PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Selasa, 21 November 2017

Sinopsis Because This My First Life Episode 13 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Ji Ho mengucapkan Selamat malam dan akan masuk kamar, saat itu Se Hee menahan pintu kamar Ji Ho sebelum tertutup. Ji Ho kaget karena Se Hee berani mendekatinya.
“Malam ini... Apa ...kau mau... ...tidur bersama?” ucap Se Hee. Ji Ho sempat melonggo akhirnya dijawab dengan anggukan kepala. 

Ho Rang kaget mendengar ucapan Won Seok seperti tak bisa mendengar dengan jelas. Won Seok mengulang untuk berpisah saja. Ho Rang ingin tahu alasannya.  Won Seok hanya diam. Ho Rang menegaskan ingin tahu alasan Won Seok ingin berpisah.
“Aku tak percaya diri... Aku tak percaya diri apa aku bisa membuatmu bahagia.” Ucap Won Seok menahan rasa sedih
“Omong kosong macam apa itu? Apa ini dialog drama? Jangan pura-pura akting, Shim Won Seok.” Kata Ho Rang marah
“Ini bukan omong kosong, dan ini juga bukan akting.  Aku sungguh-sungguh... Aku sungguh ingin berhenti... Jadi kau juga harus memikirkannya dan beri aku jawaban. Aku sementara ini akan tinggal di rumahnya Sang Goo Hyung.” Ucap Won Seok berdiri dan berjalan pergi.
“Hei! Kau!.. Tega sekali kau bicara itu sekarang? Apa!! Kau bilang tidak cukup percaya diri? Kau saja tadi menyuruhku menunggu 5 tahun lagi bahkan setelah berkencan selama 7 tahun! Tapi... baru saja  kau bilang tidak percaya diri?” ucap Ho Rang marah sambil menangis.
“Karena itu jangan menungguku! Memang cuma kau saja yang berkencan selama tujuh tahun? Aku juga!!!...  Aku juga berkencan selama tujuh tahun! Tapi kau... Kenapa kau selalu bicara seakan yang selalu dirugikan? Kenapa kau bicara seakan cuma kau saja yang harus menunggu?” ucap Won Seok meluapkan semua emosi dengan air mata mengali.
“Hei, karena pernikahan bodoh itu..., aku harus merelakan apa yang kuinginkan. Aku merelakan impianku. Setiap hari rasanya mau mati! Kemeja dan dasi itu. sungguh tidak nyaman. Apa Kau tahu?” ungkap Won Seok melepaskan dasinya dan pergi begitu saja. Ho Rang tak bisa berkata-kata hanya bisa menangis.



Soo Ji menyapa ibunya yang menunggu didepan lorong, sambil mengeluh kalau harusnya menunggu di dalam karena udara yang Dingin. Ibunya memberitau kalau baru saja dari minimarket karena harus ada yang dibeli.  Ho Rang mengajak ibunya masuk ke dalam.
Sang Goo berdiri hanya melonggo tak percaya ternyata “Sayangku” adalah ibu Soo Ji, lalu melihat kaki ibu Soo Ji yang juga tak sempurna. Sepertinya ia tahu kalau alasan Soo Ji tak ingin mengenalkan orang tuanya dan tak ingin menikah. 

Se Hee duduk sendirian dalam kamar, sambil mengajak bermain kitty. Ji Ho datang dengan membawakan buah jeruk, keduanya duduk bersama sambil makan jeruk. Se Hee pikir Semenjak pernikahan mereka ini  pertama kalinya ada di kamar Ji Ho. Ji Ho pikir benar juga dengan wajah sedikit gugup.
“Kalau aku tahu bakal begini, maka aku pasti sudah membersihkannya.” Ucap Ji Ho
“Tidak perlu, ini sudah nyaman, ini Sangat sepertimu., Baunya juga sepertimu.” Ucap Se Hee.
“Apa aku... bau?” pikir Ji Ho. Se Hee menjelaskan bukan seperti itu maksudnya lalu melihat buku diatas meja berjudul "To Room19" seperti ingin mengalihkan pembicaraan.
“Itu buku yang kusukai semasa kuliah. Aku baru-baru ini membacanya lagi.” Jelas Ji Ho. Se Hee ingin tahu tentang apa buku itu.
“Ada pasangan suami istri. Mereka pasangan sempurna, bahkan di mata orang lain. Mereka juga puas dengan kehidupan mereka. Keluarga yang bahagia dan harmonis.” Cerita Ji Ho
“Tapi... Sang istri tiba-tiba ingin punya kamar sendiri pada suatu hari. Jadi sang suami menyediakan ruangan untuknya di lantai dua. Kemudian mereka menamainya, "Kamar Ibu." Tapi tak lama setelah itu, anak-anak mulai memasuki kamar itu. Karena keluarga yang keluar masuk kamar itu..., maka kamar itu pun menjadi ruang keluarga biasa.” Cerita Ji Ho
“Jadi apa dilakukan sang istri?” tanya Se Hee.
“Jadi sang istri pun menyewa kamar di hotel yang jauh dari rumah tanpa memberitahu siapapun. Seiring waktu, selama beberapa jam, maka dia tinggal sendirian disitu. Dia tidak melakukan apapun dan merasa senang hanya dengan berada di dalam kamar itu. Karena kamar itu, adalah ruang dimana dia bisa sendirian dengan nyaman.” Cerita Ji Ho
“Menikah juga berarti bahwa waktu dan ruangmu untuk sendirian sudah tak ada lagi. Tidak bersama orang lain... memang bisa membuatmu merasa bahagia. Aku paham itu... Isi ceritanya bagus.” Komentar Se Hee.
Ji Ho pikir Menurutnya  kisah sedih, karena waktu membaca buku itu memikirkannya diri sendiri, dan teringat dengan Se Hee yang pernah bilang hal yang hanya bisa tanggung dalam hidup ini, hanyalah rumah ini, si Kucing dan dirinya jadi itu sebabnya Se Hee tidak akan menikah.
“Pada saat itu, kata-katamu berbicara kepadaku. Aku juga hanya bertanggung jawab atas kamar ini. Tapi jika kau hidup seperti itu..., bukankah kau akan kesepian? Pernahkah terlintas kau mungkin akan kesepian?” tanya Ji Ho
“Entahlah.. Menurutku aku tak pernah merasa akan kesepian. Daripada menoleransi orang lain..., menurutku sendirian itu lebih baik.Begitulah aku hidup sampai sekarang.” Kata Se Hee.
“Aku ingin bertanya padanya.” Gumam Ji Ho dengan mengingat saat Se Hee berkata “Dalam hidup ini, satu cinta saja sudah cukup.”
“Jika satu-satunya cinta dalam hidupnya telah pergi dari dunia ini. Dan kalau memang demikian..., akankah dia bisa memulai cinta lagi?” gumam Ji Ho.
Se Hee menatap Ji Ho lalu bertanya apakah mereka sudah bisa tidur sekarang karena sudah larut malam. Ji Ho menganguk. Se Hee melihat diatas kasur kalau hanya ada satu bantal, dan akan mengambil bantal di kamarnya. Ji Ho pun menganguk memberikan jalan untuk Se Hee. 

Ji Ho mulai gugup lalu mencium bau dibajunya dan sengaja menyiramkan pengharum ruangan dengan memastikan kalau semua nya jadi harum. Ia dengan gugup duduk diatas tempat tidurnya dan mulai berpikir kalau lebih baik mabuk saja.
“Tidak, aku bukan anak kecil... Benar, 'kan? Aku akan bersikap dewasa.” Ucap Ji Ho pada boneka siputnya. Tapi saat Se Hee membuka pintu, Ji Ho langsung pura-pura tertidur. 

Se Hee melihat Ji Ho sudah berbaring memilih untuk mengeser sedikit tanganya Ji Ho lalu menaruh bantalnya. Dengan tenang Ia pun tertidur disamping Ji Ho, lalu bertanya Apakah Ji Ho sudah tidur. Ji Ho dengan mata terpenjam menjawab pertanyaan Se Hee kalau sudah tertidur. Se Hee pun hanya bisa tersenyum.
Ji Ho akhirnya membuka matanya, betapa kagetnya melihat Se Hee sudah memiringkan badanya dan menatapnya. Se Hee lalu meminta izin untuk bisa memeluk Ji Ho, Ji Ho dengan wajah gugup memperbolehkanya. Se Hee pun memeluk Ji Ho dalam dekapanya.
“Bau aromamu.” Ucap Se Hee. Ji Ho kaget berpikir dirinya itu bau.
“Ini aroma tubuhmu... Aku mencium aroma tubuhmu.” Ungkap Se Hee. Ji Ho bisa bernafas lega kalau yang dimaksud aroma tubuh.
“Aku senang kau berhenti jadi penulis naskah.” Ungkap Se Hee. Ji Ho kaget dan hanya bergumam “Mungkin ini bukan cinta.”
“Aku bercanda.” Kata Se Hee berusaha untuk melucu. Ji Ho kembali bergumam “Walau ini bukan cinta, tak apa bagiku.” Keduanya saling menatap.
“Aku memang tak jago bercanda. Apa Kau marah ?” tanya Se Hee. Ji Ho menatap Se Hee lalu meminta izin untuk menciumnya. Se Hee pun menganguk. Ji Ho akhirnya mencium Se Hee lebih dulu diatas tempat tidurnya.
“Hari ini hari pertama dia memasuki kamarku. Itu pun sudah cukup bagiku.” Gumam Ji Ho mencium Se Hee. 


[Episode 13: Karena ini Pertama Kalinya Memasuki Kamarmu]
Se Hee keluar dari kamar sambil membawa bantal dan melihat Ji Ho yang tidur sambil mendengkur, lalu menganguk-angguk mengerti seperti mengenali keadaan Ji Ho sekarang. Ia menuliskan dalam tabel kalau Ji Ho mendengkur.
Dan mencari keyword[Cara membuat nasi telur dadar] lalu dengan mata seperti robot mencari bahan dalam lemari es dan mulai memasak, dari tatapan dan tanganya memegang pengorengan seperti seorang chef. Wajahnya terlihat bahagia, lalu menaruh note diatas tudung saji dan pergi ke kantor. 

Soo Ji berjalan dengan ibunya, menyuruh menginap beberapa hari lagi. Ibunya mengejek kalau bukan hanya Soo Ji saja yang bekerja tapi ia juga  harus bekerja. Soo Ji pikir meminta ibunya agar bisa berhenti bekerja sekarang. Ibunya mengeluh kalau itu hanya Omong kosong.
“Ibu tahu 'kan, aku beli apartemen di Mullae-dong? Kita bisa pindah ke sana tahun depan. Jadi datanglah ke Seoul tahun depan dan tinggal bersamaku.” Ucap Soo Ji keluar dari lift.
“Jika kau sangat ingin tinggal sama Ibu, kau saja yang pindah ke Namhae.” Ucap Ibu Soo Ji mengodanya. Soo Ji mengeluh ibunya selalu saja tak bisa diajak bicara serius.
“Sampai kapan Ibu pulang pergi dari Seoul ke Namhae?” kata Soo Ji khawatir.
“Ibu juga 'kan tidak berjalan kaki, dan hanya naik bus, jadi tidak terlalu lelah. Sekarang  kau Pergilah.” Kata Ibu Soo Ji didepan mobil anaknya.
Soo Ji cemberut menyuruh Ibunya untuk masuk ke dalam mobil,  Ibu Soo Ji mengatakan akan naik kereta bawah tanah saja dan bisa langsung menuju terminal bus. Soo Ji makin kesal menyuruh ibunya Jangan keras kepala dan masuk ke dalam mobil.
“Katanya kau dimarahi atasanmu beberapa waktu lalu. Jadi Cepatlah berangkat kerja.” Ucap ibu Soo Ji
“Ibu....Biar aku saja yang antar.” Kata Sang Goo tiba-tiba datang menyapa calon ibu mertuanya. Soo Ji kaget melihat Sang Goo yang datang.
“Aku pacarnya Soo Ji, Ma Sang Goo.” Kata Sang Goo memperkenalkan diri.Ibu Soo Ji kaget anaknya ternyata sudah punya pacar.
“Aku tidak tahu dia punya pacar.” Ungkap Ibu Soo Ji kaget.
“Dia memang tidak banyak bicara Kurasa sebaiknya aku harus datang dan memperkenalkan diri pada Ibu.” Jelas Sang Goo percaya diri.
“Kau sangat tinggi dan Soo Ji juga tinggi. Kalian Serasi sekali.” Komenatr Ibu Soo Ji
“Aku juga dari dulu tidak pilih-pilih makanan dan suka makan bayam.” Kata Sang Goo berusaha melucu, tapi tak ada yang tertawa bahkan Soo Ji terus menatap sinis.
“Soo Ji sepertinya sudah terlambat bekerja. Jadi Biar kuantar Ibu ke terminal hari ini.” Kata Sang Goo. Soo Ji menolak dengan ketus, tapi ibunya malah bertanya dimana Mobil Sang Goo dan bergegas pergi.  Sang Goo pun membantu membawakan barang bawaan ibu Soo Ji.

Keduanya sudah ada  didalam mobil, Sang Goo terlihat sedikit gugp lalu memulai pembicaraan kalau Soo Ji mirip sekali sama Ibu. Ibu Soo Ji pikir anaknya sama sekali tidak mirip dengannya, karena Soo Ji cuma manis dan periang, kalau dirinya cantik sekali. Sang Goo tersenyum mendengarnya.
“Soo Ji tidak secantik aku sewaktu masih muda.” Komentar Ibu Soo Ji seperti ingin mengoda Sang Goo.
“Tidak, menurutku Ibu lebih cantik dari dia sekarang.” Balas Sang Goo memuji. Ibu Soo Ji ingin tahu apa pekerjaan Sang Goo sekarang.
“Aku CEO perusahaan yang mengembangkan layanan jejaring sosial. Layanan utama kami namanya "Kencan Daripada Pernikahan." Itu aplikasi kencan.” Ucap Sang Goo seperti agar sedikit susah menjelaskan karena perusahaanya bergerak di bidang IT.
“Ibu tahu suaminya Ji Ho, kan?Aku CEO perusahaan kantornya dia.” Ucap Sang Goo. Ibu Soo Ji pun bisa mengerti suaminya Ji Ho dan Sang Goo jadi CEO perusahaannya.
“Ya, aku sahabat baiknya sekaligus CEO perusahaannya.” Jelas Sang Goo. Ibu Soo ji pun mengartikan Sang Goo lahir tahun 1980 juga.
“Ya, umurku sekarang 38 tahun.” Akui Sang Goo. Ibu Soo Ji berkomentar kalau Sang Goo ternyata lebih tua dari perkiraannya. Sang Goo terlihat kaget.
“ Yah... Asalkan kau lebih muda dariku, jadi tak masalah” komentar Ibu Soo Ji. Sang Goo pun memastikan kalau Ibu Soo Ji tidak lebih muda darinya. 


Ji Ho terbangun dari tidurnya, lalu melihat sudah tak ada Se Hee disampingnya, hanya ada si Kitty, dan teringat kembali kejadian semalam.
Flash Back
Mereka mulai berciuman, lalu Se Hee akan keluar sebentar  Ji Ho terlihat bahagai karena merasakan malam yang indah dan berpikir kalau sudah selesai tidur malam ini. 
Se Hee terlihat gugup mengambil sebotol bir dalam lemari es, tapi saat membuka pintu ternyata Ji Ho sudah tertidur sambil mendengkur.
“Apa aku kemarin langsung tertidur? Wahh.. Apa ini nyata?... Bisa-bisanya aku melewatkan kesempatan emas itu?” keluh Ji Ho kesal

Ji Ho keluar dari kamar melihat note yang ditempelkan Se Hee diatas meja “Aku berangkat kerja duluan. Selamat sarapan.” Ji Ho seperti tersentuh karena Se Hee membuatkan sarapan, lalu membuka tudung saji dan melihat telur dadar yang sudah diberi gambar wajah tersenyum.
Dengan senyuman bahagia menatap masakan buatan Se Hee, lalu mengambil sendok dan mulai memakanya. Tapi senyumanya hilang karena Bawangnya tak dimasak dan berpikir kalau Se Hee lebih suka makanan mentah. 

Ji Ho duduk di halte menatap foto masakan pertama Se Hee dengan senyuman, walaupun terasa aneh tapi sangat bahagia. Lalu Ia meliaht poster drama [Let's Eat] lalu melihat nama [Hwang Se Hee, Gye Yong Seok] Busnya pun tiba di halte, Ia bergegas naik ke dalam bus.
Di dalam bus, seorang penumpang melihat berita dilayar ponselnya, saat konferensi Pers, foto Sutradara Gye Yong Seok dan Penulis naskah Hwang Se Hee, wajahnya terlihat benar-benar kecewa. 

Ji Ho masuk ke dalam cafe, Bok Nam bertanya pada Ji Ho apakah kenal dengan orang ini dengan memberikan selembar kartu nama. Ji Ho melihat nama [Ko Jung Min] dan balik bertanya Siapa ini. Bok Nam juga mengaku tidak tahu.
“Itu sudah ada disini, saat kau pulang kemarin. Orang itu bilang, kau pasti tahu kalau sudah melihat itu.” Jelas Bok Nam
“Ini Pria atau wanita?” tanya Ji Ho. Bok Nam menjawab kalau itu pria
“Dia bilang  akan segera menghubungimu.” Jelas Bok Nam. Ji Ho hanya terdiam melihat nama Jung Min dari My Entertaiment. 

Ho Rang melayani pelanggan restoran seperti biasa dengan memesan Steak. Dua pelanggan memberikan kode kalau wajah Ho Rang yang berbeda. Ho Rang lalu pergi ke belakang menyuruh juniornya menyiapkan menu untuk meja nomor 14.
“Sepertinya manajer sedang tak sehat.” Bisik juniornya.  Teman yang lain pun melihat Ho Ran dengan hidung berair dan juga  matanya merah.
Ho Rang menangis di ruang karyawan, matanya terlihat bengkak dan sembap. Ia menatap ponselnya dengan semua pesan yang dikirimkan pada Won Seok.
“Kau dimana? Aku sungguh kesal sekarang... Hei, Shim Won Seok. Cepat pulang. Angkat teleponmu sekarang. Apa yang kau lakukan? Angkat telepon dariku. Apa Kau sungguh ingin mengakhiri hubungan kita?”
“Dia membacanya, tapi tidak dibalas... Dia padahal sudah membacanya... Tapi dia tidak balas apa-apa.” Ungkap Ho Rang sedih melihat sempau pesan yang dikirimkan pada Won Seok tapi tak dibalas. 

Won Seok duduk di depan layar monitornya melihat profile seorang pria dengan tulisan [Aku ingin menikah.]
Flash Back
Ho Rang menangis setelah menonton Theater, meminta izin untuk pergi ke toilet. Saat itu ponsel Ho Rang berbunyi, Won Seok melihat pesan masuk dari seorang pria
“Bagaimana akhir pekanmu? Kau kelihatan sangat baik dan cantik. Jadi aku ingin tahu lebih banyak tentangmu.” Ho Rang membalas “Terima kasih banyak.
“Kurasa kita pasti bisa berkenalan dengan baik.” Tulis si pria
“Kurasa juga begitu... Kau juga kelihatan seperti orang yang baik.” Balas Ho Rang. 


Won Seok kembali melihat profile si pria yang mendekati Ho Rang, foto dengan mobil mewah dan juga terlihat bahagai dengan peliharaanya dan menegaskan [Aku ingin menikah. Aku ingin menemukan seseorang yang bisa menemaniku seumur hidupku.]
Pesan dari Ho Rang masuk “Aku mengerti. Jadi tolong bicara denganku. Meski kita akan berpisah, setidaknya kita harus saling bertemu.” Won Seok pun membalas “Kalau begitu temui aku di tempat biasa setelah kerja.” 

Soo Ji menuliskan [Menu kopi hari ini, Aricha.] dibagian depan cafe,  lalu melihat kartu nama [Ko Jung Min] pikiran kembali melayang saat bertemu dengan Yong Seok, Ia berkata “Dari awal, orang mana bisa melakukan apa keinginannya. Tapi kalau kau sukses, maka bisa melakukan apa saja keinginanmu.”
Flash Back
“Penulis Ji Ho, apa kau tidak menyukaiku sama sekali?” ucap Yong Seok dan ingin memperkosanya. Ji Ho berteriak meminta agar Yong Seok bisa menghentikanya. Setelah kejadian itu Penulis Hwang mengajak bertemu tapi ternyata ada Yong Seok dan Sutradara Park.
“Kita ini saling peduli. Kami tidak ingin mematahkan kerja sama tim ini. Makanya kami berusaha keras.” Ucap Penulis Hwang
“Kau bilang Berusaha keras? Apa maksudnya Ibu menyuruhku... melupakan ini hanya karena aku kelihatannya baik-baik saja? Apa Karena itu Ibu menyeretku ke sini? Apa ini yang namanya berusaha? Padahal aku benar-benar berdarah dan menderita sampai rasanya mau mati.” Ucap Ji Ho menangis kecewa
“Penulis Yoon... Apa menurutmu ini semacam organisasi kemahasiswaan? Jika kau terus merengek soal hal sepele seperti ini.., sampai kapanpun kau tidak bisa bekerja di drama TV.” Ucap Sutradara Park menyindir
“Karena itulah, aku...ingin berhenti. Aku tidak akan pernah menulis lagi.” Tegas Ji Ho. 


Ji Ho melihat kembali kartu nama Jung Min dan langsung membuangnya, saat itu Jung Min masuk melihat kartu nama yang dibuang dan mengambhilnya. Ji Ho kaget melihat wanita yang sebelumnya membantunya memasangkan anting. Keduanya pun duduk bersama dalam cafe.
“Aricha kopi favoritku.” Ungkap Jung Min meminum kopi yang dibawakan Ji Ho. Ji Ho mengaku kalau mengira CEO-nya laki-laki.
“Apa Kau kecewa karena aku CEO-nya?” goda Jung Min. Ji Ho mengaku bukan seperti itu.
“Sebenarnya, aku agak kaget.” Akui Ji Ho. Jung Min pikir benar
“Tak kusangka kau penulisnya, wanita yang memakai anting cantik itu. Mungkin ini takdir. Dan Yang kemarin mampir kesini itu direktur kami. Beliau bilang, dia sudah kirim pesan padamu.., tapi sepertinya, kau tidak membalasnya.” Jelas Jung Min. Ji Ho mengerti.
“Itu Karena aku agak sibuk. Tapi bagaimana kau tahu aku ada di sini?” tanya Ji Ho heran
“Beliau pernah sekali meneleponmu..., dan karyawan lain di sini yang angkat teleponmu. Lalu katanya kau bekerja disini.” Ucap Jung Min. Ji Ho melirik kearah Bok Nam, Bok Nam memberikan senyuman dan juga semangat pada Ji Ho.
“Aku ingin memperkenalkan diriku sekali lagi. Aku datang ke sini setelah membaca naskahmu. Aku CEO suatu perusahaan produksi, Ko Jung Min. Aku membaca naskahmu saat kau masih bekerja dengan Sutradara Park. Itu Cerita tentang pelajar asrama. Aku sangat penasaran denganmu dan ingin sekali bertemu denganmu.” Jelas Jung Min lal mengubah penyataanya.
“Bukan, lebih tepatnya...,aku ingin bekerja sama denganmu.” Jelas Jung Min.
Ji Ho mengatakan tidak menulis drama lagi dan Sudah lama berhenti dari pekerjaan asisten penulis. Jung Min agak kaget mengartikan kalau Ji Ho berhenti kerja jadi asisten penulis dan itu artinya berhenti menulis juga. Ia mengatakan kalau datang ke sini karena  ingin bekerja sama dengan penulisnya.

Saat itu Sang Goo keluar dari kantornya melihat Soo Ji sudah menungu didalam mobil. Ia masuk dengan nyapa Soo Ji seperti tak terjadi apapun. Soo Ji hanya menatap dingin lalu menyuruh Sang Goo Pasang sabuk pengamannya dan mobil pun melesat pergi.
“Apa kau tidak menulis lagi?” tanya Jung Min. Ji Ho meminta maaf kalau tidak menulis lagi.
“Boleh aku tanya alasannya?” tanya Jung Min penasaran. Ji Ho mengatakan kalau ia sudah menikah sekarang.
“Setelah menikah, aku memutuskan berhenti menulis. Aku kerja sambilan disini karena terlalu bosan di rumah terus.” Ucap Ji Ho seperti mencari alasan.
Jung Min mengerti kalau Ji Ho sudah menikah rupanya. Ji Ho meminta maaf kalau Jung Min yang datang jauh-jauh dan minta izin untuk pergi lebih dulu. Jung Min kembali berbicaa kalau ia merasa alasan itu kedengarannya seperti alasan yang sedih. Ji Ho terdiam seperti Jung Min bisa mengetahui perasaanya.
“Terima kasih kopinya. Kalau.. kau ingin mengatakan yang sebenarnya daripada kasih alasan yang menyedihkan, hubungi aku kapan saja. Walau kita tidak bekerja sama tapi kita bisa pergi keluar minum bersama.” Ucap Jung Min berjalan mendekati Ji Ho. 


Sang Goo mengikuti Soo Ji keluar dari mobil dan langsung mengenggam tanganya, tapi Soo Ji langsung melepaskanya. Sang Goo heran melihat Soo Ji yang marah sekali. Soo Ji dengan wajah yang sangat marah ingin tahu rencana Sang Goo.
“Aku mengantar ibumu pulang karena kau sibuk. Memangnya kenapa?” ucap Sang Goo santai
“Apa kau biasa kencan seperti ini, Mengganggu privasiku? Dan membuatku merasa menyedihkan?” ucap Soo Ji.
“Kau bilang Menyedihkan? Sesama manusia yang memperlihatkan dan memperkenalkan keluarganya, dan bisa-bisanya kau bilang itu menyedihkan?” kata Sang Goo tak habis pikir dengan ucapan Soo Ji.
“Aku merasa menyedihkan. Apa Kau pikir ini normal? Apa Kau tahu betapa mengerikannya itu bagiku? Mereka akan bertanya "Apa pekerjaan orangtuamu? Bagaimana kabar orangtuamu?" Aku benci pertanyaan seperti itu.” Ungkap Soo Ji
“Lalu kau pasti bilang begini. "Kenapa kau menganggapnya seperti itu? Aku tidak tahu." Tapi ada ratusan dan ribuan orang yang bertanya seperti itu. Apa Kau tahu bagaimana rasanya hidup di dunia seperti itu?” kata Soo Ji dengan mata memerah menahan tangis.
“Itulah sebabnya kita harus menjalaninya bersama. Dunia itu... Aku sudah bilang akan selalu bersamamu di dunia itu!” kata Sang Goo terlihat santai.
Soo Ji seperti tak terima dengan kata “Bersamaku” lalu ingin tahu caranya. Ia mulai menganggap mereka akan menikah dan bertanya apakah Sang Gooo bisa tinggal dengan ibunya. Sang Goo terdiam. Soo Ji meminta Sang Goo menjawab pertanyaanya. Sang Goo menjawab kalau ia pasti bisa.
“Baiklah... Lantas apa yang akan kau katakan ke orangtuamu?  "Aku akan menikah dengan wanita yang tak tahu siapa ayahnya dan punya ibu yang cacat." Apa kau mau memperkenalkanku seperti itu ke orangtuamu?” ucap Soo Ji marah
“Ibuku...bekerja di restoran untuk membesarkanku sendirian dengan tubuh cacatnya. Dan Untungnya, aku giat belajar, lalu masuk ke perusahaan yang gajinya besar .Akhirnya aku bisa menopang beban dia. Aku tak tahu seperti apa duniamu, dimana keluargamu tinggal di rumah bagus, dan hidup enak.. “ cerita Soo Ji
“Tapi Ibuku hanya punya diriku yang bisa diandalkannya di dunia ini. Saat dia tutup usia nanti, cuma aku orang yang akan menguburinya. Itulah dunia yang harus kujalani. Jadi jangan beri aku harapan palsu. Kalau kau bersikap baik seperti ini aku malah ingin menjadi bagian dari duniamu.” Tegas Ji Ho. Sang Goo menatap Ji Ho dengan mata berkaca-kaca.
Bersambung ke part 2

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



2 komentar:

  1. Ditunggu sinopsis selanjutnya ya

    BalasHapus
  2. Suka belopotan ya min nulis nama tokohnya jadi ketuker2 kebolak balik.
    Tp ga papa kok.netizen pasti faham alurnya.
    Semangat terus min.

    BalasHapus