PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 22 Oktober 2017

Sinopsis The Package Episode 3 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS

Kyung Jae dan So Ran menunggu di dalam gereja, melihat Tuan Oh hanya diam saja didepan buku permohonan. So Ran tak tahan meminta agar Tuan Oh bisa lebih cepat. Tuan Oh tetap diam saja didepan buku seperti banyak menuliskan permohonan.  Akhirnya Kyung Jae mengajak agar menunggu di bangku gereja saja.
“Astaga, apa dia sedang menulis sebuah novel?” keluh So Ran. Kyung Jae ingin tahu apa yang akan ditulis So Ran nanti.
“Aku akan meminta kenaikan gaji.” Ucap So Ran. Kyung Jae pikir So Ran harus menuliskannya di papan buletin perusahaan.
“Aku akan mendapat masalah jika aku melakukan itu. Lalu Apa yang akan kau tulis?” tanya So Ran
“Aku? Aku akan meminta investasi. Lalu aku bisa merentangkan sayapku dan terbang.” Kata Kyung Jae.
“Jika kau terus berharap, maka Kau mungkin hanya menjadi burung.”ejek So Ran

“Aku akan tahu dalam dua sampai tiga hari. Aku pergi ke perguruan tinggi yang sama dengan investor Dia juga senior SMA-ku.” Kata Kyung Jae.
“Seniormu itu. Apa dia bisa dipercaya?” ucap So Ran ragu. Kyung Jae pikir itu sudah pasti karena mereka seperti saudara.
“Dia bilang akan bertanggung jawab atas segalanya. Jangan khawatir.” Kata Kyung Jae. 

Flash Back
So Ran duduk bersama dengan Ketua Tim di sebuah cafe. Ketua Tim bertanya apakan So Ran ingin memimpin keseluruhan proyek setelah perpanjangan kontrak. So Ran kaget karena tiba-tiba di minta tapi menurutnya itu Tidak mungkin.
“Apa kau ingat apa yang ku katakan tentang desainmu saat sampai di sini?” ucap Ketua Tim
“Ya, Kau bilang mereka tidak berperasaan.” Kata So Ran
“Jika kau tetap di bidang ini, maka Kau melakukan kebiasaanmu. Tapi aku suka kau tidak melakukannya.” Komentar Ketua Tim.
“Tapi bagaimana jika aku melakukan semuanya sendiri dan merusaknya?” kata So Ran ragu.
“Aku akan bertanggung jawab untuk itu, Jadi Jangan khawatir.” Kata Ketua Tim.
“Lalu, haruskah aku membuat draft konsep ini dulu?” ucap So Ran bersemangat.
Ketua Tim melihat permintaan liburan So Ran dan ingin tahu apakah akan pergi ke suatu tempat. So Ran menjawab kalau akan pergi ke Prancis,  Ketua Tim tahu SO ran akan berlibur dan ingin tahu akan pergi dengan siapa. So Ran hanya diam saja. 
So Ran menatap Kyung Jae yang pergi berlibur bersamanya, lalu berharap kalau semuanya bisa berjalan dan berhasil. Setelah itu melihat Tuan Oh yang masih berdiri. Ia mengeluh Tuan Oh sangat lama seperti sedang menulis novel panjang.

So So membawa Ma Roo ke pemakaman menjelaskan Adik Vincent adalah Theodore van Gogh dan keduanya sering saling menulis. Dengan Sang Kakak yang menulis bahwa sangat lelah dan membutuhkan kekuatan lalu adik laki-lakinya menghibur dan mengatakan bahwa kakaknya sedang melakukan pekerjaan dengan baik.
“Van Gogh hanya bisa menjual satu lukisan saat dia masih hidup. Dia adalah pelukis yang malang, tapi saudaranya percaya padanya sampai akhir.” Ucap So So
“Apa dia benar-benar mempercayainya, atau dia hanya memberinya keberanian?” tanya Ma Roo.
“Aku tidak yakin, tapi aku pikir dia benar-benar percaya padanya. Dia mungkin benar-benar percaya pada keahliannya Atau mungkin dia terus percaya karena dia sudah mulai.” Kata So So. Ma Roo terdiam mengingat kembali saat kejadian di kantor. 

Flash Back
Ma Roo bertanya pada Nona Oh apakah  bisa mempercayai sampai akhir. Nona Oh mengatakan aklau akan percaya pada Ma Roo sampai akhir.

“Tidak ada yang akan percaya padamu sampai akhir.” Kata Ma Roo. Soo So pikir kalau itu mungkin saja. Ma Roo seperti masih belum percaya.
“Aku punya seseorang.” Ungkap So So. Ma Roo mengaku iri mendengaanya.
“Ini adalah beban untuk hidup dengan kepercayaan orang lain di pundakku. Jadi Haruskah kita menulis keinginan kita di buku catatan di gereja?” ucap So So
“Apa keinginan kita benar-benar akan menjadi kenyataan?” tanya Ma Roo seperti tak yakin.
“Gereja itu katanya sangat diberkati.” Ucap So So berjalan bersama Ma Roo keluar dari pemakaman. Nyonya Han pun ikut berjalan perlahan keluar dari pemakaman. 


Flash Back
Nyonya Han pikir banyak orang yang bertanya-tanya “Kemana mereka pergi?” dan mereka akan pergi ke suatu tempat yang bagus, tapi ingin tahu dimana tempat itu.  Bus mulai meyusuri jalan keluar dari desa dan matahari sudah terbenam.
“Dimana... apa semua orang pergi? Kita bahkan tidak tahu ke mana kita akan pergi dalam kehidupa. Jadi bagaimana kita tahu ke mana kita pergi setelah mati? Kita semua hidup tanpa mengetahui apapun. Dan mati tanpa mengetahui apapun.” Gumam Nyonya Han menatap keluar jendela dengan semua anggota tur tertidur karena lelah. 

“Mont Saint-Michel adalah Situs Warisan Dunia UNESCO pertama di Perancis. Ini terlihat seperti sebuah kastil, tapi itu adalah sebuah biara. Jemaahnya di abad pertengahan menyebutnya sebagai tempat para malaikat. Dan Victor Hugo, yang menulis Les MisΓ©rables, Menyatakannya sebagai piramida samudra, seperti yang ada di Mesir.” Jelas So So memperlihatakan seperti sebuah geraja yang berbentuk menara ketika melewati dengan bus. 

So So memberikan masing-masing kunci kamar,  lalu memberitahu kalau  tempat Biara itu terlihat dekat, tapi jaraknya adalah satu jam lagi, jadi meminta agar tetap di hotel.
“Setelah makan malam, lebih baik istirahat dan berkumpul di sini jam 8 pagi.” Jelas So So
“Apa kita makan makanan Perancis untuk makan malam?” tanya Tuan Oh. So So mengatakan tidak.
“Karena kami datang jauh-jauh, maka kita akan makan makanan Italia hari ini.” Ucap So So. Tuan Oh mengeluh kalau itu sama saja.
“Apa ada restoran Korea?” tanya Tuan Oh. So So menjawab tidak. Tuan Oh bertanya apakah tak ada Disekitar sini.
“Hentikan. Dia bilang tidak ada.” Kata Nyonya Han mencoba untuk menenangkan suaminya.
“Orang perlu makan nasi... Kami terus makan makanan hambar.” Keluh Tuan Oh, Nyonya Han mendorong suaminya untuk segera masuk kamar sambil bertanya jam berapa mereka akan makan malam. 


Semua berkumpul untuk makan malam direstoran, Tuan Oh mengeluarkan nasi dan juga ramyun diatas meja lalu meminta pelayan agar memberikan air panas. Tapi si pelayan tak mengubrisnya, Tuan Oh marah karena Seorang pelanggan memanggilnya.
“Kau tidak bisa melakukan itu.” Kata So So.
“Lalu aku harus memanggilnya pelayan? Hei.. Pelayan.” Kata Tuan Oh dengan nada sedikit tinggi.
“Kau tidak seharusnya memanggilnya. Jika kau memilih dan meletakkan menumu dibawah kursi maka mereka akan datang ke sini sendiri. Dan saat kau masuk, maka Kau harus duduk di tempat mereka mengarahkanmu.” Jelas So So
“Aku bisa duduk dimana saja yang aku mau! Pelanggannya adalah raja.” Kata Tuan Oh keras kepaal
“Itu Di antara persepsi yang tidak boleh kau miliki di Perancis dan kalimat "Pelanggan adalah raja" adalah salah satunya. Dan Ini bukan lelucon, yaitu Perancis membunuh raja mereka.” Kata So So
“Lalu Siapa yang membunuh raja?” tanya Tuan Oh. So So menjawab yaitu Masyarakat.
“Mereka semua pengkhianat!” keluh Tuan Oh dan kembali meminta ari panas pada So So.
“Kau tidak bisa makan di restoran.” Kata So So. Tuan Oh bertanyaSiapa yang mengatakan itu. So So pikir itu berhubungan dengan sopan santun?
“Sejak kapan ramen adalah makanan yang tidak berperasaan?” keluh Tuan Oh  


“Aku telah melihat banyak orang Korea makan ramen di sarapan hotel dan restoran terkenal. Tapi mereka tidak menyukainya. Pelanggan mereka yang lainya mungkin tidak menyukai bau ramen. Dan itu juga tidak menghormati restoran itu.” Kata So So
“Kau benar. Hal ini mirip dengan jika pelanggan datang ke restoranku Dan memesan mie kacang hitam.” Keluh Nyonya Han. Tuan Oh pun seperti mulai merasakananya.
“Kau seharusnya sudah memberi tahuku sebelumnya... Jadi Baiklah, ini akan menjadi yang terakhir kalinya.” Kata Tuan Oh tetap meminta agar bisa memakan ramyun.
Nyonya Han kembali meminta agar suaminya berhenti saja. Tuan Oh bersikukuh kalau butuh kuah sup untuk makan makanan dan meminta air panas. So Ran kembali mengeluh Tuan Oh itu terlalu berisik dan terus melakukan ini. Tuan Oh tak peduli tetap meminta air panas untuk ramyun dan berjanji kalau ini yang terakhir.


Flash Back
“Sepanjang hidupku, aku khawatir dengan apa yang dipikirkan suamiku. Dan khawatir dengan apa yang dipikirkan orang lain karena suamiku.” Cerita Nyonya Han.
“Kau pasti berpikir "Semua pasangan lainnya hidup dengan bahagia, Lalu kenapa aku tidak? Ini Tidak akan membaik, jadi aku akan mati saja." Jadi Itukah yang kau rasakan?”kata Dokter.
“Kau bisa menjadi peramal.” Ungkap Nyonya Han tersenyum mendengarnya.
Nyonya Han duduk di bangku kamar menatap ke arah pemandangan diluar jendela, Tuan Oh sudah ada ditempat tidur berpikir sang istri juga akan tidur. Nyonya Han mengerti. Tuan Oh meminta istrinya agar cepat tidur.

“Haruskah kita menjual restoran kita?” kata Tuan Oh.
“Kita hanya akan mendapatkan 50 sampai 60 juta dari uang jaminan kita. Bisakah kita pensiun?” ungkap Nyonya Han.
“Kita bisa menjual semuanya dan bersenang-senang dan Bagus juga untuk berkeliling.” Ucap Tuan Oh. Nyonya Han menyuruh suaminya agar tidur saja.
“Bukannya itu baik?” kata Tuan Oh. Nyonya Han tak membahasnya,  menyuruh tidur saja. Tuan Oh pikir istrinya tak suka.
“Aku menyuruhmu tidur.” Kata Nyonya Han menatap keluar jendela dengan sedikit bibir yang tersenyum. 

Ma Roo ada dikamar, saat melihat ponselnya berdering wajahnya terlihat sangat malas. Nona Oh menelp, bertanya apakah Ma Roo sudah tiba di Mont Saint-Michel. Ma Roo membenarkan. Nona Oh pikir Ma Roo benar-benar gila.
“Apa yang ingin kau katakan?” ucap Ma Roo seperti tak ingin berlama-lama bicara.
“Kembalilah bekerja, lalu tangani arsipnya, dan minta maaflah.” Ucap Nona Oh seperti membujuk Ma Roo.
“Aku tidak melakukan kesalahan. Jadi Tidak bisakah kau ada di sisiku?” kata Ma Roo dengan nada penuh amarah.
“Berada sisimu tidak akan menyelesaikan apapun. Kau lalai dengan absen tanpa pemberitahuan. Jadi Tangani filenya, kembali bekerja, dan minta maaflah. Kau pasti tahu seberapa menakutkan perusahaan itu.” Kata Nona Oh
“Jadi  Itukah sebabnya kau tidak datang? Apa kau takut?” ucap Ma Roo  menyindiri. Nona Oh meminta Ma Roo agar Jangan bicara seperti itu.
“Kau bilang akan mempercayaiku sampai akhir.” Kata Ma Roo
“Apa aku salah karena tidak berlibur denganmu?” tanya Nona Oh, Ma Roo membenarkan.
“Apa aku mengkhianatimu?” tanya Nona Oh. Ma Roo pikir itu sudah pasti.
“Apa kau bodoh? Lalu Apa ada yang berada sisimu di tempat ini? Akulah satu-satunya yang bisa melindungimu. Kenapa kau tidak menyadarinya? Jadi Hentikan dan kembalilah saja.” Kata Nona Oh

Ma Roo bertanya Kembali kemana, apakah Kepada Nona Oh Atau untuk perusahaan, Nona Oh mengatakan kalau Keduanya, lalu memuji Ma Roo  adalah orang pemberani.
“Kau perlu keberanian untuk mengubah dunia, tapi kau juga perlu keberanian untuk mempertahankannya. Mari kita lebih bijaksana, oke? Mari selesaikan masalah ini dan pergi berlibur akhir tahun. Saat Natal nanti. Aku akan menunggu. Cepatlah kembali.” Ucap Nona Oh, Ma Roo hanya diam saja.
“Dapatkah kau menjawabku, Ma Roo?” kata Nona Oh. Ma Roo mengerti dan akan memeriksa apa ada penerbangan untuk besok. Nona Oh mengucapkan terimakasih dan akan menutup telpnya dan mengaku masih mencintainya. 


Flash Back
Ma Roo memberitahu kalau mencetaknya karena curiga menurutnya Perusahaan ini melakukan hal yang aneh. Nona Oh memperlihatkan berkas yang dibawa Ma Roo. Ma Roo pikir Nona Oh tahu obat yang disumbangkan ke Afrika.
“Aku memeriksanya lagi karena nomor inventarisnya tidak aktif. Ini bukan obat biasa, tapi obat baru yang masih dalam pengembangan.  Dan Bagaimana mereka bisa menyumbangkan obat yang masih dalam pengembangan?” kata Ma Roo benar-benar heran.
“Bagaimana kau menemukan ini?” tanya Nona Oh panik.
“Aku masuk server dengan ID Kepala.” Kata Ma Ro. Nona Oh heran kenapa Ma Roo menggunakan ID nya
“Dia meminta kepala untuk melakukan sesuatu dan dia menyerahkannya padaku. Bahkan Dia memberiku ID dan kata sandinya.” Jelas Ma Roo.
Nona Oh pikir bisa gila memikirkan hal ini dan minta Ma Roo agar Pura-pura saja tidak tahu. Ma Ro pikir tak mungkin bisa melakukan itu, karena Ini adalah pengujian farmasi. Nona Oh pikir Ma Roo tidak bisa melakukan ini dan mungkin satu-satunya orang yang terluka.
“Akulah yang memimpin proyek sumbangan obat.” Kata Ma Roo. Nona Oh menegaskan Ma Roo yang tak tahu.
“Jika aku tahu, Aku akan menjadi orang jahat. Dan jika aku tidak tahu, itu akan membuat Aku adalah orang yang menyedihkan dan jahat. Aku perlu memberi tahu kepala dan mendengar dari pihak perusahaan.” Kata Ma Roo. 




Nona Oh berjalan mendekati Kepala Yoon yang sedang merokok. Kepala Yoon ingin tahu Dimana file aslinya. Nona Oh berkomentar kalau berpikir Kepala Yoon  sudah berhenti merokok. Kepala Yoon mengaku kalau memulainya lagi karena Nona Oh.
“Oh aku, apa yang aku lakukan?” ucap Nona Oh merasa tak bersalah. Kepala Yoon bertanya apakah Nona Oh sudah menelp Ma Roo.
“Ya, dia akan kembali besok.” Kata Nona Oh. Kepala Yoon ingin tahu dimama Ma Roo menaruh file itu?
“Aku yakin dia menghapusnya dan Itu tidak ada di komputernya.” Kata Nona Oh.
“Deputi Oh, Kau adalah ace dari perusahaan ini. Jadi Perhatikan di sisi mana seharusnya kau berada. Perusahaan bertahan lebih lama dari manusia. Kita perlu menemukan file itu dan menutup mulut Ma Roo. “kata Kepala Yoon
“Jika kita menemukan file dan tetap diam.. Apakah Ma Roo akan baik-baik saja?” kata Nona Oh khawatir.
“Dia sudah melakukan terlalu banyak kesalahan. Jadi Dia tidak bisa diselamatkan.” Kata Tuan Oh. 


Ma Roo berbaring ditempat tidurnya yang berantakan lalu melihat sebuah buku dan teringat kalau itu buku yang diberikan So So saat ada diatas bus. Ketika baru membuka plastiknya, bel pintu kamarnya berbunyi. Kalau So So yang datang.
“Kau tidak tidur, kan?” ucap So So. Ma Roo mengatakan tidak dan mengajak masuk untuk membuatkan kopi, So So menolak karena  Pemandu tidak masuk ke kamar para turis dan matanya melihat Ma Roo memegang buku harian.
“Jika kau tidak lelah, Apa kau ingin pergi ke Mont Saint-Michel?” ucap So So
“Apa Sekarang juga dan cuma berdua saja?” ucap Ma Roo kaget. So So membenarkan, Ma Roo ingin tahu alasan mereka pergi kesana.

“Sungguh menyenangkan di malam hari karena tidak ada orang. Jika kau tidak lelah, Apa kau ingin pergi ke Mont Saint-Michel?” kata So So
Ma Roo terdiam mengingat sebelumnya, So So menagih 30 euro tambahan untuk wisata malam. Akhirnya ia memutuskan untuk tak pergi. So So sedikit terkejut dan menyurh Ma Roo agar beristirahatlah. Ma Roo duduk di atas kasur membuka buku harian, ternyata ada tulisan So So dihalaman paling depan.
“Terima kasih dan maaf untuk hari ini. Aku akan menggantinya dengan tur malam gratis Mont Saint-Michel. Kau bisa melihat keberanian yang indah yang diberikan oleh kepercayaan.”
Ma Roo terdiam karena ternyata So So mengajak pergi sebagai ucapan terimakasih. 


So So berjalan sendirian menaiki tangga dan Ma Roo tak lama melewati jalan yang sama. So So sudah sampai di depan geraja biara, pikiran kembali ke masa lalu.
Flash Back
So So berbicara pada orang tuanya kalau akan belajar di luar negeri. Ibunyap pikir So So sudah gila menurutnya anaknya itu bukan  untuk belajar di luar negeri tapi kabur dengan pria. So So menjelaskan  bisa mendapatkan gelar PhD dan akan kembali menjadi profesor.
“Kenapa ada orang di bidangmuu yang mendapatkan gelar PhD mereka di Perancis?” ucap ayahnya.
“Apa itu ide si brengsek? Apa dia meyakinkanmu? Beritahu dia untuk datang kesini!” kata ibunya marah
“Kenapa kau terus memanggilnya brengsek? Jika dia memanggilmu seorang gadis, Apa kau akan bahagia?” keluh So So pada ibunya. Ibunya pikir anaknya sudah gila dan ingin dipukul dan segera mencari tongkat.
“So So, umurmu 31 tahun.” Kata Ayahnya. So So tahu maka dari itu menurutnya sudah dewasa sekarang.
“Kau masih muda.” Ucap ayahnya. So So heran karena neneknya juga bilang kalau ayahnya itu masih muda juga dan ingin tahu siapa yang dewasa di dunia ini.  Ayahnya tak tahan meminta istrinya agar membawakan tongkat juga.
“Lakukan apa yang kau inginkan! Aku pergi tidak peduli apapun.” Kata So So. Ayahnya berteriak. So So mengeluh kalau ia tak tuli.
“Jika kalian cemas, Aku bisa menikah lebih dulu.” Ucap So So. Tuan Yoon kaget merasakan tiba-tiba kepalanya terasa sakit
 “Berhenti berpura-pura, kau belum dewasa.” Keluh So So melihat tingkah ayahnya yang berpura-pura sakit
“Apa pria itu lebih penting dari keluargamu?” tanya ibunya. So So mengatakan kalau pria itu juga keluarganya. 



So So akhirnya masuk ke dalam gereja, Ma Roo berjalan menaiki tangga dan sempat melihat dibagian puncak gereja. So So berjalan di memasuki bagian kursi-kursi gereja.
Flash Back
“Jika aku berpikir, "Sebaiknya aku mati..." Aku hanya bisa memikirkan kesalahanku. "Kenapa aku melakukan itu? Seharusnya tidak." Aku menyesali kenyataan bahwa menyesali hal itu.” Ucap Nyonya Oh pada Dokter
So So berjalan masuk gereja, seperti melihat bayangan dirinya saat menikah dan dipasangkan cincin oleh pria yang dicintainya. 

Flash Back
So So membantu ibunya menjemur pakaian, Ibunya berpesan agar  Jangan meletakkan semua pria.di telepon, karena Itu adalah hal terburuk yang bisa di lakukan sebagai wanita. So So membantu ayahnya melipat pakaian yang sudah kering.
“Putriku, jangan lari karena kami tidak akan mengirimmu ke luar negeri untuk belajar.” Ucap Tuan Oh.

So So bisa melihat bayangan dirinya yang sebelumnya dipasangan cincin dan mereka menikah dalam gereja, lalu memeluknya dengan erat. Akhirnya ia hanya bisa menangis sambil berjongkok dalam gereja. 
Flash Back
Di ruang praktek
Nyonya Oh mengatakan tidak akan menangis lagi karena  Menangis tidak akan mengubah apapun. Dokter setuju karena menurutnya Hidup ini terlalu singkat, bahkan jika mereka tertawa untuk semua itu.
“Bagaimana kita hidup itu penting, tapi bagaimana kita mati itu penting juga. Rumah sakit bilang kau punya waktu tujuh sampai delapan bulan untuk tetap tinggal kan?” kata Dokter
“Mungkin lama. Tapi bisa singkat juga... dan Mungkin lima sampai enam bulan. Kanker ini sudah menyebar, sehingga tidak bisa beroperasi.” Kata Nyonya Oh
“Apa kau sudah memberi tahu suamimu?” tanya Dokter. Nyonya Oh mengaku suaminta < tidak tahu apa-apa.
Nyonya Han menatap suaminya yang sudah tertidur,saat di rumah sakit berpikir tidak ingin memberitahu suaminya. Dokter menegaskan kalau Nyonya Han itu harus melakukanya.  Nyonya Han merasa tidak mau diganggu.
“Dia akan memberitahuku tentang apa yang harus dilakukan. Dan Aku tidak akan bisa hidup seperti yang kuinginkan. Jadi nanti aku juga tidak bisa mati seperti yang aku inginkan.” Ucap Nyonya Han yang selalu menuruti perintah suaminya.  Dokter pikir Nyonya Han masih perlu memberitahunya.
“Kita tidak hanya melalui kematian saja. “ kata Dokter.
“Orang itu... akan marah karena aku akan mati. Dia akan bertanya kenapa aku pergi dan kena kanker. Dia marah saat tidak menyukai sesuatu... Astaga, jika aku akan meninggal, Aku mungkin juga meninggal lebih awal.” Keluh Nyonya Han.

Saat itu alarm ponsel Nyonya Han berbunyi, Nyonya Han buru-buru mematikan agar suaminya tak terbangun dan segera meminum obatnya.
Flash Back
“Kau bisa berbicara denganku dengan nyaman.” Saran Dokter. Nyonya Han pun mengerti melakukannya.
“Maksudku, Kau harus jujur.” Kata Dokter. Nyonya Han pikir selama  ini sudah jujur lalu tertunduk menahan tangis sambil menatap permen ditanganya.
Nyonha Han perlahan membuka dompet untuk mengambil permen, saat itu Tuan Oh ternyata tak tertidur, matanya berkaca-kaca seperti menahan rasa sedih dan mengetahui semuanya. 



Flash Back
So Ran meminta agar Tuan Oh lebih cepat untuk menuliskan keinginanya, Tuan Oh terlihat masih belum bisa menuliskan keinginanya.
Di rumah sakit, Nyonya Han mengaku ingin hidup, bahkan sangat ingin hidup yaitu Hidup indah, untuk waktu yang lama, Tanpa sakit.
Saat Digereja, Tuan Oh menuliskan harapan [Sayang, jangan sakit, dan hiduplah lebih lama.] terlihat air mata yang jatuh.  Nyonya Han berbicara pada dokter ingin hidup lebih lama dan meminta mereka untuk menyelamatkankan.
“Tapi dokter bilang dia tidak bisa... Aku sangat takut... Aku tidak bisa memberi tahu siapa pun. Aku terlalu takut.” Ungkap Nyonya Han.
Tuan Oh telihat kesal sendiri kembali mengomel istrinya malah makan permen bukan tidur, karena Giginya akan membusuk. Nyonya Han hanya terdiam. Tuan Oh mengeluh istrinya selalu membuat kebisingan di malam hari.

Ma Roo datang melihat So So  yang menangis sendirian di dalam gereja.
Flash Back
Nyonya Han juga menangis sendirian ditaman, Tuan Oh datang memberitahu kalau ini bisnia dan tadi bukan pelanggan kasar pertama mereka. Nyonya Han berusaha menahan tangisnya.
“Kenapa kau menangis karena orang-orang mabuk itu? Aku sudah bilang jangan menangis!” kata Tuan Oh. Nyonya Han tetap saja menangis. Tiba-tiba Tuan Oh berteriak kalau ada ular, Nyonya Han langsung panik dan berlari merangkul Tuan Oh sambil bertanya dimana ularnya
“Jangan menangis jika kau menangis di malam hari, seekor ular akan keluar. Ayo...Cepatlah.” ucap Tuan Oh kembali masuk restoran. Nyonya Han bisa sedikit tersenyum mendengarnya. 

Nyonya Han tersenyum mengingat kalau menyukai bagian itu tentang suaminya “Saat aku menangis, dia mengatakan "Jangan menangis. Jika kau menangis di malam hari, seekor ular akan keluar."
Ma Roo berjongkok melihat So So yang menangis sendirian dalam geraja.
Bersambung ke episode 4

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar