PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Selasa, 14 Agustus 2018

Sinopsis Lets Eat 3 Episode 9 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN

Sun mencoba tidur teringat kembali saat Seo Yeon mengaku sangat membutuhakn makanan kimchi Sujebi karena itu obat kesembuhannya dengan air mata haru. Sun tak bisa menahan perasaanya mencium Seo Yeon yang duduk didepanya. Seo Yeon kaget mendorong Sun membuat kuah sup panas tumpah ditangan Sun.
“Apa Kau tidak apa-apa? Apa Kau merasa terbakar?” ucap Seo Yeon panik
“Tapi hatiku merasa terbakar.” Kata Sun kembali mencium Seo Yeon. Setelah itu Seo Yeon langsung menepuk pundak Sun lalu masuk ke dalam kamar. Sun pun hanya bisa terdiam setelah mencium Seo Yeon. 

Sun membuka mata mengingat kejadian semalam, pagi hari terlihat gugup didepan kamar Seo Yeon dan bergegas duduk ketika melihat pintu kamar terbuka.  Seo Yeon menyapa Sun yang sudah bangun.
“Apa Kenapa dengan matamu? Apa Kau tak bisa tidur tadi malam?” ucap Seo Yeon santai.
“Sepertinya kau tidurnya nyenyak. Kenapa kita tidak membicarakan tentang apa yang terjadi kemarin selama satu detik?” kata Sun gugup.
“Ini bukan masalah besar untuk dibicarakan secara serius. Kau dan aku hidup bersama sebagai orang dewasa, jadi kita bisa saling menggoda untuk menyebabkan 'kecelakaan'.” Kata Seo Yeon santai
“Apa kau bilang Kecelakaan?” ucap Sun kaget, Seo Yeon pikir itu hanya kecelakaan.
“Untuk lebih spesifik, spatbor kecil di mana tidak perlu menghubungi perusahaan asuransi atau polisi. Sesuatu yang kau selesaikan bisa diselesaikan bersama. Itu tidak ada artinya, bukankah begitu?” ucap Seo Yeon
“Benar... Faktanya, aku akan mengatakan hal yang sama dan minta maaf secara resmi. Aku tidak waras seperti dibius kemarin. Aku minta maaf.” Kata Sun.
“Ya. Tentu kau harus meminta maaf. Aku tidak sepenuhnya sadar sampai aku juga tidak waras. Bagaimanapun, ini tidak akan mempengaruhi pekerjaanku, kan? Kau seorang pria yang memisahkan urusan pribadi dari pekerjaan.” Kata Seo Yeon 


Sun membenarkan, Seo Yeon pikir Duntuk mencegah insiden serupa, maka mereka perlu meluruskan salah paham di antara mereka. Menurutnya Insiden seperti itu terjadi sejak garis antara kerja dan kehidupan pribadi. semakin ambigu karena mereka hidup bersama.
“Ayo kita menggambar garis yang jelas.” Kata Seo Yeon. Sun setuju lalu binggung melihat Seo Yeon menganti sandal dengan sepatu heels, bertanya apa yang dilakukanya.
“Apa Kau tak lihat aku pakai sepatu? Ketua Tim Sun Woo, aku datang untuk bekerja. Kalau tak ada lagi pekerjaan yang kukakukan, bolehkah aku rehat di kantorku?” kata Seo Yeon sopan.
Sun memperbolehkan, Seo Yeon sengaja menempelkan papan tulisan didepan pintu kamar “Kantor Sekretaris” dan akhirnya masuk kamar. Saat dikamar Seo Yeon mengeluh capek sekali karena berpakaian lengkap sepanjang malam.
“Sadarkan dirimu, Lee Seo Yeon... Aku tidak boleh terlibat dengannya dalam hubungan yang aneh. Sampai aku membayar kembali semua hutangku, maka aku tidak boleh dipecat.” Kata Seo Yeon berbicara sendiri pada dirinya. 

Sun memarkir mobilnya, mengingat ucapan Seo Yeon “Ya, kecelakaan. Untuk lebih spesifik, spatbor kecil.” Lalu tanpa sadar menyenggol mobil lain. Pemilik mobil keluar sambil mengeluh, ternyata Dae Young baru saja parkir dan Sun menyenggol mobilnya.
“Wahhh.. Kau karena terlalu sukanya menjaga batas, tapi kenapa kau malah melewati batas parkir?” keluh Dae Young
“Maaf. Aku akan ganti rugi.” Ucap Sun, Dae Young pikir tak perlu karena mobilnya terlihat baik-baik saja.
“Itu bukan masalah besar.” Kata Dae Young santai. Sun binggung karena menabrak mobil Dae Young jadi akan bertanggung jawab.
“Tanggung jawab apanya? Kejadian seperti ini biasanya terjadi. Anggap ini tidak terjadi. Kata Dae Young santai
Sun teringat yang dikatakan oleh Seo Yeon “Sesuatu yang kau selesaikan dengan penyelesaian bersama. Itu tidak ada artinya.”
“Kukira kau akan seperti itu dengan banyak pengalaman ketika kau di usia 30-an, jadi bisa dimengerti.”  Sindir Sun lalu pergi. Dae Young heran dengan sikap Sun 



Rapat dimulai
Sun pikir mereka bisa menghentikan investigasi sebelumnya sekarang da Untuk investigasi pemanfaatan konsumen, ingin Dae Young memilih beberapa restoran terlebih dahulu dan menandatangani perjanjian dengan mereka sebagai percobaan.
“Bagaimana kalau kita lanjutkan dengan chogyetang di Mukho Port sebelum musim panas ini selesai? Tempat itu juga punya respon paling positif di antara anggota tim.” Kata Dae Young
“Itu ide yang bagus. Kita berangkat ke Mukho Port saat berada di sana. Hyun Seok dan aku akan pergi.” Kata pegawai pria
“Tidak, aku akan pergi.” Kata Sun. Pegawainya kaget karena Sun akan pergi tapi tetap meminta agar mereka saja yang pergi.
“Tidak, biar aku yang pergi... Aku tidak mau pulang lebih awal.” Kata Sun, Dae Young menatap Sun seperti merasakan sesuatu. 


Ji Woo baru selesai berkerja mengingat yang dikatakan Dae Young “Rasanya enak ketika seseorang mencoba makanan yang kusarankan dan benar-benar menikmatinya. Lalu menelp Dae Young untuk mengajak makan malam bersama
“Aku mau pergi perjalanan bisnis dengan Ketua Tim Sun Woo” ucap Dae Young
“Kalau begitu bisakah kau merekomendasikan restoran yang bagus untuk makan sendirian?” kata Ji Woo
“Restoran yang bagus untuk makan sendirian? Apa Kau akan langsung pulang dari rumah sakit?” ucap Dae Young. Ji Woo membenarkan.
“Aku ingin merekomendasikan satu tempat yang berada di jalan saat kau pulang kerja. Keluarlah dari rumah sakit dan berjalan menuju halte bus. Lalu Berjalanlah lagi dan kau akan menemukan restoran yang kita datangi terakhir kali. Lalu Pergilah ke gang di sekitar tempat itu.” Kata Dae Young memberikan petunjuk.
“Bukankah itu tempat makanan Korea itu?” ucap Ji Woo.
“Tidak, jika kau masuk dalam gang, ada restoran Cina. Jadi Pergilah ke seberang gang dari tempat itu.” Ucap Dae Young. Ji Woo pikir itu tempat restoran China.
“Tidak, jika kau masuk dalm gang itu, kau akan menemukan restoran bossam. Mereka melayani bossam untuk satu orang” kata Dae Young lalu mengucapkan selamat makan.


Sun mendengar pembicaran Dae Young mengeluh karena menjelaskan restoran dengan restoran lain. Dae Young pikir  Lebih mudah untuk menghafal seperti itu lalu merasa lapar Ketika bicara tentang makanan, Sun heran karena Dae Young harus menemaninya.
“ Aku suka pekerjaan ini. Aku ingin berpartisipasi dalam setiap langkah proses.” Akui Dae Young bangga. Sun terlihat kesal. 

Sekotak makanan lengkap dengan sup diberikan diatas meja. Ji Woo sangat menikmati makanan dengan porsi satu orang dari Dae Young,  lalu mengirimkan foto piring kosongnya dan meminta agar bisa membawa pulang satu porsi. Dae Young tersenyum bahagia melihat foto yang dikirim Ji Woo dengan komentar “Berkatmu, aku makan makanan yang enak.
“Apa yang membuatmu begitu bahagia?” tanya Sun. Dae Young mengaku tak ada dan langsung memasukan ponselnya.
“Bukannya kau pernah makan ini? Apa kau tetap akan memakannya lagi?” kata Dae Young
“Jangan khawatir. Ini makanan sehat yang harus kau makan di musim panas. Namanya mengandung arti bahwa itu berasal dari wilayah utara. "Gye" dari chogyetang artinya...” ucap Sun yang langsung disela oleh Dae Young 

“Artinya bukan ayam. Tapi artinya adalah mustar dalam bahasa Pyongan, kan? Semua orang tahu tentang itu karena sering muncul di TV. Lebih dari itu, banyak yang diproduksi di Pyongan...” kata Dae Young dan sumpit Sun mengesernya.
“Kau makan mie dengan jelly kacang hijau. Itu gaya khas Pyongan. Kau mau mengatakan itu, kan?” ejek Sun
“Tidak, aku mau mengatakan bahwa kacang hijau bagus di musim panas karena mereka mendinginkan makanan.” Kata Dae Young

“Hei... Apa gunanya memakan makanan yang dingin? Mie dingin itu mungkin akan hangat setelah pembicaraan panjang kalian.” Keluh pemilik melihat keduanya adu mulut.
Akhirnya mereka mulai makan Chogyetang dengan ada potongan ayam diatas mangkuk dan terlihat sangat menyegarkan di musim panas.  Dae Young merasakan asam manis lalu mencoba dadar soba ju, Sun merasakanTeksturnya bagus dan membagi paha ayam masing-masing.
“Bagaimana kalau kita sekarang makan mie?” saran Dae Young dan akhirnya mereka memesan semangkuk soba untuk masing-masing.
“Rasio mie soba ini pasti cukup tinggi.” Kata Dae Young mulai makan.
“Cobalah makan dengan ayam.” Saran Sun, Dae Young pun mulai makan mie dengan ayam. Mereka pun akhirnya menyelesaikan menu makanan berbau kaldu ayam.
“Kalau makanan ini ada di Seoul, aku mau memesannya. Kalau mereka bisa memesan sebagian dalam satu kali, maka orang yang makan sendirian akan menyukainya.” Ucap Dae Young 


“Kami tidak bisa memberikan satu bagian saja dari ini.” Kata Sun, Dae Young terlihat binggung.
“Bukankah moto dari bisnis ini untuk memberikan makanan enak untuk orang yang makan sendirian? Aku berasumsi semuanya akan menjadi per porsi.” Jelas Dae Young
“Itu tergantung pada hidangannya. Ada alasan kenapa restoran tidak melayani chogyetang kepada mereka yang datang sendirian. Kau tidak bisa membuat makanan lengkap hanya untuk satu orang. Biayanya terlalu tinggi.” Ucap Sun
“Bisakah kita menyelesaikannya dengan menerima pesanan besar dan membaginya?” kata Dae Young
“Pengemasan dan biaya pengiriman akan melebihi biaya makanannya. Itu nilai bisnis yang sia-sia.”balas Sun
“Kita bisa cari cara untuk memecahkan masalah itu. Kecuali kita bisa memberikan per porsi, layanan ini akan seperti yang lain.” Ucap Dae Young
“Mari kita bahas itu lagi setelah kita sepakat dengan pemiliknya.” Komentar Sun
Sun akhirnya pergi kemeja kasir memastikan kalau paman itu pemilik restoran ini. Si Paman membenarkan, lalu Sun memberikan kartu nama sebagai manajer Pengembangan Produk CQ Food dan mengajak bicara. 



Ji Woo pergi menemui ibunya sambil mengeluk kalau meminta menonton satu channel saja karena membuatnya binggung. Ibu Ji Woo merasa Tidak ada yang perlu ditonton dan berpikir kalau akan ada tayanagn ulang "Love in Your Heart" yaitu Dramanya Cha In Pyo dan Shin Ae Ra.
“Mi Sook... Ini rahasia. Mereka berdua menikah setelah itu.” Ucap Ji Woo sambil menyuapi ibunya makanan.
“Ji Woo... Bukankah kau terlalu tua untuk membingungkan sebuah drama dengan kenyataan? Itu tidak mungkin... Dramanya tidak tayang... Itu favoritku saat ini. Bagaimana denganmu? Apa drama favoritmu?” tanya Mi Sook
“Favoritku hari ini adalah... Mungkin "Winter Sonata". “ kata Ji Woo. I Sook ingin tahu Siapa yang main.
“Bae Yong Joon dan Choi Ji Woo... Cinta pertama wanita itu meninggal dan dia tidak bisa melupakannya.  Jadi pemeran utama pria menanyakan ini padanya. "Jika dia masih hidup, apakah kau masih mencintainya?".” Kata Ji Woo
“Itu yang ingin dikatakan “ kata Mi Sook. Ji Woo pikir kalau itu ada benarnya.
“Jika dia tidak mati dan mereka tinggal bersama, mereka tidak akan putus. Dia meninggal ketika mereka masih saling cinta. Itu sebabnya dia tidak bisa melupakannya.  Tidak ada cara kau bisa mengalahkan cinta seperti itu. Tidak ada cara kau bisa mengalahkan cinta seperti itu.” Ucap Ji Woo seperti terbawa perasaanya.
“Kau membahas tentang drama tapi kedengarannya kau seperti menceritakan ceritamu sendiri.” Ucap Mi Sook. Ji Woo mengelak kembali menyuapi ibunya makan.
“Tapi, meski aku harus bertemu orang lain, kurasa aku tidak bisa melupakan suamiku. Itu Masih sakit bahkan sekarang. Ketika aku memikirkan Ji Woo, aku merasa tidak enak membesarkannya sendiri.” Cerita Mi Sook
“Berhenti membicarakan itu. Jika Anda mencoba menoleh ke belakang, semuanya akan kacau.” Tegas Ji Woo kembali menyuapi ibunya.  Ibu Ji Woo menyuruh Ji Woo agar ikut makan juga.


Si paman duduk dengan Sun dan Dae Young sudah tahu tentang maksudnya tentang pengiriman makanan karena tidak tertarik. Sun memuji paman yang memang pengusaha sejati, menurutnya ini terkait pembagian keuntungan jadi akan memberikan lima persen.
“Kalau tujuanku mau jadi kaya, sudah lama aku muncul di TV dan menjadi terkenal. Daripada harus menghasilkan uang, aku mau memberikan makanan berkualitas baik untuk menyenangkan pelanggan tetapku. Jadi Carilah restoran lain.” Ucap Si paman. Sun mengambil jaketnya
“Apa Kau mau pergi?” kata Dae Young heran yang sedari tadi hanya menatap Sun bicara dengan mengerutkan dahi. Sun pikir tak ada yang bisa dilakukan karena paman itu tak tertarik.
“Apa Kau selalu mendapatkan apa yang kau mau dengan mudah dalam hidup? Dan kau banyak berbangga untuk meminta bantuan atau pembelaan.” Kata Dae Young. Sun melonggo bingung. 



Chef memberitahu kalau Chogyetang untuk meja tiga. Dae Young bergegas mengambil celemek, Sun binggung apa yang dilakukan rekan kerjanya itu. Si paman mengeluh mendekati Dae Young menegaskan tak akan mengubah keputusannya.
“Aku tidak mau mengubah keputusan Anda. Tubuhku hanya bereaksi. Aku tersentuh oleh filosofi Anda yaitu Anda ingin menyediakan makanan yang enak untuk pelanggan tetap Anda. Jadi Aku tidak bisa berhenti bergerak.” Ucap Dae Young melayani pelanggan lain dengan membawakan makanan. 

Dae Young akhirnya membawakan sampah keluar restoran, Sun melihatnya merasa kalau Dae Young sudah cukup melakukannya karena melihat betapa kerasnya mencoba, jadi sudah cukup. Dae Young menegaskan tidak melakukan ini untuknya.
“Pemiliknya juga tidak melihat.. Dia tidak peduli sama sekali.” kata Dae Young lalu melihats seorang nenek tua berjalan dengan membungkuk
“Kenapa Ibu datang kemari? Ibu harus tinggal di rumah.” Ucap paman menghampiri neneknya
“Ibu merasa tidak enak saat sendirian di rumah.” Kata Si nenek. Si paman langsung mengajak masuk saja.
“Sun Woo Sun , aku pinjam mobilmu dulu.” Kata Dae Young. Sun binggung kemana Dae Young akan pergi. 

Seo Yeon dirumah heran dengan Sun yang sebelumnya mengirimikan semua tugas tapi sekarang tidak mengirim pesan lagi dan berpikir kalau itu karena kejadian kemarin. Ia pun panik kalau nanti Sun yang memecatnya, lalu berpikir Itu karena mereka tinggal bersama jadi harus pindah.
Di restoran
Si paman menawarkan ibunya yanggeng Atau permen peppermint. Dae Young pikir bukan itu yang diinginkan si nenek dengan membawakan bungkusan ditanganya, lalu mengeluarkan beberapa cake. Si paman menegaskan kalau Ibunya tidak suka hal-hal ini.
“Siapa yang bilang aku tidak suka? Aku sebenarnya muak dan lelah dengan Yanggeng.” Kata Nenek lalu menunjuk satu kue yang terlihat paling enak.
“Benar. Yang ini paling disukai oleh para wanita.” Ucap Dae Young. Nenek seperti tak percaya masih dianggap wanita walaupun sudah tua.Dae Young pun memberikan garpu pada nenek.
“Makanan penutup ini menyenangkan! Ini luar biasa.” Ungkap nenek terlihat bahagia.
“Ini namanya kue sifon. Apa Anda tahu kain sutra? Sifon adalah nama kain halus. Dari situlah nama itu berasal. Sementara kue ini crepe cake. Pancake tipis ini dimasak dan ditumpuk untuk membuat kue.” Jelas Dae Young
“Aku belum pernah makan seperti ini sebelumnya.” Kata Nenek berseri-seri. Dae Young pun bisa tersenyum. 


Dae Young melambaikan tangan pada nenek berjanji akan kembali lag dan akan membawa lebih banyak lagi. Sun heran Dae Young yang  akan kembali lagi ke sini dan menyuruh agar jangan membuang-buang waktunya, karea  Bahkan setelah semua ini,  paman itu masih tidak mau mengalah.
“Ini tidak seperti pekerjaan asuransimu.  Dalam sepakbola, istilah "shot on target" digunakan. Ini mengacu pada semua percobaan yang dilakukan, itu bisa menjadi tujuan meski mereka memblock. Itu adalah fondasi tujuan dalam permainan.” Ucap Dae Young
“Entahlah. Kita harus melihat apakah kau menang 9-0.” Kata Sun mengejek
“Terserah. Mari kita makan, Semua pekerjaan ini membuatku lapar.” Ucap Dae Young. Sun mengeluh Dae Young bicara tidak sopan lagi.
“Jam kerja sudah habis... Kita sekarang keluar setelah bekerja. Bagaimana dengan tempat itu?” ucap Dae Young menunjuk ke arah restoran didepanya. Sun terlihat melihat restoran Kimchi sujebi. 


Dae Young mencoba kuahnya lalu merasakan Kaldunya enak dan penasaran bagaimana cara buatnya. Sun hanya terdiam menatap semangkuk kimchi Sujebi didepanya. Sementara Dae Young berkomentar kalau kaldunya itu tidak kelihatan seperti kaldu ikan teri yang sederhana.
Sun mengingat saat Seo Yeon mengatakan “Aku membutuhkan ini. Ini obat kesembuhanku.” Ketika menatap kimchi sujebi lalu menciumanya, wajahnya Sun tiba-tiba merasa gelisah. Dae Young  binggung melihat Sun gemeteran berpikir kalau rasanya tak enak, Padahal menurutnya ini enak.
“Tolong sebotol soju.”kata Sun. Dae Young binggung karena nanti siapa yang mengemudi. Sun tak peduli terus meminum soju.
“Biar aku yang mengemudi.” Kata Dae Young pasrah membiarkan Sun minum. 

Dae Young mengemudikan mobilnya khawatir melihat Sun yang duduk disampingnya. Ia lalu berpikir kalau jika perut Sun melewati batas. Sun mengeluh kalau sedang tidak mau diajak bercanda dan meminta agar turun ke toilet terdekat.
“Hei.. Lihatlah di luar. Tidak ada toilet... Tapi Aku akan menepikan mobil ini jadi langsung saja.” Ucap Dae Young
“Apa Kau gila? Aku tak bisa melakukannya di tepi jalan.” Kata Sun lalu menunjuk ke arah gedung didepaya.
“Coba Di sana. Bawa aku ke gedung itu cepat!” teriak Sun akhirnya Dae Young menepikan mobilnya. 

Sun segera masuk ke dalam lobby, penjaga bertanya Mau menyewa atau menginap. Sun mengatakan hanya perlu menggunakan kamar mandi. Si pegawai meminta agar 300,000 Won untuk sewa, 500,000 Won untuk menginap.
“Aku hanya butuh kamar mandi.” Kata Sun. Si pria tak peduli tetap meminta Sun memilih 300,000 Won untuk sewa, 500,000 Won untuk menginap.
“Aku akan menyewa.” Kata Sun memberikan kartunya dan bergegas masuk.
Dae Young masuk si pria kembali bertanya 300,000 Won untuk sewa, 500,000 Won untuk menginap. Dae Young mengatakan bersama pria yang baru saja masuk. Si pria memberitahu kalau Sun ada di Kamar 503.

Sun segera masuk ke dalam toilet, Dae Young mengejek Sun itu Menyewa kamar untuk buang air besar adalah melewati batas. Sun berpikir si paman yang datang dan sadar kalau Dae Young yang datang karena cermin yang samar.
“Alihkan pandanganmu, Jangan terlihat seperti ini.” Kata Sun kesal
“Kita berdua pria, jadi tidak perlu malu.” Komentar Dae Young lalu mengeluh Sun yang kembali mengeluarkan bau tak sedap.
“Tidak bisakah kau menutup mata? Melihat orang yang lagi begini, bukanlah sesuatu yang harus dilakukan seseorang.” Keluh Sun malu. 
Akhirnya Dae Young tertidur di kasur, dan terbangun dengan deringan telp. Terdengar Suara si pegawai “300,000 Won untuk sewa, 500,000 Won untuk menginap.” Dae Young terlihat binggung karena baru bangun tidur.  Si pria menyuruh agar membayar sisanya saat mereka pergi.
Dae Young akhirnya bangun melihat jam diponselnya sudah pagi, lalu binggung kemana Sun dan berpikir kalau pergi tanpa dirinya. Ia membuka pintu kamar mandi dan kaget melihat Sun tergeletak dilantai dan bergegas menariknya keluar dari ruangan.
“Hei. Apa Kau baik-baik saja? Apa Kau seperti ini sepanjang malam?” ucap Dae Young khawatir.
“Ya... Kurasa itu bukan hanya enteritis.” Kata Sun
“Apa kau juga seperti ini sebelumnya?” tanya Dae Young, Sun mengingat beberapa hari lalu.
“Aku tidak punya gejala apa pun,jadi itu tidak mungkin dari chogyetang yang kita makan. Kau harus diperiksa saat kita kembali ke Seoul. Dengan Melakukan hal kecil tidak menyembuhkan segalanya.” Kata Dae Young. Sun seperti terharu dengan Dae Young.
“Apa Kau punya asuransi kesehatan? Pasti belum punya... Maaf. Aku seharusnya membujukmu untuk menandatangani itu saat kami bertemu. Itu akan menghemat uang untuk pemeriksaan. Akulah yang harus disalahkan. Aku seharusnya merekomendasikan satu saja.” Ucap Dae Young terus mengoceh.
“Bagaimana kau bisa sebut agen asuransi di depan orang yang sakit?” keluh Sun kesal dan merasakan sakit. 


Ji Woo baru saja akan pergi menerima telp Dae Young yang ingin memesan kolonoskopi untuk hari ini. Ia menjelaskan Dae Young harus minum obat dan menjaga perutnya kosong, jadi tak mungkin dilakukan dan bertanya apakah ini untuknya Dae Young mengatakan itu untuk Sun.
“Kami akan kembali dari perjalanan bisnis di Provinsi Gangwon. Dia menghabiskan waktu semalaman di toilet, jadi ususnya sedang kosong.” Jelas Dae Young
“Datanglah ke rumah sakit. Aku akan urus itu untuknya.” Ucap Ji Woo ikut khawatir. 


Ji Woo membantu Sun keluar dari mobil melihat wajahnya pucat sekali, dan seharus membawanya ke UGD. Dae Young pikir tak mungkin bisa membawanya  saat Sun masih harus ke toilet. Ia mengeluh Sun yang menyalahkan dirinya padahal dirinya juga tidak mudah.
“Apa sebenarnya yang sulit bagimu?” ejek Sun
“Kau masih menentang, jadi kukira keadaanmu parah. Aku akan biarkan dia di tanganmu, karena harus mulai bekerja.” Ucap Dae Young. Sun mengaku Jangan khawatir memapah Sun.
“Kapan ini dimulai? Apa pernah terjadi sebelumnya?” tanya Ji Woo
“Sudah seperti ini selama berhari-hari, tapi aku menepisnya sebagai enteritis sederhana.” Ucap Sun
“Kita periksa dulu. Aku sudah meminta pemeriksaan, jadi kau tidak perlu menunggu.” Kata Ji Woo  
“Apa kau mau bersamaku saat aku menjalani pemeriksaan?” tanya Sun.
“Tentu saja tidak bisa, tapi  Aku akan menemuimu ketika kau bangun.” Kata Ji Woo. 

Akhirnya Sun sudah berbaring, Perawat memberitahu kalau Obat bius akan masuk dan akhirnya Sun pun tertidur. Setelah selesai, Ji Woo memberitahu Tidak ada masalah besar jadi senang mendengarnya menurutnya ini pasti enteritis yang disebabkan oleh stres.
“Aku akan lebih baik dengan makan obat. Kau harus makan sesuatu sebelum makan obat.” Kata Ji Woo
“Kurasa aku belum bisa makan apa pun.” Ucap Sun yang terus mondar mandir ke toilet.
“Tunggulah di sini.. Aku akan segera kembali.” kata Ji Woo lalu membawakan semangkuk bubur untuk Sun.
“Ini Bubur kubis baik untuk sakit perut... Aku meminta bantuan ahli gizi agar memakan ini.” Kata Ji Woo. Sun pikir kalau Ji Woo tidak perlu melakukannya dan mengucapkan Terima kasih.
“Enteritis neurogenik disebabkan oleh stres. Apa karena ciuman itu?” kata Ji Woo. Sun terkejut sambil terbatuk-batuk karena tersedak.
“Kau bilang  masih belum peka dengan wanita yang kau cium.” Ucap Ji Woo. Sun kaget karena Ji Woo mengetahuinya.
“Sebelumnya kau pernah mengatakan itu.” Kata Ji Woo dengan senyuman bahagia. 

Flash Back
Sun yang masih dengan obat biusnya berkata seperti mengigau “ Itu menyakiti harga diriku.” Ji Woo memastikan kalau Sun memang sudah bangun. Sun kembali mengatakan kalau Itu bukan salahnya dan Itu bukan apa-apa baginya.
“Itu ciuman pertamaku, dan Apa  kita harus melupakannya? Itu membuatku sakit. Kita tidak akur... Kita tidak cocok tapi bahkan nanti, aku menyukaimu... Aku menyukaimu... Hatiku sakit.” Ungkap Sun seperti mengigau. Ji Woo hanya bisa tersenyum. 

Ji Woo pikir kalau Sun agak tua kalau sekarang menjadi ciuman pertamanya. Ia pikir kalau Sun adalah pria yang baik, dan berpikir apakah tidak ada gadis yang mendekatinya. Sun mengaku sudah ada.
“Tapi aku tidak mau membuang waktu dan usahaku, jadi aku mencoba untuk menilai apa mereka cocok. Kami tidak pernah terlalu jauh.”ungkap Sun
“Maka tidak ada cara kau mendekati seorang wanita terlebih dulu. Aku mengerti sekarang. Jadi wanita yang kamu cium itu. Kau bilang tidak apa-apa jika tidak cocok.” Kata Ji Woo. Sun tak percaya kalau mengatakan itu.
“Ya. Kau bilang bahkan nanti, kau menyukainya. Seperti itulah yang kau rasakan. Katakan padanya kau menyukainya. Jika kau hanya berpikir dan menimbang hal-hal,. kau mungkin kehilangan kesempatan untuk mengaku. Itu Sepertiku.” Ungkap Ji Woo. Sun binggung karena Ji Woo menganggap dirinya.
“Itulah yang aku rasakan setiap kali aku memikirkan cinta pertamaku. Jika aku memberitahunya bagaimana perasaanku, apakah itu berhasil?” kata Ji Woo. Sun hanya bisa terdiam.
Bersambung ke episode 10

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Sinopsis Lets Eat 3 Episode 9 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Dae Young berbaring di sofa dengan kipas angin karena cuaca sangat panas, tumpukan komik ada diatas meja. Ia pikir kalau Lebih baik mengajak Ji Woo pergi makan lalu mengambi ponselnya. Tapi saat itu terdengar suara lembut Ji Woo memanggil Dae Young.
“Ayo kita makan.” Ucap Ji Woo dengan senyuman lebar, Dae Young terlihat baru bangun tidur pun tersenyum menerimanya. 


Keduanya berjalan dengan pakaian rapih,  Ji Woo memberitahu kalau sudah memutuskan tetap tinggal dan tidak pindah dari rumahnya sekarang. Dae Young ingin tahu alasanya. Ji Woo mengaku kalau itu karena Dae Young. Dae Young binggung mendengarnya.
“Kau bilang aku membawa energi dalam hidupmu jadi bagaimana bisa aku membiarkanmu menggantung begitu? Apa aku teman yang baik?” ucap Ji Woo bangga.
“Benar, dan aku bersyukur.” Kata Dae Young dengan wajah tersenyum.
“Itu sebabnya aku traktir makan hari ini. Jadi kita makan apa hari ini, Tuan Yang Suka Makan?” kata Ji Woo mengoda
“Karena cuacanya panas, ayo kita ke tempat panas.” Ujar Dae Young 

Keduanya masuk ke sebuah restoran, Dae Young pikir Saat panas di luar, mereka lebih baik makan makanan hangat, karena Makanan pedas akan membuat berkeringat dan melupakan cuaca. Ji Woo melihat papan bertuliskan “Jjamppong dihitung gratis jika makan sampai habis dalam 10 menit.” Banyak foto dan juga note.
“Tempat ini...” ucap Ji Woo seperti merasakan sesuatu. Dae Young bertanya apakah Ji Woo masih mengingatnya.
“Tentu saja. Kita sering melipir ke sini saat kuliah. Aku Tidak menyangka ternyata masih buka. Haruskah kita lihat apa itu masih di sini juga?”kata Ji Woo.
Mereka melihat pada semua tumpukan note bertuliskan komentar dan juga foto “Cho Hui dan Ji Hyun menyelesaikan jjamppong!.. Wah Pedas, pedas!.... Aku hampir mati memakannya.” Akhirnya Dae Young dan Ji Woo melihat foto Dae Young dengan mangkuk dan sedang tertunduk.
“Jadi foto ini saat aku memulai mengambil foto piring kosong.” Kata Dae Young. 


Flash Back
Dae Young dan Ji Woo makan dengan cepat Jjampong yang super pedas, Ji Woo sudah tak tahan dengan mie pedasnya. Dae Young dengan cepat menyelesaikan makan dan mangkuknya sudah kosong. Ji Woo langsung memanggil pegawai.
“Di sini! Dia sudah selesai.” Teriak Ji Woo. Pegawai pun memeriksa lalu meminta agar Dae Young bisa foto.
Dae Young yang masih kepedesan terpaksa mengambil gambarnya dengan mangkuk kosong. Pegawai ingin mengambil mangkuk kosong tapi Dae Young menahanya karena ingin mengambil foto dengan ponselnya. Ji Woo heran dengan Dae Young mengambil foto mangkuk kosong.
“Aku akan membual tentang itu dengan mempostingnya di situs webku.” Kata Dae Young
“Apa Kau juga punya situs web?” tanya Ji Woo kaget.
“Aku sudah membuatnya baru-baru ini meski aku belum memposting gambar apa pun. Kita bisa berteman di sana.” Kata Dae Young. Ji Woo menganguk setuju. 

Keduanya keluar dari restoran, Ji Woo merasa sudah mulai dingin. Dae Young menarik risleting jaket Ji Woo dengan menasehati agar berhati-hati jangan sampai kedinginan karena Tim medis clubnya harusnya tidak boleh sakit. Ji Woo menganguk mengerti
“Ngomong-ngomong, waktu sudah berlalu. Cuaca panas begini sudah beberapa hari lalu. Musim dingin akan segera datang.” Kata Dae Young dan keduanya pun berjalan dengan waktu yang cepat berubah menjadi musim dingin. 

Ji Woo dan Seo Yeon keluar dari bioskop baru saja menonton film "Bridget Jones 'Diary". Ji Woo berkomentar Colin Firth keluar lebih dingin di posisi kedua daripada pertama, menurutnya masih luar biasa. Seo Yeon berkomentar kalau lebih sudak suka Hugh yang lurus ke depan daripada Colin yang membuat pengap.
“Kau sebut pria semacam itu luar biasa. Hugh tidak luar biasa. Dia agak membingungkan. Dia membuat gadis bingung.” Komentar Ji Woo
“Apa Kau tak tahu bad boy lebih menarik? Kau bakal bosan dengan pria baik seperti Colin.” Kata Seo Yeon
“Menarik apanya.. Kau akan sadar jika kau dicampakkan oleh pria nakal dan menangis selama tiga hari.” Ejek Ji Woo
Ji Woo lalu menerima telp Byung Sam lalu seperti akan pergi ke suatu tempat. Seo Yeon kaget karena Byung Sma bisa menelpon Ji Woo sekarang, padahal saat mereka berhadapan Byung Sam masih belum bisa mengatakan.
“Mungkin dia benar-benar belum menganggapmu sebagai wanita. Dia menganggapku sebagai teman sebelum dianggap wanita.” Ucap Ji Woo dan mengajak Seo Yeon segera pergi.
“Dia mau kita datang ke tempat mereka makan.” Kata Ji Woo dan Seo Yeon mengikuti kakaknya pergi. 


Semua akhirnya berkumpul dalam satu restoran tanpan Jin Seok. Dae Young menanyakan kapan harus mengadakan acara kumpul-kumpul di tahun baru lalu menyarankan untuk melakukan perjalanan. Seo Yeon menolak karena  sibuk kencan. Byung Sam berbisik pada Dae Young
“Dia berkencan dengan pria yang ditemui pada kencan buta baru-baru ini.” Ucap Dae Young mengucapkan yang dikatakan Byung Sam
“Itu sebabnya Jin Seok tidak datang ke rumah Dae Young atau berpartisipasi dalam kegiatan klub kita.” Kata Sung Joon. Pesanan makanan datang, Ji Woo binggung kenapa daging dijejerkan. 

“Memanggang bacon di tutup kaldron. Ini Bisa ditemani dengan lobak yang sudah dibumbui dicampur dengan saus pedas dan saus tomat.” Jelas Dae Young
“Aku belum pernah mencoba ini sebelumnya.” Kata Ji Woo
“Kau ternyata punya sesuatu yang belum pernah mencoba sebelumnya.” Komentar Dae Young
“Tentu saja. Tidak mungkin aku bisa mencoba semua jenis makanan.” Ucap Ji Woo lalu melihat daging yang mulai matang. 

Dae Young pun menaruh kentang, sosis dan potongan daging lainya, setelah matang mengajak untuk mulai makan. Seo Yeon menahanya agar mengambil foto dulu, semua menunggu Seo Yeon terus mengambil foto dengan berbagai gaya.
“Kalau masih foto, makanannya nanti bisa gosong. Bisakah kita makan sekarang?” keluh Sung Joo.
Akhirnya Seo Yeon mempersilahkan mereka makan dengan wajah cemberut. Semua menikmati makan daging dengan potong lombak yang sudah difermentasi dan berkomentar kalau rasanya sangat enak.
“Bacon dan lobak berbumbu... Belum pernah makan kombinasi seperti itu. Aku bingung apa aku ini ada di Amerika. atau di Korea.” Komentar Ji Woo
“Pastilah kau di Korea. Jangan berlebihan.” Ejek Seo Yeon lalu memilih untuk bergegas pergi karena Bajunya nanti akan beraroma makanan daging panggang. 

“Dia akan pergi tanpa makan,.. tapi dia memposting foto seolah-olah sudah benar-benar makan.” Keluh Ji Woo
“Pastikan kalian juga terkena aroma makanan. Ayo kita pergi.” Kata Byung Sam mau membuka mulutnya.
“Kita harus makan nasi goreng.” Kata Dae Young dan Ji Woo bersamaan. Sung Joon sampai kaget dibuatnya.
“Orang lain mungkin berpikir dia melakukan kejahatan atau sesuatu.” Kata Sung Joo
“Ini cukup banyak kejahatan jika kau tidak menggoreng nasi dengan sisa makanan. Permisi, bisa pesan dua porsi nasi goreng?” kata Dae Young. Ji Woo mengelengkan kepala. Dae Young mengerti lalu memesan tiga porsi.

Akhirnya nasi goreng ditaruh diatas meja, Ji Woo pikir Akan lebih lezat jika manfaatkan sisa kentang dan mencampurnya dengan nasi goreng lalu mulai mengaduk potongan kentang diatas pengorengan.  Setelah menunggu beberapa saat, mereka kembali mulai makan.
Ji Woo dan Dae Young kembali merasakan nasi goreng yang sangat nikmat dari atas pengorengan. Dan akhirnya nasi goreng pun habis dimakan, Dae Young berkomentar kalau Ji Woo memang benar karena bisa mencicipi kentang tumbuk lembut di antara butiran nasi.
“Apa kau reinkarnasi dari Jang Geum? Selama festival juga, bagaimana kau bisa pandai memasak ini? Aku mencoba lauk ibumu di rumah Dae Young, dan itu luar biasa. Apa Kau mengikuti bakat memasaknya? Apa Kau belajar memasak dengan membantunya di tokonya? Apa tidak bisa kau mengajariku?” ucap Dae Young terus bicara tanpa jeda. 

“Hei, kau bisa kehabisan napas, Bernapas dulu kalau mau bicara.” Komentar Sung Joo
“Biarkanlah. Ini pertama kalinya dia bisa bicara dengan seorang wanita. Dia pasti merasa begitu pengap sampai sekarang.” Komentar Dae Young lalu kembali mengambil pengorengan kosong
“Kenapa kau memfoto itu?” tanya Sung Joo heran. Dae Young megatakan ingin mempostingnya di situs webnya seperti Seo Yeon.
“Siapa yang suka dengan foto piring kosong?” ejek Byung Sam. Sung Joo ikut tertawa mengejek
“Orang-orang biasa begitu. Tidak ada temanku yang membayar satu kunjungan pun, tetapi setidaknya 30 orang datang untuk melihat fotoku setiap hari.” Kata Dae Young bangga. Ji Woo hanya bisa terdiam. 

Ji Woo melihat profile Dae Young dengan judul “Dunia Mini Koo Dae Young” dan melihat foto-foto yang diuploud. Ia mengeluh teman Dae Young datang ke rumah Dae Young setiap hari, tapi mereka tidak mengunjungi situs webnya
“Mereka juga tidak meninggalkan komentar.” Keluh Ji Woo lalu melihat foto mereka saat berada di Pantai Eurwangni, lalu melihat foto Dae Yong sedang Berlatih sepak bola. Ia pun terus mengulang agar bisa menambahkan jumlah pengunjung. 

“Apa Kau mau meningkatkan jumlah pengunjung situs web Dae Young?” ejek Seo Yeon yang sudah berdiri dibelakang Ji Woo
“Bukan itu.. Kenapa juga aku berkunjung ke situs webnya 30 kali?” kata Ji Woo langsung menutup lamatar
“Apa Kau mengunjunginya 30 kali?!!! Hei... Jangan diam saja dan nyatakan perasaanmu, Dasar bodoh. Mahasiswa baru akan segera masuk kuliah. Jangan menyesal setelah kau merelakan dia pada yang muda.” Tegas Seo Yeon
“Siapa bilang aku akan menyesalinya? Kau tak perlu melakukan sesuatu yang akan kau sesali. Apa Kau yakin tidak akan bermain ski dengan seorang pria?” ucap Ji Woo curiga melihat pakaian Seo Yeon
“Tidak... Aku pergi dengan semua temanku... Kami baru saja bertemu. Ini terlalu cepat untuk melakukan perjalanan dua hari dengannya. Begitu orang itu menganggapmu miliknya, maka dia tidak lagi memberimu makan. Kau harus jual mahal untuk bisa memuncaki hubungan cinta.” Kata Seo Yeon dan bergegas pamit pergi.
Ji Woo  mengeluh melihat sikap Seo Yeon dan kembali mencoba mengunjungi situs Dae Young, lalu dikejutkan dengan ucapan “Selamat!” lalu mengeluh karena Biasanya orang tidak mengatur yang seperti ini kepada pengunjung ke 100 atau 1.000.
“Kenapa dia mengaturnya untuk pengunjung ke 999? Apa karena nama keluarganya terdengar seperti "sembilan"? Apa ini akan baik-baik saja?” ucap Ji Woo panik
“Aku hanya teman yang kebetulan beruntung.” Kata Ji Woo lalu menuliskan komentar “Terima kasih.” Dengan santai tapi kembali lagi keluar ucapan selamat.
“Apa Dia membuat acara untuk pengunjung 999 dan 1.000? Apa lagi sekarang? Bagaimana jika dia tahu kalau aku tetap mengunjungi situsnya? Wah... Ini membuatku gila.... bisakah aku kembali saja?” kata Ji Woo mulai kebingungan. 

Ji Woo keluar dari rumah dengan wajah gugup, saat itu Dae Young membuka pintu dengan tatapan sinis memanggil Ji Woo, karena memenangkan kedua acara di situs webnya dan ingin tahu sesuatu. Ji Woo langsung mengelak..

“Siapa yang memberitahumu? Tentang acaraku untuk pengunjung ke 999 dan 1.000? Apa Byung Sam atau Sung Joo?” kata Dae Young. Ji Woo kebingungan karena bukan seperti itu duganya.
“Kau kebingungan.... Jadi seseorang yang memberitahumu. Apa kau terus mengunjunginya untuk memenangkan acara? Apakan untuk mendapatkan biji-bijian gratis untuk poin?” komentar Dae Young
“Maaf... “ kata Ji Woo dengan senyuman, akhirnya Dae Young pun bisa tersenyum. 

Byung Sam dan Jin Seok sibuk makan jajangmyun. Sementara Sung Joo mencoba trik curang bermain billiard. Jin Seok mengejek kalau tidak ada seorang pun di bawah 300 yang bisa menggunakan keterampilan itu dan bisa memasukan bola dalam lumbang.
“ApaKau sudah baikan? Kelihatannya kau masih patah hati.” Ucap Sung Joo
“Tidak ada yang patah hati. Aku menyebutnya masa pendinginan. Seo Yeon cenderung terbang dari satu orang ke orang lain. Dia pasti akan segera kembali. Aku mungkin bertemu orang lain sampai dia pun begitu. Jadi Aturkan kencan buta untukku dan Byung Sam.” Kata Jin Seok
“Aku tidak usah.” Ucap Byung Sam. Jin Seok kaget karena Byung Sam menolaknya.
“Apa Takut kau akan ditolak?”ejek Jin Seok. Byung Sam mengaku bukan itu.
“Ada gadis yang aku suka.” Akui Byung Sam, semua kaget dan Sung Joo menebak kalau itu Ji Woo. Byung Sam mengangguk. Jin Seok tak percaya mendengarnya.
“Kau langsung berbicara dan bisa mencintai... Hei, Dae Young..  Byung Sam suka dengan Ji Woo.” Kata Jin Seok memberitahu Dae Young yang baru datang.
“Ini rahasia di antara kita.. Jangan beri tahu dia.” Kata Byung Sam. Dae Young terdiam mendengarnya.
“Jangan khawatir. Kenapa orang di bawah 300 tidak bisa menggunakan keterampilan mewah? Jika mereka merobek lapisannya. Sangat jelas hatimu akan robek. Kenapa aku harus memberitahunya? Dia tidak akan pacaran denganmu.” Ejek Ji Seok
“Dia pasti mau denganku. Apa Kau bahkan tahu bagaimana perasaannya? Bisakah kau membaca pikiran?” ucap Byung Sam yakin
“Apa Kau perlu mencicipi kotoran dari pasta kacang? Kenapa dia pacaran dengan seseorang yang mirip denganmu? Meski dia menyalurkan Florence Nightingale semangat pelayanan dan pengorbanan, itu tidak mungkin.” Tegas Jin Seok.
“Hei... Apa Kau merasa tampan sehingga menjalankan tugas untuk Seo Yeon kemudian melihat dia pacaran dengan orang lain?” balas Byung Sam.
“Aisssh.... Kenapa kau bilang begitu? Aku jauh lebih baik daripada dirimu. Terlihat lebih baik,bahkan semuanya lebih baik... Coba Sung Joo, apa kau tak setuju?” ucap Jin Seok
“Itu seperti memilih antara bodoh dan dungu. Aku tidak mau terlibat.” Kata Sung Joo dengan tawa mengejek.
Jin Seok dan Byung Sam langsung memberikan pelajaran pada Sung Joo dengan menarik kedua kakinya. Dae Young sudah tak nafsu bermain mengajak agar berhenti bermain-main dan pergi.  Sung Joo masih berteriak kesakitan. 


Seo Yeon mengeluh pada teman prianya karena seorang pengemudi melupakan SIM. Si pria meminta maaf meminta agar menunggu di lobby karena akan mengambilnya dulu. Seo Yeon dan dua temanya pun menunggu, lalu melihat kalau ada di  apartemen Power Palace yang terkenal mewah itu.
“Hei... Bae Byung Sam... Kenapa kau di sini?” ucap Seo Yeon kaget melihat Byung Sam yang masuk.
“Apa anda dari Unit 5501? Jangan lupakan surat Anda.” Kata Petugas menghampiri Byung Sam. Seo Yeon melonggo kaget
“Apa Kau tinggal di sini?” tanya Seo Yeon. Byung Sam tak banyak bicara memilih untuk masuk
“Jadi Apa dia benar-benar tinggal di sini?” kata Seo Yeon melonggo tak percaya. 

Mereka selesai bermain ski,  Seo Yeon mengajak mereka untuk foto dengan cameranya, lalu tersadar dengan pemandangan dibagian belakang. Ia melonggo melihat Byung Sam berjalan dengan jas masuk ke dalam sebuah ruangan dan bertanya-tanya kenapa ada disana. Si pria melihat Byung Sam itu berada satu apartement denganya.
“Apa Kau kenal dia?” tanya Seo Yeon penasaran dengan Byung Sam
“Kami bertemu beberapa kali. Dia pewaris tunggal BS Industrials. Di sini juga ada acara makan malam tahunan tahun lalu.” Kata Si pria.
Seo Yeon masih tak percaya, tapi teman pria yakin keluar Byung Sam katanya akan membeli resort ini. Seo Yeon masih tak percaya dengan melihat spanduk “Acara Makan Malam BS Industrialals” lalu Byung Sam didepan pintu sedang dikenalkan dengan direktur lainya. 


Ji Woo menyanyi di kamar Dae Young dengan iringan gitar Byung Sam, Dae Young  datang membawakan ubi rebus sambil berkata “Maukah kau makan ubi jalar denganku atau mati bersamaku?” Semua tertawa mendengarnya, Ji Woo tak percaya Dae Young sdang meniru So Ji Seob.
“Hei... Apa Kau tahu kalau pewaris BS Industrials adalah Byung Sam?” ucap Seo Yeon tiba-tiba masuk membawa berita. Jin Seok binggung apa itu BS Industrials
“Apa itu? Bukankah itu 1 dari 100 perusahaan terbaik Korea? Apa Byeong Sam yang malang ini adalah anak seorang Ketua?” kata Dae Young dengan tawa mengejak
“Tidak mungkin. Wajahnya saja selalu seperti itu.” Kata Sung Joo. Ji Woo pikir Seo Yeon sedang bicara omong kosong lagi. Seo Yeon yakin kalau ucapanya benar.
“Byeong Sam, beri tahu mereka... Kau tinggal di Power Palace. Coba lihat, Baju  ini merek mewah.” Kata Seo Yeon menarik bagian belakang baju Bung Sam. 

Jin Seok ikut melihatnya tak percaya, Sung Joo memastikan kalau Byung Sam benar-benar tinggal di Power Palace dan Dae Young ingin tahu apakah Ketua BS Industrials itu ayah Byung sam. Ji Woo hanya melonggo, Byung Sam akhirnya menganguk membenarka.
“Dasar bodoh. Apa Kau ternyata kaya dan selama ini diam-diam padaku?” ucap Dae Young memiting kepala Byung Sam
“Hei, dia tak bisa napas... Aku merasa kau tidak seperti kita. Aku merasa kau punya pendidikan khusus.” Kata Sung Joo menarik Dae Young dan mulai menyanjung Byung Sam
“Aku berpikir setidaknya kau akan berada di bawahku”kata Jin Seok duduk lemas. Ji Woo heran melihat reaksi setiap orang berbeda
“Tidak perlu mengambil kursus psikologi. Mereka dengan sempurna mewakili semua jenis manusia.” komentar Seo Yeon. 


Seo Yeon kembali ke rumah seperti tak percaya kalau mengenal seorang pria kaya karena berpikir kalau itu hanya terjadi di drama saja. Ji Woo juga merasakan hal yang sama. Seo Yeon heran melihat Ji Woo yang tak terkejut.
“Aku terkejut ketika pertama kali kudengar. Tapi Byeong Sam hanyalah Byeong Sam. Tidak ada yang berubah.” Ucap Ji Woo santai
“Apa Kau naif atau bodoh? Latar belakang keluarganya berubah total. Tentu saja dia harus terlihat berbeda. Dia adalah Colin Firth yang kau inginkan. Dia punya latar belakang yang luar biasa tapi tak bisa berurusan dengan wanita.” Ucap Seo Yeon. Ji Woo terlihat binggung.
“Dia tepat ada di sana... Tipe idealmu berada di sampingmu... Itu Bagus untukmu, jadi Tetaplah bersama Byeong Sam.” Kata Seo Yeon
“Bukan itu... Kau menyuruhku mengakui perasaanku kepada Dae Young.” ucap Ji Woo
“Itu cuma bagian dari lelucon... Aku benar-benar serius tentang Byeong Sam. “ kata Seo Yeon bersemangat.
“Jika kau berpikir dia hebat, maka kau pacaran saja dengannya.” Ujar Ji Woo
“Sudah kubilang Hugh Grant itu tipe idealku. Seorang pria yang punya latar belakang luar biasa dengan kepribadian yang cocok.” Kata Seo Yeon lalu melihat kotak tissue buatan “BS Industrials”
“Apa "BS Industrials"? Apa Perusahaan Byeong Sam yang membuat ini?” tanya Seo Yeon kaget. 


Byung Sam dengan santai bermain komputer seperti baru mengetahui barang-barang dari perusahaan ayahnya. Dae Young dan Sung Joo tak percaya melihat semua kertas karton didalam kamar buatan BS Industrials. Sung Joo tak percaya kalau Tidak ada BS Industrials yang terlibat.
“Kami telah hidup di bawah pengaruh dan bayangannya.” Ucap Dae Young
“Apa inisial B dan S di BS Industrials itu namamu?” tanya Sung Joo. Byung Sam pikir itu mungkin.
“Ayahku mendirikan perusahaan saat aku lahir.” Kata Byung Sam
“Ayahmu pasti memujamu. Dari apa yang kutahu, Ji Woo juga menyukaimu.” Kata Sung Joo mulai mendekat. Byung Sam tak percaya mendengarnya.
“Itu pengamatan tanpa dasar. Apa yang membuatmu berpikir kalau Ji Woo menyukainya? Dia cuma menganggapnya sebagai teman.” Kata Dae Young
“Itu sebabnya kau tak punya hubungan yang lancar. Wanita mana yang akan menolak latar belakangnya? Dia tidak pernah membual tentang itu, jadi dia juga sederhana. Jika aku wanita, maka akan jatuh cinta dengannya.” Ungkap Sung Joo
“Aku tidak menganggapmu sebagai orang sombong, tapi sikapmu sepenuhnya sudah berubah Kau dulu begitu keras padanya karena mencium bau tak enak. .. Bukankah itu benar, Jin Seok?” kata Dae Young dan Jin Seok seperti frustasi membenturkan kepala di depan lemari.
“Sepertinya ini membuatnya lebih kaget daripada Seo Yeon punya pacar.” Komentar Dae Young
“Aku berpengalaman soal berkencan. Aku akan membantumu menjadikan Ji Woo milikmu. Ayo kita semua pergi ke Jeongdongjin untuk melihat matahari terbit. Kita akan cepat kembali sehingga kau bisa sendirian dengan Ji Woo.” Ucap Sung Joo
Dae Young melonggo mendengarnya.  Sung Joo berucap Dae Youg itu Seorang pria menjaga wanitanya tetap hangat di dekat laut yang dingin lalu pada saat Matahari terbit, Byung Sam menatapnya bersama. Ji Woo. Byung Sam pun setuju. 



Dae Young melonggo melihat tumpkan tissue dan itu semua ini dari ayah Byung Sam. Sung Joo pikir ayah Byung Sam cukup murah hati. Byung Sam keluar dari kamar mandi, Sung Joo memastikan Byung Sam sudah mandi seperti yang diajarkan lalu menyemprot parfum.
“Wanita biasanya sensitif terhadap aroma, jadi aroma dari badan itu penting. Dia sekarang akan setuju untuk pergi jika kau memintanya ke Jeongdongjin.” Ucap Sung Joo
“Pembungkusnya tidak terlepas. Apa sudah benar cara buatnya?” keluh Dae Young kesal melempar box tissue dan menjatuhkan tumpukan tissue.
Mereka lalu sadar kalau ada Jin Seok yang tertidur dibalik tumpukan tissue. Dae Young memastikan kalau temanya baik-baik saja. Jin Seok seperti frustasi menutup wajahnya dengan selimut. Sung Joo pikir mereka tak perlu memperdulikan Jin Seok.
“Kita pikirkan apa yang akan kau lakukan pada kencanmu dengan Ji Woo.” Ucap Sung Joo
“Aku pergi kerja dulu.” Kata Dae Young seperti tak suka mendengar pembicaraan Byung Sam yang akan berkencan dengan Ji Woo.


Dae Young membawakan menu makanan untuk pelanggan, Manage datang datang melihat Dae Young tak ada shift tanggal 31, apakah memiliki rencana lain. Dae Young ingin tahu kenapa alasanya.
“Pegawai yang dapat jam malam bilang dia tidak bisa datang. Kuharap kau bisa menggantikannya.” Ucap Managernya.
“Aku tak ada rencana, jadi akan tetap di sini.” Kata Dae Young akan menghabiskan tahun baru di restoran. 

Semua keluar dari rumah menatap mobil yang terparkir di depan rumah.  Dae Young datang bertanya apa yang dikatakan.  Ji Woo dengan bangga memberitahu Dae Young kalau itu mobilnya Byeong Sam dan Besok akan  mengantar mereka ke Jeongdongjin.
“Aku belum sempat naik mobil konvertibel sebelumnya.” Kata Ji Woo. Dae Young pikir Terlalu dingin untuk membuka atap.
“Tapi, kami tidak bisa naik mobil seperti ini. Jalanan akan licin.” Ucap Byung Sam
“Byeong Sam sungguh bijaksana dan penuh perhatian. Ji Woo, apa kau juga berpikir begitu?” kata Sung Joo menjilat. Ji Woo menganguk membenarkan.
“Aku tak bisa, karena Aku ada kerja.” Ucap Dae Young menolak.
“Ini Malam Tahun Baru. Bukankah seharusnya kau dapat cuti?” kata Ji Woo kecewa
“Aku butuh uang untuk pergi ke Jerman untuk Piala Dunia.” Ucap Dae Young
“Seo Yeon akan bersama pacarnya, jadi dia juga tidak bisa. Kau harus bergabung dengan kami setelah kerjamu selesai.” Ucap Ji Woo
“Ya, begitu saja. Kita akan melihat matahari terbit,jadi kau tidak akan terlambat.” Ucap Byung Sam. Dae Young pun setuju akan datang.


Dae Young berkerja di restoran dengan melihat berita di TV perayaan tahun baru 2005 dan laporan menuju Jonggak untuk melihat secara acara keseluruhan.  Akhirnya Dae Young dengan wajah sedih pulang kerumah  membaca pesan Byu ng Sam “Kapan kau akan sampai di Jeongdongjin?” lalu melihat lampu diatasnya akan rusak lagi.
“Hei.... Dae Young, Apa kau sudah kembali?” ucap Ji Woo melihat Dae Young akan masuk rumah.
“Tunggu. Bukankah kau pergi ke Jeongdongjin?” kata Dae Young heran melihat Ji Woo ada diSeoul
“Para senior di kampus mengadakan pertemuan besok,jadi aku harus kembali. Bukankah Byeong Sam meneleponmu?” ucap Ji Woo
Dae Young kembali membuka ponselnya membaca pesan Byung Sam yang lengkap “Kapan kau sampai di Jeongdongjin? Ji Woo harus kembali. Ada urusan di kampus.” Ji Woo pikir Dae Young akan pergi menyusul. Dae Young terlihat binggung mengaku merasa lelah karena baru saja pulang dan tiba-tiba lampu di rumah mereka mati.
“Aku tahu kalian di sini karena pemadaman listrik. Aku tidak tahu kenapa tapi korsleting terjadi setiap kali salju turun. Aku akan memperbaikinya, jadi jangan khawatir.” Kata Nenek memberikan lampu pada keduanya.
“Pemilik mungkin akan mencoba memperbaikinya sendiri. Aku ragu apa bisa diperbaiki hari ini. Aku ingin mendengar bel berbunyi karena aku akan merindukan matahari terbit besok.” Ucap Ji Woo sedih. 


Dae Young akhirnya mengajak Ji Woo duduk diatap, Ji Woo pikir kalau sekarang jauh lebih baik daripada tinggal di apartemen yang gelap lalu bertanya Bagaimana Dae Young  bisa dapat ide ini. Dae Young hanya bisa tersenyum
“Ini tidak akan sebagus TV, tapi mendengar hitungan mundur di radio tidak terlalu buruk.” Ucap Dae Young menyalakan radio. Ji Woo pikir juga benar.
Terdengar siaran radio “Tahun baru tinggal sedetik lagi. Kami akan mulai menghitung mundur untuk tahun 2005.” Keduanya pun mulai menghitung mundur,  dan akhirnya saling mengucapkan Selamat Tahun Baru. 

Dae Young dan Ji Woo sedang sibuk kepedesan sambil minum jus apel. Dae Young ingat kalau waktu itu tidak membutuhkan minum saat makan mie pedas. Ji Woo pikir itu karena Dae Young masih muda begitu juga perutmnya.
“Ini bukan buatan BS Industrials. Dulu kita melihat perusahaan mana yang membuat hal seperti itu.” Ucap Dae Young melihat bagian belakang kotak.
“Benar. Aku penasaran bagaimana kabar Byeong Sam.” Kata Ji Woo. Dae Young juga merasakan hal sama ingin tahu kabar temanya.
“Kenapa masih foto untuk blogmu? Apa itu untuk mempromosikan dirimu sehingga kau bisa dapat klien baru?” ucap Ji Woo melihat Dae Young mengambil foto.
“Tidak, ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan asuransiku. Aku senang ketika orang-orang. menikmati makanan yang kusarankan.” Ucap Dae Young. Ji Woo bisa tersenyum mendengarnya.
Bersambung ke part 2

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09