dan juga menyembunyikan foto-foto itu.”ucap Bong Goo
Jung Hee terlihat panik, Jae Bok keluar dari pintu melihat keduanya lalu bertanya apa yang sedang mereka lakukan. Jung Hee memperingatkan jae Bok agar Waspadalah terhadap Bong Goo dan Jangan sampai dikhianati.
“Hei,.. Jung Hee. Aku sudah kebal sejak kau mengkhianatiku berkali-kali.” Ucap Jae Bok lalu mengajak Bong Goo masuk karena banyak pekerjaan.
“Maafkan aku.” Ucap Bong Goo dengan nada mengejek karena mendapatkan pembelaan. Jung Hee makin kesal seperti diejek dan melihat Bong Goo dan Jae Bok terlihat akrab saat masuk kamar. 


Jae Bok dan Bong Goo mulai rapat berdua. Bong Goo mengatakan Untuk membantumemenangkan hak asuh, psikopat itu, merka harus membuktikan dia wanita gila dan tidak boleh membiarkan wanita gila membesarkan anak-anak.

Sementara di rumah, Eun Hee duduk tegang dengan ibunya dan seorang pengacara. Nyonya Choi menyakinkan kalau anaknya pernah menerima perawatan psikologis di masa lalu, maka bisa kehilangan hak asuh. Eun Hee mengingatkan ibunya kalau  Itu sudah lama berlalu.
“Aku sudah sembuh dan baik-baik saja.” Kata Eun Hee menyakinkan pengacaranya.
“Tapi penyakit kejiwaan tetap bisa merugikan dalam pengadilan ini.” Kata pengacara 


Bong Goo bertanya Apakah ada catatan tentang perawatan psikologis... Jae Bok yakin Eun Hee sudah menghapus semua catatan tentang perawatan psikologisnya bahkan memalsukan kematian Na Mi jadi pasti Itu hal sepele.
Eun Hee pun mengaku sudah menghapus semua catatan perawatan. Bong Goo pun menganggap semua catatannya hilang, tapi mereka akan membutuhkan hal lain. Misalnya, pengakuan orang terdekat. Jae Bok yakin Tapi ibu Eun Hee dan Jung Hee tidak akan melakukan itu.

“Bagaimana dengan ibunya Jung Hee?” tanya Bong Goo
“Aku sudah berbicara dengannya, tapi aku tidak yakin. Aku tidak bisa memercayainya. Aku yakin dia akan memihak anaknya.” Kata Jae Bok
“Kalau begitu... Kita harus mengatur sebuah situasi yang membuktikan Lee Eun Hee adalah wanita gila.” Kata Bong Goo.
“Rencana agar dia memperlihatkan bahwa dirinya gila.” Kata Jae Bok 


Pengacara pun menyarankan Eun Hee harus mengendalikan emosi sampai pengadilan berakhir karena menurutnya Meskipun tidak ada catatan, mereka bisa mengetahuinya dan Jadi, jika menunjukkan sedikit saja sisi lain diri Eun Hee maka mereka akan berusaha menggunakannya sebagai bukti.
Sementara di ruangan, Jae Bok meminta agar mereka waspada jangan sampai Na Mi tahu soal ini. Bong Goo bertanya apakah itu maksudnya tentang Membangunkan sisi gelap wanita gila itu. Jae Bok mengaku takut Na Mi  akan melakukan hal gegabah lagi.
“Benar. Jika mengetahuinya, dia akan berusaha melakukan sesuatu seolah-olah dia detektif terbaik di dunia.” Komentar Bong Goo. Na Mi akan masuk ke kantor kakaknya bisa mendengar rencana mereka. 

Nyonya Choi pun bertanya pada Eun He apakah bisa mengendalikan sifat pemarahnya. Eun Hee pikir Jangan khawatir karena sudah menunggu sepuluh tahun demi memiliki Jung Hee jadi pasti bisa menanganinya lebih jauh lagi.
“Lalu kenapa kau berbuat begitu waktu itu?” sindir Nyonya Choi. Eun Hee mengingat saat itu berteriak marah tanpa bisa mengontrol emosinya didepan Jae Bok dan pingsan.
“Itu sebelum aku mengetahui perasaan Jung Hee Tapi sekarang tidak lagi. Karena dia sepenuhnya milikku. Aku harus menahan diri dan akan berubah sekarang. Aku akan menjadi Lee Eun Hee yang polos dan ramah. Jadi, jangan menggangguku.” Ucap Eun Hee.
Nyonya Choi hanya diam saja, Ponsel Eun Hee menerima sebuah gambar Na Mi yang sedang berbicara dengan Jung Hee. Eun Hee langsung mengumpat marah. Nyonya Choi tersenyum mengejek kalau Eun Hee masih tak bisa mengontrol emosinya. 


Seorang pria mengambil gambar keduanya, Na Mi seperti sengaja mendekatkan diri pada Jung Hee. Jung Hee bertanya apa yang ingin dikatakan dengan wajah sinis. Na Mi mengatakan hanya ingin memberikan peringatan kalau orang-orang memanggil Jung Hee sekarang “Cinderella.” Dan pasti tahu apa artinya.
“Aku tidak peduli ucapan orang tentangku. Apa Kau menemuiku hanya untuk mengatakan itu?” keluh Jung Hee seperti sudah tak peduli dengan Na Mi

“Yahh.... Lagi pula, berkat Eun Hee, kamu sudah sampai sejauh ini. Kuharap kau akan diakui karena kemampuanmu.” Ejek Na Mi
“Apa Kau mencoba menggodaku lagi?” balas Jung Hee, Na Mi pikir tak ada gunanya mengoda Jung Hee karena  Tidak ada yang membayarnya lagi.
“Orang yang membayarku kini hidup bersamamu.” Kata Na Mi lalu pamit pergi.
Na Mi sempat berhenti kalau Situasi yang menunjukkan bahwa dirinya gila dan akan memancing sifat aslinya yaitu Sifat gilanya.


Bryan berjalan bersama dengan kakaknya yang  ingin memecat Na Mi. Eun Hee merasa kalau Na Mi terus menggoda Jung Hee dan itu mengganggunya. Bryan meragukan itu karena pasti tahu statusnya itu mereka berkencan. Eun Hee pun meminta agar Na Mi pindahkan ke cabang lain maka tidak mau mengganggunya lagi.
“Tolong lakukan itu demi aku Katamu, keinginan terbesarmu adalah membahagiakan kakakmu ini” ucap Eun Hee merengek manja pada adiknya.
“Jadi, Apa Kakak bahagia karena bersama Jung Hee?” tanya Bryan
“Aku merasa paling bahagia dibanding sebelumnya. Aku angat bahagia hingga merasa takut.” Ungkap Eun Hee dengan senyuman sumringah. 

Bong Goo memberikan segelas kopi pada Jae Bok meminta agar Bergembiralah karena akan memenangi pertarungan hak asuh. Jae Bok heran melihat tingkah Bong Goo yang sangat baik kepadanya belakangan ini. Bong Goo juga tak mengerti. Jae Bok ingin mengajukan satu pertanyaan
“Apa misi yang Eun Hee berikan kepadamu? Kalian pasti membuat kesepakatan sebagai balasan untuk mengelola departemen legal.” Kata Jae Bok penasaran
“Jika mendengarnya, kau mungkin marah.” Kata Bong Goo, Jae Bok makin penasaran. Bong Goo masih ingat Eun Hee yang meminta agar  Menggoda Jae Bok.
“Menggoda Jae Bok.” Kata Bong Goo membuka kartunya. Jae Bok  mengumpat marah kalau Wanita jahat itu selalu mencoba menggoda semua orang.

“Coba Lihat? Kau marah. Karena itu, tidak kuberi tahu.” Kata Bong Goo, Jae Bok mengelak kalau  tidak marah.
“Jika sudah membuat kesepakatan, kenapa kau tidak berpura-pura?” tanya Jae Bok. Bong Goo mengejek Jae Bok yang mengharapkan itu.
Jae Bok pun menyuruh Bong Goo agar melawan saja  bahakn akan membuatnya jatuh terguling-guling. Bong Goo memberitahu kaalu Saat ini, seseorang mungkin mengawasi mereka untuk melihat apakah menjalankan misi lalu mengajak untuk memulai misi "Menggoda Jae Bok". Denan memeluk Jae Bok agar terlihat akrab dan Jangan gugup.
Jae Bok terlihat gugup. Bong Goo yang konyol mencoba membayangkan seperti paparazi yang di berjalan di Newyork dan foto mereka diambil. Anak buah Eun Hee pun mengambil foto saat Bong Goo memeluk Jae Bok,  dan mengeluh karean banyak sekali yang harus dipotret.


Eun Hee pun melihat seperti Bong Goo sudah merasa  sedang jatuh cinta, Saat itu Ibu Jung Hee keluar dari rumah dan ingin membuang sampah, Eun Hee langsung mendekatinya. Ibu Jung Hee ketakutan meminta Eun Hee tak mendekat.  Eun Hee mengaku khawatir setelah Ibu mertuanya pergi seperti itu.
“Ibu... Bukankah Jung Hee meminta Ibu untuk akur denganku? Aku bukan Eun Kyung yang dahulu. Aku akan sangat baik kepada Ibu. Tolong beri aku kesempatan.” Kata Eun Hee menyakinkan. Ibu Jung Hee yang ketakutan menyuruh Eun Hee pergi dan bergegas masuk.

Seorang pria memberikan berkas kalau Semua ini aset Lee Eun Hee pada Jung Hee. Jung Hee pun mengucapkan terimakasih  lalu membahas kalau pria itu ingin pindah ke cabang AS. Si pria membenarkan tapi mengetahui kalau di sana sangat kompetitif.
“Itu bukan masalah jika aku mendukungmuu,  Sebagai gantinya, kau harus membantuku sampai akhir. Mengerti?” kata Jung Hee.
“Ya, tentu saja. Akan kuabdikan diriku kepadamu.” Kata Si pria dan Jung Hee pun mempersilahkanya pergi.
“Tapi masih ada kekurangan pada detail properti Eun Hee. Aku akan mengerjakannya lagi dengan lebih teliti.” Kata si pria. Jung Hee menganguk mengerti. 

Ibu Jung Hee keluar dari rumah dengan wajah ketakutan, Eun Hee tiba-tiba sudah datang menghampirinya, Ibu Jung Hee kaget melihat Eun Hee ynag masih belum pergi. Eun Hee langsung berlutut di didepan ibu Jung Hee memohon maaf dan meminta agar menerimanya sebagai menantu.
“Kenapa kau... membuatku malu.” Ucap Ibu Jung Hee lalu membantu Eun Hee agar bangun.
“Ini sebuah tanda permohonan maaf.” Kata Eun Hee memberikan sebuah amplop l
Ibu Jung Hee hanya menatapnya. Eun Hee memberitahu kalau isinya sebuah kunci  apartemen seluas 192 meter persegi. Jika Ibu Jung Hee bisa memaafkannya maka surat tanahnya akan kuberikan atas nama Ibu mertuanya. Ibu Jung Hee menegaskan kalau tak akan berpengaruh dan menyuruhnya pergi
“Jika Ibu menerimaku sebagai menantu, maka aku akan sangat baik kepada Ibu” kata Eun Hee lalu meninggalkan amplop pada Ibu Jung Hee dan buru-buru pergi.
Ibu Jung Hee berteriak kalau agar membawanya, lalu melihat kunci apartment dan mulia gundah karena  Tempat ini luar biasa mahal di "Royal Lakeville” dengan 192 meter persegi.
Jin Wook dan Che Ri berjalan keluar dari sekolah,  Jin Wook kaget melihat Eun Hee datang ke sekolah. Che Ri pun bertanya dengan sinis alsan Eun Eun Hee datang. Eun Hee pun meminta agar meninggalkan mereka berdua.  Che Ri menegaskan tidak bisa melakukan itu karena Bibi Jae Bok memintanya melindungi Jin Wook
“Terutama jika Bibi "Enyah" muncul jadi Bicaralah di sini. Aku tidak akan mendengarkan.” Kata Che Ri menuntup satu kupingnya.
“Kenapa kau tidak berkunjung lagi? Bibi sangat merindukanmu Begitu juga ayahmu.” Ucap Eun Hee bersikap ramah dengan senyuman.
“Bibi Lee... Bukankah Bibi marah kepadaku? Kenapa Bibi tiba-tiba berubah?” kata Jin Wook mengingat saat Eun Hee mengatakan manja karena meminta dibuatkan cemilan.
“Sebenarnya, bibi kurang sehat waktu itu.”kata Eun Hee mencari alasan.
“Teganya Bibi berbuat begitu kepada anak kecil, Apa hanya karena merasa kurang sehat? Lalu pada hari itu, Bibi pergi bersama neneknya.” Sindir Che Ri

Eun Hee sempat melirik sinis tapi akhirnya meminta maaf dan berjanji akan bersikap baik dan meminta Jin Wook agar datang bermain,  dengan memberitah kalau baru saja membeli gitar baru dan pengeras suara dengan Merek yang sesuai keinginannya. Jin Wook langsung sumringah seperti terpada. Che Ri pun menyadarkanya.
“Datanglah saat kamu punya waktu, Bibi akan menunggu.” Ucap Eun Hee keluar dari sekolah berjalan ke mobil
“Aku mendengar dari ibuku betapa mudahnya para pria terbuai, tapi kau payah sekali. Kau masih muda. Ada apa denganmu?” keluh Che Ri. Jin Wook pikir tak ada yang salah denganya, saat keluar dari sekolah senyumanya pun di lihatkan pada Eun Hee.

Sam Kyu masuk ke sebuah restoran dan melihat menu makanan dan menjerit saat melihat harganya yang semuanya mahal sekali. Ketika akan pergi, Won Jae sudah datang melambaikan tangan. Sam Kyu akhirnya duduk kembali.
“Sudah lama tidak memakai korset. Aku tidak bisa bernapas.” Gumam Won Jae sebelum menghampiri Sam Kyu untuk berkencan.
“Tempat ini luar biasa mewah.” Komentar Sam Kyu sambil berpikir caranya agar bisa keluar dari restoran. Tiba-tiba ia seperti merasa tersedak yang membuat Won Jae sedikit panik.
“Aku alergi kerang-kerangan dan Baunya saja sudah menyulitkanku.” Kata Sam Kyu
Won Jae mengingat perkataan Hye Ran “Apa Kau tahu betapa murahannya Sam Kyu? Aku yakin ketertarikanmu akan hilang.” Lalu ia dengan senyuman mengatakan akan membayar semuanya, jadi memintanya agar kembali duduk. Sam Kyu pun bisa tenang dan duduk kembali.  Won Jae memberitahu Menu set di restoran ini sangat enak.

Hye Ran tiba-tiba sudah ada disamping Won Jae, membahas kalau temanya iu akan membayar semuanya.  Won Jae dengan sinis bertanya Untuk apa Hye Ran datang. Hye Ran menegaskan  datang untuk makan bersama mantan pacar dan teman seumur hidupdan tahu kalau mereka pasti ada restoran ini
“Kalian harus mencari restoran lain. Kau sangat mudah diprediksi.” Komentar Hye Ran dan ingin makan banyak dengan memesan lobster.
Sam Kyu makan dengan lahap lobster ukuran besar, Hye Ran pun dengan senang hati mengajak Sam Kyu makan bersama hanya Won Jae terlihat cemberut.
“Kenapa kau tidak makan?” ucap Hye Ran tanpa rasa bersalah pada Won Jae.
“Kau saja, temanku tersayang.” Kata Won Jae kesal 

Eun Hee menelp Bryan menanyakan tentang foto ternyata, tak ada pada adiknya. Bryan bertanya Apakah foto-foto itu di lantai tiga. Eun Hee pun bertanya-tanya kalau bukan adiknya maka siapa yang mengambil semua foto-foto itu.
“Untuk apa aku masuk ke ruangan itu? Aku tahu itu ruangan rahasia Kakak.” Kata Bryan.
Eun Hee makin bertanya-tanya lalu mengintat saat Jung Hee bertanya Eun Hee, apakah ada foto-foto di sana sebelumnya” lalu menduga Jung Hee yang melakukanya. 

Eun Hee akhirnya menelp Tuan Ha, agar melakukan sesuatu sekarang. Jung Hee sedang berjalan dengan sekertarisnya. Na Mi melihat dan ingin mendekat tapi langkahnya dihalangi Bryan dan langsung menariknya untuk pergi. Na Mi binggung kemana Bryan akan membawanya.
“Hentikan.... Jika kau terus begini, maka aku akan memecatmu.” Ucap Bryan mengancam
“Apa ini mengenai aku menggoda Jung Hee lagi? Jangan cemas. Aku punya harga diri.” Ucap Na Mi menyangkal, tapi Bryan sudah tahu dibalik sifat Na Mi
“Baiklah, aku akan berhenti. Jadi, kumohon jangan pecat aku. Aku juga harus mencari nafkah.” Rengek Na Mi memegang tangan Bryan. 

Saat itu Bong Goo lewat melihat adiknya dan berjalan mendekat, Bryan langsung melepaskan tangan Na Mi, dan langsung buru-buru pergi. Bong Goo mengumpat Bryan itu tak punya sopan santun karena pergi begitu saja.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Na Mi, Bong Goo kesal Na mi menanyakan hal itu karena sudah pasti alasanya untuk menjemputnya. Na Mi tersentuh mendengarnya.
“Dasar pembuat onar yang tidak tahu malu.” Ejek Bong Goo sambil mengelus kepala adiknya dan mengajak pergi. 

Na Mi naik ke dalam mobil mengaku sangat beruntung karena diantarkan pulang dan melihat Jeruk clementine diatas dasbord dan memakanya, lalu bertanya  Dari mana Bong Goo mendapatkannya. Bong Goo mengaku Ada di kantor dan Sam Kyu pasti membawanya.
“Kau tidak menemui Jung Hee lagi, kan?”kata Bong Goo memastikan adiknya
“Kenapa semua orang menceramahiku hari ini?” keluh Na Mi, Bong Goo menduga kalau orang lainya itu Bryan.
“Jung Hee telah kehilangan akal sehatnya. Jadi, lupakan saja dia dan hiduplah dengan tulus, mengerti?” pesan Bong Goo, Na Mi mengangguk mengerti. Bong Goo meminta jeruk yang sudah dikupas Na Mi, tapi saat memakanya mengernyit karena rasa asam. 

Tuan Ha datang memberikan ponsel baru dan sudah membuat tiruan ponsel Jung Hee jadi bisa melacak, mendengarkan, dan melihat pesan teksnya. Jun Hee datang, Tuan Ha langsung pergi dan Eun Hee langsung menyembunyikanya dan menyapa Jung Hee dengan senyuman.
“Apakah hal baik terjadi? Kau tampak bahagia.” Komentar Jung Hee. Eun Hee pikir itu karena Jung Heepulang lebih awal.
“Mandilah, lalu ke lantai bawah Aku membuatkan banyak makanan.” Kata Eun Hee. Jung Hee mengangguk mengerti. 

Keduanya makan di meja makan yang besar dan hanya berdua. Eun Hee sengaja memancing denga bertanya kabar Na Mi belakangan ini. Jung Hee mengaku tak tahu karena mereka berbeda departemen. Eun Hee pun bertanya apakah Na Mi tidak datang menemuinya.
“Aku tidak mau membicarakan hal itu, kecuali jika kau tidak memercayaiku.” Tegas Jung Hee. Eun Hee mengaku bukan seperti itu dan menyuruh Jung Hee makan kembali.
Nyonya Choi datang membawakan  Galbi-jjim yang baru matang, Jung Hee terdiam melihat potongan daging besar dan banyak diatas meja, matanya berkaca-kaca seperti mengingat sesuatu. 

Flash Back
Jung Hee dan anak-anaknya sudah ada direstoran daging dengan menu yang sama dirumah Eun Hee, Jin Wook ingin makan lebih dulu. Jung Hee menahanya karena ibu mereka belum datang.  Jae Bok pun datang sambil mengeluh suaminya yang tiba-tiba mau makan galbi.
Jin Wook pun meminta izin agar bisa makan karena ibunya sudah datang. Jae Bok pun menyuruh anaknya makan lebih dulu. Jin Wook dan Hae Wook terlihat senang makan daging.
“Kau sangat lelah belakangan ini, Pengacara Kang Bong telah menyusahkanmu.” Ucap Jung Hee
“Dwaeji-galbi juga tidak apa-apa. Kita nyaris tidak bisa membiayai pengeluaran bulan ini.” Kata Jae Bok khawatir.
“Aku menggunakan tunjangan tabunganku untuk membayar ini. Jadi, jangan khawatir dan makanlah.” Kata Jung Hee.
Jae Bok pikir suaminya ingin makan ingin dan bisa menghasilkan lebih banyak uang. Jin Wook meminta agar bisa menambah lagi karena itu porsinya hanya cukup untuk dua orang. Jae Bok seperti kasihan melihat anaknya dan menyuruh agar memesan lagi karena akan membayar sisanya. 

Jung Hee terdiam seperti memikirkan anaknya yang dulu tak bisa makan daging, sementara didepanya ada banyak daging dan harus makan sendiri. Eun Hee dengan gaya ramhanya akan memisahkan tulangnya untuk calon suaminya. Jun Hee mengaku  tidak enak badan dan ingin berbaring lalu bergegas pergi dari ruang makan.

Jae Bok kaget menerima telp dari Jung Hee, kalau Sudah bilang tidak bisa menemui anak-anak sesukanya. Jun Hee mengatakan  ingin membelikan mereka makanan enak dan akan datang sekarang, jadi meminta agar membawa anak-anak turun. Jae Bok menegaskan kalau Jung Hee tidak bisa membawa mereka ke luar dan langsung menutup telpnya.
Eun Hee mendengar percakapan Jung Hee dari balik dinding, Jung Hee menuruni tangga dan kaget melihat Eun Hee sudah dibawa lalu bertanya mau pergi kemana. Jung Hee dengan gugup mengaku Ada yang harus dikerjakan di kantor dan akan segera kembali.
Eun Hee ingin marah tapi mengingat ucapan pengacaranya “Kau harus mengendalikan emosi sampai pengadilan berakhir.”  Akhirnya pun mempersilahkan Jung Hee pergi dengan mengendalikan amarahnya. 

Jin Wook baru saja pulang melihat adik dan Che Ri sedang mengambar. Jae Bok pun menyuruh Jin Wook agar mencuci atangan dan mereka akan segera makan malam, lalu dikagetkan dengan melihat Jung Hee ada didepan pintu masuk.
“Ayah menjemputku dari tempat kursus.” Ucap Jin Wook, Hae Wook melihat ayahnya datang langsung memeluknya. Jae Bok pun seperti tak tega mengusirnya karena Hae Wook seperti merindukan ayahnya. 

Mereka pun makan bersama dengan Che Ri, Jung Hee pun menyuapi Hae Wook ikan tanpa duri. Hae Wook memberikan Telur gulung pada Jung Hee selalu mengingatkan pada Ayahnya. Jung Hee tersenyum mendengarnya, Jae Bok hanya menatap keduanya seperti kasihan.
Sementara Eun Hee duduk sendirian di meja makan seperti berusaha menahan amarahnya, tapi akhirnya melempar semangkuk daging ke lantai dan pergi. Nyonya Choi berteriak memanggilnya tapi Eun Hee lebih dulu pergi. 

Jin Wook memuji masakan Doenjang-jjigae buatan Ibunya memang yang terbaik. Hae Wook pun menyuapi anaknya, wajah keluarga bahagia pun terlihat di meja makan.  Jung Hee mengaku kaalu Rasanya tambah lezat karena Hae Wook menyuapinya.  Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan Eun Hee yang sudah masuk ke dalam rumah. Jae Bok kaget melihat Eun Hee yang bisa masuk.  Eun Hee mencoba mengontrol emosi mengaku Pintunya terbuka.
“Apa Bibi tahu kode pintu rumah kami?” ucap Che Ri, Jin Wook langsung tertunduk. Che Ri bisa tahu kalau Jin Wook yang memberitahu.
Jae Bok pun menyuruh Jung Hee untuk pergi, Hae Wook menahan tangan ayahnya agar tak pergi. Jae Bok memberikan pengertian pada Hae Wook kalau ayahnya harus pergi karena harus kembali untuk bekerja. Hae Wook pun menahan rasa sedihnya melihat ayahnya yang pergi.

“Hei.. Eun Hee... Bukankah seharusnya kau minta maaf karena menyusup seperti itu?” tegas Jae Bok
“Maafkan aku. Ini sangat mendesak.” Kata Eun Hee.
Jae Bok balik bertanya apa yang membuatnya seperti  sangat mendesak da apakah itu Karena ia sangat marah. Eun Hee hanya diam saja. Jae Bok memperingatkan Jangan menanyakan kode kepada anak-anak lagi dan Jika kau melakukannya, maka akan melaporkannya. Eun Hee mengangguk mengerti lalu keluar bersama dengan Jung Hee. 

Jung Hee keluar rumah sambil mengeluh sikap Eun Hee yang keterlaluan, karena tidak pernah bertingkah seperti itu. Eun Hee dengan wajah sinis merasa kalau selama makan bersama denganya, Jung Hee tidak pernah tertawa seperti itu, bahkan tidak pernah sekali pun tertawa dengan sangat bahagia.
“Itu karena aku sudah lama tidak makan bersama mereka.” Ucap Jung Hee.
“Kenapa kau berbohong? Katamu, kau harus pergi ke kantor. Kenapa kau membohongiku dan datang kemari?” tanya Eun Hee
“Ada apa denganmu? Kenapa kau menguping di telepon?” kata Jung He marah
“Karena aku tahu kau akan berbohong seperti ini.” Kata Eun Hee. Jung Hee tahu kalau Eun Hee pasti akan marah dan tidak membiarkannya pergi.
Eun Hee merasa kalau Jung Hee berpura-pura tidak tahu siapa  dirinya agar bisa memanfaatkannya, lalu berpura-pura mencintainya agar bisa menikah, mengambil uangnya dan meninggalkannya. Ia pikir Jung Hee itu  sudah mengelabuinya.
“Eun Hee, kau sudah kelewatan. Apakah salah bagi seorang ayah untuk menemui anak-anaknya?” ucap Jung Hee marah
“Lalu kenapa kau membohongiku? Aku mempercayaimu. Kenapa kau berbohong dan datang ke sini? Aku sangat marah, tapi kutahan. Bagaimana kau bisa berbohong?” kata Eun Hee
“Tapi Tetap saja, bagaimana kau bisa datang kemari? Katamu, kamu sudah berubah. Katamu, kau bukan Eun Kyung. Kalau begini, siapa yang akan menganggapmu berpikiran sehat?” kata Jung Hee
Eun Hee makin marah karena dianggap dirinya tak memiliki pemikiran yang sehat dan juga seorang psikopat, Jung Hee pikir kalau Eun Hee terus bersikap sepertii ini maka.. Eun Hee langsung memberikan tamparan diwajah Jung Hee dan langsung  memperlihatkan sifat asilnya dengan menyuruh Jung Hee diam sambil mengumpat. 


“Beraninya kamu berkata begitu kepadaku.” Ucap Eun Hee, Jung Hee tak percaya kalau Eun Hee baru saja menamparnya.
Sementara Jae Bok sudan merekam dengan ponselnya dan mengatakan kalau itu Bukti nomor satu yaitu Lee Eun Hee, yang tidak bisa mengendalikan amarah dan memiliki masalah obsesi dan Koo Jung Hee, yang akan menikahinya , tidak layak mendapatkan hak asuh anak-anak seperti yang diperlihatkan dalam video. Jung Hee dan Eun Hee kaget mendengarnya.
Eun Hee langsung ingin merampas mengambil ponsel dari tangan Jae BOk dengan kasar. Jae Bok bisa menahan tangan Eun Hee untuk tak bertindak kasar, Jung Hee pun memeluk Eun Hee agar bisa menahanya. Jae Bok menegaskan tak ingin memberikanya. Tapi Eun Hee tetap ingin Jae Bok memberikan ponsel itu.
“Aku sudah melarangmu melakukan ini.” Kata Jae Bok, Eun Hee tetap tak bisa mengontrol emosinya menyuruh Jae Bok agar memberikan ponselnya.
“Lee Eun Hee, makin marah dirimu, makin buruk keadaannya bagimu. Mengerti?” ucap Jae Bok memberikan ancaman dengan mata melotot
Bersambung ke episode 16

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted