PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 28 Maret 2019

Sinopsis Welcome to Waikiki Season 2 Episode 2 Part 2

PS : All images credit and content copyright : JBTC

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Ki Bong berjalan pulang sambil mengeluh kalau sudah memperbaiki kepala pancuran untuk junior sombong itu seharian dan menyakinkan diri kalau harus berhasil dan membalas dendam. Ia melihat seseorang duduk di taman dengan pakaian aneh dan berpikir orang gila.
Joon Ki mengangkat wajahnya, lalu menjerit histeris memanggil temanya. Ki Bong kaget ternyata Joon Ki  bertanya Sedang apa di taman dengan pakaian jaman dulu. Joon Ki langsung memeluk Ki Bong sambil menangis. Ki Bong merasakan ada bau aneh.
“Tidak, Joon Ki!.. Kau bau! Jangan bergerak! Diam...” ucap Ki Bong histeris, Tapi Joon Ki malah melompat kepelukan Ki Bong. 

Bibi Kim melihat Soo Yeon seperti orang gila memutar-mutar kabel telp ada merasa kasihan, lalu melihat ada tanam ditengah-tengah dan melihat diatap ada foto Joon Ki yang membuat tempat ini berantakan.
“Mereka menutupi lubang bekas meteor jatuh.” Ucap Soo Yeon santai. Bibi Kim kaget mengetahui Meteor
“Ya... Apa  Anda tidak tahu apa itu meteor? Sebuah batu dari alam semesta...” kata Soo Yeon
“Astaga, kasihan... Sadarlah, Nona... Kau memiliki wajah yang cantik. Apa yang terjadi sampai kau seperti ini?” kata Bibi Kim merasa Soo Yeon memang gila.
“Maaf? Siapa? Aku?” ucap Soo Yeon. Bibi Kim pikir siapa lagi selain Soo Yeon yang ada didepanya.
“Astaga, lupakan saja... Kenapa repot-repot mengobrol dengan gadis yang tidak waras?” ucap Bibi Kim. Soo Yeon tak terima mendengarnya.
“Sudahlah, lupakan saja... Orang gila menganggap semua orang gila.” Ucap Soo Yeon. Bibi Kim tak terima mendengarnya.
“Kau bilang "Gila"? Siapa? Aku?” kata Bibi Kim. Soo Yeon pikir memang seperti itu karena tak mungkin dirinya.
“Mereka bilang meteor jatuh di sini melalui plafon. Apa Anda mau melihatnya?” ucap Soo Yeon.
Soo Yeon mendorong pot bunga terlihat ada bentuk seperti kubangan, dan juga membuka poster Joon Ki terlihat bolong dibagian atap. Nyonya Kim hanya bisa melonggo melihatnya. Soo Yeon pikir Bibi Kim bisa percaya sekarang. 




Woo Sik baru saja keluar kamar mengajak Bibi Kim untuk pergi. Bibi Kim langsung bertanya apa yang terjadi dengan rumahnya. Woo Sik kage dan ingin memberitahu yang sebenarnya. Joon Ki dan Ki Bong akhirnya pulang. Nyonya Kim bertanya apa yang terjadi pada Joon Ki.
“Tidak, ada hal yang lebih penting yang harus kita bahas.” Ucap Joon Ki malu.
“Apa Kalian berdua tahu tentang itu juga? Apa Kau semua tahu? Apa Kalian membodohi aku selama ini?” ucap Nyonya Kim marah, Keduanya binggung. Joon Ki memberikan kode
“Sebaiknya kalian jujur kepadaku!” tegas Nyonya Kim. Joon Ki memohon agar Jangan mengatakan.
“Woo Shik, kenapa kamu membohonginya? Kau seharusnya tidak berpura-pura mencintainya. Omong kosong apa lagi ini?” ucap Joon Ki. Woo Shik panik
“Apa Dia berbohong kepadaku bahwa dia mencintaiku?” ucap Nyonya Kim marah
“Bukankah itu yang Anda tanyakan?” kata Joon Ki. Woo Sik terlihat panik dan binggung.
“Woo Shik, katakan kepadaku... Apa itu bohong?”ucap Nyonya Kim. Woo Sik kebingungan  menjelaskan. 

“Ada apa? Kenapa semua terlihat tegang?” kata Nyonya Kim dan saat itu Jung Eun baru saja turun tangga membawa pakaian
“Jung Eun, Apa kau tahu soal itu juga? Apa Kau tahu Woo Shik membohongiku?” ucap Nyonya Kim. Jung Eun panik.
“Itu... maksudku ... Woo Shik, kenapa kamu bilang bahwa Bu Kim gila? Dia waras. Kau tidak boleh menyebut orang seperti dia gila.” Kata Jung Eun.
Nyonya Kim tak percaya dianggap gila dan omong kosong yang lagi. Woo Sik panik. Soo Yeon kaget karena Woo Sik sebelumnya bilang bibi Kim itu  tidak waras. Semua hanya bisa melonggo dan Nyonya Kim terlihat sangat marah.
“Kau, Cha Woo Shik! Aku akan memberimu pelajaran hari ini.” Ucap Nyonya Kim. Woo Sik meminta Nyonya Kim untuk tenang tapi tamparan pun diterimanya dan Nyonya Kim membabi buta memukuli Woo Sik 

Akhirnya semua barang terkena label "Disita" Joon Ki dkk pun duduk diruang tengah. Joon Ki mengompres memarnya dengan es batu. Ki Bong bingung dengan nasib mereka sekarang.  Woo Sik pikir Nyonya Kim itu  akan mengusir mereka tapi bisa memberikan  satu hari.
“Kita harus bersyukur..” ucap Woo Sik. Ki Bong mengeluh dan marah karena Bibi Kim menempelkan stiker "disita" di semua benda dan meminta 10.000 dolar sore ini.
“Intinya, dia mengusir kita, kan? Lagi pula, kenapa kau membohonginya?” keluh Ki Bong
“Maaf. Aku tidak menyangka ini akan terjadi.”ucap Ki Bong
“Tadi kau membahas tentang pria dan cinta pertamanya. Kau membuatnya terkesan.” Keluh Jung Eun
“Wahh... Bahkan kamu juga jahat kepadaku? Aku sudah merasa tidak enak. Omong-omong, bagaimana kita mendapat uang sebanyak itu hari ini?” kata Woo Sik dan berteriak marah.
Joon Ki menjerit kesakitan karena kaget, Woo Sik mengeluh  Joon Ki seharusnya tidak bersantai mencabut bulu hidung sekarang. Joon Ki mengaku sedang berpikir sambil mencabut bulu hidungnya dan tak bisa melakukan apapun sekarang.
“Kita harus meminjam uang kepada kenalan kita.”ucap Woo Sik
“Aku akan mencoba meminjam uang dari orang-orang di timku.” Kata Ki Bong
“Aku juga. Akan kulihat apakah aku bisa dibayar di muka. Aku berangkat dahulu... Sampai nanti.” kata Jung Eun.
“Kawan, kita harus bergerak juga.” Kata Woo Sik. Joon Ki setuju karena Duduk-duduk seperti ini tidak akan membantu.


Soo Yeon turun sudah berganti pakaian, Joon Ki bertanya apakah butuh sesuatu. Soo Yeon mengaku tak butuh dan harus pergi sekarang. Woo Sik kaget karena ayah Soo Yeon yang belum bisa dihubungi jadi ingin pergi kemana. Soo Yeon pikir ingin pulang dan memeriksanya.
“Soal itu, bisakah kalian mengantarku pulang?” ucap Soo Yeon. Woo Sik pikir tak bisa karena ada urusan mendesak.
“Ayolah. Beri aku tumpangan... Kuberikan ini sebagai gantinya.” Kata Soo Yeon memberikan tasnya.
“Bukankah ini gaun pengantinmu? Ini tidak ada gunanya bagi kami.”kata Joon Ki
“Itu dari merek desainer ternama. Aku tahu ini bekas, tapi masih bisa dijual 5.000 dolar... Kembalikan kalau tidak mau.” Kata Soo Yeon. Joon Ki langsung bertanya Di mana alamat Soo Yeon. 

["Putri Ajaib Minky"]
Didepan rumah dengan pagar tinggi dan besar seperti terjadi demo, berteriak memanggil Tuan Han yang meminta agar uangnya dikembali dan menganti uangnya. Joon Ki pikir tak ada yang salah dengan dugaanya kalau , penagih utang akan menunggu didepan rumah.
“Apa yang harus kulakukan?” ucap Soo Yeon binggung. Joon Ki pikir bisa mengantar Soo Yeon ke kantor ayahnya.
“Lihat para penagih utang ini. Di kantornya akan ada lebih banyak.” Kata Woo Sik mengeluh. Joon Ki mengaku kalau hanya bertanya saja.  Woo Sik pun mengaku kalau tadi hanya memberi tahu.
“Atau adakah orang yang mungkin tahu di mana ayahmu sekarang?” kata Joon Ki
“Ahhh.. Benar, Sekretaris Kim mungkin tahu.” Ucap Soo Yeon. Joon Ki pun menyuruh Soo Yeon agar menelpnya.
“Ponselku hilang... Aku tidak ingat nomor teleponnya... Itu pasti disimpan di ponsel lamaku.” Kata Soo Yeon
“Benarkah? Di mana ponsel lamamu?” tanya Ki Bong. Soo Yeon ingat ada Di laci meja riasnya.
Semua kaget dan itu artinya adan di dalam rumah. Soo Yeon membenarkan lalu meminta tolong agar bisa mengambilkannya. Joon Ki tak pecaya kalau harus menyelinap ke sana sekarang. Soo Yeon pikir Joon Ki tak mau melakukanya.
“Gaun pengantin itu sangat mahal. Seorang penjahit terkenal menjahit setiap jahitannya dengan tangan.” Kata Soo Yeon merayu.
“Baik! Kami tidak bilang enggan melakukannya. Kami akan mengambilkannya. Jangan khawatir.” Kata Joon Ki
“Apa? Lihat para penagih utang itu. Bagaimana kita menyelinap masuk?” kata Woo Sik  binggung.
“Kita hanya perlu melompati tembok... Kita tidak punya waktu untuk itu! Kamu bisa tinggal di sini, Pengecut!  Dua pria sejati akan pergi.” kata Joon Ki mengajak Ki Bong pergi. 



Joon Ki dan Ki Bong berjalan ke sisi rumah lainya.  Woo Sik berada dimobil melihat bertanya kemana dua temanya akan pergi. Soo Yeon pun tak tahu Di luar masih terus penagih hutang memanggil ayah Soo Yeon menuntut ganti rugi.
“Langit sangat biru hari ini... Buktikan kejantananmu... Mulailah memanjat.” Ucap Joon Ki. Ki Bong mengaku takut dan mulai memanjat.
Tapi Joon Ki seperti seorang monyet bisa menaiki tembok dan sampai keatas. Ki Bong binggung melihat Joon Ki sudah ada diatas. Joon Ki mengeluh Ki Bong itu lama sekali. Ki Bong pikir Joon Ki itu Spider-Man. Joon Ki mengeluh Ki Bong yang tinggi tapi tak bisa melakukan apapun.
“Ayo Jangan membuang waktu.” Ucap Joon Ki. Ki Bong mengaku sudah tidak bisa naik lagi meminta agar menariknya. Joon Ki menarik Ki Bong untuk segera naik ke dinding.


Ki Bong masuk rumah merasa itu sangat menegangkan dan merasa tak percaya kalau harus melakukan ini. Joon Ki pikir tak ada yang bisa dilakukan karena Minimal mereka harus berterima kasih kepadanya untuk gaun mahal itu lalu mencacari ponselnya dan keluar.
“Astaga. Kita di dalam istana atau apa?” ucap Joon Ki melihat ruang tengah yang mewah. Ki Bong pun tak percaya Keluarga Soo Yeon masih kaya.
“Hei, ayo cepat. Cari kamarnya dahulu.” Kata Joon Ki. Ki Bong menganguk setuju.
Mereka mencari setiap pintu kamar,  Ki Bong memangil Joon Ki karena bisa menemukan kamar Soo Yeon. Joon Ki melihat ada foto Soo Yeon, menurutnya sangat cantik dan ada meja rias. Ia pun menemukan ponsel yang dicari Soo Yeon untuk menelp Sek Kim.
Mereka pun akan keluar dengan wajah bahagia, tapi terdengar teriak para penagih hutang mencari Tuan Han.  Joon Ki dan Ki Bong panik langsung bergegas masuk kamar Soo Yeon. Seorang pria  menyuruh agar mengambil apa saja yang terlihat berharga.
“Lukisan ini, misalnya. Itu juga...Keluarkan semuanya dari kamar juga.” Perintah si pria.
Seorang pria melaporkan ada pintu yang terkunci. Joon Ki dan Ki Bong panik karena pria itu untuk mendobrak pintu.  Akhirnya Pintu dibuka paksa. Ki Bong dan Joon Ki pindah bersembunyi didalam lemari.
“Wahhh... Lihat, Ada banyak hal di sini. Keluarkan semua yang terlihat berharga. Meja rias, tempat tidur, dan lemari pakaian.” Ucap si pria ingin tahu isi lemari itu lalu membukanya.
Joon Ki dan Ki Bong tak terlihat karena tertutup dengan pakaian SooYeon yang mahal. Si pria menyuruh mereka agar Keluarkan seluruh pakaiannya. Joon Ki dan Ki Bong panik karena lemari mereka mulai bergerak. 




Di luar rumah
Joon Ki heran dengan dua temanya yang lama datang. Di luar rumah suda ada mobil bak terbuka. Soo Yeon melihat ada meja rias dan lemari pakaiannya dibawa keluar rumah. Ki Bong bingung karena terlalu gelap dan ingin tahu keberdaanya.
“Apa yang mereka lakukan?” ucap Won Sik binggung dan melihat Joon Ki yang menelpnya.
“Hei, apa yang terjadi? Kenapa lama?” ucap Woo Sik binggung. Joon Ki sambil membisik memberitahu kalau ini gawat karena terkurung.
“Kalian terkurung? Di mana?” tanya Woo Sik kaget. Joon Ki mengaku adan Di lemari pakaian Soo Yeon.
“Lemari pakaiannya? Kalian... Apa Lemari pakaiannya merah muda?” ucap Woo Sik. Joon Ki kaget Woo Sik bisa mengetahuinya.
“Kalian sedang dimuat ke atas truk sekarang.” Kata Woo Sik. Ki Bong panik karena merasakan lemari seperti mulai bergerak. Joon Ki menyuruh Woo Sik untuk diam.
“Selamatkan kami! Selamatkan kami! Kami bisa dibunuh!” ucap Keduanya akhirnya panik.
Woo Sik mengumpat dua temanya yang bodoh,  Soo Yeon ingin tahu apa yang terjadi. Woo Sik mengaku tak tahu dan mulai mengemudikan mobil mengikuti kemana truk pergi. 


Jung Eun pulang ke rumah dengan wajah terlihat marah karena kantornya yang tak mau memberikan uang muka. Ia pun tak melihat ada orang dirumah, lalu melihat tas berisi gaun diruang tengah, lalu bertanya-tanya kenapa Soo Yeon meninggalkan gaunnya di sana.
“Wahhh... Ini indah... Sepertinya cocok kupakai... Aku ingin menikah juga... Apa aku akan tetap melajang seumur hidup?” ucap Jung Eun akhirnya mencoba melihat wajahnya dengan gaun yang indah.
“Ah.... Masa bodoh. Aku harus melepas ini... Memalukan jika mereka melihatku memakai ini.” Ucap Jung Eun akan membuka risleting tap malah membuat rambutnya tersangkut.
Jung Eun binggung bahkan membuat rambutnya tertarik dan berpikir kalau akan menguntingnya saja dan mencoba mencari gunting. Tanpa sadar gaunya malah menyangkut di pinggiran meja yang tajam.  Jung Eun kesal mencoba terus mencari gunting dengan kepala mendonga keatas.
“Wahh.. Apa lagi sekarang?... Kenapa aku tidak bisa menarik kakiku?  Halo? Apa ada orang di sini? Siapa saja?”teriak Jung Eun binggung karena kakinya malah terjerumus ke lubang meteor. 

Woo Sik melihat dari mobil dengan beberapa pekerja yang akan menurunkan barang memilih untuk merokok dulu.  Woo Sik pikir waktu yang tepat, dan bergegas membuka pintu lemar memastikan kalau teman-temanya baik-baik saja. Keduanya meminta agar Woo Sik segera mengeluarkanya.
“Hei... Kita tidak punya waktu. Keluar.” Ucap Woo Sik tak ingin dua temanya merengek tapi para pekerja sudah datang dan akhirnya ikut masuk ke dalam lemari.
Soo Yeon yang melihatnya hanya bisa melonggo. Para pekerja binggung melihat talinya terlepas, tapi mencoba untuk tak peduli mengajak agar seger memindahkan lemari dahulu. 

Akhirnya lemari sudah ada di dalam rumah, Seorang wanita keluar kamar basu saja bangun menyapa suaminya yang sudah pulang, lalu kaget karena banyak barang diruangan mereka. Sipra mengaku sudah pergi ke rumah Pak Han dan mengambil semua yang berharga.
“Lemari pakaian ini sangat cantik... Semua berwarna merah muda. Ini gayaku.” Ucap si wanita membuka pintu lemari
“Sayang, apa ini di lemari?” kata Si wanita melihat tiga pria muda. Si pria mengatakan semua untuk istrinya
“Pilih yang kau suka...” ucap suaminya. Sang istri ingin memilih satu dari tiga pria. Suamianya melihat istrinya sudah gila.
Woo Sik memberi kode pada Joon Ki untuk berpikir.  Si pria bertanya siapa mereka dan kenapa bisa sampai dirumahnya. Joon Ki langsung berteriak pada Woo Sik sebagai Dokter Cha & Kook mereka akhirnya berhasil. Sepasang suami istri binggung.
“Izinkan kami memperkenalkan diri.. Senang bertemu denganmu. NASA sedang mempelajari teleportasi rahasia dan kami adalah peneliti.” Ucap Joon Ki. Keduanya tak percaya dengan Teleportasi?
“Setelah percobaan panjang, akhirnya kami berhasil berteleportasi ke sini.” Ucap Joon Ki. Keduanya masih tak percaya kalau mereka  berteleportasi Ke dalam lemari pakaian ini.
“Aku tahu kamu tidak percaya.... Maka kami harus tunjukkan kepadamu. Ini adalah perangkat teleportasi. Dalam hitungan ketiga, kami akan teleportasi ke lemari lain. Jadi Tutup mata kalian.” Kata Joon Ki mengeluarkan sebuah pulpen.
Si pria heran kenapa mereka harus menutup mata. Joon Ki beralasan  Cahaya yang sangat kuat dari alat ini bisa menghancurkan saraf optik dimatanya dan Jika merkea ingin menjadi buta jadi buka saja matanya.  Keduanya pun mulai menutup mata, Joon Ki akan menghitung sampai tiga.
Keduanya mulai menutup mata, Joon Ki mengajak dua temanya untuk segera pergi. Si istri ingin tahu apakah tiga pria itu sudah pergi. Saat membuka mata, Si pria melihat Ki Bong yang kabur dan langsung mengambil stick golf berpikir anak buah Tuan Ha.
Soo Yeon menunggu dengan wajah panik, Joon Ki berlari keluar apartement menyuruh Soo Yeon untuk segera menyalakan mobil. Si pria terus mengejar mereka dengan stick golf. 




Ki Bong mereka akan mati dan sangat ketakutan. Woo Sik pikir sudah memberitahu kalau  jangan masuk ke sana dan bisa melihat yang terjadi. Joon Ki pikir berjalan dengan baik sampai... Woo Sik menyuruh diam lalu berpikir itu semua salah Soo Yeon. Soo Yeon membela kalau Soo Yeon   cinta pertama mereka.
“Halo, Sekretaris Kim... Apa Kau tahu di mana ayahku berada?” ucap Soo Yeon mencoba mencari ayahnya. Sek Kim mengatakan kalau sedang bersama dengan Tuan Han.
“Soo Yeon.,, Soo Yeon, kau di mana? Apa Kau baik-baik saja?” kata Tuan Han khawatir. Soo Yeon mengaku baik-baik saja dan bertanya balik.
“Ayah baik-baik saja... Maafkan Ayah, Soo Yeon. Ini semua salah Ayah.” Ucap Tuan Han.
“Tidak apa-apa. Tapi ada apa semua ini?” kata Soo Yeon bingung. Tuan Han berpikir telah ditipu.
“Pokoknya, Ayah akan membereskannya dan menghubungimu. Jadi Bersabarlah, oke?” ucap Tuan Han.
Soo Yeon binggung maksud ayahnya. Tuan Han pikir tidak bisa bicara lama jadi akan menghubunginya lagi. Soo Yeon panik karena ayahnya sudah menutup telp lalu menangis. Joon Ki melihatnya bertanya apa yang terjadi dan apa yang dikatakan ayahnya. Woo Sik seperti meraasa kasihan.



Joon Ki mengantar Soo Yeon ke sebuah apartement mewah memastikan kalau tunangan Soo Yeon tinggal disana. Woo Sik pikir  para penagih utang itu tidak akan datang. Joon Ki teringat kalau Soo Yeon bilang  tunanganna tidak bisa dihubungi
“Apa yang kau rencanakan?” tanya Joon Ki. Soo Yeon pikir akan menunggu sampai dia datang.
“Pokoknya, terima kasih atas segalanya. Aku berjanji akan membalas kalian suatu hari nanti.” kata Soo Yeon.
“Ayolah, tidak perlu... Jaga dirimu, Soo Yeon... Hubungi kami jika ada masalah.” Kata Joon Ki. Soo Yeon pun mengucapkan terimakasih lalu turun dari mobil. 


Joon Ki melihat merasa khawatir dengan keadaan Soo Yeon. Woo Sik pikir  Ini bukan waktunya mereka mencemaskan orang lain dan mengajak untuk mencari uang. Saat akan pergi Joon Ki melihat Soo Yeon bertemu dengan tunangan didepan pintu.
“Min Seok...” ucap Soo Yeon melihat calon suaminya dengan ibunya yang baru makan steak.  Joon Ki masih ingat dengan pengantin prianya,
“Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak bisa menghubungimu.” Ucap Soo Yeon. Min Seok binggung menjelaskan.
“Maaf. Aku tahu Ibu khawatir.” Kata Soo Yeon sopan, tapi ibu mertuanya merasa Soo Yeon tak perlu memanggilnya ibu.
“Apa Kamu tahu, bagaimana keluarga kami dipermalukan karenamu?” ucap Ibu Min Seok.
Joon Ki melihat dari mobil seperti terjadi sebuah masalah. Ibu Min Seok pikir ingin bicara to the point kalau membatalkan pernikahan ini. Soo Yeon kaget dan tak mengerti. Ibu Min Seok langsung mengejek Soo Yeon itu lamban atau memang bodoh.
“Apa Kau pikir aku setuju karena kami menyukaimu? Itu semua karena kekayaan ayahmu. Jadi, sadarlah dan jangan datang lagi. Jangan hubungi kami juga. Bagaimana kau bisa tidak tahu malu?”ucap Ibu Min Seok.
“Hei, wanita itu kasar sekali.” ucap Joon Ki marah mendengar ucapan Min Seok. 

Soo Yeon menahan Min Seok agar tak ikut masuk, Tapi Min Seok seperti tak peduli hanya meminta maaf mengaku Tidak ada yang bisa dilakukan. Ki Bong melihatnya mulai mengumpat karena tega melakukan itu. Joon Ki pun akan membunuhnya. Woo Sik melihat Soo Yeon menangis keluar dari mobil. Joon Ki panik menyuruh mereka untuk pulang saja.
“Bangunlah. Ayo pergi.” ucap Woo Sik. Soo Yeon bertanya kemana karena  tidak punya tempat tujuan.
“Kenapa? Apa Kau akan berlutut dan memohon kepada mereka? Apa Kau tidak marah mendengar seperti itu?” kata Woo Sik
“Aku marah.... Aku marah dan kesal... Tapi aku bisa apa? Aku bisa apa dalam situasiku ini?” ucap Soo Yeon
“Tidak ada yang akan berubah jika begini terus. Ikutlah denganku.” Ucap Woo Sik menarik Soo Yeon.
“Aku tidak mau pergi... Kubilang aku tidak mau pergi.” jerit Soo Yeon lalu mengaku kalau Barang-barangnya ada di rumah itu.


Min Seok membuka pintu bertanya siapa yang datang dan kaget melihat tiga pria dengan Soo Yeon. Joon Ki menegaskan kalau mereka datang untuk mengambil barang-barang Soo Yeon. Min Seok bingung bertanya pada Soo Yeon siapa pria yang terlihat seperti preman.
“Itu bukan urusanmu... Ayo Minggir.” Ucap Joon Ki. Min Seok tak terima ingin tahu siap mereka
“Kami? Kami cinta pertama Soo Yeon.” Ucap Joon Ki bangga, Semua binggung.
“Apa Mereka cinta pertamamu? Mereka bertiga?” kata Min Seok kaget, Woo Sik panik.
“Bukan... Soo Yeon adalah cinta pertama kami. Aku cinta pertama nomor satu.” Kata Joon Ki
“Aku nomor dua.” Kata Ki Bong lalu menyuruh Woo Sik bicara. Woo Sik perlahan mengaku menjadi nomor tiga.
“Kenapa diam saja? Ayo kita ambil barang-barangnya.” Ucap Joon Ki. Min Seok mengeluh kalau ini penerobosan... mereka tak peduli. 


Semua barang-barang milik Soo Yeon dibawa ke ruang tengah. Ibu Min Seok mengeluh yang dilakukan oleh 3 pria. Woo Sik pikir mereka bisa melihat kalau sedang mengambil barang-barang milik Soo Yeon karena tadi mengatakan ingin membatalkan pernikahan.
“Jadi, Anda harus meluruskan ini... Bagaimana Anda bisa tidak tahu malu?” ucap Woo Sik. Ibu Min Seok melonggo binggung.
“Aku tidak bisa menoleransi ini lagi.”kata Ibu Min Seok. Woo Sik membalas dengan perlakuan ibu Min Seok tadi.
“Soo Yeon, ini sudah semua? Apa ada yang tertinggal?” tanya Woo Sik.  Soo Yeon mengaku Ada satu lagi menunjuk ke arah Min Seok
“Apa? Jas itu? Apa Kau juga membelikannya jas itu?” ucap Woo Sik mengejek.  Min Seok heran yang akan mereka lakukan.
“Apa Kau lamban atau memang bodoh? Buka jasmu.” Kata Woo Sik. Joon Ki memperlihatkan amarahnya.
Akhirnya Min Seok membuka jasnya, Joon Ki pikir Min Seok itu bodoh karena jas itu dibuat satu set jadi meminta agar membuka celananya juga. Min Seok memegang tangan Soo Yeon yang sungguh akan memperlakukannya seperti ini. Soo Yeon mengikuti gaya Min Seok “ Maafkan aku... Tidak ada yang bisa aku lakukan.” 


Mereka pun keluar rumah dengan membawa banyak barang. Woo Sik memastikan kalau tidak ada yang tertinggal, Soo Yeon mengatakan tak ada yang tertingga lalu teringat kalau dengan Minky yang hampir melupakannya. Mereka bertanya-tanya siapa Minky.
Iguana dibawa dalam rumah kaca,  mobil berjalan dengan bagasi terbuka. Joon Ki seperti tak percaya kalau Minky adalah iguananya. Soo Yeon menceritakan membesarkannya sejak kecil dan seperti keluarga. Joon Ki mengerti dan ingin tahu apa rencananya sekarang. 

“Haruskah aku mengantarmu ke rumah kerabat?” ucap Joon Ki. Soo Yeon pikir Sudah lama berpisah karena uang.
“Lalu apa kau punya tempat tujuan?” tanya Joon Ki. Soo Yeon pikir harus mulai mencari sekarang.
“Apa Kau harus mulai mencari? Kau bisa tinggal di hostel kami. Benarkah Woo Shik?” ucap Joon Ki
“Benar. Kami punya banyak kamar kosong dan tidak ada tamu.” Ucap Ki Bong penuh semangat.
“Bolehkah aku tinggal di sana?” ucap Soo Yeon. Joon Ki pikir itu boleh. Dengan memastikan pada Woo Sik.
“Yah... Kalau dia mau.” Kata Woo Sik. Soo Yeon tersenyum mendengarnya
“Terima kasih, Teman-teman. Aku akan membalas kebaikan kalian suatu hari nanti.” ucap Soo Yeon
“Jangan terlalu bersemangat. Kami juga tidak tahu kapan akan diusir.” Kata Woo Sik pasrah.
“Ayolah, tidak apa-apa... Kita punya gaun pengantin Soo Yeon. Kita bisa menjual itu dan membayar pemiliknya 5.000 dolar dahulu. Dia akan memberi kita waktu.” Kata Joon Ki yakin 


Semua pun membawa barang-barang Soo Yeon ke dalam hostel, Soo Yeon mengucapkan Terima kasih banyak dan berjanji pasti akan membalas kebaikan, lalu mereka kaget melihat kaki yang tergantung seperti mayat.  Mereka tahu kalau itu Jung Eun lalu naik ke lantai atas.
“Jung Eun, sedang apa di sini? Kenapa kau tidur seperti ini?” kata Joon Ki melihat Jung Eun tertidur. Jung Eun terbangun.
“Sedang apa di sini? Bukankah itu gaun Soo Yeon?” ucap Joon Ki.
“Ya, gaun ini ada di ruang tamu, aku hanya ingin mencobanya.” Kata Jung Eun
“Itu bukan milikmu! Kenapa kamu mencobanya? Apa Kau tahu gaun itu sangat mahal? Tunggu. Kenapa gaun itu tersangkut? Hei, ini... Kenapa gaunnya robek?” jerit Joon Ki marah
“Saat aku membukanya, rambutku... Rambutku tersangkut.” Kata Jung Eun.
“Kau seharusnya berhati-hati! Dasar bodoh! Matilah kita. Kau menghancurkan rencana kami! 5.000 dolarku hilang begitu saja!” jerit Joon Ki
Saat itu terdengar suara bibi Kim datang memanggil Woo Sik,  mereka panik karena Bibi Kim datang, mereka pun bergegas untuk turun. Jung Eun menjerit meminta tolong agar membantu mengeluarkan kakinya lebih dulu. 


Nyonya Kim masuk rumah kaget melihat kaki yang melayang,  Joon Ki dkk pun menyapa Nyonya Kim yang sudah membawa anak buahnya.  Nyonya Kim masih memanggil Woo Shik dengan mesra tapi mengubah dengan “Tuan Cha” meminta uang yang sudah disiapkan. Woo Sik bingung.
“Sudah kuduga. Kalian tidak bisa dapat uangnya. Kalau begitu, aku terpaksa... Ayo Mulai.” Ucap Nyonya Kim. Semua binggung yang akan dilakukan Nyonya Kim.
“Bu Kim, maafkan kami kali ini saja... tolong beri kami sepekan lagi... aku mohon kepadamu.” Ucap Joon Ki dan Ki Bong memohon. Nyonya Kim tak peduli. Woo Sik pun ikut berlutut memohon.  Nyonya Kim mendorong ketiganya sampai terjatuh.
“Astaga, kejam sekali... Coba Lihat. Mereka hanya perlu memberi Anda uang hari ini, bukan?” ucap Soo Yeon membela. Nyonya Kim membenarkan.
“Berapa total uang sewa kalian yang sudah jatuh tempo?” kata Soo Yeon
“Termasuk semuanya, sepertinya 10.000 dolar.” Ucap WooShik. Soo Yeon mengerti.
“Teman-teman, ambil Minky.” Kata Soo Yeon setelah berpikir sejenak. 


Seorang pria memberikan dua gepok uang 50ribu won, merkea tak menyangka kalau Iguana berharga 10.000 dolar. Soo Yeon memberitahu kalau  Minky adalah yang langka, bahkan Ini spesies langka. Joon Ki sibuk menghitung uang.
“Apa Kau sungguh baik-baik saja?” tanya Joon Ki merasa kasihan.  Soo Yeon pikir mereka tidak punya pilihan.
“Minky, aku berjanji akan menjemputmu... Pastikan kau selalu makan teratur.” Kata Soo Yeon mengucapkan salam perpisahan pada binatang kesayanganya. 

Joon Ki pkir Setelah membayar sewa yang sudah jatuh tempo, maka dunia ini seperti tempat yang indah. Ki Bong berpikir kalau mereka akan diusir kali ini. Woo Sik seperti tak enak hati dengan Soo Yeon yang harus merelakan binatang kesayanganya.
“Apa pun itu, kamu menyelamatkan kami... Terima kasih.” Ucap Woo Sik  
“Tenang saja... Sudah kubilang aku akan membalas kebaikan kalian.” Ucap  Soo Yeon lalu melihat ada beberapa remaja sedan makan toppoki.
Soo Yeon pikir melihat mereka jadi mengingkat dengan masa lalu, karena dahulu bersama seperti itu sepanjang waktu. Joo Ki tak percaya kalau Soo Yeon mengingatnya. Soo Yeon pikir  Itu hari-hari yang menyenangka dan merasa  Ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Mereka ingin tahu apa itu.
“Apa aku benar-benar cinta pertama kalian? Kalian bertiga?” ucap Soo Yeon. Ketiganya langsung berpura-pura tak mendengar dan menghindar mengajak seger pergi karena udara makin dingin.
“Apa? Kenapa mengganti topik? Apa Benar aku cinta pertama kalian? Katakan. Jawab aku.” Ucap Soo Yeon. Ketiganya langsung berlari. Soo Yeon mengejarnya karena mereka malah berlari.
Diwarung mobil, seperti terlihat mereka berempat dulu adalah teman yang sangat dekat. Joon Ki dan Ki Bong saling berebut makanan dan Woo Sik serta Soo Yeon seperti sangat bahagia.
Bersambung ke episode 3

Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar