PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Sabtu, 08 Desember 2018

Sinopsis Encounter Episode 4 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN

 “Aku datang karena rindu. Aku ingin melihatmu. Itulah sebabnya aku datang.” Akui Jin Hyuk. Soo Hyun terdiam mendengar ucapan Jin Hyuk yang blak-blakan.
“Siapa saja, yang mengetahui ada seseorang yang merindukannya adalah hal menyenangkan. Tapi kau juga tahu itu hal yang sangat berbahaya untuk dikatakan, kan?JadiAku akan pura-pura tak dengar.” Kata Soo Hyun tak mengangap serius ucapan Jin Hyuk
“Bumi itu sangat besar dan luas. Ada banyak negara yang berbeda, dan dari semua negara itu, kita bertemu di negara dan kota yang sama. Kita menghabiskan satu hari bersama. Dan sesudah kembali, kita bahkan bertemu lagi sebagai karyawan dan atasan.” Ucap Jin Hyuk
“Lalu, kita juga menghabiskan hari yang singkat tapi menyenangkan bersama. Semua ini adalah takdir yang luar biasa.” Ungkap Jin Hyuk berusaha menyakinkan.
“Kim Jin Hyuk, kata-katamu membuatku tak nyaman. Tak nyaman rasanya mendengar, kau mengatakan bahwa kami menghabiskan satu hari bersama.” Komentar Soo Hyun
“Lalu bagaimana aku harus mengatakannya? Kita tak menghabiskannya sendirian.” Ucap Jin Hyuk. Soo Hyun mencoba mengatakan sesuatu tapi terlihat binggung.
“Coba Lihatlah? Kita menghabiskannya bersama.” Komentar Jin Hyuk. Soo Hyun tak ingin membahasnya mengajak mereka makan saja. Mereka berada di restoran Sup Beras Sokcho terlihat seperti pasangan.


Jin Hyuk menuruni tangga memastika kalau takkan memulangkan begitu saja. Soo Hyun tahu kalau Jin Hyuk lelah tapi tak akan menyarankan untuk beristirahat. Jin Hyuk pikir kalau mereka harus minum secangkir kopi karena menemukan kafe yang sangat bagus.
“Itu Sangat sempurna... Ayo pergi.” Ajak Jin Hyuk penuh semangat mengajak Soo Hyun pergi. 

Soo Hyun menunggu di pinggir pantai, Jin Hyuk datang membawa makanan dan juga kopi lalu melepaskan jaketnya agar Soo Hyun yang memakainya. Soo Hyun pikir tak perlu melakukanya. Jin Hyuk mengaku tak kedinginan sama sekali.
“CEO seperti penghangat bagiku.” Goda Jin Hyuk ingin Soo Hyun tetap hangat.  Keduanya duduk sambil meminum kopi, suasana terlihat canggung.
“Hei, Jin Hyuk...” kata Soo Hyun tapi melihat Jin Hyuk tertidur dengan tangan memegang kopi. Akhirnya Ia mengambil gelas dari tangan pegawainya, lalu tiba-tiba Jin Hyuk bersandar di bahu Soo Hyun.
“Aku tak punya teman saat masih kecil. Aku ingin bermain dengan mereka, tapi ibuku melarangnya. Jika aku dekat,maka aku harus menjauh lagi. Jadi, suatu waktu, Aku mulai berpikir sendiri itu semua tak berguna. Karena sangat menyakitkan menjauh dengan teman yang kusukai.” Cerita Soo Hyun
“Itu Aku lupakan sejenak... Bahagia rasanya, menghabiskan hari dengan seorang teman.Tapi hubungan yang menjauh dan kembali ke titik ketika hubungan tak berarti masih sangat menyakitkan. Karena itulah aku mencoba berhenti.” Ungkap Soo Hyun
Jin Hyuk akhirnya terbangun karena ada ponselnya bergetar dan tersadar kalau bersandar di bahu Soo Hyun lalu buru-buru meminta maaf karena sangat ngantuk. Ia buru-buru melihat ponselnya mengaku kalau hanya panggilan spam.
“Kepalamu pasti lebih besar dari yang terlihat. Apa Kau tak tahu wanita punya bahu yang halus?” goda Soo Hyun. Jin Hyuk hanya bisa terlihat malu lalu mengambil kopi daritangan Soo Hyun.
Keduanya minum kopi bersama dengan saling berpandangan seperti sangat bahagia dan tak memikirkan masalah yang akan terjadi. 



Woo Suk akhirnya memberikan hadiah pada bagian receptionist dan meminta agar memberikan note. Ia terlihat gugup dengan mencari keyword di ponselnya  [Apa yang harus dikatakan ketika tak ingin menekan seseorang dengan hadiah] tapi tak dapat menemukan hasil apa pun.
Akhirnya Woo Suk kembali ke mobil dan kaget melihat Soo Hyun naik truk dengan Jin Hyuk seperti bukan mantan istrinya. 

Jin Hyuk mengantar Soo Hyun turun dari mobil lalu memberikan bungkusan kalau membeli saat perjalanan pulang. Soo Hyun terlihat bingung, Jin Hyuk mengaku kalau ini kue beras kentang. Soo Hyun pun mengucapkan  Terima kasih.
“Ini Enak, kan? Senang rasanya sarapan dengan seorang teman daripada makan sendirian, kan?” goda Jin Hyuk
“Berkendaralah dengan aman.” Kata Soo Hyun. Woo Suk dalam mobil seperti benar-benar tak percaya melihat mantan istrinya jalan dengan pria yang lebih muda dari dirinya. 
Soo Hyun masuk kamarnya melihat hadiah dari Woo Suk bertuliskan note  [Aku membelinya saat perjalanan kesini.] lalu menatap bungkusan diberikan Jin Hyuk yang memang membelikan saat perjalan pulang. Ia akhirnya mengambil kue beras kentang walaupun terlihat sederhana, memakanya dengan senyuman bahagai. 

Jin Hyuk mengemudikan mobil pulang, Dae Chan menelp mengumpat marah pada Jin Hyuk yang sudah gila karena membuatnya harus naik kereta bawah tanah membawa dua karung bawang dan Orang-orang mengeluh tentang baunya karena truknya tak ada.
“Dan Juga, Jin Myung bilang dia akan bekerja di sini. Dimana dia? Kau ataupun adikmu siap-siap kupukul.” Ucap Dae Chan marah. Jin Hyuk hanya bisa tertawa lalu meminta maaf.
“Di mana kau? Apa Kau akan datang?” tanya Dae Chan marah 


Soo Hyun kembali bertemu dengan Ass Pelukis Jang agar memberitahu untuk meneleponny dan katakan kalau ia sedang menunggu di daerah itu. Woo Suk melihat Soo Hyun yang berusaha bertemu dengan Pelukis Jang, lalu menelp Seseorang ingin tahu keberadaan Pelukis Jang. 

Pelukis Jang bertemu dengan seorang wanita mengeluh karena meminta ingin bertemu. Si wanita mengaku hanya mengajak untuk minum-minum. Pelukis Jang berkomentar Berbaring rendah seperti ini melelahkan. Dan membuatnya membosankan juga.
“Kenapa kau bersembunyi?” goda Woo Suk masuk ruangan, Pelukis Jang terlihat marah seperti dijebak.
“Jangan marah padanya... Aku mengancamnya dengan galeri. “ kata Woo Suk
“Aku tak punya pilihan lain. Kau juga tahu itu. Ibumu adalah sponsorku.” Ucap Pelukis Jang. Woo Suk mengaku sudah tahu. 

“Ini akan membuat semuanya rumit. “ keluh Pelukis Jang
“Ibuku adalah sponsormu, dan CEO Cha Soo Hyun adalah fans beratmu. Aku meminta untuk memberitahumu betapa CEO memuja karyamu.” Ucap Woo Suk
“CEO Jung.. Aku memenangkan beberapa pujian saat menikah. Aku ingat itu satu-satunya pujian yang kuterima.” Ungkap Peluksi Jang tak percaya
“Kami pergi ke Spanyol bersama dalam perjalanan bisnis, dan dia bilang ingin pergi ke Portugal. Tapi dia ingin berkendara ke sana daripada naik pesawat. Rasanya tidak nyaman jika seorang sopir mengantar kami, jadi, dia bertanya apa bisa aku saja yang mengemudi.” Cerita Woo Suk
“Jadi Kami menyewa mobil dan berkendara ke barat tanpa akhir. Kami menghadapi terik matahari saat berkendara ke barat, disana udaranya panas, walaupun AC-nya pada setelan paling dingin. Kami berkendara selama sekitar enam jam dan aku bertanya kenapa  mengambil rute tersebut.” Cerita Woo Suk
“Kurasa CEO Cha ingin mengikuti langkah yang kau ambil untuk ke barat. Dia ingin melihat apa hamparan bunga matahari sungguh ada. Apa berkendara menuju arah matahari sungguh lebih panas daripada matahari? Akankah kami bisa mencium aroma bunga violet dari embusan angin di ujung barat benua tersebut?” ungkap Woo Suk ingin menyadarkan Pelukis Jang
“Dia membaca semua hal ini dari karyamu. Dia ingin melacak jejakmu. Sebesar itulah kekagumannya akan karyamu. Sokcho adalah kampung halamanmu, jadi, mungkin dia makin ingin karyamu di sini.” Kata Woo Suk. Pelukis Jang hanya bisa terdiam. 


Soo Hyun menunggu di ruangan menerima telp dari Peluksi Jang, Pelukisa Jang memberitahu Soo Hyun kalau bisa mengambil lukisannya, dengan syarat  tak akan menerima uang pembayaran. Soo Hyun ingin tahu alasanya.  Pelukis Jang mengatakan kalau Lukisan itu hanya hadiah untuk penggemar karena Soo Hyun sudah melakukan tur hingga jauh ke barat.
“Apa kau harus melakukan itu? Berhentilah melakukan hal seperti itu. Dahulu dia menantu Ibu.” Ucap Woo Suk bertemu ibunya.
“Persis seperti itulah maksudku. Dia pernah menjadi anggota keluarga ini. Tapi Berani sekali dia membuat rumor tanpa berpikir, Karena itulah aku menghukumnya.” Komentar Nyonya Kim
“Kita tak lagi berhak melakukan itu kepadanya. Bahkan saat dia menjadi keluarga kita pun, maka kita tak boleh memperlakukan dia seperti itu.” Tegas Woo Suk
“Jika dia menjadi bagian dari keluarga ini lagi, aku berniat bersikap baik kepadanya. Jangan khawatir.” Kata Nyonya Kim sinis
“Ibu... Aku dan Soo Hyun yang menentukan apa kami ingin kembali bersama.” Tegas Woo Suk
“Masalah ini melibatkan dua keluarga. Ayahnya yang tak tahu apa pun bahkan tak becus dalam bekerja... Ayah dan anak sama saja, jadi Ibu akan mengurus semuanya. Kau fokus saja pada Taegyeong.” Ucap Nyonya Kim sinis
“Soo Hyun bukan barang... Dia berhak untuk memilih jalan hidupnya sendiri.” Balas Woo Suk membela.
Nyonya Kim ingin tahu apa alasan Woo Suk menyia-nyiakan hidupnya. Woo Suk menegaskan kembali kalau mereka yang berhak menentukannya dan meminta ibunya agar Jangan lakukan apa pun dengan mengancam kalau Ini terakhir mengatakannya,apabila  Jika ibunya terus melakukan ini, maka akan menjalani hidupnya sendiri.
“Apa sebenarnya tujuan hidupmu?” tanya Nyonya Kim
“Setidaknya, aku tak akan hidup sebagai anggota keluarga Taegyeong.” Tegas Woo Suk. 




Jin Hyuk pulang ke warung siput meminta Dae Chan agar  membiarkan tidur sebentar di kamarnya karena tak bisa tidur di rumah. Dae Chan berteriak marah karena Jin Hyuk yang membawa mobilnya di malam hari dan bahkan tak menelepon.
“Apa Kau pikir ini penginapan?” teriak Dae Chan melihat Jin Hyuk masuk kamar dan tidur berpikir kalau temanya itu bersikap mencurigakan.
Jin Hyuk memejamkan mata saat menyentuh tempat tidur, lalu mengingat saat Soo Hyun mulai menceritakan hidupnya. Saat Jin Hyuk bersadar di bahu Soo Hyun sebenarnya ia membuka mata dan mendengarnya.
Flash Back
“Kulupakan sejenak... Bahagia rasanya, menghabiskan hari dengan seorang teman. Tapi hubungan yang menjauh dan kembali ke titik ketika hubungan tak berarti masih sangat menyakitkan. Karena itulah aku mencoba berhenti.”
“Aku mendengar setiap perkataanmu, Cha Soo Hyun” ucap Jin Hyuk dengan senyuman bahagia. 

Hye In datang, Jin Myung tersenyum bahagia melihat teman kakaknya. Dae Chan mengeluh kalau cafenya dianggap seperti ruang santaikarena mereka seperti meremehkannya. Hye In heran melihat sikap sinis Jin Myung bertanya apakah Sesuatu terjadi
“Jin Hyuk menggedor pagarku di tengah malam” cerita Jin Myung
“dan Dia meminta untuk membawa trukku... Jin Myung adalah pegawai yang bekerja semaunya. Aku makin menua karena mereka.” Keluh Dae Chan marah
“Apa Jin Hyuk meminta trukmu di malam hari? Kenapa?” kata Hye In kaget. Dae Chan juga tak tahu kemana Jin Hyuk pergi.
“Itu mencurigakan. Jika pria bertindak mendadak seperti itu di malam hari, kemungkinannya hanya masalah orang tua atau wanita.”ucap Dae Chan
“Tidak terjadi apa pun dengan Ibu dan Ayah.” Kata Jin Myung, Dae Chan menduga itu masalah wanita.
“Jika untuk wanita, seharusnya dia tak membawa truk itu. Seharusnya dia menyewa mobil yang bagus.” Komentar Jin Myung
“Apa salahnya dengan trukku?” keluh Dae Chan. Jin Myung pikir  Itu sama sekali tak romantis.
“Romantis? Kau bicara tak masuk akal. Itu hanya untuk pamer.” Ejek Dae Chan. Hye In ingin tahu keberadann Jin Hyuk sekarang.
“Dia tidur nyenyak di dalam kamar, “ kata Dae Chan. Hye In gugup melihat Jin Hyuk yang tertidur lelap seperti menduga sesuatu tentang temanya. 



Soo Hyun dalam kamar mengingat kembali yang dikatakan oleh Jin Hyuk  “Aku datang karena rindu. Aku ingin melihatmu. Karena itulah aku datang.”  Lalu segera menelp Sek Jang karena butuh bantuan.

Sek Jang mengirim bertemu dengan Woo Suk, kalau Soo Hyun  harus mengembalikannya kepada Woo Suk secara pribadi, tapi terlambat. Woo Suk tahu kalau Sebentar lagi Woo Suk berulang tahun, dan berpikir kalau tak berlebihan jika mantan suaminya memberikan hadiah.
“Mungkin dia tak nyaman kau jauh-jauh datang ke Sokcho.” Kata Sek Jang
“Jadi, apa kau sendiri yang mengantarnya ke sini? Kau punya banyak tugas sebagai sekretaris.” Komentar Soo Hyun
“Anggap saja aku datang sebagai teman.” Ucap Sek Jang
“Kalau kau temannya, berikan dia saran. Keadaan cukup berisik karena semua gosip itu. Kurasa dia harus lebih berhati-hati.” Ucap Woo Suk. Soo Sek Jang terlihat gugup

Sek Jang bertemu dengan Soo Hyun ingin tahu pendapatnya karena Woo Suk mengatakan kalau bosnya itu harus lebih berhati-hati. Ia menduga Soo Hyun bertemu dengan Jin Hyuk lagi.  Soo Hyun pikir Sek Jang tak perlu cemas.
“Aku tak mengerti dengan duniamu, tapi Apa kau tak merasa insiden gambar Pelukis Jang adalah peringatan? Kau tahu sedang berurusan dengan orang seperti apa.” Kata Sek Jung
“Meski tak terjadi apa pun, apa menurutmu mereka akan pua dan tak mengusikku?” komentar Soo Hyun santai. Sek Jang tak berkata-kata

Jin Hyuk melhat Hye In berjalan dilorong lalu menyengolnya dengan sipan bertanya Mau ke mana seniornya itu. Hye In kaget melihat Jin Hyuk tiba-tiba sudah ada disampingnya, Jin Hyuk mendengar Hye In datang ke toko Dae Chan kemarin.
“Kau benar-benar tidur nyenyak. Kenapa tak tidur di rumahmu?” keluh Hye In. Jin Hyuk menjawab Ada alasan tertentu.
“Alasan apa? Apa kau punya pekerjaan paruh waktu?” sindir Hye In
“Untuk apa bekerja paruh waktu kalau punya pekerjaan hebat ini?” kata Jin Hyuk
“ Apa Kau senang bekerja denganku?”tanya Hye In, Jin Hyuk dengan polos menjawab tidak. Hye In kesal memilih untuk pergi. Jin Hyuk pun mengejarnya. 

Tuan Park di ruangan memberitahu dengan penuh semangat kalau sebentar lagi CEO Cha berulang tahun dan mengusulkan untuk memberi ucapan selamat di buletin kantor. Sun Joo mengingatkan kalau CEO Han tak menyukai itu.
“Semua orang kaya mendapat kado mewah saat ulang tahun, kan?” ucap Tuan Park. Sun Joo menegaskan kalau CEO Han juga tak menyukai itu.

“Aku tahu kau akrab dengannya, tapi siapa tahu? Dia mungkin suka hadiah mewah.” Kata Tuan Park
“CEO Cha sendiri adalah orang yang mewah. Berhentilah bicara tak masuk akal.” Kata Sun Joo. Tuan Park akhirnya tak bisa berkata-kata lagi hanya bisa memuji Sun Joo tampak luar biasa


“Jangan sampai terjebak. Dia serius soal pekerjaan.  Kalau kau melakukan kesalahan, maka dia akan membuatmu menyesal, CEO Cha sendiri yang merekrutnya. Kau bisa menganggapnya anggota asli.” Tegas Tuan Park di pantry.  Jin Hyuk seperti terkesima
“Tuan Park , apa kita akan adakan acara untuk ulang tahun CEO Cha?” tanya Jin Hyuk.
“Kau tak dengar ucapan Sun Joo? Dia tak suka hal semacam itu.” Ucap Tuan Park kesal
“Tapi kenapa kau ingat ulang tahun CEO Cha?” tanya Jin Hyuk. Tuan Park mengaku  Karena hari ulang tahun mereka sama.
“Tahun ini jatuh pada hari Sabtu. Jangan berikan kado untukku.” Kata Tuan Park memberikan minum.  Jin Hyuk tak bisa menolaknya
“Karena jatuhnya hari Sabtu, kau boleh beri aku kado hari Jumat, tapi jangan, aku tak suka itu... Aku tak memakai kosmetik pria... Aku memakai kosmetik ibuku karena kulitku sensitif... Kulitku kering.” Ucap Tuan Park memberikan kode. 



Sek Jang berteriak memanggil Sopir Nam, Sopir Nam berusaha untuk kabur berpura-pura tak melihat. Sek Jang bisa menghadangnya, Supir Nam pun menyapa Sek Jang seolah-olah tak terjadi apapun.
“Kau harus beri tahu yang sebenarnya karena aku sudah tahu.” Ucap Sek Jang. Tuan Nam pikir tak bisa berkata apa-apa.
“Ada urusan apa dengan Kim Jin Hyuk?” tanya Sek Jang. Tuan Nam mengaku mereka sedang mengobrol...
“dan dia ada urusan di Sokcho juga, jadi aku memberinya tumpangan.” Ucap Tuan Nam. Sek Jang kaget mereka pergi bersama ke Sokcho
“Kupikir kau sudah tahu.” Komentar Supir Nam. Sek Jang tak percaya dengan yang dilakukan Supir Nam.
“Kau tahu seperti apa situasi Soo Hyun sekarang. Bagaimana kalau ada yang memotretnya lagi? Bagaimana itu kalau sudah terjadi?” kata Sek Jang panik dan marah
“Aigoo, kami selalu berada di hotel. Siapa yang mau memotret kalau aku bersamanya?” keluh Tuan Nam
“Mungkin ada rumor bahwa dia putramu.” Kata Sek Jang. Tuan Nam yakin  Tak ada rumor apa pun jadi meminta agar jangan cemas. Sek Jang panik karena Mungkin saja terjadi hal buruk.
“Jujur saja, aku malah berharap sesuatu terjadi. Coba kau Lihat saja wajah Soo Hyun. Ekspresi wajahnya lebih polos dibandingkan boneka.Hotel yang dikelolanya ini, apa artinya? Dia harus bahagia lebih dahulu. Lebih baik dia berhenti dan berternak dengan pria yang dicintainya.” Kata  Tuan Nam.
Sek Jang kesal merasa Tuan Nam memang berbahaya. Tuan Nam pun ikut marah. Sek Jang seperti tak peduli dengan Sikap Tuan Nam malah yang akan membuat masalah. Tuan Nam menceritakan kalau Soo Hyun tersenyum bahagia.
“Aku belum pernah melihat dia tertawa seperti itu sejak SMP.” Ungkap Tuan Nam
“Kalau orang yang dikencani Soo Hyun mirip seperti seseorang dari Taegyeong, aku akan turun tangan membantunya, tapi dia hanya pekerja baru dan tak cukup baik untuknya.” Tegas Sek Jang
“Kalau kau terus bersikap pemilih, maka kau tak akan menikah.” Ejek Tuan Nam. Sek Jang terlihat marah 




 Soo Hyun bertemu dengan pelukis Jang dalam galeri. Sek Jang tahu Soo Hyun pasti kesulitan datang jauh-jauh ke Sokcho dan ingin tahu alasan tak menerima lukisannya. Sooo Hyun mengaku  tak bisa menerimanya karena ada maksud di baliknya.
“Kau bahkan tak begitu menginginkannya, tapi selama ini kau terus menekanku?” ucap Pelukis Jang
“Aku sangat menginginkannya. Karena itulah waktuku di Sokcho tak sia-sia. Sama seperti keinginan yang kurasakan, aku hanya akan memikul beban berat kalau menerimanya.” Kata Soo Hyun
“Ada orang yang tak bisa kau kalahkan. Sekeras apa pun kau melawan orang yang tak bisa kau kalahkan, Kau hanya akan menghabiskan tenaga.” Ucap Pelukis Jang. Soo Hyun mengucapkan terimakasi atas sarannya.

Berita di TV sedang membahas  berita terpanas pekan ini yang terkait mantan istri Jung Woo Suk, Cha Soo Hyun. Joo Myung melihat gambar wajah yang di blur berkomentar kalau pria itu memakai kardigan yang sama dan terlibat skandal cinta tak terduga. Ibunya pun sadar kalau bajunya sama.
“Ibu yang memilih baju itu untuknya. Jadi Selera ibu memang bagus. Dengan selera mode ini, seharusnya ibu tak berjualan buah. Benarkan, sayang?” ucap Ibu Jin Hyuk meminta persetujuan suaminya. Tapi Tuan Kim hanya diam sambil makan buah.
“Apa Hyung pernah bertemu dengan CEO perusahaanmu?” tanya Jin Myung manja bersandar di bahu kakaknya. Jin Hyuk mengaku pernah bertemu  di kantor.
“Bagaimana? Apa dia cantik?” tanya Jin Myung. Jin Hyuk langsung mengagguk dengan cepat.
“Dia benar-benar cepat menjawabnya, Pasti dia sangat cantik.” Kata Jin Myung bangga. Ibu Jin Hyuk pikir itu tak peduli.
“Ibu kasihan padanya. Memang kenapa kalau dia kaya? Pasti melelahkan sekali untuknya. Wanita harus hidup berbahagia dengan suaminya dan anak-anaknya layaknya orang biasa. Ketenaran tak ada gunanya, benarkan sayang?” ucap Ibu Jin Hyuk pada suaminya. Tuan Kim tetap diam.
“Zaman sekarang siapa yang berpikir seperti itu, Ibu? Dia berbakat dan penuh karisma.” Kata Jin Hyuk. Jin Myung pikir Ibu mencemaskan hal yang tak perlu.
“Tidak perlu mencemaskan selebritas dan orang kaya. Aku rela melakukan apa pun demi mengencani wanita seperti itu.” Kata Jin Myung bersender pada kakaknya.
“Tidak. Ibu tak suka wanita kompete atau yang punya sejarah sedih. Benar kan sayang?” kata Ibu  Jin Hyuk, suaminya tetap tak menjawab.
“Tapi orang itu tampak tak asing. Dia mirip...” ucap Jin Myung berpikir, Jin Hyuk panik takut kalau ketahuan itu dirinya. Jin Myung langsung menduga kalau itu adalah Dae Chan. Tuan Kim membenarkan.
“Jadi, kau tahu caranya menjawab pertanyaan... Kau tak menjawabku sama sekali.” keluh ibu Jin Hyuk kesal dengan suaminya. 



Tuan Nam ingin membawakan barang Sun Joo karena terlihat berat. Sun Joo menolak, lalu berkomentar Tuan akan pindah karena selalu melihat  di kantor dan lingkungan dekat sini. Tuan Nam mengeluh kalau Sun Joo yang pindah sesudahnya.
“Kau tahu suamiku yang memilih lingkungan ini.. Sebenarnya area ini kenapa? Benar, kan? Ada energi negatif di sini. Mungkin karena itulah suamiku berselingkuh.” Ucap Sun Joo
“Apa hasilnya sudah ada?” tanya Tuan Nam. Sun Joo mengaku belum.
“Lalu kenapa kau sudah berpikir seperti itu? Kau selalu saja bersikap konyol.” Komentar Tuan  Nam
“Kau tahu firasatku tajam. Saat baru masuk kuliah, ketika kakakku meninggal. Aku merasa ada yang aneh, lalu aku minta kau mencarinya sambil menangis. Apa Kau ingat?” kata Sun Joo. Tuan Nam kesal Sun Joo yang  membahas soal itu.
“Oppa, bagaimana kalau dugaan itu benar?” kata Sun Joo khawatir.
“Kalau ternyata benar, akan kuhabisi suamimu.” Ucap Tuan Nam geram
“Jangan lakukan itu. Bagaimana aku hidup tanpa suamiku padahal aku tak punya kakak lagi?” tegas Sun Joo lalu mengomel karena Tuan Nam yang tak membantu barangnya karena berat. 


Nyonya Kim menerima foto-foto saat Soo Hyun pergi dengan Jin Hyuk dengan truk seperti seorang paparazi yang mengikuti seorang artis dan berkomentar kalau mantan menantunya itu sangat menikmatinya, lalu melihat Jin Hyuk foto bersama Hye In.
“Ini siapa? Apa ini Pacarnya?” tanya Nyonya Kim. Sek pikir bukan dan memberitahu kalau Hye In pegawai di Donghwa Hotel dan teman lamanya. Tuan Kim seperti berusaha untuk merencanakan sesuatu. 

Jin Hyuk pergi ke mall, pergi ke bagian kosmetik dan melihat sebuah lipstik. Esok pagi, Tuan Park duduk cemberut di meja kerjanya, Eun Ji mengingatkan Tuan Park agar Jangan lupa matikan lampu sebelum pulang, semua sudah siap-siap untuk pulang.Jin Hyuk tiba-tiba memberika sebuah hadiah untuk Tuan Park diatas meja. Wajah Tuan Park terlihat bahagia.
“Kenapa tak berikan dari tadi? Aku seharian khawatir menunggunya!” ungkap Tuan Park merasa terharu
“Akan lebih bagus jika kau tak menantikannya.” Ejek Eun Ji
“Kenapa kau bisa tahu aku berulang tahun? Bagaimana bisa kau tahu kulitku sensitif?” komentar Tuan Park ingin menganggap seperti kejutan.
“Selamat ulang tahun dan selamat malam.” Kata Jin Hyuk. Tuan Park pun menganggap Jin Hyuk layaknya pacar dan akan mentratirnya makan malam. 

Jin Hyuk dan  Sun Joo menunggu bus di halte. Sun Joo membahas Tuan Park itu lucu. Jin Hyuk membenarkan menurutnya suasana kantor menjadi ceria karena Tuan Park. Sun Joo pikir Tuan Park itu  kekanak-kanakan. Sun Joo lalu melihat telpnya tapi tak mengenal nomornya dan akhirnya mengangkat telpnya.
“Apa Bisa kita bertemu sebentar?” tanya suara seorang pria. Sun Joo bertanya siapa yang menelpnya.
“Ini soal Kim Jin Hyuk.” Kata Si pria. Sun Joo langsung menutup telpnya memutuskan akan naik kereta bawah tanah saja.
“Tapi ini rute bus ke rumahmu.” Ucap Jin Hyuk binggung karena bus yang datang ke arah rumah Sun Joo.
“Benar, tapi aku ingin mampir ke tempat lain dahulu” kata Sun Joo lalu pamit pergi. 

Soo Hyum mengemudikan mobilnya melihat Jin Hyuk duduk sendirian duduk di halte, lalu seperti tatapanya melamun tak sadar akan menabrak mobil di depanya dan akhirnya mengerem mendadak. Mobil dibelakangnya pun menabrak dari belakang.
“Kenapa mengerem mendadak?” keluh Paman yang berada di mobil belakang. Soo Hyun turun dari mobil meminta maaf. Saat itu Jin Hyuk melihatnya langsung menghampiri
“Maafkan aku juga.” Kata Jin Hyuk. Si pria ingin tahu siapa pria itu. Jin Hyuk mengaku sebagai rekan kerja Soo Hyun.  Jin Hyuk memastika keadaan Soo Hyuk lebih dulu.
“Terlalu gelap untuk menilai kerusakannya.” Ucap Si Pria. Jin Hyuk menanyaka cara mereka akan membagi biaya perbaikannya
“Kita hubungi asuransi saja.” Kata Si pria. Jin Hyuk tahu si pria  pasti terkejut karena Soo Hyun yang mengerem mendadak.
“Biar kami ganti biayanya.” Kata Jin Hyuk, Si pria pikir mereka  tak tepati janji jadi lebih baik menghubungi asuransi saja.
“Tidak, biar kami ganti kerusakannya... Aku sangat menyesal. Tolong hubungi aku sesudah memperkirakan biayanya.” Ucap Jin Hyuk memberikan kartu namanya
“Aku lihat kau bekerja di kantor yang bagus. Kalau begitu, biar aku foto kerusakannya dahulu.” Kata si pria.
**
Bersambung ke part 2
Udah baca tulisan sinopsis aku 'kan.. hihihi... 
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe akhir tahun ini 

Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



1 komentar: