PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 23 Mei 2019

Sinopsis My Fellow Citizens Episode 32

PS : All images credit and content copyright : KBS

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Tuan Kim baru saja keluar dari restoran, Sang Jin tiba-tiba datang mengaku Kebetulan sekali. Tua Kim bertanya Ada perlu apa kemari. Sang Jin malah membuka pintu mobil, dan meminta Tuan Kim untuk masuk saja.
Tuan Kim masuk mobil dan Sang Jin ingin masuk ke dalam mobil. Tuan Kim binggung bertanya apa yang dilakukan. Sang Jin mengakujuga harus masuk. Tuan Kim mengaku sibuk tapi Sang Jin tetap memasak masuk ke dalam mobil.
Tuan Kim sedang minum kopi di depan gedung parlemen, Sang Jin tiba-tiba datang dari balik semak.  Tuan Kim bingung melihat Sang Jin bertanya sedang apa. Sang Jin mengaku hanya kebetulan lewat dan langsung duduk mengambil kopi dari tangan Tuan Kim . 
Tuan Kim seperti baru saja dari sauna lalu mandi sambil mengosoknya punggungnya. Sang Jin juga sedang mandi menyapa Tuan Kim, Tun Kim kaget dan lebih kaget lagi saat melihat kebawah. Sang Jin hanya bisa tersenyum seperti bangga.
“Kenapa kau mengikutiku?” keluh Tuan Kim.  Sang Jin mengaku Ini kebetulan dan sudah terlalu lama berendam.


Tuan Kim akhirnya makan direstoran mencocok cabe hijau dengan Gochujang, lalu berteriak kaget karena ukuran cabe sama seperti yang dilihat saat bertemu dengan Sang Jin. Semua rekan kerja Tuan Kim binggung karena tiba-tiba Tuan Kim menjerit.
Tuan Kim mengaku tak apa-apa dan meminta maaf, Sang Jin kembali datang menyapa Tuan Kim mengaku tak percaya kalau selalu bertemu, Tuan Kim pikir ini lucu., Sang Jin pun mengucapkan Selamat menikmati hidangannya lalu duduk di meja lain. Tuan Kim diam-diam menatap Sang Jin seperti bisa menebak maksudnya. 
“Aku Selalu menampakkan wajah, tapi jangan minta dia untuk menemuiku. Berapa lama aku harus mengikuti...” kata Sang Jin bertemu kembali dengan Jung Kook
“Kim Nam Hwa yang akan mendekatimu lebih dahulu. Dia akan mengajakmu minum-minum.” Kata Jung Kook. Sang Jin seperti tak yakin dan tak pecaya kalau Jung Kook berpikiran seperti itu.
“Kau harus mengalahkanku di pemilu tahun depan. Dan Kim Nam Hwa sangat membenciku.” Kata Jung Kook

Tuan Kim sedang makan mengeluh karena sudah bilang jangan pakai kacang pinus. Sang Jin tiba-tiba datang  mengucapakan Selamat menikmati hidangannya dan pamit pergi. Tuan Kim menahan Sang Jin sebelum pergi mengajak mereka untuk minum bersama.
“Dia sangat ingin menyingkirkanku.” Kata Jung Kook yakin kalau Tuan Kim sangat membencinya. 

Sang Jin dan Tuan Kim minum bersama dibar. Sang Jin kaget melihat Tuan Kim menaungkan minuman. Tuan Kim pikir kalau menuangkan terlalu banyak. Sang Jin mengaku tak maslah lalu minum dengan cepat. Tuan Kim meminta maaf karena seharusnya mengajak Sang Jin makan malam setelah pemilu.
“Tidak apa-apa... Aku tahu Anda sibuk.” Ucap Sang Jin. Tuan Kim mengaku kalau salah.
“Dan setelah kau kalah dari Yang Jung Gook, aku juga merasa tidak enak soal itu. Dari mana si Berandal itu datang tiba-tiba? Hei, apa dia benar-benar lulusan Universitas Seoul? Pihakmu pasti langsung menyelidiki latar belakangnya begitu dia masuk dalam persaingan.” Kata Tuan Kim heran
“Siapa yang peduli soal pendidikan? Yang paling penting adalah hasil.” Komentar Sang Jin
“Tidak, pendidikan juga penting... Hanya saja, hasil lebih penting. Selama pemilu tahun depan, aku akan memberimu dukungan penuh. Aku juga akan mencarikan pesohor untukmu. Pastikan kau mengalahkan Yang Jung Gook. Patahkan kedua kakinya agar dia tidak akan bisa bangkit lagi. Mengerti?” ucap Tuan Kim. Sang Jin menganguk mengerti.
“Bagus. Aku suka pandangan matamu.” Puji Tuan Kim lalu kembali mengajak Sang Jin minum. 

“Apa yang harus kutanyakan kepadanya saat minum bersama? "Apa saja hal-hal buruk yang sudah kau lakukan hingga sekarang?" Aku tidak bisa menanyakan hal segamblang itu.” Ucap Sang Jin binggung
“Korupsi apa yang paling umum di kalangan anggota dewan? Apa Menyewa jasa?” ucap Jung Kook.
“Anggota Dewan...” ucap Sang Jin sopan, Tuan Kim meminta agar Jangan panggil begitu tapi Panggil saja Nam Hwa.
“Baik, Nam Hwa.. kira-kira jika Anda diberikan kesempatan menyewa orang...”ucap Sang Jin.  Tuan Kim binggung menyewa apa maksudnya. Sang Jin memberitahu tentang  Menyewa jasa..
“Apa kita sudah cukup akrab untuk bicara soal ini? Kamu tidak membicarakan hal semacam ini di tempat seperti ini di mana banyak orang bisa melihat.” Bisik Tuan Kim. Sang Jin pikir benar juga. 

“Jika dia tidak terpancing, maka... Itu! Itu!” teriak Jung Kook. Sang Jin binggung apa itu maksudnya.
“Anggaran pemerintah kepada anggota dewan!” ucap Jung Kook penuh semangat.
Sang Jin pun bertanya  Bagaimana dengan anggaran pemerintah yang Anda dapatkan, karena Ia mendengar anggota dewan lain menyimpannya dan menggunakannya untuk keperluan pribadi. Tuan Kim heran Kenapa banyak bertanya.
“Jika kau punya waktu memikirkan hal-hal itu, pikirkan cara mengalahkan Yang Jung Gook. Kau kalah dari calon independen. Memangnya kau tidak malu? Jika itu aku, aku pasti terlalu malu untuk makan atau tidur.” Kata Tuan Kim. Sang Jin akhirnya hanya bisa meminta maaf.
“Bagaimana jika aku masih tidak bisa mendapatkan apa pun darinya?  Aku sangat gugup.” Kata Sang Jin
“Jika kau berpikir tidak ada pertanyaan yang akan berhasil, maka menangislah! Mereka pasti akan bicara saat merasa kasihan. Untuk menenangkanmu. Menangislah seperti bayi.” Kata Jung Kook.
“Bagaimana aku bisa mendadak menangis?” tanya Sang Jin binggung


Sang Jin mulai membahas alasan pergi ke gunung setelah kalah pemilu. Tuan Kim seperti baru mengetahuinya, Sang Jin pergi Gunung dan berpikir karena suka disana. Sang Jin mengaku kalau benci gunung Tapi tetap pergi karena ingin menghukum diri sendiri dengan keras.
“Karena aku tidak bisa memaafkan diri sendiri sebab telah kalah dari orang seperti Jung Gook. Itu alasanku pergi.” ucap Sang Jin sambil menangis.
“Hei, ada apa? Di sini ada banyak orang. Apa kau menangis?” kata Tuan Kim panik dan membiarkan Sang Jin menangis dibahunya.
“Aku menangis karena tidak bisa menahan air mata yang menetes.” Kata Sang Jin. Tuan Kim heran melihat Sang Jin menangis
“Kenapa kau menangis? Kamu membuatku merasa bersalah. Semua orang memperhatikan. Berhenti menangis.” Ucap Tuan Kim malu.
“Anda tahu, kupikir Partai Nasional akan mencampakkanku.” Kata Sang Jin yang terus menangis.
“Untuk apa kami mencampakkanmu? Tidak akan. Jangan cemas.” Kata Tuan Kim menenangkan. Sang Jin tetap berpikir kalau pasti dicampakkan.
“Orang yang kalah dari Jung Gook tidak berhak ada di Partai Nasional.” Kata San Jin terus menangis.
“Sang Jin, tatap aku... Kau sangat pantas. Mengerti? Jangan menangis. Sekarang tenanglah. Terlalu banyak orang yang memperhatikan.” Kata Tuan Kim.
Sang Jin meminta maaf. Tuan Kim meminta Sang Jin agar mengecilkan  sedikit suaranya. Sang Jin kembali menangis merasa dirinya yang tak pantas, Tuan Kim panik meminta Berhentilah menangis karena Ada banyak orang dengan menyakinkan kalau sangat pantas.
“Coba pikirkan... Tidak bisakah kau lihat dari cara kami memilihmu, meski kau tidak memiliki pengalaman berpolitik? Jadi Tatap aku dan Jangan menangis.” Tegas Tuan Kim menyakinkan.
“Saat pertama mulai, aku ingin mengalahkan lawan, aku membayar para anggota lain agar bisa menang pemilihan daerah dan maju ke pemilu.” Kata Tuan Kim memberitahu rahasianya.
“Apa Anda membayar para anggota lain?” kata Sang Jin kaget, Tuan Kim membenarkan.
“Kau harus bisa merebut hati anggota partai sendiri dahulu. Itu memberiku awal yang dibutuhkan untuk bisa berdiri.” Ucap Tuan Kim. Sang Jin bertanya Apa itu politik
“Orang dengan dukungan yang banyak di pihaknya akan menang. Kau bisa Coba saja. Kau akan tahu... Itu tidak terlalu mahal.” Jelas Tuan Kim. Sang Jin menganguk mengerti lalu menyeka air mata yang mengalir.  TuanKim berpikir Sang Jin itu sangat lembut.



Sang Jin tersenyum bahagia langsung menelp Jung Kook mengajak bertemu sekarang. Jung Kook seperti tak percaya kalau Tuan kim  membayar para anggota lain. Sang Jin yakin kalau Tuan Kim membayar para anggota lain untuk memanipulasi nomor dukungan.
“Itu bisa menjadi masalah besar. Dan Itu juga melanggar hukum pemilu.” Kata Jung Kook.
“Soal itu, aku bisa mengerti... Apa itu cukup sebagai sebab?” tanya Jung Kook yang mengajak Mi Young ikut denganya. Mi Young pikir cukup. Sang Jin ingin tahu sebab apa yang dimaksud.
“Kami punya semua bukti untuk kasus suap, jadi, tidak bisa menangkap Kim Nam Hwa. Aku akan menggunakan perihal pembayaran itu untuk mendapat izin menggeledah kantornya. Jika kita menemukan bukti dari tindak ilegal yang dia lakukan...” kata Mi Young
“Dia tidak akan bisa menyalahkan manipulasi politik. Lalu dia tidak akan bisa menjadi pemimpin partai. Itu cara kami menangkap para penjahat.” Kata Jung Kook. Sang Jin tersenyum bahagia memberikan acungan jempol. 

Mi Young menaiki tangga masuk ke ruangan Tuan Kim. Berita di TV pun beredar “Divisi Kejahatan Intelektual, Tim Tiga di Kepolisian Seowon yang menyelidiki tuduhan suap Anggota Dewan Kim Nam Hwa jadi akan menggeledah dan menyita barang-barang di kantornya pagi ini.”
Semua anggota masuk ruangan dan meminta semua pegawai diam ditempat, Ass Tuan Kim binggung tiba-tiba semua berkas dibawa masuk ke dalam kardus.
“Anggota Dewan Kim sedang berada dalam penyelidikan polisi sejak kasus suap tahun lalu, tapi ini pertama kalinya kantor dia digeledah. Pelapor menyatakan Anggota Dewan Kim membayar lebih dari 300 anggota partai. Karena itu, polisi memulai penggeledahan di kantornya juga.”
 Mi Young akhirnya menemui bukti dalam ruangan Tuan Kim lalu menelp suaminya kalau Kim Nam Hwa memang sesuai dugaan dengan Membayar anggota partai lain, merekrut korupsi, menyewa korupsi, dan menyalahgunakan anggaran.
“Dia melakukan begitu banyak kejahatan.. Dia dalang kejahatan!” kata Mi Young. Jung Kook membenarkan kalau Tuan Kim itu memang sampah.
“Karena itu kita harus mengusirnya dari Majelis...Lanjutkan kerja bagus kalian... Aku mengandalkanmu.” Ucap Jung Kook. MiYoung menganguk mengerti.
“Baiklah. Mulai sekarang kita akan bekerja lembur. Mari kita bekerja keras lalu beristirahat dengan tenang.” Ucap Mi Young pada Timnya. Jung Kook pun memdapatkan pujian jempol dari timnya. 

Hoo Ja berkomentar kalau Beruntung memiliki koneksi karena Berkat kakaknya yang seorang jaksa, jadi bisa mendapat kunjungan di ruangan seperti ini bahkan memberikan camilan. Min Hee mengaku  sudah dengar garis besarnya.
“Apa yang kau inginkan dari kakak?” kata Min Hee. Hoo Ja meminta agar Kakaknya membiarkan makan lebih dulu
“Bicara sambil makan. Kakak tidak punya waktu.” Keluh Min Hee. Hoo Ja meminta kakaknya agar bisa menatanya.
“Adik Kakak ini memakai baju tahanan dan tinggal di penjara. Kenapa Kakak dingin sekali? "Apa kau sudah makan? Apa kau kedinginan?" Bukankah biasanya orang akan menanyakan hal itu?” kata Hoo Ja
“Kau yang aneh karena berharap Keluarga Park bisa normal. Ada apa? Katakan maumu.” Ucap Min Hee.
“Tolong bebaskan aku dari sini.” Kata Hoo Ja., Mi Hee pikir adiknya itu gila.
“Aku tidak gila, tapi rasanya aku akan menjadi gila. Izinkan aku menjalani sidang sambil menjadi tahanan rumah. Kakak bisa melakukan itu. Suami Kakak cukup berpengaruh Atau kalian berdua begitu?” ucap Hoo Ja
“Kau sama sekali tidak menghormati sistem hukum di negara kita. Adikku sayang... Situasi di Korea sudah tidak seperti itu.” Tegas Min Hee
“Kau bicara soal masa lalu. Jika aku bicara soal masa lalu, maka aku sudah meminta Kakak menutup kasus ini, bukan membebaskanku dari hukuman. Aku akan membayar kesalahanku. Izinkan aku bebas hingga menerima putusan hukuman. Dan aku akan memberikan Kakak setengah sahamku di perusahaan.” Kata Hoo Ja. Min Hee kaget mendengarnya.
“Ya. Tepat 50 persen.. Setengah... Kakak Pertama berlagak sebagai pimpinan sejak aku masuk ke sini. Kita berdua sama-sama tidak menyukai dia. Bebaskan aku untuk sementara, dan mari kita rebut kembali perusahaan. Ini Tidak buruk, bukan?” kata Hoo Ja
“Kakak tidak percaya kepadamu.”komentar Min Hee. Hoo Ja meminta kakaknya harus percaya.
“Meski Korea Utara dan Selatan terus berselisih, jika Jepang menyerang, kita harus bertarung bersama. Percaya kepadaku. Aku juga akan percaya kepada Kakak. Tidak sulit membiarkanku diselidiki dari rumah. Adik kecil Kakak mengalami kesulitan di sini.” Kata Hoo ja memohon 

Tuan Kim minum sendirin, Ketua masuk melihat Tuan Kim dengan tatapan dingin menyuruh Tuan Kim agar Berhenti minum-minum dengan menenangkan kalau Semua akan baik-baik saja. Tuan Kim ingin memberitahu ucapan apa yang paling benci didengar
"Semua akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi apa-apa." Ucapan seperti yang baru kau katakan tadi. Aku harus memperbaiki ini agar bisa diperbaiki, aku harus mengeliminasi masalah agar bisa selesai.” Jelas Tuan Kim. Ketua ingin tahu caranya.
“Apa aku perlu menyelidiki para petinggi di Seowon?” tanya Ketua. Tuan Kim pikir dirinya akan seperti ini karena tidak memiliki banyak koneksi
“Aku memikirkan siapa yang harus kuminta agar semua berjalan dengan mulus tanpa ada masalah. Sudahlah...  Kita lakukan rencana B. Mari gunakan warisan hebat yang diajarkan para senior kita.” Kata Tuan Kim kesal. Tuan kim bingung apa maksudnya.

Mi Young sedang membaca semua berkas, tiba-tiba orang  dari Badan Kepolisian Nasional, Mi Young bertanya ada apa, Mereka mengaku datang untuk mengambil alih kasus dan akan memBawa semua dokumennya. Mi Young berteriak meminta agar menaruh kembali tapi semua sudah masuk ke dalam kardus.
“Ayahnya sahabat istriku adalah Komisaris Polisi. Aku akan meminta di agar kasusku dikirim ke Badan Kepolisian Nasional.” Ucap Tuan Kim menyusun rencana.
Mi Young dkk mencoba menghentikan anggota BPN, Nyonya Kim ingin keluar dari ruangan mencoba menghalangi tapi tak mampu menghalanginya. Bahkan Detektif Lee sampai jatuh berguling.
“Aku akan meminta dia untuk menunda penyelidikan ini. Agar dia bisa mengulur waktu selama mungki hingga rakyat kehilangan minat. Itu yang akan aku lakukan... Begitu orang-orang tidak melihat, mereka akan mulai berhenti memedulikan masalah itu. Itu sudah sewajarnya.” Kata Tuan Kim yakin
“Baik. Katakan kau menghentikan polisi dengan cara itu. Tapi kudengar detektif yang menangani kasus itu adalah istri Yang Jung Gook.” Kata Ketua 
Jung Kook menerima berita dari Mi Young, Ketua Majelis  pikir Jung Kook akan mengadakan jumpa pers atau semacamnya dan bicara soal semua masalah terkait dirimnya.
“Jika dia menggunakan posisinya sebagai anggota dewan untuk menekan, Kepolisian tidak punya pilihan. Mereka harus menyelidikinya dengan menyeluruh.” Kata Ketau
“Tidak, dia tidak bisa mengadakan jumpa pers. Dia tahu siapa yang terlibat, jadi, tidak bisa... Dia tidak akan bisa.” Kata Tuan Kim yakin. 


Jung Kook menelp Wang Goo meminta agar mengdakan jumpa pers besok pagi ini soal Anggota Dewan Kim Nam Hwa menurutnya Mereka akan tertarik, jadi, hubungi reporter sebanyak mungkin... saat itu Tuan Kim masuk ruangan. Jung Kook meminta agar segera Lanjutkan sesuai rencana lalu menutup telpnya.
“Ada apa?” tanya Jung Kook sinis. Tuan Kim mengaku hanya kebetulan lewat.
“Apa Kau akan mengadakan jumpa pers besok? Aku tidak bermaksud menguping. Tapi Suaramu yang terlalu keras. Aku bisa mendengar semuanya. Apa Kau mengadakan jumpa pers untuk menjebakku karena regulasi suku bunga itu?” kata Tuan Kim
“Jika besok kau mengadakan jumpa pers, bukan hanya aku yang akan tersakiti.” Tegas Tuan Kim. Jung Kook tak mengerti maksudnya.
“Apa aku juga akan tersakiti?” kata Jung Kook merasa tak ada yang tersakiti
“Tidak. Kenapa kau tersakiti? Kau tidak akan tersakiti. Tapi seseorang yang memercayai dan mengikutimu. Aku akan memberitahumu sesuatu yang lucu. Tidak ada orang di dunia ini yang melakukan kejahatan sendiri. Apa kau tahu adat bangsa kita? Berbagi.” Jelas Tuan Kim
“Jika aku makan, aku membaginya dengan dia. Jika dia makan, dia membaginya denganku. Dunia politik juga bekerja dengan cara yang sama. Itu Sama persis. Menyewa korupsi? Mengalirkan anggaran? Apa Kau pikir aku melakukan semua itu sendiri? Sama sekali tidak.” Ungkap Tuan Kim
“Anggota Dewan Yang... Aku menghargai tradisi dan adat... Mengerti?” tegas Tuan Kim. Jung Kook hanya bisa diam saja. 


Jung Kook bertemu dengan Joo Myung direstoran. Joo Myung mengaku  sudah dengar dari Kim Nam Hwa dan mengaku sungguh menyesal karenatidak tahu bajingan itu memiliki bukti untuk melawannya,  Ia mengeluh karena Tuan Kim yang tidak jatuh sendiri saja.
“Apa yang terjadi? Korupsi apa yang telah kamu lakukan?” tanya Jung Kook.
“Tidak banyak... Hanya... Saat Nam Hwa memberikan pekerjaan kepada banyak orang, aku mengikutsertakan putraku. Aku berbohong dengan bilang punya lebih banyak pekerja dan menggelapkan sedikit upah mereka. Aku mengambil sebagian uang dari anggaran pemerintah untuk membelikan istriku mantel bulu.” Cerita Joo Myung.
“Kenapa kau mengambil sebanyak itu? Kau orang jahat.” Kata Jung Kook. Joo Myung meminta Jung Kook agar menjaga mulutnya.
“Seharusnya kau memberitahuku kalau kau menjalin hubungan kotor seperti itu dengan dia. Jika tahu, aku akan mencari jalan lain.” Keluh Jung Kook. Joo Myung mengaku juga tidak tahu.
“Aku juga tidak tahu bajingan itu memiliki semua dokumenku!” tegas Joo Myung
“Apa ketidaktahuan memperbaiki segalanya? Lihat kekacauan ini. Semua orang bekerja keras untuk bisa sampai ke sini, tapi semua hancur karenamu.” Keluh Jung Kook
“Maaf. Aku sangat menyesal. Lalu? Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan mengadakan jumpa pers itu?” tanya Joo Myung, Jung Kook terlihat kesal  
“Apa Kim Nam Hwa menyuruhmu menghentikanku? Dia pasti berpikir aku tidak bisa melakukannya jika kau terlibat, tapi dia telah salah menilaiku. Aku akan mengadakan jumpa pers besok.” Kata Jung Kook. Joo Myung berteriak marah.
“Jika aku mengabaikan itu demi kau, aku tidak bisa menjalani politik yang aku inginkan. Politik yang bermanfaat. Kau harus dengan sukarela membayar kejahatan yang telah kau perbuat.” Tegas Jung Kook lalu pamit pergi.
“Hei... Kau tidak bisa begitu. Jika aku tersakiti, Apa kau pikir kau bisa selamat? Kamu seorang penipu. Jika aku terseret ke publik...” ucap Joo Myung mengancam.
“Silakan saja! Beri tahu semua orang, "Yang Jung Gook adalah seorang penipu." Jika itu membuatku takut... Jika aku takut orang-orang tahu, aku tidak akan hidup seperti ini. Jika kau ingin menghentikanku, hubungi polisi. Aku akan hidup seperti ini hingga hari mereka memasangkan borgol di tanganku.” Tegas Jung Kook tak takut.
Joo Myung menahan Jung Kook, Tapi Jung Kook meminta agar Joo Myung melepaskan, lalu melangkah pergi. Joo Myung kebingungan akhirnya menelp seseorang seperti meminta bantuan. 




Joo Myung pergi menemui Tuan Kim di ruanganya, Tuan Kim mengartikan Jung Gook bilang dia akan tetap mengadakan jumpa pers meski itu berarti Joo Myung ditahan. Joo Myung membenarkan lalu mengeluh Anak itu menyerang dengan kuat.
“Ini tidak bagus... Seharusnya dia menawarkan untuk membatalkannya. Aku membimbing anak bodoh itu menjadi anggota dewan. Dasar tidak tahu terima kasih.” Kata Joo Myung marah
“Tenanglah.” Pinta Tuan Kim, Joo Myung pikir tak mungkin bisa tenang menurutnya kalau semua ini salah Tuan Kim.
“Kenapa kau harus menyimpan bukti tentang diriku? Dasar Sial.” Kata Joo Myung kesal. Tuan Kim meminta agar  Berhenti marah-marah.
“Kalau begitu aku tidak bisa bicara. Melihat situasi saat ini, aku ingin kau turun tangan. Bagaimana? Kudengar kau tahu setiap rahasia kotor Jung Gook. Kita bisa bertemu lebih dahulu dengan para reporter sebelum jumpa persnya berlangsung, dan membeberkan semua keburukan dia. Bagaimana menurutmu?” ucap Tuan Kim membuat rencana.
“Apa Kau memintaku membunuh Jung Gook?” kata Joo Myung, Tuan Kim menegaskan kalau Joo Myung harus melakukan itu.
“Dengan begitu, aku dan kau bisa hidup. Bagaimana jika dia mengadakan jumpa pers dan memberi tahu polisi untuk segera menyelidiki itu? Kau Mau bagaimana? Aku memiliki kekebalan, jadi, tidak akan masuk penjara. Tapi kau akan langsung ditahan.” Kata Tuan Kim menyakinkan.
“Aku tidak minta banyak. Mari kita serang kelemahan dia. Jika kita menyerang lebih dahulu, tidak akan ada ucapan dia di jumpa pers nanti yang akan berpengaruh. Ayo kita wujudkan itu.” Kata Tuan Kim 



Joo Myung terlihat sangat frustasi mencoba menghentikan taksi tapi tak ada yang mau berhenti. Ia mengumpat kesal akhirnya duduk di pinggir jalan melihat Blue House terlihat frustasi dan teringat yang dikatakan Tuan Kim
“Kau harus menyelesaikan ini dengan baik dan kembali menggeluti politik. Kau seharusnya mengabdi sampai periode kelima dan keenam. Bagaimanapun kamu seorang anggota dewan.” Ucap Tuan Kim
Joo Myung akhirnya menelp Tuan Kim meminta agar Hubungi para reporter besok. Tuan Kim terlihat bahagia karena Joo Myung setuju dengan rencananya. Joo Myung frustasi mengeluh karena bisa sampai seperti ini. 

Jung Kook naik mobil seperti sudah siap untuk memberikan pernyataan pers yang terjadi antara Tuan Kim dan juga Joo Myung. Tuan Kim sudah menunggu Joo Myung yang datang ke ruangannya memberitahu  ada sekitar 15 orang reporter lalu memastikan kalau punya sumbernya. Joo Myung mengeluh kalau Tuan Kim yang tidak percaya kepadanya.  
“Ayolah, sebenarnya, kita tidak saling percaya.” Kata Tuan Kim. Joo Myung meminta Kali ini percayalah kepadanya.
“Itu satu-satunya jalan agar kita berdua bisa hidup.” Tegas Joo Myung lalu masuk ke ruangan "Anggota Dewan Kim Nam Hwa"
Joo Myung masuk ruangan dengan disambut banyak reporter lalu meminta mereka kembali duduk. Tuan Kim bertanya apakah mereka semua sudah hadir. Semua mengangguk, Tuan Kim bertanya lagi apakah mereka sudah siap. Semua menganguk siap. Tuan Kim pun akan Ya.mulai sekarang.
“Apa Anda akan mengumumkan perihal Anggota Dewan Yang Jung Gook?” kata wartawan.
“Seperti yang kalian semua ketahui, aku sangat dekat dengan Anggota Dewan Yang Jung Gook. Karena itu, aku sangat merasa tidak nyaman berada di sini sekarang. Tapi aku tetap datang kemari karena kalian semua harus tahu kebenaran soal dirinya yang aku ketahui.” Ucap Joo Myung
Jung Kook sudah siap berjalan masuk ke ruangan  "Jumpa Pers" menatap wartawan yang sudah menunggu, lalu hanya terdiam berhenti melangkah. Seung Yi dkk binggung karena Jung Kook hanya diam saja.
“Semua yang akan aku beri tahu kepada kalian seluruhnya, adalah kebenaran. Itu hal yang aku ketahui. Harap mengingat hal itu.” Kata Joo Myung. Tuan Kim meminta Langsung ke intinya saja.
“Ini harus menjadi tajuk berita.” Kata Tuan Kim. Joo Myung mengerti akan langsung pada intinya.
“Tidak satu pun dari kalian tahu bahwa Anggota Dewan Yang Jung Gook sebenarnya...” kata Joo Myung lalu melihat ponselnya berdering dan pamit untuk mengangkat sebentar. Tuan Kim pun mempersilahkan dan meminta wartawan menunggu. 
“Kenapa kamu menelepon? Bagaimana dengan jumpa persmu?”tanya Joo Myung sinis.
“Aku tidak bisa melakukannya. Aku akan menjalankan politik bermanfaat itu lain kali saja. Jika aku lakukan sekarang, maka kau akan tersakiti. Aku tidak bisa membiarkan itu. Kau sudah merawat penipu ini dan mendidiknya menjadi seorang anggota dewan. Aku tidak bisa memasukkanmu ke penjara.” Kata Jung Kook dengan menahan tangisnya.
“Kita bicara lagi nanti.” ucap Joo Myung seperti tak percaya mendengarnya. 



Tuan Kim bertanya telp dari siapa, dan berpikir kalau itu  Dari istrinya, Joo Myung hanya diam saja. Tuan Kim kembali meminta agar Joo Myung memberikan wartawansesuatu sebagai tajuk berita jadi harus menarik perhatian mereka.
“Aku akan memberi kalian sesuatu sebagai tajuk berita. Jadi, tolong fokus dan catat ini. Anggota Dewan Kim Nam Hwa serta aku adalah manusia tercela. Selama 12 tahun kami di Majelis, menerima suap, nepotisme, dan memberikan bantuan yang menguntungkan.” Akui Joo Myung
“Hei... Apa yang kau lakukan?” ucap Tuan Kim panik. Joo Myung menyuruh Tuan Kim Diam.
“Seperti katamu, aku tidak ingin masuk penjara sendirian. Biar aku selesaikan. Dan Masih ada lagi. Anggaran pemerintah untuk anggota dewan. Kami selalu mengantonginya.” Akui Joo Myung. Tuan Kim makin panik. dan mencoba menutup mulut Joo Myung
“Lepaskan. Dan juga, beberapa tahun lalu, kami mendapat pekerjaan di departemen pemasaran sebuah perusahaan besar untuk putra dan keponakanku. Atau itu keponakanmu? Ah... Itu keponakan dia. Kami memberikan pekerjaan untuk mereka. Tapi putraku tidak sabar, jadi, tahun lalu dia keluar.” Akui Joo Myung. Tuan Kim terus berusaha menutupi mulut Joo Myung.
“Tapi keponakan Anggota Dewan Kim masih bekerja di sana. Sepertinya terjadi sebuah kesalahpahaman.” Kata Joo Myung, Wartawan terus mencatat , Tuan Kim terus menutup mulut Joo Myung agar tak banyak bicara.
“Baik. Aku mengerti. Akan kulakukan dengan benar. Jangan cemas. Itu semua tidak penting.” Ucap Joo Myung akhirnya berhasil terlepas dari tangan Tuan Kim.
“Aku akan memberi tahu kalian hal yang penting. Semua dokumen Anggota Dewan Kim Nam Hwa sudah disita dari kantornya. Aku memohon kepada para detektif yang mengambil dokumen itu untuk menyelidiki kejahatan secara adil dan menyeluruh, tanpa menyerah kepada tekanan dari pihak luar. Aku mohon kepada kalian untuk menyelidiki secara menyeluruh.” Kata Joo Myung
“Hei, jangan menjadi aib dan bersembunyi di balik kekebalan atas penahanan dan hak-hak istimewa lainnya, Dasar bajingan. Anggota dewan harus dihukum sesuai dengan kejahatan mereka! Bukankah itu hal terhormat yang bisa dilakukan bagi rakyat bangsa kita?” ucap Joo Myung mengebu-gebu.
Tuan Kim mendorong Joo Myung dan meminta wartawan tak mencatat ucapan Joo Myung. Wartawan malah ingin tahu Di mana tepatnya an meminta agar menjelaskan. Tuan Kim mencoba mencari alasan Joo Myung itu sedang  linglung.


Min Hee berjalan didepan penjara, memberitahu kalu K sudah membuat perintah penahanannya ditarik. Hoo Ja yang tinggal disel sendiri seperti sudah siap keluar penjara karena bantuan kakaknya dan akan membalas dendam.
Bersambung ke episode 33

Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Sinopsis My Fellow Citizens Episode 31

PS : All images credit and content copyright : KBS

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

“Anggota Dewan, aku telah menyingkirkan Hoo Ja. Aku ingin mencoba berpolitik dengan benar. Sekarang aku tidak perlu  mencemaskan siapa pun lagi. Hoo Ja sudah tidak ada. Aku akan menjalankan politik yang ingin kujalankan, politik yang bermanfaat.” Ucap Jung Kook
“Kau akan membantuku, kan? Ada sesuatu yang harus dilakukan sekarang.” Kata Jung Kook yakin menatap berkas "Undang-undang Pengaturan Suku Bunga"

Joo Myung tak percaya kalau Jung Kook ingin menghentikan mereka dari mencabut undang-undang itu padahal  Hoo Ja yang mengusulkan itu dan Itu alasan Hoo Ja menempatkannya sebagai anggota dewan, tapi Jung Kook ingin menghentikan...
“Siapa yang tahu kapan dia akan bebas? Masa hukumannya masih belum dikonfirmasi.” Kata Joo Myung  khawatir.
“Ya, tapi sekarang dia tidak ada di sini. Kita harus menangani ini selagi dia tidak ada.”ucap Jung Kook
“Mereka sudah mendiskusikan ini. Bagaimana kamu menghentikannya?” tanya Joo Myung
“Itu sebabnya aku butuh bantuanmu.” Ucap Jung Kook. Joo Man pikir Jung Kook sudah gila karena tak ada alasan harus membantunya.
“Tidak, aku tidak akan melakukan ini.” Tegas Joo Man, Jung Kook menjelaskan kalau Pengaturan suku bunga melindungi mereka dengan finansial lemah terperangkap dalam jerat.
“Tujuan regulasi untuk melindungi orang berfinansial lemah dengan melarang pengambilan keuntungan berlebih. Itu tidak melarang pemberian suku bunga...” ucap Jung Kook yang langsung disela oleh Joo Man.
“Hei... Apa kau paham dengan ucapanmu? Jangan asal mengulang ucapan yang pernah kau dengar... Beri tahu aku pendapatmu. Kenapa kau ingin menghentikan pencabutan Undang-undang Pengaturan Suku Bunga?” kata Joo Mon
“Jika regulasi ini dicabut orang-orang yang sudah kesulitan akan makin sulit. Seorang anggota dewan tidak boleh melakukan itu.” Tegas Jung Kook
“Kau sudah banyak berubah sejak kali pertama kita bertemu. Apa kau menyadari hal itu?” komentar Joo Man
“Aku harus berubah. Aku rasa posisiku mengubah diriku.” Ucap Jung Kook bangga. Joo Myung  mengeluh kalau itu hanya omong kosong.
“Menurutku, kau menemukan posisi yang tepat. Jadi, bagaimana aku bisa membantu? Cukup berikan aku tiga hal.” Kata Joo Myung
“Koneksimu... Intelijen Dan strategi.” Ucap Jung Kook. Seung Yi menyusun name tag  "Mendukung, Menentang, Netral"
“Kita akan bertaruh dengan ketiga hal itu. Apa lagi yang bisa dilakukan bersama oleh profesional seperti kita?” tegas Jung Kook. Joo Myung berkomentar gerakan Jung Kook cepat juga lalu saling bersulang. 



Netral" lalu meminta agar mereka perhatikan ini baik-baik. Ia menjelaskan Dari 300 anggota dewan, ada 147 orang yang mendukung pencabutan undang-undang ini.
“Mereka semua berasal dari Parta Nasional. Sebanyak 140 orang dari Partai Minjin menentang. Lalu ada 13 orang dari pihak Partai Gonsojong dan Partai Sojang. Mereka netral. “ jelas Joo Man
“Tapi mereka hanya sekadar menyatakannya. Meski mereka menentang diadakannya rapat umum, kemungkinan besar itu akan lolos. Jadi, kita harus memastikan 14 orang dari mereka sama sekali tidak bisa menghadiri rapat agar tidak ada kuorum... Apa Kau mengerti?” kata Joo Man
“Ya, tentu saja... Apa yang pertama harus kulakukan?” tanya Jung Kook
“Pertama, kita dekati mereka. Kau harus dekat untuk bisa bicara dengan mereka. Pertama, kita incar wanita ini.” Ucap Joo Man memilih satu nama 


Jung Kook bermain tenis meja melihat seorang wanita tua yang terlihat gesit bermain juga. Seung Yi kesal dengan Jung Kook yang sengaja membuang bola jauh-jauh. Jung Kook menatap si nenek yang berdiri sampingnya teringat yang dikatakan Joo Myung.
“Byun Jae Jung, menjabat empat periode bersama Gyehyuk. Jika mendapatkan dia, suara tiga anggota Gyehyuk lain milik kita.”
Seung Yi akhirnya dengan sengaja melempar bola ke arah Nyonya Byun, Jung Kook langsung mendekat meminta maaf, lalu berpura-pura kalau didepanya itu adalah Anggota Dewan Byun Jae Jung. Nyonya Byun menganguk. Jung Kook berkata kalau itu memang kebetulan.
“Apa kau suka tenis meja? Senang berjumpa denganmu. Aku Anggota Dewan Yang Jung Gook dari Seowon... Kalau tidak keberatan, mau main bersama? Bagaimana?” kata Jung Kook. Nyonya Byun pun setuju.
“Dia sangat kompetitif. Dia hidup dengan perasaan itu. Jadi, jangan meremehkan dia. Lakukan yang terbaik. Kalian bisa minum-minum setelah kau menang dan bicara soal regulasi ini. Misalnya, "Bukankah disayangkan jika itu dicabut?"” saran Joo Myung
“Tapi usianya sudah 70-an. Aku tidak bisa melakukan itu Aku tidak bisa melakukan itu.” Kata Jung Kook 
Nyonya Byun yang terlihat sudah tua tapi masih gesit untuk berolaraha. Jung Kook sempat kaget lalu mengaku terkesan karena Nyonya Byun itu sangat hebat dalam tenis meja. Nyonya Byun bermain satu ronde lagi dan Jung Kook bisa mengalahkanya.
“Pak Yang, kita sudahi saja.” Kata Nyonya Byun yang mulai kelelahan. Jung Kook mengeluh karena baru satu pertandingan. Akhirnya Nyonya Byun kembali bermain tapi langsung jatuh.
“Berdiri! Ayoo.. Berdiri! Kita harus bertanding satu kali lagi!” kata Jung Kook melihat Nyonya Byun tak terlihat
“Ada yang salah” ucap Seung Yi melihat Nyonya Byun tergeletak di lantai. Jung Kook pun mendekat menyadarkan Nyonya Byun lalu meminta agar memanggil ambulance. 
“Dia menderita angina. Dia akan dirawat di rumah sakit selama satu bulan.” Kata Joo Myung. Jung Kook hanya bisa tertunduk meminta maaf.
“Tidak apa-apa... Kau tidak tahu, maka kau melakukan itu. Jangan dipikirkan. Jangan cemas... Sekarang Baiklah. Kita incar dia.” Ucap Joo Myung mengambil nama yang lainya. 



Seorang pria sedang minum-minum bersama dengan rekan kerjanya, Charles dan Jung Kook duduk tak jauh dari keduanya. Joo Myung memberitahu kalau target mereka kali ini Pria yang sangat suka minum-minum
“Jadi, kau minum sebentar bersamanya lalu memberi tanggapan di saat yang tepat. Dan katakan kita butuh regulasi ini.” Ucap Joo Myung . Akhirnya Jung Kook mulai minum.
“Menurut pandanganku, suku bunga...” ucap Jung Kook mulai bicara tapi Pria itu mengajak untuk minum dulu dan bisa bicara nanti. Jung Kook pun menurut.
“Akan kuulangi... Suku bunga...” kata Jung Kook kembali minum, tapi Si pria tetap menyuruh Jung Kook kembali minum bahkan meminta agar menghabiskan satu gelas penuh soju.
Jung Kook dan Charles tak tahan lagi akhirnya mulai mabuk, mengajak anggota dewan untuk bermain “Es krim terbaik. 44.” Dengan gaya imut. Anggota dewan terlihat kesal melihatnya, Jung Kook tetap meminta agar bermain dan melihat si pria itu sudah kalah. Akhirnya Anggota dewan yang kesal pun memilih untuk pergi. 


Jung Kook merasa bersalah karena banyak minum, Joo Myung pikir tak perlu dibahas lagi karena ini bukan salah Jung Kook tapi utu pengaruh alkohol, lalu memilih nama lain yaitu  Jang Doo Bong dari Partai Changjo.
Wang Go menjatuhkan makan tak percaya kalau Tuan Jang sedang melakukan demo sendirian "Mogok Makan Jang Doo Bong, Perbaiki Undang-undang Pemilu" Joo Myung memilih Kang Mi Ja dari Partai Kebahagiaan kalau akan membujuk dia.
“Anggota Dewan Kang?” kata Jung Kook melihat seseorang, Tuan Kang membalikan badan. Jung Kook menjatuhkan hadiahnya yang berisi sepatu heels seperti salah mengira.
“Cho Sung Chan...Kim Mi Ok... Cha Min Joon... Baek Gil Soo... Cho Sung Jin... Min Byung Soo.” Ucap Joo Myung berganti dan semua yang Jung Kook temui diruangan tak mau menerimanya.
“Baek Chang Jin... Dia harapan terakhir kita... Tidak ada yang lain lagi.” Kata Joo Myung. 


Jung Kook bicara dalam sebuah rapat, membahas Senjata nuklir ilegal adalah masalah serius dalam perkembangan industri permainan. Ia juga mengaku pernah diserang nuklir jadi Itu hal yang paling menghina dan menyebalkan.
“Nuklir harus dieliminasi... Tentu. Para bajingan yang menggunakan nuklir adalah penjahat paling keji.” Ucap Jung Kook lalu terdiam melihat sepanduk yang baru saja di pasang kalau ada di forum "Denuklirisasi Semenanjung Korea"

Jung Kook mengumpat kesal pada dirinya dan semua orang akhirnya keluar dari ruangan. Jung Kook mengeluh karena harus menyinggung masalah nuklir, Tuan Baek mendekat mengaku suka tanggapan Jung Kook karean Baik mengenai Semenanjung Korea atau permainan, mereka pasti ingin nuklir dihapuskan.
“Maaf... Aku mendapat informasi yang salah mengenai seminar ini.” Kata Jung Kook
“Undang-undang Pengaturan Suku Bunga. Maksudmu tentang itu, kan?” ucap Tuan Baek. Jung Kook membenarkan tapi binggung karena Tuan Baek bisa tahu.
“Kami tahu kecenderunganmu mengenai hal itu. Tentu, kita sepakat dalam beberapa sudut, tapi aku tidak akan seperti yang kau harapkan.” Kata Tuan Baek
“Kenapa Anda berpikir seperti itu?” tanya Jung Kook. Tuan Baek memberitahu Partai Gongsojang memiliki terlalu banyak RUU yang terhubung dengan RUU Partai Nasional
“jadi, kau tidak bisa membujuk mereka. Para anggota dewan dari partai kami... Kau tahu pemilu akan diadakan tahun depan.” Ucap Tuan Baek. Jung Kook bertanya Ada apa dengan itu.
“Kabar telah tersebar bahwa Kim Nam Hwa akan menjadi pemimpin partai yang baru. Apa kau tidak dengar? Pokoknya, pemimpin partai berikutnya akan mengusulkan untuk mencabutnya. Mengerti? Bagaimana mungkin kami menentang? Itu namanya mencari masalah. Kamu setuju, kan?” jelas Tuan Baek.
“Tunggu. Anggota Dewan Kim Nam Hwa akan menjadi pemimpin partai?  Apa? Dia sedang diselidiki oleh polisi karena menerima suap. Bagaimana dia bisa... Aku tidak mengerti...” kata Jung Kook binggung.
“Anggota Dewan Yang.... Kau tidak perlu tahu... Kau ini naif. Apa yang paling membuat seorang politikus menderita? Manipulasi politik. Lalu apa alasan yang paling sering digunakan politikus...” tegas Tuan Baek. 
 Tuan Kim berjalan dikeberobungi oleh reporter, mengaku kalau itu adalah manipulasi politik. Semua wartawan mengikuti Tuan Kim sampai ke depan ruangan, Tuan Kim meminta wartawan aga memikirkan lagi kalau dirinya tak  mungkin seorang politikus menerima suap dari seorang lintah darat?
“Apa itu masuk akal? Aku tertawa saat mendengar itu. Itu Lucu, bukan? “ ucap Tuan Kim
“Polisi bahkan memiliki catatan transaksi dari bukti penerimaan suap itu. Apa ada tanggapan mengenai hal itu?” tanya wartawan.
“Dengar... Aku baru saja mengatakannya. Ini semua sudah direncanakan. Ini manipulasi politik. Sekarang, pikirkanlah... kalian Berhenti memotret.. Jangan difoto... Coba pikirkan... Sejujurnya... Jika aku menerima suap, untuk apa aku menyimpanny di rekening bank sendiri?” ucap Tuan Kim
“Itu bukan tabungan. Baiklah... Aku sudah menjelaskan situasiku dengan jelas. Terima kasih.” Tegas Tuan Kim dan masuk ke dalam ruangan, wartawan terus mencoba mencari informasi sampai akhirnya ass Tuan Kim mendorong keluar. 

Tuan Kim yang marah menjatuhkan semua barang diatas meja.  Gwi Nam menelp Tuan Kim ingin tahu cara Tuan Kim membebaskan Pimpinan Park dan tidak mengatakan apa pun. Tuan Kim yang kesal memberitahu kalau nyaris dipenjara.
“Bisa-bisanya kau memintaku untuk membebaskan Pemimpin... Dasar lugu.” Ucap Tuan Kim marah. Gwi Nam tak bisa menahan emosinya.
“Kau bilang "Hei, kamu." Apa? Aku sampaikan ini untuk kali terakhir. Aku akan menangani regulasi suku bunga sesuai perjanjian, jadi, jangan pernah menghubungiku lagi. Aku akan mengganti nomorku. Jika kamu menghubungi lagi, maka aku akan melumatkanmu. Paham? Selamat tinggal.” Tegas Tuan Kim
“Hei, Kim Nam Hwa!” teriak Gwi Nam marah dan kaget melihat Jin Hee tiba-tiba datang ke ruangan. 

“Apa Kau tidak menyapa Kakakmu?” sindir Jin Hee. Gwi Nam bertanya alasan kakaknya datang.
“Apa lagi tujuan kakak ke kantor? Kakak datang untuk bekerja... Lalu Kenapa ini masih ada di sini? Sudah kusuruh untuk menyingkirkannya.” Kata Jin Hee ingin membuang papan nama  "Park Hoo Ja"
Gwi Nam menahanya, Jin Hee memperingatkan adiknya agar melepaskan tanganya.  Gwi Nam tetap menahanya, Jin Hee marah menyuruh adiknya melepaskan dan akhirnya menampar adiknya, Gwi Nam ketakutan menutupi wajahnya.
“Hoo Ja...Dia masih belum diberi hukuman, jadi, tolong...” ucap Gwi Nam, dan Jin Hee kembali memberikan tamparan pada sang adik.
“Sejak kapan adik kecil kita ini berhenti mendengarkan Kakaknya?” ucap Jin Hee terus memukul adiknya sampai jatuh tersungkir.
“Hei... Adik kecil... Kita akan segera mengadakan rapat pemegang saham. Kakak akan menjabat sebagai pimpinan. Kami sudah memutuskan itu. Jadi, tolong dengarkan ucapan Kakakmu. Mengerti? Adik kecilku sayang.” Ucap Jin Hee duduk dikursi Hoo Ja. Gwi Nam melirik sinis pada sang kakak dengan wajah yang terluka. 



Gwi Nam menemui Hoo Ja di penjara. Hoo Ja mengetahui kalau para tetua itu berpihak pada Kakak Pertama. Gwi Nam memberitahu kalau melihat mereka sudah menjadwalkan rapat dan menyiapkan agenda, Jin Hee sudah memanipulasi para tua bangka itu dan menanti waktu yang tepat untuk mengusir Hoo Ja.
“Makin tua, kau harus lebih pendiam dan lebih banyak mentraktir. Tapi kenapa kita tidak mengenal orang yang seperti itu? Mereka banyak bicara dan sama sekali tidak ingin memberi bantuan. Lalu? Apa yang dilakukan Jung Gook belakangan ini?” tanya Hoo Ja.
“Sepertinya dia berupaya untuk mencegah pencabutan. Tapi usaha itu sia-sia.” Kata Gwi Nam, Hoo Ja menganguk mengerti.
“Saat terkurung di sini, aku memiliki banyak waktu untuk berpikir. Jadi, aku banyak "berpikir", dan sangat yakin sudah mengosongkan seluruh brankasku.” Ucap Hoo Ja mengingat lagi. 


 Flash Back
Hoo Ja mengeluarkan semua berkas meminta adiknya agar  Hancurkan setelah menyalin di komputer. Tapi saat Mi Young datang ada berkas lain di dalam brangkas yang membuatnya masuk ke penjara.
“Kenapa ada tumpukan kertas konyol di dalam sana? Aku berulang kali memikirkan itu.” Ucap Hoo Ja.
Jin Hee datang ke kantro adiknya meminta agar menemuinya di Lobby, dan Hoo Ja merasa sudah memikirkan itu kalau hanya ada satu jawaban setelah bertemu kakaknya, Jung Kook masih ada didalam ruanganya dengan alasan masih belum selesai bicara tentang Mi Young. 
“Apa Maksudmu... Jung Gook dan Kakak Pertama bekerja sama?” kata Gwi Nam
“Kemungkinan besar itu yang terjadi... Tidak, aku yakin itu... Sudah kukatakan, aku banyak berpikir... Di sini hanya bisa makan, buang air, dan berpikir. Bahkan aku memikirkan cinta pertama masa kecilku.” Akui Hoo Ja
“Sekarang kita harus bagaimana?” tanya Gwi Nam pikir mereka harus menjatuhkan Jung Gook dan...
“Tidak. Terlalu berbahaya jika kamu bergerak sendiri. Mari kita hubungi Kakak Ketiga.” Kata Hoo Ja. Gwi Nam kaget memastikan kalau itu adalah  Mi Hee.
“Hanya dia yang bisa memperbaiki ini.” Ucap Hoo Ja yakin, Gwi Nam pikir Min Hee tak akan membantu mereka dengan cuma-Cuma.
“Tentu dia tidak akan membantu dengan cuma-cuma. Dia tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan. Kita belum menemui kakak kita yang menikahi pria kaya, Minta dia untuk berkunjung. Aku sendiri yang akan membuat kesepakatan dengannya.”ucap Hoo Ja
“Aku tidak suka harus bertemu dengannya. Aku tidak tahan bertemu dengannya. Dia hanya satu tahun lebih tua dariku.” Kata Hoo Ja mengumpat kesal 

Jung Kook  membahas Jika mereka mendapatkan Kim Nam Hwa, maka mereka bisa mencegah pengambilan suara RUU untuk mencabut regulasi suku bunga. Joo Myung memberitahu kalau Pemimpin partai adalah raja dan membahas kalau Kasus suap Hoo Ja tidak banyak berpengaruh.
“Berdasarkan informasi anggota dewan lainnya, dia akan terus mengelak dan mengulur waktu hingga pemilihan umum tahun depan. Saat itu, jika dia terpilih sebagai pemimpin partai, kasus itu mungkin sudah mati.” Tegas Jung Kook
“Sudah ada yang menggunakan cara seperti ini di masa lalu. Berulang kali menyangkal dan mengulur waktu. Sungguh sangat menyedihkan.” Komentar Jung Kook menyindir dan semua orang menatap Joo Myung.
“Apa? Ada apa? Kenapa kalian menatapku? Kenapa tatapanmu seperti itu? Itu caramu menatap Paman!.” Kata Joo Myung pada Wang Goo.Wang Go mengaku kalau ini bukan tatapan hormat
“Jadi, bagaimana rencanamu untuk menjatuhkan Kim Nam Hwa?” tanya Joo Myung
“Aku berharap kita bisa menangkap dia berdasarkan kejahatannya, tapi kita tidak mampu melakukan itu.” Jelas Jung Kook
“Kenapa tidak minta bantuan Mi Jin? Sudah lama kita tidak bertemu dengannya.” Kata Wang Goo dengan penuh semangat, Seung Yi tak setuju.
“Kita menggunakan pesan phishing untuk mengambil data dari ponselnya. Memangnya itu kejahatan? Itu hanya sebuah kecurigaan. Kita yang melakukan kejahatan. Meretas, menyebarluaskan informasi pribadi, dan lain-lain.” Jelas Jung Kook
“Kita butuh bukti langsung dan membawanya ke jalur resmi. Jika menemukan bukti, kita bisa memberikan itu kepada istrimu.” Kata Joo Myung
“Detektif Kejahatan Intelektual tetap saja polisi. Kita bisa pikirkan soal itu saat punya bukti. Bagaimana mendapatkan bukti melawan Kim Nam Hwa? Aku tidak bisa menemukan caranya.” Kata Jung Kook
“Kenapa tidak? Kita bisa tanyakan langsung. Biar kutanyakan.” Kata Joo Myung
“Dia tidak akan memberitahumu. Kalian bahkan tidak akrab.” Komentar Jung Kook.
Joo Myung yakin karena sudah lama menjadi anggota dewan jadi Kedudukannya paling tinggi di Partai Nasional. Ia pikir Jung Kook tak perlu cemas karena akan membuat nyaman hingga Tuan Kim mau bicara. Jung Kook pun mempercayainya. 




“Nam Hwa, mari minum. Para ajudan juga...” ucap Joo Myung mulai minum, tapi Tuan Kim duduk dimeja lainya, seperti Joo Myung sudah disingkirkan.
Jung Kook mengetahui kalau Joo Myung yang tidak menjawab teleponnya. Charles memberitahu ponsel Joo Myung yang mati.  Jung Kook pun berpikir tak perlu memikirkan lagi karena akan membawa seseorang. Seung Yi bertanya siapa orangnya, apakah Orang yang dekat dengannya.
“Hanya seseorang yang cukup dekat, tapi tidak terlalu dekat. Seseorang yang membuat merasa nyaman tapi tidak juga.” Kata Jung Kook. 

Di sebuah rumah yang terlihat seperti gubug sederhana, Sang Jin memasak dengan kayu bakar seperti kembali ke masa jaman dulu. Jung Kook melihat dari kejauhan seperti kasihan tapi seperti senang melihat Sang Jin yang terlihat santai.
Jung Kook duduk menunggu sempat mengerutkan dahi melihat Sang Jin yang memiliki alat pembuat kopi otomatis sementara yang lainya masih bersifat manual. Sang Jin memberikan kopi untuk adik iparnya. Jung Kook pikir  Sang Jin pasti merasa mesin pembuat kopi dan semua yang dipunya ini tidak cocok.
“Rumah ini sangat alami... Aku bukan orang yang pemilih, tapi menjadi pemilih soal kopi.” Kata Sang Jin lalu melonggo medengar ucapan Jung Kook.
“Apa Kau ingin aku menggali hal buruk Nam Hwa?” kata Sang Jin, Jung Kook membenarkan dan memohon.
“Kenapa orang yang berada di partai yang sama melakukan itu? Tidak, aku tidak bisa.” Kata Sang Jin menolak
“Kamu harus melakukan itu karena dia ada dalam partaimu. Memang kau tidak muak dengan budaya politik kita? Mereka membutuhkan nominasi untuk pemilihan berikutnya, jadi, apa pun keputusan partai, mereka harus setuju” kata Jung Kook
“Jika pemimpin partai memilih ini, mereka harus mengikuti. Jika memilih sisi satunya, mereka bergegas ke sana. Itu bukan melayani rakyat. Itu melayani partai.” Tegas Jung Kook
“Meski akan terjadi, aku tidak bisa.” Kata Sang Jin menolak. Jung Kok kembali mengulang yang dikatakan Sang Jin sebelumnya.
“Hukuman paling berat dari menjauhi politik adalah kau harus bekerja seumur hidupmu. Aku banyak berpikir saat menggeluti politik selama beberapa bulan ini. Hukuman paling berat dari menjauhi politik adalah kau harus hidup dengan cara yang sama selama sisa hidupmu.” Ucap Jung Kook
“Para pemilih yang memilihmu hidup seperti itu, dan anggota dewan yang terpilih harus hidup seperti itu. Kecewa, frustrasi, sedih, tanpa mencoba berubah. Cara yang sama persis. Itu cara hidup mereka, tersakiti setiap empat tahun.”jelas Jung Kook
"Seperti itulah politik." Bersembunyi di balik ucapan itu dan tidak mencoba berubah? Itu yang dilakukan para profesional. Orang-orang baru seperti kita seharusnya berbeda. Mari bersikap seperti orang naif yang bodoh dan penggal kepala orang-orang jahat serta menciptakan dewan yang sungguh peduli kepada rakyat.” Jelas Jung Kook.
 Akhirnya Jung Kook dan Sang Jin pergi ke Seoul, Jung Kook bertanya sudah berapa kali bertemu dengan Kim Nam Hwa. Sang Jin mengaku baru bertemu secara resmi satu kali. JungKook kaget dan mengartikan  harus menemuinya lagi.
“Ayo kita ke kantornya!” ucap Jung Kook. Sang Jin kaget akan pergi sekarang dan akan mengatakan apa nanti. 



Sang Jin tiba-tiba masuk ruangan menanyakan kabar Tuan Kim, Tuan Kim kaget dan binggung bertanya alasan datang. Sang Jin mengaku hanya kebetulan lewat. Tuan Kim dengan gugup mengaku senang sambil berjabat tangan bertanya apakah ingin teh. Sang Jin pun tak menolaknya. 

“Apa kau sungguh pergi setelah minum teh? Kau ini kenapa? Seharusnya kau bicara.” Keluh Jung Kook bertemu dengan Sang Jin
“Dia hanya bilang minum teh. Aku bisa apa lagi?” ucap Sang Jin yang tak bisa berpura-pura.
“Itu sekadar ucapan. Jika ada yang menyuruh "kerja keras" apa kau akan melakukannya? Kenapa kau lugu sekali?... Yang benar saja. Sering-seringlah temui dia mulai sekarang... Sampai kalian menjadi akrab.” Kata Jung Kook melangkah pergi
“Bagaimana kami bisa akrab?” tanya Sang Jin bingung berteriak pada Jung Kook tapi Jung Kook tetap pergi.
**
Bersambung ke episode 31
Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09