PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 06 November 2019

Sinopsis The Tale Of Nok Du Episode 22

PS : All images credit and content copyright : KBS
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Yool Moo datang ke tempat persembunyianya, semua sekutunya sudah berkumpul. Yool Moo pikir mereka pasti sudah dengar yang terjadi pada Tuan Heo. Mereka menganguk dan mengaku berutang pada Yool Moo  karena telah menangani situasi itu.
“Jika tidak, kami semua akan terancam dan menghadapi kesulitan.” Jelsa salah satu pria.
“Aksi pemberontakan dimulai pada tanggal 15 bulan depan. Saat Raja meninggalkan Hanyang ke area leluhur kerajaan untuk penghormatan, aku akan menduduki istana. Pukul 23.00, aku ke istana dengan prajurit dari Gerbang Changui. Pastikan gerbangnya terbuka.” Jelas Yool Moo
“Ya. Akan kupastikan gerbangnya terbuka.” Kata salah satu pria.
“Kau harus membawa segel kerajaan, menangkap Raja, dan kembali ke istana. Wakil Kepala, setelah mengawal Ibu Suri dan dia memberimu perintah, pemberontakan akan berjalan lancar.” Jelas Yool Moo 
“Ya. Dia mengusir adiknya dan membunuhnya. Dia telah melakukan kejahatan berat dengan memenjarakan ibunya. Aku ragu orang-orang akan menentang. Alasan kita lebih dari cukup.” Kata pria tua yang lain.
“Mungkin kita bisa menambahkan satu orang lagi ke daftar. Aku tahu rahasia Raja yang lebih mengerikan dan jahat dari yang kalian tahu.” Ucap Yool Moo 

Di rumah
Yeon Bon dan Jung Sook kaget mengetahui Semua ini perbuatan Pangeran Agung Neungyang. Kim Sook memberitahu Yool Moo adalah yang membakar desa  mereka Sementara kematian Nyonya Chun... Yeon Bon pikir mereka  tidak punya bukti.
“Tapi melihat dia berusaha menjatuhkan Tuan Heo dengan memaksa kalian berbohong...” kata Kim Sook.
“Gawat... Kalau begitu, Tuan Heo tewas karena kita.” Ucap Jung Sook merasa bersalah.
“Aku harus habisi Pangeran Agung Neungyang.” Kata Yeon Bon marah. Kim Sok menegaskan kalau mereka gegabah karena emosi, maka semuanya akan sia-sia.
“Kita bertiga tidak bisa mengalahkan Dan Ho. Sampai kita menemukan cara mengalahkannya, kalian sembunyilah. Aku akan menghubungi kalian.” Ucap Kim Sook. 

Nok Du melihat Dong Joo yang sedang menunggu sendiri dan berusaha untuk mengagetkanya, Tapi malah membuat tangan Dong Joo yang kaget menampar pipinya dan membuatnya terluka. Dong Joo panik melihat hidung Nok Du yang terluka.
“Kau salah sendiri. Kenapa kau begitu? Aku kaget.” Ucap Dong Joo berjalan pulang bersama.
“Aku hanya ingin melihatmu terkejut. Puas?” kata Nok Du dengan hidunya yang diberi kapas. Dong Joo hanya menatapnya.
“Pasti kau heran betapa tampannya aku meski terluka, kan?” kata Nok Du bangga.
“Benar... Kau sangat tampan... Tapi kau juga cantik. Saat kau menyamar menjadi janda, kau lebih cantik dari wanita.” Ucap Dong Joo memegang wajah Nok Du.
“Kenapa kau begitu baik kepadaku?”tanya Nok Du. Dong Joo pikir  Nok Du tidak bisa menerima pujian darinya.
“Kenapa kau selalu pamer? Cepatlah. Banyak yang harus kita lakukan.” Kata Dong Joo. Nok Du pun mengikutinya lalu berusaha memeluk Dong Joo, tapi Dong Joo seperti malu dan memilih untuk mengandeng tangan Nok.
 

Nok Du ingin membeli cermin untuk Dong Joo, Tapi Dong Joo menolaknya. Nok Du pikir Dong Joo itu tidak tahu betapa cantiknya dia. Akhirnay mereka pergi ke tempat kembang api yang dibawa langsung dari Kekaisaran Ming. Nok Du memberikan kembang api yang besar dan langsung memberikan pada Dong Joo.
“Hei, kita harus membeli semua yang ada di keranjang.” Ucap Dong  Joo mencoba kue beras yang dijual
“Beri kami semuanya termasuk keranjangnya.” Kata Nok Du, keduanya terlihat sangat bahagia.  Dong Joo mengaku juga ingin okchundang.
“Ayo...Buka mulutmu... Kau sangat manis saat makan okchundang. Mirip kelinci.” Komentar Dong Joo melihat mulut Nok Du yang penuh dengan permen. Nok Du hanya bisa tersenyum.
“Belikan aku sepatu.” Kata Dong Joo menunjuk sebuah sepatu. Nok Du menolaknya. Dong Joo merengek kenapa tak boleh.
“Kubilang tidak.” Kata Nok Du. Dong Joo mengeluh padahal sepatu itu cantik dan tetap ingi meminta sepasang sepatu.

“Jika kubelikan sepatu, kau akan kabur lagi, kan? Tidak mau.” Kata Nok Du. Dong Joo mengaku tidak akan lari dan merengek meminta agar membelikanya.
“Aku akan membelikanmu semuanya kecuali sepatu. Yang penting bukan sepatu.” Ucap Nok Du lalu berjalan pergi. 

Tuan Yeon melihat keduanya dari kejauhan sambil bergandengan tangan berkomentar dengan wajah sedih kalau Mereka memang pasangan yang serasi. Lalu tiba-tiba seseorang nabraknya, Tuan Yeon mengeluh kalau Keras sekali dorongannya.
“Tunggu. Kau... Wakil Kurator.” Kata Nyonya Park melihat Tuan Yeon.
Sementara Dong Joo memilih sebuah kain karena bisa membuat jubah untuk Nok Du karean Tangannya yang terampil. Nok Du tiba-tiba melihat Nyonya Park dari kejauhan dan mengenal kalau itu orang dari desa mereka. Saat itu dua Nyonya lainya datang.  Mereka terlihat kelaparan langsung memakan kue ditangan Nok Du. 

Mereka akhirnya diajak makan malam bersama, Nyonya Kang pikir kalau Pasti sulit bagi Dong Joo karena  di dalam sumur selama dua hari. Dong Joo pikir Tidak apa-apa tapi menurutnya Pasti keadaan mereka juga sulit. Nyonya Kang meminta agar Jangan mulai membahasnya.
“Dua hari? Apa Kau tidak makan selama dua hari?” ucap Aeng Du tak percaya.
“Ya. Karena itulah aku kelaparan.” Kata Dong Joo. Nok Du datang membawa mangkuk  nasi untuk mereka.
“Nok Du... Kenapa kamu ingin menyiapkan nasi hari ini?”tanya Tuan Hwang
“Anda sudah bekerja keras memasak lauk lain.” Kata Nok Du membagikan mangkuk nasi pada semuanya dan mengajak mereka mulai makan.
“Berhenti... Letakkan sendokmu sebentar.” Tegas Aeng Du. Semua bingung apa yang dilakukan Aeng Du.
“Kuning telurnya.” Ucap Aeng Du menusuk nasi milik Dong Joo, Semua melonggo. Nok Du hanya bisa terdiam dan terlihat gugup.
“Telur mata sapi.. Coba Lihat telur mata sapi ini!” kata Aeng Du membalikan nasi dan melihat telur dibagian bawah mangkuk.
“Ini Hanya tersisa satu... Tabib menyuruhku memberinya makan dengan baik. Dia harus makan telur dan daging.” Kata Nok Du beralasan. Tuan Hwang mengumpat dengan gerakan mulutnya.  - Berengsek.
Akhirnya mereka mulai makan, Dong Joo merasa tak enak hati dan Nok Du langsung menyuapinya. Nyonya Kang mengeluh kalau tidak bisa melihatnya. Kaena membuat para janda ini sangat sedih. Tuan Yeon pun mengeluh kalau mereka tak bisa makan.
“Berhentilah membuat keributan saat makan.. Mengerti?” kata Tuan Yeon kesal. Saat itu Nyonya Park memberika lauk untuk Tuan Yeon. Tuan Yeon terdiam tapi terlihat senang.
“Makanan ini cukup manis. Memang manis.” Ungkap Nyonya Kang, lalu saling bertatapan pada Tuan Hwang. Keduanya saling menatap dan tiba-tiba merasa gugup.
“Aeng Du... Akan kuambilkan air tajin untukmu.” Kata Tuan Hwang. Aeng Du terlihat masih kesal dengan Nok Du yang memberikan telur pada Dong Joo mengaku juga suka telur.
“Lain kali kugorengkan untukmu. Aeng Du, kamu bisa makan daging... Makanlah.” Kata Nok Du memberikan lauk untuk Aeng Du. 

Kim Sook bertemu dengan Anak buah Tuan Heo kalau   bisa menyelinap ke dalam istana, tapi pasti sulit langsung bertemu. Si pria mmenegaskankalau Kim Sook hanya perlu memastikan Ratu menerima surat itu. Kim Sook pun meminta agar memberikan padanya.
“Tolong berhati-hati. Omong-omong, jika kau berhasil memasuki istana, kau bisa mencari tahu keadaan Kanselir?” ucap Si pengawal  
“Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu.” Kata Kim Sook dengan wajah serius. 


Nok Du mengeluh pada Dong Joo bisa tidur dikamarnya saat banyak orang dan pasti sudah gila.  Nok Du mengaku kalau memang sudah gilan dan meminta izin apakah boleh tidur disampinganya sekarang. Dong Joo pikir Bagaimana jika ada yang membuka pintu kamarnya.
“Hei, siapa yang membuka pintu kamarmu selarut ini? Dasar Kau aneh.” Komentar Nok Du
“Kau sungguh membuatku tidak bisa berkata-kata.” Kelu Dong Joo. Nok Du pikir Karena ucapannya itu benar. Nok Du pun ingin segara ada disamping Dong Joo.
“Aku lelah, jadi, jangan mengobrol dan langsung tidur saja.” Kata Dong Joo dan langsung berbaring.
Nok Du bergegas berbaring disamping Dong Joo, lalu memeluknya dengan erat. Dong Joo pun membiarkannya dan terlihat tertidur lelap. 

Di kamar samping, Aeng Du tidur dengan dengan tiga orang wanita. Saat itu kaki dan tangan dua wanita menimpa badanya. Aeng Du menjerit kesakitan karena ketiban. Sementara Dong Joo membuka mata dan melihat tangan Nok Du didepanya.
Dong Joo memegang tangan Nok Du lalu membalikan badanya dan melihat kalau pacarnya sudah tertidur. Ia memegang wajah Nok Du tak percaya kalau selalu menuruti perintahnya. Saat itu tiba-tiba Nok Du membuka matanya. Dong Joo kaget karena mengira Nok Du tertidur.
“Apa kau bodoh? Bagaimana bisa aku tidur?” ucap Nok Du memegang tangan Dong Joo.
“Kenapa kau tidak bisa tidur?” tanya Dong Joo dengan nada mengoda.  Nok Du balik bertanya apakah sungguh menanyakan itu karena tidak tahu
“Tidur saja. Berhentilah bercanda” kata Dong Joo. Nok Du mengaku Setiap kali melihat Dong Joo, membuatnya melupakan semuanya.
“Aku tidak bisa menahan senyum meski sedang kesulitan dan melewati masa berat. Ini Aneh, kan?” ucap Nok Du
“Benar... Aku tidak mengerti kenapa aku menyukai bedebah sepertimu.” Kata Dong Joo
“Ingatlah, jika aku menutup mataku, kaulah yang membangunkanku.” Kata Nok Du.
Dong Joo terlihat bingung maksud ucapan Nok Du, Nok Du langsung mencium kening Dong Joo, lalu kebagian mata, hidung dan akhirnya bibir. Dong Joo akhinya membaringkan tubuhnya, Nok Du pun berada diatasnya menciumnya lebih dalam. 
Tiba-tiba pintu dibuka, Nok Du langsung mendorong Dong Joo dan keduan tampak kaget dan juga panik. Aeng Du datang membawa bantal langsung tertidur ditengah mengaku  Para janda itu punya kebiasaan tidur yang sangat buruk jad tidak bisa tidur.
“Aeng Du... Apa Kau melihatnya?” tanya Nok Du, Aeng Du dengan mata tertutup bali bertanya melihat apa yang dimaksud.
“Apa Melihat kalian menempel seperti lem dan berciuman Atau melihat kalian panik seolah-olah bokong kalian terbakar? Yang mana maksudmu?” sindir Aeng Du.
Nok Du mengeluh kalau ternyata Aeng Du melihat semuanya. Dong Joo pun terlihat malu dipojokan kamar.
“Apa Kau tahu? Makin aku memikirkannya, makin aku yakin kau tidak cocok menjadi suamiku. Aku harus bagaimana dengan pria yang hatinya milik orang lain?” kata Aeng Du. Akhirnya Dong Joo mengeser tubuhnya dialas tidur dan hanya saling berpegangan tangan dengan Aeng Du tidur ditengah. 



Pagi hari
Dua dayang membahas tentang Penjara bawah tanah, kalau orang itu  hampir seperti tinggal di sanam bahkan selalu keluar dari sana dengan jubah kerajaan yang berlumuran darah. Dong Joo mendengar berpkir kalau itu pasti raja yang dibahasnya.
“Kudengar ada orang yang tewas di sana semalam. Tampaknya, orang itu mantan pejabat tinggi. “ kata dayang satu
“Memang itu gunanya penjara bawah tanah. Tapi Kenapa hanya diam saja?” komentar si dayang dua. Dong Joo langsung memberikan tumpukan baju kotor. 

Yool Moo berjalan keluar melihat Hwang Tae yang berwajah murung dan ingin tahu alasanya. Hwang Tae pikir Seseorang tewas karena ia berbohong. Yool Moo menegaskan kalau mereka  tak hanya akan berjalan di jalan yang elegan dan indah
“Bukan itu maksudku.” Ucap Hwang Tae sedikit gugup, seperti ketakutana.
“Kau tidak perlu mengikutiku jika seperti ini sikapmu di depan Yang Mulia. Aku akan menemuinya sendirian.” Ucap Yool Moo lalu melihat Dong Joo berjalan dengan pakaian dayang dan langsung mengikutinya. 

Dong Joo kaget melihat Nok Du datang lagi lalu bertanya apakah   tidak bekerja dan Kenapa selalu di istana. Nok Du mengaku Ada yang harus dilakukan di sini. Dong Joo memberitahu akan tidur di istana mulai malam ini. Nok Du kaget dan ingin tahu alasanya.
“Ini untuk pekerjaan.” Kata Dong Joo. Nok Du pikir Tapi itu tidak wajib. Dong Joo mengaku lebih suka tidur di sini. 

Tiba-tiba Yool Moo datang langsung memukul wajah Nok Du. Dong Joo kaget. Yool Moo langsung memegang tangan Dong Joo dengan kasar. Dong Joo meminta agar melepaskan dan bisa bicara jika melepaskannya. Yool Moo tetap memegang tangan Dong Joo.
“Lepaskan dia, Pangeran Agung Neungyang.” Ucap Nok Du berusaha bersikap sopan dengan memegang tangan Yool Moo. Yool Moo menghempaskan tangan dan langsung mencengkram baju Nok Du.
“Hei... Apa kau sudah gila?” kata Pengawal lalu meminta maaf pada Yool Moo.
“Aku tidak tahu apa masalahnya, tapi banyak yang melihat Anda.” Ucap Pengawal. Yool Moo melihat semua orang sedang menatapnya dan melepaskan tangan pada Nok Du.
“Aku mencarimu ke mana-mana, dan di sini aku menemukanmu? Sedang apa kau di sini?” kata Yool Mo memegang tangan Dong Joo
“Aku harus bekerja di sini.” Kata Dong Joo. Yool Moo pikir Dong Joo bisa apa dengan bekerja di sini dan mengajak untuk ikut dengan sekarang. Dong Joo menolaknya. Yool Moo langsung berteriak marah pada Dong Joo.
Semua terlihat kaget karena Yool Moo seperti tak bisa menahan emosinya, Dayang memberitahu ratu datang. Akhirnya semua menunduk memberikan hormat. Ratu mengaku ingin tahu siapa yang sudah lancang menyebabkan keributan di istana.
“Ternyata kau, Pangeran Agung Neungyang,” ucap Ratu dengan dan menyindir. Yool Moo pun minta maaf.
“Apa namamu Dong Joo? Apa kau pelayan Dayang Kim?” kata Ratu. Dong Joo membenarkan.
“Aku tidak tahu apa masalahnya, tapi dia bekerja untuk dayangku yang berarti dia bekerja untukku. Jangan perlakukan dia dengan sembarangan.” Ucap Ratu lalu memperbolehkan Dong Joo pergi. Dong Joo akhirnya pergi.
“Kau juga boleh pergi, Pangeran Agung Neungyang.” Kata Ratu, akhirnya Yool Moo pergi dengan wajah penuh amarah
“Aku ingin bicara denganmu.” Kata Ratu pada pegawal. Pengawal menganguk mengerti. Nok Du bisa bernafas sedikit lega melihat Dong Joo bisa diselamatkan. 



Nok Du mengejar kakaknya dan langsung menarik sebelum Yool Moo menyadari. Ia langsung bertanya kenapa wajah Hwang Tae seperti bahkan pucat sekali. Hwang Tae meminta agar jangan menghiraukanya. Nok Du pikir itu tak akan mungkin bisa.
“Kak Hwang Tae, belum terlambat untuk berhenti. Aku akan...” ucap Nok Du. Hwang Tae menolak.
“Aku tidak bisa berhenti. Aku sudah terlalu jauh. Jadi, kau harus berhenti membuang waktumu.” Ucap Hwang Tae.
“Apa maksud Kakak? Kak Hwang Tae, apa si berengsek itu tahu sesuatu tentangmu?” tanya Nok Du. Hwang Tae mengaku tidak dan meminta Nok Du agar jangan mengikutinya. 

Kim Sook pergi ke bagian dapur, terlihat seorang pelayan memberitahu  kehabisan teh. Pegawai lain mengatakan akan mengambil lagi. Pegawai memberitahu kalau Ini untuk Ratu jadi meminta agar membawakan teh terbaik. Kim Sook pun mencari kesempatan menaruh surat dibawah teko.
Sementara diruang ratu kaget mengetahui tentang  Pengkhianatan Kanselir. Pengawal membernarkn dan Itulah alasan kenapa dia dipenjara lalu akhirnya kehilangan nyawanya. Ratu tahu Tuan Heo  teman terdekat Yang Mulia jadi itu sulit dipercaya.
“Apa Kau punya bukti? Siapa kaki tangannya? Dia berencana memberikan takhta kepada siapa?” tanya Ratu.
“Yang Mulia memberi perintah untuk merahasiakannya. Maafkan aku, Yang Mulia.” Kata Pegawal.
“Dia seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku hari itu.” Ungkap Ratu. Pengawal bingung. Ratu tak ingin membahasnya dan menyuruh pengawal pergi. Pengawal pun berjalan pergi.
Ratu ingin meminum teh lalu kaget melihat ada selembar kertas, pengawal melihat kalau Ratu menerima surat. 

Raja berada di balkon ruanganya, Kasim memberitahu Jasad kanselir masih ada di dalam istana Dan seluruh keluarganya tidak bisa ditemukan lalu Apa yang harus mereka lakukan. Raja menyuruh agar meninggalkan jasadnya di depan Gerbang Sigu. Kasim terlihat kaget.
“Yoon.. sudah lama menelantarkanku. Aku akan melakukan hal yang sama.”kata Raja. Kasim pun menganguk mengerti perintah Raja.  Saat itu pengawal datang menemui Raja. 

Di pintu para dayang, Nok Du bertanya apakah Pergelangan tangan Dong Joo baik-baik saja. Dong Joo hanya melihatnya. Nok Du pikir kalau Dong Joo pasti terkejut dan seharusnya memberi bedebah itu pelajaran. Don Joo mengaku baik-baik saja.
“Nok Du.. Aku hanya ingin mengingatkanmu, dan aku tidak akan pulang mulai malam ini.” Kata Dong Joo
“Kenapa kau terus mengingatkanku? Itu tidak menyenangkan... Tidak apa-apa. Aku bisa ke sini untuk menemuimu. Kau masuk dan istirahatlah.” Kata Nok Du. Akhirnya Dong Joo pun masuk istana. Nok Du pun pamit pulng dan akan kembali besok. 

Kim Sook sedang menunggu didepan pintu, Nok Du datang mengejutkanya. Kim Sook mengeluh Nok Du  akan terus mengejutkannya seperti ini. Nok Du meminta maaf lalu bertanya apakah  sudah dengar yang terjadi pada kanselir. Kim Sook menganguk mengerti.
“Kau akan membiarkan Pangeran Agung Neungyang bertindak sesukanya?” tanya Nok Du
“Tidak... Aku memikirkan apa yang harus kulakukan.” Kata Kim Sook. Nok Du pun mengajak mereka saling membantu dan mengajak untuk saling berjabat tangan. 

Anak buah Tuan Heo terlihat sangat marah mengetahui tentang Tuan Heo, seperti tak percaya kalau Raja membunuh Tuan Heo tidak cukup tapi juga membuang jasadnya seperti itu. Ia pun tak habis pikir dengan Raja berbuat seperti itu.
“Aku harus menemui Yoon. “ kata Tuan Jung akhirnya berdiri dengan wajah penuh amarah
“Pastikan Anda bertemu Yang Mulia tepat waktu. Aku akan mengurus jasadnya.” Kata Pengawal
“Kalau begitu, kita pergi bersama saja.” Ucap Tuan Jung. Pengawal memberitahu Tuan Jung  itu akan berbahaya. Tuan Jung pikir pengawal pun dalam bahaya.
“Aku hampir mati karena demam saat masih kecil. Bahkan ibuku sendiri menyerah menyelamatkanku. Tapi kanselir membawaku ke tabib dan menyelamatkanku. Ternyata dia menangis dan memohon agar ayahnya menyelamatkanku.” Cerita si pengawal
“Dan saat dia menangis untukku, aku mengalami lebih dari sekadar sembuh dari demam. Aku merasa... Aku merasa seperti manusia untuk kali pertama dalam hidupku. Sebaiknya aku yang pergi karena hidupku layak berkat kanselir. Maaf aku tidak bisa melindungi Anda sampai akhir.” Kata Pengawal. 


Raja gelisah dikamar dan kembali minum, Kasim berpikir kalau  Sebaiknya memanggil Kepala Petugas Administratif Yeon dan minum dengannya. Raja mersa kalau Kasim pasti mengasihaninya. Kasim mengaku  Bukan itu maksudnya.
“Baiklah... Suruh dia kemari.” Kata Raja sambil terus minum. 

Di sebuah pintu masuk, Pengawal mencari sosok Tuan Heo yang dibiarkan begitu saja oleh pegawai istana. Ia akhirnya menemukan Tuan Heo lalu menangis sesungukan, saat itu sebuah pedang disamping lehernya. Dan Oh ingin tahu Di mana Jung Yun Jeo.
“Dia lari jauh dari sini. Jangan mencarinya.” Ucap anak buah Tuan Heo. Dan Oh menegaskan kalau  Berikutnya adalah kepalanya jadi lebih biak Jangan ragu, jawab saja.
“Kau tetap memenggal kepalaku meski kujawab. Aku tidak terburu-buru karena tuanku ada di sini. Itu berarti aku tidak akan memudahkan tugasmu. Lagi pula aku datang untuk menemaninya di perjalanan terakhirnya.” Ucap Anak buah Tuan Heo dan langsung menusuk sendiri pedang Dan Oh dan langsung jatuh disamping Tua Heo. 


Ratu keluar dari istana dan berada disebuah ruangan dengan pembatas bertemu dengan Tuan Jung yang meminta bertemu. Ia tak percaya kalau selama ini  masih hidup. Tuan Jung bertanya apakah Ratu ingat bahwa ia mengubur putra Yang Mulia 20 tahun lalu.
“Ya. Aku ingat Dan kamu tergelincir hari itu.” Kata Ratu. Tuan Jung mengaku Hari itu, aku tidak mati.
“Dan bukan hanya aku yang selamat hari itu.”akui Tuan Jung. Ratu kaget mendengarn dan ingin memastikan yang dimaksud.
“Putra Yang Mulia masih hidup, Yang Mulia. Tolong lindungi dia.”kata Tuan Jung memohon
“kau bilang "Lindungi dia"? Apa maksudmu? Di mana dia? Di mana dia?” teriak Ratu
“Anda harus melindunginya dari Yang Mulia.” Ucap Tuan Jung memohon.
“Aku bertanya di mana putraku! Aku akan mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya. Katakan padaku... Kumohon.” Teriak Ratu histeris. Saat itu raja datang keduanya kaget. 


Raja akhirnya pergi membawa Tuan Jung sebagai tawanan. Nok Du sedang berjalan kaget melihat Ratu berlari memanggil Raja, lalu terjatuh saat menaiki tangga dan Nok Du yang menahanya. Keduanya saling menatap. Dong Joo mengintip dari depan dinding.
“Hei... Siapa di sana?” teriak pengawal dan langsung menaruh pedang dilehernya. Dong Joo kaget seperti pasrah lalu menyembunyikan pedang dibawah bajunya.
“Kepala Petugas Administratif...” ucap Dong Joo kaget ternyata dia adalah Raja yang selama ini dicari olehnya.
Ratu mencoba untuk berdiri dan mengeja Raja kembali, saat itu Nok Du melihat potongan yang bandul yang sama miliknya, lalu berjalan masuk seperti ingin mengaku semuanya.
Bersambung ke episode 23
Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar