Kamis, 03 Agustus 2017

Sinopsis School 2017 Episode 6 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS

[Episode 6 -Catatan yang Sebenarnya dari Kehidupan Kami]
Guru Shim baru saja keluar dari ruang guru dan dikagetkan dengan Petugas Han yang sudah ada didepanya dengan membawa senter. Petugas Han langsung mengejek Guru Shim benar-benar imut karena terlihat kaget. Guru Shim menegaskan dirinya itu pria jadi tak mungkin imut.
“Tapi kenapa kau belum pulang jam segini?” tanya Petugas Han
“Ya. Aku kebagian tugas malam.” Kata Guru Shim, Petugas Han merasa ini memang waktu yang tepat.
“Bagaimana kalau kita melakukan pemeriksaan singkat sambil berjalan pulang?” kata Petugas Han. Guru Shim binggung dengan maksud ucapan Petugas Han. Petugas Han mengajak Guru Shim agar ikut saja denganya. 


Si Pelaku X mengambil berkas Kompetisi Matematika Sekolah, Soal dan Jawaban, lalu saat itu juga Eun Ho melihat si pelaku dan mengejarnya. Tae Woon melihat dari kejauhan Eun Ho mengejar pria dengan jaket hitam.
Petugas Han mulai patroli dengan senter merasa kalau mendengar sesuatu. Guru Shim mengaku tak tahu, Petugas Han yakin kalau ada suara berasal dari ruangan lain dan mulai berjalan mencarinya. 

Eun Ho berhasil membuat si pelaku berhenti didepanya dan berkas soal pun jatuh, matanya melonggo tak percaya melihat Dae Hwi dibalik penutup kepala. Dae Hwi memilih untuk kabur, Eun Ho ingin mengejar tapi saat itu Tae Woon datang menahanya.
“Kenapa kau bisa ada di sini?” kata Eun Ho binggung melihat Tae Woon yang datang. Tae Woon menyuruh Eun Ho agar mengurus urusanya sendiria. Eun Ho heran dengan ucapan Tae Woon.
“Jangan ikut campur dengan urusan orang lain.” Kata Tae Woon. Eun Ho pikir ada sesuatu yang menganjal
“Tapi apa maksudmu? Siapa itu?” tanya Tae Woon. Eun Ho mengaku tidak bisa melihat wajahnya.
“Sepertinya anak sekolah kita juga.” Kata Tae Woon lalu melihat ada berkas Kompetisi Matematika Sekolah, Soal dan Jawaban.
“Apa yang harus kita lakukan?Mereka akan marah besar kalau tahu soal ini besok.” Kata Eun Ho panik. 


Tae Woon mencoba masuk ke dalam ruang guru untuk mengembalikan berkas, sementara Eun Ho berjaga-jaga didepan pintu sambil berkata merasa tidak menyangka sedang melakukan apa yang dilakukan X selama ini lalu melihat ada lamp senter dan langsung memberitahu Tae Woon kalau ada orang yang datang dan mengajak bersembunyi.
“Siapa yang masih di sini jam segini? Sekolah ini belakangan semakin aneh saja.” Kata Guru Shim
“Apa menurutmu ini ulah X lagi? Siapa dia?  Kenapa sepertinya dia profesional sekali?” kata Petugas Han penasaran
“Kalau ada yang datang kita harus segera keluar.” Ucap Tae Woon berusaha membuka jendela tapi semua kunci. 

Guru Shim dan Petugas Han menuruni tangga melihat ruang guru yang terbuka. Eun Ho dan Tae Woon mulai panik karena sinar lampu semakin mendekat, Guru Shim masuk bisa mendengar suara. Eun Ho ketakutan karena Guru Shim yang datang. Tae Woon menyuruh Eun Ho diam saja. Petugas Han akan masuk dan Guru Shim langsung menahanya.
“Apa kau mau makan ramyun?” ucap Guru Shim seperti mengajak Petugas Han bermalam. Petugas Han binggung lalu merasa guru Shim itu hanya omong kosong.
“Atau mungkin nonton film ? Film tengah malam.” Kata Guru Shim mencegah Petugas Han masuk. Petugas Han heran tiba-tiba Guru Shim mengajak makan ramyun dan nonton film. Saat itu Eun Ho dan Tae Woon bergegas keluar tapi malah membuat suara. Petugas Han mulai curiga
“Itu karena.. Aku menyukaimu... Aku menyukaimu.” Kata Guru Shim mengalihakanya. Petugas Han sempat terdiam mendengar perkataan Guru Shim. Tae Woon dan Eun Ho pun bergegas pergi dari pintu belakang. Guru Shim kembali mencari seseorang didalam ruangan.
“Menurutmu kau juga mencurigakan, benarkan? Mengungkapkan cintamu di saat-saat seperti ini. Haruskah aku melaporkanmu karena semua ini?” ucap Petugas Han seperti tak bisa digombali oleh Guru Shim. Guru Shim hanya bisa tertawa lalu mengaku kalau ingin makan ramyun. 


Dae Hwi terus berlari sampai ke taman,  lalu mengingat kembali saat Eun Ho bisa melihat wajahnya dibalik jaket yang dipakainya. Wajahnya terlihat gelisah dan bersaha pergi.Eun Ho dan Tae Woon berhasil kabur dan kembali bersembunyi, tiba-tiba keduanya saling menatap membuat suasana jadi canggung.
“Kenapa kau selalu melakukan hal-hal semacam ini? Membuat jantung mau copot saja.” Ungkap Eun Ho
“Kalau semua orang bisa melakukan itu, maka aku tidak akan kelihatan keren” kata Tae Woon.
“Kau benar-benar tak pernah mengecewakan aku. Kau tidak pernah lupa pamer di saat-saat seperti ini.” Ejek Eun Ho
“Tapi.. apa kau benar tidak lihat wajahnya?” kata Tae Woon tak percaya, Eun Ho mengaku kalau memang tak melihatnya.
“Aku juga tidak tahu itu kau waktu pertama melihatmu di ruang guru. Dia pasti mencoba meniru. Belakangan ini banyak sekali penirunya” kata Eun Ho menyakinkan.
“ Atau mungkin.. seseorang yang sangat  membutuhkan lembar soal lomba itu.” Kata Tae Woon seperti bisa mencurigai seseorang. 

Guru Shim masuk ruangan guru sendirian, menyalakan lampu dan memeriksa semua laci untuk kompetisi masih terkunci. Lalu mencoba mengejek semua laci untuk memastikan tak ada yang hilang dalam ruang guru. Akhirnya ia bisa sedikit bernafas lega duduk di meja kerjanya.
Ia mengingat mendengar suara dibalik meja, dua orang yang sedang berbicara mengetahui kedatanganya. Ia melihat buku anak kelasnya, merasa yakin kalau dua orang itu adalah anak muridnya, tapi tak bisa menebak siapa orangnya. 

Eun Ho tak bisa tidur padahal sudah jam tiga pagi, teringat kembali saat menatap langsung kalau Dae Hwi yang mengambil berkas soal dan jawaban untuk kompetisi matematika. Akhirnya ia duduk di atas tempat tidurnya sambil berbicara sendiri.
“Kenapa Dae Hwi harus melakukan hal-hal semacam itu? Apa Dae Hwi... mencoba mengambil lembar ujian kompetisi? Tapi Kenapa?” kata Eun Ho masih tak percaya. 

Dae Hwi duduk di meja belajar kebingungan mencari sesuatu dalam jaket dan juga saku celana, tapi tak menemukanya. Sementara Tae Woon berbaring di tempat tidurnya memegang sebuah kunci “SMA Geumdo” yang ditemukanya.
Ia ingat saat Guru Shim memberikan kunci utamanya. Lalu Eun Ho dengan nada curiga bertanya kenapa Guru Shim memberikan kunci pada Dae Hwi.  Dae Hwi mengaku kalau Ada banyak tempat di sekolah yang harus dimasuki dan hanya ia dan Wakil Ketua Osis  punya masing-masing satu.

Dae Hwi mencari sesuatu dibalik semak-semak dan saat itu sebuah kunci jatuh di dekatnya, Tae Woon dengan dengan menada mengejek berkata “apakah itu yang sedang dicarinya?” lalu mulai mengumpat Dasar kunyuk gila dan bertanya Kenapa temanya iytu harus hidup seperti ini.
“Akulah kunyuk gilanya di sini, jadi menyingkir sajalah kau sana. Hidupmu sendiri sajapun tidak beres.” Balas Dae Hwi
“Nasehatmu yang lembut itu lagi-lagi membuatku kesal.” Balas Tae Woon.
“Apa itu menyenangkan? Apa kau bersenang-senang karenanya? Apa menurutmu aku ini  menyedihkan karena mencoba melakukan sebuah tindakan bodoh?” tanya Dae Hwi. Tae Woon membenarkan.
“Kalau kau mau melaporkanku atau menceritakan ini pada yang lain, maka aku tidak peduli.” Kata Dae Hwi menantang.
“Apa kau gila? Aku mana peduli apa yang akan dilakukan oleh orang tak penting macam kau. Kau sendiri bahkan tak seberani itu, kenapa juga aku harus melakukannya?” ejek Tae Woon.
“Jangan ikut campur dengan hidupku lagi. Karena itu menjijikkan.” Tegas Dae Hwi. Tae Woon pun berbalik dengan wajah dongkol. 


Guru Koo kembali membacakan sebuah puisi "Hidupku harus seperti cahaya itu. Aku harus memanjat tinggi tanpa henti. Waktu berlalu, masa depan yang gemilang menjauh dari kita."
Saat itu Eun Ho dan Dae Hwi terlihat sangat gelisah karena keduanya berpapasan semalam, dari kejauhan Tae Woon melihat keduanya karena sudah mengetahui menyimpan sesuatu. 

Eun Ho keluar bersama dengan Sa Rang, Dae Hwi langsung memanggilnya mengajak Eun Ho bicara sebentar. Sa Rang curiga ingin tahu apa yang ingin dibicarakan keduanya. Eun Ho sedikit gugup kalau mereka ingin membahas tentang lomba dan Dae Hwi yang ingin sama-sama mendaftar. Dae Hwi sempat binggung tapi akhirnya membenarkan ucapan Eun Ho.
“Lomba apa? Apa kau sedang bersiap ikut kompetisi dengan Eun Ho?” kata Nam Joo datang dengan wajah curiga.
“Ya, itu.. Begini.. Sebenarnya adalah.. Aku minta bantuan Eun Ho  menggambar untuk lombaku.” Akui Dae Hwi. Eun Ho langsung membenarkanya.
“Dae Hwi, nanti saja kita bicaranya.” Kata Eun Ho lalu bergegas mengajak Sa Rang untuk segera pergi.
“Kau mau bertemu dia di mana?”tanya Nam Joo seperti ingin mengetes kejujuran Dae Hwi.
“Apa maksudmu di mana? Tentu saja di sekolah. Ayolah.. Kau tidak usah cemas.” Kata Dae Hwi menyakinan.
“Bagaimana bisa aku tidak cemas? Pacarku akan menemui gadis lain.” Keluh Nam Joo. Dae Hwi mengaku kalau hanya sebentar dan Nam Joo tak perlu khawatir dengan hal itu. 


Eun Ho berbicara ditelp kalau akan bertemu di kafe dekat halte bus, lalu berkata kalau mengetahuinya dan akan segera datang. Tae Woon menunggu di pinggir tangga langsung bertanya kapan Eun Ho akan datang menemui Dae Hwi.
“Bukan urusanmu.” Ucap Eun Ho ketus
“Jangan pergi... Jangan pergi menemui Dae Hwi.” Kata Tae Woon seperti tak ingin Eun Ho dekat dengan Dae Hwi
“Jangan ikut campur kau.”balas Eun Ho
“Kaulah yang jangan ikut campur dengan urusan orang lain.” Ucap Tae Woon kesal
“Aku sedang bersiap untuk ikut lomba, kenapa kau sebut itu urusan orang lain? Tentu saja itu urusanku.” Tegas Eun Ho lalu beranjak pergi. Tae Woon pun tak bisa berkata apa-apa. 

Dae Hwi mengajak Eun Ho pergi ke cafe dengan memesan minum lebih dulu. Eun Ho terlihat gugup saat Dae Hwi menanyakan apa yang ingin diminumnya, sambil memegang sebuah botol, lalu berkata apa saja. Dae Hwi pun memesan minuman sementara Eun Ho duduk di bangku.  Eun Ho binggung tiba-tiba Dae Hwi memberikan botol yang sudah diisi minuman.
“Dari tadi kau terus melihat botol itu.” Kata Dae Hwi, Eun Ho menegaskan dirinya bukan cewek matre yang suka diberi hadiah tapi mengucapkan Terima kasih. Keduanya terlihat masih cangung sampai akhirnya Eun Ho yang lebih dulu bicara.
“Dae Hwi... Saat aku dijebak.. kaulah satu-satunya yang menulis petisi buatku. Aku merasa sangat.. berterima kasih karena itu... Karena kau memercayaiku.” Kata Eun Ho. Dae Hwi mencoba menjelaskan tapi Eun Ho kembali bicara.
“Kukira.. kau punya alasan kenapa kemarin kau melakukan itu. Karena tidak ada hal lebih baik yang bisa kau lakukan. Setidaknya, begitulah Song Dae Hwi yang kukenal.” Kata Eun Ho. Dae Hwi pun mengucapkan Terima kasih dengan ungkap perkataan Eun Ho.
“Aku berpikir keras sepanjang malam.. bagaimana caranya menjelaskan ini..dan dari mana aku harus memulainya.” Ungkap Dae Hwi
“Kau bisa menceritakan semuanya kalau kau sudah merasa siap. Aku tahu tidak mudah menerima kenyataan, tapi aku bisa menjaga rahasia ini” ucap Eun Ho. Dae Hwi pun mengucapkan terimakasih.
“Oh Yahh... Soal lombanya.. sudah kukembalikan dengan selamat ke tempatnya, jadi Tak usah cemas.” Kata Eun Ho. Dae Hwi pun kembali sangat berterimakasih pada Eun Ho karena membuatnya semua orang tak curiga. 


Saat itu ponsel Eun Ho berdering, Dae Hwi melihat nama “Tae Woon”. Eun Ho buru-buru membalikan ponsel untuk tak menerimanya. Tae Woon menunggu didepan cafe mencoba menelp Eun Ho kembali.  Keduanya akhirnya keluar dari cafe dengan Eun Ho meminta Dae Hwi Jangan cemas, karena akan bicara dengannya. Tae Woon langsung mendekati keduanya, Eun Ho kaget melihat Tae Woon yang datang.
“Apa kau barusan minta Eun Ho untuk tutup mulut? Dasar Munafik sekali kau. Apa sebegitu inginnya kau menutupi itu?” ucap Tae Woon sinis
“Kenapa kau peduli?” balas Dae Hwi juga dengan nada tinggi. Eun Ho meminta keduanya agar tak saling adu mulut karena keduanya berteman.
“Aku penasaran.. siapa orang yang membuat  Hyun Tae Woon ini, ikut campur dengan urusan orang lain.” Ucap Dae Hwi
“Apa kau Sudah tahu sekarang? Makanya jangan buat aku kesal.” Kata Tae Woon. Eun Ho meminta keduanya untuk berhenti saja.
“Kalau kau tidak mau kubuat kesal, maka jangan ikut campur.” Tegas Dae Hwi
“Kau pasti salah paham sekarang, tapi aku tidak peduli seberapa menyedihkannya hidupmu. Aku tidak pernah peduli lagi padamu sejak saat itu.” Tegas Tae Woon menarik tangan Eun Ho untuk pergi. Eun Ho langsung melepaskan tangan Tae Woon, Tae Woon menegaskan kalau harus berbicara dengan Eun Ho. Eun Ho pamit lebih dulu pada Dae Hwi lalu mengajak Tae Woon untuk ikut denganya. 


Eun Ho heran dengan Tae Woon yang bisa tahu kalau mereka dan disana, tapi menurutnya Tae Woon itu sudah tahu sudah tahu sejak awal, tapi malah bersikap seolah-olah tidak tahu. Tae Woon meminta agar mulai sekarang jangan temui Song Dae Hwi lagi.
“Dia bilang punya alasan sendiri dan Sepertinya cukup rumit.” Ucap Eun Ho
“Lantas apa hubungannya denganmu?” kata Tae Woon seperti tak ingin Eun Ho ikut campur.
“Kaulah yang jangan ikut campur. Kau bilang kau tidak mau jadi X lagi..” Kata Eun Ho
“Kalau begitu jangan ikut campur lagi dengan urusan orang lain Siapa memangnya yang selama ini suka ikut campur?” kata Tae Woon dengan nada tinggi.
“Temanmu... Temanmu juga menyelamatkanku.” Ucap Eun Ho lalu berjalan pergi meninggakan Tae Woon.
Dae Hwi membaca lembaran evaluasi tentan dirinya “Dia sangat terus terang, Dia adalah murid yang loyal” lalu mengubahnya jadi  (Dia pengecut dan licik. Dia melakukan apa saja untuk memenuhi semua yang dia mau)


Issue sedang berjalan di lorong, dua orang pelajar menggetahui Issue dari grup Geumsang Chumhwa dan mengaku sebagai pengemar beratnya, lalu memberikan sebuah hadiah. Issue berusaha menolaknya tapi ternyata meminta agar di berikan pada dua seniornya dalam grupnya.
“Oppaa...  Yang ini untukmu.” Ucap Sa Rang menghampiri Issue. Isseu melihat ukiran mana di atas bantal  (Aku cinta  Issue Oppa)
“Maafkan aku, tapi aku merasa terbebani dengan ini. Kita 'kan sekelas, kau tidak seharusnya memanggilku Oppa” kata Issue menolak pemberian dari  Sa Rang. Sa Rang mencoba menjelaskan tapi Issue lebih dulu pergi.
“Wahh.. Ini pas sekali buatku. Bagaimana kau bisa tahu seleraku?  Terima kasih.” Kata Guru Jang mengambil bantal ditangan muridnya. Sa Rang menolak karena itu hadiah untuk Issue.
“Ini sama sekali tidak akan membebani Bapak, Terima kasih” kata Guru Jang. Sa Rang hanya bisa berteriak sedih hadiahnya diambil begitu saja. 


Nam Joo terlihat panik berjalan ke depan sekolah menghampiri ayahnya dalam mobil padahal sudah meminta agar jangan datang ke sekolah. Tuan Hong tahu anaknya yang suka roti lalu memberikan satu kantung roti untuk bisa dimakan dengan teman anaknya. Nam Joo pun menerimanya dan saat itu Dae Hwi datang.
“Nam Joo... Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memanggil taksi?” ucap Dae Hwi. Nam Joo langsung melepaskan tangan dan membiarkan roti didalam mobil.
“Aku mau ke tempat les.” Kata Nam Joo berbohong. Tuan Hong pun hanya diam saja. Dae Hwi ingat kalau jadwal les Nam Joo bukan sekarang.
“Begini.. Aku mau bertemu dengan konsultanku untuk evaluasi.” Kata Nam Joo. Dae Hwi pun memutuskan untuk mengantarnya. Nam Joo makin panik merasa Dae Hwi tak perlu mengantarnya.  Dae Hwi menyuruh Nam Joo masuk lebih dulu.
“Aku ada urusan mendadak juga di Daechi-dong.” Kata Dae Hwi. Nam Joo pun tak bisa menolak dengan masuk ke dalam taksi. 

Tuan Hong sempat melirik dalam taksi, Nam Joo makin gugup takut Dae Hwi tahu kalau supir taksi adalah ayahnya. Dae Hwi melihat tanda pengenal didepan taksi, lalu sadar kalau taksi ini adalah milik ayah Nam Joo. Nam Joo semakin panik.
“Ada apa? Apa kau sakit?” ucap Dae Hwi melihat wajah Nam Joo yang panik. Nam Joo mengelak dan ingin mengatakan sesuatu
“Bukannya ini perusahaannya ayahmu? Transportasi Shingang.” Kata Dae Hwi. Nam Joo membenarkan dengan wajah sedikit agak lega kalau memang itu perusahaan taksi ayahnya.
“Kau juga akan magang di perusahaan ayahmu 'kan?” kata Dae Hwi. Nam Joo menganguk. Tuan Hong terus mendengarnya dari belakang kemudi.
“Beruntung sekali kau, Evaluasimu juga sudah beres.” Kata Dae Hwi merasa iri. Nam Joo hanya bisa tertunduk diam. Tuan Hong seperti nelangsa melihatnya. 


Tuan Ra datang membawa pesanan ayam pada sebuah apartement. Nam Joo membuka pintu dan beberapa anak kecil langsung menyerbu seperti sangat bahagia karena ayam goreng sudah datang.  Tuan Ra melihat seragam yang dipakai Nam Joo kalau itu murid Geumdo. Nam Joo membenarkan dan semakin gugup saat tuan Ra memberitahu kalau anaknya juga sekolah disana. Nam Joo memilih untuk segera membayar dan menutup pintu.
“Anak-anaknya ada banyak. Apa satu ekor ayam cukup untuk mereka?” ucap tuan Ra merasa kasihan melihat banyak anak dirumah Nam Joo. 

Dae Hwi kembali mengajarkan soal pada He Chan di ruangan kantin. Tae Woon melihat dari kejauhan. Hee Chan meminta Maaf karena meminta Dae Hwi yang  memprediksi soal ujian akhir dan pasti merasa kesal soal kompetisi itu. Dae Hwi mengatakan akan tetap ikut lombanya. Hee Chan seperti tak percaya mendengarnya.
“Aku harus mencoba apapun yang kubisa. Aku bahkan belum memulainya.” Kata Dae Hwi. Hee Chan seperti kecewa tapi berusaha mendukungnya.
“Tentu saja kau harus mencoba semua yang kau bisa.” Kata Hee Chan dan Dae Hwi kembali mengajarkan soal pada Hee Chan.
“Astaga... ini Menyebalkan sekali.” Ejek Tae Woon menatap Dae Hwi. Byung Joo yang duduk didepanya binggung.
“Apa minumannya tidak enak?” kata Byung Joo. Tae Woon memilih untuk pergi dengan tatapan dingin. Dae Hwi hanya diam saja karena tahu pasti Tae Woon menyindirnya. 
Flash Back
Dae Hwi dan Tae Woon minum bersama, lalu Dae Hwi mengeluh kalau tak ada orang yang bersulang dengan soda. Joong Ki datang membawakan sepiring kerang, kalau sudah minta secara khusus pada kokinya.. untuk ulang tahun siswa teladan. Dae Hwi bahagia melihat tampilan kalau Ada kacang di mana-mana.
“Lupakan kacangnya. Apa kau tidak akan kembali ke sekolah?”kata Tae Woon.
“Tidak sekolah juga tidak akan mati, Ini Hadiahku.” Kata Joong Ki memberikan hadiah pada Dae Hwi. Tae Woon memberikan sebuah kotak pada Dae Hwi.

Dae Hwi kaget melihat isinya adalah Tablet dan merasa tak enak hati selalu saja menerima hadiah. Joong Ki mengejek Dae Hwi agar Jangan sok dewasa begitu, menurutnya Ada pria yang banyak memberi, dan yang diberi tentu harus menerima.
“Yang tampan akan dikejar-kejar gadis, dan yang lucu akan membuat suasana jadi ceria.” Ucap Joong Ki
“Kalau begitu.. sepertinya akulah yang bertugas untuk dikejar-kejar para gadis.” Kata Dae Hwi bangga.
Joong Ki yang mendengarnya mulai mengumpat, Tae Woon mengaku kalau itu alasan ingin memberikan tonjokan ulang tahun padanya, mereka pun memberikan pukulan dengan kasih sayang.
Dae Hwi dikamarnya melihat jam tangan persahabatan mereka, dengan wajah sedih.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar