PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 08 November 2017

Sinopsis Because This My First Life Episode 9 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN

Se Hee menyuruh Ji Ho untuk segera bergegas dan mengajaknya untuk segera pulang ke rumah mereka. Ji Ho terdiam melihat uluran tangan Se Hee, akhirnya Se Hee mendekatkan tanganya dan mengengam tangan istrinya lalu berjalan pergi. Ji Ho terdiam saat Se Hee menarik tanganya.
Saat berjalan pergi, Se Hee sempat mengambil jaketnya seperti dijatuhkan dijalan dan akhirnya mereka pun naik bus bersama. 

Ji Ho sibuk mencari sesuatu dalam tasnya, Se Hee memberikan ponsel milik Ji Ho kalau Tadi jatuh di halte bus. Ji Ho terdiam dan melihat kalau adan 6 panggilan tak terjawab dari pemilik Rumah, lalu baru mengetahui kalau Se Hee sudah meneleponnya berkali-kali. Se Hee membenarkan dengan wajah datarnya. Ji Ho hanya terdiam lalu melihat tanganya terus digengam oleh Se Hee. 

Keduanya berjalan masuk apartement, tangan Se Hee masih tetap mengenggam tangan Ji Ho, lalu bertanya apakah ia boleh mandi lebih dulu karena mengeluarkan banyak keringat.  Ji Ho mempersilahkanya. Se Hee pun akan masuk ke dalam kamar tapi Ji Ho mengikutinya.
“Kenapa... Kenapa kau mengikutiku?” ucap Se Hee heran.
“Aku bukannya mengikutimu.”kata Ji Ho memperlihatkan tanganya. Se Hee langsung melepaskan tanganya meminta maaf karena tak sadar.
“Ya, aku maklum... Kalau begitu, mandilah.” Kata Ji Ho dengan gugup. 


Ji Ho melihat profile Bok Nam yang memiliki Keluhan: Penguntitan, Se Hee akhirnya duduk di ruang tengah. Ji Ho membahas Se Hee kalau BOk Nam tersangka kasus Penculikan Stasiun Namgang Yang menguntit mahasiswi itu. Se He pikir Semua data cocok, termasuk  kunci inggris.
“Tapi kenapa kau tidak memberitahuku? Bukannya kau sudah tahu dari awal?” ucap Ji Ho
“Itu karena kau pernah bilang  susah cari pekerjaan. Jadi aku tak bisa terburu-buru memberitahumu.” Kata Se Hee.
“Tapi walau begitu, alangkah baiknya kalau kau memberitahuku dulu. Aku bisa saja tidak sadar saat bersama dia.” Kata Ji Ho

“Ji Ho-ssi, Apa kau bersikap tak sadar?” ucap Se Hee kaget. Ji Ho binggung kenapa Ji Ho menanyakan hal itu.
“Apa Memang aku tak bisa begitu?” ucap Ji Ho lalu teringat ucapan sebelumnya
Flash Back
“Sikapku memang agak berlebihan. Jadi mulai sekarang, jangan enteng sekali bilang "kita" lagi.” Kata Ji Ho.
“Kutanya, apa kau tadi pulang naik bus.” Tanya Se Hee. Ji Ho pikir apakakah ia harus menjawabnya
“Tidak...,Tidak perlu.” Kata Se Hee. Ji Ho Pikir ia juga tak perlu  menjawabnya. 


Keduanya mulai gugup, Se Hee pun bertanya apakah Bok Nam tahu tentang kontrak pernikahan mereka. Ji Ho membenarkan, karena  memanggil Se Hee sebagai suami palsu dengan menceritakan Bok Nam mengatakan “Makanya kenapa pula kau mau menikah dengan suami palsu?”
“Kalaupun dia seorang penguntit, dia bisa  tahu darimana kalau kau suami palsu?” ucap Ji Ho.
“Entahlah... Padahal 'kan cuma kita berdua yang tahu.” Kata Se hee.
“Apa karena ponselku? Setelah dia melihat nama  kontakmu di ponselku, lalu dia bilang begitu. Dia bertanya apa kau itu memang bukan suamiku, dan kau majikan rumahku.” Ucap Ji Ho. Se Hee mengerti.
“Aku juga tadi lihat nama kontakku, kau simpan  di ponselmu dengan "Majikan Rumah" ucap Se HEe. Ji Ho pikir itu namanya tak biasa.
“Makanya kenapa juga kau menyimpan kontakku seperti itu?” ejek Se Hee. Ji Ho balik bertanya apa yang harus ditulis pada nomor kontaknya.
“Lagipula tidak ada nama yang lain.” Kata Ji Ho. Se Hee pikir bisa menuliskan nama saja atau Tuan Se Hee.
“Terus Se Hee sendiri, kau simpan nama kontakku di ponselmu?” ucap Ji Ho
“Tentu saja aku menyimpan kontakmu sebagai pakai nama "Penyewa"...” kata Se Hee. Keduanya pun tak banyak berkata-kata lagi. 


Se Hee menceritakan Pamannya Bo Mi itu polisi jadi sudah  menginformasikan padanya dan Mungkin besok, masalahnya pasti sudah beres. Ji Ho pun ingin tahu apa yang nanti akan terjadi sama Bok Nam. Se Hee yakin kalau pasti akan dipenjara.
Lalu tiba-tiba keduanya serius menonton sepak bola saat  Sanchez membuat gol. Se Hee melihat kalau itu tendangan sempurna. Ji Ho pikir memang  Tak diragukan lagi dengan Sanchez. Keduanya seperti bisa saling bersama saat menonton bola
“Terima kasih...sudah menyelamatkanku... Karena sudah berjalan bersamaku.. Dan karena... mengatakan ini rumah kita.” Ucap Ji Ho
“Apa kau marah karena aku sudah kelewatan? Apa Karena aku bilang jangan bertingkah seperti istriku di depan orang lain? Dan karena aku menyuruhmu jangan bilang kita, "kita" lagi? Apa kau kesal karenanya?” kata Se Hee. Ji Ho membenarkan.
“Aku...tak ingin menjadi bebanmu. Tidak seperti orang lain..., pernikahan kita bermula dari suatu kesepakatan yang akan berakhir. Karena kesepakatan itu, kau jadi punya tempat tinggal dan aku juga dapat untung, yaitu dapat uang sewa.” Jelas Se Hee.
“Itu memang kesepakatan kita, tapi setelah nantinya kontrak habis..., mungkin kau malah yang lebih besar menanggung kerugian daripada aku. Kau seorang wanita dan lebih muda dariku. Karena itu, orang mungkin  menganggapmu dengan tidak baik. Makanya aku berpikir, aku harus  meminimalisir hubunganku denganmu. Aku juga berpikir kalau kita harus  menghindar melakukan kegiatan bersama” jelas Se Hee.
Ji Ho bertanya apakah Se Hee yang memikirkan itu sepanjang waktu Tentang apa yang terjadi nanti  setelah pernikahan selesai bagaimana dampaknya nanti terhadapnya. Se Hee pikir bukannya memikirkannya  sepanjang waktu tapi pikiran itu selalu terlintas, setelah pernikahan mereka. Ji Ho ingin tahu alasanya.
“Karena aku sudah buat janji, yaitu Aku sudah janji pada ibumu,  aku tidak akan membuatmu dalam masalah. Untuk itu, aku ingin menepati janji itu dan Kedepannya pun, aku tetap ingin menepatinya.” Jelas Se Hee. Keduanya mengingat saat di hari pernikahan. 
Flash Back
Se Hee mengatakan “Aku memang belum kenal betul dengan Ji Ho, tapi pada suatu saat tertentu...,dia pasti akhirnya akan memilih jalan yang membuatnya bahagia. Jadi selama masa pernikahanku dengan dia kelak..., aku takkan menghalangi jalannya. Hanya itu janji yang bisa kubuat.”

Ji Ho duduk di dalam kamar menelp nama Pemilik rumah, Se Hee duduk di dalam kamar dengan kucingnya lalu mengangkatnya. Ji Ho menceritakan sewaktu lulus sarjana dan mulai kerja jadi asisten penulis, digaji 800 ribu won sebulan. Se Hee hanya diam mendengarkan cerita Ji Ho.
“Lalu ayahku menyuruhku berhenti saja dari kerjaanku itu, dan menyuruhku pulang kampung. Dia menyuruhku bertani menanam bayam di kampung. Ada ladang kecil di halaman belakang rumah kami. Kalau kami menanam bayam selama seminggu, keuntungannya bisa banyak.” Cerita Ji Ho
“Tidak ada orang yang mengerti  pekerjaan menulisku..., tapi kau tahu bagaimana  aku bisa memulainya? Aku memulainya tanpa pikir panjang. Aku pun tak berencana menjadi penulis hebat. Aku pun tak berencana ingin menjadi terkenal atau sukses. Aku tak pernah berencana seperti itu.” Jelas Ji Ho
“Aku hanya kebetulan saja membaca suatu naskah .dan tak sadar, aku menggila karena menulis itu sangat menyenangkan. Karena itu, aku pindah haluan ingin menulis. Setiap hari menulis itu rasanya menyenangkan. Lewat menulis, aku tak berharap mendapatkan sesuatu atau membuat diriku  menjadi hebat. Hal itu tak pernah terlintas di benakku.” Cerita Ji Ho
“Karena itu, aku...Aku takkan memikirkan apa yang terjadi  padaku kelak, dua tahun dari sekarang. Kalaupun aku memikirkannya...,.mungkin aku sekarang tidak bisa menikah. Hanya saja, aku...cuma butuh kamar ini...,dan aku suka betapa nyamannya di rumah ini” ungkap Ji Ho
“Aku juga tidak ingin berpisah  dengan si Kucing. Dan Juga..., majikan rumahnya orang yang bisa diandalkan, Karena itu aku melakukannya. Aku sesungguhnya suka menjadi bagian dari rumah ini. Jadi apapun yang terjadi kelak pada pernikahan kit, itu tak penting bagiku. Aku bahkan tidak memikirkannya. Jadi, sekarang...jangan lagi bersikap kelewatan.” Jelas Ji Ho
Se Hee hanya singkat menjawab “Ya”. Ji Ho pikir Pintu kamar Se Hee juga tak perlu dikunci. Se Hee mengerti. Ji Ho pun mengucapkan selamat malam. Se Hee pikir ada yang ingin dikatakan, yaitu Jangan panggil pemilik rumahnya karena nanti orang-orang mengira  Se Hee yang hidup sendiri.
“Kalau di depan orang lain..., panggil aku suamimu. Karena, takutnya ada hal  berbahaya yang bisa terjadi lagi. Jangan biarkan orang lain mengira kau itu sendirian. Selama dua tahun ke depan, kau merupakan bagian dari  rumah ini bersamaku.” Jelas Se Hee. Ji Ho mengerti. Se Hee pun mengucapkan selamat malam.
“Tapi, kau tahu darimana aku tadi sama Bok Nam? Padahal Aku 'kan tadi tak pegang ponsel.” Ucap Ji Ho penasaran. 

Flash Back
Se Hee datang ke halte menemukan ponsel Ji Ho, lalu melihat foto-foto yang diponsel Ji Ho, setelah itu mengecek SNS dari Bok Nam dengan foto yang sama menuliskan caption [Menikmati pemandangan malam sehabis pulang kerja]
Akhirnya Se Hee pun menaiki taksi, tapi ada perbaikan jalan jadi tak bisa lewat. Se Hee pun bertanya apakah ada cara lain. Supir pikir tak ada jalan lain. Se Hee ingin tahu kalau berjalan kaki lewat mana. Supir memberitahu jalan disampingnya. Se Hee langsung membayar taksi dan berjalan pergi. Supir memberitahu kalau butuh waktu lebih dari 30 menit.
Se Hee berlari di jalan menuju tempat Ji Ho, melepar tasnya, melepaskan jaket dan akhirnya sampai di tempat Ji Ho dengan mengajaknya untuk menonton sepak bola. Ji Ho kaget melihat Se Hee yang datang menolongnya.
Ji Ho menatap nama yang disave dalam ponselnya, lalu akhirnya menganti dengan tulisan  [Suami] seperti sangat bangga saat Se Hee  meraih tanganya dan mengajaknya pulang ke rumah “kita.” Senyuman tak bisa dihentikan. 


[Episode 9 - Karena Ini Saat Pertamaku Menjadi Bagian dari Suatu Tempat]
Ji Ho bangun dari tidurnya, melihat nama di ponselnya [Suami] lalu Se Hee pun terbangun dengan melihat nomor [Istri] yang menelp. Ji Ho seperti tak sadar kalau menelp Se Hee sampai akhirnya mendengar nama Se Hee dan bergegas keluar dari kamar.
“Kau rupanya di rumah.” Ucap Ji Ho melihat Se Hee keluar dari kamar bersamaan.
“Tapi kenapa kau meneleponku?” tanya Se Hee. Ji Ho  mengaku tak sengaja menelepon waktu matikan alarm.
“Apa Tidurmu nyenyak?” tanya Ji Ho. Se Hee menganguk dan balik bertanya. Ji Ho juga merasakan tidurnya nyenyak.
“Hei... Kucing, kau pulang naik apa kemarin?” tanya Ji Ho melihat si kucing yang sudah pulang.
“Dia naik taksi dan pulang  ke rumah sendirian. Lalu Dia menangis di luar untuk masuk rumah, jadi aku membukakan pintunya.” Cerita Se Hee.
Ji Ho tak percaya kalau kucing Se Hee bisa seperti itu,  Se Hee pikir itu tak mungkin karena tadi hanya bercanda dengan wajah datarnya. Ji Ho pun tak bisa tertawa karena melihat wajah Se Hee yang datar. Saat itu keduanya sama-sama menerima telp. Se Hee menerima telp dari Bo Mi dan meminta agar menonton berita di TV. Ji Ho kaget kalau pelakunya  sudah tertangkap. 

Berita Di TV
“Pelaku kasus penculikan yang terjadi  pada 30 Oktober lalu telah tertangkap oleh  kepolisian dini hari tadi. Dia mengintai wanita yang dia temui  lewat suatu game online...,lalu menculiknya, dan menyekapnya selama 13 jam. Kepolisian telah menangkap pelaku dan kini tengah menyelidiki kejahatan lainnya.”
Ji Ho dan Se Hee menonton dari Ponsel, keduanya hanya bisa melonggo karena masih tak dipercaya. Ji Ho bahkan  tak menyangka kalau Bok Nam  tipe orang seperti itu. Se Hee pikir mereka saja  tak mengerti dengan diri sendiri jadi sifat orang lain pun, susah tebak.
“Apa Kau tak masalah berangkat  kerja hari ini? Polisi bisa saja mendatangi kafe itu.” Ucap Se Hee. Ji Ho pikir tak masalah.
“Dia 'kan sudah ditangkap, jadi tak masalah kalau  kerja sekarang.” Ucap Ji Ho lalu Se Hee membantunya untuk menekan bel untuk turun, setelah itu pamit pergi dan akan bertemu lagi nanti di rumah.
“Hari ini, kau nanti pulang naik bus, 'kan?” ucap Se Hee. Ji Ho membenarkan. Dan Se Hee pun ikut pamit akan bertemu lagi nanti. 


Ho Rang terlihat sangat marah pada Bok Nam dan memastikan keadaan Ji Ho sekarang baik –baik saja. Ji Ho mengaku baik-baik saja, dengan mengubah panggilan Se Hee kalau Suaminya yang sduah menyelamatkannya. Ho Rang mengaku sudah mengetahui ceritanya dari Soo Ji.
“Suamimu memang hebat. Kita semua saja sudah terpesona karena senyumnya, tapi bagaimana Se Hee  bisa tahu informasi itu?” kata Ho Rang
“Makanya itu. Dia rupanya mengumpulkan  semua bukti tanpa sepengetahuanku.” Kata Ji Ho
“Dia memang teliti sekali. Mungkin ucapannya Won Seok benar, Katanya kau harus sangat pintar biar  bisa main rubik. Apa Suamimu memecahkan rekor 'kan di perusahaan?” kata Ho Rang. Ji Ho membenarkan.
“Dia memang orang teliti yang tidak pernah mengabaikan kesalahan.” Kata Ji Ho bangga. 


Semua berkumpul diruang tengah, Se Hee menyelesaikan rubik, salah seorang menghitung waktu dengan ponsel tak percaya kalau  waktunya cuma 52 detik. Se Hee pun terlihat bangga dengan dirinya.  Bo Mi memberikan kode pada Sang Goo untuk berbicara pada Se Hee.
“Se Hee, kalau kau sudah selesai, Apa bisa kita bicara sebentar? Ini soal kerjaan.” Ucap  Sang Goo dengan wajah serius. 

Ketiganya duduk di ruangan Sang Goo, Sang Goo bertanya Apa ada yang Se Hee lakukan pada orang itu tadi malam, dengan tidak sampai kelewat batas atau  tidak memukulnya. Se Hee pikir dirinya itu bukan tipe orang yang suka pukul orang. Mereka pun bisa mengucap syukur.
“Tapi, aku menendang motornya.” Kata Se Hee bangga. Sang Goo melonggoa tak percaya. Ji Ho pun tak menyangka kalau Se Hee menendang Motor mahal itu.
“Walaupun harganya 40 juta, tapi motornya langsung tumbang. Padahal tendanganku saja tidak  kuat” ucap Se Hee bangga. Keduanya hanya bsia melonggo melihat Se Hee yang bangga.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu? Aku Serius Aku tidak menendang motornya dengan kuat” ucap Se Hee.
Bo Mi pikir sudah bilang tadi  pagi, kalau pelakunya ditangkap. Se Hee juga sudah menonton siaran berita itu. Bo Mi meminta Se Hee agar melihat foto yang diponselnya kalau itu sebagai foto pelaku dari pamanya dengan masker dan juga topi.
“Ternyata dia orang yang mencuri dan  menggunakan fotonya si Bok Nam di akun itu.” Ucap Bo Mi, kali ini Se Hee kaget.
“Kau juga melihatnya... Bok Nam itu selebriti media sosial. Semua informasi bisa didapat  dari media sosial. Pelaku itu rupanya membuat akun baru dan  memposting fotonya Bok Nam. Dia berpura-pura sebagai Bok Nam dan mendekati para wanita. Dia pelakunya.” Jelas Bo Mi dengan pelaku mengambil foto Bok Nam dari SNS lalu mengaku sebagai Bok Nam.
“Jadi... Jadi Bok Nam ini siapa?” ucap Se Hee tak percaya
“Dia cuma pekerja sambilan saja.” Kata Bo Mi. Sang Goo menambahkan kalau Bok Nam juga warga sipil yang tak bersalah.Se Hee hanya bisa melonggo kaget. 

Ji Ho masuk ke restoran kaget melihat Bok Nam yang  makan roti panggang bukannya di kantor polisi. Tuan Yoon mengetahui kalau suami Ji Ho yang merusak motornya kemarin. Ji Ho kaget kalau bosnya tahu, Tuan Yoon terlihat kesal karena Se Hee yang  menendang  motor Bok Nam sampai jatuh.
“Tapi Bos, itu karena...dia itu penguntit Dia tersangka penculikan kasus  Stasiun Namgang.” Bisik Ji Ho lalu berpikir Bok Nam yang melarikan diri jadi harus melapor polisi.
“Ji Ho, kau ini sudah kelewatan... Dia hanyalah manusia biasa, Teganya kau bilang dia ini penjahat?” ucap Tuan Yoon marah
“Makanya... Dia memang kelihatan biasa saja.” Kata Ji Ho sibuk dengan ponselanya. Tuan Yoon pikir Ji Ho ingin cari gara-gara.
Bok Nam tiba-tiba memanggil si pemilik cafe dengan panggilan ayah untuk menghentikanya. Ji Ho mengejek kalau Bok Nam itu suka sekali menyuruh orang, lalu tersadar kalau memanggil pemilik restoran dengan pangglan “Ayah”.  Tuan Yoon pun menyuruh agar menghubungi suaminya sekarang juga. 


Ji Ho dan Se Hee duduk dengan wajah tertunduk merasa bersalah. Tuan Yoon terlihat marah karena Bok Nam dianggap sebagai tersangka kasus  penculikan Stasiun Namgang. Se Hee meminta maaf dan mengakui kalau  pasti salah paham.
“Kalau kau salah paham, seharusnya bicara dulu sama dia. Kau itu sudah dewasa. Dan Bisa-bisanya kau menendang motornya?!!! Itu harganya mahal!!” ucap Tuan Yoon marah. Keduanya hanya bisa terunduk meminta maaf.
“Apa kau Tahu arti motor itu baginya? Dia bahkan pakai uang cicilan rumahnya, untuk membeli motor itu. Dan Bisa-bisanya orang menendang motor itu tanpa rasa berdosa?” kata Tuan Yoon lalu pergi karena harus menerima telp.

Bok Nam akhirnya duduk didepan keduanya mengaku tak ingin melebihkan karena kalau ayahnya kesal, maka tak ada yang bisa menghentikannya, bahkan ia tak bisa berkata apa-apa. Ia membahas tentang  pernikahan palsu mereka, Ji Ho ingin tahu bagaimana Bok Nam mengetahuinya.
“Bukannya kalian ke gedung pernikahan naik bus? Sekarang Mana ada orang mau menikah naik bus. Apalagi saat kalian benar-benar akan menikah.” Ucap Bok Nam. Ji Ho dan Se Hee pun terdiam mendengarnya. 

Flash Back
Ji Ho dan Se Hee naik bus dengan pakaian pernikahan dan duduk dibelakang. Saat itu Bok Nam duduk di dalam bus sambil mendengarkan musik merasa kalau agak lucu melihat pasangan yang akan menikah dengan naik bus.
“Apa kebetulan, nanti kau butuh sapu tangan? Katanya kalau pengantin wanita menangis maka aku harus menyeka air matanya pakai sapu tangan.” Ucap Se Hee. Saat itu Bok Nam mendengarkanya karena satu earphonenya terlepas.
“Kenapa pula aku menangis? Aku bukan orang seperti itu.” Ucap Ji Ho. Se Hee pikir itu bagus. Bok Nam ingin memasang earphonenya tapi mendengar kembali pembicaraan keduanya.
“Dan juga, aku ingin membayar  setengah biaya gaunmu.” Ucap Se Hee. Ji Hee pikir tak perlu karena harganya tidak terlalu mahal.
“Kau juga beli barang-barang tambahan, seperti buket dan sepatu pernikahan. Jadi aku akan mengurangi biaya sewamu bulan depan.” Ucap Se Hee. Ji Ho pun mengucapkan terimakasih dengan wajah bahagia.
“Semakin aku mendengar kalian, makin aneh jadinya.” 

Bok Nam turun dari bus berbiara di telp mengatakan kalau harus kerja malam ini dan melihat Ji Ho dan Se Hee ikut turun dari berlari didepanya.
“Lalu kalian turun di gedung pernikahan  tempatku bekerja.”
Bok Nam sudah menganti pakaianya, Seniornya meminta agar merapihkan  ruang tunggu pengantinnya. Bok Nam masuk ruangan dan melihat Ji Ho ternyata yang jadi penganti dalam ruang tunggu, lalu mengeluarkan sebuah barang. Saat itu Se Hee masuk dan terlihat gugup karena melihat Ji Ho yang sedang memasang stocking, lalu buru- buru keluar dari ruangan. Bok Nam pun melihat dari kejauhan.
“Jadi begitulah perkiraanku, kalian berdua bukan seperti pasangan biasanya. Dan kukira kalian terlibat semacam pernikahan kontrak.” 

Bok Nam melihat dari kejauhan sesi foto bersama dengan teman-teman dan Bo Mi pikir semua sudah Selesai. Keduanya pun mengucapkan terimakasih pada Bo Mi. Bok Nam mendekat menyuruh keduanya unuk foto  sekali lagi, karena akan membingkai satu foto gratis. Se Hee pikir tak perlu.
“Apa ini Serius, gratis?!! Kalau begitu, baiklah kalian Balik ke posisi tadi.” Ucap Bo Mi menyuruh keduanya kembali berdiri.
“Bukannya kalian harus berpose sedikit? Kalian sepertinya tidak saling dekat.” Komentar Bok Nam. Bo Mi seperti baru menyadarinya lalu meminta pose lain.

“Kau bisa menciumnya.” Ucap Bok Nam, Keduanya langsung menjerit kaget.
“Atau kau bisa melingkarkan lenganmu di pinggangnya. Ini 'kan foto pernikahan.” Ucap Bok Nam.  Keduanya terlihat binggung.
Bok Nam berisik kalau foto Bo Mi sangat payah sekali dan nantik akan   disalahkan selamanya, kalau fotonya jelek. Bo Mi pun menyuruh keduanya untuk pose lainya dengan setidaknya bersentuhan. Se Hee akhirnya memilih untuk saling berjabat tangan. Bo Mi pikir kalau Berjabat tangan juga bisa menjadi  tanda saling bersentuhan.

Se Hee mendengar cerita Bok Nam ingin tahu dengan tanda tangan yang berbeda. Bok Nam melihat kalau Se Hee yang  tanda tangan, waktu membayar sewa gedung pernikahan. Se Hee pikir benar juga lalu ingin tahu kenapa mengunakan kunci inggris. Bok Nam kembali mengambil kunci ingris.
“Aku itu mau buka birmu, waktu itu tak ada pembuka botol.” Ucap Bok Nam membawa sebotol bir dan juga kunci inggris. Keduanya hanya bisa melonggo karena salah menuduh Bok Nam.
“Jadi Kenapa kalian tidak minum saja sekarang,  pasangan suami istri palsu? Ah...Bukan, apa aku harus memanggil kalian si penuduh saja?” sindir Bok Nam lalu bergegas pergi. Ji Ho pun memilih untuk minum bir dipagi hari.
“ Selain Itu juga, besok, aku mau  minta ganti rugi mengenai Motor...” kata Bok Nam dari meja kasir. Se Hee tiba-tiba mengajak Bok Nam untuk bicara di luar. 


Seorang wanita menyapa Ho Rang yang datang cepat hari ini, berpikir kalau sedang shift pagi hari ini. Ho Rang yang sedang manipedi mengatakan kalau butuh hari-hari yang seperti ini, lalu menerima pesan dari Soo Ji “Apa Kau mau ikut kumpul-kumpul hari ini?”
Ho Rang binggung apa maksudnya “Kumpul-kumpul?” lalu teringat kalau itu kumpul dengan teman sekelas SMA dan membalas kalau pasti ikut, karena mereka sekalian mengambil kartu undangan pernikahan Su Jin juga dan Soo Ji memberitahu kalau Ji Ho juga ikut. Ho Rang pun meminta agar memberikan warna pada kukunya, karena Besok libur kerja. 

Ji Ho masuk ke dalam mobil meminta maaf pada temanya yang sudah lama menunggu. Ho Rang pikir tak masalah dan bertanya pada temanya apakah kedinginan dan ingin tahu apaakah Bok Nam sangat marah dan Se Hee harus menjual rumahnya untuk ganti rugi motornya. Soo Ji mengeluh temanya yang terlalu cepat berbicara.
“Apa Kalian sudah mengurusi masalahnya?” tanya Soo Ji santai
“Kami tidak perlu menjual rumah. Kami sudah bicara baik-baik sama dia, dan semuanya baik-baik saja sekarang. Tapi ada yang berbeda dengan motor mahal itu. Walau begitu, tak ada yang rusak selain spionnya. Kami hanya perlu mencicil membayarnya. Aku hanya perlu bekerja lebih keras karena  itu kafenya Bok Nam.” Ucap Ji Ho
“Heol. Siapa yang sangka,  dia anaknya bos kafe?” kata Ho Rang. Soo Ji pikir pandangan merkea semakin jelas tentang suami Ji Ho. Ji Ho terlihat binggung.
“Awalnya kita mengira dia orang yang tidak menghabiskan uang. Tapi rupanya dia berani menendang motor mahal itu. Aku sampai tercengang.” Ungkap Soo Ji. Ji Ho dengan senyuman juga sedikit tercengang.
“Kau tak mau mengakuinya, tapi dia suami yang setia, kan?” ejek Soo Ji

“ Itu baru namanya kekuatan cinta.  Aku tahu pasti kau tak mengerti.” Ejek Ho Rang pada temanya. Soo Ji memperingatkan agar jangan bermain-main denganya.
“Aku lagi tak niat bercandaan, karena aku ingin ikut kumpul-kumpul konyol ini.” Ucap Soo Ji.  Ji Ho  binggung apa maksudnya Kumpul-kumpul konyol. Ho Rang mengaku kalau juga penasaran.
Bersambung ke part 2
PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar