PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Senin, 22 Juli 2019

Sinopsis Hotel Del Luna Episode 3 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 



Tuan Kim dkk akhirnya datang ke ruangan Chan Sung, Tuan Kim mengaku kalau Man Wol menyuruh untuk menyapa manajer baru. Chan Sung memastikan kalau mereka semua bekerja di sini, jadi artinya semua hantu.
“Aku meninggal sekitar 500 tahun yang lalu, Dia meninggal 200 tahun yang lalu. Dan dia meninggal 70 tahun yang lalu,Si Bungsu.” Kata Tuan Kim. Chan Sung mengerti karena semua lebih tua darinya lalu bersikap sopan.
“Aku bangsawan yang belajar sangat keras. Sesudah lama belajar, aku lulus ujian PNS dengan skor tertinggi. Tapi, mendadak aku mati tepat sebelum mencapai imipianku.” Cerita Tuan Kim
Flash Back
Tuan Kim dengan baju kebangganya berjalan disekitar rumahnya, lalu menceritakan saa bergentayangan, menemukan Man Weol Inn dan ia yang terlama di hotel ini.
“Katamu kau dulu belajar. Lalu, sedang apa di sini?” tanya Chan Sung binggung.
“Dulu aku sangat cerdas saat menulis puisi. Dan kini, aku seorang bartender.” Jelas Tuan Kim
“Jadi, kau bartender yang mengurus makanan dan minuman.” Kata Chan Sung
“Aku adalah menantu perempuan tertua dari keluarga yang bergengsi. Tapi akhirnya aku... dibunuh oleh keluargaku sendiri.” Cerita Nyonya Choi.
Nyonya Choi terbangun dari tidurnya, dengan pakaian putih seperti sangat pucat. Man Wol melihat Nyonya Choi yang bergentayangan,Nyonya Choi hanya bisa menangis diatas kuburanya.
“Selagi tinggal di sini, aku akan menunggu anggota terakhir dari keluarga yang menjijikan itu mati...” ucap Nyonya Choi marah
“Kau pasti punya dendam yang mendalam.” Komentar Chan Sung. Nyonya Choi memberitahu kalau bertanggung jawab atas kamar.
“Aku meninggal selama Perang Korea.  Dulu aku dipanggil "Man Weol Inn". Saat itu sangatlah sulit.” Cerita Hyun Joong. 
Flash Back
Saat perang terjadi, korea sedang dibom. Beberapa orang mulai berjatuhan. Man Wol terlihat santai menyalakan lampu dengan korek, Hyun Joong datang menatap Man Wol dan Man Wol melihat ada luka tembak yang menembus baju tentaranya,
“Aku menunggu pergi dengan saudara perempuanku yang masih hidup...” akui Hyun Joong
“Kita semua punya cerita panjang untuk diceritakan. Bagiku...” ucap Tuan Kim yang langsung disela oleh Nyonya Choi.
“Karyawan di sini kali pertama datang sebagai pelanggan, tapi sekarang bekerja sambil memperpanjang masa tinggal mereka. Selain dari Ketua, kami bertiga sudah berada di sini sangat lama.” Ucap Nyonya Choi
“Lalu, apa Ketua Jang Man Wool juga, di sini untuk memperpanjang masa tinggal?” tanya Chan Sung
“Tidak... Dia adalah pemilik Hotel Del Luna.” Kata Hyun Joong bangga, Tuan Kim mengeluh Man Wool dianggap sebagai pemilik. 
“Dia diikat di sini atas hukuman dari nenek tua itu.” Ucap Tuan Kim. Chan Sung binggung Man Wool yang diikat.
“Ada pohon besar di taman, tapi...” kata Tuan Kim, Chan Sung kaget kalau mereka punya taman.
“Sepertinya kami meninggalkan meja depan dan bar tanpa pengawasan terlalu lama. Lebih baik kita pergi. Aku tak boleh bermalasan di tempat kerja atau aku akan dikirim ke Alam Baka.” Ucap Nyonya Choi menyela Tuan Kim bicaa.
“Akan kuceritakan kisah panjangku di bar sambil mentraktirmu segelas martini.” Kata Tuan Kim
“Kupikir kau sebaiknya pulang malam ini.” Ucap Nyonya Choi menyuruh keduanya segera pergi.

Chan Sung bertanya Di mana kebun dengan pohon besar, karena tak melihatnya hari ini. Nyonya Choi pikir kalau Man Wol mungkin tak menunjukkannya pada Chan Sung karena tak perlu. Chan Sung bertanya  Apa ada semacam ikatan antara Jang Man Wool dan pohon itu.
“Koo Chan Sung... Berapa lama kau ingin bekerja di sini?” tanya Nyonya Choi
“Sesingkat mungkin karena aku tak datang ke sini disebabkan tak ada pilihan.” Ucap Chan Sung
“Maka, yang terbaik adalah mengakhiri keingintahuanmu. Semakin lama aku di sini, semakin aku tahu, begitu maksudmu kukira. Sekarang Aku akan mengurus tamu yang datang. Yang harus kau lakukan adalah melakukan pekerjaan terkait dengan manusia.” kata Nyonya Choi. Chan Sung menganguk mengerti. 

Chan Sung membuat teh lalu berdiri didepan rumahnya, Sanchez bertanya apakah Chan Sun akan kerja. Chan Sung mengaku baru pulang kerja. Sanchez bertanya Apa Chan Sung ada shift malam. Chan Sung menjawab Tidak.
“Aku harus keluar dari hotel tempatku berada.” Ucap Chan Sung. Shancez ingin tahu alasanya.
“Aku sekarang bekerja di tempat yang berbeda.” Ucap Chan Sung, Sanchez ingin tahu hotel apa.
“Kenapa kau pergi ke tempat lain padahal berada di hotel terbaik Seoul?” ucap Sanchez heran
“Hotel yang memiliki pantai pribadi dan bar langit yang menjulang tinggi. Seperti itu.”kata Chan Sung
“Apa ada hotel seperti itu? Aku ingin pergi ke sana juga.” Kata Sanchez.  Chan Sung langsung melarangnya.
“Jika kau datang,maka kau akan berada di kamar 404.” Ucap Chan Sung. Sanchez ingin tahu Apa yang ada di kamar 404.
“Apa kamar suite?” tanya Sanchez, Chan Sung tak menjawab memilih untuk masuk kamar karena lelah. 


Chan Sung masuk kamarnya lalu melihat sekeliling meyakinkan kalau  Di sini dunia nyata, karena punya tempat tinggal dan teman. Ia lalu mengeluh kalau  Ada banyak tempat lain  yang memintanya untuk bekerja dan ia mencoba minum teh kembali agar Jangan bingung dan tetap tenang dengan pilihanya.
Ia lalu binggung saat melihata ada kelopak bunga dalam jasnya, saat memegangnya kelopak bunga menghilang. Ia pikir Hal aneh sudah mengikutinya ke dunia nyata
Man Wol duduk bersama dengan Cheong Myung dan Yeon Wool yang memainkan musik. Man Wool memberikan minumanya, terlhat gambar bulat dengan garis yang dicoret.  Man Wool memberitahu kalau itu gambar Bulan dan Artinya itu miliknya.
“Man... Wool... Tulisannya begitu, 'kan?” ucap Cheong Myung sengaja mencelupkan tangan ke air lalu menulis diatas batu dengan tangan Man Wool.
“Aku membayarmu kembali atas anggur yang lezat.” Ucap Cheong Myung meminum arak, Man Wool menatap Cheong Myung seperti terkesima. 


Chan Sung terbangun dari mimpinya lalu terbangun karena bunyi ponselnya dan melihat nama [Del Luna]. Ia mengeluh karena Man Wol  dalam mimpinya dan sekarang menelponnya jadi membuat bingung. Akhirnya Chan Sung mengangkat dengan mata tertutup.
“Tak bisakah cepat kau angkat?” kata Man Wool mengomel. Chan Sun bertanya Ada apa.
“Ada pekerjaan pertama untukmu. Aku ingin menjual lukisan Gunung Baekdu.” Kata Man Wool. Chan Sung kaget dan matanya terbuka lebar. 

Mereka pergi melihat lukisan, Man Wol mencerita Arwah makhluk mitos menjadikan energi lukisan ini lebih baik dan akan bisa dapatkan dua kali lipat harganya. Chan Sung bertanya kalau menjual lukisan itu , bagaimana dengan harimau di dalamnya
“Harimau sudah pergi barusan. Jadi Ini adalah lukisan kosong.” Kata Man Wool. Chan Sung kaget mengetahui Harimau sudah pergi.
“Harimau itu hidup di kebun binatang sepanjang hidupnya. Dia bosan tinggal di Gunung Baekdu dalam beberapa hari. Sesudah bersenang-senang dia pergi ke Alam Baka. Aku yakin dia akan terlahir kembali dalam berkat.” Kata Man Wool
“Alasan kau memintaku mendapatkannya untuk dijual, 'kan? Bukan karena kau peduli dengan harimau.” Ejek Chan Sung
“Tentu saja aku peduli dengan harimau itu. Aku bahkan mengenakan ini untuknya.” Kata Man Wool memperlihatkan celana keta dengan motif harimau. Chan Sung mengeluh melihatnya.
“Pastikan kau dapatkan harga yang bagus untuk ini. Kemudian sebagai hadiah, aku akan membelikanmu jas dengan cetakan harimau yang serasi.” Kata Man Wool mengoda.
“Tidak, terima kasih, siapa yang mau memakai pakaian seperti itu?” kata Chan Sung. Man Wool ingin tahu alasannya.
“Kau suka warna cokelat norak. Aku beli mobil baru dengan warna itu, hanya untukmu.” Kata Man Wool. Chan Sung kaget kalau akan mendapatkan mobil baru.
“Pastikan untuk menjual ini hari ini. Aku harus beli mobil baru.” Kata Man Wool. Chan Sung heran Man Wol beli mobil.
“Mobilmu terakhir kali juga baru.” Kata Chan Sung. Man Wool mengaku  bangkrut sekarang karena beli mobil baru.
“Pastikan kau dapatkan harga yang bagus untuk lukisan ini. Dua kali lipat... Ayo ambil mobil baruku...” ucap Man Wool lalu berjalan pergi.
Chan Sung berpikir kalu sudah mulai gila, lalu mengomel sendiri karena penasaran menurutnya  Man Wool hanyalah pemburu uang. Ia tak percaya mencoba mengaum depan lukisan memastikan Harimau memang sudah pergi. 



Di atas jembatan, tubuh Kim Yu Na akan melompat. Arwah Yu Na melihat tubuhnya tak percaya kalau temanya masih ada dan menurutnya temanya sudah mati jadi meminta agar memberikan tubuhnya kembali tapi hanya bisa tembus saja.
“Ya, Ketua, Terima kasih sudah memperkenalkanku... Aku sedang menuju ke galeri sekarang... Sampai jumpa lagi...” ucap Chan Sung berbicara di telp sambil mengemudikan mobilnya.
Tiba-tiba matanya melihat kearah atas jembatan, Arwah Yu Na meminta agar memberikan tubuhnya kembali. Chan Sung kaget tiba-tiba melihat Arwah Yu Na sudah duduk disampingnya, Yu Na diseberang jalan menatap  Chan Sung dengan sinis. 


Arwah Yu Na datang ke hotel Del Luna, Tuan Kim melihat Yu Na berkomentar Sepertinya Chan Seong membawa pelanggan yang sangat menjengkelkan. Hyun Joong pikir Yun Na sepertinya punya masalah karena terus bilang tak mati.
“Ini bukan kali pertama melihat orang mati bilang masih hidup. Mereka selalu bilang mereka hidup dan tak mati atau bertanya kenapa mereka mati. Kami mendengar itu sepanjang waktu.” Kata Tuan Kim santai.
“Ketua akan menanganinya, 'kan?” kata Hyun Joong merasa tak yakin. 

Di ruangan, Man Wool memarahi Chan Sung padahal menyuruhnya  untuk pergi jual lukisan, tapi malah  membawa pelanggan yang tak diinginkan. Ia mengeluh kalau Chan Sung itu layaknya seorang sales. Chan Sun tak terima karena Man Wool bilang menghibur arwah.
“Dia sepertinya punya masalah, kenapa kau tak cari solusi untuknya?” ucap Chan Sung
“Kau bilang melihat dirinya yang lain berkeliaran?” kata Man Wol. Chan Sung ingat Yu Na bilang tubuhnya dicuri.
“Jika benar, kita harus bantu menemukannya. Yang kau bawa adalah roh yang keluar dari orang yang hidup.” Ucap Man Wol
“Jadi, maksudmu dia sekarang berkeliaran tanpa roh?” tanya Chan Sung binggung.
“Kau bilang tubuhnya dicuri. Jadi Tubuhnya diambil alih oleh roh lain.” Jelas Man Wol 

Tubuh Yu Na pergi ke sekolah melihat tempat duduk dirinya setelah meninggal dengan banyak bunga lalu memegang fotonya.  Temanya melihat sikap Yu Na merasa ada yang aneh padahal dia yang paling sering membulinya.
“Mungkin dia merasa bersalah atas semua yang dia lakukan. Dia berpura seolah-olah benar-benar bersedih.” Kata temen-temanya melihat Yu Na.

Chan Sung dan Man Wool pergi ke sebuah rumah yang cukup besar. Man Wool memastikan kalau rumah gadis itu. Chan Sung membenarkan kalau  Yu Na adalah anak semata wayang dari rumah tangga ini. Man Wol pikir Tubuh anak semata wayang mereka diambil alih oleh roh.
“Tentu saja kita harus mendapatkannya kembali.” ucap Man Wol sudah siap masuk rumah.
“Aku bertanya ini untuk memastikan, tapi apa kau akan membuat orang tuanya menerima konsekuensinya?” kata Chan Sung
“Ini bukan sekedar rumah kaya. Itu mobil cokelat yang kudambakan. Kenyataan mereka sudah mengendarainya,padahal aku susah payah memesannya.Artinya mereka punya banyak uang.” Ucap Man Wol.
“Kita perlu mencari tahu kenapa ini terjadi,kan?” ucap Chan Sung, Man Wool tahu kalau itu karena kalung.
“Itu milik teman mati yang mengambil alih tubuh itu. Roh itu tinggal di kalung itu, lalu mengambil alih tubuh.” Kata Man Wol menunjuk kalung yang dipakai oleh Teman Yu Na.
“Sepertinya mereka adalah teman. Kenapa dia melakukan hal seperti itu?” tanya Chan Sung heran.
“Jangan penasaran. Kau bilang kita perlu mendapatkan tubuhnya kembali. Maka hanya itu yang perlu kita lakukan.” Kata Man Wol.
Saat itu tubuh Yu Na datang melihat Man Wool langsung berusaha kabur, Man Wol menyuruh Chan Sung agar mengejarnya.  Chan Sung pun bergegas mengejarnya. 


Tubuh Yu Na sudah ada diatas jembatan, meminta agar Chan Sung melepaskan tanganya karena ingin membunuhnya. Chan Sung menahanya, mengingatkan kalau itu bukan tubuhnya dan lakukan ini kepada teman, Teman Yu Na menegaskan kalau Yu Na bukan teman dan membunuhnya.

Flash Back
Diatas jembatan, Jung Su Jung memakai kalung, Yu Na langsung merampasnya. Su Jung meminta agar mengembalikanya. Yu Na malah mengejek Su Jung yang  hidup dengan bantuan sosial dan ingin membuang-buang uang untuk sesuatu seperti ini.
“Apa kau tak punya harga diri? Uang yang kau dapatkan untuk kau makan sendiri. Inilah yang disebut, buang-buang pajak.” Kata Yu Na. Su Jung meminta agar mengembalikan kalungnya.
“Ambillah jika bisa.” Kata Yu Na sengaja menjauhkan sampai ke tepi jembatan,  Su Jung meminta agar mengembalikan dengan mendorongnya, Yu Na yang terjatuh tak terima langsung mendorong Su Jung dan Su Jung pun terjatuh dari atas jembatan lalu meninggal. 


“Aku tak dapat mengingat apa pun sesudah jatuh dari jembatan. Saat aku sadar, aku menyadari bahwa aku di dalam tubuhnya dengan kalungku di tangannya. Apa kau di sini untuk kembalikan tubuh Yu Na? Dia membunuhku!” kata Su Jung tak terima. Chan Sung hanya bisa diam saja. 

Di rumah
Man Wool menemukan kalung dalam kotak perhiasanya, Yu Na melihat memberitahu Gunakan itu untuk kembalikan tubuhya sekarang.  Man Wol pikir Aura di sini tak hilang dengan mudah. Yu Na meminta agar Man Wol mengatakan saja pada orang tuanya.
“Mereka akan melakukan apa saja untukku” ucap Yu Na Yakin. Man Wool pikir sudah pati mereka akan melakukan karena keduanya yang membuat Yu Na membuatnya.
“Apa yang ingin kau bicarakan dengan kami tentang putri kami?” tanya Ayah Yu Na dingin
“Yu Na membunuh seseorang. Tahukah kau... bahwa teman sekelas Yu Na bunuh diri di jembatan itu? Itu tak sepenuhnya benar, karean Putrimu membunuhnya. Kalung ini adalah buktinya.” Ucap Man Wool
“Apa yang kau inginkan?” tanya Tuan Kim gugup, Man Wool mengaku ingin mendapatkan imbalan. Yu Na yang duduk di dalam ruangan yakin kalau ayahnya akan membantunya. 


Di atas jembatan, Su Jung ingin tahu apa aku salah membunuh Yu Na. Chan Sung mengajak Su Jung agar mencari cara. Su Jung mengeluh cara apa itu menurutnya Tak peduli apa yang dlakukan karena tak bisa hidup kembali. Ia menegaskan dirinya yang masih ingin hidup!
“Bahkan walau mereka memanggilku parasit, aku masih ingin hidup. Jadi Lepaskan aku! Aku tak bisa biarkan dia kembali ke tubuh ini dan hidup seperti tak ada yang terjadi. Jadi Tolong lepaskan aku.ucap Su Jung tak ingin” Chan Sung menahanya. 
“Tunggu sebentar... Aku akan ambil kalung itu. Kau harus hidup di dalam tubuh ini, mengerti?” kata Chan Sung menyakinkan. 

Chan Sung pergi menemui Man Wol yang sudah menunggu didepan rumah bertanya  Di mana kalung itu, karena mereka belum bisa biarkan Yu na kembali ke tubuhnya, dan menurutnya Tak adil untuk gadis itu. Man Wool memberitahu kalau sudah kembalikan kalung itu.
“ Dan Kalung itu Sudah ada di tangan orang tuanya.” Ucap Man Wool. Chan Sung kaget mendengarnya. 

Ayah Yu Na sudah ada didepan kayu kabar memegang kalung, Ibu Yu Na memastikan kalaukalung ini milik gadis yang sudah mati itu,Ayah Yu Na yakin kalau Kata wanita itu, ini satu-satunya bukti.
Flash Back
“Ada dua cara untuk membayar apa yang dia lakukan. Satu, ambil kalung ini sebagai bukti atas membuktikan kesalahan putrimu dan menghukumnya. Kau juga harus meminta maaf kepada arwah temannya. Dua, kau dapat menyimpan rahasia ini dan menyingkirkan kalung ini.” Ucap Man Wol
“Aku akan membayar sebanyak yang kau inginkan... Kumohon... serahkan kepada kami dengan diam.” ucap Ayah Yu Na.
“Jadi, kau sudah buat keputusan. Kau akan membayar sangat mahal.” Kata Man Wol 

Yu Na pikir Semuanya akan kembali normal, Man Wool mengaku Tentu saja karena sesudah kalung itu hilang, tak ada yang akan tahu bahwa Yu an membunuhnya. Yu Na memastikankalau Tak ada yang akan tahu, Man Wool pikir sudah bilang dendam Su Jung sangat kuat.
“Sesudah kalung itu dibakar, kesempatanmu mendapatkan pengampunan darinya juga akan hilang untuk selamanya.” Ucap Man Wol. Yu Na pikir Ini Tak masalah.
“Tidak... Kau tak akan pernah bisa kembali ke tubuhmu.” Kata  Man Wol. Yu Na kaget mendengarnya
“Arwahmu akan benar-benar mati tanpa disadari siapa pun.” Kata Man Wol Yu Na mengumpat kesal.
Di depan kayu bakar, Ayah Yu Na pikir  Yang mati biarlah mati dan Yu Na harus terus memiliki kehidupan yang baik.  Ibu Yu Na pun yakin kalau  seharusnya semua ini tak terjadi, lalu bertanya-tanya apa maksudnya perkataan terakhir wanita itu.
Flash Back
“Kau harus tahu bahwa pilihan yang kau buat akan membunuh arwah putrimu.” Ucap Man Wool.
Yu Na panik melihat kalung mulai dibakar lalu menjerit agar ayah dan ibunya tak melukanya, sampai akhirnya tubuhnya hilang terkabar. Su Jung yang ada di tubuh Yu Na bisa melihat malaikat kematian datang lalu berdiri didepan rumah.
“Kau harus hidup dalam tubuh itu sekarang. Meskipun kau parasit pada tubuh itu. Cobalah yang terbaik untuk hidup lagi.” Pesan Man Wol pada Yu Na. 


Man Wol berkomentar kalau Su Jung itu sudah menjadi parasit sejati. Tapi beruntung mendapati dirinya sebagai orang kaya dan yakin mereka akan manjakan dia tanpa mengetahui putri mereka hanyalah kulitnya, sambil melihat emas batangan.
“Gadis itu akan kesulitan sambil menonton rupanya sendiri, ini Tak boleh.” Kata Chan Sung teringat yang dikatakan Tuan Kim 
“Dia hanya membayar atas apa yang dia perbuat. Dia diikat di sini atas hukuman dari nenek tua itu.” Kata Tuan Kim dan Man Wol yang asik melihat emas batangnya.
“Apa Kau juga membayar atas apa yang kau perbuat? Aku dengar kau dihukum.” Ucap Chan Sung. Man Wol menatap sinis.
“Benar... Seseorang bilang aku sombong dan bodoh. Meskipun aku tak setuju dengan itu.” Kata Man Wool. Chan Sung berkomentar “Oh.”
“Apa itu? Kau baru saja bilang, "Oh"? Apa kau meremehkanku?” kata Man Wol marah. Chan Sung mengaku tidak.
“Terkadang. Tidak, sangat jarang, aku merasa kasihan padamu.” Ucap Chan Sung
Saat itu Man Wool melihat ada pesan yang masuk “Pre-order untuk edisi XJ50 sudah dibatalkan” Man Wool mengumpat marah karena  Mobil yang dipesan dibatalkan, Chan Sung kaget melihat Man Wool yang marah bahkan  mengumpat kesal.
“Situasi macam apa ini? Bagaimana ini mungkin? Apa mereka meremehkanku? Dasar daging mati. Apa Kau anggap aku bodoh? Lupakan. Kirimkan mobilnya , aku yang bertanggung jawab.” Ucap Man Wool marah Chan Sung ketakutan tak bisa melihatnya. 



Hyun Joong memberitahu Saat Man Wool marah,maka  banyak meminum champaign dan Tuan Oh selalu menyiapkannya untuknya. Chan Sung pikir tak tahu posisinya harus melayani alkohol Man Wool. Hyun Joong pikir Chan Sung sangat sial.
“Kau berada di urutan ketiga, tapi akhirnya kau jadi manajer kami. Kami tak tahu kau akan datang juga.” Ucap Hyun Joong
“Apa maksudmu aku di urutan ketiga?” kata Chan Sung marah, Hyun Joon panik karenaMereka bilang untuk tak bicarakan tentang  Chan Sung ada di urutan ketiga.
“Maksudmu aku berada di urutan ketiga untuk pekerjaan?” kata Chan Sung marah. Hyun Joong panik mengaku bukan seperti itu.
“Artinya ada dua lainnya dalam antrean di depanku.” Ucap Chan Sung. Hyun Joong berkomentar kalau Chan Sung yang ada di hotel jadi seagai pemenangnya.
“Ini adalah hal yang tak kusukai.” Keluh Hyun Joong lalu mencari sesuatu dan menemukanya. Chan Sung meliha tanda yang sama yang ada dalam mimpinya lalu bertanya apa itu.
“Tanda ini menunjukkan, ini milik Ketua,  Jika ada tanda ini, berarti milik Ketua.” Jelas Hyun Joong.
Chan Sung ingat di dalam mimpi Man Wool mengartikan tandanya itu “Bulan.. Ini untuk menunjukkan milikku.” 


Nyonya Choi menyiapkan berkas diatas meja, Chan Sung membawakan kotak milik Man Wol lalu bertanya pada Nyonya Choi seperti apa Man Wool saat masih hidup dan Apa maksudnya dia diikat untuk hukuman. Nyonya Choi pikir Chan Sung ituhanya orang yang lewat.
“Seperti orang-orang yang singgah selama bertahun-tahun, pertimbangkan bahwa kau hanya berkunjung sebentar, dan tinggalkan tempat ini secepat mungkin sesuai keinginan.” Ucap Nyonya Choi lalu berjalan pergi.
Chan Sung melihat foto-foto Man Wool dari masa kemasa tanpa ada perubahan sedikit pun lalu bertanya-tanya “Kenapa kau habiskan waktu yang lama seperti ini, lalu melihat gambar tanaman. 

Chan Sung pergi melewati taman lalu menemukan sebuah pohon dan melihat kalau pohon itu Tak berdaun. Man Wool datang dengan wajah sinis bertanya apa yang dilakukan Chan Sung di ruangan itu.  Chan Sung pikir Man Wool tak tunjukan kebun kepadanya jadi memutuskan untuk mampir.
“Para tamu tak boleh datang ke sini, jadi Kau tak perlu lihat ini.” Ucap Man Wool datang membawa wine.
“Apa ini pohon itu? Pohon yang disentuh ayahku dan Alasan kenapa aku dijual ke sini.” Kata Chan Sung. Man Wool membenarkan.
“Kau menerima konsekuensinya juga.” Kata Man Wool. Chan Sung pikir kalau itu ta harus dirinya.
“Kudengar aku yang ketiga dalam daftar... Aku benar-benar berpikir harus diriku. Kau bilang, kau menyukaiku, jadi kubuat keputusan besar untuk datang ke sini. Tapi aku di sini diurutan ketiga.” Kata Chan Sung marah
“Ya, ada 1 dan 2 tempat yang ada di daftar sebelum kau.”akui Man Wool. Chan Sung tak percaya mendengarnya.
“Apa Benar aku diurutan ketiga? Bukan diurutan keempat atau kelima?” kata Chan Sung
“Siapa bilang kau yang ketiga?” ucap Man Wool. Chan Sung tak percaya kalau Ada lebih banyak sebelum dirinya.
“Kau diposisi nol.... Yah memang benar tak harus kau. Karena kau benar-benar bisa membuatku suka.” Ucap Man Wool lalu menawarkan anggur.
“Ini hadiah untuk mengatakan bahwa kau akan mengambil harga yang mahal untuk lukisan Gunung Baekdu.” Ucap Man Wool
“Apa kau pikir harimau melihat apa yang ingin dilihatnya dalam lukisan itu?” tanya Chan Sung
“Dia mungkin pergi tanpa mengeluh karena dia melakukannya. Dia melihat masa lalu seperti mimpi, masa di mana dia tak pernah bisa kembali. Dia pasti sangat menyukainya.” Kata Man Wool
“Aku yakin kau punya sesuatu yang kau lewatkan di masa lalu yang tak dapat kau putar kembali. Sepertinya aku melihat itu. Sudah kubilang aku melihatmu dalam mimpi.” Kata Chan Sung.  Man Wool tak yakin ada dalam mimpi,  Chan Sung menceritakan Man Wool  tersenyum di bawah pohon besar.



“Saat seseorang bilang mereka akan membangun rumah untukmu, Kau bilang sesuatu yang jahat seperti yang kau lakukan sekarang, tapi kau bahagia... Bulan bersinar di atas hutan belantara tempat kau minum, dan dipenuhi dengan suara instrumen, seiring dengan tawamu.” Cerita Man Wool
“Kau penuh dengan sukacita dan kebahagiaan. Kau tak sendirian seperti sekarang. Kau punya seseorang di sisimu. Orang yang mengajari cara menulis namamu, Man Weol. Apa itu orang yang paling kau lewatkan selama kau tinggal di sini?” ucap Chan Sung
“Kau... Kau sungguh... melihat dia.” Kata Man Wool tak percaya kaena selama ini melihat orang itu.
“Kau sudah... menunggu orang itu selama periode waktu yang lama ini, 'kan?” kata Chan Sung
“Kenapa kau melihat sesuatu seperti itu?” kata Man Wool. Chan Sung juga tak tahu kenapa bisa melihat Man Wool dalam mimpinya.
“Aku takut, mungkin harus menerima konsekuensinya. Jang Man Wool. Sesudah mulai melihatmu, aku memikirkanmu... bhakan sangat, sangat sering. Jang Man Wool, kau melahap semua malam dan mimpiku.” Ungkap Chan Sung. Man Wool hanya diam saja.
Bersambung ke episode 4

Cek My Wattpad... Stalking 


      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Sinopsis Hotel Del Luna Episode 3 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 


Man Wol teringat yang ditanyakan Chan Sung padanya Apa kau masih hidup? Atau sudah mati?” Sambil menatap pohon yang ada didepanya bergumam kalau dirinya hanya ada.
“Aku tak hidup< atau pun mati. Aku terjebak. Aku terkurung di zona waktu yang tak akan pernah bisa dikembalikan.” Gumam Man Wol 

Flash Back
Saat zaman penjajahan Lee Mi Ra melihat keluar jendela tandu, berjalan dengan beberapa pengawal dan pelayan. Tiba-tiba datang pasukan seperti ingin menjarah semua milik putri bangsawan. Pertempuran pun terjadi,, Mi Ra ketakutan bersama ibunya dalam tandu.
Yeon Woo mencoba mengambil barang yang dibawa Mi Ra dalam tandu, M i Ra menatap dengan mata memohon tapi Yeon Woo tak peduli langsung merampas barang berharga. Sampai akhirnya Man Wol meniupkan peluitnya, seperti memberikan komando.
Ko Cheong Myung melihat Man Wol yang ada diatas bukit melihat semua anak buahnya yang bertarung. Man Wol melepaskan panahnya, tapi tak mengenai Cheong Myung. Akhirnya Ia mengejar Man Wol ke atas bukit karena berani menyerangnya. 



Cheong Myung penasaran terus mengejar Man Wol, sampai akhirnya menjatuhkan Man Wol dari kudanya. Man Wol sudah jatuh tak berdaya dari atas kuda, Cheong Myung terdiam saat melihat wajah Man Wol karena ternyata seorang wanita.
Man Wol sempat pasrah karena Cheong Myung sudah menangkapnya, tapi akhirnya melihat kesempatan melawan, Cheong Myung pun bisa dilawan karena shock melihat dirinya seorang wanita. Cheong Myung pun naik kuda dengan tangan yang terikat.
“Kau pemimpin komplotan, kan? Kau biang keladinya. Kalian bandit dari Desa Gaori, kan?” ucap Cheong Myung. Man Wol hanya diam saja.

“Artinya kalian pengembara dari Goguryeo. Kau mengerti maksudku, kan?” kata Cheong Myung. Man Wol berteriak kalau Cheong Myung itu berisik.
“Aku juga dari tempat yang sama... Halo, Hyeongje [Saudara laki-laki] Atau "Nui" [Saudara perempuan]?” ejek Cheong Myung. Man Wol pun memilih "Nui" lalu mendorongnya sampai jatuh dari kuda.
“Kenapa kau tak bebaskan aku? Aku hanya prajurit kelas rendah yang ditugaskan mengawal majikanku. Jadi, kau tak akan dapat banyak uang dengan menyanderaku.” Ucap Cheong Myung akhirnya kembali bangun dan memohon.
“Aku tahu cara dapatkan uang.” Kata Man Wol sinis, Cheng Myung melonggo bingung.
“Wanita bangsawan yang tak peduli kehilangan sutranya tampak sangat peduli tentang sesuatu yang lain. Kelihatannya kau tak hanya mengawal perjalanan wanita itu.” Ejek Man Wol bisa melihat wajah Mi Ra yang panik karen Cheong Myung yang berkelahi.
“Aku bicara dengannya beberapa kali agar dia tak bosan dalam perjalanan. Tapi karena aku pria tampan... Sepertinya rasa itu datang padahal aku hanya bicara dengannya.” Kata Cheong Myung seperti ingin menutupi jati dirinya.
“Wajahmu pasti hasilkan banyak uang.” Sindir Man Wol. Cheong Myung memohon agar lepaskan saja.
“Jika tangan dan kakiku bebas,maka aku bisa bujuk dia lebih baik.” Ucap Cheong Myung memohon.
“Jika kupotong lidahmu karena bicarakan omong kosong, akankah harga wajahmu jatuh?” ucap Man Wol mengancam.
“Bisa-bisanya kau bicara menakutkan?” keluh Cheong Myung, Man Wol mengumpat kesal karena kudanya kabur begitu saja.



Man Wol pun berusaha mengejar kudanya yang kabur tiba-tiba pasir dibawahnya mulai bergerak dan menghisapnya, Ia berusaha untuk kabur tapi tubuhnya yang kecil mulai terhisap dikedalam.  Cheong Myung melihat dari tepian, Man Wol meminta agar menariknya.
“Hei... Sedang apa? Apa Kau tak dengar aku?” keluh Man Wol kesal meliha Cheong Myung hanya diam saja.
“Bagaimana kubantu kau selagi kau berbicara?  Jika tangan dan kakiku bebas, maka aku bisa membantumu. Jadi Lemparkan pedangmu.” Kata Cheong Myung.
Man Wol seperti tak ingin memberikan mencoba terus bergerak agar bisa terlepas dari jeratan pasir hisap.
“Jangan bergerak. Jika bergerak, kau akan dihisap lebih cepat. Cepat Lemparkan pedangmu.” Ucap Cheong Myung. Akhirnya Man Wol merelakan pedanya dan Cheong Myung bisa melepaskan tali tapi malah pergi pergi begitu saja.
“Hei.... Kemana... Mau kemana kau? Kembali!” teriak Man Wol marah dan panik. Cheong Myung seolah tak peduli pergi begitu saja.
Beberapa saat kemudian seutas tali terlempar didepan Man Wol, Cheong Myung datang dengan tali yang sudah diikat pada kudanya lalu menyuruh Man Wol agar memegangnya. Man Wol pun memegang tali itu dan Cheong Myung menarik dengan kudanya. 

Akhirnya Man Wol dengan nafas terengah-engah, Cheong Myung mengarahkan pedangnya pada Man Wol kalau sekarang jadi sanderanya. Man Wol menegaskan Harganya  jauh lebih tingg daripada harga wajah prajurit kelas rendah.
“Sebenarnya, aku bukan prajurit kelas rendah. Wanita yang kukawal adalah putri Kastil Yeongju. Dan aku adalah kapten prajurit.” Akui Cheong Myung.

Saat itu Cheong Myung tiba-tiba terjatuh, Man Wol binggung dan melihat Yeon Woo yang datang. Yeon Woo memperlihatkan tanganya yang membawa batu untuk melempar pada Cheong Myung. Man Wol tersenyum karena berhasil lepas dari Cheong Myung dengan memastikan tak sadarkan diri. 


“Apa kau lihat bulan yang muncul hari ini Atau bulan yang muncul seribu tahun yang lalu?” ucap God Ma Go. Man Wol pikir Mereka adalah satu dan sama.
“Bunga-bunga di taman berbunga cerah. Kau pasti merawat tamumu dengan baik di Sanggarloka Del Luna.” Ucap God MaGo datang berdiri disamping Man Wol
“Aku sudah mengubah nama tempat ini. Bukan Sanggarloka. Ini Hotel Del Lun dan Berhentilah memanggilku pengurus. Aku pemilik.” Ucap Man Wl sinis
“Pemilik juga sama saja... Rupanya manusia yang melayanimu sudah pergi. Saat dia meninggal, maka dia akan direinkarnasi kembali.”kata God Ma Go
“Aku juga mati. Kenapa mereka tak membawaku?” keluh Man Wol kesal. God Mago menegaskan kalau Man Wol tak mati.
“Aku bilang kau terikat pada Pohon Bulan, dan aliran hidup dan mati sudah berhenti untukmu.” Ucap God Mago.
“Berapa lama kau akan membuatku terikat?” ucap Man Wol sinis. God Mago menegaskan Man Wol yang tak mengalah.
“Aku mati kering dan layu. Jika kau potong dan membakarnya, aku akan mengerti.” Kata Man Wol menatap ke arah pohon.
“Daun bertunas, serta bunga bermekaran dan gugur. Waktu hidup dan mati akan berjalan sekali lagi. Bukankah kau tak seharusnya meninggalkan sesuatu secantik ini?” kata Man Gado.
“Aku tak punya pernak-pernik seperti itu untuk ditinggalkan. Kenapa kau tak memilih bunga-bunga cerah dan mengirim semua itu ke arwah-arwah yang malang? ” Kata Man Wol sinis lalu berjalan pergi.
“Anak itu masih tak mengerti. Aku tak bisa meninggalkanmu seperti ini selamanya.” Ucap God Ma Go mengulurkan tangan dipohon dan terlihat pohon mengeluarkan bunga.
God Mago datang ke tempat Chan Sung tidur lalu menyelipkan bunga dalam kantungnya lalu menatap dengan senyuman. Chan Sung langsung bermimpi melihat Man Wol dengan senyuman mengarah pada Cheong Myung.  
Chan Sung terbangun dari tidurnya dengan wajah kebingungan, dan melihat Man Wol yang menuruni tanggan. Akhirnya mereka bertemu dibalkon lantai dua. Chan Sung mengucapkan Terima kasih sudah menyelamatkan sebelumnya.
“Kau beruntung. Aku tak akan selamatkan kau jika kenakan sepatu dengan warna lain. Ini jauh lebih baik daripada sepatu warna cokelat norak. Kau menungguku, memakai sepatu yang kupilih untukmu.” Goda Man Wol 

“Aku tak pernah menunggumu.” Kata Chan Sung, Man Wol tak percaya karena Chan Sung yang mengirimkanpesan  dengan dalih harimau itu, dan menunggunya.
“Aku hanya penasaran.” tegas Chan Sung. Man Wol tahu kalau Chan Sung pasti penasaran.
“Karena kau hanya bisa memikirkanku.” Ucap Man Wol makin mengoda. Chan Sung panik berpikir Man Wol sedang memantrainya.
“Apa Itu sebabnya kau buat aku memimpikanmu?” ucap Chan Sung binggung, Man Wol tak percaya kalau Chan Sung memimpikanya.
“Melihat hantu seperti ini sudah merepotkan. Aku tak ingin melihatmu dalam mimpiku juga.” Keluh Chan Sung.
“Kenapa? Apa aku memakanmu dalam mimpi?”goda Man Wol. Chan Sung tak ingin membahasnya dan ingin melupakan saja.
“Aku tak menganggap kau dalam mimpiku. Jika itu kau, maka kau tak akan lakukan itu.” Ucap Chan Sung
“Aku memaafkanmu. Kau sudah dewasa, wajar bermimpi seperti itu.” Ejek Man Wol dengan tatapan mengoda.
“Apa? Bukan mimpi seperti itu!” jerit Chan Sung panik karena tak ingin Man Wol kalau berpikiran aneh.
“Koo Chan Sung, kukira kau lemah... Tapi kau sangat sehat.” Goda Man Wol menatap ke arah bawah. Chan Sung sedikit gugup mengaku sangat sehat.
“Benar, tetaplah sehat. Jika kau pingsan lagi, akan sangat merepotkan bagiku.” Ucap Man Wol
“Bagaimana kau membawaku ke sini? Apa Kau bisa berteleportasi?” tanya Chan Sung. Man Wol mengaku tidak
“Sama seperti kau membawa gerobak, aku membawa sesuatu dan menggunakannya untuk membawamu ke sini.” Kata Man Wol

Flash Back
Man Wol melihat Chan Sung yang tak sadarkan diri, Hyun Joong datang melihat Chan Sung. Man Wol menyuruh Hyun Joong agar masuk sekarang ke tubuh Chan Sung. Hyun Joong menurut masuk ke tubuh Hyun Joong.
“Direktur, aku sudah masuk.” Ucap  Hyun Joong berdiri dengan tubuh Chan Sung. Man Wol menyuruh mereka segera pergi. Hyun Joong pun berlari meminta Man Wol agar menunggunya.
Mereka akhirnya sampai ke hotel, Hyun Joong dengan wajah bahagia memohon. Man Wol menyuruh Hyun Joong segera keluar.
“Sekarang aku ada di tubuh manusia, bolehkah aku keluar dan berpesta sedikit?” kata Hyun Joong memohon.
“Cepat Keluar.” Kata Man Wol. Hyun Joong tetap menegaskan tak mau keluar.
“Keluar!” teriak Man Wol akhirnya menampar Chan Sung, saat itu arwah Hyun Joong pun keluar dan tubuh Chan Sung jatuh diatas sofa.
Hyun Joong melihatnya berpikir kalau Pasti sakit untuk Chan Sung. Man Wol menyuruh Hyun Joong pergi sekarang. Hyun Joong dengan wajah cemberut keluar dari ruangan. 


“Kau hanya perlu tahu, aku memindahkanmu ke sini dengan aman.” Ucap Man Wol. Chan Sung seperti ketakutan tapi menganguk mengerti.
“Apa Kau bisa gerakan kepalamu?”tanya Man Wol melihatnya, Chan Sung menganguk dan ingin tahu memangnya Kenapa.
“Bagus jika baik-baik saja... Ayo. Karena kau di hotelku, aku akan memberimu tur.” Ucap Man Wol. Chan Sung pun memegang lehernya dan terasa sedikit sakit dengan wajah binggung. 

Chan Sung bertanya pada Man Wol,Apa tempat ini benar-benar ada di dunia nyata. Man Wol pikir Seperti yang dikatakan terakhir kali, hotel mereka itu terdaftar secara resmi di Kantor Jung-gu, jadi membayar semua pajak juga.
Beberapa orang lalu lalang di depan Hotel Del Luna dipagi hari tapi seolah tak peduli.
“Kami memang ada di dunia nyata, tapi kehadiran kami sangat kabur, manusia tak memperhatikan kita. Tapi kadang kita bisa dilihat saat cuaca buruk atau jika orang tersebut memiliki indra keenam yang baik.”
Saat hujan turun, sepasang pria dan wanita bisa melihat Hotel, lalu tak tahu kalau ada Hotel Tapi terlihat sedikit menakutkan dan mengajak untuk segera pergi saja.
“Tapi 3 sampai 4 kali setahun, ada orang yang datang untuk memastikan.”
Seorang pria melihat ke arah Hotel Del Luna lalu berani masuk kedalam hotel, sampai didepan lobby dikagetkan dengan Hyun Joong yang tiba-tiba datang. Hyun Joong memberitahu list harga kalau Kamar mereka sangat mahal.
“Bagaimana jika memaksa masuk?” tanya Chan Sung, Si pria akhirnya memilih untuk check-in.
“Kami punya ruangan istimewa hanya untuk orang seperti mereka.” Kata Man Wol
Hyun Joong memberikan kunci kamar nomo 404 dan Nyonya Choi mengantar sampai ke depan kamar lalu mempersilahkan masuk. Si pria yang nekat pun membuka pintu dan hanya bisa melonggo melihat isinya. 


“Ada orang yang sudah masuk ke ruangan ini, tapi belum ada yang memastikan.” Ucap Man Wol menunjuk kamar 404
“Apa yang kau perbuat pada mereka?” tanya Chan Sung, Man Wol bertanya apakah Chan Sung Penasaran dan ingin cari tahu lalu menyuruh membuka pintu saja. Chan Sun ingin membuka pintu dengan wajah ketakutan.
“Ada tempat lain yang bisa kau lihat.” Kata Man Wol. Chan Sung langsun menyetujuinya dengan wajah lega.
“Kalau begitu ayo kita pergi ke sana.” Kata Chan Sung lalu mengikuti Man Wol karena ingin segera pergi dari kamar 404 

Mereka pergi ke lorong lain, didepan sudah ada pelayan yang membawa banyak kacamata. Man Wol memilih kacamata yang cocok untuknya, Chan Sung heran Man Wol perlu pakai kacamata hitam di tengah malam. Mereka sudah ada didepan pintu kolam renang. Chan Sung melonggo melihat ada pantai di hotel.
“Aku tak sering datang ke sini... Matahari terlalu silau.” Ucap Man Wol yang memakai kacamatanya.
“Di Seoul ini tengah malam. Tempat apa ini?” ucap Chan Sung masih saja melonggo.
“Bagian dalam hotel bukanlah dunia nyata. Waktu dan ruang di sini berbeda dari dunia tempatmu tinggal. Peta dan jam tangan sama sekali tak berfungsi.” Jelas Man Wol. Chan Sung hanya bisa melonggo melihat pantai yang ada di dalam hotel

Mereka pergi ke balkon yang bagian atas hotel dengan bulan yang sanga dekat, Chan Sung memastikan kalau ini bukan dunia nyata. Man Wol membenarkan menjelaskan  Segala sesuatu di hotel ini tak ada di dunia nyata.
“Tak peduli betapa cantiknya, tak ada di dunia nyata.” Ucap Man Wol. Chan Sung bertanya Apa itu masalah untuk Man Wol juga. Man Wol membenarkan.
“Maka, aku tak akan mati jika jatuh dari sini?” kata Chan Sung melonggo ke bawah hotel.
“Hati-hati. Kau masih hidup. Jika manusia jatuh dengan tubuh lemah mereka, maka mereka akan menghadapi kematian.” Ucap Man Wol menahan Chan Sung sebelum jatuh.
“Seperti itulah rasanya memiliki tubuh yang hangat dengan detak jantung. Kau harus hidup dan melakukan banyak hal untukku. Tinggalah di sisiku, Ku Chan Sung.” Kata Man Wol memegang dada Chan Sung dengan jantung yang berdetak.
“Jika aku tak mau, apa kau akan mendorongku? Walau tempat yang tak nyata, berilah aku gaji nyata. Dan aku akan memakai sepatu semauku.” Tegas Chan Sung
“Apa kau takut kemungkinanku mendorongmu? Apa Itu sebabnya kau berubah pikiran?” sindir Man Wol
“Aku datang jauh-jauh ke sini. Aku tak berpikir ada lebih banyak alasan untuk kabur. Sejujurnya, aku juga sedikit penasaran Dan terlihat sedikit menarik juga. Aku ingin tahu lebih banyak... tentangmu dan hotel ini.” Akui Chan Sung
“Baik.. Aku akan membiarkanmu bahkan jika kau kabur beberapa kali lagi. Sudah kubilang aku menyukaimu.” Kata Man Wol dengan senyuman.
Chan Sung melihat senyuman Man Wol yang pergi dan teringat dengan senyuman wanita dalam mimpinya, lalu yakin kalau itu pasti Man Wol dalam mimpinya. Saat membalikan badan dikagetkan dengan hantu yang tiba-tiba sudah ada didepanya.
“Bisakah tambahkan kopi lagi?” ucap Hantu, Chan Sung mencoba untuk santai lalu memberikan petunjuk cafe, si hantu pun pergi. Chan Sung mencoba untuk bernafas lega didepan sinar bulan yang terang. 

Sepasang pria dan wanita dalam mobil, si wanita meminta mampir ke toko kelontongdi perjalanan pulang. Si pia mengeluh karena harus putar arah dan mengajak untuk pergi lain kali. Tiba-tiba seorang wanita remaja jatuh dari atas jembatan.
Mereka pun kaget dan menghentikan mobilnya, Kim Yoo Na melihat dari atas jembatan lalu melangkah pergi. Pasangan didalam mobil binggung melihat keadaan si remaja yang terkapar dijalan lalu menelp ambulance.
Petugas berpikir pria itu yang menabrak si remaja, si pria menceritakan pria itu  wanita mendadak jatuh dari atas dan meminta datang dengan cepat. Yoo Na akhirnya melihat temanya dibawa ke dalam ambulance lalu pulang ke rumah.
“Dasar Pecundang sialan... Ini Gila... Ahhh... Aku tak mau tahu!!” ucap Yoo Na melihat kalung ditanganya lalu mencoba untuk berbaring.
Saat itu tiba-tiba ada sesuatu yang menetes, Yoo Na tersadar melihat ada darah yang menetes dan melihat temanya yang ada dilangit-langit kamar, sampai akhirnya Yoo Na keluar dari tubuhnya.
“Siapa kau?” ucap Arwah Yoo Na binggung karena keluar dari tubuhnya.
“ Ini milikku.” Kata Yoo Na dengan jiwa temanya memegang kalungnya, Arwah Yoo Na menjerit ketakutan. 

Man Wol sambil meminum wine memberitahu alau kedatangan manajer hotel baru dan membawanya dari hotel yang tertulis di salah satu hotel terbaik oleh Forbes Jadi menurutnya Chan Sung andal. Tuan Kim tahu dia lulusan Harvard
“Tapi pekerjaan yang kita lakukan di sini tak didasarkan pada pengetahuan. Dia memerlukan nyali dan dia tampak sangat lemah jadi membuatku khawatir.” Ucap Tuan Kim
“Bagaimana kalau kita biarkan posisi itu kosong untuk sementara dan pekerjakan seseorang dari dua kandidat teratas yang ada dalam pikiranmu?” saran Nyonya Choi
“Apa Ada dua kandidat lain selain Ku Chan Sung?” tanya Hyun Joong kaget, Tuan Kim membenarkan.
“Bukankah kandidat teratas tahu bagaimana melakukan pengusiran setan?”ucap Tuan Kim
“Apa gunanya? Dia pergi untuk menangkap hantu yang tak berguna.” Kata Man Wol marah memegang gelas winenya. 

Seorang pendeta mulai berdoa “Aku bertanya atas nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus... Kenapa kau di sini? Siapa namamu?” dan memasang salip diatas seorang pria seperti sedang kerasukan hantu. Man Wol berteriak agar Pendeta berhenti.
“Jangan ikut campur! Aku tak bisa pergi ke sana sebelum menangkap hantu ini. Kau harus kembali. Aku bertanya kepadamu atas nama nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Siapa namamu? Jawab aku! Jawab aku!” teriak Sipendeta.
“Aku lebih takut padanya.” Keluh Man Wol. Si pendeta tetap berdoa agar hantu itu bisa memberitahu namanya. 

“Aku memberinya kemampuan untuk melihat hantu. Tapi dia pergi menangkap hantu lain.” Ucap Man Wol kesal
“Bukankah dia akan kembali begitu dia menangkap hantu itu?” ucap Nyonya Choi
“Tak mungkin. Hantu itu sangat kuat... Park Il Do, berandal.” Ucap Man Wol kesal. Hyun Joong bertanya Siapa kandidat kedua.
“Dia adalah pilot pesawat tempur. Dia pergi jauh-jauh ke Amerika untuk mencarinya. Tapi akhirnya dia menyingkirkan itu.”jelas Tan Kim. Hyun Joon ingin tahu Menyingkirkan apa.
Diluar angkasa
Seorang pria melakuan sesuatu seperti memperbaiki satelit, Man Wol datang melihat Si pria menyuruh untuk pergi tapi malah menendang Man Wol akhirnya terlempar ke bumi. 

“Aku tak butuh dua kandidat teratas. Ada Ku Chan Sung, sudah cukup.” Ucap Man Wol
“Kantornya sudah siap... Manager No tak tahu dia akan pergi dan kantor dibersihkan tadi.” Ucap Nyonya Choi
“Dia bekerja di sini selama 30 tahun, tapi dia tak meninggalkan jejak.” Kata Tuan Kim.
Hyun Joong pikir Tuan No meninggalkan sesuatu dengan menunjuk ke arah foto karena Tuan No yang mengambil foto itu. Tuan Kim pikir Banyak sekali manusia yang bekerja di sini, tapi mereka semua sangat samar baginya.
“Berapa banyak orang di sini termasuk Tuan No?” kata Nyonya Choi. Hyun Joong pikir Man Wol satu-satunya yang tahu itu.
“Mereka semua adalah manusia. Tak ada gunanya menghitung. Kalian Sedang apa? Cepat Kembali bekerja.” Ucap Man Wol sinis. Mereka berjalan dengan tatapan sinis. 
“Dia manusia ke-48 yang bekerja di sini. Dan Ku Chan Seong akan menjadi manusia ke-49 yang bekerja di sini.” Ucap Man Wol bisa melihat Tuan No yang meninggalkan foto sebelum pergi dari hotelnya. 



Di ruangan, Chan Sung terlihat gugup melihat papan namanya sudah ada diatas meja. Ia mengigit jarinya, lalu mencoba untuk menyembunyikan rasa gugupnya merasa bukan dirinya kalau tak boleh menyerah terlalu cepat.
“Kenapa aku melakukannya?” keluh Chan Sung memegang dadanya teringat yang dikatakan Man Wol
“Seperti itulah rasanya memiliki tubuh hangat dengan detak jantung.” Kata Man Wol
“Aku terpengaruh suasana.” Pikir Chan Sung merasa tak ada yang salah dengan dirinya.
**
Bersambung ke part 2

Cek My Wattpad... Stalking 


      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09