PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 13 Desember 2018

Sinopsis Encounter Episode 5 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Jin Hyuk duduk di cafe sendirian seperti termenung sendirian menghindari omongan pegawai. Saat itu Sopir Nam berhenti di lampu merah melihat Jin Hyuk duduk sendirian lalu memberitahu Soo Hyun.  Soo Hyun melihat Ji Hyuk duduk sendirian dengan wajah termenung.
“Dia pasti melewatkan makan siang.” Ucap Tuan Nam merasa sedih. Soo Hyun hanya menatap terlihat merasa khawatir.
Akhirnya Soo Hyun mengeluarkan ponselnya “Itu akan berlalu jika kamu tersenyum...” lalu menghapusnya. Jin Hyuk duduk sendirian mencoba menenangkan diri dan menerima pesan dari Soo Hyun 
“Kau mengunduh aplikasi radio, kan?” wajah Jin Hyuk tersenyum membaca pesan dari bosnya.
Jin Hyuk teringat saat menyarankan untuk mengunduh aplikasi radio di ponsel Soo Hyun karena Mereka akan memutar banyak musik yang bagus.
“Kau harus mendengarkannya jika kau bosan. Kenapa tidak meminta DJ favoritmu untuk memainkan lagu?
“Aku berpikir untuk melarikan diri karena cuacanya bagus. Tapi aku sepertinya tidak bisa mengumpulkan keberanianku sendiri. Jadi, aku hanya duduk dengan linglung.” Balas Jin Hyuk
“Itu tidak terlalu enak didengar sebagai Presdir.” Balas Soo Hyun
“Aku pikir mungkin akan aman jika aku kabur dari kantor dengan Presdir. Apa CEO ingin bolos dan pergi ke galeri seni di Hongjae-dong? Cuacanya sangat bagus.” Tulis Jin Hyuk
“Aku harus mengurus banyak hal penting, jadi, kurasa...” ketik Soo Hyun tapi langsung terdiam. Jin Hyuk gugup menunggu balasn dari Soo Hyun.
“Kurasa aku bisa membantumu untuk membolos kerja dengan aman.” Balas Soo Hyun. Wajah Jin Hyuk terlihat bahagia membacanya.
“Kusarankan CEO untuk mengenakan pakaian joging daripada sesuatu yang elegan.” Soo Hyun membaca pesan Jin Hyuk merasa pameran seni yang aneh. Tuan Nam yang mendengarnya hanya bisa tersenyum, seperti sangat mendukung hubungan keduanya. 



Sun Joo melihat Jin Hyuk menyakinkan kalau merasa sakit. Jin Hyuk mengaku baik-baik saja tapi ada sebuah masalah dengan gugup. Sun Joo meminta agar bisa jujur saja padanya. Jin Hyuk mengaku tidak benar-benar sakit. Hanya saja... dengan nada gugup.
“Tidak ada yang mendesak hari ini, jadi kau bisa pulang.” Ucap Sun Joo bisa mengerti. Jin Hyuk meminta maaf  dan bergegas pergi
“Dia sangat beruntung.”komentar Tuan Park melihat Jin Hyuk bisa pulang. Eun Ji terlihat kesal melihat Jin Hyuk ternyata punya hubungan dengan CEO Cha. 

Soo Hyun memberitahu kalau harus pergi ke suatu tempat jadi dapat memberikan mobil dan pulang saja. Tuan Nam senang karena Ayah Soo Hyun sebenarnya ingin menemui anaknya. Soo Hyun yakin ayahnya pasti tahu.
“Kau tidak melakukan hal buruk. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Kata Tuan Nam.
“Ibuku mungkin akan meneleponku.” Ucap Soo Hyun dan melihat saat itu ponsel berdering.
Nyonya Jin dengan nada marah bertanya keberadaan anaknya. Soo Hyun mengaku sedang dalam perjalanan bisnis. Nyonya Jin ingin tahu dimana, Soo Hyun mengaku adadi Busan. Nyonya Jin tahu anaknyaakan kembali hari ini. Soo Hyun menegaskan harus memeriksa jadwalnya.
“Apa kau serius akan bersikap seperti ini?” kata Nyonya Jin kesal.
“Aku harus menghadiri rapat. Nanti aku hubungi lagi.” Tegas Soo Hyun lalu mematikan ponselnya.
“Apa aku juga perlu memberi tahu ayahmu bahwa datang dari Busan?” tanya Tuan Nam
“Tolong minta ayahku memberi tahu Ibu bahwa aku ada di Busan.” Pinta Soo Hyun. Tuan Nam menganguk mengerti dengan senyuman.
“Soo Hyun... Tidak ada yang bisa menghentikan bunga mekar di musim semi. Sekeras apa pun perlawanan bunga-bunga itu, mereka semua akhirnya akan mekar.” Pesan Tuan Nam. Soo Hyun menganguk mengerti. 



Jin Hyuk pulang ke rumah bergegas masuk ke dalam kamar, Ibunya yang ada di ruangan tengah binggun karena seperti ada oranga yang melintas dan memastikan kalau itu Jin Hyuk yang pulang. Lalu bertanya kenapa pulang siang hari.
“Aku sakit. Tidak, maksudku, aku punya janji.” Ucap Jin Hyuk dengan senyuman bahagia masuk ke dalam kamar mandi. Ibunya hanya bisa melonggo melihat tingkah anaknya. Setelah selesai mandi, Jin Hyuk memakai jaketnya dengan senyuman bahagia. 

Keduanya akhirnya sudah berjalan bersama. Jin Hyuk melihat pakaian Soo Hyun padahal sudah meminta memakai baju joging karena  harus berjalan sedikit lalu memberikan jaketnya. Soo Hyun menolak, mengeluh karena terlihat kedinginan karena Jin Hyuk yang selalu menawarkan jaketnya.
“Aku hanya khawatir kau akan kedinginan.” Ucap Jin Hyuk kembali memakai jaketnya.
“Aku pikir kita akan melihat pameran. Kenapa kau membawaku ke sini?” kata Soo Hyun karena seperti melihat hanya jalan saja.
“Untuk melihat pameran.” Kata Jin Hyuk, Soo Hyun merasa sedang dibohongi dan akan pergi saja.
Jin Hyuk membalikan badan Soo Hyun dan menunjuk ke arah bagian benton tiang jalan yang di tempel lukisan berjejer. Soo Hyun tak percaya melihatnya, Jin Hyuk menegaskan kalau dirinya tidak berbohong.
“Apa ini galeri seni yang kau ceritakan kepadaku?” tanya Soo Hyun. Jin Hyuk membenarkan kalau ada banyak lukisan.
“Ada kau  yang suka lukisan... Lalu ada aku yang menyukaimu yang suka lukisan. Jadi Tidak ada masalah dengan galeri seni.” Ucap Jin Hyuk mengodanya.
“Bisakah kau pindahkan tanganmu?” kata Soo Hyun seperti tak nyaman melihat tangan Jin Hyuk di pundaknya. Jin Hyuk langsung melepaskanya dengan wajah gugup.
“Ada lukisan sampai ujung jalan dan  Ada banyak yang bagus.” Kata Jin Hyuk. Soo Hyun pikir dirinya tertipu. Jin Hyuk mengajak Soo Hyun kembali berjalan.
“Sudah waktunya kau mendengarkan pemandu Hongjae-dong. Pertama-tama, ini adalah lukisan karya Lee Jung Seob. Dia dikenal sebagai pelukis gaya Barat paling representatif di Korea.” Jelas Jin Hyuk sambil berjalan dengan Soo Hyun. 


Ibu Jin Hyuk masuk kamar anaknya karena penasaran apakah membersihkan kamarnya hari ini lalu melihat ada sepatu heels wanita diatas rak buku. Jin Myung masuk kamar kakaknya meminta agar membuatkan makanan. Ibu Jin Hyuk kaget karena sudah pulang ke rumah.
“Aku datang untuk tidur sebelum berangkat kerja malam ini.” Ucap Jin Myung. Ibu Jin Hyuk pikir anaknya masih terlihat mengantuk.
“Jin Myung.... Menurutmu ini apa?” kata Ibu Jin Hyuk tersipu malu, Jin Myun pikir ibunya membeli sepatu baru
“Tidak, kakakmu...” kata Ibu Jin Hyuk, Jin Myung pikir kakaknya pasti membelikannya untuk ibunya. Ibu Jin Hyuk makin tersenyum bahagia mendengarnya.
“Kau Cobalah Atau mungkin tidak.. mungkin bukan untuk ibu.” Kata Jin Myung santai, tapi Ibu Jin Hyuk seperti berharap hadiah untuknya. 

Jin Hyuk memberitahu kalau paling suka lukisan yang ada diujung jalan, terlihat lukisan seperti tumpukan kotak-kotak. Jin Hyuk mengaku selalu melihat lukisan itu ketika keluar untuk berolahraga. Soo Hyun pun ikut melihatnya.
“Pada awalnya, aku tidak mengerti lukisan macam apa ini karena dipenuhi dengan banyak kotak. Tapi makin dilihat, kau akan makin terpesona. Ternyata, butuh banyak daya tahan untuk mendapatkan warna-warna itu.” Kata Jin Hyuk
“Aku juga suka lukisan pelukis ini, Karya awalnya juga bagus.”ucap Soo Hyun
“Bukankah kau suka judulnya? "Where, in What Form, Shall We Meet Again?” Judulnya berasal dari sebuah puisi yang berjudul "In the Night". "Di antara banyak bintang, Ada satu yang menatapku. Di antara banyak orang, Aku menatap bintang itu" kata Jin Hyuk
“"Di mana, kapan, dan seperti apa kita berdua nanti. Kau, yang begitu hangat, dan aku, yang begitu lembut, bertemu lagi?" ucap Soo Hyun
Jin Hyuk kaget Soo Hyun tahu puisi itu. Soo Hyun mengaku tidak tahu puisi itu Tapi mengetahui belakangan karena suka lukisan itu. Jin Hyuk ingat kalau mereka bertemu di Kuba tanpa uang dan bertemu lagi sebagai karyawan dan bos menurutnya itu menarik.
“Kau mengatakannya begitu sering, hingga aku mulai terbiasa mendengar kata "kita", kata ganti orang pertama.” Kata Soo Hyun
“Aku ingin tahu di mana dan bagaimana kita akan bertemu lagi.” Ucap Jin Hyuk dengan senyuman bahagia.
“Tidak banyak yang akan berubah dari sekarang.”komentar Soo Hyun
“Matahari akan terbenam, dan kita menikmati semua lukisan. Ayo makan sesuatu yang enak.” Ajak Jin Hyuk. Soo Hyun menolak karena harus pergi sekarang.
“Aku sangat menikmati lukisan-lukisan itu.” Ucap Soo Hyun. Jin Hyuk yakin kalau Soo Hyun pasti sibuk dengan wajah sedih .
“Jika kau menanyakan pertanyaan itu dengan tatapan seperti itu, maka aku harus menjawab apa?” kata Soo Hyun
"Aku rasa kita bisa makan bersama jika kau merasa kecewa."kata Jin Hyuk dengan senyuman bahagia. 




Tuan Cha dan Tuan Nam minum bersama layaknya teman.  Tuan Nam mengaku senang sekali minum denganmu, Anggota Kongres Cha. Tuan Cha mengeluh meminta agar jangan memanggil seperti itu dan meminta agar  melupakan semua gelar di antara mereka.
“Kau sibuk belakangan ini, kan?” ucap Tuan Cha. Tuan Nam pikir kalau  pekerjaannya selalu sama.
“Bagaimana keadaan Soo Hyun akhir-akhir ini?” tanya Tuan Cha ingin tahu.
“Ada beberapa masalah, tapi bagiku dia terlihat baik.” Jawab Tuan Nam
“Aku melihat artikel itu, lalu Istriku mengatakan sesuatu kemarin.” Ungkap Tuan Cha
“Pria di artikel itu sebenarnya adalah karyawan baru di Hotel Donghwa.” Akui Tuan Nam. Tuan Cha kaget mendengarnya.
“Tapi menurutku dia mengagumkan.” Komentar Tuan Nam. Tuan Cha bingung ingin tahu alasanya.
“Seseorang menulis artikel kejam tentang dia dan Soo Hyun di papan buletin anonim.” Cerita Tuan Nam. Tuan Cha ingin tahu seperti apa tulisanya.
“Percuma mengulanginya, Lalu Soo Hyun benar-benar dalam kesulitan. Tapi pria itu memutuskan untuk maju di depan semua orang.  Dia ingin menegaskan "Aku pria di artikel itu. CEO Cha tidak berhubungan dengan pria aneh dan dia tidak pantas menerima semua gosip itu." Itu membuatku merasa senang dan sungguh terpuji.” Kata Tuan Nam
“Lalu Apa yang Soo Hyun katakan?” tanya Tuan Cha penasaran. Tuan Nam menceritakan Soo Hyun tidak mengatakan apa-apa, tapi yakin sangat berterima kasih.
“Bagaimana jika pria itu berhubungan tanpa berpikir panjang dan malah memperburuk situasi Soo Hyun?” ucap Tuan Cha khawatir.
“Kita harus lihat nanti, tapi dia kelihatannya tidak begitu.” Ucap Tuan Nam lalu mereka pun kembali minum bersama. 


Dae Chan memberikan sibuk memberikan pesanan siput bulan pedasnya.  Saat itu Sek Jang masuk, mengaku Kemarin  meninggalkan dompetnya. Dae Chan menunjuk dompetanya digantung di meja kasir. Sek Jang berteriak panik melihatnya,  smabil mengeluh karena menggantungnya dengan jepitan baju.
“Apa Kau tahu harga dompet ini?” jerit Sek Jang panik.
“Astaga. Aku mengamankannya agar tidak terkena saus. Apa aku pantas menerima perlakuan ini?” keluh Dae Chan.
“Apa Kau menyebut ini aman? Kau menggantungnya!” jerit Sek Jang
“Kau memang orang aneh. Kau yang mabuk dan meninggalkannya di sini.” Keluh Dae Chan
“Kenapa kau bilang begitu? Kau terdengar murahan.”jerit Sek Jang. 

Saat itu Soo Hyun dan  Jin Hyuk masuk ke restoran, Sek Jang melonggo melihatnya. Soo Hyun kaget melihat Sek Jang ada di bar bertanya ada apa datang ke tempat itu. Sek Jang menyindir  keduanya yang datang ke restoran bersama.
“Kami pergi melihat pameran dan aku mengajaknya makan di sini.” Ucap Jin Hyuk
“Aku ingin minum-minum lagi padahal pengarku baru saja reda.” Balas Sek Jang sinis.
“Jin Hyuk, wanita itu...Maksudku, orang ini. Bisakah kau menyingkirkan orang yang kau sebut kolegamu ini?” ucap Dae Chan kesal
“Aku bukan benda. Kenapa kau menyuruhnya menyingkirkanku?” balas Sek Jang
“Apa Kau bicara santai kepadaku? Kau terdengar murahan.” Ucap Dae Chan.  Jin Hyuk  menengahi keduanya mengajak untuk makan saja. Sek Jang menolak tapi Soo Hyun pun mengajak untuk makan bersama saja.
“Apa Kau juga kolega Jin Hyuk? Syukurlah kau kemari. Aku akan membuatkanmu makanan lezat.” Ucap Dae Chan sopan mempersilahkan mereka duduk. 


Sek Jang duduk dengan menatap sinis Jin Hyuk. Soo Hyun memperingatkan Sekretaris Jang kalau matanya akan menempel jika terus melirik sinis. Jin Hyuk yang mendengarnya bisa tersenyum karena dibela oleh Soo Hyun. Sek Jang menegaskan kalau itu bukan urusan Soo Hyun.
“Semua junior di kantor kalian baik hati.” Kata Dae Chan membawakan minuman. Sek Jang kesal mendengarnya.
“Dia tampak jauh lebih muda daripadamu.” Kata Dae Chan. Sek Jang makin marah. Jin Hyuk memberitahu kalau keduanya seumuran. Dae Chan hanya menahan senyum lalu pamit untuk pergi ke dapur.
“Tempat ini membawa sial... Secara keseluruhan, ada masalah... Kalian berdua lebih bermasalah!” ucap Sek Jang marah lalu menatap Jin Hyuk.
Soo Hyun lirik dingin. Sek Jang pun memilih untuk diam. Jin Hyuk terus tersenyum karena terus dibela oleh Soo Hyun di depan sekertarisnya. 
Hye In akan masuk restoran melihat Jin Hyuk membawa Soo Hyun dan Sek Jang. Dae Chan terlihat sangat senang melihat Soo Hyun yang datang berpikir kalua Serasa bulan datang ke restoranny karena  Kecantikan soo Hyun menerangi seluruh restoran ini. Jin Hyuk mengeluh mendengarnya.
“Tolong jagalah Jin Hyuk... Dia naif....Kau pasti ingin kembali.” ucap Dae Chan. Hye In pun memilih untuuk pergi. 


Hye In berjalan pergi ke sebuah toko menatap yang ada di dalamnya seperti teringat sesuatu.
Flash Back
Hye In melihat deretan buku-buku dalam rak dan memilih sesuatu. Saat itu Jin Hyuk masuk toko. Hye In kaget karena  berpikir ada di perpustakaan. Jin Hyuk mengaku akan pulang tapi harus pergi ke toko buku untuk membeli pena.
“Bagaimana denganmu?” tanya Jin Hyuk. Hye In mengaku hendak membeli jurnal.
“Ahh... Sebentar lagi tahun baru. Apa Kau sudah memilih?” tanya Jin Hyuk. Hye In mengaku belum. 
“Bagaimana kalau buku ini? Apa warnanya terlalu mencolok?” ucap Jin Hyuk.
“Bagus. Pasti mudah menemukannya karena warnanya cerah. Tadi aku juga melihat ini.” Kata Hye In melihat buku berwarna merah. Jin Hyuk pikir mereka sepikiran.

Dae Chan membawa makanan diatas meja, Soo Hyun mengucapkan terimakasih. Jin Hyuk melayani Soo Hyun dengan memberikan potongan daging siput dari cangkangnya. Jin Myung masuk restoran melihat kakaknya, Jin Hyuk bertanya apakah adiknya sudah makan malam?
“Bos tidak pernah memberiku makanan... Bukankah orang ini... Bukankah dia...” ucap Jin Myung kaget melihat Soo Hyun.
“Kenalkan... Dia adikku.” Kata Jin Hyuk, Soo Hyun pun menyapa Jin Myung dengan sopan.
“Mereka senior Jin Hyuk di kantor.” Kata Dae Chan. Jin Myung pun menyakinkan kalau Jin Hyuk adalah pria ramyeon itu.
Dae Chan tak mengerti, Soo Hyun dan Jin Hyuk saling menatap. Sek Jang merasa tak percaya kalau ini dramatis sekali. Semua tak banyak bicara memilih untuk makan saja. 
Sek Jang pun masuk mobil, Soo Hyun pun naik mobil dibelakang kemudi. Didepan pagar, Jin Myung seperti tak percaya kalau CEO Cha datang ke restoran, setelah mereka pergi mendekati kakaknya ingin tahu Apa yang terjadi dan segera memberitahukanya.

“Kim Jin Hyuk! Kenapa kau tidak memberitahuku? Dia pelanggan yang berharga. Andai akutahu, pasti memberinya Ramyun gratis.” Ucap Dae Chan kesal
“Aku tidak menyangka Kakak adalah pria ramyeon itu.” Komentar  Jin Myung. Dae Chan masih binggung Ada apa dengan ramyeon
“Hei.... Pelankan suaramu. Ada pelangganmu.”jerit Jin Hyuk panik. Jin Myung pikir kalau harus menelepon Ibunya.
“Jangan... Jangan memberi tahu Ibu. Nanti Ibu akan cemas.” Kata Jin Hyun.
“Kenapa? Apa hubungan kalian?” tanya  Jin Myung, Dae Chan juga ingin tahu tapi akhirnya Jin Hyuk memilih untuk kabur. Keduanya pun mengejar ingin tahu jawabanya. 

Sek Kim memberikan berkas pada Woo Suk,  mengaku tidak menemukan hal luar biasa karena Keluarganya biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Woo Suk melihat foto-foto Jin Hyuk didepan toko buah, wajahnya terlihat gugup lalu melihat foto Soo Hyun yang masih disimpan.

Flash Back
Foto yang sama saat pertama kali Woo Suk melihat Soo Hyun yang duduk didepanya. Soo Hyun terlihat gugup, Woo Suk pikir Rasanya pasti canggung dan mengajak untuk minum.
“Sepertinya aku harus membuatmu menyukaiku, tapi aku tidak berbakat dalam hal semacam itu. Katakan saja dengan nyaman. Soal tipe wanita yang kamu sukai... Aku ingin menebak...” ucap Soo Hyun
“Aku tidak punya tipe khusus yang kusukai... Tapi Hari ini aku menemukan tipe idealku.” Ucap Woo Suk
“Bisakah kau menjelaskannya dengan lebih sederhana? Aku bukan orang bodoh, tapi aku tidak pandai dalam hal ini.” Akui Soo Hyun
“Inilah tipe wanita yang kusukai... Wanita seperti Cha Soo Hyun.” Ungkap Jin Hyuk. 



Soo Hyun mengemudikan mobilnya, Sek Jang berbicara kalau Soo Hyun tidak akan bisa melindungi Jin Hyuk dari segalanya dan bisa mempersulit Jin Hyuk padahal baru memulai. Soo Hyun mengaku tahu dan berusaha kabur, tapi hanya berputar-putar serasa berdiri di labirin.
“Semua orang di sekitarmu adalah musuh, termasuk ibumu. Kuharap kau akan berhenti” kata Sek Jang
“Ini sangat memusingkan, Mi Jin.” Ucap Soo Hyun. Sek Jang pikir Apa Karena musuh
“Karena waktu.” Kata Soo Hyun. Sek Jang tak mengerti maksudnya.
“Andai aku merasakan ini saat kita masih muda, aku pasti sangat senang. Tapi sekarang, di usia ini, seluruh dunia tahu aku bercerai dan aku sangat frustrasi karena pilihan waktu yang buruk.” Kata Soo Hyun
“Kau sungguh menyukai dia.” Pikir Sek Jang. Soo Hyun juga tak tahu  tapi mengaku terus ingin lebih mengenal Jin Hyuk.
“Pilihan waktu yang sungguh kacau.” Kata Sek Jang Soo Hyun , mengucapkan  Terima kasih telah mengatakan itu.
“Apa Kau akan melanjutkannya?” tanya Sek Jang. Soo Hyun tahu kalau Hidupnya tidak akan mengizinkannya tapi yakin kalau pandai menahan diri.
“Aku tidak bisa membayangkan yang kau alami saat ini.” Ungkap Sek Jang



Saat itu ibunya menelp dengan nada tinggi mengaku sudah tahu keberadan anaknya tidak di Busan dan meminta agar Jangan membohongi ibunya. Soo Hyun hanya diam saja, Nyonya Jin tahu karena menelp kantor sekretaris kalau Soo Hyun tidak dalam perjalanan bisnis.
“Mari bicara besok. Aku sedang mengemudi.” Soo Hyun lalu mematikan ponselnya.
“Aku tidak akan bertahan sehari pun sebagai Cha Soo Hyun.” Ungkap Sek Jang
“Jika kita terus bertahan, waktu pasti berlalu.” Kata Soo Hyun yakin.
Soo Hyun akan pulang ke rumah dan melihat ibunya duduk di lobby, akhirnya Soo Hyun memilih untuk meninggalkan rumah karena tak ingin bertemu dengan ibunya. 

Jin Hyuk melihat foto-foto saat ada di Cuba, teringat saat pergi dengan Soo Hyun.
Flash Back
Jiin Hyuk mengaku tidak tahu ada roti dan kopi yang nikmat di Sokcho. Soo Hyun pikir kalau rasanya lezat karena mereka ada di Kuba. Lalu saat Jin Hyuk berpura-pura tertidur dibahu Soo Hyun di tepi pantai.
“Rasanya seru saat kita menjalani keseharian bersama teman. Namun, berpisah tetap begitu menyakitkan. Itulah sebabnya aku akan mencoba berhenti.” 

Sementara Soo Hyun mengemudikan mobilnya teringat dengan percakapan dengan ibunya.
“Soo Hyun. Beraninya kau terlibat dalam skandal semacam itu bersama pemuda seperti dia?”
“Pernahkah sikapku menyinggung seseorang? Sejak Ayah mulai berpolitik, aku bahkan tidak bisa menguap dengan nyaman. Begitu menikah dengan keluarga itu, aku harus berusaha tidak bernapas terlalu keras. Bahkan sekarang pun, aku masih...” ungkap Soo Hyun
Jin Hyuk terdiam dalam kamarnya mengingat yang dikatakan pada Soo Hyun dengan tegas “Perasaanku bukan karena penasaran. Membiarkan seseorang masuk ke hati kita... Aku yakin hal semacam itu berarti.” Lalu duduk menatap sepatu dan boneka diberikan oleh Soo Hyun.
Soo Hyun mengemudikan mobilnya sambil menangis, teringat kembali yang dikatakan Jin Hyuk kalau sudah memutuskan jadi Itulah sebabnya  berani bertindak. Soo Hyun menegaskan kalau tidak bercanda.
“Kau mengatakan yang ingin kukatakan. Aku harus berusaha jadi seseorang yang berarti bagimu... Itulah keputusanku.” Ucap Jin Hyuk saat di kedai teh. Soo Hyun mengingatnya bisa tersenyum.
“Sudah kubilang. Segalanya mudah jika kita tersenyum.” Tegas Jin Hyuk ketika ada didalam mobil.
Ketika di lobby, banyak orang yang meremehkan Soo Hyun karena takut dengan reputasi perusahaan ini yang menyukai pria muda. Joo Hyuk dan Soo Hyun  terlihat dalam keadaan galau dan kebingungan.
“Aku harus berusaha jadi seseorang yang berarti bagimu. Itulah keputusanku.” Ucap Jin Hyuk. Soo Hyun masih mengemudikan mobilnya. Jin Hyuk pun masih menatap sepatu heels dan boneka lalu pergi keluar rumah membawa jaketnya


Soo Hyun menatap lukisan yang sebelumnya dilihat oleh Jin Hyuk. Saat itu sebuah lampu menyinari matanya, Jin Hyun datang dengan sepada mengejek apakah bisa melihat lukisan dalam gelap. Soo Hyun kaget melihat Jin Hyuk datang juga.
“Kita bertemu lagi di bawah Jalan Tol Naebu. "'Where, in What Form, Shall We Meet Again?' oleh Kim Hwan Ki" Apa yang harus kita katakan soal alasan bertemu lagi?” ucap Jin Hyuk
“Kau memergokiku... Berada di sini selarut ini. Aku biasa pandai menahan diri, tapi di sinilah aku.” Ungkap Soo Hyun yang terlihat sedih
“Aku membaca ini di buku, Tertarik kepada seseorang adalah pertarungan antara kepastian dan keraguan menyukai seseorang. Kepastian dan keraguan itu bercampur seperti arus. Saat keraguan sirna dan hanya tersisa kepastian, saat itulah cinta dimulai.” Ucap Jin Hyuk. Soo Hyun memikirkan tentang Pertarungan...
“CEO Cha... Bagaimana jika kita meninggalkan perasaan kepastian dan keraguan ini untuk saling bertarung dan mencari tahu apakah kita saling menyukai? Bagaimana jika kita menganggap berada pada tahap sebelum berpacaran dan berjumpa lagi di sini?” ucap Jin Hyuk menatap Soo Hyun dengan memegang lenganya.
Soo Hyun terlihat ragu melihat Jin Hyuk memegang lenganya, lalu menyetujuinya unuk menganggap mereak pada tahap sebelum berpacaran. Jin Hyuk bisa tersenyum.
Akhirnya di lukisan seperti gambaran flash back perjalan pertemuan mereka di Cuba dan sebelum itu ternyata mereka sempat berpapasan. 




"Epilog"
Soo Hyun mengemudikan mobilnya sambil menangis menuju ke Yeouido, lalu tanpa sadar bensinya habis. Ia hanya bisa menangis tak tahu keberadanya karena hanya mengemudikan mobil tanpa tahu tujuan.
 “Aku pandai menahan diri... Aku pandai melakukannya.” Ucap Soo Hyun menyakinkan diri tapi tetap saja menangis.
Seorang pria mengetuk kaca jendela kalau  menelepon layanan pengisian bensin. Soo Hyun menghapus air matanya membenarkan.
Bersambung ke episode 6
Udah baca tulisan sinopsis aku 'kan.. hihihi... 
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe akhir tahun ini 

Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar