Kamis, 10 Agustus 2017

Sinopsis School 2017 Episode 8 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Hyun Tae Woon datang ke ruang guru diikuti oleh Eun Hoo, Guru Go seperti tak mendengarnya ingin tahu apa yang dikatakan Eun Hoo tadi. Tae Woon mengatakan kalau ia adalah Siswa laki-laki yang mengendap ke dalam ruang guru malam itu. Eun Hoo kaget begitu juga Guru Shim.
“Kenapa kau masuk tanpa izin ke ruang guru?” tanya Guru Goo. Saat itu Dae Hwi sedang memberikan berkas pada Guru Jang.
“Sebenarnya, aku merasa melihat X malam itu.” Akui Tae Woon. Guru Goo kaget mendengarnya. Dae Hwi melihat tatapan Tae Woon mengarah padanya.
“Apa kau yakin? Sehari sebelum kompetisi Matematika, 'kan?” kata Guru Shim

“Aku melihat seseorang memakai jaket hitam masuk ke ruang guru, aku mengikutinya. Begitu aku masuk, dia langsung lompat ke luar jendela.” Cerita Tae Woon. 
Eun Ho pun terlihat tegang mendengar ucapan Tae Woon. Guru Shim bertanya apakah melihat wajahnya. Tae Woon menatap Dae Hwi ingin mengatakan tentang wajah, lalu mengaku kalau  tidak bisa melihat wajahnya karena si pelaku segera kabur begitu melihatnya. Eun Ho bisa bernafas lega Tae Woon tak memberitahu nama Dae Hwi.

“Eun Ho... Apa yang dia katakan benar?” ucap Guru Goo. Eun Ho terlihat binggung.
“Apa memang itu karena X atau ada sesuatu yang lain? Siapa yang harus kupercaya sekarang? Tapi itu tidak bisa menjadi bukti kalau kamilah yang menyebabkan masalah di sini. Jadi untuk sekarang, aku akan menghukummu karena masuk tanpa izin ke ruang guru. Kami akan segera tahu, kalau kau menyebabkan masalah atau tidak. Bukankah begitu?” ucap Guru Goo. Eun Ho dan Tae Woon pun hanya diam saja. 

(Episode 8, Setelah Kebohongan Itu)

Guru Shim terlihat marah pada petugas Han karena sebelumnya mengatakan semuanya karena mempercayainya, dan hanya mau minta saran tentang apa yang harus dilakukan, tapi malah melaporkan semuanya pada Guru Goo dan menurutnya Ini keterlaluan.
“Aku ini polisi, jadi sudah tugasku untuk menyelidiki apapun yang mencurigakan.” Kata Petugas Han membela diri
“Anak-anak itu bukan pelaku kriminal.” Tegas Guru Shim membela
“Ini bukan karena aku menganggap mereka kriminal. Tapi melindungi mereka tanpa alasan, itu juga tidak benar. Walaupun ini terasa menyakitkan sekarang, aku yakin mengkoreksi kesalahan mereka.. dan menunjukkan kebenaran adalah hal yang harus dilakukan.” Tegas Petugas Han
“Mereka hanya anak-anak. Kau tidak boleh menyakiti mereka seperti ini. Tidak bisakah kita lindungi dan kita tenangkan saja mereka?” ucap Guru Shim
“Lantas apa? Bagaimana kalau mereka malah lebih menderita di luar sana.. setelah mereka dilindungi di sekolah ini? Saat itu apa kau juga mau menenangkan mereka?” sindir Petugas Han
“Kau tidak bisa menyudutkan anak-anak hanya karena itu. Apa Untuk mengikuti langkah orang-orang dewasa di sini? Aku tidak akan mendidik mereka dengan cara itu.” Tegas Guru Shim. Petugas Han mengambil kopi.
“Kau mencoba membuat mereka nyaman sekarang.. karena kau tidak bisa bertanggungjawab untuk mereka.” Tegas Petugas Han lalu berjalan pergi karena tak nafsu lagi untuk membuat kopi. 


Eun Ho merasa tidak tahu apa maksud Tae Woon dengan semua itu dan menurutnya mereka harus mengatakan yang sebenarnya pada Dae Hwi jadi harus waspada karena sekarang Si Malaikat Maut sudah tahu. Tae Woon heran merasa apa yang harus diwaspadai oleh Dae Hwi karena menurutnya temanya itu tahu tidak akan ada bedanya.
Tae Woon mengingat saat guru Goo bertanya “Apa kau lihat wajahnya?”  dan ia berkata kalau tidak lihat wajahnya. Eun Ho pikir Tetap saja, Dae Hwi itu  harus tahu.
“Berhenti membicarakan dia. Dia sama sekali bukan apa-apa. Apa kau tidak merasa marah karena ini? Kau jadi begini semua karena dia. “ kata Tae Woon kesal mendengar Eun Ho yang terlalu mengkhawatirkan Dae Hwi.
“Jadi kenapa kau melakukannya? Bukankah karena kau ingin membantunya?” ucap Eun Ho, Tae Woon tak ingin membahasnya.
“Aku sudah sangat menyesal sekarang. Kau itu tidak tahu apa-apa.” Kata Tae Woon kesal. 

Di kelas, Dae Hwi duduk sendirian dengan menatap lembaran  “Pelaporan dan Pengurangan Poin” Wajahnya terlihat kebingungan. Esok paginya, Eun Ho sudah datang lebih dulu dan melirik Tae Woon yang baru datang. Tae Woon melirik sinis lalu melihat di kolong meja ada sebuah kertas.
Eun Ho mengambar karakter X dengan tulisan “Maaf karena membuatmu kesal, X. Bagaimana kalau minum lemonade?” wajah Tae Woon langsung tersenyum membacanya lalu mengejek Eun Ho yang bodoh.  Tiba-tiba Byung Joo datang bertanya Apa ada yang lucu di sini. Tae Woon mengelengkan kepala.
“Sepertinya ada, Itu yang sedang kau lihat.” Kata Byung Joo ingin melihat di kolong meja. Tae Woon mencoba menutupi dengan ingin tidur, Byung Joo terus berusaha mencarinya. Eun Ho yang mendengar dari bangkunya bisa mengetahui kalau Tae Woon senang dan bisa ikut tersenyum. 


Keduanya duduk di lapangan sambil minum lemonade. Eun Ho langsung meminta Maaf, karena tidak memikirkan perasaannya. Tae Woon merasa Eun Ho Aneh sekali hari ini. Eun Ho pikir tidak mudah untuk melindungi orang lain.
“Sepertinya aku sudah salah menilai maksudmu.. Maaf.” Kata Eun Ho
“Memang benar, kita masuk ke ruang guru bersama-sama.” Kata Tae Woon.
“Kita dalam masalah sekarang Dan Dae Hwi juga.” Ucap Eun Ho. Tae Woon kesal Eun Ho yang mencemaskan Dae Hwi  lagi.
“Dia pasti akan menemukan caranya sendiri, jadi berhentilah mencemaskan dia. Yang akan kena hukuman juga hanya kita!” kata Tae Woon
“Benarkah? Secepat itu? Bagaimana dengan pengurangan poin? Apa yang harus kulakukan dengan nilai-nilaiku? Bagaimana caranya kita bisa bersih-bersih di cuaca sepanas ini?” ucap Eun Ho kebingungan. 


Selembar kertas ditempel (Pemberitahuan Tentang Hukuman). Duk Soo binggung dengan keduanya yang  mengendap masuk ke ruang guru. Nam Joo pikir Hidup Tae Woon benar-benar spektakuler. Jung Il ingin tahu apa yang terjadi dengan teman Sa Rang itu.  Sa Rang mengaku tak tahu.
“Kalian 'kan sahabat baik.” Kata Jung Il melihat keduanya yang suka bersama.
Sa Rang pikir tidak dengan wajah kesal dan pergi saat melihat Dae Hwi datang. Dae Hwi membaca pengumuman dan saling menatap sinis saat Tae Woon datang. Lalu Ia memilih untuk pergi. Tae Woon melihat Eun Ho yang datang dan keduanya terlihat sedih. 

Eun Ho dan Tae Woon duduk di tangga. Eun Ho pikir sudah menduga tapi ternyata kena pengurangan nilai yang banyak sekali. Tae Woon pun menyalahkan Eun Hoo yang harus ikut campur dengan urusan orang lain. Eun Ho ingin memikirkan yang harus dilakukan sekarang.
“Bagaimana kalau aku tidak bisa kuliah selamanya? Kenapa juga aku harus mengikuti Dae Hwi malam itu? Nilai-nilai sekolahku..” ucap Eun Ho terlihat frustasi. Tae Woon tiba-tiba langsung berdiri.
“ Ayo kita katakan saja yang sebenarnya. Kita bilang saja kalau dia mencuri..” ucap Tae Woon dengan suara nyaring. Eun Ho langsung menyuruh diam dengan mengumpat Tae Woon yang gila.
“Itu 'kan memang benar. Kenapa kita harus berbohong? Orang yang membuat masalah sebenarnya malah enak-enakan.” Kata Tae Woon
“Dae Hwi pasti juga merasa bersalah.” Ungkap Eun Ho, Tae Woon terlihat kesal karena dianggap kalau Dae Hwi seperti dewa. 

Tae Woon melihat Hee Chan berjalan dengan Dae Hwi dan langsung memanggil dengan nada mengumpat. Hee Chan mendengarnya seperti kaget karena Tae Woon manggil dengan mengumpat. Dae Hwi  menegaskan  kalau tidak punya waktu untuk main-main dengan Tae Woon. Hee Chan dibuat binggung dan diajak segera pergi oleh Dae Hwi.
“Haruskah aku membongkar semuanya di sini? Tentang seberapa rendahnya dirimu?” ucap Tae Woon. Akhirnya Dae Hwi menyuruh Hee Chan untuk pergi lebih dulu saja dan berjalan mendekati Tae Woon.

“Apa kau sedang mengabaikanku? Padahal kami yang menderita karena kau?” ucap Tae Woon kesal
“Kalau begitu laporkan saja aku. Kenapa kau bersikap sok pahlawan?” balas Dae Hwi, Tae Woon pun mengerti dengan sikap Dae Hwi.
“Kenapa tidak kau sendiri saja yang melakukannya?” kata Tae Woon. Dae Hwi mengaku sama sekali tidak takut.
“Apa Kau tidak takut? Padahal kau adalah orang yang berjuang setengah mati agar terlihat baik? Jadi Baguslah. Pergi dan serahkanlah dirimu sekarang. Nilai Eun Ho berantakan dan dia dalam masalah karena mencoba melindungimu dan bodohnya dia masih mencemaskanmu. Jadi kalau kau punya rasa bersalah sedikit saja padanya, maka serahkan dirimu sekarang.” Kata Tae Woon marah

“Ini sama sekali bukan masalah.” Kata Dae Hwi, Tae Woon pikir merkea itu bisa menganggap sebagai kesempatan.. untuk membongkar sisi sebenarnya dari Ketua Osis sekolah.
“Jangan cemas. Aku tidak akan hancur hanya karena ini.” Kata Dae Hwi yakin.
“Apa Kau sebut pemikiran bodohmu itu. sebagai harga diri? Kasihan sekali kau.” Ejek Tae Woon marah. 


Dae Hwi berjalan dengan wajah tegang dan Nam Joo melihat Dae Hwi yang duduk ditaman lalu mendekatinya dan bertanya apakah ada masalah.  Dae Hwi mengaku kalau hanya merasa benci sekali pada dirinya sendiri. Tae Woon pun menanyakan alasan Dae Hwi benci pada dirinya sendiri
“Kau 'kan siswa top di sekolah. Cowok paling keren di sekolah.” Ucap Nam Joo memuji.
“Semua yang ada padaku kelihatan palsu. Semuanya bohong.” Kata Dae Hwi
“Hei..  Siapa yang tidak pernah berbohong? Semua orang punya alasan masing-masing.” Kata Nam Joo yang juga berbohong. Dae Hwi terlihat sedikit bersemangat, Nam Joo mengangguk walaupun terlihat gugup. 

Dae Hwi duduk di meja belajarnya, dan melihat brosur untuk “Kelas Khusus Musim Panas” yang ingin di ikutinya, lalu mencari uang yang disimpan dalam lacinya, tapi uangnya hilang. Ia pun mencari-cari disekeling rak meja dan ibunya datang, Dae Hwi seperti sudah bisa menebak kalau ibunya pasti yang mengambil uangnya.
“Ibu barusan mau mengatakan ini padamu. Dan ini benar-benar mendesak, jadi uangmu ibu pakai dulu. Bulan depan akan ibu bayar. Tidak masalah, 'kan?” ucap Ibu Dae Hwi
“Baguslah.... Bagus sekali karena kita masih punya uang itu. Syukurlah, karena ini masalah yang mendesak dan Mungkin memang harus begini. Tidak peduli seberapa keraspun aku berusaha maka aku selalu kembali ke tempatku semula. Apa lagi gunanya semua ini?” ucap Dae Hwi yang menangis sampai membuat dirinya seperti menyedihkan.
“Dae Hwi.,, Ibu akan membayarnya. Jangan cemas, kau Belajar sajalah.” Ucap Ibu Dae Hwi.
“Tidak, aku tidak mau... Aku tidak akan melakukannya lagi. Lagi pula semua tidak ada gunanya. Apa Ibu tahu hal bodoh apa. yang kulindungi sampai membuat aku menyerah begini?” ucap Dae Hwi benar-benar marah. 


Dae Hwi berjalan ke ruang guru tapi terlihat gugup, sampai akhirnya Guru Shim memanggilnya menurutnya sangat pas sudah Dae Hwi karena baru saja memanggilnya. Keduanya bertemu di ruang guru, Guru Shim memberikan lembaran kertas.
“Ini adalah beasiswa yang digagas oleh para alumni Seoyul. Kalau kau masuk, kau bisa dapat beasiswa selama 2 tahun. Bapak akan merekomendasikanmu jadi Isi saja formulirnya.” Kata Guru Shim. Dae Hwi seperti merasakan kembali semangatnya dan mengucapkan Terima kasih.

“Dae Hwi... Apa semua baik-baik saja? Kau kelihatan tidak sehat.” Ucap Guru Shim. Dae Hwi melihat lembaran yang dituliskan guru Shim “Alasan Pemberian Sanksi, Ra Eun Ho dan Hyun Tae Woon”
“Pak Shim... Aku benar-benar ingin masuk Seoyul. Jadi, aku akan melakukan apa saja untuk itu, tanpa melihat ke belakang lagi. Mohon bantu aku mendapatkan beasiswa itu.” Kata Dae Hwi. Guru Shim pun setuju. 


Tae Woon baru saja pulang, Ayahnya langsung memberikan tamparan di wajahnya. Tuan Hyun mengumpat kalau sudah memperingatkan jangan lakukan sesuatu yang bodoh dan Kenapa  masuk ke ruang guru. Tae Woon tak menyangka ternyata ayahnya sudah mendengar.  Tuan Hyun menduga kalau itu semua karena Ra Eun Ho.
“Tersangka X. Masuk ke dalam ruang guru tanpa izin.” Kata Tae Woon.Dia adalah perusuh yang banyak masalah.” Kata Tuan Shim.
“Dia bukan anak macam itu.” Kata Tae Woon membela.
“ Akulah yang berhak menilainya! Lakukanlah masalah apa yang kau mau. Aku akan melakukan segalanya untuk membebaskanmu dari itu.” Kata Tuan Hyun, Tae Woon mengeluh anaknya yang selalu di bela oleh ayahnya. Tuan Hyun malah makin mengumpat. 

Tae Woon berjalan di pinggiran gedung, lalu tiba-tiba terdenga suara orang yang memperingatkan kalau itu bahagia.
Flash Back
Joong Gi berjalan di pinggir gedung, Tae Woon berteriak ketakutan kalau itu berbahaya. Joong Gi mengejeknya kalau bersikap sok kuat dan bertanya apakah takut. Tae Woon mengelek.
“Kau berteriak "Itu bahaya." Kukira barusan itu cewek yang sedang bicara.” Ejek Dae Hwi, Tae Woon yang kesal ingin menendangnya. Dae Hwi menyuruh agar mendekat, Tae Woon menolak.
“Tidak setinggi itu, kok di sini. Hanya setinggi aku. Coba Lihat.” Kata Dae Hwi menyakinkan, Tae Woon berjalan mendekat dan berteriak panik kalau itu tinggi.
Dae Hwi hampir saja jatuh, dan memarahi Tae Woon yang mendorongnya dengan wajah panik. Tae Woon meminta maaf karena memang tak sengaja. Joong Gi menyuruh keduanya agar tak berkelahi, dengan mengejek kalau keduanya sudah hampir kencing di celana. Keduanya pun sama-sama berlari untuk membuka celana. Joong Gi pun panik, ketiganya seperti sahabat yang tak bisa terpisahkan. 


Tae Woon kaget melihat Dae Hwi yang sudah ada di depanya, begitu juga Dae Hwi. Tapi Tae Woon seperti tak peduli kembali berjalan dan hampir jatuh. Dae Hwi berteriak memperingatkan kalau itu bahaya. Keduanya saling menatap dan Dae Hwi memilih untuk meninggalkanya.
“Apa yang kau lakukan jauh lebih berbahaya. Hentikan itu, Kunyuk.” Ucap Tae Woon.
“Kenapa aku harus melakukannya? Kenapa aku harus berhenti?” kata Dae Hwi
“Apa kau tidak malu pada Joong Gi? Bersikap kotor dan murahan..” kata Tae Woon.
Dae Hwi merasa tidak dan sama sekali tidak malu, menurutnya Yang di sebut murahan dan kotor Semua memang sudah dilakukan, dan dirinya ada di depan sekarang. Ia pikir kalau adalah yang terjauh yang bisa dicapai.
“Tapi.. kenapa aku harus berhenti di sini?” kata Dae Hwi. Tae Woon bertanya apakah tidak akan menyesal. Dae Hwi mengaku tidak.
“Tidak akan... Jadi menyingkirlah kau dan cemaskan saja dirimu sendiri.” Kata Dae Hwi berjalan pergi.
Dae Hwi berdiri di halte menangis sendirian mengingat kembali ucapan Tae Woon “Apa kau tidak merasa malu pada Joong Gi?” 


Dae Hwi datang menemui Guru Goo diruangan, Guru Shim melihatnya terlihat binggung. Guru Goo langsung bertanya ada apa menemuinya.  Dae Hwi mengaku kalau Bukan Tae Woon yang masuk tanpa izin ke ruang guru malam itu, tapi ia yang melakukannya. Dua guru terlihat kaget.
“Aku masuk ruang guru untuk mencuri.. soal lomba Matematika.” Ucap De Hwi
“Apa? Kau 'kan siswa unggulan. Kenapa kau melakukan itu?” kata Guru Goo. Guru Shim pun seperti tak mengerti dan ingin tahu alasan mencuri lembar soalnya. Dae Hwi hanya bisa meminta maaf.
“Kami harus memastikan dulu apa yang kau katakan barusan. “ kata Guru Goo. 

Dae Hwi seperti sudah mulai disidang dengan guru-guru, Guru Park mengaku kaalu tidak seperti orang yang biasa duduk di sini sebelumnya, Ia menegaskan dirinya sangat adil dan terkenal ketat pada aturan. Kalau Dae Hwi salah atau ada salah paham jadi  mohon katakan semuanya tanpa menutupi apapun.
“Tidak seperti seseorang, aku ini berpikiran terbuka.” Ucap Guru Park. Dae Hwi mengaku Tidak ada lagi yang ingin dikatakan.
“Kenapa kau.. Dan kau menyebut dirimu siswa unggulan?” kata Guru Park tak percaya
“Ini semua karena etika telah jatuh ke dasar jurang.” Ungkap Kepsek Yang sudah ikut rapat juga.
“Kami tahu kalau etika kami sudah jatuh ke dasar jurang, dan Bapak sedang diliburkan sekarang.” Ucap Guru Park. Kepsek Yang terlihat siniis.
“Baiklah. Berdasarkan aturan Geumdo nomor 3, Aturan 3. Pasal 2, 3 pasal 2..” ucap Guru Park tiba-tiba di sela oleh Dae Hwi.
“Aku ingin kalian membatalkan hukuman untuk Eun Ho dan Tae Woon. Akulah yang masuk ke ruang guru, jadi mereka tidak salah.” Kata Dae Hwi. Guru Park pikir kalau mereka berdua sudah mengaku.
“Semua karena aku. Mereka melihatku masuk  dan mencuri lembar soalnya. Jadi Mereka ingin melindungiku. Karena itulah mereka berbohong.” Ungkap Dae Hwi.
“Kenapa mereka berbohong demi kau?” tanya Guru Park. Dae Hwi mengaku tak tahu. Guru Park mengejek Mereka itu bodoh sekali.


Eun Ho berdiri didepan ruang sidang, Tae Woon datang berdiri disamping Eun Ho. Eun Hoo berpikir kalau Tae Woon yang mencemaskan. Tae Woon mengumpat Eun Ho yang gila dan saat Dae Hwi keluar memiilih untuk pergi. Eun Ho pun menanyakan hasilnya, Dae Hwi mengaku Lancar.
“Aku penasaran apa Dae Hwi tahu kalau kita berbohong demi melindungi dia.” Guman Eun Ho. 

Semua anak berkumpul melihat pengumuman “Tindakan Pendisiplinan: Tugas Kebersihan Selama 7 Hari” dan Duk Soo tahu kalau Dae Hwi yang melakukanya. Nam Joo tak percaya mendengarnya, saat itu Dae Hwi melihat dari belakang seperti sudah bisa menduga yang akan terjadi pada dirinya.  Tae Woon ikut melihatnya, lalu sedikit menatap Dae Hwi yang berani melakukanya. 

Guru Shim berjalan dengan petugas Han, lalu petugas Han berpikir kalau guru Shim melindungi Dae Hwi hari itu. Guru Shim mengaku  bahkan tidak tahu itu Dae Hwi. Petugas Han pikir lebih baik menganggap semua yang katakan hari itu adalah bohong.
“Kau hanya mengatakan apa yang kau pikirkan untuk melindungi  anak-anak 'kan?” ucap Petugas Han
“Itu.. Kau benar.. tapi tidak sepenuhnya bohong juga. Jadi.. Kebohongan itu mungkin sudah jadi kebenaran sekarang” kata Guru Shim lalu berjalan pergi. Petugas Han hanya tersenyum mendengarnya. 

Nam Joo bertemu dengan Dae Hwi bertanya apa yang terjadi dan Kenapa kena hukuman dan masuk ke ruang guru tanpa izin. Dae Hwi mengaku mencuri lembar soal untuk lomba Matematika. Nam Joo benar-benar tak percaya dan ingin tahu alasan Dae Hwi yang melakukannya.
“Aku tidak bisa melakukan semuanya dengan kemampuanku saja jadi aku memilih jalan pintas.” Ucap Dae Hwi.
“Kudengar kompetisinya dibuat untuk Tae Woon. Makanya kau mencuri soalnya. Karena kau tidak akan bisa menang meskipun kau mencoba.” Kata Nam Joo.
“Setelah mencuri itu aku merasa segalanya jadi rumit. Aku merasa kesepian dan ketakutan Aku ingin.. mengatakan yang sebenarnya padamu. Kenapa aku melakukannya. Apa yang sebenarnya kurasakan. Dan... betapa aku menyesalinya.” Kata Dae Hwi. Nam Joo pun bisa mengerti, 


Eun Ho pikir bagus segala masalah Dae Hwi berakhir dengan baik. Tae Woon kesal Eun Ho kesal mendengar itu "baik". Eun Ho pikir kalau dianggap semuanya baik-baik saja, lalu terlihat senang melihat Ada komentar lagi. Ia berkata menyapa si penggemar pertamanya dan memujinya sangat imut.
“Tapi kenapa komentarnya singkat semua, ya? Dia hanya "Seru sekali." "Ini seru." "Menarik juga."” Kata Eun Ho heran.
“Itu singkat dan jelas.” Komentar Tae Woon .
“Kalau komentarnya lebih panjang akan lebih bagus. Maksudku apanya yang seru,” kata Eun Ho. Tae Woon mengeluh Eun Ho yang banyak sekali. 

Tae Woon bertemu dengan Byung Joo lalu bertanya apakah pernah menulis komentar. Byung Joo dengan bangga kalau ahlinya, dan bertanya apakah komentar jelek atau yang bagus. Tae Woon mengaku kalau itu bagus. 
“Bagaimana caranya kau bisa menulis sesuatu yang panjang, tapi juga menyentuh. Dan juga ada sisi humorisnya, Sesuatu yang mendalam serta panjang.” Kata Tae Woon
“Apakah tulisan "Ini keren." "Ini benar-benar kece?" Bagaimana kalau, "Amat sangat memesona?"” kata Byung Joo. Tae Woon pikir bukan seperti itu dan mengeluh kalau dirinya itu jadi repot.

Sa Rang berjalan pulang dipanggil oleh Kyung Woo dan berjalan pulang bersama. Sa Ran melihat dan bertanya dimana gitarnya, karena selalu membawanya ke mana-mana. Kyung Woo mengaku hanya ingin istirahat dan ingin tahu keberadaan Eun Ho karena mereka biasanya selalu bersama.
“Sepertinya kami juga sedang 'istirahat'. Dasar cewek jahat.” Ucap Sa Rang kesal
“Apakah Ra Eun Ho adalah cewek jahat?” kata Kyung Woo. Sa Rang mengelak.
“Kenapa juga dia harus jadi cewek jahat? Sejujurnya, bukankah saling menyimpan rahasia dengan sahabat itu adalah hal yang salah?” ungkap Sa Rang yang kecewa.
“Katakan saja pada Eun Ho kalau kau sakit hati.” Kata Kyung Woo. Sa Rang menegaskan kalau tidak sedang bicara soal Eun Ho. Kyung Woo memanggil Sa Rang yang akan pergi,
“Apa kau pernah makan mi di mini market?” tanya Kyung Woo. Sa Rang bingung tiba-tiba Kyung Woo menanyakan hal itu. 

Sa Rang membuat mie goreng lalu memasukan kimbap segitiga dan juga keju. Ia pun menyuruh Kyung Woo agar mengaduknya juga, Kyung Woo merasa kalau ini seru. Sa Rang ingat Kyung Woo yang dulu pernah tinggal di luar negeri.
“Makanya.. aku ingin mencoba pengalaman sekolah di Korea.” Ucap Kyung Woo
“Kalau kau mau mencoba sekolah di sini.. belajarlah seperti orang gila. Jangan bermain-main dengan teman-temanmu. Jangan tertawa atau menangis. Jangan buang-buang emosimu. Belajar sajalah seperti orang gila.” Kata Sa Rang.
“Kalau begitu aku harusnya tidak usah bermain kalau ingin sekolah di Korea. Apa Kau tahu, sebaiknya katakan saja pada Eun Ho. Katakan kalau kau sakit hati, kalau tidak kalian bisa menjauh.” Kata Kyung Woo.
“Sudah kubilang, ini bukan soal Eun Ho... Bukan dia.” Ucap Sa Rang, Kyung Woo tiba-tiba sengaja mendekatkan wajahnya.
“Apa Kau tahu, kau ini pembohong yang payah.” Ejek Kyung Woo lalu mulai memakanya. Sa Rang terlihat sedikit gugup.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar