PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 18 Oktober 2017

Sinopsis Because This My First Life Episode 3 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Dua investor berbicara tentang aplikasi yang dibuat Sang Goo mencari kencan berdasarkan sistem penilaian seperti sistem kasta baru dan ingin tahu Berapa perkiraan taksiran pendapatannya. Sang Goo mengatakan Sejak kami merilis versi pembaruan terakhir minggu lalu, perkiraannya 300% lebih banyak dari biasanya.
“Ini agak memalukan, tapi aku dengan rendah hati mengira pendapatannya sebesar itu.” Kata Sang Goo
“Bukankah itu berarti kau tidak membutuhkan investor seperti kami?” ucap CEO yang lain.
“Investasi Anda adalah apa yang kami butuhkan untuk berkembang. Ini jalur hidup kami untuk melangkah lebih jauh. Sebelum kami membuat penawaran pertama di pasar saham, teruslah mendukung kami.” Kata Sang Goo membungkuk untuk mengoda.
“Aku suka sikapnya.Dia tidak seperti CEO muda lainnya.” Kata CEO kacamata. Temanya pun menyetujui.
“Hei..  Manager Park.” Panggil CEO kacamata mata.  Soo Ji dan Asisten Park pun menyapa para CEO. Sang Goo sempat membungkuk menyapal lalu melotot kaget melihat Soo Ji kembali bertemu.
“Pekerjaanmu sangat mengesankan.” Puji  CEO.  Manager Park pikir bukan apa-apa
“Ya. Saya suka betapa jelas sekali pesannya disampaikan. Apa Kau sudah pernah pakai  aplikasi itu juga? Tingkatmu pasti tingkat berlian. “ kaat Manager Park. Soo Ji mengaku kalau belum  sampai di tingkat itu.
“Mana mungkin. Bukankah itu karena kau hanya  mengunggah foto wajahmu? Kau harusnya mengunggah foto  dari kepala sampai ujung kaki.” Kata Manager Park
CEO lain bertanya Apa fotonya kelihatan bagus sekan kalli, Manager Park mengatakan kalau Soo Ji bukan hanya pintar, tapi penampilannya bagus dan menjadi andalan mereka dengan sengaja menyentuh bahu Soo Ji.
Sang Goo seperti tak suka langsung menyela meminta rokok pada Manager Park karena rokoknya ketinggalan di mobil. CEO pikir mereka bisa keluar bersama saja. Manager Park pun setuju dan mengajak Soo Ji untuk ikut. CEO mengejek Manager Park yang selalu mengoda Soo Ji. Sang Goo sengaja melakukan agar Soo Ji tak disentuh oleh Manager Park. Soo Ji juga seperti tak suka dengan Manager Park. 


Soo Ji pergi ke atap mengeluarkan rokoknya. Sang Goo datang menyalakan korek dan langsung berkomentar kalau Atap memang tempat terbaik untuk merokok. Soo Ji terlihat santai merokok, Sang Goo bertanya apakah Soo Ji tak mengingatnya. Soo Ji hanya terdiam.
“Sepertinya ingat. Bukankah  kita bertemu di pesta pernikahan? Ya, benar. Di situlah kita pertama kali bertemu. Dunia ini memang sempit.” Kata Sang Goo. Soo Ji pikir seperti itu.
“Apa kau tidak ingat di tempat lain juga? Kita bertemu di pesta atap tahun lalu. Kita berbicara seperti ini dan  aku bahkan menyalakan rokokmu. Lalu Kita waktu itu minum bir bersama. Oh, kau minum koktail. Setelah itu, kita...” kata Sang Goo dan melihat tatapan Soo Ji
“Sepertinya kau tidak mau membicarakannya.” Kata sang Goo. Soo Ji pikir tak seperti itu.
“Karena kau mengungkitnya, maka aku akan membicarakannya” kata Soo Ji menatapnya
“Kita tidur bersama, kan? Aku akan berpura-pura itu tidak terjadi.” Ucap Sang Goo.
Soo Ji malah bertanya apakah memang tahu lalu ia tidur dengan Sang Goo. Sang Goo heran karena Soo Ji tidak ingat apa-apa dengan mengingkatkan Waktu itu kamar 303 dan menginap disana menurutnya mereka saat itu  bersenang-senang.
“Maaf... Aku padahal biasanya ingat orang-orang  yang pernah tidur denganku. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengingatmu. Kurasa karena kau tidak begitu hebat.” Kata Soo Ji lalu berjalan pergi
“Apa Barusan dia bilang dia tidak ingat aku? Wahh.. Bisa-bisanya dia? Padahal kukira waktu itu, aku sangat tak terlupakan. Dan Bisa-bisanya dia tak ingat kemampuan hebatku itu?” kata Sang Goo tak percaya. 



Penulis Hwang mengajak Ji Ho minum bersama disebuah restoran tertutup, tapi saat Ji Ho masuk dikagetkan dengan Yong Suk dan Sutradara park sudah ada di dalam. Ji Ho pun duduk dengan wajah tertunduk. Penulisk Hwang mengajak mereka untuk mulai bersulang.
“Katanya Yong Suk mencarikan tempat tinggal buat Penulis Yoon. Romantis sekali dan Kalian serasi sekali” ucap Sutradara Park
“Aku suka bagaimana anak-anak muda zaman sekarang bisa berteman dengan lawan jenis. Tidak ada yang seperti itu  saat aku masih muda. Dulu Mana bisa kami d bebas bergaul dengan lawan jenis. Zamanku dulu, kalau ada rumor sepasang anak muda bermalam bersama itu artinya hubungan  mereka sangat serius.” Ungkap Penulis Hwang
“Benar... Kami banyak menderita karena itu.” Ungkap Sutradara Park
“Kalau aku, tidak, tapi kau berbeda. Kau dulu sangat menyukaiku, 'kan.” Goda Penulis Hwang. Sutradara Park mengeluh Penulis Hang membahas masalah itu sekarang lalu ingin menungkan minum untuk Ji Ho.
“Ketika orang muda bekerja sama., ada berbagai macam kejadian. Dimanapun juga, pasti seperti itu.” Kata Penulis Hwang 
Sutradara Park menyuruh Yong Suk agar meminta maaf pada Ji Ho dan mengaku kalau sudah melakukan kesalahan terbesar dan ia memberitahu Ji Ho kalau sudah memarahi semalam jadi Yong Suk ingin minta maaf makanya mengajak untuk bertemu.
“Penulis Yoon... Aku saat itu mabuk sekali sampai  hilang akal sehat. Aku minta maaf.” Ucap Yong Suk. Sutradara Park mengatakan kalau ingin menghajarnya sampai mati dan tidak dilalukan karena melihat sutradara Park.

“Sekarang ini... apa yang kalian lakukan? Kenapa... Kenapa Bapak memarahinya? Dan Kenapa Ibu bilang begitu? Padahal korbannya... adalah aku.” Ucap Ji Ho menahan tangisnya. Penulis Hwang binggung, Ji Ho pikir perkataan itu  kurang tepat.
“Aku dilecehkan secara seksual.. Ahhh.. Tidak, aku malah hampir diperkosa. Jadi wajar lah kalau aku  ini korban.” Kata Ji Ho. Yong Suk mencoba mengelak.
“Tutup saja mulutmu itu sebelum kujebloskan kau ke penjara.” Kata Ji Ho marah pada Yong Suk. Sutradara Park melihatnya merasa kalau Ji Ho  sudah kelewatan.
“Kita sudah seperti keluarga, jadi sebaiknya jangan bersikap seperti ini. Kami berkumpul di sini karena kau,  dan dia sudah minta maaf.” Kata Sutradara Park.
“Maka dari  itu. Kenapa pula kalian harus merencanakan kumpul-kumpul seperti ini? Aku tak mengerti kenapa aku  harus dengar dia minta maaf seperti ini.” Ucap Ji Ho marah.
“Penulis Yoon. Kita ini sudah seperti keluarga, saling menghargai. Jadi kami berusaha untuk tidak  menghancurkan kerja sama tim kita.” Jelas Penulis Hwang 


Ji Ho melihat kalau Penulis Hwang itu belum berusaha kalau seperti ini, menurutnya ia malah seperti telah diserang oleh  batu dan berdarah sekarang bahkan seharusnya Membawanya ke rumah sakit harusnya dipertimbangkan dalam situasi ini. Tapi mereka sekarang malah memaksa untuk membiarkannya dan seakan berkata kalau dirinya baik-baik dan berpikir kalau tidak berdarah sebanyak itu.
“Kalian seakan memaksa menyeretku dan Ini namanya bukan berusaha. Aku sudah sangat berdarah dan  terluka sampai mati.” Kata Ji Ho menahan tangis.
“Penulis Yoon. Apa Pikirmu kau ini lagi di organisasi kemahasiswaan?  Jika kau merengek seperti ini  karena hal sepele...,kau tidak akan bisa  menulis drama apapun. Drama itu soal kerja sama tim Hal ini terkait dengan masa lalu dan  masa depanmu juga. Tanpa kami, maka tidak mungkin  naskahmu terpilih.” Ucap Sutradara Park seperti sedikit mengancam.
“Ya..., aku mengerti. Untuk itu, aku...tidak akan menulis  naskah lagi. Aku takkan menulis drama lagi. Jadi jangan hubungi aku lagi.” Kata Ji Ho lalu keluar dari restoran. Penulis Hwang sempat memanggilnya.
Ji Ho berlari dan bersandar di dinding yang bertuliskan  ["A Lucky Day" oleh Hyun Jin Geon] lalu memuji dengan keputusan yang sudah bagus bahkan tidak menangis, jadi Keputusan tepat.


Soo Ji membuat campuran Bir dan Soju menyuruh Ji Ho minum, Ji Ho menghabiskan satu gelas. Soo Ji kembali memberikan gelas lain, Ji Ho pikirsudah minum 5 gelas. Soo Ji merengek kalau gelas yang dibuatnya belum habis, karena temanya harus minum semalaman di hari mengundurkan diri dari pekerjaan.
“Benar, kau hanya perlu  minum-minum dan muntah-muntah malam ini dan Sisanya, kami yang urus” kata Ho Rang
“Menakutkan sekali kalian, Padahal kalian bilang mau menghiburku.” Ucap Ji Ho.
“Maka dari itu... Inilah minuman hiburan, jadi Bersulang.” Kata Ho Rang. Ji Ho pikir tidak kuat minum lagi Atau perutnya bakal meledak.
“Jadi apa kita harus berangkat sekarang karena kau lagi mabuk?” kata Soo Ji. Ji Ho bertanya kemana mereka akan pergi. Ho Rang dengan semangat kalau mereka akan karaoke. Ji Ho menolak karena pasti bisa muntah. Tapi keduanya sudah menarik dari atap rumah Ho Rang. 

Ketiganya menari dan menyanyi bersama, melampiaskan semua rasa frustasi dalam sehari. Ji Ho juga terlihat bisa bahagia bertemu dengan teman-temanya walaupun harus berhenti berkerja
“Soo Ji dan Ho Rang selalu seperti ini. Waktu aku sedang kesusahan..., maka mereka tidak pernah bertanya padaku ada  masalah apa atau bagaimana kronologisnya, seperti yang dilakukan orang lain. Mereka hanya mengobrol dan  tertawa seperti biasa. Sebenarnya, itulah kenyamanan terbaik yang bisa kudapatkan.” Gumam Ji Ho. 

Di luar ruangan.
Soo Ji menerima telp dan mengetahui kalau mereka harus bertemu besok, lalu mengeluh anak buahnya yang tak pandai  menangani masalah ini dan akhirnya memutuskan untuk mengeceknya. Ji Ho baru saja dari kamar mandi mendengarnya bertanya apakah temanya harus pergi.
“Ini soal klien penting kami, pokoknya Kacau. Makanya aku ingin mematikan ponselku.” Kata Soo Ji. Ji Ho menyuruh Soo Ji pergi saja karena masalah perkerjaan. Soo Ji pun meminta maaf sambil menelp kepala manager.
Ji Ho masuk ruangan melihat Ho Rang sudah tertidur pulas, dengan mengejek aklau mengira temanya yang ingin minum semalaman. Ponsel Ho Rang berbunyi,  Won Seok menelp.  Ji Ho pun mengangkatnya. 

Won Seok mengendong Ho Rang pulang walaupun terasa Berat, lalu mengeluh pada pacarnya yang semangat sekali Padahal Ji Ho yang  mengundurkan diri. Ji Ho juga tahu karena Ho Rang itu tidak jago minum. Won Seok pun menanyakan Ji Ho pulang karena sudah larut malam dan mengajak untuk tidur dirumah mereka saja.
“Heol.... Jangan lupa kita ini  sudah umur 30, bukan 20 tahun” kata Ji Ho lalu melhat taksi yang lewat.  Wan Seok pun memasukan Ho Rang lebih dulu lalu membiarkan tidur dipangkuanya. Ji Ho pun melambaikan pada Won Seok 
“Tapi mereka semua punya tempat tujuan.. Kecuali aku..” Gumam Ji Ho sedih dan berjalan ke halte bus, terlihat dilayar kalau Semua bus berhenti beroperasi.
“Kenapa aku selalu berkeliaran di jalanan?” keluh Ji Ho yang tak punya tujuan bahkan tempat tinggal.

Ibu Ji Ho menelp,  menanyakan keberadannya apakah tidak tidur. Ji Ho mengaku masih ada diluar karena Ada yang harus dikerjakan. Ibu Ji Ho meminta anaknya Jangan kerja lembur sampai malam karena Nanti teman serumahnya berprasangka buruk. Ji Ho mengatakan kalau akan pulang sekarang.
“Jaga kebersihan kamarmu, Setelah minum kopi, langsung cuci cangkirnya. Jangan langsung keluar setelah  mengeringkan rambutmu. Kau harus Pel lantainya tiap pagi dan malam  biar lantainya tak ada rambut rontokmu.” Ucap Ibu Ji Ho
“Sudahlah. Sudah kubilang, iya, iya.” Kata Ji Ho kesal pada ibunya.
“Kenapa kau... Kenapa kau mengamuk? Ibu cuma mengatakan karena khawatir.” Kata Ibu Ji Ho
“Lalu aku harus bagaimana biar bisa lebih baik lagi? Jika aku melakukan semuanya dengan baik, apa semuanya akan berhasil? Ibu itu tidak tahu apa-apa.”kata Ji Ho merasa frustasi karena tak ada yang bisa mengerti keadaanya sekarang.
Ibunya pun mengerti tak banyak bicara hanya meminta agar Ji Ho bisa segera pulang dan jangan lupa makan, lalu menutup telpnya. Tapi sebelum menutup ibunya berpesan Kalau cuaca Seoul terlalu dingin, maka datangnya kerumahnya karena kamarnya masih ada dan bisa datang kapan saja, Ji Ho hanya bisa terdiam mendengar ibunya. 

Pagi Hari
Se Hee berlari ditaman, petugas menghentikanya memberikan sebuah koper. Se He binggung bertanya apakah itu punyanya. Petugas membenarkan karena Ada orang yang menitipkan untuk unit 401. Se Hee mengerti dan melihat note yang ditempel [Kutaruh kopernya di sini karena kau menyuruhku tak usah menghubungimu. -Yong Suk.]
Ji Ho membuat telur mata sapi dan menerima gambar kopernya dari ponselnya. Se Hee mengirimkan pesan “Aku mengambil barang-barangmu dari pos satpam. Kurasa mantan rekan kerjaku yang mengirimnya ke alamat itu.” Ji Ho meminta maaf dan meminta izin untuk bisa mengambil barangnya hari ini.  Se Hee pun membalas kalau Se Hee bisa Datang kapan saja.

Soo Ji keluar dari kemar mandi kaget melihat meja makan karena Sudah lama tak pernah sarapan. Ji Ho menyuruh temanya sarapan bahkan tega karena tak makan makanan yang dikirim ibunya. Soo Ji pikir temanya tahu ibunya selalu membuat banyak makanan setiap saat lalu bertanya akhir pekan ini akan pergi jalan-jalan kemana.
“Soo Ji... Hari ini, aku mau ke Namhae.” Kata Ji Ho. Soo Ji setuju karena temanya harus beristirahat di sana.
“Tidak, maksudku, aku mau  pulang kesana untuk selamanya. Aku akan pergi dari Seoul. Naskahku gagal, dan aku tak bisa apa-apa lagi.” Kata Ji Ho dengan tatapan sedih. Soo Ji pun kaget.
“Jika ini soal tempat tinggal,  kau bisa tinggal di sini. Aku sungguh tak keberatan.” Ucap Soo Ji ikut sedih.
“Bukan soal itu... Tapi Hanya saja... Seoul...terlalu dingin, jadi aku bosan. Aku akan pergi ke Namhae.” Kata Ji Ho. Soo Ji seperti tak bisa menahan temanya pergi. 

Ji Ho menekan bel rumah Se Hee beberapa kali tapi tak ada yang membukanya dan berpikir kalau Se Hee tidak di dalam, lalu masuk dengan password yang belum berubah. Ia lebih dulu menyapa Kitty dengan menanyakan kabarnya dan apakah sudah makan lalu masuk ke daam kamar.
Ji Ho melihat note yang ditulis oleh Yong Suk dan membuangknya begitu saja setelah itu melihat berkas [Turtle Student Residence] merasa tak tega jadi memilih untuk meninggalkan saja diatas meja jadi bisa dida ulang. Saat itu terdengar suara pintu terbuka, Ji Ho akan menyapa Se Hee tapi terdengar lebih dulu suara ibu Se Hee yang membuatnya kembali ke kamar. 

Ibu Se Hee ingin tahu apa yang anaknya katakan sampai orang tuanya sangat marah. Se He mengatakan kalau memintanya membayar sewa bulanan. Ibu Se Hee merasa ankanya sudah gila bahkan minta uang sewa bulanan dari calon istrinya. Se Hee dengan santai mengatakan kalau ia butuh sewa.
“Dia bilang ingin berhenti kerja,  punya anak dan jalan-jalan kalau sudah menikah. Jadi kubilang padanya, bahwa aku ingin  teman serumah yang membayar sewa...,menyortir sampah, dan membersihkan kotoran kucingku. Itulah yang kukatakan padanya. Kenapa memang?” kata Se Hee merasa tak ada yang salah. Ji Ho mendengarkan dari celah pintu.
“Kau bilang Kenapa apanya?!!! Walau kau tidak menyukainya, apa normal bicara seperti itu pada saat kencan buta?” kata Ibu Se Hee tak habis pikir. Se Hee tahu kalau Itu memang tak normal.
“Tapi Memang normal itu apa artinya? Memberikan dan menerima cinta  seperti kebanyakan pria. Punya anak dan hidup seperti orang lain. Dan Normal darimananya itu?”keluh Se Hee
“Yah.. Normal seperti itu. Semua orang hidup seperti itu.  Apa sesulit itu?” ucap Ibu Se Hee.
“Apa Ibu tahu biaya rata-rata buat menikah di Korea?” kata Se Hee. Ibunya menjawab sekitar 50 sampai 60 juta won.
“Yang benar 2,7 M won dengan Membesarkan anak, 3M won. Jadi Buat apa aku menikah dengan seorang wanita yang bahkan tidak tahu perbedaan antara plastik dan styrofoam dan yang suka buang-buang uang?” kata Se Hee.
Ibunya pikir mereka seperti sedang wawancara kerja? Dan melihat kalau calonya itu cantik sekali bahkan Setiap pria pasti jatuh cinta padanya. Se Hee mengaku kalau sudah cukup puas dengan  kucing muda nan cantik ditanganya. Ibu Se Hee menduga anaknya ada masalah yaitu terpengaruh  oleh hormon lingkungan hingga kemampuan seksualnya... Se Hee mengeluh pada ibunya yang berpikiran aneh.
“Terserahlah,  pegawai biro jodoh sampai heran padamu. Dan Tidak akan ada kencan buta lagi, jadi minta maaflah ke Nn. Hwang. Ibu rasa dia masih menyukaimu.” Ucap Ibu Se Hee. Se Hee bertanya kenapa ia harus melakukanya.
“Jika ayahmu menceraikan Ibu maka Karena kau, Ibu akan pindah kesini. Kau tahu betul sifat ayahmu, jadi Ibu tak bisa menentang dia. Maka kau bisa  Pilih apakah lebih baik tinggal dengan  ibumu yang tua ini atau dengan istri mudamu nan cantik itu. Terserah kau.” Kata Ibunya. Se Hee hanya diam saja. 



Ji Ho keluar kamar untuk menyapa, tapi Se Hee kaget setengah mati sampai terjungkal. Ji Ho langsung meminta maaf dan keduanya duduk diruang tengah. Ji Ho kembali meminta maaf karena tidak ingin ketahuan ibunya. Se Hee pikir tak masalah bahkan berterimakasih karena sudah bersembunyi.
“Tapi kenapa kau bawa semua barang bawaanmu? Apa Kau diusir?” ucap Se Hee.
“Ya.. Aku sebenarnya mau pulang  kampung di Namhae.” Kata Ji Ho. Se Hee pun menanyakan dengan pekerjannya.
“Aku berhenti. Aku ingin mengucapkan terima kasih telah  menyewakanku kamar yang bagus. Berkat kau, aku bisa menulis naskah pertamaku di sini, meski tidak berjalan lancar.” Kata Ji Ho
“Nanti juga kau akan  hebat sendirinya, Karena kau orang yang sangat  bertanggung jawab. Kau dapat nilai tertinggi di antara  semua penyewaku yang tinggal di sini.” Ungkap Se Hee.
“Ya, kau juga pasti berhasil dan Kau akan segera menikahi wanita yang baik.” Balas Ji Ho.
Se Hee juga tak tahu, apakah ia bisa menikah. Ji Ho pikir kenapa tak bisa karena sebelumnya Se Hee bisa mengajaknya menikah. Se Hee mengaku kalau itu karena orangnya adalah Ji Ho makanya ia mengajaknya menikah.
“Kau dapat nilai tertinggi  sebagai penyewaku. Bukan pernikahan yang kubutuhkan, tapi kau. Karena itu, aku melamarmu.” Ungkap Se Hee. Ji Ho terdiam mendengarnya.
“Aku tahu ini bukan saat yang tepat jatuh hati padanya.” Gumam Ji Ho
“Aku butuh teman serumah yang bisa menjamin membayar sewa bulanan bukan pernikahan.” Kata Se Hee. 

Ji Ho berjalan keluar dari rumah merasa kalau tetap saja ini pertama kalinya mendengar ada seseorang yang membutuhkannya. Lalu sampai ke halte bus memesan bus ke Namhae.
“Seumur hidupku di usia 20an..., aku bekerja keras untuk menjadi  orang yang dibutuhkan. Tiap kali aku kesusahan, aku  menyeberangi Jembatan Sungai Han. Ketika melihat-lihat Sungai Han..., maka kukira mungkin ada setidaknya satu tempat yang membutuhkanku di kota besar ini Begitulah yang kukira.” Gumam Ji Ho akhirnya memasukan kopernya ke dalam bagasi.
“Selama 10 tahun..., koper ini banyak tergores  layaknya diriku. Padahal koper ini awalnya  masih mengkilap saat pertama kali ke Seoul.”
Ia pun naik ke dalam bus yang akan membawanya ke Namhae sammbil menyadarkan kepala di jendela kembali bergumam.
“Apapun yang kulakukan begitu keras dalam hidup ini..., kapankah aku akan kembali ke  Namhae dengan hal yang bisa dibanggakan? Lagipula, dari awal memang tak ada tempat  tujuan bagiku.” Gumam Ji Ho lalu kaget melihat sosok pria yang pernah melamarnya. 

Se Hee menaiki bus, Ji Ho pun berdiri bertanya kenapa datang menemuinya. Se Hee bertanya kenapa Ji Ho yang tak mengangkat telpnya. Ji Ho mengatakan kalau Baterainya habis. Se Hee memberikan berkas naskah yang tertinggal dikamarnya serta sebuah poster. Ji Ho tak percaya Se Hee datang hanya ingin memberikan itu.
“Aku tadinya rencana mau keluar dan kebetulan aku ingat kau bilang busmu berangkat jam 7 malam. Sepertinya kau butuh ini.” Kata Se Hee. Ji Ho mengaku kalau memang membutuhkanya.
Sopir bus memberitahu kalau bus mereka Sebentar lagi berangkat. Ji Ho pun hanya bisa menatap Se Hee yang berjalan meninggalkan halte bus dan tak sengaja menjatuhkan beberapa jeruk lalu membantunya dan mengingat ucapannya kalau semua karena dirinya.
“Aku mengajakmu menikah karena kau, Ji Ho” Ucap Se Hee memberikan alasan sebelumnya.
“Dialah orang pertama yang berkata dia membutuhkanku” gumam Ji Ho 


Ji Ho tiba-tiba turun dari bus memanggil Se Hee,  membeirtahu kalau Pak supirnya tak mau  menunggu lama karena marah jadi meminta agar Se He menjawab dengan cepat. Se Hee mengangguk mengerti.
“Maukah kau... menikah denganku? Ayo.... Cepat. Dia tak mau menunggu.” Kata Ji Ho. Se Hee langsung menjawab Ya
“Kalau begitu, sekarang aku  mau ambil koperku. Ahjussi pasti kesal sekali sekarang.” Kata Ji Ho segera berlari ke bus.
“Tapi Ada yang harus kutanyakan sebelumnya. Apa kebetulan, kau... menyukaiku?” tanya Se Hee dengan menaruh tanganya di kedua mulutnya agar nyaring.  Ji Ho dengan mudah langsung menjawab Tidak.
“Demikianlah, lamaran kami...dimulai.” gumam Ji Ho dengan berada di halte bus dan berdiri berjauhan.
Bersambung ke episode 4

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

2 komentar:

  1. Unni di tnggu ep 4 faighting....

    BalasHapus
  2. Semakin seru. Sy sudah membacan sinop drama jepangnya...tp tidak yakin kalo alur selanjutnya akan sama

    BalasHapus