Selasa, 01 November 2016

Sinopsis The Man Living In Our House Episode 3 Part 2

PS : All images credit and content copyright : SBS

Nan Gil tiba-tiba datang membuat Na Ri sempat terkejut, Na Gil merasa  harus menawarkan tamu minum lalu melempar sekaleng minuman, Na Ri pikir Duk Bong dakan pergi sekarang. Duk Bong menolak karena merasa  harus minum apa yang diberikan Nan Gil kepadanya lalu membuka minuman kaleng.
Apa pekerjaan ayahmu, Nak?” ucap Nan Gil bertindak sebagai ayah Na Ri, Duk Bong terlihat kesal dengan panggilan itu. Nan Gil pikir tak ada yang salah karena ia adalah ayah dari Na Ri.
Apa kau memiliki saudara kandung? Apa keluargamu akur? Apa kau selalu berpakaian begitu kumuh?” ucap Nan Gil dengan nada mengejek, Duk Bong tetap manggil nama Nan Gil dan Nan Gil langsung memperingatinya
Kau harus tahu siapa orang tuanya dari Na Ri” tegas Nan Gi
Kau pasti menganggap aku sebagai seorang pria yang tertarik pada putrimu, tapi masalahnya... Pada hari ini, aku akan membela...” ucap Duk Bong lalu terdengar teriakan Na Ri yang memanggil Nan Gil “ayah”

Keduanya kaget, Nan Gil tersenyum tak percaya Na Ri bisa memanggilnya “ayah”. Na Ri berpikir kalau ingin minuman dan meminta ayahnya jangan pelit. Nan Gil tersenyum merasa anaknya pasti sangat haus dan keluar dari kamar. Duk Bong kesal karena Na Ri malah memanggil Nan Gil dengan panggilan “Ayah”
Itu berbahaya, karena berarti kau menerima dia sebagai ayahmu.” Kata Duk Bong memperingati
Jadi, kenapa kau mencoba untuk membongkar identitas klienmu? Apa kau pernah membela seseorang? Bahkan aku tahu klien memiliki hak untuk privasi.” Tegas Na Ri kesal 
Duk Bong ingin keluar rumah dan saling menatap sinis dengan Nan Gil, lalu pergi begitu saja. Nan Gil menyindir  Duk Bong harus mengucapkan selamat tinggal kepada orang tua ketika meninggalkan rumah seorang teman. Duk Bong ingin protes tapi Na Ri langsung mendorongnya keluar dari rumah.

Bagaimana kau bisa mentolerir si anak nakal yang kasar itu? Aku mempertahankannya karena membutuhkan tanahnya. Jangan lupa kita berada di pihak yang sama. Ayo lakukan ini.” ucap Duk Bong berusaha merayu, Na Ri menyuruh Duk Bong untuk segera keluar.
Kita bisa melakukannya, Kau harus mencurigainya secara menyeluruh. Aku juga berencana untuk menyelidiki kecelakaan yang menimpa ibumu.” Tegas Duk Bong sebelum pergi

Na Ri melihat bagian belakang pungung Nan Gil yang sedang memasak, lalu ke bagian celanan bertanya-tanya dimana Nan Gil  menyimpan kuncinya. Nan Gil tiba-tiba berbalik bertanya apa yang sedang dilihat anaknya itu.  Na Ri mengaku kalau tidak melihat lalu menuangkan biji wijen pada sayuran yang dibuat Nan Gil.
Tidak ada biji wijen pada makanan yang dihidangkan.” Kata Nan Gil, Na Ri mengaku kalau Nan Gil itu salah
Aku benar.” Ucap Nan Gil, Na Ri tetap mengatakan kalau Nan Gil sala karena tak masalah Memberi Biji wijen 

Nan Gil dengan kesal kalau karena itu sebabnya  memberi banyak biji wijen untuk membuat rasanya semakin enak. Na Ri merasa kalau Nan Gil itu melakukan dengan sengaja, Nan Gil binggung apa maksudnya.  Na Ri merasa kalau Nan Gil sedang  bermain-main menjadi ayah? Dengan bertanya "Apa yang orang tuamu lakukan? "Apa keluargamu akur?"
Apa kau ingin semua orang tahu?” kata Na Ri kesal
Kau yang memanggilku "Ayah". Ini sangat menjengkelkan bahkan Mengesalkan sekali.” Keluh Nan Gil kembali sibuk memasak. 


Nan Gil mengupas kacang sambil duduk, Na Ri mengaku mencoba menelepon ponsel ibunya dan tersambung tapi tidak pernah menjawab. Menurutnya Kalau orang lain menggunakan nomor itu, maka mereka akan menjawab setidaknya satu kali. Dengan sangat yakin Nan Gil pasti memiliki ponsel milik ibunya.
Apa ada alasan kenapa orang-orang tidak boleh tahu? Apa yang kau sembunyikan? Kenapa gudangnya terkunci? Itu adalah tempat kenangan bersama ibu dan rumah ini selalu menjadi rumah kami. Kenapa kau memintaku menjauh? Siapa kau berani menempatkan dinding antara... ibuku dan aku?” ucap Na Ri penasaran
Ini hari ulang tahunnya. Jadilah hormati dia.” Kata Nan Gil kesal
Ini ulang tahunnya, jadi kau seharusnya memiliki hati nurani.Katakan kepadaku yang sebenarnya. Kau tahu rumah ini, rumah Paman, dan tanah di sekitar danau adalah milik ibu, kan? Apa itu sebabnya kau mendekati ibunya hanya demi uang?” kata Na Ri yakin
Satu hal yang pasti. Aku tidak ingin memberitahumu, tapi ibumu yang mendekati aku terlebih dulu.” Tegas Nan Gil mengambil mangkuk kacang yang disita oleh Na Ri
Na Ri meminta Nan Gil memberikan ponsel milik ibunya, Nan Gil merasa Na Ri tidak punya hak karena itu miliknya, Na Ri tak percaya kalau dianggap  tidak punya hak lalu menanyakan alasan Nan Gil harus  tinggal di restoran padahal sebelumnya mengatakan kalau rumah ini adalah miliknya.
Kenapa kau tidak mengusirku dan menggunakan kamar tidur utama?” ucap Na Ri heran, Nan Gil kembali mengatakan harus mengaduk adonan. Na Ri mengejek kalau itu yang selalu dikatakan Nan Gil seperti berusaha mengalikan pembicaran.
Metodeku dalam mengaduk adalah unik. Aku harus membolak-baliknya sepanjang malam dan mengatur suhunya. Aku harus berada dekat dengan ruang kerja restoran.” Jelas Nan Gil
Apa kau... tidak berbagi kamar tidur dengan ibuku?” ucap Na Ri penasaran

Nan Gil ingin tahu apa sebenarnya yang ingin dikatakan Na Ri,  dengan nada marah mengatakan pertanyaan apaka mereka berbagi kamar tidur pada ayahnya, dan ingin tau apa sebenarnya yang ingin diketahui Na Ri, menurutnya mungkin seperti hubunganya dengan ibunya selama ini. Na Ri hanya diam dengan memalingkan wajahnya.
“Aku sudah katakan sebelumnya. Apa kau tidak suka bahwa ini adalah rumahku? Apa semua karena uang? Apa kau membutuhkan uang?” teriak Nan Gil mara
Kau menakutkan saat sedang marah, Sang legendaris Ko Nan Gil. Apa dan berapa banyak yang harus kau lakukan. untuk menjadi legenda di bidang itu?” ucap Na Ri menyindir
Seorang legenda tidak pernah berbicara tentangkisah legendaris mereka. Aku akan tinggal di sini selamanya. Aku akan membuat pangsit dan akan tinggal di sini... sampai pohon yang aku tanam di tepi danau tumbuh tinggi. Jadi sudah cukup untuk hari ini. Kita akan memiliki banyak waktu nanti.” Tegas Nan Gil lalu menyuruh Na Ri menganti baju karean  akan mengatur meja untuk sembahyang. 


Na Ri pun melakukan upacara peringatan dengan bersujud beberapa kali. Nan Gil duduk diam dengan waja sedih melihat waja Ibu Na Ri yang sudah meninggal, seperti sangat menyayanginya. Na Ri duduk sambil menceritakan ketika masih kecil,  hampir tidak punya teman. Nan Gil mengaku kalau mengetahuinya.
Apa ibu juga memberitahumu itu?” kata Na Ri tak percaya, Nan Gil hanya diam sambil memalingkan wajahnya.
Aku mendengar teman-temanku tertawa, mengatakan bagaimana... ayahku yang kabur dan pangsit kami terasa tidak enak. Setelah itu, aku selalu... merasa seperti mereka mengejekku dan menghindari mereka semua.  Sejak saat itu, Ibu adalah teman, ibu, dan juga seperti ayahku. Dia adalah segalanya bagiku. Aku yakin aku sama dengannya.” Kata Nan Gil

Jadi... aku berencana untuk mencari tahu apa yang terjadi padanya. Apa tidak ada sesuatu... yang ingin kau akui sebelum aku melakukannya?” kata Na Ri memancing, Nan Gil malah mengejek dengan mendengar sesuatu yang ingin diakuinya.
“Tentu saja... aku akan mengakuinya... Yang sebenarnya adalah... pangsitnya memang mengerikan sebelum aku sampai di sini. Teman-temanmu pasti sudah melebih-lebihkan, tapi mereka benar.” Kata Nan Gil, Na Ri terlihat sangat marah. Nan Gil berusaha menghindar lalu terdengar bunyi bel. 


Na Ri membuka pintu dan Dong Jin menyapanya dengan membawa minuman, Na Ri tak peduli dengan sapaan mantan pacarnya, lalu mengeluh dengan botol minuman hanya dua buah merasa tak cukup. Dong Jin memperlihatkan kalau  membawa botol besar.
Kami pasti akan menunggu kalau kau mengatakan akan datang. Jadi Silahkan masuk.” Ucap Nan Gil keluar dari rumah lalu mengajak Dong Jin masuk. Na Ri heran melihat Nan Gil itu malah membuat masuk Dong Jin.

Nan Gil menyuruh Dong Jin untuk lebih dulu bersujud memberikan penghormatan pada ibu mertuanya, Na Ri pikir Tidak perlu dan lebi baik lupakan saja. Nan Gil merasa itu tak benar. Akhirnya Na Ri membiarkan Dong Jin bersujud didepan ibunya.
Maafkan aku, Ibu.” Ucap Dong Jin seperti memohon ampun, Nan Gil bertanya apakah Dong Jin sudah makan, Dong Jin mengatakan belum tapi Na Ri langsung mengatakan kalau Dong Jin sudah makan.
Kau harus minum.” Ucap Na Ri, Nan Gil pikir kalau itu tak mungkin lalu menyuruh Dong Jin segera membawa Na Ri itu pergi ke seoul.
Itu hanya formalitas.” Tegas Na Ri, Nan Gil pikir itu cara Na Ri melakukan untuk ibunya, lalu mengajak Dong Jin duduk kembali. Dong Jin berbisik pada Nan Gil kalau Na Ri benar-benar tidak tahu apa-apa. Nan Gil hanya diam saja.

Flash Back
Nan Gil pergi ke seoul menemui Dong Jin, disebua cafe memberikan sebua cek agar  lebih mudah. Dong Jin bertanya alasan Nan Gil mengembalikan uang itu. Nan Gil merasa karena Na Ri akan merasa canggung. Dong Jin merasa tak suak cara Nan Gil memangil nama Na Ri langsung dan bertanya berapa usia Nan Gil sebenarnya.
Ini juga tidak nyaman untukku Tapi aku tidak tahu cara lain untuk mengatasinya.” Ucap Nan Gil
Aku tidak mengerti kenapa kau membayarku. Jadi Berapa banyak harga rumah itu? Aku minta maaf karena sudah menyebutmu si penggali emas dan penipu. Aku biasanya tidak bisa mengatakan ini karena aku memiliki hati yang lemah, tapi aku tidak bisa menahan diri denganmu. Bahkan kalau kau membayar aku atas nama dia, Rumah ini masih tetap rumah Na Ri.” Tegas Dong Jin
Aku tidak membayarmu karena rumahnya.” Balas Nan Gil

Dong Jin semakin penasaran kalau memang bukan masalah rumah lalu tentang apa, apaka masalah hubungan dengan Na Ri merasa kalau Nan Gil sekarang malah ikut campur. Nan Gil menegaskan kalau Ia  tidak ikut campur karena Dong Jin menangani masalahnya  sendirii, tapi ia pikir seharusnya tidak ada masalah uang di antara mereka.
Katakan kepada Na Ri bahwa pamannya membayarmu. Aku harus pergi ke restoran.” Kata Nan Gil dan bergegas pergi. Dong Jin keluar dari cafe mengejar Nan Gil.
Aku akan mengatasinya bersama pamannya, jadi silakan ambil ini...” ucap Dong Jin memegang pundak Nan Gil
Terlihat Nan Gil seperti memiliki gejala panik yang berlebihan sampai nafasnya terasa sesak dan berusaha terus berjalan. Dong Jin melihat dari kejauhan, Nan Gil berusaha menyeberang jalan dan terlihat sempat terdiam ditengah-tengah. Nan Gil mencoba bertahan walaupun kepalanya seperti berputar-putar. 


Dong Jin berbisik penasaran karena berpikir Nan Gil itu sedang sakit.  meliat jiwanya masih muda tapi saat bertemu denganya terlihat lemah dan... Nan Gil langsung menutup mulut Dong Jin langsung berteriak Na Ri karena sudah datang membawa minuman. Na Ri melirik curiga
Bukankah itu terlalu sederhana? Seorang menantu adalah tamu penting. Aku akan pergi...” ucap Nan Gil akan pergi, Na Ri menyuruh Nan Gil segera duduk. Nan Gil seperti tak bisa melawan dan langsung duduk.
Kau perlu minum dengan seseorang untuk melihat apa mereka memang benar.” Ucap Nan Gil terlihat suda mulai mabuk dengan Dong Jin
“Hei... Apa kau tahu bagaimana caranya minum? Apa kau tahu seperti apa yang rasanya? Aku khawatir.” Ejek Dong Jin
Keduanya tertawa lalu saling bersulang, sementara Na Ri sengaja menuangkan air putih dan berpura-pura meneguk soju. Nan Gil Dan Dong Jin sama-sama tak mau kalah dalam hal minum. 

Yeo Joo berada didalam Bus mengirimkan banyak pesan pada Dong Jin dan Dong Jin hanya membalas akan menelpnya nanti. Lalu terlihat nama  Yong Chul si pria botak di tempat fitness menelpnya.  Yeo Joo mengaku tidak bisa pergi ke gym hari ini.
Aku sedang dalam perjalanan untuk menjemput seseorang. Aku pikir Dong Jin mabuk.” Kata Yeo Joo khawatir
Kau tidak memiliki harga diri.” Ucap Yong Chul mengejek
“Kau bilang  Harga diri? Kenapa kau mengatakannya? Apa kau tahu yang pria inginkan? Seorang wanita yang seperti seorang teman, kekasih, seorang ibu, seorang putri, malaikat, dan penyihir. Apa kau pikir wanita seperti itu ada? Yah memang Ada dan itulah aku. Membodohi orang itu mudah. Kalau kau bilang Harga diri? berikan itu kepada anjing.” Ucap Yeo Joo marah langsung menutup ponselnya
“Apa Tidak baik bagiku untuk pergi ke sana?” kata Yeo Joo bertanya-tanya sambil menahan amarahnya. 

Dong Jin dan Nan Gil masih terus minum bahkan melakukan love shot bersama, sementara Na Ri kembali masuk ke dalam kamar Nan Gil merasa sangat sering berada di sini sampai seperti kamarnya sekarang. Ia mencoba mencari informasi lain dan melihat dalam dompetnya, sebua ID Card dan ternyata Nan Gil  lahir pada tahun 1990.
Tak lupa mengambil gambar di ponselnya, lalu berkomentar dengan Foto pada ID Card dan ternyata memang nama aslinya Ko Nan Gil tapi tetap saja sseperi masih tak percaya, ketika ingin mengembalikanya melihat sebuah foto di pingir danau dan teringat kembali ucapan Nan Gil “ Aku akan tinggal di sini... sampai pohon yang aku tanam di tepi danau tumbuh tinggi.
Na Ri kembali menaruh ID Card dalam dompet, lalu melihat ada sebuah kunci ia pun langsung membakarnya setelah itu menempelkan pada solasi dan terlihat bentuk kunci yang bisa di buat duplikat, tiba-tiba terdengar teriakan dua pria yang memanggilnya, Na Ri pun bergegas keluar. 

Dua pria terlihat sangat mabuk menyuruh Na Ri duduk dan akan menuangkan minuman untuknnya. Na Ri seperti menahan rasa kesalnya, Dong Jin meminta maaf dan mengucapkan terimakasih , serta pasti tahu perasaanya pada Na Ri selama ini.  
Itu benar. Seharusnya kau menentang... semua hal konyol itu sebelum menikah.” Kata Nan Gil, Dong Jin menyetujuinya sambil mengungkapkan rasa sukanya pada sikap Nan Gil.
Kenapa kau melakukannya? Dasar kau brengsek!” ucap Nan Gil marah
Kau tidak tahu apa-apa. Apa yang kau tahu tentang hal itu? Berapa usiamu?” balas Dong Jin memegang Nan Gil juga. Keduanya langsung tertawa dan berbaring di lantai. Na Ri pun mengambil minuman diatas meja
“Apa Kau bilang itu semua hanya Hal-hal konyol?” ucap Na Ri marah. 

Yeo Joo akhirnya samapi ditempat Na Ri, tapi binggung dimana letaknya lalu memanggil Duk Shim yang berjalan pulang. Duk Shim yang tak pernah bicara dengan orang lain hanya terus berjalan. Yeo Joo pun menariknya bertanya apakah tahu dimana restoran Pangsit Hong. Duk Shim melirik sinis melihat Yeo Joo berpikir datang untuk mencari Nan Gil.
Alamatnya adalah 35 Seulgi-ri. Ada di sekitar sini, kan? Apa aku harus melalui jalan itu?” ucap  Yeo Joo binggung. Duk Shim hanya menunjuk ke arah dengan dengan wajah sinisnya Yeo Joo pun percaya mengikuti jalan depanya. 

Na Ri pun sedikit mabuk dan Nan Gil duduk didepanya, lalu membahas kalau semua yang dilaluinya itu hanya Hal-hal konyol. Ia mengatakan kalau Ibu meninggal maka itu adalah hari terberat dalam hidupnya dan Dong Jin berselingku darinya, menurutnya itu bukan hal konyol.
Aku minta maaf karena menyebutnya hal yang konyol. Aku akan menariknya.” Kata Nan Gi
Tapi dia berselingkuh dariku dengan juniorku di tempat kerja. Dia menjengkelkan dan masih muda. Apa itu perbedaan usia yang konyol?” kata Na Ri kesal, Nan Gil mengatakan kalau itu tidak benar.
Dia juga mengatakan kebohongan yang konyol! Ada hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan seseorang kepada orang lain. Meminta seseorang yang sedang berkabung untuk berhenti menangis. Tapi orang itu... menjadi kesal karena aku sedih setelah kehilangan ibuku. Dia berpura-pura menghiburku, membuat janji-janji palsu, dan mengkhianatiku.” Ucap Na Ri menunjuk pada Dong Jin yang sudah tertidur pulas.
Tapi... kenapa dia datang hari ini? Kupikir aku melihat kalian berdua tertawa bersama. Aku tidak menyukainya, tapi apa yang bisa aku lakukan tentang hal itu?” kata Nan Gil yang mabuk
Ini benar-benar sudah berakhir.” Ucap Na Ri, Nan Gil mengerti sekarang akan menjaga Dong Jin jadi semuanya serahkan padanya lalu menariknya keluar karena  akan melemparkan keluar rumah karena  tidak bisa didaur ulang.

Yeo Joo sudah ada didepan rumah melihat mobil Dong Jin yang suda terparkir, saat Itu Nan Gill membawa Dong Jin keluar rumah. Yeo Joo langsung panik melihat pacarnya Dong Jin yang tak sadarkan diri. Na Ri berteriak marah melihat Yeo Joo yang berani datang ke rumanya Yeo Joo memanggil Na Ri dengan panggilan Na Ri
Apa kau baru saja memanggilku secara santai? Beraninya kau memanggilku dengan panggilan Unnie?” teriak Na Ri marah, akhirnya Yeo Joo memanggilnya Sunbaenim,
Kau benar-benar tak tahu malu. Beraninya kau datang ke sini?” teriak Na Ri
Dia mengatakan kalau dia mabuk dan memintaku untuk datang!” ucap Yeo Joo, Diam-diam Duk Shim mendengar percakapan keduanya.
Buang sampah itu jauh-jauh menggunakan mobil. Dia memiliki seorang sopir untuk membawanya.” Ucap Na Ri mengejek

Yeo Joo tak terima meminta Na Ri memperhatikan ucapanya. Na Ri menegaskan sedang mencoba menahan diri sekarang lalu menantang Yeo Joo untuk berani menaikan suaranya dan berteriak agar Nan Gil segera membuang sampah itu segera. Nan Gil menarik Dong Jin dan tak sengaja meyenggol Yeo Joo yang hampir terjatuh.
Hati-hati. Apa kau adik laki-laki Na Ri?” ucap Yeo Joo lalu melihat wajah Nan Gil yang terliat tampan, lalu wajah rubahnya pun langsung terlihat.
Sepertinya kau juga mabuk... Jangan menyeretnya seperti itu.” kata Yeo Joo mencoba memegang lengan Nan Gi
Beraninya dia menggodanya?!!” ucap Na Ri kesal dan Nan Gil yang mabuk pun sempat terjatuh karena tak bisa membawa Dong Jin masuk ke dalam mobil.
Yeo Joo meminta agar adik Na Ri itu hati-hati membawa pacarnya, Nan Gil mengatakan bukan itu. Yeo Joo meminta tolong Na Ri agar membantunya,  Nan Gil mengaku kalau bukan adiknya dan Na Ri langsung menutup mulut Nan Gil sebelum terucap semuanya. 


Soon Rye mencoba menelp ponsel Duk Shim yang belum pulang ke rumah tapi ternyata tidak mengangkatnya. Duk Bong duduk didepan meja adiknya seperti mencar-cari sesuat. Soon Rye mengetahui Duk Shim itu  belum bolos sekolah akhir-akhir ini.
Kamarnya seperti zona perang.... Dia benar-benar membutuhkan terapi.... Tolong katakan kepadanya aku pergi untuk terapi.” Ucap Duk Bong lalu keluar kamar, Soon Rye hanya bisa menghela nafas melihat tingka Duk Bong. 

Nan Gil berhasil memasukan Dong Jin ke mobil dengan berbaring diatas badan Dong Jin. Sementara Yeo Joo kembali mengajak seniornya untuk bicara merasa Yeo Joo itu menjengkelkan tapi keren. Na Ri pikir Yeo Joo hanya menganggap dirinya itu mengganggu jadi lebih baik Jangan berbohong.
Aku datang bukan karena ini. Aku berpikir keras tentang akan datang atau tidak.” Ucap Yeo Joo
Kau selalu melakukan apapun yang kau inginkan. Kau seharusnya tidak datang ke sini kalau memiliki rasa hormat.” Tegas Na Ri
Kau bersikap seakan pandai melakukan banyak hal... dan menjaga kata-katamu, jadi jangan hubungi dia lagi. Jangan meminta dia untuk datang kepadamu dan Jangan merengek. Aku korban dalam hal ini. Aku merasa sakit hati dan cukup dipermalukan...” ucap Yeo Joo dengan menahan tangisnya.
Na Ri tak tahan langsung menendang mobil Dong Jin berkali-kali melampiaskan amarahnya dan juga memutar kaca spion. Nan Gil yang sempat tertidur akhirnya tersadar. Na Ri kembali menegaskan Yeo Joo itu  seharusnya tidak datang ke rumahnya hari ini menurutnya Juniornya itu terlalu bodoh dan terlalu tidak tahu malu.
Hari ini adalah ulang tahun ibuku. Kau hanya peduli pada dirimu sendiri,jadi kau tidak peduli. Aku akan membalasmu dengan hal yangpaling kau takuti. Aku akan memberitahu semua orang di tempat kerja apa yang kau lakukan... dan akan memberitahu Dong Jin tentang masa lalumu yang kotor!” ucap Na Ri mengancam, Yeo Joo langsung ketakutan
“Sunbae... Na Ri, aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau itu hari ini ulang tahun ibunya yang sudah meninggal.”kata Yeo Joo berbohong.
“Apa Kau benar-benar tidak tahu? Jawab aku. Haruskah aku memeriksanya? Yang kau lakukan adalah kebohongan!” tegas Na Ri
Yeo Joo langsung berlutut memohon maaf dan mengaku salah meminta agar jangan beritahu Dong Jin. Na Ri memperingatkan akan memberitahu semua orang setiap kali kalau menginginkan jadi Yeo Joo  harus merasa cemas dan hidup dalam ketakutan dan berjalan masuk ke dalam rumah. 


Dong Jin keluar dari mobil dan sempat membuat Yeo Joo kaget, Dong Jin berjalan sempoyongan memperbaiki kaca spion. Yeo Joo dengan senyuman mengodanya mengucapkan terimakasih.  Dong Jin mengatakan sudah memperbaikinya Jadi jangan sampai mendapat kecelakaan. Yeo Joo tersenyum merasa kalau Nan Gil itu mengkhawatirkanya.
Jangan... sampai mendapat kecelakaan. Kalau kau sampai mendapat kecelakaan, Na Ri akan mengatakan itu terjadi karena ini.. dan akan menyalahkan dirinya sendiri. Itu Karena Dia terlalu baik, maka dia akan menjadi stres lagi! Mengemudi dengan hati-hati... dan jadilah orang yang baik.” Tegas Nan Gil lalu merasa kalau Yeo Joo itu bukan juniornya Na Ri, Yeo Joo cemberut mendengar lalu mengemudikan mobilnya dengan wajaj kesal, lalu berkata kalau hari ini bukan hari untuknya.
Na Ri akan masuk ke dalam rumah, seperti teringat dengan Nan Gil yang sudah dibuatnya mabuk, akhirnya merasa kesal sendiri karena membuatnya khawatir. Nan Gil masih mabuk melambaikan tanganya pada Na Ri yang keluar dari rumah, Na Ri hanya diam, tiba-tiba Nan Gil langsung jatuh bersandar dipundaknya. Na Ri kaget seperti merasakan sesuatu saat Nan Gil berdekatan denganya.
bersambung ke episode 4 
 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar