PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 07 Januari 2018

Sinopsis Black Knight Episode 5 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Hae Ra mendorong Soo Ho yang menciumnya, lalu akan bergegas keluar rumah. Soo Ho menahanya karena ada truk yang mundur jadi pasti berbahaya lalu terdengar nada lagu dari bunyi lampu sen. Ia bertanya apakah Hae Ra biasa memainkan ini dengan baik sekarang karena Dulu sangat ketakutan saat bermain "Fur Elise".
“Hei, apa kau baru belajar menyetir? Bisakah kau lebih cepat dan naik ke mobil?” ucap Hae Ra kesal pada sopir truk karena tak bisa pergi.
“Pak.. Kau bisa lebih kekiri sedikit.... kembali sedikit lagi” ucap Soo Ho seperti menjadi tukang parkir agar truk bisa berbelok. Sopir pun mengucapkan Terima kasih banyak pada Soo Ho.
“Ingatlah ini.. Aku ingin menjadi sukses karenamu Dan kulakukan hingga kini” ucap Soo Ho menahan Hae Ra pergi. Tapi Hae Ra seperti tak peduli memilih untuk pergi. 


Di dalam rumah, Young Mi pikir Bibi Lee sudah tahu. Bibi Lee rasa apa yang diketahuinya karena sedang menikmati makan malamnya, dan sangat terkejut. Gon pikir kalau Bibi Lee Sebaiknya pergi dari  rumah Soo Ho saja. Soo Ho datang menanyakan alasanya menurutnya Hae Ra dan bibinya adalah tamunya.
“Dimana Hae Ra?” tanya Bibi Lee.  Soo Ho pikir Jangan khawatir tentang Hae Ra
“Aku minta maaf atas kejadian hari ini” ucap Soo Ho pada Young Mi dan Gon
“Ini adalah makan malam yang tak terlupakan” sindir Gon
“Terima kasih telah mengatakan itu. Aku akan menemuimu lagi.”kata Soo Ho
“Kau mencintai Hae Ra, kan?”, ucap Young Min, Soo Ho hanya tersenyum dan terdiam.
“Senyummu menjawab pertanyaanku. Benarkan, Bibi?” kata Young Mi. Bibi Lee hanya berkomentar kalau merasakan hal yang sama. Gon tak banyak menjawab mengajak Young Mi segera pergi saja. Bibi Lee pun mengantar keduanya pulang. 


Sharon duduk diam dalam ruanganya, teringat kembali ucapan Soo Ho saat datang ke tempatnya “Tolong buatkan pakaian untuk Hae Ra dengan bahan terbaik”, Baek Hee datang bertanya apakah Sharon sudah berkemas lalu mengajak untuk masuk ke dalam mobil. Sharon hanya diam saja.
“Apa yang sedang kau lakukan? Ayo pergi.” Kata Baek Hee heran. Sharon memutuskan kalau tidak akan pergi.
“Bukankah kau siap untuk pergi?” pikir Baek Hee melihat koper yang sudah ada didepanya.
“Dia ada di sini memesan pakaian untuk wanita lain.” Ucap Sharon. Baek Hee menyakinkan kalau Sharon pasti salah
“Bagaimana aku bisa salah mengenalinya?” pikir Sharon yang mengenal suaminya di masa lalu.
“Jangan pedulikan dia. Dia bahkan bukan pria yang kau maksud.” Kata Baek Hee mencoba kembali menyakinkan.
“Dia memintaku membuat pakaian untuk Hae Ra.” Ucap  Sharon. Baek Hee sempat kaget mendengarnya.
“Orang-orang yang seharusnya bertemu satu sama lain. Jangan ganggu mereka. Ayo ke bandara sekarang.” Kata Baek Hee.
Sharon menyuruh Baek Hee saja yang pergi, untuk makan pangsit sendirian di Beijing. Baek Hee menasehati Sharon kalau akan berakhir sebagai roh jahat. Sharon merasa tak peduli akan jadi malaikat atau setan karena harus membalas dendamnya
“Aku adalah korbannya, Aku!” tegas Sharon, Baek Hee yang marah langsung mencekik sharon dan saat itu Hae Ra masuk membuat keduanya terdiam. 


“Aku datang lagi tanpa menelepon dulu... Maafkan aku.” Ucap Hae Ra. Baek Hee pun menyapa Hae Ra dengan ramah berpura-pura tak mengenalnya.
“Apa ada yang terjadi?” Hae Ra merasakan ada ketegangan.
“Maafkan aku, tapi kau bisa kembali lain waktu. Kami sedang mengalami...” kata Baek Hee yang langsung disela oleh Sharon -
“Tidak...Aku senang kau kemari... Mari minum dan Kau akan terlambat untuk penerbanganmu.” Ucap Sharon dan membuat Baek Hee akhirnya keluar dengan wajah sinis. 

Hae Ra dan Sharon duduk sambil minum, Sharon menndengar kalau Hae Ra datang bersama seorang pria saat tertidur dan ingin tahu Siapa pria itu. Hae Ra yang sedang marah meminta agar tidak membicarakannya. Sharon ingin tahu alasan Hae Ra yang tak mau membicarakannya
Saat itu di rumah, Soo Ho seperti gelisah memilih untuk melakuan push up dikamarnya.
“Karena dia membuatku kesal.” Ucap Hae Ra. Sharon ingin tahu Membuat kesal kenapa. Hae Ra hanya tak ingin membahasnya hanya mengatakan Bukan apa-apa.
“Itu semua karena kompleks inferioritasku.” Kata Hae Ra dengan Soo Ho yang terlihat bersikeras untuk melatih otot lenganya.
“Kurasa kau tak pantas mendapatkannya. Memiliki apa yang bukan milikmu akan membuatmu sakit.” Kata Sharon sinis
“Bagaimana jika dia kekasihku? Pria yang tidak pantas kudapatkan. Bagaimana jika dia milikku?” ucap Hae Ra yang membuat Sharon terkejut
“Maka kau tak akan merasa kesal.” Kata Sharon santai. Hae Ra mengejek kalau Sharon bertindak seperti ahli cinta, tapi sebenarnya tidak. Sharon terkejut mendengarnya.
“Ini seperti tertarik pada seseorang. Kau mencoba untuk tidak menyukainya, dan kau membencinya, tapi kau masih tertarik padanya. Tidakkah kau tahu perasaan seperti itu?” cerita Hae Ra
“Apa kau menyukainya?” tanya Sharon. Hae Ra menegaskan kalau tidak akan menyukainya.


Sharon ingin mengartikan, tapi Hae Ra pun mengakui kalau memang menyukainya. Sharon ingin tahu apakah Soo Ho juga menyukai Hae Ra. Hae Ra memberitahu kalau mereka berciuman hari ini. Sharon seperti mendengar suara Hae Ra mengema dalam telinganya kalau sudah berciuman dengan Soo Ho.
Sharon seperti menahan amarah dengan jari-jarinya, saat itu juga lampu diruangan mati. Hae Ra kaget karena menurutnya sangat Menakutkan dan masih menanyakan Sharon. Tapi Sharon seperti mengeluarkan semua amarahnya.
Hae Ra binggung karena ruangan yang sangat Gelap sekali, saat itu juga kaca jendela pecah begitu saja Ia sempat menjerit dan berpikir kalau  pegawai melakukan kesalahan selama konstruksi, karena merasa bukan anak-anak yang memecahkannya saat bermain bola. Ia mendekati jendela merasakan Anginnya kencang sekali.
“Bisakah kita menutup jendela dengan sesuatu?” ucap Hae Ra, Saat itu Sharon berubah mengunakan baju hanbok dan memanggil nama Boon Yi. Hae Ra Binggung karena Sharon tiba-tiba memanggil nama Boon Yi.
“Kau!” ucap Sharon terlihat marah dan saat itu juga Hae Ra seperti tertidur lelap disofa. 


Bibi Lee bergegas ke dapur melihat Soo Ho yang sudah duduk sarapan,  padahal akan buatkan sarapan. Soo Ho pikir tak perlu karena  bisa membuatnya sendiri.
“Hae Ra belum pulang, kan?” ucap Soo Ho. Bibi Lee pikir Hae Ra pasti sudah tidur di sauna.
“Sejak kapan bibi tinggal dengan Hae Ra?” tanya Soo Ho. Bibi Lee mengaku Sejak keluarganya bangkrut.
“Aku tidak pernah bertemu denganmu saat tinggal dengan keluarga Hae Ra.” Kata Soo Ho. Bibi Lee terlihat gugup.
“Saat mereka kaya, mereka tidak menganggapku sebagai keluarga.” Kaat Bibi Lee mencari alasan.
“Kau benar-benar bibinya ‘kan?” ucap Soo Ho curiga. Bibi Lee pikir mana ada bibi palsu. Soo Ho tersenyum karena hanya bercanda saja.
“Ngomong-ngomong, Aku rasa Hae Ra kaget kemarin. Mengapa kau mengatakannya di depan orang-orang bukannya memberitahu dia secara pribadi?” kata Bibi Lee
“Aku mencintai Hae Ra.” Akui Soo Ho blak-blakan. Bibi Lee dibuat kaget mendengarnya. 


Hae Ra terbangun karena merasakan Dingin sekali lalu mengingat-ingat Apa yang dikatakan Sharon dalam mimpinya. Sharon tertidur pulas disofa juga. Hae Ra pikir minuman keras deodeok itu kuat padahal tak banyak minum, tapi tidak ingat apa apapun lalu mencoba membangunkan Sharon.
“Permisi... Kau harus tidur di tempat lain... Kau akan terserang flu... Di sini dingin...” ucap Hae Ra berusaha membangunkan Sharon tapi Sharon tertidur lelap.
“Apa kau tidur disini?” tanya Baek Hee kembali datang ke tempat Sharon dan terlihat kaget.
“Kami sedang berbicara, dan sama-sama tertidur. Dia masih tidur.” Ucap Hae Ra.
“Dari mana angin dingin ini berasal?” kata Baek Hee heran karena merasakan dingin yang menusuk kulitnya.
“Yah... Salah satu jendela pecah tiba-tiba tadi malam.” Cerita Hae Ra. Baek Hee kaget mengetahui Jendela pecah.
Hae Ra menceritakan kaca yang pecah dengan tiba-tiba dan berbunyi nyaring. Baek Hee memastikan kalau Hae Ra tidak terluka. Hae Ra mengaku kalau baik-baik saja dan melihat Sharon seperti tidur layaknya orang mati.
Baek Hee pikir Sharon tidak akan mati jadi Hae Ra Jangan khawatir dan mengajaknya pergi karena akan mengantar pulang. Hae Ra pikir tak perlu karena bisa naik bus. Baek Hee tetap merayunya kalau akan memberikan tumpangan.


Baek Hee mengemudikan mobil dengan diam sampai akhirnya Hae Ra menunjuk tempat agar menurunkan disana. Baek Hee pikir Hae Ra  datang tanpa dompet tadi malam lalu bertanya punya ongkos transportasi dengan melihat isi dompetnya.
“Hanya ini yang ku punya, dan Bayar kembali padaku nanti.” Ucap Baek Hee. Hae Ra pun menerima dengan wajah bahagia.
“Kau bekerja di agen perjalanan, kan? Datang dan dapatkan tips yg bermanfaat” ucap Baek Hee memberikan sebuah tiket masuk.
“Ini diadakan di dekat gedung perusahaan kami.” Kata Hae Ra. Baek Hee meminta agar Hae Ra memastikan tak datang.
“Aku tak bisa pulang jika kau tidak membayar kembali.” Goda Baek Hee. Hae Ra mengatakan kalau akan membayarnya.

Hae Ra berjalan akan masuk ke kantor dengan rambut yang basah, lalu dikagetkan dengan bunyi klakson. Soo Ho turun dari mobil mengejek Hae Ra kalau Hanya pria setengah baya yang berangkat kerja dari sauna dan berpiki kalau Setidaknya keringkan rambutnya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” ucap Hae Ra sinis melihat Soo Ho yang datang
“Kau berlari keluar sambil makan. Ponsel, dompet, dan pakaianmu ada di sana. Bibimu datang membawakannya untukmu. Pakaian dalammu di sana juga. Aku tahu ukuranmu sekarang.” Ucap Soo Ho. Hae Ra panik melihat si tasnya. Soo Ho mengaku kalau hanya Bercanda.
“Aku akan datang lagi saat makan siang. Kita perlu bicara.” Kata Soo Ho
“Tak ada yang perlu kubicarakan. Berikan pembayaran untuk hanok. Kami akan pindah.” Kata Hae Ra
“Kau belum pernah mencium seseorang sebelumnya,kan?” kata Soo Ho. Hae Ra pikir itu tak mungkin.
“Apa kau menghindar seperti kemarin juga?” tanya Soo Hoo ingin tahu
“Tentu saja, aku menyukainya karena aku melakukannya dengan seseorang yang kusukai.” Kata Hae Ra.
Soo Ho ingin tahu siapa orangnya, Hae Ra pikir Soo Ho jangan tanya lagi dan pergi saja karena Soo Ho kasar kemarin. Soo Ho berpikir kalau harus bertanya. Hae Ra pikir itu seperti kepercayaan seorang pemula. Soo Ho ingin tahu apakah Hae Ra tak penasaran tentang dirinya sama sekali.
“Tidak, aku tidak penasaran, dan aku sama sekali tidak merindukanmu.” Tegas Hae Ra
“Aku tak bertanya apakah kau merindukanku.” Pikir Soo Ho. Hae Ra terlihat gugup dan akhirnya bersin karena merasakan dingin. 


Keduanya duduk dicafe, Hae Ra langsung bertanya apakah Soo Ho menyukainya. Soo Ho langsung menjawab kalau sangat menyukainya.  Hae Ra ingin tahu alasan Soo Ho yang tak beritahu saat di Sloveni, kalau ia adalah Moon Soo Ho. Soo Ho mengaku belum siap saat itu dan ingin Hae Ra mengenalinya.
“Aku sudah tercemar karena semua penderitaan. Aku tidak mempercayai kata-kata manis.” Ungkap Hae Ra
“Apa ini sangat manis untukmu? Apa kau ingin melihat sesuatu yang benar-benar manis?” komentar Soo Ho
“Aku tahu kau akan merayuku duluan dan menusukku dari belakang pada titik tertentu. Aku tahu itu.” Tegas Hae Ra. Soo Ho ingin tahu kenapa Hae Ra berpikir seperti itu. Hae Ra mengaku sudah cukup tahu diri.
“Apakah bajingan itu membuatmu bermimpi dan membuangmu?” tanya Soo Ho
“Kau membuang-buang waktumu jika ingin bermain-main denganku.” Tegas Soo Ho
“Apa Kau pikir aku akan merayumu dan membuangmu juga?” ucap Soo Ho. Hae Ra menegaskan tidak cukup naif untuk tergoda seperti itu.
“Aku akan berada di sisimu, Hae Ra.” Ucap Soo Ho menyakinkan.
Hae Ra menegaskan pada Soo Ho kalau Mimpinya adalah bukan  menjadi Cinderella, tapi berhasil dengan caranya sendiri  jadi meminta Tolong jangan ganggu lalu keluar dari cafe. Soo Ho hanya tersenyum mendengarnya.
Hae Ra membaca pesan dari Soo Ho “Aku mencari-cari impianmu, lalu Suatu hari, mari kita bergandengan tangan sebagai pasangan manis... dan menunjukkan diri kita kepadanya.”
Hae Ra yang kesal menyakikan diri agar jangan sampai Soo Ho  mempengaruhiny adan Abaikan saja Soo Ho, lalu bergegas pergi. 



Ji Hoon membagikan selembaran untuk voucher gratis untuk latihan pribadi di jalan,  Tapi saat berjalan ke tempat sampah, banyak selembaran yang dibuang begitu saja. Saat itu seorang wanita melihat kearah Ji Hoon dengan mengenalnya sebagai jaksa penuntut umum. Ji Hoo berpura-pura merasa lapar dan bergegas pergi. Saat itu si wanita bertemu dengan pria yang ada dibelakang Ji Hoon. 

Soo Ho masuk ke dalam kantor, beberapa pegawainya pun menyapanya. Tuan Han ikut masuk mengikuti Soo Ho sampai ruangan. Soo Ho melihat Tuan Han yang datang lebih awal. Tuan Han merasa kalau mencium bau rasa sakit.
“Kurasa pundakku terkilir saat berolahraga semalam.” Kata Soo Ho yang menempel plester di pundaknya.
“Haruskah aku mencari pelatih pribadi?” kata Tuan Han. 

Ji Hoon akhirnya datang ke tempat Soo Ho menjadi pelatih olahraganya. Keduanya pun berjabat tangan. Soo Ho pikir Tuan Han  selalu cepat menyelesaikan sesuatu. Tuan Han menjelaskan kalau tempat fitness yang dihubunginya mengatakan hanya memiliki satu pelatih tanpa ada jadwal latihan.
“Mengapa? Apa kau bukan pelatih yang ahli?” ucap Soo Ho. Ji Hoon mengelak dengan mengaku kalau baru saja menjadi pelatih.
“Pelatih lainnya ada dipendampingan mereka agar tidak dibawa pelanggannya.” Kata Ji Hoon membela diri
“Aku hanya bercanda, Semoga kita bisa akur” kata Soo Ho. Ji Hoon pikir Jangan khawatir.
“Katakan padanya alamat rumahku.” Kata  Soo Ho. Tuan Han menganguk mengerti lalu Soo Ho menyuruh mereka minum karena akan menerima telp.
Baek Hee mengucapkan Terima kasih mengaku khawatir kalau Soo Ho mungkin lupa karena sedang sibuk. Soo Ho mengaku tidak akan lupa dan mengatur jadwal hari ini untuk itu. Baek Hee pun terlihat senang mengatakan akan menemuinya nanti.

Setelah itu Baek Hee mendengarkan siara berta di radio “Laporan selanjutnya, Puluhan dokumen kuno berharga ditemukan di sebuah kuil di Jangseong, Provinsi Jeolla Selatan. Menurut Laboratorium Koreaologi, mereka menemukan banyak dokumen kuno saat membersihkan perpustakaan di kuil. Mereka menunjukkan perubahan dalam bahasa Korea yang digunakan pada pertengahan Joseon. Dikatakan sangat berharga dalam pengertian itu.” 

Flash Back
Baek Hee memberikan cincin ditangan seorang pria meminta agar melakukan ini untuknya agar mencatat apa yang yang dilihat dan didengar di suatu tempat tertentu.
“Gambarkan dua orang dengan kemampuan luar biasamu. Tinggalkan tulisan dari cerita yang luar biasa ini juga.” Ucap Baek Hee memohon
“Jeom Bok... Dimana kau bersembunyi?” ungkap Baek Hee mencari Jeom Bok. 

Hae Ra dkk minum didalam pesawat, wajah mereka terlihat senang. Hae Ra pikirAda begitu banyak menu. Ji Hee pikir Semua pasti sudah ditentukan. Ketua tim tahu karena banyak orang tidak memilih maskapai ini disebabkan oleh menyajikan hidangan malang.
“Mereka memang miskin.” Pikir Hae Ra. Ketua Tim rasa Mereka mengerikan.
Ji Hee mulai makan berkomentar kalau makannya sangat enak, ketua Tim pun melihat Sosis ini sangat besar. Seorang pramugari bertanya apakah mereka menyukai makanannya, Ketua Tim mengaku kalau ini Sungguh menakjubkan. Pegawai pun meminta mereka menikmati makanan di pesawat.
“Aku harap bisa datang dengan pacar yang keren bukan untuk acara sampling.” Ucap Ji Hee. Hae Ra terdiam sambil mengunyah makananya. 

“Undang-undang sipil aeronautika lebih rumit dari yang diharapkan. Tapi yang penting adalah kurasa aku mencintaimu” ucap Ji Hoon.
Hae Ra menoleh ke arah kanannya sedikit kaget melihat Soo Ho sudah ada disampingnya. Soo Ho menatap lalu mendekat dan memejamkan matanya, Hae Ra hanya terdiam dan ikut memejamkan matanya membiarkan Soo Ho untuk menciumnya.
Saat itu Hae Ra tersadar dengan lamunan lalu menyadarkan diri kalau sudah gila. Ji Hee bingung melihat Hae Ra mengelengkan kepala. Ketua Tim pikir  Hae Ra makan sesuatu yang asam. Hae Ra mengelengkan kepala kalau makanan sangat enak bahkan tak tahu makanan maskapai penerbangan akan selezat ini.

Hae Ra adan Soo Ho berciuman di dua tempat yang berbeda dan terlihat sangat intim. Sharon teringat kembali dengan kejadian semalam bertanya Hae Ra “Apa dia juga menyukaimu?” Lalu Hae Ra mengatakan kalau mereka yang sudah berciuman hari ini.Sharon terbangun sambil menjerit histeris, lalu mengumpat marah.
“Apa kau tidur dengan nyenyak?” tanya Seung Hoo gugup.
“apakah dia sudah pergi?” tanya Sharon. Seung Hoo balik bertanya siapa yang dimaksud.
“Astaga, kenapa jendelanya rusak?” keluh Seung Hoo melihat banyak tembelan agar tak bolong. Sharon mengaku kalau ia yang merusaknya.
“Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan... Apa kau terluka?” kata Seung Hoo panik. Sharon mengaku Tidak.
“Seseorang akan segera datang untuk memperbaiki jendela.” Ucap Seung Hoo merapihkan selimut yang ada dilantai
“Jendela hancur berantakan. Aku mengenakan beberapa pakaian dari masa lalu. Aku mengenakan rok merah muda.” Cerita Sharon dengan helaan nafas.
“Apa kau punya ide?  Beritahu aku. Aku akan menggambarnya. Mengapa kita tidak menempatkan lebih banyak usaha pada pemasaran dan promosi? Ini Sia-sia saja menyembunyikan bakatmu.” Ucap Seung Hoo bergegas mengambil buku gambar
“Seung Hoo... Aku ingin menjadi lebih cantik. Kenapa kau tak pernah bertanya apapun? Kau juga mungkin berpikir aku benar-benar aneh. Kau mulai bekerja untukku 15 tahun yang lalu diusia 17. Tidakkah kau memperhatikan kalau aku masih terlihat sama?” ucap Sharon. Seung Hoo mengaku itu tidak juga. 



“Apa aku lebih cantik, atau apakah Jung Hae Ra lebih cantik? Jawab aku.” Ucap Sharon ingin tahu dengan menatap cermin.
“Jung Hae Ra, tentu saja.” Kata Seung Hoo. Sharon terlihat kesal meminta Seung Hoo Berhenti bercanda.
“Jung Hae Ra.” Kata Seung Hoo. Sharon meminta agar  Berhenti berbohong.
“Ini Tanpa makeup atau dengan makeup?” tanya Seung Hoo. Sharon mengatakan kalau Keduanya.
“Jung Hae Ra.” Ucap Seung Hoo. Sharon berteriak marah menyuruh Seung Hoo agar berhenti main-main?
“Aku sangat kesepian ingin menjadi lebih cantik.” Ungkap Hae Ra. Seung Hoo menganguk mengerti.
“Aku akan jujur, Apa kau tahu siapa yang lebih cantik? Sharon, kau jauh lebih cantik dari dia.” Ucap Seung Hoo lalu bergegas pergi sambil mengeluh kalau benar-benar akan berhenti berbohong mulai sekarang.
“Aku punya ide bagus.... Ya tentu saja. Aku jauh lebih cantik.” Ungkap Sharon bangga. 


Tuan Park bertemu sepasang kakek dan nenek yang  tak ingin menjual rumah tua ini ataupun membangunnya kembali dengan tawa mengejek kalau Itu adalah lelucon yang buruk untuk diceritakan dalam cuaca dingin seperti sekarang. Si nenek pikir sudah memberitahu beberapa kali pada Tuan Park.
“Kami suka tinggal di sini seperti yang kami lakukan sekarang.” Ucap Si Kakek.
“Apa kau tak ingin menghasilkan uang?” kata Tuan Park. Si kakek tahu kalau  Beberapa orang akan menghasilkan uang dari itu.
“Tapi kami percaya meninggalkan kota seperti ini akan menjadi investasi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan membangun mall superfisial”tegas si kakek
“Lalu bagaimana dengan bangunan toko bukumu?” tanya Tuan Park
“Kami sudah meninggalkan gedung it di tangan orang yang bisa dipercaya.” Tegas Si nenek yakin. 

Sharon menelp dari telp umum memegang kartu nama Presiden Moon Soo Ho tapi tak diangkat. Sementara Tuan Park marah melempar gelas ke dinding, kalau sudah mengatakan  pria itu adalah Moon Soo Ho. Gon bertanya Apakah itu yang membuat ayahnya marah padanya.
“Aku juga tidak merasa senang dengan hal ini. Tapi kenapa kau marah padaku?Apa kau kecewa karena aku tidak mengenalinya tanpa bekas lukanya?” ucap Gon ikut kesal
“Kenapa kau mudah sekali tersulut?” tegas Tuan Park
 “Kau selalu marah padaku lebih dari seharusnya Apa kau tahu kenapa? Itu karena harga dirimu yang rendah, dan kau memiliki rasa inferioritas.” Tegas Gon
“Kompleks inferioritasku adalah bahwa kau adalah anakku. Kau seperti ini sekarang berkat uang. Kau adalah anak orang kaya. Itulah satu-satunya hal yang bisa kau pamerkan. Apa setidaknya bisakah kau jaga bagian itu darimu?” ucap Tuan Park marah
Gon mengaku kalau akan mencobanya. Tuan prk meminta anaknya untuk mengambil rumah tua di alamat 37 itu dari Soo Ho dan bangunan komersial yaitu tempat biasa menjalankan toko buku itu. Ia meminta anaknya agar meRebut rumah itu yang tak akan pernah mereka berikan padanya sebelum Moon Soo Ho datang dan mengambil alih.
“Kenapa harus aku? Kau bilang aku tak bisa melawan Soo Ho. Ayah bisa melakukannya.” Ucap Gon
“Apa yang akan kau lakukan jika aku menikah lagi dan meninggalkan warisanku pada orang lain?” kata Tuan Park
“Ayah terlalu murah untuk menikah lagi.” Tegas Gon mengetahui ayahnya yang serakah.
Bersambung ke episode 6

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar