Sabtu, 03 Desember 2016

Sinopsis Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 6 Part 2

PS : All images credit and content copyright :MBC

Bok Joo dkk sudah menyisakan tulang ayam dipiring, Nan Hee memuji Ayahnya Bok Joo membuat makanan enak dan memang ahlinya karena dibumbui dengan sempurna. Sun Ok pikir mereka bisa makan sebanyak yang mereka  mau dengan dukungan orang sekitarnya, menurutnya  Mengangkat besi tidak terlalu buruk.
“ Itu benar. Para pesenam itu makan seperti burung setiap hari untuk menurunkan berat badan.” Kata Nan Hee lalu Sun Ok melihat Bok Joo seperti tak nafsu makan. Nan Hee memberikan pizza untuk Bok Joo juga karena tahu sangat menyukainya.
“Kau bilang berharap ayam memiliki empat kaki.” Kata Nan Hee tahu Bok Joo suka ayam bagian paha.
“Aku hanya sudah bosan dengan ayam.Aku sebentar lagi akan menghapus sup ayam bukannya air mata.” Kata Bok Joo.
“Sebenarnya aku sudah kenyang. Kita semua mungkin akan bisa menaikkan kelas berat.” Kata Sun Ok
“Jangan lemah begitu. Kita, orang yang senang makan, selalu memiliki... teman kita, minuman bersoda. Tolong kami, minuman bersoda!” kata Nan Hee seperti sedang berada direstoran, Sun Ok melihat masih memiliki beberapa koin dan akan membelikan untuk mereka semua dari mesin. 


Bok Joo melihat ada pesan baru dari ponselnya, Nan Hee mulai menasehati temanya agar Jangan mencoba terlalu keras karena Berat badanny akan turun. Bok Joo seperti sudah terlihat sangat muak dengan makanan. Nan Hee melihat ponsel Bok Joo akan membantu membacakanya.
“"Nn. Kim Bok Joo, sesi Anda akan dimulai jam 4:30 sore besok. Klinik Berat Badan J." Sesimu dimulai jam 4:30 di Klinik Berat Badan...” ucap Nan Hee lalu binggung karena Bok Joo malah pergi ke klinik berat badan.

Bok Joo langsung menarik temanya pergi ke tempat cuci baju untuk menjelaskanya, Nan Hee ingin tahu alasan Bk Joo pergi ke klinik berat badan padahal harus menaikkan kelas beratnya dan bertanya-tanya  Apa yang sebenarnya di lakukan akhir-akhir ini.
Nan Hee sudah ada dibalik semak-semak, melihat Jae Yi baru pulang berkerja akan masuk mobilnya, lalu bertanya apakah Bok Joo menyukai pria itu dan bukan Joon Hyung. Bok Joo membenarkan dengan wajah ketakutan. Nan Hee menanyakan kalau Jae Yi adalah kakaknya Joon Hyung. Bok Joo membenarkan.
“Kau ingin... melihatnya terus, jadi kau mendaftar di klinik itu dan membayar banyak uang. Kau berbohong pada kami, terus datang kesana, dan mengangkat karung beras untuk Joon Hyung supaya dia menjaga rahasiamu. Apa begitu maksudmu?” ucap Nan Hee sinis, Bok Joo membenarkan.

“Dasar Kau gadis gila!” umpat Nan Hee, Bok Joo tahu dirinya  memang sudah gila.
“Tidak ada orang waras yang akan melakukan ini. Aku mencoba semampuku agar tidak melakukan ini, tapi dia selalu muncul di kepalaku. Aku mulai berhalusinasi. Aku benar-benar tidak bisa menghentikannya. Aku hanya ingin melihat wajahnya dan Hanya itu yang kuinginkan.” Cerita Bok Joo, Nan Hee bisa mengerti.
“Maksudku dia jauh leih baik dari Joon Hyung. Dia sangat keren. “ ungkap Nan Hee yang tak menahan senyuman bahagianya, Bok Joo tersenyum karena Nan Hee juga melihat Jae Yi itu tampan. 

“Dia lucu.. Selain itu, dia juga seorang dokter. Dasar.. Kau sangat licik. Kau bertingkah seakan-akan tidak tertarik pada pria sama sekali. Kau memiliki selera pria yang bagus. Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa bertemu? Itu tidak seperti di film, kan... ketika dia berbagi payungnya pada saat hujan, kan?” ucap Nan Hee penuh semangat
Bok Joo mengingat saat pertama kali bertemu, Jae Yi datang memberikan payungnya saat membawa meja rias. Lalu mengaku pada Nan Hee kalau Jae Yi melakukan sebelumnya. Nan Hee melonggo tak percaya mendengarnya, kalau Jae Yi benar-benar melakukan itu?
“Dia membuat jantungku berbebar. Dia hebat dan tampan, kan?” kata Bok Joo bangga
“Aku juga ingin punya seseorang seperti dia.” Ungkap Nan Hee. Bok Joo menegaskan Jae Yi itu miliknya. Nan Hee mengaku sangat iri.

Si Ho pergi ke lemari esnya dan melihat sebuah toples bertuliskan   [Si Ho, ini ekstrak jahe. Makanlah kalau kau terkena flu. Ibu.]. Joon Hyung dikamarnya dengan menutupi tubuhnya dengan selimut sambil menonton pertandingan renang, seperti flunya masih berada.  Tae Kwon datang langsung memarahinya agar Joon Hyung istirahat.
“Kau memiliki pertandingan besok, dan masih sakit. Kau harus menghemat tenagamu.” Kata Tae Kwon, Joon Hyung merasa masih  harus menonton ini.
“Menonton itu tidak akan membantumu, Istirahatlah dan Mimpi indah.” Kata Tae Kwon mendorong Joon Hyung ke atas tempat tidurnya. 
“Berhenti mengomeliku, Kau bukan ibuku.” Kata Joon Hyung kesal, Tae Kwon membalas agar Joon Hyung Berhenti protes dan tidur. Saat itu pesan masuk ke dalam ponselnya “Ini aku, Si Ho. Bisakah kau datang tanpa memberitahu Joon Hyung?” 

Tae Kwon datang dengan menemui Si Ho yang sudah menunggu didepan asrama. Si Ho meminta maaf karena tiba-tiba menghubunginya dan pasti sangat terkejut lalu memberikan termos yang dibawanya. Tae Kwon binggung apa yang dibawa Si Ho
“Ini teh jahe. Joon Hyung memiliki pertandingan besok.Jika aku yang memberikannya, maka dia tidak akan meminumnya.” Kata Si Ho 

Tae Kwon menungkan segelas teh untuk Joong Hyung mengaku sebagai ketulusan cinta untuk temanya. Joon Hyung bertanya apakah ini teh jahe. Tae Kwon tak ingin Joon Hyung banyak tanya lebih baik meminumnya saja. Joon Hyung mengaku rasanya enak dan  merasa lebih baik sekarang.
“Benarkah? Senang mendengarnya. Makanya, anak bodoh...Kau seharusnya tidak bertingkah dingin.” Ucap Tae Kwon, Joon Hyung melirik binggung.
“Maksudmu adalah tubuhmu dan hatimu dingin. Mungkin karena itulah kau terkena flu. Itulah yang ingin kukatakan.” Kata Tae Kwon panik langsung keluar kamar karena ingin ke kamar mandi. Joon Hyung heran dengan perkataan temanya yang aneh. 

Bok Joo duduk di dalam toilet berbicara sendiri “Apa kau tahu betapa sexy suaranya? Suaranya tidak terlalu tinggi  ataupun teralu rendah. Itu terdengar sangat manis. Itu pasti sebagus suara pangeran yang didengar Sleeping Beauty ketika dia terbangun dari tidurnya.” Ternyata ada Nan Hee yang sedang ada di toilet mendengarnya lalu keluar.
“Ah, benarkah? Aku melihat wajahnya tapi tidak bisa mendengar suaranya.” Ucap Nan Hee
“Ketika dia tersenyum, ujung matanya mengerut sedikit, dan giginya yang putih terlihat. Itu membuat jantungku berdebar. Itu terasa sangat mempesona. Dia membuat hatiku meleleh.” Cerita Bok Joo, Nan Hee pun ikut tersenyum membayangkanya.
“Biar aku memberitahumu apa alasan terbesarku kenapa aku menyukainya. Ini sangat penting. Itu adalah.... hatinya yang lemah lembut Aku tidak pernah melihat orang yang seperti itu. Dia tidak mengada-ada. Ini adalah kepribadiannya yang normal.”Ketika aku bersamanya, aku merasa kalau aku menjadiwanita yang sangat cantik..” Cerita Bok Joo benar-benar mengangguminya
“Aku tidak pernah diperlakukan seperti itu,jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya.” Komentar Nan Hee
“Pokoknya, dia mengagumkan. Dia manis, lemah lembut, dan bisa diandalkan. Aku tidak percaya kalau dia kakaknya Joon Hyung. Dia sangat dewasa.” Ucap Bok Joo
Nan Hee hanya mendengar ceritanya saja membuat  ingin bertemu dengannya. Bok Joo heran memastikan kalau dengan temanya bisa membuat mereka bertengkar hanya gara-gara pria, karena khawatir Nan Hee yang jatuh cinta pada setiap pria. Nan Hee menegaskan walapun dirinya seputus asa itu tidak akan mencoba mencuri milik Bok Joo. Bok Joo tersipu malu mendengar kalau Jae Yi itu miliknya. 


“Hei... Apa yang kau lakukan disini?” teriak Sun Ok datang dengan wajah kesal, Bok Joo menutupi rasa kagetnye mengaku kalau mereka tentu saja dengan menggunakan toilet,
“Apa kalian berdua... membicarakan aku? Bagaimana bisa kau melakukan itu? Kau menghilang tanpa aku.” Ucap Sun Ok curiga
“Jangan konyol. Kita tidak memiliki hal buruk yang bisa dibicarakan tentangmu.” Ucap Nan Hee. Bok Joo piki temanya tak perlu sebodoh itu,  lalu mengajaknya keluar.

Di kantin
Sun Ok heran melihat Bok Joo yang hanya mengambil satu Hamburg steak, karena harus makan banyak jadi memberikan daging miliknya, Bok Joo hanya terdiam tapi Nan Hee tahu Bok Joo harus menurunkan berat badan demi bertemu Jae Yi.
“Seon Ok. Bisakah kau mengambilkanku minum?Makannya tersangkut di tenggorokanku.” Ucap Nan Hee mencari alasan, Sun Ok pun pergi. Nan Hee buru-buru memakan semua daging dipiring Bok Joo.
Sun Ok kembali datang membawa segelas air dan melihat Nan Hee makan dengan mulut penuh menyuruhnya agar makan perlahan. Bok Joo seperti tak enak hati karena temanya membantunya. Sun Ok melihat Bok Joo makan dengan baik hari ini karena sudah menghabiskan dagingnya, lalu memberikan kembali daging miliknya. Bok Joo hanya bisa meringis karena mau tak mau harus menghabiskanya. 


Bok Joo merapihkan rambutnya didepan cermin, Nan Hee datang bertanya apakah Bok Joo akan pergi sekarang. Bok Joo menganguk karena  ada janji jam 6. Nan Hee bertanya apakah Bok Joo akan mengunakan pakaian yang tak menarik matanya,  Bok Joo mengangguk lalu bertany apakah ia terlihat buruk. Nan Hee membenarkan.
“Kau Janjinya jam 6 ‘kan? Beriwaktu aku 5 menit.” Ucap Nan Hee lalu membuka lemari pakaian Bok Joo
Beberapa saat kemudian, Nan Hee menyemprotkan parfum dan Bok Joo berputar-putar dibawahnya dengan rambut yang dikuncir dua, terlihat penampilan berbeda. Nan Hee mengaku hanya melakukan sebisanya. Bok Joo dengan senyuman bahagia mengucapakan terimakasih. 


Joon Hyung kembali berlatih sendirian di kolam renang, lalu keluar bersama dengan teman sekamarnya. Tae Kwon memastikan kalau Joon Hyung akan benar-benar akan pergi. Joon Hyung menganguk. Tae Kwon melihat penampilan temanya lebih dulu sebelum pergi.
“Karena kau akan pergi, lakukanlah dengan baik.”pesan Tae Kwon memastikan jaket temanya menutupi tubuhnya, Joon Hyung menyuruh temanya masuk saja.
“Aku harusnya pergi denganmu karena kau sakit. Sayang sekali aku ada latihan.” Ucap Tae Kwon kesal
“Kau harus bekerja lebih keras.Kau tidak berenang sebaik aku.” Ejek Joon Hyung, Tae Kwon  mengeluh Joon Hyung itu sangat kejam.
“Kau sebaiknya memenangkan juara satu, oke?” ucap Tae Kwon kesa, Joon Hyung malah memujinya temanya yang terlihat lucu saat marah, Lalu pamit pergi dengan mengayuh sepedanya. 
Bok Joo menerima telp dari ayahnya yang memasak Kerang panggang kali ini padahal sudah makan sup ayam dengan kerang. Tuan Kim memberitahu kalau kemarin hanya kerang biasa yang dibeli di pasar tapi Kali ini itu spesial dari Wando dan hanya untuk anaknya saja.
“Aku menghubungi temanku yang sudahlama tidak ku hubungi selama 10 tahun.Makanya cobalah datang ke restorannya nanti. Jangan membawa temanmu hari ini.Ini masih tidak cukup.Aku hanya bisa mendapatkan 30.” Pesan Tuan Kim, Bok Joo mengerti dan akan menelp ayahnya lagi nanti. 

 

Joon Hyung mengayuh sepedanya melihat Bok Joo membunyikan belnya bertanya apakah ia mau pergi ke klinik. Bok Joo pikir Joon Hyung sudah tahu dan kenapa harus bertanya. Joon Hyung memberitahu  dalam perjalanan ke sebuah kompetisi,jadi meminta agar Bok Joo memberikan sedikit tenaga.
“Kau tahu akan baik-baik saja.Aku tidak berharap kau sukses.Aku harap kau membuat kesalahan.” Ucap Bok Joo kesal lalu pergi meninggalkanya, Joon Hyung tak percaya Bok Joo benar-benar sangat jahat mengatakan itu.
“Aku sangat gugup, tapi dia malah menyumpahiku.Tunggu saja dan lihat.”kata Joon Hyung mengejar Bok Joo seperti ingin balas dendam. 

Jae Yi binggung melihat Berat badan Bok Joo naik lagi. Bok Joo hanya bisa tertunduk karena memang misinya hanya ingin bertemu Jae Yi bukan menurunkan berat badan. Jae Yi bertanya kenapa Bok Joo tidak bisa menatap matanya. Bok Joo meminta maaf karena telah membuat Jae Yi kecewa.
“Kau tidak perlu minta maaf padaku.Ini semua demi dirimu sendiri. Jadi Tidak mudahkan mengikutirencana diet begitu?Orang-orang di sekitarmujuga mungkin tidak akan membantu.” Kata Jae Yi, Bok Joo membenarkan. 
“Saat malamlah yang paling sulit. Dan Sayang sekali, waktu bersosialisasi di Korea terjadi saat malam hari.Beberapa pasien bilang mereka inginpindah ke pulau yang tidak berpenghuni.”cerita Jae Yi


“Aku tahu. Aku tidak bisa memutuskan hubunganku dengan temanku.” Kata Bok Joo
“Ayo kita coba lagi lebih kerasuntuk menurunkan berat badanmu.Silahkan ganti baju.” Ucap Jae Yi, Bok Joo menganguk mengerti.
“Ah yah... Joon Hyung memiliki kompetisi hari ini.Aku mengirim pesan untuknya,mendoakannya semoga berhasil.Dia belum menjawabnya dan pasti sibuk.” Cerita Jae Yi terlihat khawatir, Bok Joo pikir Joon Hyung  akan baik-baik saja karena sangat percaya diri.
“Dia mungkin terlihat begitu,tapi hatinya cukup lembut.Ini adalah pertandingan penting untuknya.”ucap Jae Yi 


Bok Joo berjalan pulang mengingat cerita Jae Yi sebelumnya “Dua tahun lalu, dia membuat kesalahan start dan didiskualifikasi. Catatan waktunya saat latihan sudahcukup bagus untuk masuk tim nasional. Sejak itu, dia terus membuat kesalahanstart dalam setiap pertandingan penting. Menurutku Joon Hyung trauma karenakesalahan pertama yang dilakukannya.”
Wajah Bok Joo terlihat menyesal tak percaya kalau Joon Hyung selalu berpura-pura kuat dan tak mengetahui hal itu, bahkan membuatnya terkena flu dan mendoakan hal buruk untuknya. Ia melihat kolam dan kembali melempar koin sambil berdoa karena Jika Joon Hyung tidak melakukannya dengan baik, makapasti hanya akan menyalahkannya.
“Aku harap dia berhasil. Dan juga, apa itu traumanya? Aku harap dia bisa melewatinya jadi bisa melakukan yang terbaik. Kumohon.” Ucap Bok Joo berdoa dengan sepenuh hati. 


Di dalam arena pertandingan.
Sebuah spanduk besar bertuliskan [Semoga berhasil! Kau pasti bisa, Jung Joon Hyung!] Si Ho masuk dan duduk dibangku penonton menunggu kompetisi yang akan dilakukan Joon Hyung. Sementara Joon Hyung duduk dengan tegang di dalam ruangan loker.
“Ketika kau merasakan gejalanya, tidak berfokus pada gejalanya... adalah cara yang paling efektif untuk melewatinya. Ketika kau mulai merasa gugup, cobalah memikirkan hal yang lain. Contohnya, fokuslah pada pernapasanmu. Menghitung mundur angka juga efektif.”

Joon Hyung mengingat semua pesan dokter agar bisa menghilangkan gejala paniknya dengan mulai menghitung mundur dari angka 10. Semua atlet pun masuk arena kolam renang, Si Ho melihat Joon Hyung sudah ada depan garis start berdoa agar bisa melakukan dengan yang terbaik.
Saat diatas podium garis start, mata Joon Hyung mulai kabur dan juga berdegung di telinganya. Akhirnya ia kembali menghitung ketika peluit dibunyikan, Joon Hyung telat melakuan start dan akhirnya masuk ke urutan ke empat pada finish. Wajah Joon Hyung terlihat kesal dengan hasilnya. Si Ho menunggu di depan gedung arena dengan sebuah termos tapi Joon Hyung melewati pintu lain dan berjalan kembali ke kampusnya. 


Bok Joo duduk sendirian dikamarnya, wajahnya terlihat masih menyesal mengatakan kata-kata yang kasar pada Joon Hyung sebelumnya. Lalu melihat di web[Hasil dari Kompetisi Renang Bank Joongang] tak percaya ternyata Joon Hyung tidak berhasil masuk tiga besar.
“Kenapa dia tidak melakukannya lebih baik? Apa dia didiskualifikasi lagi? Dasar Anak sialan itu.” Ucap Bok Joo lalu mencoba mengirikan pesan  [Joon Hyung, kau baik-baik saja? Kuatlah] tapi dihapus dengan menuliskan  [Joon Hyung, kau pantas mendapatkannya.]
“Ah, bagaimana aku harus menulisnya? Aku tidak bisa mengirim pesan yang terlalu manis.” Ucap Bok Joo benar-benar binggung lalu melihat sebuah kertas lipat didekatnya. 

Ibu Jae Yi memberikan sebuah tonik menyuruh Joon Hyung agar  Minumlah tanpa menyisakannya setetespun. Joon Hyung meminum dengan menahan rasa pahit dimulutnya, lalu mengeluhKalau tidak kena flu, mungkin pasti bisa jadi juara pertama.
“Kau harusnya mengunjungi kami sebelum pertandingan. Ibumu membuatkannya untukmu dengan bahan-bahan spesial yang akan bisa membantumu.” Kata ayah Jae Yi, Joon Hyung pikir benar juga. 
“Aku harus dihukum karena memandang sebelah mata pertandingan ini.” Kata Joon Hyung, Ibu Jae Yi pikir tak perlu dipermasalahkan lagi.
“Kau bilang ini bukan pertandingan penting. Jadi Lupakan saja. Apa kau sudah bicara dengan kakakmu?” tanya Ibu Jae Yi, Joon Hyung mengatakan sudah
“Ceramahnya benar-benar membuatku gila. Dia bersikap sama seperti ibu. Yang dia lakukan hanyalah mengkhawatirkanmu.” Kata Joon Hyung dengan gaya bercandanya. 

Ponselnya berbunyi, “Dimana kau?” Joon Hyung tak percaya pesan dari si gendut. Kedua bibi dan paman binggung siapa yang dimaksud gendut.   Joon Hyung mengaku itu Temannya yang sangat lucu. Pamanya pikir si Gendut terdengar seperti nama anjing.
“Ada apa Gendut? Kau tidak pernah mengirim pesan padaku.” Balas Jooon Hyung, Bok Joo baru keluar membaca pesan dari Joon Hyung. 
“Aku bertanya kau dimana.” Tulis Bok Joo
“Aku dirumah. Aku akan kembali ke sekolah sekarang.”  Balas Joon Hyung, Bok Joo pikir harus segera bergegas kembali. 

Joon Hyung binggung dengan Bok Joo karnea memintanya agar  datang ke air mancur. Bok Joo akhirnya datang. Joon Hyung bertanya ada apa.  Bok Joo memberikan sesuatu ditanganya, Joon Hyung binggung apa yang diberikanya. Bok Joo mengatakan itu adalah katak yang dibuat dari garis origami.
“Aku tidak membuatnya karena kau  membicarakannya waktu itu. Aku bosan, dan aku kebetulan memiliki beberapa lembar kertas. Siapa yang tahu? Mungkin ini akan jadi jimat keberuntunganmu.” Kata Bok Joo
“Kau terlihat sangat tidak kreatif. Coba Lihat ini kusut dimana-mana. Berapa kali kau mengulang-ulang ini?”ejek Joon Hyung, Bok Joo meminta agar Joon Hyung mengembalikan saja kalau begitu.


“Kau tidak bisa mengambilnya lagi. Ini milikku sekarang. Kita akan lihat apakah ini akan membawa keberuntungan untukku atau tidak.” Ucap Joon Hyung mengikuti cara bicara Bok Joo dkk “Katak keren.” Bok Joo mengejek Joon Hyung itu peniru.
“Apa salahnya dengan itu? Kau dan teman-temanmu mengatakannya sepanjang waktu. "Keren."Itu terdengar berbeda ketika aku yang mengatakannya, kan?Tapi ini mungkin terdengar lebih keren. ” Kata Joon Hyung mengikuti cara bicara ketiganya.
“Apa? Kau sudah bisa bercanda,  Lalu kau pasti merasa lebih baik sekarang. Apa flumu sudah sembuh?” tanya Bok Joo

Joon Hyung mengaku kalau sudah lebih baik karena yakin itu akan segera sembuh dan sudah minum obat di rumah. Bok Joo meminta maaf karena berkata jahat padanya waktu itu dan sedang sangat sensitif waktu itu. Tapi menurutnya Joon Hyung  harusnya bisa melakukannya lebih baik lagi. Joon Hyung tahu. 
“Sepertinya aku terlalu percaya diri. Tapi, jangan khawatir. Aku akan  mengejutkan semua orang sebentar lagi. Kau sebaiknya tidak meminta 100 tanda tangan ketika itu terjadi. Aku akan berada di Olimpiade saat itu.” Kata Joon Hyung percaya diri berlebihan, Bok Joo tak peduli.
“Kita masih punya waktu sampai pengabsenan. Aku akan mentraktirmu sesuatu yang enak.” Kata Bok Joo, Joon Hyung tak percaya mendengarnya bertanya apa yang ingin ditraktirnya
“Sesuatu yang akan memberimu semangat. Tutup saja mulutmu dan ikuti aku.” Kata Bok Joo, Joon Hyung binggung karena Bok Joo malah  menuju ke arah sekolah. Bok Joo pun berbalik arah menuju keluar dari kampus. 


Si Ho akan kembali ke kampus melihat dari kejauhan, Joon Hyung sedang menuntun sepeda bertanya apakah Bok Joo ingin menaikinya. Bok Joo dengan penuh semangat akan naik ke bagian belakang. Joon Hyung menolaknya karena sebelumnya membonceng Bok Joo membuat  harus tiduran selamatiga hari karena sakit punggung.
Bok Joo tak percaya dengan tetap ingin menaiki sepeda. Si  Ho mencoba menelp Joon Hyung dan melihat dari kejauhan. Joon Hyung sedikit menghindar dengan menyuruh Bok Joo membawa sepedanya saja dan melihat ponselnya lalu membiarkanya. Si Ho terlihat benar-benar marah karena ternyata Joon Hyung tak mengangkat telpnya karena sedang bersama Bok Joo. Keduanya sudah pergi bersama dan Si Ho membuang termosnya ke dalam tempat sampah. 

Tuan Kim dan Dae Hoo binggung melihat Bok Joo yang datang membawa Joon Hyung. Suasana canggung terasa. Bok  Joo memperkenalkan Joon Hyung pada ayahnya. Joon Hyung menyapa lebih dulu. Tuan Kim teringat dengan Joon Hyung yang waktu itu. Joon Hyung membenarkan.
“Apa Kau mengenalnya, Ayah?” ucap Bok Joo binggung, Tuan Kim ingin memberitahu tapi Joon Hyung lebih dulu menyelanya. 
“Aku pernah datang kesini sekali sebelumnya dengan teman-temanku. Aku tidak tahu kalau tempat ini milik ayahmu.” Kata Joon Hyung
“Apa hubungan kalian, sebenarnya? Bok Joo tidak pernah membawa seorang pria kesini sebelumnya. Ini sangat menarik.” Kata Dae Ho
“ Kami satu sekolah dasar. Dia adalah siswa tim renang, Aku berhutang banyak padanya, jadi ingin melakukan sesuatu untuknya. Kita punya banyak makanan, kan?” kata Bok Joo
Tuan Kim binggung, Bok Joo mengatakan tentang kerang. Tuan Kim pura-pura tak mengerti. Bok Joo mengingat perkataan ayahnyatenga Kerang liar. dari Wondo dan punya banyak. 

Tuan Kim menaruh sepiring kerang yang besar diatas meja, dengan nada sinis merasa tidak tahu kalau Joon Hyung danBok Joo satu sekolah dasar.Bok Joo menyuruh Joon Hyung agar makan, Joon Hyung mengucapkan terimakasih tapi Tuan Kim tak rela mendekatkan piring pada Bok Joo. 
“Kerang ini sangat jarang, makanlah.” Ucap Bok Joo mendorong piringnya.
“Tidak, kau saja yang makan. Aku tidak punya selera makan.” Kata Joon Hyung ketakutan melihat lirikan mata Tuan Kim.
“Kau makan saja, Aku tidak tahan rasanya kalau masih memiliki hutang. Makanlah jadi kau bisa melawan flumu.” Kata Bok Joo lalu tersadar ayahnya terus melirik sinis pada Joon Hyung.  

Akhinya Tuan Kim masuk ke dapur, Joon Hyung pun bisa makan tanpa rasa takut dan terlihat sangat menikmatinya. Sementara didapur, Dae Ho mengintip merasa tidak percaya kalau bisa melihat Bok Joo bersama seorang pria saat ini menurutnya itu terasa aneh. Tuan Kim malah berkomentar sedih karena mendapatkan kerang liar itu sangat sulit.
“Aku tidak percaya musang itu memakan semuanya.” Ucap Tuan Kim kesal
“Kenapa kau menyebutnya musang? Aku harus mengatakan kalau dia sangat tampan. Sejujurnya, Bok Joo tidak terlalu bagus untuknya dalam segi penampilan.” Kata Dae Ho, Tuan Kim sinis mendengarnya.
“Coba kau lihat... Bok Joo lebih menyukainya. Apa kau buta ?”ejek Dae Ho, Tuan Kim pikir tak ada yang salah dengan Bok Joo dan Pengelihatannya benar-benar baik-baik saja.

“Pokoknya, aku tidak menyukai pria itu. Aku melihatnya memberikan Bok Joo tatapan nakal.” Kata Tuan Kim.
“Menurutku, dia yang lebih dalam bahaya. Dalam sekali lirik, aku bisa tahu kalau Bok Joo lebih menyukainya.” Ucap Dae Ho yakin, Tapi Tuan Kim tak percaya mendengarnya karena mereka hanya teman.
“Lalu kenapa dia memberikannya semua kerang itu?Maksudku, dia bukan tipe orang yang  akan membagi makanannya dengan orang lain. Itu menunjukkan kalau dia tergila-gila padanya.” Jelas Dae Ho, Tuan Kim pun hanya diam. 

Joon Hyung binggung kemana Bok Joo akan membawanya, Bok Joo menyuruh Joon Hyung mengikutinya dan sampai diatas terlihat pemandangan malam kota seoul yang sangat indah.  Ia merasa lingkungan tempat tinggalnya sangat indah saat malam dan Semuanya berkilau.
“Ya.... Ini indah.” Ucap Joon Hyung mengarahkan pandanganya pada Bok Joo yang berdiri disampingnya.
“Ngomong-ngomong, traumamu. Itu disebabkan karena apa?” tanya Bok Joo, Joon Hyung kaget Bok Joo bisa mengetahuinya. 
“Aku dengar dari Dokter Jung. Apa ini karena kecemasan sebelum pertandingan?” ucap Bok Joo, Joon Hyung juga tak tahu.
“Bagaimana awalnya kau suka berenang? Apa orangtuamu yang menyuruhnya?” tanya Bok Joo, Joon Hyung menjawab tidak karena  hanya suka air.

“Aku pertama kali belajar renang ketika  mengikuti Hyung ke kolam renang saat masih kecil. Air bisa membuatku nyaman. Rasanya hangat... seperti ada yang memelukku.” Cerita Joon Hyung
Bok Joo merasa Joon Hyung itu  memiliki sensibilitas yang tinggi lalu bertanya apakah kepribadiannya berubah setelah mulai berenang. Joon Hyung pikir mungkin. Bok Joo rasa sepertinya begitu. Joon Hyung pikir benar juga dan itu saat pertama kali mulai berenang, tapi sekarang karena mempelajarinya, maka membuatnya sedikit stress.
“Aku tidak bisa menahan dirikuuntuk tidak terobsesi dengan catatan rekorku. Aku merasa seperti seekor banteng dalam pertandingan” kata Joon Hyung, Bok Joo bisa tahu.
“Kau bisa bilang "Jangan khawatirkan tentang rankingnya dan angkat saja besinya." Aku akan  bersenang-senang kalau memang seperti itu kejadiannya.” Ucap Bok Joo
Ia lalu berteriak “aku benci karena harus di tingkat-tingkat seperti itu!” Joon Hyung pun mengikutinya, Tapi Bok Joo pikir Sebenarnya, itulah takdir mereka sebagai atlet jadi harus menerimanya. Joon Hyung hanya terdiam, Bok Joo menepuk Joon Hyung meminta agar bisa bersemangat.
“Aku seorang penilai karakter yang hebat, dan tahu kau akan mencapai tujuanmu. Aku melihat sesuatu yang sangat intens di matamu.” Kata Bok Joo
“Apa kau jatuh cinta pada mataku?” goda Joon Hyung mendekatkan wajahnya, Bok Joo mengaku kalau benar-benar jatuh cinta. Keduanya pun tertawa bersama dengan melihat pemandangan indah seoul.


Nan Hee merasa mereka tidak bisa datang ke ruang santai  kalau cuacanya semakin dingin. Suk Ok yakin Bok Joo pasti sangat kenyang sekarang. Nan Hee tahu karena ayah Bok Joo   menghubunginya, jadi pasti diberi makan sup ayam.
“Aku sudah memperhatikan Bok Joo dan sadar... menaikkan berat badan itu sulit.” Kata Sun Ok
“Tentu saja. Meningkatkan kelas berat jauh lebih sulit. Bok Joo sedang bekerja keras untuk menaikkan berat badannya.” Ucap Nan Hee
Saat itu Si Ho lewat medengarnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar dan melihat tas Bok Joo, dengan penuh keberanian membukanya dan melihat sebuah buku “Diet Diary” dengan nama Kim Bok Joo. 

Joon Hyung kembali pulang dengan penuh semangat karena  merasa  tidak akan terkena sakit untuk satu tahun ini. Jadi tahu alasan orang-orang... sangat bersemangat untuk makan kerang liar.
“Apa itu memberikanmu energi?” tanya Bok Joo
“ Ya... Aku bisa merasakan energiku meningkat. Makanan ayahmulah yang membuatmu sekuat sekarang. Sekarang karena kita memakannya bersama, ayo kita bekerja keras.” Kata Joon Hyung penuh semangat.
“Ini tidak seperti atlet.... bisa jadi lebih baik hanya dalam semalam. Kau membutuhkan fisik yang kuat untuk memenangkan perang dengan rasa gugupmu.” Ucap Bok Joo
“Lalu Sampai kapan kau akan menjalani kehidupan gandamu?” tanya Joon Hyung
“Aku sadar harus segera mengakhirinya.” Kata Bok Joo. Joon Hyung tiba-tiba berteriak karena melihat seekor katak.
Bok Joo merasa Joon Hyung ingin dipukulnya karena bercanda, Joon Hyung menyakinkan kalau memang ada katak besar. Bok Joo tahu Joong Hyung hanya senang menggodanya dan memperingatinya kalau memang masih ingin  hidup. Joon Hyung kesan Bok Joo tak percaya padanya. Saat itu terlihat seekor katak besar diatas kolam. 

Joon Hyung kembali ke kamar, Tae Kwon menyambutnya dengan selesai membersihkan meja Joon Hyung karena tahu  pasti lelah jadi sudah membereskan meja dan tempat tidurnya. Joon Hyung mengucapkan terimakasih dan duduk di meja belajarnya.
“Joon Hyung... Kau baik-baik saja, kan? Ini bukan pertandingan besar. Kau akan melakukannya lebih baik lain kali.” Kata  Tae Kwon memberikan semangat.  
“Aku tidak mengatakan apapun. Aku baik-baik saja. Yang jelas Aku tidak didiskualifikasi hari ini.” Kata Joon Hyung bisa merasa bangga
“Itu benar. Aku tahu kau adalah orang yang lapang dada.” Ucap Tae Kwon membersihkan meja belajarnya.
“Dia ternyata sangat lucu.” Ungkap Joon Hyung melihat origami yang diberikan Bok Joo padanya. 

Joon Hyung sedang berlari pagi lalu melihat sosok Si Ho yang masuk ke bagian gedung tim angkat besi, tanpa rasa penasaran tak peduli dan kembali berlari.
Bok Joo sedang sarapan dengan penuh semangat karena merka harus menambah lebih banyak bakso di sumpitnya bahkan Dua tidak cukup. Sun Ok menawarkan miliknya karena sudah  mengambil banyak. Bok Joo pikir tak perlu karena akan memakannya nanti.
“Hei. Kenapa Pelatih Choi tidak ada disini hari ini?” tanya Sun Ok bingung
“Dia akan ada di sebelah Bok Joo ketika sarapan dan makan siang, lalu berteriak, "Satu porsi lagi!" Mungkin dia ketiduran.” Kata Nan Hee, mereka pun harus cepat makan karena bisa terlambat.
Bok Joo melihat ponselnya berdering dan itu telp dari ayahnya, bertanya ada apa, berpikir kalau membuatkan sup tulang kali ini. Tuan Kim terdengar nama marah menyuruh anaknya untuk  datang ke rumah sekarang.

Bok Joo pulang kerumah berteriak pada ayahnya karena masih pagi sudah memanggilnya.  Lalu dikagetkan dengan pelatih Choi dan Yoon sudah ada di dalam restoranya juga. Suasana terasa dingin. Tuan Kim tiba-tiba mengeluakran bukan Diet diary diatas meja. Bok Joo kaget ayahnya bisa mendapatkan itu.
“Katakan padaku apa ini, anak nakal!” teriak Tuan Kim marah, Bok Joo terlihat benar-benar ketakutan mendengar teriakan ayahnya.
bersambung ke episode 6

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

2 komentar: