PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 01 November 2017

Sinopsis Because This My First Life Episode 7 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Di mobil
Ho Rang seperti tak percaya kalau ada pria dengan  lesung pipinya seperti itu,m mneurutnya Keren sekali dan sangat berbeda dengan suaminya Ji Ho, menurutnya Mereka sangat bertolak belakang dalam hal penampilan dan gaya hidup, lalu bertanya pada Soo Ji siapa yang akan dipilihnya.
“Kau akan pilih siapa Si YOLO yang tak punya rumah, atau si House Poor yang punya rumah?” tanya Ho Rang.
“Apa tak bisa aku tak pilih siapapun?” kata Soo Ji. Ho Rang memberikan perumapaan kalau hanya mereka satu-satunya orang yang tersisa di bumi jadi siapa yang akan dipilihnya.
“Kenapa aku harus memilih 1 padahal hanya ada 2? Aku akan tidur dengan mereka berdua.” Kata Soo Ji. Ho Rang mengejek temanya yang berotak cabul.
“Jadi, bagaimana hubunganmu dengan CEO Ma?” tanya Ho Rang. Soo Ji tak mengerti Ho Rang menanyakan hal itu.
“Apa Kau sudah tidur dengan dia atau akan tidur dengannya? Apa hubungan kalian?” kata Ho Rang mengoda. Soo Ji pura-pura tak mengerti dan mengaku hanya rekan kerja.
“Ohh.. Jadi begitu... Sepertinya kau menukar mainan boneka. dan bukannya dokumen. Ini Menggemaskan.” Ejek Ho Rang melihat boneka dibagian belakang. 


Soo Ji menceritakan Sang Goo memiliki koin jadi  main mesin capit boneka, lalu dapat hadiah itu dan diberikan padanya, tapi akan dibuang karena sangat menganggu. Ho Rang mengerti dengan nada mengejek, lalu merasa heran karena apabila mau dibuang tapi bonekanya diberi sabuk pengaman. Soo Ji seperti tak bisa membalasnya.
“Dan boneka itu, dia memberikannya padamu, 'kan? Bonekanya mirip sekali sama kau. Soo Ji berusaha mengelak kalau tak mirip bahkan terlihat sejelek boneka itu.
“Bagaimana si Won Seok?” tanya Soo Ji seperti ingin mengalihkan pendapat. Ho Rang mengatakan kalau sudah membalasnya dan akan lambat tapi menyakitkan.
Ia tiba-tiba berteriak kalau Sepertinya ada kecelakaan karena sebuah aplikasi, yaitu Pria itu bertemu si wanita lewat aplikasi dan menguntitnya. Soo Ji terlihat panik ingin tahu aplikasi dan  Perusahaan mana. Ho Rang dengan dan nada mengejek Soo Ji tak perlu khawatir karena bukan perusahaannya CEO Ma.
Soo Ji terlihat kesal tapi tak bisa menahan senyumanya, melihat dari kaca spion boneka pemberian dari Sang Goo yang duduk dengan tenang. 



Bo Mi membaca berita membahas kejadian seorang pria mengurung seorang wanita selama 13 jam di apartemen dan mereka bertemu lewat aplikasi permainan, lalu Artikelnya baru saja keluar. Rekannya pikir semua aplikasi kencan, termasuk milik perusahan mereka bakal dianggap jelek.
“Kurasa begitu. Orang biasanya hanya ingat kalau mereka bertemu lewat sebuah aplikasi. Bukankah kita harusnya siap dan mengurus penguntit?”pikir rekan lain yang memakai kacamata.
“Kurasa kita harus membuat daftar calon kriminal dan membuat mereka melakukan perbuatan baik.” Pikir Bo Mi 

Se Hee mendengar percakapan rekan kerjanya memanggil Bo Mi, bertany apakah sudah mengurus masalah kepuasan pelanggan dan Apa ada yang penting. Bo Mi memberitahu Ada 32 keluhan minggu ini tapi semuanya tentang bagaimana pihak wanita tidak ikut aktif.
“Tetaplah memonitor mereka untuk berjaga-jaga. Jika ada keluhan yang perlu ditindaklanjuti..., maka langsung kau bagikan tugas kerjanya dengan yang lain. Walaupun dirasa tidak penting sekalipun.” Kata Se HEe.
“Baik. Aku akan membagikannya langsung dengan” kata Bo Mi. Se Hee mengatakan bukan kepadanya tapi pada CEO Ma.
“Kepuasan pelanggan bukan bagian dari tugasku.” Ucap Se Hee yang tak mau mengerjakan tugas lainya. 

