PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Senin, 08 Januari 2018

Sinopsis Andante Episode 16 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Shi Young mencatat dibuku [Siapa Lee Shi Yoon?] dengan Ga Ram yang duduk disampingnya. Shi Kyung mengeluarkan semua barang dari laci meja belajar seperti tak percaya kalau Ada banyak barang dan Sepertinya barang-barang ayah. Shi Young tak percaya kalau kakaknya baru sekarang memeriksanya
“Aku tak membutuhkan meja tulis.” Ucap Shi Kyung lalu melihat ada sebuah buku yang ditemukan.
“Sampul buku bergambar aktris. Ayahku bilang sangat trendi di masa mudanya. Foto seorang aktris digunakan sebagai sampul buku.” Jelas Ga Ram
“Jadi ini aktis favorit ayahku? Tapi Dia siapa?” ucap Shi Kyung. Ga Ram tak tahu. Shi Young pikir sama sekali tak mirip ibunya.
“Kurasa pendekatan kita salah.” Komentar Ga Ram. Shi Young bertanya apa yang salah.
“Walau dengan ingatan Shi Young dan barang di kamar ini, masih terlalu samar. Hei... Shi Kyung, kau mencoba jadi putra Nenek Duk Boon, bukan ayah Shi Young. Kau harus cari orang yang bisa menceritakan ayahmu dulu sebagai seorang anak. Kau bilang ibumu menentang ide tamasya. Apa ada selain ibumu yang mengenal ayahmu dengan baik?” ucap Ga Ram
“Ada... seseorang.” Kata Shi Kyung mengingat seseorang. Keduanya penasaran siapa orangnya. 




Shi Kyung bertemu guru BP di lorong sekolah. Guru Bp mengatakan kalau sudah mengatakan beberapa kali kalau Shi Kyung sangat jauh berbeda dari ayahnya. Seperti siang dan malam. Shi Kyung mengaku  tak berusaha mengejar nilainya tapi Cukup tahu sifatnya untuk meyakinkan nenekknya.
“Kenapa harus kuberi tahu? Kenapa kulakukan itu untukmu? Di kelas kau tak pernah mendengarkan dan memperhatikan. Kenapa kulakukan itu untukmu?” ucap Guru BP mengeluh. Saat itu Shi Kyung mengeluarkan kertas dan menaruh dijendela.
“Masa lalu pak guru yang kelam ada dalam genggamanku. Bila tak mau membantu, maka akan kuumumkan di situs sekolah.” Ucap Shi Kyung. Guru BP binggung apa maksud Masa lalu kelam
“Aku, Choi Jong Min, tak ada yang kusembunyikan dari Langit.” Kata Guru Choi tak peduli dengan Shi Kyung melakukanya.
"Tahun junior, kelas 4, ujian akhir semester kedua Choi Jong Min. Peringkat ke 67 dari 68 anak." Wahh.. Pak guru lebih parah dari aku. Sekarang Mari kita lihat nilainya... "D, D, E, E, D, D, E--" kata Shi Kyung membaca lembaran kertas. Guru Choi langsung menutup mulut Shi Kyung sebelum anak murid lainya mendengar.
“Pak guru berikan rapor Anda pada ayahku dan memberikan rapor palsu pada ibu Anda!” kata Shi Kyung. Guru Choi menutup mulut Shi Kyung kembali akhirnya memutuskan akan melakukan dan apa yang dinginkanya. 


Nyonya Oh sedang membersihkan hospice, lalu mendengar seseorang memanggilnya “Bunda.” Lalu Shi Kyung mendekati ibunya. Shi Kyung tahu kalau Ayah selalu memanggil nenek, bunda. Nyonya Oh kaget karena Shi Kyung bisa mengetahuinya.
“Kalau sedang senang, ayah akan memanggil nenek Nyonya Kim Duk Boon. Dan Nenek akan bilang, "Aku bisa bernafas karena memiliki dua lubang hidung." Dan Ayah akan menjawab "Aku harus jadi dokter dan membuatkan empat lubang hidung." Ayah seperti itu. “ ucap Shi Kyung
“Setiap ayah merasa canggung atau kebingungan atau kesulitan mengatakan sesuatu, maka ayah akan begitu. Ibu, apa ini belum cukup? Kau juga kesulitan memberi tahu nenek kalau ayah sudah meninggal. Kalau ibu membantuku, maka aku akan lebih baik lagi. Jadi demi ayah dan nenek. kita pergi tamasya... tamasya keluarga.” Ucap Shi Kyung menyakinkan ibunya. 



Shi Kyung akhirnya mengubah tatanan rambutnya seperti ayahnya yang ad di foto. Nyonya Oh terlihat sedikit gugup menemani anaknya. Nyonya Oh datang ke kamar memberikan sebuah jas meminta anaknya agar mencobanya. Shi Kyung bertanya apakah itu milik ayahnya karena  Kelihatan seperti baru.
“Ayah pasti menjaga kebersihan.” Pikir Shi Kyung. Nyonya Oh mengatakan tidak seperti itu.
“Laci meja tulis ayah tertata rapi. Pasti nenek yang merapikannya. Ayah berantakan dan tak suka bersih-bersih.” Ucap Nyonya Oh. Shi Kyung tersenyum karena sifatnya sangat mirip.
“Ayah punya kebiasaan mencium kakinya setelah melepas sepatunya. Nenek benci kalau dia begitu.” Ucap Nyonya Oh memberitahu kebiasan suaminya.
“Kau bilang Mencium kakinya? Sebaiknya kulakukan di depan nenek.” Pikir Shi Kyung
“Lebih baik jangan.” Kata Nyonya Oh. Shi  Kyung ingin tahu apakah Apa masih ada yang lagi?



Guru Choi memberitahu kalau ayah Shi Kyung memiliki Tarian datang dan pergi. Shi Kyung binggung mendengarnya. Guru Choi menceritakan Setiap ibu Shi Yoon merasa kecewa atau sedih, maka Shi Yoon akan berdiri di depannya, lalu memperlihatkan gaya seperti bebek yang sedang mengepak sayapnya.
“Soal tarian ini, aku sama hebatnya dengan Lee Shi Yoon.” Kata Guru Choi bangga memperlihatkan gayanya.
“Aku bisa melakukannya sebaik ayah.” Ucap Shi Kyung yakin. Guru Choi menyuruh Shi Kyung agar mencobanya tapi terlihat kaku
“Kau tak bisa menari. Jangan bermimpi jadi penari atau penyanyi.” Ejek Guru Choi kembali memperlihatkan gaya yang benar.
“Perasaannya harus tepat, Panggul rileks.” Jelas Guru Choi, Shi Kyung pun terlihat bisa mengikutinya sambil bergumam kalau merasa seperti lebih dekat dengan ayah.
“Pemandangan yang tak asing... Choi Jong Min dan Lee Shi Yoon... “ komentar Wakepsek melihat keduanya yang menari didalam kelas. 


Shi Kyung datang menemui Wakepsek di ruangannya. Wakepsek menceritakan Lee Shi Yoon dulu muridnya saat pertama mengajar. Shi Kyung kaget kalau Ayahnya murid Wakil Kepsek. Wakepsek menceritakan Shi Yoon juga murid pertama yang mengumpulkan 10 kaktus.
“Apa Ayah juga mengumpulkan kaktus?” ucap Shi Kyung tak percaya
“Seperti dirimu, ayahmu juga kesulitan. Dia mengumpulkan 10 dan menjadi dokter.” Jelas Wakepsek
“Apa Ayah tak ke Grand Canyon, tapi malah jadi dokter?” gumam Shi Kyung
“Lee Shi Kyung... Kaktus tumbuh dengan baik di sini.” Jelas Wakepsek memperlihatk kaktus yang tumbuh berwarna warni. Shi Kyung kaget melihatnya.
“Hanya karena layu bukan berarti mati. Kalau disiram dan dirawat, maka bisa hidup kembali. Sepertinya kali ini kau bisa mengumpulkan 2 kaktus lagi.” Ucap Wakepsek. 


Semua relawan berkumpul. Ki Joon bertanya  Apa mereka bisa ikut tamasya bersama keluarga Shi Kyung. Ji Hye mengeluh mendengarnya. Ga Ram memberitahu kalau Tamasya kali ini istimewa bagi mereka, jadi mungkin tak bisa.
“Pikirkan cara yang lebih praktis untuk membantu mereka.” Ucap Ga Ram
“Bagaimana kalau rekomendasi lokasi? Kita bisa mencari lokasi dan restoran yang bagus untuk dikunjungi” kata Ji Hye. Mereka pikir itu  ide bagus.
“Aku akan mencari restoran.”ucap Ji Hye. Joo Yeon pun akan mencari lokasinya.
“Apa Sudah ada tempat menginap?” tanya Joo Yeon. Ga Ram memberitahu kalau merekan akan tinggal di hotel Tae Min. Mereka menjerit tak percaya mengaku sangat iri.
“Apa Kami juga boleh membantu?” ucap 3 wanita lain karena merasa ahli mencari informasi.


Shi Kyung sudah mengunakan jaket dengan gaya seperti ayahnya yang memiliki belahan rambut pinggir, wajahnya terlihat tegang begitu juga Ibu, Shi Young dan Bibi Oh. Shi Kyung tahu kalau Harinya telah tiba, kalau ia menjadi ayah dan akan membuka pintu kamar neneknya.
“Sedang apa kalian? Kenapa belum berangkat? Jangan hanya berdiri di sana...Ayo... Kita akan terlambat.” Ucap Nenek Kim lebih dulu membuka pintu.
“Ya, Nek.. “ ucap Shi Kyung melakukan kesalahan. Nenek Kim pikir kalau Shi Kyung akan melakukan sesuatu. Shi Kyung mengelengkan kepala dan mengajak Nenek Kim pergi dengan panggilan bunda.

Mereka naik mobil yang dikendarai oleh Bibi Lee , Nenek Kim terlihat bahagia duduk disamping Shi Kyung untuk pergi tamasya. Shi kyung bergumam kalau mereka mundur 12 tahun ke dalam ingatan nenek, karena Dengan begitu saja, keluarga mereka memulai tamasya mengarungi waktu.
Mereka sampai disebuah tempat, Shi Kyung berjalan bersama neneknya seperti sedang melakukan kencan. Shi Young menunjuk tempat yang disarankan oleh Ji Hye.
“Siapa gadis itu yang terus mengikuti kita?” bisik Nenek Kim yang belum mengenal Shi Young.
“Dia sampah... sampah.” Kata Shi Kyung. Nenek Kim merasa kalau sering mendengar nama itu sebelumnya. Shi Young menahan amarahnya mendengarnya.
Mereka pun bermain ditaman bermain, ada wajah ketakutan Nenek Kim saat naik permain yang diputar dengan ketingian tertentu, tapi bahagia bisa menaiki komidiputar dengan anaknya. 


Shi Kyung membawa neneknya duduk dibangku taman, Nyonya Oh meminta izin untuk membeli minuman.  Shi Kyung dengan canggung mengangguk karena harus bersikap seperti istri pada ibunya. Bibi Oh pun memilih ntuk ikut dengan kakaknya, sementara Shi Young meminta agar dibelikan es krim.
“Kenapa sampah itu terus memanggil istrimu, ibu?” bisik Nenek Kim. Shi Kyung beralasan kalau Pikirannya kurang waras. Nenek Kim hanya berkomentar kalau Sangat malang, gadis semuda itu.
“Tapi, bagaimana keadaan Shi Kyung?” ucap Nenek Kim. Shi Kyung binggung melirik adiknya. Shi Young mengelengkan kepala karena tak tahu.
“Aha.. Benar, dulu aku ada bersama ayah, Aku tak memikirkannya.” Gumam Shi Kyung mulai panik.
“Apa Demamnya sudah turun?” tanya Nenek Kim. Shi Kyung kaget kalau dirinya hari itu sakit dan tak tahu.
“Ini tak baik, Anak malang itu sakit. Neneknya harus menemaninya. Di mana Shi Kyung sekarang?” ucap Nenek Kim. Shi Kyung menjawab dengan cepat kalau ada Di hotel kalau sedang tertidur setelah minum obat.
“Ini.. Tak bisa. Ganti topik sekarang.” Gumam Shi Kyung dan langsung mencoba mencium kaos kakinya. Nenek Kim marah memukul punggung anaknya karena menjijikan.
“Pukulan nenek 10 kali lebih menyakitkan daripada pukulan ibu.” Gumam Shi Kyung kaget menerima pukulan Neneknya.
“Sudah kubilang jangan begitu lagi! Itu Kotor!” kata Nenek Kim marah kembali memukul punggung Shi Kyung
“Ayah, apa nenek juga memukul ayah seperti ini?” gumam Shi Kyung pada kakaknya.
Mereka menaiki tangga yang cukup banyak. Shi Kyung pun memanggil Neneknya dengan panggilan bunda untuk naik ke punggungnya. Nenek Kim menolak, karena terlalu berat. Tapi Shi Kyung menyuruh anak begitu juga Nyonya Oh.
“Cuacanya cerah dan pemandangannya juga indah.” Ucap Shi Young melihat di tepi danau dan mereka pun naik ke atas perahu bersama. Shi Kyung selalu dekat dengan neneknya karena ingin memberikan kenangan untuk ayahnya. 


Semua masuk ke dalam hotel, dikagetkan dengan Guru Choi, Guru Park dan Yong Gi menyambut mereka didepan hote. Lalu Guru Choi menghampiri Nenek Kim bertanya apakah masih ingat padanya. Nenek Kim seperti lupa. Guru Choi mengingatkan kalau ia adalah pengacau teman Shi Yoon, Choi Jong Min.
“Ahh.. Tentu, aku ingat padamu, Jong Min. Kau selalu membaca komik di kamar Shi Yoon. Bahkan Kau sering membuat ibumu kesal.” Ucap Nenek Kim membongkar rahasia. Shi Kyung dengan nada mengejek kalau tahu tentang hal itu.
“Kupikir aku akan mati gara-gara anak ini, Jong Min. Tapi Kau kelihatan sangat tua dibandingkan Shi Yoon. Aku sangat cemas kau akan jadi apa setelah dewasa. Kau punya pekerjaan, jadi ibumu takkan begitu khawatir lagi.” Ucap Nenek Kim
“Semua berkat aku.” Ungkap Jong Min. Shi Kyung mengajak neneknya masuk saja dengan mengejek memenggil nama Jong Min.


Bibi Oh berjalan di luar hotel dengan Guru Park mengaku Tak menyangka datang dengan Guru Choi demi Shi Kyung. Guru Park tahu Guru Choi datang karena Shi Kyung, tapi ia datang karena Bibi Oh. Bibi Oh kaget mendengarnya dan ingin tahu alasanya.
“Apa Kau benar-benar tak tahu?” ucap Guru Park. Bibi Oh mengaku Sungguh tak tahu.
“Akan kuberi petunjuk. Tapi kali ini petunjuknya lebih lama.” Ucap Guru Park lalu memeluk Bibi Oh. Saat itu terdengar suara berteriak yang mengagetkan keduanya dan melepaskan pelukan.
“Ke mana perginya?” teriak Yong Gi. Guru Park kaget melihat Yong Gi yang ada  tak jauh darinya. Lalu keduanya mendekat dengan wajah gugup.
“Apa Kau mencari sesuatu?” tanya Guru Park melihat Yong Gi yang mencari disemak-semak.
“Hatiku.” Ucap Yong Gi sedih karena Bibi Oh sudah diambil oleh Guru Park. Guru Park pun hanya bisa menghela nafas panjang. 


Shi Kyung mengantar neneknya untuk istirahat, Nenek Oh bertanya Besok Shi Kyung berangkat jam berapa. Shi Kyung mengaku harus berangkat pagi sekali untuk mengejar penerbangan. Nenek Kim ingin tahu Sarapannya nanti. Shi Kyung menjawab kalau akan makan di bandara. Nenek Kim menganguk mengerti.
“Lalu Shi Kyung bagaimana?” tanya Nenek Kim. Nyonya Oh mengaku kalau Shi Kyung sedang ada dikamar mereka.
“Malam ini aku ingin anak-anak tidur bersama ayahnya.” Kata Nyonya Oh. Nenek Kim pikir seperti itu.
“Anak-anak tak ingin ayahnya pergi.” Ucap Nenek Kim akhirnya Shi Kyung pun menutup pintu kamar neneknya. 

Shi Kyung bertanya pada ibunya, Apa terjadi sesuatu padanya saat  hari ayah pergi. Nyonya Oh menceritakan kalau Hari itu Shi Kyung yang sakit keras. Shi Kyung seperti tak ingat kalau dirinya yang sakit keras.
“Shi Kyung... Alasan kau tak ingat pada ayahmu karena kau menghapus sendiri ingatanmu tentang ayah.” Cerita Nyonya Oh
“Apa Aku menghapus ingatan tentang ayah? Kenapa aku begitu?” gumam Sh Kyung binggung

Shi Kyung ditarik oleh Guru Choi sambil bertanya kenapa dengan nenek. Guru Choi menyuruh Shi Kyung agar ikut denganya saja. Shi Kyung melihat Nenek Kim sibuk memasak didapur hotel dan bertanya apa yang dilakukan neneknya.
“Membuat kue soba.” Ucap Guru Choi sedih. Shi Kyung binggung kenapa nenek Kim membuatnya sepagi ini
“Ini Untuk Shi Yoon... Tidak, untukmu saat kau berangkat di pagi hari. Shi Yoon sangat suka kue soba.” Ucap Guru Choi
“Aku merasa pernah dengar sebelumnya.” Gumam Shi Kyung
Flash Back
Dirumah sakit Nenek Kim mengaku Dulu seharusnya juga memberikan padanya selagi sempat dengan berharap tak lapar sepanjang perjalanan ke sana.
“Kalau yang dimaksud kue soba yang tak bisa nenek berikan pada ayah, tapi kenapa tak bisa diberikan pada ayah?” gumam Shi Kyung
Ia yakin kalau Ada yang kuhapus dari ingatannya dan menyakinkan diri untuk mengingatnya, lalu teringat kalau dirinya yang sakit keras. Shi Kyung seperti merasakan sesuatu kalau tiba-tiba hatinya sakit sekali

Flash back
Tuan Lee memegang tangan Shi Kyung yang berbaring kalau sudah tak demam dan suhu badannya normal. Nenek Kim mengucap syukur karena anaknya tak bisa tidur karena menjaga Shi Kyung semalaman jadi pasti akan kelelahan.
“Aku bisa tidur di pesawat, Kita tak bisa pergi tamasya gara-gara Shi Kyung sakit..” Ucap Shi Yoon.
“Dia tahu pergi tamasya berarti ayahnya akan segera pergi. Seluruh tubuhnya berusaha memberi tahu bahwa dia tak mau ayahnya pergi.” Kata Nenek Kim
“Shi Kyung, ayah takkan pergi selamanya... Ayah akan segera pulang.” Ucap Shi Yoon dengan Shi Young yang terus menatapnya.
“Ayah bilang takkan pergi selamanya dan akan segera pulang.”gumam Shi Kyung mengingatnya.
Shi Yoon akhirnya pamit pergi pada ibunya,  Nenek Kim menyuruh Nyonya Oh agar menemani Shi Kyung jadi tak perlu mengantar suaminya. Nyonya Oh pun menurut. Nenek Kim meminta agar anaknya bisa berhati-hati, Shi Yoon pikir ibunya Jangan khawatir dan bergegas pergi
“Ahh.. Aku hampir lupa!.. Kue soba.” Ucap Nenek Kim mengambil kotak makan dan memanggil anaknya, tapi saat itu Nyonya Oh keluar kamar dengan wajah panik.
“Ibu, Shi Kyung demam lagi.” Kata Nyonya Oh panik. Nenek Oh binggung karena ingin memberikan kue untuk anaknya tapi cucunya juga sedang demam
“Nenek.. Dulu nenek tak bisa memberikannya gara-gara aku... Kini akan kubantu melakukannya... Aku berjanji.” Gumam Shi Kyung menatap neneknya yang sedang sibuk membuat kue soba. 

Nenek Kim, Nyonya Oh dan Bibi Oh mengantar Shi Kyung sampai ke dalam hotel. Shi Kyung berjanji pada Nenek Kim kalau  akan segera pulang dan meminta ibunya bisa menjadi diri. Nenek Kim memberikan kotak makan agar membawanya jadi bisa dimakan dalam perjalanan kalau lapar.
“Ini kue soba kesukaanmu.” Ucap Nenek Kim. Shi Kyung mengatakan  akan memakannya dan pamit berangkat sekarang lalu menatap neneknya seperti berat. Nenek Kim menyuruh anaknya agar segera pergi saja.
“Aku akan memakannya, bunda.” Ucap Shi Kyung menyakikan neneknya. Nenek Kim menyuruh anaknya segera pergi. Akhirnya Shi Kyung masuk mobil dengan diantar oleh Guru Choi. Saat mobil pergi, Nenek Kim menangis memangil nama anaknya bahkan sampai duduk di lantai meraung-raung. 


Di restoran hotel, Semua terlihat tegang untuk mulai makan. Nenek Kim sudah membuatkan samgupsal lalu seperti mencari seseorang. Shi Kyung datang sudah menganti bajunya. Nenek Kim bahagia melihatnya lalu menyuapinya, tapi Shi Kyung tegang tau kalau Nenek Kim masih mengingat kalau dirinya adalah ayahnya.
“Shi Kyung, kapan ujianmu?” ucap Nenek Kim. Shi Kyung menjerit bahagia memanggil Nenek kembali, semua pun terlihat bisa bernafas lega dan mulai makan.
“Nenek kembali dari tamasya ke masa lampau.” Gumam Shi Kyung bahagia.
“Tak harus lebih baik atau lebih jelek dari peringkat 18 Tapi Cukup peringkat 18, Maka akan kutraktir pizza.” Kata Nenek Kim. Shi Kyung bahagia mendengarnya.
“Nenek, di kelas hanya ada 18 anak.” Kata Shi Young. Nenek Kim ingat Waktu itu Shi Young bilang 20 anak.
“Nenek... Apa Sungguh hanya peringkat 18? Nenek janji,kan?” kata Shi Kyung berusah menyakinkan neneknya.
“Tidak, itu peringkat terakhir. Aku tak mau janji kalau peringkat terakhir.” Ucap Nenek Kim. Shi Kyung merengek pada neneknya. Kalau Peringkat ke-18.
“Andai saja Shi Yoon di sini, maka aku takkan butuh apa-apa lagi.” Ungkap Nenek Kim. Guru Choi mengubah suasana sedih menyuruh mereka maka sepuasnya karena akan mentraktirnya.
“Pada hari jasad ayah tiba, kami foto keluarga yang pertama. Dan juga semua ingatan akan ayahku yang hilang telah kembali.”
Shi Kyung foto keluarga dengan adiknya, ibu dan juga neneknya dengan dibagian tengah yang dikosongkan. Saat foto selesai terlihat ditempel foto ayahnya yang ikut foto bersama, lalu disamping terlihat foto Tuan Lee dengan dua anaknya yang masih kecil yaitu Shi Kyung dan Shi Young. 


Bom duduk dibangku bertanya apakah sudah Semuanya. Shi Kyung membenarkan. Bom bertanya Bagaimana rasanya ingatannya kembali. Shi Kyung mengaku Menakjubkan karena Semakin ingat seemakin merindukan ayahanda.
“Apa kau tahu kau memanggilnya ayahanda bukan ayah?” ucap Bom mendengar seperti Shi Kyung mulai hormat pada ayahnya.
“Kau benar. Apa Aku semakin mirip orang dewasa karena memanggil ayahanda?” kata Shi Kyung bangga. Bom menjawab tidak.
“Kau masih Lee Shi Kyung yang ku kenal.” Ejek Bom. Shi Kyung juga merasakan hal yang sama pada Bom lalau masih Bom yang dikenal.

Shi Kyung hanya duduk sendirian tanpa Bom disampingnya, seperti sebelumnya sedang berbicara dengan Bom. Disampingnya terlihat sebuket bunga dan juga papan dengan wajah Bom ketika meninggal dan bertuliskan [Kim Bom: Kau musim semiku.] wajah Shi Kyung terlihat bahagia.
“Aku masih murid SMA biasa yang tak terlalu pandai dalam hal apapun Keseharianku juga tak istimewa. Aku punya teman dan keluarga, serta pasien hospice. Bersama menjalani hidup sederhana. Dan Sekali lagi, hari yang lambat dan canggung berlalu. Namun, aku suka diriku yang sekarang.”
Shi Kyung yang bahagia mengangkat tanganya menarik udara dalam-dalam lalu berbaring disamping tempat Bom.
THE END

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 




2 komentar:

  1. Nice....mengharukan dan jg bnyak terdpt pengajaran hdp.....
    Gomapta.. :-)

    BalasHapus