PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Sabtu, 04 April 2020

Sinopsis Hospital Playlist Episode 4 Part 3

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Suk Hyung berjalan dilorong melihat sekeliling lalu tersenyum melihat ibunya dan menghampirinya. Sang ibu juga tersenyum dengan kaki yang pincang. Suk Hyung bertany apakah Ibunya sudah bertemu dokter jadi meminta Ibu lebih diperhatikan.
“Aku sudah bertemu dan semua baik-baik saja. Hanya saja kaki ibu terasa lemas.. Ibu mau ke toilet dahulu.” Kata ibu Suk Hyung. Suk Hyung pun menganguk mengerti. 

“Dia bilang tidak ingin membiarkan pasien yang sudah menjalani masa sulit untuk mengalami trauma itu. Pasien sudah memahami situasi dan menyiapkan hati, tetapi hal itu bisa menjadi trauma bagi pasien selamanya.” Ucap Dokter Senior. Eun Woo pikir itu Luar biasa.
“Aku pikir dia tidak jeli karena tampak pendiam.Ini Tak kuduga. Apa Kau tahu? Sulit untuk memberi perhatian seperti itu.” Kata Dokter Sneior.
“Seharusnya dia bilang saja kepadaku alasannya.”keluh Dokter Chu.Dokter Senior pikir Itu tidak harus dikatakan Seharusnya Dokter Chu itu sudah paham.

Di ruangan, Song Hwa tak percaya melihat Jun Wan  makan kimchi daun bawang juga padahal Sebelumnya tidak dan Tiba-tiba tampak enak bahkan Belakangan ini sukakongguksu padahal awalnya tak suka. Song Hwa pkir Selera berubah saat menua.
“Itu pun tidak perlahan.. Secara tiba-tiba. Dalam sekejap.” Kata Ik Jun
“Aku mendadak alergi kucing dalam sekejap. Padahal aku tidak pernah punya alergi.” Ungkap Song Hwa.
“Aku tiba-tiba mengalami mata tua pada hari Natal tahun lalu. Pacarku bertanya apa aku suka sesuatu di ponselnya, tetapi aku tak bisa lihat. Jad Aku bilang saja bagus.” Cerita Jung Wan
“Belum lama ini, aku ke taman bersama U-ju, dan mengambil foto bunga banyak sekali. Ada 6.000 foto bunga... Ini Sungguh! Tanpa sadar aku mengambil foto bunga.” Cerita Ik Jun. Song hwa pun tertawa mendengarnya.
“Dan U-ju... Ada yang menjual kongguksu di sana. Jadi, U-ju makan itu, dan aku mendadak tertarik pada bunga. Biar kuperlihatkan.” Ucap Ik Jun. Keduanya menjawab tak perlu.
“Namun, kita tidak separah Suk-hyung.” Ucap Jun Wan. Keduanya pun yakin kalau temany itu  paling luar biasa.
“Dulu dia tak pernah bicara dengan ibunya, tetapi kini jadi anak ibu. Dahulu dia dingin sekali pada ibunya. Dia sering mengeluh kepada kita, ibunya keras dan mengerikan. Masa depan memang tidak ada yang tahu.” Kata Jun Wan.
“Siapa pun pasti begitu saat menghadapi masalah sekaligus. Adiknya yang paling dekat tiba-tiba jatuh dan meninggal. Ayahnya selingkuh dengan wanita muda.Lalu Ibunya pingsan karena strok. Namun, Suk-hyung berhasil bertahan... Kalau aku...” ucap Song Hwa tak bisa membayangkan.
“Bagaimana kondisi ibunya sekarang?”tanya Jun Wan. Song Hwa mengaku  Kabarnya hari ini dia datang dan bertanya apakah tidak bertemu
“Hari ini dia ke Neurologi. Dia sangat membaik. Bisa keluar sendiri. Dia bilang akan bertemu ibunya jika ada waktu setelah persalinan.” Cerit Song Hwa.
“Mereka sudah bertemu belum, ya?” tanya Jun Wan penasaran. 



Suk Hyung mengantar ibunya masuk ke toilet tapi terlihat sangat khawatir. Ibunya meyakinkan kalau tak masalah lalu masuk sendiri. Seorang perawat akan masuk. Suk Hyung memanggilnya memberitahu kalua Orang yang baru masuk tadi ibunya dengan memperlihatkan ID Cardnya sebagai dokter.
“Dia agak sulit berjalan setelah operasi... Mohon maaf, tetapi aku khawatir dia pingsan di dalam. Apa boleh aku minta tolong perhatikan ibuku? Cukup perhatikan satu atau dua kali apa dia baik-baik saja. Terima kasih. Maafkan aku.” Kata Suk Hyung khawatir.
“Tidak apa-apa. Akan kuperhatikan di dalam.” Kata perawat. 

Suk Hyung menunggu diluar dengan wajah khawatir. Jun Wan mengaku  Ayah Seok-hyeong sungguh di luar dugaan. Ik Jun mengeluh kalau menurutnya bukan ayah karena Suk-hyung pun tidak memanggilnya "Ayah". Lalu memastikan kalau mereka masih belum cerai.
“Ya. Katanya ibunya Suk-hyung tidak akan pernah menceraikannya.” Kata Jun Wan. 

Suk Hyun menganta ibunya sampai di depan rumah sakit. Ibunya menyuruh anaknya masuk karena pasti sibuk.  Suk Hyung menjawab Nanti setelah taksi datang. Ibunya memastikan kalaubisa naik taksi sendiri. Suk Hyun mengaku akan memanggilnya jadi akan masuk setelah Ibunya naik.
“Song-hwa di mana? Apa Dia sibuk? Coba telepon. Ajak dia minum kopi di bawah sebentar.” Ucap Ibu Sung Hyung terlihat sumringah.
“Song-hwa dan aku hanya teman. Kami tidak ada hubungan apa-apa. Hentikanlah!” keluh Suk Hyung.
“Memang ibu bilang apa? Aku hanya ingin bertemu sebentar selagi ada di sini. Kenapa kau marah-marah? Apa Ada sesuatu di antara kalian?” kata Ibu Suk Hyung. Saat itu Suk Hyung melihat kalau Taksi datang dan menyuruh ibunya pergi saja. 

[Flash back ]
December Tahun 2018
Suk Hyung naik pesawat setelah bibinya menelp untuk memintanya segera pulang karena Ji-eun meninggal. Suk Hyung kaget mendengarnya. Sang bibi memberitahu kalau Ji Eun jatuh dan meninggal jadi meminta agar Cepat pulang!
“Kau harus Cepat pulang naik pesawat paling awal! Ibumu pingsan dan sudah dibawa ambulans. Ayahmu sedang haiking bersama para karyawan baru. Dia baru bisa pulang besok malam. Kau harus cepat pulang.” Ucap sang bibi.
Suk Hyung hanya bisa menangis sendirian lalu akan pergi ke toilet saat itu melihat Ayahnya. Ia ingin mendekat tapi seorang wanita datang dan langsung memegang tangan ayahnya. Suk Hyung terdiam melihat ayahnya ternyata memiliki selingkuhan didepan matanya. 

JANUARI 2019
Bibi yang mendengar cerita Suk Hyung tak percaya menurutnya ayah Suk Hyun itu bukan manusia lalu bertanya apakah sudah bilang kepada ibuya. Suk Hyun mengaku berencana bilang sekarang. Bibinya memastikan apakah Suk Hyun sudah yakin.
“Dia bukan manusia. Apa aku saja yang bicara?” ucap sang Bibi. Suk Hyun pikir kalau ia saja.
“Ini Gerimis. Sebentar lagi deras. Ayo Naiklah. Kita bicara di atas.” Teriak Ibu Suk Hyung. 

Suk Hyung bertemu dengan ibunya, Sang ibu mengaku kalau sudah tahu bahwa ayahnya selingkuh. Suk Hyung heran kalau ibunya hanya diam saja. Ibu Suk Hyung mengaku tidak diam tapi sudah mengumpat kepada ayanya dan menjambak rambutnya.
“Namun, ayahmu malah minta cerai. Kalau kami bercerai, dia bilang akan memberi rumah yang ibu tinggali, toko, dan gedung. Jadi, dia memohon cerai pada Ibu. Karena itu ibu tolak. Dia harus mati bersamaku, dan hidup selamanya bersamaku.” Ucap Ibu Suk Hyung.
“Ibu tak akan menceraikannya. Untuk siapa? Pergi haiking bersama para karyawan baru?Ibu juga tahu. Mereka pergi ke luar negeri bersama setiap akhir tahun. Di hari Ji-eun wafat pun mereka pasti sedang bersama. Ibu juga tahu.” Ungkap Ibu Suk Hyung. Suk Hyun hanya terdiam mendengar suaranya.
“Namun, ibu tak akan menceraikannya. Itu hanya akan buat dia senang. Apa Agar ayahmu bisa hidup bahagia dengan wanita itu?” ucap  Ibu Suk Hyung.
“Ceraikan saja, Bu... Ibu bisa hidup bahagia denganku.” Kata Suk Hyung.
“Ibu boleh bahagia... Namun, ayahmu tidak boleh bahagia. Di hari pemakaman Ji-eun pun, ayahmu tidur bersama wanita itu. Ibu tidak apa-apa. Ibu akan menanggung semua sendiri. Kau lakukan pekerjaanmu saja. Bagi ibu kebahagiaanmu yang terpenting.” Ucap Ibu Suk Hyung. 


Suk Hyung pulang ke rumah saat hujan dengan deras, saat itu melihat ibunya menangis meraung-raun memanggil ibunya agar membawanya pergi saja. Saat itu Suk Hyung hanya bisa menatap sedih pada ibunya. 

PUSAT MEDIS YULJE
Dokter Chu bertanya siapa yang ada disebelah Dokter Jang. Dokter Jang memberitahu kalau dia adalah Dokter bedah saraf, Ahn Chi-hong dan juga juga lulusan pascasarjana. Dokter Ahn jugar dokter residen tahun ketiga, sama seperti dirinya.
“Selamat datang di Salon Dokter Bong!”ucap Dokter Chu bahagia. Dokter Ahn tersenyum
“Perkumpulan ini populer di kalangan residen. Mereka berebut datang karena tahu kita bisa dengar cerita para dokter spesialis di sini. Dokter Ahn Chi-hong terpilih dari sepuluh kandidat hari ini karena dia banyak mentraktir piza.” Jelas Dokter Jang
“Omong-omong, Dokter Bong Gwang-hyeon belum datang?” kata Dokter Jang. Dokter Bong mendengarnya mengaku sudah datang.
“Hei, waktu luang begini lebih baik kalian pakai untuk pulang atau tidur.”keluh Dokter Jang.
Dokter Chu pun menawarkan minuman lebih dulu.  Dokter Bong memikirkan Lebih baik minum minuman dingin atau hangat. Dokter Chu pikir  Minum dua-duanya saja lalu bergegas akan memesan keduanya.  Dokter Bong pun bertanya siapa pria yang ada didepanya.
“Selamat malam. Aku dokter residen bedah saraf, Ahn Chi-hong.” Ucap Dokter Ahn.
“Dokter bedah saraf, Ahn Chi-hong.. Oh Baik. Kau datang kepadaku karena ingin tahu tentang siapa?” ucap Dokter Bong
“Dokter Chae Song-hwa.” Jawab Dokter Ahn. Dokter Bong bertanya mau tahu apa tentang Song-hwa, apa Hobinya.
“Aku.. Ahn Jung Won, Aku mau tahu hobinya.” Kata Dokter Jang penuh semangat.
“Kalian tahu mereka main band, 'kan? Mereka berlima main band. Saat kuliah mereka memang terdaftar di klub komedi sehingga tidak aktif main band, tetapi mereka selalu berlatih sendiri.” Ucap Dokter Bong
“Ahh.. Benar! Malam ini juga kudengar mereka akan berkumpul.” Ucap Dokter Bong. 


Di rumah Suk Hyung.
Jung Won bahagia melihat lagu yang akan dimainkan karena sangat menguasai lagu ini dan Usai jeda, bagaimana kalau mereka mainkan ini lebih panjang. Suk Hyung pikir mereka selesai cepat lalu menawarkan ramyun. Ik Jun menolak.
“Aku harus mengurus U-ju. Cepat duduk! Kita coba dengan benar sekali saja lalu pulang.” Ucap Ik Jun
“Ini benar-benar laguku.” Kata Suk Hyung. Ik Jun menegaksan kalau ini lagunya.
**
Dokter Chu memberikan dua jenis minuman tak percaya kalau Dokter Yang Suk-hyung juga,  Dokter Bong memberitahu kalau  Suk-hyung kibordisnya. Dokter Chu tak peraya medengarnya. Dokter Bong memberitahu Ik-jun dan Jun-wan adalah pemain band saat SMA.

“Katanya mereka terkenal di Changwon... Tentu itu menurut Ik-jun. Pokoknya, Ik-jun mahir main gitar dan bas. Jun-wan bermain gitar. Saat kuliah mereka pun anggota band kampus, tetapi suasananya terlalu serius, lalu mereka keluar.” Cerita Dokter Bong
“Kemudian mereka mulai main band untuk bersenang-senang, dan untungnya Suk-hyung bisa main piano. Sementara Jung-won mulai belajar bermain drum, dan Song-hwa adalah vokalis.” Cerita Dokter Bong, mereka tak percaya kalau Song Hwa jadi Vokalis.
“Dia pekak nada, 'kan?” ucap Dokter Chu. Dokter Bong membenarkan menurutnya semua tahu.
“Song-hwa menipu mereka.” Ucap Dokter Bong. Semua kaget dan binggung. Dokter Bong memberitahu Song-hwa pandai menipu.
“Bila punya keinginan, dia akan berusaha meraih keinginan itu dengan cara apa pun. “Jelas Dokter Bong. Dokter Ahn bahagia menurutnya Song Hwa memiliki Pesona tak terduga. 

Flash Back
MUSIM SEMI TAHUN 1999
Jun Wan tak percaya Song Hwa ingin jadi vokalis lalu bertanya apakah pandai menyanyi. Song Hwa membenarkan lalu mencoba menyanyi tapi tak susai nada lalu mengaku kalau sekarang tenggorokannya agak serak, tetapi menurutnya suaranya sangat bagus.
“Aku bisa menjadi vokalis.” Ucap Song Hwa. Jun wan pikir Song Hwa baik-baik saja kemarin.
“Pagi ini... tiba-tiba begini.” Kata Song Hwa akhirnya bergegas pergi untuk minum kopi.
“Kalau begitu, Song-hwa vokalis. Kau bilang kau mahir main piano?” ucap Ik Jun. Suk Hyung membenarkan 

“Kau tak lihat di sini? Keluarga kami pemain musik.”ucap Suk Hyung. Ik Jun pikir mereka bisa melihatnya sekarang.
Suk Hyung mulai memaikan piano dengan sangat lincah, tapi saat Ik Jun menyanyi Suk Hyung berhenti. Song Hwa dkk langsung memberikan tepuk tangan seperti tak menyangka. Ik Jun bertanya Ada lagu yang lain. Suk Hyung mencobanya dan kembali memaikan lagu kedua.
Tiga temanya sangat takjub memberikan tepuk tangan. Suk Hyun memainkan lagu ketiga. Jung Won tak percaya bertanya-tanya kapan Suk Hyung belajar piano. Ik Jung belum puas karena ingin dengar lebih lama. Suk Hyung kembali memainkan lagu lalu berhenti.
Ik Jun meminta agar mengulanginya tapi Suk Hyung menolaknya. Akhirnya Ik Jun memberikan pelajaran. Suk Hyung pun hanya bisa tertunduk diam setelah babak belur. Song Hwa dkk sibuk melihat ponsel milik Suk Hyung dan bertanya Ini berapa harganya. Jun Wan menjawab Tiga ratus ribu won

“Kau memang kaya! Bahkan bisa menulis 32 suku kata dan lima baris hangeul!” kata Jung Won. Son Hwa  melihat ini ringan sekali.
“Teknologi benar-benar sudah berkembang! Aku harap nanti ada kamera di sini.” Kata Jung Won. Jun Wan pikir itu tak mungkin
“ Atau kita bisa transaksi dan bayar ongkos bus dengannya.” Kata Song Hwa. Jun Wan mengeluh Jangan konyol.
“Itu berlebihan... Kalau begitu, Apa bisa nonton TV juga?” ejek Jung Won. Jun Wan juga tak percaya dari ponsel  Bisa isi saldo juga menurutnya itu tak mungkin!
“Konon itu terjadi di masa depan.” Kata Song Hw yakin. Jun Wan pikir itu setelah mereka mati.
“Ada satu lagu yang bisa kumainkan sampai akhir.” Akui Suk Hyung. Ik Jun menebak "Beyer" Suk Hyung menjawab "Canon". Ik Jun tak percaya Suk Hyung bisa melakukanya.
“Meski tak semahir George Washington, aku bisa main sampai akhir. Aku belajar dari adikku.” Kata Suk Hyung
“George Winston... Kau... Ini kesempatan terakhir...” kata Ik Jun. Suk Hyun akhirnya langsung memainkan pianonya. Ik Jun pun mulai memetik gitarnya.
“Si Berengsek itu sok keren.”keluh Jun Wan kesal. Akhirnya mereka berlatih dengan alat musik masing-masing.
Suk Hyung memakan habis ramyun dan Jun wan hanya menatapnya. Akhirnya ia memasak lagi kali ini Ik Jun ikut datang dan makan dengan tutup pancinya. Jun Wan pun kembali makan ramyung, Suk Hyung mendekat. Jun wan langsung kabur ke lantai atas dengan pancinya.
Ik Jun dkk akhirnya memainkan lagu yang sama lagi, mereka berlima terlihat sudah sangat mahir dibanding saat mereka kuliah


Dokter Jang memberitahu Pasien kecelakaan, Sudah dirontgen karena perut kaku dan ada nyeri lepas tekan jadi menurutnya Tampaknya peritonitis karena perforasi usus. Ia merasa butuh dioperasi jadinya memanggil Jung Won.
“Apa Sudah diberi pereda nyeri?” tanya Jung Won. Dokter Jang menganguk.
“Biar kuperiksa sebentar...Astaga. Sakit sekali, ya?” ucap Jung Wan lalu tersadar. Dokter Jang tahu kalau mereka mirip.
“Aku juga kaget dan bertanya-tanya apa yang terjadi.” Kata Dokter Jang lalu bertanya apakah Mungkin mereka kembar.
“Mereka kembar. Kemarin Jae-hun terluka, dan hari ini adiknya... Jae-yong!” ucap sang ayah menangis mencoba menenangkan kalau akan baik-baik saja.
“Apa Kalian mengalami kecelakaan?” tanya Jung Won. Sang ayah membenarkan.
“Ya, aku mengantuk saat menyetir, dan menabrak lampu lalu lintas. Padahal anakku duduk di belakang. Bodohnya aku!” ucap Ayahnya.
“Ada hal yang harus kuperiksa. Mohon tunggu di luar sebentar.” Kata Jung Won. Sang ayah bingung Kenapa wali harus keluar
“Ada yang harus kutangani sebelum mulai operasi.” Jelas Jung Won. Akhirnya sang ayah pun pergi.
 “Pasien apa?” tanya Dokter Bong. Dokter Jang menjawab  Peritonitis karena kecelakaan saat naik mobil ayahnya.
“Ayah macam apa itu?” ucap Dokter Bong. Dokter Jang pikir Itu mungkin saja terjadi. Dokter Bong pkir Ayahnya tampak sehat begitu.
Jung Won meminta izin pada Jae Yong untuk membuka bajunya, dan melihat ada banyak luka memar. Jae Yong terus meringis kesakitan. Jung Won meminta membalikan badanya, terlihat makin banyak luka. Jung Won langsung mengumpat marah pada sang ayah yang melakukan kekerasan.


Nyonya Sim mengaku Masih banyak waktu sebelum operasi dimulai, tetapi  sudah resah dari sekarang. Ik Jun pikir itu wajar lalu memberitahu kalau Putra Nyonya Sim sebentar lagi akan masuk Ruang Operasi.
“Jika operasi berhasil, dia bisa kembali main golf, dan pergi ke luar negeri, 'kan?” tanya Nyonya Sim. Ik Jun menganguk karena Pasti bisa dan mengajak perawat untuk bicara sebentar.

Ik  Jun menelp dari  Bangsal VIP lantai sepuluh meminta empat orang kemari sekarang juga. Perawat bingung  Kenapa panggil Keamanan? Ik Jun bertanya apaka perawat tidak merasa aneh setiap ke kamar Pak Sim karena Istrinya selalu ada di sana.
“Memang kenapa?” ucap Perawat. Ik Jung heran Perawat tak pernah ke kamar putranya.
“Putranya yang mendonorkan hati, tetapi ibunya selalu ada di kamar suami. Meski tidak ada naluri keibuan, semua ibu pasti mengkhawatirkan anaknya.” Kata Ik Jun yakin.
Akhirnya Ik Jun pun membuka pintu ruangan lalu melihat pria lain baru keluar dari toilet, lalu bertanya siapa pria itu. Sang pria terlihat bingung. Ik Jun dengan marah pun bertanya siapa pria itu. Anak Tuan Sim yang tidur disofa terbangun melihat Ik Jun yang datang. 


[PUSAT PERTAHANAN  BATALION KEDUA]
Ik Sun berlari keluar mengeluh orang itu datang ke tempatnya. Saat itu Jun Wan datang dengan mobilnya. Ik Sun pikir bukan ingin menemuinya. Jun Wan mengaku ingin makan jajangmyeon. Ik Sun kaget dan bingung.
“Aku datang untuk makan jajangmyeon.” Kata Jun Wan seperti menyampaikan perasaan cintanya. Ik Sun hanya bisa tersenyum.
Bersambung ke episode 5

Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Sinopsis Hospital Playlist Episode 4 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Perawat semua berkumpul mengajak untuk makan karena Bekal baru datang dan masih hangat. Perawat senior membagikan kotak makan memberitahu  Hari ini pasien penuh jadi Makanlah selagi sempat.
“Pasien kamar 6103, Jo Je-yeong, pernah TACE di tahun 2016?” ucap Perawat wanita.
“Ya, tetapi masih ada beberapa lesi. Jadi, dia terus melakukan RFA dan TACE.” Jelas perawat senior.
“TACE itu apa?”tanya Perawat pria. Perawat senior menjawab Transcatheter arterial chemoembolization, Kemoembolisasi di arteri hepatik. Si pria masih terlihat bingung
Saat itu telp berdering, keluarga pasien memberitahu di kamar 6110 kalau tiba-tiba muntah. Mohon segera kemari. Perawat pun memberitahu akan segera kesana. Perawat pria pun berlari ke Kamar 6110.
“Perawat.. Suamiku sulit bernapas... Dia tampak sesak sejak tadi. Tolong segera ke kamar!” ucap keluarga pasien. Si perawat wanita akhirnya berlari tanpa makan.
Akhirnya hanya ada perawat seniora dan sudah siap makan, tapi terdengar suara pasien “Perawat, kasurnya rusak! Aku sudah menekan pengendali, tetapi tidak naik. Aku harus makan malam. Tolong kami! Kami jadi tidak bisa makan.”
“Jangan aku, minta kepada.... Baik, sebentar. Kita ke kamar bersama.” Ucap  Perawat dan bingung karena tak ada siapapun di meja receptionist dan mencari pasien dikamar berapa dari layar komputernya. 


“Perawat Su-bin! Sim Yeong-ho, anak Pak Sim.. Apa Dia di Kamar VIP Dua atau Tiga?” tanya Ik Jun keluar dari kamar rawat.
“Kamar Dua,tetapi kau tidak akan bisa menemuinya.” Kata Sun Bin. Ik Jun ingin tahu alasanya.
“Dia agak sensitif. Perawat pun hanya satu orang yang boleh masuk. Dokter Gwon Sun-jeong juga baru bertemu sekali. Pendonor memang tidak perlu banyak tes, tetapi dia sangat pemarah.” Ucap Sun Bin. Ik Jun terlihat bingung.
“Setahuku tidak.” Jelas Ik Jun. Sun Bin menceritakan  Putranya konon tak mau mendonor hati, tetapi terpaksa agar terlihat sebagai putra baik.
“Konon pengawal pribadi juga sedang mengawasi di dalam karena takut putranya kabur.”jelas Sun Bin dengan masih sibuk mencari sesuatu di layar komputer.
“Kau cari apa sejak tadi?” tanya Ik Jun. Sun Bin terlihat bingung mengaku Tadi seorang wali datang dan bilang kasurnya rusak.
“Aku tidak tahu dia kamar berapa.” Kata Sun Bin. Ik Jun memberitahu kalau sudah memperbaikinya.
“Kapan?”tanya Sun Bin kaget. Ik Jun mengaku tadi kalau Kabelnya lepas lalu tahu kalau Sun Bin belum makan malam.
“Astaga. Cepat makan dahulu. Biar aku yang duduk di sini. Masalah kecil pasti bisa kuatasi.” Ucap Ik Jun
“Kau pulang saja, Dokter. Anakmu pasti menunggu.” Ucap Sun Bin tak enak hati.
“ Besok akhir pekan. Aku bisa main seharian bersamanya.” Kata Ik Jun duduk dikursi yang menurutnya sangat nyaman sekali!
“Kau menontan apa?  Kau sungguh terlihat seperti ayah tunggal.” Ucap Sun Bin melihat Ik Jun
“Benar... Dahulu, aku hidup seperti ayah tunggal, kini secara resmi. Duda tanpa diragukan lagi.” Ucap Ik Jun bangga
“Merawat anak sulit, 'kan? Padahal kau sibuk bekerja di rumah sakit.” Kata Sun Bin
“Tentu. Namun, aku... Aku sangat sayang anakku.” Kata Ik Jun senang walupun hanya hidup dengan anaknya. 


Ik Jun membawa U Ju keluar, U Ju meminta agar mengendongnya agar bisa memilih makanan.  Ik Jun memikirkan akan makan yang mana, U Ju langsung memilih Ham dan keju untuk Ayahnya. Ik Jun pun bertanya apa yang akan dipesan anaknya.
“Aku Penggemar Alpukat.” Ucap U Ju. Ik Jun beerkomentar anaknya yang Penggemar Alpukat tapi ia adalah penggemar U-ju. U Ju hanya bisa tersenyum
“U-ju, kau genius? Apa Ayah melahirkan seorang genius? Ayo Cium ayah.” Ucap Ik Jun. U Ju pun memberikan ciuman pada ayahnya. 

U Ju makan sandwich pilihanya. Ik Jun bertanya apakah anaknya pernah kemari. Ik Jun menganguk. Ik Jun ingin tahu Dengan siapa. U Ju dengan bangga kalau pergi dengan  Jang Mo-ne yaitu Pacarnya. Ik Jun tak percaya anaknya memilik pacar bernama Mo Ne.
“Apa Kalian ke sini berdua saja?” tanya Ik Jun. U Ju menjawab tidak merkea datang bersama ibu Mo-ne. Ik Jun mengerti.
“U-ju... Kalau kau ingin bertemu Ibu, bilang kepada ayah kapan pun. Kalau U-ju bilang, ayah akan segera mengantarmu kepada Ibu... Ahh Tidak. Ayah akan minta Ibu kemari. Mengerti?” kata Ik Jun.
“Kalau Ibu tidak ingin bertemu U-ju, maka U-ju pun tidak ingin bertemu Ibu.” Ucap U Ju
“Kenapa Ibu tidak ingin bertemu U-ju? Tidak. Ibu juga sangat ingin bertemu U-ju. Bahkan Kemarin Ibu juga telepon, menanyakan kabar U-ju. Ibu menelepon ayah setiap hari.” Ucap Ik Ju menenangkan.
“U-ju hanya butuh Ayah... Ayah orang yang paling kusayangi di seluruh semesta.” Ucap U Ju.
Ik Jun seperti tersentuh mendengar ucapan anaknya. U Ju melihat ayahnya hanya diam saja lalu bertanya apakah  tidak makan rotinya. Ik Jun mengaku mau memakanya. U Ju lalu dengan senyuman bahagi meminta agar ayahnay membelikan satu roti lapis lagi. Ik Jun pun hanya bisa tertawa dengan tingkah anaknya. 


Kakak Jung Won sedang menyiram tanaman di gereja. Juniornya datang memberitahu kalau ada tamu. Kakak Jung Won tahu kalau itu adiknya karena sudah janji datang hari ini. Juniorya pikir bukan karena pria itu tampan.
Kakak Jung Won mengerti dan langsung mengarahkan air pada juniornya karena berani mengejeknya. Sang junior hanya diam saja basah kuyup dan langsung pergi. Jung Won bertemu kakaknya sambil makan es krim. Kakak Jung Won bertanya apakah adiknyahabis main bisbol.
“Tidak. Aku dari rumah.”  Ucap Jung Won. Kakaknya bertanya apakah Jung Won tidak ada janji di akhir pekan
“Aku akan menemui Ibu nanti.” kata Jung Won. Kakaknya bertanya apakah Jung Won tak ada kencan.
“Kau menyia-nyiakan masa mudamu.” Ejek kakaknya. Jung Won mengeluh menurutnya tak asalan untuk berkencan.
“Aku tidak tertarik... Omong-omong, kenapa belum ada balasan, ya? Sudah dua bulan sejak kukirim surat rekomendasi.” Kata Jung Won.
“Pasti segera dibalas. Kau Tunggu saja... Kau... Apa sudah bilang pada Ibu?” ucap Kakak  Jung Won.
“Aku akan memberitahunya hari ini.”ucap Jung Won. Kakaknya yakin ibunya pasti pingsan. Jung Won yakin kalau Ibunya  pasti mengerti.
“Ibu mendukung kalian saat mendapat panggilan Tuhan, 'kan? Aku percaya Ibu. Ibu kita berbeda dengan ibu lain.” Ucap Jung Won. 


Tapi saat dirumah, Jung Won mengendor pintu memanggil ibunya. Seperti sang ibu marah sampai tak mau membuka pintu. Jung Won terus mengedor pintu tapi ibunya tetap tak bergeming. Sementara di kuil, Suk Hyung mengantar ibunya dan ingin mengendongnya.  Ibu Suk Hyung menolak.
“Tangganya sampai bawah, Bu. Jadi Biar kugendong.” Ucap Suk Hyung. Sang ibu pun naik ke punggung anaknya. Suk Hyung meminta ibunya agar memegangnya erat-erat.
“Bu, bagaimana kalau kita buat bibim guksu malam ini?” kata Suk Hyung. Ibunya meminta agar hubungi Song-hwa dan Ajak dia makan malam.
“Ibu sangat suka Song-hwa. Dia pendiam dan lembut.”kaata Ibunya. Suk Hyung mengeluh Untuk apa Song-hwa ke rumah
“Sudah kubilang kami hanya teman. Lagi pula, Song-hwa tidak pendiam.Dia sangat menggebu-gebu.” Kata Suk Hyung. 

Di sebuah gereja, Song Hwa menari diatas podium dengan penuh semnagat menarikan lagu “ REJOICE IN THE LORD" Yun Bok dan Hong Bo ikut melihatnya dari tempat duduk hanya bisa melonggo. Hong Bo bertanya apakah "Rejoice In The Lord" seriang ini,
“Berarti dia berhasil menghidupkannya... Hei, sebentar lagi puncaknya.” Ucap Yun Bok dan akhirnya melihat Song Hwa dengan sangat penuh semangat mengakhir tarianya. 

U Ju sudah siap-siap pergi ke sekolah, bibinya memuji U Ju yang tampan sambil mengoda bertanya anak siapa. U Ju menjawab Lee Ik-jun. Sang bibi memuji U Ju memang anakn pintar. Ik Jun berbicara ditelp memastikan kalau Polusi udara hari ini tinggi jadi Tidak ada kelas di luar.
“Ya. Kalau nanti siang keluar, tolong pakaikan masker yang ada di kantong depan tas U-ju, dan kalau ada tabir surya, tolong oleskan ke wajah U-ju.” Pesan Ik Ju lalu pamit pada anaknya. U Ju menatap sang ayah dengan senyuman. 

Ik Jun memarkir mobilnya, saat itu Mobil Song Hwa datang hanya dengan satu kali mundur bisa langsung pakir. Ik Jun keluar mobil memuji Song Hwa itu memang ratu parkir. Song hwa mengejek akan jadi sopir kalau berhenti jadi dokter.
“Hei.. Tolong parkirkan di mana saja!” ucap Jung Won tiba-tiba datang dan langsung memarkir didepan mobil keduanya. Ik Jun dan Song Hwa hanya bisa melonggo melihat Jung Wan yang berlari cepat. 

[KANTOR MEDIS 4 OBSTETRI/GINEKOLOGI]
Dokter Chu melihat seoran dokter didalam ruangan dan langsung menyapanya dan bertanya apakah  kembali sepenuhnya. Sang Dokter hanya bisa tersenyum, lalu dokter Tae In memberitahu sudah mulai kerja lagi hari ini Bahkan sudah menangani satu pasien.
“Apa Kalian tahu siapa dia?” ucap Dokter Chu. Mereka tahu kalau Dokter itu Sang Dewi Persalinan.
“Tentu! Pengalamannya sebagai perawat persalinan saja 15 tahun. Dia memang baru kembali setelah melahirkan, tetapi selama ada dia, kita tidak diperlukan. Kita bisa pulang.” Ucap Dokter Chu.
“Chu Min-ha, kau masih sama. Tidak berubah sama sekali.” komentar si dokter.
“Manusia tidak boleh berubah. Selama kau cuti, banyak dokter spesialis baru, 'kan?” ucap Dokter Chu
“Hanya satu orang. Dokter muda yang tampak pendiam.” Kata Dokter  senior yang mengaku baru melihatnya. Dokter Tae In menjawab itu Dokter Yang Suk-hyung.
“Ya, kurasa hanya dia yang baru. Dokter lain masih sama. Aku lihat hari ini ada persalinan anensefali. Siapa yang bertugas?” ucap Dokter Senior.
“Aku. Aku asistennya.” Kata Dokter Eun-won. Dokter Senior meminta agar Dokter Tae In  harus cekatan.
“Anensefali itu apa?” bisik temanya. Dokter Eun-won menjawab  Bayi tanpa otak.
“Bayi diduga mengalami anensefali di usia kehamilan 13 pekan. Aborsi induksi memang dilarang, dan pasien ingin melahirkan secara normal. Kini pekan ke-32. Air ketuban sudah pecah dan sudah merasakan kontraksi. Diperkirakan bayi akan lahir sekitar siang ini, tetapi dia hanya bisa bertahan beberapa jam. Paling lama beberapa hari.” Ucap Dokter Eun-won
“Cukup. Biar itu jadi rahasia kita. Kita bersiap saja. Dokter Yang Suk-hyung yang menangani pasien itu?  Tadi dia memang ingin bertemu denganku.” Kata Dokter senior.
“Siapa petugas kasus anensefali-ku hari ini?” tanya Suk Hyung masuk ruangan. Dokter Eun-won mengangkat tanganya.
“Chu Min-ha. Bisa bicara sebentar?” kata Suk Hyung. Dokter Chu bingung tapi akhirnya ikut keluar ruangan.
“Apa?? Kau ingin aku menutup mulutnya?”kata Dokter Chu kaget. Suk Hyung meminta agar Jangan tutup hidungnya.
“Tutup saja mulutnya agar kita tak dengar tangisannya. Eun-won tidak bisa karena jadi asisten. Kau masuklah dan tutup mulut bayi. Segera begitu lahir... Paham?” ucap Suk Hyung. Dokter Chu kaget dan bingung. 




Dokter Jang melihat kalau Hasil rontgen juga baik. Demam pun tid jadi Seharusnya tak menelepon Dokter Bae bahkan  Kemarin malam juga  menelepon.  Dokter Bae pikir pasienya gelisah karena belum lama operasi jadi tak ada yang bisa dilakukan.
“Jin-yong kenapa? Ada apa?” tanya Jung Won datang dengan nafas terengah-engah.
“Sekarang dia baik-baik saja, Dokter. Maaf. Dia masuk IGD karena memuntahkan semua makanan sejak dini hari, tetapi sudah membaik.” Jela Dokter Jang.
“Apa Sekarang tidak ada masalah? Apa Tidak ada demam dan distensi abdomen?” tanya Jung Won.
“Demam sudah turun setelah diberi obat. Dia membaik setelah muntah sekali.” Kata Dokter Jang.
Jin-yong sudah membaik, dan sudah kami jelaskan, tetapi ibunya tetap ingin menemuimu.” Ucap Dokter Bae lalu meminta maaf.
Jung Won mengaku tak masalah, saat itu perawat memanggil Dokter Bae kalau ada pasien fraktur jadi harus segera kemari.


Jung Won pun memeriksa pasienya lalu memberitahu ibu Jin Yong  agar  tidak perlu khawatir karena bukan masalah usus lalu bertanya apakah bisa makan sesuatu karena jadi lebih kurus. Sementara Dokter Bae memeriksa pasien yang baru datang, seorang  anak yang merintih kesakitan.
“Apa yang terjadi?” tanya Dokter Bae. Ayahnya mengaku sang anak  jatuh dari meja makan saat bermain.
“Setelah itu lengannya tidak bisa digerakkan. Dia jatuh keras ke arah kanan. Aku rasa tangannya patah. Aku mohon segera lakukan sesuatu.” Ucap sang ayah panik
“Bagaimana kalau kutekan di sini dan sini? Apa Rasanya sama? Apa Bisa kau tarik napas dalam? Apa Saat bernapas pun sakit?” ucap Dokter Bae sang anak terus merasa sakit.
“Menurutku dadanya harus pindai dirontgen. Apa lengannya jatuh lebih dahulu saat jatuh? Apa Dadanya tidak menabrak sesuatu?”tanya Dokter Bae. Sang ayah mengaku tak tahu
Saat itu Jung Won akhirnya ikut bergabung dengan Dokter Bae.  Sang ayah mengakuSaat jatuh dari meja makan hanay terdengar suara sangat keras lalu anaknya jatuh ke kanan. Dokter Bae pikir Menurut pengamatan, lengannya patah.
“Dadanya juga tampak bermasalah, sehingga harus tes rontgen.” Kata Dokter Bae.
“Aku dengar anak tidak dianjurkan tes rontgen. Apa itu perlu?” ucap sang ayah khawatir.
“Hanya radiasi jumlah kecil. Tak apa.” Ucap Dokter Bae. Sang ayah bisa mengertii lalu meminta agar dokter segera hilangkan rasa sakitnya.
Dokter Bae meminta agar jangan khawatir lalu meminta perawat wagar Pindai dengan rontgen dan beri obat pereda rasa sakit.
Saat itu perawat datang memberitahu Jung Won kalau  operasi Kasai sudah siap jadi harus ke sana. Jung Won mengerti. 



Ik Jun memeriksa presdir Sim bertanya apakah Belum enema, Istrinya menjawab Akan dilakukan nanti malam dan memastikan kalau Itu persiapan terakhir sebelum operasi, Ik Jun menganguk. Sang istri pun mengeluh  Persiapannya banyak sekali.
“Belum operasi saja sudah melelahkan.” Kata Sang istri. Ik Jun memberitahu Persiapan penerima donor memang sangat banyak dan Durasi operasi pun lebih lama.
“Kau bilang sekitar sepuluh jam, 'kan?” ucap istri Tuan Sim. Ik Jun pikir  baru bisa tahu setelah operasinya mulai.
“Tetapi biasanya sekitar sembilan sampai sepuluh jam.  Sebagai gantinya, waktu operasi putramu, lebih pendek sekitar empat jam setelah dikurangi waktu anestesi dan penutupan.” Jelas Ik Jun
“Tidak akan ada efek samping setelah operasi, bukan? Suamiku menjalani transplantasi agar bisa lebih sehat.” Ucap sang istri.
“Itu... Bukan agar lebih sehat, tetapi dia tak bisa hidup jika tidak melakukan transplantasi hati. Ini keputusan sulit bagi putramu, dan tentu saja tidak semua anak atau keluarga mampu melakukannya. Sebuah hal wajar dan dapat dimengerti jika mereka menolak.” Jelas Ik Jun.
Sang istri menganguk mengerti. Ik Jun melihat Presdir Sim  agak batuk. Jadi akan melakukan rontgen. Dan bertanya Bagaimana hasilnya. Perawat memberitahu Tidak ada masalah. Ik Jun pikir Semuanya bagus jadi Sampai bertemu besok.
“Baik. Kau juga istirahat, Dokter... Jangan minum-minum dan pulanglah ke rumah.” Ucap sang istri. Ik Jung tersenyum lalu pamit pergi. 


Dokter Chu masuk ruangan mengeluh karena Suk Hyung minta segera tutup mulut bayinya menurutnta itu pasti karean Suk Hyung tidak ingin mendengar suara tangis bayi lalu mengumpat Suk Hyung benar-benar gila dan  Psikopat!
“Apa Dia benar bilang begitu? Dokter Yang bilang begitu?” kata Dokter Senior dan Eun Woo kaget.
“Sungguh! Tadi dia bilang begitu padaku.” Ucap Dokter Chu. Eun Woo pikir  Tak menyangka dia begitu dan sungguh di luar dugaan.
“Apa yang di luar dugaan? Ini Sesuai dengan rupanya! Dia tidak punya perhatian dan perasaan terhadap pasien. Dia hanya penyendiri sederhana yang bodoh dan egois! Sesuai seperti kelihatannya.” Kata Doktar Chu kesal
“Dokter Min-ha... Sudah berapa tahun jadi residen?” tanya Dokter Senior. Dokter Chu menjawab Dua tahun jadi meminta agar mendengarkan baik-baik. 

Perawat menelp Suk Hyun kalau Jo Mi-hyeon, pasien gastroschisis masuk IGD karena sudah kontraksi jadi meminta agar segera datang.  Suk Hyung pun berlari suami Nyonya Jo gelisah menunggu didepan ruangan bersalin. Dokter lain memberitahu  ini terlalu cepat.
“Jarak kontraksi amat pendek... Dokter Eun-won, Dokter Yang datang.” Ucap Dokter. Eun Woo pun melihat Suk Hyung datang
“Jo Mi-hyeon, wanita hamil 37 pekan. Kita berencana lakukan persalinan induksi pekan depan, tetapi kini sakit kontraksi. Suaminya sangat terkejut.” Jelas Eun Woo.
Suk Hyung datang menemui suaminya lebih dulu meminta agar tidak perlu khawatir. Eun Woo memberitahu Bukaan sudah sekitar tiga cm, dan sesaat lalu diberi epidural.

Ik Jun melihat KAMAR VIP 2 [TIRAH BARING! PENGUNJUNG TERBATAS. Perawat berkomentar kalau sangat khawatir menurutnay anak Tuan Sim itu Mentalnya tak stabil bahkan menolak dikunjungi. Ik Jun bertanya apakah Dia sudah dites darah dan dirontgen
“Tentu saja... Aku melihatnya satu kali saat itu saja. Setelah itu dia tidak keluar kamar. Padahal saat konsultasi, dia baik-baik saja.” Kata Perawat.
“Dia tidak mungkin kabur, 'kan?” ucap Ik Jun memastikan. Perawat merasa itu Tidak mungkin.

Suk Kyung keluar ruangan memberitahu Bukaannya masih tiga cm. Masih ada waktu lalu bertanya apakah sudah hubungi Pediatri. Eun Woo mengaku sudah. Suk Hyung ingin tahu apakah sudah menelp. dokter bedah anak.
“Kau belum menghubungi Jung-won, 'kan? Masih ada waktu.” Kata Suk Kyung. Eun Woo menagku belum kuhubungi.
“Aku sudah bicara dengan Kepala Residen. Menurut dia, Dokter Ahn baru selesai operasi sejak dini hari, dan mungkin sedang makan karena belum makan seharian.” Ucap Eun Woo.
“Bagus. Aku akan menunggu di ruangan.” Kata Suk Hyung lalu berjalan pergi. 

Eun Woo akhirnya kembali ke ruangan, Dokter Senior membahasnya kaalu sudah mendengar masih tiga cm. Eun Woo membenarkan. Dokter pikir itu berarti masih lama dan yakin kalau belum menghubungi dokter bedah anak,
“Tentu belum. Aku sudah dua tahun kerja... Aku paham soal itu.” Kata Eun Woo yakin.
Saat itu telp berbunyi, Eun Woo kaget dan langsung keluar berlari dengan cepat. Dokternya ingin tahu kenapa. Eun Woo menjawab sudah Bukaan lengkap!

Suk Hyung datang langsung memakain baju operasinya melihat Eun Woo datang meminta tak masalah jadi masuk santai saja. Eun Woo kebingungan karena Dokter bedah anak sedang makan. Perawt memberitahu kalau Eun Woo tidak perlu menelepon. Eun Woo terlihat bingung.
“Dia sudah datang... Dokter Ahn sudah di Ruang Persalinan sejak sepuluh menit lalu.” Ucap perawat.
“Apa Dia sudah selesai makan?” kata Eun Woo kaget. Perawat mengulang ucapan Jung won.  "Apa Makan penting? Bayinya segera lahir."
“Dia bilang harus siap sedia lebih awal karena temannya yang menangani.” Ucap Perawat.
Dalam ruang operasi suasana terlihat tegang, Jung Won mengunggu. Saat itu Jung Wan keluar membawa bayi tanpa otak.  Suk Hyung memanggil Jung Won seperti ingin memberikan semangat. Jung Won pun tersenyum.
Suk Hyung sedang didalam ruangan, Ass memberitahu kalau sudah siap.

Di ruangan Song Hwa, Jun Wan bertanya dimana Jung Won. Ik Jun memberitahu Ada operasi sejak pagi. Jun Wan bertanya apakah Suk  Hyung juga. Song Hwa membenarkan kalau ada persalinan mendadak, lalu ada kasus anensefali.
“Dia tak bisa makan.” Kata Jun Wan dan mulai makan. Ik Jun membahas Bayi tanpa otak. Song Hwa membenarkan.
***
Flash Back
Diruangan bersalin Suk Kyun meminta agar pasien mulai mengedan untuk mengeluarkan bayinya. Sang ibu berusaha sekuat tenaga mengeluarkan bayinya sampai menangis.
Sampai akhirnya Suk Hyung memberikan kode pada perawat untuk bersiap, saat bayi dilkeluar Dokter Cha membawanya sama seperti yang diminta oleh Suk Hyung.  Suara lagu dengan speaker pun terdengar dengan keras dalam ruangan bersalin.
“Kau sudah bekerja keras.” Puji Suk Hyung. Sang ibu memanggil Suk Hyun mengaku merasa bersalah pada anaknya sambil terus menangis.
“Bu... Kau sudah memperjuangkan anakmu sampai akhir. Itu saja sudah hebat... Kau sudah melakukan yang terbaik, Bu. Kau sudah sangat bekerja keras.” Ucap Suk Hyung memastikan. 

Flash Back
Dokter Senior bertanya pada Dokter Chu bertanya sudah berapa tahun jadi residen. Dokter Chu menjawab Dua tahun. Dokter Senior meminta agar dengar baik-baik dan mengaku Tadi menengok pasien itu karena khawatir.
“Aku bertanya, apa dia ingin melihat bayinya saat lahir. Kami bisa memperlihatkannya bila mau. Dia berpikir cukup lama lalu dia bilang tidak perlu. Dia takut merasa amat terpukul bila melihat bayinya.” Cerita Dokter Senior.
“Sebenarnya dia sudah hebat dengan tidak menggugurkan kandungannya. Namun, saat aku keluar kamar, Dokter Yang Suk-hyung sedang berdiri di luar. Dia bilang ingin meminta bantuanku. Dia bilang, "Saat bayinya lahir nanti, dan bila dia menangis, bisakah kau menaikkan volume musiknya?” cerita Dokter Senior.
“Aku sudah minta kepada orang lain, tetapi aku juga minta tolong kepadamu untuk jaga-jaga." Ungkap Dokter Senior. Dokter Cha tak percaya mendengarnya. 


Suk Hyung terlihat bergegas jalan di lorong rumah sakit meminta agar segera ke dalam. Dokter Senior menceritakan kalau langsung paham apa maksudnya bahkan kaget orang pendiam seperti Suk Hyung bisa begitu Jadi pura-pura bertanya "Kenapa harus menyalakan musik?"
“Dia bilang, "Seorang ibu pasti tahu segalanya dan sudah menyiapkan hati. Meski begitu, jika dia dengar tangisan bayinya saat lahir, trauma itu akan membekas selamanya." Jelas Dokter senior. Dokter Chu hanya diam saja.
***
Bersambung ke part 3

Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09