PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 14 April 2017

Sinopsis Radiant Office Episode 7 Part 2

PS : All images credit and content copyright : MBC

Kang Ho pikir Posisi permanen mungkin tidak penting bagi Ho Won tapi  situasinya berbeda dengan dirinya. Ia  harus mendapatkan posisi itu. Ki taek benar-benar tak percaya dengan ucapan Kang Ho yan mau saja mengambil tanggung jawab.
“Kau dan Ho Won ada di tim pemasaran. Apa kalian tahu rasanya dimarahi Manager Park tiap pagi? Jika kau membuat si Pembungkuk marah, aku yang susah. Akulah yang harus menderita kalau kau membuat Manager Park kesal.” Cerita Kang Ho
“Jadi maksudmu kita harus melaksanakan perintah yang tidak adil ini?” ucap Ho Won dan  bertanya kemana mereka harus menjual furniture itu.
“Ini tidak akan mempengaruhimu walau kau tidak bersedia melakukannya, tapi tidak bagiku!” teriak Kang Ho marah. 

Manager membawakan dua kotak makanan untuk Ho Won dan Ki Taek, lalu memberitahu kalau salah satu temanya ingin kembali dengan istrinya dan akan menikah lagi jadi menyarankan untuk  membeli perabotan dari perusahaan mereka dan bertanya berapa target penjualannya.
“30 juta won... Itu target kami.” Ucap Ho Won, Manager langsung mengumpat perusahan yang mata duitan, akhirnya memutuskan mereka tak perlu membayar makan siangnya itu. Ho Won terlihat benar-benar pusing memikirkan nasibnya sekarang. 

Dokter Seo makan bersama dengan Woo Jin mengaku tak bisa makan kalau Woo Jin mentraktirnya karena kontribusi sosial. Woo Jin pikir Dokter Seo sudah menangani semua masalah waktu itu karena mereka mengalami kecelakaan jadi tentu saja harus mentraktir dan meminta maaf karena harus terlambat.
“Bagi kebanyakan pria, minum memang lebih baik dari makan. Bagaimana kalau dalam waktu dekat ini kita minum-minum?” ucap Dokter Seo, Woo Jin pun setuju.
“Oh ya, aku sudah baca buku yang kau tulis. Ketiga pasien dalam bukumu itu... Apa mereka karyawan sementara kami? Isinya mereka bertiga dilarikan ke UGD.” Kata Woo Jin memulai pembicaraan. Dokter Seo membenarkan menurutnya itu seperti  Kebetulan yang menarik.
“Apa kau harus menuliskannya?” ucap Woo Jin merasa Dokter Seo tak perlu menuliskanya
“Aku ingin menulis sebuah buku setelah keluar dari UGD dan sudah merencanakannya. Lalu aku kebetulan bertemu mereka bertiga lagi secara tak sengaja” cerita Dokter Seo, Woo Jin berkomentar kalau memang  Kebetulan yang hebat sekali.
“Bagaimana bisa mereka bertiga akhirnya bergabung di perusahaan yang sama  pada waktu yang sama? Walaupun hanya posisi karyawan sementara... Kebetulan yang sulit dipercaya memang terjadi sepanjang waktu. Aku pribadi, tidak percaya adanya kebetulan. Di setiap kebetulan, tersembunyi maksud dan keinginan seseorang.” Kata Woo Jin penuh arti.
Woo Jin pun memberikan contoh adalah  maksud tersembunyi dari putra ketua. Dokter Seo kaget ternyata Woo Jin bisa mengetahui identitasnya lalu memujinya kalau memang orang yang pintar padahal ayahnya pikir  cukup baik menyembunyikan identitasnya dan meminta Woo Jin agar jangan salah paham.
“Kalau aku, aku takkan menganggapnya sebagai maksud tersembunyi. Mungkin lebih tepatnya perasaan belas kasih. Aku ingin memberikan kesempatan pada mereka yang putus asa menjalani hidup.”ungkap Dokter Seo.
“Jadi rupanya kau mengakui kalau ketiga orang itu diterima kerja karena perintahmu.” Sindir Woo Jin
“Apa salah orang kaya dan berkuasa memberikan belas kasihan? Aku hanya memberi mereka kesempatan. Dan Kau punya hak penuh memecat mereka jika kau mau Jadi Keputusannya terserah kau.” Kata Dokter Seo
“Apa menurutmu mereka akan berterima kasih jika mereka tahu soal ini? Apa Eun Ho Won sudah tahu?” ucap Woo Jin, Dokter Seo pikir kalau Ho Won tahu apakah ada yang berubah dengan nada sinis.
“Itu bukan keputusanmu. Kenapa kau jadi kesal seperti ini?” balas Woo Jin
“Apa kau risih karena orang yang kuat sepertiku lebih maju dan bisa menjalankan kekuasaannya Atau karena kau iri tidak punya kekuasaan seperti itu? Kalau karena kau risih saja..., pecat saja mereka bertiga. Kalau kau iri tidak punya kekuasaan, kau harus bekerja untuk mendapatkan kekuasaan itu. Aku bisa membantumu, kalau kau mau.” Ucap Dokter Seo memberikan nasehat. 



Tuan Heo menanyakan pendapat Woo Jin tentang Dokter Seo. Woo Jin melihat Dokter Seo sangat berbeda dari Ketua Seo karena orangnya tenang sekali, Tapi mereka harus mengetahui lebih lanjut soal apa rencana  sebenarnya. Tuan Heo mengangguk mengerti. 

Woo Jin membahas  tentang  Mengamati pemotretan sampel produk... akan membantu Ho Won memahami karakteristik masing-masing produk. Ho Won hanya terdiam sambil menatap keluar jendela mobil. Woo Jin bertanya apa yang sedang pikirkan, Ho Won mengelengkan kepala.
“Apa ada yang membuatmu tak nyaman? Kau sepertinya kurang fokus juga saat rapat.” Ucap Woo Jin
“Manager Seo... Penjualan kita...” ucap Ho Won tapi akhirnya mengurungkan niat untuk membahasnya dan bertanya tentang tim desain, apakah akan datang. Woo Jin mengangguk.
Ho Won pun meminta izin agar bisa menyalakan radio, terdengar bunyi girl band wanita. Woo Jin mengeluh Hanya ada musik seperti itu di radio. Ho Won lalu melihat kalau yang ditekan bukan radio. Woo Jin pun hanya bisa diam. 

Ho Won terlihat bahagia dalam studio pemotretan, beberapa pekerja mengangkat furniture meminta Ho Won sedikit bergeser. Woo Jin melihatnya meminta agar Ho Won Jangan halangi jalan, karena akan mengganggu pekerjaan mereka. Ho Won mengerti dan akan melihat sample karena Ji Na meminta agar memotretnya. Woo Jin pun menyuruh Ho Won segera melakukanya dan melihat dari kejauhan seperti merasa seseuatu.

Ho Won sedang berjalan-jalan lalu mendengar dua orang sedang mengosiipkan dirinya kalau sedang berkencan dengan karyawan sementara dari tim penjualan. Satu pegawai mengeluh Woo Jin yang mau berkencan  dengan pegawai pekerja kontrak dan yakin Pekerja kontrak itu mungkin punya maksud tersembunyi dan menggoda Manager Seo atau mungkin dua-duanya punya maksud tersembunyi. Woo Jin hanya diam melihat keduanya yang bergegas pergi untuk minum kopi. 

Ho Won datang memberitahu Woo Jin kalau pemotretannya sebentar lagi mulai. Pemotretan pun dimulai, Ho Won mencatat semuanya dan Woo Jin bersama tim lainya. Fotographer meminta agar menganti bunga yang ada diatas meja, setelah itu meminta agar meganti set dindingnya.
Tiba-tiba Ho Won yang berdiri di belakang set harus tertimpa set, semua terlihat panik. Ho Won keluar dari balik meja mengaku baik-baik saja dan meminta maaf. Woo Jin langsung memarahi Ho Won yang tidak  Fokus bekerja.
Ho Won binggung meminta maaf dan mengaku kalau keadaan baik-biak saja. Woo Jin dengan ketus kalau tak ada yang menanyakannya dengan terus memarahi Ho Won yang berdiri dibelakang set. 

Tuan Heo melihat Woo Jin kembali ke kantor bertanya  Apa tadi lancar pemotretannya. Woo Jin memberitahu kalau Eun Ho Won langsung pulang tadi dan bergegas masuk ke dalam ruangan. Tuan Heo pikir ada masalah tadi selama pemotretan.
Ki Taek mengusulkan untuk menelp Ho Won, Ji Na dengan nada sinis menyuruh tak perlu menelpnya. Ki Taek terlihat sangat khawatir berpikir kalau Ho Won kembali di marahi oleh Woo Jin.
Dalam ruangan, Woo Jin masih mengingat percakapan dua karyawan yang mengosip kalau Ho Won itu menggodanya dengan maksud tersembunyi dan keduanya pasti punya tujuan tersembunyi.

Ho Won duduk di  halte sambil mengeluh dengan sikap Woo Jin yang marahinya seperti mempermalukannya di depan semua orang dan mengumpat Managernya itu sangat jahat, tapi ia pikir kalau itumemang kesalahanya.
Dokter Seo tiba-tiba lewat dengan mobil memanggil Ho Won, menyuruhnya masuk agar bisa mengantarnya. Ho Won pun tak menolak masuk ke dalam mobil. Dokter Seo bertanya kemana harus mengantarnya, Ho Won mengaku lapar. Keduanya pun sudah ada di restoran toppoki. 

“Ini pedasnya level satu, dua, tiga, empat” ucap pelayan membawa empat piring toppiki yang berbeda.
“Makanlah. Ini cara terbaik buat menghilangkan stres. Kau bisa cerita padaku kalau mulai mengalami stres level satu. Kalau kau makan ini, nanti bisa menangis keras-keras dan melupakan segalanya.”jelas Ho Won
“Aku takut, karena aku tidak bisa makan makanan pedas.” Kata Dokter Seo khawatir dan menyuruh Ho Won makan lebih dulu. Ho Won pun mulai makan dari level satu dan bercerita.
“Belakangan ini...,aku stres sekali di tempat kerja karena hasil penjualan. Semua orang bekerja di bawah tekanan.” Cerita Ho Won, Dokter Seo pun ikut mulai makan.
“Aku juga. Aku ikut kencan buta, tapi aku ditolak.” Cerita Dokter Seo, Ho Won kaget kalau ada yang menolak Dokter Seo.

“Aku tak tahu siapa wanita kencanmu itu...,tapi dia pasti akan menyesalinya.” Komentar Ho Won, Dokter Seo pun berharap seperti itu. Ho Won lalu makan toppoki level 2
“Aku bicara kasar sama ibuku. Padahal aku tidak serius mengatakannya. Aku harus minta maaf padanya.” Kata Ho Won, Dokter Seo ikut makan dan merasakan sangat pedas.
“Aku harusnya jadi dokter dengan rasa kewajiban. Tapi Belakangan ini, aku tidak suka melihat pasien.” Cerita Dokter Seo sambil merasakan kalau sangat pedas.
“Dr. Seo..Bagi orang sakit...,tidak ada orang lain yang bisa mereka andalkan selain dokter. Itulah yang dikatakan keluargaku waktu ayahku sakit. Kau tidak boleh berhati dingin dan mengabaikan mereka.” Saran Ho Won, Dokter Seo bertanya stress level tiga untuk Ho Won. Ho Won mulai makan
“Manager Seo marah sekali padaku hari ini. Kenapa aku selalu melakukan kesalahan terus?” keluh Ho Won

“Kau pasti sangat membencinya.” Kata Dokter Seo, Ho Won mengelengkan kepala.
“Lidah dia memang tajam...,tapi aku tidak membencinya.” Ucap Ho Won dan bertanya stres Dokter Seo yang level tiga.
“Stres level tiga-ku...ayahku.” ucap Dokter Seo dan merasakan makin pedas toppoki yang ada  di mulutnya.
“Apa Dokter juga bertengkar dengan ayahmu? Kupikir dia selalu memujimu.” Ungkap Ho Won
“Kalau kami sedang bersama..., maka kami seperti orang yang sedang bertengkar. Dia tidak senang denganku.” Cerita Dokter Seo
Ho Won piki tak seperti itu, karena menurutnya Semua ayah memang tidak pandai mengungkapkan perasaan mereka dan ayahnya juga seperti itu. Ia bercerita ketika ayahnya masih hidup selalu marah Tapi setelah ayahnya menginggal  menemukan buku tabungan di bawah bantalnya, yang ternyata menabung uang untuk biaya kuliah jadi ia bisa kuliah.

“Ayahmu di atas sana pasti sekarang merasa kalau dia layak menabung uang itu karena kau berubah jadi anak yang berguna. Lalu , apa stres level empat-mu?” tanya Dokter Seo, Ho Won pun mulai makan toppoki pedas level empat.
“Aku sedih karena hariku menjalani hidup semakin sedikit.”Cerita Ho Won. Dokter Seo tersenyum karena Semua orang juga pasti berpikir begitu.
“Tapi, aku...anehnya merasa sangat sedih. Entah kenapa begitu.” Kata Ho Won kepedesan lalu menanyakan tingkat stress level Dokter Seo.
“Stres level empat-ku......rahasia.” ucap Dokter Seo, Ho Won mengeluh kalau seharusnya merahasiakan stresny juga tadi sambil merasakan pedas dimulutnya.
Tapi Ho Won merasa kalau makan makanan pedas mengurangi stres, menurutnya Tteokbokki ini ternyata lebih ampuh menghilangkan stres daripada minta bantuan dokter. Dokter Seo menyuruh Ho Won agar habiskan semuanya dan menghilangkan stres yang ada dipikiran. Ho Won menola menyuruhnya Dokter Seo yang harus menghabiskan karena yang lebih banyak stres.

Suk Kyung mengaku kalau hanya sendiran karena anggota timnya yang lain sedang ke toko dan melihat kalau Ternyata tim pemasaran juga, lalu bertanya apakah Ji Na belum mau pulang. Ji Na mengaku baru mau pulang dan agak lelah.
“Ini pasti karena efek samping dari kecelakaan. Pergelangan tanganku juga masih sakit. Apa mau kuantar?” ucap Suk Kyung, Ji Na menolak karena tak serah jadi naik taksi saja.
“Atau, kenapa tidak Do Ki Taek saja yang mengantarmu?” ucap Suk Kyung, Ki Taek pun tak menolak 

Didepan gedung
Ji Na memberitahu kalau ia akan naik taksi saja. Ki Taek pun pamit pergi dan berpesan agar Hati-hati di jalan. Ji Na kesal karena Ki Taek benar-benar tak mau mengantarnya. Ki Taek pikir  Ji Na bisa pulang sendiri dan akan pami pergi.
“Oppa....Kerja tetap kerja.. Ini tidak ada hubungannya dengan hubungan kami. Jangan bawa-bawa urusan pribadi di tempat kerja. Sepertinya kau salah paham. Tidak ada yang terjadi antara aku dan Oh Jae Min. Jangan berpikir seperti itu.” Jelas Ji Na
“Aku tak ada perasaan lagi terhadapmu. Aku tidak peduli apa yang terjadi di antara kalian berdua. Jadi... jangan berusaha keras buat menjelaskannya padaku. Aku ada janji penting dan harus pergi sekarang.” Ucap Ki Taek lalu bergegas pergi. Ji Na benar-benar tak percaya melihat sikap Ki Taek yang acuh
Ki Taek menelp Hyung Soo, memberitahu Perabotan perusahaan tempatnya berkeraja sangat bagus. Pasti sempurna untuk kantornya, Lalu terlihat bahagia, walaupun hanya 1 orang yang mau memesan  dari 100 orang yang dihubungi.


Saat berjalan Ki Taek melihat Nenek yang sedang mengorek sampah dan langsung menjauhnya. Si Nenek melihat Ki Taek seperti pacarnya dengan memanggilnya “Oppa” yang harus berpisah karena perang. Ki Taek juga merasa sedang dalam suasana perang dan memberitahu kalau Nenek itu salah orang. Tapi si Nenek yang stress malah memeluknya.
Keduanya akhirnya duduk di taman, Si Nenek memberikan sepotong roti untuk Ki Taek,  Ki Taek mengaku jadi ingat mendiang neneknya dan akan memakanya tapi meminta si nenek agar tak bersikap aneh. Saat memakan roti merasakan rotinya sudah basi dan buru-buru pamit pergi karena  ada urusan.
Si nenek langsung marah berpikir Ki Taek yang menemui selingkuhannya itu lagi, bahkan langsung menjatuhkan kacamatanya. Ki Taek panik mencarinya dan merasakan ponselnya bergetar dengan meminta maaf pada Hyuk Soo, kalau sebentar lagi sampai. Hyung Soo langsung mengomel kalu sudah susah payah mengatur jadwal pertemuan dengan managernya, tapi Ki Taek datang terlambat dan langsung menutup telpnya. 

Pagi Hari
Kang Hoo mendekati Ki Taek bertanya apakah sudah berhasil menjual barang. Ki Taek dengan kesal menceritakan Kemarin, amalah makan kue beras basi dan diare semalaman, bahkan bertemu dengan pacar zaman dahulunya jadi tidak berhasil menjual apapun.
“Dan mungkin tagihan operator ponselku 1,5 juta won bulan ini.” Ucap Kang Ho karena lebih banyak mengunakan ponselnya. Kang Ho pun memikirkan nasib mereka yang belum bisa menjual barang. 

Kang Ho pergi ke atap membuang kertas dan duduk dengan wajah frustasi. Ho Won datang melihat kertas yang dibuang Kang Ho dan menduga kalau rekan kerjanya itu membeli perabotan lewat kartu kredit untuk   memenuhi target penjualan. Kang Ho langsung merampas struk kartu kreditnya dengan ketus kalau itu bukan urusan Ho Won.
“Aku tahu kita lagi putus asa..., tapi ini salah!” tegas Ho Won, Kang Ho juga sudah mengetahuinya, tapi tak ada solusi lagi
“Kita harus cari solusi lain. Bukankah kau tahu betul kalau orang bisa bangkrut karena utang kartu kredit?” ucap Ho Won, Kang pikir kalau dirinya juga tak menginginkanya.
“Aku harus dapat posisi permanen di sini dan Kau tahu alasannya. Kau tahu sendiri aku telah berbohong pada orang tuaku. Apa kau tahu betapa aku merasa tak enak setiap kali pulang kerja? Aku menderita karena takut ibuku akan tahu hal ini.”ucap Ho Won dengan nada tinggi.
“Ya, aku tahu kau tertekan. Tapi bagaimana kau bisa melunasi ini? Anggaplah kita memenuhi target bulan ini lewat caramu ini. Lalu bagaimana dengan bulan depan? Apa yang akan kau lakukan?” kata Ho Won
Kang Ho pikir mereka  tidak bisa memberitahu kalau mereka tidak mampu menjualnya jadi rela melakukan apa saja agar bisa menjual perabotan lagi, Ho Won pikir Kang Ho  tak mengerti apa-apa dan tak habis pikir ternyata-tanya hanya itu yang ada di otaknya sekarang. 


Ki Taek pergi ke bagian receptionist ingin mengambil paket untuk tim pemasaran. Seorang wanita datang, Ibu Kang Ho dengan membawa beberap barang mengatakan mau menemui salah satu karyawan tim pemasaran, Jang Kang Ho. Ki Taek menndengar nama Kang Ho pun berani menyapanya.
“Apa Anda ibunya Kang Ho?” tanya Ki Taek. Ibu Kang Ho pun bertanya apakah mengenal ankanya. Ki Taek mengaku kalau mereka diterima kerja bersama dan memperkenalkan namanya. 

Keduanya pun berjalan di lorong dengan Ibu Kang Ho yang mengetahui Ki Taek itu tim pemasaran dan mengataan kalau membawakan kue beras untuk semua orang di kantor. Ki Taek pun membantu untuk membawanya dan menunjukan jalan.
Saat itu Kang Ho dan Ho Won baru saja kembali dari atap, tiba-tiba Kang Ho panik dan langsung bersembunyi melihat ibunya. Ho Won pun kaget mengetahui kalau wanita yang berjalan bersama Ki Taek adalah ibu Kang Ho dan mengajak agar segera pergi bersembunyi.
Kang Ho benar-benar panik yang harus diperbuatnya, Ho Won meminta Kang Ho tenang dan menelp ibunya setelah itudan tidak boleh membiarkanya ada di kantor. Kang Ho binggung apa yang harus dikatakanya. 

Ki Taek masuk ruangan, ada Ji Na dan juga Yong Jae memberitahu kalau iu Kang Ho yang datang. Ibu Kang Ho pun mengenalkan diri pada teman kerja anak-anaknya.
Tiba-tiba terdengar suara sirene, tanda peringatan. Manager Park berteriak keluar dari ruangan berpikir kebakaran dan langsung berlari panik untuk menyelamatkan diri. Yong Jae pun menyuruh agar mereka membawa ibu Kang Ho untuk keluar dari kantor.  Mereka pun bergegas pergi dengan wajah ketakutan, Yong Jae langsung menarik Manager Park untuk menjauh agar lebih dulu keluar dari kantor. 

Ho Won dan Kang Ho berjalan di tangga darurat. Ho Won pikir kalau ibu Kang Ho pasti sudah pergi karena Semua karyawan juga tadi berlari keluar jadi tak mungkin masih ada dikantor. Kang Ho masih terlihat tegang, Ho Won memberikan semangat pada Kang Ho dan meminta agar Jangan mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi.
Saat akan sampai ke pintu, Kang Ho kaget melihat Ibunya sudah berdiri dengan mata mendelik. Ho Won juga tak kalah kaget karena ibu Kang Ho masih ada didalam kantor.

Ho Won akhirnya masuk ruangan, Manager Park masuk sambil mengomel kalau Alarm kebakarannya tidak rusak api Ada orang yang menyalakannya hanya untuk main-main lalu  melihat Suk Kyung ada di dalam ruangan.
Woo Jin pun keluar dari ruangan bertanya apa yang terjadi. Suk Kyung memberitahu kalau tadi ada alarm kebakaran. Woo Jin mengaku mendengarnya dan berpikir kalau itu hanya candaan saja.
Ho Won panik karena ia sengaja yang menyalakan alarm kendaraanya agar membuat ibu Kang Ho pergi. Woo Jin pikir seharusnya ada pengumuman informasi kalau ada kebakaran sungguhan jadi alarm palsu atau lelucon saja. Semua hanya diam saja sambil menghela nafas.
“Manajer Heo, aku ingin mendiskusikan konsep iklan cetak denganmu.” Ucap Woo Jin santai.
Manager Park benar-benar tak percaya melihat Woo Jin yang bisa tak pengaruh. Yong Jae pun menanyakan keadaan Manager Park, Manager Park kesal karena tadi ada orang yang mendorongnya saat akan kelua gedung. Yong Jae terdiam karena panik mendorong Manager Park. 


Ibu Kang Ho langsung menampar anaknya, tak percaya kalau Kang Ho berbohong dengan mengatakan kalau dipekerjakan sebagai yang pegawai terbaik dari semua kandidat dan statusnya sebagai Seorang pegawai baru dari tim pemasaran.
“Beraninya kau mempermalukan Ibu seperti ini?!!” ucap Ibu Kang Ho marah, Kang Ho berusaha untuk menjelaska tapi Ibu Kang Ho tak mau tahu.
“Ibu sudah memberikan segalanya yang terbaik bagimu. Tapi kau bahkan tak bisa dapat pekerjaan di perusahaan seperti ini? Beraninya kau bohong pada Ibu padahal nyatanya kau bekerja sebagai karyawan sementara!! Kau tahu sendiri apa yang sudah Ibu ceritakan pada temanku. Apa kau senang membodohi Ibu?” ucap Ibu Kang Ho sangat marah
“Ibu, bukan maksudku...” kata Kang Ho, Ibu Kang Ho menyuruh anaknya agar segera pulang selesai kerja dan bicara di rumah saja.

Ho Won duduk di pantry, Ki Taek datang memberitahu kalau  Ibu Kang Ho tadi datang dan sekarang tak mengangkat telpnya, lalu ingin tahu keberadanya. Ho Won mengaku Ada sesuatu terjadi. Kang Ho datang dengan wajah tertunduk.  
Saat itu datang beberapa orang mengaku reporter dari majalah mingguan, Business How dan bertanya apakah mereka dari karyawan penjualan dan pemasaran, Ki Taek membenarkan.
Manager Park sudah duduk di wawancara mengaku kalau diungkapkan dalam satu kata, suasananya demokratis menurutnya perusahaan Hauline adalah yang paling demokratis. Semua ikut mendengar ucapan Manager Park pada wartawan.
“Kami membuat setiap keputusan melalui diskusi santai terlepas dari jabatan posisi walaupun cuma untuk sekedar keputusan kecil. Meskipun saya kepala tim penjualan, saya tetap memperhatikan struktur. Dan Juga, menghargai pendapat dari karyawan kami.” Ucap Manager Park


“Ada alasan kenapa kami memilih Hauline sebagai fitur dalam artikel kami tentang sebuah perusahaan. Hal ini karena perusahaan Anda peringkat tertinggi dalam survei yang ditujukan pada mahasiswa.” Kata Wartawan
“Kami memang selalu dapat peringkat tertinggi.” Kata Manager Park bangga, Wartawan juga melihat mereka yang menjaga tempat ini agar tetap muda dan ceria.
“Benar. Banyak orang bilang padaku, kalau kalau saya juga kelihatan cukup muda. Saya mulai bekerja di perusahaan ini berbarengan dengan Manajer Heo yang disana. Kami menjaga tempat ini agar tetap muda.” Kata Manager Park membuat semua orang tertawa.  Wartawan pun meminta agar Manager Park memberikan pesan.
“Berikanlah kepercayaan Anda semua untuk perusahaan kami seperti perusahaan ini dan Anda merupakan satu tubuh. Jika Anda melakukannya, Hauline akan menghargai Anda dengan hal yang lebih besar dan lebih baik. Kamilah Hauline.” Ucap Manager Park bangga. 

Suk Kyung juga memberikan pesan pada kamer kalau Diskriminasi terhadap perempuan harus dibasmi dan Hauline adalah tempat yang memberikan kesempatan yang sama bagi pekerja keras wanita. Ho Won yang mendengarnya bergumam “Berarti diskriminasi itu pasti antipeluru.”
“Hauline sudah seperti keluarga bagi saya. Perusahaan ini sangat nyaman sama seperti keluarga saya sendiri.” Ucap Yong Jae
“Apa keluargamu... membuatmu jadi penunggak kartu kredit? Yang ada kau jadi punya banyak utang kredit atau Rasanya seperti berada di rumah sendiri.” Gumam Ho Won dongkol
Ji Na ikut duduk merasa malu karena tidak pernah masuk TV sebelumnya. Jae Min pun ikut diwawancara mengaku sebagai karyawan baru perusahaan, menurutany tempat ini terasa seperti keluarga sendiri. Ji Na memanggil Woo Jin agar bergabung. Woo Jin mengeluh kalau harus datang.  Wartawan pun bertanya pada Ho Won karena statusnya sebagai karyawan sementara mungkin pendapatnya berbeda.
“Saya yakin banyak orang ingin kerja magang di Hauline. Semua orang ini... sekarang sedang berbohong.” Ucap Ho Won, Semua yang ada diruangan kaget mendengarnya, termasuk Woo Jin yang baru keluar dari ruangan.
Bersambung ke episode 8

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Tidak ada komentar:

Posting Komentar