PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 22 November 2019

Sinopsis When The Camellia Blooms Episode 39

PS : All images credit and content copyright : KBS

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 


Dong Baek melihat ibunya di ruang rawat, ternyat sudah tak sadarkan diri dengan alat bantu nafas dan juga cuci darah. Yong Sik diluar ruangan juga terlihat kebingungan mencoba menahan tangis. Dong Baek melhat ibunya sudah tak berdaya hanya bisa menangis.
Flash Back
Keduanya bertemu dokter Jung, Dokter Jung memberitahu Tidak bisa transplantasi darurat, cuci darah terus dilakukan. Karena ini penyakit turunan, jadi DNA pendonor juga harus dites.
“Apa peluangnya akan meningkat jika dia pindah ke rumah sakit lebih besar?” tanya Dong Baek
“Dia tidak bisa dipindahkan dalam keadaan ini. Kondisinya bisa menurun di jalan. Kami akan menguji DNA donor dan penerimanya. Perawatan lain juga akan dilakukan.” Jelas Dokter
Yong Sik melihat ponselnya bergetar, nama DETEKTIF KIM terlihat tapi ia memilih untuk mematikanya. Dokter memberitahu  untuk saat ini, Nyonya Jo membutuhkan keajaiban. Dong Baek dengan wajah datar mengatakan Keajaiban tidak ada.
“Hal seperti itu tidak terjadi di hidupku yang menyedihkan.” Kata Dong Baek. Yong Sik hanya bisa terdiam.
[Episode Terakhir - APAKAH KEAJAIBAN BISA TERJADI?]
Semua wanita ongsan sedang duduk bersama, mereka seperti terlihat sedang memotong sayuran, Tiba-tiba Nyonya Park berkata kalau Yang berhak hidup atau mati ditentukan oleh takdir.


Sementara Pil Goo dan Jun Gi sedang asik bermain games setelah pulang sekolah, padahal Pil Goo mengaku  sedang tak ingin main games. Tiba-tiba seseorang memukulnya keras dari belakang, Pil Goo kaget ternyata Nyonya Kwak datang.
“Sekarang bukan waktunya main games” ucap Nyonya Kwak marah layaknya seorang ibu pada sang anak. 

Pil Goo akhirnya makan siang direstoran, wajahnya terlihat santai. Nyonya Kwak masih merasa canggung berpikir kalau Pil Goo pasti merasa  ini kali pertama kdipukul oleh seseorang selain keluarganya dan ia juga mengaku  Ini kali pertamanya memukul seseorang selain keluarganya juga.
“Lagi pula, aku takkan memukulmu jika kau orang tak dikenal.” Ucap Nyonya Kwak. Pil Goo seperti sudah tak marah meminta Nyonya Kwak memberikan lauk padanya. Nyonya Kwak pun memberikan lauk dan keduanya tersenyum.
Sementar di TV terlihat tayangan [KONFERENSI PERS KANG JONG-RYUL TENTANG PERNIKAHAN JESSICA] 

Dalam sebuah ruangan sudah banyak wartawan dan Jong Ryul akhirnya duduk di tengah-tengah meja panjang. Dengan selembar kertas yang sudah dibawanya, Jong Ryul mengaku Jessica adalah istrinya dan ibu dari putri kecilnya.
“Aku minta kalian tidak menyakiti keluarga tak bersalah dengan menyebarkan rumor tak berdasar.” Ucap Jong Ryul
“Kenapa istrimu berbohong dan berkata ini pernikahan pertamanya? Kau tidak tahu dia pernah menikah, 'kan?” kata wartawan sedikit menuduh.
“Kenapa kalian ucapkan seperti catatan kriminal? Apa dia berbuat kejahatan? Mereka mungkin cuma tinggal bersama. Apa istriku merampok bank atau menyerang seseorang dengannya?” ucap Jong Ryul tak bisa menahan emosi. Salah wartawan yang melihatnya mengumpat Jong Ryul itu bodoh.
“Dia bukan calon presiden, jadi, kenapa dia harus melaporkan status pernikahannya kepada publik? Aku, suaminya, sudah tahu soal itu. Dia tak berbohong kepadaku, jadi, kami baik-baik saja. Kurasa ini bukan sesuatu yang membuatnya pantas dirundung.” Jelas Jong Ryul.
Semua wartawan mulai menuliskan berita [KANG JONG-RYEOL YANG AROGAN, RATA-RATA PUKULAN JELEK DAN PRIBADI BURUK PENGGEMAR JONG-RYEOL GERAM, KONFERENSI PERS KANG JONG-RYEOL DARI SC LIGERS] Mereka tiba-tiba berhenti mengetik.
“Cukup permohonanku kepada kalian. Jadi, aku akan memberi kalian peringatan. Jangan sampai komentar jahat kalian menjadi karma suatu saat nanti. Berhenti bertindak kelewatan, ya? Jika keluargaku dilukai lagi, maka kutuntut kalian semua untuk fitnah.” Tegas Jong Ryul mengancam
Si wartawan melihat Jong Ryul berkomentar kalau Kang Jong-ryeol akhirnya dewasa.


“Jessica selamat dari bahaya. Kini semua panah mengarah pada Kang Jong-ryeol.”
Ibu Jessica melihat berita dari ponselnya Lalu meminta Sang Mi agar membacanya. Jessica sedang mengendong sang anak langsung menangis melihat berita di internet. KANG JONG-RYEOL MEMBELA ISTRINYA
“Dia pasti sudah gila... Tampaknya kau lebih baik dariku. Seleramu soal pria lebih baik.” Ucap Ibu Jessica. Jessica hanay bisa menangis. 

Yong Sik memasukan semua barang ke dalam tas memberitahu kalau Pil-gu akan menginap di rumah Jun-gi Sementara, Dong Baek  harus memasang tanda...lalu berhenti bicara karena detektif Kim kembali menelpnya, lalu kembali mematikanya.
“Sebaiknya kau pergi. Sepertinya kau sibuk.” Ucap Dong Baek mengambil tas dari tangan Yong SI.
“Sial. Kenapa dia terus meneleponku?” keluh Yong Sik. Dong Baek pikir Yong Sik sudah berbuat lebih dari cukup.
“Aku hanya bisa terima sampai di sini.” Kata Dong Baek. Yong Sik mengeluh aklau Sekarang bukan saat bersikap dingin.
“Setidaknya saat ini, andalkan saja aku saja” kata Yong Sik. Dong Baek pikir hanya tidak ingin ini menjadi kebiasaan.
“Mungkin karena kau terlalu memanjakanku, maka aku lupa cara menjaga diriku Jadi, pergi saja. Dengan begitu kau membantuku melupakannya.” Kata Dong Baek. 

Yong Sik akhirna keluar rumah sambil menelp mengeluh pada Detektif Kim yang terus menelepon. Ia ingin tahu apa yang terjadi apakah ia penting untuk investigasi lalu terlihat kaget.
 “Aku tidak tahu. Dia terus meminta putranya membawakan kacamatanya. Datanglah dan bicara dengannya Dia hanya bicara satu menit, lalu dia diam saja.”
Yong Sik bingung mencoba mencari tahu tentang kacamata yang diberikan Heung Sik, seperti berpikir ada kamera yang merekam. 
Sementara dikantor polisi. Tuan Park masih diinterogasi, Polisi  memperlihatkan kalau  ukuran sepatu Tuan Park adala 260 mm.

Flash Back
“Itu dari sepatu bot yang kujual.” Ucap Tuan Park. Polisi ingin tahu alasan Tuan Park memasukkan serbuk gergaji ke dalam mulut korban
“Untuk membuatnya diam. Kututup mulut mereka agar mereka diam.” akui Tuan Park
“Lalu kenapa kau memasukkan yang satu lagi? Kau tahu, benda kuning yang ditemukan di tenggorokan korban.” Ucap Si Polisi. Tuan Park terdiam dan terlihat kaget.
“Kenapa kau tak berkata apa-apa lagi?” komentar polisi. Tuan Park igin tahu alasan tak boleh dikunjungi
“Minta putraku membawakan kacamataku... Kacamataku.” Ucap Tuan Park.
“Dia terus menyebutkan kacamatanya dan hanya itu. Kita akan biarkan dia mendapatkannya.” 

Yong Sik datang menemui Tuan Park di ruang interogasi. Tuan Park pikir  minta Heung-sik, bukan Yong Sik datang. Yong Sik ingin tahu alasanya dan berpikir kalau Tuan Park punya perintah untuknya.
Heung Sik akan pergi keluar dari rumah, seorang pria mmanggil buruh yang akan dibawa pergi menaiki kapal. Seorang pria mendekati Heung Sik mengaku  mengerti situasinya  tapi ini membuat semuanya tidak nyaman.
“Aku mengerti. Siapa ingin bekerja dengan putra pembunuh?” ucap Heung Sik lalu melihat buku note ditanganya dan langsung membakarnya karena lebih baik mati kelaparan saja.

Heung Sik prgi ke toko kue beras,  Bibi Jung memberikan uang mengaku akan membayar dan baru saja berpikir untuk memberikannya langsung. Nyonya Park melihat Heung-sik, bertanya apakah sungguh tak tahu karena tinggal dengan ayahnya.
“Entah dia tak tahu atau punya firasat. Siapa  yang tahu?” kata Bibi Kim.
Dong Baek yang melihatnya teringat saat Nyonya Park berkata “Mana aku tahu dia hanya menjual minuman atau menjual yang lain juga?” Bibi Jung berbicara dengan Heung Sik mengatakan “Bagaimana jika hidup beretika?” dan Dong Baek teringat dengan yang mengatakan yang sama “Dongbaek, mari hidup beretika.”
“Halo. Boleh kubawa Heung-sik denganku? Aku juga harus membayar.” Ucap Dong Baek mengajak Heung Sik pergi. 



Dong Baek membawa babi tumis merasa Ini waktunya makan, jadi, setidaknya makanlah sesuatu. Ia tahu Heung Sk itu pelanggan, jadi, anggap seperti rasa terima kasihnya. Heung Sik ingin tahu apakah Dong Baek menyelamatkannya dari para wanita lainnya.
“Kita berdua menderita karena orang tua kita, 'kan? Tapi, pendapat orang lain tak berarti jika kau abaikan.” Komentar Dong Baek.
“Apa Kau memberiku saran?” tanya Heung Sik. Dong Baek merasa merasa seperti melihat dirinya sendiri.
“Aku bersyukur atas yang kau lakukan untukkudan aku menyesal. Tapi boleh aku tanya sesuatu yang selalu membuatku penasaran?” ucap Heung Sik dengan tatapan dingin. 

Di ruang interogasi
Yong Sik memberitahu Tuan Park kalau Hyang-mi dikremasi dan merasa Aneh rasanya kalau itu membuatnya tampak lebih tenanaja g. Tuan Park seperti tak mau mendengar menyuruh Yong Sik pergi saja karena merasa lelah jadi ingin menyudahi saja.
“Kudengar dia benar-benar hancur. Tubuhnya di dalam air, lalu Lem yang ada di tenggorokannya butuh tiga hari untuk dilepaskan semua.” Ucap Yong Si. Tuan Park tiba-tiba terdiam.
Ia mengingat yang dikatakan oleh polisi “Kau tahu, benda kuning yang ditemukan di tenggorokan korban.”
“Selain itu, plankton ditemukan di hati Hyang-mi. Apa Kau tahu artinya itu? Saat kau membuangnya ke dalam air, dia masih hidup.” Kata Yong Sik.
“Lalu kenapa? Apa? Kenapa kau mengoceh soal itu?” ucap Tuan Park seolah tak peduli.
“Kau tak hanya menenggelamkannya, tapi juga masukkan serbuk kayu dan lem. Kenapa dia pantas menerimanya?” teriak Yong Sik marah
“Teriakannya membuatku kesal, jadi, kumasukkan itu untuk membuatnya diam. Dia mati karena mengantarkan pesanan. Kenapa... Kenapa dia... Kenapa...” kata Tuan Park tak bisa berkata-kata. 



Dong Baek pun ingin tahu Heung Sik penasaran soal apa. Heung Sik ingin tahu alasan Dong Baek selalu memberinya barang gratis. Dong Baek seperti bingung menjelaskanya.
Flash Back
Heung Sik selalu datang memperbaiki sesuatu lalu menyuruh makan sebelum pergi. Dong Baek terus meminta Heung Sik agar makan dulu sebelum pergi.  Bahkan Dong Baek juga memebrikan Kacang gratis untuk para pelanggannya.
Saat itu Dong Bae tak sengaja menjatuhkan sendok dan melihat sepatu yang dipakai oleh pelaku karena ampaknya berlumuran tepung. Berita di TV tentang pengusil
“Pada 9 Juli, hari pertama kejahatannya, dia menggunakan pemadam api di TKP. Penyidik menduga< dia melakukannya untuk menghancurkan barang bukti,”
Si pelaku pun menuliskan pesan pada dinding [DONGBAEK, KAU JUGA JANGAN USIL] dan itu adalah Heung Sik yang melakukanya. 

Dong Baek seperti baru menyadarinya lalu terlihat gugup mencoba menyalakan kompor tapi tak juga menyala. Heung Sik masih terus sibuk makan, Dong Baek menerima pesan dan memberitahu  Bahan-bahan akan segera dikirimkan.
“Setelah telur tiba, kubuatkan kau telur kukus. Kau Santai saja. Tak tahu aku sama sekali kau ingat yang kuberikan kepadamu secara gratis.” Ucap Dong Sik terlihat sedikit panik
“Yang benar "Aku tak tahu" bukan "Tak tahu aku." Kenapa membuatkanku telur kukus juga?” ucap Heung Sik lalu tiba-tiba terbatuk-batuk.
“Apa kau mengasihaniku? Kau yang dikasihani semua orang, tapi kini aku lebih kasihan?” kata Heung Sik terus terbatuk. Dong Baek terdiam karena suara batuk itu seperti familiar di telinganya. 


Yong Sik menyuruh Tuan Bae agar membuka kantong kacamatanya.
Flash Back
Yong Sik melihat dibagian dalam tempat kacamata lalu melihat ada seperti lem yang berbentu kuning. Setelah itu ia mengingat dengan sebuah tempat yang aneh di temukan di tempat sampah.
“Tampaknya Heung-sik mau mengatakan sesuatu kepadamu. Yang ditemukan di jasad Hyang-mi bukan lem. Selain itu, dia tidak tenggelam. Tapi Dia sudah mati sebelumnya. Lalu kenapa... kau sangat kesal?” ucap Yong Sik.
“Kau...bukan orang yang mampu membunuh.” Ucap Yong Sik yakin, Tuan Park melihat ada gumpalan seperti lem berbentuk kuning dan itu adalah alat meredam suara di telinga. 


Flash Back
Saat kejadian Heung Sik terus terbatuk-batuk lalu membuang alat untuk menyumbat telinganya. Barang itu jatuh dan Hyang Mi yang masih sadar melihat benda yang jatuh didekat tanganya.
Heung-sik ingin kau tahu yang Hyang-mi telan sebelum dia mati.”
Heung Sik memakai penyumpat telinga dan saat itu telp di bar Dong Baek terus berdering. Dong Baek hanya menatapnya, Heung Sik masih terus terbatuk lalu bertanya apa truk pengantarnya akan segera tiba. Tangan Heung Sik terlihat banyak bekas luka dan ingin mengambil palu dari tasnya.
“Suara batuk itu.. Suara batuk aneh itu.” Gumam Dong Baek seperti sangat mengingatnya.
Flash Back
Dong Baek mengingat dengan suara batuk si pelaku yang akan membuka kapsul. Saat itu Hyang Mi yang masih sadar memberikan petunjuk pelaku dengan menyimpan alat penyumbat telinga milik Heung Sik.
Sebelumnya Heung Sik menelp Dong Baek dengan Pesan antar, sambil terbatuk kalau apakah Dong Baek yang mengantar kali ini. Tuan Park dirumah terlihat panik melihat ke rak sepatu, lalu melihat catatan milik anaknya dengan halaman yang sudah dicoret-coret.
Ia melihat  adan CAMELLIA, LAYANAN PESAN ANTAR, lalu tulisan Heung Sik “PENYIHIR ITU... JIKA DIA TENGGELAM, DIA MANUSIA, JIKA HIDUP, DIA BUKAN MANUSIA. AKU HANYA PERLU MENUNGGU DIA MASUK PERANGKAP


Tuan Park seperti tahu anaknya melakukan kejahatan lagi lalu mencuci lantai beas darah. Heung Sik kesal ayahnya selalu membaca jurnalku bahkan tak pernah minta bantuannya. Ia pun mengeluh ayahnyamembawa truk.
“Bukankah kau melaporkannya hilang agar bisa dipakai di saat seperti ini?” kata Tuan Park.
Saat itu lampu merah, Tuan Park mengemudikan truk dan setelah mobil jalan. Heung Sik baru terlihat karena bersembunyi dan tak ingn terlihat rekaman CCTV. Mereka akhirnya membawa Hyang Mi ke danau, Tuan Park terlihat mendapatkan luka ditanganya.
“Kubilang kita harus mencabut kukunya.” Ucap Heung Sik santai. Tuan Park heran apakah anaknya itu tak merasakan apa pun
“Bukankah kau suka gadis ini?” ucap Tuan Park. Heung Sik mengaku enyukai orang lain tidak semudah itu.
Ia juga mengatakan hal yang sama pada Yong Sik pada saat menduga Heung Sik menyukai Hyang Mi “Menyukai orang lain tidak semudah itu.”
“Dia seperti kucing bagiku.” Ucap Heung Sik. Hyang Mi sempat bertemu dengan Heung Sik lalu mengatakan “Kau juga bisa anggap aku kucing liar.”
“Heung-sik... Bisakah kau berhenti setelah aku mati? Kau selalu memakai sepatuku setiap kali membunuh orang.” Kata Tuan Park dengan mata memohon. 


“Apa Kau lompat sendiri dari lokasi konstruksi karena aku membunuh orang seolah itu kau?” ucap Heung Sik menyindir.
Sebelumnya berita disiarkan pada TV “Sekitar pukul 16.00 hari ini, seorang pria jatuh dari gedung saat coba memasang pendingin luar ruangan untuk mal di dekat terminal.” Heung Sik bertanya pada ayahnya apakah mencoba bunuh diri.
“Ayah... Walaupun begitu, kenapa kau pura-pura tak bisa berjalan? Kau bahkan membohongiku lima tahun.” Ucap Heung Sik marah
“Waktu kau kali pertama membunuh kucing saat masih kecil. Jika kembali ke masa itu, apa semua akan berubah?” ucap Tuan Park seperti merasa menyesal
“Kurasa kau tak akan tahu apa aku dibesarkan seperti ini atau terlahir seperti ini.” Ucap Heung Sik. 


Tuan Park hanya bisa menangis mengaku tak pernah menjaga anaknya selagi mencari nafkah jadi Heung Sik tak pernah punya teman. Ia tahu anaknya terus membawa kucing hanya untuk dibunuh Karena itu, ia terus membuangnya.
“Aku coba berbohong dengan berkata kulempar dari jendela. Aku coba menampar wajah anak kecil itu agar sadar, aku sudah usahakan semuanya, tapi... pendengarannya terlalu sensitif dan hatinya sekeras batu.” Ucap Tuan Park terus menangis. Yong Sik tak bisa berkata-kata
“Yong-sik... Jika dia monster, bukankah aku yang membesarkannya?” kata Tuan Park. 

Yong Sik berlari keluar dari kantor polisi, sambil mengingat percakapanya dengan Tuan Park. Ia bertanya kenapa Tuan Park pergi ke tempat parkir sendirian. Ia pikir saat itulah semua menjadi aneh karean Tampaknya Tuan Park  hanya memperingatkan Dongbaek.
“Jika dia pergi, ini mungkin takkan terjadi. Dia selalu membuat Heung-sik kesal.” Ucap Tuan Park.
“Kenapa wajahmu seperti itu? Itu membuatku merasa aneh.” Ucap Heung Sik yang masih terbatuk dalam restoran.
“Aku akan membawakanmu air...” kata Dong Bak akan pergi tapi tangan Heung Sik menahanya. Heung Sik merasakan kupingnya seperti ada suara menusuk di telinganya. 

Yong Sik keluar dari kantor, Tuan Byun dkk sudah menunggu. Yong Sik ingin tahu Boleh memakai pistol hari ini. Tuan Byun terlihat bingung. Ji Hoon pikir matanya berubah gila lagi, mereka pun bergegas masuk mengikuti Yong Sik.
“Sudah kuduga ini aneh sejak awal.” Gumam Yong Sik mengingat kejadian sebelumnya.
Flash Back
Yong Sik melhat foto tertulis [AKU MENGAWASIMU TIAP HARI, SEJAK HARI ITU] lalu bertanya-tanya Bagaimana bisa Tuan Park mengawasi Dongbaek setiap hari, lalu mengeluh Rasanya ada yang salah. Ia pun bertanya Apa Heung-sik sungguh pindah?
“Kau secara tak sadar melakukan hal penting di sisi yang lebih terbiasa. Artinya dia juga bisa menggunakan tangan kirinya.” 


Yong Si melihat saat Heung Sik yang memberikan tanda pada kotaknya dengan mengunakan tangan kiri.
Tuan Byun berbicara di telp memberitahu  Masalahnya bukan mobilnya tidak bisa masuk gang. Saat itu Yong Sik dengan wajah gugup mengemudikan mobilnya sambil bergumam “Kukira aku bisa melindungi Dongbaek.” 

Heung Sik keluar dari bar seperti baru saja melakukan sesuatu dan terlihat santai.  Ia memainkan korek apai mengeluh kalau ini sangat mengganggu.
Flash Back
Nyonya Kim mengambil paket dan memberikan uang, Heung Sik akan memberikan kembalian, tapi melihat Tangan Heung Sik menyuruh agar simpan saja kembaliannya. Nyonya Kim yang gila kebersihan membersihak lantai, melihat Heung Sik hanya diam saja heran karena sudah membayarnya. Heung Si pun terlihat menatap sinis.
Saat anak dari tetangganya mengejek, ia yang sedang membereskan kawat terlihat sangat marah karena direndahkan. Saat itu sang ayah melihat dari dalam rumah yang terkunci. Lalu pemilik Klinik kencantikan mengeluh karena selalu mendapat pria berengsek.


Heung Sik berjalan seolah menjadi korban dan sikap ayahnya dan hanya bisa tertunduk sedih. Nyonya Park dan Nyonya Jung pun menatap sedih menurutnya Heung Sik tidak bersalah dan merasa juga anak yang malang.
“Dia menusuknya sekali di leher. Ini serangan mendadak yang tidak diduga.”
Tiba-tiba Dong Baek datang langsung memukul kepala Heung Sik dengan gelas bir. Heung Sik langsung terjatuh, Nyonya Pak dan Nyonya Jung melonggo kaget. 

Flash Back
Dong Baek akan pergi mengambil air dan Heung Sik menahan tanganya. Yong Sik terus saja menelp lalu mati. Saat itu pesan dari grup wanita ongsa  terlihat dilayar ponsel
“Dongbaek ada di barnya... Dongbaek, jangan makan apa pun. Aku akan bawakan babi rebus. Aku juga datang, jadi, tetap di sana. Aku juga membuat kue beras putih. Aku juga bawakan, nanti makan, ya?”
“Dongbaek... Biar kuberikan kau saran juga. Jangan mudah mengasihani orang. Tak semua orang bisa melakukannya.” Ucap Heung Sik ta bisa melakukan apapun lalu meninggalkan uang dan pergi. 

Semua penghuni Ongsan keluar melihat kejadian yang tak terdua, Dua bibi tak percaya melihat Dong Baek baru saja menghantamnya dengan gelas bir. Dong Baek tahu kalau Heung Sik yang membunuh Hyang-mi dan ia mengunkai gelas bir Hyang-mi.
“Kubunuh kau kalau terus usil..” ucap Dong Baek. Heung Sik terlihat setengah sadar ingin mengumpat tapi Dong Baek lebih dulu mengumpat dan truk yang mengantar bahkan makanan pun lewat. Yong Sik dkk berlari akan masuk jalan Ongsan dan hanya bisa melonggo.
“Kukira aku bisa melindungi Dongbaek.”
“Kau bilang "Jangan usil?" Kau yang jangan usil. Hei, apa kau Pengusil? Benar? Kau bahkan tak bisa apa-apa di keramaian, dasar berengsek.” Kata Dong Baek marah.
“Dongbaek bisa melindungi diri sendiri.” Gumam Yong Sik. Semua tak percaya kalau Heung Sik itu adalah "Pengusil"?
“Masalahnya bukan mobilnya tidak bisa masuk gang. Kalian harus melindungi Pengusil!”
Saat itu semua bibi di Ongsan melihat pelaku pengusil langsung menyerangnya dengan semua barang yang mereka miliki mulai dari lobak apapun itu. Yong Sik dkk mencoba menahan mereka kalau polisi sudah datang, tapi para bibi yang geram melampiaskan amarahnya. Dong Baek pun pergi karena harus menerim pesanan.
“Mari selesaikan ini dengan hukum! Kita harus menangkapnya hidup-hidup. Dia harus hidup! Semuanya, tenang!” ucap Tuan Byun panik
“Legenda dimulai saat wanita hebat menangkap harimau dengan tangan kosong atau semacamnya. Orang sepertinya tak bisa sungguh merusak. Yang sungguh menakutkan bukan seseorang seperti Pengusil. Tapi saat kau tak bisa melindungi seseorang.” 



Dong Baek melihat ibunya yang masih tak sadarkan diri lalu mengeluh Jika Nyonya akan begini, kenapa datang menemuinya kareana membuatnya  terjebak benci dan cinta. Ia pun tak tahu apa yang harus dilakukanya sekarang. Perawat memberitahu Waktu kunjungan sudah selesai.
“Para penjaga, tolong tinggalkan ruangan.” Kata perawat memberitahu. Dong Baek memanggilnya.
“Tampaknya memar di tangannya akan menyakitkan. Bisa tolong...” kata Dong Baek yang langsung disela oleh perawat.
“Kau tak perlu mematuhi waktu kunjungan lagi. Kau boleh mengajak keluargamu kemari. Mereka boleh menjenguk kapan pun.” Kata perawat.
“Kenapa? Kenapa dia diperbolehkan?” tanya Dong Baek bingung. Perawat pikir Jika ada orang yang ingin ditemuinya,maka Dong Baek harus minta datang hari ini lalu bergegas pergi karena harus menerima telp. 

Dong Baek menangis sendiri karena Tapi tak ada seorang pun yang ingin ditemui oleh ibunya, bahkan ibunya itu tak punya siapa-siapa. Ia merasa tak bisa bisa merelakan ibunya dalam kesepian. Saat itu Nyonya Kwak dan Pil Goo datang menjenguk sementara Yong Sik hanya menunggu di luar ruangan. 
“Aku tak punya nenek atau kakek, dan...aku tak punya teman untuk berkunjung di rumah sakit. Ini kali pertamaku di unit perawatan intensif, dan ibuku terbaring di sini seperti ini. Apa yang harus kulakukan?” ucap Dong Baek menangis. Nyonya Kwak tak bisa berkata-kata.
“Haruskah aku menyerah dan melihatnya saja berbaring di sini?” kata Dong Baek masih terus menangis.
“Relakan dia pergi dalam damai.... Dalam damai... Katanya dia akan pergi dengan hati yang hangat berkat kau.” Kata Nyonya Kwak menahan tangisnya. Pil Goo pun memeluk ibunya ikut menangis. 

Flash Back
Nyonya Jo bertemu dengan Nyonya Kwak didepan bar meminta agar membiarkan putrinya saja.  Keduanya akhirnaya berbicara dalam bar, Nyonya Kwak memberitahu kalau Dongbaek memang menjalani hidup yang keras.
“Tapi dia tak lakukan apa pun hingga layak mendapatkannya. Semua itu salahku. Setelah dia menyingkirkanku, maka hidupnya akan damai tanpa beban.” Ucap Nyonya Jo
“Berhenti membahas ini... Ini sudah menyusahkanku.” Keluh Nyonya Kwak
“Kuberi tahu kau sesuatu yang akan membuatmu lebih nyaman. Sebenarnya aku akan segera mati. Jadi, aku kemari karena aku merindukan putriku. Setelah datang kemari, aku sangat menyukai Yong-sik, tapi aku juga tahu bisa percaya padamu, Nyonya Kwak.” Ucap Nyonya Jo
“Bisakah tolong jaga Dongbaek? Dia tak pernah dapat apa pun secara cuma-Cuma seumur hidupnya. Jadi, bisakah jadi ibunya secara cuma-cuma? Kau kenal dia. Jika kau mengasihani dan mengaguminya, dia takkan melupakann betapa kau murah hati.” Ungkap Nyonya Jo
“Dia mungkin akan memastikan kau takkan kesepian Aku datang untuk memeluknya, tapi aku meninggalkan dunia ini dengan hati terhangat. “ kata Nyonya Jo. Nyonya Kwak hanya bisa diam saja.  



Nyonya Kwak dan Dong Baek akhirnya bertemu diatap rumah sakit, Dong Baek memberikan minum pada ibu mertuanya. Nyonya Kwak pikir semua pasti sangat mudah bagi mereka berdua yang tiba-tiba berkata jatuh cinta, lalu mereka berdua tampak muram karena berpisah.
“Kenapa? Apa karena Pil-gu?” ucap Nyonya Kwak. Dong Baek hanya bisa tertunduk diam.
“Dongbaek... Jika ibu tampak depresi, bagaimana anaknya bisa tumbuh tanpa kesedihan? Kau harus bahagia agar anakmu bahagia. Dia tak tahu sekarang karena dia masih kecil, tapi jika serahkan hidupmu dan mengorbankan semua demi dia, maka hidup Pil-gu juga akan benar-benar hancur.” Jelas Nyonya Kwak.
“Kau harus menjalani hidupmu... Hidupmu sendiri... Lupakan Pil-gu dan Kwak Deok-sun. Kenapa kau menyerah meski sebelumnya berusaha untuk lebih kejam? Jika kalian berdua memutuskan putus, itu urusan kalian. Tapi jika kau malah mendatangiku, aku akan memelukmu dengan penuh sayang.” Ungkap Nyonya Kwak.
“Yong-sik pasti berhati hangat karena menuruni sifatmu, Nyonya Kwak.” Puji Dong Baek sedikit tersenyum.
“Tentu, putra Deok-sun pasti menuruni Deok-sun... Yah.. Tentu kau ditakdirkan untuk jatuh cinta padanya.” Kata Nyonya Kwak. 


Sementara Yong Sik sedang makan es krim dangan Pil Goo di ruang tunggu. Pil Goo bertanya apakah Yong Sik tak masuk ke ruang perawatan. Yong Sik mengelengkan kepala karena datang dengan ibunya jadi bisa di sana dengan mereka berdua.
“Kenapa? Apa aku membuatmu kesal karena datang kemari?” ucap Yong Sik. Pil Goo mengaku Bukan itu yang penting.
“Ibuku menangis... Artinya sudah tamat. Kenapa kau melamun?” kata Pil Goo melihat Yong Sik hanya terdiam melonggo.
“Setiap kali kudengar dia menangis entah di mana, maka aku langsung berlari walau sedang melawan bos di gamecenter.  Itulah keluarga. Aku takkan mengatakan ini kepadamu jika kau pria lain.” Kata Pil Goo.
Yong Sik sempat terdiam sampai sendok es krimnya patah, Nyonya Kwak memanggil Pil Goo untuk pulang.  Pil Goo pun pamit pergi dan Yong Sik melambaikan tangan pada ibunya kalau akan pulang nanti. 


Pil Goo melangkah kakinya dipinggir tepian pantai,  lalu bertanya pada Nyonya Kwak apakah ia hanya seseorang yang makan,  Ia pikir karean Neneknya terbaring sakit jadi tak mungkin bisa makan. Nyonya Kwak memberitahu Yang bisa dilakukan anak delapan tahun untuk neneknya adalah makan dengan baik.
“Jadi Kita makan malam apa?” tanya Pil Goo. Nyonya Kwak menjawab Iga sapi bakar, dibuat dengan daging sapi Korea.
“Apa Karena aku bukan anak orang lain?” kata Pil Goo bahagia. Nyonya Kwak bertanya apakah Pil Goo tahu siapa orang terkuat di Ongsan.
“Itu Kau.” Jawab Pil Goo. Nyonya Kwak menegaskan kalau sekarang Pil Goo menjadi anaknya jadi akan melindungimu selamanya. Keduanya berjalan pulang dengan langit senja yang indah ditepi pantai.
Bersambung ke episode 40

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar