Selasa, 01 November 2016

Sinopsis The Man Living In Our House Episode 3 Part 1

PS : All images credit and content copyright : SBS

Sudah kukatakan agar kau jangan pernah menelepon. Kenapa kau datang kesini? Sudah kukatakan untuk jangan pernah melangkahkan kakimu di sini lagi. Ini peringatan terakhir dariku. Kalau kau melakukan ini lagi, Aku tidak bisa mengatakan apa yang akan terjadi padamu. Kau tahu aku selalu menepati kata-kataku.” Ucap Nan Gil
Sudah kukatakan agar kau jangan pernah menelepon. Kenapa kau datang kesini? Sudah kukatakan untuk jangan pernah melangkahkan kakimu di sini lagi. Ini peringatan terakhir dariku. Kalau kau melakukan ini lagi, Aku tidak bisa mengatakan apa yang akan terjadi padamu. Kau tahu aku selalu menepati kata-kataku.” Ucap Nan Gil
Na Ri terus mendengarnya seperti merasa Nan Gil sedang bicara dengan pamanya. Nan Gil ingin berganti baju. Na Ri kaget melihat dua buah tatto besar dipunggung Nan Gil, lalu teringat kembali percakapanya dengan Duk Bong di dalam mobil. 

Flash Back 
Dok Bong terlihat tak percaya Na Ri  memutuskan untuk menerima Nan Gil sebagai ayah tirinya, lalu memberitahu dengan sangat yakin bahwa  Nan Gil adalah orang yang jahat, lalu bisa menerima kalau Nan Gil menikah dengan Ibu Na Ri karena cinta tapi menurutnya seharusnya sekarang Nan Gil bisa pergi dari rumah itu.
Apa pemuda itu akan hidup sendirian dan merindukan ibumu Di rumah itu? Tidak, dia tidak akan mungkin melakukan itu. Sekarang dapatkan kembali rumahmu, maka aku akan membantumu. Kita beri saja dia uang supaya pergi.” ucap Duk Bong merasa semua orang bisa disogok dengan uang
Dia akan pergi saat dia mau melakukanya” kata Na Ri yakin, Duk Bong merasa Na Ri itu sangat menjengkelkan.
Dia benar-benar kelihatan seperti seorang penipu di mataku. Kenapa kau percaya kepadanya? Kau dan ibumu pasti memiliki selera yang sama untuk pria.” Ejek Duk Bok kesal, Na Ri meliri sinis. Duk Bong akhirnya meminta maaf dan mengaku salah ucap dan terlalu berlebihan.

Tidak semua orang di pesawat merasa bahagia karena pergi berlibur. Beberapa dipaksa untuk pergi untuk urusan bisnis. Beberapa sedih karena meninggalkan orang yang dicintai. Beberapa memiliki perjalanan yang menyenangkan. Setiap orang memiliki ceritanya. Sekarang, aku bisa membaca ekspresi wajah merek karena kau tidak bisa menyembunyikannya. Aku percaya pada foto yang ibuku ambil bersamanya dengan melihat senyuman mereka dan Ekspresi mereka.” Jelas Na Ri
Duk Bong makin mengejek Na Ri yang pecaya dengan ekspresi mereka dan merasa kalau itu hal terbaik yang pernah di dengar, menurutnya Na Ri harus tahu bagaimana mudahnya untuk berpura-pura sebagai orang yang baik, karena Orang jahat tahu kalau mereka itu buruk, jadi harus berpura-pura baik dengan Seakan tanpa pamrih, banyak tersenyum, dan berpura-pura tidak bersalah dan semua itu hanya pura-pura dimatanya.
Ekspresi Nan Gil adalah adalah ekpresi seorang penipu.” Ucap Duk Bong penuh dendam
Kenapa kau begitu membencinya? Apa ada yang terjadi di antara kalian?”kata Na Ri penasaran
Dia akan segera menunjukkan warna aslinya. Setalah itu Datang temui aku karena Aku belajar hukum. Kita jatuhkan dia dan melihat wajah asli di balik topengnya.” Kata Duk Bong memberikan kartu namanya. 


Nan Gil menengok badannya merasakan ada sosok orang yang mengintipnya, Na Ri langsung buru-buru bersembunyi dibalik pintu dan tak sengaja menendang tempat sampah, Nan Gil semakin mendekat akhirnya Na Ri mengeluarkan suara kalau ia yang datang, Nan Gil kaget dan terlihat panik. Na Ri mengatakan ingin masuk. Nan Gil langsung melarangnya karena bertelanjang dada.
Tapi akhirnya Na Ri tetap masuk. Nan Gil hanya bisa bersandar di dinding seperti ingin menutupi tattonya, sambil mengomel kalau sudah mengatakan Na Ri tak boleh masuk. Na Ri dengan memalingkan wajahnya menyuru Nan Gil segera berpakaian. Nan Gil mencari baju yang digantung dan mengambil celemek untuk menutupi badannya.
Kau memiliki selera yang unik saat sendirian. Itu aneh.” Ejek Na Ri
Ini tidak aneh sama sekali, Ini adalah bagaimana aku mengaduk adonan.” Kata Nan Gil lalu bertanya apa kotak yang dibawa Na Ri
Seseorang memberiku lotion pria, tapi aku tidak membutuhkannya.” Kata Na Ri, Nan Gil menerimanya dengan mengucapkan terimakasih dan menyuruh Na Ri segera pergi.
Apa kau tidak akan membukanya? Aku harap kau menyukainya.” Kata Na Ri kesal, Nan Gil ingin segera Na Ri pergi mengaku  pasti menyukainya dan mengakui kalau itu Hadiah adalah yang terbaik!
Itu tidak benar.... Kau harus membuka hadiah di depan si pemberi.” Ucap Na Ri tak percaya.
Akhirnya Nan Gil membuka hadiah Na Ri tapi saking paniknya, membuang kotak hadiahnya dan memegang bungkus kodanya, Na Ri berpikir Kalu Nan Gi malah membuang hadiahnya, menurutnya kalau memang tak suka.... Nan Gil buru-buru mengambilnya dan membuang bungkus kadonya mengatakan “tidak... tidak”
Na Ri kesal mendengar Nan Gil yang terus mengatakan, "Tidak". Nan Gil membuka kado terlihat wajahnya tersenyum tak percaya melihat hadiah yang diberikan Na Ri, mengaku menyukainya, jadi merasa seperti Na Ri bisa mengeta nya. Na Ri binggung apa sebenarnya yang ingin dikatakan Nan Gil.

Ini seperti orang tua yang mendapatkan hadiah dari anaknya.” Ungkap Nan Gil, Na Ri hanya bisa diam saja mendengarnya.
Menurutmu kenapa Paman menggunakan telepon di Supermarket Seulgi? Kalau aku tahu maka akan langsung datang ke sini saja. Ada sesuatu di antara kalian berdua, kan?” kata Na RI penasaran.
Terima kasih untuk hadiahnya, tapi kau harus pergi beristirahat. Aku harus mengaduk adonan.” Kata Nan Gil
“Kau selalu bilang "Aku harus mengaduk adonan." Apa hanya itu yang akan kau katakan?” ejek Na Ri kesal, Nan Gil hanya diam saja.  Kau tidak menjawab. Sebelumnya Kau berkata kalau  tidak akan menjawab saat kau harus berbohong. Aku benar....Kau tidak akan...” ucap Na Ri lalu terhenti karna Nan Gil tiba-tiba mendekatinya dengan tatapan dingin.

Na Ri  berjalan mundur dengan wajah ketakutan, Nan Gil semakin mendekati dengan memegang lengan Na Ri dan wajah mereka terlihat dekat. Nan Gil langsung memutar badan Na Ri untuk segera keluar dari kamarnya. Na Ri berusaha menaanya, Nan Gil bisa mendorong Na Ri keluar merasa harus saling menyesuaikan satu sama lain. Na Ri mengedor-gedor pintu berteriak kalau  memiliki hak untuk tahu apa yang terjadi pada Paman.

Na Ri terliha kesal masuk ke dalam rumah mengambil air dalam kulkas dan langsung meminumya dari teko, lalu melihat jejeran makanan yang sangat rapih dan juga terlihat bergizi dengan banyak buah, lalu didekat meja ada tempat untuk lakukan persembayangan yang sudah disiapkan oleh Nan Gil.
Tidak, ini hanya pura-pura. Dia meninggalkannya di sana dengan sengaja agar aku bisa melihatnya. Jangan percaya apapun lagi.” Ucap Na Ri yakin.
Diluar, Nan Gil terlihat ingin masuk ke tempat Na Ri tapi terlihat masih binggung dan terdiam sejenak memandang ke arah rumah. 

Nan Gil akhirnya masuk mengingatkan kalau Na Ri sebelumnya  akan percaya kepadanya dan bertanya apa yang sedang dicari dan ingin diketahuinya,  Na Ri terlihat ketakutan mengaku ingin tau seperti apa sifat dari Nan Gil.
Benarkah? Kalau begitu aku akan memberitahumu.... Aku Ko Nan Gil.... Apa itu mengingatkanmu tentang sesuatu? Apa kau tidak ingat sama sekali?” Ucap Nan Gil dengan mata mendelik dingin
Ko Nan Gil.... Ko Nan Gil? Siapa Ko Nan Gil? Siapa kau?” kata Na Ri kebingunan.
Aku adalah ayahmu.” Ucap Nan Gil tiba-tiba Na Ri melihat Nan Gil berubah menjadi robot penjahat yang siap mematikanya
Na Ri berteriak dan terbangun dari tidurnya, lalu tersadar kalau itu hanya mimpi. Nan Gil pun memilih untuk tak masuk dan kembali ke kamarnya. 

Pagi Hari
Na Ri melihat Nan Gil sedang membuat adonan di dapur, lalu ia diam-diam menelp Duk Bok dan segera menemui didepan kantor yang dipenuhi dengan robot-robot yang tinggi dan besar. Duk Bong kaget melihat Na Ri yang menutupi wajahnya dengan Jaketnya.
“Aku harus segera kembali” kata Na Ri, Duk Bong merasa gaya pakaian Na Ri sangat memelukan jadi lebih baik cepat kembali saja.
Kau mengatakan kalau kau belajar hukum. Apa kau memiliki lisensi atau semacamnya?” ucap Na Ri untuk menyakinkan.


“Kau bilang Sebuah lisensi? Aku lulus ujian bar dengan skor tertinggi.” Jelas Duk Bong, Na Ri pun bertanya kenapa Duk Bong malah membuat mainan.
Hal seperti itu bukan tipeku. Aku tidak suka bagaimana jaksa selalu melihat orang jahat. Aku tidak suka bagaimana pengacara menangani klien yang merengek.” Jelas Duk Bok
Kenapa kau menawarkan diri untuk membantuku?” tanya Na Ri
Apa aku mengatakan aku akan membantumu? Kapan? Aku bukan tipe yang senang membantu.  Aku mengatakan untuk menciptakan situasi yang menguntungkan. Ayo... Ikut denganku.” Ucap Duk Bong. Na Ri seperti masuk tak percaya tapi akhirnya Nan Gil menarik tali jaketya agar masuk ke dalam.

Duk Shim akan pergi sekola mengintip melihat kakaknya yang embawa Na Ri masuk ke dalam kantornya, merasa tak percaya kalau Duk Bong melakukan itu juga. Didalam ruangan, Duk Bong memperlihatkan sebuah peta besar lalu menjelaskan keberaadaan Pangsit Hong dan hanya satu-satunya jalan.
Apa kau mengerti betapa aku menginginkan tanah ini?” kata Duk Bong
Aku kira Paman Jung Nam ada hubungannya dengan ini.”pikir Na Ri, Duk Bong binggung
Menurutmu kenapa dia lari kalau dia memiliki rumahnya? Apakah ini Masalah uang atau ancaman?” ucap Na Ri, Duk Bong merasa Na Ri itu  tidak tahu tentang hal ini.
“Sekarang Pikirkan tentang hal ini. Ini rumah pamanmu, lalu Pangsit Hong, serta Rumahmu. Tanah di sekitar danau. Semua ini adalah sebelumnya ada milik ibumu, tapi sekarang, semua ini menjadi milik Nan Gil.” Jelas Duk Bong
Itu tidak mungkin...Ibuku tidak pernah mengatakan kepadaku tentang ini sebelumnya. Bahkan ayahku tidak memberitahu aku tentang harta miliknya. Kami tidak pernah menyembunyikan apa pun satu sama lain.” Ucap Na Ri tak percaya
Duk Bong pikir Na Ri tak perlu merasa bersalah,  karena Orang tua tidak berbagi rahasia dengan anak-anak mereka, terutama kalau itu adalah rahasia yang memalukan.

Na Ri disodorkan sebuah  Surat Perjanjian Pengacara hanya diam menatapnya. Duk Bong menyakinkan Na Ri kalau  seperti apa itu pertarungan yang kotor dan menurutnya akan menjadi hal seperti itu. Walaupun tidak penting sama sekali tapi ia ingin tahu bagaimana Nan Gil bisa menjadi ayah tirinya atau memang orang yang baik.
Yang terpenting adalah uang. Dia mungkin mencoba untuk mengusirmu tanpa memberimu uang. Setelah itu kau bisa mempertahankan posisimu untuk melawan dia, meminta kompensasi. Kalian mungkin akan saling menyakiti hanya untuk uang dan dia bisa saja akhirnya menghancurkan keluargamu.” Jelas Duk Bong, Na Ri sempat binggung, tapi akhirnya dengan yakin langsung memberikan tanda tanganya. Senyuman licik Duk Bong pun terlihat. 


Na Ri pulang kembali ke rumah melihat ke arah restoran dan diam-diam langsung masuk ke dalam rumah. Nan Gil yang tak menyadari Na Ri baru saja keluar rumah mencuci tempat adonan didepan rumah, lalu tiba-tiba mendengar suara jeritan Na Ri dari dalam rumah. Dengan wajah panik  Na Gil masuk ke dalam kamar dan meliat Na Ri seperti sedang merangkak di lantai.
Apa yang terjadi? Apa kau tidak bisa melihat lagi?” ucap Nan Gil panik, Na Gi merasa kesakitan dibagian punggungnya.
Apa kau ingin aku memanggil ambulans?” kata Nan Gil, Na Ri pikir tak perlu karena  Biasanya akan membaik... setelah berbaring untuk sementara waktu.” Ucap Na Ri berusaha untuk berbaring.

Nan Gil yang tak bisa menyentuh anaknya mengambilkan bantal dan juga selimut, meminta agar Na Ri bisa bertahan.  Na Ri terlihat berusaha menahan rasa sakit. Nan Gil melihat Na Ri harus pergi ke rumah sakit. Na Ri mengatakan sering minum obat tertentu karena sakit pingangnya ini dan meminta agar Nan Gil pergi membelikanya. Nan Gil bertanya apa nama obatnya.
Na Ri mengatakan Namanya sedikit rumit jadi meminta agar mengambil pulpen dan juga dompetnya, maka akan menuliskan nama obatanya. Nan Gil segera mengambil diatas meja dan merasa lebih baik membeli dengan uangnya saja. Na Ri berpikir beberapa barang (Royal Label, Dimple Whisky, Cli Kosmetik) lalu menuliskan nama obat yang harus dicari Nan Gil “Cli Royal Dimple” gabungan dari ketiganya. Nan Gil binggung tapi demi sang anak segera pergi mencari nama obat tersebut. 

Na Ri melihat Nan Gil sudah pergi dari rumah dan langsung buru-buru masuk ke dalam ruangan Ayah  tirinya, berusaha membuka komputer tapi beberapa kali salah mengetik password. Akhirnya ia membuka laci mencari sesuatu dan menemukan sebuah kertas ucapan di dalamnya.
"Kau menyegel hatiku seperti kau menutup kulit pangsit. Setiap hari adalah hari pangsit bagiku. Apa yang terjadi padamu saat kau lahir? Kau dan pangsitmu begitu sempurna."
Na Ri melihat beberapa kartu merasa Nan Gil itu sering  menggoda semua gadis. Lalu mencari informasi kembali dan menemukan beberapa foto, dibagian atas foto Na Gil dengan pekerjanya lalu dua foto bersama dengan ibunya, terlihat keduanya tampak bahagia dengan Nan Gil yang menatap ibunya. Na Ri seperti tak percaya melihat keduanya yang terlihat sangat dekat. 

Nan Gil dengan sepedanya buru-buru pergi ke apotik terdekat, lalu mencari obat  yang dituliskan Na Ri yaitu "Cli Royal Dimple" Sang Dokter meraa  belum pernah mendengar tentang obat itu. Nan Gil mengatakan kalau itu obat untuk sakit punggung. Si apoteker mengelengkan kepalanya.
Akhirnya Nan Gil pergi ke apotik lainya,  meminta Cli Royal Dimple. Sang apoteker  mengatakan tidak punya obat semacam itu. Nan Gil keluar dari toko obat berusaha mencari obat-obat diminta Na Ri. Diam-diam Sek Duk Bong melihat dari kejauhan dari dalam mobil.
Nan Gil sampai disebuah rumah sakit besar bertemu dengan seorang Dokter, bertanya apakah mengetahui obat apa yang dimintanya. Dokter melihat nama "Cli Royal Dimple" lalu mengatakan belum pernah mendengar tentang obat itu sebelumnya. Nan Gil binggung, lalu Dokter pun bertanya pada suster tentang nama obat itu, Suster pun mengelengkan kepala.
Kenapa kau tidak menelepon dan memeriksanya lagi?” ucap Dokter. Nan Gil merasakan getaran dari ponselnya.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya  (Perhatian! 3 kali salah memasukan kata sandi) dan wajah Na Ri terlihat sedang ada didalam ruangan mencari-cari sesuatu, Wajah Nan Gil berusaha menahan amarahnya merasa tak perlu menelp orang tersebut lalu bergegas pergi karena tahu Na Ri sedang mengelabuhinya. 


Na Ri kembali ke rumah lalu melihat ke pintu gudang yang terkunci lalu bertanya-taya Sejak kapan gudangnya terkunci, dengan nada sinis kalau Nan Gil itu  memiliki begitu banyak rahasia lalu mengambil gambar gembok yang ada digunakan pada gudang.
Nan Gil baru keluar dari rumah sakit, lalu Soon Rye datang menemuinya. Nan Gil melihat informasi tentang Na Ri sebagai  Karyawan Terbaik Bulan Ini dengan pakaian pramugarinya, lalu bertanya kenapa Soon Rye m menunjukkannya kepadanya padahal tak bersada di sisinya sekarang.

Sepertinya dia menyelidikimu.... Kau tidak ingin mengungkapkan masa lalumu, kan? Jadi Pergi saja.” Ucap Soon Rye memperingati.
Apa kau khawatir tentang aku? Apa yang merasukimu?” ejek Nan Gil tak percaya
Apa kau benar-benar ingin hidup seperti ini? Kau masih muda, jadi Pergi saja dan jalani hidupmu. Jangan mengganggu kehidupan orang lain.” Ucap Soon Rye
Ini adalah bagaimana aku menjalani hidupku. Aku benar-benar melakukannya dengan baik... dan bahkan tidak membuang waktu sedikitpun. Dan ini bukan tentang orang lain, tapi keluargaku.” Tegas Nan Gil sengaja berbicara didepan wajah Soon Rye lalu pergi meninggalkan rumah sakit. 


Duk Shim akan naik bus sekolah, dua teman wanita seperti  tak suka menyuruhnya untuk pulang saja dengan berjalan dan mencari sepeda lain kalau memang tak bisa berjalan. Duk Shim hanya diam di depan pintu bus.
Hei, aku mendengar kau terlahir kaya, jadi Kapan-kapan traktir aku.” Ucap seorang teman pria ikut mengodanya dengan melihat Duk Shim yang terlihat cantik.
“Hei...Darimana kau mendapatkan Earphone? darimana kau mendapatkan tasmu? Apa kau akan membeli sepeda?” kata teman-temannya seperti mencoba membully Duk Shim. Akhirnya Duk Shim memilih pergi untuk pulang berjalan kaki. Nan Gil yang tak sengaja lewat dengan sepedanya bisa mendengar Duk Shim yang dibully oleh teman-temanya. 


Nan Gil mengikuti Duk Shim karena mengingat seorang pelajar naik sepeda yang bagus sebelumnya dan bertanya dimana sepedanya itu.  Duk Shim hanya diam saja dengan wajah tertunduk seperti malu mengangkat wajahnya menatap Nan Gi.
Hei, kau tahu itu adalah keterampilan yang sangat sulit... untuk bisa berjalan perlahan-lahan mengunakan sepedamu, kan?” ucap Nan Gil mengangkat satu ban sepedanya ke atas, Duk Shim sempat melihatnya seperti terpana lalu kembali lagi tertunduk.
Aku pikir melihat sepedamu di suatu tempat. Toko sepeda bekas di kota ini memilikinya. Kau tidak menjualnya, kan?” kata Nan Gil, Duk Shim hanya tertunduk dia, Nan Gil merasa Duk Shim itu orang yang sangat pemalu.


“Hei.... Aku jahat... Tidak, aku bukan orang jahat. Jadi tatap wajahku” kata Nan Gil. Duk Shim mengangkat wajahnya dan tersenyum, Nan Gil langsung memuji  Duk Shim itu kelihatan cantik saat tersenyum.
Setelah kau mulai kehilangan sesuatu dari mereka, maka tidak akan ada akhirnya... karena mereka yang mengambil barangmu itu tidak memiliki hati nurani. Datang kepadaku kalau kau menginginkan sepedamu kembali. Kau tahu Pangsit Hong, kan?” ucap Nan Gil lalu pamit pergi dengan mengendarai sepedanya,
Duk Shi tersenyum dan tak lupa mengambil kembali foto Nan Gil yang sedang mengemudikan sepedanya, lalu mengatakan “Setelah aku mulai kehilangan sesuatu, tidak akan ada akhirnya... karena mereka yang mengambil tidak memiliki hati nurani.” 

Na Ri terlihat mondar mandir dalam rumahnya, Yeo Joo dan Dong Jin pergi ke cafe untuk minum kopi, tak lupa Yeo Joo memuji pacarnya yang terlihat tampan dengan bajunya. Dong Jin melihat ponselnya yang bergetar dan itu dari Na Ri. Yeo Joo seperti bisa menebaknya mengatakan akan mengambil kopi jadi Dong Jin bisa menjawab teleponnya merasa khawatir kalau Na Ri masuk UGD lagi.
Dong Jin pun pergi ke lantai atas dan wajah Yeo Joo terlihat kesal karena Na Ri masih menelp Dong Jin. Na Ri bertanya apakah Dong Jin bisa berbicara sekarang. Dong Jin memastikan kalau Yeo Joo tak ada didekatnya lalu menyuruh Na Ri bicara saja.
Kalau kau ingin 30.000 dolar milikmu kembali, maka bekerja samalah denganku” ucap Na Ri, Dong Jin binggung.
Hari ini adalah ulang tahun ibu.” Kata Na Ri
Aku minta maaf karena tidak mengingatnya Jadi Kau membutuhkan aku.” Ucap Dong Jin seperti berharap bisa kembali dengan Na Ri
Jangan coba-coba. Aku tahu kau masihberkencan dengan Yeo Joo. Aku mengatakan untuk bekerja sama, Setidaknya kau bisa melakukan itu untukku. Jadi Datang dan minumlah bersama,  Buatlah dia minum sampai dia mati dan pingsan.” Kata Na Ri 

Dong Jin  binggung siapa yang “dia” yang dimaksud, lalu bertaya paka itu Si penggali emas dan Penipu dan mengangguk mengerti, menutup telpnya. Saat berbalik Yeo Joo sudah ada dibelakangnya dengan menahan air matanya,
Apa Na Ri menyebutku penggali emas? Apa dia menyebutku penipu?” ucap Yeo Joo menduganya, Dong Jin mengelengkan kepalanya dan mengaku kalau ada seseorang.
Hari ini adalah ulang tahun kematian ibunya, tapi tidak ada siapapun di sisinya. Kurasa dia membutuhkan aku.” Jelas Dong Jin
Aku tidak ingin menangis dan  tidak benar. Aku pikir kita harus mengakhirinya. Aku percaya saat dia mengatakan semua sudah selesai. Karena itu aku menahan diri meskipun dia mencelaku, tapi itu belum berakhir. Aku yakin tidak mudah untuk mengakhirinya denganmu. Aku juga... mengerti dia.” Ucap Yeo Joo berakting dengan menangis,
Tidak, ada uang... semua itu tentang uang.” Kata Dong Jin
“Apa Na Ri meminjam uang darimu? Dia tidak memiliki siapapun di sisinya, Sebaiknya kau pergi. Aku akan pergi bersamamu.” Ucap Yeo Joo langsung berubah jadi bersemangat, tangisnya pun hilang karena hanya berpura-pura
Dong Jin pikir Tidak baik kalau Yeo Joo pergi ke tempat Na Ri, Yeo Joo menyakikan kalau sifatnya tak seburuk yang dipikirkan Dong Jin karena  akan menunggu di mobi bahkan bisa membaca buku dan mendengarkan music selama beberapa jam. Dong Jin menatap Yeo Joo seperti yakin tapi akhirnya memutuskan akan pergi sendiri.


Nan Gil melepaskan celemeknya dengan wajah kesal melihat laci mejanya sedikit terbuka karena baru saja di obrak-abrik oleh Na Ri. Sementara Na Ri berasa di dalam kamar Nan Gil yang datang kerumah, membawa nampan berisi dumpling, lalu memberitahu sudah kembali.
Apa kau tertidur? Apa kau masih sangat sakit? Aku akan masuk!” teriak Nan Gil terdengar kesal didepan pintu dan Na Ri pun buru-buru berbaring dengan menutupi semua tubuhnya. 
Na Ri berpura-pura baru bangun tidur dan melihat Nan Gil sudah kembali. Nan Gil mengaku kalau apotik tidak memiliki obat itu dan Mungkin itu hanya ada di Seoul, dengan nada menyindir Haruskah aku pergi ke Seoul  untuk membelinya. Na Ri mengaku tak perlu karena sudah merasa lebih baik.
Aku harus memanggil ambulans.” Kata Nan Gil sengaja ingin menyindirnya, Na Ri mengaku kalau ia suda baikan sekarang.

Kau bahkan tidak bisa bangun.” Ejek Nan Gil
Aku akan membaik kalau aku berbaring, tapi hari ini sedikit lebih lama.” Balas Na Ri
Aku pikir kau lapar. Makanan berat mungkin terlalu banyak, tapi mungkin kau bisa makan beberapa pangsit. Kalau begitu cobalah untuk makan sedikit. Tapi bagaimana dengan pergi kamar mandinya nanti?” kata Nan Gil membahasnya
Na Ri yang tak bisa menahan bau dumpling yang sangat enak mengatkan  tidak pergi ke kamar mandi segera setelah makan. Nan Gil semakin mengejek ternyata Na Ri sembelit juga, lalu kembali mengungkit semua penyakit Na Ri yaitu  Stres, insomnia, kurang gizi, osteoporosis, hernia, dan sembelit.
Apa yang tidak kau miliki? Karena itulah kau mendapatkan keriput diwajahmu...” ejek Nan Gil
Hentikan! Berhenti dengan keriput itu!” teriak Na Ri akhirnya bangun, Nan Gil hanya tersenyum, lalu Na Ri pun berpura-pura kembali sakit dengan berbaring. 

Duk Bong melihat foto Na Ri dan juga profilnya sebagai pramugari seperti tak percaya foto wanita yang dia pegang adala Na Ri  wanita yang dilihatnya pagi ini dan menurutnya karena alasan itu pria berfantasi tentang pramugari yang memang terlihat cantik dengan baju seragamnya.
Ia pun melihat Informasi Pribadi, Hong Na Ri merasa kalau Na Ri adala  tipe yang mengikuti jalan yang lurus dan sempit. Song Rye yang ada di depanya hanya diam saja. 

Na Ri pun memakan semua pangsit yang dibawa oleh Nan Gil, lalu merasakan perutnya mulai berkontraksi dan ingin pergi ke toilet. Dengan mengendap-ngendap menuruni tangga dan melihat Nan Gil sibuk didapur sedang memasak dengan membelakanginya, Na Ri pun buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
Terdengar bunyi suara bel rumah, Nan Gil membuka pintu dan Duk Bong langsung menyelonong masuk mengaku datang untuk menemui putrinya dan mengaku  menjadi sangat dekat, berkat  Nan Gil yang memasangkan mereka untuk pergi ke Seoul bersama.
Punggung Na Ri kesakitan dan tidak bisa bergerak. Aku tidak tahu seberapa dekat kalian, tapi itu belum cukup untuk masuk ke kamarnya.” Ucap Nan Gil sinis
Kalau begitu siapa yang berdiri di tangga sana?” kata Duk Bong, Na Ri terlihat baru selesai dari kamar mandi dan ingin kembali ke kamar.

Rasanya lebih menyakitkan saat berbaring” kata Na Ri beralsan lalu menyuru Duk Bong segera masuk.
Seperti yang kau lihat, aku kesakitan, jadi kurasa aku tidak bisa keluar.” Kata Na Ri, Duk Bong pun mengaku tidak akan lama.
Kalau begitu masuklah ke kamarku. Apa itu tidak apa-apa?” kata Na Ri pada Nan Gil sebagai ayahnya
Kau bukan remaja atau semacamnya. Kenapa kau meminta izin? Haruskah aku membawa beberapa susu?” ejek Nan Gil sinis. 
Duk Bong didalam kamar bertanya apakah Na Ri  menemukan sesuatu. Na Ri mengaku kalau Semuanya terkunci. Duk Bong pikir tak mungkin Nan Gil  akan membiarkannya terbuka, menurutnya sekarang adalah menentukan  tentang waktu yang tepat dan mereka  harus melaporkan Nan Gil sebelum  menyadarinya karena itu adalah cara tercepat.

Melaporkan dia untuk apa? Dia tidak melakukan apa pun.” Kata Na Ri binggung
Apa kau yakin tentang itu? Dia mengaku menjadi ayah tirimu dan memiliki rumah ini.” ucap Duk Bong menyakinkan.
“Jadi Kita bisa melaporkan dia untuk hal apa?” tanya Na Ri
“Ini tentang Pernikahannya. Kita akan mengatakan pernikahannya dengan ibumu adalah penipuan. Apa kau tahu kenapa aku datang ke sini? Untuk memberitahu agar kau tetap kuat. Sekarang Kau harus mencurigainya secara menyeluruh. Aku juga berencana untuk menyelidiki kecelakaan yang menimpa ibumu.” Kata Duk Bong menyakinkan, Na Ri seperti tersentu saat Duk Bong ingin menyelidiki kematian ibunya. 
bersambung ke part 2 
FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar