Jumat, 25 November 2016

Sinopsis Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 3 Part 2

PS : All images credit and content copyright :MBC
Keluarga Jung sedang minum teh bersama, Ibu Joon Hyung bertanya apda Jae Yi apakah sudah bicara dengan Joon Hyung karena kemarin  didiskualifikasi lalu menanyakan keadaanya sekarang.  Jae Yi memberitahu Joon Hyung akan berkonsultasi dengan temannya.
Benarkah? Ah. Lega sekali.... Itu bagus. Kami khawatir, tapi mencoba untuk tidak memperlihatkannya.” Ungkap Ibu Joon Hyung
Latihan mental adalah hal yang penting untuk atlet.  Itu akan membantunya.” Kata Jae Yi 

Saat itu Ibu Joon Hyung terlihat bahagia karena yang sedang mereka bicarakan menelpnya, lalu mengangkatnya dengan wajah bahagia lalu bertanya apakah sudah makan. Joon Hyung yang baru keluar restoran dengan Tae Kwon memberitahu baru saja makan gurita dan meralatnya kalau makan pancake dan makan malam dengan Tae Kwon.
Aku tidak akan terlambat. Aku tahu kau merindukanku. Tunggulah sebentar lagi. Aku mencintaimu, Ibu.” Ucap Joon Hyung seperti bahagia menelpnya.
“Apa Dia ibumu atau pacarmu? Dasar Kau memang anak mama.” Ejek Tae Kwon
Memang benar. Aku sangat mencintai ibuku.” Balas Joon Hyung lalu memeluk temanya untuk segera pergi. 

Nan Hee yang mabuk terus bertingkah ingin foto selfie dengan mengibas-ngibaskan rambutnya dengan memegang gelas birnya, tapi birnya malah tumpah mengenai baju si pria. Bok Joo langsung meminta maaf karena temanya mabuk, Si pria menyuruh agar mereka itu melakuakn sesuatu dengan masalah minumnya.
Biarkan saja mereka. Mereka hanya akan menhancurkan suasana.” Kata temanya menyuruh agar si pria duduk kembali.
Wanita harusnya diam di rumah. Kenapa mereka minum-minum di luar? Hei. Jangan pedulikan orang lain ketika kau sedang minum. Mau jadi apa kalian?” teriak si pria, Nan Hee menyahut kalau mereka  akan jadi atlet angkat besi.
Aish. Kalau kau adikku, maka aku akan menggunduli kepalamu lalu mengurungmu.” Ucap si pria marah, Bok Joo mulai marah mendengar percakapan temanya.
Aku mengatakan apa yang ingin kukatakan. Apa Kau punya masalah?” balas Si pria tak takut dan mengejek melihat ternyata memang seorang atlet.
“Sudah lah... Para pengecut itu tidak tahu apapun.” kata temanya menenangkan.
Bok Joo makin tak terima dianggap pengecut dan mengajak agar bisa melihat siapa pengecut sebenarnya dengan nendang kursi, si pria kesakita hanya terkena senggolan kursi, Nan Hee yang mabuk naik ke atas meja meminta agar mereka tetap tenang. 

Joon Hyung dan Tae Kwon masuk ke dalam restoran yang sama, Tae Kwon mengeluh kalau di tempat ini gadisnya tidak terlihat baik. Joon Hyung hanya merasa lelah jadi lebih baik mereka  minum dengan cepat. Bok Joo mengejek pria itu memang pengecut karena membicarakan di belakang.
“Hei... Bukankah dia atlet angkat besi yang satu sekolah denganmu?” kata Tae Kwon melihat dari kejauhan. Joon Hyung pun hanya melihatnya.
Bok Joo tetap tak terima, Sun Ok mencoba menahan Bok Joo yang emosi dan Nan Hee sedang mabuk naik ke atas kursi. Si pria tidak ingin bertengkar dengannya jadi menyuruh meminta maaf dan pergi saja. Bok Joo merasa sudah meminta maaf dan lebih baik pria itu saja yang pergi. “Apa kau bilang? Beraninya kau tidak sopan padaku? Kau yang enyah” ucap si pria, Bok Joo mengatakan tak mau mereka pun mulai adu mulut. Nan Hee meminta agar mereka menghentikan pertengkaran. 
Ah, dia sangat tidak sopan... Kau bukan wanita, Kau lebih jelek dari pria. Bahkan Wajahmu lebih buruk.” Ejek si pria
Jangan merendahkan wanita.” Kata Bok Joo, Joon Hyung tak mau ikut campur mengajak Tae Kwon agar segera pergi ke lantai atas.
Si pria mulai mendorong Bok Joo merasa tak mau mengalah karena seorang wanita bahkan melihatnya tidak terlihat seperti wanita karena memiliki dada yang rata. Bok Joo tak tahan ingin memukulnya, Nan Hee berteriak marah kalau ia juga seorang wanita walapun gemuk. Sun Ok mendorong semua temanya agar keluar dan Joon Hyung hanya menatapnya saja. 

Sun Ok dan Bok Joo memapah Nan Hee agar bisa Berdiri yang tegak harus sadar lalu menyuruhnya untuk dudk di bangku. Nan Hee mengaku sudah sadar tapi beberapa saat kemudian tubuhnya langsung jatuh tak sadarkan diri. Sun Ok hanya bisa menghela nafas dengan memberikanya jaket.
“Ini Kacau sekali. Aku ingin kita bersenang-senang dan berada jauh dari sekolah. Anak-anak brengsek itu!” ucap Sun Ok kesal
Maafkan aku. Aku tidak bisa menahan amarahku lagi.” Kata Bok Joo merasa menyesal
Kau harus berhati-hati. Bagaimana kalau kau terkena pukulannya? Kita atlet angkat besi, tapi mereka masih tetap pria. Mereka terlihat seperti preman dan sangat kasar. Kalian semua kacau. Yang satu suka bertengkar dan yang satunya mabuk. Aku tidak akan pernah membiarkannya minum lagi.” Keluh Sun Ok yang harus menyelamatkan dua temanya. 

Si pria dan teman-temanya mengaku kalau hampir saja memukul wanita. Teman lainya meminta agar si pria bisa berhati-hati dengan ucapanya. Karena menurutnya tadi bukan wanita tapi gangster, bukan wanita dan benci wanita yang agresif seperti mereka.
Meskipun mereka mudah didapatkan, aku akan menolak mereka.” Komentar yang lainya. Teman yang lainya melihat kalau salah satu wanita itu terlihat cantik. Joon Hyung diam-diam mendengar ucapan mereka dari lantai atas
Wanita seperti mereka bisa jadi  sangat menarik dengan cara yang berbeda. Mereka mungkin terlihat kuat pertamanya, tapi lalu mereka jadi tunduk. Kau tahu maksudku ‘kan.” Ucap Si pria
“Apa Kau tahu Kyung Shik? Pacarnya sangat gagah dan badannya besar. Kyung Shik bilang dia bukan main. Hei... Ayolah, lebih spesifik lagi. Dibandingkan dengan gadis kurus...” kata pria lainya
Saat itu Joon Hyung mendatangi si pria yang terus mengejek Bok Joo langsung memberikan pukulan, kekacauan pun terjadi dalam restoran. 

Nan Hee sudah bisa duduk tegak. Sun Ok menanyakan keadaannya apakah sduah sadar. Nan Hee mengangguk kalau sudah sadar dan merasa jauh lebih baik sekarang. Bok Joo melihat Nan Hee memang sudah sadar karena bisa bicaranya dengannya.
Tiba-tiba Joon Hyung dan Tae Kwon berlari dari arah restoran, Joon Hyung langsung menarik Bok Joo. Tae Kwon pun mengajak Nan Hee dan Sun Ok ikut berlari juga, Semua pria yang dibelakang mereka terus mengejarnya. Mereka pun harus berpisah arah dan beberapa pria mengejar Bok Joo dan Joon Hyung tapi kehilangan arahnya.
Kemana anak-anak sialan itu pergi?” kata si pria marah didepan minimarket, terlihat dua kepala yang ada dikolong meja. Mereka akhirnya berbagi tugas untuk mencari keduanya.
Joon Hyung mengintip memberitahu kalau mereka sudah pergi, ketika ingin keluar kepalanya terbentur. Bok Joo langsung panik mengusapnya karena tahu pasti sakit. Suasana berubah jadi canggung, dan Bok Joo pun merasa sikapnya berbeda. Joon Hyung pun mengajak Bok Joo untuk keluar dan kali ini Bok Joo yang harus terbentur saat keluar. 


Keduanya berjalan ke arah taman, Bok Joo mengaku kalau berLari-lari seperti tadi membuatnya mual. Joon Hyung bertanya apakah pergelangan kaki Bok Joo baik-baik saja. Bok Joo merasa sedikit sakit tapi tak masalah untuknya, lalu menayakan alasan mereka untuk kabur tadi.
Aku penasaran kenapa aku kabur denganmu. Aku pasti sudah gila. Jadi Kapan kau sampai disana? Apa kau melihat yang terjadi?” ucap Bok Joo menduga sesuatu, Joon Hyung terlihat binggung.
Apa kau berkelahi... karena aku?” kata Bok Joo, Joon Hyung menyangkalnya.
Kau mungkin tidak tahu ini, tapi aku tidak begitu setia. Aku tidak suka ikut campur dalam urusan orang.Menjauh dari urusan orang lain dan orang lain juga menjauh dari urusanku.Itulah motto-ku dalam hidup.” Kata Joon Hyung berusha mengelak,
Lalu kenapa kau kabur? Bukannya itu karena kau berkelahi?” kata Bok Joo, Joon Hyung mengaku bukan seperti itu.
Aku pasti terlalu tampan karena... mereka terus memandangiku. Aku mengerti kalau mereka pergi  keluar untuk bersenang-senang, tapi semua wanita menatapku.” Kata Joon Hyung bangga.
Bok Joo merasa tidak bisa bicara serius dengan Joon Hyung, lalu mengutarakan karena sudah  sudah berlari sejauh ini, membuatnya jadi tidak terlalu banyak pikiran lalu mengucapkan terimakasih pada temanya. Joon Hyung pikir tak masalah lalu bertanya apa yang dipikirkan, apakah mungkin sesuatu yang rumit.
Bagaimana kalau iya? Haruskah aku memberitahumu tentang itu? Ah.... Aku pikir kita tidak terlalu dekat untuk bicara hal-hal seperti itu.” kata Bok Joo, Joon Hyung pun setuju dengan masalah itu.

Biarkan aku bertanya satu hal padamu. Apakah kepribadianmu sudah berubah atau aku yang salah mengingatmu?” kata Bok Joo melihat sikap Joon Hyung yang berbeda
Tentu saja aku sudah berubah. Aku tidak bisa bertahan di dunia ini jika aku masih pemalu seperti dulu. Kau Jujur saja  Bukankah aku terlihat lebih menarik dari sebelumnya?” kata Joon Hyung mengoda dengan sengaja mendekatkan wajahnya.
Hentikan, jauhkan wajah itu dariku. Dagumu terlalu tajam.” Ucap Bok Joo seperti tak gampang termakan godaan pria. Keduanya pun bersama melihat pemandangan kota seoul di malam hari.
Bicara tentang yang ada di pikiranmu, jangan memaksa dirimu sendiri untuk membuat kesimpulan. Berdasarkan pengalamanku, waktu akan menyelesaikan semuanya.” Saran Joon Hyung, Bok Joo tak memperdulikanya. 


Bok Joo tertidur di kamarnya, terdengar teriakan Dae Ho yang memanggilnya di pagi hari. Dae Ho sudah ada didepan rumah dengan mengelap sebuah motor didepan restoran.  Tuan Kim dan juga Bok Joo kesal karena Dae Hoo sudah sangat rebut di pagi hari lalu kaget melihat yang ada didepan rumah.
“Apa Kau tidak bisa lihat apa ini? Ini skuter dan sudah pernah dipakai. Tapi belum terlalu lama jadia masih bagus seperti baru. Lalu aku membuang skuter tua kita, karena Tidak ada yang mau membeli sampah seperti itu, jadi aku hampir tidak bisa menjualnya untuk 100 ribu won.” Jelas Dae Ho, Bok Jo mencoba duduk diatas motor barunya.
Bagaimana kau bisa mendapat uang untuk membeli ini?” tanya Tuan Kim binggung.
Aku komplain pada bosku. Aku mengatakan padanya untuk membayarku atas pekerjaan yang sudah ku kerjakan. Jika tidak, ,maka aku bilang akan komplain pada stasiun penyiaran.” Cerita Dae Ho

Jika kau jadi buruk di matanya, maka dia mungkin tidak akan memberimu pekerjaan lagi.” Pikir Tuan Kim
Aku bahkan tidak berpikir kalau a memiliki bakat akting. Aku hanya akan berhenti.” Ucap Dae Ho merasa tak peduli dan  tidak mau membicarakan tentang itu.
Ia lalu menanyakan pendapat Tuan Kim tentang motor barunya,  Tuan Kim hanya diam. Dae Ho memberitahu dengan bangga kalau kakaknya meniaki motor itu dan megendarainya dengan menyalakan gasnya maka  akan terlihat sangat keren. Bok Joo juga memuji pamanya  yang sangat keren hari ini dan sangat berkharisma. Tuan Kim mengakui kalau menyukainya.


Shi Ho berjalan dan berhenti didepan sebuah toko sepatu, terdiam menatap ke dalam etalase.
Flash Back
Shi Ho mengajak Joon Hyung untuk masuk hanya melihat saja dan Tidak akan lama. Joon Hyung menolak karena mereka sudah telat,  Shi Ho mengajak merkea melihat-lihat saja dan tidak akan membeli apapun lalu menujuk bagian rak dengan model sepatu yang baru..
Ayo kita cari sepatu yang sama.” Ajak Shi Ho memlih salah satu sepau, Joon Hyung menolak mengajak mereka pergi saja.. Shi Ho menanyakan alsaan Joon Hyung yang menolaknya.
Kenapa kita harus memakai sepatu yang sama? Aku benci itu. Itu memalukan.” Kata Joon Hyung lalu memeluk Shi Ho dari belakang agar pergi.
Shi Ho mengerti dan meminta agar Joon Hyung melepaskan pelukanya, Joon Hyung meminta Shi Ho berjanji agar tak membelinya. Shi Ho berjanji tapi setelah dilepaskan ingin berlari ke bagian rak sepatu. Joon Hyung langsung menarik dan memeluknya kembali agar mereka keluar dari toko sepatu.
Yang itu juga akan terlihat bagus... untuk Joon Hyung.”ucap Shi Ho yang sendirian melihat sepatu pada etalase dengan senyumanya. 

Tuan Kim mengantar Bok Joo sampai ke kampus, wajah Bok Joo terlihat bahagia saat turun karena mereka jadi lebih cepat sampai  hanya memakan waktu 5 menit kurang. Tuan Kim juga harus mengakui kalau motornya itu memang bagus. Bok Joo berpesan pada ayahnya agar jangan mengemudikannya terlalu cepat Dan berhati-hatilah saat berbelok. Tuan Kim mengerti.
Terima kasih tumpangannya, Ayah. Sampai jumpa.” Kata Bok Joo, Tuan Kim merogoh kantungnya dan memberikan uang lembaran 5Oribu won dan memberikan pada anaknya. Bok Joo binggung karena ayahnya tiba-tiba memberikan uang padanya.
Kau terlihat tertekan terakhir kali aku melihatmu. Jangan hanya menghabiskan waktumu dengan latihan. Pastikan juga untuk menghilangkan stressmu. Pergilah makan makanan enak bersama teman-temanmu, dan belanja juga. Kau juga harus pergi ke club seperti gadis lainnya.” Kata Tuan Kim, Bok Joo menolak merasa tak membutuhknya.
Ah. Ambil saja, bodoh. Aku baru berpikir untuk membeli skuter baru, tapi pamanmu membelikan ini untukku. Stress tidak baik bagi atlet. Jadi kau Pergilah bersenang-senang, Pokoknya harus. Pamamu akan datang  ke rumah sakit mulai sekarang, jadi jangan khawatir dan fokus saja pada latihanmu. Kita tidak memiliki terlalu banyak  pelanggan saat siang,m jadi lakukan saja seperti itu. Mengerti?” kata Tuan Kim lalu pamit pergi,

Bok Joo hanya menatap sedih uang ditangannya, seperti tak tega menerimanya. Joon Hyung dan Tae Kwon pun akan kembali ke asrama. Tae Kwon mengeluh karena Bahunya sakit sekali. Joon Hyung mengejek agar temanya membuat beberapa otot kalau tidak makan sendi-sendinya terus-terusan bergeser. Tae Kown tahu tapi hanya malas saja.
“Ohh.... Sayangku, ternyata hanya kau satu-satunya yang mengkhawatirkanku.” Goda Tae Kwon dengan mengelus bagian dada. Joon Hyung merasa jijik menyuruh Tae Kwon menjauh darinya. 
Tae Kwon malah sengaja mengejek dengan memegang bagian dada dan kabur masuk asrama. Joon Hyung mengejernya, lalu berhasil memiting dibagian depan loker. Tae Kwon meminta agar Joon Hyung melepaskan karena harus mengambil paketnya lebih dulu. Joon Hyung tak ingin dibohongi. Tae Kwon menyakinkan dan akhirnya Joon Hyung melepaskannya.
Aku sedang menunggu celana renang yang baru ku beli.” Kata Tae Kwon
Hei, apa kau belanja lagi? Tidakkah kau khawatir pada ayahmu? Apa kau bisa terus-terusan boros seperti ini?” ucap Joon Hyung melihat banyak tumpukan kardus didepan loker.
Jangan khawatir, teman. Mereka bilang kalau orang kaya tidak pernah benar-benar jatuh miskin. Kau harus menjalani hari ini seakan-akan tidak ada hari esok.” Kata Tae Kwon lalu melihat sebuah tas untuk temanya karena tertulis nama "Jung Joon Hyung".
Aku tidak sedang menunggu apapun.” kata Joon Hyung binggung dan melihat isinya sepasang sepatu, Tae Kwon pikir terlihat sedikit aneh karena Tidak ada alamat pengirimnya dan Yang ada hanyalah namanya. 


Shi Ho sedang berlatih senam sendirian, lalu ponselnya berdering wajahnya terlihat bahagia menuruni tangga kampusnya. Dan ketika keluar melihat Joon Hyung sudah menunggunya dengan tas yang berikkana, wajah Shi Ho langsung berubah murung. Joon Hyung melihat Shi Ho yang datang langsung mendekati dan mengembalikan sepatunya.
“Ternyata Kau bisa menebaknya.” Kata Shi Ho mencoba untuk tersenyum.
Hanya kau satu-satunya orang yang akan mengirimiku hal-hal seperti ini.” ucap Joon Hyung.
Jika aku satu-satunya, bisakah kau menyimpannya dan memakainya?” pikir Shi Ho
Tidak tahu juga. Aku berpikir untuk menyimpannya untuk waktu yang sangat sebentar, tapi aku pikir tidak bisa menerima ini darimu.” Kata Joon Hyung
Shi Ho bisa mengerti karena tidak tahu itu akan  membuat Joon Hyung merasa tidak nyaman. Joon Hyung pun pamit pergi lebih dulu, saat itu Shi Ho terlihat sedih karena Joon Hyung bahkan tak mau menerima hadiah darinya. 

Bok Joo melihat lembaran uang ditanganya, lalu memukul tanganya sendiri dengan mengumpat dirinya sudah gila  kalau memang mendaftar menggunakan uang itu. Suara dari hatinya mengingtatkan kalau ayahnya memberikan uang hanya karena mengkhawatirnya.
Dia harus mengendarai skuter tua berkali-kali untuk mendapatkan uang ini. Bok Joo, jangan lakukan apapun yang akan kau sesali.” Gumam Bok Joo lalu akhirnya menaruh uang di dalam laci mejanya. 

Bok Joo dkk kembali bertemu di atap, Nan Hee merasa  sangat membosankan karena mereka bahkan tidak bisa minum bir. Sun Ok merasa Nan Hee tak bisa lebih prihatin dan memperingatkan  Jangan berani membicarakan tentang alkohol untuk beberapa waktu ke depan. Bok Joo yang sedari tadi hanya diam saja mulai berbicara.
“Temanku.... Mulai sekarang, aku akan berlatih lebih keras lagi.” Ucap Bok Joo penuh semangat.
Kau sudah berlatih cukup keras dan Kau yang berlatih paling keras diantara kami.” Kata Nan Hee, Sun Ok juga merasa seperti itu.
Tidak... Aku terlalu bersantai akhir-akhir ini. Aku akan fokus mulai sekarang... dan berlatih seratus kali lebih keras.” Ucap Bok Joo
Wow, seratus kali lebih keras. Bok Joo mungkin bisa masuk Taereung  tahun ini, benarkan?” kata Nan Hee, Sun Ok pikir  Taereung bukan hal yang sulit dan akan memenangkan medali emas.
Aku Kim Bok Joo! Seorang bintang dalam dunia angkat besi, Kim Bok Joo. Mulai sekarang, aku akan fokus pada latihanku! Ya, aku bisa. Aku pasti bisa!” teriak Bok Joo, dari gedung sebelah bisa mendengar kalau yang berteriak nama Kim Bok Joo. Sun Ok dan Nan Hee panik langsung menutup mulut Bok Joo dan menariknya pergi.
Benar. Lagipula selama ini aku tidak pernah memiliki seorang pria dalam hidupku. Aku Kim Bok Joo! Aku yakin ini terjadi untuk sementara. Waktu yang akan mengurus semuanya. Aku harap waktu cepat berlalu. Aku benar-benar berharap.” Gumam Bok Joo 


Bok Joo memakai tepung pada tangannya dan siap dengan posisi mengangkat beban, pelatih Choi melihatnya menyuruhnya agar Fokus pada pernapasannya. Bok Joo mulai mengangkatnya, semua senior yang melihat memberikan semangat pada Bok Joo. Semua berharap agar Bok Joo bisa berharap.
Setelah Bok Joo berhasil mereka semua memberika tepuk tangan yang meriah, dengan memuji sangat kerena. Pelatih Yoon melihat Bok Joo sekarang memiliki tekad yang cukup besar dan yakin Tim mereka sudah lama tidak mendapatkan medali emas dan meminta mereka menduku Bok Joo agar dapat medali emas

Bok Joo memeluk dua temanya tapi malah membuat kepala temanya menempel di dadanya, Sun Ok mengeluh karena sudah mengetahui temanya itu lebih tinggi dari mereka jadi meminta agar tak melakukanya. Bok Joo sengaja mengejek dengan menengok ke kanan dan kiri seolah  tidak bisa mendengarnya.
Hei, bagaimana menurutmu... kalau aku operasi kelopak mata ganda?” ucap Nan Hee.
Kau terlihat seperti selebriti.... Park Myung Soo!” ejek Bok Joo lalu berlari kabur. Nan Hee mengeluh temanya bisa berkata seperti itu.
Bok Joo bertanya apakah ia tak lapar, Nan Hee mengaku lapar dengan penuh semangat memberitahu menu hari ini adalah omurice. Dari kejauhan Joon Hyung melihat dengan sepedanya,  berkomentar Sepertinya Gendut sedang dalam suasana hati yang bagus wajahnya terlihat bahagia. 

Pelatih sedang berbicara dengan Soo Bin kalau harus bergabung dengan tim nasional ketika kembali dari Russia. Soo Bin pun menyakinkanya, Shi Ho akan masuk dan melihat pelatihnya sedang bicara dengan Soo Bin, pelatihnya pun menyuruh Shi Ho masuk karena ada yang ingin dibicarakan.
Apa kau bicara pada ibumu tentang ini?” tanya pelatihnya.
Ya. Aku pikir tidak akan bisa melakukannya kali ini.” kata Shi Ho menolaknya.
Kenapa? Apa karena kau tidak sanggup membayarnya? Apa ibumu bilang ini terlalu mahal?” ucap pelatihnya.
Shi Ho melirik pada Soo Bin seperti memandang rendah padanya, si pelatih pikir tak bisa berbuat apa-apa lagi.  Soo Bin dengan mata liciknya padahal harap Shi Ho bisa ikut dengan mereka dan membuatnya kecewa. Shi Ho membalas dengan senyuman mengaku kalau juga merasa kecewa. 

Shi Ho kembali ke kamarnya, Ibuny menelp bertanya apakah anaknya mengatakan pelatih kalau tidak akan pergi ke Rusia. Ia memarahi Shi Ho yang memutuskannya sendiri tanpa mendiskusikannya. Shi Ho balik bertanya apakah ia bisa pergi kalau memang melakuanya.  Ibu Shi Ho binggung anaknya tiba-tiba mengatakan hal itu.
Kita harus membayar biaya kuliah. Bagaimana ibu bisa membayar tiket pesawat, biaya hidup, dan biaya sekolahnya? Kumohon, Bu. Berhenti memaksakannya jika memang ibu tidak sanggup membayarnya. Itu membuatku lupa betapa miskinnya kita.” Jerit Shi Ho lalu melempar ponselnya dan menangis. 

Shi Ho membawa tas sepatunya dan masuk ke dalam asrama pria, semua pria yang bertelanjang dadan menjerit panik karena Shi Ho tiba-tiba masuk ke dalam asrama. Sh Ho terus mencari-cari kesetiap sudut ruangan dan akhirnya menemuikan Joon Hyung yang baru saja selesai mandi, langsung melempar kotak sepatunya.
Aku mengerti apa yang ingin kau katakan, dan tahu apa yang kulakukan salah. Tapi jangan seperti ini padaku, seharusnya Tidak terlalu sulit menerima ini. Terserah kau mau memakainya atau membuangnya. Aku sudah memberikannya untukmu.” Ucap Shi Ho lalu berjalan pergi, Joon Hyung kaget mendengarnya. 

Jae Yi sedang memeriksa berkas pasienya, lalu teringat dengan wajah Bok Joo yang tiba-tiba mengatakan “Apa kau suka Messi?” lalu ia pun tertawa mengingatnya karena selama ini tak pernah ada yang melakuknya. 

Bok Joo dkk membereskan barang-barang setelah latihan. Nan Hee mengeluh menurutnya tak ada gunanya  menerima anak baru karena ketika mereka baru pertama kali masuk sudah membersihkan semuanya. Tapi kenapa hari tahun ini malah membuat peraturan untuk bergiliran membersihkannya.
Kita hanya sedang tidak beruntung. Woon Gi Sunbae jadi kapten dan mengubah peraturannya.” Kata Sun Ok membereskan handuk yang baru dipakai.
Ayo makan dulu dan tentukan salah seorang dari kita yang akan menyelesaikannya.” Ucap Nan Hee, mereka dengan cepat mengeluarkan jarinya.
Bok Joo mengeluh karena selalu saja kalah, Nan Hee pun penuh gairah bertanya menu makan siang mereka hari ini. Sun Ok memberitahu Semur iga, muksabal, salad buah, dan yogurt untuk makanan penutupnya. Bok Joo memilih untuk menyanyikan lagu “Let it go, let it go” da mengubahnya jadi "let's go" sambil mengepel bagian lantai.
Sun Ok mengajak mereka pergi saja sekarang, Nan Hee juga merasa tempat mereka lebih bersih dibanding sebelumnya. Bok Joo juga mengajak mereka pergi sebelum iganya habis. Dua temanya berlari keluar dan Bok Joo mendengar bunyi ponselnya. 

Jae Yi mengirimkan pesan pada Bok Joo “Kalau dipikir-pikir, aku lebih suka Ronaldo daripada Messi  Semoga harimu menyenangkan-Dari Dokter Jung Jae Yi-” Bok Joo jatuh lemas membaca pesan yang dikirimkan Jae Yi.
Terkadang, ada perasaan kuat... dimana waktu dan alasan... tidak akan bisa membantu.” Gumam Bok Joo
Bok Joo langsung berlari keluar dari tempat latihan dan meninggalkan dua temanya begitu saja. Nan Hee dan Sun Ok binggung kemana Bok Jo akan pergi. Bok Joo terus berlari keluar dari kampusnya.

Suatu hari, seekor capung mengatakan ini pada seekor ngengat... yang tertarik pada api. "Kau tahu kalau api adalah jebakan yang dipasang oleh manusia. Kau tidak hanya hidup untuk satu hari sepertiku. Kenapa kau mau melemparkan dirimu sendiri ke dalam api padahal kau tahu kau akan mati?
Ngengat itu berkata, "Api itu sangat indah sehingga aku rela melemparkan diriku sendiri ke dalamnya. Tidak ada keindahan tanpa rasa sakit." Akankah jalan ini mengarahkanku pada lubang api? Aku sedikit takut, tapi aku akan menjalani jalan ini. Aku akan berlari ke arahnya.

Bok Joo sudah ada di penyebrangan jalan dan matanya dibuat kaget saat melihat Jae Yi sudah ada diseberang jalan juga, perlahan berjalan menyebrangi jalan dan Jae Yi pun sadar bertemu kembali dengan Bok Joo. Bok Joo berpikir kalau hanya halusinasinya mencoba menyentuh bagian pundaknya, Jae Yi binggung tiba-tiba Bok Joo memegangnya.
Saat itu bunyi lonceng kembali terdengar untuk Bok Joo, Jae Yi menanyakan keadaan Bok Joo yang melonggo menatapnya lalu tersadar mereka sudah terjebak di tengah-tengah. Ia pun menarik Bok Joo agar tak tertabrak mobil.
Wah. Kau bahkan berbicara sekarang. Aku pasti sudah gila.” Kata Bok Joo seperti berpikir kalau hanya halusinasinya, lalu mencoba kembali memegang bagian pipi untuk memastikanya.
bersambung ke episode 4

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar