PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Selasa, 28 November 2017

Sinopsis Because This My First Life Episode 15 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Flash Back
Ji Ho sudah di rumah Soo Ji sambil meminum bir.  Soo Ji menerima pesan dari Sang Goo “Nomor satu. Haruskah kita  sekarang, menikah sungguhan? Nomor dua. Haruskah kita sekarang  menjadi pasangan yang benar-benar menikah? Nomor tiga, Haruskah kita sekarang, benar-benar bersama?”
“Soo Ji, aku butuh bantuanmu. Kalimat mana yang paling bagus buat lamaran pernikahan? Aku minta bantuanmu untuk membantu temannya temannya temanku yang mau melamar.” Soo Ji membaca pesan Sang Goo hanya bisa tersenyum.
“Penulis Yoon, bisa kau pilih kalimat yang tak norak buatku?” tanya Soo Ji menunjukan pesanya. Ji Ho hanya melirik dan menjawa kalau tak tahu.
“Semuanya mirip, menurutku.” Ucap Ji Ho. Soo Ji meminta Ji Ho agar memilih satu saja.
“Karena ini sepertinya kalimat yang  akan kau dengar dari seorang pria.” Ucap Soo Ji. Ji Ho binggung apa maksudnya.
“Kau pikir Siapa temannya teman CEO Ma? Itu Suamimu.” Kata Soo Ji. Ji Ho hanya diam saja seperti tak begitu tertarik. Soo Ji heran melihat Ji Ho yang tak senang. Soo Ji hanya diam saja. 


“Kenapa aku tidak senang? Padahal itu hal yang bisa saja kunantikan. Padahal itu hal yang bisa saja ingin kudengar. Tapi kenapa aku...takut?” gumam Ji Ho pulang dengan wajah binggung
Sementara di depannya, melihat Sang Goo yang menahan Se Hee agar sadar karena sudah sampai rumah. Se Hee yang mabuk mengajak Se Hee untuk minum lagi. Sang Goo menyuruh Se Hee agar masuk saja. Ji Ho kaget melihat Se Hee langsung bergegas menghampirinya.
Sang Goo menyapa Ji Ho,  Se Hee berteriak marah saat mendengar nama Ji Ho. Sang Goo panik meminta Se Hee agar pelankan suaranya,  Ji Ho menahan Se Hee hampir saja jatuh dengan kepala membentur besi. Sang Goo mengajak mereka untuk masuk saja. 

Keduanya membawa Se Hee untuk masuk rumah, Ji Ho ingin membantu membuka sepatu suaminya.  Se Hee berteriak menolaknya kalau bisa melakukan sendiri. Sang Goo menyuruh diam, Ji Ho terlihat binggung dengan sikap Se Hee. Se Hee mengatakan kalau tahu cara lepas sepatu dan  Sang Goo mengajaknya untuk masuk kamar saja.
Akhirnya Sang Goo membawa Se Hee masuk ke dalam dan Ji Ho membuat kepala suaminya berada diatas bantal dan menarik selimut. Sang Goo menyuruh Sang Goo agar sadar dan tidur saja, sambil mengeluh kalau  temanya yang minum banyak sekali.
“Apa dia banyak minum?” tanya Ji Ho khawatir. Sang Goo memberitahu Se Hee yang menghabiskan  botol Er Guo Tou. Ji Ho kaget mendengarnya.
“Itu 'kan minuman keras yang kadarnya kuat sekali.” Kata Ji Ho
“Maka dari itu, Dia minum seperti burung gereja. Dia terus meminumnya. Aku ingin tahu bagaimana dia bisa hidup...” ucap Sang Goo lalu keduanya kaget melihat Se Hee tiba-tiba sudah duduk tegak. 

Se Hee dengan mata tertutup membuka jaketnya lalu sweternya dan melipat rapih. Sang Goo benar-benar tak percaya kalau Se Hee.  tetap tidak kehilangan akal sehatnya  bahkan saat mabuk sekalipun. Ji Ho juga seperti tak menyangka Se Hee masih bisa melipat bajunya.
“Hei.... Apa mungkin dia sudah mati?” ucap Sang Goo melihat Se Hee yang kembali berbaring. Se Hee langsung menarik selimutnya.
“Seharusnya dia minum sampai tingkat batas yang bisa dia kendalikan. Er Guo Tou itu lebih dari 40 persen alkohol. Tenggorokanmu bisa perih kalau meminumnya.” Ucap Sang Goo merasa bersalah. 

Keduanya akhirnya duduk di meja makan dan Ji Ho memberikan segela teh. Sang Goo menceritakan Se Hee sebenarnya ingin melamar Ji Ho. Ji Ho mengaku kalau sudah mengetahuinya. Sang Goo pikir kalau Ji Ho tahu dari kekasihnya, lalu mengubah kalimatnya kalau yang dimaksud Soo Ji. Ji Ho membenerkan.
“Soo Ji berarti pacarmu, kan” kata Ji Ho karena tak diberitahu oleh temanya.
“Dia pasti malu cerita padamu, Dia tidak pernah cerita seperti itu sampai sekarang...” kata Sang Goo
“Maksudmu Apa dia tidak pernah bilang kalau dia pacaran?” kata Ji Ho. Sang Goo menganguk.
“CEO Ma, apa kau...pernah melihat Se Hee marah?” tanya Ji Ho. Sang Goo menganguk.
“Se Hee kadang meludahiku  lewat matanya. Dia tak suka kalau ada orang mengganggu pekerjaannya.” Cerita Sang Goo.
“Kalau begitu, apa kau pernah melihat dia takut?” tanya Ji Ho
“Se Hee takut sama semua binatang,  kecuali kucing.” Jawab Sang Goo
“Kalau begitu apa pernah kau melihat dia menangis?” tanya Ji Ho. Sang Goo mengaku kalau itu pernah.
“Aku iri... Aku belum pernah melihatnya menangis atau mengekspresikan emosi apapun.” Kata Ji Ho
Sang Goo binggung Apa maksudnya emosi. Soo Ji pikir Karena jika Se Hee bisa menunjukkan  perasaannya, maka ia tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya. Tapi Soo Ji merasa Se Hee  sendiri tak tahu bagaimana perasaannya akan berbagai hal.
“Atau... Mungkin dia tidak tahu bagaimana cara membuka diri. Atau juga... Dia mungkin takut aku memperhatikannya.” Ucap Soo Ji lalu merasa kalau bicaranya sudah aneh.
“Tidak, Aku mengerti maksudmu... Kamar 19... Dia menamai folder itu... Kamar 19.  Dia Sungguh pria yang unik.” Kata Sang Goo. Soo Ji bingung apa maksudnya folder.
“Jangan khawatir. Nanti. aku akan berbicara dengannya tentang hal itu biar dia bisa berhenti.” Kata Sang Goo lalu tiba-tiba merasa malu dan mengumpat kesal pada temanya.
 “Seharusnya dia berhati-hati dengan hal-hal seperti itu. Hard disk-nya... Pasti lebih nyaman kalau bawa hard disk kemana-mana.” Kata Sang Goo. Soo Ji berpikir maksudnya bukan seperti itu.
 “Tapi memang begitu. .. Maafkan aku.” Kata Sang Goo mencoba untuk tak gugup dengan meminum tehnya tapi membuat bibirnya terbakar karena panas.



Tuan Shin mengemudikan mobilnya mengaku tidak akan pernah tahu kalau Ho Rang  tidak suka bubuk wijen jika teman Ho Rang tadi sama sekali tak memberitahunya jadi harus mengingatnya. Ho Rang hanya terdiam saja.
“Ho Rang, apa kau kedinginan?” tanya Tuan Shin. Ho Rang mengaku tak masalah.
“Sepertinya kau kedinginyan, Jari kakimu dari tadi gemetar . Biar kunyalakan pemanasnya dan Nanti jok-nya hangat sendiri.” Kata Tuan Shin. Ho Rang terdiam mengingat kenangananya. 

Flash Back
Ho Rang menemui Won Seok yang menunggunya lalu mereka saling berpelukan di udara dingin. Ho Rang mengajak Won Seok segera pergi karena udara dingin, Won Seok mengajak Ho Rang duduk dulu dan mengeluarkan kaos kaki dari tasnya.
“Apa Kau membawanya?” ucap Ho Rang melihat Won Seok yang memasangkan pada kakinya.
“Tentu saja, aku membawanya... Kakimu 'kan mudah dingin.” Ucap Won Seok juga membawakan sepatu kets untuk Ho Rang. 

Ho Rang masih melamun mengingat kenangan dengan Won Seok dan di sadarkan oleh Tuan Shin yang menanyakan pendapatnya. Ho Rang binggung karena tak mendengarkanya. Tuan Shin membahas tentang Mobilnya untuk lebih baik  ganti mobil jadi SUV.
“Menurutku SUV lebih bagus jika keluargaku nanti,  keluarga yang besar.Apalagi jika naik mobil bersama anak-anak.” Kata Tuan Shin. Ho Rang terlihat gugup mendengarnya karena terlalu jatuh dibahasnya.
“Apa aku membuatmu merasa tidak nyaman lagi? ..Maaf... Kenapa aku sangat bersemangat hari ini?.. Pantas aku belum punya pacar.” Ucap Tuan Shin meminta maaf kembali 

Won Seok berbaring di kamarnya, teringat kembali kata-kata Tuan Shin tentang Ho Rang “Aku kaget saat pertama kali melihatnya  karena dia begitu sempurna. Dia periang, cerdas, dan  lembut.” Akhirnya Won Seok bangun dari tempat tidurnya.
Flash Back
Won Seok binggung melihat Ho Rang seperti cemberut lalu mendekatinya bertanya ada apa.  Ho Rang hanya diam saja sambil menangis. Won Seok binggung melihat Ho Rang yang menangis dan berpikir kalau melakukan kesalahan.
“Kau balik badan duluan... Saat aku berjalan, aku melambai  mengucapkan selamat tinggal. Tapi kau pergi tanpa menengok ke belakang.” Ucap Ho Rang dengan wajah cemberut.
“Jadi apa Aku tak boleh begitu pada  pacarku ?” tanya Won Seok yang polos
“Bukannya tak boleh..., cuma ini sangat menyebalkan. Aku tidak ingin menjadi seperti ini..., tapi aku tidak tahu kenapa.. kenapa semakin aku menyukaimu,  maka semakin aku marah.” Ungkap Ho Rang. Won Seok mengerti.
“Aku minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi. Jadi jangan menangis. Nanti kau kena flu.” Ucap Won Seok menyentuh wajah Ho Rang.



Won Seok mengingat kenangan dengan Ho Rang mengumpat, menurutnya mantanya itu lembut dari mana, karena Pria itu  tidak tahu saja sesering apa Ho Rang itu marah.
Sang Goo berjalan pulang sambil mengumpat pada Se Hee karena  Seharusnya lebih berhati-hati, karena suka sekali menonton film. Ia lalu memikirkan yang dilakukan oleh pacarnya. Pesan dari Won Seok masuk ke ponselnya.
“Hyung, jam segini...kalimat natural apa  yang dikatakan?  Kau tidur?" "Kau sudah tidur?" "Apa kau tidur?"
“wah.. Apa lagi ini? Si bocah ini. Dia masih saja harus belajar dariku. Dan Si berandal Se Hee dan juga si berandal Won Seok...  Kenapa mereka ini sebenarnya? Apa perusahaanku ini semacam  kena kutukan? Kurasa aku harus ambil tindakan.” Ucap Sang Goo melihat dua rekan kerjanya sedang bermasalah dengan wanita.

Won Seok menerima balasan dari Sang Goo “Tak usah dilakukan,  tidur saja kau.” Tapi saat itu pesan Ho Rang malah masuk ke ponsel Won Seok ”Kau lagi tidur?” Ho Rang duduk di kamar mengigit jari panik dan kaget ternyata Won Seok yang membacanya.
“Dia membacanya. Bagaimana ini? Harusnya tak kukirim.” Ucap Ho Rang panik mondar mandi dan langsung melempar ponselnya yang berdering karena kaget. Ia melihat Won Seok yang menelp dan akhirnya menelpnya.
“Aku tidak membangunkanmu, kan? Kau biasanya tidur jam segini.” Ucap Ho Rang. Won Seok mengaku belum tidur. Ho Rang pun mengucap syukur.
“Bagaimana tinggal serumah sama Soo Ji? Dia 'kan menggertakkan giginya  kalau sedang tidur.” Kata Won Seok
“Dia pakai alat mouthpiece,  jadi tidak masalah.” Ucap Ho Rang berusaha untuk tetap tenang.
“Pria itu sepertinya orang baik.” Komentar Won Seok pada Tuan Shin.
“Aku juga masih dalam tahap perkenalan dengan dia dan Dengan hatiku juga. Seperti katamu...,mungkin ada sesuatu yang tidak kuketahui dalam hatiku.” Kata Ho Rang. Won Seok pikir bagus karena  mungkin ada.
“Wanita itu juga  sepertinya keren.. Dia juga jujur.” Komentar Ho Rang dengan Bo Mi
Won Seok juga berpikir seperti itu, Ho Rang lalu membahas kalau sudah memikirkannya dan sadar kalau menghabiskan  seluruh hidupnya pada umur 20 tahunan dan seperempat dari hidupnya hanya bersama Won Seok. Won Seok meminta maaf
“Maaf, aku tidak bertanggung jawab atas  waktu yang kita habiskan bersama.” Kata Won Seok merasa bersalah.
“Tidak, bukan itu maksudku. Aku bukan bilang begitu  untuk  mendapatkan minta permohonan maaf darimu. Maksudku...aku malah senang, kaulah yang  menemaniku menghabiskan seluruh hidupku. Aku senang harus menghabiskan saat terbaik dalam hidupku bersamamu.” Ungkap Ho Rang
“Jadi jika ada yang bisa kubantu atau kalau kau ada masalah..., kau bisa hubungi aku. Kita dulu pasangan kekasih..., tapi kita juga sahabat Maaf, aku meneleponmu malam-malam.  Kau pasti lelah..” Kata Ho Rang dan ingin mematikan ponselnya tapi Won Seok kembali bicara.
“ Ho Rang... Berbahagialah...Kau harus bahagia” kata Won Seok. Ho Rang terdiam seperti menahan rasa sedihnya sambil bergumam “Itu semacam perasaan yang indah.” 



Soo Ji tertidur bersama ibunya dengan memunggunginya. Ibu Soo Ji mengelus kepala anaknya, berpikir kalau tidak paham  bagaimana perasaan Ibunya. Menurutnya kalau Soo Ji bahagia maka juga ikut bahagia. Soo Ji mendengar pengakuan ibunya meneteskan air mata. Ibu Soo Ji melihat anaknya itu yang paling disayang.
“Sekarang..., terbanglah tinggi-tinggi... demi ibumu.” Ucap Ibu Soo Ji .
“Pada akhirnya...,mereka semua adalah perasaan yang indah yang mendoakan  kebahagiaanmu.” 

Ho Rang duduk diam di kamarnya, seperti masih bimbang lalu menerima pesan dari Tuan Shin. “Hari ini aku minta maaf, Ho Rang. Aku sekarang akan perlahan menjalaninya. Selamat tidur.”
“Perasaan yang telah berlalu... Perasaan yang telah datang... Perasaan yang janggal juga... Dan juga...Perasaan yang sakit ini. Pada akhirnya..., semua perasaan mendoakan kebahagiaanmu. Semua perasaan indah itu... bisakah aku melindunginya?”
Buku tabungan ayah Se Hee ada diatas meja, tapi tak ada Ji Ho dalam kamar. Ji Hoduduk didepan Se Hee yang tertidur setelah mambuk, menatap dan ingin meraba wajahnya tapi jarinya hanya berjalan diatas wajah Se Hee. 

Se Hee keluar dari kamar kaget menerima telpnya malam hari seperti terjadi sesuatu dan bergegas pergi.  Se Hee keluar dari kamar merasakan tubuhnya tak enak setelah mabuk, lalu melihat ada makana diatas meja dan juga note
“Jangan minum air dingin.. Lalu Hangatkan sup di panci sebelum dimakan.”
Se Hee melihat Ji Ho yang membuatka sup touge, lalu melihat dikamar Ji Ho menaruh tas ransel diatas tempat tidur seperti akan siap-siap pergi. Saat itu Jung Min menelp, Se Hee pun mengangkatnya. 

Ji Ho bertemu dengan ibu Se Hee di cafe. Ibu Se Hee langsung bertanya apakah mereka berdua itu bertengkar atau apakah Se Hee melakukan kesalahan. Ji Ho mengaku kalau bukan itu masalahnya. Ibu Se Hee tahu dari anakknya itu karena perbedaan kepribadian.
“Se Hee memang cuek sekali dan Susah mengetahui apa maunya. Benar'kan? Aku tahu kau marah karena itu.” Ucap Ibu Se Hee. Ji Ho membenarkan.
“Terkadang, sulit  mengetahui isi pikirannya.” Kata Ji Ho. Ibu Se Hee pikir  Semua pria seperti itu.
“Walau mereka sudah tua, tetap saja mereka seperti anak kecil. Maka dari itu, wanita harus menjaganya dan Sulit jika kita tidak mencoba.” Kata Ibu Se Hee. Ji Ho mengatakan Bukan seperti itu.
“Pernikahan seharusnya terjadi di  antara dua orang dewasa. Dan Se Hee sudah dewasa. Namun... Dia sangat tersakiti. Bahkan Perkataan Ayah dan Ibu juga mirip. Dia bilang istri harus menjaga keluarga, sebagai jembatan yang baik antara semua pihak. Aku juga awalnya berpikirbegitu Karena Se Hee majikan rumah bagiku.” Ucap Ji Ho.
“Alasan aku tinggal di sana... karena aku berjanji padanya  akan memenuhi tugasku. Jadi kukira menjadi jembatan itu  hal yang harus kulakukan. Tapi... semakin dalamnya  cintaku padanya..., maka semakin aku bingung. Aku tidak tahu sampai kapan aku  kebingungan terus, saling bertukar tenaga tambahan..., seperti misalnya peringatan keluarga kalian dan membuat kimchi di keluargaku.  Aku tak yakin apa harus terus bingung seperti ini.” Kata Ji Ho.
Ibu Se Hee yang sedari tadi diam binggung karena anaknya membuat kimchi seperti tak percaya. Ji Ho mengaku tidak ingin menjaga Se Hee untuk mempertahankan pernikahannya. Ia tidak ingin menjadi jembatan antara dua keluarga dantidak ingin bekerja sebagai penyangga untuk meredakan lukanya Se Hee.
“Itu Karena kalian pernah sekali melukai Se Hee... Ibu dan Ayah.. “ ucap Ji Ho. Ibu Se Hee pikir itu kejadianna sudah lama sekali.
“Meski sudah dulu sekali...,tetap saja itu pernah terjadi. Lukanya tetap berbekas Dan juga hal-hal seperti itu bisa terjadi lagi dengan  cara yang berbeda. Hari ini kita harusnya makan bersama. Kita tidak pernah makan bersama dan hanya pernah makan bersama waktu peringatan keluarga itu.” Ucap Ji Ho. Ibu Se Hee dibuat binggung untuk membalas ucapan Ji Ho.
“ Maksudku...,aku tahu anak muda  seegois apa..., tapi teganya kau memutuskan hal seperti itu tanpa kami? Apa kau pikir pernikahan itu  main-main? Pernikahan itu sakral.” Ucap Ibu Se Hee.
“Aku sungguh minta maaf. Tapi menurutku... pernikahan itu tidak sakral. Tapi cintalah yang sakral.” Kata Ji Ho meminta maaf kembali. Ibu Se Hee pun tak bisa berkata apa-apa lagi

Ji Ho membersihkan kamarnya, sementara Jung Min dan Se Hee bertemu ditaman dengan daun yang berguguran. Lalu Jung Min berpikir kalau Se Hee harus tahu tentang hal itu. Se Hee menembaka kalau maksudnya kalau Ji Ho sudah tahu semuanya. Jung Min membenarkan karena mereka minum bersama dan terjadi begitu saja. “Jadi...dia tahu tentang semuanya. Kalian pasti dekat, ya?” ucap Se Hee. Jung Min mengaku lumayan dekat.
“Apa aneh...kalau kami dekat?” kata Jung Min. Se Hee  pikir itu jarang terjadi. Jung Min tahu.
“Awalnya juga aku berpikir begitu. Tapi dia bilang... Tidak ada alasan tidak melakukannya. Mungkin dia sedang mencoba mengerjaiku. Penulis Ji Ho itu agak gila...tapi dalam arti yang baik. “ kata Jung Min. Se Hee pikir istrinya  memang seperti itu.
“Se Hee... Tak kusangka perkataanku bisa menggapai hatimu dan lama bersemayam di hatimu.” Komentar Jung Min
“Aku minta maaf karenanya. Saat itu aku sulit mengatasi diriku.” Balas Se He
“Kau tidak perlu mengatakannya. Itu bukan salah siapa-siapa. Saat itu..., memang terjadi  seperti itu. Jadi Berbahagialah... Aku ingin kau bahagia, Se Hee.” Pesan Jung Min. 


Ji Ho duduk diam dalam kamarnya, Se Hee melihat Ji Ho dalam kamar dan keduanya saling menatap lalu pindah duduk di meja makan. Se Hee bertanya caranya mereka  memberitahu orangtua Ji Ho. Ji Ho pikir kalau ia saja yang memberitahu karena Orang tuaku datang kemarin jadi sudah mengatakanya. Se Hee baru tahu kalau mertuanya datang ke Seoul.
“Padahal aku juga akan menemui mereka kalau kau memberitahuku.” Ucap Se Hee. Ji Ho pikir tak perlu.
“Aku sudah menjelaskannya ke mereka.” Kata Ji Ho. Se Hee bertanya apakah Ji Ho sudah dapat tempat tinggal
“Aku ingin berlibur dulu. Aku baru sadar tidak pernah pergi berlibur sendirian.”kata Ji Ho. Se Hee menganguk mengerti.
“Karena kau sangat sibuk, Aku sangat senang, kau telah menemukan jalanmu. Kau telah menemukan apa  keinginanmu. Sekarang, kau bisa melakukan apa  yang belum pernah kau lakukan. Karena kau telah menemukan jalan  yang akan membuatmu bahagia.” Kata Se Hee.
“Aku juga ikut senang. Kalau, Se Hee sendiri bagaimana? Apa rencanamu? Apa kau punya rencana?” tanya Ji Ho. Se Hee mengaku kalau sama saja.
“Aku akan pulang pergi bekerja. Menonton bola dan menghabiskan  waktu dengan kucingku.” Ucap Se Hee. 
“Berarti kau seperti biasa akan hidup tenang.” Komentar Ji Ho. Se Hee membenarkan.
“Apa nanti kau akan mencari penyewa baru?” ucap Ji Ho. Se Hee pikir itu Mungkin.
“Kalau begitu sekarang,  haruskah kita mengakhiri kontrak kita?” tanya Se Hee. Ji Ho pikir Lebih baik sekarang daripada ditunda-tunda.
Se Hee pun setuju mereka sama-sama merobke surat kontrak Pernikahan Berjangka Dua Tahun. Ji Ho mengatakan kalau Kontrak mereka kini sudah berakhir lalu bertanya apakah ada yang ingin disampaikan. Se Hee hanya menjawab dengan bergumam.
“Aku ingin menyampaikan., bahwa aku punya hadiah yang kubelikan untuknya. Aku ingin menyampaikan...masih ada banyak... pertandingan sepak bola untuk ditonton bersamanya. Aku ingin mengatakannya.. Tapi...” gumam Se Hee lalu menjawa pertanyaan Ji Ho
“Tidak ada yang ingin dikatakan” ucap Se Hee. 

Se Hee melihat buku yang akan diberikan pada Ji Ho dengan sebuah note diatasnya [Aku mampir dan membeli ini. Kau ingin membaca buku ini, 'kan?] dan kembali bergumam “Jika aku mengatakannya sekarang..., perkataanku ini akan masuk ke dalam hatinya dan lama bersemayam dalam hatinya.”
Ji Ho keluar dari kamar dengan tas ranselnya, mengatakan kalau akan pamit pergi. Se Hee menyembunyikan buku dibalik badanya. Ji Ho pikir Se Hee tak perlu mengantarnya. Se Hee menganguk mengerti.
“Apa kau tidak pernah penasaran sambil menonton bola? Selama istirahat antara babak 1 dan 2, apa yang akan dilakukan para pemain?” tanya Ji Ho sebelum pergi.
“Mereka akan mengevaluasi babak pertama atau rencana untuk babak kedua. Atau Kurasa mereka makan pisang, Banyak juga yang harus mereka lakukan.” Kata Se Hee. Ji Ho menganguk mengerti.
“Haruskah kita berjabat tangan?” kata Ji Ho mengulurkan tangan. Se Hee pun menyambutnya dengan mengucapkan Semoga berhasil.
“Untuk kita berdua.. bercerai adalah pertama kalinya  dalam hidup kita.” Ucap Ji Ho. Se Hee menyetujuinya.
“Semoga berhasil untuk kau juga.” Kata Ji Ho lalu berjalan keluar dari rumah
“Untuk kesekian kalinya..., aku sendirian lagi.” Gumam Se Hee. 


Se Hee duduk nonton bola sendirian, terlihat mulai geregatan karena Sanchez yang ingin membuat gol. Ia seperti berusaha untuk bahagia dengan kesendirian, lalu tersadar kalau kucingnya tak terlihat akhirnya memanggilnya dan membuka kamar Ji Ho yang sudah kosong.
Tiba-tiba kucing datang denga kalung yang diberikan oleh Ji Ho. Se Hee mengingat saat Ji Ho mengatakan kalau menamai Kucing Se Hee dengan panggilan “Woori.” Mereka lalu sarapan bersama setelah pernikahan.
“Ini pertama kalinya kita makan makanan semestinya... Kita.” Ucap Ji Ho bahagia.
“Kurasa satu cinta juga sudah cukup dalam hidup ini. Bahkan jika kau pernah  melihat laut sebelumnya, ini pertama kalinya kau melihatnya hari ini. Seperti misalnya pernikahan kita. Seperti ciuman di halte bus.” Kata Ji Ho saat di pinggir pantai.
Se Hee seperti mengingat semua kenangan dengan Ji Ho, lalu di kamar itu juga pertama kali mereka tidur bersama dan Ji Ho meminta izin untuk menciumnya.  Se Hee tak bisa menahan tangisnya, dengan mata memerah akhiranya meluapkan tangisnya kalau ia sangat merindukan Ji Ho.
“Hari ini..., yang mungkin menjadi satu-satunya cintaku telah pergi.”
Bersambung ke episode 16



PS; yang udah baca blog/ tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09   jadi biar makin semangat nulisnya. Makasih. 

 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


5 komentar:

  1. Satu lgi kk....semangat☺

    BalasHapus
  2. D tunggu kelanjutan y...makasih sinopsis y.

    BalasHapus
  3. Episode terakhir di update jam brapa ka , penasaran bener mau bacaa
    semangat terus nulisnya hehe

    BalasHapus
  4. Iya nih aq udah scroll dr siang ep trakhir bLom Up jg sampe skrg min??? Pnasaran...yg smangatt min nulis sinop'y, udah dtunggu2 nih...^^

    BalasHapus