Sabtu, 12 Agustus 2017

Sinopsis Manhole Episode 2 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Soo Jin tak percaya dengan Phil yang membuang undangan pernikahan dan meninggalkannya. Ia mencoba menelp tappi tak dijawab, wajahnya pun makin kesal.  Akhir Ia menelp Jin Sook bertanya apakah Phil ada disana. Jin Sook pikir kalau Phil pergi bersama denganya. Soo Jin seperti tak percaya Phil tak bersama dengan teman-temanya. Jin Sook berteriak karena terganggu dengan temanya yang berisik.
“Kenapa? Apa Kau kehilangan dia?” tanya Jin Sook.
“Si gila itu meninggalkanku dan pergi entah ke mana!” jerit Soo Jin kesal
“Diamlah, seolah dia lenyap dan kau tidak tahu rumahnya saja, pulanglah ke rumah. Dia juga sedang kurang baik belakangan ini.” Kata Jin Sook santai
“Hei, pokoknya kalau dia ketemu, ajak dia pulang. Aku akan mentraktirnya minum nanti.” Kata Soo Jin dan menutup telpnya. Jin Sook pun diajak Soo Jin agar pergi bersama.
Soo Jin mengumpat kesal pada Phil sebagai lelaki aneh dan Selalu seperti ini, bahkanTidak bisa diprediksi. Menurutnya mereka itu tidak pernah cocok satu sama lain.
“Kami tidak akan cocok sekalipun aku bereinkarnasi. Kami tidak memiliki kesamaan. Sama sekali tidak.” Kata Soo Jin kesal lalu berjalan pergi. 

[Episode 2 -Oh, hidup yang kacau. Apa Sekali lagi?]
Soo Jin sampai ke rumah membaca pesan dari Jae Hyun “Dia sangat kasar. Maaf aku menggunakan kekerasan. Telepon aku kalau kau sudah merasa lebih baik.” Soo Jin melihat undangan yang dibuang, lalu akhir mencoba menelp Phil.
“Jawab teleponku! Hubungi aku. Kalau kau tidak menghubungiku, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Aku benar-benar akan membunuhmu! Ada yang harus aku katakan!”
Semua pesan yang dikirimkan Soo Jin seperti mental diatas lubang tempat Phil hilang. Soo Jin terlihat marah dan gelisah karena Phil yang tak membalas pesanya, sampai akhirnya dengan nada kesal kembali mengirimkan pesan.
“Lupakan saja, berengsek. Baiklah, lupakan saja semuanya, berengsek! Semoga kau hidup bahagia, idiot.” Umpat Soo Jin tak ingin lagi mengirimkan pesan pada Phil. Pesan pun hanya mental diatas lubang. 


Ibu Phil menyiapkan sarapan memberitahu Putra mereka bahkan tidak pulang ke rumah kemarin. Tuan Bong pikir tidak punya putra. Akhirnya Ibu Phil mengatakan Phil adalah'bocah yang dulu sempat jadi putranya'. Tuan Bong pikir Tidak baik menghilangkan selera makannya bahkan sebelum mencicipi. Ibu Phil setuju kalau mereka harus makan dan mengunyahnya dengan baik. Keduanya seperti sudah tak peduli pada anak mereka.
Jin Sook memeriksa barang yang sudah dipesan, dan mencari strawberry, karena salah satu buah utama. Si kurir merasa kalau yakin ada sudah dimasukan tapi tak ada. Jin Sook pun meminta agar dibawakan lagi saja.
“Aku sudah merasa ada yang kurang. Ini Aneh... Meski begitu, aku tetap merasa kehilangan sesuatu.” Ungkap Jin Sook binggung. 

Suk Tae sedang buang air besar tapi malang karena tissue di toilet habis. Sementara Dal Soo memeriksa file di komputer dan dibuat binggung karen ada yang hilang. Begitu juga Jung Ae yang mencari sesuatu, lalu bertanya pada Dal Soo apakah melihat handuk miliknya. Keduanya terlihat kebingungan.
Goo Gil memasak ramyun di ruang internet, memasukan dua bungkus dan dibuat binggung karena tak ada bumbu didalamnya. Teman Phil sama-sama merasakan sesuatu, mulai dari Jin Sook, Suk Tae, Dal Soo, Jung Ae dan Goo Gil semua sadar kalau Bong Phil hilang.

Phil yang pindah ke jaman SMA mulai sadar lalu dengan gugup menyapa guru yang sudah lama tak bertemu denganya, lalu berkomentar kalau  semestinya tidak berada di sini sekarang dan semua ini tidak masuk akal. Guru Gestapo dengan nada ngejek membenarkan.
“Bocah di tim pelari sekolah, dan juga tidak kuharapkan ada di kelas pagiku. Terutama kalau itu kau, anggota terburuk mereka.” Kata Guru Gestafo
“Ti--tidak... I--ini, jadi... Ini mimpi, 'kan?” kata Phil yang masih kebinguagn.
“Apa kau belum bangun dari tidurmu, Phil? Bagaimana tadi kau menyebutku? Kau bilang Terburuk, paling dibenci, dan menjengkelkan : Gestapo?Aku selalu bertanya sebelum menghadiahi pukulan, kan? Sebutkan masing-masing satu artikel pasti dan tidak pasti.” Kata Guru Gestafo. Phil dengan gugup mengatakan kalau waktu habis.
“Saya... tidak peduli sama sekali soal artikel. Saya hanya ingin tahu bagaimana bisa saya berada di sini, dan juga kenapa kalian semua di tempat ini juga.”kata Phil benar-benar binggung.
“Dengan bertingkah pura-pura tidak waras, kau sedang mencoba menghindari situasi ini, Phil?” kata Guru Gestafo
“Astaga, sungguh ini juga membuat saya gila, tapi...sesuatu yang tidak saya ketahui 10 tahun lalu, bagaimana saya mengetahuinya saat ini? Dan kalau 10 tahun lalu Anda memukul saya, kena--kenapa sekarang hendak memukul saya lagi?” kata Phil
Guru Gestafo makin marah menyuruh Phil agar Menunduk semua. Phil pun hanya bisa meminta maaf pada gurunya dan merintih kesakitan. 


Dal Soo sibuk menyanyi dengan memaikan gitarnya, Goo Gil memberikan obat pereda sakit melihat kalau ini parah sekali dan Tidak akan berhasil memakai obat.   Dal Soo tahu talau Goo Gil itu atlet yang hanya dapat kelas di pagi hari dan Kenapa selalu berakhir dipukul, menurutnya itu Misterius sekali.
Suk Tae datang membawa semua kotak makan untuk tiga temanya yang lebih tua darinya.  Bahkan memberikan makan untuk Phil yang masih tengkurap. Phil berpikir kalau ini hanya lelucon,  Dal Soo memBenarkan karena lelucon bahwa Phil yang masih hidup setelah ocehan gilanya.
“Hei, anak-anak di kota kita kan memang harus bernyali besar.” Ejek Goo Gil, Dal Soo pun setuju.
“Aku serius! Aku tahu di mana kita, tapi masalahnya kenapa kita di sini?” kata Phil binggung.
“Apa itu semacam pertanyaan jebakan?” keluh Dal Soo mengumpat Phil gila.
“Hyung, kita itu sudah lama lulus dari sini. Kenapa begini? Kau membuatku takut!” ucap Phil. Dal Soo merasa Phil dipukul di kepala juga dan meminta agar mereka memeriksanya, semua sibuk memeriksa kepala Phil. 


Phil berbaring di pohon menatap sedih ponselnya yang masih 2G dan sudah lama tak bertemu dan ia melihat kalau ini ada Tahun 2007, Tepatnya 10 tahun yang lalu. Ia mulai mengumpat dirinya yang sudah gila.
“Tapi Pahaku sakit sekali begini, jadi tidak mungkin ini mimpi.” Kata Phil. Tiba-tiba Jin Sook datang memukul paha Phil. Phil pun menjerit kesakitan.
“Kau kan memang selalu kena pukul. Kenapa reaksimu berlebihan begitu? Apa Kau tidak pergi latihan?” kata Jin Sook dengan sengaja agar membuat Phil memegang kepalanya.
“Jin Sook.. Kau... adalah murid paling pintar, jadi aku ingin bertanya padamu.” Ucap Phil. Jin Sook pun menanyakan apa itu. Phil pun menuruni pohon.
“Apa kau percaya perpindahan waktu?” kata Phil. Jin Sook pikir itu seperti perjalanan waktu.
“Bagaimana kalau aku mengatakan padamu  kalau aku Phil dari masa depan?” kata Phil.
“Lalu, ke mana kau yang di masa kini? Katamu kau dari masa depan. Maka itu berarti seharusnya kau di sini dengan dirimu masa kini. Sebab itu, aku harus bertatap muka dengan kalian berdua.” Kata Jin Sook. Phil pikir benar juga seperti tak bisa menjelaskan.
“Kalau hanya ada salah satu di antara kalian, itu berita buruk. Sedangkan kalau keduanya ada, maka ini adalah malapetaka bagi seisi bumi. Benarkan, Lelaki-Masa-Depan?” ejek Jin Sook lalu memberitahu kalau waktu makan siang sudah habis.
“Berhentilah omong kosong dan lari sana! Pergi, latihan sana! Kumohon!” kata Jin Sook mendorong Phil pergi. Jin Sook hanya bisa melonggo dengan nasibnya.

“Apa dia benar? Lalu, apa yang terjadi? Bagaimana ini bisa terjadi?” gumam Phil kebingungan dan kembali bergumam bahwa semua itu mimpi.
“Termasuk soal pernikahan Soo Jin, segala sesuatu 10 tahun ke depan, aku hanya memimpikannya, begitu?” gumam Phil. 

Semua berkumpul di lapangan, salah seorang pelatih mengajarkan cara lari yang benar. Phil berpikir kalau sudah berhenti berlari sekian lama dan berpikir Apa sebenarnya yang terjadi sekarang. Gurunya memanggil tapi Phil yang melamun tak bisa mendengarkanya, dan mendekati anak didiknya.
“Hei, Bocah! Kenapa kau tidak ikut pemanasan? Apa yang kau lihat? Memang ada sesuatu di sana?” kata Gurunya. Phil pun hanya diam saja dan berdiri.
“Hei, Bocah, dengar aku baik-baik. Saat kau berlari, maka kau memiliki akselerasi yang sangat bagus. Namun masalahnya ada saat start. Terlalu lambat. Saat kau menegakkan badan, yang lain mungkin sudah lari jauh” kata Guru atletik.
“Benar, start-ku memang sangatlah terlambat. Aku selalu buruk dalam mengawali sesuatu.” Gumam Phil. Gurunya meminta agar Phil bisa fokus.
“Sadarkan dirimu itu! Tatap mataku! Berapa kali sudah kukatakan padamu? Lomba lari itu soal momentum. Momen start dan finish-nya! Semuanya bergantung pada momentum tersebut. Oke?” ucap Gurunya. 

Soo Jin memakain kamera mengambil foto Suk Tae yang selalu tidur lalu meminta Jin Sook untuk melihat ke arah padanya, dengan mengejek temanya yang sedang belajar.  Jin Sook yang tak siap meminta Soo Jin mengambil gembarnya kembali dan tersadar kalau itu kamera baru dan Soo Jin baru membelinya.
“Tidak, aku pinjam dan katanya boleh membawanya.” Kata Soo Jin.
“ Mari kita ambil banyak foto saat konser.” Ucap Jin Sook penuh semangat. Soo Jin berteriak kesal tapi akhirnya langsung menyetujuinya.
“Siapa yang memberimu kamera ini secara cuma-cuma?” tanya Jin Sook penasaran
“Ada, kau tidak mengenalnya.” Kata Soo Jin terlihat gugup. Jin Sook menduga kalau itu Oppa Gereja dan Soo Jin yang memutuskan berkencan dengan si Oppa Gereja. Soo Jin mengelak bukan dia. 

Guru Atletik mulai memberikan aba-aba agar konstentrasi. Phil sudah siap digaris start untuk lari. Ketiga siap berhari setelah mendengar bunyi suara pistol, Phil bukan berlari malah menghampiri gurunya.
“Coach-nim... Saya keluar dari tim.” Ucap Phil. Gurunya berpikir Phil sedang bergurau dan ingin memberikan tembakan. 

Terdengar suara jeritan histeris dari luar. Soo Jin dan Jin Sook melihat keluar jendela ternyata Phil sedang diterikan oleh para fansnya. Soo Jin heran dengan Phil yang sangat populer. padahal lari saja tidak becus. Jin Sook memberitahu selain Soo Jin kalau semua orang menyukai Phil.
“Phil menyukaimu. Dia selalu saja menggodamu sejak SD.” Kata Jin Sook

“Apa maksudmu menyukaiku? Dia tidak pernah sekalipun mengatakan menyukaiku” kata Soo Jin. Jin Sook pikir tak perlu dikatakan.
“Jika dia mengganggumu seperti ini, jelas mereka menyukaimu. Sulit jujur pada seorang teman akan perasaan seperti itu. Sebab, beresiko besar kehilangan teman tersebut.” Jelas Jin Sook. Soo Jin pun berpikir temanya juga menyukai Phil hanya dengan melihat sorot matanya.
“Hei, aku tidak menyukai maupun membenci dia. Dia temanku. Bagiku, dia itu seperti meja sekolah ini. Bukan soal suka atau tidak suka. Namun tentang nyaman atau tidak” kata Jin Sook
“Kalau begitu, Phil, bagiku adalah meja yang sangatlah tidak nyaman.” Tegas Soo Jin mengambil gambar Phil yang sedang berlatih lari. 

Goo Gil dan Dal Soo makan es krim bersama di taman. Goo Gil berkomentar Pelari seperti Phil tidak boleh memiliki startyang buruk. Dal Soo pikir kalau Satu-satunya yang dimiliki Phil hanya kecepatan, menurutnya itu tidak berbakat.
“Sepertiku, pura-pura bodoh saja sekalian. Dengan begitu, kau tidak perlu berlari di bawah terik matahari.” Kata Goo Gil
“Benar, bahkan lomba lari 100 meter ada batasannya. Harus ditempuh dalam waktu kurang dari sembilan detik Dan mustahil bagimu bisa melakukannya... Hei, coba kau pikirkan, Phil selalu saja mencoba hal-hal yang mustahil, 'kan? Saat dia mencoba menyantap lima ekor ayam utuh, ia berakhir masuk IGD. ” Kata Dal Soo
“Hei, jangan coba melakukannya lagi. Tapi, dia itu benar-benar kompetitif. Medali emas untuk sisi kompetitifnya” ejek Goo Gil keduanya pun tertawa.
“Hyungdeul... Apa mungkin kalian pernah melihatku di tempat lain? Bukan aku yang ini, tapi aku yang lain. Diriku yang lain. Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak sedang berbohong. Aku ini... sebenarnya dari masa depan.” Kata Phil. Keduanya hanya menatap dan berkata kalau itu bohong.
“Hyung...Soal ini aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku yang berdiri di sini sekarang bukan diriku masa kini. Namun diriku 10 tahun mendatang. Tidak berarti aku ini bukan Phil. Aku benar Phil.” Ucap Phil berusaha meyakinkan lalu membalikan badan.
“Saat itu, aku sedang lari kencang dan kemudian berada di tubuh masa laluku. Sudah sepuluh tahun berlalu, tapi aku masih memilikinya. Kecepatan!.. Ahh..Tidak, aku masih saja lambat. Tapi...” kata Phil lalu tersadar kalau dua temanya suah pergi. Ia pun memohon agar keduanya bisa mendengarkanya.


“Tadi malam, aku... sedang mengantar Soo Jin pulang ke rumah.” Ucap Phil tiba-tiba merasakan kepala terasa sakit. Pikiran seperti bisa melihat masa depan saat Soo Jin seperti ketakutan.
Phil berlari kencang mencari Soo Jin, sementara Soo Jin sedang membawa net dan bola voli, tapi jaringnya tersangkut pada paku, Ia berusaha menariknya tapi malah membuat papan yang akan menimpanya. Phil terus berlari melihat dari kejauhan.
Soo Jin ketakutan karena papan berisi kaca siap untuk menimpanya, Phil telat datang tapi papan tak jatuh menimpa Soo Jin. Semua kaca pecah berantakan. Soo Jin dengan wajah panik tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang.
“Diam di situ, jangan bergerak.” Kata Phil. Soo Jin dengan terbata-bata ingin menjelaskan,  Phil mengangguk mengerti. Soo Jin takut karena semua jatuh berantakan. Phil menyuruh Soo Jin agar tetap diam saja.
“Aku tidak melakukannya. Bagaimana ini?” ucap Soo Jin ketakutan. Phil menenangkan Soo Jin kalau tak akan masalah.

“Tak apa, semuanya akan baik-baik saja... Ini berbahaya, jadi bangunlah.” Kata Phil membantu Soo Jin untuk berdiri. Soo Jin masih gemetar ketakutan karena menghancurkan semuanya. Terdengar seorang guru yang datang mendengar suara keributan,
“Aku ingat... Hari di mana Soo Jin yang memiliki "Tangan Penghancur", merubuhkan cermin sekolah. Aku... apa yang dulu kulakukan?” ucap Phil mencoba mengingatnya.
“Kau, masuklah. Semuanya akan baik-baik saja.” Kata Phil lalu mendorong Soo Jin untuk pergi. Soo Jin kasihan melihat Phil tapi bersembunyi dibalik dinding.

Guru Gestafo datang melihat Phil lagi yang membuat masalah, Phil mengaku kalau baru saja merubuhkannya. Guru Gestafo curiga menanyakan alasanya. Phil mencari alasan kalau memiliki waktu start yang buruk, jadi mencoba pistol lalu menendang dan melemparnya.
Guru Gestafo pun berteriak menyuruh Phil kembali menunduk, jeritan kesakitan pun terdengar karena telinga Phil kena jewer. Soo Jin merasa kasihan melihat Phil yang bertanggung jawab atas kesalahanya. 



Guru Gestafo menjewer kuping Phil menegaskan kalau Atlet lari sekalipun masih tetap seorang murid dan sebagai dekan sekolah tidak akan tinggal diam, bahkan Terakhir kali, lari di koridor dan menubruk Kepala Sekolah dan Sampai beliau dirawat di rumah sakit 3 minggu.
“Dia ingin berlari, lalu aku bisa apa?  Itu sebabnya dia jadi atlet lari!”kata Guru Atletik ikut menjewer
“Tetap saja, dia tidak bisa lari menubruk sana sini seperti banteng!!!” teriak Guru Gestafo. Guru Atletik menegaskan Phil itu masih bocah
“Aigoo, Phil kita ini hanya bocah lelaki yang manis. Kau juga tahu bagaimana anak seusianya penuh dengan energi! Apa mungkin kau tidak mengetahuinya?” ucap Guru Atletik.
“Ohh Begitukah? Kalau begitu, dia pasti tidak kesakitan meski dibeginikan.” Kata Guru Estafo sengaja menarik telinga Phil. Guru Atletik bertanya apakah Phil kesakitan.
Phil menjerit kalau kesakitan, Guru Atletik menyuruh Phil berlari. Phil pun sudah mengetahui untuk lari 50 putaran. Guru Atletik tak percaya Phil yang bisa membaca pikiran. Guru Estafo menyuruh Phil agar berlari 100 keliling.
“Sial, dulu hanya 50 putaran. Keadaan bisa berubah.” Gumam Phil mengumpat dalam hati. Guru Gestafo pun menyuruh Phil segera berlari. 


Phil berlari berkeliling lapangan. Sementara murid lain mengikuti pelajaran. Soo Jin melihat dari jendela Phil yang mendapatkan hukuman berlari, setelah pelajaran selesai ia pun berjalan ke lapangan dan dengan sengaja mengambil gambar. Wajahnya tersenyum bahagia dan sengaja bersembunyi saat Phil lewat didepanya.
“Pasti sangat panas. Tapi melihatnya seperti ini... dia kelihatan agak keren. Yahh... walaupun Hanya sedikit.” Ucap Soo Jin.

“Semalam, aku mengantar Soo Jin pulang ke rumah. Soo Jin kemudian memberiku undangan pernikahan. Lalu, aku berpikir untuk menyatakan perasaanku. Namun, mendadak aku harus buang air kecil. Aku berdiri di samping lampu jalan di depan sebuah terowongan.. Ma--manhole (lubang buatan manusia)!” ucap Phil setelah duduk dengan terengah-engah.
Akhirnya ia kembali berlari menuju lubang yang dituju, Jin Sook baru saja pulang binggung melihat Phil yang berlari sangat cepat, padahal baru saja mendapatkan informasi yang dia inginkan. Phil sampai ditempat dirinya menghilang, lalu berusaha berteriak agar bisa membuka. Beberapa orang melihat Phil seperti orang gila.
Phil berteriak agar bisa menariknya lagi dan mulai memohon sambil berdoa agar bisa kembali, tapi belum juga berubah.  Ia pun mulai engumpat pada lubang karena tidak ingin menjadi murid SMA lagi.
“Aku benci padamu, dasar Manhole brengsek! Jangan bilang aku harus menjalani kehidupan yang sama kedua kali? Apa Kehidupan yang bahkan tidak dapat kumulai?” ucap Phil terlihat benar-benar frustasi. 



Soo Jin mencetak foto dan heran melihat lebih banyak foto Suk Tae sedang tidur, lalu wajahnya bisa tersenyum melihat foto Soo Jin yang berlari dilapangan, lalu memikirkan yang akan ditulis dibalik foto.
“20 Juni 200, Hari di mana dia lari 100 putaran di lapangan.” Tulis Soo Jin tak lupa memberikan tanda.
Saat itu Suk Tae melihat dari kejauhan dan mendekat bertanya ap yang dilakukan Soo Jin. Soo Jin kaget dan mengaku senang karena bertemu Suk Tae lalu memberikan foto yang berhasil diambilnya.  Setelah itu buru-buru keluar dan memasukan ke dalam amplop. Suk Tae melihat foto dirinya sedang tertidur hanya bisa mengumpat kesal.
“Kumohon sampailah dengan aman.” Ucap Soo Jin memasukan amplop pada bis surat.
“Soo Jin Biar aku bawakan tasmu.” Kata Suk Tae mengambil tas Soo Jin. Soo Jin menolak karena berat tapi Suk Tae memaksa akan membawanya. Akhinya Soo Jin hanya bisa mengucapkan Terima kasih.


Phil berjalan frustasi memikirkan cara agar bisa kembali dan merasa panas, matanya langsung melotot marah melihat Suk Tae membawa tas Soo Jin. Suk Tae terlihat ketakutan. Phil pun tak percaya kalau itu cara Suk Tae selalu mendekati Soo Jin.  Suk Tae mengaku kalau semua hanya salah paham.
“Aku membawakan tas Soo Jin karena dia bilang lengannya sakit.” Kata Suk Tae. Soo Jin binggung karena tak pernah mengatakanya. Suk Tae pikir itu kaki Soo Jin.
“Tolong selamatkan aku.” Bisik Suk Tae ketakutan. Soo Jin binggung caranya. Suk Tae pun mengambil tas milik Soo Jin dan menyuruh agar pergi sana ke tempat bilyard Goo Gil.
“A--aku tidak bisa. Aku harus belajar.” Ucap Suk Tae yang ingin masuk PNS
“10 tahun mendatang pun kau masih tetap belajar, jadi jangan membantah dan pergi saja ke sana!” kata Phil. Suk Tae pun bergegas pergi dan Soo Jin hanya bisa mengucapkan Terima kasih.

Soo Jin mengambil tas dan merasa Phil hanya akan membuatnya merasa tidak nyaman. Phil kesa karena tadi dengan Suk Tae tadi tak masalah tapi denganya tidak nyaman denganya. Soo Jin mengaku  merasa tidak nyaman karena Phil orangnya.
“Kau selalu menjadi meja yang tidak nyaman sejak dulu.” Ungkap Soo Jin
“Jauh lebih baik kalau aku benar-benar jadi mejamu saja. Karena saat kau tidak sengaja ketiduran di atasnya aku” gumam Soo Jin dalam hati.
“Oh, ya.. , kau harus pergi bersamaku... Pergilah bersamaku. Ikut aku.” Kata Phil menarik Soo Jin pergi. Soo Jin berusaha menahanya karena masih pakai rok tak bisa berlari. 

Phil menarik Soo Jin ke tempat dirinya yang sebelumnya menghilang,  lalu bertanya apakah ia Soo Jin masa kini atau Soo Jin masa depan. Soo Jin tak mengerti yang dikatakan oleh Phil.  Phil meminta Soo Jin agar bisa memikirkanya.
“Kemarin pukul 12 malam, kau menunggu aku di sana. Saat itu, aku harus buang air kecil, lalu jatuh ke manhole ini. Saat itu, apa kau ke sini juga?” ucap Phil penasaran.
“Phil, atas yang kau lakukan hari ini, aku berterima kasih sekaligus minta maaf.” Kata Soo Jin
“Hei, demi kau, aku sanggup lari 100 atau bahkan 1000 putaran! Jadi lupakan itu, dan cobalah mengingat. Semalam, aku mengantarmu pulang. Tadi malam. Kau ingat, 'kan? Kau pasti ingat, karena kau memberikan sesuatu padaku.” Ucap Phil mencoba mengingatkan Soo Jin.
“Apa gara-gara lari seratus putaran kau jadi tidak waras? Semalam aku tidur lebih awal setelah menonton drama! Bagaimana mungkin aku menemuimu di sini pukul 12 malam? Apa kau sedang mengigau? Hei, sadarkan dirimu! Kau pasti mati kalau jatuh ke dalam sini!  Lebih mati  Mati sana.. kubunuh kau!” ucap Soo Jin kesal memilih untuk berjalan pergi.
“Dia sungguh Soo Jin masa kini. Dia tidak mengingat apa pun. Sial.. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Phil panik 


Phil akhirnya mengejar Soo Jin sampai berjalan di trotoar. Soo Jin tahu kalau Phil selalu gila, tapi menurutnya hari ini Phil tampak lebih sinting lagi. Phil pikir Mungkin  ingin bunuh diri rasanya harus wajib militer sekali lagi, lalu ia mencoba meminta Soo Jin mengingat sebuat tempat.
“Saat kau berumur 20, atau 21, kau belajar mengendarai motor matic, dan berakhir patah lengan. Keseimbangan tubuhmu buruk, jadi jangan mencobanya. Lalu, apa kau lihat tempat di sana itu?” kata Phil menunjuk tempat lainya. Soo Jin tak mengerti dan bertanya memangnya apa.
“Saat aku wajib militer, aku libur dan ingin menemuimu, jadi aku tidur di sana. Saat itu gara-gara para senior membuatku banyak minum, mak aku tidak sengaja mengganggumu, jadi jangan pernah salah paham.” Kata Phil. Soo Jin merasa Phil benar-benar sedang bicara ngawur.
“Dia pasti habis kena serangan jantung.” Keluh Soo Jin. Phil merasa tak mungkin kalau Soo Jin memahaminya.
“Bagaimana pendapatmu dengan seorang apoteker? Hati-hati dengan apoteker. Kau akan dibawa olehnya ke ruang-hiburan-serba-guna Lalu dia akan melakukan sesuatu.” Kata Phil. Soo Jin benar-benar tak mengerti maksud ucapan Phil.
Phil melihat di dalam Apotek, merasa Kelihatannya Jae Hyun punya rambut tebal saat masih muda, lalu mengikuti Soo Jin berjalan. 

Keduanya berjalan bersama sambil membawa es krim, Jin Sook baru saja keluar dari toko kelontong melihat Phil langsung mengomel kalau tadi memanggil tapi mengabaikannya dan berpikir berlari menemui Soo Jin. Phil melihat Jin Sook yang baru keluar dari toko kelontong.
“Orang tuamu kan punya toko juga di gang sebelah, kenapa kau ke toko orang lain begitu?” kata Phil heran.
“Orang tuaku tidak menjual pembalut.”kata Jin Sook santai. Soo Jin terlihat canggung, meminta Jin Sook agar menjaga ucapanya.
“Tak apa, aku dan dia tidak saling menyimpan rahasia.” Kata Jin Sook
“Makanya, ini saatnya kita memutus hubungan satu sama lain.” Tegas Phil kesal dan akan berjalan pergi.
“Tapi, hari ini kau harus bertemu denganku.” Kata Jin Sook lalu menarik Phil untuk mendekatnya.  Phil seperti tak suka dengan Jin Sook.

“Ini bukan saatnya kau berlaku begitu padaku. Soo Jin sedang dekat dengan Oppa Gereja. Tapi, Oppa Gereja itu mata keranjang dan setiap gadis cantik di lima sekolah berbeda area sini sudah diciumnya. Sudah kukatakan padamu kemarin, brengsek!” kata Jin Sook
Soo Jin ingin mendekat tapi Jin Sook diminta untuk menjauh, Phil bertanya apakah sekarang adalah harinya. Soo Jin yang kesal mengambil tas dari tangan Phil.
“Kuharap kalian berdua hidup bahagia bersama selamanya.” Kata Soo Jin sinis lalu pamit pergi. Phil panik memanggil Soo Jin tapi Jin Sook menariknya.
“Hei, aku belum memberitahumu di mana tempatnya. Ini Ciuman.” Kata Jin Sook.
“Ciuman itu bukan apa-apa. Kemarin, dia bersama apoteker itu, pergi ke tempat-hiburan-serba guna.” Kata Phil lalu merasa tak perlu untuk memberitahu Jin Sook yang masih SMA dan polos, akhirnya memilih untuk pergi dengan membiarkan Jin Sook mengambil es miliknya.
“Hei.. Dia akan mencium Oppa Gereja itu!” teriak Jin Sook dan bertanya-tanya Siapa lagi apoteker serta Ruang-hiburan-serba-guna, padahal sebelumnya Phil yang meminta untuk menceritakan segala sesuatu tentang Soo Jin
Bersambung ke Part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar