PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Tampilkan postingan dengan label Oh My Venus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oh My Venus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Desember 2017

Sinopsis Oh My Venus Episode 16 Part 2

Joo Eun membanting tubuhnya diranjang karena merasakan lelah, Young Ho mengucapkan terimakasih dengan memijat kaki pacarnya. Joo Eun menanyakan apakan nanti keluarga tak menganggap aneh dengan tingkah lakunya. Young Ho sadar Joo Eun memang aneh tapi berhasil membuat keluarganya tertawa, karena selama ini tak pernah melihat keduanya tertawa. Joo Eun menghela nafas panjang, Young Ho menopang badanya dengan tangan.
“Semakin aku mengenalmu, aku semakin kagum padamu.” Ungkap Young Ho lalu melirik si anak boneka dengan wajah sedih
“Aku mengerti, itu semua Karena osteosarcoma, 'kan? Itulah kenapa kau masih ragu untuk jadi ayah, benarkan?” kata Joo Eun, Young Ho ikut membaringkan tubuhnya disamping Joo Eun.
“Saat aku kecil, aku selalu menyalahkan ayahku. Karena Dialah yang menyuruhku operasi saat masih kecil Dan rasanya sangat sakit. Tapi Dia terus memaksaku untuk menjalani pengobatan itu. Lalu aku bersumpah bahwa aku tak ingin menjadi seperti dia. Tapi, saat aku memikirkannya lagi bukannya aku tak ingin hidup seperti ayahku. Tapi, aku tak yakin bisa hidup sepertinya.” Cerita Young Ho, Joo Eu memiringkan badanya agar memandang lebih dekat pacarnya.
“Aku sudah mencarinya di internet. Kemungkinan penyakit itu menurun sangatlah rendah.” Kata Joo Eun meyakinkan.
“Penyakit bisa menakutimu hanya dengan kemungkinan kecil itu saja. Saat sakit semuanya jadi kacau. Tak hanya anak yang sakit, tapi orang tuanya juga akan terluka. Dan hal itu akan membuatmu menderita, Kang Joo Eun.” Ungkap Young Hoo
Joo Eun pikir walaupun begitu mereka harus mencobanya dan harus yakin bisa  melaluinya, dan hidup memang seharusnya seperti itu. Young Ho terdiam seperti tak yakin, Joo Eun memeluk lengan Young Ho, mengatakan kalau Tak ada yang pasti dalam hidup bahkan ketika mereka berjalan bisa saja tersandung kerikil dan untuk saat ini mereka harus menikmatinya dan tak perlu takut dengan masa depan.

Young Ho memiringkan tubuhnya dengan mata berkaca-kaca, lalu mengungkapkan Joo Eun memang sudah membuatnya gila. Joo Eun yakin Seorang anak perempuan akan mewarisi keseksiannya Dan seorang anak laki-laki yang mewarisi sikap berani ayahnya.
“Aku ingin memiliki anak yang seperti itu. Kita akan tumbuh bersama mereka. Aku akan berkata "Lihatlah ayahmu,". Lalu menceritakan hari-hari kami padamu. Aku ingin mendengar mereka memanggilmu, "Ayah."” Ungkap Joo Eun terlihat sangat bahagia dengan impianya. Young Ho memeluk erat Joo Eun dalam dekapanya.
“Sepertinya, aku tak akan menang melawanmu, Kang Joo Eun.” Ungkap Young Ho menyerah. Joo Eun lalu menanyakan apakah mereka akan memiliki anak perempuan atau laki-laki, atau bisa juga kembar. Young Ho tersenyum memeluk erat Joo Eu kalau mungkin mereka akan memiliki anak kesebelasan dengan begitu hidup mereka akan ramai. 

Sekotak bubur dan juga susu ada di atas meja makan, Soo Jin masuk kerumah membiarkan dan memilih untuk masuk ke dalam kamar. Ia melihat cincin pemberiaan dari Woo Shik dan sepatu bayi sebagai harapan dari pacarnya. Ingatanya kembali saat Woo Shik menyatakan cinta dengan mengatakan “Untuk masa depan kita yang cerah. Meskipun aku sudah sangat terlambat, tapi mulai sekarang, waktuku adalah milikmu.” Dan memasangkan cincin di jari manisnya.
Perkataan Dokter juga kembali teringat “Mungkin anda tidak bisa hamil.” Yang membuatnya menahan air mata dan meremas jarinya karena tak bisa mengandung anak dari Woo Shik. Soo Jin terdiam mengingat semua yang menjadi masalah dalam hidupnya sekarang. 

Woo Shik berdiri didepan rumah Soo Jin, sudah membuka password pintu dan akan menekanya, tapi akhirnya memilih untuk meninggalkan rumah Soo Jin. Ketika mengendarai mobil, pikiran Woo Shik mengingat perkatan dokter tentang Soo Jin.
“Oh Soo Jin tidak hamil.Dia akan kesulitan untuk memiliki anak.”
Di kantor Woo Shik mengingat ucapan Soo Jin terakhir kalinya, “Aku tidak hamil, Tak ada alasan kenapa aku bisa hamil. Aku juga tak ingin hamil.” Menutupi kebohongan kalau memang ada penyebab tak bisa hamil. 

Tuan Kim duduk diatas tempat tidur rumah sakit sambil membaca berkas, ketuka pintu terdengar dan menyuruh agar masuk. Young Ho menemui ayahnya dan mengambil berkas yang sedang direvisi, Tuan Kim binggung melihat anaknya yang datang kerumah sakit dan mengetahui penyakitnya.
Beberapa saat kemudian, Young Ho duduk memeriksa berkas sementara Tuan Kim berbaring. Ayahya bertanya bagaimana anaknya bisa tahu. Young Ho pikir sudah seharusnya mengetahuinya sebagai anaknya. Tuan Kim menatap anaknya dengan senyuman dan Young Ho kembali memeriksa berkas Gahong. 

Suster menganti botol cairan infus dan dokter memeriksa kondisi Tuan Kim, setelah itu pamit pergi. Young Ho pun pamit pulang pada ayahnya, Tuan Kim tak bisa menatap wajah anaknya mengucapkan terimakasih. Young Ho tersenyum mendengrnya.
Bunyi ketukan pintu terdengar, Young Ho menyuruh agar masuk. Hye Ran dan Young Joon masuk ke dalam ruang rawat. Tuan Kim menutupi rasa kaget melihat istri dan juga anaknya. Young Ho mendekati keduanya mempersilahkan Hye Ran agar menjaga ayahnya.
Young Joon menyapa Young Ho dengan panggilan Direktur Kim, Young Ho menegaskan dirinya bukan Direktur bagi Young Joon, lalu menepuk pundaknya agar memanggilnya “hyung” setelah itu berkomentar adiknya itu perlu banyak olahraga dan akhirnya keluar dari ruangan. Young Joon tersenyum bisa diakui adik oleh kakak tirinya. 

Hye Ran duduk dikursi menatap suaminya, Tuan Kim memanggil anaknya, menyuruh agar memilih jurusan kedokteran karena ia senang apabila anaknya bisa menjadi dokter. Young Ho tersenyum mengerti karena ayahnya memilihkan jurusan untuknya. Tuan Kim bisa memberikan senyuman pada keduanya, Hye Ran dan Young Joon pun bisa tersenyum. 

Young Ho memeriksa denyut nada Nyonya Kwon dengan jamnya, Nyonya Kwon pikir untuk apa Young Ho datang ketika Joo Eun tak ada dirumah. Young Ho melihat tangan Nyonya Kwon terkilir ketika terakhir kali datang ke rumah. Nyonya Kwon bangga karena calon menantunya datang sengaja hanya ingin memeriksanya. Young Ho meminta agar Nyonya Kwon pergi ke dokter dan tak boleh berkerja terlalu keras.
Nyonya Kwon mengerti akan mendengarkan apa yang calon menantunya bilang. Young Ho berpesan pada Nyonya Kwon untuk memperban tanganya apabila terasa sakit maka sakitnya akan hilang.  Nyonya Kwon mendengar dari cerita Joo Eun kalau Young Ho sakit parah. Young Ho terdiam mendengarnya, ada raut wajah kesedihan.
“Hidup memang seperti itu. Jika kau tak bisa merasakan sakit, itu artinya kau bukanlah manusia.” Pesan Nyonya Kwon
“Terima kasih telah melahirkan Kang Joo Eun Dan mengijinkanku menikahinya.” Kata Young Ho memegang tangan Nyonya Kwon
“Tolong jaga anakku, calon menantuku!” ujar Nyonya Kwon, Young Ho meyakinkan sudah pasti akan menjaganya. 

Soo Jin menyetir mobilnya dengan tatapan kosong, pikiran melayang ketika Woo Shik memberikan hadiah sekotak coklat sebagai ucapan selamat atas kelulusanya. Setelah itu memberikan pukulan pada pria brengsek yang merendahkan harga dirinya ketika bertubuh sangat gemuk dan mengajaknya pergi dengan memegang tanganya.
Woo Shik datang mengaku baru saja bertemu satu jam yang lalu tapi sudah merindukannya lagi. Soo Jin menatapya dengan rambut masih basah, Woo Shik mengaku sangat merindukan sampai tak bisa lagi menunggu esok.

Ketika di cafe, Woo Shik mengaku sebagai pria terkejam sekarang dan mungkin jahat padanya. Woo Shik menunggu Soo Jin didepan apartement karena tak mengangkat telpnya.
Woo Shik sadar, Soo Jin tahu dirinya bukan pria yang baik tapi tetap menunggunya dan memuji tak pernah berubah. Soo Jin tak bisa menahan tangisnya karena menahan perasaanya. Woo Shik menyetir mobilnya, teringat saat dimobil meminta maaf pada Soo Jin tapi komentar Soo Jin dingin karena kata-kata itu yang diidamkan semua wanita. Ketika ada di bar, Soo Jin melepaskan tanganya ketika akan dipegang Woo Shik.
“Kau mau minta maaf lagi? Kenapa kau tak mengatakan maaf lewat telepon saja sekarang?” ucap Soo Jin dingin
Terjadi perang dingin dan Woo Shik kaget Soo Jin datang ke kantor polisi sebagai pengacarnya. Setelah mengetahui Soo Jin sebagai pengacara Young Ho dan tak memberitahunya, Soo Jin menegaskan mereka hanya pelukan dan ciuman saja, bahkan ada hubungan yang dijalan selama 15 tahun akhirnya putus dan apakah mungkin hubungan mereka akan bertahan lama.

Mereka berciuman di kolam renang dan Soo Jin mengodanya dengan menurunkan jubah tidurnya, mengajak Woo Shik untuk masuk. Soo Jin masih gemuk menyapa Woo Shik sebagai pacar Joo Eun dan melihat tanganya terluka setelah memukul pria brengsek.
Woo Shik mengingat semua kenangan dengan Soo Jin dari mulai kuliah dan badan masih gemuk sampai berubah drastis dan menjadi pengacara handal. 

Soo Jin berjalan sendirian keluar dari rumah sakit, Woo Shik datang memberikan jaketnya dan membalikan badan Soo Jin agar menatapnya. Lalu menanyakan kenapa Soo Jin pergi sendirian sambil merapatkan jaketnya, Soo Jin hanya menatapnya. Woo Shik menanyakan keadaan Soo Jin sekarang, Soo Jin teringat saat Woo Shik menanyakan keadaan dan mengatakan kalau ia baik-baik saja.
“Kali ini aku akan mengatakan "Maaf" sekali lagi. Aku memang egois.” Akui Woo Shik, Tangis Soo Jin tumpah.
“Aku mencintaimu, Soo Jin. Menikahlah denganku.” Kata Woo Shik melamarnya dengan senyuman.
Soo Jin tak bisa lagi menahan tangisnya, Woo Shik pun memeluknya sambil mengusap punggungnya agar Soo Jin tak menangis lagi. Setelah itu keduanya berjalan di tengah ilalang dengan wajah bahagia dan saling bergandengan tangan

Joo Eun dan Young Ho jogging bersama di sungai Han, dengan nafas terengah-engah Joo Eun tahu mereka akan permotretan esok  dan hanya ingin berolahrga ringan saja tapi Young Ho malah memilih lari seperti ini.
Young Ho berlari mundur mengatakan dengan cara berlari seperti itu adalah cara yang terbaik agar terlihat segar. Joo Eun berpikir wajahnya terlihat pucat, Young Ho menjelaskan Jika keringatnya keluar maka akan mendapatkan udara segar, bukan hanya tubuhnya yang sehat tapi sel kulit matinya akan terangkat.
Joo Eun kesal pacarnya itu tetap tak memberika keringanan, Young Ho menegaskan Joo Eun tak boleh mengeluh saja karena tak ada yang menyangka wanita seperti Joo Eun bisa mendapatkan pria seperti dirinya, lalu melarikan diri. Joo Eun berteriak kesal mengejarnya. Young Ho mengandengnya agar berlari bersama-sama. 

Ji Woong, Joon Sung, Ketua Min dan Young Ho siap dengan jas yang terlihat sangat rapi. Lalu semua melonggo melihat Joo Eun dengan mini drees merah bertotol dan juga mahkota kecil dibagian atasnya berjalan mendekati semua pria dengan wajah malu-malu.
“Kang Joo Eun yang berhati lembut dan baik, bukannya lebih cocok memakai gaun berwana putih saja?” komentar Young Ho
“Memangnya ada hukum yang mengharuskan pengantin memakai gaun putih?” balas Joo Eun lalu mengatakan mereka akan memulai dan mengajak ketua Min agar ikut. 

Ketua Min terlihat tegang, Ji Woong meminta agar ketua Min bisa rileks saja. Pemotretan dimulai, semua mulai bergaya Joo Eun terlihat paling bersemangat dengan gaya centilnya, Ketua Min masih tetap saja memasang wajah kakunya, tanpa senyuman.
Ji Woong berusaha mengelitiki Ketua Min agar bisa tertawa, akhirnya Ketua Min bisa memberikan senyuman untuk foto prewed. Ji Woong pun memberikan aba-aba untuk pasangan pengantin Joo Eun dan Young Ho dengan gaya jari telunjuk dan jempol disatukan, lalu membentuk love dengan jari-jari .
Setelah itu seperti bridemaid, Ji Woong, Joon Sung dan Ketua Min bergaya didepan kamera. Keduanya sempat membuat Ketua Min tertawa dengan mengelitiknya tapi Ketua Min tetap saja kaku, hanya mengangkat dua jari tanganya. Joo Eun seperti ratu dalam sehari dengan gaya para pria yang memujinya sambil berlutut 

Semua berganti kostum, dengan pakaian olahraga. Joon Sung, Ji Woong, Ketua Min mengunakan pakaian fighting, sementara Joo Eun dan Young Ho memakai pakaian Jitsu. Permotertan dimulai dengan gaya saling meninju, antara Joon Sung, Ji Woong dan Ketua Min. Lalu Joo Eun dan Young Ho melakukan teknik Jitsu dengan senyuman, Tiga pria yang melihat berteriak  menyuruh mereka untuk berciuman dengan teknik Jitsu. 

Cerita Joo Eun, Young Ho, Soo Jin, Joon Sung Yi Jin diputar ulang, ketika Joo Eun sengaja terkena cipratan mobil Young Ho setelah pulang dari rumah sakit. Young Ho dikelabuhi Ketua Min untuk kencan buta. Joo Eun menatap badanya yang membesar dicermin, Hyun Woo menutupi cermin agar tak melihatnya supaya tak sedih.
Di restoran, Soo Jin sudah langsing memesang salad tanpa saus. Hyun Woo tertawa mendengarnya karena salad tanpa saus tak enak. Soo Jin menegaskan bukan rasa yang dipentingkan untuknya. Joo Eun yang berubah gemuk hanya menatap sinis pada Soo Jin. 

Yi Jin masuk ke dalam mobil langsung memberikan pilihan untuk menciumnya atau makan malam. Joon Sung berteriak kaget mendengar pilihan itu. Disaat salju turun, Joon Sung membantu membawa ibunya yang keberatan membawa barang.

Joo Eun yang kelaparan mengelus perutanya dengan Min Joon, karena hari ini adalah Kang Joo Eun’s  day. Lalu pergi bersama Young Ho di tempat figur action, Joo Eun foto didepan Hulk, Young Ho dengan batman dan Min Joon bergaya seperti astro boy. 


Hye Ran datang menemui Nyonya Lee baru saja mendatangi makan anaknya, Nyonya Lee terlihat masih sangat dingin. Young Ho baru saja menerima jabatan sebagai Wakil Presdir dan bertemu dengan Direktur Choi yang sudah lama tak bertemu dengan keponakanya, lalu berkenalan dengan Woo Shik dan berjabat tangan.

Young Ho menutup mulut Joo Eun ketika mengetahui tentang Jhon Kim, Joo Eun yang nekat malah menjilat telapak tanganya. Lalu dikamar mandi, Ji Woong mengangkat tanganya mengaku kalau menceritakan sesuatu pada Joo Eun di pesawat.
Joo Eun pun memulai latihan dengan bangga kalau nanti lemaknya akan hilang nanti sambil menepuk perutnya masih banyak timbunan lemak. Ji Woong dan Joon Sung membantunya ketika mulai berlari mengelilingi komplek. Tapi setelah itu Ji Woong merasa kasihan karena berat badan Joo Eun tak turun setelah melakukan latihan.
Yang terjadi malah Joo Eun pingsan ketika ada siaran Live dan banyak pengacara mengunjingnya bahkan ada didalam lift, dengan lirikan sinis mengatakan kalau ia baik-baik saja jadi tak usah menatapnya. Joo Eun panik melihat Young Ho dkk datang kerumahnya, walaupun berusaha menghalanginya tetap saja bisa masuk.
Ketiga datang dengan jas karena Kang Joo Eun’s Day tapi ternyata Joo Eun mengajak pergi makan direstoran cepat saji bukan candle light dinner seperti yang lainya. Young Ho pun ditarik agar masuk ke dalam restoran lalu Young Ho membentangkan tangan seperti caranya agar Joo Eun memeluknya. 

[Musim panas 2016]
Joo Eun berjalan dibandara sambil menelp nenek Lee memberitahu baru saja sampai di Bandara dan akan segera datang. Ji Woong tiba-tiba datang memberikan hormat seperti tentara melapor untuk bertugas. Lalu keduanya saling berpelukan, Ji Woong pun bahagia melihat Joo Eun lama tak bertemu dan tambah cantik.
“Young Ho terjun ke dunia kesehatan. Dia semakin peduli pada orang-orang yang berada dalam bahaya dan Dia satu-satunya pelatihku di dunia ini. 3 bulan sebelum pernikahan kami. Dia ke daerah banjir untuk memberikan bantuan medis.”
Keduanya menunggu di pintu kedatangan, Joo Eun binggung karena Young Ho belum juga keluar. Dari belakang memanggil nama keduanya, ternyata Young Ho dan Joon Sung sudah berdiri dibelakang mereka.
“Pada hari dia kembali...”
Young Ho kaget melihat Joo Eun kembali gemuk dan kacamatanya, Joo Eun membuka jaketnya memberika surpise dengan memberikan pita pada perutnya, memberitahu sudah hamil 3 bulan. Young Ho makin kaget, Joon Sung langsung memberika selamat, Ji Woong bahagia karena mereka akan menjadi paman.

Dengan senyuman bahagia, Young Ho tak percaya lalu memeluk Joo Eun dan kembali bertanya berapa usia kehamilanya. Joo Eun mengatakan sudah 3 bulan, Young Ho melihat tubuh Joo Eun berubah banyak, bertanya berapa kilo beratnya sudah naik. Joo Eun mengatakan 26 kilo, semua karena harus cukup istirahat dan makan makanan yang bergizi untuk bayi-bayi mereka sambil mengelus perutnya.
Young Ho binggung Joo Eun menyebut bayi-bayi, Joo Eun membisikan bayi mereka itu kembar. Bukan hanya Young Ho yang bahagia tapi Ji Woong dan Joon Sung juga senang. Young Ho mengaku senang tapi menurutnya Joo Eun tetap harus olahraga.
Joo Eun memberitahu selama ini makan makanan sembarangan, tapi bayi mereka itu harus makan bergizi. Young Ho menegaskan kalau berat Joo Eun sudah kelewatan, memikirkan dengan nasib gaun pengantinya nanti dan tak mau menunda pernikahan mereka. Joo Eun kesal kalau ia tak ingin juga.

Young Ho panik melihat tubuh Joo Eun semua karena apakah mungkin gaunnya masih muat. Joo Eun pikir masih muat karena inilah wujud asli dari Venus, kalau ia adalah dewi kecantikan dan kesuburan. Young Ho masih tak percaya Joo Eun bisa segemuk lagi. Joo Eun mengatakan bisa melakukan apapun yang diinginkanya. Young Ho merasa Joo Eun itu tak membiarkannya bersantai sedikit, lalu memerintahkan dua anak buahnya membawa kopernya.
Joo Eun merengek dengan memanggil Oppa. Young Ho menariknya kalau mereka harus mengurus masalahnya dulu, karena nanti Joo Eun tidak kesulitan saat melahirkan. Joo Eun mengeluh Young Ho itu lupa dengan "Ciuman Kerinduan" lalu memoyongkan bibirnya.
Young Ho mencubit pipi Joo Eun memujinya tetap imut, lalu menyadari kemana Lesum pipinya. Joo Eun mengelus pipinya kalau nanti lesum pipinya akan kembali, karena pelatihnya itu sudah kembali lalu memberikan lemperan lesum pipi. Young Ho merasa lemah tapi tetap mengajak Joo Eun untuk latihan, Joo Eun cemberut tapi tetap saja bahagia berjalan bersama Young Ho.
“Ada ratusan warga "Kim" di Korea. Dan juga banyak nama "Young Ho" di dunia. Memang tampak biasa.Untuk semua pelatih yang ada, terutama kau...”
“Untuk seorang Venus yang sangat berani di dunia ini...”
“Sekarang berangkat ke luar angkasa.”

Flash Back
Joo Eun kecil sedang berjalan melihat Young Ho duduk dikursi roda seperti sedang berjemur, lalu bertanya apakah terasa sakit, Young Ho mengangguk. Joo Eun mengeluarkan plester lalu menempelkan di atas perban Young Ho.
“Ini Tidak akan sakit lagi.... Percayalah.” Kata Joo Eun
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Young Ho tak yakin
“Jika kau percaya, kau bisa melakukannya.” Ucap Joo Eun, Young Ho menatap plester yang tertempel dan tersenyum.  

Joo Eun tersenyum mengetahui nama Jhon Kim dan bisa mengubah penampilanya. Young Ho menatap Joo Eun yang mempercayai Jhon Kim bisa mengubahnya. Joo Eun sudah menjadi langsing, dengan memeluknya mengajak Young Ho pergi keluar angkasa miliknya, Young Ho seperti merasa nyaman ketika kesusahan ada didekat Joo Eun.
Young Ho menolong Joo Eun yang ketakutan ditengah hujan deras, lalu mengakui kalau ia adalah Jhon Kim dan  melihat lesum pipi setelah ditinggal selama beberapa hari. Berciuman didepan kedai coffee dan Joo Eun melihat dirinya terluka dan pengakuan pada Ketua Min kalau Joo Eun adalah pacarnya. Joo Eun yang membuat dirinya hangat lalu berpelukan didepan gedung setelah terpisah selama 1 tahun.

THE END

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.


FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Selasa, 29 Desember 2015

Sinopsis Oh My Venus Episode 13 Part 1

Hye Ran berjalan dengan lemas memanggil kakaknya, Direktur Choi mendekati adiknya menanyakan alasan sebenarnya Tuan Kim menikahinya,
“Jika dia tak menikah denganmu... Dia hanya bisa mendapat sebagian dari Gahong. Dia menikah denganmu agar dia bisa memberi semuanya pada Kim Young Ho. Jika hidup Kim Young Ho baik-baik saja... maka hidup Young Joon lah yang akan hancur.” Tegas Direktur Choi dengan mata melotot lalu meninggalkan rumah sakit 
Hye Ran berjongkok memikirkan keadaanya sekarang, Direktur Choi menelp anak buahnya untuk menemukan keberadaan Young Ho sekarang. 

Ketua Min duduk dibangku ruang tunggu mendengarkan semuanya, lalu menelp Young Ho dengan wajah tegang menanyakan keberadaanya. Young Ho sedang memilih-milih kemeja memberitahu sedang ada dirumah, Ketua Min menutup telp di pundaknya seperti berusaha mengatur nafasnya.
“Syukurlah, Tuan. Untuk keselamatan anda, jangan tinggalkan rumah anda. Sepertinya, Direktur Choi akan...”kata Ketua Min
Mata Young Ho melotot mengetahui rencana Direktur Choi dari Ketua Min. Teringat sebelumnya Joon Sung memberitahu akan menemui ibunya dan ia memberikan kunci mobilnya. Dengan mata melotot keluar dari rumah membawa jaketnya. 


Hye Ran berjongkok menatap kakaknya yang akan membuat sesuatu pada Young Ho, akhirnya mengikuti mobil kakaknya sambil mengelengkan kepalanya tak ingin kakaknya melakukan hal yang tak dinginkan. Young Ho mengendarai mobilnya mencari Joon Sung agar tak terjadi sesuatu denganya.
Dirumah, Joo Eun siap dengan pitanya menyambut Young Ho datang setelah makan malam dengan neneknya, lalu menatap ponselnya sudah hampir jam 12 malam tapi tak ada kabar dari Young Ho.
Young Ho melihat dari sisi kiri langsung memutar balik, Direktur Choi sudah siap dengan mobilnya akan membalas dendam pada Young Ho. Hye Ran melihat kakaknya sudah ada dibelakang mobil Young Ho, membuat mobilnya sejajar dengan kakaknya. Direktur Choi menginjak gas dalam-dalam, dari sisi Kanan Young Ho membanting stir, mobil Direktur Choi menabrak mobil adiknya. Joon Sung melihat dari kaca spion dibelakang ada kecelakaan. 
Young Ho kaget melihat ada bunyi klakson truk didepanya, akhirnya membanting stir dan menabrak mobil yang sedang berhenti didepanya. Kaca dirumah Joo Eun tiba-tiba jauh dan pecah berserakan dilantai. Joo Eun kaget melihat kaca dikamarnya jatuh. Mobil yang dikendarai Young Ho melayang diudara lalu berputar setelah menabrak mobil, beberapa kali berguling dan akhirnya semua bagian depanya rusak. 

Direktur Choi keluar dari mobilnya, terlihat luka di wajahnya dan mobilnya sudah mengeluarkan asap. Badannya bersandar dibagian pinggir mobilnya agar bisa berdiri, lalu melihat mobil dibagian depan dengan plat nomor yang dikenal. Pelahan ia berjalan, melihat Hye Ran sudah tak sadarkan diri didalam mobil dengan kepala sudah berdarah, jeritan histeris terdengar meminta tolong agar membantunya. 

Joon Sung turun dari mobil melihat ada mobil yang kecelakaan, melihat sosok di dalam Young Ho, jeritan histerisnya terdengar. Young Ho sudah penuh dengan darah dibagian wajahnya, Joon Sung berusaha membuka pintu mobil, dengan jeritan histeris mencoba memanggil Young Ho dengan mengangkat bagian stir yang menjepit bagian kaki kakaknya.
Young Ho tak sadarkan diri hampir semuan wajahnya tertutup darah. Joo Eun melotot seperti merasakan pertanda buruk dengan cermin yang jatuh. Ketua Min datang melihat keadaan Young Ho, ikut histeris lalu mengunakan syal untuk menutupi luka dibagian kaki Young Ho yang terjepit.
Joon Sung terus menangis histeris melihat Young Ho seperti ayahnya, Ketua Min memanggil Young Ho agar sadarkan diri tapi tetap saja Young Ho tak bergeming, lalu berteriak memarahi anak buahnya yang hanya diam bukan memanggil ambulance. Salah satu pengawal menelp ambulance yang lainnya berusaha membantu mengeluarkan Young Ho dari mobil. Joon Sung terus saja menangis histeris melihatnya. 

Joon Sung, Ketua Min, para perawat mendorong Young Ho yang sudah memakain alat bantu oksigen ke ruang operasi. Para dokter dan juga Tuan Kim sudah menunggu didepan ruangan, Tuan Kim melihat anaknya yang masuk ruang operasi mengingat saat masih kecil, Young Ho menangis meminta ayahnya agar tak melakukan operasi karena sangat takut.
“Rasanya sakit sekali.. Tolong aku, kumohon!!! Apa tak bisa aku dioperasi saat dewasa saja? Tak bisakah? Aku mohon, ayah...” jerit Young Ho saat masih kecil harus masuk ruang operasi. 

Young Ho melakukan hal yang seperti saat masih kecil melakukan operasi dengan keadaan tak sadarkan diri dan bantuan alat pernafasan. Dokter mulai membersihkan darah dibagian kaki dan mulai membedah kaki kananya.
Didepan ruang operasi,
“Urus semuanya, jangan sampai kabar ini menyebar ke media Dan beritahu Ketua, hasil operasinya nanti.” Perintah Tuan Kim
“Baik dan Maaf, Tuan. Semuanya...adalah salahku.” Kata Ketua Min dengan nada suara bergetar, menahan tangis.
“Tak ada gunanya menangisi susu yang sudah tumpah. Bagaimanapun, kita harus menghadapi masalah ini.” ucap Tuan Kim. 

Direktur Choi duduk sendirian dengan tatapan kosong, seperti merasakan hampa dengan para perawat yang ada didepanya tapi merasakan sendirian. Didalam ruang operasi, Hye Ran sedang melakukan operasi juga dengan membedah bagian perut. Direktur Choi duduk dilantai melampiaskan rasa kesalnya dengan menendang meja alat operasi sampai jatuh berantakan. 


Ji Woong datang kerumah sakit dengan mata memera menanyakan keadaan Young Ho sekarang. Joon Sung diam, tak bisa menjawabnya. Ji Woong ingin mendekat ke pintu operasi, Joon Sung menahanya tapi Ji Woong berusaha ingin masuk. Akhirnya Joon Sung memeluknya agar tak pergi, Ji Woong memanggil Young Ho lalu jatuh lemas. Joon Sung sedari tadi menahan tangisnya, merosot disamping managernya sambil menepuk pundaknya mensugesti kalau Young Ho akan baik-baik saja.

Ibu Joon Sung menelp anaknya yang belum datang tapi ponselnya tak aktif, jaket pemberian Joon Sung sengaja digunakan dengan sarung tangan hitam. Joo Eun duduk diatas tempat tidurnya melihat cermin yang jatuh, lalu berusaha menelp Young Ho tapi tak ada yang mengangkat. Ponsel Young Ho ada dimobil dengan kaca yang berserakan, tertulis nama dilayar [Oh! My Venus.]

Pagi hari dikantor hukum
Semua orang keluar dari lift setelah pintu terbuka, Joo Eun melamun sampai Hyun Jung memanggilnya lalu memintanya keluar dari lift. Joo Eun baru sadar sudah sampai lantai 15 dan keluar dari lift. Setelah mengantung jaketnya, Joo Eun kembali terdiam lalu kembali menelp Young Ho tapi tetap tak aktif, akhirnya berusaha menelp Joon Sung untuk mengetahui keadaan Young Ho. 

Ibu Joon Sung kaget melihat anaknya pagi-pagi sudah berdiri didepan rumahnya, pelahan mendekati anaknya. Joon Sung meminta maaf karena datang terlambat, Dengan terbata-bata, Ibunya malah berpikir terjadi sesuatu pada anaknya, lalu mengucap syukur anaknya sekarang ada didepanya.
Joon Sung menatap ibunya dan memanggil untuk pertama kali dengan panggilan “ibu”. Sang ibu langsung memeluk anaknya dan menangis bersama-sama.
“Maaf... Aku tahu, aku sudah tak punya hak... Tapi, mulai sekarang, aku akan sering memelukmu.” Janji ibunya, Joon Sung menangis dipelukan ibunya. 

Hye Ran masih terbaring dengan wajah bekas memar dan juga perban dibagian kepalanya. Sementara Direktur Choi sudah tertempel plester dibagian wajah sebelah kirinya menatap sang adik.
“Awalnya, kami sangat khawatir, lukanya akan sangat parah. Tapi, syukurlah setelah dioperasi kondisinya sudah stabil. Pergelangan kaki dan tulang rusuknya, juga baik-baik saja...” jelas dokter, Direktur Choi langsung mengucapkan terimakasih. Dokter dan perawat  meninggalkan keduanya.

Direktur Choi melamun di ruang IGD, sampai tidak mendengar suara Young Joo memanggil pamanya. Young Joon memanggil kedua kali memanggil paman menanyakan keadaan ibunya. Direktur Choi dengan mata berkaca-kaca mengatakan ibunya akan segera datang.
“Kenapa kau bias sebodoh ini?” tanya Direktur Choi pada keponakanya.
“Aku ada di sana... di perayaan ulang tahun ke-61. Aku mendengar pembicaraan telepon kalian... Aku merasa menjadi biang masalah... Kalau saja aku tak ada, kalian tak perlu seperti ini, aku pikir... semuanya akan baik-baik saja.” Ucap Young Joon sambil menangis
“Berhenti mengatakan omong kosong begitu!” tegas Direktur Choi
“Maaf, paman.... Aku tak akan mengulanginya lagi.” Ucap Young Joon menarik nafasnya dalam-dalam.
“Tidak, tidak... Akulah yang bodoh di sini dan Akulah yang harusnya minta maaf.” Kata Direktur Choi dengan mata memerah merasa bersalah. 

Woo Shik menemui Direktur Choi yang duduk dengan wajah tertunduk diruang IGD, melihat wajah atasanya terluka menanyakan apa sebenarnya yang terjadi. Direktur Choi melihat Woo Shik duduk disampingnya. Woo Shik menanyakan keadaan Direktur Choi dengan wajah khawatir.

“Aku perlu bantuanmu. Tapi, ini adalah masalah pribadi...” ucap Direktur Choi, Woo Shik pun mempersilahkan Direktu Choi untuk mengatakan padanya. 

Joo Eun mengantar kliennya sampai ke depan ruangan, Pria beruban mengatakan ingin melindungi tanah miliknya jadi mempercayakan semua masalahnya pada Joo Eun. Dengan senyuman Joo Eun pun berjanji akan melakukan yang terbaik. Hyun Jung memanggil Joo Eun akan masuk kembali ke ruanganya.
“Wakil Presdir hari ini juga tak hadir. Dia menelepon Presdir, katanya dia sedang tak enak badan kemarin. Tapi, sampai sekarang masih tak ada kabar lagi darinya.”kata Hyun Jung binggung
“Apa? Dia tak biasanya bolos begini.” Ucap Joo Eun heran
“Benar..., dan juga banyak dokumen yang harus dia tandatangani.” Kata Hyun Jung
“Berikan aku alamatnya. Aku akan pergi menemuinya.” Perintah Joo Eun. 

Joo Eun berusaha menelp kembali Young Ho dalam perjalanan, tapi tetap saja tak diangkat. Sesampai di parkiran apartement, Joo Eun melihat ponselnya belum ada kabar dari Young Ho juga,  saat keluar dari mobil, Joo Eun melihat mobil Soo Jin terpakir didekatnya lalu berjalan masuk ke dalam apartement.
Dirumah sakit
Kaki Young Ho satu diangkat dengan alat agar bisa kaki kirinya ditekuk, kaki kanan di perban, begitu juga kepala, dan masih mengunakan alat bantu oksigen. Dokter, Ketua Min dan juga Tuan Kim serta pengawal sudah ada didalam ruang melihat Young Ho terbaring.
“Operasinya berjalan lancer Dan kondisinya sudah stabil. Tapi, dia mengalami patah tulang dan juga cedera otot. Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi.... sepertinya dia tak bisa berjalan lagi. Dalam keadaan seperti ini, aku tak bisa menjamin apa-apa.” Kata Dokter
Tangan tuan Kim langsung terkepal seperti menahan rasa sedihnya dan marah, Kepala Min memalingkan wajahnya mencoba menahan tangisnya.
“Tolong rawat dia.” Pesan Tuan Kim pada Dokter menatap Young Ho
“Kabari Ketua jika dia sudah sadar nanti.” Perintah Tuan Kim pada Ketua Min, ketua Min pun mengerti. 

“Berdasarkan penyelidikanku, sepertinya, Tuan Muda ingin melindungi Jang Joon Sung Dia mencoba untuk menghalangi Direktur Choi, lalu Nyonya juga ingin menghalangi mobil Direktur Choi. Dan karena itu, mereka juga akan menjadi tersangka kecelakaan.” Jelas Ketua Min sambil berjalan di lorong rumah sakit.
“Direktur Choi mau tak mau harus ikut bekerja sama karena masalah ini.” tegas tuan Kim.
Ketua Min pikir memang seharusnya seperti itu. Tuan Kim melirik memerintahkan agar menstabilkan kondisi sekarang ingin dan jangan sampai orang yang terluka menjadi tersangkanya. Ketua Min meminta maaf. 

Joo Eun menekan bel sambil berteriak  memanggil Wakil Presdir dan mengedor-gedor pintu meminta Soo Jin keluar apabila ada didalam rumah, tapi tak ada sahutan. Akhirnya ia mencoba menekan bel kembali, tetap tak ada sahutan dari Soo Jin, Joo Eun pun memilih untuk menekan pasword di pintu rumah temanya.
Ia masuk ke  dalam rumah memanggil Soo Jin, lalu masuk ke kamar melihat temanya sudah terbaring seperti orang mati. Dengan wajah panik berusaha membangunkan temanya, dengan memukul wajahnya dan berteriak memanggilnya.  
Soo Jin terbangun mengeluh Joo Eun berlebihan lalu mengeluh kepalanya sangat sakit, Joo Eun menghela nafas panjang karena bisa bernafas lega melihat Soo Jin yang membuatnya panik. Soo Jin menyuruh Joo Eun pulang saja karena ia masih hidup dan kembali tertidur dengan memiringkan badanya. 

Joo Eun memberikan semangkuk oatmeal, dengan memalingkan wajahnya mengatakan temanya tak punya nasi dirumahnya jadi tak bisa membuatkannya bubur dan menyuruh makan seadanya saja. Soo Jin menyingkirkan mangkuk ke pinggir tempat tidurnya, menyindir juniornya yang bersikap baik. Joo Eun melihat ada gelas sisa wine dan juga obat.
“Karena kita tak di kantor, aku akan bicara unformal saja.” Kata Joo Eun, Soo Jin seperti tak peduli.
“Sebelum aku kesal, kau harus berhenti mabuk-mabukan sekarang. Tubuhmu itu bukanlah barang yang sudah pakai langsung kau buang. Dan juga, ganti password-mu. 0413. Kenapa harus pakai tanggal lahir ? Apa kau tak takut? Dan juga, minta maaflah.” Perintah Joo Eun, Soo Jin menatap sinis, untuk apa ia meminta maaf. Joo Eun berteriak  menyuruh Soo Jin cepat meminta maaf padanya
“Bukannya sudah kujelaskan, Bukan aku yang mencuri Woo Shik jauh darimu!” tegas Soo Jin tak mau kalah.
“Minta maaflah! Sebelum aku marah.” Teriak Joo Eun, Soo Jin menatap temanya seperti menahan tangisnya.
“Setelah kau lulus dan pergi ke Amerika... Kenapa kau tak menghubungiku? Kenapa kau tak membalas semua surat yang aku kirimkan? Apa kita hanya teman sekelas saja? Kita adalah sahabat! Kenapa kau seperti ini? Kenapa?” teriak Joo Eun. Soo Jin hanya menatap temanya lalu memanggil namanya. Joo Eun akhirnya duduk disamping Soo Jin. 

“Aku merasa seperti hidup di neraka sekarang. Jadi, tolong minta maaflah, oke?” kata Soo Jin dengan nada lembut
“Apa kau sudah terjatuh dari tangga tadi atau bagaimana?” sindir Soo Jin, Joo Eun mengumpat temanya itu wanita kejam sambil memukul lenganya.
“Kau lebih kejam daripada aku!” teriak Soo Jin, Joo Eun binggung menanyakan kesalahanya.
“Mahasiswa dari jurusan tekhnik itu! Pria baik yang kau perkenalkan padaku dulu. Dia bilang, kau menjodohkanku dengannya hanya karena kasihan padaku Dan dia menginjak harga diriku. dia juga bilang, orang yang sepertiku ini bahkan tak usah keluar dari rumah selamanya.” Cerita Soo Jin menahan sedihnya.
Joo Eun mengumpat pria brengsek yang memperlakukan temanya seperti itu. Soo Jin mengingatkan saat Joo Eun ingin membantu hubungan dengan Lee Ji Hoon tapi bertukar nomor dengannya, menurutnya karena Joo Eun Cantik maka semua orang menyukainya dan Karena ia jelek dan gemuk, maka tak ada satupun yang menyukainya.
“Dasar bodoh. Dia hanya mau mengenalkanku dengan manager sebuah talent show! Jadi, dia memberikanku nomor manager itu.” Jelas Joo Eun. Soo Jin seperti tak percaya dan tak peduli lagi.

“Jadi, selama ini kau salah paham? Apa kau Temanku, Oh Soo Jin? Karena masalah sepele ini?” ucap Joo Eun tak percaya
“Manusia pasti mendapatkan masalah yang sepele, dan karena masalah itu juga, manusia bisa mati. Kesepian dan menderita itulah akibat masalah itu.” Tegas Soo Jin sambil mengumpat Joo Eun si wanita kejam.
Joo Eun menghela nafas dengan mata berkaca-kaca, Soo Jin melirik temanya merasa harusnya Joo Eun meminta maaf padanya. Joo Eun mengaku tak pernah tahu, jadi tak tahu harus mengatakan apa lagi, akhirnya ia meminta maaf pada Soo Jin.
Soo Jin menceritakan kalau bukan ia yang merayu Woo Shik. Joo Eun sudah mengenal Woo Shik selama selama 15 tahun, jadi tahu pria yang pernah dicintainya itu bukanlah pria yang akan luluh karena rayuan saja dan sangat yakin Woo Shik sangat menyukainya.
“Dia mungkin masih merasa bersalah padaku Dan mungkin waktunya sedang kacau.” Jelas Joo Eun tentang kesalahpahaman sebelumnya.
“Jadi, apa yang terjadi? Apa kau bertengkar dengan direktur Gahong?” tanya Soo Jin, Joo Eun mengumpat kesal sendiri.
“Kenapa rasanya hubunganku banyak sekali cobaannya begini?” ungkap Joo Eun lalu menangis sambil menutup wajahnya dan membaringkan dikasur. Soo Jin ingin memegang punggung temanya tapi diurungkan niatnya.
“Syukurlah, aku tak mengubah password ku.” Kata Soo Jin membiarka Joo Eun menangis disampingnya. 

Ji Woong membawa pot bunga dengan wajah tegang masuk ke lorong VIP, Joon Sung menahan managernya untuk melangkah masuk meminta agar tak menangis didepan Young Ho, Ji Woong menatap Joon Sung mengangguk seperti berusaha menahan air matanya.
Joon Sung memegang pundak Ji Woong, mengingatkan agar mereka tak boleh membuat Young Ho menderita lagi. Ji Woong mengerti tapi Joon Sung malah merasa sedih dan mengumpat untuk dirinya sendiri karena tak bisa menahanya. Ji Woong berjanji tak aka menangis lalu menghembuskan nafasnya agar tak menangis tapi air matanya malah mengalir. Joon Sung mengusapkan air mata Ji Woong yang tumpah. 

Keduanya masuk melihat keadaan Young Ho masih terbaring dengan penopang kaki,Young Ho membuka matanya, Joon Sung menyadarinya langsung menghampiri memanggil kakaknya, Young Ho masih bisa menyadari Joon Sung yang mendatanginya. Joon Sung dengan menahan air matanya mengucapkan permintaan maafnya.
“Bagaimana dengan ibumu?” tanya Young Ho
“Kami sudah bertemu, dan dia ingin berterima kasih padamu. Dan kecelakaan ini karena aku, 'kan? Karena aku mungkin saja..” ucap Joon Sung, Young Ho menyuruh adiknya itu lebih baik diam saja lalu memanggil Ji Woong.
“Hyung! Aku disini! Aku Ji Woong! Aku akan selalu menemani Joon Sung dan membuatnya menjadi juara!  Kau tak perlu khawatir...Oke?” kata Ji Woong mendekati Young Ho, Joon Sung memalingkan wajahnya berusaha keras menahan sedihnya.
“Oh yahh, aku juga membawa hadiah. Bunga yang tak perlu selalu disiram. Hanya perlu disiram tiap 20 hari sekali. Bunga yang tak merepotkan! Jadi, jadi...” kata Ji Woong akhirnya tak bisa menahan rasa sedihnya, Air mata Young Ho juga mengalir.
Joon Sung melihat ponselnya, tertulis [Kakak Ipar, Pengacara Kang Joo Eun] lalu mengusap air matanya bertanya apa yang harus dikatakan pada Joo Eun sekarang. Young Ho mengataan tak ingin Joo Eun melihatnya seperi ini, karena tak mau Joo Eun menangis bahkan ia sendiri tak tahu kondisinya sekarang. Joon Sung mengerti sambil mengusap air matanya kembali. Ji Woong juga mengusap air matanya akan mendoakan Young Ho dengan mendapatkan keajaiban, Young Ho menyuruh keduanya pulang dan latihan seperti biasanya. 
bersambung ke part 2