PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 14 November 2019

Sinopsis When The Camellia Blooms Episode 34

PS : All images credit and content copyright : KBS

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Di dalam bus, Jun Gi bertanya Pil Goo akan memihak siapa Pil Goo menjawab benci keduanya. Jung Gi memastikan kalau Pil Goo juga membenci Tuan Hwang. Pil Goo membenarkan, Jung Gi ingin tahu alasanya.
“Hei, anggap saja kau duduk dengan Hong Jae-min di bus. Aku duduk dengan Yang Jeong-wu. Tapi Jeong-wu selalu mengupil. Sekalipun aku ingin tetap duduk denganmu, bagaimana aku bisa jika kau punya sahabat baru? Apa Kau paham?” ucap Pil Goo
“Itu tak adil untukku. Tak ada yang lebih pusing dariku di antara anak delapan tahun sekelasku.” Keluh Pil Goo. Jun Gi pun hanya bisa diam saja.
Bus dengan spanduk bertuliskan [SEKOLAH DASAR ONGSAN PELATIHAN TIM BISBOL] akhirnya sampai juga disekolah. Para ibu menjemput anaknya, Jun Gi pun berlari pada ibunya. Pil Goo memanggil ibunya, tapi ternyata Dong Baek tak menjemput.
“Pil Goo.. Kemari.. Ibumu agak sibuk sekarang. Makanlah di rumahku. Dia akan datang menjemputmu.” Ucap Nyonya Park.
“Kenapa dia sibuk?” tanya Pil Goo.Nyonya Park tak menjawab malah mencari dimana tasnya Pil Goo
“Aku yang utama. Kenapa dia sibuk?” keluh Pil Goo terlihat sangat marah. 


Di depan restoran, KEPITING RENDAM JUN-GI. Dua bibi Jung dan Kim sedang membersihkan sawi untuk kimchi. Nyonya Kwak datang ingin tahu keadaan Dong Baek., apakah sudah membuka bar dan sudah makan. Bibi Jung mengeluh kalau Dong Baek itu  tak akan kelaparan.
“Dia bukan orang asing.” Kata Nyonya Kwak. Bibi Jung mengeluh kalau Dong Baek orang asing.
“Khususnya kau dan dia. Entah kau keluarga atau musuhnya. Kenapa kau mengkhawatirkannya? Biarkan saja dia. Terserah apa maunya. Jangan terlalu cemas.” Kata Bibi Kim
“Kalian berdua sangat kejam. Jika kalian tetangganya selama enam tahun, dia lebih keluargadaripada kerabat yang jarang ditemui. Kenapa kau katakan kita harus membiarkannya?” komentar Nyonya Kwak.
“ Apa yang akan kau lakukan? Entah hindari atau rangkul dia. Pilih posisimu. Kau sayang atau benci dia, apa yang akan kau lakukan?” komentar Nyonya Jung
“Kau sudah menyukainya, dan kini dia di hubungan benci tapi cinta. Dia tak tahan lagi.” Ejek Nyonya Kim
“Baiklah, kau orang suci soal urusan orang lain. Tunggu dan lihat saja sampai Geum-mi dan Jang-jong menikah. Apa Kau mau mereka menikahi seseorang yang sudah punya anak? Bahkan Buddha akan merasa itu berat. “ keluh Nyonya Kwak.
“Kenapa kau berharap aku pura-pura tak apa-apa? Apa aku meminta terlalu banyak? Setidaknya dia seharusnya tanpa anak delapan tahun. Setidaknya dia bisa tanpa beban.” Kata Nyonya Kwak.
Dua bibi mengeluh agar Nyonya Kwak berhenti, saat itu pintu restoran terbuka. Pil Goo keluar dengan menarik kopernya. Nyonya Park panik mencoba menahan Pil Goo. Nyonya Kwak melonggo kaget ternyata ada Pil Goo dalam restoran.
“Pil Goo..  Pikirkanlah. Bukan hanya kau anak delapan tahun di sini. Aku sungguh tak membicarakanmu. Aku hanya bicarakan anak delapan tahun lain di keluarga lain.” Ucap Nyonya Kwak mengejar Pil Goo
“Apa aku beban ibuku? Apa aku menjadi beban?”tanya Pil Go marah. Nyonya Kwak hanya bisa terdiam.
Akhirnya Pil Goo sampai di rumah mencoba masuk rumah tapi ternyata password rumahnya diganti. Ia pun berteriak memanggil ibunya, tapi tak ada sahutan. Pil Goo terus berteriak memanggilibunya sambil mengedor pintu sambil menangis. 



Dong Baek baru saja keluar dari kantor polisi ingin menanyakan tentang ibunya. Yong Sik menemaninya terlhat gugup memberitahu kalau hampir menemukannya. Dong Baek inin tahu Apa dia pergi ke rumah sakit. Yong Sik membenarkan.
“Aku terus melihat catatan rumah sakitnya.” Kata Yong Sik. Dong Baek pun meminta agar cepat membawa ibunay  saat datang ke rumah sakit
“Hei, Dongbaek... Sebaiknya kau datang ke polsek dan beri kami kejutan.” Ucap Yong Sik
“Aku mencari di internet dan mendengar cuci darah sangat menyakitkan. Dia sangat membengkak karena sakit. Namun, aku kasar padanya dan menyalahkannya karena gemuk setelah meninggalkanku.” Ucap Dong Baek sedih.
“Dongbaek... Jika kau harus memberinya ginjalmu, maukah kau melakukannya?” tanya Yong Sik gugup
“Tak ada yang bisa komentar apa pun sekalipun aku menolak.” Ucap Dong Baek dan saat itu Nyonya Park menelp.


Dong Baek berlari pulang ke rumah dengan Yong Sik memanggil anaknya dan terlihat Pil Goo hanya duduk didepan pintu. Dong Baek mengeluh akalu anaknya itu membuatnya ketakutan, Yong Sik pun mencoba membuka pintu rumah dengan sandi baru.
“Pil-gu, kenapa kau duduk di sini?” tanya Dong Baek. Pil Goo bertanya pada ibunya ganti nomor sandinya. Dong Baek terlihat bingung.
“Kenapa dia tahu?” tanya Pil Goo. Yong Sik mencoba menjelaskan. Pil Goo bertanya apakah ibunya  akan menikahi pria ini. Dong Baek terlihat bingung.
“Lebih aneh Ibu, aku, dan dia hidup bersama daripada hanya kita berdua. Ini menyebalkan, membuat kepalaku lebih sakit, dan memalukan!” teriak Pil Goo marah. 
“Hei... Kemari. Kau! Kau tak boleh... Kau tak boleh bicara begitu.” Ucap Dong Baek marah. Yong Sik menenangkan Pil Goo dan mencoba membuat Dongbaek agar bisa tenang.
“Tak boleh bicara seenakmu kepada orang dewasa. Kau mengecewakanku jika seperti itu” kata Dong Baek
“Kau tak sekecewa aku. Saat kau tak datang menjemputku dan mengganti nomor sandi rumah kita, rasanya seperti Bumi hancur.” Teriak Pil Goo mendorong Yong Sik dan menangis didepan ibunya. 

Nyonya Hong mengemudikan mobilnya. Tuan No memberitahu Jika dipenjara, maka Nyonya Hong bisa miliki kebun pir di Nonsan. Karean itu Satu-satunya yang bisa diberikan yaitu rumah atau kebun itu. Nyonya Hong mengeluh kenapa Tuan No harus dipenjara.
“Kau tak membunuh Hyang-mi.” Kata Nyonya Hong, Tuan No kaget kalau Nyonya Hong sungguh percaya padanya.
“Bukannya aku memercayaimu. Aku percaya pada diri sendiri. Kurasa aku melihat dia hari itu.” Ucap Nyonya Hong. Tuan No kaget mendengarnay.
“Katamu kau melihatnya di jalan yang mengarah ke pemancingan. Aku melihatnya di pemancingan. Jadi, itu berarti dia tidak mati di jalan.” Ucap Nyonya Hong. 

Nyonya Hong turun dari mobil. Tuan No panik karena merasa tak perlu memberitahu mereka kalau melihat Hyang Mi juga. Nyonya Hong tetap ingin memberi tahu detektif. Tuan No bertanya apakah  percaya mereka, karena mereka sibuk melindungi diri sendiri.
“Karena itu, mereka berusaha menjebloskanmu.” Ucap Nyonya Hong menyindir.
“Apa  Mantan istri No Gyu-tae perlu beri tahu dia melihat Hyang-mi pada hari kematiannya? Apa Kau percaya orang kampung itu? Dia tak tahu perbuatannya.” Kata Tuan No marah
“Kurasa orang udik yang bodoh lebih baik daripada detektif cerdik. Karena itu aku menikahimu. Walau kau menusukku dari belakang.”sindir Nyonya Hong berjalan masuk ke kantor polisi. Tuan No hanya bisa mengumpat kesal. 

Di kantor polisi, semua sedan makan jajangmyun. Tuan Byun yang pertama kali melihat Nyonya Hong kaget dan langsung berdiri diikuti oleh semunya.  Nyonya Hong mengatakan yang dikatakan oleh kepolisan Ongsan "Yong-sik mengalahkan Investigasi Wilayah."
“Jangan buat aku menyesal memihakmu.” Ucap Nyonya Hong. Yong Sik melongongo bingung.
“Di malam tanggal 24, aku lihat Choi Hyang-mi.” Akui Nyonya Hong. Nyonya Kwak terlihat penuh semangat medengarnya langsung memasukan buah ke dalam mulutnya. 

Flash Back
Nyonya Hong ternyata melihat Hyang Mi di seberang pintu rumah saat datang mengantar pesanan. Ia mengaku tak bisa lepas mengawasinya dan heran karena Hyang Mi mengantar pesanan dan merasa sudah terlalu lapar.
“Jika itu Dongbaek, aku pasti memesan sup pangsit. Aku masih bernafsu makan besar sebelum perceraianku. Berat badanku jelas takkan turun.” Ungkap Nyonya Hong
Akhirnya Nyonya Hong memilih tidur dan terbangun mendengar suara motor dinyalahkan lalu suara mobil truk. Ia membuka jendela rumah dan heran karena truk itu membawa motor, bahkan Lampunya juga mati.

Saat makan bersama suaminya, Tuan No memberitahu Hyang Mi sudah pergi. Nyonya Hong pun kaget sampai menjatuhkan sushi ke dalam kecap asinnya.
“Lalu kudengar dia menghilang, jadi, kupikir itu juga aneh.”
***
“Jika truk itu membawa motornya.. Artinya Hyang-mi dalam keadaan tak bisa mengendarainya. Apa kau melihat pengemudinya Atau mungkin pelat nomornya?” tanya Yong Sik
“Saat itu cukup gelap, dan anehnya, truk itu tak menyalakan lampu depannya.” Kata Nyonya Hong 

“Jika lampunya dimatikan, maka itu tersangkanya. Baiklah, permainan akan berakhir setelah kita menemukan truknya.” Kata Yong Sik
“Kenapa aku melihat truk itu?” ucap Nyonya Jo. Semua hanya bisa melonggo mendengarnya.
“Truk yang mencuri motor Dongbaek. Aku lihat hari itu.” Kata Nyonya Jo.
***
Flash Back
Nyonya Jo meesan taksi agar menjemputnya Di depan Camellia. Sekarang. Dong Baek heran ibunya yang memanggil taksi saat larut malam. Nonya Jo menyuruh Dong baek agar membawa anaknya pulang karena Lebih baik dia tidur di sini lagi.
Di dalam taksi, Nyonya Jo terlihat menahan rasa sakit lalu melihat truk yang berhenti disampingnya. Ia pun melihat stiker CAMELLIA dan yain kalau motor itu milik Dong Baek.  Ia pun berpikir Hyang-mi bahkan menjual motor mereka.
“Haruskah kukejar truk itu?” tanya supir taksi. Nyonya Jo menolak agar membawa ke rumah sakit dahulu.
Setelah itu, Dong Baek mengeluh Hyang Mi itu mematikan ponselnya lalu berpikir sudah memutuskan hubungan karena 30 juta won. Nyonya Jo yakin Hyang Mi takkan datang lagi. Dong Baek terlihat bingung. Nyonya Joo pikir Dong Baek Jangan tunggu, karena Hyang Mi yang takkan datang.

“Kukira dia menjual motor dan kabur” akui Nyonya Jo. Yong Sik pun bertanya apaka Nyonya Jo kebetulan ingat nomor pelat taksi yang dinaiki hari itu.
“Kau bercanda? Siapa yang ingat pelat taksi? Saat itu, perutku sakit.” Keluh Nyonya Jo.
“Kamera dasbor taksi akan merekam truk itu.” Ucap Yong Sik. Tuan No akhirnay menyusulkan periksa taksi di Ongsan karena Pamanny sopir taksi.
“Bicara dengan Jong-ryeol... Aku melihatnya di jalan.” Kata Nyonya Jo. Semua melonggo lagi mendengarnya.

“Aku baru dapat hadiah besar.” Gumam Yong Sik mendongkan kepalanya dan terlihat sangat bahagia. 


Flash Back
Jong Ryul mencari sesuatu di pingir jalan mengeluh kesal karena tak ada yang Mi jadi apa yang ditabrak oleh istrinya tadi. Ia pun mengumpat kesal sendiri dijalan, Nyonya Jo pun sedang menaiki taksi pun bisa melihatnya dengan mobil sportnya.
“Mobilnya diparkir di jalan, dan dia berteriak seperti orang gila.” Ucap Nyonya Jo yakin.
Tuan No seperti seorang kepala tim investigasi langsung membagi tugas  Yong-sik bisa mulai dengan memeriksa kamera dasbor Jong Ryul, lalu memberitahu istrinya  kalau ingin bersiap menuntut negara. Ia akan mentuntut negara karena menodai kejujurannya dan langsung disela oleh Yong Sik.
“Ini kesimpulanku. Para tersangka yang melihat Hyang-mi malam itu sebenarnya bukan tersangka.” Ucap Yong Sik menulis nama TERSANGKA, SAKSI, GYU-TAE, JESSICA, JONG-RYEOL, JA-YEONG, NYONYA JO
“Kurasa mereka saksi Aku baru dapat lima kartu beruntung. Lalu setelah mengatur kartu-kartu ini, lalu aku tahu pasti Pengusil akan tertangkap.” Ucap Yong Sik
“Hei..  Buku petunjuk itu tak berguna. Kau bela kami, dan kau akan naik pangkat.” Kata Tuan Byun pada Oh Joon. Oh Joon langsung menutup buku “PETUNJUK UJIAN POLISI”  lalu bergegas pergi.


Di rumah
Dong Baek dan anaknya hanya diam dimeja makan, seperti sedang tak nafsu makan. Dong Baek mengingat pesan dari si pengusil [ KAU HARUS DATANG, DIA MATI KARENAMU SEMUA YANG DEKAT DENGANMU AKAN MATI]
Sementara Pil Goo mengingat yang dikatakan Nyonya Kwak “ Setidaknya dia seharusnya tanpa anak delapan tahun. Setidaknya dia bisa tanpa beban.” Wajahnya seperti sangat sedih. Dong Baek akhirnya mulai berbicara pada anaknya. 

“Pil-gu, mulai sekarang kau tak boleh berkeliaran sendirian. Kau harus turuti kata-kataku, oke?” ucap Dong Baek memperingatkan
“Di mana Nenek?” tanya Pil Goo. Don Baek terlihat bingung dan menjawab kalau nenek Pil Goo akan kembali.
“Bagaimana dengan Hyang-mi? Apa mereka pergi agar kau tenang?” tanya Pil Goo. Dong Baek terlihat makin bingung.
“Apa kau nyaman saat aku pergi ke Tiongkok?” tanya Pil Goo. Dong Baek mengeluh agar anaknya  Berhenti bicara omong koson dan makan makanannya.
“Kita takkan tinggal bersama saat aku dewasa dan menikah, 'kan? Bukankah biasanya begitu?” kata Pil Goo
“Kenapa? Apa Kau cemas aku memintamu tinggal denganku?” tanya Dong Baek.
“Orang tua akan ditinggal saat menikah. Kebanyakan temanku tak tinggal dengan nenek. Aku tahu saat tak diterima. Aku takkan memintamu tinggal denganku setelah menikah.” Ucap Pil Goo
“Apa kau seperti ini karena kupukul waktu itu? Setidaknya kau bisa tenang karena kau yang dipukul.” Kata Dong Baek
“Aku tak bisa tidur. Apa Kau pikir anak-anak selalu tidur nyenyak?” keluh Pil Goo 


Tuan No sedang dihipnotis agar bisa kembali ke masa lalu. Di ruangan kontrol Yong Sik dan Tuan Byun menungu dengan gugup. Yong Sik bergumam kalau ternyata tak semua kartu beruntung.
“Biarkan saja dia... Dia hanya ingin membantu sebagai satu dari lima kartu keberuntungan. Yang dapat nilai buruk itu yang selalu minta keberuntungan sehari sebelum ujian.” Ucap Tuan No. Yong Sik masih terus mengeluh
“Apa yang kau lihat?”tanya si pria. Tuan No menjawab Hyang-mi membuat hati dengan lengan di atas kepalanya.
“Aku sangat marah.” Ucap Tuan No. Sementara Tuan Byun di ruangan masih berpikir mereka mungkin dapat sesuatu dari ini.
“Pengemudi yang menabraknya keluar dari mobil. Dia perempuan.” Kata Tuan No  Tuan Byun panik mendengar Perempuan
“Astaga, itu mungkin hanya Jessica.” Komentar Yong Sik sudah tahu. Tuan No pun meminta agar memberitahu nomor pelat mobilnya.
“Empat... Delapan.... delapan...Lima” ucap Tuan No terbata-bata. Yong Sik mengeluh mendengarnya, sementara Tuan Byun merasa  nomor itu terdengar akrab.
“Astaga, kau bicara omong kosong!” teriak Yong Sik akhirnya masuk ruangan interogasi dan akhirnya Tuan No langsung membuka matanya. 


“Nomor pelat Jong-ryeol di rekaman kamera pengawas adalah 4904. Tapi kenapa kau bilang "4885"? Kau pasti bercanda” teriak Yong Sik marah keluar dari kantor polisi.
“Hei! Membuat kesalahan adalah bagian dari penyelidikan!” komentar Tuan Byun membela Tuan No yang tertunduk.
“Jujur saja dan katakan kau tak tahu! Kenapa kau mengarang?”  Sejak awal aku tak suka sikapnya!” teriak Yong Sik kesal.
“Aku terus meyakinkan diriku, bahkan aku dihipnotis!” ungkap Tuan No. Yong Sik kesal hanya bisa menginjak kakinya sendiri dijalan.
“Lalu ada kartu keberuntungan yang tak membuatku nyaman.”

Jong Ryul datang ke kantor polisi Ongsan dan langsung memberikan SD Cardnya. Yong Sik dengan suara lirik mengucapkan  Terima kasih untuk kerja samanya. Jong Ryul bertanya apakah Yong Sik sungguh bisa menangkap Pengusil dengan itu
“Tuan Kang, apa kau pernah menangkap perampok bank dengan kotak bekal?” tanya Yong Sik.
“Bukan itu pertanyaanku.” Komentar Jong Ryul. Yong Sik bertanya lagi apakah Jon Ryul Pernah mengikat pembunuh dengan selotip?
“Bukan itu pertanyaanku.” Komentar Jong Ryul. Yong Sik pikir Pengusil hanya bisa berulah karena belum bertemu dengannya.
“Yong-sik, kau bisa katakan itu setelah kau sungguh menangkapnya. Tak ada gunanya kita mengobrol panjang.” Keluh Jong Ryul
“Namun, asal kau tahu saja, Dongbaek...” kata Yong Sik yang langsung disela Jong Ryul kalau  tak tanya itu.
“Aku tak perlu kau memberi tahu kabarnya. Aku bisa temui dia sendiri. Apa Kau pikir kita dekat? Aku dekat dengan Dongbaek.” Ucap Jon Ryul
“Logika macam apa itu? Baiklah. Silakan saja. Coba saja semuanya. Namun, apa pun yang kau lakukan, hubungan kami akan selalu kuat.” Tegas Yong Sik
“Terserah. Kau bisa katakan itu setelah menikah. Silakan hadapi semua yang menghalangimu. Lalu kau bisa katakan itu kepadaku.” ejek Jong Ryul
“Astaga, kau terus membahas semua penghalang itu. Apa itu membuatmu lega? Aku tak perhitungkan semua. Aku hidup sesuai keinginanku. Jadi, kebanyakan penghalang tak bisa menghalangi.” Komentar Yong Sik lalu mengucapkan terimakasih lagi dan segera masuk ke dalam kantor polisi. 




Dua teman Pil Goo berjalan meminta agar meminjamnya dan  berjanji takkan merebutnya. Pil Goo hanya diams aja. Temanya terus mengku  hanya tanya apa boleh meminjamnya. Jung Gi pikir temanya sama saja ingin merebut dari Pil Gooo dengan menyebutkan kakaknya.
“Aku bisa bicarakan dia semauku.” Kata teman Pil Goo. Jun Gi mengelu agar Berhenti bersikap egois.
“Hei, kakakku kelas enam. Dia hampir sabuk hitam.” Kata anak. Pil Goo akhirnya menatap dua temanya.
“Kalian belum pernah sakit kepala, 'kan?”tanya Pil Goo. Si anak mengaku  hanya pernah beringus. Pil Goo akhirnya memberikan games yang diberikan oleh Jong Ryul. 

Keduanya akhirnya bermain tanpa Pil Goo, salah satu heran dengan Pil Goo tiba-tiba bisa kaya dan sudah punya tiga konsol gim. Temanya mengaku tak peduli apa Pil Gooo kaya karena menurutnya ia utetap lebih kuat dari Pil Goo dan Kakaknya kelas enam bahkan hampir sabuk hitam.
“Lalu bagaimana denganku? Menurutmu berapa usiaku?” uca Nyonya Jo tiba-tiba datang. Keduanya terlihat bingung.
“Kau mungkin punya kakak kelas enam. Tapi Pil-gu punya nenek berusia 57 tahun. Kau boleh pinjam hari ini saja. Bersenang-senanglah hari ini dan kembalikan besok. Sebaiknya kau lakukan itu, oke?” ucap Nyonya Jo.  Keduanya terliha bingung.
“Pil-gu punya nenek berusia 57 tahun. Aku selalu ada untuknya dan selalu mengawasinya.” Tegas Nyonya Jo. Saat itu Pil Goo dan Jun Gi berlari mengejar keduanya. Nyonya Jo akan bergegas pergi.
“Hei, kembalikan itu... Dia sakit kepala dan tak berpikir benar.” Ucap Jun Gi
“Nyonya, tunggu.. Dia baru merebutnya dariku.” Kata Teman Pil Goo. Pil Goo heran siapa wanita itu.
“Nenek Pil-gu berusia 57 tahun.” Ucap Teman Pil Goo. Nyonya Jo seperti sudah tak bisa bersembunyi akhirnya menyapa Pil Goo. Pil Goo kaget meliha neneknya. 


Dong Baek baru pulang lalu mengeluh melihat Jong Ryul kembali datang ke barnya. Jong Ryul sambil menghela nafas menanyakan keadaan Dong Baek karena pasti ketakutan. Dong Baek balik bertanya apakah Jong Ryul cemas kalau ia mungkin mati.
“Aku tak percaya penakut sepertimu malah menghadapi pembunuh. Kau pasti terguncang. Aku takkan minta kau tinggal denganku. Pastikan saja kau tak mati. Pastikan saja kau tetap hidup. Kau harus Hidup dan sehat.” Tegas Jong Ryul 

Di dalam bar
Jong Ryul mengaku Saat melihat Don baek  lagi setelah delapan tahun, jadi lebih terganggu pelindung tangan yang dipakai daripada gelang germanium yang dipakai. Ia tahu Dong Baek bekerja dan merawat Pil-gu sendiri membuatnya gila.
“Selain itu, kenapa... Kenapa kau harus...” ucap Jong Ryul tak bisa berkata-kata.
“Kenapa aku harus bertemu pembunuh?” ucap Dong Baek. Jong Ryul tak bisa percaya Dong Baek harus hidup seperti ini
“Hidupmu seperti semacam tantangan.” Komentar Jong Ryul. Dong Baek tak ingin berbasa-basi ingin tahu Apa sebenarnya yang ingin dikatakan
“Kuminta untuk terakhir kali... Mari pergi ke Seoul. Aku tahu uang bukan segalanya dalam hidup. Namun, uang membuat hidupmu jauh lebih nyaman. Berhenti hidup miskin dan berbahaya.” Ucap Jong Ryul
“Kenapa kau tak bisa hidup nyaman, stabil, dan makmur? Apa Tak bisa kulakukan itu untukmu?” tanya Jong Ryul memohon
“Jong-Ryul, saat kita masih bersama, aku tak pernah mencemaskan sewa. Tapi aku merasa tak nyaman. Aku sama sekali tak nyaman. Aku selalu gugup, terintimidasi, dan berhati-hati. Itu yang kurasakan.” Akui Dong Baek
“Tapi belakangan ini, aku nyaman. Aku tak pernah sebangga ini pada diriku. Jadi, bisakah tolong biarkan aku? Tak bisakah biarkan kami sendiri?” kata Dong Baek
“Maka maaf mengatakan ini, kau tak memberiku pilihan selain menjadi orang jahat.” Ungkap Jong Ryul. Dong Baek terlihat bingung.
“Biarkan aku membawa Pil-gu. Aku tak tahan setiap hari memikirkan putraku dibesarkan di bar yang didatangi pembunuh.” Ucap Jong Ryul 



Nyonya Jo mengajak makan cucunya lalu mengaku berniat pergi setelah melihat keadaan Pil Goo dari kejauhan. Pil Goo bertanya kenapa neneknya  tak pulang. Nyonya Joo balik bertanya apakah Pil Goo merindukannya. Pil Goo memberitahu kalau ibunya menunggu Nyonya Jo.
“Sungguh?!!” ucap Nyonya Jo tak percaya. Pil Goo memberitahu kalau ibunya itu menyukai Nyonya Jo.
“Apa dia mengatakannya?” tanya Nyonya Jo. Pil Goo mengaku bisa tahu tentang hal itu. Nyonya Jo menyimpulkan Dong Baek tak pernah mengatakannya.
“Aku tahu dia selalu marah padamu, tapi dia tak pernah sungguh-sungguh. Saat dia sungguh marah, alis, lubang hidung, dan suaranya sangat berbeda. Setelah kau pergi, dia terus menghela napas saat makan Lalu tiap kali pengantar paket mengetuk pintu, dia bangkit dan melihat keluar.” Cerita Pil Goo
“Tampaknya kau sangat mengenalnya.” Komentar Nyonya Joo. Pil Goo yakin lebih kenal ibunya daripada siapa pun.
“Kau dan Tuan Hwang tak sebanding denganku. Jadi, cepatlah kembali ke rumah. Saat Ibu menangis, dia tak berhenti.” Kata Pil Goo
“Kenapa dia menangis?” tanya Nyonya Jo heran. Pil Goo mengaku akan tinggal dengan ayahnya. Nyonya Jo kaget mendengarnya. 



Nyonya Kwak bertemu dengan Pil Goo berpikir kalau masih marah karena menyebutnya beban. Pil Goo memberikan banyak makanan untuk Nyonya Kwak dan semua itu untuknya. Nyonya Kwak bingung kenapa memberikan itu padanya dan berpikir agar bisa lebih tinggi lagi.
“Ibuku adalah orang baik... Ibuku baik... Dia sangat baik.” Ucap Pil Goo dengan mata berkaca-kaca lalu keluar dari restoran.
“Kau dan ibumu membuatku kesulitan.” Ungkap Nyonya Kwak sambil menghela nafas. 

Jun Gi menangis tersedu-sedu, Pil Goo meminta agar Jun Gi berjanji dengan ibunya agar memastikan tak jahat pada ibunya dan  tak merundung lalu memberikan gamenya. Jun Gi mengeluh  tak butuh game konsolnya itu karena tak ada guna kalau Pil Goo pergi
“Kau harus berkunjung ke Seoul.” Ucap Pil Goo tak bisa menahan tangisnya.
“Kapan? Tanggal berapa?” tanya Jun Gi sepert sudah tak sabar. 

Yong Sik dkk melihat rekaman dari black box mobil Jong Ryul dan akhirnay menemukan mobil truk tepat Malam tanggal 24 pukul 23.58. Ia pun melihat  Nomor pelatnya adalah 6033. Tuan Byun mencari informasi dan kaget kalau itu kendaraan curian.
“Tapi pemilik yang melaporkan hilang adalah Park Heung-sik.” Ucap Tuan Byun. Yong Sik tersenyum bahagia karena bisa menemukanya. 

Sementara Heung Sik duduk dimeja makan, beberapa polisi mengeledah rumahnya. Polisi mengaku Sekalipun itu laporan palsu jadi harus pertimbangkan keadaannya. Heung Sik mengerti.  Polisi memberitahu sudah mendeteksi DNA dari mayat.
“Kami mungkin harus memeriksa DNA setiap orang di negara ini. Jadi, kami sungguh menghargai kerja samamu.” Jelas polisi
“Apa Kau menyetujui tes DNA?” tanya petugas forensik. Heung Sik bertanya apakah juga boleh menolak. 

Tuan Byun melihat Yong Sik sedang berbicara di telp,lalu mengeluh menatap marah lagi. Yong Sik meminta tolong membantunya, setelah itu langsung mengambil sesuatu di tempat penyimpanan. Tuan Byun panik melihat Yong Sik membawa pistol
“ Kau mau ke mana membawa pistol itu?” tanya Tuan Byun bingung. Yong Sik mengaku akan ke tempat Heung-sik.
“Bisakah kau pikirkan strategi sebelumnya? Apa yang akan kau katakan kepadanya? Aa Kau akan menembaknya karena truk itu ternyata miliknya?” tanay Tuan Byun kesal
“Strategiku adalah selalu menyerang cepat. Lalu semua orang di Ongsan memihakku.” Kata Yong Sik
“Astaga, kenapa kau sangat percaya diri?” keluh Tuan Byun lalu melihat Pil Goo lewat didepan kantor polisi dengan wajah lesu. 


Di bar
Dong Baek terlihat marah pada Jong Ryul yang terpikir mengambil Pil-gu darinya, Ia menegaskan Jong Ryul tak berhak dan merasa Jong Ryul itu bersikap seperti itu karena dirinya kaya.  Jong Ryul mengeluh kalau Dong Baek berpikir mereka masih di tahun '80-an.
“Aku tak berhak melakukannya dan  juga punya kesadaran. Aku takkan merebutnya, tapi Biarkan saja aku membantunya. Pembunuh datang ke barmu. Tak bisakah kau percayakan dia kepadaku? Hal yang penting adalah dia aman.”Jelas Jong Ryul.
Dong Baek duduk kembali teringat dengan pesan si pelaku [KAU HARUS DATANG, DIA MATI KARENAMU SEMUA YANG DEKAT DENGANMU AKAN MATI]
“Kau pikir siapa yang pedulikan Pil-gu sebesar dirimu? Itu aku.” Tegas Jong Ryul menyakinkan.
Saat itu Pil Goo pulang, Dong Baek mencoba untuk tak terjadi masala lau menyuruh Jong Ryul harus pergi dan jangan kembali lagi. Ia lalu bertanya tentang sekolah pada sangat anak dan menyuruh mencuci tangan setelah itu aakan membuat kari untuknya.
“Aku tak ingin kari... Aku ingin tinggal dengan Ayah mulai sekarang.” Ucap Pil Goo. Dong Baek kaget begitu juga Jong Ryul.
“Aku sudah memutuskan.” Kata Pil Goo. Dong Baek terlihat benar-benar tak pecaya mendengarnya. 


[EPILOG]
Yong Sik mengejar Pil Goo dan langsung memeluknya saat lewat didepan kantor polisi. Pil Goo langsung melepaskan tanganya, Yong Sik heran Pil Goo begitu saja dan berpikir tak ingin bertemu dengannya. Pil Goo langsung bertanya apa yang disukai dari ibunya.
“Apa? Pertanyaan macam apa itu?” komentar Yong Sik bingung.
“Kenapa kau suka orang yang tamak?” ucap Pil Goo. Yong Sik bingung Pil Goo bicara seperti itu dan menegaskan kalau ibunya tidak tamak.
“Dia punya anak... Kini dia bahkan punya ibu. Namun kini, dia ingin suami. Sementara aku hanya punya dia. Kurasa aku lebih bahagia saat usiaku tujuh tahun.” Ungkap Pil Goo
“Apa karena aku belum datang ke Ongsan saat itu?” tanya Yong Sik. Pil Goo hanya menjawab dengan helaan nafas lalu berjalan pergi.
Bersambung ke episode 35

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Sinopsis When The Camellia Blooms Episode 33

PS : All images credit and content copyright : KBS

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Adik Hyang Mi terlihat sangat marah di telp berpikir semua polisi Korea kasar. Ia menegaskan tak peduli ulah kakaknya di Korea jadi tak peduli apa dia hidup. Ia meminta agar jangan menghubungnya lagi. Yong Sik memberitahu punya kabar terkait Nona Choi Go-un.
“Bagaimana... kau tahu nama itu? Itu nama kakakku dahulu.” Ucap Adik Hyang Mi terlihat shock.
“Dua KTP ditemukan di antara barang-barangnya. Dia sudah meninggal.< Dia dibunuh.” Ucap Yong Sik. 

Di ruangan, Polisi menjejerkan semua barang-barang Hyang Mi yang ditemukan tak bernyawa. Dengan KTP yang bernama Hyang Mi dan saat masuk remaja bernama Choi Go Un. Begitu juga gelang milik Dong Baek yang dipakai juga.
“Seumur hidupnya, Hyang-mi menyimpan Go-un di hati.”
Di rumah adik Hyang Mi terlihat shock melihat banyak barang dar korea yang dikirim oleh sang kakak dan itu jumlahnya banyak. Sang istri heran karena punya uang untuk beli kaus kaki tapi Hyang Miterus mengirimkannya.
Sang adik teringat saat memanggil Hyang Mi berlari sebelum masuk ke dalam bar. Hyang Mi mengeluh adiknya yang tak mengunakan kaos kaki padahal cuaca sangat dingin dan akan batuk jika flu.
“Go-un... Dia bahkan tak bisa ke surga, satu-satunya tempat yang tahu namanya.”

Di ruangan, Polisi menyuruh Dong Baek agar memeriksa  barang-barang korban. Ia memberitahu di telp kalau Tak ada keluarga dan Hanya teman lalu bergegas keluar ruangan. Dong Baek meliha uang yang dimilik Hyang Mi hanya pecahan 1.000 WON, 5.000 WON, lalu KTP dan juga gelang miliknya.
“Dia meninggalkan dunia tanpa pikir panjang dan sendiri.”
Dong Baek mulai menangis sampai akhirnya menangis histeris karena sangat shock. Yong Sik diluar berteriak marah karena menyuruhnya memeriksa barang-barang Hyang Mi dan saat masuk ruangan Dong Baek sudah bersimpuh di lantai.
Yong Sik langsung berlari menghampiri dan memeluknya. Dong Baek pun menangis histeris dipelukan Yong Sik, seperti masih tak percaya. Yong Sik pun menenangkan Dong Baek sambil menahan kesedihan aja.
“Kau tak perlu melihat itu semua, Dongbaek... Tak apa-apa.” Ucap Yong Sik terus memeluknya dengan erat. 

Akhirnya polisi lain memberikan minum untuk Dong Baek, dan kembali memastikan yang akan dikatakanya Dong Baek. Yong Sik menjawab kalau Dong Baek yakin belum pernah melihat wajah itu sebelumnya. Dong Baek hanya bisa diam saja.
“Apa Kau tak lihat dia masih terguncang?” ucap Yong Sik kesal. Dong Baek tiba-tiba menunjuk mata di layar komputer. Yong Sik terlihat kaget.
 “Kami semua memikirkan hal yang sama.”

Di ruang interogasi Tuan No ingin makan tapi seperti tak nafsu, lalu mengeluh Hyang Mi kalau yang dikatakan akan mulai hidup baru, tapi malah mati, lalu terlihat sedih mengingat tentang Hyang-mi...
Di ruangan kepala polisi, Tuan Lee menyindi kalau hanya kalian polisi di kota ini. Keduanya hanya diam saja. Tuan Lee mengejek keduanya berulah tanpa tahu posisnya.
“Kami semua menganggap tak seorang tetangga atau siapa pun pantas mati seperti itu.” 

Semua ahjumma berkumpul di ruang rapat, mereka membahas Apa Hyang-mi sungguh dibunuh karena Dongbaek, lalu berpikir Kalau begitu Pengusil sungguh mengincar Dongbaek. Lalu bibi yang lain merasa akan aneh jika Dongbaek sungguh mati.
“Orang-orang dahulu berkata Pengusil mulai membunuh setelah Dongbaek datang. Semua berubah semenjak itu. Tinggal di sini selama enam tahun menjadikan kita keluarga. Apa Kalian tahu? Kurasa kita tak boleh biarkan Dongbaek mati seperti ini.” Ucap Nyonya Park terlihat marah
“Kegilaan pria jahat membangkitkan pahlawan paling biasa dalam diri kita.”
 “Penjahat kecil nekat merendahkan Ongsan hingga berani mengganggu kita. Bagaimanapun, ini Ongsan, penguasa industri kepiting rendam Korea. Bagaimana jika kita cabut rumput tak berguna ini?” ucap Nyonya Park marah
“Seung-hui, kau kuasai SMK Khusus Perempuan Ongsan. Apa senjatamu?” ucap Bibi Kim. Seung Hui menjawab kakinya.
Mereka pun menaruh tangan diatas kaki Seung Hui seperti yakin bisa membalas dengan kaki Seung Hui pada si pelaku.
“Para pahlawan biasa Ongsan mulai bergerak. Dengan cara tak disangka-sangka”
“Kita akan ikuti petunjuk Seung-hui dan bergerak diam-diam.” kata Nyonya Park, Semua menganguk mengerti
[Episode 33-34 AVENGERS ONGSAN]


Di ruangan Kepala Polisi. Tuan Lee mengeluh petugas polsek meminta analisis darah di luar tuga dan meminta penyelam setelah salah melaporkan kasus pembunuhan. Ia pun menyindir polisi kota kecil mengejar Pengusil, keduanya hanya diam saja.
“Tak heran kalian diam. Apa alasan yang bisa kalian buat di situasi ini?”ejek Tuan Lee
“Bukan begitu. Aku hanya menolak menjawab.” Kata Yong Sik. Tuan Lee kaget dan Tuan Byun menatap Yong Sik tak percaya.
“Yong-sik tak merasa terintimidasi oleh atasan bintang empat.” Gumam Tuan Byun.
“Aku tunjukkan niatku untuk melanjutkan investigasi, dengan tak menjawab.” Tegas Yong Sik.
“Itu membuatku juga tidak terintimidasi.” Gumam Tuan Byun seperti mengumpulkan kekuatan.
“Ternyata ada bulldog di departemen kita. Kenapa tak memanggil media ke tempatku juga?” sindir Tuan Lee. Tuan Byun akhirnya mulai bicara. Tuan Lee bertanya ada yang ingn dikatakan.
“Siapa yang menemukan kameranya? Siapa yang menemukan direktur akademi? Siapa yang memprediksi korban ada di Ongsan? Yang orang-orang kalian tak bisa pecahkan dalam enam tahun, petugasku pecahkan dalam beberapa bulan sendirian.” Ucap Tuan Byun membela.
“Karena itu, Yong-sik lebih baik menyelidiki kasus ini daripada RIU.” Tegas Tuan Byun. Yong Sik terlhat menangis haru mendengarnya.
“Benarkan begitu? Jika ada yang mau dikatakan lagi, tulis di permohonan maafmu... Paham?” tegas Tuan Lee seperti tak menerima alasanya. 


Yong Sik merapihkan barang-barang Hyang Mi, Dong Baek yang melihatnya merasa Tak bisa dipercaya karena mencuri semua yang bisa diambil, tapi bukan untuknya sendiri. Ia melihat Semua yang Hyang Mi miliki murah dan lusuh.
“Kenapa dia bersikeras mengantar pesanan malam itu?” keluh Dong Baek dan kembali sedih.
“Dongbaek, kematian Hyang-mi adalah salah pembunuhnya, bukan kau. Dengan menyalahkan diri, kau membiarkan pembunuhnya tak merasa bersalah. Ini bukan waktunya menyalahkan diri. Kita harus tangkap dia. Kau tahu itu.” Ucap Yong Sik menyakinkan dengan memegang tangan Dong Baek.
“Tentu saja... Aku tak yakin soal yang lain, tapi aku masih ingat suara batuknya. Andai bisa mendengarnya sekali lagi. Aku pasti akan mengenalinya.” Kata Dong Baek
“Dari yang kutahu, batuknya bisa jadi gerakan spontan.” Kata Itu mungkin tindakan tak disengaja yang muncul saat dia bersemangat.” Kata Yong Sik. 


Dong Baek langsung melepaskan tangannya saat melihat seseorang yang datang.  Yong Sik kaget melihat Seung Hui datang dan menganggap wanita belalang lalu dengan gugup bertanya kenapa datang ke bar. Seung Hui bertanya apakah Dongbaek sudah memilah sampah daur ulang. Dong Baek menganguk.
“Aku akan menjadi pengawas mulai hari ini dan akan memeriksanya hari Senin, Rabu, dan Jumat. Pastikan kau lakukan dengan benar.” Ucap Seung Hui. Yong Sik bingung tiba-tiba sikap mereka yang aneh.
“Para wanita Ongsan diam-diam bertindak.”
Bibi Kim datang membawa tohu yang sudah digoreng beralsan Tahu akan busuk dalam sehari. Dong Baek terlihat bingung, Bibi Kim pikir dengan Memberikannya kepada Dong Baek  lebih baik daripada dibuang. Dong Bek masih terlihat bingung.
“Kunci pintu dan jendelamu walau siang hari. Paham?” ucap Bibi Kim sebelum meninggalkan bar. Setelah itu bibi Jung datang membawa kue beras.
“Katanya membuang makanan yang masih bagus akan membuatmu masuk neraka. Karena itu kau memberikannya kepadaku. Omong-omong, kapan kau tutup bar?” ucap bibi Jung. Dong Baek akhirnya bisa tersenyum karea semua bibi memberikan perhatian pada mereka.
Yong Sik mengandeng tangan Dong Baek untuk pulang, tapi tanganya kembali dilepas melihat banyak bibi didepan jalan. Yong Sik mengeluh Sedang apa mereka semua di sini dan berpikir kalau keluar untuk merokok. Semua bibi sudah mengunakan traning berwarna warni seperti berjaga-jaga.
“Urus saja urusanmu... Kami olahraga untuk turunkan berat.” Kata bibi mulai bergerak-gerak seperti sedang olahraga.


“Mustahil. Jangan berkeliaran berkelompok setelah gelap nanti Orang akan mengeluh.” Kata Yong Sik
“Dongbaek, pastikan saja kau selalu di samping Yong-sik. Paham?” tegas Nyonya Park
“Entah bagaimana, Patroli yang tampaknya tak bermutu ini jelas mengerahkan waktu dan upaya mereka untuk melindungi Dongbaek.” gumam Yong Sik dan menyuruh mereka segera berbubar saja.
“Kalian seperti gangster yang memancing keributan. Berhenti menggosok punggungmu pada tianga, Apa Kau tak lihat itu goyah?” teriak Yong Sik. Tapi semua bibi tetap berjaga-jaga. 


Beberapa bibi membahas Dong Baek, ingin tahu apakah masih hidup.  Salah bibi mengaku Dong Baek selamat dan sudah pergi ke pasar, jadi meminta agar periksa dia siang dan malam. Nyonya Park dan Nyonya Kwak berjalan mendengar pembicaran para bibi.
“Bukannya kami memihak Dongbaek. Kami hanya pikir jaga dia hidup dahulu.” Ucap Nyonya Park menjelaskan.
“Chan-suk, soal rapat dewan bulan ini...” kata Nyonya Kwak.

Di bar sudah banyak bibi berkumpul, Nyonya Park memberitahu untuk sementara, rapat dewan akan diadakan di sini. Dong Baek hanya bisa diam saja melihat semua bibi berkumpul dibarnya.
“Untuk pertama kali sejak dibuka, Camellia penuh dengan wanita.”
“Kau tahu berapa banyak kami makan. Setiap rapat, kami selalu makan banyak kudapan dan minum banyak kopi, jadi, harus berhenti rapat di toko kue beras. Sekarang, kami akan minum kopimu.” Ucap Nyonya Park. Dong Baek hanya bisa terunduk lalu menangis.
“Begitulah dia sepanjang waktu. Dia terus terisak-isak sambil makan tteokbokki kemarin. Kenapa kau terus menangis sambil makan tteokbokki?” ucap Bibi Kim
“Tangis tak kembalikan Hyang-mi. Kau harus lanjutkan hidupmu, jadi, berhenti menangis.” Ucap Bibi Jung.
“Kalau begitu, kalian semua kemari untuk melindungiku?” tanya Dong Baek memastikan.
“Kami orang sibuk, kau tahu. Hentikan omong kosong dan lindungi dirimu sendiri. Naikkan beratmu dahulu. Kau lemah sekali, kau bisa apa?” kata Bibi  Kim mencoba mengelak.
“Lihat caranya memasukkan sweter ke celana. Bagaimana dia terpikir melakukannya?” komentar bibi yang lain.
“ Pengusil mendatangimu karena kau sangat kurus. Kau tak makan banyak, ya? Badan Kurusmu menjengkelkan. Menggemukkannya harus jadi tujuan pertama kita. Kau pelatih yang ditugaskan.” Ucap Bibi Park menunjuk ke arah bibi Jung. Bibi Jung menganguk setuju.
“Kalian tahu, aku akan tinggal di Ongsan hingga 100 tahun.” Ucap Dong Baek menangis haru. Semua mengeluh kalau ini Menyebalkan sekali. Dong Baek bisa tersenyum tapi kembali menangis.
“Jangan lagi... Hei, berhenti menangis. Aku menangis saat yang lain menangis... Hentikan.” Keluh Bibi Jung. Bibi Park menepuk bahu Dong Baek agar berhenti.
“Sekali lagi, apa arti kita bagi Ongsan?” teriak Bibi Park, Semua menjawab “Jantung Ongsan.” 


Di kantor polisi, salah satu polisi berbisik kalau  ada yang mendatangi dan bilang tahu identitas Pengusil dan pernah melihatnya lima tahun lalu. Semua seperti tak percaya dan melihat Nyonya Jo datang ke kantor polisi.  Polisi menunjuk ke arah layar apakah bukan itu wajahnya.
“Tidak, bukan.” Ucap Nyonya Jo yang terlihat sedikit bingung. Salah satu polis lain membertahu rekannya kalau mereka tak bisa sembarang percaya.
“Kita terlalu sibuk melayani klaim palsu seperti ini.” Komentar si Polisi. Nyonya Jo meminta agar Periksa saja toko perkakas Heung-sik.
“Kenapa kau terus mengatakan Heung-sik pelakunya? Apa Kau punya bukti?” tanya Polisi menyindir.
“Aku melihat matanya, bahkan ingat baunya.”ucap Nyonya Jo yakin. Polisi makin mengejek kalau Nyonya Jo memang punya penciuman hebat. Nyonya Joo mengingat sesuatu. 

Flash Back
Nyonya Joo berjalan pulang dan saat itu seseorang mengikutinya, lalu bertanya apa yang dinginkanya dan apa mengikutinya untuk membunuhnya. Heung Sik membuka jaket dan memperlihatkan wajahnya pada Nyonya Jo.
“Tatapanku, bauku, dan tawa kecilku. Aku juga benci itu. Aku... Aku tak melakukannya karena ingin... Kumohon... Jangan lakukan apa pun... Aku akan tanggung semuanya, jadi, sekali ini saja... Kumohon.” Ucap Heung Sik sambil memohon.
Nyonya Jo tiba-tiba langsung jantuh pingsan, Heung Sik pun menolong Nyonya Jo. Akhirnya ambulance datang membawa Nyonya Jo,  perawat memberitahu kalau Jika Nyonay Jo melewatkan cuci darah, maka bisa mati begitu saja di jalanan.
Saat itu Nyonya Jo tersadar melihat Heung Sik yang menemaninya diambulance, lalu memeng erat tanganya. Heung Sik seperti orang baik yang terlahir dari ayah yang jahat.

Polisi ingin tahu apakah Nyonya Jo itu punya bukti. Polisi lain datang memberitahu kalau Nyonya Jo itu demensia. Polisi akhirnya bertanya Apa Heung-sik  melakukan sesuatu yang menyinggungnya. Nyonya Joo mengelubisa lebih payah dibandingkan polisi di polsek.
“Apa ini mirip pria dengan masker?” tanya si polisi menutup dibagian layar. Nyonya Joo menatap sesuatu.
“Coba Lihat? Mereka semua mirip dengan masker.” Komentar polisi lain terus meremehkan Nyonya Jo.
“Semuanya, kita dapat! Jaringan kulit ditemukan di bawah kuku korban. Kita dapat DNA pembunuhnya.” Teriak Tuan Lee masuk ruangan. Semua polisi terlihat bahagia karena bisa cepat pulang, dan tak percaya kalau Pengusil meninggalkan bukti fisik
“Tunggu! Bandingkan dengan DNA Heung-sik lebih dahulu. Kau bisa, 'kan? Detektif, kumohon. Ini membuatku gila.” Ucap Nyonya Jo menahan si polisi sebelum pergi. 


Yong Sik akhirnya membentangkan peta menyakinan semua anggota kalau  Mulai kini, pusat kasus Pengusil adalah di Kepolisian Ongsan. Ia menulisan namanya dipapan HWANG YONG-SIK dengan sangat yakin tak ada yang lebih tertarik dengan kasus ini daripada dirinya.
“Aku sudah mendukungmu.” Kata Tuan Byun, saat itu seorang masuk bertanya pada Tuan Byun.
“Apa Kau sungguh bisa menangkapnya?” kata Nyonya Jo. Yong Sik melonggo melihat Nyonya Jo datang ke kanto polisi
“Aku tak punya tempat tinggal, jadi, aku akan tidur di ruang santai.” Ucap Nyonya Jo
“Nyonya Jo, apa maksudmu kau tak punya tempat tinggal? Yang benar saja. Ayo, kuantar kau pulang.” Ucap Yong Sik akan membawa koper Nyonya Jo keluar.
“Jika kau beri tahu Dongbaek aku di sini, maka aku akan kabur lagi.” Ancam Nyonya Jo. Yong Sik mengeluh dengan calon ibu mertuanya.
“Kau tidak sehat... Dongbaek sangat khawatir...” kata Yong Sik yang langsung disela oleh Nyonya Jo agar urus saja urusannya.
“Idiot itu hanya akan berkata dia akan memberikan ginjalnya. Aku tak akan mudah menerimanya. Kami akan selesaikan masalah kami sendiri, jadi, fokus saja menangkap Pengusil. Karena dia, aku tak bisa tinggalkan kota ini atau mati di tempat lain.” Ucap Nyonya Jo penuh amarah.
Akhirnya Tuan Byun menyuruh anak buahnya agar memberikan kopi pada Nyonya Jo. Nyonya Jo mengaku kalau lebih suka kopi buatan Tuan Byun, akhirnya Tuan Byun bergegas membuatnya. 


Di ruang interogasi, Polisi memberitahu kalau Tuan No  boleh menolak jika mau dan Itu pilihannya. Tuan No masih diam saja, Polisi lalu menjelaskan kalau nanti jika tersiar kabar Tuan No menolak pendeteksi kebohongan dan oran akan menganggapnya apa.
“Bukankah impianmu menjadi gubernur?” kata Polisi. Tuan No akhirnya memutuskan untuk melakukanya.
“Tentu saja. Tak ada alasan menolaknya jika kau tak membunuh Nona Choi.” Kata Polisi. Tuan No memberitahu kalau  Dengan satu syarat.

Di luar kantor polisi, Nyonya Hong terlihat kesal dengan mantan suaminya karean Bahkan orang bertekad kuat akan kesulitan tenang dengan tes itu dan tes Ini bukan untuk orang lemah seperti Tuan No. Tuan No hanya bisa terdiam.
“Kau memang bertemu Hyang-mi hari itu, tapi kau tak sadarkan diri. Kenapa setuju tes pendeteksi kebohongan kalau ini hanya merugikan kasusmu?” ucap Nyonya Hong kesal.
“Ja-yeong... Jika bersalah, aku akan dihukum. Aku mohon ... percaya saja padaku kali ini.” Kata Tuan No dengan tatapan mata yang tulis
“Percaya padamu? Bagaimana aku bisa? Aku tahu kau akan bertindak bodoh.” Ucap Nyonya Hong kesal
“Itu yang kau sukai dariku.” Ungkap Tuan No. Nyonya Hong bingung apa maksudnya.
“Kau suka karena aku membuatmu merasa keibuan dan melindungi. Kau juga di sini sekarang karena tak bisa berpaling dari orang tak berdaya dalam masalah.” Ungkap Tuan No
“Bagaimana aku bisa tak peduli jika kau bisa dipenjara?” keluh Nyonya Hong. Tuan No malah meminta maaf.
“Maaf membuatmu seolah seperti ibu. Aku yakin kau hanya ingin menjadi wanita, tapi aku membuatmu menjadi layaknya seorang ibu, dan aku menyesal.” Ucap Tuan No terlihat sangat tulus.
“Namun, seperti kau mengomeliku dengan cinta, aku membuat masalah untukmu juga karena cinta. Aku ingin kau melihatku sebagai pria. Karena itu, aku menjadi kekanak-kanakan. Maafkan aku... Maafkan aku, Ja-yeong.” Kata Tuan No.
“Apa ini? Jangan katakan... kau sungguh membunuh seseorang.” Ucap Nyonya Hong seperti menahan rasa harunya. 


Di bar, Dong Baek dengan gugup berbicara dengan Nyonya Park kalau  harus menyelesaikan sketsa pelaku Namun, itu butuh beberapa jam. Ia pun tak bisa jadwalkan ulang karena polisi meminta... Nyonya Park langsung menyela kalau Dong Baek memintanya menjaga Pil-gu.
“Namun, aku yakin kau sibuk.” Ucap Dong Baek merasa tak enak hati. Nyonya Park mengeluh kalau bersikap sopan seperti ini membuat Dong Baek lebih sulit dijadikan teman.
“Seluruh lingkungan tahu betapa dekat Pil-gu dan Jun-gi. Lalu kenapa kau tak pernah memintaku menjaga Pil-gu sebelumnya? Kenapa sangat sulit memintanya?” ucap Nyonya Park kesal
“Kalau begitu, apa boleh aku meminta tolong?” tanya Dong Baek ragu-ragu.
“Tentu saja! Dengan begitu aku bisa memintamu menjaga Jun-gi saat pergi dengan teman-teman. Kenapa kau selalu menjaga jarak dengan orang lain?” keluh Nyonya Park. Dong Baek pun bisa tersenyum bahagia.
“Sebaiknya kau ingat ini. Orang hanya bisa dekat saat saling menyulitkan dan minta tolong dari waktu ke waktu.” Tegas Nyonya Park.
“Apa Kau juga bisa pastikan dia makan malam?” tanya Dong Baek khawatir.
“Kami tak hanya akan memberi makan, tapi juga menyeka bokongnya jika perlu.” Ucap Nyonya Park. Dong Baek pun mengucapkan Terima kasih.



Tuan No sudah siap masuk lagi ke RUANG INTEROGASI, Nyonya No mengingatkan Tuan Nok kalau ada diluar ruangan dan akan menunggunya, adji meminta agar tinggalkan ruangan jika keadaan berubah aneh. Ia menegaskan kalau Pengacaranya itu tetap mendukungnya.
Nyonya Hong terlihat gelisah menunggu Tuan No dengan tangan yang terus diremas. Ia mengambil permen karena merasa Gula darahnya mulai turun. Polisi keluar dari ruangan menyuruh Nyonya Hong agar masuk juga.  Nyonya Hong bingunga. Polisi memberitahu kalau ini Permintaan khusus Tuan No.

Flash Back
Tuan No meminta agar memutuskan tiga pertanyaan terakhir. Polisi pun memperbolehkan, karena mereka biasanya setujui pertanyaannya sebelumnya. Tuan No meminta agar panggil pengacaranya saat mengajukan pertanyan terakhir. Polisi terlihat bingung.
“Kau bisa Izinkan atau terus kutolak.” Ucap Tuan No memberikan pilihan. 

Akhirnya Tuan No dalam ruangan interogasi dengan tangan yang dipasang alat pedeteksi kebohongan. Polisi lain akan ajukan tiga pertanyaan yang diminta. Nyonya Hong melihatnya dari ruang kontrol. Polisi bertanya apakh Tuan No dan Choi Hyang-mi berselingkuh
“Tidak.” Jawab Tuan No. Polisi yang melihat grafiknya merasa tak percaya kalau Tuan No memang berkata jujur.
“Apa Kau di dalam kamar motel tempat Choi Hyang-mi menginap?” tanya polisi.
“Tidak... Tak pernah. Tak mungkin... Aku bersumpah demi nyawa orang tuaku.” Ucap Tuan No menatap ke arah kaca karena yakin kalau Nyonya Hong bisa melihatnya.
“Kenapa bersumpah demi nyawa orang tuamu? Katakan ya atau tidak saja.” Komentar polisi melihat Tuan No benar-benar berkata jujur.
“Yang Terakhir... Apa Kau mencintai istrimu?” tanya Polisi. Tuan No menjawab “Ya” dan saat itu grafik menanjak naik tanda Tuan No benar-benar mengatakan dari hati yang terdalam.
“Aku mencintainya dan mengaguminya. Aku hanya mencintaimu.” Ucap Tuan No.
“Dia sungguh mencintainya.” Komentar Polisi dan menyuruh Tuan No pergi saja. Nyonya Hong pun keluar sambil membuang bungkus permen yang belum dimakanya. 

Di papan tulis, tertulis ciri-ciri pelaku “TANGAN KIRI? BATUK? GERAKAN SPONTAN? KEBIASAAN?” lalu kejadian di  PERSIMPANGAN ONGSAN KOTA SALMON MASU ONGSAN saat Hyang Mi terjatuh ditabrak mobil.
“Baiklah, mari gabungkan. Kita menemukan darah pada setir Tuan No. Lalu darahnya milik Hyang-mi. Namun, kita tak seharusnya hanya mengejar Tuan No.” Ucap Tuan Byun
Sementara di Kepolisian Pusat juga mengadakan rapat tentang pengusi memberitahu kalau Nyonya Choi mencoba menelepon Kang Jong-ryeol sebanyak 14 kali, dan dia tak pernah mengangkatnya. Ia pikir mereka pasti juga merasakan hal mencurigakan.
Tuan Byun memperlihatkan buku tabungan milik Hyang Mi  kalau total 30 juta won masuk ke rekening ini setelah Hyang-mi menghilang. Tuan Lee bertanya Apa Jong-ryeol mengirimkannya dan berpikir mereka bisa dapatkan DNA-nya.
“Nama pengirimnya adalah Park Sang-mi, istri Kang Jong-ryeol. Bisa saja soal uang, afair, atau dendam, tapi pasti ada motif.” Kata Polisi
“Maka Pengusil salah satu dari mereka?” tanya Tuan Lee. Polisi mengaku tak tahu. Tuan Lee heran mereka yang tak tahu.
“Kami belum tahu apakah Pengusil membunuh Choi, atau seseorang pura-pura sebagai Pengusil untuk balas dendam. Jadi, kami mulai dari awal...” ucap Polisi yang langsung disela oleh Tuan Lee.
“Jika kalian akan diskusi dari awal, jangan panggil aku kemari.” Tegas Tuan Lee marah. 


Di kamar, Jessica melihat di internet [KATA PALING DICARI: PENGUSIL ONGSAN, ONGSAN] wajahnya langsung panik. Ibunya masuk ke dalam kamar terlihat marah mengangap anaknya itu akan menjadi Pengusil dan mengeluh karena mengiriminya uang
“Namamu kini ada di rekeningnya. Bagaimana jika polisi kemari?” ucap Ibu Jessica marah
“Lalu aku harus bagaimana? Dia berkata akan membongkar semuanya, jadi, aku terpaksa berikan dia 30 juta, juga sebagai kompensasi harga diriku. Aku tak bisa biarkan dia menuntutku untuk tabrak lari, jadi, aku terpikir ini dan...” ucap Jessica panik
“Kenapa kau memikirkan ini? Kenapa? Sang-mi... Sadarlah dan tatap mataku. Kau tak membunuhnya. Kau tak bisa menabrak orang. Kau putriku. Aku akan tahu itu. Aku akan mengurus semuanya, jadi, berhentilah memikirkannya.” Tegas Sang ibu menyakinkan.
“Ibu... Tapi kenapa aku tak boleh berpikir? Kau selalu lakukan semuanya untukku... Karena itu aku menjadi bodoh.” Keluh Jessica kesal.
“Apa kau menyalahkanku?” keluh ibunya dan saat itu ada seseorang yang datang. 


Jong Ryul masuk memberitahu kalau ibunya datang. Jessica bingung kenapa ibu Jong Ryul itu datang.  Jong Ryul mengaku kalau sudah memberi tahu keluarganya. Jessica panik mendengarnya. Ibu Jesica ingin tahu apa yang diberitahu Jong Ryul pada orang tuanya.
“Kau harus berpikir sebelum bicara. Kau tak bisa menarik kata-katamu.” Ucap Bu Jessica memperingatkan.
“Aku dengar kau pergi ke Ongsan.” Kata Jong Ryul. Ibu Jessica pikir  Seharusnya Jong Ryul tak membahas itu lebih dahulu.
“Kami... akan bercerai. Aku sungguh minta maaf.” Ucap Jong Ryul sambil berlutut pada ibu mertuanya.
“Tunggu, kau pikir, kau bisa katakan apa pun semaumu? Maksudku, apa yang kau bicarakan?” ucap Ibu Jessica.
“Kami mengulur pernikahan walau sudah lama berakhir. Ini disesalkan, tapi kami harus...” ucap Jong Ryul dan Ibu Jessica langsung memukul Jong Ryul dan berteriak histeris.
“Berengsek kau. Membusuklah di neraka... Dasar sampah. Jika kau... Jika kau hancurkan hidup anakku, kuhancurkan juga kau dan hidupmu! Aku akan... Aku akan ajukan petisi ke Gedung Biru.” Teriak Ibu Jessica. Jessica pun menahan ibunya agar tak melakukan kekerasan. 



Jessica mengejar Jong Ryul berteriak marah karena akan ke Ongsan lagi. Jong Ryul heran dengan sikap Sang-mi tiba-tiba berubah. Ia mengingatka kalau Sang-mi tak pernah menjadi ibu baginya jadi akan berusaha merawat Ji-seon.
“Kenapa? Apa dia berkata ingin tinggal denganmu?” tanya Jessica marah. Jong Ryul menjawab tidak.
“Tapi Aku harus membawa anak itu denganku. Aku tak ingin meninggalkan Pil-gu di sana lagi.” Ucap Jong Ryul
“Bawa dia pulang. Putramu. Lalu Kukatakan kita mengadopsi keponakanmu.” Kata Jessica.
“Apa yang coba kau lakukan?” keluh Jong Ryul. Jessica pikir akan memindahkan semua barangnya ke rumah pengantin baru mereka
“Kita harus hidup bersama selamanya.” Kata Jessica. Jong Ryul pikir Jessica adalah ibu Ji-seon, jadi, takkan bersikap kekanak-kanakan.
“Kau bisa pergi ke Milan, akan kuturuti semua keinginanmu. Jadi, kau tak perlu pura-pura.” Ucap Jon Ryul
“Aku takkan pergi ke Milan. Kenapa aku lakukan itu untukmu?” ucap Jessica.
“Sang-mi. Kita mungkin tak berpisah baik, tapi jangan serendah itu.” Tegas Jong Ryul
“Aku akan rawat Rebecca saat kita bercerai.” Kata Jessica. Jong Ryul pikir Jessica manfaatkan anak itu untuk bersepakat
“Kau yang bersalah, dan Rebecca milikku.” Tegas Jessica. Jong Ryul terlihat marah dengan ucapan Sang Mi.
“Jong-ryeol, Oppa.... Aku Jessica. Rebecca milikku, juga nama Nyonya Kang Jong-ryeol. Jadi Bawa anak itu.” Kata Jessica. Jong Ryul tak bisa berkata-kata.
Bersambung ke episode 34

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09