Sang Goo keluar dari ruangan berteriak “Yes” dengan wajah bahagia.  Lalu meminta perhatian pada semua rekan kerjanya kalau mereka  akhirnya bisa meluncurkan kantor global sekarang. Se Hee tak percaya bertanya apakah Sang Goo sudah dapat investasinya
“Barusan aku bicara dengan Asisten Park. Mereka akan mengkonfirmasinya dalam pertemuan Golden Venture.” Kata Sang Goo
“Kau bilang Asisten Park? Apa Maksudmu pria yang ingin kau suruh dia balik wajib militer lagi? Apa dia adalh Orang yang ingin kau temui di India di kehidupanmu selanjutnya?” ucap Se Hee tak percaya, Sang Goo membenarkan.
“Jika aku dilahirkan sebagai orang kaya di India di kehidupanku selanjutnya, maka aku ingin memanfaatkan Asisten Park sebagai Sudra-ku. Dan dengan luar biasanya, Asisten Park berteman dengan seorang pria yang bekerja sebagai petugas pinjaman di Golden Venture.” Kata Sang Goo
“Lalu apa yang akan terjadi... pada Asisten Park yang akan kautemui sebagai Sudra di kehidupanmu selanjutnya?” tanya Se Hee.
“Menurutmu Ya apa lagi? Asisten Park akan menjadi seorang dewa Brahman... Seorang brahmana...” Kata Sang Goo mengajak merkea sejenak nyanyikan slogan.
Sang Goo berteriak “Kita adalah...” dan semua pekerja menjawab “budak.” Sang Goo berteriak “Jika mereka membayar kita...” Semua perkerja  berteriak “Kita akan melakukan semuanya!” Sang Goo pun menyuruh mereka  pulanglah cepat, karena ia akan dapat investasi, sambil menyanyikan lagu Wanna One “Nayana”


Sang Goo terlihat tegang sebelum masuk ruangan, saat pintu terbuka langsung membungkuk memberikan hormat. Soo Ji menahan tawanya, lalu menyuruh Sang Goo masuk saja. Sang Goo terlihat malu melihat Soo Ji hanya sendiri berkomentar kalau datang lebih cepat.
“Selamat. Katanya kau mungkin bisa dapat investasinya hari ini. “ ucap Soo Ji. Sang Goo dengan gugup mengucapkan terimakasih.
“Asisten Park berusaha sangat keras demi kau. Padahal dia bukan tipe orang yang bekerja keras.” Kata Soo Ji
“Cakap bekerja lebih penting daripada hanya bekerja keras. Aku sebenarnya terbiasa bekerja sebagai manajer di Samsun Electronics dan Tidak ada orang yang terlahir sebagai CEO... Kurasa aku sudah keterlaluan tempo hari, saat aku memberimu saran.” Ucap Sang Goo
“Kau 'kan sudah minta maaf.” Kata Soo Ji santai
“Oh, apa itu berarti kau menerima permintaan maafku waktu itu? Aku padahal sampai salah mengerti karena kau tidak menjawab. Aku bingung kenapa kau tidak pernah membalas SMS-ku atau apa SMS-ku tak masuk. Bahkan Aku hampir menelepon perusahaan provider buat mengeluh. Tapi tolong terimalah permintaan maaf aku secara resmi.” Ucap Sang Goo
Ia meminta maaf, dan berjanji takkan pernah lagi bertindak seperti orang yang suka ceramah. Soo Ji pun menerimanya, lalu memberikan saran Karena pertemuan hari ini sangat penting bagi Sang Goo, jadi meminta agar jangan menanggapi sesuatu yang tidak profesional dan bersifat pribadi.
“Kau bilang Pribadi? Apa Maksudmu soal bagaimana aku menyukaimu?” ucap Sang Goo. Ji Ho hanya bisa terdiam.
“Aku hanya Bercanda,... Aku sudah menjadi CEO selama tiga tahun. Aku bukan orang yang menghancurkan bisnis karena tidak profesional.” Kata Sang Goo yakin. 



Won Seok mengangkat jemuran di teras, menerima pesan dari Sang Goo “ Aku lagi mau mengkonfirmasi investasi dengan Golden Venture. Aku akan memastikan mendapatkan investasi itu dan membantumu juga.” Won Seok pun membalas memberikan selamat pada Sang Goo karena yakin pasti akan mendapatkannya.
Ia pun berbicara sendiri kalau sangat iri padanya, setelah itu ponselnya seperti memberikan reminder kalau Masa subur Ho Rang selesai, wajahnya langsung bersemangat buru-buru mengangkat jemuran. 

Won Seok masuk kamar, memberitahu Ho Rang kalau Sang Goo akan mendapat konfirmasi investasinya dan Kalau berjalan lancar, maka akan  membantunya. Ho Rang terlihat ikut senang, dan mengartikan kalau Se Hee juga mendeapatkan karena suami temanya itu salah satu orang berpengaruh dan mungkin juga punya banyak saham.
“Wahh.. Ji Ho enak sekali.. Dia akan menjadi istri seorang eksekutif sebelum aku.” Ucap Ho Rang dengan nada seperti ingin membuat Won Seok cemburu.
“Jangan khawatir... Akan kupastikan kau hidup mewah kalau aku sukses. Jadi beri aku cium dulu” ucap Won Seok memeluk Ho Rang. Ho Rang mengeluh kalau ia sedang membersikan muka.
“Tidak perlu dibersihkan juga tak masalah” ucap Won Seok terus mencuim pipi pacarnya. Ho Rang menolak karena kulitnya itu tetap lembab di musim gugur.
“Kau paling tahu apa yang terbaik untuk kulit... Aku tahu semuanya. Masa suburmu sudah selesai hari ini, kan?” kata Won Seok mengoda. Ho Rang mengatakan kalau sudah selesai dari kemarin lalu menyuruh agar mengambil kondom. 

Wan Seok menurunkan celena kalau sudah menyiapkanya, memberitahu kalau temanya yang membuat kondom itu bahkan sangat populer, jadi mereka bisa mencobanya. Ho Rang memastikan kalau Won Seok itu punya dua buah. Won Seok tak percaya kalau Ho Rang mau melakukannya dua kali, dengan mengejeknya cabul.
“Tidak, maksudku kau harus pakai dua kondom.” Ucap Ho Rang. Won Seol binggung kenapa harus mengunakan dua.
“Aku baca di buku bahwa kemungkinan gagal dalam kontrasepsi itu sebesar 15 persen. Jadi... Karena ada 10 persen kemungkinan hamil setelah masa suburku usai..., maka 15 dikali 10 sama dengan 150. Kalau dibagi... Jadi Kemungkinan hamil berarti 1,5 persen. Apa Kau bisa jamin aku tidak akan hamil?” ucap Ho Rang terlihat benar-benar pintar denga kacamatanya.
“Ho Rang, sejak kapan kau jadi hitung-hitungan begitu? Lalu kenapa kau pakai kacamata?” kata Won Seok kesal
“Karena kau tidak mau membesarkan anak dan hidup sendiri, maka kau harus ekstra hati-hati... Jadi pakailah dua-duanya... Kita harus hati-hati.” Kata Ho Rang. Won Seok seperti tak bersemangat, Ho Rang pun bisa tersenyum membuat Won Seok jera. 


Sang Goo melayani investor dengan menuangkan minuman, Investor mengaku kalau Asudah baca proposal investasinya dan Manager  banyak cerita hal hal baik tentang Sang Goo jadi ingin memeriksanya, bahakn memajukan perusahaa dalam waktu singkat, serta Prospek laba pun kelihatan bagus. Sang Goo mengucapkan terimakasih atas pujianya lalu menuangkan minuman untuk Manager Yoon.
“Jin Woo pun mendesakku... Aku jadinya menuruti setiap perkataan Jin Woo.” Ucap Manager Yoon.
“Manajer Yoon... Itu kedengarannya malah kita seperti berinvestasi lewat koneksi. Ini semua berkat CEO Jang yang punya mata jeli untuk soal investasi.” Kata Manager Park
“Kuakui itu..., tapi semoga saja aku benar kali ini.” Kata CEO Jang. Manager Park yakin dan bisa menjaminya, mereka pun mulai minum. 

Sang Goo masuk toilet melihat Manager Park juga ada di toilet, Manager Park bertanya apabila Sang Goosudah dapat investasinya, apakah akan membuka kantor global, lalu bertanya Dimana itu apakah Vietnam. Sang Goo membenarkan karena semuanya sudah siap dan hanya butuh investasi.
“Itulah tujuan awalku saat memulai membuka perusahaanku.” Kata Sang Goo yakin
“Kau tahu aku pergi ke Thailand bersama CEO Jang, kan? Dan itu akhir pekan.” Kata Manager Park
“Aku sudah dengar kabar itu. Katanya kalian bermain golf selama empat hari Dan kulitmu jadi agak menghitam.” Kata Sang Goo
“Ya. Aku tidak pergi ke sana untuk diriku saja. Aku pergi ke sana untuk memajukan perusahaanmu. Apa Kau tahu betapa pentingnya bercerita sambil bermain golf” kata Manager Park.
Sang Goo tahu karena. Itulah poin penting. Manager Park pikir mereka bisa bicara banmal,karena Usia mereka sama, lalu bertanya apakah Sang Goo merasa tak nyaman, Sang Goo pikir kenapa ia harus seperti itu, karena Usia tidak terlalu penting akhir-akhir ini. Manage Park memanggil lebih dulu dengan pangilan “Sang Goo” lalu keluar dari toilet.
“Sebaiknya kau dipukul oleh Sang Goo.” Keluh Sang Goo, berusaha baik pada Manager Park demi investasi. 


Sang Goo masuk ruangan melihat CEO Jang duduk disamping Soo Ji sambil berbisik, lalu berusaha menahan perasanya dengan bertanya apa yang mereka bicarakan saat mereka ke toilet. Soo Ji menceritakan kalau mereka sednag bicara soal perjalanan golnya.
“Asisten Woo, apa yang kau lakukan selama liburan?” tanya CEO Jang dengan duduk sangat dekat.
“Aku hanya beristirahat di sebuah hotel.” Kata Soo Ji. Manager Park ingin tahu hotel dimana. Soo Ji memberitahu di  Gunung Nam.
“Oh, maksudmu Gaya Hotel... Itu hotel besar, Pemandangannya bagus. Dan Bagus juga buat pasangan. Lalu Kau pergi sama siapa?” tanya Manager Park. Soo Ji menjawab kalau pergi sendiri.
“Aku hanya ingin beristirahat penuh tahun ini.” Kata Soo Ji. Manager Park tak percaya. Soo Ji menyakinkan kalau memang pergi sendiri.
CEO Jang mendekatkan tubuhnya membuat tanganya menyentuh lengah Soo Ji,  Sang Goo melihatnya. Manager Park mendesak Soo Ji untuk mengatakan kalau pergi dengan pacarnya. Soo Ji memilih untuk minum, CEO Jang mengejek Manager Park yang nakal karena mengoda Soo Ji sambil menepuk bahunya.
“Apa si bajingan ini lagi bercanda ? Aoa Mau minta dipukul ?” ucap Sang Goo mengumpat marah didepan ponselnya. Semua melonggo binggung, Manager Park juga kaget bertanya ada apa dengan Sang Goo.
“Oh, maaf... Aku bicara sama diri sendiri terlalu kencang... Seorang Juniorku SMS hal yang menggelikan,lalu aku tiba-tiba kesal sendiri.” Kata Sang Goo meminta maaf.
“Asisten Woo! Katakan saja yang sebenarnya. Kau hanya pura-pura tidak punya pacar, 'kan? Kenapa kau merahasiakannya dari kita?” ucap Manager Park mengoda. Soo Ji pikir tak ada alasan untuk merahasiakannya?
“Aku juga ingin tahu pacaran anak zaman sekarang itu seperti apa.”ungkap CEO Jang sudah berani memegang paha Soo Ji.
“Apa bajingan ini lagi main-main? Kau harusnya bersikap sesuai umur. Dasar Sialan... Apa aku harus menghabisimu? Apa Mau kupotong tanganmu itu? Dasar Si bajingan ini” ucap Sang Goo.
CEO Jang terlihat marah, Sang Goo tersadar kembali meminta maaf. Mengaku kalau dirinya yang tampan tapi mudah marah menurutnya tidak memperbaiki juniornya menjadi pribadi yang baik dan kmerasa akan menyesal seumur hidupnya.


See Hee berjalan pulang, sebuah mobil berhenti disampingnya. Bo Mi mengajak Se Hee masuk karena rekan kerja mereka ada yang membawak mobil. Se Hee menolak karena akan naik bus.
“Masuklah, Se Hee.. Aku juga searah.. Jadi aku akan mengantarmu.” Ucap  temanya. Se Hee melihat jam tangan seperti memikirkan untuk ikut. 

Ji Ho pamit pulang berkerja dari cafe, saat menungu di halte bus beberapa kali ingin melihat apakah ada Se Hee didalamnya. Tapi tak terlihat sosok yang ditunggunya, lalu ingin mengirimkan pesan “Apa Kau sudah selesai kerja?” Saat itu juga terdengar panggilan “Nunna”
“Hei... Bisa-bisanya kau sudah pulang, sewaktu aku lagi kirim pesanan?” kata Bok Nam lalu menyuruh Ji Ho untuk naik motornya.
“Tidak usah. Aku naik bus saja.” Kata Ji Ho menolak. Bok Nam tahu karena Ji Ho duduk di halte bus.
“Apa suamimu menjemputmu?” kata Bok Nam. Ji Ho pikir bukan seperti itu. Bok Nam pikir kalau begitu Bok Nam naik saja, karena ia lebih cepat dari pada bus.

Di dalam mobil
Teman Se Hee heran melihat Se Hee yang  terus bersikeras mau naik bus dan ingin tahu Pola pikir Se Hee itu seperti apa sebenarnya, BO mi pikir Kepribadian Se Hee itu yang aneh lalu meminta menurunkan distasiun didepan.
“Tapi kenapa mendadak kau pergi ke Itaewon? Apa Kau mau ketemu teman?” tanya rekan kerjanya.
“Tidak, aku hanya ingin menghabiskan waktu sendirian.” Kata Bo Mi turun dan pamit pergi akan ketemu esok, setelah itu memoles bibirnya dengan warna lebih mencolok. 

Se Hee naik bus, seperti berharap bisa bertemu dengan Ji Ho, tapi tak melihatnya di halte. Sementara Manager Park membungkuk mmeminta maaf pada CEO Jang, Sang Goo dan terlihat menatap kosong disamping Soo Jin. CEO Jang melirik sinis memberikan semangat pada Manager Park lalu masuk ke dalam mobil. Manager Park masih membungkuk sampai mobil pergi menjauh.
“CEO Ma, tak kusangka kau akan menghancurkan kesepakatan yang sudah selesai. Apa maksudmu?” ucap Manager Park kecewa. Sang Goo hanya bisa meminta maaf.
“Aku sepertinya takkan melihat atau bertemu kau lagi. Kau bilang Kantor global??? Dasar bodoh” ucap Manager Park mengumpat marah.
Soo Ji hanya bisa diam, Sang Goo terlihat tak berdaya karena perasaanya membuat gagal menerima investasi. Seorang bertanya apakah SooJi yang menelepon supir sewaan. Soo Ji menganguk lalu menarik Sang Goo agar pergi. Sang Goo terlihat benar-benar tak berdaya. 

Keduanya hanya menatap keluar jendela, Soo Jin heran karena Sang Goo melakukan hal itu padahal sudah memperingatkan jangan menanggapi sesuatu yang tidak profesional dan bersifat pribadi, lalu mengatakan kalau bisa mengatasinya.
“Aku tidak melakukan itu demi diriku. Tapi Aku malah melakukannya karena aku ini profesional. Aku selalu peduli padamu, lalu penasaran kau lagi apa dan aku selalu merindukanmu, Inilah profesionalnya diriku.” Ucap Sang Goo membela diri. Soo Ji tak percaya mendengarnya.
“Ya... Aku hanya tidak menyukainya! Aku tak suka saat mereka menggodamu. Aku saja tadi hampir memukul kepala mereka. Karena itu. bisakah kau jangan memarahiku hari ini? Karena Yang salah itu mereka. Kenapa kau malah memarahiku?” ucap Sang Goo kesal.
Soo Ji hanya bisa tersenyum melihat Sang Gooo yang marah, memujinya kalau lucu. Sang Goo melihat Soo Ji tersenyum, memujinya seperti saat  tersenyum tapi kalau di pertemuan biasa terlihat  menyeramkan. Keduanya saling menatap, lalu tangan mereka seperti akan salin bergeser untuk saling menyentuh.
“Wah.. Aku pernah kesini. Kamar 303... Waktu itu Katamu kau tidak ingat, 'kan?”kata Sang Goo.  Soo Ji lalu meminta sopir agar berhenti di pinggir jalan.  Sang Goo pun turun dari mobil.
“Maaf, tapi darisini, kau harus pulang sendiri.” Kata Soo Ji. Sang Goo heran melihat Soo Ji bersikap dingin lagi dan ingin tahu apakah ada yang salah dengan sikapnya.
“Tidak, tapi aku tidak ingin melakukan kesalahan sekarang. Jika kita menghabiskan lebih banyak waktu bersama...,maka aku nanti bisa-bisa tidur denganmu.” Kata Soo Ji blak-blakan. Sang Goo terlihat binggung.
“Oh ya, nomor kamarnya bukan 303. Tapi yang benar 304. Itu Kamar kita.” Kata Soo Ji lalu menutup pintu dengan senyuman dan mobil pun melaju pergi.
“Apaan dia itu?? Dia ternyata ingat... Wahh... Dia seperti rubah saja.” Kata Sang Goo lalu menatap Langit yang indah dengan debu halus itu. 



Bok Nam mengajak pergi ke sebuah tempat, Ji Ho binggung ada apa dengan ini. Bok Nam pikir apa lagi kalau bukan kencan. Ji Ho kembali dibuat shock dengan cara Bok Nam yang mendekatinya.  Bok Na menyuruh Ji Ho untuk Berhenti mengerutkan kening, mengatakan kalau itu cuma bercanda dan meminta agar mengikutinya saja. 

Ji Ho seperti terpana melihat pemandangan kota Seoul dari atas,  Bok Nam sudah tahu kalau diatas itu Pemandangannya bagus dan Ji HO sudah lama tak melihat-lihat pemandangan. Ji Ho membenarkan, karena ia belum pernah melihat langit seperti sekarang selama bertahun-tahun yaitu Pemandangan malam Seoul.
“Kau padahal baru menikah, Bukannya aneh kalau kau belum pernah melihat yang seperti ini? Apa kau tidak berkencan dengan suamimu?” kata Bok Nam. Ji Ho terlihat gugup.
“Yah, kami berkencan.” Ungkap Ji Ho berbohong. Bok Nam ingin tahu seperti apa kencan Ji Ho dengan suaminya.
“Apakah Minum bir di rumah, Menonton televisi Atau minum bir sambil nonton TV di rumah?” kata Bok Nam penasaran. Ji Ho makin gugup.
“Bok Nam... Kukira kau awalnya Cuma bercanda... Kau bahkan lebih muda dari adikku. Jadi kukira kau itu manis dan tak terlalu memikirkannya. Tapi menurutku, aku tak bisa menganggapmu bercanda lagi.”ungkap Ji Ho
“Pemandangannya indah dan hatimu juga indah karena kau mengajakku kemari. Aku hanya ingin merasakan...betapa indahnya semuanya pada saat ini. Tapi aku tidak bisa. Aku mulai berpikir kalau ini tidak nyaman, Bok Nam” kata Ji Ho
“Apa ini karena suamimu?” tanya Bok Nam. Ji Ho mengaku Bukan Tapi karena dirinya.
“Aku tidak tahu apa kau sekarang bersikap baik padaku. atau cuma main-main. Tapi itu tidak penting karena aku sudah menikah. Jadi ini membuatku merasa tidak nyaman. Aku melihat pemandangan yang begitu indah sekarang. Tapi perasaanku tidak nyaman.” Ungkap Ji Ho
“Bagaimana jika kau belum menikah? Apa kau akan merasa semuanya indah? Apa kau akan menikmati pemandangan ini? Apa kau juga akan menikmati apa yang telah kulakukan untukmu?” kata Bok Nam. Ji Ho menganguk.
“Aku mungkin akan merasa sangat bahagia, andaikan aku belum menikah. Kau itu masih muda dan tampan Dan kau menunjukkan padaku pemandangan yang indah. Jadi Mana mungkin aku tidak senang.” Kata Ji Ho
“Apa Aku masih muda dan tampan?” ucap Bok Nam tak percaya karena Ji Ho seperti memujinya.
Ji Ho pikir Bok Nam sudah tahu kalau masih muda dan tampan, karena bisa membacanya dari wajah kalau dalam hati Bok Nam berkata  "Aku tahu aku sangat keren. Bukankah aku keren?" Bok Nam tak percaya kalau bisa sejelas itu terlihat.
“Berarti kau kadang merasa terganggu” ucap Bok Nam. Ji Ho mengaku kalau itu Sedikit.
“Tak kusangka kau bakal tahu itu.” Ungkap Bok Nam  dengan senyumanya. 

Se Hee  berjalan pulang, melihat motor Bok Nam masuk ke dalam apartement dengan Ji Ho. Saat turun dari motor ia melihat Bok Nam memberikan sesuatu pada istrinya. Ji Ho binggung apa yang diberikan Bok Nam padanya.
“Aku membelinya waktu mampir ke toko buku. Aku diberitatahu kalau seorang penulis itu banyak membaca. Aku tahu dari atasanku, Kalau kau dulu penulis.” Ucap Bok Nam
“Apa Kau suka penulis ini? Aku sangat menyukainya.” Ucap Ji Ho melihat buku yang dibelikan Bok Nam
“Entahlah, Aku tidak terlalu suka membaca. Tapi  hanya suka sampulnya saja. Aku belum banyak membaca dan belum banyak belajar. Jadi aku orangnya sederhana dan jangan merasa tidak nyaman.” Kata Bok Nam. Ji Ho kembali terdiam.
“Aku paham apa yang kau katakan hari ini Aku sebenarnya tidak serius. Tapi Aku cuma menganggap kau manis dan mudah diajak bicara banmal.  Kukira aku bisa mendekatimu dengan cara minum bir dan melihat.. pemandangan sehabis pulang kerja.” Ungkap Bok Nam.
Ji Ho bingung dengan kalimat Mudah diajak bicara banmal. Bok Nam pikir Ji Ho sudah tahu karena terlihat manis karena itu.  Ji Ho pikir sekarang BOk Nam sedang balas dendam padanya. Bok Nam membenarkan. Ji Ho pun setuju mulai sekarang, mereka bisa minum bir setelah pulang kerja.
“Aku juga akan berbicara lebih santai padamu saat itu juga. Sampai ketemu besok.” Ucap Ji Ho mengusap kepala Bok Nam seperti adiknya.
“Hei... Walau begitu kau mana bisa memperlakukanku tiba-tiba seperti itu.” Keluh Bok Nam seperti tak percaya Ji Ho memberikan sentuhan lebih dulu.


Ji Ho membereskan lantai, Se Hee baru pulang melihat kalau itu karena kucingnya. Ji Ho membenarkan kalau Kitty muntah lagi dan bertanya apakah sudah ke dokter hewan. Se Hee mengatakan belum karena tidak sempat dan ada kerjaannya, jadi mungkin besok pasti akan pergi ke dokter.
“Kalau kau sibuk, aku saja yang kesana. Aku bisa ubah jadwalku, karena hanya perlu bicara dengan Bok Nam.” Kata Ji Ho. Se Hee terlihat cemburu.
“Aku saja yang pergi,  Itu juga tak ada di kontrak kita, Kau tidak perlu melakukannya. Aku bisa kesana waktu makan siangku besok.” Ucap Sang Goo. Ji Ho pun menganguk mengerti lalu akan masuk ke dalam kamar.
“Hari ini... Apa kau pulang naik bus?” tanya Se Hee. Ji Ho seperti kaget Se Hee yang menanyakan hal itu padanya.
“Apa kau tadi pulang naik bus?” tanya Se Hee mengulangi pertanyaan. J Ji Ho pun bertanya balik apakah ia harus menjawabnya.
“Kau tak perlu menjawabnya” ucap Se Hee. Ji Ho pikir juga seperti itu lalu masuk ke dalamnya. 


Se Hee duduk disofa mengingat kejadian sebelumnya. Saat bertemu dengan Bok Nam di parkiran.
Flash Back
Bok Nam sedang sibuk membereskan peralatanya, melihat Se Hee yang baru pulang lalu memberitahu baru mengantar pulang Ji Ho Noona karena berbahaya malam-malam. Se Hee pikir Karena berbahaya maka jangan antar pulang Ji Ho lagi. Bok Nam binggung mendengar ucapan Se Hee.
“Lebih berbahaya kalau kau yang mengantarnya pulang., jadi jangan antar dia pulang.” Tegas Se Hee.
“Kenapa? Apa aku seperti orang berbahaya? Apa maksudmu seseorang yang tidak akan menyesal melarikan diri dari kenyataan?” kata Bok Nam menatap sinis
“Sepertinya kata-kata itu sangat mengganggumu, tapi Aku tidak bermaksud seperti itu. Maksudku motor itu bisa lebih berbahaya.” Kata Se Hee.
“Terserah aku mau antar dia pulang naik motorku.” Kata Bok Nam. See tak sependapat.
Ia pikir bukan terserah mereka tapi itu keputusan Ji Ho, menurutnya tak ada hak untuk memutuskan Ji Ho pulang naik apa. Se Hee mengaku hanya kasih pendapat saja Karena Ji Ho tidak piawai menolak, jadi berharap Bok Nam tidak menyarankannya naik motornya.
“Apa karena kau lulusan sarjana? Kau itu sangat logis. Tapi beda dari kau, aku tidak berpendidikan dan irasional. Maka aku harus mendapatkan keinginanku.” Tegas Bok Nam dengan tatapan sinis dan pergi dengan motornya.



Se Hee hanya terdiam mengingat percakapanya dengan Bok Nam, lalu menerima pesan dari Bo Mi di malam hari “Se Hee, aku kirim ini karena aku tidak bisa menghubungi CEO Ma Ada keluhan yang kuterima hari ini.” Se Hee melihat profil Bok Nam, lalu terlihat kolom [Keluhan: Penguntitan]
Ji Ho membaca buku yang diberikan Bok Nam dengan kalimat seperti mengambarkan keadaanya sekarang [Kita sering salah paham dengan orang lain. Kita tidak bisa mengatakan bagaimana perasaan orang lain. Kita sering salah paham pada orang lain.] Ia pikir itu kalimat yang bagus lalu keluar dari kamar. 

Ji Ho meihat Se Hee duduk diruang tv sambil menatap ponselnya, keduanya lalu saling menatap seperti ada banyak yang ingin dikatakan tapi tak bisa karena mereka harus menjaga jarak aman.
“Kita sering salah paham pada orang lain. Kita tidak bisa mengatakan apa kita memahami perasaan orang lain. Sebagai gantinya..., kau harus mengatakan, "Aku juga tidak mengerti apa perkataanku ini.”
Se Hee terdiam lalu melihat bagian belakang buku yang dibawa Ji Ho tertulis [Hanya satu yang bisa kau cintai. -Bok Nam.]
“Kau harus mengatakannya. Jika kita tidak berusaha keras...,maka kita tidak akan bisa saling memahami.”
Bersambung ke Episode 8

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

                                                                   
FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

6 komentar:

  1. Judulnya part 2 tp isinya sama spt part 1.. TT TT

    BalasHapus
  2. Bok nam a,kau sangat ganteng sekalo

    BalasHapus
  3. Ak lbh setuju jiho sm bok nam

    BalasHapus
  4. Itu nama boneka yg Di kasih CEO MA sama Soo Ji ?? Tlg dong infokan

    BalasHapus
  5. Itu nama boneka yg Di kasih CEO MA sama Soo Ji ?? Tlg dong infokan

    BalasHapus